• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Penyu hijau merupakan reptil yang hidup dilaut serta mampu bermigrasi dalam jarak yang jauh disepanjang kawasan Samudera Hindia, Samudra Pasifik dan Asia Tenggara. Penyu hijau telah hidup didunia selama lebih dari 150 juta tahun yang lalu. Keberadaannya telah lama terancam, baik dari alam maupun kegiatan manusia yang membahayakan populasinya secara langsung maupun tidak langsung.

Menurut WWF (World Wildlife Fund) dalam artikelnya yang berjudul

“Penyu Laut Di Indonesia: Kisah Ambasador Laut yang Terancam Punah”, IUCN telah menyatakan Penyu Laut masuk dalam Red List of Thretened Species (Daftar Merah Spesies yang Terancam) termasuk didalamnya adalah Penyu Hijau.

(wwf.or.id). Pergeseran fungsi lahan yang menyebabkan kerusakan habitat pantai, kematian penyu akibat kegiatan perikanan, pengelolaan teknik-teknik konservasi yang tidak memadai, perubahan iklim, penyakit, pengambilan penyu dan telurnya serta ancaman predator merupakan faktor-faktor penyebab penurunan populasi penyu hijau. Kondisi inilah yang menyebabkan semua jenis penyu di Indonesia diberikan status dilindungi oleh Negara sebagaimana tertuang dalam PP Nomor 7 tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis-jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi (Direktorat Konservasi dan Taman Nasional Laut-Direktorat Jenderal Kelautan- Departemen Kelautan dan Perikanan RI, 2009:15). Terdapat beberapa informasi tentang penyu hijau yang mengatakan bahwa penyu akan mati tenggelam bila tidak bisa naik ke permukaan untuk bernafas, sampah seperti kantung plastik sering termakan oleh penyu hijau karena disangka ubur-ubur kesukaannya, penyu hijau selalu kembali ke tempat ia ditetaskan dan apabila kawasan itu rusak, ia mungkin tidak akan kembali.

Selain itu, terdapat mitos tentang penyu yang beredar dimasyarakat yaitu penyu sebagai obat. Masyarakat masih mempercayai bahwa memakan penyu (telur/daging) akan bermanfaat bagi kesehatan, namun hal ini bersingungan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh para ahli. Menurut salah satu

(2)

2 penelitian Alonso Aguire dkk dalam EcoHealth Journal Consortium (2006), yang mengatakan bahwa “produk Penyu Laut (seperti daging, organ tubuh, darah, telur, dll) merupakan makanan yang biasa dikonsumsi oleh masyarakat di kebanyakan negara walaupun telah dilarang oleh peraturan. Bagaimanapun, mungkin terdapat bahaya (hazards) terkait dengan konsumsi ini dikarenakan adanya bakteri, parasit, biotoksin dan zat pencemar lingkungan laut lainnya. Pengaruh kesehatan mengkonsumsi penyu yang terinfeksi oleh Zoonotic Pathogens yang dilaporkan diantaranya mual-mual (muntah) dan dehidrasi ekstrim yang berakhir di rumah sakit dan berakibat pada kematian. Tingkat logam berat dan campuran Organochlorine yang diukur pada Penyu laut sering berdampak pada gangguan syaraf (neurotoxicity), penyakit ginjal, kanker lever serta berpengaruh terhadap perkembangan janin dan anak” (satucitafoundation.org).

Melihat berbagai masalah yang dihadapi oleh penyu hijau membuat instansi pemerintah gencar untuk mengupayakan pelestarian. Namun pelestarian ini dianggap kurang maksimal dikarenakan kurangnya dukungan masyarakat.

Masyarakat yang masih menjadikan penyu hijau sebagai ladang ekonomi dengan cara pemburuan liar, sehingga petugas sulit menemukan penyu hijau untuk dibawa ketempat pelestarian. Oleh karena itu, pelestarian penyu hijau bukan hanya dapat dilakukan oleh masyarakat pesisir pantai ataupun pemerintah daerah setempat, namun bisa dilakukan oleh seluruh masyarakat termasuk masyarakat perkotaan.

Masyarakat kota menjadi bagian dalam upaya pelestarian, dikarenakan mereka adalah target dari para pelaku penjualan penyu untuk membeli hasil tangkapannya, baik itu daging/telur penyu ataupun kerajinan yang berasal dari penyu hijau. Banyak hal yang dapat dilakukan masyarakat perkotaan. Langkah utama yang dilakukan adalah dengan cara memberikan pengetahuan, berawal dari pengetahuan maka akan timbul upaya melakukan tindakan pelestarian.

Pengetahuan tersebut bisa dimulai dari anak-anak dikarenakan mereka masih memiliki daya ingat yang cukup tinggi sehingga kelak ketika dewasa ia mampu ikut serta dalam upaya pelestarian. Selain itu, juga karena merekalah generasi penerus bangsa.

(3)

3 Seiring dengan perkembangan zaman dan era globalisasi yang ditandai dengan pesatnya produk dan pemanfaatan teknologi informasi, maka penyelenggaraan pembelajaran telah bergeser pada upaya perwujudan pembelajaran modern. Pembelajaran modern tersebut diawali dengan lahirnya suatu inovasi pendidikan dalam model pembelajaran berbasis teknologi informasi yaitu multimedia interaktif. Salah satu pengembangan pembelajaran multimedia adalah model games (permainan). Model permainan ini dikembangkan atas dasar pembelajaran yang menyenangkan, peserta didik akan dihadapkan pada beberapa petunjuk dan aturan permainan (Darmawan, 2012:39). Oleh karena itu, dibutuhkan media multimedia interaktif yang dapat digunakan untuk memberikan pengetahuan tentang penyu hijau. Diharapkan dengan ini, anak-anak dapat mengerti hal-hal yang berhubungan dengan penyu hijau agar kelak beberapa tahun kemudian ia tidak kehilangan reptil hasil warisan dunia.

1.2. Permasalahan 1.2.1. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dijelaskan diatas, maka dapat diidentifikasikan berbagai permasalahan yang dihadapi oleh hewan reptil penyu hijau, sebagai berikut :

1. Penyu Hijau termasuk reptil hasil warisan dunia yang terancam punah.

2. Kurangnya dukungan masyarakat dalam menjaga pelestarian Penyu Hijau.

3. Kurangnya pengetahuan masyarakat (termasuk anak-anak) mengenai Penyu Hijau.

1.2.2. Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Bagaimana memberikan wawasan/pengetahuan tentang pelestarian Penyu Hijau kepada anak-anak?

2. Bagaimana rancangan visual game yang sesuai dengan anak-anak?

(4)

4 1.3. Ruang Lingkup

Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah diatas, maka dibentuk ruang lingkup pada penelitian ini agar lebih terarah, sebagai berikut:

1. Apa

Media edukasi yang dirancang adalah game pelestarian Penyu Hijau.

2. Bagaimana

Game yang dirancang adalah game daya ingat beserta ketelitian dengan rancangan visual permainan yang sesuai dengan target audience.

3. Siapa

Game ini ditujukan kepada anak-anak sekolah dasar.

4. Dimana

Game pelestarian Penyu Hijau ini dirancang untuk masyarakat kota khususnya masyarakat kota Bandung.

5. Kapan

Proses pengumpulan data beserta observasi dilakukan pada bulan Februari hingga Mei 2014. Setelah mendapatkan data-data dari berbagai sumber beserta hasil observasi, kemudian dilakukan proses perancangan game pada bulan Mei hingga Juni 2014.

1.4. Tujuan Perancangan

Adapun tujuan perancangan pada penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Memberikan wawasan/pengetahuan tentang pelestarian Penyu Hijau untuk

anak-anak.

2. Merancang visual game yang sesuai dengan anak-anak.

1.5. Cara Pengumpulan Data dan Analisis

Adapun cara pengumpulan data dan analisis menggunakan metode pengumpulan data kualitatif dengan menggunakan penelitian etnografi. Penelitian etnografi digunakan sebagai kegiatan pengumpulan data dengan meneliti perilaku manusia dalam lingkungan spesifik alamiah. Oleh karena itu, pengumpulan data dilakukan dengan cara sebagai berikut :

(5)

5 1. Studi pustaka

Merupakan teknik mengumpulkan data dengan cara mempelajari, membaca dan menganalisa buku-buku serta teori yang relevan dengan masalah yang dihadapi. Dengan cara membaca buku-buku, tesis dan kumpulan artikel yang berkaitan dengan permasalahan ini.

2. Interview ( Wawancara)

Merupakan teknik mengumpulkan data dengan cara mengadakan wawancara langsung dengan pihak yang berkepentingan. Pihak yang diwawancarai adalah petugas konservasi Taman Pesisir Pantai Penyu Pangumbahan, pihak WWF melalui perwakilannya di Bumi Panda Bandung, dan juga masyarakat sekitar habitat Penyu Hijau.

3. Observasi (Pengamatan)

Merupakan teknik mengumpulkan data dengan cara mengadakan pengamatan secara langsung terhadap objek yang dihadapi. Objek yang dihadapi yaitu Penyu Hijau beserta keadaan sekitarnya dan juga target audience. Pengamatan Penyu Hijau dilakukan ditempat konservasi Taman Pesisir Pantai Penyu Pangumbahan pada hari Sabtu, 19 April 2014.

1.6. Kerangka Perancangan

Adapun kerangka perancangan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

(6)

6 Skema 1.1. Kerangka Perancangan

(7)

7 1.7. Pembabakan

BAB I PENDAHULUAN

Menguraikan secara garis besar permasalahan tentang Penyu Hijau yang didalamnya meliputi latar belakang masalah, identifikasi masalah, rumusan masalah, ruang lingkup, tujuan perancangan, cara pengumpulan data dan analisis, kerangka perancangan dan pembabakan.

BAB II DASAR PEMIKIRAN

Menjelaskan teori-teori yang relevan yaitu teori media, game, user interface, pelestarian, dan Penyu Hijau untuk digunakan sebagai pijakan untuk proses perancangan.

BAB III DATA DAN ANALISIS MASALAH

Menjelaskan berbagai hasil data yang telah didapatkan dan menjelaskan analisis masalah untuk menentukan proses perancangan.

BAB IV KONSEP & HASIL PERANCANGAN

Menjelaskan konsep desain dan hasil perancangan yang dibuat berdasarkan data yang telah didapatkan.

BAB V PENUTUP

Berisi kesimpulan dan saran dari penulis berdasarkan permasalahan yang ada.

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan bahasa Indonesia dalam publikasi tersebut belum memuaskan karena terdapat beberapa kesalahan, seperti kesalahan penulisan kata

20 Tahun 2001 Tentang Pemilikan Saham Dalam Perusahaan yang Didirikan Dalam Rangka Penanaman Modal Asing yakni dalam rangka lebih mempercepat peningkatan dan perluasan kegiatan

pendekatan CRA pada materi Kubus dan Balok. b) Sikap siswa terhadap soal-soal kemampuan penalaran matematis.. c) Sikap siswa terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi

Metode pengolahan dan analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif kualitatif dengan pendekatan manajemen strategi untuk mengetahui lingkungan perusahaan

Hal yang sangat penting adalah guru memiliki kompetensi dan kemauan untuk mengembangkan strategi pembelajaran berorientasi pada keterampilan sosial.. Selain itu,

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan sebagai berikut: (1)Ada perbedaan pengaruh pendekatan pembelajaran secara individu dan berkelompok terhadap kemampuan

Tinea pedis adalah infeksi dermatofita pada kaki terutama mengenai sela jari kaki dan telapak kaki, dengan lesi terdiri dari beberapa tipe, bervariasi dari ringan, kronis

algoritma kompresi LZW akan membentuk dictionary selama proses kompresinya belangsung kemudian setelah selesai maka dictionary tersebut tidak ikut disimpan dalam file yang