• Tidak ada hasil yang ditemukan

l.l.pengertian dan Manfaat Laporan Keuangan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "l.l.pengertian dan Manfaat Laporan Keuangan"

Copied!
26
0
0

Teks penuh

(1)

1. LAPORAN KEUANGAN

l.l.Pengertian dan Manfaat Laporan Keuangan

Meniirut Statement of Financial Accounting Concept no.l (1978: par 6) laporan keuangan adalah pusat dari pelaporan keuangan. Laporan keuangan merupakan sarana yang penting dalam mengkomunikasikan informasi akuntansinya yang menyangkut posisi keuangan, kinerja serta perubalian posisi keuangan, kepada piliak-pihak luar badan usaha. Secara periodik, laporan harus dipersiapkan untuk pemerintah, kreditur, pemilik dan manajemen. Bagi pemerintali atau regulator sangat berkepentingan dengan pengungkapan yang terbuka dan jujur atas kondisi suatu perusahaan. Kreditui' mempergunakan laporan keuangan untuk mengetaliui kemampuan perusahaan melunasi kreditnya.

Pemilik berkepentingan untuk mengambil keputusan mengenai jual atau beli saham. Pihak manajemen sangat memerlukan untuk bertanggung jawab kepada pemerintali, kreditur dan pemilik. Dengan laporan keuangan tersebut, maka manajemen dapat memonitor kinerja perusahaan.

(2)

1.2. Komponen Laporan Keuaiigan

Dalam mengukur kinerja perusahaan dan untuk mengerti kondisi mendasar dari suatu perusahaan, setidaknya ada empat laporan keuangan utama yang dibutuhkan dan diminta oleh SEC (Security and Exchange Commision). Laporan-laporaii keuangaii ini adalali (1) Income Statement, (2) Balance Sheet, (3) Statement of Retained Earnings, dan (4) Statement of Cashflows.

Pada analisis laporan keuangan, ada dua laporan keuangan pokok yang dibutuhkan, yakni Income Statement (Laporan Rugi Laba) dan Balance Sheet (Neraca).

1.2.1. Neraca (Balance Sheet). Balance Sheet atau Neraca adalah laporan berupa kesimpulan (smmnary statement) dari kondisi atau posisi keuangan perusaliaan pada saat tertentu. Perbedaan mendasar dari I/S (Income Statement) dan B/S (Balance Sheet) adalali I/S memperhatikan keuangan perusahaan setelah periode opaasional tertentu sedangkan B/S memperhatikan keuangan pada saat tertentu.

Di dalam membaca B/S ada hal-hal yang hams diperhatikan :

♦ Current assets dan Current liabilities adalali aktiva dan hutang jangka pendek. Jangka pendek berarti keduanya hams dapat diubah menjadi cash paling lambat satu tahun.

♦ Assets dan Liabilities yang lain beserta dengan SHE (Stock Holder Equity) yang diasumsikan berumur tak terhingga, digolongkan ke dalam long tenn atau fixed, karena account-account ini diantisipasi

(3)

akan terus dicatat dalam buku pemsaliaan selama satu tahuii atau lebih.

♦ Susunan current asset adalah berdasarkan pertimbangan seberapa likuid asset tersebut

♦ Inventory yang dimaksud adalali raw materials (balian baku), work in process dan finished goods yang disimpan oleli pemsaliaan.

♦ Gross fixed asset (GFA) adalah original cost (biaya mumi) dari semua fixed/long tenn asset yang dimiliki perusaalian.

1.2.2. Laporan Rugi Laba (Income Statement). Income Statement menyediakan kesimpulan keuangan (financial summary) dari hasil operasional pemsaliaan selama periode waktu tertentu. Di dalam membaca 1/S perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut:

♦ Operating profit (laba usaha) adalali angka yang menggambarkan profit yang diliasilkan dari memproduksi dan menjual produk, tanpa memperhatikan financial ataupun tax cost. Operating profits seringkaJi disebut Earning Before Interest and Taxes (EBIT) / pendapatan sebelum bunga dan pajak.

♦ EBIT dikurangi dengan interest/ bunga akan menghasilkan NPBT (Net Profit Before Taxes) atau Earning Before Taxes (EBT).

♦ Setelali NPBT dikurangi taxes/ pajak menjadi NPAT (Net Profit After Taxes) atau Earning After Tax.

(4)

♦ NPAT dikurangkan dengan PSD (Preferred Stock Dividend)/

pembagian saham barn menghasilkan EACS (Earning Available for Common Stockholders).

♦ EACS dibagi dengan jumlah lembar saham yang beredar menjadi Earning Per Share (EPS)/ jumlah rupiah yang dihasilkan untuk setiap saham yang beredar.

2. ANALISISLAPORANKEUANGAN ’

2.1. Kegunaan Analisis L^poran Keuangan

Analisis Rasio melibatkan berbagai metode perhitungan serta interpretasi rasio keuangan untuk menilai kinerja dan kondisi perusahaan. Sumber data untuk membuat analisis rasio keuangan adalah laporan Income Statement (Laporan Rugi Laba) dan Laporan Balance Sheet (Neraca) perusahaan untuk periode bersangkutan.

Di dalam mempelajari Analisis Laporan Keuangan, seorang Financial Analyst harus bisa mengerti cara perhitungan sekaligus interpretasi dari hasil perhitungan. Dengan interpretasi itu perusahaan mengevaluasi kineijanya selama ini dan mengambil keputusan untuk memperbaiki kondisi mendatang.

2.2. Metode Analisis Laporan Keuangan

Dalam melakukan analisis laporan keuangan, ada tiga metode yang dipakai untuk membandingkan nilai-nilai rasio yang dihasilkan ;

♦ Cross-Sectional Analysis (CSA)

(5)

CSA berkaitan dengan membandingkan laporan keuangan dari dua pemsahaan berbeda pada waktu yang bersamaan. Secara berkala, perusahaan akan membandingkan nilai rasio-nya kepada kompetitor/pesaing penting atau sekelompok kompetitomya. Tipe pembandingan seperti ini seringkali disebut dengan “benchmarking”.

Pembandingan yang lain adalah dengan menbandingkan dengan rata- rata industri (industry avarage).

♦ Time-Series Analysis (TSA)

TSA diaplikasikan jika Financial Analyst mengevaluasi kineija selama kurun waktu tertentu. Pembandingan rasio perusahaan saat ini dengan masa lalu membuat perusahaan mengerti apakah perusahaan sedang progress atau mundur. TSA sangat berguna untuk menyusun proyeksi laporan keuangan.

Suatu perbandingan rasio saat ini dan masa lalu beserta dengan analisis proyeksi laporan keuangan akan mengungkapkan discepancy (ketidak seuaian) dan overoptimism.

♦ Combined Analysis (CA)

Pendekatan terhadap analisis rasio yang paling informatif adalah penggabungan antara CSA (Cross Sectional Analysis) dan TSA (Time Series Analysis). CA memungkinkan perusahaan untuk melihat trend dari pergerakan rasio di dalam relasinya dengan trend pergerakan rasio dari industri.

(6)

Dalam pengeijaan tugas akhir ini, penulis memakai metode Combined Analysis, yakni dengan mengkombinasikan kedua metode (CSAdanTSA).

2.3. Pihak - Pihak Yang Berkepentingan Terhadap Analisis Laporan Keuangan

Baik pemegang saham perusahaan saat ini ataupun pemegang saham potensial sangat ingin mengetahui tingkat risk dan return saat ini maupun masa depan perusahaan. Kedua dimensi ini (risk dan return) akan mempenga'ruhi share price (harga per lembar saham).

Bagi kreditur ada dua hal yang ingin diketahui; Short term liquidity dan profitablity perusahaan. Yang pertama berkaitan dengan kemampuan

perusahaan melunasi hutang-hutang jangka pendek, yang kedua menyangkut kepastian bahwa perusahaan dalam keadaan sehat dan akan terus mengalami pertumbuhan/ kemajuan.

Bagi manajemen, pengetahuan akan rasio keuangan akan memampukan mereka mengenali permasalahan perusahaan sejak awal.

2.4. Teknik Analisis Laporan Keuangan

2.4.1. Analisis Rasio. Analisis Rasio merupakan metode analisis yang mengukur kineija perusahaan dengan membandingkan rasio yang satu dengan yang lain dalam periode yang berbeda.

Analisis Rasio terbagi atas empat kelompok ; a. Analisis Likuiditas (Analyzing Liquidity)

(7)

Likuiditas suatu badan usaha diukur dengan sampai seberapa jauh kemampuan perusahaan itu mampu melunasi hutang-hutang jangka pendek ketika hutang-hutang tersebut jatuh tempo.

Likuiditas disini berarti kelancaran keseluruhan posisi keuangan perusahaan. Tiga indikator likuiditas perusahaan adalah Net Working Capital (NWC), Current Ratio (CR) dan Quick/Acid Test Ratio.

♦ Net Working Capital (NWC)

Net Working Capital adalah indikator likuiditas suatu perusahaan yang dihitung dengan cara mengurangkan current liabilities (hutang lancar) dari current assets (aktiva lancar). Indikator ini tidak berguna untuk membandingkan kineija dua perusahaan tetapi lebih tepat untuk keperluan internal kontrol. Seringkali persetujuan hutang jangka panjang yang diajukan oleh perusahaan disetujui jika perusahaan memenuhi NWC sampai taraf tertentu. Hal ini dilakukan karena tingkat NWC tertentu akan memaksa atau memacu perusahaan untuk mempertahankan likuiditas, sehingga ini mengurangi resiko pihak kreditur.

Rumus:

NWC = Current Assets - Current Liabilities (2.1)

♦ Current Ratio (CR)

Current Ratio adalah indikator likuiditas perusahaan yang dihitung dengan cara membagi current assets (aktiva lancar) dengan current liabilities (hutang lancar). Secara umum CR sebesar 2 adalah dianggap sangat baik, tetapi baik tidaknya CR

(8)

ini tergantung dari penggolongan industri badan usaha tersebut.

Semakin dapat diduganya cash flow suatu perusahaan, semakin rendah pula tingkat penerimaan CR-nya. Jika CR suatu perusahaan adalah satu maka NWC-nya pasti nol. NWC tidak tepat untuk membandingkan likuiditas antar perusahaan, yang harus dipakai adalah CR.

Rumus:

Current Assets

C R = --- (2.2) Current Liability

♦ Quick (Acid-Test) Ratio (QUI)

Quick (Acid-Test) Ratio adalah indikator likuiditas yang dihitung dengan cara membagi Current Assets (aktiva lancar) suatu perusahaan setelah dikurangkan dengan Inventory (persediaan) dengan Curent Liabilities (hutang lancar). Tingkat likuiditas inventory yang rendah biasanya dikarenakan karena dua faktor utama yaitu : (1) banyak jenis inventory yang tidak gampang untuk dijual (2) barang-barang tersebut dijual secara kredit.

Quick Ratio menjadi indikator likuiditas yang baik, hanya jika persediaan suatu perusahaan tidak bisa dengan mudah dikonversi menjadi uang kas, misalnya untuk perusahaan real estate.

Rumus:

Current Assets - Inventory

QUI = --- (2.3) Current Liability

(9)

Untuk ketiga indikator ini (NWC bukan tennasuk rasio, sebab rasio berarti perbandingan) semakin besar angka hasil perhitmigan raenunjukkaii semakin likuid kondisi suatu perusahaan.

b. Analisis Aktivitas (Analyzing Activity)

Rasio Aktivitas dipergunakan untuk menganalisa kecepatan berbagai account untuk diubali menjadi penjualan atau uang kas. Dengan

memperhatikan current accounts, ukuran likuiditas seringkali tidak mencukupi. Variasi koinposisi current assets dan current liabilities dapat membiaskan likuiditas sesungguhnya dari perusahaan. Ada einpat indikator yang menjadi bagian dari analisis aktivitas, diantaranya:

♦ Inventoiy Turnover (IT)

Invevtory Turnover adalah indikator dari aktivitas atau likuiditas inventoiy suatu perusaliaan. Hasil perliitungan rasio ini bermanfaat, jika dibandingkan dengan perusahaan dalam satu industri yang sama atau dengan invetory period yang lalu. IT (inventory turnover) sebesar 20 untuk grocery store akan sangat aneh sedangkan untuk aircraft manufacture, sebesar 4 adalah hal biasa. IT sangat mudah dikonversi menjadi average age of inventory yaitu dengan cara membagi dengan 360 (1 taliun = 360 hari). IT diperoleh dengan membagi Cost of good sold (harga pokok penjualan) dengan persediaan.

Rumus:

(10)

hari). IT diperoleh dengan membagi Cost o f good sold (harga pokok penjualan) dengan persediaan.

R um us:

Cost of Goods Sold

IT = --- - (2.4) Inventory

♦ Average Collection Period (ACP)

Average Collection Period adalah umur rata-rata piutang.

Indikator ini sangat berguna untuk mengevaluasi kebijakan kredit dan penagihannya. Dihitung dengan cara membagi acccount receivable (piutang) dengan average sales per day (rata-rata penjualan per hari = total penjualan/360). Periode penagihan yang lama akan menimbulkan ukuran ACP ini menjadi jelek.

Rumus;

Account Receivable ACP = --- Avarage Sales Per Day Accounts Receivable

Total Sales

(2.5)

360

♦ Fixed Assets Turnover (FAT)

Fixed Assets Turnover adalah indikator untuk mengukur efisiensi perusahaan dalam menggunakan fixed assets (aktiva tetap) dalam rangka memperbesar angka penjualan (sejauh mana fixed asset telah dipergunakan untuk memperbesar penjualan). Karena faktor inflasi dan historical based book value (nilai buku yang didasarkan pada nilai historis suatu aktiva), perbandingan untuk

(11)

menghitung FAT bisa menyesatkan. FAT dihitimg dengan cara membagi total penjualan (total sales) dengan net fixed asset (aktiva tetap).

Rumus:

Total Sales

f a t = --- (2.6) Net Fixed Assets

♦ Total Assets Turnover (TAT)

Total Assets Turnover adalah indikator untuk mengukur efisiensi perusahaan di dalam mempergunakan keseluruhan aktiva dalam rangka memperbesar penjualan (sejauh mana total assets telah dipergunakan untuk memperbesar penjualan). Secara umum, semakin besar TAT suatu perusahaan, semakin efisien perusahaan tersebut di dalam mempergunakan aktiva. TAT dihitung dengan cara membagi total sales (total penjualan) dengan total assets (total aktiva).

Rumus;

Total Sales

TAT = --- (2.7) Total Assets

c. Analisis Hutang (Analyzing Debt)

Secara umum. Financial Analyst lebih memperhatikan posisi hutang jangka panjang, sebab hutang jangka panjang mengharuskan perusahaan untuk membayar cicilan berupa bunga dan pokok hutang.

Karena klaim dari kreditur hams dipenuhi terlebih dahulu sebelum pendistribusian Earning to Shareholder (penerimaaan oleh pemegang

(12)

saham), maka seorang calon pembeli saham akan sangat memperhatikan indikator-indikator yang menggambarkan posisi hutang perusahaan.

♦ Debt Ratio (DR)

Debt Ratio mengukur porsi dari total aktiva yang dibiayai oleh kreditur perusahaan. Semakin besar rasio ini berarti semakin besar pula uang kreditur yang dipakai untuk menjalankan perusahaan. Rasio ini dihitung dengan cara membagi total liabilities (total kewajiban) dengan total assets (total aktiva) perusahaan.

Rumus:

Total Liability

DR = — ^ --- (2.8)

Total Assets

♦ Debt-Equity Ratio (DTE)

Rasio ini mengindikasikan kaitan antara total kewajiban perusahaan yang disediakan oleh kreditur dan oleh pemilik perusahaan. Debt-Equity Ratio dihitung dengan cara membagi total liabilities (kewajiban) dengan total equity (modal sendiri).

Rumus:

Total Liability

DTE = --- (2.9) Total Equity

♦ Time Interested Earned Ratio (TIE)

Time Interested Earned Ratio digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam membayar bunga pinjaman sesuai

(13)

dengan perjanjian. Semakin tinggi nilai TIE maka kondisi perusahaan semakin bagus. TIE dihitung dengan cara membagi Earning before interest taxes (operating profits) dengan interest/

bunga (diperoleh dengan cara mengurangkan operating profit dengan earning before tax).

Rumus:

Operating Profits

t ie

= --- (2.10) Interest

d. Analisis Profitabilitas (Analyzing Profitability)

Setiap ukuran profitabilitas berkaitan dengan retur perusahaan terhadap penjualan, aktiva, modal sendiri atau share value (nilai lembar saham). Sebagai suatu kelompok, ukuran-ukuran ini memperbolehkan analyst untuk mengevaluasi earning (pendapatan) perusahaan dengan kondisi pada penjualan tertentu, atau tingkat aktiva tertentu dan sebagainya. Indikator-indikator yang menjadi bagian dari analisis profitabilitas adalah;

♦ Gross Profit Margin (GPM)

Indikator untuk mengukur prosentase setiap rupiah penjualan yang masih tersisa setelah perusahaan membayar semua ongkos produksi produk yang dijual. Semakin tinggi angka GPM, semakin rendah relative cost/ ongkos dari barang yang dijual.

GPM dihitung dengan membagi gross profit (laba kotor) dengan total sales.

Rumus:

(14)

Gross Profit

GPM = --- (2.11) Total Sales

♦ Operating Profit Margin (0PM)

Operating profit margin mengukur prosentase setiap rupiah penjualan yang tersisa setelah semua biaya dan beban selain interest (bunga) dan tax (pajak) dikurangkan. 0PM seringkali disebut sebagi pure profit (keuntungan mumi) yang didapat untuk setiap rupiah penjualan.

Rumus:

Operating Profit

0P M = --- (2.12) Total Sales

♦ Net Profit Margin (NPM)

Net Profit Margin mengukur prosentase setiap rupiah penjualan yang tersisa setelah semua biaya dan beban termasuk interest dan taxes dikurangkan. Status “baik” dari NPM, sangat beragam untuk setiap industri.

Rumus;

Net Profit After Taxes

NPM = --- (2.13) Total Sales

♦ Return on Total Aseets (ROA)

Return on Total Assets mengukur overall efectiveness (keefektifan seluruhnya) dari manajemen di dalam upaya menghasilkan laba dengan aktiva yang dimiliki, ROA seringpula disebut dengan ROI (Return on Investment).

(15)

Rumus:

Net Profit After Taxes

ROA = --- (2.14) Total Assets

♦ Return on Equity (ROE)

Return on Equity mengukur retur yang dihasilkan dari investasi pemilik (preferred and common stockholders).

Rumus:

Net Profit After Taxes

R O E = --- (2.15) Total Equity

♦ Earning Per Share (EPS)

Earning Per Share menunjukkan jumlah rupiah yang dihasilkan untuk setiap saham yang beredar. Secara umum EPS didapat dengan cara membagi Earning available for common stockholder (total earning perusahaan) dengan jumlah lembar saham yang beredar di pasar.

Rumus;

Earning available for common stockholder

EPS = --- (2.16) Number of shares of common stock outstanding

♦ Price Earning Ratio (P/E)

P/E Ratio, mengukur jumlah investor yang bersedia untuk membayar setiap rupiah untuk penghasilan perusahaan. Semakin tinggi P/E ratio, semakin besar kepercayaan investor terhadap masa depan perusahaan.

R um u s:

(16)

Market Price per Share o f Common Stock

P/E = --- (2.17) Earnings per Share

2.4.2. Analisis Radar (Rentabilitas Asset Debt Activity). Analisis Radar untuk pertama kalinya dikembangkan oleh Asian Productivty Organization (APO) yang berpusat di Jepang. Pengunaan istilah radar dalam metode ini diambil dari gambar visual ikhtisar perhitungan rasio perusahaan yang dianalisis. Tujuannya adalah mempermudah dalam menganalisis dan menarik kesimpulan tentang bagaimana kineija perusahaan.

Pada metode radar yang dikeluarkan oleh APO (Asian Productivity Organization) dipergunakan skala nisbi, dimana setiap lingkaran skala mencerminkan posisi batas ukuran rasio tersebut dan dibagi dalam lima golongan posisi nisbinya yakni sangat rendah, rendah, normal, tinggi dan sangat tinggi.

Penerapan analisis radar meliputi penempatan rasio tertentu dari suatu perusahaan pada interval skala nisbi sektor, menghubungkan titik-titik posisi rasio menjadi Chart Radar dan selanjutnya dilihat secara menyeluruh berbagai keterkaitan posisi nisbi rasio untuk memperoleh posisi perubahan dalam sektor industri.

Analisis Radar merupakan analisis rasio yang mengukur kinerja perusahaan dengan membandingkan rasio yang satu dengan yang lain dalam periode yang berbeda atau dengan rata-rata industrinya.

(17)

Sebenamya Analisis Radar merupakan pengembangan dari Analisis Rasio.

Analisis Radar merupakan metode analisis baru yang menurut Bambang Hermanto (1999:39) merupakan metode analisis rasio yang menggolongkan rasio ke dalam lima golongan besar yaitu rasio profitabilitas, rasio produktivitas, rasio stabilitas, rasio pertumbuhan dan rasio utilisasi aktiva.

Rasio produktivitas, profitabilitas, utilisasi aktiva dan stabilitas berupaya mengukur tingkat efesiensi perusahaan. Sedangkan rasio potensi pertumbuhan mengukur tingkat kekuasaan atas pasar yang telah dicapai.

Lima kelompok mendasar dalam Analisis R ad a r;

a. Analisis Profitabilitas (Analyzing Profitability)

Analisis Profitabilitas digunakan untuk menganalisis kemampuan perusahaan dalam memperoleh keuntungan.

Yang termasuk dalam rasio produktivitas, yaitu :

♦ Return on Investment (ROI)

Rasio ini mengukur kemampuan dari modal yang diinvestasikan dalam keseluruhan aktiva untuk menghasilkan keuntungan.

Modal yang diinvestasikan diperoleh dengan cara mengurangkan laba bersih (net profit) dengan biaya bunga (interest expense).

Rumus:

Net Profit After Taxes - Interest Expense

ROI = - --- —--- --- (2.18) Total Assets

♦ Gross Profit Margin (GPM)

(18)

Rasio ini mencerminkan gross profit (laba kotor) yang dapat dicapai dalam setiap rupiah penjualan.

Rumus:

Gross Profit

GPM = --- (2.19) Total Sales

♦ Operating Profit Margin (0PM )

Rasio ini menggambarkan tingkat efesiensi perusahaan dengan memperbandingkan antara operating profit (laba usaha) dan penjualan.

Rumus;

Operating Profit

0PM = --- (2.20) Total Sales

♦ Net Profit Margin (NPM)

Rasio ini mengukur kemampuan perusahaan dalam memperoleh net profit (laba bersih) dari penjualan atau mencerminkan net profit yang dapat dicapai dalam setiap rupiah penjualan.

Rumus:

Net Profit After Taxes

NPM = --- (2.21) Total Sales

♦ Return on Networth (RON)

Rasio net profit (laba bersih) terhadap equity (modal sendiri) untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam mengembalikan modal sendiri yang ditanamkan.

Rumus:

(19)

Net Profit After Taxes

RON = --- (2.22) Total Equity

♦ Sales to Sales Administrative and Selling Expense (SSE)

Resiko penjualan terhadap biaya-biaya (expense) yang telah dikeluarkan untuk teijadinya penjualan.

Rumus:

Total Sales

SSE = --- (2.23) Sales Expense

b. Analisis Produktivitas (Analyzing Productivity)

Analisis Produktivitas digunakan untuk mengukur nilai produktivitas dari tenaga keija dan teknologi produksi perusahaan.

Yang termasuk rasio produktivitas yaitu:

♦ Sales per Employee (SE)

Rasio ini menunjukkan rata-rata pendapatan perusahaan yang dihasilkan oleh para karyawan, mencakup pegawai administrasi dan tenaga kerja.

Rumus;

Total Sales 100

SE = --- X--- (2.24) Jumlah Karyawan IHKT

♦ Net Added Value per Employee (NAE)

Rasio nilai tambah bersih per karyawan berarti nilai yang diciptakan oleh setiap karyawan dari masukan yang ada yang kembali dinikmati oleh karyawan dan pemilik modal. Nilai tambah bersih dihitung dengan menjumlahkan biaya karyawan

(20)

dan laba usaha. Biaya karyawan diperoleh dari biaya tenaga keija langsung, biaya tenaga kerja tidak langsung, tenaga ahli, serta gaji bagian penjualan dan administrasi. Index harga konsumen (IHK) dalam perhitungan rasio ini digunakan untuk menentukan

'-V.

perubahan riilnya. Niali IHK ini diambil dari Index Harga Konsumen Gabungan 27 propinsi di Indonesia, dimana April 1988 - Maret 1989 merupakan tahun dasar (=100). Index harga ini merupakan angka rata-rata index bulanan.

Rumus;

Biaya Karyawan + Laba Usaha 100

NAE = --- X--- (2.25) Jumlah Karyawan IHKT

♦ Equipment to Labor (EL)

Rasio ini merupakan indikator tingkat kecanggihan teknologi produksi yang dimiliki oleh perusahaan karena semakin padat modal proses produksi yang dipilih.

Rumus:

Nilai Bersih Peralatan

EL = --- (2.26) Jumlah Tenaga Kerja

c. Analisis Utilisasi Aktiva (Analyzing Assets Utilitity)

Analisis Utilisasi Aktiva digunakan untuk mengukur kegunaan aktiva dan kecepatan perubahan modal dan kemampuan modal dalam aktiva tetap.

Yang termasuk dalam rasio utilisasi aktiva adalah ;

(21)

♦ Total Assets Turnover (TAT)

Rasio ini mengukur kemampuan modal yang tertanam dalam keseluruhan assets (aktiva) untuk menghasilkan pendapatan.

Rumus;

Total Sales

TAT = --- (2.27) Total Assets

♦ Working Capital Turnover (WCT)

Rasio ini menunjukkan kecepatan perputaran modal keija dalam suatu periode. Dihitung dengan cara membagi penjualan dengan aktiva lancar.

Rumus:

Total Sales

WCT = --- (2.28) Current Assets

♦ Account Receivable Turnover (ART)

Rasio ini menunjukkan kecepatan perputaran modal kerja yang tertanam dalam piutang pada suatu penjualan. Dihitung dengan cara membagi penjualan dengan piutang usaha.

Rumus:

Total Sales

ART = --- (2.29) Receivable

♦ Inventory Turnover (IT)

Rasio ini menunjukkan berapa kali jumlah persediaan diganti atau dijual dalam satu periode.

Rumus:

(22)

Cost o f Goods Sold

IT --- (2.30) Inventory

♦ Fixed Asset Turnover (FAT)

Rasio ini mengukur kemampuan modal yang tertanam dalam aktiva tetap untuk menghasilkan pendapatan.

Rumus;

Total Sales

FAT --- (2.31) Net Fixed Assets

d. Analisis Stabilitas (Analyzing Stability)

Analisis Stabilitas digunakan untuk mengukur stabilitas dari aktiva, hutang serta modal perusahaan.

Yang termasuk dalam rasio stabilitas yaitu;

♦ Cushio Ratio (CUS) atau Net Fixed Tangiable Asset to Long Term Debt and Net Worth.

Rasio ini menunjukkan tingkat keterjaminan pemilik modal tetap (long term liabilities/ pinjaman jangka panjang dan equity/ modal sendiri).

Rumus:

Net Fixed Assets

CUS = --- --- --- :--- (2.32) Long Term Debt + Total Equity

♦ Long Term Debt to Equity (LTE)

Rasio ini menunjukkan berapa besar bagian dari setiap rupiah modal sendiri yang dijadikan jaminan hutang jangka panjang.

Rumus:

(23)

Long Term Debt

LTE = --- ---— (2.33) Total Equity

♦ Quick Ratio (QUI)

Rasio ini mengukur ketersediaan aktiva lancar setelah dikurangi persediaan untuk membayar hutang lancamya.

Rumus:

Current Assets - Inventory

QUI = --- (2.34) Current Liability

♦ Current Ratio (CR)

Rasio ini mengukur ketersediaan aktiva lancar yang paling likuid (kas, piutang) untuk membayar hutang lancamya.

Rumus;

Current Assets

CR = --- (2.35) Current Liability

♦ Interest Change Ratio (IC)

Rasio ini merupakan indikator kemampuan perusahaan membayar beban bunga dan cicilan dari hasil penjualan selama satu periode.

Rumus:

Interest Expense

IC = --- (2.36) Total Sales

e. Analisis Potensi Pertumbuhan (Analyzing Growth Potentiality)

(24)

Analisis Potensi Pertumbuhan digunakan untuk menganalisis potensi pertumbuhan penjualan, kualitas tenaga keija, modal sendiri serta kenaikan laba bersih perusahaaa

Yang termasuk rasio potensi pertumbuhan yaitu:

♦ Sales Growth (SG)

Rasio ini mengukur tingkat pertumbuhan omzet penjualan perusahaan dari nilai periode lalu.

Rumus:

Total Sales j

SG = --- ^--- (2.37) Total Sales t.i

♦ Net Added Value to Sales Growth (NAS)

Rasio ini mengukur berapa pertumbuhan nilai tambah bersih yang dihasilkan oleh setiap pertumbuhan penjualan. Nilai tambah bersih terdiri dari biaya karyawan dan laba usaha.

Rumus:

NTB ,

NTB

N A S = --- --- (2.38) Sales Growth

NTB = Nilai Tambah Bersih (biaya karyawan dan laba usaha)

♦ Labor Strenght Increase (LSI)

Rasio ini merupakan indikator peningkatan kualitas tenaga keija seiring dengan kesediaan perusahaan menaikkan gaji atau upah untuk menarik tenaga keija yang berkualitas. Pengertian biaya

(25)

tenaga keija di sini adalah biaya tenaga keija langsung dan biaya tenaga kerja tidak langsung.

Rumus;

Biaya Tenaga Kerja Jumlah Tenaga Kerja ^

LSI = --- (2.39) Biaya Tenaga Kerja ,

Jumlah Tenaga Kerja

♦ Net Worth Increse Ratio (NWI)

Rasio ini mengukur tingkat kenaikan modal sendiri dari nilai periode lalu.

Rumus:

Total Equity ,

NWI = --- (2.40) Total Equity ,_i

♦ Net Profit Increse Ratio (NPI)

Rasio ini mencerminkan seberapa besar tingkat kenaikan laba bersih perusahaan.

Rumus;

Net Profit After Taxes ,

NPI = --- (2.41) Net Profit After Taxes

2.4.3. Analisis Diskriminan. Analisis Diskriminan (Multiple Diskriminant Analysis) merupakan metode analisis yang dikembangkan oleh Altman (Weston & Copeland, 1992 ;255).

(26)

Analisis ini adalali kombinasi dari berbagai rasio keuangan menjadi suatu model prediksi yang menghasilkan indeks yang memungkinkan klasifikasi dari suatu pengamatan menjadi satu dari beberapa pengelompokan.

Fungsi Diskriminan Z (Altman) adalah :

Z = 0.012x1 + 0.014x2 + 0.033x3 + 0.006x4 + 0.999x5 Dimana:

Z : tingkat ketidak pailitan XI : modal kerja/ total aktiva (%) X2 : laba ditalian/ total aktiva (%) X3 : EBIT/total aktiva (%)

X4 : nilai pasar modal/ nilai buku hutang (%) X5 ; laba usalia/ total aktiva

Syarat: 0.88 < Z < 1.99

Fungsi dan kegunaan Analisis Diskriminan :

♦ Memprediksi tingkat kepailitan perusahaan dan menanggulangi kepailitan perusahaan tersebut.

♦ Memprediksi penyebab kepailitan perusahaan dan menanggulangi kepailitan perusahaan tersebut.

Referensi

Dokumen terkait

Di satu sisi, tafsir demikian dapat menjadi sebuah terobosan hukum, tetapi di sisi lain, tafsir demikian, jika tidak dilakukan dengan penuh kehati-hatian dapat membuat

Setiap orang yang datang kepada Tuhan Yesus, maupun yang mengundang Dia hadir dalam hidup akan mengalami berbagai karya ajaib-Nya, sehingga sembuh dari sakit-penyakit, termasuk

Penelitian ini merupakan penelitian klinis, prospektif, evaluasi efikasi dan keamanan AsAq dibandingkan Cq pada subyek P.vivax malaria dan diamati selama 28 hari, sesuai protokol

Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh mengenai perencanaan pendidikan karakter melalui pembelajaran sejarah di SMA Negeri 1 Marga Tabanan, dapat diuraikan di

Seluruh pertandingan dan perlombaan seperti sedang dalam puncaknya di hari ketiga pelaksanaan Dies Natalis ke-19 Poltekkes Bandung, karena hari ketiga ini menjadi

: Izin pemanfaatan hasil hutan kayu pada penggunaan kawasan hutan negara untuk kegiatan non-kehutanan yang tidak mengubah status hutan..

dibe bela lanj njak akan an me mela lalu lui i pr pros oses es Pe Peng ngad adaa aan n Ba Barran ang) g)Ja Jasa sa, , di dipe perl rluk ukan an pr pros oses es

juga  dalam  kehidupan  dan  perilaku  kita  sebagai  pemimpin  maupun  warga  dalam . persekutuan  , pelayanan  dan kesaksian  GPIB.   Hidup