BAB 116. PROJEK-PROJEK § 1312. Projek Pemintalan
Sebagai didjelaskan dalam Bab 115 sebermula telah pada tempat-nja djika diadakan perluasan pemintalan setjara besar-besaran dan bahwa dalam beberapa tahun sadja dengan penghematan devisen ka-rena produksi setjara intensif projek ini telah dapat mentjapai taraf self-generating sehingga dapat selandjutnja memperkembang-usaha.
Berhubung masing-masing bidang mempunjai hubungan erat satu sama lainnja, maka rentjana dalam perluasan pemintalanpun tidak dapat dilaksanakan menurut angka-angka jang schematis atau idealis-tis.
Rentjana Penjediaan Mata Pintal untuk tarap pertama dari Ren-tjana Pembangunan Semesta I ini disesuaikan dengan daja produksi bahan baku.
Untuk tahun pertama dimulai dengan lk. 25% dan pada tahun ketiga baru 100%. Selandjutnja penambahan mata-pintal disesuaikan dengan produksi dan kebutuhan akan benang untuk industri tenun.
Daf tar Penjediaan Mata-Pintal.
Tahun
Djumlah benang ton (seharusnja)
Djumlah m.p. % m.p.
Djumlah bahan baku nabati
jang perlu diimpor (ton)
1961 158.000 25% 270.000 45.000
1962 162.000 50% 530.000 89.000
1963 165.500 100% 1.125.000 162.600
1964 203.200 „ + (377.000) 177.800
1965 208.000 „ + ( 45.000) 122.500
1966 212.700 „ + ( 47.000) 64.400
1967 271.800 „ + (591.000) 31.000
1968 278.160 „ + ( 63.600) 0
§ 1313. Projek Penjempurnaan Sandang
Pabrik penjempurnaan sandang jang ada sekarang hanja dapat melajani lk. 2% kebutuhan seluruhnja.
Sesuai dengan perkembangan projek pemintalan jang akan Seim-bang dengan industri pertenunan, maka dalam bidang penjempurna-anpun harus pula dibangun sedemikian rupa agar djangan menimbul-kan kepintjangan seperti dimasa jang lampau.
Dalam hubungan ini perlu ditindjau djenis penjempurnaan jang sangat dibutuhkan itu.
Djika berdasarkan pengalaman bahwa lebih kurang 60% dari djumlah konsumsi merupakan kain berwarna (printed/dyed) maka djumlah ini merupakan lk. 1000 djuta meter pada achir tahun Ren-tjana I.
Karena harus pula ditjapai taraf self-supporting dalam penjem-purnaan sandang, maka harus pula didirikan projek-projek jang se-suai dengan kebutuhan.
§ 1314. Rentjana Projek Penjempurnaan Sandang
Tahun 60% djumlahkonsumsi 15.000.000 m.Unit a Unit dengan -2000looms
1961 570 djuta/m. 5 —
1962 583 “ 20 —
1963 596 “ 10 1
1964 731 “ 10 1
1965 748 “ 10 1
1966 766 “ 5 1
1967 978 “ 6 1
1968 1.000 “ — —
Djumlah : 66 5
§ 1315. Projek Benang Djahit
Sebagaimana telah didjelaskan sebermula bersama dengan rentjanarentjana pokok (bahan nabati) dan pengolahan, perlu djuga di -perhatikan soal benang djahit.
Untuk ini direntjanakan sekurang-kurangnja penjediaan sebanjak 2000 ton benang dalam masa Rentjana Pembanguan Semesta Pertama.
§ 1316. Rentjana Pabrik Benang Djahit
Kebutuhan akan benang djahit ditaksir lk. 2000 ton setahun se-telah tahun 1965.
Satu unit dengan kapasitet 500 ton/tahun sudah tjukup besar bagi permulaan industri benang djahit jang dapat ditempatkan pada tiap-tiap pulau besar.
Perkembangan selandjutnja diharapkan agar swasta turut aktip dalam melajani kebutuhan benang djahit jang pelbagai djenis bentuk-nja itu.
§ 1317. Rentjana Pabrik Benang
Hampir setiap keluarga jang berdiam ditanah dataran tropik mem-butuhkan klambu untuk mendjaga kesehatan.
Djika rata-rata setiap 3 kepala memerlukan satu kelambu dan ukuran 1 klambu memerlukan lebih kurang 42" X 70"
x
72", jang dibutuhkan mulai tahun 1961 adalah 30.000.000 yard.Keadaan sekarang telah menghendaki persediaan baru sekurang-kurangnja 50% dari kebutuhan tersebut.
Djika setiap dua tahun harus diganti dengan jang baru maka se-tiap tahunnja dibutuhkan lk. 15 djuta yard atau 13,5 djuta meter.
Harga satu pabrik dengan kapasitet 200 yard/hari/2 regu ialah lk. US $ 90.000,— dan untuk gedungnja tjukup dengan Rp. 2.550.000,— jang meliputi lk. 850 m2 tanah.
§ 1319.
Rentjana Pabrik
Tahun Tempat Djumlah
pabrik Kapasitet Keterangan
1961 — — Persiapan
1962 50% 11 buah
a
13.200.000 pemesananProduksiSeluruh yard.
1963 Daswati I 100% 22 buah
a
(2 regu)1964 — — —
1965 — — —
§ 1320. Rayon
-Pada dewasa ini Indonesia telah memiliki alat-alat pertenunan dan pemintalan jang modern, tetapi kapasitetnja tidak dapat dipergunakan setjara efektif, antara lain karena. bahan baku tidak mentjukupi.
Hasil produksi bahan baku ditanah air kita belum lagi mentjapai 1% dari seluruh kwantum jang kita butuhkan.
Untuk mendjadikan Indonesia tidak lagi bergantung pada luar ne -geri, melainkan dapat memenuhi sendiri kebutuhan sandangnja, maka perlu sekali diusahakan selfsupporting dalam bidang bahan baku.
Karena Indonesia kaja dalam persediaan kaju, maka jang paling tjepat dapat dikerdjakan dewasa ini ialah menghastlkan djenis benang buatan jang disebut rajon. Hutan-hutan rimba jang ada dinegeri kita ini merupakan gudang bahan mentah jang dapat didjadikan bahan baku untuk benang rayon dan tekstil rayon. Untuk. mendirikan industri Ra -yon perlu dipeladjari dengan mendalam.
§ 1321. Sumber Bahan Rayon
Daftar Hutan Indonesia
Areal dalam km2
D a e r a h Areal jang di- Areal jang ti- Djumlah tjadangkan dak ditjadangkan areal hutan
Djawa dan Madura 28.913 — 28.913.
Sumatera 75.373 208.827 284.200.
Kalimantan 47.337 367.363 414.700.
Sulawesi 12.580 86.520 99.100.
Maluku/Irian Barat — 60.000 60.000.
Musa Tenggara 15.634 4.720 20.355.
Indonesia 1957 179.837 727.431 907.268.
1940 111.097 777.903 889.000.
1939 103.137 790.037 893.174.
1938 102.756 790.418 893.174.
(Departemen Agraria bagian Urusan Tanah Areal).
Disamping hutan-hutan rimba, baik djuga kita perhatikan kebunkebun karet, jang pohon-pohonnja sudah tjukup tua untuk dimasukkan kedalam rentjana peremadjaan.
Peremadjaan itu dimaksudkan untuk kebun-kebun karet rakjat dan untuk tanaman karet diperkebunan-perkebunan besar. Pada umumnja angka-angka statistik karet rakjat menundjukkan banjak kekurangan. Angka jang agak pasti berasal dari tahun 1942, ketika berhubung de-ngan adanja restriksi, diadakan „herregistratie” dalam sektor karet rakjat dan jang menentukan adanja karet rakjat seluas 1.300.000 H.A. Tentang perkebunan besar, djumlah seluruhnja.ada 490.942 ha.
jaitu 179.932 H.A. dipulau Djawa, 260.375 H.A. di Sumatera Utara. 12.603 H.A, di Sumatera Tengah, 26.375 H.A. di Sumatera Selatan dan 9.315 H.A. di Kalimantan.
Sumber-sumber ini memberikan kemungkinan-kemungkinan besar untuk mendirikan projek besar, tambahan pula faktor-faktor jang menguntungkan tjukup kuat menjokong perhitungan tjara besar-be-saran al lokasi sumber, djenis jang lama dan teratur.
Bahwa dari bahan kaju karet ini telah dapat diambil sellulosa jang baik dan telah diolah sedemikian rupa sehingga mendjadi bahan rayon jang memberikan harapan dihari depan, pertjobaan-pertjobaan setjara ilmiah telah dilakukan oleh beberapa negara diantaranja negara tetang-ga kita, Negara Persekutuan Tanah Melaju.
Sumber-sumber lain jang memberi harapan ialah djenis kaju liar dan perkebunan Pinus Mercusii, Aghatis dan Albasia jang djuga ter-dapat dibeberapa tempat dipulau-pulau Indonesia.
§ 1322. Peremadjaan pohon karet
Berdasarkan susunan umur tanaman karet di Indonesia dan meng ingat perlunja berlandjut usaha produksi dengan tidak mengalami ke-munduran. maka untuk sementara oleh Direksi P.P.N. disarankan sebagai tudjuan peremadjaan karet areal seluas:
Untuk karet perkebunan 150.000 H.A.
Untuk karet rakjat 240.000 H.A.
Tudjuan peremadjaan itu hendak dilaksanakan dalam waktu 10 tahun, djadi tiap tahun 15.000 H.A. dan 24.000 H.A., masing-masing untuk karet perkebunan dan karet rakjat, Angka-angka ini djauh lebih besar daripada gradasi peremadjaan jang didjalankan hingga sekarang ini.
Angka-angka jang masuk jalah 68% dari areal seluruhnja (490.942 H.A.), jaitu mengenai kebun-kebun seluas 339.840 H.A.
Ternjata bahwa peremadjaan meliputi 56.030 H.A., jaitu rata-rata 4.000 H.A, setahun. Dengan ini dapat ditaksir bahwa untuk seluruh areal, peremadjaan adalah 6 000 H.A. setahun.
Djika diambil sebagai riap (retation period) djangka 30 tahun, maka pembaharuan ini seluruhnja 31/
3% atau 16.000 H.A. setahun.
§ 1323. Peranan Rayon
Jang dimaksud dengan rayon ialah benang-benang jang dibuat dari selulosa atau derivateselulosa. Selulosa ada pada semua tenam -tanaman, jaitu dalam bentuk jang tidak banjak lagi memerlukan pe-ngolahan, berupa bulu sekeliling bidji kapas dan kapok ; berupa serat daun-daun pada nanas, pisang dan agave ; berupa pembungkus buah pada kelapa ; berupa serat batang pada bambu, tabu dan merang ; dan selandjutnja berupa kaju dalam pohon-pohon.
Pada stadium permulaan benang buatan itu dimaksudkan sebagai pengganti benang sutera. Pada tahun 1889 sudah berdiri di Perantjis dikota Besancon pabrik sutera jang pertama. Prosede jang digunakan pada waktu itu ialah mengolah obat bedil (gun powder) sedemikian rupa, sehingga nitro-selulosa kembali mendjadi selulosa (regenerasi dari selulosa).
Tjara jang demikian itu jang disebut prosede nitro-selulosa, kemudian terdesak oleh metode-metode jang baru dan achirnja sama sekali ditinggalkan.
Pada tahun 1857 sudah diketahui oleh Schweizer bahwa selulosa dapat ditjernakan dalam amoniak-oksida-tembaga (woxam). Pendapat inilah jang mendjadi dasar untuk produksi prosede woksam (cupra-mon) jang dibuat dengan mentjernakan selulosa dan kemudian melaksanakan regenerasi selulosa itu dengan mentjelupkannja kedalam asam. Prosede ini disebut prosede kwoksam (cupramon). Sutera tem baga ini pertama kalinja dibuat pada tahun 1891, dan tjara membuatnja sampai sekarang masih diteruskan antara lain oleh pabrik-sutera „Bemberg”.
Hampir bersamaan waktunja dengan penemuan sutera cuoxam tadi, pada tahun 1893 oleh Crose dan Leven ditemukan tjara jang baru jang disebut prosede viskos (viscose).
Metode ini berdasarkan reaksi selulose atau carbon-disulphide setelah selulosa itu sudah terlebih dahulu ditjelup dalam alkali. Hasil reaksi itu ialah suatu produk jang disebut xanthogenaat. Xanthogenaat itu kemudian ditjernakan dalam hydroxide dan inilah jang disebut viscose. Dengan penjemburan bahan viscose itu melalui lubang-lubang jang ketjil dalam asam belerang, maka dihasilkan benang-benang selulose. Prosede viskos inilah jang kemudian sangat banjak diperguna-kan diseluruh dunia.
baikan dengan tjara pembuatan baru, jaitu dengan penjemburan lurus vertikal kebawah didalam ruangan jang sudah penuh diisi dengan angin papas.
Menurut angka-angka mengenai produksi dunia dari seluruh ra- yon jang dihasilkan, 90% adalah menurut prosede viskos, 7% menu-rut prosede asetat dan 3% menumenu-rut prosede woksam.
Djadi prosede viskoslah jang terbanjak dipakai. Sebagai telah di sebut diatas, rayon itu dimaksudkan semula untuk mengganti sutera (sutera jang dihasilkan ulat-ulat sutera), karena itu rayon itu dahulu dinamakan sutera buatan. Nama itulah jang menjebabkan banjak orang hingga sekarang masih menjangka, bahwa rayon itu hanja da-pat dipakai untuk membuat badju wanita.
Dalam pada itu pengetahuan mengenai rayon sudah sedemikian berkembang, sehingga pada waktu sekarang benang rayon sudah da-pat mengganti setiap djenis benang jang lain, akan tetapi kebanjakan rayon itu dipergunakan dalam tjampuran dengan benang jang lain. Pentjampuran dilakukan untuk mengobah atau memperbaiki kwalitet,
umpamanja sadja rayon ditjampur dengan bulu atau kapas, su paja rayon itu memperoleh sifatsifat bulu dan kapas. Rayon itu di -tjampur dengan kapas, rami, bulu, dacron dan serat-serat buatan lainnja. Kemadjuan dalam teknologi. barn sampai pada pentjampuran jang mengidzinkan bagian rayon sampai 70%. Djika angka 70%
ini
dilampaui, maka sifat-sifat jang chusus dari bahan jang ditjampur itu tidak diperoleh lagi,sehingga sama sadja dengan „pure rayon”. Meluasnja pembuatan rayon dapat dlihat dari angka-angka (da lam ribuanton) mengenai produksi dunia dalam waktu 40 tahun belakangan ini:
1920 1930 1940 1950 1955
13 193 894 1318 lebih dari 2000
Rayon itu merupakan :
a. Filament fibres, jaitu benang jang tidak terputus-putus, tidak ubahnja dengan sutera-alam.
b. Staple fibres atau staple rayon jang pandjangnja 25 sampai 200 mm. ; mengenai pandjangnja, staple fibres itu menjerupai kapas, jang pandjangnja antara 20 sampai 40 mm itu.
Ratio mengenai besarnja produksi filament fibre dan staple fibre adalah berlainan dinegeri jang satu dengan dinegeri jang lain.
§ 1324. Pemakaian Rayon
Filament rayon dipergunakan untuk membuat pelbagai matjam sandang jang disulam, untuk pakaian dalam, pakaian wanita, kemedja dan untuk berbagai-bagai keperluan sebagai pengganti bahan sutera. Permukaannja halus dan mengkilap. Untuk mengubah kwalitetnja fi-lament rayon itu ditjampur dengan serat-serat djenis lain.
Demikianlah djuga halnja dengan staple fibre jang sering kali ditjampur dengan serat lain sebagai kapas, rami, sutera bulu dan lainlain. Staple fibre dapat menjerupai setiap djenis serat, sehingga tjo -tjok untuk setiap matjam pakaian, baik untuk wanita maupun untuk pria dan selandjutnja djuga untuk kain pintu dan djendela, untuk kain pelapis (bekleding), untuk permadani dan lain-lain.
Suatu sifat jang chusus pada rayon ialah kesanggupannja meng -hisap air (keringat), dan afinitetnja jang luar biasa akan bahan-bahan tjat.
Selain dari sifat tersebut salah satu jang memberikan keseimbangan ialah sifat warnanja. Kalau ditjelup, staple fibre itu menge -luarkan warna jang bersemarak sampai mengalahkan serat-serat jang lain, bahkan adakalanja orang menganggapnja terlalu mengkilap, se-hingga waktu masih merupakan viskos diperlukan untuk memberikannja warna jang sedikit gelap dengan bahan pigmen, biasanja be -rupa titaan-dioksida (T102). Selandjutnja untuk mentjegah
berkerut-nja, dipergunakan obat berupa getah buatan. Dalam usaha untuk memperbaiki sifatsifat rayon, ilmu kimia dan teknologi telah mem -peroleh basil-basil jang sangat pesat, sehingga kian hari nilai serat ini kian tinggi. Variasi jang dapat ditjiptakan dengan rayon djauh lebih banjak daripada dengan seratserat jang lain, baik variasi me -ngenai rupa maupun me-ngenai konstruksi, efek-efek warna dan lain-lain.
Disamping penggunaannja untuk tekstil, serat, rayon dipakai djuga untuk bidang-bidang industri karat buat ban luar, ban dalam, tali kipas, pipa-pipa dan lain-lain. Untuk maksud ini dibuat benang rayon dengan tjara jang serupa seperti membuat filament fibre tetapi tebal dan dengan kekuatan tahan-tegang jang besar (high tensile strength).
Diatas ini kita telah menjebut rayon jang dibuat menurut pro -sede asetat. Rayon asetat ini mempunjai sifat-sifat fisik tersendiri. Jang antara lain patut disebut ialah bahwa bahan jang dibuat dari djenis benang ini tidak tembus air. Hampir-hampir tidak dimilikinja kesanggupan absorbsi terhadap keringat, sehingga tidak seberapa tjotjok untuk didjadikan bahan pakaian-dalam didaerah panas. Rayon asetat ini banjak dipergunakan untuk djas hudjan, pajung, bahan-bahan pembungkus jang memberi perlindungan sempurna terhadap air. Dalam pada itu perkembangan perindustrian njata sekali mem -buktikan bahwa jang banjak dihasilkan ialah rayon jang dibuat me-nurut prosede viscose.
Harga dari hasil Rayon dibanding dengan kapas pada achir-achir ini menundjukkan kemadjuan proses rayon.
H
arga eksport (U.S.$ cent) di Djepang
belum termasuk asuransi dan biaja angkut
Tahun Bulan Benang kapas Benang staple fibre
1958 Januari 50.0 35.0
Pebruari 50.0 33.8
Maret 50.0 33.8
M e i 50.0 33.8
Djuni 50.0 33.8
Agustus 50.0 38.8
September 45.5 33.8
Oktober 45.5 33.8
1959 Januari 45.5 33.8
Pebruari 45.5 33.8
April 45.5 33.8
M e i 45.5 33.8
§ 1325. PembuatanRayon Viskos (Viscose Rayon)
Untuk membuat rayon viskos, bahan selulose itu diperoleh dari kaju. Sebermula jang dipergunakan hanjalah kaju pohon jang terma-suk keluarga coniferen, jang banjak didatangkan dari Swedia berupa kaju lembaran.
Selama perang dunia pertama Djerman dan daerah-daerah jang didudukinja mengambil selulosa itu dari pohon fagus silvatica karena pohon ini tersedia diwilajah sendiri, sehingga tidak perlu diimport, tetapi kwalitetnja tidak seberapa memuaskan karena banjak mengan-dung pentosaan. Dalam pada itu dipeladjari djuga kemungkinan-ke-mungkinan untuk memperoleh selulosa dari merang, dari arundo de-nax (Italian reet) dan dari sampah.
Prosedur mengerdjakan rayon viskos itu singkatnja adalah sebagai berikut:
Pulp jang berupa lembaran atau rol dipetjah-petjah mendjadi potongan-potongan kaju jang berukuran 1 sampai 4 cm. Petjahan-petjtan kaju itu berkali-kali ditjelup dalam larutan 17½ % alkali (sodium hydroxide), jang mengandung djuga sedikit hydrogen peroxyde, sehingga kaju itu mendjadi kembung dan memiliki reaktivitet kimia jang lebih besar dan dalam pada itu terbuang unsur-unsur jang tidak terpakai. Proses ini memakan waktu antara 2 sampai 4 djam. Sesudah itu potongan-potongan kaju itu digiling, sehingga mendjadi „vlokkige-massa” (selulosa alkali).
Kemudian selulosa alkali itu diolah dengan carbon-disulphide. Sesudah mengalami pengolahan ini selama 3 djam, maka selulosa al-kali itu mendjadi masak, kuning warnanja dan disebut xanthogenaat (xanthos = kuning). Xanthogenaat itu ditjernakan dalam larutan se-dium hidroksida, sehingga mendjadi viskos dengan nilai selulose 6 — 8%.
Viskos itu dipindahkan ketempat jang lain dan ditjampur dengan beberapa bahan sehingga ,,homogeen'', sirat mana perlu untuk proses selandjutnja. Sesudah itu viskos itu melalui saringan, dipindahkan lagi untuk mematangkannja selama 2 a 4 hari. Maiksud pematangan itu ialah menambah kesanggupan koagulasi pada waktu proses pe-mintalan dalam asam belirang, proses mana masih akan menjusul. Pada waktu pematangan ini muntjul beberapa side-product dan car-bon-disulphine. Dalam fase terachir dari waktu pematangan ini viskos itu disimpan dalam ruangan hampa udara. Pala waktu itulah keluar semua air-bubbles jang masih dikandungnja, hal mana sangat perlu supaja didalam benang nanti djangan ada bagian-bagian jang lemah.
Didalam mesin-mesin pemintalan viskos itu kemudian disemprot-kan melalui tubang-lubang jang ketjil dalam asam belirang. Mulai ketika itu sudah timbul perbedaan didalam pengolahan. Perbedaan inilah jang menentukan, apakah hasil prosede itu merupakan filament fibre atau staple fibre. Mengenai fibre, tali rayon itu dipotong-potong dalam mesin pemotong jang spesial. Selandjutnja fibre itu berkali-kali dibersihkan dengan air dan diberi beberapa obat untuk menentukan sifat-sifatnja (after treatment). Pada achirnja fibre itu dikeringkan, dihimpun-himpunkan dengan teratur dan dipak.
Tjara pemintalan filament rayon dilakukan dengan spinneret-spinneret jang ketjil dan tali rayon dari setiap spinneret-spinneret itu diberi obat-obatan setjara individuil untuk menentukan sifat-sifatnja.
Dengan ringkas, proses pembuatan rayon itu dapat dibagi dalam 6 fase berturut-turut :
a. Pembuatan selulosa alkali, termasuk pekerdjaan mematangkan-nja.
b. Pembuatan viskos.
c. Pekerdjaan mempersiapkan sifat-sifat viskos. d. Pemintalan viskos mendjadi rayon.
e. Pembersihan rayon dan- penentuan sifat-sifatnja.
f. Pekerdjaan mengeringkan, menghimpunkan dan mempaknja.
§ 1326. Bahan kimia untuk procede viskos
1. 50.000 t. pulp kimia
2. 49.000 t. sodium hidroksida 3. 17.000 t. karbon disulfide 4. 70.000 t. asam belirang 5. 12.000 t. sodium sulfida 6. 4.000 t. zink sulfat
7. 4.000 t. hidrogen peroksida 8. 10.000 t. asam asetik
9. 240 t. obat-obat penjelesai 10. 15 t. blancofor
§ 1327. Procede pulp
Untuk membuat pulp dapat diikuti dua djalan, jaitu prosede sulfat dan prosede sulfit, Procede sulsulfat adalah prosede barn jang me -merlukan belirang dalam kwantum jang kurang. Karena persediaan belirang di-Indonesia terbatas, maka prosede inilah jang sebaiknja dipergunakan.
Bahan-bahan jang diperlukan untuk menghasilkan 50.000 ton pulp ialah :
225.000 m3 kaju
15.000 t. sodium hidroksida 5.000 t. sodium sulfida 3.800 t. sodium karbonat 1.800 t. sodium sulfat 5.000 t. kapur chlor
Keterangan diatas diberikan untuk memberikan gambaran bahwa didalam pembuatan rayon ini banjak sekali bahan-bahan jang diper-lukan berupa obat-obatan, sehingga perlu dibangun chemical indus-tries disamping pabrik pulp dan rayon.
Dengan demikian maka usaha mendirikan plant rayon jang leng-
-kap tidaklah hanja untuk menghasilkan serat-buatan sadja, melainkan penting djuga artinja sebagai pusat Chemical Industries. Dalam hu-bungan ini jang menarik perhatian kita ialah bahwa semua bahan jang dperlukan tersedia dalam negeri dalam kwantum jang tjukup, ke-tjuali zink. Ichtisar untuk mulai membangun industrie dasar dilapang-an kimia ddilapang-an pharmaceutica selama 10 tahun jdilapang-ang achir ini mendapat perhatian besar, tetapi hingga sekarang belum terlaksana. Pemerin-tah sudah membuat perdjandjian dengan pihak Soviet Uni untuk men-dirikan fertilizer plant dan pada achir tahun 1959 dengan fihak Ame-rika (Foster & Wheeler).
Dengan mendirikan pabrik Rayon jang lengkap kita turut mele -takkan dasar untuk pembangunan industri obat-obatan.
§ 132$. Pabrik pembantu pabrik induk rayon
Djika hendak didirikan pabrik rayon jang lengkap, dengan. ka-pasitet 45.000 ton rayon setahun, maka pabrik-pabrik jang mendjadi bagiannja serta bahan-bahan jang diperlukan adalah sebagai berikut:
a. Pabrik pulp (pulp selulosa) :
Untuk menghasilkan 50.000 ton pulp kimia untuk rayon dan mechanical pulp untuk kertas pembungkus. Pabrik ini me-merlukan setiap tahun 20. mill. m2 air atau 55.000 m2 setiap
hari, Karena itu sebaiknja pabrik ini dibangun ditepi sungai, jaitu untuk memudahkan pengambilan air dan penjalurannja.
b. Pabrik Rayon :
Untuk menghasilkan 45.000 ton rayon berupa staple fibre (33.000 ton), filament rayon (8.000 ton), dan rayon dengan kekuatan tahan regang jang besar (high-tenacity rayon 4.000 ton).
c. Pabrik elektrolisi :
Untuk menghasilkan 80.000 ton sodium hidroksida, dengan mendjalankan elektrolisis terhadap sodium sulfat dan so-dium chiorida.
Waktu mendjalankan elektrolisis terhadap sodium chiorida, maka di samping sodium hidroksida diperoleh djuga chiori-da jang chiori-dapat didjadikan sebagai bahan chiori-dasar untuk mem-buat obat-obatan jang berharga di Indonesia sebagai asam hidrochlor, insectisida seperti benzine hiksachlorida, ibenzil chiorida dan kapur chlorina.
d. Pabrik karbon disulfida :
Untuk menghasilkan 12.000 karbon disulfida dan member-sihkan 5.000 ton karbon disulfida. Karbon disulfida dapat dibuat dari arang dan belirang atau dari "natural gas se-perti methan dan propan.
Natural gas terdapat disumber pengambilan minjak.
e. Pabrik asam belirang :
Untuk membuat 22.500 ton asam belirang. Tambahan diperoleh dengan djalan elektrolisis dari sodium sulfat jang didapat dalam prosede pemintalan. Seluruhnja diperlukan 73.500 ton asam belirang.
f. Pabrik untuk obatan-obatan penjelesai :
g. Pabrik Soda :
Untuk membuat 3.800 tan sodium karbonat, jang dibuat menurut prosede Solvay. Bahan-bahan jang diperlukan ialah 6.000 ton sodium chlorida, 4.250 ton kaput dan 3.000 ton batu bara atau bahan bakar lainnja.
h. Pabrik lak :
Jaitu untuk membuat ± 2.000 ton lak jang melindungi me-sin-mesin dan perlengkapan lainnja terhadap karatan ser-ta djuga terhadap kerusakan oleh obat-obaser-tan dan karat. Lak jang baik, jang tahan alkali asam-asam, chlorina dan air dibuat dari benzil-selulosa dan telah dipergunakan de-ngan hasil jang memuaskan dipabrik-pabrik pulp dan rayon.
i.Pabrik untuk pembuatan kertas pembungkus dan peti-peti kaju.
a. untuk menghasilkan sepuluh sampai limabelas ribu ton kertas pembungkus (paste board dan kertas Kraft) jang dibuat dari ± 130.000 ton waste wood dari pabrik pulp, kwantum waste wood itu masih memerlukan suplesi hanja separuh lagi.
b. untuk menggergadji kaju buat peti-peti.
j. Sentral pembangkit tenaga Listrik. Tenaga jang diperlukan ialah:
tenaga listrik untuk elektrolisis 260.mill. kwh. tenaga listrik untuk motor 90 „ „
Djumlah 350.mill. kwh. untuk ini diperlukan 900.000 ton uap untuk keperluan menjediakan
kalori 650.000 “ “
Djumlah 1.550.000 ton uap.
Untuk membuat 1.55 mill ton uap diperlukan 132.000 ton bahan pembakar berupa minjak=bakar atau 325.000 ton ,ba-tu bara.
Djika Projek Asahan terlaksana, maka plant rayon jang berdekatan dengan mudah mendapat tenaga listrik jang di -butuhkannja, sehingga tidak perlu lagi mengangkut bahan bakar banjak-banjak.
k. Laboratorium :
Tempat para ahli bekerdja untuk melakukan research dan menilai hasi-hasil jang diperoleh dalam dan luar negeri. Selandjutnja perlu selalu diichtiarkan perbaikan.
l.Bengkel :
m. Pabrik pemintalan :
Jaitu unit jang sanggup memintal seperempat hingga sete-ngah dari hasil produksi.
Plant rayon ini memerlukan gudang untuk persediaan bahan-bahan dan alat-alat, demikian djuga untuk menjimpan hasil produksi sebelum diangkut ketempat lain.
Untuk memberikan pimpinan dan menjelenggarakan admi-nistrasi dari semua bagian-bagian unit rayon itu perlu ada kantor administrasi dan pimpinan umum.
Selandjutnja perlu ada bagian jang diberi tugas memperhatikan akomodasi, fasilitet dan djaminan sosial pada umumnja untuk selu-ruh buselu-ruh.
§ 1329. Staf dan Pegawai
Pekerdja-pekerdja jang diperlukan untuk plant rayon dapat di-bagi dalam dua golongan, jaitu :
a. Personil untuk administrasi, termasuk pimpinan untuk urusan organisasi dan ekonomi-keuangan.
b. Personil tehnik.
Untuk pelaksanaan pabrik rayon jang lengkap dengan kapasitet 45.000 setahun diperlukan :
Untuk administrasi :
1 orang direktur umum
1 orang direktur ekonomi-keuangan 1 orang direktur administrasi 2 orang penasehat umum
9 orang manager untuk pembelian dan pendjualan 24 orang bookkeeper
54 orang employe untuk dibagi-bagi buat administrasi ma-sing-masing pabrik dan bagian-bagian lainnja sebagai di-uraikan diatas.
1 orang ahli hukum 3 orang dokter 2 orang sosiolog 90 krani.
Untuk penjelenggaraan tehnik diperlukan : 1 direktur tehnik
2 pembantu utama tehnik
45 tehnolog kimia, analis dan penjelidik
15 insinjur mesin untuk pabrik-pabrik, planning dan beng-kel
Djumlah pekerdja-pekerdja lainnja diseluruh plant rayon itu adalah 8.000 orang.
§ 1330. Tjontoh pabrik rayon
Pabrik rayon jang menghasilkan 40 ton rayon fibres 1 hari, dengan tidak ada pabrik pembantu.
Jang termasuk dalam pabrik ini hanjalah : 1 Pabrik Rayon
2 Sentral tenaga listrik
3 Sentral buat pengambilan (pengolahan) air serta penjaluran-nja sesudah dipakai
4 Bengkel 5 Laboratorium.
Harga C. F. mesin-mesin dan alat-alat termasuk montage adalah 13 mill. U.S. $.
Hasil setahun jang diperoleh dari pabrik ini ialah 365 X 40 ton
= 14.600 ton.
Djika harga rayon diperkirakan 51 U.S. cents 1 kg. maka penge-luaran devisen jang dihemat dengan pabrik ini ialah kira-kira 7½ Mill. U.S. $ setahun. Akan tetapi dari penghematan 7½ Mill. U.S. $ itu harus dikeluarkan lagi 65% jaitu 4.875 djuta dollar, untuk pembe-lian pulp, obat-obatan, alat pembungkus, dll., sehingga jang tinggal hanjalah penghematan sebesar 2.625 Mill. U.S. $.
Untuk pabrik ini diperlukan ± 350 orang pekerdja untuk pro-duksi.
§ 1331. Tjontoh pabrik rayon dengan pabrik pulp
Pabrik Rayon untuk produksi 40 ton rayon fibres sehari dan pabrik pulp jang menghasilkan 50 ton sehari.
(Tidak ada termasuk pabrik untuk produksi obat-obatan).
Plan ini adalah sama sebagai jang diadjukan pada sub. a diatas, akan tetapi bedanja ialah ditambahnja pabrik pulp. Karena penam -bahan ini maka sentral untuk tenaga listrik, sentral untuk air dan semua instalasi lainnja adalah lebih besar, berhubung dengan konsum-si jang bertambah dari kedua pabrik itu.
Harga C.F. mesin-mesin dan alat-alat termasuk montage adalah ± 18 Mill. U.S. $.
Penghematan devisen sama dengan sub: a.`diatas, jaitu sebesar
7,5 Mill. U.S. $. setahun. Dari djumlah ini harus dikeluarkan 35% untuk impor obat-obatan dan alat-alat pembungkus. Dengan demikian penghematan jang sebenarnja adalah 4.875 Mill. U.S. Dollar.
Pabrik ini memerlukan 700 orang pekerdja untuk produksi.
Disamping itu jang perlu mendjadi pertimbangan ialah bahwa pengangkutan asam belirang dan djuga pengangkutan karbon disulfi-da sangat mahal. Tambahan lagi assuransi pengangkutannja tinggi benar karena bahan-bahan ini mudah meledak dan terbakar.
§ 1332. Tjontoh Pabrik Rayon Induk dengan produksi 40 ton rayon/ hari
Pabrik ini didirikan lengkap dengan pabrik untuk pulp dan un-tuk obat-obatan, terketjuali elektrolisis unun-tuk sodium chlorida.
Bagian-bagian jang termasuk pabrik jang lengkap ini ialah : a. Pabrik pulp untuk produksi 50 ton sehari
b. Pabrik rayon untuk produksi 40 ton sehari c. Pabrik asam belirang produksi 50 ton sehari
d. Pabrik karbon disulfida untuk produksi 5 ton sehari e. Elektrolisis sodium sulfat untuk produksi 65 ton sehari. f. Sentral tenaga listrik.
g. Pabrik slat pembungkus produksi 10 ton sehari.
h. Sentral untuk pengambilan (pengolahan) air dan penjalurannja sesudah dipakai.
i. Djalan kereta api dan fasilitet-fasilitet transpor lainnja untuk pengangkutan kaju, batu bara dll.nja.
j. Laboratorium. k. Bengkel.
Elektrolisis sodium chlorida tidak dimasukkan dalam rangka pe-kerdjaan, karena dengan mengolah sodium sulfat setjara elektrolisis, hanja sebagian ketjil sadja sodium hidroksida jang hilang. Dengan demikian maka tidak perlu pengeluaran untuk pembangunan “lijn” buat melakukan elektrolisis terhadap sodium chlorida dan djuga di-hemat pengeluaran untuk plant tempat pengolahan chlorida.
Harga C.F. dari mesin-mesin dan alat-alat ialah ± 26,5 djuta U.S. $. Penghematan dalam pengeluaran devisen adalah sama dengan djumlah jang disebut diatas jaitu 7½ djuta U.S. $., tetapi; bedanja
ialah, bahwa dari penghematan ini hampir tidak ada satu senpun jang dikeluarkan, karena tidak ada bahan-bahan jang perlu diimpor.
Tenaga pekerdja jang diperlukan untuk produksi, ialah 2.400 orang, belum lagi terhitung pegawai untuk administrasi.
§ 1333. Tjontoh Pabrik rayon dengan produksi 120 ton rayon/hari
Pabrik rayon ini termasuk semua pabrik pembantu lainnja seper ti plant elektrolisis untuk sodium chlorida; djuga satu unit pemin -talan jang mempunjai kapasitet untuk mengerdjakan setengah dari produksi.
Disamping itu dibangun djuga sebuah pabrik jang besar untuk mengatur chlorida mendjadi bahan kimia jang diperlukan.
Produksi setahun adalah kirakira 45.000 ton. Harga C.F. mesin -mesin dan alat-alat ialah 80 djuta U.S. $. Devisen jang dihematkan setahun ialah 25 djuta U.S. $. Buruh seluruhnja jang diperlukan, ter -masuk dibagian administrasi dan dihutan, adalah 8.000 orang.
Satu bagian jang tidak dibentangkan diatas, dalam menjusun komposisi pabrik rayon jang lengkap, ialah bagian jang menjempur nakan integrasi, sebuah pabrik kertas jang menghasilkan 10.000 sam -pai 15.000 ton setahun.
Dalam djumlah buruh jang disebut pada paragrap diatas, peker djapekerdja untuk pabrik kertas itu sudah diperkirakan; jang be -lum turut diperhitungkan adalah harganja, jaitu sebesar 3 djuta U.S.$.
§ 1334. Sifat serbaguna dari Projek Rayon
Dari uraian diatas, nampak bahwa Projek Rayon itu membawa ke-mungkinan dibidang lain jang dalam PEMBANGUNAN SEMESTA BE-RENTJANA p a t u t dan w a d j a r diperhitungkan :
a. Staple rayon jang dikerdjakan akan menghasilkan serat untuk bahan pakaian bagi segala keperluan (dari bahan pakaian sampai kepada keperluan sandang lainnja.
b. Filamen Rayon untuk mengganti sutera, dan untuk keperluan lainnja jang dikehendaki.
c. Tire-cord jang sangat menguntungkan bagi fabrikasi ban. d. Selofan jang didapat.
e. Penggantian serat-serat lain bagi Indonesia jang serba limitatif dihasilkan.
f. Dapat menghasilkan Selulosa Asetat jang dapat ditudjukan kepa-da pembuatan plastik, bahan tjat, film dll.nja.
g. Nitro Selulosa jang dapat menjediakan bahan mesiu, tjat Selu-losa.
h. Ether Selulosa jang dapat ditudjukan kepada pembuatan Ethyl, Methyl-Benzyl dan Carbonxymethyl Cellulose.
i. Bahan pulp jang dapat ditudjukan kepada pembuatan Mechanical Pulp untuk menghasilkan karton, kertas koran, dan kertas pem -bungkus (Kertas Kraft).
j. Powerplants dapat dikombinasikan pemakaiannja ke-unit-unit lain, seperti pabrik pupuk (nitrat amoniak, dan atau sulfat amo -nium).
k. Ada kelebihan produksi bahan kimiawi seperti: Caustic soda Sulfuric acid
Carbon bisulfide Cellulose pulp Lacquers Packing materials
1. Dan kemungkinan pembuatan hasil-tambahan seperti :
Chlorina jang mendjadi bahan dasar untuk pembuatan obat-obatan jang berharga, sebagai asam hidrochlor, bensin hik-sachlorida, bensil chlorida dan kapur chlorida.
m. Perlu djuga ditjatat bahwa dibidang sosial ekonomi akan timbul beberapa keuntungan, seperti bertambahnja pekerdjaan, transmigrasi dan timbulnja kampung-kampung serta rantaupenghidupan masjarakat lainnja, pendeknja : s u a t u d a e r a h In -donesia t e r b u k a karenanja.
n. Hutan-Balantara kita dengan pohon-pohonnja jang beratus djenis dapat didjadikan Hutan Kultur dengan beberapa matjam pohon jang mempunjai nilai ekonomis jang lebih tinggi.
o. Bagi Negara berarti pengurangan pemakaian devisen jang ber-arti penghematan.
p. Tjita-tjita selfsupporting mendjadi terwudjud, manakala 5 unit diadakan dalam masa 8 tahun pertama, baik dari segi kenaikan minimum requirement 10 m keatas, maupun mengimbangi ke-naikan penduduk.
q. Dengan melaksanakan projek-projek rayon itu Pemerintah ber-hasil mewudjudkan suatu Karya Monumental dalam kebangunan Indonesia.
§ 1335. Riwajat singkat mengenai Rentjana Projek Rayon di Indo-nesia
Pada tahun 1954 sudah mulai terkandung niat dilingkungan Kementerian Perekonomian jang pada waktu itu dipimpin oleh Ir. Roos -seno untuk mempeladjari kemungkinan mendirikan projek rayon di Indonesia.
Rentjana pertama tentang pembuatan rayon dikemukakan kepa-da Pemerintah oleh Prof. Dr. R.J.H. Bisanz, jaitu pakepa-da permulaan tahun 1955. Rentjana itu tersusun rapih dan terutama sekali menge-nai bidang teknik dan penilaian harga mengandung bahan-bahan jang berharga. Pokok pikiran Tuan Bisanz itu ialah, bahwa didalam ichtiar untuk mengembangkan perindustrian di Indonesia harus diberikan prioritet kepada barang-barang konsumsi jang pokok. Ditegaskannja bahwa sesudah pangan, sandanglah jang terpenting. Kedua-duanja diperlukan setiap hari dan didalam kwantitet jang besar. Selandjutnja dipertimbangkan, bahwa Indonesia berada dalam posisi jang sangat baik untuk memiliki Industri tekstil, karena bahan baku tjukup ter-sedia berupa kaju dihutan-hutan rimba. Untuk menggunakan kekajaan ini diusulkannja mendirikan plant rayon didaerah Djambi, ditepi su-ngai Batanghari kira-kira 50 km disebelah Barat Laut kota Djambi. Disamping itu disarankan mendirikan pabrik untuk obat-obatan supaja dapat melajani kebutuhan plant rayon tersebut.
lebih mempertegas projek rayon itu. Sebagian besar dari laporan itu disusun oleh Prof. Dr. Bisanz bersama-sama dengan Ir. Adnan Kusumia, Pegawai Tinggi di Kementerian Perindustrian.
Usul-usul Prof. Bisanz itu kurang mendapat perhatian.
Dalam pada itu penindjauan dan penjelidikan sebagai persiapan projek rayon sudah dimulai sedjak tahun 1955 di Semangus, Sumatra Selatan. Usaha persiapan itu waktu sekarang djuga masih diteruskan dengan giat dibawah pimpinan Ir. Soesilo H. Prakoso.
Selama beberapa tahun hingga pertengahan 1959, jang mendja-lankan koordinasi mengenai usaha Pemerintah untuk Semangus ialah Biro Perantjang Negara jang memegang keuangannja..Untuk 1957 diterima biaja chusus sebanjak Rp. 100.000,— untuk tahun 1958
sebanjak Rp. 700.000,— dan untuk tahun 1959 disediakan Rn. 2 djuta, disamping itu telah diberikan 1 jeep + trailer dan sebuah Unimog dalam tahun 1958.
Pada tanggal 18-1-1958 dibentuk Panitya Rayon jang merupakan Panitva Inter-Departemen dengan surat keputusan. Perdana Menteri No. 27/P.M./1958. Dalam Panitya itu Kementerian Pertanian mem-punjai wakilnja, jaitu Kepala Direktorat Kehutanan dan Tata Bumi Ir. Soesilo H. Prakoso. Sumbangan pikiran dari Ir. Soesilo sangat ber-harga untuk kelandjutan pemikiran projek itu, terutama karena lang-sung berhubungan dengan bidang jang sehari-hari dipimpinnja.
Pada waktu itu sudah direntjanakan untuk mendirikan sebuah pabrik rayon di Sumatra Selatan dan telah ditjadangkan hutan Sa-mangus dan hutan Tjabang, jang kedua-duanja telah ditutup (ditetap-kan chusus.untuk keperluan perusahaan r a y o n ) .
Dalam bulan Oktober 1958 Panitya Rayon telah menetapkan (de-ngan persetudjuan Perdana Menteri Kabinet Karya) sebagai target: a. Pilot plant rayon dengan kapasitet 1 ton serat rayon sehari guna
keperluan research dan training.
B. Pabrik rayon dengan kapasitet 15.000 ton setahun.
§ 1336. Kemungkinan-kemungkinan untuk projek rayon di Indonesia Sebagai telah diterangkan diatas, Indonesia sangat kaja akan kaju jang tersedia dihutan dan dikebun-kebun karet.
Hutan Indonesia mengandung banjak ragam kaju. Djumlah djenis kaju jang dapat mentjapai garis tengah 40 cm dan lebih, ditaksir ada kurang lebih 3.700 djenis, tergolong dalam 450 keluarga jang mempunjai daerah pentjar jang terbatas. Beberapa jugs hanja ada di Pulau Djawa, lainnja hanja ada di Sumatera dan Kalimantan dan lainnja lagi hanja ada di Sulawesi. Hal ini berhubungan dengan ri-wajat pertumbuhan Indonesia jang terletak diantara benua Asia dan Australia, jang masing-masing mempunjai djenis flora sendiri-sendiri, disamping persamaan jang agak besar.
§ 1337. Djenis hutan untuk bahan Rayon. a. Djawa/Madura.
Djenis hutan jang utama ditanah rendah sampai kedaerah jang tingginja 500 m dml. di Djawa Tengah dan Djawa Timur adalah hutan djati. Hutanhutan pegunungan di Djawa Barat mengandung djenis -djenis. Castanea, argentea (saninten), Quercus (pasang), Schimanoren-hoa (puspa), Altingia excelsa (rasamala) dan Pedocarpus imbriceta (djamudju). Hutan laut terdapat disekitar Djakarta, di Tjilatjap, In-dramaju dan Banjuwangi. Makin ke Timur, makin sedikit djumlah djenis flora, tetapi makin banjak djumlah Tropohyt, akibat iklim jang kering. Di Djawa Timur terdapat banjak hutan Casuarrina Junghuh-niana (tjemara) dan sudah mulai adanja safana-safana.
b. Sumatera dan Kalimantan.
Pada umumnja terdapat disini hutan-hudjan tropik jang selalu hidjau, terdiri atas ratusan djenis kaju. Djenis-djenis kaju ini sebagian tergolong dalam keluarga Dipterocarpaceao, umpamanja meranti me-rah dan meranti putih (Shorea), keruwing (Dipterocarpus), kapur (Dryobalanops) damarlaut (Shorea) dan bengkirai (Shorea laevifolia). Disekitar Bengkalis terdapat banjak pohon dalam (Sapotaceano) dan punak (Tetramerista blabra). Ketjuali DipterecapaceafAli.Kalimantan terdapat djuga pohon ulin (EuAderoxylon Zwageri), jang tumbuh dise-luruh pulau. Pohon ini tumbuh djuga berkelompok di Sumatera Se latan dan Djambi. Dibeberapa tempat sepandjang pantai Sumatera dan Kalimantan terdapat di hutanlaut, a.l. Teluk Aru, Riau, Indragiri, Bengkalis, Kalimantan Barat dan Timur. Di Atjeh, Aek Na Uli dan Tapanuli kita djumpai hutan tusam (Pinus merkusii).
c. Indonesia bagian Timur.
Djenisdjenis kaju jang panting didaerah ini ialah bajam, mer -bau atau ipil (Intsia amboinensis), lara atau nani (Metrosideros pe-toilata) sonokembang (pterocarpus inducus), kajuarang (Diospyres celebica). Tumbuh djuga hutan-hutan damar (Agathis spec) dan sagu (Metroxylon spec). Dibagian Timur Nusa Tenggara dan djuga di Ma -luku sebelah Tenggara banjak didjumpai hutan safana dengan pohon lontar (Borassus flabell fifer) hutan Eucalyptus dan hutan tjemara (Casuariana). Dikepulauan ini terdapat djuga hutan taut, terutama terpentjar di Maluku dan Irian Barat.
Dalam mentjari amber kaju sebagai bahan untuk membuat pulp kimia, terbuka tiga arah kemungkinan :
a. mengambil kaju dihutan hudjan jang terdiri atas ratusan djenis kaju.
b. mengambil kaju dari hutan dimana kita djumpai satu matjam kaju, misalnja tusamy
Pulau Djawa dan Madura, daerah jang dahulu kala diliputi hutan, sudah mendjadi tanah jang intengif dikerdjakan oleh penduduk. Disini kaju jang utama adalah djati. Daerah hutan jang sesuai untuk meng -hasilkan kaju buat meng-hasilkan pulp sudah tidak ada lagi.
Diluar Djawa dan Madura sekarang hanja terdapat sedikit ke -lompok hutan jang dapat dipakai sebagai hutan industri setjara permanen ekondmis dan kommersil. Keadaan jang demikian adalah akibat susunan hutannja dan letaknja jang tidak menguntungkan dan oleh karena disamping itu penjelenggaraan hutan industri merupakan suatu penanaman modal jang sangat besar, maka dalam rentjana ini buat sementara hanja dipilih objek-objek jang kiranja dapat dipertanggung djawabkan.
§ 133. Kaju Hutan Semangus
Salah satu dari objek itu ialah hutan Semangus Objek Semangus itu akan merupakan objek jang terberat bagi kehutanan dan karena itu perlu ditindjau lebih dalam. Tidak sedikit djumlah bahan mentah jang harus disediakan oleh kehutanan, bilamana pabrik rayon itu su-dah bekerdja penuh.
Seluruh hutan tjadangan Semangus itu luasnja kurang Iebih 170.000 ha, dari luas ini perlu ditjadangkan untuk keperluan kaju pertukangan bagi daerah Palembang kurang lebih 80.000 ha.
Untuk keperluan industri rayon dapat ditjadangkan seluruhnja 90.000 ha, diantaranja 70.000 ha berupa hutan jang baik dan dapat diekploitasi setjara ekonomis,
Areal ini dapat ditambah dengan tjadangan hutan Tjaban seluas 10.000 ha.
§ 1339. Kemungkinan dari Hutan Semangus
Untuk bahan persiapan pabrik rayon dengan kapasitet 45.000 ton setahun diperlukan kaju sebagai berikut:
1. Untuk perushaan hutan : perumahan, Ios-los,
djembatan-djembatan dsb. ... 25.000 m3
2. Untuk mendirikan gedung pabrik rayon dan
pabrik-pabrik lainnja, perumahan, konstruksi 100.000 m3.
3. Untuk membuat pulp diperlukan 225.000 m3 setiap tahun.
Menurut penjelidikan jang telah didjalankan, maka djatah kaju jang baik untuk industri tersebut berdjumlah paling sedikit 150 m3/ha.
Apabila hanja diambil 100 m3 sadja (disisakan 50 m3/ha guna
men-djamin permodalan hutan), maka dengan kedua wilajah hutan, jaitu Semangus 70.000 ha dan Tjaban 30.000 ha., tersedia kurang lebih 8 djuta m3,
Djumlah ini adalah lebih dari tjukup untuk mendjamin pabrik rayon dengan kapasitet 45.000 ton setahun selama 35 tahun.
Hutan Semangus dan Tjaban mengandung berpuluh-puluh djenis kaju dengan berat djenis 0,5 - 1,0, antara lain djenis-djenis meranti.
itu adalah kurang baik. Maka haruslah diusahakan agar setjara sis-timatis djumlah djenis-djenis itu lambat laun bertambah ketjil hingga hutan-hutan jang ditanami kembali itu mengandung kaju-kajuan untuk pulp jang bermutu tinggi dan mempunjai kadar jang tetap. Mengingat pada umumnja djenisdjenis jang terdapat disini tumbuh -nja tjepat, maka dapat diambil riap (rotation period) 35 tahun.
Mengingat bahwa hutan belukar (second growth) diwilajah ter-sebut sebagian terbesar mengandung djenis-djenis pionir seperti Anthocepalus Cadamba, Macarenga. jang baik untuk rayon pulp, tum-buh tjepat dan mempunjai daja produksi kaju sedjumlah paling sedikit ± 200 m3 per ha dalam waktu ± 15 tahun, maka peremadjaan hutan
hutan itu dengan sistim silvikulturperemadjaan alamiah dapat dise -denggarakan tidak begitu sukar.
Mengenai kwalitet kaju dari bermatjam-matjam djenis pohon jang ada dihutan Semangus dan Tjaban itu telah diadakan penjelidikan setjara mendalam oleh Balai Penjelidikan Kimia di Bogor jang dipim -pin oleh Sdr. Ir. Adrian Kusuma dan Prof. Dr. Bisanz. Penjelidikan itu dilandjutkan di Laboratorium Rayon di Bandung.
Dihutan Semangus tumbuh ± 200 djenis pohon, dari jang 200 ini 45 djenis mewakili 81% dari semua pohon jang ada. Sang 19.% lagi terdiri dari pelbagai species. Djenis jang 45 tadi dapat digolong kan dalam beberapa keluarga, diantaranja jang terbesar ialah keluarga Dipteriyecar paceae jang merupakan 36% dari djenis seluruhnja. Ke-luarga ini diwakili oleh 7 djenis chorea.
Hasil-hasil pemeriksaan dapat disimpulkan sebagai berikut :
(a). Djenis-djenis kaju jang ada di Semangus komposisinja rata-rata dapat dipersamakan dengan kaju dibenuabenua dingin jang di -pergunakan untuk pembuatan pulp. Nilai selulosa dalam kaju kering rata-rata 57,7% dan nilai selulosa. alfa 35,1%. Komponen jang disebut belakangan inilah jang dipakai untuk membuat rayon,
(b). Prosede sulfato ternjata_ tjotjok untuk pembuatan pulp dengan hasil crude pulp jang memperlihatkan komposisi jang acceptable, akan tetapi tjara-tjara memasak jang tjotjok untuk negeri dingin ternjata tidak sesuai dengan kaju jang terdapat dinegeri jang pa-nas ini.
Tjara-tjara jang lebih lunak memperbesar hag dengan 20%.
(c). Djika crude pulp diputihkan dengan chloriia dan ditjutji dengan alkali, maka diperoieh pulp selulosa dengan nilai selulosa alfa di -atas 95%.
Dari keterangan diatas itu ternjata, bahwa kwalitet kaju dihutan Semangus memungkinkan pembuatan rayon. Disamping soal kaju, fak-tor-faktor jang perlu dipentingkan untuk mendirikan pabrik rayon ialah :
(3). terdjaminnja kelantjaran perhubungan melalui djalan raja, kere-ta api akere-tau sungai,
(4). mudahnja memperoleh bahan bakar (batu bara, minjak). (5). sebaiknja ada djuga sumber gas alam.
(6). dekat laut untuk dapat membuat sodium chlorida.
Didaerah sekeliling hutan Semangus dan Tjaban itu, terdapat sebuah tempat jang memenuhi sjarat-sjarat tersebut diatas, jaitu dikabupaten Muara Enim kawedanaan Lematang Ilir. Daerah ini kering, sebagian merupakan tanah alang-alang dan sebagian hutan. Tempatnja dekat sungai Lematang, dekat Tambang batu bara (Taba) di Tandjung Enim, hanja 30 — 35 km. dari Pendopo, daerah tambang minjak Stan-vac, dekat djalan raja, djalan kereta api, hutan rimba dan tambang batu bara. Persediaan air terdjamin, sekalipun pada musim kemarau.
Persediaan makanan dapat ditjukupi dengan hasil bahan makan-an ditempat itu djuga. Tenaga buruhpun dapat dikerahkmakan-an dari pen-duduk setempat, asal sadja disediakan perumahan dan ada djaminan sosial. Menurut wakil-wakil Marga, penduduk didaerah itu menjadari bahwa pendirian sebuah pabrik jang besar akan menguntungkan bagi mereka.
Pendidikan dan training pekerdja-pekerdja dapat diusahakan pabrik itu djuga. Menurut keterangan, gadji untuk buruh biasa di-tempat itu ialah antara 25 dan 30 rupiah seminggu.
§ 1340. Pemilihan tempat
Dalam memilih tempat lain untuk mendirikan pabrik-pabrik ra-yon, perhatian kita beralih ke daerah Kalimantan. Djenis hutan di Kalimantan dalam ganis-garis besarnja bersamaan dengan hutan di Sumatera, jaitu hutan hudjan tropik, jang selalu hidjau dan sebagian agak besar tergolong dalam keluarga Dipterocarpacee.
Tempat di Kalimantan jang kita pertimbangkan untuk pabrik rayon lengkap ialah :
a. di gunung Batubesar, terletak di Kawedanaan Tanah Bumbu Utara di Kalimantan Tenggara dekat Teluk Pamukan, dengan ka-pasitet : 30.000 ton setahun.
b. di Samuda/Sampit, terletak di Kabupaten Kotawaringin Kaliman-tan Tengah, dipinggir sungai Mentaja, dengan kapasitet : 15.000 ton setahun. Jang disebut pada sub b ini adalah kompleks pabrik jang hampir lengkap: jang tidak dimasukkan didalam kompleks itu jalah pabrik elektrolisis.
Faktor-faktor jang menguntungkan mengenai tempat ini ialah : a. Gunung Batubara b. Samuda/Sampit. 1. Tanahnja kering dan tju 1. (sama seperti disebelah). kup
2. Letaknja dimuara sungai Batubesar, didaerah Pamu-kan seluas kurang lebih
2. Letaknja dipinggir sungai Mentaja.
3. Transpor diair melalui su-ngai Mentaja dan terusan terusan (kanalen) jang menghubungi Kuala Kapuas — Sampit. Sampit sendi ri batu-baranja sama de-ngan batubara Sawah Lun-to ;. transpor melalui air; perusahaan tambang ini ke-kurangan pasaran, karena DKA sekarang banjak memakai locomotip diesel.
7. Daerah kapur terdapat disungai Kahajan ; transpor melalui air.
§. 1341. Kaju Tusam
Disamping hutan-hutan rimba dengan djenis kaju jang beraneka warna, dapat djuga kita perhatikan hutan jang memungkinkan peng -ambilan satu matjam kaju sadja, jaitu kaju tusam (pinus merkusii). Hutan tusam diseluruh Indonesia ada seluas 826 km2, diantaranja 588
km2 di Djawa/Madura dan 238 km" di Sumatera.
Sebelum perang dunia ke-II telah mulai diselidiki sifat-sifat kaju di Indonesia untuk mengetahui, apakah tjotjok untuk pembuatan ra -yon. Pada tahun 1941 diadakan penjelidikan tentang sifat-sifat kaju tusam. Testing dari kaju tusam itu dilakukan dinegeri Belanda, disekolah Tehnik Tinggi di Delft dan hasilHasil jang diperoleh sangat me -muaskan.
Kesukaran jang harus dipikirkan mengenai pemakaian pinus itu ialah apakah rentjana pembuatan pulp untuk kertas tidak akan terde -sak. Dalam pidato mengenai perkembangan lapangan perindustrian di Indonesia jang diutjapkan oleh Menteri Chaerul Saleh dikonperensi Colombo-plan dinjatakan, bahwa kebutuhan kertas dapat ditaksir se-banjak 116.000 ton setahun, jaitu berdasarkan angka-angka mengenai pemakaian pada tahun 1956. Diantara projek-projek kertas jang telah berdjalan dan jang sedang dalam rentjana, terdapat tiga jang mem-pergunakan pinus sebagai bahan untuk menghasilkan pulp, jaitu pro-jek Pematang Siantar jang sudah dalam penjelenggaraan dan propro-jek Notog serta Takengon jang masih dalam taraf penjelidikan dan perentjanaan. Kapasitet produksi dari pabrikpabrik kertas sebagai di -terangkan dalam laporan kepada. konperensi Colombo itu dapat kita pergunakan sebagai pegangan untuk sementara waktu. Djika dikemu -dian hari keperluan kertas bertambah, perluasan dapat djuga diper-timbangkan dipulau Djawa, dimana sebagai telah diterangkan tanaman pinus ada seluas 588 km2.
Disekitar Danau Toba terdapat sekarang 18.500 ha pinus mer-kusii. Tumbuhnja 1 tahun setiap ha, dapat dengan aman diambil 12 m3 (menurut Prof. I.H.A. Ferguson), djadi 18.500 ha dapat memberi
hasil setiap tahun : 18.500 X 12 m3 = 222.000 m3.
Untuk 15.000 ton rayon diperlukan 75.000 m3 kaju. Dengan
ren-tjana pabrik kertas di Pematang Siantar jang akan membutuhkan 45.000 m3 kaju satu tahun, maka kebutuhan 1 tahun adalah 120.000 m3.
Djika pada tahun 1961 dimulai memperluas hutan pinus dengan 2.000 ha/setahun, hal mana memang sudah direntjanakan, maka se- sudah 5 tahun areal hutan mendjadi 18.500 + 10.000 ha = 28.500 ha. Dengan penambahan itu, kaju jang tersedia setahun adalah 28.500 x 12 m3 = 342.000 m3, dan keadaan akan bertambah baik lagi..
Dalam perentjanaan pabrik rayon di Sumatera Utara Danau To-ba akan dapat memberikan To-bantuan, seTo-bab kaju-kaju dari hutan saki-tar danau itu dapat diturunkan kedanau dan disaki-tarik ke Porsea.
Semua sjarat-sjarat jang panting untuk mendirikan pabrik rayon sudah terpenuhi. Jang mendjadi persoalan pada waktu permulaan ini ialah penjediaan bahan bakar. Untuk sementara waktu harus diper -gunakan crude-oil jang dapat didatangkan dari Pangkalan Brandan.
§ 1342. Bahan bakar
Dalam pemakaian minjak kita harus berhati-hati, karena minjak menghasilkan devisen, dan batu bara djauh lebih murah daripada minjak. Dalam hal itu perlu diperhatikan, bahwa hampir diseluruh dunia batu bara sudah diganti dengan minjak sebagai bahan bakar. Selain daripada itu pemakaian minjak dapat dibenarkan, karena hanja untuk sementara waktu sadja.
Sebagaimana diketahui, projek Asahan dipandang sebagai projek Nasional jang besar, sehingga. masih tetap diichtiarkan untuk melak -sanakannja. Djika projek ini telah terlaksana, maka tidak diperlukan lagi bahan bakar berupa minjak. Tenaga listrik untuk elektrolisis su -dah akan tersedia, demikian djuga heating calories jang diperlukan hint tudjuan lain.
Kemungkinan selandjutnja untuk membuat rayon ialah dengan mempergunakan kaju tebangan dari kebun-kebun karet. Menurut re-search jang dilakukan setjara mendalam di Malaya, kaju karet itu mempunjai nilai jang tnggi untuk menghasilkan pulp selulosa. Peng-gunaan kaju karet itu demikian menariknja, sehingga timbul kejakinan, bahwa dapat dipertanggung djawabkan perentjanaan penanaanan po hon karet untuk pembuatan rayon sematamata. Dalam rangka peren tjanaan serupa ini lateks jang dapat disadap sebelum penebangan dila -kukan merupakan „bijproduct” atau hasil tambahan jang lumajan.
Pengangkutan tebangan pohon karet dari kebun-kebun milik rakjat akan menemui banjak kesukaran. Kebun-kebun karet rakjat umumnja tidak luas, sehingga pengangkutan kaju tebangan itu sukar dipusatkan. Selain daripada itu pemilik-pemilik kebun rakjat tidak seberapa ichlas mematuhi skema peremadjaan, karena tindakan itu akan berarti mengurangi penghasilannja pada waktu dekat. Pertim -bangan inilah jang mendorong kita untuk membatasi diri pada pohon karet onderneming.
Onderneming karat paling banjak terdapat di Sumatera Timur: Luas seluruhnja 260.000 ha. Pohon-pohon jang sudah berumur 30 tahun lebih, sedikit sekali teksnja, sehingga patut diganti dengan tanaman baru. Dengan berpegang pada djangka waktu 30 tahun ini, maka jang harus diremadjakan ialah 3 1/3% atau 8.500 ha. Dalam.
pada itu menurut kenjataan penebangan jang dilakukan setiap tahun di Sumatera Utara berdjumlah 4.000 ha. Hasil tebangan satiap ha ialah ± 200 m3 atau 140 ton kaju. Djadi hasil tebangan seluruhnja
berdjum-lah 4.000 x 200 m° = 800.000 m3. Djumlah ini lebih dari tjukup un-tuk
sjarat-sjarat terpenuhi,ditempat Satu-satunja kesukaran hanja tidak adanja batubara. Karena itu terpaksa dipergunakan minjak sam-bil menunggu selesainja projek Asahan.
§ 1343. Djumlah pabrik rayon jang hendak didirikan dan kapasitet-nja
Bahan-bahan jang dibentangkan diatas menggambarkan dengan djelas tentang adanja kemungkinan untuk mendirikan 5 pabrik rayon jang lengkap di Indonesia jaitu :
a. Ditepi sungai Lematang Kawedanaan Lematang Ilir, Kabupaten Muara Enim (Palembang), sebuah pabrik rayon jang lengkap dengan pabrik-pabrik pembantu, dengan kapasitet 45.000 ton rayon setahun.
b. Digunung Batubesar Kawed'anaan Tan,Btimbu Utara
Kalimantan Tenggara, sebuah pabrik rayon jang lengkap dengan pabrik -pabrik pembantu, dengan kapasitet 30.000 ton rayon setahun.
e. Di Samuda/Sampit Kabupaten Sampit (Kotawaringin) Kalimantan Tengah, sebuah pabrik rayon dengan kapasitet 15.000 ton rayon setahun.
d. Di Porsea, Kawedanaan Porsea, sebuah pabrik rayon dengan kapasitet 15.000 ton setahun.
e. Di Tebing Tinggi, sebuah pabrik rayon lengkap dengan pabrik-pabrik pembantu, dengan kapasitet 45.000 ton setahun.
§ 1344. Biaja pabrik rayon
Pabrik (a) dan (e) masing-masing ditambah dengan pabrik ker-tas seharga 3 djuta $, ditaksir 1k. 83 djuta $. Disamping itu untuk pembiajaan dengan rupiah diperlukan djumlah jang sama, jaitu 83 X 45 djuta = Rp. 3.735.000.000,—. Penghematan dalam pemakaian de -visen berdjumlah 23 djuta U.S.-dollar setiap tahun, ditambah dengan 3 djuta $ berupa kertas, mendjadi 26 djuta $ seluruhnja.
Pabrik rayon jang disebut pada sub b diatas memerlukan biaja devisee sebesar 45 djuta U.S.dollar. Untuk pembiajaan de -ngan rupiah diperlukan djuanlah jang sama, jaitu 54 x 45 djuta = Rp. 2.430.000,—. Devisen jang dihematkan ialah 15 djuta U.S: dollar setiap tahun.
Pabrik rayon jang disebut pada sub c dan d diatas .masing-masing memerlukan biaja devisen 26½ djuta $. Dilengkapi dengan pabrik kertas biajanja mendjadi 29½ djuta $. Untuk pembiajaan dengan rupiah : 29½ X 45 djuta = Rp. 1.327.500.000,—. Pabrik ini
meng-hemat pengeluaran devisen sebesar 7½ djuta U.S: dollar.
Dalam perkiraan diatas sudah dimasukkan pengeluaran untuk persiapan, pembikinan djalan, saluran air kotor, penebangan hutan dan sistim pengangkutan dan penjimpanan bahan bakunja.
Untuk menghadapi rentjana pembuatan rayon itu dengan baik hutan-hutan jang ditjadangkan buat tudjuan ini perlu selekas mungkin dipersiapkan, dan seterusnja mulai sekarang djuga perlu diambil tin-dakan dikebun-kebun karet untuk mendjalankan rentjana penebangan pohon-pohon jang tua. Djumlah kerdja antara jang diperlukan untuk persiapan dan pemeliharaan hutan adalah 17 orang setiap km2., jaitu
menurut ukuran jang dipergunakan buat hutanhutan kaju djati di -pulau Djawa. Dengan demikian untuk hutan Semangus dan Tjaban dibutuhkan 800 x
17 orang = 13.600 orang, buat Tanah Bumbu Utara dan Samuda/Sampit masing-masing 500 x
17 orang = 8.500 orang dan buat daerah sekitar Danau Toba ± 200 x17 orang = 3.400 orang. Untuk pembuatan 1 ha tanaman hutan (replantation) diperlu-kan biaja Rp. 1.760,— dan untuk pendjarangan setiap ha Rp. 80,— Biaja pendjagaan, penjelidikan, pemangkuan dan sewa tanah adalah Rp. 276,—/ha/tahun. Pemindahan meminta biaja sebesar Rp. 6,— setiap ha/tahun. Pengeluaran untuk membuat djalan biasa dan dja-lan lori adalah sebagai berikut :
Biaja djalan, tiap km.
Pembantu Pemugaran tiaptahun
Djawa Luar
Djawa Djawa
Luar Djawa
Rp. Rp. Rp. Rp.
Djalan lori.
Badan djalan mil dan 80.000 190.000 1.950 2.650
besi ketjil. 50.000 50.000 50 50
Besi buat djembatan 20.000 20.000 —.— —.—
Djumlah 150.000 260.000 2.450 2.700
Beraspal 150.000
Djalan mobil
5,000
200.000 4.000
Tidak beraspal 120.000 170.000 5.000 7.400
Dalam perhitungan biaja jang diberikan diatas ini belum lagi di-masukkan pengeluaran tak tersangka jang dapat diperkirakan sebesar 10% dari tiap-tiap biaja. Pada perkiraan setjara kasarnja, biaja jang dibutuhkan adalah 1k. 1/3 dari Rp. financing tadi.
Pembiajaan dilapangan ini hendaknja dibebankan pada anggaran belandja routine.
§ 1345. Waktu pendirikan pabrik
Waktu jang diperlukan untuk menjiapkan pabrik rayon menurut pengalaman di Luar Negeri adalah ± 3½ tahun.
a. Setengah tahun diberikan kepada negeri-negeri jang berminat untuk membuat design dan menjusun rentjana jang teliti.
b. Tiga bulan untuk menentukan pemesanan dan membuat kontrak.
c. 15 bulan sesudah itu barangbarang mulai tiba di Indonesia se -bagian demi se-bagian.
d. Sesudah diletakkan batu pertama, diperlukan satu setengah ta -hun sebelum pabrik djalan.
Untuk memimpin pekerdjaan dari a sampai d, perlu selekasnja dibentuk Bureau Rayon jang merupakan bagian dari Balai Industri Tekstil.
Selama berlangsung fase a sampai dengan c, persiapan didalam negeri harus diselesaikan.
§ 1346. Buruh dan pegawai
Buruh dan pegawai jang diperlukan untuk projek rayon dapat diperkirakan sebagai berikut:
a. Pabrik rayon dengan produksi 40 ton rayon fibre sehari, lengkap dengan pabrik untuk pulp dan obat-obatan, ketjuali elektrolisis untuk sedium chlorida memerlukan tenaga kerdja administrasi dan teknik sebanjak 2487 orang.
b. Pabrik rayon dengan produksi 80 ton sehari, jang meliputi pabrik rayon, pabrik pulp dan semua pabrik pembantu lainnja memer -lukan tenaga administrasi/teknik sebanjak 5.600 orang.
c. Pabrik rayon jang menghasilkan 120 ton rayon fibres sehari jang meliputi pabrik rayon, pabrik pulp dan semua pabrik pem-bantu lainnja memerlukan tenaga administrasi/tehnik sebanjak 8263 orang.
Rentjana untuk mendirikan 2 unit pabrik dengan kapasitet 30.000 ton rayon setahun dan 2 unit pabrik dengan kapasitet masing-masing 45.000 ton rayon setahun, diperkirakan akan me-merlukan tenaga sebanjak 27:100 orang, jaitu : 13.000 untuk hutan Semangus dan Tjaban, 8.500 untuk hutan Samuda/Sampit, 8.500 untuk hutan Tanah Bumbu Utara dan 3.400 untuk hutan Toba.
§ 1341. Upah dan djaminan sosial
Pelaksanaan projek-projek rayon diatas pasti akan dapat me-ngurangi sedjumlah besar tenaga-tenaga penganggur dan setengah penganggur jang sangat penting artinja bagi usaha untuk mening -katkan daja beli Rakjat.
Adalah sewadjarnja apabila masalah upah dan djaminan sosial para pekerdja ini mendapat perhatian sepenuhnja, sate dan lain agar pelaksanaan rentjana ini dapat berhasil sebaik-baiknja.
Dalam hubungan ini sudah selajaknja, apabila dalam perentja-naan pendirian sebuah projek pabrik rayon itu diperhatikan peren-tjanaan projek perumahan jang memenuhi sjarat-sjarat planologi modern, tempat/taman rekreasi, lapangan olah raga, balai pertemuan dan tempat penitipan anakanak, mengingat besarnja djumlah peker -dja-pekerdja wanita nantinja.
Soal besarnja upah dan nilai djaminan sosial untuk tundjangan sakit, perawatan, djaminan hari tua, tundjangan hari raya dan lain-lain, dianggap belum waktunja untuk menetapkan djumlah jang pasti bagi seorang pekerdja sekarang, mengingat masih berlakunja sistim upah/djaminan sosial dan berbedanja keadaan daerah jang satu de -ngan jang lain.
Berhubung dengan itu, maka dalam pembangunan projek-projek rayon ini sebaiknja untuk keperluan upah dan djaminan sosial ditja dangkan sedjumlah uang tertentu dari hasil pendjualan guna mengem -bangkan usaha mendjamin hidup jang lajak bagi seluruh pekerdja.
§ 1348. Resume Pendjelasan mengenai Pola Pembangunan
Dibawah ini akan diberikan kesimpulan-kesimpulan dari pendje-lasan jang telah diberikan diatas mengenai projek-projek rayon.
a. Melihat perkembangan dinegeri-negeri lain, maka usaha men-dirikan pabrik rayon di-Indonesia ini merupakan tuntutan minimum, djika kita menghendaki selfsupporting dibidang sandang. Dibenua -benua lain telah dipergunakan tjara-tjara jang lebih madju untuk menghasilkan bahan pakaian, jaitu dengan djalan coal chemical indus-tries dan petro-chemical indusindus-tries. Tehnik-tehnik jang baru itu perlu djuga kita pertimbangkan, terutama sekali karena dengan demikian kita akan meninggikan nilai bahan baku jang tersedia dinegeri kita.
Dalam pada itu perlu sekali supaja selekas mungkin diambil tindakan persiapan pendirikan pabrik, seperti latihan, penentuan tem-pat, organisasi dsb.-nja itu.
b. Soal kedua jang penting sekali diperhatikan ialah soal mana-gerial dan technical skill.
demikian dilandjutkan djuga terhadap tenaga pimpinan golongan me-nengah dan rendah (middle and lower leading personnel).
Arah penjelesaian sebagaimana dituliskan diatas buat waktu se-karang belum dapat didjalankan.
Kita mengetahui, bahwa negara-negara lain seperti Amerika dan Sovjet-Uni, pada zaman pembangunannja banjak memindjam tenagatenaga Asing. Politik seperti ini mempertjepat tempo kemadjuan, se -hingga timing dari hasil jang diperoleh dapat disesuaikan dengan perkembangan keadaan.
Melihat daftar pegawai jang diperlukan buat pabrik itu, jang perlu didatangkan dari luar ialah :
1. dari golongan administrasi 2 orang penasehat umum. 2. untuk penjelenggaraan tehnik :
1 derektur tehnik
2 pembantu utama tehnik
45 tehnolog kimia, analis dan penjelidik
15 insinjur mesin-mesin untuk pabrik-pabrik, planning dan beng kel.
2 insinjur listrik 2 insinjur fisika 1 insinjur tekstil 4 insinjur sipil 2 insinjur kehutanan 1 insinjur pertanian.
Ahli-ahli jang harus didatangkan itu berdjumlah 77 orang. Djika kita anggap bahwa mereka perlu bekerdja disini selama 3 tahun, se -belum dapat diganti dengan tenaga Indonesia dan gadji mereka kita perkirakan 1.000 U.S: dollar setahun sebagai penghasilan jang menarik untuk seorang ekspor Luar Negeri, maka pengeluaran devisen untuk semua ahli itu adalah 2.772.000 dollar.
Ditambah dengan biaja perdjalanan djumlah ini dapat dibulatkan djadi 3¼ djuta dollar. Perkiraan biaja ini rasanja tjotjok dengan keperluan jang sebenarnja, sebab dari achli-achli tersebut diatas ada jang mungkin tjukup diperlukan disini satu setengah tahun sadja, teta -pi ada djuga jang diperlukan lebih lama dari 3 tahun. Dengan membe-landjakan biaja extra sebesar tiga seperempat djuta dollar itu kita memenangkan waktu sekurang-kurangnja tahun jang selandjutnja berarti keuntungan jang besar.
Mengenai keuntungan dari usaha ini hanja dengan menjediakan sedjumlah 83 djuta U.S. dollar untuk sekali sadja, kita memenangkan penghematan devisen 26 djuta U.S. dollar setahun.
Disampiug itu pekerdjaan diadakan untuk 8.000 orang lebih di kompleks pabrik dan untuk 700 X 17 orang atau 11.900 orang ker -djantara dihutan. Dalam hubungan ini belum lagi dibitjarakan