CANSTIN DENGAN METODE DISTRIBUTION REQUIREMENT PLANNING (DRP)
(Studi Kasus Di PT SENTRA USAHA PRIMA-MOJOSARI)
SKRIPSI
Oleh :
TEGUH BAYU ABADI
NPM 0732010018
JURUSAN TEKNIK INDUSTRI
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN”
JAWA TIMUR
SKRIPSI
PERENCANAAN AKTIFITAS DISTRIBUSI PRODUK PAVING DAN CANSTIN DENGAN MENGGUNAKAN METODE
DISTRIBUTION REQUIREMENT PLANNING (DRP) (Studi Kasus di PT. SENTRA USAHA PRIMA - MOJOSARI)
Oleh :
TEGUH BAYU ABDI NPM : 0732010018
Telah Disetujui untuk mengikuti Seminar II Skripsi
Surabaya, 24 November 2011
Mengetahui, Mengetahui
Dosen Pembimbing I Dosem Pembimbing II
Alhamdulillah berkat rahmat Tuhan YME yang telah memberikan Rahmat dan Hidayah-Nya sehingga Laporan Penelitian Tugas Akhir (Skripsi) dengan judul “Perencanaan Aktivitas Distribusi Produk Dengan Menggunakan Metode Distribution Requirement Planning (DRP) di PT. Sentra Usaha Prima - Mojosari dapat terselesaikan tepat pada waktunya.
Penulisan skripsi ini dilaksanakan untuk memenuhi persyaratan kelulusan Program Sarjana Strata - 1 (S-1) di Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknologi Industri Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.
Terselesaikannya Laporan Tugas Akhir (Skripsi) ini tentunya tak lepas dari bantuan banyak pihak. Untuk itu dalam kesempatan ini kami ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada :
1. Allah SWT karena atas ijin-NYA lah laporan Tugas Akhir (Skripsi) ini bisa terselesaikan tepat pada waktunya.
2. Orang tua saya yang selalu memberikan dukungan dan doa kepada saya. 3. Bapak Prof. Dr. Ir. Teguh Sudarto, MP. Selaku Rektor Universitas
Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.
4. Bapak Ir. Sutiyono, MT. Selaku Dekan Fakultas Teknologi Industri Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.
5. Bapak Dr. Ir. Minto Waluyo, MM. Selaku ketua jurusan Teknik Industri Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.
6. Bapak Ir. Handoyo, MM. Selaku Dosen Pembimbing I.
7. Ibu Ir. Endang Pudji W., MMT. Selaku Dosen Pembimbing II. 8. Dosen penguji Seminar 1 & 2 maupun Dosen Penguji Skripsi saya. 9. Bapak Ir. Ganda selaku pengawas perusahaan PT. Sentra Usaha Prima –
Mojosari
10.Pasangan saya Nurma Dwi Kharismawati, SPd yang selalu memberi support dan membantu menyelesaiakan skripsi ini.
satu persatu.
Dalam penulisan Laporan Tugas Akhir (Skripsi) ini tentunya masih terdapat banyak kekurangan, namun hal itulah yang mendorong kami untuk berbuat lebih baik. Kami mohon maaf jika penulisan Laporan Tugas Akhir (Skripsi) ini terdapat kesalahan, Akhirnya semoga Laporan Tugas Akhir (Skripsi) ini dapat bermanfaat bagi banyak pihak.
Surabaya, 5 Desember 2011
KATA PENGANTAR... i
DAFTAR ISI...ii
DAFTAR TABEL...iii
DAFTAR GAMBAR...iv
DAFTAR LAMPIRAN...v
ABSTRAK... vi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang...1
1.2 Perumusan Masalah...3
1.3 Batasan Masalah...3
1.4 Asumsi...4
1.5 Tujuan Penelitian...5
1.6 Manfaat Penelitian...5
1.7 Sistematika Penulisan...5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Distribusi Persediaan...7
2.1.1 Distribution Requirement Planning (DRP)...8
2.1.2 Konsep Distribution Requirement Planning (DRP...9
2.1.3 Fungsi Distribution Requirement Planning (DRP)...11
2.1.4 Sistem Distribusi Dorong (push) dan Tarik (pull)...13
2.2 Aktivitas Distribusi...15
2.2.2 Manfaat Network Planning Aktivitas Distribusi...18
2.2.3 Bentuk Network Planning Aktivitas Distribusi...19
2.3 Distribusi Persediaan... .20
2.3.1 Penyebab dan Fungsi Persediaan...21
2.3.2 Jenis Persediaan.... ...22
2.3.3 Biaya-biaya Dalam Sistem Persediaan...23
2.3.4 Ukuran Lot Dan Persediaan Pengaman...25
2.3.5 Sistem Persediaan Demand Independent...29
2.3.5.1 Sistem (EOQ)Single item………29
2.3.5.2 Economic Order Quantity (EOQ) Multi Item...32
2.4 Peramalan... .34
2.4.1 Peran Teknik Peramalan ... .36
2.4.2 Model - Model Peramalan ... .36
2.4.3 Peramalan Permintaan ... .39
2.4.4 Prinsip Dalam Menggunakan Peramalan Permintaan ... .40
2.4.5 Faktor yang Mempengaruhi Permintaan ... .40
2.4.6 Metode Peramalan...42
2.4.7 Pengujian Peramalan...48
2.4.8 Reorder Point System (ROP)...50
2.5 Pemetaan Rute (Rute Maps)... .51
2.6 Penelitian Terdahulu ...52
3.3 Metode Pengumpulan Data ... 58
3.4 Metode Pengolahan Data ... 58
3.5 Langkah – Langkah Pemecahan Masalah ... 61
BAB IV HASIL ANALISA DAN PEMBAHASAN 4.1 Pengumpulan Data ... ...71
4.1.1 Data Permintaan Produk Mingguan Bulan Januari 2010 – Desember 2011 ... ...71
4.1.2 Data Inventory On Hand ... ...76
4.1.3 Harga Produk ... ...77
4.1.4 Lead Time... ...77
4.1.5 Biaya Pengiriman ... ...77
4.1.6 Biaya Penyimpanan... ...78
4.2 Pengolahan Data... ...80
4.2.1 Perhitungan Biaya Distribusi Dengan Menggunakan Metode Perusahaan ... ...81
4.2.2 Perhitungan Biaya Distribusi Dengan Menggunakan Metode DRP... ...82
4.2.2.1 Menentukan Economi Order Quantity (EOQ) dan Safety Stock (SS) ... ...82
4.2.2.2 Menghitung Economi Order Quantity (EOQ) ... ...83
4.2.2.3 Menghitung Safety Stock (SS) ... ...84
4.2.3 Perbandingan Metode Perusahaan Dengan Metode DRP .... ...86
4.2.4.1 Menghitung Mean Square Error (MSE) ... ...88
4.2.4.2 Uji Verikasi Dengan Moving Range Chart (MRC)... ...88
4.2.4.3 Menentukan Peramalan Demand Bulanan ... ...89
4.2.4.4 Menghitung Peramalan Economi Order Quantity (EOQ) dan Safety Stock (SS)... ...90
4.2.4.4.1 Menghitung Peramalan Economi Order Quantity (EOQ) ... ...91
4.2.4.4.2 Menghitung Peramalan Safety Stock (SS) ... ...92
4.2.5 Pembuatan Total Kebutuhan Seluruh Produk ... ...93
4.3 Analisa dan Pembahasan... ...94 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan ... 5.2 Saran... DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR TABEL
Tabel 2.3 Formulasi Titik Reorder berdasarkan Distribusi Normal Standart .. 27
Tabel 2.4 Tabel Peramalan ... 34
Tabel 3.1 Hasil Analisa Perhitungan DRP untuk tiap item ... 59
Tabel 3.2 Hasil Analisa Perhitungan DRP untuk tiap Warehouse ... 65
Tabel 4.1 Data Permintaan Produk Kota Mojokerto per meter2... 72
Tabel 4.2 Data Permintaan Produk Kota Sidoarjo per meter2... 73
Tabel 4.3 Data Permintaan Produk Kota Surabaya per meter2... 74
Tabel 4.3 Data Permintaan Produk Kota Gresik per meter2... 75
Tabel 4.5 Inventory On Hand Desember 2009 ... 76
Tabel 4.6 Inventory On Hand Januari 2012 ... 76
Tabel 4.7 Harga Produk per meter2... 77
Tabel 4.8 Lead Time... 77
Tabel 4.9 Rincian Biaya Pegiriman ... 77
Tabel 4.10 Biaya Pengiriman... 78
Tabel 4.11 Rincian Biaya Penyimpanan ... 78
Tabel 4.12 Biaya Simpan Produk Paving Kota Mojokerto... 78
Tabel 4.13 Biaya Simpan Produk Canstin Kota Mojokerto... 79
Tabel 4.14 Total Biaya Simpan... 80
Tabel 4.15 Total Biaya Pengiriman Produk Paving per Tahun ... 81
Tabel 4.16 Total Biaya Pengiriman Produk Canstin per Tahun ... 81
Tabel 4.17 Economy Order Quantity (EOQ) (meter2) ... 83
Tabel 4.18 Safety Stock (SS) Pada Masing-Masing Produk (meter2 ) ... 85
Tabel 4.19 Total Cost Disrtibution dengan DRP ... 85
Tabel 4.20 Mean Square Error (MSE) Hasil Peramalan Kota Mojokerto ... 88
Tabel 4.21 Hasil Peramalan Demand Bulanan Kota Mojokerto (meter2)... 90
Tabel 4.22 Economy Order Quntity(DRP) pada Masing-Masing Kota ... 91
Tabel 4.23 Safety Stock (SS) pada Masing-Masing Kota... 93
Tabel 4.24 Total Kebutuhan Seluruh Produk (meter2)... 93
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Jaringan Pergudangan Ganda ... 7
Gambar 2.2 Perbedaan MRP dan DRP ... 9
Gambar 2.3 Integrasi Distribusi dan Manufaktur. ... 11
Gambar 2.4 Model Persediaan Klasik... 29
Gambar 2.5 Kurva Total Cost Minimum ... 32
Gambar 2.6 Pola Data Horizontal ... 37
Gambar 2.7 Pola Data Musiman Kuartalan ... 37
Gambar 2.8 Pola Data Siklus. ... 38
Gambar 2.9 Pola Data Trend... 38
Gambar 2.10 Proses Kebutuhan Modal Dari Peramalan ... 39
Gambar 2.11 Beberapa faktor yang mempengaruhi permintaan...41
Gambar 3.2 Diagram Alir Pemecahan Masalah (Flow Chart) ... 62
Gambar 4.1 Diagram Pencar Data Permintaan Kota Mojokerto Produk Paving ... 87
Gambar 4.2 Diagram Pencar Data Permintaan Kota Mojokerto Produk Canstin ... 87
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran A Gambaran Umum Perusahaan Lampiran B Pengumpulan Data Perusahaan Lampiran C Perhitungan EOQ
Lampiran D Perhitungan Safety Stock
Lampiran E Perhitungan Total Biaya Distribusi
Lampiran F Plot Data Permintaan Masing-masing Kota Lampiran G Tabel Forcesting Masing-masing Produk Lampiran H Tabel Perhitungan Moving Range Chart (MRC) Lampiran I Hasil Peramalan Demand Bulanan
Lampiran J Perhitungan Peramalan EOQ
PT. Sentra Usaha Prima - Mojosari merupakan perusahaan bersekala menengah yang sedang berkembang, bergerak dibidang produksi paving dan mampu memasok produk di Jawa timur antara lain Kota Mojokerto, Sidoarjo, Surabaya, dan Gresik. Perusahaan ini memiliki berbagai jenis produk beton, namun dalam penelitian ini kami mengambil dua jenis produk yaitu Paving type trihek dan Canstin type cansteen. Sistem distribusi PT. Sentra Usaha Prima - Mojosari yang saat ini dijalankan oleh perusahaan memiliki beberapa kelemahan. Diantaranya adalah sering terjadi keterlambatan pengiriman produk atas suatu pesanan
Dengan adanya masalah tersebut, maka dilakukan penelitian dengan metode Distribution Requirement Planning (DRP) dengan harapan dapat dilakukan pendistribusian produk dari perusahaan ke kota secara optimal. Distribution Requirement Planning adalah suatu metode untuk menangani pengadaan persediaan dalam suatu jaringan distribusi eselon. Tujuan dari Distribution Requirement Planning (DRP), yaitu melakukan perencanaan aktivitas distribusi yang baik, sehingga keberhasilan dalam pemenuhan permintaan pelanggan akan menjadi lebih optimal, kinerja penjualan meningkat dalam memenuhi order dengan tepat waktu dan tepat jumlah sehingga biaya distribusi dapat ditekan seminimun mungkin.
Hasil untuk perbandingan biaya distribusi dengan menggunakan metode perusahaan sebesar Rp. 36.584.500,00 dan untuk metode DRP sebesar Rp. 34.681.800,00 dengan penghematan sebesar 0,08%. Hasil penelitian didapatkan perencanaan aktivitas distribusi Kota Mojokerto untuk Produk Paving Trihek melakukan pengiriman pada bulan: Januari, Mei, Agustus dan November sebanyak 349 m2. Produk Canstin Cansteen melakukan pengiriman pada bulan: Januari, April, Juli dan Oktober sebanyak 311 m2, Kota Sidoarjo untuk Produk Paving Trihek melakukan pengiriman pada bulan: Februari, Juni dan Oktober sebanyak 387 m2, Produk Canstin Cansteen melakukan pengiriman pada bulan: Januari, Mei, September dan Desember sebanyak 399 m2. Kota Surabaya untuk Produk Paving Trihek melakukan pengiriman pada bulan: Februari, Juni dan Oktober sebanyak 415 m2, Produk Canstin Cansteen melakukan pengiriman pada bulan: Januari, Mei, dan Septembar sebanyak 369 m2, Kota Gresik untuk Produk Paving Trihek melakukan pengiriman pada bulan: Februari, Mei Agustus dan Desember sebanyak 338 m2, Produk Canstin Cansteen melakukan pengiriman pada bulan: Januari, April, Juli dan Oktober sebanyak 303 m2.
PT. Sentra Usaha Prima – Mojosari is medium with scale enterprises that are growing, engaged in the production of paving and able to supply products in eastern Java, among others, the Mojokerto, Sidoarjo, Surabaya and Gresik. The company has various types of concrete products, but in this study we take two types of products namely Paving type and Canstin trihek cansteen type. PT. Sentra Usaha Prima – Mojosari which is currently run by the company has several drawbacks. Among them are frequent delays in product shipments for an order.
With the problems, a study conducted by the method of Distribution Requirements Planning (DRP) can be done in the hope of the company's product distribution to the city optimally. Distribution Requirements Planning is a method to handle the procurement of supplies within an echelon distribution network. The purpose of the Distribution
Requirements Planning (DRP), which is doing a good distribution of planning activities, so that the success in meeting customer demand will be more optimal, improved sales
performance in fulfilling orders in a timely and appropriate amount so that distribution costs could be reduced seminimun possible.
Results for comparison of distribution costs by using the method of the company amounted to Rp. 36.584.500,00 and for DRP method of Rp. 34.681.800,00 with savings of 0.05%. The results obtained planning distribution activities Cities Paving Products Trihek Mojokerto to make deliveries in the month: January, May, August and November as many as 349 m2. Product Canstin Cansteen make deliveries in the month: January, April, July and October as many as 311 m2, City Paving Products Trihek Sidoarjo to make deliveries in the month: February, June and October as many as 387 m2, Product Canstin Cansteen make deliveries in the month: January, May , September and December as many as 399 m2. Surabaya to make deliveries Trihek Paving Products in: February, June and October of 415 m2, Product Canstin Cansteen make deliveries in the month: January, May and as many as 369 m2 Septembar, City Paving Products Trihek Gresik to make deliveries in the month: February , May, August and December as many as 338 m2, Product Canstin Cansteen make deliveries in the month: January, April, July and October as many as 303 m2.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Perkembangan dunia usaha mengalami persaingan yang begitu ketat dan peningkatan permintaan layanan lebih dari pelanggan. Dalam memenangkan persaingan tersebut perusahan menggunakan berbagai cara diantaranya meningkatkan kepuasan pelanggan melalui produk berkualitas, ketepatan waktu pengiriman, dan efisiensi biaya. Kebijaksanaan untuk pengendalian persediaan produk pada suatu lokasi tertentu dapat menimbulkan masalah pada manajemen dalam mengkoordinasikan perencanaan distribusi dari bagian pemasaran, juga pada bagian produksi yang menghasilkan tingkat persediaan produk yang dihasilkan terbaik, sehingga tingkat kepuasan konsumen maupun keuntungan perusahaan dapat terjaga.
yang merupakan produk bahan bangunan dari semen yang digunakan sebagai salah satu alternatif penutup atau pengerasan permukaan tanah. Paving dan canstin dikenal juga dengan sebutan bata beton ( concrete ) atau cone. Paving dan canstin dapat digunakan untuk pengerasan dan memperindah trotoar jalan di kota-kota, pengerasan jalan di komplek perumahan atau kawasan pemukiman, memperindah taman, pekarangan dan halaman rumah, pengerasan areal parkir, areal perkantoran, pabrik, taman dan halaman sekolah, serta di kawasan hotel dan restoran. Paving dan canstin bahkan dapat digunakan pada areal khusus seperti pada pelabuhan peti kemas, bandar udara, terminal bis dan stasiun kereta. Di Indonesia penggunaan paving dan canstin sudah banyak dijumpai, seperti pada trotoar jalan dan alun-alun di kota-kota atau kabupaten terlihat menggunakan paving dan canstin yang di gunakan untuk jalan, trotoar maupun halaman rumah atau pabrik. PT. Sentra Usaha Prima - Mojosari menyediakan jenis-jenis paving blok aneka bentuk yang kokoh dan kuat.
Dengan adanya masalah tersebut, maka dilakukan perencanaan dan penjadwalan distribusi dengan metode Distribution Requirement Planning (DRP). Diharapkan dengan adanya perencanaan aktivitas distribusi yang baik, keberhasilan dalam pemenuhan permintaan pelanggan akan menjadi lebih optimal, kinerja penjualan meningkat dalam memenuhi order dengan tepat waktu dan tepat jumlah sehingga biaya distribusi dapat ditekan seminimun mungkin.
Diharapkan dengan adanya perencanaan aktivitas distribusi yang baik, keberhasilan pemenuhan permintaan pelanggan akan menjadi lebih optimal, kinerja penjualan meningkat dalam memenuhi order dengan tepat waktu dan tepat jumlah sesuai dengan kebutuhan.
1.2. Perumusan Masalah
Permasalahan yang akan diamati dalam penelitian ini adalah :
”Bagaimana merencanakan aktivitas distribusi produk sesuai kapasitas persediaannya untuk permintaan produk dengan biaya distribusi minimum di PT. Sentra Usaha Prima-Mojosari ?”
1.3 Batasan Masalah
Dengan tanpa mengurangi maksud dan tujuan penelitian serta untuk menyederhanakan penelitian, maka penulis melakukan pembatasan masalah yaitu sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui jumlah bahan yang antara lain
c. Harga produk. d. Data lead time. e. Data biaya kirim. f. Data biaya simpan.
2. Produk yang diteliti adalah Paving dengan type trihek dan Canstin dengan type cansteen.
3. Proses produksi tidak dibahas secara khusus dalam penulisan skripsi ini. 4. Terdapat 4 kota tujuan distribusi, yaitu Mojokerto, Sidoarjo, Surabaya dan
Gresik.
5. Data yang diolah adalah data permintaan yang didapatkan dari perusahaan mulai bulan Januari 2010 sampai dengan Desember 2011.
6. Angkutan yang dipergunakan yaitu truck double, kondisi selalu ada saat diperlukan untuk pengiriman produk dengan kapasitas ukuran 4 x 2 x 2 m².
1.4 Asumsi
Arah distribusi produk paving dan canstin terjadwal regular dan tidak berubah ubah. Penelitian ini menggunakan beberapa asumsi sebagai berikut :
1. Data yang diperoleh dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya (valid). 2. Tidak diijinkan adanya back order.
1.5 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian perencanaan aktivitas distribusi adalah:
Untuk meminimumkan total biaya distribusi dan mengoptimalkan perencanaan aktivitas pendistribusian produk Paving dengan type trihek dan Canstin dengan type cansteen.
1.6 Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang diperoleh dari penelitian ini adalah :
1. Menambah pengetahuan penulis khususnya dalam bidang pendistribusian produk dari perusahaan sampai ke distributor.
2. Menerapkan teori yang telah didapat selama di bangku perkuliahan dengan praktek di lapangan.
3. Sebagai masukan atau informasi bagi perusahaan dengan harapan dapat digunakan sebagai referensi mengenai sistem penjadwalan distribusi produk.
1.7. Sistematika Penulisan BAB I PENDAHULUAN
Berisi tentang latar belakang, perumusan masalah, batasan, asumsi, tujuan, manfaat penelitian, serta sistematika penulisan.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
kerangka berfikir didalam menyelesaiakan pemasalahan yang ada, baik dalam melakukan pengolahan data maupun dalam menginterpretasikan hasil yang diperoleh dari pengolahan data.
BAB III METODE PENELITIAN
Berisi suatu alur atau kerangka kerja yang terstruktur dan sistematis yang merupakan suatu proses dimana terdiri dari tahap-tahap yang saling terkait satu sama lainnya atau dalam artian hasil dari suatu tahap akan menjadi masukan bagi tahap berikutnya.
BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN
Dalam bab ini akan ditampilkan seluruh data yang dihasilkan dari perencanaan distribusi, dengan menggunakan metode Distribution Requirement Planning (DRP), kemudian dianalisa mengenai alternatif solusi-slusi yang diharapkan dapat menjawab permasalahanyang dikaji.
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
Pada bab ini berisi kesimpulan dan saran dari perencanaan distribusi yang telah dilakukan sehingga dapat memberikan suatu masukan bagi pihak perusahaan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Distribusi
Pengertian distribusi adalah bagian yang bertanggung jawab terhadap
perencanaan, pelaksanaan, dan pengendalian aliran material dari produsen ke
konsumen dengan suatu keuntungan. Jenis-jenis distribusi persediaan terdiri dari
distribusi fisik, sistem distribusi push and pull dan Distribution Requirement Planning.
(Indrajit, Eko & Djokopranoto, Richardus, (2003), Grasindo- Jakarta.)
PDU atau pusat distribusi utama adalah tingkat atau level tertinggi dari
system distribusi yang langsung berhubungan dengan pemasok / pabrik produk,
sedangkan PDL adalh tingkat atau level terendah dari sistem distribusi yang
langsung berhubungan pelanggan atau pemakai barang.
2.1.1 Distribution Requirement Planning (DRP)
Istilah DRP memiliki dua pengertian yang berbeda, yaitu :
Distribution Requirement Planning adalah berfungsi menentukan kebutuhan-kebutuhan untuk mengisi kembali inventori pada distribution center. Sedangkan Distribution Resource Planning merupakan perluasan dari distribution requirement planning yang mencakup lebih dari sekadar sistem perencanaan dan pengendalian pengisian kembali inventori, tetapi ditambah dengan perencanaan
dan pengendalian dari sumber-sumber yang terkait dalam sistem distribusi seperti
: warehouse space, tenaga kerja, uang, fasilitas transportasi dan warehousing.
Termasuk di sini adalah keterkaitan dari replenishment system ke financial system
dan penggunaan simulasi sebagai alat untuk meningkatkan performansi sistem.
(Gasperz, Vincent, 2004,)
(James H. Green, PhD, 2nd , Mc. Grow-Hill, Inc., 2004,). Gambar 2.2. Perbedaan MRP dan DRP
Pada gambar 2.2. diperlihatkan perbedaan struktur dari MRP dan DRP. Pada gambar (a) terlihat struktur produk (BOM) yaitu produk terdiri dari 3 komponen. Untuk MRP, langkah awalnya adalah melakukan perencanaan (JIP)
untuk kemudian tiap-tiap komponen dapat dijadwalkan kebutunannya.
Sedangkan pada gambar (b) merupakan struktur distribusi (BOD) terlihat 1 sumber penawaran (SS) terdiri dari 3 pusat distribusi (DC). Pada DRP, langkah awalnya adalah membuat perencanaan permintaan dari masing-masing pusat
distribusi untuk kemudian sumber penawaran melakukan eksekusi berupa
pemenuhan kebutuhan tiap-tipa pusat distribusi.
Distribution Requirement Planning didasarkan pada peramalan kebutuhan pada level terendah dalam jaringan tersebut yang akan menentukan kebutuhan
persediaan pada level yang lebih tinggi.
2.1.2 Konsep Distribution Requirement Planning (DRP)
memenuhi struktur pengadaannya. Berapapun banyaknya level yang ada dalam
jaringan distribusi, semuanya merupakan variabel yang dependent kecuali level
yang langsung memenuhi consumer.
Distribution Requiremeni Planning lebih menekankan pada aktivitas pengendalian dari pada kegiatan pemesanan. DRP mengantisipasi kebutuhan mendatang dengan perencanaan pada setiap level pada jaringan distribusi. Metode
ini dapat memprediksi masalah-masalah sebelum masalah-masalah tersebut
benar-benar terjadi memberikan titik pandang terhadap jaringan distribusi.
Logika dasar DRP adalah sebagai berikut :
1. Gross Requirement /Forecast Demand diperoleh dari hasil forecasting.
2. Dari hasil peramalan distribusi lokal, hitung Time Phased Net Requirement.
Net Requirement tersebut mengidentifikasikan kapan level persediaan (Scheduled Receipt - Projected On Hand Periode sebelumnya) dipenuhi oleh
Gross Requirement. Untuk sebuah periode :
Net Requirement = (Gross Requirement + Safety Stock) – (Schedule Receipt + Projected On Hand Periode sebelumnya). Nilai Net Requirement yang dicatat (recorded) adalah nilai yang bernilai positif.
3. Setelah itu dihasilkan sebuah Planned Order Receipt sejumlah Net Requirement tersebut (ukuran lot tertentu) pada periode tersebut.
5. Di hitung Projected On Hand pada periode tersebut:
Projected On Hand = (Projected On Hand Periode sebelumnya + Schedule Receipt + Planned Order Receipt) - (Gross Requirement).
6. Besarnya Planned Order Release menjadi Gross Requirement pada periode yang sama untuk level berikutnya dari jaringan distribusi.
Sumber : (Richard J. Tersine, 1994,)
2.1.3 Fungsi Distribution Requirement Planning (DRP).
Distribution Requirement Planning sangat berperan baik untuk sistem distribusi manufaktur yang integrasi maupun sistem distribusi murni. Dengan
kebutuhan persediaan time phasing pada tiap level dalam jaringan distribusi, DRP
memiliki kemampuan untuk memprediksi suatu problem benar-benar terjadi.
Sistem Distribution Requirement Planning bekerja berdasarkan penjadwalan yang telah dibuat untuk permintaan di masa yang akan datang sehingga mampu
mengantisipasi perencanaan masa depan dengan perencanaan yang lebih dini pada
setiap level distribusi.
(Richard J. Tersine, Fourth, Elsevler Science Publishing Co., Inc.,)
LD C LD C
R D C LD C
M D C
K om ponen K om ponen K om ponen A ssem blyS ub K om ponen
K om ponen
D R P M R P
M P S P e re nca na an P ro du ksi
E fisie nsi P rod uks i K e bu tuh an
Kedua sistem tersebut digabungkan melalui Master Distribution Schedulle (MDS). Dimana DRP akan menyatukan jumlah permintaan yang harus dipenuhi berdasarkan ramalan, yang akan dijadikan sebagai input untuk MDS. Dan selanjutnya proyeksi kebutuhan produk jadi dari Master Production Schedulle (MPS) menjadi input bagi MRP, yang akan menghitung kebutuhan komponen dan
sub assembly yang harus dipenuhi seperti yang ditunjukkan pada gambar 2.3. Keterangan :
MPS = Master Production Schedulle
MDC = Master Distribution Center RDC = Regional Distribution Center LDC = Lower Distribution Center
Perencanaan horizon Distribution Requirement Planning seharusnya sekurang-kurangnya sama dengan lead time kumulatif. Penjadwalan ulang dan jaringan dilakukan secara periodik, biasanya sekurang-kurangnya sekali
seminggu. Menurut Green 1987, keuntungan yang didapat dari penerapan metode
DRP adalah :
1. Dapat dikenali saling ketergantungan persediaan distribusi dan
manufaktur.
2. Sebuah jaringan distribusi yang lengkap dapat disusun, yang memberikan
gambaran yang jelas dari atas maupun dari bawah jaringan.
3. DRP menyusun kerangka kerja untuk pengendalian logistik total dari distribusi ke manufaktur untuk pembelian.
2.1.4 Sistem Distribusi Dorong (push) dan Tarik (pull)
Dalam distribusi "dorong", PDU menentukan apa dan berapa yang perlu
didistribusikan dan di kirim ke PDR atau PDL, sedangkan dalam sistem distribusi
"tarik", masing-masing pusat distribusi pada tingkat bawah menentukan apa yang
diperlukan dan itu yang dipesan ke PDU Untuk dikirim. (Indrajit, Eko & Djokopranoto, Richardus, (2003), Grasindo- Jakarta,)
Ada dua (2) perbedaan penting bila kita berbicara tentang penimbunan
persediaan, yaitu sistem Pull dan sistem Push. Kedua sistem ini dapat didefinisikan sebagai berikut :
1) Sistem Tarik (Pull)
Adalah suatu sistem di mana operasi (produksi, pengadaan, pemindahan
material, distribusi, produk, dan sebagainya) terjadi sebagai respon atas tanda
atau isyarat yang diberikan oleh pemakai pada eselon yang lebih rendah dari sistem (distribusi). Tujuan sistem ini adalah untuk membeli, menerima,
memindahkan, membuat dengan tepat apa yang dibutuhkan, dan agar tidak
terjadi penyimpanan atas item yang tidak dibutuhkan.
2) Sistem Dorong(Push)
Adalah suatu sistem dimana operasi-operasi di atas terjadi sebagai respon atas
jadwal yang telah dibuat sebelumnya tanpa harus mempertimbangkan status
nyata dari operasi tersebut. Tujuan seperti ini adalah untuk menjaga
konsistensi jadwal yang telah dibuat.
memesan, dan meminta pengiriman dari gudang pusat pemasok sebagai layaknya
pemasok lepas. Pesanan dikeluarkan tanpa mempertimbangkan persediaan atau
kebutuhan pusat distribusi yang lain. Gudang pusat tidak akan menerima
informasi baik tentang tingkat persediaan maupun permintaan pada pusat
distribusi. Gudang pusat akan memperlakukan permintaan-permintaan dari pusat
distribusi seperti layaknya permintaan kustomer. Dari data-data permintaan inilah
nantinya gudang pusat akan menentukan rencana pengiriman maupun persediaan
pengamanan.
Sistem Pull ini bisa dioperasikan secara manual dan tidak membutuhkan banyak telekomunikasi karena pertukaran informasi dari gudang pusat ke pusat
distribusi memang tidak banyak. Namun pada sistem ini akan terjadi amplifikasi
permintaan kustomer pada pusat distribusi sebelum sampai pada gudang pusat.
Lebih dari itu, pusat-pusat distribusi biasanya memesan untuk kebutuhan beberapa
minggu sehingga cukup ekonomis dipandang dari biaya transportasi. Hal ini
mengakibatkan pada saat-saat tertentu tidak ada permintaan dari pusat distribusi
ke gudang pusat dan pada saat-saat yang lain mungkin permintaan dari beberapa
pusat distribusi akan datang sekaligus sehingga gudang pusat harus menyiapkan
persediaan pengamanan yang cukup besar dan tetap akan menghadapi
kemungkinan kekurangan stok.
Pada sistem Push, keputusan-keputusan pengiriman ditentukan pada eselon yang lebih tinggi. Informasi yang berkaitan dengan permintaan dan tingkat
persediaan pada eselon yang lebih rendah harus seringkali dikirim ke eselon yang
lebih tinggi. Ini berarti bahwa keputusan pengiriman eselon yang lebih rendah
dilakukan peramalan pada eselon yang lebih tinggi sehinggga kuantitas dan waktu
pengiriman bisa direncanakan pada suatu periode perencanaan tertentu.
Sistem Push ini layak digunakan bila transmisi dan pemrosesan data dalam volume yang besar bisa dilakukan dengan relatif mudah.
Perusahaan-perusahaan yang memiliki ratusan pusat distribusi harus mengendalikan sistem
distribusinya dengan telekomunikasi dan sistem komputer.
Salah satu keunggulan sistem Push adalah pengurangan persediaan pada gudang pusat karena MPS dan pengiriman bisa diselaraskan. Jumlah yang
direncanakan dikirim akan segera dikirim begitu proses produksinya selesai.
Sistem Push hanya akan memberikan keunggulan apabila perusahaan bisa membuat produk berdasarkan ramalan permintaan yang akurat. Perusahaan yang
tidak bisa membuat ramalan permintaan yang akurat dan rasional tidak akan bisa
berharap lebih banyak untuk memperoleh kelebihan dari sistem Push
dibandingkan dengan sistem Pull. (Nasution, Arman Hakim, 2006,)
2.2 Aktivitas Distribusi
Merupakan proses yang menentukan kebutuhan persediaan distribusi
untuk memastikan bahwa sumber persediaan dapat memenuhi permintaan.
Selanjutnya ditentukan dengan jadwal dan kendaraan minimal dengan metode
Penghematan (clarke wright saving method). Aktivitas distribusi merupakan
prosedur kombinasi sekumpulan rute untuk mendapatkan sekumpulan rute yang
Tabel. Perbedaan aktivitas distribusi dengan distribusi
2.2.1 Network Planning Aktivitas Distribusi
Pengertian Network Planning Pada perencanaan aktivitas distribusi suatu
proyek terdapat proses pengambilan keputusan dan proses penetapan tujuan.
Untuk dapat melaksanakan proses ini perlu adanya informasi yang tepat dan
kemampuan pengambilan keputusan yang tinggi. Proses pengambilan keputusan
dan penetapan kebijakan serta proses penyelenggaraan merupakan sistem operasi
pada perencanaan proyek.
Gambar. Network planning dari aktivitas distribusi
Ket : Kegiatan dari 1 harus dilaksanakan kesiapannya terlebih dahulu sebelum melakukan pengiriman atau menyelesaikan ke A ,kemudian selanjutnya melakukan pengiriman ke B, C dan D.
No Aktivitas Distribusi Distribusi
1.
2.
3.
4.
5. 6. 7.
Persiapan dan pengecekan armada transportas
Persiapan dan pengecekan jenis bentuk barang dikirim
Persiapan dan pengecekan bentuk model pengemasan
Persiapan dan pengecekan data tujuan pengiriman
Persiapan dan pengecekan sumber daya
Pembuatan jadwal induk pendistribusian
Pengelola informasi manajemen
Distribusi merupakan kegiatan rutinitas.
Perencanaan jadwal sudah teratur.
Bila perencanaan proyek merupakan sebuah total sistem, maka
penyelenggaraan proyek tersebut terdiri dari dua sub sistem, yaitu sub sistem
operasi dan sub sistem informasi. Sub sistim operasi menjawab pertanyaan
“bagaimana cara melaksanakan kegiatan” sedang sub sistem informasi menjawab
pertanyaan “kegiatan apa saja yang sudah, sedang dan akan dilaksanakan”.
Network planning merupakan sub sistem informasinya.
(Sofwan Badri – thn 2006 : 13)
Konsep network ini mula-mula disusun oleh perusahaan jasa konsultan
manajemen Boaz, Allen dan Hamilton (1957) yang berada dibawah naungan
perusahaan pesawat terbang Lockheed. Kebutuhan penyusunan network ini
dirasakan perlu karena adanya koordinasi dan pengurutan kegitan-kegiatan pabrik
yang kompleks, yang saling berhubungan dan saling tergantung satu sama lain.
Hal ini dilakukan agar perencanaan dan pengawasan kegiatan dapat dilakukan
secara sistimatis, sehingga dapat diperoleh efisiensi kerja.
Adanya network ini menjadikan sistem manajemen dapat menyusun perencanaan penyelesaian proyek dengan waktu dan biaya yang paling efisien. Di
samping itu network juga dapat dipergunakan sebagai alat pengawasan yang
cukup baik untuk menyelesaikan proyek tersebut. Diagram network merupakan kerangka penyelesaian proyek secara keseluruhan, 5 ataupun masing-masing
pekerjaan yang menjadi bagian daripada penyelesaian proyek secara keseluruhan.
Pada prinsipnya network dipergunakan untuk perencaan penyelesaian berbagai macam pekerjaan terutama pekerjaan yang terdiri atas berbagai unit
“Network planning pada prinsipnya adalah hubungan ketergantungan antara bagian-bagian pekerjaan (variabel) yang digambarkan / divisualisasikan dalam
diagram network”. Dengan demikian diketahui bagian-bagian pekerjaan mana yang harus didahulukan, bila perlu dilembur (tambah biaya), pekerjaan mana yang
menunggu selesainya pekerjaan yang lain, pekerjaan mana yang tidak perlu
tergesa-gesa sehingga alat dan tenaga dapat digeser ke tempat lain demi
efesiensi.(Soetomo Kajatmo - 2003: 26)
“Network planning merupakan sebuah alat manajemen yang memungkinkan dapat lebih luas dan lengkapnya perencanaan dan pengawasan suatu proyek”. Adapun
definisi proyek itu sendiri adalah suatu rangkaian kegiatan-kegiatan (aktivitas)
yang mempunyai saat permulaan dan yang harus dilaksanakan serta diselesaikan
untuk mendapatkan tujuan tertentu.
“Network planning adalah salah satu model yang digunakan dalam penyelenggaraan proyek yang produknya adalah informasi mengenai
kegiatan-kegiatan yang ada dalam network diagram proyek yang bersangkutan.
( Tubagus Haedar Ali - 2005: 38)
2.2.2 Manfaat Network Planning Aktivitas Distribusi
Manfaat Network planning merupakan teknik perencanaan yang dapat mengevaluasi interaksi antara kegiatan-kegiatan. Manfaat yang dapat dirasakan
dari pemakaian analisis network adalah sebagai berikut :
a. Dapat mengenali (identifikasi) jalur kritis (critical path) dalam hal ini adalah
jalur elemen yaitu kegiatan yang kritis dalam skala waktu penyelesaian proyek
b. Dapat diketahui dengan pasti kesukaran yang akan timbul jauh sebelum
terjadinya sehingga dapat diambil tindakan yang presentatif.
c. Mempunyai kemampuan mengadakan perubahan-perubahan sumber daya dan
memperhatikan efek terhadap waktu selesainya proyek.
d. Sebagai alat komunikatif yang efektif.
e. Memungkinkan tercapainya penyelenggaraan proyek yang lebih ekenomis
dipandang dari sudut biaya langsung dan penggunaan sumber daya yang
optimum.
f. Dapat dipergunakan untuk memperkirakan efek-efek dari hasil yang dicapai
suatu kegiatan terhadap keseluruhan rencana.
2.2.3 Bentuk Network Planning Aktivitas Distribusi
Bentuk Network Planning adalah grafik dari suatu rencana produk yang
menunjukkan interelasi dari berbagai aktivitas. Network juga sering disebut
diagram panah, apabila hasil-hasil perkiraan dan perhitungan waktu telah
dibubuhkan pada network maka ini dapat dipakai sebagai jadwal proyek (project
schedulle). Untuk membentuk gambar dari rencana network tersebut perlu
digunakan simbol-simbol, antar lain :
a. : Arrow / anak panah yang menyatakan aktivitas / kegiatan
yaitu suatu kegiatan atau pekerjaan dimana penyelesaiannya membutuhkan durasi
(jangka waktu tertentu) dan resources (tenaga, alat, material dan biaya). Kepala
anak panah menjadi pedoman arah tiap kegiatan, dimana panjang
b. : Node / event, yang merupakan lingkaran bulat yang artinya
saat peristiwa atau kejadian yaitu pertemuan dari permulaan dan akhir kegiatan
c. : Dummy /anak panah terputus-putus yang menyatakan kegiatan
semu yaitu aktivitas yang tidak membutuhkan durasi dan
resources.
d. : Double arrow / dobel anak panah yang menunjukkan kegiatan
di lintasan kritis (critical path)
2.3 Distribusi Persediaan
Persediaan merupakan semua barang dan bahan yang dipakai dalam proses
produksi dan distribusi perusahaan. Jadi distribusi persediaan adalah suatu
aktifitas perencanaan, pelaksanaan dan pengendalian proses produksi dan
distribusi perusahaan dari produsen hingga sampai ke konsumen untuk
memperoleh suatu keuntungan.
Distribusi sangatlah penting, sebab pada umumnya pemasok pabrikan, dan
pelanggan yang potensial tersebar luas secara geografis dengan meluasnya pasar,
tentunya akan diikuti dengan peningkatan volume produksi, maka biaya
pembelian atau biaya produksi akan berkurang, sehingga akan meningkatkan
keuntungan perusahaan untuk mendukung hal tersebut dibutuhkan sistem
distribusi yang baik. Beberapa faktor yang mempengaruhi distribusi adalah
saluran distribusi, jenis pasar yang akan dilayani, karakteristik produk, jenis
Distribusi persediaan adalah suatu aktifitas perencanaan, pelaksanaan dan
pengendalian proses produksi dan distribusi perusahaan dari produsen hingga
sampai ke konsumen untuk memperoleh suatu keuntungan.
Distribusi persediaan sangatlah penting, sebab pada umumnya pemasok
pabrikan, dan pelanggan yang potensial tersebar luas secara geografis dengan
meluasnya pasar, tentunya akan diikuti dengan peningkatan volume produksi,
maka biaya pembelian atau biaya produksi akan berkurang, sehingga akan
meningkatkan keuntungan perusahaan untuk mendukung hal tersebut dibutuhkan
sistem distribusi yang baik.
2.3.1 Penyebab dan Fungsi Persediaan
Persediaan merupakan suatu hal yang tak terhindarkan. Penyebab timbulnya
persediaan adalah sebagai berikut (Baroto,Teguh.):
1. Mekanisme pemenuhan atas permintaan.
2. Keinginan untuk meredam ketidakpastian.
3. Keinginan melakukan spekulasi yang bertujuan mendapatkan keuntungan
besar dari kenaikan harga di masa mendatang.
Beberapa fungsi persediaan adalah sebagai berikut :
1. Fungsi independensi
2. Fungsi ekonomis
3. Fungsi antisipasi
4. Fungsi fleksibilitas
1. Menghilangkan resiko keterlambatan datangnya barang atau bahan-bahan
yang dibutuhkan perusahaan.
2. Menghilangkan resiko dari material yang dipesan tidak baik sehingga harus
dikembalikan.
3. Untuk menumpuk bahan-bahan yang dihasilkan secara musiman sehingga
dapat digunakan bila bahan itu tidak ada dalam pasaran.
4. Mempertahankan stabilitas operasi perusahaan atau menjamin kelancaran arus
produksi.
5. Mencapai penggunaan mesin yang optimal.
6. Memberikan pelayanan (service) kepada langganan dengan sebaik-baiknya, dimana keinginan langanan pada suatu waktu dapat dipenuhi atau
memberikan jaminan tetap tersedianya barang jadi tersebut.
7. Membuat pengadaan atau produksi tidak perlu sesuai dengan penggunaan
atau penjualannya.
2.3.2 Jenis Persediaan
Persediaan dapat dibedakan dalam lima jenis, yaitu:
a. Persediaan bahan baku (raw materials stock) yaitu persediaan dari barang-barang yang digunakan dalam proses produksi, dimana barang-barang tersebut
diperoleh dari sumber-sumber alam atau dibeli dari supplier yang menghasilkan bahan baku bagi perusahaan yang menggunakannya.
b. Persediaan barang setengah jadi atau barang dalam proses (work in process) yaitu persediaan barang-barang yang keluar dari tiap proses yang kemudian
c. Persediaan barang-barang pembantu atau perlengkapan (supplier stock) yaitu persediaan barang-barang yang diperlukan dalam proses produksi untuk
membantu menghasilkan produk tetapi tidak merupakan bagian komponen
dari barang jadi.
d. Persediaan komponen produk (components stock) yaitu persediaan barang-barang yang terdiri dari komponen-komponen diterima dari perusahaan lain,
yang dapat secara langsung di-assembling dengan komponen lain, tanpa melalui proses produksi sebelumnya
e. Persediaan barang jadi (finished good stock) yaitu persediaan barang-barang yang telah selesai diproses dan siap untuk dijual kepada pelanggan atau
perusahaan lain.
2.3.3 Biaya-biaya Dalam Sistem Persediaan
Tujuan dari adanya pengaturan persediaan adalah untuk menentukan
bahan baku dan barang jadi pada jumlah yang tepat, waktu yang tepat, dan biaya
rendah, untuk itu ada empat parameter yang perlu diperhatikan :
1. Biaya Pembelian (purchasing cost)
Biaya pembelian adalah biaya yang keluarkan untuk membeli barang.
Besarnya biaya pembelian ini tergantung pada jumlah barang yang dibeli dan
harga satuan.
Biaya pembelian manjadi faktor penting ketika harga yang tergantung
komponen biaya pembelian ini tidak dimasukkan kedalam total biaya sistem
persediaan karena diasumsikan bahwa harga barang per unit tidak
dipengaruhi oleh jumlah barang yang dibeli sehingga komponen biaya
pembelian untuk periode waktu tertentu (misalnya 1tahun) konstan akan hal
ini tidak akan mempengaruhi jawaban optimal tentang berapa banyak barang
yang harus disimpan.
2. Biaya Pengadaan (procurement cost)
Biaya pengadaan dibedakan atas dua jenis sesuai asal usul barang, yaitu
biaya pemesanan (Ordering Cost) bila barang yang diperlukan diperlukan diperoleh dari pihak luar (Supplier) dan biaya pembuatan (Setup Cost) bila barang diperoleh dengan memproduksi sendiri.
3. Biaya Pemesanan (ordering cost)
Biaya pemesanan adalah semua pengeluaran yang timbul untuk
mendatangkan barang dari luar. Biaya ini meliputi biaya menentukan
pemasok (Supplier), pengetikan pesanan, pengiriman pesanan, biaya pengangkutan, biaya pengiriman dan seterusnya. Biaya ini di asumsikan
konstan untuk setiap kali pesan.
4. Biaya Penyimpanan (holding cost/carrying cost)
Biaya penyimpanan yaitu semua pengeluaran yang timbul akibat
menyimpan barang atau biaya yang diperlukan untuk mengadakan dan
2.3.4 Ukuran Lot Dan Persediaan Pengaman
Ukuran lot adalah jumlah minimum pesanan, yang didasarkan atas
ketentuan pemasok. Hal ini hanya sebagian yang benar karena sebetulnya ukuran
lot ditentukan oleh beberapa faktor yaitu : (Indrajit, Eko & Djokopranoto, Richardus, (2003), Grasindo- Jakarta.)
1. Ketentuan pemasok
2. Perhitungan ekonomis (EOQ)
3. Frekuensi pengiriman
4. Ukuran kontainer pengiriman
5. Total ukuran berat (tonase) atau volume (m3)
Dalam hal persediaan pengaman, perlu diperhatikan bahwa pengadaan
persediaan pengaman ini berbeda antara sistem distribusi satu tingkat atau tunggal
dengan sistem distribusi multitingkat. Dalam distribusi multitingkat, harus
dihindari adanya duplikasi penimbunan persediaan pengaman.
Teknik- teknik penentuan ukuran lot diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Economic Order Quantity ( EOQ ).
2. Lot for Lot ( LFL ).
3. Fixed Order Interval ( FOI)
4. Period Order Quantity ( POQ ).
5. Least Uni Cost.
6. Least Total Cost.
7. Part Period Balancing.
Ukuran lot tidak didasarkan pada minimasi biaya pemesanan dan biaya penyimpanan, bila biaya penyimpanan tidak didefinisikan baik secara marginal
maupun incremental.
Bahwa untuk menetapkan biaya kehabisan persediaan adalah sangat sulit,
kalau tidak dapat dikatakan hampir tidak mungkin. Misalnya dalam suatu
perusahaan manufaktur didapatkan situasi seperti berikut ini. Karena sering kali
harga komponen suku cadang tidak dijual secara individual, maka nilai nyata
dalam proses produksi sulit ditentukan. Apabila karena terjadi kehabisan
persediaan, lalu hal ini menyebabkan timbulnya kendala atau berhentinya suatu
proses produksi, maka nilai kerugiannya juga sangat sulit dihitung. Di samping itu
tidak realistis bila, biaya karena kehabisan persediaan sebanyak dua buah suku
cadang tertentu sama dengan dua kali biaya karena kehabisan persediaan
sebanyak dua buah suku cadang tertentu sama dengan dua kali biaya karena
kehabisan persediaan sebuah suku cadang bukan merupakan suatu konstanta. Oleh
karena itu ada pendekatan yang dapat dilakukan, yaitu dengan menggunakan
konsep tinghkat layanan (service level).
Hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut. Apabila suatu perusahaan
menetapkan layanan sebesar 95%, berarti perusahaan tersebut bersedia
menanggung kemungkinan kehabisan persediaan sebesar 5%, dan seterusnya.
Untuk itu, berapa jumlah persediaan pengaman yang diperlukan? Untuk
menghitungnya diperlukan data mengenai :
1. Berapa tingkat layanan yang dikehendaki ?
2. Berapa pemakaian rata-rata selama waktu pemesanan?
4. Berapa faktor pengaman untuk tiap-tiap tingkat layanan tersebut?
Tabel 2. 3. Formulasi Titik Reorder berdasarkan Distribusi Normal Standart
Titik Reorder Tingkat Service Level
L
DL3,09D 99,90%
L
DL2,58D 99,50%
L
DL2,33D 99%
L
DL1,96D 97,50%
L
DL1,64D 95%
L
DL1,28D 90%
L
DL1,04D 85%
L
DL0,85D 80%
L
DL0,67D 75%
(Richard J. Tersine. 3rd, Elsevler Science Publishing Co., Jnc., 2008.)
Tabel di atas menunjukkan hubungan antara tingkat pelayanan dengan
reorder point. Misal kita menggunakan tingkat pelayanan 95 %, maka untuk menghitung safety stock kita menggunakan rumus reorder point DL1,64D L, dan begitu seterusnya.
Perhitungan untuk mencari persediaan pengaman dapat dengan
menggunakan deviasi standar, atau dapat langsung dengan menggunakan MAD.
menyangkut perhitungan perkalian, pangkat, akar, dan cukup rumit. Untuk lebih
mempermudah dalam perhitungan dapat digunakan rumus MAD (mean absolute debviation). Formulasi MAD adalah :
Persediaan Pengaman = MAD X Faktor Pengaman Keterangan :
- MAD = pemakain barang selama waktu pemesan.
- Faktor Pengaman = faktor keaman yang dihitung untuk MAD, yang
besarnya tergantung dari tingkat layanan.
Contoh perhitung berikut ini akan lebih menjelaskan penggunaan rumus
tersebut. Berapa besarnya persediaan pengaman yang paling optimal apabila
ditetapkan bahwa tingkat layanan yang dikehendaki adalah 95% dan diketahui
bahwa jumlah pemakaian selama tiga puluh (30) kali waktu pemesanan, sebagai
berikut :
26 5 20 13 18 13 13 7 19 19 9 22 33 10 5 18 9 9 10 3 18 10 10 7 13 13 17 17 17 17
satuan
MAD 5.2
30 156 30
) 14 17 ( .... ) 13 14 ( ) 14 26
(
Sehingga, Deviasi Standar = 5.20 X 1.25 = 6.50 satuan
2.3.5 Sistem Persediaan Demand Independent : Model Deterministik
Dalam sistem persediaan demand independent model deterministik terdiri dari sistem economic order quantity (EOQ) single item dan economic order quantity (EOQ) multi item.
2.3.5.1 Sistem Economic Order Quantity (EOQ) Single Item
Ukuran dari sebuah order yang meminimumkan total biaya persediaan dikenai sebagai Economic Order Quantity (EOQ). Model persediaan klasik dari
EOQ dapat dilihat pada gambar 2.1., dimana Q adalah ukuran order.
(Richard J. Tersine, 2004, 4 th, ) Gambar 2.4. Model Persediaan Klasik
Dimana :
Q = Ukuran lot
Q/2 = Rata - rata persediaan
B = Titik order kembali ac = ce = Interval antar order
Model persedian yang paling sederhana ini memakai asumsi-asumsi
sebagai berikut:
1. Hanya satu item produk yang diperhitungkan.
2. Kebutuhan (permintaan) setiap periode diketahui.
3. Produk yang dipesan diasumsikan dapat segera tersedia.
4. LeadTime bersifat konstan.
5. Setiap pesanan diterima dalam sekali pengiriman dan langsung dapat
digunakan.
6. Tidak ada pesanan ulang (back order) karena kehabisan persediaan (strorage).
7. Tidak ada quantity discount.
Dengan tidak mengijinkan stock out, total biaya persediaan digambarkan pada Gambar 2.2. dan formulasinya adalah:
n Penyimpana B
Pemesahan B
Pembelian B
Annual Biaya
Total
HQ2Q CR RP Q
TC
Dimana:
R = Permintaaan tahunan dalam unit
P = Biaya pembelian dari sebuah item
C = Biaya pemesanan tiap kali pesan
H - PF = Biaya penyimpanan per unit per tahun
Q = Ukuran lot atau besarnya order dalam unit F = Fraksi biaya penyimpanan
0 Q CR 2 H dQ dTC 2
Sehingga didapat formulasi EOQ
PF 2CR H
2CR
Q*
Setelah EOQ diketahui, dapat ditentukan ekspektasi jumlah order m :
2C HR *
Q R m
Rata-rata tenggang waktu antar order T, formulasinya :
HR 2C m * Q m 1
T
Titik pemesanan kembali (reorder point) didapatkan dengan menentukan demand yang akan terjadi selama priode Lead Time. Jika Lead Time L dinyatakan dalam bulan, formulasi titik order :
12 RL B
Jika Lead Time dinyatakan dalam minggu, formulasinya :
52 RL B
Total biaya minimum didapatkan dengan mensubsitusikan nilai Qo pada
Q dalam pemesanan total biaya mannual :
Q* PR HQ*Richard J. Tersine, 2004, 4 th, Prentice . Gambar 2.5. Kurva Total Cost Minimum
2.3.5.2 Economic Order Quantity (EOQ) Multi Item
Model ini merupakan model EOQ untuk pembelian bersama (Joint Purchase) beberapa jenis item, dimana asumsi-asumsi yang dapat dipakai
adalah :
a. Tingkat permintaan untuk setiap jenis item bersifat konstan dan diketahui
dengan pasti, lead time juga diketahui dengan pasti. Oleh karena itu, tidak ada stock out maupun biaya stock out.
b. Lead timenya sama untuk semua item, dimana semua item yang dipesan akan datang pada satu titik waktu yang sama untuk setiap siklus.
c. Holding cost, harga per-unit (unit cost) dan ordering untuk setiap item diketahui.
Penentuan rumus EOQ untuk kasus joint purchase diperoleh dengan menderivasi biaya total persediaan yang, terdiri dari total ordering cost dan total holding cost selama periode tertentu, dimana :
Rpi Q
D ki K
[image:45.595.163.477.77.352.2]Dimana :
K = Biaya pemesanan yang tidak tergantung jumlah item
Ki = Biaya pemesanan tambahan karena adanya penambahan
item-i kedalam pesanan
d1 = Biaya selama periode tertentu untuk item-i
D = Biaya yang diperlukan selama periode tertentu untuk semua
itu
QRpi = EOQ untuk ukuran lot terpadu dalam "nilai" rupiahQ*Rp = EOQ optimal untuk ukuran lot terpadu dalam "nilai" rupiah Total holdingcost dapat diformulasikan :
QRpi
2 h Cost Holding Total Sehingga :
Rpi RPi Q 2 h Q D ki K TCNilai EOQ optimal dapat dirumuskan :
h ki K Rpi *Q
EOQ untuk masing-masing item dalam unit dirumuskan:
i i C Rp * Q Q
Frekuensi pemesanan yang terjadi setiap periode dirumuskan:
D Rp * Q f 1 *
2.4 Peramalan
Peramalan adalah proses untuk memperkirakan berapa kebutuhan di masa
datang yang meliputi kebutuhan dalam ukuran kuantitas, kualitas, waktu, dan
lokasi yang dibutuhkan dalam rangka memenuhi permintaan barang ataupun jasa.
Peramalan tidak terlalu dibutuhkan dalam kondisi permintaan pasar yang stabil,
karena perubahan permintaan relatif kecil. Dalam kondisi pasar bebas, permintaan
pasar lebih bersifat kompleks dan dinamis karena permintaan tersebut tergantung
dari keadaan sosial, ekonomi, politik, aspek teknologi, produk pesaing, dan
produk subtitusi. Oleh karena itu peramalan yang akurat merupakan informasi
yang sangat dibutuhkan dalam pengambilan keputusan manajemen.
(Nasution, A. H., 2004,).
Peramalan memerlukan berbagai kegiatan untuk mengenali dan memantau
berbagai sumber permintaan akan produk dan jasa, yang meliputi peramalan,
mencatat pesanan, membuat janji penyerahan, menentukan kebutuhan unit-unit
operasional untuk mengkordinasikan seluruh kegiatan secara terpadu. Sasaran
peramalan dapat dikategorikan berdasarkan jangka waktunya ke dalam sasaran
jangka panjang, jangka menengah, jangka pendek, dan segera.
Tabel 2-4 Tabel peramalan
Segera (kurang dari 1
bulan)
Jangka pendek
(1-2 bulan) Jangka menengah (3bln-1th) Jangka panjang (2 tahun) Marketing:
Penjualan setiap jenis produk, penjualan oleh pelanggan, kompetitor, harga, dan
Produksi: Permintaan masing-masing produk, pembebanan pabrik Total permintaan dari kategori produk dan kelompok produk, penjadwalan, tingkat tenaga kerja, biaya Biaya alokasi anggaran, b eli atau pesan peralatan dan pemesinan, tingkat tenaga kerja.
Biaya, investasi fasilitas, ekspansi pabrik dan peralatan, permintaan fasilitas produk yang baru, teknologi baru Inventory: Permintaan masing-masing produk, permintaan untuk material, demand untuk barang setengah jadi, cuaca Permintaan untuk material, demand untuk barang setengah jadi, demand untuk produk jadi Kemungkinan
pemasok baru atau fasilitas transportasi Total penjualan ekspansi gudang. Keuangan dan akuntansi: Penerimaan penjualan, biaya produksi, biaya inventory, kas masuk dan kas keluar.
Total demand, level persediaan, aliran kas, pembelian jangka pendek, harga Alokasi anggaran, aliran kas. Total penjualan, pemilihan investasi, modal, alokasi sumber daya, program untuk modal, aliran kas
Pembelian:
Produksi, ketersediaan dana, pembelian dari pemasok
Demand untuk produk, demand material, lead time pembelian
Demand produk, demand raw material dan material yang lain
Subkontrak atau membeli raw material, preferensi konsumen
R & D:
Pengenalan produk baru seleksi R&D
Total penjualan, teknologi, sosial, politik dan kondisi ekonomi yad. Pengembangan produk baru Top management: Total penjualan penetapan harga Demand penjualan, biaya yang dikeluarkan, posisi kas, kondisi ekonomi secara umum, pengendalian tujuan
Total penjualan, biaya, sosial dan trend ekonomi, goal, tujuan dan strategi, produk baru, kebijakan harga.
Unit ekonomi:
Levvel aktivitas ekonomi
Kondisi ekonomi umum, titik balik
2.4.1 Peran Teknik Peramalan
Komitmen tentang peramalan telah tumbuh karena beberapa faktor :
Pertama, adalah karena meningkatnya kompleksitas organisasi dan lingkungannya hal ini akan menjadikan semakin sulit bagi pengambil keputusan
untuk mempertimbangkan semua faktor secara memuaskan.
Kedua, dengan meningkatkan ukuran organisasi, maka bobot dan kepentingan suatu keputusan telah meningkat pula, lebih banyak keputusan yang memerlukan
telaah peramalan khusus dan analisis yang lengkap.
Ketiga, lingkungan dari kebanyakan organisasi telah berubah dengan cepat sehingga keterkaitan yang harus dimengerti oleh organisasi berubah-rubah dan
pengamalan memungkinkan bagi organisasi untuk mempelajari keterkaitan yang
baru secara lebih cepat.
Keempat, pengambilan keputusan telah semakin sistematis yang melibatkan justifikasi tindakan secara gambling (eksplisit).
2.4.2 Model-model Peramalan
Terdapat dua jenis model peramalan yang utama, yaitu: model deret berkala
(time series) dan model regresi (kausal). Pada jenis pertama, pendugaan masa depan dilakukan berdasarkan nilai masa lalu dari suatu variabel atau kesalahan
masa lalu. Tujuan metode peramalan deret berkala seperti itu adalah dengan
menemukan pola dalam deret historis dan mengekstrapolasikan pola tersebut ke
masa depan.
yang paling tepat dengan pola tersebut dapat diuji. Pola data dapat dibedakan
menjadi empat jenis (Spyros M, Steven C, Victor E,2004, ) : 1. Pola Horizontal (H)
Terjadi bilamana nilai data berfluktuasi di sekitar nilai rata-rata yang konstan.
Deret seperti itu adalah “stasioner” terhadap nilai rata-ratanya. Suatu produk
yang penjualannya tidak meningkat atau menurun selama waktu tertentu
termasuk kedalam jenis ini.
(Spyros M, Steven C, Victor E,2003, ) Gambar 2.6. Pola Data Horizontal
Pola Musiman (S)
Terjadi bilamana suatu deret dipengaruhi oleh faktor musiman (misalnya
kuartal tahun tertentu, bulanan, atau hari-hari pada minggu tertentu).
(Spyros M, Steven C, Victor E,2003, )
S S F W S S F W S S F W
Y
[image:50.595.135.468.271.392.2] [image:50.595.151.462.535.696.2]waktu Y
1972 73 74 75 76 77 78 79 80 81 waktu
Y 2. Pola Siklis (C)
Terjadi bilamana datanya dipengaruhi oleh fluktuasi ekonomi jangka panjang
seperti yang berhubungan dengan siklus bisnis. Penjualan produk seperti
mobil, baja, dan peralatan utama lainnya menunjukkan jenis pola ini.
[image:51.595.168.472.205.316.2]
(Spyros M, Steven C, Victor E,2003 ) Gambar 2.8. Pola Data Siklus. 3. Pola trend (T)
Terjadi bilamana terdapat kenaikan atau penurunan sekuler jangka panjang
dalam data. Penjualan banyak perusahaan, produk bruto nasional (GNP) dan
berbagai indikator bisnis atau ekonomi lainnya mengikuti suatu pola trend
selama perubahannya sepanjang waktu.
[image:51.595.169.480.526.660.2]
2.4.3 Peramalan Permintaan
Sasaran akhir dari keseluruhan aktivitas peramalan adalah perkiraan
mengenai kebutuhan modal. Dengan mengetahui kebutuhan modal pada semua
aktivitas produksi, maka kebijakan harga dan keuntunagn akan lebih mudah
[image:52.595.91.472.223.681.2]untuk dibuat. (Baroto,T.,2004,).
Gambar 2.10
Proses Perkiraan Kebutuhan Modal dari Peramalan. Peramalan
permintaan
Perancanaan kapasitas
Disain system operasi
Kebutuhan mesin & alat
Kebutuhan Tenaga
Kebutuuhan material Penjadwalan
operasi
2.4.4 Prinsip-Prinsip Dalam Menggunakan Peramalan Permintaan
Pengelolaan dan strategi logistik dapat dilakukan secara efektif apabila
dilandasi oleh beberapa prinsip penggunaan peramalan. Prinsip-prinsip ini secara
singkat dapat dijelaskan sebagai berikut. Sebelum hal tersebut di bicarakan lebih
lanjut, perlu disadari bahwa yang sedang dibicarakan adalah mengenai suatu
peramalan, bukan suatu kepastian. Oleh karena itu, perlu di ingat hukum pertama
dan utama dari peramalan, yaitu peramalan dijamin mleset, atas dasar hukum
inilah prinsip-prinsip peramalan di letakkan. (Indrajit, Eko & Djokopranoto, Richardus, (2003), Grasindo- Jakarta.)
1. Peramalan yang baik pun masih memungkinkan kesalahan yang signifikan.
2. Peramalan memerlukan monitor dan perhitungan perkiraan kesalahan.
3. Ketidakpastian, yang mungkin besar, harus selalu diantisipasi dan
diperhitungkan.
4. Semua sistem peramalan selalu didasari oleh model yang bersifat implisit atau
eksplisit.
5. Peramalan sering kali juga didasarkan atas peramalan agregat yang perlu
dipecah-pecah menjadi komponen produk, letak geografis, atau
komponen-komponen lain.
2.4.5 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Permintaan
Permintaan akan suatu produk pada suatu perusahaan merupakan resultan
dari berbagai faktor yang paling berinteraksi dalam pasar. Faktor=faktor ini
hampir selalu merupakan kekuatan yang berada diluar kendali perusahaan.
Siklus bisnis. Penjualan produk akan dipengaruhi oleh permintaan akan produk tersebut, dan permintaan suatu produk akan dipengaruhi
oleh kondisi ekonomi yang membentuk siklus bisnis dengan fase-fasse
inflasi, resesi, depresi, dan masa pemulihan.
Siklus hidup produk. Siklus hidup produk biasanya mengikuti suatu pola yang biasa disebut kurva s. Kurva s menggambarkan besarnya
permintaan terhadap waktu, dimana siklus hidup suatu produk akan
dibagi menjadi faase pengenalan, fase pertumbuhan, fase kematangan
dan akhirnya fase penurunan. Unruk menjaga kelangsungan usaha,
maka perlu dilakukan inovasi produk padddaa saat yang tepat.
Faktor-faktor lain. Beberapa faktor lain yang mempengaruhi permintaan adalah reaksi balik dari pesaing, perilaku konsumen yang
berubah, dan usaha-usaha yang dilakukan sendiri oleh perusahaan
seperti meningkatkan kualitas, pelayanan, anggaran periklanan, dan
kebijaksanaan pembayaran secara kredit.
Rencana siklus hidup Pelanggaran proyek
variasi acak mutu & harga
pesaing
siklus bisnis
sikap & kepercayaan
INPUTS pelanggan
OUTPUTS
MUTU Iklan
Hasil
Penjualan kebijaksanaan usaha kredit perusahaan Citra desain barang &
[image:54.595.124.511.499.627.2]Pelayanan pelayanan
Gambar 2.11 beberapa faktor yang mempengaruhi permintaan (Nasution, A. H., 2004,)
Permintaan
2.4.6 Metode Peramalan
Metode peramalan merupakan suatu metode atau teori pendekatan
kemungkinan akan terjadinya suatu kejadian di masa yang akan datang dengan
menganalisa keadaan di waktu-waktu yang lalu. Penyusunan peramalan yang
berdasarkan pada data historis yang ada seringkali menggunakan trend untuk melaksanakan perhitungan peramalan penjualan
a. Model Peramalan Kualitatif
Peramalan kualitatif umumnya bersifat subyektif, dipengaruhi oleh intuisi,
emosi, pendidikan dan pengalaman seseorang. Oleh karena itu, hasil peramalan
dari satu orang dengan orang yang lain dapat berbeda. Meskipun demikian,
peramalan dengan model kualitatif tidak berarti hanya menggunakan intuisi, tetapi
seringkali mengikutsertakan model-model statistik sebagai bahan masukan dalam
judgement (pendapat, keputusan) dan dapat dilakukan secara perseorangan maupun kelompok.
Dalam peramalan secara kualitatif ada 4 metode yang umum dipakai :
1. Juri Opini Eksekutif
2. Metode Delphi
3. Gabungan Tenaga Penjualan
4. Survey Pasar
b. Model Peramalan Kuantitatif
Peramalan Kuantitatif dapat diterapkan bila terdapat tiga kondisi berikut :
(Spyros M, Steven C, Victor E,1995,)
a. Tersedia informasi tentang masa lalu.
c. Dapat diasumsikan bahwa beberapa aspek pola masa lalu akan terus berlanjut
di masa mendatang.
Model kuantitatif dapat dipergunakan dalam prakiraan, pada dasarnya dapat
dikelompokkan dalam dua jenis, yaitu metode deret berkala (time series) dan metode regresi atau kausal (Spyros M, Steven C, Victor E, 1995,) :
1. Metode Time Series
Merupakan metode dimana pendugaan masa depan dilakukan berdasarkan
nilai masa lalu dari suatu variabel atau kesalahan masa lalu. Tujuan metode
peramalan deret berkala seperti itu adalah dengan menemukan pola dalam
deret historis dan mengekstrapolasikan pola tersebut ke masa depan. Langkah
penting dalam memilih suatu metode time series yang tepat adalah dengan mempertimbangkan jenis pola data, sehingga metode yang paling tepat dengan
pola tersebut dapat diuji.
2. Metode Kausal
Dengan mengasumsikan bahwa faktor yang diperkirakan/diramalkan
menunjukkan adanya hubungan sebab-akibat dengan satu atau lebih variabel
bebas. Maksud dari model kausal adalah menemukan bentuk hubungan
tersebut dan menggunakannya untuk meramalkan nilai mendatang dari
variabel tidak bebas.
c. Metode Double Moving Average (Moving Average With Trend)
Untuk mengurangi kesalahan sistematis yang terjadi bila rata-rata bergerak
dipakai pada berkecenderungan, maka dikembangkan metode rata-rata bergerak
dari rata-rata bergerak, dan menurut simbol dituliskan sebagai MA (MxN) dimana artinya adalah MA M-periode dari MA N-periode.
Jadi prosedur peramalan rata-rata bergerak linier meliputi tiga aspek, yaitu:
1. Penggunaan rata-rata bergerak tunggal pada waktu t (ditulis S’t).
2. Penyesuaian yang merupakan perbedaan antara rata-rata bergerak tunggal dan
ganda pada waktu t (dituiis S’t – S”t).
3. Penyesuaian untuk kecenderungan dari periode t ke periode t+1 (atau ke periode t+m jika kita ingin meramalkan m periode ke muka)
Penyesuaian ke 2 paling efektif bila trend bersifat linier dan komponen
kesalahan randomnya tidak begitu kuat. Penyesuaian ini efektif karena adanya
kenyataan bahwa MA tunggal tertinggal (lags) di belakang deret data yang menunjukkan trend.
Secara umum pembahasan tersebut dapat diformulasikan sebagai berikut :
N X ... X X X '
S t t 1 t 2 t N 1
t
... (1)
N S ... S S S "