• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN PEMETAAN KELEMBAGAAN PONDOK PESANTREN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "HASIL PENELITIAN PEMETAAN KELEMBAGAAN PONDOK PESANTREN"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

Seminar Hasil Penelitian Pemetaan Kelembagaan Pondok Pesantren , diselenggarakan oleh Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan, Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI, pada Kamis-Sabtu, 30 Oktober s/d 1 Nopember 2014, di M One Hotel, Jl. Raya Jakarta KM-49.5, Cimandala Sukaraja, Jawa

Barat 16710, Indonesia

Budi Sulistiono (Narasumber)

Pesantren, dayah, surau, sejak sebelum penjajahan adalah satu-satunya

lembaga pendidikan agama Islam yang tersedia. Dengan datangnya penjajahan,

lembaga ini, di samping berfungsi sebagai penjaga nilai-nilai keagamaan dan

semangat independen - sebagaimana kelihatan pada peranan para ulama dan guru

agama dalam perlawanan bersenjata dan pergerakan rakyat, juga sekaligus

merupakan salahsatu alternatif menghadapi sistem kolonial.

Pesantren diakui secara umum telah menjadi benteng perlawanan, antara

lain berkulminasi pada bantuan dan dukungan kepada Pangeran Diponegoro dan di

waktu menampung para pengikutnya yang masih bersikap non-kooperatif terhadap

penjajah dan vazal-vazalnya. Keseluruhan sikap hidup, tata nilai struktur sosial yang

dimiliki pesantren jelas menunjukkan fungsi perlawanan ini, seperti dapat

disimpulkan dari studi Sartono Kartodirdjo1 dalam studinya tentang "gerakan protest

di pedalaman Jawa" di abad yang lalu dan permulaan abad ini. Banyak peristiwa

sejarah abad ke-19 yang menunjukkan betapa besar pengaruh pesantren dalam

mobilisasi masyarakat pedesaan untuk aksi-aksi protes terhadap masuknya

kekuasaan birokrasi kolonial Eropa di pedesaan2. Aksi-aksi protes mereka hingga

melahirkan pemberontakan3 dan meletuslah, misalnya "Geger Cilegon" juga terkenal

1 Kartodirdjo, Sartono, The Peasants Revolt in Banten in 1888, 's-Gravenhage, 1966. 2 Kuntowijoyo, Paradigma Islam : Interpretasi untuk Aksi, (Bandung: Mizan), cet.ke-3, 1991: 247)

(2)

dengan "Perang Wasid" (1888), di Banten. Kenyataan ini sebagai wujud komitmen

sosial pesantren kepada masyarakat sudah terbukti dari masa ke masa, bahkan dari

abad ke abad.

Pesantren dalam perkembangannya, juga telah mengalami corak

perkembangan yang beraneka-ragam. Perkembangan itu meliputi kurikulum, metode

mengajar, dan kelembagaan. Dalam kurikulum terdapat perkembangan sejak 1906,

antara lain ketika Kasunanan Surakarta mendirikan Mambaul-Ulum4. Dalam "metode

mengajar" - atau cara pemberian pelajarannya, ada perkembangan dari sistem salaf

ke sistem madrasi5. Pesantren Tebuireng (sejak 1916), misalnya telah menerapkan

sistem madrasi kemudian diikuti oleh pesantren-pesantren lain, antara lain pesantren

Salafiyah di Sukorejo, Asembagus, Situbondo, Jawa Timur, sejak 1925. Dengan

demikian di dalam pesantren telah terjadi perkembangan dan sudah dimulai sejak

awal abad ke-20. Ini berarti, pesantren dapat memetik hasil yang sangat positif dari

sistem madrasah – sebagai langkah alternatif para kyai mengkonsolidasikan

kedudukan pesantren dalam menghadapi perkembangan sekolah-sekolah agama.

Dalam tahun 1920-an dan 1930-an jumlah pesantren besar dan santri-santrinya

melonjak berlipatganda6. Sebelum tahun 1920-an, pesantren-pesantren besar hanya

mempunyai sekitar 200 santri. Dalam permulaan tahun 1930-an banyak pesantren,

seperti Pesantren Tebuireng, mempunyai jumlah murid lebih dari 1500 orang.

Menurut catatan Departemen Agama bahwa pada tahun 1977 ada 4.195

pesantren dgn jumlah santri 677.384 orang. Jumlah tersebut menjadi 5.661 pesantren

meletus huru-hara yang berpusat di tempat-tempat tertentu, seperti Cikandi Udik (1845), geger A.Wahya (1850), affair Usap (1851), affair Pungut (1862), peristiwa Kolelet (1866), dan peristiwa Jayakusuma (1869); lihat Sartono Kartodirdjo, "Berkunjung ke Banten Satu Abad Yang Lalu (1879-1888)", makalah disampaikan dalam Seminar Sejarah Perjuangan KH Wasyid dan Para Pejuang Banten 1888, Serang 9-18 September 1988;

4 Mambaul Ulum di Surakarta, adalah tempat untuk mendidik calon-calon pejabat agama, dengan memasukkan kurikulum Barat ke dalam pendidikan agama. Pada waktu yang hampir bersamaan terjadi perkembangan serupa di Sumatera Barat.

5 Dalam sistem madrasi, di Jawa sudah diberlakukan sistem kelas atau tingkatan-tingkatan pendidikan (Steenbrink, 1986: 102).

(3)

dgn 938.397 santri pada tahun 1981 kemudian meningkat menjadi 15.900 pesantren

pada tahun 1985. Melalui informasi Laporan Hasil Penelitian yang sedang kita bahas

ini, jumlah pesantren sekitar 27.000 pesantren pada tahun 2012-2013, pesantren telah

memberikan pelayanan pendidikan kepada 3,65 juta santri. Data ini membuktikan

bahwa pesantren seiring dengan perjalanan waktu, sedikit demi sedikit maju tumbuh

dan berkembang sejalan dengan proses pembangunan serta dinamika

masyarakatnya, baik di desa maupun di perkotaan. Peningkatan secara kuantitas

terhadap jumlah pesantren sebagai lembaga pendidikan nyata-nyata mengalami

semacam kebangkitan atau setidaknya menemukan popularitas baru. Sekali

lagi, secara kuantitatif jumlah pesantren tampaknya meningkat. Pesantren-pesantren

baru muncul di mana-mana, tidak hanya di Jawa tetapi juga di luar Jawa. Yang

menarik dari perkembangan kuantitatif ini adalah gejala pertumbuhan

pesantren-pesantren baru di wilayah urban seperti Jakarta, Bogor, Depok, Tanggerang,

Bekasi (Jabodetabek), dan sebagainya. Perkembangan fisik bangunan pesantren

juga mengalami kemajuan-kemajuan yang sangat observable. Banyak pesantren

di berbagai tempat, baik di wilayah urban atau di pedesaan, mempunyai

gedung-gedung atau bangunan yang megah dan, lebih penting lagi, sehat dan

kondusif sebagai tempat berlangsungnya proses pendidikan.

Dengan demikian, citra yang pernah disandang pesantren sebagai

kompleks bangunan yang reot, kumuh dan tidak higinis semakin memudar.

Pertanyaannya, bagaimana pandangan kita terhadap fenomena ini? Nah, kehadiran

program penelitian dan menghasilkan Laporan Penelitian Pemetaan Kelembagaan

Pondok Pesantren untuk kemudian kita seminarkan hari ini di tempat ini, semoga

wujud apresiasi nyata kita terhadap kebangkitan Pesantren yang enggan

kehilangan validitasnya.

Secara komprehensif penelitian ini bertujuan pertama, mengetahui kapasitas

pesantren di Indonesia; Kedua, mengetahui standar nilai pada masing-masing

klasifikasi pesantren; Ketiga, menentukan unsur-unsur dan nilai yang dominan

(4)

penelitian ini juga diharapkan dapat menghasilkan tipologi pesantren baru yang

adaptif, bermakna dan kontributif bagi pesantren dan masyarakat luas. Adapun

metode untuk menjawab kerangka tujuan penelitian, sangat simpatik menggunakan

pengukuran berdasar serangkaian indikator dengan pendekatan kapasitas’

(capacity approach) melalui angket/ quisioner yang secara langsung di isi oleh

responden pesantren terdiri dari pimpinan/ pengurus, ustadz dan santri. Selain

quisioner diperkuat melalui metode wawancara dengan pimpinan/ pengurus

pesantren, guna mendalami hal-hal yang bersifat informatif. Langkah ini sebagai

konsekuensi selain pentingnya dilaksanakan penelitian juga wilayah sebaran

pesantren ada di 17 ribu pulau dan kepulauan Indonesia (33 wilayah propinsi).

Dalam kesempatan yang bahagia ini saya tidak berniat mempersoalkan

penarikan sampel dilakukan secara stratified random sampling, juga tidak

mempersoalkan besarnya sampel yang digunakan 800 pesantren. Namun, melalui

dua pilihan langkah tersebut, saya ada pertimbangan historis terkait keberadaan jejak

Pesantren Induk. Ambil contoh di Pulau Jawa, sebagaimana dalam table berikut :

PESANTREN INDUK : NAMA, TAHUN BERDIRI, DAN PENDIRI

O.

NAMA &

ALAMAT PESANTREN

TAHUN

BERDIRI

PENDIRI &

PENGASUH

KETERANGAN

.

TEBUIRENG

Tebuireng, Jombang, Jawa

Timur

1899 Hadlratusy-Syeikh

Hasyim Asy'ari

Sistem Klasikal, Weton,

Sorogan

(5)

. Arjosari, Pacitan, Jawa Timur Manan Sorogan

LIRBOYO

Kotamadya Kediri, Jawa

Timur

1920 Kyai Abdul Manaf Sistem Klasikal, Weton,

Sorogan

SALAFIYAH

AL-HAMDANIYAH

Siwalan Panji, Buduran,

Sidoarjo, Jawa Timur

1770 Kyai Haji Hamdani

Sistem Klasikal, Weton,

Sorogan

AL-HIDAYAT

Lasem, Rembang, Jawa

Tengah

1920 Kyai Haji

M.Ma'shum

Sistem Weton, Sorogan

PONDOK MODERN

GONTOR

1926 Trimurti (KH

Ahmad Sahal, KH

Imam Zarkasyi, KH

Fanani)

Sistem klasikal

Keberadaan Pesantren Induk menunjukkan pola yang serupa walaupun

dalam ukuran yang berbeda, terdapat dalam pertumbuhan pesantren alumni.

Kebanyakan pesantren didirikan sebagai salah satu bentuk reaksi terhadap pola

(6)

pesantren itu sendiri juga menjadi salah satu bagian dari transformasi kultural yang

berjalan dalam jangka waktu sangat panjang.

Selama kurun waktu yang cukup panjang, pesantren-pesantren tersebut

banyak mengalami perubahan, banyak penyesuaian telah terjadi, dan banyak

tantangan yang diatasi, bahkan masalah-masalah baru tidak pula kurang banyaknya.

Upaya penyesuaian yang dilakukan pesantren dalam menghadapi tantangan bukan

dimaksud telah terjadi perubahan di lingkungan dan/ atau penyelenggaraan

pendidikan pesantren. Justru sebaliknya, upaya tersebut sebagai wujud potensi

pesantren Induk untuk melakukan kontak dengan dunia ilmu pengetahuan tanpa

melepaskan potensi pendalaman pengetahuan keagamaan.

Melaui sejumlah pengalaman tersebut, setidaknya mendorong corak

penyelenggaraan Pesantren, yakni :

1. Sistem Madrasi

Upaya penyelenggaraan sistem madrasi di Pesantren Induk (sejak 1916) ,

kemudian diikuti oleh pesantren-pesantren lain, misalnya pesantren Salafiyah di

Sukorejo, Asembagus, Situbondo, Jawa Timur, sejak 1925; Pesantren Darussalam

Gontor, memberlakukan sistem madrasi sejak 1926. Kondisi nyata ini telah

menunjukkan perkembangan pesantren. Dengan demikian di dalam pesantren telah

terjadi perkembangan dan sudah dimulai sejak awal abad ke-20. Perkembangan itu

meliputi kurikulum, metode mengajar, dan kelembagaan. Dalam kurikulum terdapat

perkembangan sejak 1906 ketika kerajaan di Surakarta mendirikan Mambaul-Ulum7.

Dalam "metode mengajar" - atau cara pemberian pelajarannya, ada perkembangan

dari sistem salaf ke sistem madrasi8. Namun demikian, pesantren dapat memetik

hasil yang sangat positif dari sistem madrasah, yaitu keberhasilan para kyai

7 Mambaul Ulum di Surakarta, adalah tempat untuk mendidik calon-calon pejabat agama, dengan memasukkan kurikulum Barat ke dalam pendidikan agama. Pada waktu yang hampir bersamaan terjadi perkembangan serupa di Sumatera Barat.

(7)

mengkonsolidasikan kedudukan pesantren dalam menghadapi perkembangan

sekolah-sekolah agama. Dalam tahun 1920-an dan 1930-an9 jumlah pesantren besar

dan santri-santrinya melonjak berlipatganda. Sebelum tahun 1920-an,

pesantren-pesantren besar mempunyai hanya sekitar 200 santri. Dalam permulaan tahun

1930-an b1930-anyak pes1930-antren, seperti Pes1930-antren Induk, y1930-ang mempunyai jumlah murid lebih

dari 1500 orang. Selain itu, walaupun jumlah sekolah-sekolah yang didirikan Belanda

terus menerus bertambah, namun pendidikan tingkat menengah sampai tahun 1940

masih sangat terbatas bagi penduduk golongan Eropa.

2.Pendidikan Kemandirian

Suasana pendidikan ke arah hidup mandiri tetap menjadi ciri khas

pesantren, karena bagaimana pun juga eksistensinya sebagai lembaga pendidikan

sejak keberadaannya hingga kini sedang dan akan senantiasa ditantang oleh

kebutuhan masyarakat yang mengalami pergeseran-pergeseran sistem nilai di

samping pergeseran kebutuhan. Kemampuan pesantren memenuhi tuntutan

masyarakat pendukungnya menjadi batu ujian bagi kelangsungan eksistensinya,

sehingga transformasi kultural yang ditempuhnya harus senantiasa memperhatikan

perubahan yang terjadi dalam lingkungan masyarakatnya. Ini berarti dan sulit untuk

dilupakan, bahwa kehadiran pesantren yang didirikan oleh suatu hasrat untuk

mengadakan transformasi bagi daerah sekitarnya yang dalam konteks sejarah, hal ini

berarti terjadinya penerusan proses dakwah Islamiyah.

Dalam upaya menjawab kebutuhan masyarakat akan peningkatan

kesejahteraan, sebagian Pesantren Induk telah tampil sebagai kancah pemberdayaan

individu dan masyarakat, misalnya : dakwah, pertanian, koperasi, perpustakaan,

peternakan, perikanan, administrasi dan organisasi, pertukangan, kerajinan tangan

(menjahit, menyulam, dan sebagainya), kesehatan (Usaha Perbaikan Gizi Keluarga),

dan sebagainya.

(8)

Kiprah pemberdayaan diri (individu) dan masyarakat yang dialami oleh

Pesantren Induk tersebut, menarik untuk dicermati lebih lanjut di beberapa pesantren

Alumninya, selain menunjukkan jumlah yang sangat besar :

(a) kebanyakan pesantren didirikan sebagai salahsatu bentuk reaksi

terhadap pola kehidupan tertentu yang dianggap rawan, karenanya kehadiran

pesantren sebagai satu bagian dari transformasi kultural yang berjalan dalam waktu

sangat panjang.

(b) Sebagian besar pesantren Alumni tetap memiliki hubungan pertautan

yang dekat dengan pesantren Induk (Tebuireng), dibuktikan dengan

dipertahankannya elemen-elemen tradisi pesantren.

© Untuk mempersiapkan kader, Pesantren Induk tidak segan-segan

mengirimkannya ke pesantren Alumni terutama untuk menimba pengetahuan

(misalnya tasawuf, ilmu hisab, ilmu fikih).

(d) Selama kurun yang cukup panjang, pesantren Induk dan

pesantren-pesantren Alumni-nya juga telah mengalami corak pertumbuhan yang beraneka

ragam sebagaimana nampak : mempertahankan sistem pengajaran dengan metode

bandongan dan sorogan, mempertahankan sistem tersebut juga menyesuaikan

dengan SKB 3 Menteri, dan sebagian yang lain tidak menyesuaikan dengan pola

kurikulum pemerintah, tapi membuat kurikulum sendiri sesuai tujuan yang hendak

dicapai.

(e) Suasana pendidikan ke arah hidup mandiri tetap menjadi ciri khas

pesantren. Dengan sistem asrama, penyelenggaraan pendidikan di luar jam belajar,

santri diberikan pendidikan ketrampilan, misalnya : dakwah, pertanian, koperasi,

organisasi, kerajinan tangan, kesehatan, dan sebagainya. Akibat dari munculnya

sejumlah aktivitas itu, kiranya terasa sulit membuat gambaran suatu pola pesantren

alumni dan lebih-lebih mengadakan generalisasinya. Dalam kaitan ini, data lapangan

menunjukkan bahwa penyelenggaraan jenis pengembanan usaha untuk kemandirian

pesantren meliputi kopontren, BMT/BORS, home industry, pertokoan, pertanian/

(9)

pesantren (70%) telah memiliki. Fakta ini memperlihatkan bahwa sejumlah besar

pesantren telah memiliki kekuatan ketahanan lembaga melalui pengembangan

usaha-usaha ekonomi mandiri.

Pesantren Induk yang secara struktural telah memberikan dirinya sebagai

wadah dengan warna khas dan dinamikanya, telah juga mewarnai corak pesantren

Alumni sebagai wujud dinamika perjalanan dalam kaitan tantangan sepanjang

sejarah yang dihadapi pesantren. Dengan kata lain, sebagai lembaga pendidikan

Islam, pesantren berkenan dalam meningkatkan mutu, baik kuantitas maupun

kualitas kelembagaannya, terutama dilihat dari sisi penyelenggaraannya maupun

dari sisi manajemennya, sehingga proses kegiatan penyelenggaraan pendidikan yang

terjadi di pesantren tersebut dapat senantiasa mengarah pada orientasi dan kualitas

pendidikan yang benar-benar diharapkan oleh masyarakat.

Keberadaan mereka kini pantas untuk dicermati. Pada kategori sumber

belajar, team peneliti memperoleh data bahwa mayoritas pesantren bertumpu pada

sumber belajar yang hampir sama, yakni menggunakan sumber belajar lebih dari 37

kitab kuning10 dalam 16 jenis keilmuan, meliputi nahwu, sharaf, balaghah, fikih,

ushul fikih, tafsir, ulumul tafsir, hadis, ulumul hadis, akhlak tasawuf, tauhid, mantiq,

tarikh, falaq, dan arudl. Melalui penelitian kualitatif, mungkinkah diperoleh data

bagaimana dan kapan Kitab Kuning diajarkan ? Kitab-kitab tersebut meliputi teks

yang sangat pendek sampai teks yang berdiri dari berjilid-jilid tebal mengenai hadits,

tafsir, fiqih, ushul fiqih dan tasawuf.11 Agar bisa menerjemahkan dan memberikan

pandangan tentang isi dan makna dari teks kitab tersebut, seorang kyai ataupun

santri harus menguasai tata bahasa Arab (balaghah), literature dan cabang-cabang

pengetahuan agama Islam yang lain.12

10 Kitab Kuning yang dimaksud adalah kitab-kitab Islam klasik dan modern yang ditulis dalam bahasa arab baik hasil karya para tokoh muslim luar negeri maupun para pemikir muslim Indonesia.

11 HM. Amin Haedari, dkk, Masa Depan Pesantren dalam Tantangan modernitas, IRD PRESS, Jakarta, 2005, hlm 39

(10)

Mendasarkan temuan data lapangan, pada umumnya pesantren telah

memiliki sarana meliputi masjid, asrama, ruang belajar, gedung kantor,

perpustakaan, gedung serbaguna, tanah untuk pengembangan dan lain-lain. Melalui

penelitian kuantitatif, mungkinkah diperoleh data sejak kapan masing-masing sarana

itu dibangun ? Andai saja bangunan itu terdapat unsure kekunoannya, maka berhak

diajukan ke Pemerintah untuk mendapatkan perlindungan sebagai Benda Cagar

Budaya (BCB). Landasan juridis konservasi dan pelestarian benda ca gar

budaya, adalah UU RI No. 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya,

yang diundangkan dalam Lembaran Negara RI Tahun 1992 No. 27, 21

Maret 1992. Landasan institusional berdasarkan UU tersebut di atas,

maka pengelolaan kegiatan konservasi dan pelestarian benda cagar

budaya adalah Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Pe ninggalan

Sejarah dari Purbakala (Ditlinbinjar ah) Direktorat Jenderal Kebudayaan

DEPDIKBUD dengan instansi terkait, misalnya Bidang Penelitian: Pusat

Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) DEPDIKBUD dengan 10

Balai Arkeologi di daerah .

Selama kurun waktu yang cukup panjang, pesantren-pesantren dengan

penghadapan pada situasi dan kondisi baik berupa peluang maupun tantangan

banyak pula PR yang harus dijawab. Upaya penyesuaian yang dilakukan pesantren

dalam menghadapi tantangan bukan dimaksud telah terjadi perubahan (bersifat

negatif) di lingkungan dan/ atau penyelenggaraan pendidikannya. Justru sebaliknya,

upaya tersebut sebagai wujud potensi pesantren untuk melakukan kontak dengan

dunia ilmu pengetahuan tanpa melepaskan potensi pendalaman pengetahuan

keagamaan.

Suasana pendidikan ke arah hidup mandiri tetap menjadi ciri khas pesantren,

karena bagaimana pun juga eksistensinya sebagai lembaga pendidikan sejak

keberadaannya hingga kini sedang dan akan senantiasa ditantang oleh kebutuhan

masyarakat yang mengalami pergeseran-pergeseran sistem nilai disamping

(11)

pendukungnya menjadi batu ujian bagi kelangsungan eksistensinya, sehingga

transformasi kultural yang ditempuhnya harus senantiasa memperhatikan

perubahan yang terjadi dalam lingkungan masyarakatnya. Ini berarti dan hampir

sulit dilupakan, bahwa kehadiran pesantren sebagai wujud estafeta dakwah

islamiyah dari masa ke masa.

Dalam upaya menjawab kebutuhan masyarakat akan peningkatan

kesejahteraan, pesantren telah tampil sebagai kawah pemberdayaan individu dan

masyarakat, misalnya : dakwah, pertanian, koperasi, perpustakaan, peternakan,

perikanan, administrasi dan organisasi, pertukangan, kerajinan tangan (menjahit,

menyulam, dan sebagainya), kesehatan (Usaha Perbaikan Gizi Keluarga), dan

sebagainya. Usaha-usaha pengembangan pesantren, dalam rentangan sejarahnya,

diharapkan mempunyai peranan yang jelas dalam rangka pengembangan

masyarakat. Peranan tersebut berbentuk partisipasi pesantren dalam melaksanakan

program pembangunan yang dapat mendorong dan meningkatkan tarap hidup

masyarakat sekitarnya.

Dalam kaitan ini, karena keberadaan pesantren hampir pasti dipicu untuk

selalu aktual dalam kiprahnya, maka sudah saatnya pemetaan kapasitas

kelembagaannya bisa berwujud, untuk kemudian ditindaklanjuti dengan

program-program pengembangan pesantren yang berkesinambungan.

Wallahu a lam bish-showab.

Tebet, 30-10-2014

Referensi

Dokumen terkait

Menurut Dyah kegiatan ini diselenggarakan selain untuk meramaian peringatan Hari Jadi Kota Surabaya ke 718 juga mengasah potensi perempuan Surabaya dalam membuat desain batik

Puji serta syukur Penulis panjatkan kepada Allah SWT, atas berkat, rahmat, taufiq dan inayah-Nya kepada Penulis, sehingga Penulis dapat menyelesaikan skripsi ini

Teknik alternatif terbaik untuk meningkatkan kandungan pati resisten dalam bahan pangan adalah dengan mengombinasikan fermentasi bakteri asam laktat (BAL) penghasil

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan perlindungan hukum bagi konsumen berkaitan dengan transaksi jual beli online shop “OLX.co.id” Cabang Semarang dan

Tujuan penelitian ini adalah untuk merancang sebuah program yang dapat melakukan perhitungan untuk aliran air tanah dengan menggunakan metode finite difference, contohnya

Dapat disimpulkan bahwa penggunaan media audio visual pada paduan suara SD Muhammadiyah Kleco 2 Yogyakarta kelas percobaan A dan B pada berbagai macam lagu

Pada bab ini akan diuraikan data hasil penelitian dan pembahasan. Data yang diperoleh dalam penelitian ini berasal dari hasil tes pretest dan posttest siswa serta

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui : 1) Pengaruh Penerapan Sistem Akuntansi Pemerintah Daerah terhadap Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah