Wahyu Wijayant o, 2012 Pengemb ang an Profesionalit as Guru Sek olah Dasar
Universitas Pendidikan Indonesia | Repository.Upi.Edu
viii
DAFTAR ISI
PERNYATAAN……….. i
ABSTRAK……… ii
ABSTRACT……… iii
KATA PENGANTAR………... iv
DAFTAR ISI………. viii
DAFTAR TABEL……… x
DAFTAR GAMBAR... xi
BAB I PENDAHULUAN 1
A.Latar Belakang Masalah ….………... 1. Urgensi Peningkatan Mutu Pendidikan……….
2. Guru Komponen Utama Komponen Mutu Pendidikan……….
3. Persoalan Profesionalitas Guru………..
B.Identifikasi Masalah Penelitian … ………
C.Fokus dan Pertanyaan Penelitian ………...……….
D.Tujuan Penelitian………...
E. Manfaat Penelitian ……….……..
F. Penjelasan Istilah……….………...
1 1 3 4 6 11 12 13 14
BAB II KAJIAN PUSTAKA 16
A. Guru Profesional………. ...
1. Pengertian Guru………..
2. Tugas dan Peran Guru………….………..
3. Konsep Profesi………
4. Pengertian Guru Profesional………...
5. Ciri-Ciri Guru Profesional………..
6. Kompetensi Guru………
B.Pengembangan Profesionaliltas Guru………
1. Konsep Pengembangan Pegawai……….………
2. Pentingnya Pengembangan Profesionalitas Guru………
3. Pengertian Pengembangan Profesionalitas Guru………
4. Sekolah sebagai Pemrakarsa Pengembangan……….
5. Tujuan Pengembangan Profesionalitas Guru……….
6. Prinsip-Prinsip Pengembangan Profesionalitas Guru………
7. Model Pengembangan………..
8. Tahapan Pengembangan Profesionalitas Guru…………..…………
9. Perencanaan Pelaksanaan dan Evaluasi………..
10. Faktor Pendukung……….………
11. Faktor Penghambat……… ………
C.Telaah terhadap Penelitian Terdahulu yang Relevan ……….
Wahyu Wijayant o, 2012 Pengemb ang an Profesionalit as Guru Sek olah Dasar
Universitas Pendidikan Indonesia | Repository.Upi.Edu
ix
BAB III METODE PENELITIAN
A.Pendekatan Penelitian ……….
B.Lokasi Penelitian……….………
C.Jenis Data Penelitian………..
D. Sumber Data Penelitian………
E. Teknik Pengumpulan Data………
F. Teknik Analisis Data………
G.Keabsahan Data………
75 76 79 80 81 84 87
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 90
A.Hasil Penelitian …..………. 1. Perencanaan Pengembangan Profesionalitas Guru...
2. Pelaksanan Pengembangan Profesionalitas Guru…….………… ...
3. Evaluasi Pengembangan Profesionalitas Guru………
4. Faktor Pendukung Pengembangan Profesionalitas Guru………
5. Faktor Penghambat dan Solusi Pengembangan Profesionalitas Guru.
B.Pembahasan Hasil Penelitian ………
1. Perencanaan Pengembangan Profesionalitas Guru...
2. Pelaksanan Pengembangan Profesionalitas Guru…….………… ...
3. Evaluasi Pengembangan Profesionalitas Guru………
4. Faktor Pendukung Pengembangan Profesionalitas Guru………
5. Faktor Penghambat dan Solusi Pengembangan Profesionalitas Guru
90 90 111 139 145 161 170 170 185 194 201 214
BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI 221
A.Kesimpulan ………...
B.Rekomendasi………...
221 223
DAFTAR PUSTAKA……… 226
LAMPIRAN ……….
230
Wahyu Wijayant o, 2012 Pengemb ang an Profesionalit as Guru Sek olah Dasar
Universitas Pendidikan Indonesia | Repository.Upi.Edu
x
DAFTAR TABEL
Tabel
2.1 Model pengembangan……….. 44
2.1. Perbandingan model evaluasi pelatihan………... 55
2.2. Hasil Yang digunakan dalam evaluasi program……….. 57
4.1 Program Pengembangan guru jangka panjang………. 88
4.2 Materi Pelatihan TIK……… 109
4.3. Koleksi Buku Perpustakaan Sd Muhammadiyah 7 Bandung………….. 149
Wahyu Wijayant o, 2012 Pengemb ang an Profesionalit as Guru Sek olah Dasar
Universitas Pendidikan Indonesia | Repository.Upi.Edu
xi
DAFTAR GAMBAR
Gambar
2.1. Bagan tugas guru………... 21
2.2 Ranah (taxsonomi) pengembangan guru profesiona……… 39
2.3. Jenis-jenis rencana………... 47
3.1. Analis data kualitatif………. 73
4.1. Suasana pelatihan TIK……….. 111
4.2. Suasana pelatihan One Minutes Awarenes (OMA)……….. 113
4.3. Para pembicara saat seminar berjudul,”Save Our Energy”………... 121
4.4. Prof. Imam Robandi, dalam pemaran simposium Nasional………..…… 130
4.5. Kesungguhan kepala sekolah dalam mengikuti pelatihan OMA……….. 141
4.6. Keseriusan para guru mengikuti pelatihan OMA……….. 145
4.7. Ibu Tumi Hartati, Konsultan kurikulum SD Muhamadiyah 7 Bandung... 147
4.8. Laboratorium SD Muhammadiyah 7 Bandung………. 148
4.9. Suasana aktivitas guru dan siswa di perpustakaan sekolah………... 151
4.10. Ruang Aula SD Muhammadiyah 7 Bandung……… 151
BAB I
PENDAHULUAN
Pada bab awal tesis ini diuraikan permasalahan penelitian dan hal-hal yang
melatarbelakanginya. Fokus, tujuan dan manfaat penelitian juga diuraikan pada bab
ini. Secara keseluruhan, bab ini menguraikan : (a) latar belakang masalah penelitian,
(b) identifikasi masalah penelitian, (c) fokus studi dan pertanyaan penelitian,
(d) tujuan penelitian, (e) manfaat penelitian, dan (f) penjelasan istilah.
A. Latar Belakang Masalah Penelitian
Ada tiga hal pokok yang melatarbelakangi penelitian ini, yakni: (1) urgensi
peningkatan mutu pendidikan, (2) guru komponen utama peningkatan mutu
pendidikan, dan (3) berbagai persoalan profesionalitas guru.
1. Urgensi Peningkatan Mutu Pendidikan
Globalisasi merupakan suatu keniscayaan bagi semua bangsa di seluruh dunia,
terus berlangsung dan berdampak pada seluruh aspek kehidupan. Globalisasi
mencakup aspek ekonomi, sosial politik dan kultur. Mc Neely (1995) dalam
Zamroni (2007:5) mengungkapkan, lembaga-lembaga internasional telah
memberi fasilitas bagi negara-negara maju untuk menyebarluaskan kultur
mereka dan mendorong untuk diadopsi bagi negara-negara sedang berkembang
sebagai kultur yang bersifat universal.
Eksistensi suatu bangsa akan sangat ditentukan bagaimana memahami
dan menyikapi globalisasi dengan tepat, sebagaimana diungkapkan
suatu bangsa larut dalam kehidupan global, tanpa menyikapinya dengan tepat,
bangsa itu akan kehilangan identitas atau jati dirinya, bahkan akan kehilangan
bangsanya.” Ketahanan dan eksistensi suatu bangsa yang kuat menjadi sangat
penting dalam percaturan warga negara dunia disamping penguasaan dan
pemanfaatan ilmu pengetahuan, teknologi.
Globalisasi menuntut setiap bangsa untuk meningkatkan kualitas sumber
daya manusianya (SDM). Salah satu wahana dalam menghasilkan sumberdaya
manusia adalah pendidikan. Pendidikan telah menjadi bagian penting dalam
menciptakan SDM yang berkualitas dan memiliki keterampilan serta berdaya saing
tinggi. Menurut Tilaar (2009:2), “Perubahan global meminta perubahan dalam
pengelolaan hidup masyarakat dan perubahan dalam visi dan strategi pendidikan
dalam rangka mempersiapkan manusia Indonesia untuk memberikan jawaban
terhadap tantangan dan peluang global.”
Visi dan strategi pendidikan yang dituntut dalam rangka memenuhi tantangan
dan peluang global adalah visi dan strategi yang berorientasi pada mutu. Para pakar
menyatakan, mutu pendidikan sangat berkolerasi dengan mutu SDM. Rendahnya
mutu pendidikan mengindikasikan rendahnya SDM, demikian pula sebaliknya. Anam
(2006:217) mengungkapkan, ”Saat ini, mutu pendidikan di Indonesia masih belum
beranjak dari keterpurukan. Berbagai survei internasional tentang indeks
pembangunan manusia maupun prestasi belajar siswa selalu menempatkan Indonesia
diurutan bawah.” Hadis dan Nurhayati (2010:2), menyatakan, “Rendahnya SDM
berdasarkan hasil yang survei lembaga UNDP adalah akibat rendahnya mutu
Eratnya hubungan antara mutu pendidikan dan kualitas sumberdaya manusia
yang unggul, menempatkan peningkatan mutu pendidikan sebagai hal yang sangat
penting. SDM unggul sebagai penggerak utama semua sektor akan mempengaruhi
kualitas sektor yang lain dan menyangkut eksistensi bangsa ditengah pergaulan
global.
2. Guru Komponen Utama Peningkatan Mutu Pendidikan
Berkaitan dengan upaya peningkatan mutu pendidikan, guru merupakan
komponen yang paling berpengaruh terhadap terwujudnya proses dan hasil
pendidikan yang bermutu, menurut Jalal dan Supriadi (2001:45), “Guru merupakan
faktor sentral atas baik-buruknya mutu pendidikan.” Jones (2005) dalam Hadis dan
Nurhayati (2010:5) menyatakan,’guru sebagai tenaga profesional yang
merupakan faktor penentu mutu pendidikan….’
Cheng dan Wong (1996) dalam Mulyasa (2010:9), berdasarkan hasil
penelitiannya di Zhejiang Cina, melaporkan empat karakteristik sekolah dasar
yang unggul (berprestasi), yaitu: (1) adanya dukungan pen didikan yang
konsisten dari masyarakat, (2) tingginya derajat profesionalisme di kalangan
guru, (3) adanya tradisi jaminan kualitas (quality assurance) dari sekolah,
dan (4) adanya harapan yang tinggi dari siswa untuk berprestasi.
Pendapat dan hasil penelitian para ahli pendidikan memperlihatkan,
besarnya peran guru dalam menentukan mutu pendidikan, disamping peran
komponen komponen pendidikan lainya. Keberhasilan upaya peningkatan mutu
pendidikan sangat dipengaruhi oleh keberhasilan upaya peningkatan mutu guru
3. Persoalan Profesionalitas Guru
Begitu besarnya peran guru dalam menentukan mutu pendidikan, namun
berbagi permasalahan profesionalitas guru masih banyak ditemui.
(a) Rendahnya Profesionalitas Guru
Data Balitbang tahun 2004 sebagimana dikutip tim pengkaji staf ahli
Mendiknas (2007:4), menunjukan adanya sejumlah guru yang tidak layak mengajar
dilihat dari kualifikasi akademik, yaitu sebanyak 609.217 guru SD/MI 49,3 persen
dan 167.643 guru SMP/MTs 35,9 persen.
Suryadi dan Budimansyah (2009:148) mengungkapkan tentang kondisi
sekolah dasar di Indonesia, mengutip studi yang lakukan oleh Jiyono (1987)
menyimpulkan, kemampuan guru SD yang diminta “menunjukan” dan “memasang”
suatu alat IPA hanya 70% menunjukan dan kurang 50% yang mampu memasang
alat IPA.
Mulyasa (2009:10) menyatakan, “Profesionalisme guru di Indonesia masih
sangat rendah dan secara makro merupakan penyebab rendahnya mutu pendidikan
nasional secara keseluruhan.” Sukmadinata (2006: 203) sebagaimana dikutip Musfah
(2011:4), guru yang belum bekerja dengan sungguh-sungguh dan kemampuan
profesional guru masih kurang adalah faktor yang mempengaruhi mutu pendidikan,
selain masih kurangnya sarana dan fasilitas belajar.
Menurut Sanusi (2007:17), "Guru belum dapat diandalkan dalam berbagai
aspek kinerjanya yang standar, karena ia belum memiliki: keahlian dalam isi dari
khususnya berdisiplin dan bermotivasi, kerja tim antara sesama guru, dan tenaga
kependidikan lain."
(b) Masalah Pembinaan dan Pengembangan Guru
Menyadari betapa peran guru dalam peningkatan mutu pendidikan berbagai
upaya telah dilakukan untuk melahirkan guru profesional, baik oleh pemerintah,
universitas, sekolah maupun individu, namun dalam implementasinya masih banyak
menemui berbagai masalah, Mulyasa (2009:7) mengungkapkan,“Program
peningkatan mutu guru tidak berkesinambungan, tidak fokus dan tidak dilakukan
oleh ahlinya.”
Studi Moegiadi (1974) dalam Suryadi dan Budimansyah (2009:148)
menemukan, penataran terhadap guru SD belum menunjukan daya beda yang
berarti terhadap prestasi belajar murid. Suryadi (1979) dalam Suryadi dan
Budimansyah (2009:148), “Tidak terdapat perubahan tingkah laku guru yang
mendasar setelah dilakukan penataran.”
(c) Adanya Kendala-Kendala Pengembangan
Mengacu pada studi permasalahan pengembangan profesional guru yang
ditemukan para ahli di tempat lain, sesungguhnya permasalahan itu pun masih
menjadi fenomena di Indonesia, khususnya pembinaan dan pengembangan guru yang
dilakukan sekolah, temuan Pink (1988) dalam Danim (2002:44), dalam studi tentang
Effective Development for Urban School Improvement menemukan sejumlah kendala
pengembangan staf kependidikan, antara lain :
2. Kurang berkesinambungan dukungan kantor pusat bagi kegiatan itu; 3. Terbatasnya dana yang tersedia;
4. Terbatasnya asistensi teknikal dan segala bentuk insentif bagi pengembangan staf;
5. Kurangnya kesadaran menggenai keterbatasan pengetahuan guru dan
administrator sekolah mengenai cara untuk mengimplementasikan proyek.
Masih banyak dijumpai setelah melalui kegiatan pengembangan, guru tidak
dapat mengimplementasikan hasil kegiatan belajarnya karena kurang kondusifnya
sekolah, demikian juga dengan ketidak berkesinambungannya pelatihan dan masalah
pendanaan merupakan masalah yang ditemui di sekolah.
Peran guru yang sangat penting dalam peningkatan mutu pendidikan dan
kondisi profesionalitas guru yang masih memprihatinkan pada sisi yang lain,
menunjukan bahwa masalah profesionalitas guru, khusunya pembinaan dan
pengembangan profesionalitas guru selayaknya terus mendapat perhatian tersendiri.
B. Identifikasi Masalah Penelitian
Salah satu kesimpulan pada laporan kajian kompetensi guru dalam
meningkatkan mutu pendidikan oleh staf ahli Mendiknas bidang mutu pendidikan
tahun 2007 dengan subjek kajian guru pada jenjang pendidikan dasar, menyebutkan:
…diperlukan usaha khusus atas penguasaan kompetensi pedagogik dan
profesional guru. Kegiatan studi banding, magang, dan pelatihan terapan merupakan usaha yang sering terungkap. Untuk itu diperlukan dedikasi dan komitmen guru guna melaksanakan tugas. Namun tanpa dukungan serta kepedulian pemangku kepentingan, maka kompetensi guru sulit diwujudkan.
Hasil kesimpulan kajian menegaskan, betapa kepedulian dan dukungan
pemangku kepentingan (stakeholder) memiliki peran dalam pengembangan
tanggungjawab semua pihak. Saud (2011:125) menegaskan, ”Pihak-pihak yang
berkepentingan dengan pengelolaan dan pengguna jasa para pengemban profesi itu
seyogianya memberi peluang dan dukungan bagi upaya pengembangan kualitas
kinerja pendidikan.…”
Dalam kaitan prakarsa pengembangan profesionalisasi guru, Danim (2011:2)
mengungkapkan, setidaknya ada empat ranah untuk mewujudkan guru yang
profesional, yaitu (1) penyediaan guru berbasis perguruan tinggi, (2) induksi guru
pemula berbasis sekolah, (3) profesionalisasi berbasis prakarsa institusi, dan (4)
profesionalisasi guru berbasis individu.
Keempat ranah yang dikemukan Danim memiliki peran yang sama dan
memiliki keterkaitan satu sama lain. Dalam kaitan prakarsa profesionalisasi guru
oleh institusi, sekolah memiliki peran yang cukup penting. Sekolah merupakan
institusi terdepan dalam penyelenggaraan pendidikan dengan segala
kompleksitasnya.
Sekolah sebagai institusi terdepan dalam proses pendidikan pada semua
jenjang pendidikan memiliki potensi untuk pengembangan profesionalitas guru.
berkaitan jenjang pendidikan, sekolah dasar (SD) sebagai sebagai satu bentuk satuan
pendidikan dasar, merupakan satuan pendidikan yang paling penting keberadaannya.
Collier dkk.(1971) dalam ( Bafadal, 2006 :9)
Bafadal (2006: 9-11) menjelaskan pentingnya keberadaan sekolah dasar dalam
tiga perspektif, yaitu perspektif (1) yuridis, (2) teoritis, dan (3) global. Secara
yuridis pada PP Nomor 28 Tahun 1990,khususnya pasal 3, setidaknya ada dua
ke-21, anak didik dibekali kemampuan dasar untuk wacana dalam arti mampu dan
bisa berfikir kritis dan imajinatif yang diterapkan dalam modus menulis ataupun
membaca.
Secara teoritis, Stoops dan Johnson (1967) masih dalam Bafadal (2006: 10),
bahwa pendidikan di sekolah dasar merupakan dasar dari semua pendidikan.
Keberhasilan seorang anak didik mengikuti pendidikan di sekolah menengah dan
perguruan tinggi sangat ditentukan oleh keberhasilannya dalam mengikuti pendidikan
di sekolah dasar .
Perspektif global, besarnya peranan pendidikan di sekolah dasar sangat
disadari oleh semua negara di dunia dengan semakin meningkatnya investasi
pemerintah pada sektor tersebut dari tahun ke tahun.
Kondisi sekolah dasar secara umum berbeda dengan sekolah menengah
pertama atau menengah atas. Pada umumnya permasalahan pada terbatasnya SDM
dan sarana dan prasarana, seperti laboratorium komputer dan laboratorium bahasa.
Hasil penelitian staf ahli (2007:59), “Sebagian besar SMP/Mts sudah dilengkapi
laboratorium, akan tetapi baru sebagian kecil SD/MI yang sudah memilikinya dan
umumnya belum dimanfaatkan secara maksimal sebagai media pembelajaran.”
Dengan segala keterbatasan dan kompleksitas masalahnya, sekolah dasar
diharapkan menajadi institusi terdepan dalam melaksanakan upaya peningkatan
mutu pendidikan melalui pengembangan profesionalitas guru sesuai prinsip
penyelenggaraan pengembangan guru dengan memanfaatkan seluruh potensi
Pengembangan profesionalitas guru merupakan proses suatu langkah kerja yang
dilaksanakan secara sistematis dengan menempuh tahapan-tahapan tertentu, seperti
analisis kebutuhan, perumusan tujuan dan sasaran, desain program, implementasi dan
delivery program, dan evaluasi program, sebagimana menururt Rebore. (1982:70)
dalam Danim (2010:36), tahapan pengembangan personalia, yaitu (1) menganalisis
kebutuhan, (2) merumuskan tujuan dan sasaran, (3) mendesain program, (4)
mengimplementasikan dan mendeliverikan program, (5) mengevaluasi program.
Kepala sekolah memiliki peranan yang besar dalam mewujudkan pengembangan
profesionalitas guru di sekolah. Kepala Sekolah dituntut melaksanakan
tahapan-tahapan pengembangan yang dintegrasikan dalam pengembangan sekolah sesuai
dengan ketentuan dan standar yang ditetapkan. Agar tujuan pengembangan dapat
tercapai diperlukan kajian-kajian yang dapat membantu sekolah, khususnya kepala
sekolah dalam mengelola pengembangan profesionalitas guru.
Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan, persoalan yang menjadi
kepedulian utama dalam pengembangan profesionalitas guru sekolah dasar adalah,
“Bagaimana sekolah dasar melaksanakan pengembangan profesionalitas guru.”
Gambaran pengembangan profionaliatas guru disekolah dasar sangat penting
mengingat peran sekolah dasar yang sangat strategis sehingga hasil penelitian akan
bermanfaat sebagai masukan baik bagi guru, kepala sekolah dan pihak-pihak terkait
dalam rangka memberi kontribusi terhadap upaya peningkatan mutu pendidikan.
Gambaran sebuah proses langkah kerja dapat diperoleh dengan akurat lebih tepat
dilakukan dengan pendekatan metode kualitatif, sebagimana diungkapkan Satori dan
fenomena-fenomena yang tidak dapat dikuantifikasikan yang bersifat deskriftif, seperti
proses suatu langkah kerja, formula suatu resep.…”
Berdasarkan pemahaman tersebut, maka beberapa pertimbangan dijadikan landasan
untuk menentukan lokasi penelitian yang akan dilakukan, pertimbangan pertama adalah
sekolah tempat penelitian adalah sekolah yang dinilai melaksanakan pengembangan guru
sesuai prinsip-prinsip pengembangan dengan memberdayakan seluruh potensi sekolah.
Kedua, adanya fakta, sehingga patut diduga peningkatan mutu atau kemajuan sekolah
berkorelasi dengan kegiatan pengembangan profesionalitas guru yang dilakukan.
Setelah melalui observasi kebeberapa sekolah dasar dan melakukan wawancara
dengan beberapa kepala sekolah, berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan, penelitian ini
dilaksanakan berlokasi di SD Muhammadiyah 7 Bandung. Penetapan lokasi berdasarkan
informasi tentang kegiatan pembinaan rutin harian yang dilakukan kepala sekolah
terhadap guru. Kedua, hasil wawancara dengan kepala sekolah SD Muhammadiyah 7
Bandung, bahwa sekolah telah menyelenggarakan berbagai kegiatan pembinaan dengan
melibatkan seluruh potensi sekolah dan pemangku kepentingan.
Ketiga, kepala sekolah menunjukan fakta, usaha pembinaan dan pengembangan
terhadap guru berdampak terhadap kemajuan sekolah. Kemajauan yang dimaksud adalah
Pada tahun 2006 SD Muhammadiyah 7 Bandung memiliki 19 rombongan belajar.
Pimpinan sekolah menilai profesionalitas guru harus mendapat prioritas utama upaya
peningkatan mutu sekolah. Langkah-langkah pembinaan dan pengembangan
profesionalitas guru difokuskan membangun etos kerja, disiplin dan motivasi guru. Kurun
waktu lima tahun dampak pembinaan terhadap peningkatan mutu sekolah mulai terlihat,
memiliki 32 rombongan belajar dan berbagai prestasi serta peningkatan berbagai sarana
dan prasarana sekolah. Mutu sekolah dalam hal ini dipersepsikan dengan animo
masyarakat yang mempercayakan putra putrinya. Kemajuan lain adalah ditetapkannya SD
Muhammadiyah 7 Bandung sebagai Sekolah Rintisan Bertaraf Internasional (RSBI)
pada tahun 2009.
C. Fokus dan Pertanyaan Penelitian
Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan, penelitian pengembangan
profesionalitas guru sekolah dasar dengan lokasi penelitian di SD Muhammadiyah 7
Bandung difokuskan bagaimana pengembangan profesionalitas guru dilaksanakan di SD
Muhammadiyah 7 Bandung, sesuai tahapan-tahapan pengembangan, fokus kajian
penelitian dirinci dalam pertanyaan-pertanyaan penelitian dibawah ini.
1. Bagaimana perencanaan pengembangan profesionalitas guru di SD Muhammadiyah
7 Bandung? (1) Apa tujuan pengembangan? (2) Bagimana perumusan tujuan
pengembangan? (3) Apa saja program pengembangan yang direncanakan? (4)
Bagaimana analisis kebutuhan dilakukan? (5) Apa saja yang menjadi sumber data
analisis kebutuhan? (6) Siapa yang terlibat dalam perencanaan pengembangan? (7)
Bagaimana proses pelaksanaan perencanaan pengembangan? (8) Bagaimana sekolah
mendisain program pengembangan?
2. Bagaimana pelaksanaan pengembangan profesionalitas guru di SD Muhammadiyah
7 Bandung? (1) Apa saja kegiatan yang telah dilaksanakan? (2) Kapan dan dimana
kegiatan dilaksanakan? (3) Siapa pemateri dan apa materinya? Metode apa yang
3. Bagaimana evaluasi pengembangan profesionalitas guru di SD Muhammadiyah 7
Bandung? (1) Apa tujuan evaluasi? (2) Apa saja kriteria evaluasi yang dilakukan? (3)
Teknik apa yang digunakan? (3) Bagaimana proses pelaksanaan evaluasi?
4. Faktor-faktor apa yang mendukung pengembangan profesionalitas guru di SD
Muhammadiyah 7 Bandung ?
5. Kendala-kendala apa yang menjadi menghambat pengembangan profesionalitas
guru di SD Muhammadiyah 7 Bandung dan bagimana upaya mengatasinya?
D. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan permasalahan dan fokus studi sebagimana diuraikan, penelitian
ini intinya untuk mendapatkan gambaran pengembangan profesionalitas guru
Sekolah Dasar.
Tujuan-tujuan lebih khusus dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan
gambaran tentang hal-hal sebagai berikut.
1. Perencanaan pengembangan profesionalitas guru di SD Muhammadiyah 7 Bandung.
2. Pelaksanaan pengembangan profesionalitas guru di SD Muhammadiyah 7 Bandung.
3. Evaluasi pengembangan profesionalitas guru di SD Muhammadiyah 7 Bandung.
4. Faktor-faktor yang mendukung pengembangan profesionalitas guru di SD
Muhammadiyah 7 Bandung.
5. Kendala-kendala yang menjadi menghambat pengembangan profesionalitas guru
E. Manfaat Penelitian
Studi tentang pengembangan profesionalitasitas guru sekolah dasar pada SD
Muhammadiyah 7 Bandung ini sangat bermakna baik secara teoritis maupun secara
praktis. Secara teoritis, studi ini dapat memperkaya konsep dan literatur dalam
pengembangan profesionalitas guru sekolah dasar; sedangkan secara praktis hasil
penelitian ini merupakan masukan yang bermakna baik bagi guru maupun kepala
sekolah SD dalam menyelenggarakan pengembangan profesionalitas guru dengan
memberdayakan segenap potensi sekolah dan pemangku kepentingan.
Bagi peneliti sendiri, penelitian ini dapat memberikan pelajaran yang sangat
bernilai. Pengalaman berada disekolah secara langsung mengamati bagaimana kepala
sekolah mengelola pengembangan profesionalitas guru merupakan suatu masukan
yang sangat berharga dalam membangun wawasan, pemahaman dan penghayatan
bagaimana permasalahan pengembangan guru di sekolah. Pengalaman ini akan sangat
meningkatkan profesionalisme peneliti sebagai staf di Lembaga Penjaminan Mutu
Pendidikan (LPMP), khususnya dalam pelaksanan fasilitasi dan supervisi terhadap
satuan pendidikan dasar dan menengah sebagai salah satu tugas pokok dan fungsi
LPMP.
Bagi para peneliti, hasil penelitian ini merupakan bahan masukan untuk
melakukan penelitian lebih jauh tentang pengembangan profesionalitas guru sekolah
dasar, mengingat ada hal-hal yang belum terungkap karena keterbatasan waktu yang
F. Penjelasan Istilah
Guna menghindari terjadinya kesalahpahaman, pada bab ini dikemukakan
penjelasan tentang beberapa istilah pokok yang digunakan dalam tesis ini, istilah
yang dimaksud adalah pengembangan profesionalitas.
1. Pengembangan Profesionalitas Guru
Pengembangan menurut bahasa, berhubungan dengan proses atau cara
mengembangkan (kamus Bahasa Indonesia, 1989:415) pengertian tentang istilah
pengembangan banyak dilakukan dalam konteks pengembangan karyawan atau
personalia. Oteng Sutisna (1993 : 13) mengemukakan konsep pengembangan secara
spesifik yakni, konsep pengembangan personil bahwa:
Pengembangan personil ialah, proses perbaikan prestasi (performa) personel melalui pendekatan-pendekatan yang menekankan realisasi diri, pertumbuhan diri dan perkembangan diri. Pengembangan meliputi kegiatan-kegiatan yang diarahkan kepada perbaikan dan pertumbuhan kesanggupan, sikap, keterampilan dan pengetahuan dari pada anggota organisasi.
Konsep pengembangan personil di lingkungan pendidikan dikemukakan oleh
William B. Castetter (1981:275) yang kurang lebih dapat diartikan sebagai berikut:
1. Perhatian-perhatian terhadap kegiatan-kegiatan yang direncanakan oleh lembaga pendidikan untuk memperlancar pengembangan stafhya.
2. Pengembangan itu disediakan bagi semua personil yang tertera dalam daftar gaji.
3. Pengembangan personil diajukan guna memenuhi dua macam harapan yakni,
kontribusi individu yang dituntut oleh sistem sekolah dan imbalan material serta emosional yang dituntut para individu dari sistem tersebut
4. Pengembangan dipandang sebagai kegiatan meningkatkan kemampuan
Istilah profesionalitas berasal dari kata “profesi” yang bermakna suatu jabatan
atau pekerjaan yang menuntut kealian dari anggotanya, profesionalitas mengacu
kepada sikap anggota profesi terhadap profesinya serta derajat pengetahuan dan
keahlian yang mereka miliki dalam rangka melakukakan pekerjaannya. (Sanusia at.al
dalam Sa’ud, 2011:7)
Dengan penjelasan diatas, istilah pengembangan (development) profesionalitas
dalam konteks penelitian ini diartikan sebagai “setiap aktivitas atau proses yang
dilakukan secara terencana oleh sekolah untuk memelihara atau meningkatkan derajat
keterampilan, sikap, pemahaman guru terkait tugasnya sebagai pengajar dan pendidik
sehingga proses pembejaran dan pendidikan berjalan efektif.”
2. Sekolah Dasar
Sekolah dasar merupakan satuan pendidikan yang menyelenggarakan
pendidikan enam tahun. Sekolah dasar merupakan bagian dari pendidikan dasar.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 1990 tentang Pendidikan
Dasar disebutkan bahwa pendidikan dasar merupakan pendidikan sembilan tahun,
terdiri atas program pendidikan enam tahun di sekolah dasar dan program pendidikan
tiga tahun di sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP). Dengan demikian, sekolah dasar
merupakan salah satu bentuk satuan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar.
Wahyu Wijayant o, 2012 Pengemb ang an Profesionalit as Guru Sek olah Dasar
Universitas Pendidikan Indonesia | Repository.Upi.Edu BAB III
METODE PENELITIAN
A. Pendekatan Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, metode ini dipilih berdasarkan
pada tujuan penelitian, yaitu mendeskripsikan dan menganalisis pelaksanaan
pengembangan profesionalitas guru di SD Muhammadiyah 7 Bandung. Pelaksanaan
pengembangan merupakan sebuah proses langkah-langkah kerja yang dilakukan
melalui tahapan-tahapan tertentu. Sebuah proses merupakan sebuah penggambaran,
oleh karenanya data akan sulit untuk dikuntifikasikan. Fenomena–fenamena yang
sulit dikuantifikasikan lebih tepat di eksplorasi dengan pendekatan kualitatif,
sebagaimana diungkapkan satori dan komariah (2011:23), “Penelitian kualitatif
dilakukan karena peneliti ingin mengeksplor fenomena-fenomena yang tidak dapat
untuk dikuantifikasikan yang bersifat deskriptif, seperti proses suatu langkah
kerja,…”
Sejalan dengan uraian tersebut, dengan melihat fenomena atau gejala sosial
antara bagian yang satu dengan bagian yang lain tidak dapat dipisahkan ( holistik )
dan usaha penulis untuk mengungkapkan data dan memahami makna di balik
kenyataan yang ada dengan cara masuk pada sumber langsung dari subjek penelitian
melalui observasi, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi. dari tujuan
pokok penelitian, yaitu untuk mendeskripsikan dan menganalisa data dan
Wahyu Wijayant o, 2012 Pengemb ang an Profesionalit as Guru Sek olah Dasar
Universitas Pendidikan Indonesia | Repository.Upi.Edu
Penelitian kualitatif sering juga disebut dengan metode naturalistic, Nasution
(1988 : 9), mengemukakan ciri-ciri penelitian naturalistik, adalah: (1) sumber data
ialah situasi yang wajar atau ”natural setting, (2) peneliti sebagai instrument
penelitian, (3) sangat deskriptif, (4) mementingkan proses maupun produk, (5)
mencari makna, (6) mengutamakan data langsung (first hand), (7) triangulasi, (8)
menonjolkan rincian kontekstual, (9) subjek yang diteliti dipandang berkedudukan
sama dengan peneliti, (10) mengutamakan perpektif emic, (11) verifikasi, (12)
sampling yang purposif, (13) menggunakan audit trai, (14) partisipasi tanpa
menggangu, (15) mengadakan analisis sejak awal penelitian, (16) disain penelitian
tampil dalam proses penelitian.
Penelitian ini menggunakan data empiris, dimana gejala yang sedang terjadi
merupakan obyek yang diselidiki. Peneliti tidak memanipulasi dan/atau
mengendalikan keadaan dengan memanfaatkan banyak sumber bukti. Hal ini sesuai
dengan defmisi studi kasus yang dikemukakan oleh Robert K. Yin (2011: 18), yaitu;
"Studi kasus merupakan suatu inkuiri empiris yang menyelidiki fenomena di dalam
konteks kehidupan nyata, bilamana: batas-batas antara fenomena dan konteks tidak
tampak dengan tegas, dan dimana multi sumber bukti dimanfaatkan". Dari tiga tipe
studi kasus, yaitu eksplanatoris, eksploratoris dan deskriptif, maka tipe studi kasus
penelitian ini adalah studi kasus deskriptif analitis.
B. Lokasi Penelitian dan Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian SD Muhammadiyah 7 Bandung, Jl. Kadipaten Raya no 4-6
Wahyu Wijayant o, 2012 Pengemb ang an Profesionalit as Guru Sek olah Dasar
Universitas Pendidikan Indonesia | Repository.Upi.Edu
pertimbangan mampu menjawab permasalahan penelitian, pertama adalah sekolah tempat
penelitian adalah sekolah yang dinilai melaksanakan pengembangan guru sesuai
prinsip-prinsip pengembangan dengan memberdayakan seluruh potensi sekolah. Kedua, adanya
fakta peningkatan mutu atau kemajuan sekolah berkorelasi dengan kegiatan
pengembangan yang dilakukan sekolah.
SD Muhammadiyah 7 Bandung mulai beroperasi tahun 1988, bervisi,
”Terwujudnya lembaga islami yang berprestasi berbudaya ilmu pengetahuan, teknologi,
seni budaya dan lingkungan serta mampu bersaing secara global.” Adapun misi yang
diemban adalah: (1) Meningkatkan pemahaman dan pengalaman ajaran agama islam
disertai akhlakul karimah, (2) membentuk keperibadian yang tanggung berlandaskan
IMTAQ dan IPTEK, (3) meningkatkan semangat keunggulan global dan bernalar
sehat kepada para siswa, guru dan karyawan sehingga berkemampuan kuat untuk
maju, (4) meningkatkan kemampuan menggunakan bahasa international, (5)
menumbuh kembangkan eksistensi peserta didik melalui proses pendidikan yang
bermartabat, kreatif, inovatif, dan eksperimentatif, (6) melayani pendidikan dengan
memperhatikan perbedaan kecerdasan, kecakapan, bakat dan minat peserta
didik, (7) mengembangkan teknologi informasi dan komunikasi dalam pembelajaran
dan administrasi.
Saat ini SD Muhammadiyah 7 Bandung memiliki luas bangunan 4064,8 m2 berdiri
diatas tanah seluas 7.786 m2, , terdiri dari ruang kelas 30 buah, ruang kepala sekolah,
ruang guru ruang tata usaha, perpustakaan, ruang kesenian, Laboratorium IPA (lab.),
dua buah lab. Komputer, lab Bahasa, ruang UKS, ruang KKG, empat WC guru, 20 WC
Wahyu Wijayant o, 2012 Pengemb ang an Profesionalit as Guru Sek olah Dasar
Universitas Pendidikan Indonesia | Repository.Upi.Edu
Jumlah siswa 980 orang dengan 28 rombongan belajar (rombel), diasuh oleh 46
guru kelas, empat guru agama, dua orang guru Penjas dan guru lainnya sebanyak 15
orang. Guru yang berkualifikasi Strata satu (S1) sebanyak 66 orang, empat orang berstrata
dua (S2) dan 11 orang telah tersertifikasi. SD Muhammadiyah 7 Bandung memiliki guru
model dan guru yang konsisten menerapkan “PAIKEM” dalam PBM sebanyak 63 guru
yang siap setiap saat diobservasi dan memiliki 30 guru yang mampu menggunakan
multimedia.
Pada tahun 2006 SD Muhammadiyah 7 Antapani mendapatkan Akreditasi
dengan nilai 87 (A), yang diperbaharui pada akreditasi ke-2, Oktober 2009 dengan
nilai 92 (A). Untuk lebih meningkatkan pelayanan dan kebutuhan pendidikan sesuai
dengan tuntutan Sistem Pendidikan Nasional, pada tanggal 29 Juli 2009 SD
Muhammadiyah Antapani mendapat verifikasi dari Departemen Pendidikan Nasional
mengenai kelayakan untuk menjadi Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI).
pada tanggal 28 Oktober 2009, pengecekan ulang hasil verifikasi di Gedung E
Depdiknas Kuningan Jakarta, dan penandatanganan Memorandum Of Understanding
(MOU) antara Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Bandung dengan Depdiknas
dan Disdik Kota Bandung. Pada Tanggal 11 Nopember 2009, SD Muhammadiyah 7
Antapani menjadi Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI).
SD Muhammadiyah memiliki banyak prestasi baik akademik maupun non
akademik dari mulai tingkat daerah samapai tingkat Nasional, dalam kaitan
pengembangan profesionalitas guru berbagai kegiatan telah dilaksanakan dalam berbagai
Wahyu Wijayant o, 2012 Pengemb ang an Profesionalit as Guru Sek olah Dasar
Universitas Pendidikan Indonesia | Repository.Upi.Edu C. Jenis Data Penelitian
Jenis data yang diungkapkan dalam penelitian ini adalah bersifa skematik,
narasi, dan uraian penjelasan data dari informan baik lisan maupun data dokumen
yang tertulis, perilaku subyek yang diamati di lapangan juga menjadi data dalam
pengumpulan hasil penelitian ini, dan berikutnya di deskripsikan sebagai berikut :
1. Catatan lapangan
Dalam membuat catatan di lapangan, maka peneliti melakukan prosedur
dengan mencatat seluruh peristiwa yang benar-benar terjadi di lapangan penelitian,
dan hal ini berkisar pada isi catatan lapangan, model dan bentuk catatan lapangan,
proses penulisan catatan lapangan.
2. Dokumentasi
Data ini dikumpulkan dengan melalui berbagai sumber data yang tertulis,
baik yang berhubungan dengan masalah pengembangan profesionalitas guru di
SD Muhammadiyah 7 Bandung, juga silsilah dan pendukung data lainnya.
Data dokumen yang berhasil dikumpulkan adalah berupa (1) profil sekolah,
(2) Rencana Pengembangan Sekolah (RPS), (3) Daftar hadir kegiatan, (4) surat
keputusan, (5) Laporan Kegiatan, dan (6) program kerja dikdasmen.
3. Foto
Foto merupakan bukti yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata
namun sangat mendukung kondisi objektif penelitian berlangsung. Foto-foto
dalam penelitian ini meliputi foto tentang kegiatan pelaksanaan, fasilitas sumber
Wahyu Wijayant o, 2012 Pengemb ang an Profesionalit as Guru Sek olah Dasar
Universitas Pendidikan Indonesia | Repository.Upi.Edu D. Sumber Data Penelitian
Sumber data dalam penelitian adalah subjek darimana data diperoleh
(Arikunto, 2006:129). Sedangkan menurut Miles dan Huberman (1992:2) sumber
data dalam penelitian adalah manusia dan buka manusia.
Manusia sebagai sumber data adalah merupakan informan, dalam penelitian ini
sumber data informan yaitu pelaku utama dan bukan pelaku utama. Pelaku utama terdiri
atas : (1) kepala sekolah yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan manajemen
pendidik dan tenaga kependidikan disekolah, (2) guru, sebagai palaku dan sasaran kegiatan
pengembangan,. (3) konsultan kurikulum dan supervisor tenaga pendidik, tenaga ahli
yang diangkat oleh sekolah untuk membantu tugas kepala sekolah dalam bidang kuriklum
dan supervisi. Adapun informan yang bukan merupakan pelaku utama terdiri atas : (1)
pengurus majlis Dikdasmen Muhammadiyah Bandung, sebagai penyelenggara sekolah,
dan (2) orang tua siswa
Penentuan informan dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik sampling
purposive,yaitu teknik penentual sampel dengan pertimbangan tertentu
(Sugiono,2009:124) , agar data yang diperoleh dari informan sesuai dengan kebutuhan
dan tujuan penelitian. Pengambilan sampel bukan dimaksudkan untuk mewakili populasi,
melainkan didasarkan kepada relevansi dan kedalaman informasi serta didasarkan pada
tema yang muncul di lapangan. Melalui teknik purposive maka diperoleh informan kunci,
dan dari informan kunci selanjutnya dikembangkan untuk mendapatkan informasi lainnya
dengan teknik sampel bola salju , (snowball sampling). Informan kunci dalam penelitian
Wahyu Wijayant o, 2012 Pengemb ang an Profesionalit as Guru Sek olah Dasar
Universitas Pendidikan Indonesia | Repository.Upi.Edu E. Teknik Pengumpulan Data
Lincoln dan Guba (1985 : 43) mengatakan bahwa dalam penelitian kualitatif
ini, peneliti berperan sebagai instrumen utama. Manusia sebagai instrumen
pengumpulan data memberikan keuntungan, karena ia dapat bersikap fleksibel dan
adaptif, serta dapat menggunakan keseluruhan alat indera yang dimilikinya untuk
memahami sesuatu Sejalan dengan pendapat di atas, maka yang akan menjadi
instrumen utama adalah penulis sendiri yang terjun ke lapangan serta berusaha sendiri
mengumpulkan informasi. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini
menggunakan teknik observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Untuk lebih
jelasnya akan dibahas teknik pengumpulan data tersebut, seperti di bawah ini :
1. Observasi
Teknik observasi merupakan metode pengumpulan data yang menggunakan
pengamatan terhadap obyek penelitian. Seperti yang dikemukakan oleh Sugiyono
(2009:203), bahwa “ Teknik pengumpulan data dengan observasi digunakan bila
penelitian berkenan dengan perilaku manusia, proses kerja, gejala-gejala alam dan
bila responden yang diamati tidak terlalu besar.” Pengalaman langsung
memungkinkan penulis menggunakan pendekatan induktif, jadi tidak dipengaruhi
oleh konsep-konsep sebelumnya. Pendekatan induktif membuka kemungkinan
melakukan discovery yang tidak diamati orang lain, khususnya orang yang berada
dalam lingkungan itu, karena telah dianggap “biasa” dan karena itu tidak akan
terungkapkan dalam wawancara. Melalui metode ini, penulis dapat menemukan
secara mendalam hal-hal yang sedianya tidak akan terungkap oleh responden dalam
Wahyu Wijayant o, 2012 Pengemb ang an Profesionalit as Guru Sek olah Dasar
Universitas Pendidikan Indonesia | Repository.Upi.Edu
lembaga. Di samping itu, penulis dapat menemukan hal-hal diluar persepsi responden
sehingga penulis memperoleh gambaran yang lebih komprehensif.
Spradley dalam Alwasilah C (2002:2 18) mengajukan lima kriteria untuk
memilih fokus observasi, yaitu; (1) minat pribadi, (2) saran dan informal (3) minat
teoritis, (4) etnografis strategis dan (5) ranah penghimpun.
Pada penelitian ini peneliti telah melaksanakan observasi berkaitan sarana dan
prasarana serta pelaksnaan kegiatan, sebagaimana dapat dilihat pada tabel 3.1 berikut.
Tabel 3.1 Pelaksanaan Observasi
No Waktu Tempat Fokus Observasi
1 3 Maret 2012,
Pkl. 08.00 s.d 12.00
Aula SD Muhammadiyah
7 Bandung
Workshop Idiologi dan
Pendidikan Muhammadiyah
2 12 April 2012
Pkl. 09.00 s.d.10.30
Laboratorium Komputer,
Perpustakaan, Aula dan
Masjid
Faktor Pendukung
Pengembangan
Profesionalitas Guru
3 14 April 2012
Pkl. 08.00 s.d 12.00
Aula SD Muhammadiyah
7 Bandung
Kegiatan Seminar Hemat
Energi
4 25 Mei 2012
Pkl.07.30 s.d. 11.30
Aula SD Muhammadiyah
7 Bandung
Pelatihan One Minutes
Awarenes
25 Mei 2012
Pkl.14.00 s.d. 15.00
Aula SD Muhammadiyah
7 Bandung
Pembekalan Penyusunan soal
ujian
5 26 Mei 2012
Pkl.8.00 s.d. 14.00
Aula Masjid Mujahidin
Jl. Sancang Bandung
Simposium Nasional PDM
Muhammadiyah Kota
Bandung
6 2 Juni 2012
Pkl.08.00 s.d. 12.00
Aula SD Muhammadiyah
7 Bandung
Pembekalan persiapan
workshop manajemen
Wahyu Wijayant o, 2012 Pengemb ang an Profesionalit as Guru Sek olah Dasar
Universitas Pendidikan Indonesia | Repository.Upi.Edu 2. Wawancara
Nasution (2003: 73), mengemukakan tujuan dari wawancara adalah “Untuk
mengetahui apa yang terkandung dalam pikiran dan hati orang lain, bagaimana
pandangannya tentang dunia, yaitu hal-hal yang tidak dapat kita ketahui dengan
observasi”. Data yang dikumpulkan dari hasil wawancara adalah data yang bersifat
verbal dan non verbal. Observasi saja tidak cukup dalam melakukan penelitian,
karena penulis belum tahu persepsi responden yang sebenarnya dalam kenyataan.
Untuk itu penulis akan berkomunikasi dengan responden melalui wawancara dengan
menggunakan dan recorder.
Wawancara yang dilakukan pada penelitian ini adalah wawancara tidak
terstruktur dengan menggunakan pedoman wawancara. Pedoman wawancara
digunakan agar wawancara berjalan efektif dan terarah. Bentuk pertanyaan atau
pernyataan sangat terbuka sehingga memberikan keleluasaan terhadap informan
untuk menjelaskan apa adanya dan terperinci.
Berkenaan dengan field notes, Satori dan Komariah ( 2009 : 179 ),
mendefinsikan demikian :
Catatan yang dibuat dilapangan sangat berbeda dengan catatan lapangan. Pada saat penulis melakukan wawancara atau pengamatan digunakan alat bantu berupa catatan/buku kecil/notes untuk membantu mengingat hal- hal yang ditemukan/terjadi atau ada istilah/kata-kata sulit berupa coretan seperlunya yang sangat dipersingkat ( bisa steno ), berisi kata-kata inti, frase, pokokpokok isi pembicaraan atau pengamatan, mungkin gambar, sketsa, sosiogram, diagram, dan lain-lain. Catatan di lapangan tadi diubah ke dalam bentuk catatan yang lengkap setelah peneliti lepas dari interaksi dengan informan atau setelah tiba di rumah, itulah yang dinamakan catatan lapangan”.
Penggunaan field notes.menghindari keterbatasan ingatan penulis dalam usaha
Wahyu Wijayant o, 2012 Pengemb ang an Profesionalit as Guru Sek olah Dasar
Universitas Pendidikan Indonesia | Repository.Upi.Edu
Pada penelitian ini penulis telah melakukan 28 kali wawancara terhadap
informan, antara lain, (1) Kepala sekolah sebanayak 5 kali, (2) guru sebanyak 14 kali,
(3) Konsultan Kurikulum 1 kali, (4) Pengurus Majlis Dikdasmen 3 kali (5) orang tua
siswa 3 kali, dan (6) Pengawas Sekolah 1 kali.
3. Studi Dokumentasi
Menurut Nasution (1996:30) dalam penelitian kualitatif, ”dokumen termasuk
sumber non-human resources yang dapat dimanfaatkan karena memberikan beberapa
keuntungan, yaitu bahannya telah ada, tersedia, siap pakai dan menggunakan bahan
tidak memakan biaya”. Data dokumentasi perlu diperhatikan untuk membantu
melengkapi data hasil observasi dan wawancara dan untuk mengecek kebenaran data.
Studi dokumentasi akan dilakukan untuk memperoleh data sekunder yang bersifat
administratif dan data kegiatan-kegiatan yang terdokumentasi baik di tingkat
kelompok maupun di tingkat penyelenggara. Hal ini penting dilakukan agar hasil
penelitian benar-benar diakui kesahihannya berdasarkan dokumen-dokumen dan
bukti- bukti yang otentik. .
F. Teknik Analisis Data
Data yang diperoleh dari responden melalui teknik observasi, wawancara, dan
studi dokumentasi merupakan deskripsi tentang pendapat, pengetahuan, pengalaman,
dan aspek lainnya untuk dianalisis dan disajikan sehingga memiliki makna. Analisis
dan interprestasi dilakukan dengan merujuk pada landasan teoritis dan berdasarkan
consensus judgment. Moleong (1997:112), yang mengutip pendapat Patton bahwa “
analisis data dalam penelitian kualitatif adalah proses mengatur urutan data,
Wahyu Wijayant o, 2012 Pengemb ang an Profesionalit as Guru Sek olah Dasar
Universitas Pendidikan Indonesia | Repository.Upi.Edu
dasarnya dalam penelitian kualitatif belum ada metode yang baku dalam menganalisis
data. Sejalan dengan pendapat di atas, Miles dan Huberman (1992:20)
mengemukakan bahwa pendekatan dalam analisis data kualitatif terdiri dari reduksi
[image:30.612.133.488.218.539.2]data, “display” data, mengambil kesimpulan dan verifikasi, sebagaimana terlihat pada
gambar 3.1
Gambar 3.
Analisis data kualitatif
sumber : Miles and Huberman
Berdasarkan pandangan tersebut di atas bahwa ketajaman dan ketepatan analisis
data kualitatif ini sangat tergantung ketajaman melihat data oleh penulis. Oleh sebab
itu, pengalaman dan pengetahuan yang telah dimiliki sebagai modal awal penulis
Wahyu Wijayant o, 2012 Pengemb ang an Profesionalit as Guru Sek olah Dasar
Universitas Pendidikan Indonesia | Repository.Upi.Edu
analisis data yang dilakukan oleh penulis dalam penganalisisan data penelitian ini,
dilakukan langkah-langkah berikut :
1. Reduksi Data
Penulis melakukan kegiatan dengan cara pengamatan, wawancara, dan studi
dokumentasi. Hasil dari penelitian lapangan kemudian penulis membuat abstraksi
atau merangkum data. Penulis melakukan pengurangan data secara terus menerus
selama penganalisisan. Hal ini bukan berarti terpisah dari kegiatan analisis, tetapi
merupakan bagian dari analisis. Pada tahap awal, penulis melakukan pengeditan,
pengelompokkan, dan penyimpulan data. Tahap berikutnya, penulis melakukan
pembuatan konsep dan penjelasannya, karena membuat konsep abstrak juga
merupakan cara dari pengurangan data. Penulis melakukan reduksi atau merangkum
data hasil dari lapangan dengan tujuan untuk memberikan gambaran yang lebih tajam
tentang hasil pengamatan, wawancara, dan studi dokumentasi serta akan
mempermudah penulis untuk mencari kembali data yang diperlukan.
2. Penyajian Data
Display data berguna untuk melihat gambaran keseluruhan hasil penelitian,
baik dalam bentuk matriks maupun dalam bentuk pengkodean. Data selanjutnya bisa
juga dibuat naratif yang disusun secara ringkas dan sederhana, sehingga mudah
membuat kesimpulan atau analisis-analisis selanjutnya. Dengan demikian penulis
dapat menguasai data dan tidak tenggelam dalam tumpukan detail.
3. Mengambil Kesimpulan dan Verifikasi
Dari hasil reduksi data dan display, kemudian penulis akan mengambil
Wahyu Wijayant o, 2012 Pengemb ang an Profesionalit as Guru Sek olah Dasar
Universitas Pendidikan Indonesia | Repository.Upi.Edu
mengadakan diskusi kepada yang ahli. Untuk menetapkan kesimpulan lebih beralasan
(grounded) dan tidak lagi bersifat coba-coba (tentatife), maka verifikasi dilakukan
sepanjang penelitian berlangsung sejalan dengan member check, sehingga menjamin
signifikan atau kebermaknaan hasil penelitian.
G. Keabsahan Data
Untuk menjawab kebenaran dari hasil penelitian ini, agar orang tidak merasa
ragu-ragu bahwa ini hasil penelitian kualitatif, tentunya akan di uji tingkat
kepercayaan hasil penelitian. Menurut Nasution (2003:104-122), cara memenuhi
kriteria tersebut, adalah:
1. Credibility (validitas internal)
Validitas internal ukuran tentang kebenaran data yang diperoleh dengan
instrumen, yakni apakah instrumen itu sungguh-sungguh mengukur variabel yang
sebenarnya. Bila ternyata instrumen tidak mengukur apa yang seharusnya diukur,
maka data yang diperoleh tidak sesuai dengan kebenaran seperti yang diharuskan
dalam penelitian, dan dengan sendirinya hasil penelitian tidak dapat dipercaya, jadi
tidak memenuhi persyaratan validitas. Validitas internal ini digunakan penulis untuk
menggambarkan konsep penulis dengan konsep yang ada pada partisipan. Oleh sebab
itu, pada uji tingkat kepercayaan hasil penelitian ini, penulis mengusahakan agar
kebenaran hasil penelitian dapat dipercaya, yakni dengan: (1) memperpanjang masa
observasi, (2) pengamatan yang terus menerus, (3) triangulasi, (4) membicarakan
dengan orang lain, (5) menganalisis kasus negative, (6) menggunakan bahan
Wahyu Wijayant o, 2012 Pengemb ang an Profesionalit as Guru Sek olah Dasar
Universitas Pendidikan Indonesia | Repository.Upi.Edu 2. Transferability (validitas eksternal)
Nilai transferability ini berkenaan dengan pertanyaan, hingga manakah hasil
penelitian itu dapat diaplikasi atau digunakan dalam situasi-situasi lain. Validitas
eksternal ini digunakan penulis untuk mengetahui sejauh manakah hasil penelitian
ini dapat gunakan dalam konteks dan situasi tertentu. Untuk menyakinkan, dalam hal
ini penulis mendeskripsikan setting penelitian secara utuh, menyeluruh, lengkap,
mendalam, dan rinci. Agar pemakai nantinya dapat menerapkan penelitian ini, jika
terdapat kesamaan antara setting penulis dengan pemakai yang diterapkan ditempat
lain.
3. Dependability (reliabilitas)
Usaha penulis untuk melihat sejauh mana hasil penelitian bergantung pada
keandalan, akan diuji dengan mengadakan audit trial yang dilakukan oleh
pembimbing. Dengan jalan memeriksa proses penelitian serta tarap kebenaran data
serta tafsirannya. Untuk melakukan pemeriksaan ini peneliti harus menyediakan
bahan-bahan sebagai berikut: (1) data mentah seperti catatan lapangan sewaktu
mengadakan observasi dan wawancara, hasil rekaman bila ada, dokumen, dan
lain-lain, yang diolah dalam bentuk laporan lapangan, (2) hasil analisis data, berupa
rangkuman, hipotesis kerja, konsep-konsep dan sebagainya, (3) hasil sintesis data,
seperti tafsiran, kesimpulan, definisi, interrelasi data, thema, pola, hubungan dengan
Wahyu Wijayant o, 2012 Pengemb ang an Profesionalit as Guru Sek olah Dasar
Universitas Pendidikan Indonesia | Repository.Upi.Edu 4. Confirmability (objektifitas)
Cara ini digunakan penulis untuk mengetahui sejauhmana hasil penelitian akan
dibuktikan kebenarannya dan sejauhmana hasil penelitian cocok dan sesuai dengan
data yang telah dikumpulkan, serta sejauhmana kebulatan hasil penelitian tanpa
mengandung unsur-unsur yang bertentangan dengan data yang diperoleh dari
Wahyu Wijayant o, 2012 Pengemb ang an Profesionalit as Guru Sek olah Dasar
Universitas Pendidikan Indonesia | Repository.Upi.Edu BAB V
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
A. Kesimpulan
Berdasarkan temuan data dan pembahasan pada Bab IV, maka dapat diambil
beberapa kesimpulan penelitian, antara lain:
1. Perencanaan pengembangan profesionalitas guru SD Muhammadiyah 7
Bandung telah dilaksanakan sesuai prinsip–prinsip perencanaan, tertuang
dalam perencanaan jangka panjang dan rencana operasional, meliputi, (a)
tujuan pengembangan, yaitu menumbuhkan dan meningkatkan
profesionalisme, disiplin, motivasi serta kesejahteraan guru dengan
mengembangkan sistem evaluasi dan pembinaan guru secara sistematik serta
berkelanjutan, (b) tujuan dirumuskan oleh kepala sekolah dibantu tim dengan
berpedoman kepada visi dan misi sekolah, (c) rencana kegiatan
pengembangan disusun dalam bentuk pendidikan dan pelatihan dan non
pendidikan dan pelatihan berdasarkan pada tujuan, (d) analisis kebutuhan
dilaksanakan kepala sekolah pada kebutuhan tugas dari berbagai sumber, (e)
perencanaan melibatkan guru, majlis Dikdsamen PDM Kota Bandung dan
orang tua siswa sesuai fungsi dan perannya, (f) program pelatihan didisain
dengan memperhatikan kualitas komponen kegiatan terutama narasumber .
2. Pelaksanan pengembangan profesionalitas guru SD Muhammadiyah 7
Bandung dilaksanakan melalui kegiatan pendidikan dan pelatihan dan non
pendidikan dan pelatihan dengan metode ceramah, diskusi kelompok, magang
Wahyu Wijayant o, 2012 Pengemb ang an Profesionalit as Guru Sek olah Dasar
Universitas Pendidikan Indonesia | Repository.Upi.Edu
dirasakan memberi manfaat bagi guru dalam meningkatkan
profesionalitasnya.
3. Evaluasi pengembangan profesionalitas guru SD Muhammadiyah 7 Bandung
dilaksanakan oleh kepala sekolah dengan tujuan untuk mengetahui
keberhasilan dan dampak program, fokus evaluasi pada aplikasi dan
implementasi hasil kegiatan pada pelaksanaan tugas, metode pengumpulan
data menggunakan observasi dan wawancara, proses pelaksanaan
dilaksanakan dengan menetapkan fokus evaluasi, pelaksanaan melalui
supervisi kelas dan administari, dan ditindak lanjut hasil temuan.
4. Faktor-faktor pendukung yang ada merupakan hasil pemberdayaan potensi
sekolah. Sekurang-kurangnya ada enam faktor yang mendukung keberhasilan
pelaksanaan pengembangan profesional guru SD Muhammadiyah 7 Bandung.
Pertama, kepemimpinan kepala sekolah, yang ditunjukan dengan (a)
komitmen yang tinggi terhadap peningkatan mutu sekolah, (b) kepala sekolah
sebagai teladan, (c) motivator, dan (d) kepemimpinan kewirausahaan kepala
sekolah. Kedua, tingginya motivasi belajar guru. Ketiga, keberadaan
konsultan kurikulum dan supervisor tenaga pendidik, Keempat, sarana dan
prasarana sekolah, berupa ruang aula, masjid, lab komputer, cyber class dan
perpustakaan. Kelima, orang tua siswa. Keenam, dunia usaha.
5. Disamping faktor-faktor yang mendukung keberhasilan diatas, terdapat pula
beberapa hal yang menjadi penghambat pengembangan. Solusi faktor
penghambat merupakan bentuk pemberdayaan pemangku kepentingan.
hal-hal yang dimaksud adalah: (a) padatnya waktu bekerja guru, (b) kemampuan
Wahyu Wijayant o, 2012 Pengemb ang an Profesionalit as Guru Sek olah Dasar
Universitas Pendidikan Indonesia | Repository.Upi.Edu
yang ditemui, (a) untuk mengatasi padatnya waktu bekerja guru pimpinan
sekolah mengambil kebijakan, (1) menjadikan hari sabtu sebagai hari belajar
guru, (2) terus menerus ditumbuhkan motivasi berprestasi pada setiap guru
(b) untuk mengatasi lemah kemampuan belajar guru solusi dilakukan upaya
terus menerus penumbuhan motivasi belajar guru dan metode pembelajaran
bimbingan individu, (c) masalah pendanaan diatasi dengan mengadakan
kerjasama dengan orang tua, lembaga pendidikan, dunia usaha dan
melibatkan stakeholders dalam setiap tahapan kegiatan.
B. Rekomendasi
Sesuai dengan kesimpulan penelitain diatas, akhirnya penelitian ini
merekomendasikan hal-hal berikut.
1. Guru Sekolah Dasar
Temuan penelitian menunjukan pemberian motivasi dan penerapan disiplin
kepada guru sekolah dasar bermanfaat terhadap tumbuhnya kemauan dan
usaha individu guru untuk mengembangkan profesionalitasnya, oleh karena
itu kepada guru direkomendasikan untuk selalu memotivasi diri dan
membangun disiplin dalam rangka pengembangan profesionalitasnya secara
terus –menurus.
2. Kepala Sekolah SD.
a. Dalam merencanakan pengembangan profesionalitas guru,
direkomendasikan kepada pimpinan Sekolah Dasar, agar (a) menetapkan
standar prosedur operasional, (b) melibatkan guru dan stakeholders
Wahyu Wijayant o, 2012 Pengemb ang an Profesionalit as Guru Sek olah Dasar
Universitas Pendidikan Indonesia | Repository.Upi.Edu
kebutuhan dari berbagai sumber, dan memperhatikan kualitas narasumber
dalam mendisain program.
b. Dalam pelaksanaan kegiatan agar memprioritaskan memenuhi
faktor-faktor pendukung keberhasilan dan mengatasi hambatan-hambatan
kegiatan, agar kegiatan berjalan efektif dan efisien.
c. Dalam melaksanakan evaluasi pengembangan guru agar merumuskan
perencanaan evalausi sesuai kaidah-kaidah evaluasi program, dengan
mempertimbangan efektifitas dan efisiensi motode evaluasi.
d. Mengoptimalkan pengelolaan sarana dan sarana yang ada disekolah dan
sumberdaya manusia yang ada dalam mendukung kegiatan pengembangan
profesonalitas guru.
e. Mengoptimalkan peran pimpinan sekolah dalam dalam bentuk, (a)
meningkatkan komitmen terhadap kemajuan sekolah, (b) menjadi teladan
dalam segala aspek, (c) menjadi motivator dalam berbagai bentuk dan
kesempatan, (d) membangun jaringan dan komunikasi dengan stakeholders
dalam rangka mencari dan memanfaatkan peluang untuk mengatasi
masalah dalam penyelenggaraan pengembangan guru.
3. LPMP
Hasil temuan mengungkapkan, kepala sekolah masih memerlukan
pening-katan kemampuan dalam mengelola dan mengimplementasikan tahapan
pengembangan profesionalitas guru, oleh karenanya direkomendasikan
kepada LPMP untuk memfasilitasi peningkatan kemampuan kepala sekolah
Wahyu Wijayant o, 2012 Pengemb ang an Profesionalit as Guru Sek olah Dasar
Universitas Pendidikan Indonesia | Repository.Upi.Edu
4. Dinas Pendidikan
Hasil temuan menunjukan adanya manfaat yang besar keberadaan konsultan
teknis dalam meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan sikap guru, maka
direkomendasikan kepada Dinas Pendidikan Provinsi dan Kabupaten/Kota
untuk meningkatkan kemampuan dan kinerja pengawas sekolah dasar,
sehingga fungsi dan perannya dapat dirasakan sebagai konsultan oleh para
Wahyu Wijayant o, 2012 Pengemb ang an Profesionalit as Guru Sek olah Dasar
Universitas Pendidikan Indonesia | Repository.Upi.Edu
DAFTAR PUSTAKA
Alwasilah, A. Chaedar (2002). Pokoknya kualitatif Dasar-Dasar Merancang dan Melakukan Penelitian Kualitaitf. Bandung: Pustaka Jaya.
Arikunto, S.(2006). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Renika Cipta
Arikunto, S. dan Jabar. C.S.A.(2004). Evaluasi Program Pendidikan Pedoman Teoritis Praktis bagi Praktisi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara
Bafadal. I.(2009). Peningkatan Profesonalisme Guru Sekolah Dasar dalam Kerangka Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah. Jakarta : Bumi Aksara.
Bafadal, I.(2006). Manajemen Peningkatan Mutu Sekolah Dasar dari Sentralisasi Menuju Desentralisasi. Jakarta: Bumi Aksara.
Baedhowi .(2010). Peningkatan Profesionalisme Tenaga Pendidik dalam Upaya Mewujudkan Sumber Day a Manusia Pendidikan yang Unggul dan Mandiri. [Online]. Tersedia:http://www. ispi. or. id/2010/05/07/pendidikan-guru-masa-depan-yang-bermakna-bagi-peningkatan-mutu-pendidikan . [2 Maret 2012]
Bogdan, Robert C and Biklen, Sari Knopp. (1990). Riset Kualitatif untuk Pendidikan : Pengantar ke Teori dan Metode. Terjemahan Munandir. Jakarta: Proyek Pengembangan Pusat Fasilitas Bersama Antar Universitas/IUC (Bank Dunia XVII).
Craft, A. (2002). A Practical Guide For Teachers and Schools, ed-2. New York: RoutledgeFalmer.
Castetter, W.B.(1981). The Human Resource Fuction in Education
Administration. Newyork: MacMillan Publising.co.inc.
Danim, S.(2002). Inovasi Pendidikan Dalam Upaya Profesionalisme Ternaga Kependidikan. Bandung: Pustaka Setia
Danim, S.(2011). Pengembangan Profesi Guru dari Pra-Jabatan.Induksi,ke profesional Madani. Jakarta: Kencana Prenada Media Group
Danim, S.(2007). Visi Baru Manajemen Sekolah dari Unit Birokrasi ke Lembaga Akademik. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Wahyu Wijayant o, 2012 Pengemb ang an Profesionalit as Guru Sek olah Dasar
Universitas Pendidikan Indonesia | Repository.Upi.Edu
Guskey, Thomas R. (2000). Evaluating Professional Development. London: Corwin Press, Inc.
Djamarah, S.B.(1994).Prestasi Belajar dan Kompetensi Guru. Surabaya: Usahan Nasional.
Engkoswara.(1999). Menuju Indonesia 2020.Bandung : Yayasaan Amal Keluarga
Fattah,N.(2008). Landasan Manajemen Pendidikan.Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Hattie, J. (2003). "Teachers Make a Difference What is The Research Evidence? " Makalah pada University of Auckland, Australian Council for Education Research.
Tayibnafis, F.Y.(2008). Evaluasi Program dan Instrument Evaluasi untuk Program Pendidikan dan Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta
Nawawi, H.(1982). Organisasi Sekolah dan Pengelolaan Kelas. Jakarta: Gunung Agung
Hadis, A.dan Nurhayati, B.(2010). Manajemen Mutu Pendidikan. Bandung: Alfabeta
Hasibuan, M.S.P.(2007). Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: Bumi Aksara.
Hasibuan, M.(1997). Manajemen Sumber Daya Manusia, Dasar dan Kunci Keberhasilan. Jakarta: Toko Gunung Agung.
Schermerhorn, Jr.(2003). Manajemen, Buku 1. Alih bahasa. Yogyakarta: Penerbit Andi dan John wiley dan sons.
Kementerian Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (2009). Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 tahun 2009 Tentang Jabatan Funsional Guru dan Angka Kreditnya, Jakarta: Kemeneg PAN dan Reformasi Birokrasi
Kaswan.(2011). Pelatihan dan Pengembangan Untuk Meningkatkan Kinerja SDM. Bandung: Alfabeta
Leaton Gray, Sandra.(2005). An Enquiry into Continuing Professiona Development for Teachers. London: Esmee Fairbairn Foundation. [Online]. Tersedia: https://ueaeprints.uea.ac.uk/27901/. [21Februari 2012] Lincoln, YS.,dan Guba, E.G.(1985). Naturalistic Inquiry. Baverly Hills: Sage
Wahyu Wijayant o, 2012 Pengemb ang an Profesionalit as Guru Sek olah Dasar
Universitas Pendidikan Indonesia | Repository.Upi.Edu
Mangkunegara, A.P.(2009). Manajemen Sumber Daya Perusahaan. Bandung: Refika Aditama
Miles, M.B. dan Huberman, A.M. tanpa tahun.Analisis Data Kualitatif. Alih bahasa Rohidi Tj.R.1992. Jakarta : UI Press
Moleong, L.J. (1988). Metode Penelitian Kualitatif. Bandung : Remaja Rosda Karya.
Muhibbin, S.(1995). Psikologi Pendidikan Suatu Pendekatan Baru.Bandung: Remaja Rosda Karya
Mulyasa.(2002).Manajemen Berbasisi Sekolah. Bandung : Rosdakarya
Mulyasana, E.(2009). Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru. Bandung: Remaja Rosda Karya
Musfah. J.(2011). Peningkatan Kompetensi Guru melalui Pelatihan dan Sumber Belajar Teori dan Praktek. Jakarta :Kencana Prenada Group
Nasution. (1992). Metode Research. Bandung : Jemmars.
Ngalim,P.(1994). Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis. Bandung:Remaja Rosdakarya
Purwadarminta, W.J.S., (1984). Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta. Balai Pustaka.
Rohiat, (2009). Manajemen Sekolah Teori Dasar dan Praktek. Bandung: PT Refika Aditama
Robbins, S.P. dan. Coulter, M.(2010). Manajemen Edisi Sepuluh. Alih bahasa : Bob Sabran dan Devri Barnardi Putera, Jakarta : Penerbit Erlangga.
Sallis, E. (2010). Total Quality Management in Education. Jogyakarta: IRCiSoD.
Sa’ud, U.S.(2009)Pengembangan Profesi Guru. Bandung: Alfbeta
Sa’ud, U.S.(2009).Inovasi Pendidikan. Bandung: Alfabeta
Sagala, S.(2009). Administrasi Pendidikan Kontemporer. Bandung:Alfabeta
Sardiman, (2001) Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar.Jakarta: Rajawali
Wahyu Wijayant o, 2012 Pengemb ang an Profesionalit as Guru Sek olah Dasar
Universitas Pendidikan Indonesia | Repository.Upi.Edu
Sedarmayanti.(2009). Sumber Daya Manusia dan Produktivitas Kerja. Bandung: Pustaka pelajar
Senge, P.(1990). The Fifth Discipline, The Art and Practice of The Learning Organization. New York: Doubleday-Dell Publishing Group.Inc.
Siagian, P.S.(2002). Kiat meningkatkan Produktivitas Kerja. Jakarta:
Scales, P. et al. (2011). Continuing Professional Development in the Lifelong Learning Sector. England: Open University Press Mc Graw-Hill Education.
Sudjana. (2007).Sistem dan manajemen pelatihan teori dan aplikasi. Bandung: Falah Production
Sugiono. ( 2009 ). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R & D. Bandung: Alfabeta
Suharsaputra, U.(2010). Administrasi Pendidkan. Bandung: Refika Aditama
Supriadi, D.(1998). Mengangkat Citra dan Martabat Guru.Yogyakarta: Adi Cipta Karya Nusantara.
Suryadi, A. dan Budimansyah, D.(2009).Paradigma Pembangunan Pendidikan Nasional. Bandung: Widya Aksara Press.
Sutisna, O.(1987). Administrasi Pendidikan: Dasar Teoritis untuk Praktek Profesionalisme. Bandung: Angkasa
Tafsir, A.(1984). Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam. Bandung: Rosda Karya
Tilaar, H.A.R.(2009). Membenahi Pendidikan Nasional. Jakarta: PT Rineka Cipta
Universitas Pendidikan Indonesia (2011). Pedoman Penulisan Karya Ilmiah,