Euis Sri Nurhayati, 2014 Literasi Informasi Pustakawan
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
LITERASI INFORMASI PUSTAKAWAN
(Studi Deskriptif terhadap Pustakawan pada Perpustakaan UPI)
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Sebagian dari
Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
Program Studi Perpustakaan dan Informasi
Oleh:
Euis Sri Nurhayati
1000117
PROGRAM STUDI PERPUSTAKAAN DAN INFORMASI
JURUSAN KURIKULUM DAN TEKNOLOGI PENDIDIKAN
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
BANDUNG
Euis Sri Nurhayati, 2014 Literasi Informasi Pustakawan
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
LEMBAR PENGESAHAN
EUIS SRI NURHAYATI (1000117)
LITERASI INFORMASI PUSTAKAWAN
(Studi Deskriptif terhadap Pustakawan pada UPI Cental Library)
Disetujui dan disahkan oleh:
Pembimbing I
Riche Chyntia Johan, M.Pd
NIP 19761115 200112 2 001
Pembimbing II
Dr. Doddy Rusmono, M.LIS
NIP 19561222198103 1 005
Mengetahui,
Ketua Jurusan
Kurikulum dan Teknologi Pendidikan
Dr. Toto Ruhimat, M.Pd NIP 19591121 198503 1 001
Ketua Program Studi Perpustakaan dan Informasi
Euis Sri Nurhayati, 2014 Literasi Informasi Pustakawan
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
LITERASI INFORMASI PUSTAKAWAN
(Studi Deskriptif terhadap Pustakawan pada Perpustakaan UPI)
Oleh
Euis Sri Nurhayati
Sebuah skripsi yang diajukan untuk memenuhi Sebagian dari
Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
Program Studi Perpustakaan dan Informasi pada Fakultas Ilmu Pendidikan
© Euis Sri Nurhayati 2014
Universitas Pendidikan Indonesia
Juni 2014
Hak Cipta dilindungi undang-undang.
Skripsi ini tidak boleh diperbanyak seluruhya atau sebagian,
Euis Sri Nurhayati, 2014 Literasi Informasi Pustakawan
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
ABSTRAK
Euis Sri Nurhayati (1000117). Literasi Informasi Pustakawan (Studi Deskriptif terhadap Pustakawan Perpustakaan UPI). Skripsi Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan, Program Studi Perpustakaan dan Informasi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Pendidikan Indonesia (2014).
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang bertujuan untuk mengetahui bagaimana keterampilan literasi informasi pustakawan dalam menunjang kompetensi profesionalnya sebagai pustakawan, khususnya dalam melakukan kegiatan literasi informasi yang terintegrasi kedalam pelayanan perpustakaan. Penelitian ini dilakukan di Perpustakaan UPI yang berlokasi di Jalan Setiabudhi 229, Bandung. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan model studi kasus. Penentuan sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik non-random sampling yakni purposive sampling. Sampel dalam penelitian ini disebut informan, berjumlah lima orang pustakawan ahli Perpustakaan UPI yang memenuhi kriteria yang telah ditentukan. Simpulan yang diperoleh adalah keterampilan literasi informasi sangat menunjang kompetensi profesional pustakawan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterampilan literasi informasi yang dimiliki oleh pustakawan ahli Perpustakaan UPI berdasarkan Swiss Information Literacy Standard tergolong dalam kategori
advanced. Selain itu, Pustakawan ahli Perpustakaan UPI sudah melakukan kegiatan literasi informasi yang terintegrasi ke dalam pelayanan perpustakaan seperti layanan rujukan cepat, layanan penelusuran informasi dan user education. Penguasaan keterampilan literasi informasi merupakan hal yang penting pada era globalisasi, karenanya pelatihan literasi informasi merupakan kegiatan yang harus diikuti oleh setiap pustakawan. Keterampilan literasi informasi juga merupakan bekal pembelajaran seumur hidup. Sehingga, keterampilan literasi informasi merupakan hal yang harus dimiliki oleh setiap masyarakat belajar, terlebih calon guru. Maka, disarankan kepada para pemangku kebijakan UPI untuk dapat mengintegrasikan literasi informasi kedalam kurikulum pembelajarannya.
Euis Sri Nurhayati, 2014 Literasi Informasi Pustakawan
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
ABSTRACT
Euis Sri Nurhayati (1000117). Information Literacy Librarian
(Descriptive Study of the Librarian at the UPI Central Library). Script of Curriculum and Educational Technology Department, Library and Information Studies Program, Faculty of Education, Indonesia University of Education (2014).
This study is a qualitative study that aims to determine how the information literacy skills of librarians in supporting their professional competence as a librarian, especially in information literacy activities which are integrated into the library service. This research was conducted in UPI Central Library located at Jl. Setiabudhi 229, Bandung. This study used a descriptive method with a model of case study. The samples in this study were done by using the non-random sampling, to wit purposive sampling. The sample in this study is called the informant, of five librarians UPI Central Library who meet predetermined criteria. The conclusions obtained are very supportive of the information literacy skills of the professional competence of librarians. The results showed that the information literacy skills are possessed by librarians of UPI Central Library. Information Literacy Standard by Switzerland belongs to the advanced category. In addition, librarian of UPI Central Library has been conducting information literacy integrated into the library service as a quick reference service, information retrieval services and user education. Mastery of information literacy skills haas been proven to be important in the era of globalization, hence the information literacy training is an activity that should be followed by every librarian. Information literacy skills are also a provision of lifelong learning. Information literacy skills are to be owned by each community to learn, especially those prospective to be teachers. Thus, it is suggested to UPI policy makers to integrate information literacy into the curriculum learning.
Euis Sri Nurhayati, 2014 Literasi Informasi Pustakawan
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
DAFTAR ISI
LEMBAR PENGESAHAN ... i
LEMBAR PERNYATAAN ... ii
KATA PENGANTAR ... iii
UCAPAN TERIMA KASIH ... iv
ABSTRAK ... xi
DAFTAR ISI ... xiii
DAFTAR TABEL ... xvi
DAFTAR GAMBAR ... xvii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Penelitian ... 1
B. Perumusan Masalah ... 8
C. Tujuan Penelitian ... 9
D. Manfaat Penelitian ... 9
1. Manfaat Teoritis ... 9
2. Manfaat Praktis ... 10
E. Struktur Organisasi Skripsi ... 11
BAB II KAJIAN PUSTAKA ... 13
A. Konsep dan Definisi Literasi ... 13
B. Konsep dan Definisi Informasi ... 14
C. Konsep dan Definisi Literasi Informasi ... 16
D. Model Literasi Informasi ... 21
1. Model Literasi Informasi The Big6 ... 21
2. Model Literasi Informasi Empowering Eight ... 22
3. Model Literasi Informasi SCONUL ... 23
E. Kompetensi Literasi Informasi ... 24
Euis Sri Nurhayati, 2014 Literasi Informasi Pustakawan
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
1. Definisi Pustakawan ... 28
2. Jenjang Pustakawan ... 29
3. Tugas Pokok Pustakawan ... 31
4. Peranan Pustakawan ... 33
5. Kompetensi Profesional Pustakawan ... 35
G. Penelitian Terdahulu terkait Literasi Informasi ... 38
H. Kesimpulan Hasil Bacaan : Keterampilan Literasi Informasi Pustakawan dalam Menunjang Kompetensi Profesionalnya ... 39
BAB III METODE PENELITIAN ... 45
A. Metode dan Desain Penelitian ... 45
B. Lokasi dan Subjek Populasi/Sampel Penelitian ... 46
1. Lokasi Penelitian ... 46
2. Subjek Populasi/Sampel Penelitian ... 47
C. Definisi Operasional ... 48
D. Sumber dan Jenis Data Penelitian ... 50
E. Instrumen Penelitian ... 51
F. Proses Pengembangan Instrumen ... 52
G. Teknik Pengumpulan Data ... 57
H. Teknik Analisis Data ... 59
I. Tahapan-Tahapan penelitian ... 62
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 69
A. Deskripsi Hasil Penelitian ... 69
1. Tinjauan Objek dan Subjek Penelitian ... 69
2. Gambaran Karakteristik Informan ... 72
3. Deskripsi Hasil Penelitian ... 73
a. Keterampilan Literasi Informasi ... 74
Euis Sri Nurhayati, 2014 Literasi Informasi Pustakawan
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
2) Mengevaluasi Informasi ... 83
3) Menggunakan Informasi ... 89
b. Kegiatan Literasi Informasi oleh Pustakawan yang Terintegrasi kedalam Proses Pelayanan Perpustakaan ... 94
1) Mempersiapkan Kegiatan Literasi Informasi ... 95
2) Melaksanakan Kegiatan Literasi Informasi ... 96
3) Mengevaluasi Kegiatan Literasi Informasi ... 99
B. Pembahasan Hasil Penelitian ... 101
1. Keterampilan Literasi Informasi ... 107
a. Menentukan kebutuhan Informasi ... 109
b. Mengevaluasi Informasi ... 111
c. Menggunakan Informasi ... 112
2. Kegiatan Literasi Informasi oleh Pustakawan yang Terintegrasi kedalam Proses Pelayanan Perpustakaan ... 115
a. Mempersiapkan Kegiatan Literasi Informasi ... 116
b. Melaksanakan Kegiatan Literasi Informasi ... 117
c. Mengevaluasi Kegiatan Literasi Informasi ... 119
BAB V SIMPULAN DAN SARAN ... 122
A. Simpulan ... 122
B. Saran ... 123
DAFTAR PUSTAKA ... xviii
LAMPIRAN-LAMPIRAN ... xxii
Euis Sri Nurhayati, 2014 Literasi Informasi Pustakawan
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Perbedaan penjenjangan pustakawan berdasarkan SK MENPAN ... 30
Tabel 3.1 Kisi-kisi pertanyaan penelitian ... 53
Tabel 3.2 Daftar pertanyaan ... 54
Tabel 3.3 Format pedoman wawancara ... 55
Tabel 3.4 Format pedoman observasi ... 56
Tabel 3.5 Format pedoman studi dokumentasi ... 57
Tabel 3.6 Tahapan-tahapan penelitian kualitatif secara umum ... 62
Tabel 3.7 Kriteria dan teknik pemeriksaan keabsahan data ... 66
Tabel 4.1 Daftar Pustakawan Perpustakaan UPI... 71
Euis Sri Nurhayati, 2014 Literasi Informasi Pustakawan
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Konsep Informasi ... 14
Gambar 2.2 Pedoman Kegiatan Literasi Informasi ... 37
Gambar 3.1 Komponen Analisis Data Model Miles dan Huberman ... 59
Euis Sri Nurhayati, 2014 Literasi Informasi Pustakawan
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Penelitian
Memasuki abad ke-21, bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK)
berkembang dengan pesat. Perkembangan ini berpengaruh besar terhadap
berbagai sarana kehidupan, termasuk didalamnya adalah perpustakaan.
“Perkembangan ini tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan melalui proses atau estafet dari generasi ke generasi baik secara evolusi maupun revolusi” (Hermawan
dan Zen, 2006:3). Pesatnya perkembangan ini menimbulkan perubahan perilaku
dan aktivitas manusia, diantaranya seperti yang dikatakan oleh Wriston (1997)
berikut ini.
the information revolution has changed people’s perception of wealth. We originally said that land was wealth. Then we thought it was industrial production. Now, we realize it’s intellectual capital. The market showing us that intellectual capital is far more important than money. This is a major change in the way the world works. The same thing that happened to the industrial revolution is now happening to people in industry as we move the
information age (dalam Hermawan dan Zen, 2006:3).
Terjadinya revolusi informasi mampu mengubah cara pandang manusia
mengenai kekayaan. Awalnya manusia berpandangan bahwa memiliki lahan
merupakan kekayaan. Beberapa masa kemudian manusia berpandangan bahwa
memiliki produksi dalam bidang industri merupakan sebuah kekayaan maka kini
kita menyaksikan bahwa intellectual capital merupakan kekayaan yang jauh lebih
penting daripada uang sebagaimana yang diperlihatkan oleh pasar. Hal ini
mengubah bagaimana cara dunia bekerja. Seperti halnya revolusi industri, kini
masyarakat industri sedang bergerak pada era informasi. Pada era ini, informasi
merupakan hal yang tidak dapat terpisahkan dari kehidupan masyarakat di dunia.
Informasi merupakan sebuah entitas yang berpotensi untuk menjadi kekuatan
sekaligus sumber inspirasi bagi banyak masyarakat belajar untuk beradaptasi.
Kebergantungan masyarakat terhadap informasi sudah sampai pada titik dimana
Euis Sri Nurhayati, 2014 Literasi Informasi Pustakawan
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
Setiap hari masyarakat ditantang untuk berhadapan dengan informasi yang
jumlahnya berlimpah dan melaju dengan begitu cepat, juga dalam berbagai format
yang tak terhitung jumlahnya. Berjejalnya informasi yang memenuhi ruang hidup
masyarakat sekarang ini menandakan bahwa era informasi (information age)
yakni sebutan lain dari gelombang ketiga (the third wave) yang dikemukakan oleh
Toffler (1980) seorang penulis sekaligus futurologasal Amerika Serikat telah tiba
di hadapan. Dalam teorinya, Toffler membagi perkembangan peradaban manusia
menjadi tiga gelombang, meliputi: gelombang pertama yakni masyarakat agraris
(pertanian), gelombang kedua yakni masyarakat industri dan gelombang ketiga
yakni masyarakat informasi (Ocha, 2011).
Era informasi ini dicirikan dengan terjadinya peningkatan produksi dan
konsumsi informasi secara masif. Salah satu konsekuensi logis dari pesatnya
perkembangan informasi tersebut adalah terjadinya fenomena ledakan informasi
(information outburst) yang dikenal juga dengan istilah lain yang senada yaitu
information floods dan information explosion. Ledakan informasi merupakan
fenomena pesatnya peningkatan jumlah data atau informasi yang dipublikasikan.
Dalam hal ini, publikasi yang dimaksud tidak terbatas pada informasi yang
tercetak dalam bentuk fisik saja, tetapi juga informasi yang tidak tercetak atau
non-cetak pada perpustakaan maya (virtual library).
The New York Time Company pada tahun 2003 melaporkan bahwa pada tahun
2002 sekitar 5 exabyte informasi telah disimpan dalam bentuk media cetak, film,
optik dan magnetik. Pertambahan sebanyak dua kali lipat terjadi dalam tiga tahun
terakhir setelahnya. Bahkan, himpunan informasi dalam jumlah tersebut akan
terus bertambah dari tahun ke tahun. Sebagai perbandingan, satu exabyte setara
dengan satu trilyun gigabyte, satu gigabyte setara dengan seribu megabyte dan
satu megabyte setara dengan 700 – 1000 halaman teks pada kertas ukuran A4
(Yusup, 2009:13). Besarnya jumlah berbagai informasi akan menuju kepada
berlimpahnya informasi yang ada pada saat ini dan akan menyebabkan terjadinya
kelimpahan informasi. Efek kelimpahan informasi akan berupa terus
Euis Sri Nurhayati, 2014 Literasi Informasi Pustakawan
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
terjadinya masalah pengelolaan informasi. Masalah yang kemudian akan timbul
dapat menyulitkan dan bahkan dapat menyebabkan informasi yang berlebihan
(information overload).
Ledakan informasi merupakan sebuah keniscayaan yang dibawa oleh era
informasi. Untuk menyikapinya, diperlukan sebuah strategi literasi yang
berkenaan dengan information literacy skills atau dalam bahasa Indonesia disebut
dengan keterampilan literasi informasi. Keterampilan literasi informasi ini
dimaknai sebagai suatu kemampuan untuk mengenali adanya kebutuhan informasi
dan kemampuan untuk menempatkan, mengevaluasi dan menggunakan informasi
dengan efektif (Fisher, 2008:63).
Dalam era informasi, perpustakaan memiliki peran yang vital terutama dalam
menopang kebutuhan manusia terhadap informasi dan penggunaannya secara
tepat. Yusup (2009) mengemukakan bahwa:
perpustakaan merupakan lembaga penyedia informasi yang tidak hanya menunjukkan kepada pengguna informasi dan sumber-sumber informasi yang sesuai, namun berusaha membantu mereka dalam mengatasi atau mengelola identitas mereka sebagai anggota masyarakat penghasil informasi, pengguna dan perantara dan perdagangan informasi. Peran perpustakaan dalam hal ini adalah meningkatkan serta memudahkan peningkatan ke arah melek informasi bagi masyarakat luas.
Oleh karena itu, sudah menjadi kewajiban bagi setiap perpustakaan untuk
melakukan kegiatan literasi informasi kepada seluruh pemustakanya. Menurut
Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia – Perpustakaan (SKKNI – PRP)
yang dikeluarkan melalui Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi
Republik Indonesia Nomor 83 Tahun 2012 yang kemudian diterbitkan oleh
Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI), makna yang terkandung
dalam kegiatan literasi informasi tersebut adalah sebagai berikut:
Euis Sri Nurhayati, 2014 Literasi Informasi Pustakawan
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
secara efektif, sesuai etika informasi serta memahami infrastuktur informasi yang mendasari pengiriman informasi mencakup hubungan dan pengaruh sosial, politik dan budaya (PNRI, 2012:11).
Kegiatan literasi informasi ini, dikenal juga dengan berbagai sebutan lain
seperti: bimbingan pemustaka dan pendidikan pengguna (user education).
Kegiatan ini mencakup orientasi perpustakaan dan instruksi bibliografi. Tujuan
dari kegiatan ini sudah jelas, yaitu agar pemustaka mampu mengenali kebutuhan
informasi mereka sehingga dapat menemukan informasi yang mereka butuhkan
dengan mudah dan cepat. Selain itu, agar pemustaka dapat menggunakannya
secara efektif dan efisien yang berorientasi pada literasi informasi.
Sudarsono (2007:7) memaparkan bahwa di negara-negara maju seperti
Amerika Serikat dan negara-negara yang terdapat di Eropa, bimbingan tersebut
sudah menjadi bagian dari standard operational procedure (SOP) setiap
perpustakaan dalam melayani pemustakanya. Bimbingan tersebut mengenalkan
sistem yang dipakai oleh perpustakaan dan bagaimana cara menggunakannya.
Dalam pelaksanaannya, selain menggunakan sistem perpustakaan setempat,
dikenalkan juga sistem perpustakaan lain yang terhubung dalam suatu sistem
kerjasama antar perpustakaan.
Ada berbagai macam jenis perpustakaan yang dapat diklasifikasikan menurut
beberapa kriteria, diantaranya adalah menurut pemustakanya. Pemustaka menurut
UU No. 43 Tahun 2007 adalah pengguna perpustakaan, yaitu “perseorangan,
kelompok orang, masyarakat, atau lembaga yang memanfaatkan fasilitas layanan
perpustakaan”. Salah satu jenis perpustakaan berdasarkan pada sasaran
layanannya tersebut adalah perpustakaan perguruan tinggi. Dalam buku pedoman
perpustakaan perguruan tinggi disebutkan bahwa perpustakaan perguruan tinggi
merupakan “unsur penunjang perguruan tinggi yang bersama-sama dengan unsur
penunjang lainnya berperan dalam melaksanakan tercapainya visi misi perguruan
tingginya” (Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi – Dirjen Dikti, 2005:3).
Bagi perpustakaan perguruan tinggi, bimbingan pemustaka yang berorientasi
pada literasi informasi menjadi hal wajib yang harus diikuti oleh setiap mahasiswa
Euis Sri Nurhayati, 2014 Literasi Informasi Pustakawan
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
menuntut ilmu pada jenjang sekolah ternyata masih banyak mahasiswa baru yang
belum memahami sistem perpustakaan perguruan tinggi yang berbeda dengan
sistem pepustakaan sekolah (Sudarsono, 2007:1).
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2007 Pasal 14 Ayat 3
menyebutkan bahwa “setiap perpustakaan mengembangkan layanan perpustakaan
sesuai dengan kemajuan TIK”. Hal ini menegaskan bahwa penerapan TIK menjadi hal yang wajib dilakukan di perpustakaan, khususnya perpustakaan
perguruan tinggi.
Penerapan TIK di perpustakaan dapat difungsikan antara lain sebagai berikut: (1) Penerapan TIK sebagai sistem informasi manajemen perpustakaan. Bidang pekerjaan yang dapat diintegrasikan dengan sistem informasi manajemen perpustakaan ini diantaranya adalah akuisisi, inventarisasi, katalogisasi, klasifikasi, sirkulasi, keanggotaan perpustakaan dan statistik jumlah pengunjung perpustakaan. (2) Penerapan TIK sebagai sarana untuk menyimpan, mendapatkan dan menyebarluaskan informasi atau ilmu pengetahuan dalam format digital. (Darmawan, 2009:3)
Kondisi tersebut mengakibatkan perpustakaan memiliki informasi yang lebih
beragam dan sistem pengelolaan yang semakin canggih, sehingga untuk
memanfaatkan perpustakaan menjadi tidak sesederhana sebelumnya. Pemustaka
dituntut untuk lebih memahami beragam informasi dan cara tepat dalam
menggunakan sistem informasi suatu perpustakaan. Oleh karena itu, bimbingan
pemustaka ini mutlak dilakukan (Sudarsono, 2007:1).
Perpustakaan UPI merupakan perpustakaan perguruan tinggi yang dimiliki
oleh Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), yaitu salah satu universitas negeri di
Indonesia yang telah mendeklarasikan diri untuk menjadi world class university
dalam “disiplin ilmu pendidikan dan pendidikan disiplin ilmu” melalui visi “a leading and outstanding university” dan norma dasar kehidupan “edukatif, ilmiah dan relijius” (Pedoman Akademik UPI, 2010). Perpustakaan UPI merupakan
entitas layanan pendukung kegiatan akademik dan menjadi bagian tak terpisahkan
dalam mencapai tujuan tersebut. Visi Perpustakaan UPI adalah menjadikan
perpustakaan sebagai pusat keunggulan (Center of Excellence) dalam
Euis Sri Nurhayati, 2014 Literasi Informasi Pustakawan
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
signifikan mendukung kebutuhan sivitas akademika oleh sumber daya manusia
yang berkualitas, berdedikasi dan memiliki kemampuan kompetitif sebagai
penyedia informasi di era globalisasi. Perpustakaan UPI telah menerapkan TIK
dalam berbagai kegiatannya. Banyak kegiatan dan layanan perpustakaan di
Perpustakaan UPI yang telah terotomasi sehingga pemustaka dituntut untuk dapat
mengoperasikannya secara mandiri. Keunggulan lainnya dari Perpustakaan UPI
adalah penerapan layanan prima perpustakaan (services excellence) dengan motto
“answer at its best to any quests” menjadi tujuan bertajuk benchmarking bagi perpustakaan sejenis maupun perpustakaan lainnya dan merupkan laboratorium
bagi program studi perpustakaan dan informasi maupun peneliti pada umumnya
(Pedoman Mutu Perpustakaan UPI, 2013).
Perpustakaan UPI memiliki program kegiatan literasi informasi yang
diperuntukkan bagi pemustakanya, khususnya mahasiswa baru yang merupakan
pemustaka potensial dalam menggunakan perpustakaan. Namun, pada
kenyataannya program ini tidak berjalan dengan optimal. Tidak semua mahasiswa
mendapatkan kegiatan tersebut. Padahal, pemustaka Perpustakaan UPI adalah
seluruh masyarakat kampus yang notabene mahasiswa atau sivitas akademika
yang memiliki tingkat kebutuhan informasi tinggi dengan kecenderungan
penggunaannya positif sesuai dengan tugas dan fungsi akademik perguruan tinggi
(Muhartoyo dan Tambunan, 1992:5-6).
Pemustaka aktual Perpustakaan UPI adalah mahasiswa UPI yang merupakan
calon pendidik (Guru) dan tenaga kependidikan. Mereka merupakan komponen
esensial dalam sistem pendidikan. Mereka memiliki tugas, tanggung jawab dan
peran strategis dalam mewujudkan tujuan pendidikan nasional yakni
mencerdaskan kehidupan bangsa dan meningkatkan kualitas sumber daya
manusia. Dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional tersebut, UPI
berkomitmen untuk menghasilkan lulusan yang berkualitas sebagaimana
tercermin dalam tujuan pendidikan UPI. Tujuan pendidikan UPI terjawantahkan
dalam paparan sebagai berikut:
Euis Sri Nurhayati, 2014 Literasi Informasi Pustakawan
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
profesional, relijius dan memiliki integritas serta cinta terhadap bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dengan salah satu tujuan khususnya adalah membina dan mengembangkan mahasiswa untuk menjadi ilmuwan, tenaga pendidik, tenaga kependidikan dan tenaga profesional lain yang beriman, bertakwa, profesional, berkompetensi tinggi dan berwawasan kebangsaan (Pedoman Akademik UPI, 2010).
Oleh karena itu, keterampilan literasi informasi sangat penting untuk dapat
dimiliki oleh setiap mahasiswa UPI untuk menunjang kompetensi profesionalnya
di masa depan. Terlebih mereka harus melakukan transformasi informasi kepada
para peserta didiknya kelak, sehingga keterampilan literasi informasi seyogianya
dapat dikuasai secara mutlak.
Kondisi ini menjadi sebuah tantangan tersendiri bagi pustakawan
Perpustakaan UPI. Pustakawan dituntut untuk dapat bekerja secara profesional.
Pustakawan harus selangkah lebih maju dari pemustakanya, terutama dalam
mengikuti perkembangan informasi karena pustakawan memiliki berbagai sarana
yang selalu memberikan informasi mutakhir (Hermansyah, 2006:6).
UU No. 43 Tahun 2007 menyebutkan bahwa:
Pustakawan adalah seseorang yang memiliki kompetensi yang diperoleh melalui pendidikan dan/atau pelatihan kepustakawanan serta mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk melaksanakan pengelolaan dan pelayanan perpustakaan.
Terkait dengan kompetensi tersebut, dalam SKKNI – PRP (2012) disebutkan
bahwa kompetensi Pustakawan terbagi ke dalam tiga kelompok kompetensi, yaitu
kompetensi dasar atau umum, kompetensi inti dan kompetensi khusus. Setiap
kelompok kompetensi terdiri atas unit-unit kompetensi yang dituangkan ke dalam
beberapa kriteria unjuk kerja. Kemampuan untuk mengadakan kegiatan literasi
informasi menjadi kriteria unjuk kerja dari kompetensi inti seorang pustakawan
(PNRI, 2012). Hal ini mengindikasikan bahwa pustakawan harus memiliki
keterampilan literasi informasi yang baik sebelum melayankan informasi tersebut
kepada berbagai kalangan pemanfaat informasi dan sebelum mengadakan
Euis Sri Nurhayati, 2014 Literasi Informasi Pustakawan
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
Literasi informasi menjadi suatu keterampilan pustakawan yang penting di
era global saat ini, sehingga literasi informasi bagi pustakawan tidak hanya
ditandai oleh melek huruf maupun sekedar bisa membaca saja. Aplikasinya
ternyata lebih dari itu, sehingga sudah seharusnya penguasaan literasi informasi
dan perangkat elektronik menjadi bagian yang tak terpisahkan bagi seorang
pustakawan (Fatmawati, 2011).
Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan pada tahun 1987
sebagaimana yang ditulis Sudarsono (2007) mengenai keterampilan informasi
(information skills) bagi masyarakat informasi. Penelitian ini menyimpulkan
bahwa selain keterampilan menemukan informasi di perpustakaan, seseorang yang
dapat mencari informasi yang dibutuhkannya dengan tepat (information literate)
juga memerlukan keterampilan dalam memanfaatkan komputer.
Sebagai seseorang yang memiliki tugas dan tanggung jawab untuk mengelola
perpustakaan, tanpa mengesampingkan hal lainnya, pustakawan merupakan ujung
tombak (frontliner) bagi keberhasilan merealisasikan peran dan fungsi
perpustakaan di masyarakat luas, khususnya dalam rangka meningkatkan literasi
informasi masyarakat. Pustakawan harus menjadi manajer ilmu pengetahuan,
karena rutinitas tugasnya mengelola berbagai sumber informasi dan
melayankannya kepada masyarakat luas melalui berbagai macam layanan yang
disediakan oleh perpustakaan, sehingga pustakawan membutuhkan keterampilan
literasi informasi untuk dapat menjalankan tugasnya.
Tidak optimalnya program kegiatan literasi informasi bagi pemustaka yang
diadakan oleh institusi Perpustakaan UPI dan belum adanya kegiatan tersebut
yang dilakukan serempak di awal ketika penerimaan mahasiswa baru serta adanya
tanggung jawab dan tugas yang harus dijalankan secara profesional oleh
pustakawan, menuntut pustakawan Perpustakaan UPI untuk dapat
mengintegrasikan kegiatan literasi informasi ke dalam menjalankan tugas
Euis Sri Nurhayati, 2014 Literasi Informasi Pustakawan
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti tertarik untuk melakukan
penelitian dengan mengangkat judul “Literasi Informasi Pustakawan (Studi Deskriptif terhadap Pustakawan pada Perpustakaan UPI).”
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan sebelumnya, secara umum
permasalahan yang ingin dijawab melalui penelitian ini dapat dirumuskan sebagai
berikut: “Bagaimanakah keterampilan literasi informasi pustakawan Perpustakaan
UPIdalam menunjang kompetensi profesionalnya?”.
Untuk mempermudah pembahasan, maka peneliti memfokuskan penelitian
melalui pertanyaan penelitian sebagai berikut:
1. Bagaimanakah keterampilan literasi informasi yang dimiliki oleh
pustakawan Perpustakaan UPI?
2. Bagaimanakah pustakawan Perpustakaan UPI melakukan kegiatan literasi
informasi yang terintegrasi kedalam proses pelayanan perpustakaan?
C. Tujuan Penelitian
Secara umum tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah untuk
mengetahui bagaimana keterampilan literasi informasi pustakawan Perpustakaan
UPIdalam menunjang kompetensi profesionalnya.
Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan data dan informasi
mengenai:
1. Keterampilan literasi informasi pustakawan Perpustakaan UPI.
2. Kegiatan literasi informasi yang dilakukan oleh pustakawan Perpustakaan
UPIyang terintegrasi pada proses pelayanan perpustakaan.
D. Manfaat Penelitian
Peneliti berharap hasil dan simpulan dari penelitian ini akan memberikan
manfaat kepada semua pihak yang memiliki perhatian terhadap perkembangan
Euis Sri Nurhayati, 2014 Literasi Informasi Pustakawan
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
khususnya dalam hal kegiatan literasi informasi. Berdasarkan permasalahan
tersebut, beberapa manfaat bisa diperoleh oleh penulis sendiri maupun subjek
penelitian. Beberapa manfaat yang dimaksud penulis adalah sebagai berikut:
1. Manfaat Teoritis
Dari segi teoritis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan
maupun wawasan ilmiah kepada penulis dan juga pembaca mengenai
keterampilan literasi informasi pustakawan, kegiatan literasi informasi di
perpustakaan serta dapat memberikan inspirasi bagi para akademisi dalam
melakukan kajian dan pengembangan teori Ilmu Perpustakaan dan Informasi,
khususnya dalam pengembangan literasi informasi di Indonesia.
2. Manfaat Praktis
Dari segi praktis, penelitian ini memberikan gambaran nilai manfaat kepada
peneliti, subjek penelitian dan pihak-pihak lain. Di antara manfaat tersebut adalah
sebagai berikut:
a. Bagi Peneliti
Penelitian ini dapat dijadikan sebagai salah satu pemerluas wawasan dan
pengetahuan yang penting dalam disiplin keilmuan yang selama ini telah
didapat peneliti selama menimba ilmu di bangku kuliah. Juga sebagai bahan
kajian untuk jenjang pendidikan selanjutnya.
b. Bagi Program Studi Perpustakaan dan Informasi
Program studi Perpustakaan dan Informasi memiliki kajian keilmuan
yang begitu banyak dan sangat bermanfaat bagi perbaikan maupun
kemajuan bidang kepustakawanan di negeri ini. Penelitian ini dapat
dijadikan salah satu pertimbangan dan bahan acuan untuk diadakannya
kajian ataupun studi lebih mendalam mengenai literasi informasi sehingga
dapat mengoptimalkan kompetensi lulusan Program Studi Pepustakaan dan
Informasi.
c. Bagi Lembaga Perpustakaan
Sebagai sumber informasi, perpustakaan memiliki peran yang sangat
Euis Sri Nurhayati, 2014 Literasi Informasi Pustakawan
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
untuk mengoptimalkan peran perpustakaan di masyarakat, perpustakaan
harus mempunyai program-program yang sesuai dengan kebutuhan
masyarakat, salah satunya adalah melakukan program pembekalan literasi
informasi bagi masyarakat untuk menjawab tantangan zaman sekaligus
sebagai bekal pembelajaran seumur hidup.
d. Bagi Perpustakaan UPI
Bagi Perpustakaan UPI, penelitian ini dapat memberikan sejumlah
informasi mengenai keterampilan literasi informasi yang dimiliki oleh
pustakawan dan bagaimana mereka melakukan kegiatan literasi informasi
yang terintegrasi dalam melakukan pelayanan perpustakaan.
Selain itu, Perpustakaan UPI memperoleh informasi guna mengevaluasi
ataupun mengembangkan program literasi informasi di lingkungan
Perpustakaan UPI.
e. Bagi Mahasiswa Program Studi Perpustakaan dan Informasi
Sebagai calon manajer informasi, idealnya mahasiswa Program Studi
Perpustakaan dan Informasi harus mampu mengelola informasi dan
memiliki literasi informasi yang baik. Dengan adanya penelitian ini
diharapkan dapat memberikan informasi baru mengenai pentingnya literasi
informasi bagi pengelola informasi. Hasil penelitian ini dapat memberikan
suatu kajian baru yang dapat menambah pengetahuan sekaligus pengalaman
tentang perpustakaan, informasi dan kepustakawanan.
f. Bagi Peneliti Selanjutnya
Hasil penelitian ini diharapkan menjadi bahan kajian yang menarik untuk
ditelaah secara lebih mendalam, untuk diperbaharui dan dikembangkan oleh
peneliti selanjutnya yang memiliki ketertarikan pada bidang yang sama dan
dapat menambah referensi dalam menyelesaikan penelitian yang dilakukan.
Euis Sri Nurhayati, 2014 Literasi Informasi Pustakawan
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
Mengacu pada Pedoman Penulisan Karya Ilmiah yang dikeluarkan oleh
Universitas Pendidikan Indonesia (2013), struktur penulisan pada skripsi ini
terdiri dari lima Bab, yaitu Bab I, Bab II, Bab III, Bab IV dan Bab V.
Berikut ini adalah penjabaran isi organisasi skripsi dari masing-masing bab
sebagaimana disebutkan di atas:
Bab I Pendahuluan berisi: Latar belakang penelitian dimaksudkan untuk
menjelaskan alasan mengapa masalah tersebut diteliti, pentingnya masalah
tersebut diteliti dan pendekatan untuk mengatasi permasalah tersebut baik dari sisi
teoritis maupun praktis. Identifikasi dan perumusan masalah berisi rumusan dan
analisis masalah. Tujuan penelitian menyajikan hasil yang ingin dicapai setelah
penelitian selesai dilakukan. Manfaat atau signifikansi penelitian memaparkan
manfaat penelitian yang dilihat dari berbagai aspek. Struktur organisasi skripsi
berisi tentang urutan penulisan dari setiap bab dan bagian dalam skripsi.
Bab II Kajian Pustaka berisi konsep/teori/dalil/hukum/model utama dan
turunannya mengenai bidang yang dikaji, penelitian terdahulu yang relevan
dengan bidang yang diteliti dan posisi teoritik peneliti yang berkenaan dengan
masalah yang diteliti.
Bab III Metode Penelitian berisi penjabaran yang rinci mengenai metode
penelitian, termasuk komponen-komponen yang meliputi: Metode Penelitian,
Lokasi dan Subjek Populasi/Sampel Penelitian, Definisi Operasional, Instrumen
Penelitian, Proses Pengembangan Instrumen, Teknik Pengumpulan Data, Teknik
Analisis Data dan Tahapan-Tahapan Penelitian.
Bab IV Hasil Penelitian dan Pembahasan terdiri dari dua hal utama, yakni: 1)
pengolahan dan analisis data untuk menghasilkan temuan yang berkaitan dengan
masalah penelitian, pertanyaan penelitian, tujuan penelitian dan; 2) pembahasasan
atau analisis temuan.
Terakhir, Bab V yang terdiri dari Simpulan dan Saran menyajikan penafsiran
Euis Sri Nurhayati, 2014 Literasi Informasi Pustakawan
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Metode dan Desain Penelitian
Metode penelitian pada dasarnya merupakan “cara ilmiah untuk mendapatkan
data yang sesuai dengan tujuan penelitian” (Sugiyono, 2011: 3). Oleh karena itu,
pertanyaan penelitian, fokus penelitian, tujuan penelitian dan data yang
dibutuhkan dalam penelitian menjadi bahan pertimbangan utama bagi peneliti
dalam menentukan metode penelitian.
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode
penelitian deskriptif. Zuriah (2006:47) memaparkan bahwa penelitian deskriptif
merupakan “penelitian yang diarahkan untuk menjawab gejala-gejala, fakta-fakta atau kejadian-kejadian secara sistematis dan akurat mengenai sifat-sifat populasi
tertentu”. Metode deskriptif dalam penelitian ini digunakan untuk menjelaskan
bagaimana keterampilan literasi informasi pustakawan di Perpustakaan UPIdalam
menunjang kompetensi profesionalnya.
Penelitian ini didesain dengan menggunakan model case study atau studi
kasus. Studi kasus dipilih karena dapat digunakan untuk meneliti setiap aspek dari
suatu topik secara mendalam (Nasution, 2003:28). Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan – Depdikbud (1983) dalam Zuriah (2006:48) mendefinisikan studi
kasus sebagai “penelitian yang bertujuan untuk mempelajari secara intensif mengenai unit sosial tertentu, yang meliputi individu, kelompok, lembaga dan
masyarakat”. Pada penelitian ini, studi kasus digunakan untuk mengetahui
bagaimana pustakawan Perpustakaan UPI melakukan kegiatan literasi informasi
yang terintegrasi dalam proses pelayanan perpustakaan.
Penelitian ini merupakan penelitian dengan menggunakan pendekatan
kualitatif. Pendekatan kualitatif dipilih karena peneliti bermaksud untuk
mendeskripsikan dan menganalisis fenomena tertentu secara mendalam dan
terperinci. Moleong (2014:6) memaparkan bahwa “penelitian kualitatif adalah
penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena ... secara holistik dan
Euis Sri Nurhayati, 2014 Literasi Informasi Pustakawan
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
pendekatan kualitatif digunakan karena penelitian ini menggunakan desain
penelitian sementara. Moleong (2014:13) mengemukakan bahwa “penelitian
kualitatif menyusun desain yang secara terus menerus disesuaikan dengan
kenyataan di lapangan.”
Penelitian ini tidak bermaksud untuk menggeneralisir keterampilan literasi
informasi pustakawan secara pada umumnya melainkan spesifik kepada
keterampilan literasi informasi pustakawan Perpustakaan UPI dalam menunjang
kompetensi profesionalnya.
B. Lokasi dan Subjek Populasi/Sampel Penelitian
1. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Perpustakaan UPI yakni Perpustakaan Pendidikian
Tinggi Universitas Pendidikan Indonesia kampus Bumi Siliwangi, yang berlokasi
di Jalan Dr. Setiabudhi No. 229, Bandung (40154).
Peneliti memilih melakukan penelitian di Perpustakaan UPI karena
perpustakaan ini memiliki keunggulan diantaranya sudah dilengkapi dengan
fasilitas yang memadai dan koleksi yang dikelola oleh sumber daya manusia yang
berkualitifikasi. Selain itu juga, terdapat permasalahan di perpustakaan ini yakni
belum optimalnya kegiatan literasi informasi yang diperuntukkan bagi seluruh
pemustaka, khususnya mahasiswa baru yang merupakan pemustaka potensial
Perpustakaan UPI sehingga peneliti berasumsi bahwa pustakawan harus
melakukan kegiatan literasi informasi yang terintegrasi dalam pelayanan
perpustakaan.
Hal di atas tersebutlah yang mendorong peneliti untuk melakukan penelitian
di Perpustakaan UPI, peneliti berharap dengan adanya penelitian ini alternatif
Euis Sri Nurhayati, 2014 Literasi Informasi Pustakawan
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
2. Subjek Populasi/Sampel Penelitian
a. Populasi penelitian
Menurut Sugiyono (2011:119) populasi adalah “wilayah generalisasi yang
terdiri atas: objek atau subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu
yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari kemudian ditarik kesimpulannya”.
Populasi dari penelitian ini adalah sejumlah pustakawan Perpustakaan UPI.
Berdasarkan data yang diperoleh dari dokumen yang diberikan oleh narasumber di
bagian kesekretariatan Perpustakaan UPI jumlah pustakawan Perpustakaan UPI
Per Maret 2014 adalah sebanyak 22 Orang.
b. Sampel penelitian
Sampel penelitian adalah “bagian dari populasi penelitian yang diambil sebagai contoh (master) dengan menggunakan teknik-teknik tertentu” (Zuriah,
2006:119). Teknik penentuan sampel yang digunakan peneliti adalah dengan
menggunakan teknik non random sampling, artinya tidak semua individu dalam
populasi memiliki kesempatan untuk menjadi sampel penelitian.
Dalam penelitian ini, jenis sampel yang diperoleh dari teknik non random
sampling tersebut adalah purposive sampling. Purposive sampling adalah
“pemilihan sekelompok subjek yang didasarkan pada kriteria tertentu yang
diterapkan berdasarkan tujuan penelitian” (Zuriah, 2006:124). Pemilihan sampel
ini digunakan karena memiliki beberapa keuntungan yaitu mudah, murah, cepat
dan relevan dengan tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini yakni tidak untuk
melakukan generalisasi tetapi untuk memahami kasus tertentu, Lincoln dan Guba
(1985) dalam (Alwasilah, 2009:73).
Dalam rangka mempermudah penentuan sampel, peneliti menentukan
beberapa kriteria untuk melakukan penarikan sampel. Berikut ini adalah kriteria
yang peneliti tentukan untuk penarikan sampel, yaitu:
1) Merupakan pustakawan tingkat ahli Perpustakaan UPI;
2) Pernah atau sedang ditempatkan di bagian pelayanan yang berinteraksi
secara langsung dengan pemustaka;
Euis Sri Nurhayati, 2014 Literasi Informasi Pustakawan
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
Peneliti memilih kriteria-kriteria tersebut dengan pertimbangan bahwa
pustakawan ahli memiliki tanggung jawab untuk dapat memenuhi kompetensi
profesionalnya sebagai pustakawan karena sangat erat kaitannya dengan berbagai
hal, seperti capaian angka kredit dan jabatan fungsional. Berdasarkan kriteria
tersebut, dari seluruh pustakawan Perpustakaan UPI yang berjumlah 22 orang,
peneliti menentukan sampel penelitian sebanyak 5 orang. Peneliti menganggap
jumlah tersebut sudah cukup mewakili populasi. Dengan ketentuan bahwa 5 orang
yang dijaring untuk dijadikan sampel tersebut merupakan pustakawan ahli dari
berbagai titik layanan berbeda.
C. Definisi Operasional
Untuk menghindari kesalahpahaman dan perbedaan persepsi terhadap
istilah-istilah yang terdapat dalam penelitian, maka terlebih dahulu perlu peneliti
paparkan dengan jelas pengertian dan maksud yang terkandung dalam
istilah-istilah tersebut. Beberapa istilah-istilah yang perlu dijabarkan dalam penelitian ini
diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Literasi Informasi
Dalam penelitian ini, yang dimaksud dengan literasi informasi adalah
pemahaman dan seperangkat kemampuan yang dibutuhkan oleh pustakawan
untuk mengenali kapan dan mengapa informasi dibutuhkan, kemampuan
menemukannya, mengaksesnya, mengevaluasinya dan memanfaatkannya
secara efektif, efisien serta sesuai dengan etika. Secara operasional, literasi
informasi ini terbagi ke dalam dua bagian yakni, sebagai keterampilan dan
sebagai kompetensi profesional. Sebagai keterampilan, dalam kamus besar
bahasa indonesia untuk pelajar (Qodratilah, 2011), keterampilan berasal dari
kata terampil artinya cakap dalam menyelesaikan tugas; mampu dan cekatan;
keterampilan adalah kecakapan untuk menyelesaikan tugas. Sementara itu,
sebagai kompetensi profesional, yakni kemampuan seseorang yang mencakup
pengetahuan, keterampilan dan sikap kerja yang dapat terobservasi dalam
menyelesaikan suatu pekerjaan atau tugas sesuai dengan standar kinerja yang
Euis Sri Nurhayati, 2014 Literasi Informasi Pustakawan
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
ini adalah kompetensi yang harus dimiliki oleh profesi pustakawan dengan
mengacu kepada salah satu kompetensi inti yang terdapat dalam SKKNI –
PRP (PNRI: 2012) yakni melakukan kegiatan literasi informasi.
2. Pustakawan
Pustakawan adalah seseorang yang memiliki kompetensi yang diperoleh
melalui pendidikan dan atau pelatihan kepustakawanan serta mempunyai
tugas dan tanggung jawab untuk melaksanakan pengelolaan dan pelayanan
perpustakaan. Dalam penelitian ini yang dimaksud dengan pustakawan adalah
pengelola perpustakaan Perpustakaan UPIdengan jenjang pustakawan tingkat
ahli.
3. Kegiatan Literasi Informasi
Yang dimaksud kegiatan literasi informasi dalam penelitian ini adalah
kegiatan yang dilakukan oleh pustakawan dalam rangka memberdayakan
pemustakanya agar dapat melakukan penelusuran informasi secara mandiri.
Sesuai dengan definisi kegiatan literasi informasi yang terdapat dalam
SKKNI – PRP (PNRI:2012), kegiatan literasi informasi adalah kegiatan yang
bermaksud untuk meningkatkan kemampuan pemustaka dalam mengenali
kebutuhan informasi termasuk pemahaman tentang bagaimana perpustakaan
yang terorganisir, mengenal sumber daya yang tersedia (format informasi dan
sarana penelusuran terotomasi) dan pengetahuan terhadap teknik-teknik
penelusuran yang biasa digunakan. Juga, kegiatan untuk meningkatkan
kemampuan pemustaka yang dibutuhkan dalam mengevaluasi secara kritis
cakupan (isi) informasi dan menggunakannya secara efektif, sesuai etika
informasi serta memahami infrastuktur informasi yang mendasari pengiriman
Euis Sri Nurhayati, 2014 Literasi Informasi Pustakawan
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
D. Sumber dan Jenis Data Penelitian
1. Sumber data penelitian
Menurut Lofland dan Lofland (1984) dalam Moleong (2014:157) “sumber data utama dalam penelitian kualitatif adalah kata-kata dan tindakan, selebihnya
adalah data tambahan seperti dokumen dan lainnya.” Dalam penelitian ini yang
menjadi sumber data penelitian adalah: narasumber atau informan (kata-kata),
aktivitas (tindakan) dan dokumen (data tambahan).
a. Informan
Informan merupakan sumber data primer dalam penelitian ini. Mereka dipilih
sebagai sumber data primer dalam penelitian ini karena dianggap memiliki
informasi yang lengkap untuk dapat menjawab rumusan masalah penelitian
mengenai keterampilan literasi informasi pustakawan dalam menunjang
kompetensi profesionalnya. Selain itu, sampel dari penelitian ini juga disebut
dengan informan.
b. Aktivitas
Aktivitas yang dijadikan sebagai sumber data adalah aktivitas-aktivitas sosial
yang dapat memberikan informasi untuk menjawab rumusan masalah
penelitian mengenai keterampilan literasi informasi pustakawan dalam
menunjang kompetensi profesionalnya.
c. Dokumen
Dokumen merupakan sumber data sekunder, yakni sebagai sumber data
pelengkap dan memperkaya informasi yang diperoleh dari narasumber dan
pengamatan aktivitas serta dapat dijadikan data tambahan dalam menjawab
rumusan masalah penelitian mengenai keterampilan literasi informasi
pustakawan dalam menunjang kompetensi profesionalnya.
2. Jenis data penelitian
Jenis data yang diharapkan dari penelitian ini adalah data yang berbentuk
narasi, skematik, uraian dan penjelasan yang diberikan oleh informan baik secara
lisan mau pun tulisan. Selain itu juga, data hasil pengamatan di lapangan. Jenis
Euis Sri Nurhayati, 2014 Literasi Informasi Pustakawan
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu a. Rekaman
Merupakan data yang dihasilkan dari kegiatan wawancara yang dilakukan
peneliti dengan informan. Data tersebut dicatat dalam bentuk rekaman baik
yang berbentuk audio maupun audio-visual (video).
b. Catatan lapangan
Merupakan data tertulis yang dihasilkan dari kegiatan wawancara, observasi
lapangan dan penemuan atau data penting lainnya yang perlu dicatat selama
penelitian berlangsung. Catatan lapangan ini dibuat sesuai dengan format yang
telah peneliti tentukan.
c. Foto
Merupakan bukti dokumentasi dalam bentuk gambar. Melingkupi
gambar-gambar selama kegiatan penelitian berlangsung.
d. Berkas/Dokumen/Arsip
Merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu yang dibutuhkan sebagai
informasi tambahan dalam kegiatan penelitian.
E. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian merupakan “alat bantu bagi peneliti dalam
mengumpulkan data” (Zuriah, 2006:168) untuk menjawab rumusan masalah
penelitian. Sementara itu, salah satu ciri khas penelitian kualitatif adalah tidak
dapat terlepaskan dari pengamatan berperanserta yang dilakukan oleh peneliti
dalam penelitian karena instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah
peneliti itu sendiri (Moleong, 2014:9). Sehingga, instrumen penelitian dalam
penelitian ini lebih tepat diartikan sebagai alat penelitian, bukan hanya sekedar
alat bantu penelitian.
Sebagai instrumen penelitian, peneliti memiliki peran yang cukup rumit “...
sekaligus merupakan perencana, pelaksana pengumpul data, analisis, penafsir data
...” (Moleong, 2014:168). Untuk itu peneliti memerlukan alat bantu dalam melakukan penelitian guna kelancaran jalannya penelitian yang dilakukan.
Euis Sri Nurhayati, 2014 Literasi Informasi Pustakawan
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
dengan membuat pedoman wawancara, pedoman observasi dan pedoman studi
dokumentasi yang akan dilakukan oleh peneliti.
Dikarenakan belum adanya instrumen terstandar dalam mengukur
keterampilan literasi informasi bagi pustakawan, peneliti membuat desain
instrumen penelitian dengan mengacu pada buku yang berjudul “A Practical
Guide To Information Literacy Assessment”. Untuk konten atau isi dari instrumen penelitian dalam rangka mengetahui bagaimana keterampilan literasi informasi
dari pustakawan Perpustakaan UPI peneliti mengacu pada IFLA International
Guidelines On Information Literacy. Selain itu, peneliti menggunakan Grid yang
terdapat dalam Swiss Information Literacy Standards untuk mengetahui tingkatan
keterampilan literasi informasi yang dimiliki oleh pustakawan Perpustakaan UPI.
Terkait dengan bagaimana pustakawan dalam melakukan kegiatan literasi
informasi yang terintegrasi dengan kegiatan pelayanan perpustakaan, instrumen
penelitian yang dibuat oleh peneliti mengacu standar kompetensi pustakawan
yang dituangkan ke dalam kriteria unjuk kerja, khususnya dalam melakukan
kegiatan literasi informasi yang terdapat dalam SKKNI – PRP yang dikeluarkan
oleh PNRI pada tahun 2012. Instrumen yang akan dihasilkan berupa pedoman
wawancara, pedoman observasi dan pedoman studi dokumentasi.
F. Proses Pengembangan Instrumen
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah peneliti itu sendiri,
sehingga pengembangan instrumen dilakukan setiap saat. Sementara itu, alat
bantu penelitian yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari pedoman
wawancara, pedoman observasi dan pedoman studi dokumentasi. Berikut ini
adalah tahapan-tahapan dalam melakukan pengembangan berbagai instrumen
tersebut:
1. Pedoman Wawancara
Dalam mengembangkan instrumen ini, peneliti melakukan tahapan-tahapan
dari mulai menentukan fokus penelitian hingga melakukan pencetakan instrumen
sebelum dilakukannya penelitian. Rincian tahapan pengembangan instrumen
Euis Sri Nurhayati, 2014 Literasi Informasi Pustakawan
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu a. Menentukan fokus penelitian
Instrumen ini digunakan untuk menggali data dengan fokus penelitian tentang
bagaimana keterampilan literasi informasi pustakawan dalam menunjang
kompetensi profesionalnya.
b. Mengidentifikasi indikator dari subjek penelitian
Berikut ini adalah indikator-indikator dari subjek penelitian:
1) Keterampilan literasi informasi pustakawan
2) Kompetensi profesional pustakawan, khususnya dalam melakukan kegiatan
literasi informasi.
c. Melakukan kajian pustaka
Setelah mengidentifikasi indikator dari subjek penelitian, peneliti melakukan
kajian pustaka. Dari hasil kajian pustaka tersebut, peneliti memutuskan untuk
mengadaptasi kompetensi literasi informasi dengan mengacu pada standar
literasi informasi yang dikeluarkan oleh IFLA dan penentuan grid keterampilan
literasi informasi yang dimiliki oleh pustakawan yang mengacu pada Swiss
Information Literacy Standards. Ada pun untuk melihat bagaimana kompetensi
profesional pustakawan, peneliti beracuan kepada SKKNI – PRP 2012 yang
dikeluarkan oleh PNRI.
d. Membuat kisi-kisi pertanyaan
Selanjutnya peneliti membuat kisi-kisi pertanyaan, sebagaimana yang terdapat
dalam tabel (format mengacu pada Zainal: 2011) berikut:
Tabel 3.1
Kisi-kisi pertanyaan penelitian
Fokus Penelitian Indikator Sub-Indikator
Keterampilan
- Melakukan assessment terhadap
informasi
Euis Sri Nurhayati, 2014 Literasi Informasi Pustakawan
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu informasi
yang terintegrasi ke dalam proses
pelayanan perpustakaan
e. Menyusun daftar pertanyaan
Berikut ini adalah tabel draft daftar pertanyaan dalam penelitian ini.
Tabel 3.2
Daftar pertanyaan
Indikator Sub-Indikator Pertanyaan
Keterampilan
Melakukan assessment terhadap
informasi
Melakukan pengorganisasian informasi
Memanfaatkan informasi untuk
membuat produk atau pengetahuan baru
Euis Sri Nurhayati, 2014 Literasi Informasi Pustakawan
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu f. Menggabungkan daftar pertanyaan ke dalam pedoman wawancara;
Berikut ini adalah format pedoman wawancara yang digunakan peneliti dalam
melakukan penelitian ini.
Tabel 3.3
Format Pedoman Wawancara
PEDOMAN WAWANCARA
A. Identitas Informan
Inisial :
Usia :
Jenis Kelamin :
Pendidikan Terakhir : Latar Belakang Pendidikan :
B. Pelaksanaan
Hari :
Tanggal :
Waktu :
Tempat :
C. Pokok-pokok Pertanyaan :
1.
2.
3.
g. Melakukan cross-check terhadap instrumen penelitian;
Peneliti meminta orang yang dianggap ahli untuk melakukan cross-check
terhadap instrumen penelitian yang telah dibuat. Cross-check dilakukan oleh
orang ahli dengan melihat rancangan instrumen yang akan digunakan dan
dibandingkan dengan pedoman penilaian yang mengacu pada Swiss
Information Literacy Standards.
h. Melakukan revisi instrumen sesuai dengan masukan yang diberikan ahli yang
melakukan cross-check terhadap instrumen penelitian;
i. Melakukan pencetakan instrumen sebelum dilakukannya penelitian.
Pada akhirnya, setelah seluruh proses pengembangan dilakukan, peneliti
mencetak instrumen untuk dijadikan bekal dalam melakukan kegiatan
Euis Sri Nurhayati, 2014 Literasi Informasi Pustakawan
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
2. Pedoman Observasi
Pada dasarnya dalam pengembangan instrumen penelitian berupa pedoman
observasi ini dilakukan dengan tahapan-tahapan yang tidak jauh berbeda dengan
tahapan-tahapan yang dilakukan dalam pengembangan pedoman wawancara.
Perbedaan terdapat pada format pedoman yang dihasilkan. Berikut ini adalah
format pedoman observasi yang digunakan dalam penelitian ini.
Tabel 3.4
Format pedoman observasi
PEDOMAN OBSERVASI
A. PELAKSANAAN KEGIATAN
Hari/Tanggal :
Waktu :
Tempat :
B. PETUNJUK PENGISIAN
1. Berilah tanda checklist (√) pada kolom yang telah disediakan sesuai dengan
keadaan yang sebenarnya.
2. Tulislah keterangan yang diperlukan pada kolom yang telah disediakan.
No. Aspek yang diamati Ya Tidak Keterangan
1.
2.
3.
.
3. Pedoman Studi Dokumentasi
Pengembangan instrumen penelitian berupa pedoman studi dokumentasi ini
dilakukan dengan tahapan yang tidak jauh berbeda dengan
tahapan-tahapan yang dilakukan dalam pengembangan instrumen lainnya. Pedoman ini
dibuat untuk mempermudah peneliti dalam melakukan pendataan
dokumen-dokumen apa saja yang dibutuhkan untuk menunjang data-data penelitian. Berikut
Euis Sri Nurhayati, 2014 Literasi Informasi Pustakawan
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu Tabel 3.5
Format pedoman studi dokumentasi
PEDOMAN STUDI DOKUMENTASI
PETUNJUK PENGISIAN
1.Berilah tanda checklist (√) pada kolom ketersediaan yang telah disediakan!
2.Tulislah sumber, hari, tanggal dan waktu saat mendapatkan dokumen serta
hal-hal lain yang dianggap penting pada kolom keterangan!
No Dokumen Ada Tidak Keterangan
1.
2.
3.
...
.
G. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan didasarkan pada rumusan masalah,
jenis data yang dibutuhkan, diantaranya adalah dengan melakukan penelusuran
sumber-sumber kepustakaan yang terkait dengan literasi informasi dan
kompetensi profesional pustakawan, melakukan wawancara observasi dan studi
dokumentasi.
1. Wawancara
Pengumpulan data yang dilakukan dengan cara menggali informasi dari
informan yang diteliti dengan cara berkomunikasi lisan. Dalam penelitian ini,
wawancara dilakukan sebagai teknik pengumpulan data selama melakukan
penelitian untuk mengetahui berbagai hal dari informan secara mendalam dan
terperinci. Wawancara digunakan untuk mengumpulkan informasi yang tidak
mungkin diperoleh lewat observasi (Alwasilah, 2009:154).
Wawancara adalah teknik pengumpulan data melalui proses tanya jawab lisan
yang berlangsung satu arah, artinya pertanyaan datang dari pihak pewawancara
Euis Sri Nurhayati, 2014 Literasi Informasi Pustakawan
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
Jenis wawancara yang dilakukan dalam penelitian ini adalah wawancara
terstruktur dan wawancara tidak terstruktur. Wawancara terstruktur dilakukan
dengan mengajukan pertanyaan yang telah dirumuskan sebelumnya, berdasarkan
pedoman atau daftar pertanyaan yang telah dipersiapkan lebih dahulu (Fathoni,
2006:109), wawancara ini digunakan untuk melihat sejauhmana keterampilan
literasi informasi pustakawan di Perpustakaan UPI. Sementara wawancara tidak
terstruktur dilakukan dengan tujuan menambah atau memperkaya data dan
informasi yang dibutuhkan dalam penelitian.
Dalam penelitian ini, wawancara dilakukan kepada informan, yaitu sumber
data primer yang memberi data dirinya sendiri sebagai subjek sasaran penelitian.
Selain itu, wawancara juga dilakukan kepada pihak-pihak terkait yang dapat
memberikan informasi yang dibutuhkan dalam penelitian.
2. Observasi
Menurut Margono (1997) dalam Zuriah (2006:173) observasi diartikan
sebagai pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadap gejala yang tampak
pada objek atau subjek penelitian. Teknik ini memungkinkan peneliti untuk dapat
menarik inferensi atau kesimpulan mengenai makna dan sudut pandang informan,
kejadian, peristiwa atau proses yang diamati (Alwasilah, 2009:155).
Jenis observasi yang dilakukan oleh peneliti adalah observasi nonpartisipan,
dimana peneliti sebagai observer tidak ikut terlibat dalam kegiatan subjek yang
diteliti dan hanya bertindak sebagai pengamat. Selain itu, peneliti melakukan
observasi sistematis, yakni observasi yang diselenggarakan dengan menentukan
secara sistematis, faktor-faktor apa yang akan diobservasi (Zuriah, 2006:176).
Melalui observasi ini peneliti dapat melihat, menyaksikan dan mengamati
secara langsung bagaimana aktivitas keseharian pustakawan, bagaimana latar
belakang mereka, bagaimana kegiatan mereka dalam menggunakan sekaligus
melayankan informasi dan bagaimana cara mereka berinteraksi dengan
pemustaka.
3. Studi Dokumentasi
Dalam penelitian ini studi dokumentasi dilakukan terhadap berbagai dokumen
Euis Sri Nurhayati, 2014 Literasi Informasi Pustakawan
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
“Dokumen ini dapat berbentuk tulisan, gambar atau karya-karya monumental
lainnya” (Sugiyono, 2013:329). Teknik pengumpulan data melalui dokumen ini digunakan untuk melengkapi data yang diperoleh dari wawancara dan observasi.
Studi dokumentasi ini dilakukan dengan tujuan agar data dan informasi yang
diperoleh peneliti menjadi lebih dapat dipercaya atau memiliki kredibilitas.
H. Teknik Analisis Data
Analisis data kualitatif menurut Bogman dan Biklen (1982) dalam Moleong
(2014:248) adalah:
upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasi data, memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mensintesiskannya, mencari dan menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari serta memutuskan apa yang diceriterakan kepada orang lain.
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan
menggunakan statistik deskriptif, yaitu statistik yang digunakan untuk
menganalisis data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang
telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang
berlaku untuk umum atau generalisasi (Sugiyono, 2011:199). Analisis data dalam
penelitian kualitatif bersifat induktif, artinya “analisis yang didasarkan pada data
yang diperoleh, selanjutnya dikembangkan pola hubungan tertentu” (Sugiyono,
2013:335). Dalam melakukan analisis data, peneliti mengadopsi model analisis
data kualitatif yang dikemukakan oleh Miles dan Huberman (1984) sebagaimana
flow model berikut:
Gambar 3.1
Euis Sri Nurhayati, 2014 Literasi Informasi Pustakawan
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
Berikut ini adalah langkah-langkah yang dilakukan peneliti dalam melakukan
analisis data yang dilakukan oleh peneliti pada penelitian ini.
1. Reduksi data
“Melakukan reduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicarikan tema dan polanya serta
membuang hal-hal yang tidak perlu” (Sugiyono, 2013:338). Dalam melakukan
kegiatan reduksi data, peneliti terlebih dahulu melakukan identifikasi terhadap
data yang diperoleh untuk kemudian dilihat keterikatannya dengan fokus
masalah yang diteliti. Setelah itu data diberikan kode agar dapat dengan mudah
diketahui sumber datanya dan teknik pengumpulannya. Berikut ini adalah
kode-kode yang digunakan dalam penelitian ini:
a. Kode (I) digunakan untuk data yang berkaitan dengan Keterampilan Literasi
Informasi
b. Kode (II) digunakan untuk data yang berkaitan dengan Kegiatan Literasi
Informasi
c. Kode (A) digunakan untuk data yang berkaitan dengan Menentukan
kebutuhan informasi.
d. Kode (B) digunakan untuk data yang berkaitan dengan Mengevaluasi
Informasi.
e. Kode (C) digunakan untuk data yang berkaitan dengan Menggunakan
Informasi.
f. Kode (D) digunakan untuk informasi tambahan atau informasi lainnya.
g. Kode (1) digunakan untuk data yang diperoleh dari informan pertama.
h. Kode (2) digunakan untuk data yang diperoleh dari informan kedua.
i. Kode (3) digunakan untuk data yang diperoleh dari informan ketiga.
j. Kode (4) digunakan untuk data yang diperoleh dari informan keempat.
k. Kode (5) digunakan untuk data yang diperoleh dari informan kelima.
l. Kode (a) digunakan untuk data yang berkaitan dengan Mendefinisikan dan
mengartikulasikan informasi yang dibutuhkan
m.Kode (b) digunakan untuk data yang berkaitan dengan Mengakses lokasi