ARTIKEL
Judul
MONUMEN TUGU PERJUANGAN WIRA WIJAYA SAKTI DI DESA GALUNGAN, SAWAN, BULELENG (DITINJAU DARI LATAR BELAKANG,
FUNGSI DAN POTENSINYA SEBAGAI SUMBER BELAJAR SEJARAH DI SMA)
Oleh
I Ketut Agus Adijaya 1014021026
JURUSAN PENDIDIKAN SEJARAH FAKULTAS ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA SINGARAJA
MONUMEN TUGU PERJUANGAN WIRA WIJAYA SAKTI DI DESA GALUNGAN, SAWAN, BULELENG (DITINJAU DARI LATAR BELAKANG,
FUNGSI DAN POTENSINYA SEBAGAI SUMBER BELAJAR SEJARAH DI SMA)
Oleh :
I Ketut Agus Adijaya, (Nim 1014021026 ) (e-mail:[email protected])
Dr. I Ketut Margi, M.Si*)
Mahasiswa Jurusan Pendidikan Sejarah, Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) latar belakang pendirian Monumen Tugu Perjuangan Wijaya Sakti di Desa Galungan, Sawan,Buleleng; (2) fungsi serta nilai-nilai sejarah yang terkandung pada Monumen Tugu Perjuangan Wira Wijaya Sakti Desa Galungan; (3) potensi dari Monumen Tugu Perjuangan Wira Wijaya Sakti yang bisa dimanfaatkan sebagai sumber belajar sejarah di SMA. Dalam penelitian ini, data dikumpulkan dengan menggunakan metode kualitatif dengan tahap-tahap; (1) teknik penentuan lokasi penelitian, (2) teknik penentuan informan, (3) teknik pengumpulan data (observasi, wawancara, kajian dokumen), (4) teknik validasi data (triangulasi data, triangulasi metode), dan (5) teknik analisis data. Hasil penelitian menunjukkan (1) adanya peristiwa sejarah yang melatarbelakangi pembangunan Monumen Tugu Perjuangan Wira Wijaya Sakti yaitu peristiwa pertempuran antara pasukan pejuang lokal (Nyoman Ratep dan Ketut Neca) yang ikut tergabung dalam pasukan dari I Gusti Ngurah Rai melawan pasukan Belanda pada tanggal 12 Juni 1946 dalam rangka mempertahankan kemerdekaan NKRI. (2) Fungsi dari Monumen Tugu Perjuangan Wira Wijaya Sakti yaitu (a) fungsi edukatiif; (b) inspiratif; (c) rekreatif; dan Nilai-nilai yang terkadung di dalamnya yaitu : (a) pendidikan; (b) patriotisme; (c) persatuan dan kesatuan; (d) keindahan. (3) Potensi Monumen Tugu Perjuangan Wira Wijaya Sakti sebagai sumber belajar sejarah dapat dilihat pada aspek sejarah dan nilai-nilai yang terkadung pada monumen. Potensi ini dapat memberikan sumbangan pada pembelajaran sejarah di SMA kelas XII semester ganjil pada silabus dan RPP kurikulum 2013.
ABSTRACT
This research aims to identify (1) the grounds of the installation of Tugu Perjuangan Wira Wijaya Sakti Monument in Galungan Village, Sawan District, of Buleleng Regency; (2) the historical functions and values of the monument; (3) the potential of the monument as a learning source of history subject in senior high school. In the research, the data were collected using qualitative method through the steps (1) location determining technique, (2) informant determining technique, (3) data collection techniques (observation, interview, document investigation), (4) data validation technique (data triangulation, triangulation methods) and (5) data analysis technique. The results of the research indicated (1) a historical event as the background of the installation of Tugu Perjuangan Wira Wijaya Sakti Monument, which was a battle between the local militia forces (Nyoman Ratep dan Ketut Neca), which was a detachment of the armed forces led by I Gusti Ngurah Rai, against the Dutch military, on the day of 12 June 1946, a struggel to defend Indonesian newly-achieved sovereignty. (2) The functions of Tugu Perjuangan Wira Wijaya Sakti Monument includes (a) educative; (b) inspirative; (c) recreative; dan the values embedded in the monument comprises of: (a) educative value; (b) patriotism; (c) coalescence and unity; (d) beauty; (3) The potential of the Tugu Perjuangan Wira Wijaya Sakti monument as as a learning source of history subject in senior high school are available from the historical aspects and the values embedded into the monument. This potential could contribute to the history subject teaching and learning in senior high school, expecially class XII, odd semester on their syllabus and lesson plan for Curriculum 2013.
keywords: monument, functions and historical values, history subject learning sourc *) Dosen Pembimbing Artikel
PENDAHULUAN
Diawal kemerdekaan, Indonesia tetap memperjuangkan dan berusaha mempertahankan kemerdekaan dari bangsa asing yang ingin menegakkan kembali kekuasaannya di Indonesia. Dalam rangka mempertahankan kemerdekaan Indonesia, seluruh daerah berjuang mempertahankan wilayahnya dari Belanda yang dikenal bernama NICA (Netherlands Indies Civil
Administration). Perjuangan yang
dilakukan bangsa Indonesia diawal kemerdekaan tidak hanya melalui perundingan melainkan bentuk perlawanan secara fisik yang sering dikenal dengan revolusi fisik (Saputera, 2007: 202).
Selama mempertahankan kemerdekaan pada masa revolusi fisik
(1945-1950), Indonesia berada dalam kondisi “darurat perang” di beberapa daerah, salah satunya adalah di Bali. Perjuangan ini bermula dari usaha Belanda untuk mendirikan satu negara boneka di wilayah Indonesia bagian timur dengan mendaratkan kurang lebih 2000 pasukan Belanda di Bali pada tanggal 2 dan 3 Maret 1946 disertai tokoh-tokoh Bali yang pro Belanda. Letnan Kolonel I Gusti Ngurah Rai yang sangat menentang adanya
kolonialisme Belanda di Bali, kemudian mengadakan perjalanan ke Yogyakarta untuk mengadakan konsultasi dengan Markas Tertinggi mengenai pembinaan Resimen Sunda Kecil dan cara-cara menghadapi Belanda. Perkembangan situasi politik di pusat pemerintahan Republik Indonesia kurang menguntungkannya sebagai akibat dari perundingan Linggarjati yang menyatakan bahwa daerah kekuasaan de
fakto Republik Indonesia yang diakui
hanya terdiri dari Jawa, Madura, dan Sumatera. Hal itu berarti bahwa Bali tidak diakui sebagai bagian Republik Indonesia (Sudharmono, 1975: 124).
Melihat situasi yang semakin sulit dan pengawasan Belanda yang semakin ketat serta dukungan rakyat yang semakin lemah akibat kekejaman Belanda maka untuk menambah semangat rakyat diputuskan mengadakan perjalanan panjang dari Barat ke Timur. Perjalanan ini dikenal dengan nama long march atau perjalanan. Adapun tujuan dari long
march ini adalah untuk menyadarkan
dan membangkitkan kembali semangat perjuangan rakyat di setiap daerah, serta yang terpenting adalah untuk mengalihkan perhatian musuh ke kawasan Timur (Pidada, 1985:80).
Selama diadakan long march, I Gusti Ngurah Rai bersama pasukannya yang bernama pasukan Ciung Wanara sering dihadang oleh pasukan Belanda. Sehingga sering terjadi pertempuran antara pasukan Ciung Wanara dengan pasukan Belanda (NICA) yang mengakibatkan tidak sedikit menelan korban jiwa dari kedua belah pihak. Untuk mengenang jasa-jasa para pahlawan, pemerintah mendirikan monumen perjuangan sebagai tonggak peringatan perjuangan daerah menentang kolonialisme Belanda. Buleleng yang merupakan salah satu dari kabupaten yang ada di Bali ini memiliki banyak peninggalan yang bisa kita lihat terkait aksi para pejuang saat menentang kolonialisme Belanda. Salah satunya adalah Monumen Tugu Perjuangan Wira Wijaya Sakti.
Monumen yang berdiri di kawasan Desa Galungan ini, dapat dijadikan salah satu sumber belajar sejarah dan sekaligus memiliki peran vital sebagai media pewarisan nilai-nilai kebangsaan bagi generasi muda. Di mana saat ini makna dan nilai-nilai yang ada dibalik bangunan monumen tersebut tidak banyak dipahami oleh masyarakat khususnya para pemuda. Kaum pemuda hanya mengetahui
bahwa monumen ini adalah monumen perjuangan saja tanpa mengetahui arti dari simbol atau relief yang tergambar dari monumen tersebut.
Apabila dikaitkan dengan konteks pembelajaran sejarah, Monumen Tugu Perjuangan Wira Wijaya Sakti sebagai sumber belajar sejarah sangat sesuai untuk diterapkan pada kurikulum 2013 khususnya untuk pelajaran sejarah. Ini dapat dilihat dari kompetensi inti dan kompetensi dasar mata pelajaran sejarah pada kurikulum 2013 kelas XII. Pada kompetensi intinya siswa dituntut untuk bisa memahami, menerapkan, dan menganalisis pengetahuan faktual untuk memecahkan masalah, sedangkan pada kompetensi dasarnya siswa dituntut menganalisis perjuangan bangsa Indonesia dalam upaya mempertahankan kemerdekaan dari ancaman Jepang, Sekutu, dan Belanda. Saat ini kegiatan pembelajaran sejarah lebih banyak dilakukan di dalam kelas dan sumber-sumber yang dipakai untuk belajar masih terbatas, hanya mengandalkan LKS dan beberapa buku sumber yang tidak semua dimiliki oleh setiap siswa. Dalam proses pembelajaran, guru lebih dominan dalam menjelaskan atau memaparkan
sebuah materi sehingga kurangnya keaktifan siswa untuk berpikir kritis dalam mengikuti pembelajaran. Dalam hal ini, monumen dapat dijadikan sebagai sumber belajar untuk menambah pemahaman dan pengetahun siswa, yang dapat dilakukan baik dengan kunjungan maupun aktivitas yang berkaitan dengan karya tulis maupun tugas lainnya. Apabila dikaitkan dengan kedua kompetensi tersebut Monumen Tugu Perjuangan Wira Wijaya Sakti sangat sesuai untuk dijadikan sumber pembelajaran sejarah khususnya pada jenjang pendidikan SMA.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui latar belakang serta proses pembangunan, fungsi dan nilai-nilai yang terkandung pada Monumen Tugu Perjuangan Wira Wijaya Sakti serta potensi dari Monumen Tugu Perjuangan Wira Wijaya Sakti sebagai sumber belajar sejarah di SMA. Kajian teori yang digunakan dalam penelitian ini menyangkut latar belakang pendirian monumen yang bertujuan untuk mengabdikan jiwa pejuang para pahlawan dari masa ke masa. Monumen juga memiliki beberapa fungsi di antaranya (1) fungsi edukatif yakni monumen dapat dijadikan sebagai
media pembelajaran, (2) fungsi inspiratif yakni monumen dapat dijadikan inspirasi menyangkut sikap-sikap tokoh yang diabadikan pada monumen untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik, (3) fungsi rekreatif yakni pemanfaatan monumen sebagai hiburan bagi masyarakat. Selain memiliki fungsi, monument tersebut juga mengandung nilai sejarah yang amat besar. Nilai sejarah yang terkandung antara lain nilai pendidikan, nilai pendidikan, nilai patriotisme, nilai persatuan dan kesatuan dan nilai keindahan.
METODE PENELITIAN
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif. Metode kualitatif diantaranya terdapat (1) teknik penentuan lokasi penelitian. Lokasi yang dituju yaitu Monumen Tugu Perjuangan Wijaya Sakti di Desa Galungan; (2) teknik penentuan informan. Informan yang dituju untuk memperoleh data yaitu Nyoman Ratep, Ketut Neca, Made Gelgel, Gede Wenten, I Gede Surya, Ni Made Tian Wihantini, I Gede Darna, dan Ketut Tawan. (3) teknik pengumpulan data (observasi, wawancara, kajian dokumen), (4) teknik validasi data
(triangulasi data, triangulasi metode), dan (5) teknik analisis data.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Latar Belakang Pendirian Monumen Tugu Perjuangan Wira Wijaya Sakti.
Latar belakang pendirian sebuah monumen tentu didasari oleh beberapa alasan dan tujuan tertentu. Pendirian monumen juga tidak terlepas dari faktor-faktor yang mempengaruhi, sehingga dibangun monumen pada suatu daerah. Faktor-faktor tersebut meliputi faktor historis, faktor politik, faktor budaya,
maupun faktok pendidikan. Pendirian
Monumen Tugu Perjuangan Wira Wijaya Sakti di Desa Galungan tidak terlepas dari faktor historis yang melatarbelakanginya. Di lokasi Monumen Tugu Perjuangan Wira Wijaya Sakti inilah pernah terjadi peristiwa pertempuran antara para pejuang dengan Belanda dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Peristiwa itu diawali dari
berita proklamasi 17 Agustus 1945, yang secara resmi dibawa oleh Mr. Ketut Puja dari Jakarta pada tanggal 23 Agustus 1945. Beliau duduk sebagai Wakil dari Sunda Kecil dalam persiapan kemerdekaan. Pemerintah pusat mengangkatnya menjadi gubernur
Sunda Kecil dengan Singaraja ditetapkan menjadi ibu kota provinsi
(Tirtayasa, 2000: 25). Untuk
mempertahankan proklamasi dan Pemerintah Sunda Kecil maka dibentuk pasukan pertahanan, di mana I Gusti Ngurah Rai diangkat sebagai komando kepala TKR (Tentara Keamanan Rakyat) Sunda Kecil. Setelah mendapat pengakuan dari markas besar TKR di Jogjakarta, I Gusti Ngurah Rai menghimpun dan melakukan ikhtiar untuk mempersatukan pasukan di Bali. Dengan demikian di Bali dapat membentuk suatu organisasi pertahanan dengan nama MBO (Markas Besar Oemum) yang berkedudukan di Desa Munduk Malang, Tabanan (Ardana, 2013: 43).
Melihat situasi Bali yang semakin sulit dan pengawasan Belanda yang semakin ketat serta dukungan rakyat yang semakin lemah akibat kekejaman Belanda maka untuk menambah semangat rakyat diputuskan mengadakan perjalanan panjang dari Barat ke Timur (Pidada, 1985 : 80). Hal ini juga ditinjau dari sudut pandang gerilya, jika pertempuran hanya di satu tempat dalam lingkungan itu-itu saja akan membawa akibat buruk baik bagi pasukan maupun bagi rakyat yang hidup
disekitar tempat tersebut. Apalagi menghadapi musuh, NICA dalam jumlah besar, terkenal dengan garangnya. Tiap kali kena gempuran pemuda gerilya, NICA tidak segan-segan main bakar desa dan menyiksa rakyat. Tiap desa yang berdekatan dengan lokasi pertempuran, mesti dibakar Belanda dan penduduknya disiksa, yang dicurigai digiring kemudian secara keji dibunuh tanpa ampun. Sehingga tanggal 1 Juni 1946 diputuskan mengadakan perjalanan panjang oleh Induk Pasukan MBO di bawah pimpinan Letkol Gusti Ngurah Rai dari Bengkel Anyar menuju arah Timur (Pendit, 1954:182).
Dalam perjalanan menuju ke daerah Timur Pasukan MBO berkali-kali mengalami pertempuran atau baku tembak dengan tentara NICA. Pada tanggal 12 Mei 1946 dan 10 Juni 1946 terjadi pertempuran yang dikenal dengan penghadangan di Km 16/17 Banjar Pangkung Bangka Desa Gitgit (Tirtayasa, 2000 : 83-85). Setelah melakukan penghadangan, pasukan MBO yang dipimpin oleh I Gusti Ngurah Rai melanjutkan perjalanan ke timur dengan melewati Desa Galungan. Pada tanggal 12 Juni 1946 terjadi pertempuran hebat antara pasukan MBO
yang dipimpin oleh I Gusti Ngurah Rai dengan pasukan NICA. Pertempuran ini membawa kemenangan dipihak pejuang. Kemenangan ini tidak telepas peran serta beberapa warga desa sebagai mata-mata dalam mencari dan memberikan informasi sehingga mempermudah dalam melakukan penyerangan oleh para pejuang (wawancara dengan Ketut Neca tanggal 21 Pebruari 2014). Selesai melakukan penyerangan, pasukan I Gusti Ngurah Rai kembali ke daerah Nangka yaitu daerah desa Lemukih menyusun rencana perjalanan berikutnya dan malam harinya pasukan Gabungan, MBO, DPRI, ALRI, TRI berangkat meninggalkan wilayah Buleleng Timur menuju ke Blandingan, Bangli (wawancara dengan Nyoman Ratep pada tanggal 21 Pebruari 2014).
Guna mengenang dan menandai kebesaran perjuangan dalam mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia, maka dibangunlah sebuah monumen di desa Galungan. Monumen tersebut bernama “Monumen Tugu Perjuangan Wira Wijaya Sakti”. Adapun arti dari nama monumen tersebut yaitu, Wira artinya perwira (pejuang) yang berani, Wijaya artinya kemenangan, selalu menang dan Sakti
artinya tak terkalahkan. Pendirian monumen ini dilaksanakan sekitar akhir tahun 60-an dan kemudian disahkan oleh Bupati Buleleng Hartawan Mataram (wawancara dengan I Gede Darna pada tanggal 2 Maret 2014).
Fungsi Serta Nilai-nilai Sejarah yang Terkandung Pada Monumen
Keberadaan Monumen Tugu Perjuangan Wira Wijaya Sakti secara umum sangat penting bagi masyarakat khususnya generasi muda. Sebab monumen tersebut mempunyai fungsi serta nilai-nilai luhur yang harus diwariskan kepada generasi berikutnya. Monumen tersebut memiliki fungsi edukatif yakni pengingat peristiwa yang pernah terjadi di Desa Galungan terkait perjuangan para pejuang dalam mempertahankan kemerdekaan. Memiliki fungsi inspiratif yakni
memberikan inspirasi bagi masyarakat
agar dapat meneladani sikap dimiliki
para pejuang, serta fungsi rekreatif
yakni memberikan tempat hiburan yang sifatnya mendidik bagi masyarakat. Nilai-nilai luhur yang terkandung dalam monumen tersebut juga hendaknya diwariskan kepada generasi muda, salah satunya melalui sekolah. Sekolah-sekolah terdekat yang ada di Kecamatan Sawan dapat menjadikan monumen
tersebut sebagai media untuk mewariskan nilai luhur para pejuang yang diabadikan pada monumen tersebut. Nilai-nilai tersebut yaitu nilai pendidikan, keindahan, patriotisme dan nilai persatuan dan kesatuan yang dapat diwariskan kepada generasi muda. Nilai-nilai tersebut hendaknya diteladani serta dijadikan sebagai pedoman hidup untuk melangkah ke depan.
Potensi dari Monumen Tugu Perjuangan Wira Wijaya Sakti yang bisa dimanfaatkan sebagai Sumber Belajar Sejarah di SMA
Sumber belajar adalah segala sesuatu yang dapat memberikan kemudahan-kemudahan kepada peserta didik dalam memperoleh sejumlah informasi, pengetahuan, pengalaman, dan keterampilan dalam proses belajar-mengajar (Rahadi 2008: 48). Dalam pembelajaran sejarah, ada banyak jenis sumber belajar yang dapat dijadikan sumber belajar sejarah untuk mendapatkan informasi. Selain penjelasan dari guru maupun buku teks, seseorang dapat memperoleh informasi dengan memanfaatkan museum, monumen, perpustakaan, arsip nasional, arsip daerah sebagai tempat untuk mendapatkan pemahaman yang lebih
mendalam. Salah satu jenis sumber belajar yang dapat dijadikan sebagai sumber belajar sejarah adalah monumen. Salah satu monumen yang bisa dipakai yakni Monumen Tugu Perjuangan Wira Wijaya Sakti (wawancara dengan Made Gelgel (40 tahun) tanggal 11 Januari 2014).
Monumen Tugu Perjuangan Wira Wijaya Sakti memiliki potensi dalam dunia pendidikan untuk dijadikan sebagai sumber belajar sejarah di sekolah-sekolah terdekat. Potensi yang dimaksud adalah aspek historis serta nilai-nilai yang terkandung pada monumen. Dari aspek historis, Monumen Tugu Perjuangan Wira Wijaya Sakti merupakan simbol atau penanda pernah terjadinya peristiwa bersejarah pada masa mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Di lokasi monumen ini pasukan pejuang yang dipimpin oleh I Gusti Ngurah Rai yang sedang melakukan long march ke timur terjadi kontak senjata dengan pasukan Belanda. Pertempuran itu terjadi pada tanggal 12 Juni 1946, di akhir pertempuran para pejuang berhasil mengalahkan pasukan Belanda. Jika dikaitkan dengan silabus, peristiwa bersejarah tersebut dapat dikaitkan pada silabus SMA kelas XII semester ganjil
pada mata pelajaran sejarah dengan Kompetensi Dasar (KD) “Menganalisis perjuangan bangsa Indonesia dalam upaya mempertahankan kemerdekaan dari ancaman Jepang, Sekutu dan Belanda”, Standar Kompetensi (SK) “Perjuangan dan perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda dalam rangka mempertahankan kemerdekaan”. Nilai-nilai yang terkadung pada monumen juga dapat disisipkan pada RPP kelas XII semester ganjil, karena dalam Rencana Pelaksaan Pembelajaran (RPP) dibagian tujuan pembelajaran disisipkan karakter-karakter yang harus dibangun setiap materi pembelajaran yang akan diajarkan oleh guru. Nilai-nilai yang bisa disisipkan pada RPP dari Monumen Tugu Perjuangan Wira Wijaya Sakti misalnya nilai ptriotisme, nilai persatuan dan kesatuan.
SIMPULAN
Secara garis besar Latar belakang pendirian Monumen Tugu Perjuangan Wira Wijaya Sakti di Desa Galungan adalah sebagai suatu peristiwa yang tidak lepas dari tempat yang dijadikannya basis dari perjuangan yang dilakukan oleh para pejuang pada masa perjuangan kemerdekaan
Indonesia. Dalam rangka
Indonesia, seluruh daerah termasuk di Bali berjuang mempertahankan wilayahnya dari ancaman pendudukan pasukan NICA. Melihat situasi di Bali semakin sulit dan pengawasan Belanda yang semakin ketat serta dukungan rakyat yang semakin lemah akibat kekejaman Belanda maka untuk menambah semangat rakyat diputuskan mengadakan perjalanan panjang dari Barat ke Timur. Perjalanan tersebut dikenal dengan “long march” . Pada tanggal 12 Juni 1946 pasukan yang dipimpin oleh I Gusti Ngurah Rai tiba di Desa Galungan. Di desa inilah terjadi pertempuran hebat antara pasukan MBO yang dipimpin oleh I Gusti Ngurah Rai dengan pasukan NICA. Dalam pertempuran tersebut pasukan yang dipimpin oleh I Gusti Ngura Rai berhasil memperoleh kemenangan di desa ini. Guna mengenang dan menandai kebesaran perjuangan dalam
mempertahankan kemerdekaan Indonesia, serta untuk membangkitkan
semangat patriotisme generasi muda sekarang dan yang akan datang, maka dibangunlah sebuah monumen yang berlokasi di desa Galungan. Monumen ini diberi nama Monumen Tugu Perjuangan Wira Wijaya Sakti yang dirintis dan dibangun oleh tiga desa
yaitu Desa Galungan, Desa Sekumpul, dan Desa Lemukih. Pendirian monumen ini dilaksanakan sekitar akhir tahun 60-an d60-an kemudi60-an disahk60-an oleh Bupati Buleleng Hartawan Mataram.
Monumen Tugu Perjuangan Wira Wijaya Sakti juga memiliki beberapa fungsi seperti fungsi edukatif, inspiratif dan rekreatif, adapun nilai-nilai yang terkandung pada monumen ini seperti nilai pendidikan, keindahan, patriotisme dan nilai persatuan dan kesatuan yang dapat diwariskan kepada generasi muda.
Dalam dunia pendidikan, melihat dari aspek sejarah dari Monumen Tugu Perjuangan Wira Wijaya Sakti dapat dijadikan sebagai sumber belajar tambahan untuk memperkaya pengetahuan siswa didalam memahami pelajaran sejarah dengan melihat langsung peninggalan benda bersejarah dilingkungan sekitar. Metode yang dapat digunakan adalah metode karya wisata. Metode ini masih jarang digunakan, sehingga untuk mencapai tujuan belajar maksimal maka perlu rencana yang matang agar proses pembelajaran dapat berjalan efektif dan sesuai dengan apa yang sudah direncanakan. Bila dikaitkan dengan silabus, aspek sejarah dari Monumen
Tugu Perjuangan Wira Wijaya Sakti dapat dilihat pada silabus SMA pada semester ganjil yaitu pada Kompetensi Dasar “Mengidentifikasi dalam usaha-usaha memperjuangkan kemerdekaan Indonesia”, pada materi “Perjuangan dan perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda dalam rangka mempertahankan kemerdekaan”.
KATA PERSEMBAHAN
Sebagai akhir dari tulisan ini, penulis mengucapkan banyak terimakasih kepada bapak Dr.I Ketut Margi, M.Si selaku pembimbing I dan bapak I Ketut Sedana Arta selaku pembimbing II yang telah banyak memberikan bimbingan, motivasi, arahan dan saran `sehingga penulis bisa menyusun artikel ini dengan tepat waktu.
DAFTAR PUSTAKA
Ardana, I Gede. 2013. Monumen Tanah
Aron sebagai Sumber Belajar Sejarah Bagi Generasi Muda di Desa Bhuana Giri, Bebandem, Karangasem. Skripsi. Universitas
Pendidikan Ganesha : Singaraja. Pendit, Nyoman S. 1954. Bali Berjuang.
Jakarta: Gunung Agung.
Pidada, Ida Bagus Astika. 1985. Sistem
Komunikasi dalam Revolusi Fisik di Bali 1945-1950). Fakultas
Sastra Universitas Udayana. Denpasar.
Rahadi, Aristo. 2008. Belajar,
Pembelajaran dan Sumber Belajar. Jakarta: Refika Utama
Saputera, I Gusti Bagus. 2007. Merdeka
Melalui Diplomasi (Perjuangan Ida Anak Usia Gde Agung).
Denpasar: Yayasan Usaha Pekerja
Sudharmono. 1975. 30 Tahun Indonesia
Merdeka (1945-1949). Jakarta:
PT Citra Lamtoro Gung Persada. Tirtayasa, Gusti Bagus Meraku, dkk.
2000. Sejarah Perjuangan
Kemerdekaan Rakyat Buleleng.
Bandung: Ganeca Exact.
Wawancara dengan Made Gelgel, tanggal 11 Januari 2014.
Wawancara dengan Ketut Neca dan Nyoman Ratep, tanggal 21 Pebruari 2014
Wawancara dengan I Gede Darna, tanggal 2 Maret 2014.