OPTIMASI BIAYA DAN WAKTU PROYEK PERUMAHAN DENGAN CARA CRASH PROGRAM DENGAN MENGGUNAKAN METODE TIME COST TRADE OFF (STUDI LOKASI PERUMAHAN MUTIARA GRAHA AGUNG DI GRESIK).

111 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

OPTIMASI BIAYA DAN WAKTU PROYEK PERUMAHAN DENGAN CARA CRASH PROGRAM DENGAN MENGGUNAKAN METODE TIME COST TRADE OFF (STUDI LOKASI PERUMAHAN MUTIARA GRAHA AGUNG

DI GRESIK)

TUGAS AKHIR

Diajukan oleh : MINANUR ROHMAN

NPM : 0553010057

PPROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL

FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN

(2)

OPTIMASI BIAYA DAN WAKTU PROYEK PERUMAHAN DENGAN CARA CRASH PROGRAM DENGAN MENGGUNAKAN METODE TIME COST TRADE OFF (STUDI LOKASI PERUMAHAN MUTIARA GRAHA AGUNG

DI GRESIK)

TUGAS AKHIR

Diajukan Untuk Mememuhi Persyar atan Dalam Memperoleh Gelar Sar jana Teknik ( S1 )

J ur usan Teknik Sipil

Diajukan oleh : MINANUR ROHMAN

NPM : 0553010057

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL

FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN

(3)

LEMBAR PENGESAHAN TUGAS AKHIR

OPTIMASI BIAYA DAN WAKTU PROYEK PERUMAHAN DENGAN CARA CRASH PROGRAM DENGAN MENGGUNAKAN METODE TIME COST TRADE OFF (STUDI LOKASI PERUMAHAN MUTIARA GRAHA AGUNG

DI GRESIK)

Telah dipertahankan dihadapan dan diter ima oleh Tim Penguji Tugas Akhir Pr ogram Studi Teknik Sipil FTSP UPN ”Veter an” J awa Timur

pada tanggal, 28 November 2012

Mengetahui

Dekan Fakultas Teknik Sipil Dan Per encanaan

Ir. NANIEK RATNI J AR., M.Kes. NIP. 19590729 198603 2 00 1 DosenPembimbing :

PembimbingUtama

I NYOMAN DITA PAHANG PUTRA, ST., MT. NPT. 3 7003 00 0175 1

PembimbingPendamping

Dra. ANNA RUMINTANG, MT. NIP. 19620630 198903 2 00 1

1. Penguji II

Ir. ALI ARIFIN, MT.

3. Penguji III

Ir. Diah Ratr i J uliani, MT. Tim Penguji :

2. Penguji I

(4)

OPTIMASI BIAYA DAN WAKTU PROYEK PERUMAHAN DENGAN CARA CRASH PROGRAM DENGAN MENGGUNAKAN METODE TIME COST

TRADE OFF

(STUDI LOKASI PERUMAHAN MUTIARA GRAHA AGUNG DI GRESIK)

Oleh :

MINANUR ROHMAN 0553010057

ABSTRAK

Sering terjadi suatu proyek harus diselesaikan lebih cepat dari waktu normalnya. Dalam hal ini pimpinan proyek (Project Manager) dihadapkan kepada masalah bagaimana mempercepat penyelesaian proyek dengan biaya yang minimal. Oleh karena itu perlu dipelajari terlebih dahulu hubungan antara waktu dan biaya. Dan analisis mengenai pertukaran antara waktu dan biaya atau Analisis Time Cost Trade Off (TCTO Analysis).

Penelitian ini mengambil obyek pada pengerjaan rumah type 50 yang direncanakan dibangun sebanyak 20 unit di Jalan Wahidin Sudiro Husodo Gresik. Proyek ini dikerjakan oleh PT Graha Agung Propertindo.

Dari hasil analisis diketahui bahwa proyek dapat diselesaikan dengan lebih cepat dari yang direncanakan perusahaan dengan durasi optimum selama 240 hari, atau lebih cepat 47 hari dari yang direncanakan perusahaan selama 287 hari. Dari perhitungan dapat disimpulkan percepatan proyek hingga 240 hari dengan menambah jumlah jam kerja pada aktivitas yang berada di lintasan kritis akan menurunkan jumlah total biaya yang harus dikeluarkan sebesar Rp 10,147,763.00 dari sebesar Rp. 1,952,750,000.00 turun menjadi Rp. 1,942,602,236.80, atau turun 0,61% dari nilai total biaya proyek, dengan perincian sebagai berikut: (a) Akibat penambahan jam lembur, biaya langsung naik sebesar Rp. 14,715,237.80 (b) Akibat pengurangan durasi selama 47 hari biaya tak langsung turun sebesar Rp. 24,863,000.00

(5)

KATA PENGANTAR

Dengan segala puji syukur kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Tugas Akhir ini sebagai salah satu syarat akademis dalam menyelesaikan program pendidikan Strata 1 (S-1) di Jurusan Teknik Sipil - FTSP Universitas Pembangunan Nasional “ Veteran” Jawa Timur.

Dalam menyusun Tugas Akhir yang berjudul “OPTIMASI BIAYA DAN WAKTU PROYEK PERUMAHAN DENGAN CARA CRASH PROGRAM DENGAN

MENGGUNAKAN METODE TIME COST TRADE OFF (STUDI LOKASI

PERUMAHAN MUTIARA GRAHA AGUNG DI GRESIK)“ ini, penulis berusaha

menerapkan segala sesuatu yang penulis peroleh baik dari bangku kuliah maupun dari literatur yang berkaitan, serta arahan-arahan dari dosen pembimbing. Penulis sadar, dengan segala keterbatasan yang ada, laporan ini masih jauh dari kesempurnaaan.

Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :

1. 1. Ir. Naniek Ratni JAR., M.Kes , selaku Dekan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan UPN “Veteran” Jawa Timur.

(6)

3. I Nyoman Dita Pahang Putra, ST., MT. Selaku Dosen Pembimbing utama di Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan UPN “Veteran” Jawa Timur yang senantiasa meluangkan waktunya untuk asistensi.

4. Dra. Anna Rumintang, MT., Selaku Dosen Pembimbing pendamping di Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan UPN “Veteran” Jawa Timur, yang senantiasa meluangkan waktunya untuk asistensi.

5. Orang tua yang telah banyak mendukung dalam semangat belajar dan membimbing dalam hal apapun.

6. Seluruh rekan–rekan dan semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan Tugas Akhir ini.

7. Retno Triwilujeng serta keluarga yang telah memberikan dukungan serta semangat.

8. Seluruh para staf Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan yang telah membatu urusan akademik.

9. Teman-teman Teknik Sipil atas dukungan dan semangatnya sehinngga Tugas Akhir ini selesai dengan baik.

Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam penyusunan Tugas Akhir. Oleh karena itu penulis menerima semua kritik dan saran dari para pembaca. Semoga laporan Tugas Akhir ini bermanfaat bagi penulis khususnya dan pembaca pada umumnya.

Surabaya,

(7)

DAFTAR ISI

ABSTRAK

KATA PENGANTAR DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN

BAB I : PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Permasalahan ... 2

1.3 Tujuan Penelitian ... 3

1.4 Batasan Masalah ... 3

1.5 Data Teknik ... 4

BAB II : TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penjadwalan ... 6

2.1.1 Definisi Jadwal ... 6

2.1.2 Perencanaan Jadwal Proyek... 6

2.1.3 Penjadwalan Dalam Proyek ... 7

2.2 Metode PERT ... 19

2.3 Metode CPM ... 20

(8)

2.5 Analisis Time Cost Trade Off ... 22

2.5.1 Hubungan Optimasi Waktu dan Biaya ... 22

2.5.2 Hal-hal Khusus Hubungan Optimasi Waktu dan Biaya ... 25

2.5.3 Pertukaran Waktu dan Biaya ... 27

BAB III : METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Obyek Penelitian ... 29

3.2 Proses Penelitian ... 29

3.3 Jenis dan Metode Pengumpulan Data ... 29

3.3.1 Jenis Data... 29

3.3.2 Metode Pengumpulan Data ... 30

3.4 Metode Penelitian ... 31

BAB IV : ANALISIS DAN PEMBAHASAN 4.1 Aktivitas Pekerjaan ... 32

4.2 Penyusunan Network Diagram... 32

4.3 Lintasan Kritis ... 38

4.4 Perhitungan Produktivitas Harian Normal ... 38

4.5 Menentukan Normal Cost ... 41

4.6 Alternatif Percepatan/Crashing Scenario ... 55

4.7 Produktivitas Harian Setelah Percepatan ... 56

4.8 Perhitungan Crash Duration dan Crash Cost ... 59

4.9 Perhitungan Cost Slope ... 67

(9)

4.11 Biaya Tak Langsung ... 70 4.12 Analisis Time Cost Trade Off ... 71 4.13 Pembahasan ... 71

BAB VI : PENUTUP

5.1 Kesimpulan ... 73 5.2 Saran ... 73

(10)

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Kunci Pada Diagram Preseden ... 16 Tabel 4.1 Rincian Biaya Tak Langsung Per Hari ... 71 Tabel 4.2 Perbandingan Biaya Proyek Sebelum dan Sesudah Crashing

(11)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1 Peta Lokasi ... 5

Gambar 2.1 Hubungan Biaya dan Waktu Dalam Proyek ... 24

Gambar 2.2 Hubungan Khusus Biaya dan Waktu ... 25

Gambar 2.3 Hubungan Khusus Biaya dan Waktu (A) ... 25

Gambar 2.4 Hubungan khusus Biaya dan Waktu (B) ... 26

Gambar 3.1 Flow Chart Metodologi Penelitian ... 31

Gambar 4.1 Project normal 1 unit rumah ... 34

Gambar 4.2 Project normal 20 unit rumah ... 35

Gambar 4.3 Project crash 1 unit rumah ... 36

Gambar 4.4 Program crash 20 unit rumah ... 37

Gambar 4.1 Perbandingan antara durasi normal dengan durasi crash ... 41

Gambar 4.2 Selisih antara durasi normal dengan durasi crash ... 42

Gambar 4.3 Perbandingan antara normal cost dengan crash cost ... 71

(12)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Rencana Anggaran Biaya Lampiran 2 Daftar Analisa Harga Satuan

(13)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dengan berkembanganya pembangunan properti di Indonesia, serta semakin kompetitifnya persaingan maka faktor waktu menjadi sangat penting disamping faktor biaya dalam penyelesaian sebuah proyek. Makin cepat proses penyelesaian ini maka biaya overhead proyek dapat dihemat serta proses pemasaran perumahan tersebut dapat dipercepat.

Untuk itu diperlukan cara agar penyelesaian struktur rumah dapat dikerjakan dengan cepat. Dalam kasus ini penulis akan mengetengahkan masalah yang dihadapi oleh pengusaha konstruksi seperti investor dan kontraktor agar dapat melaksanakan pekerjaannya dengan waktu yang lebih pendek dan biaya minimum. Untuk itu penulis dalam hal ini akan mengangkat suatu obyek penelitian perumahan karena untuk memenuhi kebutuhan rumah haruslah cepat dan dapat segera digunakan oleh masyarakat.

(14)

tenaga kerja, fasilitas kerja dan lain–lain guna mencapai tujuan yang ditetapkan pihak pemberi tanggung jawab.

Beberapa developer sering mengalami pekerjaan proyek pembangunan perumahan perumahan. Mengingat proyek perumahan ini selalu ada sesuai dengan pertumbuhan jumlah penduduk maka proyek pembangunan perumahan ini akan sering dilakukan dan menjadi proyek yang rutin sehingga proyek ini akan selalu berulang.

Untuk itu pengusaha akan berfikir bagaimana caranya melaksanakan proyek dengan kurun waktu yang relatif singkat dan mengoptimalkan biaya. Pemberlakuan crash program dapat dilakukan dengan cara penambahan jam kerja yaitu dengan

pemberlakuan jam kerja lembur (over time) tanpa menambah jumlah tenaga kerja. PT Graha Agung Propertindo pada saat ini sedang mengerjakan proyek Proyek Perumahan Mutiara Graha Agung di Gresik. Adapun type rumah yang dikerjakan terdiri dari tiga type 42, 45, dan 50. Penelitian mengambil obyek pada pengerjaan rumah type 50 yang direncanakan dibangun sebanyak 20 unit.

1.2 Per masalahan

Dari uraian latar belakang di atas dapat disampaikan permasalahan sebagai berikut:

1. Berapa biaya dan durasi normal untuk menyelesaikan rumah tipe 50

(15)

1.3 Tujuan Penelitian

Sesuai dengan permasalahan yang disampaikan, maka tujuan dari penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui biaya dan durasi normal untuk menyelesaikan rumah tipe 50 2. Untuk mengetahui dan menganalisis biaya dan durasi percepatan yang dilakukan

untuk menyelesaikan rumah tipe 50

1.4 Batasan Masalah

Batasan permasalahan yang digunakan untuk lebih memfokuskan pembahasan pada permasalahan pokok dan tidak menyimpang dari topik yang akan dibahas. Adapun batasan-batasan dalam penilitian ini adalah sebagai berikut:

1. Segala aktifitas pekerjaan yang digunakan sebagai obyek pembahasan dalam Tugas Akhir ini berdasarkan pada RAB proyek yang diperoleh dari Perumahan Mutiara Graha Agung di Gresik yakni PT Graha Agung Propertindo.

2. Harga satuan diasumsikan tidak mengalami perubahan.

3. Langkah crash program yang ditempuh yaitu dengan cara menambah jam kerja (lembur) tanpa disertai penambahan tenaga kerja.

4. Waktu kerja lembur selama 2 jam / hari disesuaikan dengan data proyek.

5. Tidak meninjau kenaikan biaya satuan pekerjaan dan bahan proyek, baik biaya langsung, maupun biaya tak langsung akibat inflasi, kebijakan pemerintahan, bencana alam dan faktor-faktor lain yang secara langsung maupun tidak langsung mengakibatkan kenaikan biaya.

(16)

7. Oleh karena kompleksnya jadwal proyek yang ditinjau dan sangat banyaknya aktifitas-aktifitas yang terkait, maka dalam proposal tugas akhir ini ditekankan pada pelaksanaan pembangunan rumah tipe 50 sedangkan kegiatan lain seperti perizinan proyek dan lain-lain tidak dibahas.

8. Kasus proyek pembangunan yang akan direncanakan ini dibuat berdasarkan proyek yang sedang dikerjakan di Perumahan Mutiara Graha Agung.

9. Dalam hal ini, digunakan 6 Tim, diantaranya 4 Tim konstruksi dan 2 tim finishing.

1.5 Data Teknik

Untuk mengetahui gambaran obyek studi maka dibawah ini diberikan data data teknik studi:

Nama Proyek : Pembangunan Rumah Type 50 sebanyak 20 unit Lokasi : Jl. Wahidin Sudiro Husodo Gresik

(17)
(18)

BAB II

TINJ AUAN PUSTAKA

2.1 Penjadwalan 2.1.1 Definisi J adwal

Berdasarkan beberapa literatur terdapat beberapa definisi tentang jadwal proyek. Berikut ini beberapa definisi dari jadwal proyek menurut beberapa literature yang berbeda:

1. Jadwal waktu proyek merupakan alat yang dapat menunjukkan kapan berlangsungnya setiap kegiatan (Dipohusodo, 1996).

2. Penjadwalan merupakan fase menterjemahkan suatu perencanaan ke dalam suatu diagram-diagram yang sesuai dengan skala waktu (Nugraha, 1985).

Dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa jadwal proyek merupakan alat untuk menunjukkan kapan berlangsungnya masing-masing kegiatan sesuai dengan perencanaan dalam sebuah proyek yang digambarkan dalam bentuk diagram-diagram sesuai skala waktu.

2.1.2 Perencanaan J adwal Proyek

(19)

Dalam merencanakan jadwal sebuah proyek banyak hal yang harus kita ketahui terlebih dahulu sehingga jadwal yang sudah kita buat dapat benar-benar dilaksanakan. Suatu jadwal yang sudah sama belum tentu dapat dilaksanakan dalam proyek serupa ditempat yang berbeda. Hal ini berkaitan dengan karakteristik masing-masing proyek yang berbeda-beda satu dengan yang lain.

Dalam beberapa kondisi, jadwal proyek dapat mengalami perubahan dari yang telah direncanakan semula. Perubahan itu dapat berupa keterlambatan yang berupa keterlambatan yang mengakibatkan durasi pelaksanaan proyek menjadi lebih panjang atau bahkan dapat pula jadwal yang terjadi lebih maju dari rencana semula sehingga durasi pelaksanaan menjadi lebih pendek. Setiap perubahan dalam jadwal proyek tentu saja mengakibatkan perubahan biaya. Hal inilah yang perlu diperhatikan oleh tim manajemen proyek. Jangan sampai biaya yang terjadi akibat perubahan jadwal mengalami pembengkakan yang luar biasa.

2.1.3 Penjadwalan Dalam Pr oyek

Merencanakan jadwal dalam proyek merupakan hal yang sangat menentukan keberhasilan proyek itu sendiri. Banyak hal yang harus dipertimbangan dalam membuat jadwal. Salah satu kriterianya adalah bahwajadwal yang kita buat dapat dibaca dan dimengerti oleh beberapa pihak yang berkepentingan dengan jadwal proyek sehingga dapat benar-benar dilaksanakan sesuai rencana. Untuk itu aktifitas pelaksanaan pekerjaan konstruksi secara grafis dapat dilukiskan dalam beberapa metode, antara lain :

1. Diagram Balok (Gant Bar Chat)

(20)

3. Diagram Panah (Arrow Diagram)

4. Diagram Preseden (Precedence Diagram) 5. Diagram Skala Waktu (Time Scale Diagram)

Masing-masing metode memiliki ciri-ciri sendiri dan dipakai secara kombinasi pada proyek-proyek konstruksi (Nugraha, 1985). Tiap-tiap metode tersebut juga memiliki keuntungan dan kelemahan masing-masing. Berikut ini akan dibahas lebih lanjut tentang masing-masing metode tersebut dan contoh penggunaannya untuk proyek pembuatan jembatan. Berikut ini beberapa definisi tentang metode-metode tersebut:

1. Diagram balok

(21)

Gambar Diagram Balok :

Tahun 1985

No. Macam Kegiatan Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul 1 Galian Tanah 1 & 2 2 Plat pondasi 3 3 Plat pondasi 4 4 Tembok pondasi 5 5 tembok pondasi 6 6 plat jembatan 7 7 urug balik 8 8 urug balik 9

Sumber : Nugraha, 1985

Pada tahap evaluasi, bagan balok digunakan untuk mengetahui sejauh mana perkembangan pekerjaan. Seperti dapat dilihat pada gambar berikut:

Gambar Diagram Balok

A

C

B

D

W a k t u e v a l u a s i W a k t u

(22)

Keterangan :

a. Pekerjaan A seharusnya sudah selesai. b. Pekerjaan B seharusnya sudah mulai. c. Pekerjaan C sedang berlangsung. d. Pekerjaan D belum berlangsung. Keuntungan Diagram Balok:

a. Sederhana dan mudah dimengerti oleh semua tingkat manajemen sehingga dapat diterima sdecara luas.

b. Merupakan alat perencanaan dan penjadwalan yang luas yang hanya memerlukan sedikit penyempurnaan (revisi) dan pembaharuan (updating) dari pada sistem-sistem yang lebih canggih.

Kelemahan Diagram Balok:

a. Hubungan antar aktifitas tidak dapat dilihat dengan jelas. b. Sulit dipergunakan dalam pengerjaan pengawasan.

c. Alternatif untuk memperbaiki jadwal pelaksanaan yang lain tidak dapat dibaca pada Diagram Balok.

(23)

2. Diagram panah

Gambar Diagram Panah

aktifitas

Mulai

Akhir

durasi

Sumber : Nugraha, 1985

Metode Network Planning pertama kali ditemukan pada tahun 1957 pada saat US Navy menghadapi masalah yang cukup rumit dalam merencanakan penembakan peluru kendali jenis Polaris. Pada saat itu jaringan kerja yang dipakai adalah PERT (Project Evaluation and Review Technique). Kemudian pada tahun 1958 perusahaan bahan kimia Du Pont di USA menemukan metode CPM (Critical Path Method), dalam memecahkan kesulitan-kesulitan proses fabrikasi. Metode CPM yang ditemukan tersebut berupa diagram network yang hampir sama dengan PERT.

Sejak saat itu Network Planning mulai dan dipakai dalam berbagai bidang kegiatan antara lain militer, perusahaan, pekerjaan-pekerjaan teknik, administrasi dan sebagainya. Prinsip Network Planning adalah hubungan ketergantungan antara bagian-bagian pekerjaan yang digambarkan dalam diagram network. Analisis network adalah kontrol penyelesaian-penyelesaian proyek yang efisien ditinjau dari segi waktu dan biaya dan juga mempertinggi efisiensi kerja baik manusia maupun alat.

(24)

a. Merencanakan, menjadwal, dan mengawasi proyek secara logis. b. Menguraikan proyek secara menyeluruh tetapi juga mendetail.

c. Mengkomunikasikan rencana penjadwalan dan alternatif-alternatif lain penyelesaian proyek dengan tambahan biaya.

d. Mengawasi proyek dengan lebih efisien karena hanya jalur-jalur kritisnya saja yang perlu kosentrasi pengawas tetap.

Di samping itu analisis Network Planning juga membantu dalam: a. Penjadwalan pekerjaan yang lebih efisin.

b. Pembagian secara merata waktu, tenaga, dan biaya.

c. Penjadwalan kembali bila ada keterlambatan penyelesaian. d. Menentukan trade off antara waktu dan biaya.

e. Membuka probabilitas lain untuk penyelesaian proyek. f. Merencanakan proyek yang kompleks.

Simbol-simbol dan istilah dalam Network Planning merupakan gambaran grafis dari rangkaian aktivitas suatu rencana produksi. Definisi dan simbol-simbol yang dipakai antara lain:

: arrow : menyatakan aktifitas/job/kegiatan dari bagian proyek yang waktu, sumber, keadaan awal dan keadaan akhirnya sudah tertentu.

(25)

: node : event/lingkungan yang menyatakan saat mulai dan berakhirnya suatu aktifitas.

Sebelum menggambarkan tentang aktifitas, beberapa hal yang harus diperhatikan dalam network planning adalah:

a. Panjang panah tidak menunjukkan panjang/lama waktu penyelesaian pekerjaan.

b. Aktifitas-aktifitas yang mendahului (Predesesor) dan aktifitas-aktifitas yang mengikuti (Suksesor).

c. Aktifitas-aktifitas yang dilakukan bersama-sama.

d. Aktifitas-aktifitas yang sudah ditentukan saat mulai atau berakhirnya biaya dari aktifitas tersebut.

Beberapa aturan dasar dalam logika pembuatan Network Planning adalah:

a. Sebelum suatu aktivitas dapat dimulai, keseluruhan aktifitas yang mendahului harus sudah dikerjakan.

b. Tanda anak panah hanya menunjukkan logika ketergantungan, panjang dan kemiringannya tidak mempunyai arti.

c. Nomor event tidak boleh sama dan biasanya dimulai dari nomor event yang terkecil dengan penulisan dari sebelah kiri.

d. Antara dua event tidak boleh terjadi lebih dari satu aktifitas secara langsung, suatu network hanya memiliki satu initial dan satu terminal event.

(26)

a. Aktifitas I-j : aktifitas bagi event pendahulu (Predecessor Event) I dan event pengikut (Successor Event) j.

b. Tij : skala waktu pelaksanaan aktifitas (I-j).

c. TEi : saat paling awal yang mungkin untuk terjadinya event i. d. TLi : saat paling akhir yang diizinkan untuk terjadinya event i. e. ESij : saat paling awal dimulainya aktifitas i-j.

f. EFij : saat paling awal berakhirnya aktifitas i-j. g. LSij : saat paling lambat dimulainya aktifitas i-j. h. LFij : saat paling lambat berakhirnya aktifitas i-j. i. TFij : kelonggaran total (Total Float) aktifitas i-j. j. FFij : klonggaran bebas (Free Float) aktifitas i-j. k. IFij : interfering float aktifitas i-j.

Sedangkan perhitungannya sebagai berikut: a. ESjk = EFij

b. EFij = ESij + t ij c. LFij = LSjk d. LSij = LFij - t ij e. EFij = TEj f. LFij = TLj g. ESij = TEi h. LSij = TLi

Float adalah waktu kelonggaran atau waktu yang diijinkan untuk bisa

(27)

a. Total Float

Adalah sejumlah waktu untuk penundaan atau wakru yang diizinkan untuk bisa terlambat yang terdapat pada suaru aktifitas, dimana terlambatnya penyelesaian akktifitas tersebut sampai sebesar total floatnya tidak menyebakkan tertundanya penyelesaian proyek secara keseluruhan.

TFij = TLj – (TEi +tij) b. Free Float

Adalah sejumlah waktu untuk penundaan atau waktu yang diizinkan untuk bisa terlambat yang terdapat pada suatu aktifitas dimana terlambatnya penyelesaian aktifitas tersebut sampai sebesar waktu free floatnya tidak menyebabkan tertundanya dimulainya aktifitas yang langsung mengikuti. FFij = TEj – (TEj + tij)

c. Interfering Float

Adalah perbedaan antara besarnya total float dengan free float dalam suatu aktivitas.

IFij = TFj – (TEj + tij)

Lintasan kritis (Critical Path) didefinisikan sebagai lintasan yang membutuhkan waktu penyelesaian yang paling lama sehingga waktu penyelesaiannya merupakan waktu penyelesaian proyek. Lintasan kritis terjadi dari aktivitas-aktivitas kritis. Suatu aktivitas dikatakan kritis jika memenuhi syarat:

a. TEi = TLi b. TEj = TLj

(28)

Ketiga kondisi ini menunjukkan bahwa aktivitas yang kritis harus tidak punya float. Hal ini berarti aktivitas yang memiliki total float sama dengan nol adalah aktivitas kritis.

3. Diagram preseden

Diagram preseden (Precedence Diagram) pada hakekatnya merupakan penyempurnaan diagram panah. Diagram preseden memiliki cirri-ciri sebagai berikut (Nugraha, 1985):

a. Aktifitas tidak lagi dinyatakan sebagai panah (arrow), melainkan dimasukkan sebagi Node, lingkaran (circle) atau kotak (block).

b. Anak panah/garis penghubung tidak mempunyai durasi, sehingga pada diagram precedence tidak diperlukan aktifitas dummy lagi sehingga diagram menjadi lebih bersih.

Sebagai kunci dari block atau node dapat dilihat dari tabel berikut: Table 2.1 Kunci Pada Diagram Pr eseden

ES ID EF

Label

LS DUR LF

Sumber : Nugraha, 1985

Keterangan:

a. ES (Ealiest Start Time)

Adalah waktu mulai paling awal kegiatan b. ID

Adalah kurun waktu suatu kegiatan. c. EF (Earliast Finish Time)

(29)

Adalah waktu paling akhir kegiatan boleh dimulai yaitu waktu paling akhir kegiatan boleh dimulai tanpa memperlambat proyek secara keseluruhan. e. Dur

Adalah kurun waktu suatu kegiatan. f. LF (Lastest Allowable Finish Time)

Adalah waktu paling akhir kegiatan boleh selesai tanpa memperlambat penyelesaian proyek.

Macam-Macam Hubungan Antar Aktivitas (Soeharto, 1999) a. Konstrain Finish to Start

Memberikan hubungan antara mulainya suatu kegiatan dengan selesainya kegiatan terdahulu. Perumusannya adalah FS(i-j) = a yang berarti kegiatan (j) mulai a hari setelah kegiatan yang mendahuluinya (i) selesai.

b. Konstrain Start to Start

Memberikan penjelasan hubungan antara mulainya suatu kegiatan dengan mulainya kegiatan terdahulu. Perumusannya adalah SS(i-j) = b yang berarti suatu kegiatan (j) mulai setelah b hari kegiatan terdahulu (i) mulai.

c. Konstrain Finish to Finish

Memberikan penjelasan hubungan antara selesainya suatu kegiatan dengan selesainya kegiatan terdahulu. Perumusannya adalah FF(i-j) = c yang berarti suatu kegiatan (j) selesai setelah c hari kegiatan terdahulu (i) selesai.

d. Konstrain Start to Finish

(30)

Jalur Dan Kegiatan Kritis a. Hitungan maju

Perumusannya adalah sebagai berikut:

1) ES(j) = pilih angka terbesar dari ES(i) + SS(i-j) atau ES(i) + SF(i-j) – D(j) atau EF(i) + FS(i-j) atau EF(i) +FF(i-j) – D(j).

2) EF(j) = FS(j) + D(j) b. Hitungan mundur

Perumusannya adalah sebagai berikut:

1) LF(i) = pilih angka terkecil dari LF(j) – FF(i-j) atau LS(j) – FS(i-j) atau LF(j) – SF(i-j) + D(i) atau LS(j) – SS(i-j) + D(j)

2) LS(i) = LF(i) – D(i)

Jalur dan kegiatan kritis PDM mempunyai sifat sama seperti CPM yaitu : a. ES = LS

b. EF = LF c. LF – S = D

d. Bila hanya sebagian dari kegiatan bersifat kritis maka kegiatan tersebut secara utuh dianggap kritis.

2.2 Metode PERT

(31)

waktu terburuk, dan estimasi waktu yang paling mungkin. Untuk kondisi seperti ini PERT digunakan.

Perhitungan ekspektasi waktu pada operasi PERT adalah sebagai berikut :

Te =

Di mana :

te = waktu ekspektasi m = kemungkinan yang paling mungkin a = kemungkinan terbaik

b = kemungkinan terburuk

Ketentuan-ketentuan umum dari PERT adalah :

1. Semua sistem dari PERT didasarkan pada perkiraan waktu.

2. Untuk menentukan besarnya kemungkinan waktu penyelesaian suatu program dalam waktu yang telah ditetapkan maka diperluakan pengertian tentang standar deviasi.

Adapun langkah-langkah perhitungan standar deviasi adalah sebagai berikut : 1. Mengitung standar deviasi untuk tiap-tiap aktifitas.

2. Menghitung waktu ekspektasi untuk tiap-tiap aktifitas serta waktu tercepat yang diharapkan untuk event akhir dari network planning.

3. Standar deviasi untuk aktifitas yang mempunyai hubungan seri adalah dengan menarik akar untuk jumlah deviasi tiap-tiap aktifitas dipangakat dua.

2.3 Metode CPM

Critical Path Method (CPM) asal mulanya dikembangakan untuk

(32)

itu tujuan utamanya ditekankan pada biaya dari jadwal proyek dan bagaimana meminimalkannya. Selanjutnya tidak seperti PERT, CPM memakai data-data yang deterministik. Oleh karenanya variasi dari waktu aktifitasnya tidak dihasilkan dari faktor random, tetapi direncanakan dan diekspetasi dari sumber-sumber yang dipakai.

Faktor-faktor penting yang ikut mempengaruhi CPM antara lain adalah: 1. Proyek harus didefinisikan dengan jelas.

2. Ada satu organisasi yang dominan dalam proyek. 3. Ketidak pastiannya relatif kecil.

4. Terdapat satu lokasi geografis untuk satu proyek.

CPM membantu perencanaan dan pengendalian pelaksanaan kegiatan-kegiatan dalam proyek dimana aktifitas-aktifitas harus dilaksanankan dalam rangkaian tertentu. Kegiatan-kegiatan yang terdapat dalam CPM antara lain adalah: 1. Mengidentifikasi kegiatan kritis yang membutuhkan perhatian khusus dari

manajemen.

2. Membantu dalam estimasi waktu total minimal yang diperlukan untuk menyelesaikan proyek.

3. Mempersiakan suatu perencanaan dan ketentuan manajemen dan prosedur komunikasi yang kompleks dengan staf dan sumber-sumber yang dibutuhkan. 4. Mempersiapkan pembentukan Gantt Chart

2.4 Crash Program

(33)

Biaya untuk menyelesaikan pekerjaan itu menjadi bertambah, tertapi keuntungannya meningkat dengan penambahan biay tersebut karena waktu pengerjaannya dapat dipercepat. Jika waktu aktifitas tidak dipercepat maka kondisi demikian dinamakan kondisi normal. Umumnya hanya aktifitas-aktifitas yang berada pada jalur kritis saja yang dilakukan percepatan karena percepatan waktu penyelesaian diluar jalur kritis tidak akan mengurangi waktu penyelesain proyek secara keseluruhan.

2.5 Analisis Time Cost Trade Off

Dalam perencanaan awal suatu proyek disamping variabel waktu dan sumber daya, maka variabel biaya tak dapat dikesampingkan. Biaya merupakan salah satu aspek penting dalam manajemen, dimana biaya yang mungkin timbul harus dikendalikan seminimal mungkin. Pengendalian biaya harus memperhatikan faktor waktu, karena terdapat hubungan yang erat antara waktu penyelesaian proyek dengan biaya-biaya proyek yang bersangkutan atau aktifitas pendukungnya.

(34)

2.5.1 Hubungan Optimasi Waktu dan Biaya

Seperti telah diketahui, dalam manajemen proyek dikenal dua macam biaya proyek, yaitu:

1. Biaya langsung (Direct Cost)

Adalah semua biaya yang terlibat secara langsung di dalam aktivitas-aktivitas proyek. Biaya langsung terdiri dari:

a. Biaya penyiapan lahan.

b. Biaya pengadaan peralatan utama

c. Biaya merakit dan memasang peralatan utama. d. Biaya pemipaan.

e. Biaya pengadaan alat-alat listrik dan instrumen.

f. Pembangunan gedung perkantoran, pusat pengendalian operasi, gudang, dan bengunan civil lainnya.

g. Biaya pembangunan fasilitas pendukung. h. Biaya pembebasan tanah.

2. Biaya Tidak Langsung (Indirect Cost)

Adalah semua biaya proyek yang tidak dapat dinyatakan keterlibatannya secara langsng di dalam aktivitas-aktivitas pendukung proyek. Biaya tidak langsung antara lain:

a. Gaji tetap dan tunjangan bagi tim manajemen, gaji dan tunjangan tenaga bidang engineering, inspektor, penyelia lapangan, dan lain-lain.

b. Biaya pemeliharaan kendaraan untuk kendaraan dan peralatan konstruksi. c. Biaya untuk pembangunan fasilitas sementara pengeluaran umum.

(35)

e. Overhead.

f. Pajak, pungutan/sumbangan, biaya perijinan dan asuransi.

Apabila waktu pelaksanaan dipercepat maka yang akan bertambah adalah biaya langsung. Permasalahannya adalah sejauh mana perubahan jadwal memberikan nilai paling optimal seiring bertambahnya biaya langsung. Untuk itu digunakan metode Time Cost Trade Off untuk mendapatkan nilai paling optimal tersebut.

Gambar 2.1 Hubungan Biaya dan Waktu Dalam Pr oyek

Pertambahan biaya langsung untuk mempercepat suatu aktifitas per-satuan waktu disebut cost slope, sehingga :

Cost slope = Biaya per-satuan waktu untuk memperpendek penyelesaian

proyek/aktifitas.

= Perbandingan antara penambahan biaya dengan percepatan waktu penyelesaian.

=

Duration Crash

Duration Normal

Cost Normal Cost

Crash

− −

Cost slope =

t C

∆ ∆

Biaya Total

Biaya Tak Langsung

Biaya Langsung Biaya Normal

Biaya Jenuh Biaya

Waktu Jenuh Waktu normal

(36)

Sebagai contoh suatu aktifitas dengan normal durasi 6 hari dan crash durasi 4 hari, sedangakan biaya normalnya Rp 5.000.000,- dan biaya jenuhya Rp 7.000.000,- maka:

Cost slope =

4 6

000 . 000 . 5 000 . 000 . 7

− −

= Rp 1.000.000,- per-hari

Atau untuk mempercepat operasi dengan dua hari diperlukan biaya sebesar : 2 x Rp 1.000.000,- = Rp 2.000.000,-

Gambar 2.2 Hubungan Khusus Biaya dan Waktu

2.5.2 Hal-hal Khusus Hubungan Optimasi Waktu dan Biaya

Gambar 2.2 menunjukkan perilaku hubungan antara waktu dan biaya. Dalam hal ini kurva perkiraan digambarkan sebagai suatu garis lurus dan kurva yang sebenarnya digambarkan sebagai garis yang terputus-putus. Dalam hal ini waktu dapat dikurangi dengan tambahan biaya yang relatif rendah. Waktu yang dibutuhkan untuk proyek ini dapat dikurangi dari titik L menjadi titik K, sedangkan biaya naik dari tingkat P menjadi titik Q.

Biaya (Rp)

7.000.000

5.000.000

Crash

Slope

Normal

Waktu (hari)

(37)

Gambar 2.3 Hubungan Khusus Biaya dan Waktu (A)

Untuk menentukan bentuk kurva waktu dan biaya sebenarnya (garis lengkung putus-putus) terutama dalam proyek-proyek yang mempunyai aktifitas adalah rumit. Berdasarkan alasan ini maka dipergunakan garis perkiraan linnier yang menghubungkan titik normal dengan titik crash. Meskipun hal ini mengandung ketidaktepatan, kesalahan ini tidak besar artinya.

Gambar 2.2 memberikan perilaku hubungan waktu dan biaya yang sebaliknya dari yang ditunjukkan dalam gambar 2.3. Disini pengurangan waktu dari titik L ke titik K hanya dapat dicapai dengan menambah biaya dari titik P hingga titik Q. Biaya dalam hal ini bertambah dengan jumlah yang relatif besar jika dibandingkan dengan berkurangnya waktu. Jadi dapat dikatakan bahwa biaya untuk mempercepat selesainya aktifitas ini cukup mahal.

Gambar 2.4 Hubungan khusus Biaya dan Waktu (B)

K L Waktu

Biaya Q

P Normal

Crash

K L

Normal Crash

Waktu Biaya

(38)

Bila dalam suatu proyek diharuskan mempercepat waktu penyelesaiannya dari waktu normalnya dimana aktivitas-aktivitas yang digambarkan dalam gambar 2.2 dan gambar 2.3 merupakan sebagian dari jalur kritisnya, maka pertama yang harus dilakukan adalah mempercepat aktivitas yang diperlihatkan dalam gambar 2.2 karena dengan demikian kita dapat mengurangi waktu dan biaya yang relatif tidak mahal. Sebaliknya tindakan yang diperlihatkan pada gambar 2.3 baru digunakan jika aktivitas-aktivitas yang mempunyai kurva hubungan waktu dan biaya yang lebih menguntungkan telah dipercepat maksimum.

2.5.3 Pertukaran Waktu dan Biaya

Dalam proses mempercepat penyelesaian proyek dengan melakukan penekanan (kompresi) waktu aktivitas, diusahakan agar pertambahan biaya yang ditimbulkan seminimum mungkin. Pengendalian biaya disini ditunjukkan pada biaya langsung karena biaya inilah yang akan bertambah. Disamping itu harus diperhatikan pula bahwa kompersi hanya dilakukan pada aktivitas-aktivitas yang berada dalam lintas kritis.

Jika kompersi dilakukan pada aktivitas-aktivitas yang berada diluar jalur kritis maka waktu penyelesaian proyek secara keseluruhan tidak akan berkurang. Kompresi dilakukan lebih dahulu pada aktivitas-aktivitas yang mempunyai cost slope terendah pada lintas kritis.

Selanjutnya langkah-langkah kompresi dapat ditulis sebagai berikut:

(39)

2. Lakukan kompresi pada aktivitas-aktivitas yang berada pada lintasan kritis dan yang mempunyai cost slope terendah.

3. Susun kembali jaringan kerjanya.

4. Ulangi lagi langkah kedua, langkah kedua akan berhenti bila terjadi pertambahan lintas kritis dan bila lebih dari satu lintasan kritis, maka langkah kedua dilakukan secara serentak pada semua lintasan kritis dan perhitungan cost slope dijumlahkan.

5. Langkah keempat dihentikan bila terdapat salah satu lintasan kritis dimana aktivitas-aktivitas telah jenuh seluruhnya (tak mungkin lagi dikompres) sehingga pengendalian biaya telah optimal (crash).

Ada beberapa macam sistem analisa TCTO yang dikenal, yaitu: 1. Penekanan waktu dan biaya sistem jalur kritis.

2. Penekanan waktu dan biaya sistem cut set. 3. Penekanan waktu dan biaya sistem pegas.

(40)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Obyek Penelitian

Obyek yang diambil pada penelitian Tugas Akhir ini adalah Proyek Perumahan Mutiara Graha Agung di Gresik.

3.2 Pr oses Penelitian

Pada penelitian Tugas Akhir ini diperlukan data-data yang lengkap guna menunjang analisa dan proses penelitian yang dilakukan. Data yang diperoleh dan dipelajari kemudian diolah sesuai dengan tujuan penelitian yaitu bagaimana

mendapatkan perencanaan jadwal proyek yang terbaik berdasarkan biaya yang paling minimal.

3.3 J enis dan Metode Pengumpulan Data 3.3.1 J enis Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data sekunder yaitu data yang didapat dari data proyek. Data tersebut adalah:

1. Data RAB Proyek

(41)

3.3.2 Metode Pengumpulan Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini dikumpulkan dengan menggunakan cara:

1. Studi Pustaka

Mencari data dan informasi yang relevan tentang landasan teori yang bersumber pada referensi, jurnal dengan topik penelitian.

2. Pengamatan

(42)

3.4 Metode Penelitian

Gambar 3.1 Flow Char t Metodologi Penelitian Pengumpulan Data

Dokumentasi • RAB

Time Schedule

Perencanaan Network Planning

Optimasi Biaya Optimasi Waktu Analisa Crash Program

Kesimpulan

Studi Pustaka

(43)

BAB IV

ANALISIS DAN PEMBAHASAN

4.1 Aktivitas Pekerjaan

Pengerjaaan proyek direncanakan dimulai pada tanggal 15 Oktober 2012 dan direncanakan selesai pada tanggal 13 September 2013 atau selama 287 hari kerja. Untuk lebih jelasnya tentang rencana pengerjaan proyek untuk masing-masing 1 unit rumah yang dilakukan dapat dilihat pada lampiran Time Schedule.

Agar pelaksanaan proyek ini dapat selesai tepat waktu sesuai dengan yang direncanakan, maka dari semua aktivitas yang dilakukan tersebut perlu dilakukan analisa agar waktu penyelesaian proyek dapat sesuai jadwal rencana, sehingga biaya yang dikeluarkan akibat keterlambatan tersebut dapat dihindari. Aktivitas-aktivitas yang ada kemudian diidentifikasi berdasarkan bobot progres pekerjaan sesuai progres pada data proyek yang dilampirkan dan kemudian diberi kode aktivitas secara berurutan untuk mempermudah dalam menyusun hubungan keterkaitan antar aktivitas.

4.2 Penyusunan Network Diagram

(44)
(45)
(46)
(47)
(48)
(49)

4.3 Lintasan Kritis

Dengan menggunakan MS Project dapat diketahui bahwa durasi pekerjaan untuk satu unit rumah adalah 67 hari dengan lintasan kritis berada aktivitas sebagai berikut:

1. Pasang bouwplank kayu meranti 2. Pondasi plat lajur 50cm + sloof 15/20 3. Kolom 15/15

4. Pasangan dinding bata 5. Pasangan bata gewel 6. Plesteran dinding bata 7. Benangan

8. Acian

9. Keramik lantai 40 x 40

10.Cat dinding interior/eksterior/kanopi

Dalam perhitungan durasi proyek, dipakai asumsi sebagai berikut: 1. Jam kerja normal yang dipakai adalah 7 jam/hari.

2. Dalam 1 minggu dipakai 6 hari kerja

4.4 Perhitungan Produktivitas Har ian Normal

(50)

Durasi Volume s

oduktivita =

Pr

Volume didapatkan dari Rencana Anggaran Biaya Proyek pada Lampiran. Contoh perhitungan produktivitas normal pada masing-masing aktivitas pekerjaan yang berada pada lintasan kritis adalah sebagai berikut:

(51)
(52)

Durasi = 13,1 hari Produktivitas =

1 , 13

88 , 262

= 20,07 m2/hari 9. Keramik lantai 40 x 40 ( dalam m2 )

Volume = 48,25 m2 Durasi = 5,8 hari Produktivitas =

8 , 5

25 , 48

= 8,32 m2/hari

10.Cat dinding interior/eksterior/kanopi ( dalam m2 ) Volume = 206,82 m2

Durasi = 13 hari

Produktivitas =

13 82 , 206

(53)

Gambar 4.1 Perbandingan antara dur asi nor mal dengan dur asi crash

Gambar 4.2 Selisih antar a dur asi nor mal dengan dur asi crash

4.5 Menentukan Normal Cost

Biaya proyek dapat dibedakan menjadi dua, yaitu: normal cost dan crash cost. Normal cost merupakan biaya total dari masing-masing aktivitas.

(54)

harga satuan bahan dan upah ditentukan. Kemudian ditentukan jumlah harga satuan total dari masing-masing item pekerjaan, dengan cara menjumlahkan harga satuan upah dan bahan. Contoh perhitungan normal cost pada aktivitas pekerjaan yang berada pada lintasan kritis adalah sebagai berikut

1. Pasang bouwplank kayu meranti ( dalam ml ) a. Jumlah harga satuan upah

Jumlah harga satuan upah diperoleh dari perkalikan antara harga satuan upah dengan koefisien tenaga kerja. Jumlah harga upah didapat dari analisa harga yang diperoleh dari data proyek.

Koefisien tenaga kerja adalah: 1) Pekerja = 0,100 2) Tukang Batu = 0,100 3) Mandor = 0.005 Harga satuan upah

1) Pekerja = Rp. 22.500 2) Tukang Batu = Rp. 40.000 3) Mandor = Rp. 50.000

Jumlah harga satuan upah = Koefisien tenaga kerja x Harga satuan upah = (0,100 x 22.500) + (0,100 x 40.000) + (0,005 x 50.000) = Rp 6.500

b. Jumlah harga satuan bahan

Jumlah harga satuan bahan juga diperoleh dari data proyek, yaitu harga satuan bahan dikalikan dengan koefisien bahan.

(55)

1) Kayu 5/7 = 0,012 m3 2) Kayu papan = 0,007 m3

3) Paku = 0,020 kg

Harga satuan bahan

1) Kayu 5/7 = Rp. 2.500.000 2) Kayu papan = Rp. 3.500.000 3) Paku = Rp. 12.000

Jumlah harga satuan bahan = Koefisien bahan x Harga satuan bahan = (0,012 x 2.500.000) + (0,007 x 3.500.000) + (0,020 x 12.000) = Rp 54.740 c. Jumlah harga satuan total

Jumlah harga satuan total diperoleh dari jumlah harga satuan upah ditambah jumlah harga satuan bahan

Jumlah harga satuan total = 6.500 + 54.740 = Rp 61.240. d. Biaya Normal

Setelah harga satuan total didapatkan, biaya normal dihitung dengan cara mengalikan volume pekerjaan dengan harga satuan total.

Biaya Normal = Volume x Harga satuan total = 61.240 x 43 ml

= Rp 2.633.320,00

2. Pondasi plat lajur 50cm + sloof 15/20 ( dalam m3 ) a. Jumlah harga satuan upah

(56)

1) Pekerja = 6,150 2) Tukang kayu = 1,524 3) Tukang besi = 1,200 4) Tukang Batu = 0,350 5) Mandor = 1,000 Harga satuan upah

1) Pekerja = Rp. 22.500 2) Tukang kayu = Rp. 40.000 3) Tukang besi = Rp. 40.000 4) Tukang Batu = Rp. 40.000 5) Mandor = Rp. 50.000

Jumlah harga satuan upah = Rp 331.335,00 b. Jumlah harga satuan bahan

Koefisien bahan:

1) Kayu acuan = 0,635 m3

2) Paku = 2,400 kg

3) Besi = 160 x 1,050 kg 4) Kawat Beton = 160 x 0,015 kg 5) Kerikil 2/3 hitam = 0,600 m3 6) Pasir cor = 0,400 m3

7) Semen = 229,170 kg ( 5,73 sak ) @1 sak = 40 kg Harga satuan bahan

(57)

2) Paku = Rp. 12.000 3) Besi = Rp. 9.500 4) Kawat Beton = Rp. 15.000 5) Kerikil 2/3 hitam = Rp. 150.000 6) Pasir cor = Rp. 125.000 7) Semen 40kg = Rp. 1.250

Jumlah harga satuan bahan = Rp 3.674.762,50 c. Jumlah harga satuan total

Jumlah harga satuan total = 331.335,00 + 3.674.762,50 = Rp 3.986.097,50

d. Biaya Normal

Biaya Normal = 3.986.097,50 x 3,17 m3 = Rp 12.627.965,88 3. Kolom 15/15 ( dalam m3 )

a. Jumlah harga satuan upah Koefisien tenaga kerja adalah: 1) Pekerja = 3,700 2) Tukang kayu = 0,300 3) Tukang besi = 1,200 4) Tukang Batu = 0,350 5) Mandor = 1,000 Harga satuan upah

(58)

2) Tukang kayu = Rp. 40.000 3) Tukang besi = Rp. 40.000 4) Tukang Batu = Rp. 40.000 5) Mandor = Rp. 50.000

Jumlah harga satuan upah = Rp 207.250,00 b. Jumlah harga satuan bahan

Koefisien bahan:

1) Kayu acuan = 0,125 m3

2) Paku = 2,400 kg

3) Besi = 130 x 1,050 kg 4) Kawat Beton = 130 x 0,015 kg 5) Kerikil 2/3 hitam = 0,600 m3 6) Pasir cor = 0,400 m3

7) Semen = 229,170 kg ( 5,73 sak ) @1 sak = 40 kg Harga satuan bahan

1) Kayu acuan = Rp. 2.500.000 2) Paku = Rp. 12.000 3) Besi = Rp. 9.500 4) Kawat Beton = Rp. 15.000 5) Kerikil 2/3 hitam = Rp. 150.000 6) Pasir cor = Rp. 125.000 7) Semen 40kg = Rp. 1.250

(59)

c. Jumlah harga satuan total

Jumlah harga satuan total = 207.250,00 + 2.093.762,50 = Rp 2.301.012,50

d. Biaya Normal

Biaya Normal = 2.301.012,50 x 1,01 m3 = Rp 2.324.022,63

4. Pasangan dinding bata ( dalam m2 ) a. Jumlah harga satuan upah

Koefisien tenaga kerja adalah: 1) Pekerja = 0,300 2) Tukang Batu = 0,100 3) Mandor = 0.010 Harga satuan upah

1) Pekerja = Rp. 22.500 2) Tukang Batu = Rp. 40.000 3) Mandor = Rp. 50.000

Jumlah harga satuan upah = Rp 11.250,00 b. Jumlah harga satuan bahan

Koefisien bahan:

1) Batu bata merah = 65 bh

2) Semen = 9,680 kg ( 0,24 sak ) @1 sak = 40 kg 3) Pasir pasang = 0,051 m3

(60)

1) Batu bata merah = Rp. 350 2) Semen 40kg = Rp 1.250 3) Pasir pasang = Rp. 115.000

Jumlah harga satuan bahan = Rp 41.715,00 c. Jumlah harga satuan total

Jumlah harga satuan total = 11.250,00 + 41.715,00 = Rp 51.965,00

d. Biaya Normal

Biaya Normal = 112,96 x 51.965 = Rp 5.869.966,40 5. Pasangan bata gewel ( dalam m2 )

a. Jumlah harga satuan upah Koefisien tenaga kerja adalah: 1) Pekerja = 0,300 2) Tukang Batu = 0,100 3) Mandor = 0.010 Harga satuan upah

1) Pekerja = Rp. 22.500 2) Tukang Batu = Rp. 40.000 3) Mandor = Rp. 50.000

Jumlah harga satuan upah = Rp 11.250,00 b. Jumlah harga satuan bahan

(61)

1) Batu bata merah = 65 bh

2) Semen = 9,680 kg ( 0,24 sak ) @1 sak = 40 kg 3) Pasir pasang = 0,051 m3

Harga satuan bahan

1) Batu bata merah = Rp. 350 2) Semen 40kg = Rp 1.250 3) Pasir pasang = Rp. 115.000

Jumlah harga satuan bahan = Rp 41.715,00 c. Jumlah harga satuan total

Jumlah harga satuan total = 11.250,00 + 41.715,00 = Rp 51.965,00

d. Biaya Normal

Biaya Normal = 36,96 x 51.965 = Rp 1.920.626,40 6. Plesteran dinding bata ( dalam m2 )

a. Jumlah harga satuan upah Koefisien tenaga kerja adalah: 1) Pekerja = 0,150 2) Tukang Batu = 0,150 3) Mandor = 0.010 Harga satuan upah

(62)

3) Mandor = Rp. 50.000

Jumlah harga satuan upah = Rp 9.875,00 b. Jumlah harga satuan bahan

Koefisien bahan:

1) Semen = 3,888 kg ( 0,10 sak ) @1 sak = 40 kg 2) Pasir pasang = 0,022 m3

Harga satuan bahan

1) Semen 40kg = Rp 1.250 2) Pasir pasang = Rp. 115.000 Jumlah harga satuan bahan = Rp 7.390,00 c. Jumlah harga satuan total

Jumlah harga satuan total = 9.875,00 + 7.390,00 = Rp 17.265,00 d. Biaya Normal

Biaya Normal = 262,88 x 17.265,00 = Rp 4.538.623,20 7. Benangan ( dalam ml )

a. Jumlah harga satuan upah Koefisien tenaga kerja adalah: 1) Tukang Batu = 0,100 2) Mandor = 0,010 Harga satuan upah

(63)

2) Mandor = Rp. 50.000

Jumlah harga satuan upah = Rp 4.500,00 b. Jumlah harga satuan bahan

Koefisien bahan:

1) Semen = 2,250 kg ( 0,06 sak ) @1 sak = 40 kg Harga satuan bahan

1) Semen 40kg = Rp 1.250

Jumlah harga satuan bahan = Rp 2.812,50 c. Jumlah harga satuan total

Jumlah harga satuan total = 4.500,00 + 2.812,50 = Rp 7.312,50

d. Biaya Normal

Biaya Normal = 34,40 x 7.312,50 = Rp 251.550,00 8. Acian ( dalam m2 )

a. Jumlah harga satuan upah Koefisien tenaga kerja adalah: 1) Pekerja = 0,020 2) Tukang Batu = 0,100 3) Mandor = 0,010 Harga satuan upah

(64)

3) Mandor = Rp. 50.000

Jumlah harga satuan upah = Rp 4.950,00 b. Jumlah harga satuan bahan

Koefisien bahan:

1) Semen = 3,250 kg ( 0,08sak ) @1 sak = 40 kg Harga satuan bahan

1) Semen 40kg = Rp 1.250

Jumlah harga satuan bahan = Rp 4.062,50 c. Jumlah harga satuan total

Jumlah harga satuan total = 4.950,00 + 4.062,50 = Rp 9.012,50

d. Biaya Normal

Biaya Normal = 262,88 x 9.012,50 = Rp 2.369.206,00 9. Keramik lantai 40 x 40 ( dalam m2 )

a. Jumlah harga satuan upah Koefisien tenaga kerja adalah: 1) Pekerja = 0,120 2) Tukang Batu = 0,120 3) Mandor = 0,013 Harga satuan upah

(65)

3) Mandor = Rp. 50.000

Jumlah harga satuan upah = Rp 8.150,00 b. Jumlah harga satuan bahan

Koefisien bahan:

a. Keramik 40/40 = 1 m2

b. Semen = 6,7086 kg ( 0,17 sak ) @1 sak = 40 kg c. Pc. Warna = 0,400 kg

d. Pasir pasang = 0,042 m3 Harga satuan bahan

1) Keramik 40/40 = Rp 34.125 2) Semen 40kg = Rp 1.250 3) Pc. Warna = Rp 8.000 4) Pasir pasang = Rp. 115.000

Jumlah harga satuan bahan = Rp 50.540,75 c. Jumlah harga satuan total

Jumlah harga satuan total = 8.150,00 + 50.540,75 = Rp 58.690,75

d. Biaya Normal

Biaya Normal = 48,25 x 58.690,75 = Rp 2.831.828,69

10.Cat dinding interior/eksterior/kanopi ( dalam m2 ) a. Jumlah harga satuan upah

(66)

1) Pekerja = 0,020 2) Tukang Cat = 0,630 3) Mandor = 0,0025 Harga satuan upah

1) Pekerja = Rp. 22.500 2) Tukang Cat = Rp. 40.000 3) Mandor = Rp. 50.000

Jumlah harga satuan upah = Rp 3.095,00 b. Jumlah harga satuan bahan

Koefisien bahan:

1) Cat tembok = 0,360 kg 2) Plamir tembok = 0,100 kg 3) Kertas gosok = 1,00 lb 4) Cat dasar = 0,100 kg 5) Cat penutup 2x = 0,260 Harga satuan bahan

(67)

Jumlah harga satuan total = 3.095,00 + 21.600,00 = Rp 24.695,00

d. Biaya Normal

Biaya Normal = 206,82 x 24.695,00 = Rp 5.107.419,90

4.6 Alternatif Per cepatan/Crashing Scenario

Untuk menghitung crash cost dan crash duration, maka perlu terlebih dahulu dilakukan alternatif percepatan untuk masing-masing aktivitas. Alternatif percepatan untuk masing-masing aktivitas dalam pembahasan dianggap sama karena aktivitas pekerjaan yang relatif tidak terlalu berat. Pada prinsipnya percepatan dilakukan untuk meningkatkan produktivitas, sehingga durasi dapat dipercepat. Skenario crashing dilakukan berdasarkan kebutuhan sumber daya pada pada tiap-tiap pekerjaan agar durasinya dapat dipercepat. Tetapi dapat juga berdasarkan lama durasi dan besarnya volume perkerjaan.

Adapun dalam pembahasan ini skenario crashing yang digunakan adalah penambahan jam kerja dengan asumsi-asumsi sebagai berikut:

1. Dalam 1 hari, aktivitas normal 7 jam dan 1 jam istirahat (08.00 – 16.00 WIB), sedangkan kerja lembur dilakukan setelah waktu kerja normal (16.00 – 18.00), yaitu 2 jam/hari.

2. Upah kerja lembur adalah 140% dari upah normal.

(68)

4. Produktivitas untuk kerja lembur diperhitungkan sama dengan produktivitas kerja normal karena penambahan jam kerja lembur yang relatif sedikit. Karena berdasarkan pengamatan di lapangan, pada jam 16.00 – 18.00 WIB tersebut pekerja belum terlalu lelah dan kadang justru terlihat dalam kondisi yang semangat untuk bekerja.

4.7 Pr oduktivitas Har ian Setelah Per cepatan

Dari alternatif percepatan yang sudah ada, dapat dihitung produktivitas harian setelah percepatan berdasarkan produktivitas harian normal ditambah dengan pertambahan produktivitas perhari dari hasil percepatan. Produktivitas harian setelah percepatan ini dapat didefenisikan sebagai kemampuan untuk dapat menyelesaikan suatu aktivitas dengan volume tertentu tiap harinya setelah adanya percepatan durasi, baik melalui alternatif penambahan jam kerja (lembur). Contoh perhitungan produktivitas pada aktivitas pekerjaan yang berada di jalur kritis adalah sebagai berikut:

1. Pasang bouwplank kayu meranti ( dalam ml )

a. Volume = 43 ml

b. Normal Duration = 2,2 hari

c. Produktivitas harian (a/b) = 19,55 ml/hari d. Produktivitas tiap jam (c/7) = 2,79 ml/jam

e. Produktivitas dengan penambahan 2 jam kerja/produktivitas harian setelah

crash = 19,55 + (2 x 2,79)

(69)

2. Pondasi plat lajur 50cm + sloof 15/2 ( dalam m3 )

a. Volume = 3,17 m3

b. Normal Duration = 4,9 hari

c. Produktivitas harian = 0,65 m3/hari d. Produktivitas tiap jam = 0,09 m3/jam e. Produktivitas harian setelah crash = 0,65 + (2 x 0,09)

= 0,83 m3/hari 3. Kolom 15/15 ( dalam m3 )

a. Volume = 1,01 m3

b. Normal Duration = 1,9 hari

c. Produktivitas harian = 0,53 m3/hari d. Produktivitas tiap jam = 0,08 m3/jam e. Produktivitas harian setelah crash = 0,53 + (2 x 0,08)

= 0,68 m3/hari 4. Pasangan dinding bata ( dalam m2 )

a. Volume = 112,96 m2

b. Normal Duration = 5,6 hari

c. Produktivitas harian = 20,17 m2/hari d. Produktivitas tiap jam = 2,88 m2/jam e. Produktivitas harian setelah crash = 20,17 + (2 x 2,88)

= 25,93 m2/hari 5. Pasangan bata gewel ( dalam m2 )

(70)

b. Normal Duration = 3,7 hari c. Produktivitas harian = 9,99 m2/hari d. Produktivitas tiap jam = 1,43 m2/jam e. Produktivitas harian setelah crash = 9,99 + (2 x 1,43)

= 12,84 m2/hari 6. Plesteran dinding bata ( dalam m2 )

a. Volume = 262,88 m2

b. Normal Duration = 19,7 hari

c. Produktivitas harian = 13,34 m2/hari d. Produktivitas tiap jam = 1,91 m2/jam e. Produktivitas harian setelah crash = 13,34 + (2 x 1,91)

= 17,16 m2/hari 7. Benangan ( dalam ml )

a. Volume = 34,40 m2

b. Normal Duration = 3,4 hari

c. Produktivitas harian = 10,12 m2/hari d. Produktivitas tiap jam = 1,45 m2/jam e. Produktivitas harian setelah crash = 10,12 + (2 x 1,45)

= 13,01 m2/hari 8. Acian ( dalam m2 )

a. Volume = 262,88 m2

b. Normal Duration = 13,1 hari

(71)

d. Produktivitas tiap jam = 2,87 m2/jam e. Produktivitas harian setelah crash = 20,07 + (2 x 2,87)

= 25,80 m2/hari 9. Keramik lantai 40 x 40 ( dalam m2 )

a. Volume = 48,25 m2

b. Normal Duration = 5,8 hari

c. Produktivitas harian = 8,32 m2/hari d. Produktivitas tiap jam = 1,19 m2/jam e. Produktivitas harian setelah crash = 8,32 + (2 x 1,19)

= 10,70 m2/hari 10.Cat dinding interior/eksterior/kanopi ( dalam m2 )

a. Volume = 206,82 m2

b. Normal Duration = 13 hari

c. Produktivitas harian = 15,91 m2/hari d. Produktivitas tiap jam = 2,27 m2/jam e. Produktivitas harian setelah crash = 15,91 + (2 x 2,27)

= 20,45 m2/hari

4.8 Perhitungan Crash Duration dan Crash Cost

Dari produktivitas harian setelah percepatan, maka dapat dihitung berapa crash duration dan crash cost dari masing-masing aktivitas. Crash cost dan crash

duration untuk masing-masing aktivitas akan berubah seiring dengan

(72)

tan percepa dengan

s oduktivita Pr

Volume duration

Crash =

Perhitungan untuk aktivitas-aktivitas pekerjaan yang berada pada lintasan kritis adalah sebagai berikut:

1. Pasang bouwplank kayu meranti ( dalam ml )

a. Volume = 43 ml

b. Durasi = 2,2 hari

c. Normal Cost = Rp 2.633.320,00

d. Harga satuan upah = Rp 6.500 /m2 e. Total upah (a x d) = Rp 279.500,00 f. Total upah per hari (e/b) = Rp 127.045,45 g. Total upah per jam (f/7) = Rp 18.149,35 h. Total upah lembur per jam = 1.4 x 18.149,35

= Rp 25.409,09

i. Total upah per hari dengan crash = 127.045,45 + (2 x 25.409,09) = Rp. 177.863,64

j. Produktivitas dengan crash = 25,13 m2/hari

k. Crash Duration =

13 , 25

43

= 1,71 hari

l. Crash cost = (Normal cost – Total harga satuan upah)+ (upah per hari dengan crash x durasi crash)

(73)

2. Pondasi plat lajur 50cm + sloof 15/20 ( dalam m3 )

a. Volume = 3,17 m3

b. Durasi = 4,9 hari

c. Normal Cost = Rp 12.627.956,88

d. Harga satuan upah = Rp 311.335,00 /m3

e. Total upah = Rp 986.309,28

f. Upah per hari = Rp 201.287,61

g. Upah per jam = Rp 28.755,37

h. Upah lembur per jam = 1.4 x 28.755,37 = Rp 40.257,52

i. Upah per hari dengan crash = 201.287,61 + (2 x 40.257,52) = Rp. 281.802,65

j. Produktivitas dengan crash = 0,83 m2/hari

k. Crash Duration =

83 , 0

17 , 3

= 3,81 hari

l. Crash cost = (12.627.956,88 - 986.309,28) + (281.802,65 x 3,81) = Rp 12.715.628,82

3. Kolom 15/15 ( dalam m3 )

a. Volume = 1,01 m3

b. Durasi = 1,9 hari

c. Normal Cost = Rp 2.324.022,63

d. Harga satuan upah = Rp 207.250,00 /m3

(74)

f. Upah per hari = Rp 110.169,74

g. Upah per jam = Rp 15.738,53

h. Upah lembur per jam = 1,4 x 15.738,53 = Rp 22.033,95

i. Upah per hari dengan crash = 110.169,74 + (2 x 22.033,95) = Rp. 154.237,63

j. Produktivitas dengan crash = 0,68 m2/hari

k. Crash Duration =

68 , 0

01 , 1

= 1,48 hari

l. Crash cost = (2.324.022,63 - 209.322,50) + (154.237,63 x 1,48) = Rp 2.342.629,07

4. Pasangan dinding bata ( dalam m2 )

a. Volume = 112,96 m2

b. Durasi = 5,6 hari

c. Normal Cost = Rp 5.869.966,40

d. Harga satuan upah = Rp 11.250,00/m2

e. Total upah = Rp. 1.270.800,00

f. Upah per hari = Rp. 226.928,57

g. Upah per jam = Rp. 32.418.37

h. Upah lembur per jam = 1,4 x 32.418.37 = Rp 45.385,71

(75)

j. Produktivitas dengan percepatan = 25,93 m2/hari

k. Crash Duration =

93 , 25

96 , 112

= 4,36 hari

l. Crash cost = (5.869.966,4 - 1.270.800) + (317.700 x 4,35) = Rp 5.982.926,40

5. Pasangan bata gewel ( dalam m2 )

a. Volume = 36,96 m2

b. Durasi = 3,7 hari

c. Normal Cost = Rp 1.920.626,40

d. Harga satuan upah = Rp 11.250,00 /m2

e. Total upah = Rp. 415.800,00

f. Upah per hari = Rp. 112.378,38

g. Upah per jam = Rp. 16.054,05

h. Upah lembur per jam = 1,4 x 16.054,05 = Rp 22.475,68

i. Upah per hari dengan crash = 112.378,38 + (2 x 22.475,68) = Rp. 157.329,73

j. Produktivitas dengan percepatan = 12,84 m2/hari

k. Crash Duration =

84 , 12

96 , 36

= 2,88 hari

(76)

6. Plesteran dinding bata ( dalam m2 )

a. Volume = 262,88 m2

b. Durasi = 19,7 hari

c. Normal Cost = Rp 4.538.623,20

d. Harga satuan upah = Rp 9.875,00 /m2

e. Total upah = Rp. 2.595.940,00

f. Upah per hari = Rp. 131.773,60

g. Upah per jam = Rp. 18.824,80

h. Upah lembur per jam = 1,4 x 18.824,80 = Rp 26.354,72

i. Upah per hari dengan crash = 131.773,60 + (2 x 26.354,72) = Rp. 184.483,05

j. Produktivitas dengan percepatan = 17,16 m2/hari

k. Crash Duration =

16 , 17

88 , 262

= 15,32 hari

l. Crash cost = (4.538.623,20 - 2.595.940,00) + (184.483,05 x 15,32) = Rp 4.769.373,42

7. Benangan ( dalam ml )

a. Volume = 34,40 ml

b. Durasi = 3,4 hari

c. Normal Cost = Rp 251.550,00

d. Harga satuan upah = Rp 4.500,00 /ml

(77)

f. Upah per hari = Rp. 45.529,41

g. Upah per jam = Rp. 6.504,20

h. Upah lembur per jam = 1,4 x 6.504,20 = Rp 9.105,88

i. Upah per hari dengan crash = 45.529,41 + (2 x 9.105,88) = Rp. 63.741,18

j. Produktivitas dengan percepatan = 13,01 ml/hari

k. Crash Duration =

01 , 13

40 , 34

= 2,64 hari

l. Crash cost = (251.550,00 - 154.800,00) + (63.741,18 x 2,64) = Rp 265.310,00

8. Acian ( dalam m2 )

a. Volume = 262,88 m2

b. Durasi = 13,1 hari

c. Normal Cost = Rp 2.369.206,00

d. Harga satuan upah = Rp 4.950,00 /m2

e. Total upah = Rp. 1,301.256,00

f. Upah per hari = Rp. 99.332,52

g. Upah per jam = Rp. 14.190,36

h. Upah lembur per jam = 1,4 x 14.190,36 = Rp 19.866,50

(78)

j. Produktivitas dengan percepatan = 25,80 m2/hari

k. Crash Duration =

80 , 25

88 , 262

= 10,19 hari

l. Crash cost = (2.369.206,00 - 1,301.256,00) + (139.065,53 x 10,19) = Rp 2.484.873,20

9. Keramik lantai 40 x 40 ( dalam m2 )

a. Volume = 48,25 m2

b. Durasi = 5,8 hari

c. Normal Cost = Rp 2.831.828,69

d. Harga satuan upah = Rp 8.150,00 /m2

e. Total upah = Rp. 393.237,50

f. Upah per hari = Rp. 67.799,57

g. Upah per jam = Rp. 9.685,65

h. Upah lembur per jam = 1,4 x 9.685,65 = Rp 13.559,91

i. Upah per hari dengan crash = 67.799,57 + (2 x 13.559,91) = Rp. 94.919,40

j. Produktivitas dengan percepatan = 10,70 m2/hari

k. Crash Duration =

70 , 10

25 , 48

= 10,19 hari

(79)

10.Cat dinding interior/eksterior/kanopi ( dalam m2 )

a. Volume = 206,82 m2

b. Durasi = 13 hari

c. Normal Cost = Rp 5.107.419,90

d. Harga satuan upah = Rp 3.095,00 /m2

e. Total upah = Rp. 640.107,90

f. Upah per hari = Rp. 49.239,07

g. Upah per jam = Rp. 7.034,15

h. Upah lembur per jam = 1,4 x 7.034,15 = Rp 9.847,81

i. Upah per hari dengan crash = 49.239,07 + (2 x 9.847,81) = Rp. 68.934,70

j. Produktivitas dengan percepatan = 20,45 m2/hari

k. Crash Duration =

45 , 20

82 , 206

= 15,32 hari

l. Crash cost = (4.538.623,20 - 2.595.940,00) + (68.934,70 x 10,19) = Rp 4.769.373,42

4.9 Perhitungan Cost Slope

(80)

crash costnya, maka akan semakin besar nilai cost slopenya. Besarnya cost slope

Berdasarkan rumus di atas, perhitungan Cost Slope untuk aktivitas-aktivitas pekerjaan yang berada pada lintasan kritis adalah sebagai berikut:

(81)

Cost Slope =

10.Cat dinding interior/eksterior/kanopi ( dalam m2 )

(82)

Untuk lebih jelasnya keseluruhan perhitungan untuk aktivitas-aktivitas pekerjaan yang berada pada lintasan kritis tersebut dapat dilihat pada lampiran hasil perhitungan waktu dan biaya untuk aktivitas-aktivitas pekerjaan yang berada pada lintasan kritis.

Gambar 4.3 Perbandingan antara nor mal cost dengan crash cost

Gambar 4.4 Selisih antar a normal cost dan crash cost

4.10 Biaya Langsung

Biaya langsung (Direct Cost) adalah biaya yang langsung berhubungan dengan pekerjaan konstruksi di lapangan. Biaya langsung dapat diperoleh dengan

0,00 5.000.000,00 10.000.000,00 15.000.000,00 20.000.000,00 25.000.000,00 30.000.000,00

crash cost norm al cost

24.844,44 87.727,28

18.606,44 112.960,00

36.960,00 233.383,56

13.760,00 115.667,20

34.954,4456.898,48 0,00

50.000,00 100.000,00 150.000,00 200.000,00 250.000,00

selisih

(83)

mengalikan volume suatu pekerjaan dengan harga satuan (unit price) pekerjaan tersebut. Adapun ringkasan rincian biaya langsung per unit rumah dapat dilihat dalam Lampiran RAB. Dari jumlah total Rp. 90,046,350 per unit rumah tersebut, berarti total biaya langsung untuk 20 unit rumah adalah Rp. 1.715.168.573,04.

4.11 Biaya Tak Langsung

Biaya tak langsung (Indirect Cost) adalah biaya yang tidak secara langsung berhubungan dengan konstruksi, tetapi harus ada dan tidak dapat dilepaskan dari proyek tersebut. Rincian dapat dilihat dalam tabel berikut:

Tabel 4.1 Rincian Biaya Tak Langsung Per Har i

No J enis Biaya J umlah

1 Biaya Overhead Jumlah Gaji per hari

1 Gaji Staff Proyek

a Pengawas 2 Rp80,000.00 Rp 160,000.00 b Logistik 1 Rp58,000.00 Rp 58,000.00 c Administrasi 2 Rp48,000.00 Rp 96,000.00

Total per hari Rp 314,000.00

2 Rata-rata biaya operasional Rp 215,000.00

Total Rp 529,000.00

Sumber: Data Internal Proyek

Dari data di atas, maka besarnya biaya tak langsung yang harus dikeluarkan perusahaan selama pengerjaan proyek rumah type 50 sebanyak 20 unit selama 287 hari adalah Rp. 151,823,000.00

4.12 Analisis Time Cost Trade Off

(84)

mungkin. Pengendalian biaya dilakukan adalah biaya langsung, karena biaya inilah yang akan bertambah apabila dilakukan pengurangan durasi. Dalam proses mempercepat waktu penyelesaian proyek dengan melakukan crashing waktu aktivitas, diusahakan agar pertambahan biaya yang ditimbulkan seminimum mungkin. Crashing durasi proyek dilakukan untuk semua aktivitas yang berada pada lintasan kritis dan dimulai dari aktivitas yang mempunyai cost slope terendah. Dari tahap-tahap kompresi tersebut akan dicari waktu dan biaya yang optimal. Hasil proses perhitungan dalam crashing duration dengan skenario penambahan 2 jam kerja adalah sebagai berikut:

Tabel 4.2 Perbandingan Biaya Proyek Sebelum dan Sesudah Crashing Program

Waktu Pekerjaan

Durasi

(hari) Biaya Langsung

Biaya Tak

Langsung Total Biaya Normal 287 1,800,927,000.00 151,823,000.00 1,952,750,000.00

Crash 240 1,815,642,237.80 126,960,000.00 1,942,602,236.80 Selisih 47 -14,715,237.80 24,863,000.00 10,147,763.00

Sumber: diolah penulis

4.13 Pembahasan

(85)
(86)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisa yang telah dilakukan dalam Tugas Akhir ini, dihasilkan kesimpulan yaitu sebagai berikut:

1. Dalam dursai normal proyek dapat diselesaikan selama 287 hari dengan biaya sebesar Rp. 1,952,750,000.00 untuk menyelesaikan rumah tipe 50.

2. Proyek dapat diselesaikan dengan lebih cepat dari yang direncanakan perusahaan dengan durasi optimum selama 240 hari, atau lebih cepat 47 hari dari yang direncanakan perusahaan dengan menambah jumlah jam kerja pada aktivitas yang berada di lintasan kritis akan menurunkan jumlah total biaya yang harus dikeluarkan sebesar Rp 10,147,763.00 dari sebesar Rp. 1,952,750,000.00 turun menjadi Rp. 1,942,602,236.80, atau turun 0,61% dengan perincian sebagai berikut:

a. Akibat penambahan jam lembur, biaya langsung naik sebesar Rp. -14,715,237.80

b. Akibat pengurangan durasi selama 47 hari biaya tak langsung turun sebesar Rp. 24,863,000.00

5.2 Sar an

(87)

2. Perusahaan sebaiknya menerapkan hasil penelitian ini mengingat cukup besarnya penurunan biaya yang akan didapatkan dengan melakukan crashing duration pengerjaan proyek pembangunan rumah type 50 tersebut

Figur

Gambar 1.1 Peta Lokasi
Gambar 1 1 Peta Lokasi . View in document p.17
Gambar Diagram Balok :
Gambar Diagram Balok . View in document p.21
Gambar Diagram Balok
Gambar Diagram Balok . View in document p.21
Gambar Diagram Panah
Gambar Diagram Panah . View in document p.23
Gambar 2.1 Hubungan Biaya dan Waktu Dalam Proyek
Gambar 2 1 Hubungan Biaya dan Waktu Dalam Proyek . View in document p.35
Gambar 2.2 Hubungan Khusus Biaya dan Waktu
Gambar 2 2 Hubungan Khusus Biaya dan Waktu . View in document p.36
Gambar 2.4 Hubungan khusus Biaya dan Waktu (B)
Gambar 2 4 Hubungan khusus Biaya dan Waktu B . View in document p.37
Gambar 2.3 Hubungan Khusus Biaya dan Waktu (A)
Gambar 2 3 Hubungan Khusus Biaya dan Waktu A . View in document p.37
Gambar 3.1 Flow Chart Metodologi Penelitian
Gambar 3 1 Flow Chart Metodologi Penelitian . View in document p.42
Gambar 4.1 Project normal 1 unit rumah
Gambar 4 1 Project normal 1 unit rumah . View in document p.45
Gambar 4.2 Project normal 20 unit rumah
Gambar 4 2 Project normal 20 unit rumah . View in document p.46
Gambar 4.3 Project crash 1 unit rumah
Gambar 4 3 Project crash 1 unit rumah . View in document p.47
Gambar 4.4 : Program crash 20 unit rumah
Gambar 4 4 Program crash 20 unit rumah . View in document p.48
Gambar 4.1 Perbandingan antara durasi normal dengan durasi crash
Gambar 4 1 Perbandingan antara durasi normal dengan durasi crash . View in document p.53
Gambar 4.4 Selisih antara normal cost dan crash cost
Gambar 4 4 Selisih antara normal cost dan crash cost . View in document p.82
Gambar 4.3 Perbandingan antara normal cost dengan crash cost
Gambar 4 3 Perbandingan antara normal cost dengan crash cost . View in document p.82
Tabel 4.1 Rincian Biaya Tak Langsung Per Hari
Tabel 4 1 Rincian Biaya Tak Langsung Per Hari . View in document p.83
Tabel 4.2 Perbandingan Biaya Proyek Sebelum dan Sesudah Crashing       Program
Tabel 4 2 Perbandingan Biaya Proyek Sebelum dan Sesudah Crashing Program . View in document p.84

Referensi

Memperbarui...