PENGARUH KINERJA KEUANGAN TERHADAP
RETURN SAHAM PADA BANK YANG GO PUBLIC
DI BURSA EFEK INDONESIA
SKRIPSI
Diajukan Kepada Fakultas Ekonomi
Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur
Untuk Menyusun Skripsi S-1 Jurusan Manajemen
Oleh :
MIRASANDI NEVANDA
0712010089 / EM
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL ”VETERAN”
JAWA TIMUR
SKRIPSI
PENGARUH KINERJA KEUANGAN TERHADAP RETURN SAHAM PADA BANK YANG TERDAFTAR
DI BURSA EFEK INDONESIA
Yang diajukan
MIRASANDI NEVANDA
0712010089 / EM
disetujui untuk Ujian Lisan oleh
Pembimbing Utama
Yuniningsih, SE, M.Si Tanggal………
Mengetahui Wakil Dekan I
Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat
dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul :
“Pengaruh Kinerja Keuangan Terhadap Return Saham Pada Bank Yang
Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia”
Skripsi ini diajukan untuk memenuhi sebagian persyaratan guna
memperoleh gelar Sarjana Ekonomi Progdi Manajemen pada Fakultas Ekonomi
Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini tidak akan berhasil tanpa adanya
dukungan dari berbagai pihak, oleh karena itu pada kesempatan ini dengan segala
ketulusan hati penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada :
1. Bapak Prof. Dr. Ir. Teguh Soedarto, MP, selaku Rektor Universitas
Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.
2. Bapak Dr. Dhani Ichsanudin Nur, MM, selaku Dekan Fakultas Ekonomi
Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur
3. Bapak Dr. Muhadjir Anwar, MM, selaku Ketua Jurusan Manajemen Fakultas
Ekonomi Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.
4. Ibu Yuniningsih, SE, M.Si, selaku Dosen Pembimbing Utama yang telah
memberikan bimbingan dan dorongan kepada peneliti dalam menyelesaikan
“Veteran” Jawa Timur yang telah memberikan banyak pengetahuan selama
masa perkuliahan.
6. Bapak dan Ibu, yang telah memberikan dukungan, doa dan semangat dan
segalanya.
7. Semua pihak yang ikut membantu, yang tidak bisa penulis sebutkan
satu-persatu.
Penulis menyadari bahwa apa yang telah disajikan masih banyak
kekurangan, untuk itu kritik dan saran yang membangun dari semua pihak sangat
diharapkan demi kesempurnaan skripsi ini. Akhirnya dengan segala keterbatasan
yang penulis miliki, semoga skripsi ini bermanfaat bagi pihak yang
berkepentingan.
Surabaya, Maret 2012
KATA PENGANTAR ... i
DAFTAR ISI ... iii
DAFTAR TABEL ... vi
DAFTAR GAMBAR... vii
ABSTRAKSI ... viii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1. Latar Belakang Masalah ... 1
1.2. Rumusan Masalah ... 8
1.3. Tujuan Penelitian ... 9
1.4. Manfaat Penelitian ... 9
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 10
2.1. Penelitian Terdahulu ... 10
2.2. Landasan Teori ... 11
2.2.1. Bank... 11
2.2.1.1.Pengertian Bank... 11
2.2.1.2.Jenis Jenis Bank... 12
2.2.1.3. Azas, fungsi dan tujuan perbankan ... 14
2.2.4. Analisis Rasio ... 24
2.2.5. Saham ... 31
2.2.6. Return Saham ... 39
2.2.6. Pengaruh Rentabilitas Terhadap Harga saham... 40
2.2.7. Pengaruh Likuiditas Terhadap Harga saham... 41
2.2.8. Pengaruh Solvabilitas Terhadap Harga saham ... 42
2.3. Kerangka Konseptual ... 43
2.4. Hipotesis ... 44
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel ... 45
3.2 Teknik Penentuan Sampel ... 46
3.3 Teknik Pengumpulan Data... 48
3.4 Teknik Analisis dan Uji Hipotesis ... 48
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1. Deskripsi Perusahaan ... 55
4.1.1. Gambaran Umum Bursa Efek Indonesia ... 55
4.1.2. Visi dan Misi PT. Bursa Efek Indonesia... 57
4.2. Deskripsi Hasil Pengujian Hipotesis... 58
4.2.1. Uji Normalitas ... 58
4.2.2.2 Multikolinearitas ... 60
4.2.2.3 Heteroskedastisitas... 61
4.2.3. Hasil Pengujian Regresi Linier Berganda ... 62
4.4.2.4. Hasil Pengujian Uji F dan uji t... 64
4.3. Pembahasan ... 65
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 69
5.1. Kesimpulan ... 69
5.2. Saran ... 69
DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR TABEL
Tabel 4.1. Normalitas Data Masing-masing Variabel...59
Tabel 4.2. Data Autokorelasi ...60
Tabel 4.3. Batas-batas daerah Test Durbin Watson ...61
Tabel 4.4 : Hasil Pengujian Multikolinieritas ...62
Tabel 4.5 : Hasil Pengujian Heteroskedastisitas ...63
Tabel 4.6 Koefisien Regresi...64
Tabel 4.7 : Hasil Uji F ...65
RETURN SAHAM PADA BANK YANG GO PUBLIC
DI BURSA EFEK INDONESIA
Mirasandi Nevanda
ABSTRAK
Kinerja keuangan melalui analisa laporan keuangan dapat membantu pelaku bisnis, pihak pemerintah, dan para pemakai laporan keuangan lainnya dalam menilai kondisi suatu perusahaan tidak terkecuali perusahaan perbankan.. Selain itu, rasio keuangan yang meliputi : Likuiditas, Rentabilitas, Solvabilitas bermanfaat dalam memprediksi pertumbuhan laba perusahaan, serta dapat dipakai sebagai sistem peringatan awal terhadap kemunduran kondisi keuangan dari suatu bank. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membuktikan pengaruh Rentabilitas Terhadap return saham, untuk membuktikan pengaruh Likuiditas Terhadap return saham, untuk membuktikan pengaruh Solvabilitas Terhadap return saham
Populasi adalah jumlah dari keseluruhan objek yang karakteristiknya hendak diduga, sedangkan populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah Bank yang go public di Bursa Efek Indonesia.. Model yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi linier berganda.
Setelah mengetahui permasalahan, meneliti dan membahas hasil penelitian tentang pengaruh ROE, LDR, DER berpengaruh signifikan terhadap Return Saham dan Dividen maka dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut :
Untuk variabel ROE (X1) secara parsial tidak berpengaruh terhadap Return
Saham. Untuk variabel LDR (X2) secara parsial tidak berpengaruh terhadap
Return Saham. Untuk variabel DER (X3) secara parsial tidak berpengaruh terhadap Return Saham.
.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Perkembangan posisi keuangan mempunyai arti yang sangat penting
bagi perusahaan. Untuk melihat sehat tidaknya suatu perusahaan tidak hanya
dapat dinilai dari keadaan fisiknya saja, misalnya dilihat dari gedung,
pembangunan atau ekspansi. Faktor terpenting untuk dapat melihat
perkembangan suatu perusahaan terletak dalam unsur keuangannya, karena
dari unsur tersebut juga dapat mengevaluasi apakah kebijakan yang ditempuh
suatu perusahaan sudah tepat atau belum, mengingat sudah begitu
kompleksnya permasalahan yang dapat menyebabkan kebangkrutan
dikarenakan banyaknya perusahaan yang akhirnya gulung tikar karena factor
keuangan yang tidak sehat. Dengan keadaan sekarang ini, dimana persaingan
ketat dibidang perekonomian sudah mulai masuk ke negara Indonesia, maka
jika seorang manajer perusahaan tidak memperhatikan faktor kesehatan
keuangan dalam perusahaannya, mungkin saja akan terjadi kebangkrutan
seperti yang telah dikemukakan sebelumnya. Analisis keuangan pada
dasarnya ingin melihat prospek dan risiko perusahaan. Prospek bisa dilihat
dari tingkat keuntungan (profitabilitas) dan risiko bisa dilihat dari
kemungkinan perusahaan mengalami kesulitan keuangan atau mengalami
kebangkrutan. (Budiawan, 2009:1).
Untuk menghindari kebangkrutan tersebut maka seorang manajer
perusahaan sangat penting untuk selalu berusaha agar perusahaannya dapat
terus berjalan atau dengan kata lain manajer tersebut dapat menjaga
kelangsungan hidup perusahaannya yang ditempuh dengan cara selalu
memperhatikan dan mengadakan evaluasi terhadap perkembangan
perusahaannya dari waktu ke waktu. Seorang manajer harus dapat memahami
kondisi keuangan perusahaannya, karena pada dasarnya kondisi keuangan
tersebut akan mempengaruhi kelangsungan hidup perusahaannya secara
keseluruhan. Salah satu alat yang dipakai untuk mengetahui kondisi
keuangan, dalam hal ini tingkat kesehatan suatu perusahaan adalah berwujud
laporan keuangan yang disusun pada setiap akhir periode yang berisi
pertanggungjawaban dalam bidang keuangan atas berjalannya suatu usaha.
Laporan finansial merupakan hasil dari proses akuntansi yang dapat
digunakan sebagai alat berkomunikasi antara data finansial atau aktivitas
suatu perusahaan dengan pihak-pihak lain yang berkepentingan dengan data
atau aktivitas tersebut. (S. Munawir, 1997:2). Data finansial yang dimaksud
adalah data yang tercermin dalam suatu laporan finansial, yang memberikan
gambaran tentang keuangan suatu perusahaan, yang terdiri dari Neraca,
Laporan Rugi Laba serta laporan-laporan keuangan lainnya. Dengan
mengadakan analisa terhadap pos-pos neraca akan dapat diketahui atau akan
diperoleh gambaran tentang posisi keuangannya, sedangkan analisa terhadap
laporan rugi labanya akan memberikan gambaran tentang hasil atau
Untuk mengukur tingkat kesehatan keuangan perusahaan dapat
digunakan alat analisis yang disebut analisis rasio keuangan. Untuk
melakukan analisis rasio keuangan, diperlukan perhitungan rasio-rasio
keuangan yang mencerminkan aspek-aspek tertentu. Rasio-rasio keuangan
mungkin dihitung berdasarkan atas angka-angka yang ada dalam neraca saja,
dalam laporan rugi-laba saja, atau pada neraca dan laporan rugi-laba. Setiap
analisis keuangan bisa saja merumuskan rasio tertentu yang dianggap
mencerminkan aspek tertentu (Suad Husnan,2002:69).
Rasio keuangan merupakan alat yang dinyatakan dalam artian relative
maupun absolute yang menjelaskan hubungan tertentu antara angka yang satu
dengan angka yang lainnya dalam laporan keuangan (Syafaruddin Alwi,
1994:107). Analisis laporan keuangan akan memberikan hasil yang terbaik
jika digunakan dalam suatu kombinasi untuk menunjukan suatu perubahan
kondisi keuangan atau kinerja operasional selama periode tertentu, lebih
lanjut dapat memberikan gambaran suatu trend dan pola perubahan, yang
pada akirnya bisa memberikan indikasi adanya risiko dan peluang bisnis
(Mudrajad Kuncoro dan Suhardjono, 2002:557). Mabruroh (2004) melakukan
penelitian tentang manfaat dan pengaruh rasio keuangan dalam analisis
kinerja keuangan perbankan pada perusahaan go public yang tercatat di BEJ
pada tahun 2000. Alat analisis yang digunakan yaitu rasio likuiditas, rasio
leverage, rasio aktivitas dan rasio profitabilitas, hasilnya menyimpulkan
secara parsial dan berpengaruh secara bersama-sama terhadap kinerja
keuangan perbankan.
Pada dasarnya perusahaan yang baik kinerjanya akan mempunyai
harga saham yang tinggi (Ang: 1997:8) karena dalam dunia investasi harga
saham dapat direfleksikan pada kinerja keuangan perusahaan, dimana
semakin tinggi harga saham maka suatu perusahaan akan dikatakan semakin
baik kinerjanya. Kinerja Keuangan merupakan dasar untuk melihat sejauh
mana pengelolaan bank sesuai dengan asas-asas perkreditan yang sehat dan
sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Semakin baik Kinerja Keuangan
tersebut berarti semakin sehat lembaga keuangan bank tersebut. Pada kondisi
seperti ini akan lebih banyak ada jaminan perolehan laba yang lebih tinggi,
selanjutnya adalah semakin besarnya peluang ekspansi dan pembagian
dividen. Reputasi lembaga keuangan bank meningkat sehingga kondisi ini
akan dapat meningkatkan harga saham. Bagi pemegang saham, meningkatnya
harga saham akan meningkatkan return sahamnya.
Kinerja keuangan melalui analisa laporan keuangan dapat membantu
pelaku bisnis, pihak pemerintah, dan para pemakai laporan keuangan lainnya
dalam menilai kondisi suatu perusahaan tidak terkecuali perusahaan
perbankan.. Kinerja keuangan meliputi : Likuiditas, Rentabilitas, Solvabilitas
bermanfaat dalam memprediksi pertumbuhan laba perusahaan, serta dapat
dipakai sebagai sistem peringatan awal terhadap kemunduran kondisi
Laporan keuangan merupakan sebuah informasi yang penting bagi
investor dalam mengambil keputusan investasi. Manfaat laporan keuangan
tersebut menjadi optimal bagi investor apabila investor dapat menganalisis
lebih lanjut melalui analisis rasio keuangan. Rasio keuangan berguna untuk
memprediksi kesulitan keuangan perusahaan, hasil operasi, kondisi keuangan
perusahaan saat ini dan pada masa mendatang, serta sebagai pedoman bagi
investor mengenai kinerja masa lalu dan masa mendatang.
Laporan keuangan perbankan yang menjadi latar belakang penelitian
antara lain: Pertama, sumber pendapatan perusahaan perbankan masih
tergantung pada surat berharga, kedua, bank-bank makin dipercaya
masyarakat dalam bentuk peningkatan dana pihak ketiga; ketiga,
restrukturisasi perusahaan dan kredit yang ditangani BPPN (Badan
Penyehatan Perbankan Nasional) masih belum berjalan sesuai harapan
perusahaan perbankan dan dunia usaha; keempat, faktor ketidakstabilan
situasi dalam negari memberikan aroma yang kurang baik terhadap iklim
perbankan. Bank Indonesia mengungkapkan bahwa jumlah bank yang go
public saat ini mencapai 31 bank dari jumlah bank yang mencapai 121 buah.
Tetapi hanya 10 bank yang mengalami fluktuasi nilai harga saham dan return
saham pada beberapa Bank yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia, pada table
Tabel 1.
Harga Saham Bank Yang Go Public di Bursa Efek Indonesia
NAMA BANK 2008 2009 2010
PT. Bank Negara Indonesia, Tbk 680 1.980 3.875 PT. Bank Central Asia, Tbk 7.300 4.850 6.400
PT. Bank Bukopin, Tbk 200 375 650
PT. Bank Rakyat Indonesia, Tbk 4.575 7.650 10.500 PT. Bank Danamon, Tbk 3.100 4.550 5.700 PT. Bank Mandiri, Tbk 2.025 4.700 6.500
PT. Bank Kesawan, Tbk 670 740 1.040
Return Saham Bank Yang Go Public di Bursa Efek Indonesia
NAMA BANK 2008 2009 2010
PT. Bank Negara Indonesia, Tbk -65.49 191.37 104.91 PT. Bank Central Asia, Tbk -10.95 49.23 31.95 PT. Bank Bukopin, Tbk -64.28 87.5 73.33 PT. Bank Rakyat Indonesia, Tbk -38.16 67.17 37.25 PT. Bank Danamon, Tbk -61.24 94.19 25.27 PT. Bank Mandiri, Tbk -42.14 132.09 38.29 PT. Bank Kesawan, Tbk 34.1 23.7 40.76
PT. BTPN., Tbk 24.56 225 153.12
PT. Bank Victoria, Tbk -37.16 48.38 -8.69 PT. Bank Permata, Tbk 44.94 63.26 91.25
Sumber : BEI
Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat terjadinya ketidakstabilan
harga saham. Ketidak stabilan harga saham tersebut ternyata mengakibatkan
penurunan return saham dari beberapa bank yang terdaftar di BEI dari tahun
2008 – 2011. Hal ini hendaknya menjadi perhatian yang penting, karena bagi
itu penelitian ini ingin menganalisis kembali temuan penelitian sebelumnya
dari sudut fundamental perusahaan, yaitu rasio yang terdapat dalam
rentabilitas, likuiditas dan solvabilitas terhadap tingkat imbal hasil (return)
saham perusahaan perbankan.
Rentabilitas merupakan kemampuan perusahaan dalam memperoleh
keuntungan sebelum pajak dengan modal rata-rata yang digunakan, maka
dengan rentabilitas tinggi mencerminkan efisiensi perusahaan yang tinggi.
Jadi, rentabiltas ini menjadi alat ukur efektivitas dan efisiensi operasi
perusahaan dalam menggunakan modalnya untuk menghasilkan laba, maka
marjin keuntungan, rasio operasi, dan produktivitas tenaga kerja merupakan
faktor-faktor yang mencerminkan efisiensi dan hal ini tercermin dalam
rentabilitas. Semakin besar rasio ini berarti bahwa manajemen bank
cenderung menghasilkan laba operasi yang relatif lebih kecil sebagai akibat
operasinya kurang efisien atau biaya operasi yang relatif lebih besar.
Sehingga jika semakin besar rasio ini berarti manajemen semakin beroperasi
kurang efisien sehingga laba akhirpun akan semakin kecil. Jadi kondisi ini
menurut (Machfoedz dalam Suardana, 2008:6) akan menurunkan reputasi
bank meraih laba sehingga pada akhirnya akan berdampak pada return saham
perusahaan.
Likuiditas ratio menggambarkan perbandingan antara kredit yang
dikeluarkan bank dengan dana dari pihak ketiga. Menurut Suardana (2008)
meningkatnya Likuiditas ratio berarti meningkat pula pendapatan bunga yang
profitabilitas meningkat yang mengindikasikan pertumbuhan laba yang
semakin besar. Sebaliknya, akan berdampak terhadap penurunan harga saham
jika semakin kecil rasio ini.
Menurut Suwarno, 2003 dalam Suardana, (2008:7) jika rasio
solvabilitas meningkat, maka modal sendiri yang dimiliki bank meningkat
sehingga tersedia dana murah yang cukup besar untuk mengakselerasi
pemberian kredit dan pengembangan. Kondisi demikian akan dapat
meningkatkan laba perusahaan yang pada akhirnya membuka peluang untuk
pengembangan skala usaha dan peluang pembagian dividen kepada
pemegang saham. Hal ini akan memberikan dampak pada peningkatan
penilaian kinerja bank. Rasio solvabilitas menunjukkan berapa bagian dari
aktiva yang digunakan untuk menjamin utang. Kreditur lebih menyukai rasio
utang yang rendah karena semakin rendah rasio ini, maka semakin besar
perlindungan terhadap kerugian kreditur dalam peristiwa likuidasi. Di sisi
lain, pemegang saham akan menginginkan leverage yang lebih besar karena
akan dapat meningkatkan laba yang diharapkan
Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka peneliti tertarik untuk
melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Kinerja Keuangan
Terhadap Return Saham Pada Bank Yang Terdaftar Di Bursa Efek
Indonesia ”.
1.2.Perumusan Masalah
Berdasarkan penjelasan dan latar belakang tersebut diatas, maka
1. Apakah Rentabilitas berpengaruh terhadap Return Saham ?
2. Apakah Likuiditas berpengaruh terhadap Return Saham ?
3. Apakah Solvabilitas berpengaruh terhadap Return Saham ?
1.3.Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk membuktikan pengaruh Rentabilitas Terhadap Return Saham.
2. Untuk membuktikan pengaruh Likuiditas Terhadap Return Saham.
3. Untuk membuktikan pengaruh Solvabilitas Terhadap Return Saham.
1.4.Manfaat Penelitian
Penelitian yang dilakukan dapat bermanfaat bagi :
1. Praktisi
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan yang
menjadikan pertimbangan dalam pemecahan masalah yang berkaitan
dengan return saham.
2. Peneliti
Untuk menambah wawasan dan pengalaman secara praktik di bidang
keuangan khususnya mengenai teoritik tentang teori-teori yang telah
di peroleh selama studi di perguruan tinggi dengan kasus-kasus nyata
di bidang perbankan dan juga untuk memperdalam pengetahuan yang
3. Akademis
Diharapkan dari hasil penelitian ini dapat memberikan manfaat dan
menambah perbendaharaan perpustakaan serta sebagai bahan
perbandingan bagi rekan-rekan mahasiswa yang mengadakan
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.Penelitian Terdahulu
Penelitian terdahulu yang berkaitan dengan rasio keuangan dalam
memprediksi pertumbuhan laba yang dapat dijadikan sebagai bahan masukan
serta bahan pengkajian pernah dilakukan oleh :
A. Budiawan (2009) dengan judul : Analisis Kinerja Keuangan Perusahaan
Ditinjau Dari Rentabilitas, Likuiditas Dan Solvabilitas (Studi Kasus Pada
PTPN X Surakarta)
Hasil dari penelitian ini menyatakan bahwa tingkat kinerja keuangan
perusahaan secara keseluruhan menurut Surat Keputusan Menteri
Keuangan RI No.826/KMK.013/1992 menunjukkan bahwa kinerja
keuangan PTPN X Surakarta dari tahun 2006 sampai tahun 2008
mengalami penurunan secara terus-menerus, yaitu pada tahun 2006 dengan
kondisi sehat, tahun 2007 dengan kondisi kurang sehat dan tahun 2008
dengan kondisi tidak sehat, yang mencerminkan kondisi kesehatan
perusahaan dalam keadaan yang kurang baik. Hal tersebut mungkin
disebabkan oleh beberapa faktor internal perusahaan, yang meliputi
penurunan hasil penjualan, biaya-biaya yang meningkat terutama biaya
non usaha, kemampuan dalam membayar hutang harus tetap ditingkatkan
kegiatan operasional. Sehingga untuk periode selanjutnya perusahaan
harus memperhatikan faktorfaktor tersebut guna mencapai tujuan
perusahaan sesuai dengan yang diharapkan.
B. Ulupui (2009) Dengan judul : Analisis pengaruh rasio likuiditas, leverage,
aktivitas, dan Profitabilitas terhadap return saham
Berdasarkan hasil pembahasan di atas, penelitian ini menemukan hal-hal
sebagai berikut.
• Variabel current ratio memiliki pengaruh yang positif dan signifikan
terhadap return saham satu periode ke depan.
• Variabel return on asset berpengaruh positif dan signifikan terhadap
return saham satu periode ke depan.
• Variabel debt to equity rasio menunjukkan hasil yang positif, tetapi
tidak signifikan.
2.2. Landasan Teori
2.2.1. Bank
2.2.1.1.Pengertian Bank
Menurut undang-undang no. 14 tahun 1967 tentang pokok-pokok
perbankan (Pasal 1) Bank merupakan lembaga keuangan yang usahanya
adalah memberikan kredit dan jasa dalam lalu lintas uang pembayaran dan
peredaran uang.
Menurut undang-undang no. 17 tahun 1992 tentang perbankan
bentuk simpanan, dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam rangka
meningkatkan taraf hidup rakyat banyak.
Beberapa pengertian tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa
bank merupakan suatu badan usaha yang dalam kegiatan usahanya
mengandalkan kepercayaan dari masyarakat. Oleh karena itu menjaga
kesehatan bank merupakan salah satu kunci keberhasilan bank di dalam
menggaet nasabah.
2.2.1.2.Jenis Jenis Bank
Menurut UU No. 7 tahun 1992, ada dua jenis bank yaitu :
1. Bank Umum
Bank umum adalah bank yang memberikan jasa dalam lalu lintas
pembayaran.
Menurut Subagyo ( 1997 :44 ) bank umum adalah badan usaha
yang kegiatan utamanya memberikan simpanan dalam masyarakat dan
atau pihak lainnya, kemudian mengalokasikannya kembali untuk
memperoleh keuntungan serta menyediakan jasa-jasa dalam lalu lintas
pembayaran.
Dari segi kepemilikan, Bank Umum di Indonesia dibedakan
menjadi 2 yaitu (Subagyo, 1997: 65):
a. Bank Umum Pemerintahan
Bank Umum Pemerintahan adalah bank yang seluruh
modalnya berasal dari kekayaan Negara yang dipisahkan dan
b. Bank Umum Swasta Nasional, dibedakan menjadi :
Bank Umum Swasta Nasional
Bank Umum swasta Nasional adalah Bank milik swasta
yang didirikan dalam bentuk hokum perseroan terbatas
yang mana seluruh sahamnya dimiliki oleh warga
Indonesia, dan atau badan hokum di Indonesia serta
pengelolaanya ditangani oleh warga Indonesia.
Bank Umum Swasta Asing
Bank Umum Swasta Asing adalah Bank yang didirikan
dalam bentuk cabang-cabang Bank yang sudah ada diluar
negei atau dalam bentuk campuran antara Bank Asing dan
Bank Swasta Nasional di Indonesia.
2. Bank Perkreditan Rakyat (BPR)
Bank yang menerima simpanan hanya dalam bentuk deposito
berjangka, tabungan dan atau bentuk lainya yang dipersamakan dengan
itu.
2.2.1.3. Azas, fungsi dan tujuan perbankan
Ditinjau dari segi umum dalam pelaksanaanya menurut
kenyataanya, fungsi pokok Bank Umum ( Subagyo, 1997 : 44 ) adalah :
1. Menyediakan mekanisme dan alat pembayaran yang relative efisien
2. Menciptakan uang melalui penyaluran kredit dan investasi.
3. Menghimpun data dan menyalurkan kembali kepada masyarakat.
4. Menyediakan jasa-jasa pengelolaan dana trust atau perwalian amanat
individu dan perusahaan-perusahaa.
5. Menyediakan fasilitas-fasilitas untuk perdagangan Internasional.
6. Memberikan pelayanan penyimpanan barang-barang berharga.
7. Menawarkan jasa-jasa keuangan lainya, misalnya kartu kredit, cek
perjalanan, ATM, dan transfer dana lainya.
Berdasarkan Undang-Undang RI No.10 Tahun 1998 tentang
perbankan, dijelaskan bahwa azas, fungsi dan tujuan perbankan di
Indonesia adalah sebagai berikut :
1. Perbankan Indonesia dalam melaksanakan usahanya berazaskan
demokrasi ekonomi dengan menggunakan prinsip kehati-hatian (
prudential banking ).
2. Fungsi utama perbankan diIndonesia sebagai penghimpun dana dan
penyalur dana masyarakat.
3. Perbankan Indonesia bertujuan menunjang pelaksanaan
pembangunan Nasional dalam rangka meningkatkan pemerataan,
pertumbuhan ekonomi dan stabilitas Nasional kearah peningkatan
2.2.2. Informasi Keuangan
2.2.2.1. Pengertian Informasi
Menurut Robert G murdick (1986 : 6), Informasi terdiri dari data
yang telah di ambil kembali, diolah atau sebaliknya digunakan untuk tujuan
informasi atau kesimpulan, argumentasi, atau sebagai dasar untuk kriteria
peramalan atau pengambilan keputusan.
Menurut Raymond (1996 : 18), informasi adalah data yang telah di
proses atau data yang memiliki arti.
Berdasarkan beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa
informasi adalah data yang telah diolah menjadi bentuk yang lebih berguna
dan lebih berarti bagi yang menerimanya, menggambarkan suatu kejadian
dan suatu kejadian nyata yang dapat digunakan sebagai dasar peramalan atau
pengambilan keputusan sekarang maupun masa depan.
2.2.2.2. Sifat informasi
Suatu informasi bagi perusahaan sangatlah penting, oleh karena itu
pihak manajemen perusahaan harus memperhatikan sifat-sifat dari informasi
tersebut karena akan sangat mempengaruhi kualitas pengambilan keputusan.
Menurut Rosyidi (1999 : 242) sifat-sifat informasi adalah sebagai
berikut :
1. Dapat dipahami, kualitas informasi dapat membantu atau memberi
2. Relevan, kapasitas informasi yang dapat mendorong keputusan tertentu
atau keputusan yang berbeda apabila dimanfaatkan oleh para
pemakainya untuk kepentingan memprediksi hasil pada masa yang akan
datang, yang didasarkan atas kejadian waktu lampau dan saat sekarang.
3. Dapat dipercaya, informasi bebas dari kesalahan serta telah dinilai dan
disajikan secara layak sesuai dengan tujuan.
4. Tepat waktu, informasi yang siap digunakan oleh para pemakainya
sebelum kehilangan makna dan kapasitasnya dalam mempengaruhi dan
menentukan berbagai keputusan.
5. Netralitas, informasi yang disajikan tidak memihak dan bebas dari
penyimpangan.
2.2.3.Laporan Keuangan
2.2.3.1.Pengertian Laporan Keuangan
Kondisi keuangan suatu perusahaan dapat diketahui dari laporan
keuangan perusahaan. Agar para pemakai jasa laporan keuangan
memperoleh gambaran yang jelas, maka laporan keuangan yang disusun
harus didasarkan pada standar akuntansi yang lazim. Di Indonesia standar
akuntansi tersebut disusun oleh Ikatan Akuntan Indonesia dengan nama
Standar Akuntansi Keuangan.
Menurut Kieso (1995 : 6), laporan keuangan merupakan sarana
utama melalui informasi keuangan dikomunikasikan kepada pihak luar
perusahaan. Laporan ini memberikan suatu sejarah yang berkesinambungan
daya ekonomi dan kewajiban dari suatu perusahaan bisnis dan aktivitas
ekonomi yang mengubah sumber daya dan kewajiban.
Menurut Riyanto (1997 : 327), laporan finansial ( financial
Statement) memberikan ikhisar mengenai keadaan finansial suatu
perusahaan, dimana neraca ( Balance Sheet ) mencerminkan nilai aktiva,
uatang dan modal sendiri pada suatu saat tertentu, dan laporan rugi laba
(income statement) mencerminkan hasil-hasil yang di capai selama suatu
periode tertentu biasanya meliputi periode satu tahun
Menurut Zaki Baridwan (1997 : 17), laporan keuangan merupakan
ringkasan dari suatu proses pencatatan transaki-transaksi keuangan yang
terjadi selama tahun buku yang bersangkutan. Laporan keuangan yang di
buat oleh manajement dengan tujuan untuk mempertanggungjawabkan
tugas-tugasnya yang di bebankan kepadanya oleh para pemilik perusahaan.
Disamping itu laporan keuangan dapat juga di gunakan untuk memenuhi
tujuan-tujuan lain yaitu sebagai laporan kepada pihak-pihak diluar
perusahaan.
Menurut Sawir ( 2005 : 2 ), laporan keuangan merupakan hasil akhir
proses akuntansi. Setiap transaksi yang dapat diukur dengan nilai uang,
dicatat dan diolah sedemikian rupa, laporan akhirpun disajikan dengan nilai
uang. Transaksi yang tidak dapat dicatat dengan nilai uang, tidak akan
terlihat dalam laporan keuangan.Maka dari itu hal-hal yang belum terjadi
Sedangkan menurut Jumigan (2006 : 4 ), laporan keuangan
merupakan hasil tindakan pembuatan ringkasan data keuangan perusahaan.
Laporan keuangan ini disusun dan ditafsirkan untuk kepentingan manajemen
dan pihak lain yang menaruh perhatian atau mempunyai kepentingan dengan
data keuangan perusahaan.
Menurut Harahap ( 1998 : 105 ), laporan keuangan menggambarkan
kondisi keuangan dan hasil suatu perusahaan pada saat tertentu atau jangka
waktu tertentu.Adapun jenis laporan keuangan yang lazim dikenal adalah
Neraca, Laporan Laba-Rugi atau hasil usaha, Laporan Arus Kas, Laporan
Perubahan Posisi Keuangan.
Menurut Munawir ( 1995 : 2 ), laporan keuangan pada dasarnya
adalah hasil dari proses akuntansi yang dapat digunakan sebagai alat
berkomunikasi antara data keuangan atau aktivitas suatu perusahaan dengan
pihak-pihak yang berkepentingan dengan data atau aktifitas perusahaan
tersebut.
Berdasarkan beberapa pengertian di atas dapat ditarik kesimpulan
bahwa laporan keuangan merupakan merupakan bagian dari proses
pelaporan yang lengkap biasanya meliputi neraca, laporan laba/rugi, laporan
perubahan posisi keuangan, catatan dan laporan lain serta materi pelajaran
yang merupakan bagian dari integral dari laporan keuangan. Laporan
keuangan ini dibuat oleh manajemen dengan tujuan untuk
mempertanggungjawabkan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya oleh
untuk memenuhi tujuan-tujuan lain yaitu sebagai laporan kepada
pihak-pihak luar perusahaan, agar para pemakai jasa laporan keuangan tadi
memperoleh gambaran dengan jelas. Oleh karena itu laporan keuangan yang
disusun harus berdasarkan Standar Akuntansi yang lazim Di Indonesia,
Standar Akuntansi tersebut disusun oleh Ikatan Akuntan dengan Nama
Standar Akuntansi Keuangan.
2.2.3.2. Tujuan Laporan Keuangan
Laporan keuangan harus memberikan informasi yang berguna bagi
investor, kreditor dan pemakai lain dalam pengambilan keputusan ekomomi,
selain itu laporan keuangan juga membantu dalam menilai jumlah waktu
dari penerimaan kas di masa depan dari bunga hasil dari penjualan,
penarikan atau jatuh tempo dari sekuritas atau pinjaman ( Kieso, 1995 : 9)
Menurut Zaki Baridwan (1999 : 4) Tujuan umum laporan keuangan
dapat dinyatakan sebagai berikut :
a. Untuk memberikan informasi keuangan yang dapat dipercaya
mengenai sumber-sumber ekonomi dan kewajiban serta modal
suatu perusahaan.
b. Untuk memberikan informasi yang dapat dipercaya mengenai
perubahan dalam sumber-sumber ekomoni netto ( Sumber
dikurangi kewajiban) Suatu perusahaan yang timbul dari
c. Untuk memberikan infomasi keuangan yang membantu para
pemakai laporan di dalam mengestimasi potensi perusahaan dalam
menghasilkan laba.
d. Untuk memberikan informasi penting lainnya mengetahui
perubahan dalam sumber-sumber ekonomi dan kewajiban,seperti
informasi mengenai aktifitas pembelanjaan dan penanaman.
e. Untuk mengungkapkan sejauh mungkin informasi lain yang
berhubungan dengan laporan keuangan yang relevan untuk
kebutuhan pemakai laporan,seperti informasi mengenai
kebijaksanaan akuntansi yang dianut perusahaan.
2.2.3.3. Jenis –jenis Laporan Keuangan Bank
Didalam penyajian suatu informasi keuangan perusahaan, biasanya
mencakup semua laporan keuangan, yang terdiri dari neraca, laporam
komitmen dan kontijensi, laporan laba rugi, laporan arus kas, catatan atas
laporan keuangan, laporan keuangan gabungan dan konsolidasi.
Berikut ini akan dijelaskan masing-masing laporan keuangan yang
dihasilkan pada tiap periode sebagai berikut:
1) Neraca (Balance sheet)
Neraca merupakan laporan yang menunjukkan posisi keuangan bank
pada tanggal tertentu, Posisi keuangan dimaksudkan adalah posisi
aktiva (Harta), Pasiva (Kewajiban dan Ekuitas) suatu bank.
Penyusunan komponen di dalam neraca didasarkan pada tingkat
NERACA LABA/RUGI Perbaikan dan pemeliharaan 500
Biaya lain‐lain 500 Rp 4.700
2) Laporan Komitmen dan Kontinjensi
Laporan komitmen merupakan suatu ikatan atau kontrak yang
berupa janji yang tidak dapat dibatalkan secara sepihak (Irrevocable)
dan harus dilaksanakan apabila persyaratan yang disepakati bersama
dipenuhi. Contoh laporan komitmen adalah komitmen kredit,
komitmen penjualan atau pembelian aktiva bank dengan syarat
Repurcbase Agrement (Repo), sedangkan laporan kontinjensi
merupakan tagihan atau kewajiban bank yang kemungkinan
timbulnya tergantung pada terjadi atau tidak terjadinya satu atau
lebih peristiwa di masa yang akan datang. Penyajian laporan
komitmen dan kontinjensi disajikan tersendiri tanpa pos lama. .
(Kasmir 2003:243)
3) Laporan laba-rugi ( income statement)
Laporan laba rugi merupakan laporan keuangan bank yang
meng-gambarkan hasil usaha bank dalam suatu periode tertentu. Dalam
laporan ini tergambar jumlah pendapatan dan sumber-sumber
pendapatan serta jumlah biaya dan jenis-jenis biaya yang
dikeluarkan (Kasmir 2003:243).
4) Laporan Arus Kas (Statement Of Cash Flow)
Laporan arus kas merupakan laporan yang menunjukkan semua
aspek yang berkaitan dengan kegiatan bank, baik yang berpengaruh
disusun berdasarkan konsep kas selama periode laporan (Kasmir
2003:243).
5) Catatan atas laporan keuangan
Merupakan laporan yang berisi catatan tersendiri mengenai Posisi
Devisa Neto, menurut jenis masa uang dan aktivitas lainnya. (Kasmir
2003:243).
6) Laporan Keuangan Gabungan dan Konsolidasi
Laporan gabungan merupakan laporan dari seluruh
cabang-caban-bank yang bersangkutan baik yang ada di dalarn negeri maupudi luar
negeri. Sedangkan laporan konsolidasi merupakan laporan bank
yang bersangkutan dengan anak perusahaannya. (Kasmir 2003:243)
2.2.4. Analisis Rasio
2.2.4.1. Pengertian Analisis Rasio
Analisa rasio merupakan bentuk cara yang umum digunakan
dalam menganalisis laporan finansial. Rasio menggambarkan suatu
hubungan atau pertimbangan (mathematical relationship) antara suatu
jumlah tertentu dengan jumlah yang lain dan dengan menggunakan alat
analisis berupa rasio ini akan dapat menjelaskan atau memberikan
gambaran kepada penganalisis tentang baik atau buruknya keadaan atau
posisi keuangan suatu perusahaan terutama apabila angka rasio tersebut
dibandingkan dengan rasio perbandingan digunakan sebagai
Menggunakan analisa laporan finansiil dari perusahaan, manajer
akan dapat mengetahui keadaan dan perkembangan finansiil dari
perusahaan dan akan dapat diketahui hasil-hasil finansiil yang telah
dicapai dari waktu lalu dan waktu yang sedang berjalan. Dengan
mengetahui kelemahan-kelemahan yang dimilikinya diusahakan agar
dapat diperbaiki. Analisa yang dilakukan oleh manajer disebut analisis
intern (Bambang, 1997 : 328)
Analisa intern dilakukan oleh kreditur atau investor. Investor
berkepentingan terhadap laporan finansiilnya. Suatu perusahaan dalam
rangka penentuan kebijaksanaan penanaman modal. Para kreditur
berkepentingan terhadap kemampuan nasabah untuk dapat memenuhi
kewajiban finansiil yang harus dipenuhi (Bambang, 1997 : 328-329)
2.2.4.2. Kinerja Keuangan
Menurut Bambang (1997 : 331) mengelompokkan kinerja
keuangan yaitu antara lain :
1. Rasio Likuiditas, yang mengukur kemampuan bank untuk memenuhi
kewajiban finansial jangka pendeknya atau kewajiban yang telah jatuh
tempo. Beberapa rasio likuiditas yang sering digunakan dalam menilai
kinerja suatu bank antara lain sebagai berikut:
Loan to Deposit Ratio (LDR), yaitu rasio antara jumlah seluruh kredit
yang diberikan Bank dengan dana yang diterima oleh Bank. LDR
kembali penarikan dana yang dilakukan deposan dengan
mengandalkan kredit yang diberikan sebagai sumber likuiditasnya.
Dengan kata lain, seberapa jauh pemberian kredit kepada nasabah
kredit dapat mengimbangi kewajiban bank untuk segera memenuhi
permintaan deposan yang ingin menarik kembali uangnya yang telah
digunakan oleh bank untuk memberikan kredit. Semakin tinggi rasio
tersebut memberikan indikasi semakin rendahnya kemapuan likuiditas
bank yang bersangkutan. Hal ini disebabkan karena jumlah dana yang
diperlukan untuk membiayai kredit semakin besar. Rasio LDR ini
merupakan indikator kerawanan dan kemampuan dari suatu bank.
Sebagian praktisi perbankan menyepakati bahwa batas aman dari LDR
suatu bank adalah sekitar 80%. Namun batas toleransi berkisar antara
85%-100%.
LDR = Jumlah Pembiayaan Yang Diberikan x 100% Jumlah Dana yang diterima Bank
2. Rasio Rentabilitas, yaitu alat untuk menganalisa atau mengukur
tingkat efesiensi usaha dan profitabilitas yang dicapai oleh Bank yang
bersangkutan. Selain itu, rasio-rasio dalam kategori ini dapat pula
digunakan untuk mengukur tingkat kesehatan bank. Dalam
perhitungan rasio-rasio rentabilitas ini biasanya dicari hubungan
timbale balik antar pos yang terdapat pada laporan laba-rugi bank
yang bermanfaat dalam mengukur tingkat efesiensi dan profitabilitas
bank yang bersangkutan.
Return On Equity (ROE), yaitu perbandingan diantara laba bersih
bank dengan modal sendiri. ROE ini merupakan indikator yang amat
penting bagi para pemegang saham dan calon investor untuk
mengukur kemampuan bank dalam memperoleh laba bersih yang
dikaitkan dengan pembagian deviden. Kenaikan dalam rasio ini berarti
terjadi kenaikan laba bersih dari bank yang bersangkutan. Selanjutnya,
kenaikan tersebut akan menyebabkan kenaikan harga saham. Perlu
diperhatikan, bahwa dalam penentuan tingkat kesehatan bank, Bank
Indonesia lebih mementingkan penilaian besarnya ROA dan tidak
memasukkan unsure ROE. Hal ini dikarenakan Bank Indonesia selaku
Pembina dan pengawas perbankan lebih mengutamakan nilai
profitabilitas suatu bank yang diukur dengan asset yang dananya
sebagian besar berasal dari simpanan masyarakat
ROE = Laba Bersih x 100% Modal Sendiri
3. Analisa Solvabilitas. Analisis ini digunakan untuk mengukur
kemampuan Bank dalam memenuhi kewajiban jangka panjangnya,
atau kemampuan bank untuk memenuhi kewajiban-kewajibannya jika
terjadi likuiditasi Bank. Disamping itu, rasio ini digunakan untuk
mengetahui perbandingan antara volume (jumlah) dana yang
diperoleh dari berbagai hutang (jangka pendek dan jangka panjang)
penanaman dana tersebut pada berbagai jenis aktiva yang dimiliki
bank. Rasio Solvabilitas ini terdiri atas:
Debt to Equity Ratio (DER), yaitu rasio yang digunakan untuk
mengukur kemampuan bank dalam menutup sebagian atau seluruh
hutanghutangnnya, baik jangka panjang maupun jangka pendek,
dengan dana yang berasal dari dana bank sendiri. Dengan kata lain,
rasio ini mengukur seberapa besar total pasiva yang terdiri atas
persentase modal bank sendiri dibandingkan dengan besarnya hutang.
Dalam bisnis perbankan, sebagian besar dana yang ada pada suatu
bank berasal dari simpanan masyarakat, baik berupa simpanan giro,
tabungan ataupun deposito. Dengan demikian, hanya sebagian kecil
saja dana yang berasal dari modal sendiri. Selain memperoleh hutang
(kewajiban) dari deposan (penyimpanan dana), pada umumnya bank
juga bisa meperoleh pinjaman dari lembaga-lembaga perbankan, baik
dalam maupun luar negeri, serta pinjaman dari Bank Indonesia (KLBI,
BLBI, dan fasilitas lainnya).
DER = Jumlah Utang x 100% Jumlah Modal Sendiri
2.2.4.3. Kegunaan Analisis Rasio
Analisis rasio seperti halnya alat-alat analisis yang lain adalah “future
oriented”. Oleh karena itu penganalisa harus mampu untuk
menyesuaikan faktor-faktor yang ada pada periode atau waktu itu
mempengaruhi posisi keuangan atau hasil operasi perusahaan yang
bersangkutan. Dengan demikian kegunaan atau manfaat suatu angka
rasio sepertinya tergantung kepada kemampuan atau kecerdasan
penganalisa dalam menginterprestasikan data yang bersangkutan.
(Munawir, 1998 : 64)
Analisis rasio digunakan oleh tiga kelompok utama (Weston, 1990 :
312-313) Yaitu :
1. Manajer, yang menggunakan rasio-rasio tersebut untuk
menganalisis mengendalikan dan memperbaiki operasi perusahaan.
2. Analisa kredit, seperti petugas kredit bank atau analis yang
menetapkan peringkat obligasi (di AS), yang menganalisis rasio
untuk menentukan kemampuan suatu perusahaan membayar
utangnya.
3. Analisa sekuritas, yaitu analisis saham yang berkepentingan atas
efisiensi dan prospek pertumbuhan perusahaan, dan analis obligasi
yang berkepentingan atas kemampuan perusahaan untuk membayar
bunga dan pokok obligasi serta nilai likuiditas aktiva dalam hal ini
kepailitan.
2.2.4.4. Keterbatasan Analisis Rasio Keuangan
Menurut Harahap ( 1998 : 298 ), Analisis rasio keuangan
memiliki beberapa keterbatasan yang diharuskan untuk diketahui
dalam penggunaan dalam perhitungan. Keterbatasan tersebut antara
1. Kesulitan dalam memilih rasio yang tepat yng dapat digunakan
untuk kepentingan pemakainya.
2. Keterbatasan yang dimiliki akuntansi atau laporan keuangan
juga menjaga keterbatasan teknik seperti :
Bahan perhitungan rasio atau laporan keuangan itu
hanya mengandung taksiran dan judgment yang dapat
dinilai bias atau subjektif.
Nilai yang terkandung dalam laporan keuangan dari
rasio adalah nilai perolehan (cost) bukan harga pasar.
Klasifikasi dalam laporan keuangan bisa berdampak
pada angka rasio.
Metode pencatatan yang tergambar dalam standar
akuntansi bias diterapkan berbeda oleh perusahaan yang
berbeda.
3. Jika data untuk menghitung rasio tidak tersedia maka akan
menimbulkan kesulitan dalam menghitung rasio.
4. Sulit jika ada data yang sesuai tidak sinkron.
5. Jika dua perusahaan dibandingkan bisa saja teknik dan standar
akuntansi yang dipakai tidak sama. Oleh karenanya jika
2.2.5. Saham
Saham menurut Tandellin (2001:26) dapat dibedakan menjadi 2 yaitu:
1. Saham Preferen
Adalah Saham yang mempunnyai kombinasi karakteristik gabungan
dari obligasi maupun saham biasa, karena saham preferen memberikan
pendapatan yang tetap seperti halnya obligasi, dan juga mendapatkan
hak kepemilikan seperti pada saham biasa.
2. Saham Biasa
Adalah Sekuritas yang menunjukkan bahwa pemegang saham biasa
tersebut mempunnyai hak kepemilikan atas asset-aset perusahaan.
Oleh karena itu, pemegang saham mempunnyai hak suara (voting
rights) untuk memilih direktur maupun manajemen perusahaan dan
ikut berperan dalam pengambilan keputusan penting perusahaan
dalam rapat umum pemegang saham (RUPS).
Jika dilihat menurut tingkatannya dalam perdagangan saham
tersebut menurut Sitompul (1996:4-6), saham-saham dapat dibedakan
atas:
a.Saham Utilitas (Utility Stock)
Saham ini merupakan saham yang dikeluarkan oleh perusahaan yang
menyelenggarakan kegiatan di bidang sarana dan prasarana umum
misalnya telekomunikasi, listrik, energi dan yang berkaitan dengan
kepentingan umum lainnya. Saham-saham dari perusahaan ini banyak
memegang monopoli dari pemerintah, dengan demikian beresiko kecil
meskipun tidak dapat dikatakan tidak mempunnyai resiko.
b. Saham Blue Chip (Blue Chip Stock)
Saham yang dikategorikan dalam jenis ini adalah saham-sahan dari
perusahaan-perusahaan besar yang sudah sangat mapan misalnya
perusahaan-perusahaan besar terutama perusahaan multinasional
seperti IBM, General Electric dan sebagainya, di Indonesia dapat
dikatakan antara lain Astra. Namun demikian bukannya tanpa resiko
menanamkan modal diperusahaan tersebur, Karena dengan besarnya
perusahaan, maka deviden yang diterima para pemodal akan kecil
jumlah persahamnya, sehongga bgi pemodal-pemodal kecil tidak
begitu menguntungkan.
c. Saham Establish Growth
Yaitu saha dari perusahaan yang sedang berkembang dengan pesat,
saham perusahaaan seperti ini menjanjikan keuntungan yang besar di
masa depan, perusahaan tersebut memiliki pertumbuhan yang baik
namun kekuatan finansial kurang, sehingga memerlukan investasi
yang relative besar untuk mendukung pertumbuhan bisnisnya.
Menanamkan modal pada perusahaan ini penuh resiko, namun bila
pertumbuhan berhasil baik maka para pemodal akan mendapat
keuntungan yang besar sesuai dengan resiko yang dihadapi.
d. Saham Emerging Growth
Saham dari perusahaan yang baru berkembang dan baru memasuki
pasar untuk produk atau jasa yang dihasilkan. Penghasilan yang
didapat perusahaan ini digunakan untuk mendukung pemasaran
produk atau jasanya. Resiko pemodal di perusahaan ini lebih besar,
karena dapat saja dalam prakteknya perusahaan seperti ini tidak
mampu mengembangkan diri dan mengalami kematian.
e. Saham Penny (Penny stock)
Perusahannya juga biasa disebut perusahaan Penny, yaitu perusahaan
yang baru memulai usahanya dan tentunya memerlukan dana yang
besar untuk menjalankan bisnisnya. Pemidal yang memiliki saham
perusahaan ini harus siap menerima resiko kehilangan seluruh
investasi.
2.2.5.1. Keuntungan Membeli Saham
Pada dasarnya, ada dua keuntungann yang diperoleh investor dengan
membeli atau memiliki saham, yaitu :
1. Deviden, adalah pembagian keuntungan yang diberikan perusahaan
penerbit saham atas keuntungan yang dihasilkan perusahaan.
Deviden diberikan setelah mendapat persetujuan dari pemegang
saham dalam RUPS. Investor yang berhak menerima deviden
adalah investor yang memegan saham hingga batas waktu
Umumnya merupakan salah satu daya tarik bagi pemegang saham
dengan orientasi jangka panjang, misalnya investor institusi, dana
pensiun, dan lain-lain. Deviden yang dibagikan perusahaan dapat
berupa deviden tunai (Dividend), yaitu kepada setiap pemegang
saham diberikan deviden berupa uang tunai dalam jumlah rupiah
tertentu untuk setiap saham, atau dapat pula berupa deviden saham
(stock dividend), yaitu kepada setiap pemegang saham diberikan
deviden dalam bentuk saham sehingga jumlah saham yang dimiliki
seorang investor akan bertambah dengan adanya pembagian
deviden tersebut.
2. Capital Gain, merupakan selisih antara harga beli dan harga jual.
Capital gain terbentuk dengan adanya aktivitas perdagangan saham
di pasar sekunder. Misalnya, seorang investor membeli saham
Telkom (TLKM) dengan harga per saham Rp 3.000, kemudian
menjualnya kembali dengan harga per saham Rp 3.500, maka
investor tersebut mendapatkan capital gain sebesar Rp 500 untuk
setiap saham yang dijualnya. Umumnya investor dengan orientasi
jangka pendek mengejar keuntungan melalui capital gain. Investor
seperti ini bisa saja membeli saham pada pagi hari, lalu menjualnya
lagi pada siang hari jika saham mengalami kenaikkan.
3. Saham Bonus (jika ada), adalah saham yang dibagikan perusahaan
kepada para pemegang saham yang diambil dari agio saham. Agio
saham pada saat perusahaan melakukan penawaran umum di pasar
perdana. Misalnya, setiap saham dengan nominal Rp 500 dijual
dengan harga Rp 800, maka setiap saham akan memberikan agio
kepada perusahaan sebesar Rp 300.
Di pasar sekunder atau dalam aktivitas perdagangan saham
sehari-hari, harga saham mengalami fluktuasi naik maupun turun.
Pembentukan harga saham terjadi karena adanya permintaan (demand) dan
penawaran (supply) atas saham tersebut. Dengan kata lain, harga saham
terbentuk atas permintaan dan penawaran saham. Supply dan demand
terjadi karena beberapa faktor, baik yang sifatnya spesifik atas saham
(kinerja perusahaan dan industri dimana perusahaan tersebut bergerak),
maupun yang sifatnya makro seperti kondisi ekonomi negara, kondisi
sosial-politik, maupun rumor-rumor yang berkembang.
2.2.5.2. Karakteristik Saham
1. Saham Preferen, mempunyai beberapa karateristik antara lain :
o Memiliki hak lebih dahulu memperoleh deviden.
o Memiliki hak pembayaran maksimum sebesar nilai nominal
saham lebih dahulu setelah kreditor, apabila perusahaan
tersebut dilikuidasi (dibubarkan).
o Kemungkinan dapat memperoleh tambahan dari pembagian
laba perusahaan disamping penghasilan yang diterima secara
o Dalam hal perusahaan dilikuidasi, memiliki hak memperoleh
pembagian kekayaan perusahaan diatas pemegang saham biasa
setelah semua kewajiban perusahaan dilunasi.
Kelebihan Dan Kelemahan Saham Preferen
o Kelebihannya adalah lebih aman daripada saham biasa karena
memiliki hak klaim terhadap kekayaan perusahaan dan
pembagian deviden terlebih dahulu.
o Kelemahannya yaitu :
Dibandingkan dengan investasi dalam bentuk pinjaman/
utang, saham preferen kurang aman karena deviden
secara hukum bukan kewajiban.
Tidak memiliki waktu jatuh tempo.
Sulit diperjualbelikan dibanding saham biasa karena
biasanya jumlah saham preferenyang beredar jauh lebih
sedikit.
Pada saaat perusahaan dilikuidasi, yang dibayarkan
hanyalah nilai nominalnya.
2. Saham Biasa, mempunyai beberapa karakteristik, antara lain :
o Deviden dibayarkan sepanjang perusahaan memperoleh laba.
o Memiliki hak suara dalam rapat umum pemegang saham (satu
o Memiliki hak terakhir (junior) dalam hal pembagian kekayaan
perusahaan jiak perusahaan dilikuidasi setelah semua
kewajiban perusahaan dilunasi.
o Hak untuk memiliki saham baru yang diterbitkan oleh
perusahaan terlebih dahulu (preemptive right).
Saham dikenal dengan karakteristik “imbal hasil tinggi, resiko
tinggi” (high risk, high return). Artinya, saham merupakan surat berharga
yang memberikan peluang keuntungan dan potensi resiko yang tinggi.
Saham memungkinkan investor untuk mendapatkan imbal hasil atau
capital gain yang besar dalam waktu singkat. Namun, seiring
berfluktuasinya harga saham, maka saham juga dapat membuat investor
mengalami kerugian besar dalam waktu singkat. Resiko investor yang
memiliki saham diantaranya :
1. Tidak mendapat deviden
Perusahaan akan membagikan deviden jika operasinya
menghasilkan keuntungan. Oleh karena itu, perusahaan tidak dapat
membagikan deviden jika mengalami kerugian. Dengan demikian,
potensi keinginan investor untuk mendapatkan deviden ditentukan
oleh kinerja perusahaan tersebut.
2. Capital loss
Dalam aktivitas perdagangan saham, investor tidak selalu
mendapatkan capital gain atau keuntungan atas saham yang
jual lebih rendah dari harga beli. Dengan demikian, seorang
investor mengalami capital loss. Misalnya, seorang investor
membeli saham Indosat (ISAT) dengan harga Rp 9.000, namun
beberap waktu kemudian dijual dengan harga Rp 8.000 per saham,
maka investor tersebut mengalami capital loss Rp 1.000 untuk
setiap saham yang dijual. Dalam jual beli saham, terkadang untuk
menghindari potensi kerugian yang ssemakin besar seiring terus
menurunnya harga saham, maka seorang investor rela menjual
sahamnya dengan harga rendah. Istilah ini dikenal dengan
penghentian kerugian (cut loss).
3. Perusahaan bangkrut atau dilikuidasi
Jika sebuah perusahaan bangkrut, maka tentu saja akan berdampak
langsung terhadap saham perusahaan tersebut. Sesuai dengan
peraturan pencatatan saham di bursa efek, jika sebuah perusahaan
bangkrut maka secara otomatis saham perusahaan akan dikeluarkan
dari bursa atau di-delist. Dalam kondisi perusahaan dilikuidasi,
maka pemegang saham menempati posisi lebih rendah dibanding
kreditor atau pemegang obligasi. Ini berarti setelah semua aset
perusahaan dijual hasil penjualan terlebih dahulu dibagikan kepada
para kreditor atau pemegang obligasi, dan jika masih terdapat sisa,
4. Saham dikeluarkan dari bursa (delisting)
Jika saham perusahaan dikeluarkan dari pencatatan Bursa Efek
atau di-delist. Saham perusahaan dikeluarkan dari bursa umumnya
dikarenakan kinerja yang buruk, misalnya dalam kurun waktu
tertentu tidak pernah diperdagangkan, mengalami kerugian
beberapa tahun, tidak membagikan deviden secara berturut-turut
selama beberapa tahun, dan berbagai kondisi lainnya sesuai
Peraturan Pencatatan Efek di Bursa.
5. Saham dihentikan sementara (suspensi).
2.2.6. Return Saham
Investor bersedia membeli saham perusahaan tertentu karena
adanya return saham yang diharapkan akan direalisasikan pada masa
mendatang dalam benutk dividen dan capital gain. Astika (2003:2)
menyatakan bahwa return saham merupakan suatu variabel yang muncul
dari perubahan harga saham sebagai akibat dari reaksi pasar karena adanya
penyampaian informasi keuangan suatu entitas ke dalam pasar modal.
Return saham yang diterima investor dinyatakan sebagai berikut (Jogianto,
2001):
Pi,t – Pi (t-1)
Ri,t = X 100 %
Pi(t-1)
Ri,t = tingkat keuntungan saham i pada periode t
Pi (t) = harga saham i pada periode t
Risiko atau kerugian yang ditanggung oleh pemegang saham
adalah (1) tidak mendapat dividen dan (2) capital losss. Perusahaan akan
membagikan keuntungan jika operasi perusahaan menghasilkan
keuntungan dan mendapat persetujuan dari pemegang saham (dalam
RUPS). Dengan demikian, perusahaan tidak dapat membagikan dividen
jika perusahaan mengalami kerugian. Sementara itu, dalam aktivitas
perdagangan tidak selalu pemodal mendapatkan capital gain atau
keuntungan atas saham yang dijualnya. Ada kalanya pemodal harus
menjual saham dengan harga jual lebih rendah daripada harga belinya
sehingga pemodal mengalami kerugian atau capital loss. Di samping risiko
di atas, seorang investor juga masih dihadapkan dengan potensi kerugian
lainnya, yaitu kebangkrutan perusahaan, saham dikeluarkan dari
pencatatan di bursa efek, dan saham dihentikan perdagangannya oleh
otoritas bursa efek.
2.2.6. Pengaruh Rentabilitas Terhadap Return Saham
Rentabilitas merupakan kemampuan perusahaan dalam
memperoleh keuntungan sebelum pajak dengan modal rata-rata yang
digunakan, maka dengan rentabilitas tinggi mencerminkan efisiensi
perusahaan yang tinggi. Jadi, rentabiltas ini menjadi alat ukur efektivitas
dan efisiensi operasi perusahaan dalam menggunakan modalnya untuk
produktivitas tenaga kerja merupakan faktor-faktor yang mencerminkan
efisiensi dan hal ini tercermin dalam rentabilitas (Machfoedz dalam
Suardana, 2008:6).
Dari rasio di atas dapat diketahui bahwa semakin besar rasio ini
berarti bahwa manajemen bank cenderung menghasilkan laba operasi yang
relatif lebih kecil sebagai akibat operasinya kurang efisien atau biaya
operasi yang relatif lebih besar. Sehingga jika semakin besar rasio ini
berarti manajemen semakin beroperasi kurang efisien sehingga laba
akhirpun akan semakin kecil. Jadi kondisi ini akan menurunkan reputasi
bank meraih laba sehingga pada akhirnya akan berdampak pada harga
saham perusahaan. Dengan demikian, rasio rentabilitas berpengaruh positif
terhadap return saham
2.2.7. Pengaruh Likuiditas Terhadap Return Saham
Likuiditas mencerminkan kemampuan perusahaan dalam
memenuhi kewajiban jangka pendek yang harus segera dipenuhi,
selanjutnya berkaitan dengan masalah likuiditas ini perusahaan dikatakan
mampu memenuhi kewajiban keuangan tepat pada waktunya berarti
perusahaan dalam keadaan liquid dan sebaliknya apabila perusahaan tidak
segera memenuhi kewajiban keuangannya pada saat ditagih berarti
perusahaan tersebut dalam keadaan inliquid. (Ang, 1997 dalam Suardana,
Likuiditas ratio menggambarkan perbandingan antara kredit yang
dikeluarkan bank dengan dana dari pihak ketiga. Meningkatnya Likuiditas
ratio berarti meningkat pula pendapatan bunga yang diperoleh oleh bank.
Dengan semakin meningkatnya Likuiditas ratio berarti profitabilitas
meningkat yang mengindikasikan pertumbuhan laba yang semakin besar.
Sebaliknya, akan berdampak terhadap penurunan harga saham jika
semakin kecil rasio ini. Dengan demikian, aspek likuiditas berpengaruh
positif terhadap return saham.
2.2.8. Pengaruh Solvabilitas Terhadap Return Saham
Rasio solvabilitas menunjukkan berapa bagian dari aktiva yang
digunakan untuk menjamin utang. Kreditur lebih menyukai rasio utang
yang rendah karena semakin rendah rasio ini, maka semakin besar
perlindungan terhadap kerugian kreditur dalam peristiwa likuidasi. Di sisi
lain, pemegang saham akan menginginkan leverage yang lebih besar
karena akan dapat meningkatkan laba yang diharapkan. Menurut Suwarno
dalam Suardana, (2008:7) jika rasio solvabilitas meningkat, maka modal
sendiri yang dimiliki bank meningkat sehingga tersedia dana murah yang
cukup besar untuk mengakselerasi pemberian kredit dan pengembangan.
Kondisi demikian akan dapat meningkatkan laba perusahaan yang pada
akhirnya membuka peluang untuk pengembangan skala usaha dan peluang
pembagian dividen kepada pemegang saham. Hal ini akan memberikan
Ananta dalam Suardana, (2008:8) peersepsi pasar yang meningkat
terhadap kinerja perbankan akan meningkatkan permintaan saham
sehingga akan dapat memicu meningkatnya harga saham dan pada
akhirnya akan meningkatkan return saham. Dengan demikian, rasio
solvabilitas berpengaruh positif terhadap return saham
2.3. Kerangka Konseptual
Untuk mengetahui adanya hubungan kinerja perusahaan dan return saham,
dapat digambarkan dalam suatu bagan kerangka konseptual sebagai berikut :
Gambar. 1
Diagram Kerangka Konseptual
Rentabilitas ( X1 )
Likuiditas ( X2 )
Solvabilitas ( X3 )
2.4. Hipotesis
Berdasarkan perumusan masalah dan tujuan penelitian yang telah
diuraikan sebelumnya, maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut :
1. Bahwa Rentabilitas berpengaruh positif dan signifikan terhadap Return
Saham
2. Bahwa Likuiditas berpengaruh positif dan signifikan terhadap Return
Saham
3. Bahwa Solvabilitas berpengaruh positif dan signifikan terhadap Return
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Definisi Operasional Dan Pengukuran Variabel
Definisi operasional dalam suatu penelitian adalah untuk memberikan
petunjuk tentang bagaimana suatu penelitian diukur. Variabel yang
dipergunakan dalam penelitian ini terdiri dari dua macam variabel. Yaitu
variabel independen (bebas) dan variable dependen (terikat).
Adapun definisi secara operasional dari setiap variabel yang
diajukan dalam penelitian ini adalah :
a. Variabel terikat / variabel yang diprediksi :
Return Saham (sebagai variabel Y)
Return saham adalah suatu variabel yang muncul dari perubahan
harga saham sebagai akibat dari reaksi pasar karena adanya penyampaian
informasi keuangan suatu entitas ke dalam pasar modal dengan rumus
(Ulupui, 2009 : 9) :
b. Variabel bebas / variabel yang memprediksi, antara lain :
1) Rentabilitas
Rentabilitas merupakan kemampuan perusahaan dalam memperoleh
keuntungan sebelum pajak dengan modal rata-rata yang digunakan, dapat
ROE = Laba Bersih x 100% Modal Sendiri
2) Likuiditas
Likuiditas mencerminkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi
kewajiban jangka pendek yang harus segera dipenuhi dapat dirumuskan
dengan (Faisol, 2007:152):
LDR = Jumlah Pembiayaan Yang Diberikan x 100% Jumlah Dana yang diterima Bank
3) Solvabilitas
Rasio solvabilitas menunjukkan berapa bagian dari aktiva yang
digunakan untuk menjamin utang jangka panjang dapat dirumuskan
dengan (Faisol, 2007:152) :
DER = Jumlah Utang x 100% Jumlah Modal Sendiri
3.2. Teknik Penentuan Sampel
a. Populasi
Menurut Djarwanto (1998 : 107 ) Populasi adalah jumlah dari
keseluruhan objek yang karakteristiknya hendak diduga, sedangkan
populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah Bank yang go
b Sampel
Menurut Djarwanto (1998 : 108) Sampel adalah sebagian dari
populasi yang karakteristiknya hendak diselidiki dan dianggap bisa
mewakili kaseluruhan populasi.
Teknik penarikan sampel yang digunakan dalam penelitian ini
adalah purposive sampling, yaitu teknik pemilihan sampel ditujukan
pada unit populasi yang mempunyai karakteristik khusus yang terkait
dengan topik penelitian.
Adapun karakteristik tersebut, yaitu sebagai berikut :
1. Perusahaan bank yang memiliki laporan keuangan yang lengkap dan
telah diaudit dan terdaftar di Bursa Efek Indonesia
2. Perusahaan bank selama tahun 2008-2010 yang mengalami penurunan
return saham.
Berdasarkan Karakteristik tersebut diperoleh 10 Bank yang go publik di
Bursa Efek Indonesia.
PT. Bank Negara Indonesia, Tbk
PT. Bank Central Asia, Tbk
PT. Bank Bukopin, Tbk
PT. Bank Rakyat Indonesia, Tbk
PT. Bank Danamon, Tbk
PT. Bank Mandiri, Tbk
PT. Bank Kesawan, Tbk
PT. BTPN., Tbk
PT. Bank Victoria, Tbk
3.3. Teknik Pengumpulan Data
Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data terdiri dari :
a. Metode Dokumentasi
Yaitu mempelajari dokumen-dokumen yang berupa laporan keuangan
perusahaan.
b. Studi Pustaka
Yaitu membaca literatur-literatur yang berkaitan dengan penelitian ini dari
perusahaan.
3.4. Teknik Analisa dan Uji Hipotesis
3.4.1. Uji Normalitas
Uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah suatu data
mengikuti sebaran normal atau tidak. Untuk mengetahui apakah data
tersebut mengikuti sebaran normal dapat dilakukan dengan berbagai metode
diantaranya adalah metode Kolmogorov Smirnov dan metode Shapiro Wilk,
dengan mempergunakan program SPSS 10.0 (Sumarsono, 2002 : 40).
Pedoman dalam mengambil keputusan apakah sebuah distribusi data
mengikuti distribusi normal adalah :
Jika nilai signifikansi lebih kecil dari 5%, maka distribusi adalah tidak
normal.
Jika nilai signifikansi lebih besar dari 5%, maka distribusi adalah
3.4.2. Teknik Analisis
Data yang diperoleh akan dianalisis. Dalam penelitian ini termasuk
dalam analisis kuantitatif yaitu teknik analisis dimana data-data yang
berbentuk angka-angka akan dianalisis dengan cara melakukan
perhitungan dengan menggunakan metode statistik analisis regresi linier
berganda dengan bantuan program komputer yang menggunakan SPSS
sebagai program analisis (pengolahan data).
Dimana metode analisis regresi berganda yang dapat dinyatakan
dengan rumus sebagai berikut :
Y = 0 + 1X1 + 2X2 + 3X3 + ei
Dimana :
Y = Return Saham
X1 = Rasio Likuiditas
X2 = Rasio Rentabilitas
X3 = Rasio Solvabilitas
0 = Bilangan konstanta
1, 2, 3 = Koefisien Regresi
3.4.3. Uji Asumsi Klasik
Persamaan regresi tersebut diatas harus bersifat BLUE ( Best
Linier Unbiased Estimator ), artinya pengambilan keputusan melalui uji F
dan uji t tidak boleh bias. Untuk menghasilkan keputusan yang BLUE
maka harus dipenuhi diantaranya tiga asumsi dasar. Tiga asumsi dasar
yang tidak boleh dilanggar oleh regresi linier berganda yaitu :
a. Tidak boleh ada autokorelasi
b. Tidak boleh ada multikolinieritas
c. Tidak boleh ada heteroskedasitas
Apabila salah satu dari ketiga asumsi dasar tersebut dilanggar,
maka persaman regresi yang diperoleh tidak lagi bersifat BLUE, sehingga
pengambilan keputusan melalui uji F dan uji t menjadi bias.
3.4.3.1. Autokorelasi
Uji Autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah dalam suatu
model regresi linier ada korelasi antara korelasi pengganggu pada periode t
dengan kesalahan pada periode t-1 (sebelumnya).
Untuk menguji variabel-variabel yang diteliti, apakah terjadi
autokorelasi atau tidak, dapat digunakan uji Durbin Watson, yaitu dengan
cara membandingkan nilai Durbin Watson yang dihitung dengan dL dan
Banyaknya data time series minimal yang dapat dihitung dengan
Durbin Wtson enam buah data dengan satu variabel. Identifikasi gejala
autokorelasi dapat dilakukan dengan kurva di bawah ini :
ada daerah daerah ada
auto keragu keragu auto
korelasi raguan raguan
positif Tidak ada autokorelasi
negatif positif dan tidak ada
autokorelasi negatif
0 dL dU 4 - dU 4- dL 4
3.4.3.2. Multikolinieritas
Uji Multikolinieritas bertujuan untuk menguji apakah dalam
persamaan regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas
(independen). Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi
diantara variabel bebas.
Multikolinieritas dapat dilihat dari nilai tolerance dan Variance
Inflation Factor (VIF). Nilai tolerance yang rendah sama dengan nilai VIF
tinggi (karena VIF : 1/tolerance) dan menunjukkan adanya
multikolinieritas yang tinggi. Batas nilai non multikolinieritas yaitu nilai
VIF < 10 dan mempunyai tolerance > 0,10. Hal ini berarti dalam model