• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh Kinerja Keuangan Terhadap Return Saham Pada Bank Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Pengaruh Kinerja Keuangan Terhadap Return Saham Pada Bank Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia."

Copied!
82
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH KINERJA KEUANGAN TERHADAP

RETURN SAHAM PADA BANK YANG GO PUBLIC

DI BURSA EFEK INDONESIA

SKRIPSI

Diajukan Kepada Fakultas Ekonomi

Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur

Untuk Menyusun Skripsi S-1 Jurusan Manajemen

Oleh :

MIRASANDI NEVANDA

0712010089 / EM

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL ”VETERAN”

JAWA TIMUR

(2)

SKRIPSI

PENGARUH KINERJA KEUANGAN TERHADAP RETURN SAHAM PADA BANK YANG TERDAFTAR

DI BURSA EFEK INDONESIA

Yang diajukan

MIRASANDI NEVANDA

0712010089 / EM

disetujui untuk Ujian Lisan oleh

Pembimbing Utama

Yuniningsih, SE, M.Si Tanggal………

Mengetahui Wakil Dekan I

(3)

Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat

dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul :

“Pengaruh Kinerja Keuangan Terhadap Return Saham Pada Bank Yang

Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia”

Skripsi ini diajukan untuk memenuhi sebagian persyaratan guna

memperoleh gelar Sarjana Ekonomi Progdi Manajemen pada Fakultas Ekonomi

Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini tidak akan berhasil tanpa adanya

dukungan dari berbagai pihak, oleh karena itu pada kesempatan ini dengan segala

ketulusan hati penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada :

1. Bapak Prof. Dr. Ir. Teguh Soedarto, MP, selaku Rektor Universitas

Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.

2. Bapak Dr. Dhani Ichsanudin Nur, MM, selaku Dekan Fakultas Ekonomi

Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur

3. Bapak Dr. Muhadjir Anwar, MM, selaku Ketua Jurusan Manajemen Fakultas

Ekonomi Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.

4. Ibu Yuniningsih, SE, M.Si, selaku Dosen Pembimbing Utama yang telah

memberikan bimbingan dan dorongan kepada peneliti dalam menyelesaikan

(4)

“Veteran” Jawa Timur yang telah memberikan banyak pengetahuan selama

masa perkuliahan.

6. Bapak dan Ibu, yang telah memberikan dukungan, doa dan semangat dan

segalanya.

7. Semua pihak yang ikut membantu, yang tidak bisa penulis sebutkan

satu-persatu.

Penulis menyadari bahwa apa yang telah disajikan masih banyak

kekurangan, untuk itu kritik dan saran yang membangun dari semua pihak sangat

diharapkan demi kesempurnaan skripsi ini. Akhirnya dengan segala keterbatasan

yang penulis miliki, semoga skripsi ini bermanfaat bagi pihak yang

berkepentingan.

Surabaya, Maret 2012

(5)

KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR ISI ... iii

DAFTAR TABEL ... vi

DAFTAR GAMBAR... vii

ABSTRAKSI ... viii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1. Latar Belakang Masalah ... 1

1.2. Rumusan Masalah ... 8

1.3. Tujuan Penelitian ... 9

1.4. Manfaat Penelitian ... 9

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 10

2.1. Penelitian Terdahulu ... 10

2.2. Landasan Teori ... 11

2.2.1. Bank... 11

2.2.1.1.Pengertian Bank... 11

2.2.1.2.Jenis Jenis Bank... 12

2.2.1.3. Azas, fungsi dan tujuan perbankan ... 14

(6)

2.2.4. Analisis Rasio ... 24

2.2.5. Saham ... 31

2.2.6. Return Saham ... 39

2.2.6. Pengaruh Rentabilitas Terhadap Harga saham... 40

2.2.7. Pengaruh Likuiditas Terhadap Harga saham... 41

2.2.8. Pengaruh Solvabilitas Terhadap Harga saham ... 42

2.3. Kerangka Konseptual ... 43

2.4. Hipotesis ... 44

BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel ... 45

3.2 Teknik Penentuan Sampel ... 46

3.3 Teknik Pengumpulan Data... 48

3.4 Teknik Analisis dan Uji Hipotesis ... 48

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1. Deskripsi Perusahaan ... 55

4.1.1. Gambaran Umum Bursa Efek Indonesia ... 55

4.1.2. Visi dan Misi PT. Bursa Efek Indonesia... 57

4.2. Deskripsi Hasil Pengujian Hipotesis... 58

4.2.1. Uji Normalitas ... 58

(7)

4.2.2.2 Multikolinearitas ... 60

4.2.2.3 Heteroskedastisitas... 61

4.2.3. Hasil Pengujian Regresi Linier Berganda ... 62

4.4.2.4. Hasil Pengujian Uji F dan uji t... 64

4.3. Pembahasan ... 65

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 69

5.1. Kesimpulan ... 69

5.2. Saran ... 69

DAFTAR PUSTAKA

(8)

DAFTAR TABEL

Tabel 4.1. Normalitas Data Masing-masing Variabel...59

Tabel 4.2. Data Autokorelasi ...60

Tabel 4.3. Batas-batas daerah Test Durbin Watson ...61

Tabel 4.4 : Hasil Pengujian Multikolinieritas ...62

Tabel 4.5 : Hasil Pengujian Heteroskedastisitas ...63

Tabel 4.6 Koefisien Regresi...64

Tabel 4.7 : Hasil Uji F ...65

(9)
(10)

RETURN SAHAM PADA BANK YANG GO PUBLIC

DI BURSA EFEK INDONESIA

Mirasandi Nevanda

ABSTRAK

Kinerja keuangan melalui analisa laporan keuangan dapat membantu pelaku bisnis, pihak pemerintah, dan para pemakai laporan keuangan lainnya dalam menilai kondisi suatu perusahaan tidak terkecuali perusahaan perbankan.. Selain itu, rasio keuangan yang meliputi : Likuiditas, Rentabilitas, Solvabilitas bermanfaat dalam memprediksi pertumbuhan laba perusahaan, serta dapat dipakai sebagai sistem peringatan awal terhadap kemunduran kondisi keuangan dari suatu bank. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membuktikan pengaruh Rentabilitas Terhadap return saham, untuk membuktikan pengaruh Likuiditas Terhadap return saham, untuk membuktikan pengaruh Solvabilitas Terhadap return saham

Populasi adalah jumlah dari keseluruhan objek yang karakteristiknya hendak diduga, sedangkan populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah Bank yang go public di Bursa Efek Indonesia.. Model yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi linier berganda.

Setelah mengetahui permasalahan, meneliti dan membahas hasil penelitian tentang pengaruh ROE, LDR, DER berpengaruh signifikan terhadap Return Saham dan Dividen maka dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut :

Untuk variabel ROE (X1) secara parsial tidak berpengaruh terhadap Return

Saham. Untuk variabel LDR (X2) secara parsial tidak berpengaruh terhadap

Return Saham. Untuk variabel DER (X3) secara parsial tidak berpengaruh terhadap Return Saham.

.

(11)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang

Perkembangan posisi keuangan mempunyai arti yang sangat penting

bagi perusahaan. Untuk melihat sehat tidaknya suatu perusahaan tidak hanya

dapat dinilai dari keadaan fisiknya saja, misalnya dilihat dari gedung,

pembangunan atau ekspansi. Faktor terpenting untuk dapat melihat

perkembangan suatu perusahaan terletak dalam unsur keuangannya, karena

dari unsur tersebut juga dapat mengevaluasi apakah kebijakan yang ditempuh

suatu perusahaan sudah tepat atau belum, mengingat sudah begitu

kompleksnya permasalahan yang dapat menyebabkan kebangkrutan

dikarenakan banyaknya perusahaan yang akhirnya gulung tikar karena factor

keuangan yang tidak sehat. Dengan keadaan sekarang ini, dimana persaingan

ketat dibidang perekonomian sudah mulai masuk ke negara Indonesia, maka

jika seorang manajer perusahaan tidak memperhatikan faktor kesehatan

keuangan dalam perusahaannya, mungkin saja akan terjadi kebangkrutan

seperti yang telah dikemukakan sebelumnya. Analisis keuangan pada

dasarnya ingin melihat prospek dan risiko perusahaan. Prospek bisa dilihat

dari tingkat keuntungan (profitabilitas) dan risiko bisa dilihat dari

kemungkinan perusahaan mengalami kesulitan keuangan atau mengalami

kebangkrutan. (Budiawan, 2009:1).

(12)

Untuk menghindari kebangkrutan tersebut maka seorang manajer

perusahaan sangat penting untuk selalu berusaha agar perusahaannya dapat

terus berjalan atau dengan kata lain manajer tersebut dapat menjaga

kelangsungan hidup perusahaannya yang ditempuh dengan cara selalu

memperhatikan dan mengadakan evaluasi terhadap perkembangan

perusahaannya dari waktu ke waktu. Seorang manajer harus dapat memahami

kondisi keuangan perusahaannya, karena pada dasarnya kondisi keuangan

tersebut akan mempengaruhi kelangsungan hidup perusahaannya secara

keseluruhan. Salah satu alat yang dipakai untuk mengetahui kondisi

keuangan, dalam hal ini tingkat kesehatan suatu perusahaan adalah berwujud

laporan keuangan yang disusun pada setiap akhir periode yang berisi

pertanggungjawaban dalam bidang keuangan atas berjalannya suatu usaha.

Laporan finansial merupakan hasil dari proses akuntansi yang dapat

digunakan sebagai alat berkomunikasi antara data finansial atau aktivitas

suatu perusahaan dengan pihak-pihak lain yang berkepentingan dengan data

atau aktivitas tersebut. (S. Munawir, 1997:2). Data finansial yang dimaksud

adalah data yang tercermin dalam suatu laporan finansial, yang memberikan

gambaran tentang keuangan suatu perusahaan, yang terdiri dari Neraca,

Laporan Rugi Laba serta laporan-laporan keuangan lainnya. Dengan

mengadakan analisa terhadap pos-pos neraca akan dapat diketahui atau akan

diperoleh gambaran tentang posisi keuangannya, sedangkan analisa terhadap

laporan rugi labanya akan memberikan gambaran tentang hasil atau

(13)

Untuk mengukur tingkat kesehatan keuangan perusahaan dapat

digunakan alat analisis yang disebut analisis rasio keuangan. Untuk

melakukan analisis rasio keuangan, diperlukan perhitungan rasio-rasio

keuangan yang mencerminkan aspek-aspek tertentu. Rasio-rasio keuangan

mungkin dihitung berdasarkan atas angka-angka yang ada dalam neraca saja,

dalam laporan rugi-laba saja, atau pada neraca dan laporan rugi-laba. Setiap

analisis keuangan bisa saja merumuskan rasio tertentu yang dianggap

mencerminkan aspek tertentu (Suad Husnan,2002:69).

Rasio keuangan merupakan alat yang dinyatakan dalam artian relative

maupun absolute yang menjelaskan hubungan tertentu antara angka yang satu

dengan angka yang lainnya dalam laporan keuangan (Syafaruddin Alwi,

1994:107). Analisis laporan keuangan akan memberikan hasil yang terbaik

jika digunakan dalam suatu kombinasi untuk menunjukan suatu perubahan

kondisi keuangan atau kinerja operasional selama periode tertentu, lebih

lanjut dapat memberikan gambaran suatu trend dan pola perubahan, yang

pada akirnya bisa memberikan indikasi adanya risiko dan peluang bisnis

(Mudrajad Kuncoro dan Suhardjono, 2002:557). Mabruroh (2004) melakukan

penelitian tentang manfaat dan pengaruh rasio keuangan dalam analisis

kinerja keuangan perbankan pada perusahaan go public yang tercatat di BEJ

pada tahun 2000. Alat analisis yang digunakan yaitu rasio likuiditas, rasio

leverage, rasio aktivitas dan rasio profitabilitas, hasilnya menyimpulkan

(14)

secara parsial dan berpengaruh secara bersama-sama terhadap kinerja

keuangan perbankan.

Pada dasarnya perusahaan yang baik kinerjanya akan mempunyai

harga saham yang tinggi (Ang: 1997:8) karena dalam dunia investasi harga

saham dapat direfleksikan pada kinerja keuangan perusahaan, dimana

semakin tinggi harga saham maka suatu perusahaan akan dikatakan semakin

baik kinerjanya. Kinerja Keuangan merupakan dasar untuk melihat sejauh

mana pengelolaan bank sesuai dengan asas-asas perkreditan yang sehat dan

sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Semakin baik Kinerja Keuangan

tersebut berarti semakin sehat lembaga keuangan bank tersebut. Pada kondisi

seperti ini akan lebih banyak ada jaminan perolehan laba yang lebih tinggi,

selanjutnya adalah semakin besarnya peluang ekspansi dan pembagian

dividen. Reputasi lembaga keuangan bank meningkat sehingga kondisi ini

akan dapat meningkatkan harga saham. Bagi pemegang saham, meningkatnya

harga saham akan meningkatkan return sahamnya.

Kinerja keuangan melalui analisa laporan keuangan dapat membantu

pelaku bisnis, pihak pemerintah, dan para pemakai laporan keuangan lainnya

dalam menilai kondisi suatu perusahaan tidak terkecuali perusahaan

perbankan.. Kinerja keuangan meliputi : Likuiditas, Rentabilitas, Solvabilitas

bermanfaat dalam memprediksi pertumbuhan laba perusahaan, serta dapat

dipakai sebagai sistem peringatan awal terhadap kemunduran kondisi

(15)

Laporan keuangan merupakan sebuah informasi yang penting bagi

investor dalam mengambil keputusan investasi. Manfaat laporan keuangan

tersebut menjadi optimal bagi investor apabila investor dapat menganalisis

lebih lanjut melalui analisis rasio keuangan. Rasio keuangan berguna untuk

memprediksi kesulitan keuangan perusahaan, hasil operasi, kondisi keuangan

perusahaan saat ini dan pada masa mendatang, serta sebagai pedoman bagi

investor mengenai kinerja masa lalu dan masa mendatang.

Laporan keuangan perbankan yang menjadi latar belakang penelitian

antara lain: Pertama, sumber pendapatan perusahaan perbankan masih

tergantung pada surat berharga, kedua, bank-bank makin dipercaya

masyarakat dalam bentuk peningkatan dana pihak ketiga; ketiga,

restrukturisasi perusahaan dan kredit yang ditangani BPPN (Badan

Penyehatan Perbankan Nasional) masih belum berjalan sesuai harapan

perusahaan perbankan dan dunia usaha; keempat, faktor ketidakstabilan

situasi dalam negari memberikan aroma yang kurang baik terhadap iklim

perbankan. Bank Indonesia mengungkapkan bahwa jumlah bank yang go

public saat ini mencapai 31 bank dari jumlah bank yang mencapai 121 buah.

Tetapi hanya 10 bank yang mengalami fluktuasi nilai harga saham dan return

saham pada beberapa Bank yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia, pada table

(16)

Tabel 1.

Harga Saham Bank Yang Go Public di Bursa Efek Indonesia

NAMA BANK 2008 2009 2010

PT. Bank Negara Indonesia, Tbk 680 1.980 3.875 PT. Bank Central Asia, Tbk 7.300 4.850 6.400

PT. Bank Bukopin, Tbk 200 375 650

PT. Bank Rakyat Indonesia, Tbk 4.575 7.650 10.500 PT. Bank Danamon, Tbk 3.100 4.550 5.700 PT. Bank Mandiri, Tbk 2.025 4.700 6.500

PT. Bank Kesawan, Tbk 670 740 1.040

Return Saham Bank Yang Go Public di Bursa Efek Indonesia

NAMA BANK 2008 2009 2010

PT. Bank Negara Indonesia, Tbk -65.49 191.37 104.91 PT. Bank Central Asia, Tbk -10.95 49.23 31.95 PT. Bank Bukopin, Tbk -64.28 87.5 73.33 PT. Bank Rakyat Indonesia, Tbk -38.16 67.17 37.25 PT. Bank Danamon, Tbk -61.24 94.19 25.27 PT. Bank Mandiri, Tbk -42.14 132.09 38.29 PT. Bank Kesawan, Tbk 34.1 23.7 40.76

PT. BTPN., Tbk 24.56 225 153.12

PT. Bank Victoria, Tbk -37.16 48.38 -8.69 PT. Bank Permata, Tbk 44.94 63.26 91.25

Sumber : BEI

Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat terjadinya ketidakstabilan

harga saham. Ketidak stabilan harga saham tersebut ternyata mengakibatkan

penurunan return saham dari beberapa bank yang terdaftar di BEI dari tahun

2008 – 2011. Hal ini hendaknya menjadi perhatian yang penting, karena bagi

(17)

itu penelitian ini ingin menganalisis kembali temuan penelitian sebelumnya

dari sudut fundamental perusahaan, yaitu rasio yang terdapat dalam

rentabilitas, likuiditas dan solvabilitas terhadap tingkat imbal hasil (return)

saham perusahaan perbankan.

Rentabilitas merupakan kemampuan perusahaan dalam memperoleh

keuntungan sebelum pajak dengan modal rata-rata yang digunakan, maka

dengan rentabilitas tinggi mencerminkan efisiensi perusahaan yang tinggi.

Jadi, rentabiltas ini menjadi alat ukur efektivitas dan efisiensi operasi

perusahaan dalam menggunakan modalnya untuk menghasilkan laba, maka

marjin keuntungan, rasio operasi, dan produktivitas tenaga kerja merupakan

faktor-faktor yang mencerminkan efisiensi dan hal ini tercermin dalam

rentabilitas. Semakin besar rasio ini berarti bahwa manajemen bank

cenderung menghasilkan laba operasi yang relatif lebih kecil sebagai akibat

operasinya kurang efisien atau biaya operasi yang relatif lebih besar.

Sehingga jika semakin besar rasio ini berarti manajemen semakin beroperasi

kurang efisien sehingga laba akhirpun akan semakin kecil. Jadi kondisi ini

menurut (Machfoedz dalam Suardana, 2008:6) akan menurunkan reputasi

bank meraih laba sehingga pada akhirnya akan berdampak pada return saham

perusahaan.

Likuiditas ratio menggambarkan perbandingan antara kredit yang

dikeluarkan bank dengan dana dari pihak ketiga. Menurut Suardana (2008)

meningkatnya Likuiditas ratio berarti meningkat pula pendapatan bunga yang

(18)

profitabilitas meningkat yang mengindikasikan pertumbuhan laba yang

semakin besar. Sebaliknya, akan berdampak terhadap penurunan harga saham

jika semakin kecil rasio ini.

Menurut Suwarno, 2003 dalam Suardana, (2008:7) jika rasio

solvabilitas meningkat, maka modal sendiri yang dimiliki bank meningkat

sehingga tersedia dana murah yang cukup besar untuk mengakselerasi

pemberian kredit dan pengembangan. Kondisi demikian akan dapat

meningkatkan laba perusahaan yang pada akhirnya membuka peluang untuk

pengembangan skala usaha dan peluang pembagian dividen kepada

pemegang saham. Hal ini akan memberikan dampak pada peningkatan

penilaian kinerja bank. Rasio solvabilitas menunjukkan berapa bagian dari

aktiva yang digunakan untuk menjamin utang. Kreditur lebih menyukai rasio

utang yang rendah karena semakin rendah rasio ini, maka semakin besar

perlindungan terhadap kerugian kreditur dalam peristiwa likuidasi. Di sisi

lain, pemegang saham akan menginginkan leverage yang lebih besar karena

akan dapat meningkatkan laba yang diharapkan

Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka peneliti tertarik untuk

melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Kinerja Keuangan

Terhadap Return Saham Pada Bank Yang Terdaftar Di Bursa Efek

Indonesia ”.

1.2.Perumusan Masalah

Berdasarkan penjelasan dan latar belakang tersebut diatas, maka

(19)

1. Apakah Rentabilitas berpengaruh terhadap Return Saham ?

2. Apakah Likuiditas berpengaruh terhadap Return Saham ?

3. Apakah Solvabilitas berpengaruh terhadap Return Saham ?

1.3.Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Untuk membuktikan pengaruh Rentabilitas Terhadap Return Saham.

2. Untuk membuktikan pengaruh Likuiditas Terhadap Return Saham.

3. Untuk membuktikan pengaruh Solvabilitas Terhadap Return Saham.

1.4.Manfaat Penelitian

Penelitian yang dilakukan dapat bermanfaat bagi :

1. Praktisi

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan yang

menjadikan pertimbangan dalam pemecahan masalah yang berkaitan

dengan return saham.

2. Peneliti

Untuk menambah wawasan dan pengalaman secara praktik di bidang

keuangan khususnya mengenai teoritik tentang teori-teori yang telah

di peroleh selama studi di perguruan tinggi dengan kasus-kasus nyata

di bidang perbankan dan juga untuk memperdalam pengetahuan yang

(20)

3. Akademis

Diharapkan dari hasil penelitian ini dapat memberikan manfaat dan

menambah perbendaharaan perpustakaan serta sebagai bahan

perbandingan bagi rekan-rekan mahasiswa yang mengadakan

(21)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1.Penelitian Terdahulu

Penelitian terdahulu yang berkaitan dengan rasio keuangan dalam

memprediksi pertumbuhan laba yang dapat dijadikan sebagai bahan masukan

serta bahan pengkajian pernah dilakukan oleh :

A. Budiawan (2009) dengan judul : Analisis Kinerja Keuangan Perusahaan

Ditinjau Dari Rentabilitas, Likuiditas Dan Solvabilitas (Studi Kasus Pada

PTPN X Surakarta)

Hasil dari penelitian ini menyatakan bahwa tingkat kinerja keuangan

perusahaan secara keseluruhan menurut Surat Keputusan Menteri

Keuangan RI No.826/KMK.013/1992 menunjukkan bahwa kinerja

keuangan PTPN X Surakarta dari tahun 2006 sampai tahun 2008

mengalami penurunan secara terus-menerus, yaitu pada tahun 2006 dengan

kondisi sehat, tahun 2007 dengan kondisi kurang sehat dan tahun 2008

dengan kondisi tidak sehat, yang mencerminkan kondisi kesehatan

perusahaan dalam keadaan yang kurang baik. Hal tersebut mungkin

disebabkan oleh beberapa faktor internal perusahaan, yang meliputi

penurunan hasil penjualan, biaya-biaya yang meningkat terutama biaya

non usaha, kemampuan dalam membayar hutang harus tetap ditingkatkan

(22)

kegiatan operasional. Sehingga untuk periode selanjutnya perusahaan

harus memperhatikan faktorfaktor tersebut guna mencapai tujuan

perusahaan sesuai dengan yang diharapkan.

B. Ulupui (2009) Dengan judul : Analisis pengaruh rasio likuiditas, leverage,

aktivitas, dan Profitabilitas terhadap return saham

Berdasarkan hasil pembahasan di atas, penelitian ini menemukan hal-hal

sebagai berikut.

Variabel current ratio memiliki pengaruh yang positif dan signifikan

terhadap return saham satu periode ke depan.

Variabel return on asset berpengaruh positif dan signifikan terhadap

return saham satu periode ke depan.

Variabel debt to equity rasio menunjukkan hasil yang positif, tetapi

tidak signifikan.

2.2. Landasan Teori

2.2.1. Bank

2.2.1.1.Pengertian Bank

Menurut undang-undang no. 14 tahun 1967 tentang pokok-pokok

perbankan (Pasal 1) Bank merupakan lembaga keuangan yang usahanya

adalah memberikan kredit dan jasa dalam lalu lintas uang pembayaran dan

peredaran uang.

Menurut undang-undang no. 17 tahun 1992 tentang perbankan

(23)

bentuk simpanan, dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam rangka

meningkatkan taraf hidup rakyat banyak.

Beberapa pengertian tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa

bank merupakan suatu badan usaha yang dalam kegiatan usahanya

mengandalkan kepercayaan dari masyarakat. Oleh karena itu menjaga

kesehatan bank merupakan salah satu kunci keberhasilan bank di dalam

menggaet nasabah.

2.2.1.2.Jenis Jenis Bank

Menurut UU No. 7 tahun 1992, ada dua jenis bank yaitu :

1. Bank Umum

Bank umum adalah bank yang memberikan jasa dalam lalu lintas

pembayaran.

Menurut Subagyo ( 1997 :44 ) bank umum adalah badan usaha

yang kegiatan utamanya memberikan simpanan dalam masyarakat dan

atau pihak lainnya, kemudian mengalokasikannya kembali untuk

memperoleh keuntungan serta menyediakan jasa-jasa dalam lalu lintas

pembayaran.

Dari segi kepemilikan, Bank Umum di Indonesia dibedakan

menjadi 2 yaitu (Subagyo, 1997: 65):

a. Bank Umum Pemerintahan

Bank Umum Pemerintahan adalah bank yang seluruh

modalnya berasal dari kekayaan Negara yang dipisahkan dan

(24)

b. Bank Umum Swasta Nasional, dibedakan menjadi :

 Bank Umum Swasta Nasional

Bank Umum swasta Nasional adalah Bank milik swasta

yang didirikan dalam bentuk hokum perseroan terbatas

yang mana seluruh sahamnya dimiliki oleh warga

Indonesia, dan atau badan hokum di Indonesia serta

pengelolaanya ditangani oleh warga Indonesia.

 Bank Umum Swasta Asing

Bank Umum Swasta Asing adalah Bank yang didirikan

dalam bentuk cabang-cabang Bank yang sudah ada diluar

negei atau dalam bentuk campuran antara Bank Asing dan

Bank Swasta Nasional di Indonesia.

2. Bank Perkreditan Rakyat (BPR)

Bank yang menerima simpanan hanya dalam bentuk deposito

berjangka, tabungan dan atau bentuk lainya yang dipersamakan dengan

itu.

2.2.1.3. Azas, fungsi dan tujuan perbankan

Ditinjau dari segi umum dalam pelaksanaanya menurut

kenyataanya, fungsi pokok Bank Umum ( Subagyo, 1997 : 44 ) adalah :

1. Menyediakan mekanisme dan alat pembayaran yang relative efisien

(25)

2. Menciptakan uang melalui penyaluran kredit dan investasi.

3. Menghimpun data dan menyalurkan kembali kepada masyarakat.

4. Menyediakan jasa-jasa pengelolaan dana trust atau perwalian amanat

individu dan perusahaan-perusahaa.

5. Menyediakan fasilitas-fasilitas untuk perdagangan Internasional.

6. Memberikan pelayanan penyimpanan barang-barang berharga.

7. Menawarkan jasa-jasa keuangan lainya, misalnya kartu kredit, cek

perjalanan, ATM, dan transfer dana lainya.

Berdasarkan Undang-Undang RI No.10 Tahun 1998 tentang

perbankan, dijelaskan bahwa azas, fungsi dan tujuan perbankan di

Indonesia adalah sebagai berikut :

1. Perbankan Indonesia dalam melaksanakan usahanya berazaskan

demokrasi ekonomi dengan menggunakan prinsip kehati-hatian (

prudential banking ).

2. Fungsi utama perbankan diIndonesia sebagai penghimpun dana dan

penyalur dana masyarakat.

3. Perbankan Indonesia bertujuan menunjang pelaksanaan

pembangunan Nasional dalam rangka meningkatkan pemerataan,

pertumbuhan ekonomi dan stabilitas Nasional kearah peningkatan

(26)

2.2.2. Informasi Keuangan

2.2.2.1. Pengertian Informasi

Menurut Robert G murdick (1986 : 6), Informasi terdiri dari data

yang telah di ambil kembali, diolah atau sebaliknya digunakan untuk tujuan

informasi atau kesimpulan, argumentasi, atau sebagai dasar untuk kriteria

peramalan atau pengambilan keputusan.

Menurut Raymond (1996 : 18), informasi adalah data yang telah di

proses atau data yang memiliki arti.

Berdasarkan beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa

informasi adalah data yang telah diolah menjadi bentuk yang lebih berguna

dan lebih berarti bagi yang menerimanya, menggambarkan suatu kejadian

dan suatu kejadian nyata yang dapat digunakan sebagai dasar peramalan atau

pengambilan keputusan sekarang maupun masa depan.

2.2.2.2. Sifat informasi

Suatu informasi bagi perusahaan sangatlah penting, oleh karena itu

pihak manajemen perusahaan harus memperhatikan sifat-sifat dari informasi

tersebut karena akan sangat mempengaruhi kualitas pengambilan keputusan.

Menurut Rosyidi (1999 : 242) sifat-sifat informasi adalah sebagai

berikut :

1. Dapat dipahami, kualitas informasi dapat membantu atau memberi

(27)

2. Relevan, kapasitas informasi yang dapat mendorong keputusan tertentu

atau keputusan yang berbeda apabila dimanfaatkan oleh para

pemakainya untuk kepentingan memprediksi hasil pada masa yang akan

datang, yang didasarkan atas kejadian waktu lampau dan saat sekarang.

3. Dapat dipercaya, informasi bebas dari kesalahan serta telah dinilai dan

disajikan secara layak sesuai dengan tujuan.

4. Tepat waktu, informasi yang siap digunakan oleh para pemakainya

sebelum kehilangan makna dan kapasitasnya dalam mempengaruhi dan

menentukan berbagai keputusan.

5. Netralitas, informasi yang disajikan tidak memihak dan bebas dari

penyimpangan.

2.2.3.Laporan Keuangan

2.2.3.1.Pengertian Laporan Keuangan

Kondisi keuangan suatu perusahaan dapat diketahui dari laporan

keuangan perusahaan. Agar para pemakai jasa laporan keuangan

memperoleh gambaran yang jelas, maka laporan keuangan yang disusun

harus didasarkan pada standar akuntansi yang lazim. Di Indonesia standar

akuntansi tersebut disusun oleh Ikatan Akuntan Indonesia dengan nama

Standar Akuntansi Keuangan.

Menurut Kieso (1995 : 6), laporan keuangan merupakan sarana

utama melalui informasi keuangan dikomunikasikan kepada pihak luar

perusahaan. Laporan ini memberikan suatu sejarah yang berkesinambungan

(28)

daya ekonomi dan kewajiban dari suatu perusahaan bisnis dan aktivitas

ekonomi yang mengubah sumber daya dan kewajiban.

Menurut Riyanto (1997 : 327), laporan finansial ( financial

Statement) memberikan ikhisar mengenai keadaan finansial suatu

perusahaan, dimana neraca ( Balance Sheet ) mencerminkan nilai aktiva,

uatang dan modal sendiri pada suatu saat tertentu, dan laporan rugi laba

(income statement) mencerminkan hasil-hasil yang di capai selama suatu

periode tertentu biasanya meliputi periode satu tahun

Menurut Zaki Baridwan (1997 : 17), laporan keuangan merupakan

ringkasan dari suatu proses pencatatan transaki-transaksi keuangan yang

terjadi selama tahun buku yang bersangkutan. Laporan keuangan yang di

buat oleh manajement dengan tujuan untuk mempertanggungjawabkan

tugas-tugasnya yang di bebankan kepadanya oleh para pemilik perusahaan.

Disamping itu laporan keuangan dapat juga di gunakan untuk memenuhi

tujuan-tujuan lain yaitu sebagai laporan kepada pihak-pihak diluar

perusahaan.

Menurut Sawir ( 2005 : 2 ), laporan keuangan merupakan hasil akhir

proses akuntansi. Setiap transaksi yang dapat diukur dengan nilai uang,

dicatat dan diolah sedemikian rupa, laporan akhirpun disajikan dengan nilai

uang. Transaksi yang tidak dapat dicatat dengan nilai uang, tidak akan

terlihat dalam laporan keuangan.Maka dari itu hal-hal yang belum terjadi

(29)

Sedangkan menurut Jumigan (2006 : 4 ), laporan keuangan

merupakan hasil tindakan pembuatan ringkasan data keuangan perusahaan.

Laporan keuangan ini disusun dan ditafsirkan untuk kepentingan manajemen

dan pihak lain yang menaruh perhatian atau mempunyai kepentingan dengan

data keuangan perusahaan.

Menurut Harahap ( 1998 : 105 ), laporan keuangan menggambarkan

kondisi keuangan dan hasil suatu perusahaan pada saat tertentu atau jangka

waktu tertentu.Adapun jenis laporan keuangan yang lazim dikenal adalah

Neraca, Laporan Laba-Rugi atau hasil usaha, Laporan Arus Kas, Laporan

Perubahan Posisi Keuangan.

Menurut Munawir ( 1995 : 2 ), laporan keuangan pada dasarnya

adalah hasil dari proses akuntansi yang dapat digunakan sebagai alat

berkomunikasi antara data keuangan atau aktivitas suatu perusahaan dengan

pihak-pihak yang berkepentingan dengan data atau aktifitas perusahaan

tersebut.

Berdasarkan beberapa pengertian di atas dapat ditarik kesimpulan

bahwa laporan keuangan merupakan merupakan bagian dari proses

pelaporan yang lengkap biasanya meliputi neraca, laporan laba/rugi, laporan

perubahan posisi keuangan, catatan dan laporan lain serta materi pelajaran

yang merupakan bagian dari integral dari laporan keuangan. Laporan

keuangan ini dibuat oleh manajemen dengan tujuan untuk

mempertanggungjawabkan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya oleh

(30)

untuk memenuhi tujuan-tujuan lain yaitu sebagai laporan kepada

pihak-pihak luar perusahaan, agar para pemakai jasa laporan keuangan tadi

memperoleh gambaran dengan jelas. Oleh karena itu laporan keuangan yang

disusun harus berdasarkan Standar Akuntansi yang lazim Di Indonesia,

Standar Akuntansi tersebut disusun oleh Ikatan Akuntan dengan Nama

Standar Akuntansi Keuangan.

2.2.3.2. Tujuan Laporan Keuangan

Laporan keuangan harus memberikan informasi yang berguna bagi

investor, kreditor dan pemakai lain dalam pengambilan keputusan ekomomi,

selain itu laporan keuangan juga membantu dalam menilai jumlah waktu

dari penerimaan kas di masa depan dari bunga hasil dari penjualan,

penarikan atau jatuh tempo dari sekuritas atau pinjaman ( Kieso, 1995 : 9)

Menurut Zaki Baridwan (1999 : 4) Tujuan umum laporan keuangan

dapat dinyatakan sebagai berikut :

a. Untuk memberikan informasi keuangan yang dapat dipercaya

mengenai sumber-sumber ekonomi dan kewajiban serta modal

suatu perusahaan.

b. Untuk memberikan informasi yang dapat dipercaya mengenai

perubahan dalam sumber-sumber ekomoni netto ( Sumber

dikurangi kewajiban) Suatu perusahaan yang timbul dari

(31)

c. Untuk memberikan infomasi keuangan yang membantu para

pemakai laporan di dalam mengestimasi potensi perusahaan dalam

menghasilkan laba.

d. Untuk memberikan informasi penting lainnya mengetahui

perubahan dalam sumber-sumber ekonomi dan kewajiban,seperti

informasi mengenai aktifitas pembelanjaan dan penanaman.

e. Untuk mengungkapkan sejauh mungkin informasi lain yang

berhubungan dengan laporan keuangan yang relevan untuk

kebutuhan pemakai laporan,seperti informasi mengenai

kebijaksanaan akuntansi yang dianut perusahaan.

2.2.3.3. Jenis –jenis Laporan Keuangan Bank

Didalam penyajian suatu informasi keuangan perusahaan, biasanya

mencakup semua laporan keuangan, yang terdiri dari neraca, laporam

komitmen dan kontijensi, laporan laba rugi, laporan arus kas, catatan atas

laporan keuangan, laporan keuangan gabungan dan konsolidasi.

Berikut ini akan dijelaskan masing-masing laporan keuangan yang

dihasilkan pada tiap periode sebagai berikut:

1) Neraca (Balance sheet)

Neraca merupakan laporan yang menunjukkan posisi keuangan bank

pada tanggal tertentu, Posisi keuangan dimaksudkan adalah posisi

aktiva (Harta), Pasiva (Kewajiban dan Ekuitas) suatu bank.

Penyusunan komponen di dalam neraca didasarkan pada tingkat

(32)

NERACA LABA/RUGI  Perbaikan dan pemeliharaan          500 

Biaya lain‐lain            500  Rp   4.700  

(33)

2) Laporan Komitmen dan Kontinjensi

Laporan komitmen merupakan suatu ikatan atau kontrak yang

berupa janji yang tidak dapat dibatalkan secara sepihak (Irrevocable)

dan harus dilaksanakan apabila persyaratan yang disepakati bersama

dipenuhi. Contoh laporan komitmen adalah komitmen kredit,

komitmen penjualan atau pembelian aktiva bank dengan syarat

Repurcbase Agrement (Repo), sedangkan laporan kontinjensi

merupakan tagihan atau kewajiban bank yang kemungkinan

timbulnya tergantung pada terjadi atau tidak terjadinya satu atau

lebih peristiwa di masa yang akan datang. Penyajian laporan

komitmen dan kontinjensi disajikan tersendiri tanpa pos lama. .

(Kasmir 2003:243)

3) Laporan laba-rugi ( income statement)

Laporan laba rugi merupakan laporan keuangan bank yang

meng-gambarkan hasil usaha bank dalam suatu periode tertentu. Dalam

laporan ini tergambar jumlah pendapatan dan sumber-sumber

pendapatan serta jumlah biaya dan jenis-jenis biaya yang

dikeluarkan (Kasmir 2003:243).

4) Laporan Arus Kas (Statement Of Cash Flow)

Laporan arus kas merupakan laporan yang menunjukkan semua

aspek yang berkaitan dengan kegiatan bank, baik yang berpengaruh

(34)

disusun berdasarkan konsep kas selama periode laporan (Kasmir

2003:243).

5) Catatan atas laporan keuangan

Merupakan laporan yang berisi catatan tersendiri mengenai Posisi

Devisa Neto, menurut jenis masa uang dan aktivitas lainnya. (Kasmir

2003:243).

6) Laporan Keuangan Gabungan dan Konsolidasi

Laporan gabungan merupakan laporan dari seluruh

cabang-caban-bank yang bersangkutan baik yang ada di dalarn negeri maupudi luar

negeri. Sedangkan laporan konsolidasi merupakan laporan bank

yang bersangkutan dengan anak perusahaannya. (Kasmir 2003:243)

2.2.4. Analisis Rasio

2.2.4.1. Pengertian Analisis Rasio

Analisa rasio merupakan bentuk cara yang umum digunakan

dalam menganalisis laporan finansial. Rasio menggambarkan suatu

hubungan atau pertimbangan (mathematical relationship) antara suatu

jumlah tertentu dengan jumlah yang lain dan dengan menggunakan alat

analisis berupa rasio ini akan dapat menjelaskan atau memberikan

gambaran kepada penganalisis tentang baik atau buruknya keadaan atau

posisi keuangan suatu perusahaan terutama apabila angka rasio tersebut

dibandingkan dengan rasio perbandingan digunakan sebagai

(35)

Menggunakan analisa laporan finansiil dari perusahaan, manajer

akan dapat mengetahui keadaan dan perkembangan finansiil dari

perusahaan dan akan dapat diketahui hasil-hasil finansiil yang telah

dicapai dari waktu lalu dan waktu yang sedang berjalan. Dengan

mengetahui kelemahan-kelemahan yang dimilikinya diusahakan agar

dapat diperbaiki. Analisa yang dilakukan oleh manajer disebut analisis

intern (Bambang, 1997 : 328)

Analisa intern dilakukan oleh kreditur atau investor. Investor

berkepentingan terhadap laporan finansiilnya. Suatu perusahaan dalam

rangka penentuan kebijaksanaan penanaman modal. Para kreditur

berkepentingan terhadap kemampuan nasabah untuk dapat memenuhi

kewajiban finansiil yang harus dipenuhi (Bambang, 1997 : 328-329)

2.2.4.2. Kinerja Keuangan

Menurut Bambang (1997 : 331) mengelompokkan kinerja

keuangan yaitu antara lain :

1. Rasio Likuiditas, yang mengukur kemampuan bank untuk memenuhi

kewajiban finansial jangka pendeknya atau kewajiban yang telah jatuh

tempo. Beberapa rasio likuiditas yang sering digunakan dalam menilai

kinerja suatu bank antara lain sebagai berikut:

Loan to Deposit Ratio (LDR), yaitu rasio antara jumlah seluruh kredit

yang diberikan Bank dengan dana yang diterima oleh Bank. LDR

(36)

kembali penarikan dana yang dilakukan deposan dengan

mengandalkan kredit yang diberikan sebagai sumber likuiditasnya.

Dengan kata lain, seberapa jauh pemberian kredit kepada nasabah

kredit dapat mengimbangi kewajiban bank untuk segera memenuhi

permintaan deposan yang ingin menarik kembali uangnya yang telah

digunakan oleh bank untuk memberikan kredit. Semakin tinggi rasio

tersebut memberikan indikasi semakin rendahnya kemapuan likuiditas

bank yang bersangkutan. Hal ini disebabkan karena jumlah dana yang

diperlukan untuk membiayai kredit semakin besar. Rasio LDR ini

merupakan indikator kerawanan dan kemampuan dari suatu bank.

Sebagian praktisi perbankan menyepakati bahwa batas aman dari LDR

suatu bank adalah sekitar 80%. Namun batas toleransi berkisar antara

85%-100%.

LDR = Jumlah Pembiayaan Yang Diberikan x 100% Jumlah Dana yang diterima Bank

2. Rasio Rentabilitas, yaitu alat untuk menganalisa atau mengukur

tingkat efesiensi usaha dan profitabilitas yang dicapai oleh Bank yang

bersangkutan. Selain itu, rasio-rasio dalam kategori ini dapat pula

digunakan untuk mengukur tingkat kesehatan bank. Dalam

perhitungan rasio-rasio rentabilitas ini biasanya dicari hubungan

timbale balik antar pos yang terdapat pada laporan laba-rugi bank

(37)

yang bermanfaat dalam mengukur tingkat efesiensi dan profitabilitas

bank yang bersangkutan.

Return On Equity (ROE), yaitu perbandingan diantara laba bersih

bank dengan modal sendiri. ROE ini merupakan indikator yang amat

penting bagi para pemegang saham dan calon investor untuk

mengukur kemampuan bank dalam memperoleh laba bersih yang

dikaitkan dengan pembagian deviden. Kenaikan dalam rasio ini berarti

terjadi kenaikan laba bersih dari bank yang bersangkutan. Selanjutnya,

kenaikan tersebut akan menyebabkan kenaikan harga saham. Perlu

diperhatikan, bahwa dalam penentuan tingkat kesehatan bank, Bank

Indonesia lebih mementingkan penilaian besarnya ROA dan tidak

memasukkan unsure ROE. Hal ini dikarenakan Bank Indonesia selaku

Pembina dan pengawas perbankan lebih mengutamakan nilai

profitabilitas suatu bank yang diukur dengan asset yang dananya

sebagian besar berasal dari simpanan masyarakat

ROE = Laba Bersih x 100% Modal Sendiri

3. Analisa Solvabilitas. Analisis ini digunakan untuk mengukur

kemampuan Bank dalam memenuhi kewajiban jangka panjangnya,

atau kemampuan bank untuk memenuhi kewajiban-kewajibannya jika

terjadi likuiditasi Bank. Disamping itu, rasio ini digunakan untuk

mengetahui perbandingan antara volume (jumlah) dana yang

diperoleh dari berbagai hutang (jangka pendek dan jangka panjang)

(38)

penanaman dana tersebut pada berbagai jenis aktiva yang dimiliki

bank. Rasio Solvabilitas ini terdiri atas:

Debt to Equity Ratio (DER), yaitu rasio yang digunakan untuk

mengukur kemampuan bank dalam menutup sebagian atau seluruh

hutanghutangnnya, baik jangka panjang maupun jangka pendek,

dengan dana yang berasal dari dana bank sendiri. Dengan kata lain,

rasio ini mengukur seberapa besar total pasiva yang terdiri atas

persentase modal bank sendiri dibandingkan dengan besarnya hutang.

Dalam bisnis perbankan, sebagian besar dana yang ada pada suatu

bank berasal dari simpanan masyarakat, baik berupa simpanan giro,

tabungan ataupun deposito. Dengan demikian, hanya sebagian kecil

saja dana yang berasal dari modal sendiri. Selain memperoleh hutang

(kewajiban) dari deposan (penyimpanan dana), pada umumnya bank

juga bisa meperoleh pinjaman dari lembaga-lembaga perbankan, baik

dalam maupun luar negeri, serta pinjaman dari Bank Indonesia (KLBI,

BLBI, dan fasilitas lainnya).

DER = Jumlah Utang x 100% Jumlah Modal Sendiri

2.2.4.3. Kegunaan Analisis Rasio

Analisis rasio seperti halnya alat-alat analisis yang lain adalah “future

oriented”. Oleh karena itu penganalisa harus mampu untuk

menyesuaikan faktor-faktor yang ada pada periode atau waktu itu

(39)

mempengaruhi posisi keuangan atau hasil operasi perusahaan yang

bersangkutan. Dengan demikian kegunaan atau manfaat suatu angka

rasio sepertinya tergantung kepada kemampuan atau kecerdasan

penganalisa dalam menginterprestasikan data yang bersangkutan.

(Munawir, 1998 : 64)

Analisis rasio digunakan oleh tiga kelompok utama (Weston, 1990 :

312-313) Yaitu :

1. Manajer, yang menggunakan rasio-rasio tersebut untuk

menganalisis mengendalikan dan memperbaiki operasi perusahaan.

2. Analisa kredit, seperti petugas kredit bank atau analis yang

menetapkan peringkat obligasi (di AS), yang menganalisis rasio

untuk menentukan kemampuan suatu perusahaan membayar

utangnya.

3. Analisa sekuritas, yaitu analisis saham yang berkepentingan atas

efisiensi dan prospek pertumbuhan perusahaan, dan analis obligasi

yang berkepentingan atas kemampuan perusahaan untuk membayar

bunga dan pokok obligasi serta nilai likuiditas aktiva dalam hal ini

kepailitan.

2.2.4.4. Keterbatasan Analisis Rasio Keuangan

Menurut Harahap ( 1998 : 298 ), Analisis rasio keuangan

memiliki beberapa keterbatasan yang diharuskan untuk diketahui

dalam penggunaan dalam perhitungan. Keterbatasan tersebut antara

(40)

1. Kesulitan dalam memilih rasio yang tepat yng dapat digunakan

untuk kepentingan pemakainya.

2. Keterbatasan yang dimiliki akuntansi atau laporan keuangan

juga menjaga keterbatasan teknik seperti :

 Bahan perhitungan rasio atau laporan keuangan itu

hanya mengandung taksiran dan judgment yang dapat

dinilai bias atau subjektif.

 Nilai yang terkandung dalam laporan keuangan dari

rasio adalah nilai perolehan (cost) bukan harga pasar.

 Klasifikasi dalam laporan keuangan bisa berdampak

pada angka rasio.

 Metode pencatatan yang tergambar dalam standar

akuntansi bias diterapkan berbeda oleh perusahaan yang

berbeda.

3. Jika data untuk menghitung rasio tidak tersedia maka akan

menimbulkan kesulitan dalam menghitung rasio.

4. Sulit jika ada data yang sesuai tidak sinkron.

5. Jika dua perusahaan dibandingkan bisa saja teknik dan standar

akuntansi yang dipakai tidak sama. Oleh karenanya jika

(41)

2.2.5. Saham

Saham menurut Tandellin (2001:26) dapat dibedakan menjadi 2 yaitu:

1. Saham Preferen

Adalah Saham yang mempunnyai kombinasi karakteristik gabungan

dari obligasi maupun saham biasa, karena saham preferen memberikan

pendapatan yang tetap seperti halnya obligasi, dan juga mendapatkan

hak kepemilikan seperti pada saham biasa.

2. Saham Biasa

Adalah Sekuritas yang menunjukkan bahwa pemegang saham biasa

tersebut mempunnyai hak kepemilikan atas asset-aset perusahaan.

Oleh karena itu, pemegang saham mempunnyai hak suara (voting

rights) untuk memilih direktur maupun manajemen perusahaan dan

ikut berperan dalam pengambilan keputusan penting perusahaan

dalam rapat umum pemegang saham (RUPS).

Jika dilihat menurut tingkatannya dalam perdagangan saham

tersebut menurut Sitompul (1996:4-6), saham-saham dapat dibedakan

atas:

a.Saham Utilitas (Utility Stock)

Saham ini merupakan saham yang dikeluarkan oleh perusahaan yang

menyelenggarakan kegiatan di bidang sarana dan prasarana umum

misalnya telekomunikasi, listrik, energi dan yang berkaitan dengan

kepentingan umum lainnya. Saham-saham dari perusahaan ini banyak

(42)

memegang monopoli dari pemerintah, dengan demikian beresiko kecil

meskipun tidak dapat dikatakan tidak mempunnyai resiko.

b. Saham Blue Chip (Blue Chip Stock)

Saham yang dikategorikan dalam jenis ini adalah saham-sahan dari

perusahaan-perusahaan besar yang sudah sangat mapan misalnya

perusahaan-perusahaan besar terutama perusahaan multinasional

seperti IBM, General Electric dan sebagainya, di Indonesia dapat

dikatakan antara lain Astra. Namun demikian bukannya tanpa resiko

menanamkan modal diperusahaan tersebur, Karena dengan besarnya

perusahaan, maka deviden yang diterima para pemodal akan kecil

jumlah persahamnya, sehongga bgi pemodal-pemodal kecil tidak

begitu menguntungkan.

c. Saham Establish Growth

Yaitu saha dari perusahaan yang sedang berkembang dengan pesat,

saham perusahaaan seperti ini menjanjikan keuntungan yang besar di

masa depan, perusahaan tersebut memiliki pertumbuhan yang baik

namun kekuatan finansial kurang, sehingga memerlukan investasi

yang relative besar untuk mendukung pertumbuhan bisnisnya.

Menanamkan modal pada perusahaan ini penuh resiko, namun bila

pertumbuhan berhasil baik maka para pemodal akan mendapat

keuntungan yang besar sesuai dengan resiko yang dihadapi.

(43)

d. Saham Emerging Growth

Saham dari perusahaan yang baru berkembang dan baru memasuki

pasar untuk produk atau jasa yang dihasilkan. Penghasilan yang

didapat perusahaan ini digunakan untuk mendukung pemasaran

produk atau jasanya. Resiko pemodal di perusahaan ini lebih besar,

karena dapat saja dalam prakteknya perusahaan seperti ini tidak

mampu mengembangkan diri dan mengalami kematian.

e. Saham Penny (Penny stock)

Perusahannya juga biasa disebut perusahaan Penny, yaitu perusahaan

yang baru memulai usahanya dan tentunya memerlukan dana yang

besar untuk menjalankan bisnisnya. Pemidal yang memiliki saham

perusahaan ini harus siap menerima resiko kehilangan seluruh

investasi.

2.2.5.1. Keuntungan Membeli Saham

Pada dasarnya, ada dua keuntungann yang diperoleh investor dengan

membeli atau memiliki saham, yaitu :

1. Deviden, adalah pembagian keuntungan yang diberikan perusahaan

penerbit saham atas keuntungan yang dihasilkan perusahaan.

Deviden diberikan setelah mendapat persetujuan dari pemegang

saham dalam RUPS. Investor yang berhak menerima deviden

adalah investor yang memegan saham hingga batas waktu

(44)

Umumnya merupakan salah satu daya tarik bagi pemegang saham

dengan orientasi jangka panjang, misalnya investor institusi, dana

pensiun, dan lain-lain. Deviden yang dibagikan perusahaan dapat

berupa deviden tunai (Dividend), yaitu kepada setiap pemegang

saham diberikan deviden berupa uang tunai dalam jumlah rupiah

tertentu untuk setiap saham, atau dapat pula berupa deviden saham

(stock dividend), yaitu kepada setiap pemegang saham diberikan

deviden dalam bentuk saham sehingga jumlah saham yang dimiliki

seorang investor akan bertambah dengan adanya pembagian

deviden tersebut.

2. Capital Gain, merupakan selisih antara harga beli dan harga jual.

Capital gain terbentuk dengan adanya aktivitas perdagangan saham

di pasar sekunder. Misalnya, seorang investor membeli saham

Telkom (TLKM) dengan harga per saham Rp 3.000, kemudian

menjualnya kembali dengan harga per saham Rp 3.500, maka

investor tersebut mendapatkan capital gain sebesar Rp 500 untuk

setiap saham yang dijualnya. Umumnya investor dengan orientasi

jangka pendek mengejar keuntungan melalui capital gain. Investor

seperti ini bisa saja membeli saham pada pagi hari, lalu menjualnya

lagi pada siang hari jika saham mengalami kenaikkan.

3. Saham Bonus (jika ada), adalah saham yang dibagikan perusahaan

kepada para pemegang saham yang diambil dari agio saham. Agio

(45)

saham pada saat perusahaan melakukan penawaran umum di pasar

perdana. Misalnya, setiap saham dengan nominal Rp 500 dijual

dengan harga Rp 800, maka setiap saham akan memberikan agio

kepada perusahaan sebesar Rp 300.

Di pasar sekunder atau dalam aktivitas perdagangan saham

sehari-hari, harga saham mengalami fluktuasi naik maupun turun.

Pembentukan harga saham terjadi karena adanya permintaan (demand) dan

penawaran (supply) atas saham tersebut. Dengan kata lain, harga saham

terbentuk atas permintaan dan penawaran saham. Supply dan demand

terjadi karena beberapa faktor, baik yang sifatnya spesifik atas saham

(kinerja perusahaan dan industri dimana perusahaan tersebut bergerak),

maupun yang sifatnya makro seperti kondisi ekonomi negara, kondisi

sosial-politik, maupun rumor-rumor yang berkembang.

2.2.5.2. Karakteristik Saham

1. Saham Preferen, mempunyai beberapa karateristik antara lain :

o Memiliki hak lebih dahulu memperoleh deviden.

o Memiliki hak pembayaran maksimum sebesar nilai nominal

saham lebih dahulu setelah kreditor, apabila perusahaan

tersebut dilikuidasi (dibubarkan).

o Kemungkinan dapat memperoleh tambahan dari pembagian

laba perusahaan disamping penghasilan yang diterima secara

(46)

o Dalam hal perusahaan dilikuidasi, memiliki hak memperoleh

pembagian kekayaan perusahaan diatas pemegang saham biasa

setelah semua kewajiban perusahaan dilunasi.

Kelebihan Dan Kelemahan Saham Preferen

o Kelebihannya adalah lebih aman daripada saham biasa karena

memiliki hak klaim terhadap kekayaan perusahaan dan

pembagian deviden terlebih dahulu.

o Kelemahannya yaitu :

 Dibandingkan dengan investasi dalam bentuk pinjaman/

utang, saham preferen kurang aman karena deviden

secara hukum bukan kewajiban.

 Tidak memiliki waktu jatuh tempo.

 Sulit diperjualbelikan dibanding saham biasa karena

biasanya jumlah saham preferenyang beredar jauh lebih

sedikit.

 Pada saaat perusahaan dilikuidasi, yang dibayarkan

hanyalah nilai nominalnya.

2. Saham Biasa, mempunyai beberapa karakteristik, antara lain :

o Deviden dibayarkan sepanjang perusahaan memperoleh laba.

o Memiliki hak suara dalam rapat umum pemegang saham (satu

(47)

o Memiliki hak terakhir (junior) dalam hal pembagian kekayaan

perusahaan jiak perusahaan dilikuidasi setelah semua

kewajiban perusahaan dilunasi.

o Hak untuk memiliki saham baru yang diterbitkan oleh

perusahaan terlebih dahulu (preemptive right).

Saham dikenal dengan karakteristik “imbal hasil tinggi, resiko

tinggi” (high risk, high return). Artinya, saham merupakan surat berharga

yang memberikan peluang keuntungan dan potensi resiko yang tinggi.

Saham memungkinkan investor untuk mendapatkan imbal hasil atau

capital gain yang besar dalam waktu singkat. Namun, seiring

berfluktuasinya harga saham, maka saham juga dapat membuat investor

mengalami kerugian besar dalam waktu singkat. Resiko investor yang

memiliki saham diantaranya :

1. Tidak mendapat deviden

Perusahaan akan membagikan deviden jika operasinya

menghasilkan keuntungan. Oleh karena itu, perusahaan tidak dapat

membagikan deviden jika mengalami kerugian. Dengan demikian,

potensi keinginan investor untuk mendapatkan deviden ditentukan

oleh kinerja perusahaan tersebut.

2. Capital loss

Dalam aktivitas perdagangan saham, investor tidak selalu

mendapatkan capital gain atau keuntungan atas saham yang

(48)

jual lebih rendah dari harga beli. Dengan demikian, seorang

investor mengalami capital loss. Misalnya, seorang investor

membeli saham Indosat (ISAT) dengan harga Rp 9.000, namun

beberap waktu kemudian dijual dengan harga Rp 8.000 per saham,

maka investor tersebut mengalami capital loss Rp 1.000 untuk

setiap saham yang dijual. Dalam jual beli saham, terkadang untuk

menghindari potensi kerugian yang ssemakin besar seiring terus

menurunnya harga saham, maka seorang investor rela menjual

sahamnya dengan harga rendah. Istilah ini dikenal dengan

penghentian kerugian (cut loss).

3. Perusahaan bangkrut atau dilikuidasi

Jika sebuah perusahaan bangkrut, maka tentu saja akan berdampak

langsung terhadap saham perusahaan tersebut. Sesuai dengan

peraturan pencatatan saham di bursa efek, jika sebuah perusahaan

bangkrut maka secara otomatis saham perusahaan akan dikeluarkan

dari bursa atau di-delist. Dalam kondisi perusahaan dilikuidasi,

maka pemegang saham menempati posisi lebih rendah dibanding

kreditor atau pemegang obligasi. Ini berarti setelah semua aset

perusahaan dijual hasil penjualan terlebih dahulu dibagikan kepada

para kreditor atau pemegang obligasi, dan jika masih terdapat sisa,

(49)

4. Saham dikeluarkan dari bursa (delisting)

Jika saham perusahaan dikeluarkan dari pencatatan Bursa Efek

atau di-delist. Saham perusahaan dikeluarkan dari bursa umumnya

dikarenakan kinerja yang buruk, misalnya dalam kurun waktu

tertentu tidak pernah diperdagangkan, mengalami kerugian

beberapa tahun, tidak membagikan deviden secara berturut-turut

selama beberapa tahun, dan berbagai kondisi lainnya sesuai

Peraturan Pencatatan Efek di Bursa.

5. Saham dihentikan sementara (suspensi).

2.2.6. Return Saham

Investor bersedia membeli saham perusahaan tertentu karena

adanya return saham yang diharapkan akan direalisasikan pada masa

mendatang dalam benutk dividen dan capital gain. Astika (2003:2)

menyatakan bahwa return saham merupakan suatu variabel yang muncul

dari perubahan harga saham sebagai akibat dari reaksi pasar karena adanya

penyampaian informasi keuangan suatu entitas ke dalam pasar modal.

Return saham yang diterima investor dinyatakan sebagai berikut (Jogianto,

2001):

 Pi,t – Pi (t-1) 

Ri,t = X 100 %

Pi(t-1)

Ri,t = tingkat keuntungan saham i pada periode t

(50)

Pi (t) = harga saham i pada periode t

Risiko atau kerugian yang ditanggung oleh pemegang saham

adalah (1) tidak mendapat dividen dan (2) capital losss. Perusahaan akan

membagikan keuntungan jika operasi perusahaan menghasilkan

keuntungan dan mendapat persetujuan dari pemegang saham (dalam

RUPS). Dengan demikian, perusahaan tidak dapat membagikan dividen

jika perusahaan mengalami kerugian. Sementara itu, dalam aktivitas

perdagangan tidak selalu pemodal mendapatkan capital gain atau

keuntungan atas saham yang dijualnya. Ada kalanya pemodal harus

menjual saham dengan harga jual lebih rendah daripada harga belinya

sehingga pemodal mengalami kerugian atau capital loss. Di samping risiko

di atas, seorang investor juga masih dihadapkan dengan potensi kerugian

lainnya, yaitu kebangkrutan perusahaan, saham dikeluarkan dari

pencatatan di bursa efek, dan saham dihentikan perdagangannya oleh

otoritas bursa efek.

2.2.6. Pengaruh Rentabilitas Terhadap Return Saham

Rentabilitas merupakan kemampuan perusahaan dalam

memperoleh keuntungan sebelum pajak dengan modal rata-rata yang

digunakan, maka dengan rentabilitas tinggi mencerminkan efisiensi

perusahaan yang tinggi. Jadi, rentabiltas ini menjadi alat ukur efektivitas

dan efisiensi operasi perusahaan dalam menggunakan modalnya untuk

(51)

produktivitas tenaga kerja merupakan faktor-faktor yang mencerminkan

efisiensi dan hal ini tercermin dalam rentabilitas (Machfoedz dalam

Suardana, 2008:6).

Dari rasio di atas dapat diketahui bahwa semakin besar rasio ini

berarti bahwa manajemen bank cenderung menghasilkan laba operasi yang

relatif lebih kecil sebagai akibat operasinya kurang efisien atau biaya

operasi yang relatif lebih besar. Sehingga jika semakin besar rasio ini

berarti manajemen semakin beroperasi kurang efisien sehingga laba

akhirpun akan semakin kecil. Jadi kondisi ini akan menurunkan reputasi

bank meraih laba sehingga pada akhirnya akan berdampak pada harga

saham perusahaan. Dengan demikian, rasio rentabilitas berpengaruh positif

terhadap return saham

2.2.7. Pengaruh Likuiditas Terhadap Return Saham

Likuiditas mencerminkan kemampuan perusahaan dalam

memenuhi kewajiban jangka pendek yang harus segera dipenuhi,

selanjutnya berkaitan dengan masalah likuiditas ini perusahaan dikatakan

mampu memenuhi kewajiban keuangan tepat pada waktunya berarti

perusahaan dalam keadaan liquid dan sebaliknya apabila perusahaan tidak

segera memenuhi kewajiban keuangannya pada saat ditagih berarti

perusahaan tersebut dalam keadaan inliquid. (Ang, 1997 dalam Suardana,

(52)

Likuiditas ratio menggambarkan perbandingan antara kredit yang

dikeluarkan bank dengan dana dari pihak ketiga. Meningkatnya Likuiditas

ratio berarti meningkat pula pendapatan bunga yang diperoleh oleh bank.

Dengan semakin meningkatnya Likuiditas ratio berarti profitabilitas

meningkat yang mengindikasikan pertumbuhan laba yang semakin besar.

Sebaliknya, akan berdampak terhadap penurunan harga saham jika

semakin kecil rasio ini. Dengan demikian, aspek likuiditas berpengaruh

positif terhadap return saham.

2.2.8. Pengaruh Solvabilitas Terhadap Return Saham

Rasio solvabilitas menunjukkan berapa bagian dari aktiva yang

digunakan untuk menjamin utang. Kreditur lebih menyukai rasio utang

yang rendah karena semakin rendah rasio ini, maka semakin besar

perlindungan terhadap kerugian kreditur dalam peristiwa likuidasi. Di sisi

lain, pemegang saham akan menginginkan leverage yang lebih besar

karena akan dapat meningkatkan laba yang diharapkan. Menurut Suwarno

dalam Suardana, (2008:7) jika rasio solvabilitas meningkat, maka modal

sendiri yang dimiliki bank meningkat sehingga tersedia dana murah yang

cukup besar untuk mengakselerasi pemberian kredit dan pengembangan.

Kondisi demikian akan dapat meningkatkan laba perusahaan yang pada

akhirnya membuka peluang untuk pengembangan skala usaha dan peluang

pembagian dividen kepada pemegang saham. Hal ini akan memberikan

(53)

Ananta dalam Suardana, (2008:8) peersepsi pasar yang meningkat

terhadap kinerja perbankan akan meningkatkan permintaan saham

sehingga akan dapat memicu meningkatnya harga saham dan pada

akhirnya akan meningkatkan return saham. Dengan demikian, rasio

solvabilitas berpengaruh positif terhadap return saham

2.3. Kerangka Konseptual

Untuk mengetahui adanya hubungan kinerja perusahaan dan return saham,

dapat digambarkan dalam suatu bagan kerangka konseptual sebagai berikut :

Gambar. 1

Diagram Kerangka Konseptual

Rentabilitas ( X1 )

Likuiditas ( X2 )

Solvabilitas ( X3 )

(54)

2.4. Hipotesis

Berdasarkan perumusan masalah dan tujuan penelitian yang telah

diuraikan sebelumnya, maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut :

1. Bahwa Rentabilitas berpengaruh positif dan signifikan terhadap Return

Saham

2. Bahwa Likuiditas berpengaruh positif dan signifikan terhadap Return

Saham

3. Bahwa Solvabilitas berpengaruh positif dan signifikan terhadap Return

(55)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. Definisi Operasional Dan Pengukuran Variabel

Definisi operasional dalam suatu penelitian adalah untuk memberikan

petunjuk tentang bagaimana suatu penelitian diukur. Variabel yang

dipergunakan dalam penelitian ini terdiri dari dua macam variabel. Yaitu

variabel independen (bebas) dan variable dependen (terikat).

Adapun definisi secara operasional dari setiap variabel yang

diajukan dalam penelitian ini adalah :

a. Variabel terikat / variabel yang diprediksi :

Return Saham (sebagai variabel Y)

Return saham adalah suatu variabel yang muncul dari perubahan

harga saham sebagai akibat dari reaksi pasar karena adanya penyampaian

informasi keuangan suatu entitas ke dalam pasar modal dengan rumus

(Ulupui, 2009 : 9) :

b. Variabel bebas / variabel yang memprediksi, antara lain :

1) Rentabilitas

Rentabilitas merupakan kemampuan perusahaan dalam memperoleh

keuntungan sebelum pajak dengan modal rata-rata yang digunakan, dapat

(56)

ROE = Laba Bersih x 100% Modal Sendiri

2) Likuiditas

Likuiditas mencerminkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi

kewajiban jangka pendek yang harus segera dipenuhi dapat dirumuskan

dengan (Faisol, 2007:152):

LDR = Jumlah Pembiayaan Yang Diberikan x 100% Jumlah Dana yang diterima Bank

3) Solvabilitas

Rasio solvabilitas menunjukkan berapa bagian dari aktiva yang

digunakan untuk menjamin utang jangka panjang dapat dirumuskan

dengan (Faisol, 2007:152) :

DER = Jumlah Utang x 100% Jumlah Modal Sendiri

3.2. Teknik Penentuan Sampel

a. Populasi

Menurut Djarwanto (1998 : 107 ) Populasi adalah jumlah dari

keseluruhan objek yang karakteristiknya hendak diduga, sedangkan

populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah Bank yang go

(57)

b Sampel

Menurut Djarwanto (1998 : 108) Sampel adalah sebagian dari

populasi yang karakteristiknya hendak diselidiki dan dianggap bisa

mewakili kaseluruhan populasi.

Teknik penarikan sampel yang digunakan dalam penelitian ini

adalah purposive sampling, yaitu teknik pemilihan sampel ditujukan

pada unit populasi yang mempunyai karakteristik khusus yang terkait

dengan topik penelitian.

Adapun karakteristik tersebut, yaitu sebagai berikut :

1. Perusahaan bank yang memiliki laporan keuangan yang lengkap dan

telah diaudit dan terdaftar di Bursa Efek Indonesia

2. Perusahaan bank selama tahun 2008-2010 yang mengalami penurunan

return saham.

Berdasarkan Karakteristik tersebut diperoleh 10 Bank yang go publik di

Bursa Efek Indonesia.

PT. Bank Negara Indonesia, Tbk

PT. Bank Central Asia, Tbk

PT. Bank Bukopin, Tbk

PT. Bank Rakyat Indonesia, Tbk

PT. Bank Danamon, Tbk

PT. Bank Mandiri, Tbk

PT. Bank Kesawan, Tbk

PT. BTPN., Tbk

PT. Bank Victoria, Tbk

(58)

3.3. Teknik Pengumpulan Data

Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data terdiri dari :

a. Metode Dokumentasi

Yaitu mempelajari dokumen-dokumen yang berupa laporan keuangan

perusahaan.

b. Studi Pustaka

Yaitu membaca literatur-literatur yang berkaitan dengan penelitian ini dari

perusahaan.

3.4. Teknik Analisa dan Uji Hipotesis

3.4.1. Uji Normalitas

Uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah suatu data

mengikuti sebaran normal atau tidak. Untuk mengetahui apakah data

tersebut mengikuti sebaran normal dapat dilakukan dengan berbagai metode

diantaranya adalah metode Kolmogorov Smirnov dan metode Shapiro Wilk,

dengan mempergunakan program SPSS 10.0 (Sumarsono, 2002 : 40).

Pedoman dalam mengambil keputusan apakah sebuah distribusi data

mengikuti distribusi normal adalah :

 Jika nilai signifikansi lebih kecil dari 5%, maka distribusi adalah tidak

normal.

 Jika nilai signifikansi lebih besar dari 5%, maka distribusi adalah

(59)

3.4.2. Teknik Analisis

Data yang diperoleh akan dianalisis. Dalam penelitian ini termasuk

dalam analisis kuantitatif yaitu teknik analisis dimana data-data yang

berbentuk angka-angka akan dianalisis dengan cara melakukan

perhitungan dengan menggunakan metode statistik analisis regresi linier

berganda dengan bantuan program komputer yang menggunakan SPSS

sebagai program analisis (pengolahan data).

Dimana metode analisis regresi berganda yang dapat dinyatakan

dengan rumus sebagai berikut :

Y = 0 + 1X1 + 2X2 + 3X3 + ei

Dimana :

Y = Return Saham

X1 = Rasio Likuiditas

X2 = Rasio Rentabilitas

X3 = Rasio Solvabilitas

0 = Bilangan konstanta

1, 2, 3 = Koefisien Regresi

(60)

3.4.3. Uji Asumsi Klasik

Persamaan regresi tersebut diatas harus bersifat BLUE ( Best

Linier Unbiased Estimator ), artinya pengambilan keputusan melalui uji F

dan uji t tidak boleh bias. Untuk menghasilkan keputusan yang BLUE

maka harus dipenuhi diantaranya tiga asumsi dasar. Tiga asumsi dasar

yang tidak boleh dilanggar oleh regresi linier berganda yaitu :

a. Tidak boleh ada autokorelasi

b. Tidak boleh ada multikolinieritas

c. Tidak boleh ada heteroskedasitas

Apabila salah satu dari ketiga asumsi dasar tersebut dilanggar,

maka persaman regresi yang diperoleh tidak lagi bersifat BLUE, sehingga

pengambilan keputusan melalui uji F dan uji t menjadi bias.

3.4.3.1. Autokorelasi

Uji Autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah dalam suatu

model regresi linier ada korelasi antara korelasi pengganggu pada periode t

dengan kesalahan pada periode t-1 (sebelumnya).

Untuk menguji variabel-variabel yang diteliti, apakah terjadi

autokorelasi atau tidak, dapat digunakan uji Durbin Watson, yaitu dengan

cara membandingkan nilai Durbin Watson yang dihitung dengan dL dan

(61)

Banyaknya data time series minimal yang dapat dihitung dengan

Durbin Wtson enam buah data dengan satu variabel. Identifikasi gejala

autokorelasi dapat dilakukan dengan kurva di bawah ini :

ada daerah daerah ada

auto keragu keragu auto

korelasi raguan raguan

positif Tidak ada autokorelasi

negatif positif dan tidak ada

autokorelasi negatif

0 dL dU 4 - dU 4- dL 4

3.4.3.2. Multikolinieritas

Uji Multikolinieritas bertujuan untuk menguji apakah dalam

persamaan regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas

(independen). Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi

diantara variabel bebas.

Multikolinieritas dapat dilihat dari nilai tolerance dan Variance

Inflation Factor (VIF). Nilai tolerance yang rendah sama dengan nilai VIF

tinggi (karena VIF : 1/tolerance) dan menunjukkan adanya

multikolinieritas yang tinggi. Batas nilai non multikolinieritas yaitu nilai

VIF < 10 dan mempunyai tolerance > 0,10. Hal ini berarti dalam model

Gambar

Tabel 1.
Gambar. 1
Tabel 4.1. Normalitas Data Masing-masing Variabel
Tabel 4.4 : Hasil Pengujian Multikolinieritas
+5

Referensi

Dokumen terkait

Secara teoritis, hasil penelitian ini bermanfaat dalam mengembangkan teori atau konsep-konsep tentang pengaruh rasio keuangan terhadap return saham pada perusahaan

Berdasarkan uraian dan pembahasan mengenai pengaruh rasio likuiditas, rasio profitabilitas, dan rasio solvabilitas terhadap return saham pada perusahaan properti yang terdaftar di

Bagi penulis supaya dapat lebih memahami dan mengerti rasio likuiditas, rasio solvabilitas serta rasio profitabilitas terhadap pertumbuhan laba sehingga dapat

Analisis rasio keuangan merupakan suatu alternatif untuk menguji apakah informasi keuangan yang dihasilkan oleh akuntansi keuangan bermanfaat untuk melakukan klasifikasi

Tujuan penelitian ini adalah untuk membuktikan secara empiris pengaruh rasio likuiditas, rasio solvabilitas, rasio profitabilitas, dan ukuran perusahaan terhadap kelengkapan

rasio solvabilitas, rasio profitabilitas (rentabilitas),rasio resiko usaha bank,dan rasio efisiensi usaha. Dari pernyataan tersebut ada lima jenis rasio keuangan bank yang

Tujuan penelitian ini adalah untuk membuktikan secara empiris pengaruh rasio likuiditas, rasio solvabilitas, rasio profitabilitas, dan ukuran perusahaan terhadap kelengkapan

Untuk menguji pengaruh antara rasio keuangan yaitu rasio likuiditas, rasio solvabilitas, rasio aktivitas, dan rasio profitabilitas terhadap perubahan laba perusahaan