• Tidak ada hasil yang ditemukan

Budaya Politik

N/A
N/A
Khusnul Khotimah Ema

Academic year: 2022

Membagikan "Budaya Politik"

Copied!
1
0
0

Teks penuh

(1)

HUBUNGAN BUDAYA POLITIK DENGAN PENDIDIKAN POLITIK Mata Kuliah Pendidikan Politik

Dosen : Dr. Suharno, S.Pd., M.Pd.

Oleh

Khusnul Khotimah (20730251019)

[email protected]

MAGISTER PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN FAKULTAS ILMU SOSIAL

UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA 2020

(2)

A. Pendahuluan

Budaya politik merupakan suatu sistem nilai bersama dalam suatu masyarakat yang memiliki kesadaran untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan kolektif dan penentuan kebijakan publik untuk masyarakat seluruhnya. Budaya politik erat kaitannya dengan partisipasi politik masyarakat, perkembangan politik dalam suatu negara sangat dipengaruhi oleh perkembangan budaya yang ada dalam masyarakat negara tersebut. Namun kenyataannya masyarakat pada umumnya belum mengetahui dan memahami apa hak dan kewajibannya sebagai warga negara atau bisa dikatakan belum memiliki pengetahuan tentang politik. Padahal apabila masyarakat dapat melaksanakan hak dan kewajibannya sebagai warga partisipasi politik maka masyarakat dapat turut serta dalam merubah pola pemerintahan yang ada dalam suatu negara dan tentu saja dapat mempengaruhi kehidupan masyarakat secara umum.

Ketidaktahuan masyarakat mengenai politik menunjukkan bahwa pendidikan politik belum berperan dengan baik dan secara maksimal dalam sebuah negara. Seharusnya pendidikan politik dapat membina dan mengembangkan pengetahuan masyarakat dalam kehidupan politik agar masyarakat dapat berpartisipasi aktif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Pemahaman masyarakat mengenai politik akan sangat berpengaruh terhadap partisipasi politik dan membentuk budaya politik yang baik dalam masyarakat.

Budaya poliitik mengacu pada keseluruhan pengetahuan, sikap emosional dan penilain etika moral yang berkaitan dengan isu-isu politik yang mempengaruhi kehidupan masyarakat (Suryo, 2015).

(3)

B. Kajian Teori

1. Pengertian Budaya Politik

Budaya politik merupakan sistem nilai dan keyakinan yang dimiliki bersama oleh masyarakat. Budaya politik juga dapat diartikan sebagai suatu sistem nilai bersama suatu masyarakat yang memiliki kesadaran untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan kolektif dan penentuan kebijakan publik masyarakat seluruhnya. Almond dan Verba (dalam Sumartono, 2018), mendefinisikan budaya politik sebagai suatu sikap orientasi yang khas warga negara terhadap sistem politik dan aneka ragam bagiannya, dan sikap terhadap peranan warga negara yang ada di dalam sistem tersebut. Dengan kata lain, bagaimana distribusi pola-pola orientasi khusus menuju tujuan politik di antara masyarakat bangsa itu. Lebih jauh mereka menyatakan, bahwa warga negara senantiasa mengidentifikasi diri mereka dengan symbol-simbol dan lembaga kenegaraan berdasarkan orientasi yang mereka miliki.

Dengan orientasi itu pula mereka menilai serta mempertanyakan tempat dan peranan mereka di dalam sistem politik.

Austin Ranney (dalam Arifin & Wijaya, 2014) menyatakan bahwa budaya politik adalah seperangkat pandangan tentang politik dan pemerintahan yang dipegang secara bersama-sama, sebuah pola orientasi terhadap objek-objek politik.

Gabriel A. Almond dan Bingham Powell, Jr. menjelaskan bahwa budaya politik berisikan sikap, keyakinan, nilai dan keterampilan yang berlaku bagi seluruh populasi, juga kecendurangan dan pola-pola khusus yang terdapat pada bagian-bagian

(4)

tertentu dari populasi. Sumartono (2018) mengemukakan beberapa pengertian budaya politik yaitu (1) budaya politik adalah aspek politik dari nilai-nilai yang terdiri atas pengetahuan, adat istiadat, tahayul dan mitos. Semuanya dikenal dan diakui oleh sebagian besar masyarakat. Budaya politik memberikan pemahaman rasional untuk menolak atau menerima nilai-nilai dan norma lain, (2) isi atau materi, seperti sosialisme, demokrasi, atau nasionalisme, (3) hakikat dan ciri budaya politik yang menyangkut masalah nilai-nilai adalah prinsip dasar budaya politik menyangkut sikap dan norma, yaitu sikap terbuka dan tertutup, tingkat militansi seseorang terhadap orang lain dalam pergaulan masyarakat. Pola kepemimpinan (konformitas atau mendorong inisiatif kebebasan), sikap terhadap mobilitas (mempertahankan status quo atau mendorong mobilitas), prioritas kebijakan (menekankan ekonomi atau

politik).

Dari pengertian budaya politik yang telah diuraikan, nampaknya membawa kita pada suatu pemahaman konsep yang memadukan dua tingkat orientasi politik, yaitu sistem dan individu. Dengan orientasi yang bersifat individual ini, tidaklah berarti bahwa dalam memandang sistem politiknya kita menganggap masyarakat akan cenderung bergerak ke arah individualisme. Jauh dari anggapan yang demikian, padngan ini melihat aspek individu dalam orientasi politik hanya sebagai pengakuan akan adanya fenomena dalam masyarakat secara keseluruhan tidak dapat melepaskan diri dari orientasis individual.

(5)

Almond dan Verba (dalam Munif & Saleh) mengemukakan bahwa budaya politik suatu masyarakat dihayati melalui kesadaran masyarakat akan pengetahuan, perasaan dan evaluasi masyarakat tersebut yang berorientasi pada:

a. Orientasi kogintif merupakan pengetahuan masyarakat tentang sistem politik, peran dan segala kewajibannya. Termasuk di dalamnya adalah pengetahuan mengenai kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh pemerintah.

b. Orientasi afektif merupakan perasaan masyarakat terhadap sistem politik dan perannya, serta para pelaksana dan penampilannya. Perasaan masyarakat tersebut bisa saja merupakan perasaan untuk menolak atau menerima sistem politik atau kebijakan yang dibuat

c. Orientasi evaluatif merupakan keputusan dan pendapat masyarakat tentang objek-objek politik yang secara tipikal melibatkan nilai moral yang ada dalam masyarakat dengan kriteria informasi dan perasaan yang mereka miliki.

2. Tipe-tipe Budaya Politik

Menurut Setiadi dkk (2013: 104-126) tipe-tipe budaya politik dapat dibedakan berdasarkan sikap yang ditunjukkan, berdasarkan orientasi politiknya dan berdasarkan politik yang berkembang di Indonesia.

a. Berdasarkan Sikap yang Ditunjukkan

Pada negara yang memiliki sistem ekonomi dan teknologi yang kompleks, menuntut kerja sama yang luas untuk memperpadukan modal dan keterampilan. Jiwa

(6)

kerja sama dapat diukur dari sikap orang terhadap orang lain. Pada kondisi ini budaya politik memiliki kecenderungan sikap militan atau sifat toleransi.

1) Budaya Poltik Militan

Budaya politik dimana perbedaan tidak dipandang sebagai usaha mencari alternatif yang terbaik, tetapi dipandang sebagai usaha jahat dan menantang. Bila terjadi krisis, maka yang dicarai adalah kambing hitamnya, bukan disebabkan oleh peraturan yang salah dan masalah yang mempribadi selalu sensitive dan membakar emosi. Budaya ini sangatlah emosional dan terkesan praktis

2) Budaya Poltik Toleransi

Budaya politik yang pemikiran berpusat pada masalah atau ide yang harus dinilai, berusaha mencari consensus yang wajar yang mana selalu membuka pintu untuk bekerja sama. Sikap netral atau kritis terhadap ide orang. Pernyataan dengan jiwa toleransi hampir mengundang kerja sama.

b. Berdasarkan sikap terhadap tradisi dan perubahan

Budaya politik berdasarkan sikap terhadap dan perubahan terbagi atas.

1) Budaya politik yang memiliki sikap mental absolut

Budaya politik ini memiliki nilai-nilai dan kepercayaan yang dianggap selalu sempurna dan tak dapat diubah lagi. Usaha yang diperlukan adalah intensifikasi dari kepercayaan, bukan kebaikan. Pola pikir demikian hanya memberikan perhatian pada yang selaras dengan mentalnya dan menolak atau menyerang hal- hal yang baru atau bertentangan. Budaya politik absolut ini bisa tumbuh dari

(7)

tradisi, jarang bersifat kritis terhadap tradisi, hanya berusaha memelihara kemurnian tradisi.

2) Budaya politik yang memiliki sikap mental akomodatif

Struktur mental yang bersifat akomodatif biasanya terbuka dan sedia menerima apa saja yang dianggap berharga. Ia dapat melepaskan ikatan tradisi, kritis terhadap diri sendiri, dan bersedia menilai kembali tradisi berdasarkan perkembangan masa kini. Tipe-tipe akomodatif dari budaya politik melihat perubahan hanya sebagai salah satu masalah untuk dipikirkan. Perubahan mendorong usaha perbaiakan dan pemecahan yang lebih sempurna dan komprehensif.

c. Berdasarkan orientasi politiknya

Realitas yang ditemukan dalam budaya politik, ternyata memiliki beberapa bariasi. Berdasarkan orientasi politik dicirikan dan karakter-karakter dalam budaya politik, maka setiap sistem politik akan memiliki budaya yang berbeda. Perbedaan ini terwujud dalam tipe-tipe yang ada dalam budaya politik yang setiap tipenya memiliki karakteristik yang berbeda. Gabriel A. Almond (dalam Sumartono, 2018) membagi tipe-tipe budaya politik sebagai berikut.

1. Budaya politik parokial (parochial political culture)

yaitu budaya politik yang tingkat partisipasi politiknya sangat rendah. Budaya politik suatu masyarakat dapat dikatakan parokial apabila frekuensi orientasi mereka terhadap keempat dimensi tersebut. Tipe budaya politik ini umumnya

(8)

terdapat pada masyarakat suku Afrika atau masyarakat pedalaman di Indonesia.

Dalam masyarakat ini tidak ada peran politik yang bersifat khusus. Kepala suku, kepala kampong, kyai, atau dukun, yang biasanya merangkum semua peran yang ada, baik peran yang bersifat politis, ekonomis atau religius.

2. Budaya politik kaula (subyek political culture)

Budaya politik kaula yaitu budaya politik masyarakat yang sudah relatif maju baik sosial maupun ekonominya tetapi masih bersifat pasif. Budaya politik suatu masyarakat dapat dikatakan subyek jika terdapat frekuensi orientasi yang tinggi terhadap pengetahuan sistem politik secara umum dan objek ouput atau terdapat pemahaman mengenai penguatan sistem politik secara umum dan objek output atau terdapat pemahaman mengenai penguatan kebijakan yang dibuat oleh pemerintah. Namun, frekuensi orientasi mengenai struktur dan peranan dalam pembuatan otoritas pemerintah dan secara efektif mereka diarahkan pada otoritas tersebut. Pada subyek menyadari akan otoritas pemerintah dan secara efektif mereka diarahkan pada otoritas tersebut. Sikap masyarakat terhadap sistem politik yang ada ditunjukkan melalui rasa bangga atau malah rasa tidak suka. Intinya, dalam kebudayaan politik subyek, sudah ada pengetahuan yang memadai tentang sistem politik secara umum serta proses penguatan kebijakan yang di buat oleh pemerintah.

3. Budaya politik partisipan (participant political culture),

yaitu budaya politik yang ditandai dengan kesadaran politik yang sangat tinggi.

Masyarakat mampu memberikan opininya dan aktif dalam kegiatan politik.

(9)

Budaya politik juga merupakan suatu bentuk budaya politik yang anggota masyarakatnya sudah memiliki pemahaman yang baik mengenai empat dimensi penentu budaya politik. Mereka memiliki pengetahuan yang memadai mengenai sistem politik secara umum, tentang peran pemerintah dalam membuat kebijakan beserta penguatan, dan berpartisipasi aktif dalam proses politik yang berlangsung.

Masyarakat cenderung di arahkan pada peran pribadi yang aktif dalam semua dimensi di atas, meskipun perasaan dan evaluasi mereka terhadap peran tersebut bisa saja bersifat menerima atau menolak. Almond dan Verba (dalam Suryo, 2015) mengklasifikasikan tipe-tipe kebudayaan yaitu:

No. Budaya Politik Uraian/Keterangan

1. Parokial a. Frekuensi orientasi terhadap sistem sebagai objek umum, objek-objek input, objek-objek output, dan pribadi sebagai partisipan aktif mendekati nol.

b. Tidak terdapat peran-peran politik yang khusus dalam masyarakat.

c. Peran-peran pemimpin masyarkatnya sangat beperan baik dalam bidang politik, ekonomi dan keagamaan

d. Partisipasi masyarakat sangat bergantung pada pemimpinnya.

2. Subjek/Kaula a. Frekuensi orientasi yang tinggi terhadap pengetahuan sistem politik secara umum dan

(10)

No. Budaya Politik Uraian/Keterangan

objek ouput atau pemahaman mengenai penguatan kebijakan yang dibuat oleh pemerintah.

b. Pembuatan kebijakan yang dilakukan pemerintah tidak terlalu diperhatikan

c. Masyarakat sudah memiliki pengetahuan yang cukup tentang sitem politik

3. Partisipan a. Masyarakat sudah memiliki pemaham yang baik mengenai penentu budaya politik

b. Masyarakat memiliki pengetahuan yang pengetahuan yang memadai mengenai sistem politik secara umum tentang peran pemerintah dalam membuat kebijakan beserta penguatan.

c. Berpartisipasi aktif dalam proses politik yang berlangsung

d. Masyarakat sudah ikut terlibat dalam sistem politik pemerintahan.

3. Pendidikan Politik

(11)

Menurut Sherman dan Kolker dalam (Nurdiansyah, 2015) menjelaskan pendidikan politik selalu terkait dengan internalisasi nilai, suatu proses dimana individu mempelajari budaya tersebut sebagai unsur yang penting dalam konsep dirinta. Sebagai proses pembudayaan, pendidikan politik terkait dengan nilai, kepercayaan dan pola perilaku yang dipelajari pada usia awal yang mmebentuk sifat dasar seseorang. Sementara Kantraprawira dalam (Affandi, 2012: 33) memandang, pendidikan politik sebagai salah satu fungsi struktur politik dengan tujuan untuk meningkatkan pengetahuan politik rakyat agar mereka dapat berpartisipasi secara maksimal dalam sistem politiknya. Dalam persepektif ini, pendidikan politik merupakan metode untuk melibatkan rakyat dalam sistem politik melalui partisipasi dalam menyalurkan tuntutan dan dukungannya.

Istikharah (2019) mengemukakan pendidikan politik mengandung tiga komponen penting, yakni: pertama, adanya perbuayan dalam pemberian latiran, ajaran serta bimbingan dalam mengembangkan potensi dan kapasitas diri manusia.

Keuda, perbuatan yang dimaksud harus melalui proses dialogik yang dulakukan secara sukarela antar pemberi dan yang menerima pesan secara rutin. Ketiga, perbuatan tersebut ditujukan untuk para penerima pesan dapat memiliki kedasaran untuk berdemokrasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kemudian menurut Surono dalam (Istikharah, 2019) menjelaskan bahwa pendidikan politik merupakan usaha masyarakat politik untuk mencerdaskan kehidupan politik rakyat, meningkatkan kesadaran warga negara terhadap kesadaran dan kepekaan terhadap hak, kewajiban dan tanggung jawab terhadap bangsa dan negara. Tujuan Pendidikan

(12)

politik berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2008 pasal 31, yaitu :

1. Meningkatkan kesadaran hak dan kewajiban masyarakat dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara

2. Meningkatkan partisipasi dan inisiatif masyarakat dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

3. Meningkatkan kemandirian, kedewasaan dan membangun karakter bangsa dalam rangka memelihara persatuan dan kesatuan bangsa.

Istikharah (2019) menjelaskan bentuk-bentuk pendidikan politik dapat dilakukan sebagai berikut:

a. Bahan bacaan seprti surat kabar, majalah dan lain-lain dalam bentuk publikasi massa yang biasa membentuk pendapat umum

b. Televisi dan siaran radio atau film (audio visual media)

c. Lembaga atau asosiasi dalam masyarakat seperti masjis, gereja tempat menyampaikan khotbah dan juga lembaga pendidikan formal atau informal.

Kemudian, berkaitan dengan pendidikan politik terdapat dalam kebijakan pemerintah dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 36 Tahun 2010 tentang pedoman Fasilitasi Penyelenggaraan Pendidikan Politik, dalam penyelenggaraan pendidikan politik dapat diselenggarakan dalam beerbagai kegiatan antara lain:

a. Seminar dan lokakarya;

b. Sosialisasi dan diseminasi peraturan perundang-undangan;

(13)

c. Asistensi, pelatihan dan bimbingan teknis;

d. Pagelaran seni dan budaya;

e. Jamboree, perkemahan, napak tilas; dan

f. Berbagai macam perlombaan seperti pidato, jalan sehat, cerdas tangkas, karya tulis ilmiah, film documenter, dan cipta lagu.

4. Hubungan Pendidikan Politik dan Budaya

Pengetahuan politik akan membawa seseorang pada tingkat partisipasi tertentu, pengetahuan politik yang mumpuni akan membuat seseorang dapat lebih aktif dalam bidang politik begitupun sebaliknya. Pendidikan politik memberikan seseorang pengetahuan dan keterampilan dalam memahami masalah politik dalam pengertian dan cakupan yang luas, termasuk pengakuan dan pengharagaan terhadap keragaman nilai sosial yang dianut seseorang dan kelompok.

Pendidikan politik dapat dikatakan sebagai media penyampaian konsep politik yang memiliki tujuan akhir untuk membuat waga negara menjadi lebih melek politik.

Warga negara yang melek politik adalah warga negara yang sadar akan hak dan kewajiban sehingga dapat ikut serta dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dalam setiap proses pembangunan. Dalam sistem politik tidak cukup hanya berdimensi pengetahuan, tetapi lebih merupakan paduan antara pengetahuan, sikap dan keterampilan yang dikembangkan bersama-sama. Ketiga hal tersebutlah yang dianggap sebagai nyawa dari melek politik warga negara. Affandi (2012: 33-34)

(14)

menguraikan indikasi melek politik dilihat dari tiga aspek yang merupakan hasil dari pendidikan politik.

a. Aspek pengetahuan, seseorang dikatakan melek politik apabila sekurang- kurangnya menguasai tentang :

1. Informasi dasar tentang siapa yang memegang kekuasaaan, dari mana uang berasal, bagaimana sebuah institusi bekerja,

2. Bagaimana melibatkan diri secara aktif dalam memanfaatkan pengetahuan,

3. Kemampuan memprediksi secara efektif bagaimana cara memutuskan sebuah isu,

4. Kemampuan mengenal tujuan kebijakan secara baik yang dapat dicapai ketika isu (masalah) telah terpecahkan,

5. Kemampuan memahami pandangan orang lain dan pembenahan mereka tentang tindakan dirinya sendiri.

b. Aspek sikap mengenai melek politik yaitu sikap tentang kebebasan, toleransi, fair, menghargai, kebenaran, menghargai pemikiran dan aspek nilai yang lain.

c. Aspek keterampilan seseorang dikatakan melek politik apabila seseorang tidak hanya berperan sebagai penonton yang baik, tetapi dapat berpartisipasi aktif atau bahkan menolak secara positif. Seseorang yang melek politik pun memeiliki toleransi terhadap pandangan orang lain dan dapt memikirkan perubahan dan bagaimana metode yang tepat untuk menguasainya.

(15)

Pendidikan politik bertujuan untuk membentuk kesadaran politik. Subakti (dalam Fatwa, 2016) mengemukakan kesadaran politik merupakan kesadaran akan hak dan kewajiban sebagai warga negara yang menyangkut pengetahuan seseorang terhadap lingkungan masyarakat dan politik serta menyangkut minat dan perhatian seseorang tentang lingkungan masyarakat dan politik tempat ia hidup. Sementara menurut Milbiath (dalam Fatwa, 2016) kesadaran politik adalah kesadaran warga negara baik individu maupun kelompok untuk turut serta mengikuti kegiatan-kegiatan politik. Berdasarkan beberapa teori di atas dapat diartikan bahwa kesadaran politik adalah kondisi seseorang yang mengerti tentang hal yang mencakup pengetahuan politik, nilai-nilai politik yang memungkinkan seseorang untuk mengerti situasi, kondisi permasalahan dalam masyarakat, memecahkannya dan memberikan keputusan dan menentukan pendirian terhadapnnya. Kesadaran politik yang dimiliki oleh seseorang akan membuatnya sadar akan posisi dirinya dalam sebuah tatanan kehidupan bernegara serta dapat menaruh perhatian terhadap proses-proses politik dan pemerintahan yang sedang berlangsung dan dapat membentuk budaya politik.

Budaya politik merupakan sistem kontrol yang berkaitan dengan berhubungan dengan keyakinan-keyakinan setiap individu. Keyakinan ini tercermin dalam perilaku tiap- tiap individu dalam berpolitik.

Pendidikan politik mempengaruhi budaya politik dalam suatu negara.

Pemahaman politik yang baik akan membentuk budaya politik yang baik dan harapannya tipe budaya politik partisipan dapat terwujud. Tipe budaya politik

(16)

partisipan memiliki karakteristik utamanya yaitu sikap warga negara yang aktif dalam kehidupan bernegara. Adapun ciri-ciri budaya politik yang bersifat parisipatif menurut Almond dan Verba (dalam Suryo, 2015): 1) masyarakat sudah memiliki pengetahuan yang cukup tentang penentu budaya politik, 2) masyarakt memiliki pengetahuan yang memadai mengenai sistem politik secara umum tentang peran pemerintah dalam membuat kebijakan beserta penguatan, 3) berpartisipasi aktif dalam proses politik yang berlangsung dan 4) masyarakat sudah ikut terlibat dalam sistem politik pemerintahan.

C. Kesimpulan

Budaya politik merupakan pola perilaku suatu masyarakat dalam kehidupan bernegara, penyelenggaraan administrasi negara, pemerintaha, hukum, adat istiadat dan noma kebiasaan yang dihayati oleh seluruh anggota masyarakat setiap harinya.

Budaya politik juga dapat diartikan sebagai sistem nilai bersama suatu masyarakat yang memiliki kesadaran untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan kolektif dan penentuan kebijakan publik untuk masyarakat seluruhnya.

Pendidikan politik merupakan usaha dalam peningkatan dan memantapkan pemahaman dan kesadaran politik bagi masyarakat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dalam negara demokratis pendidikan politik memberikan kontribusi besar dalam mewujudkan demokrasi yang semakin dewasa dan bermartabat serta beradab.

Adapun aspek-aspek yang ingin dikembangkan dalam pendidikan politik yaitu: 1) aspek koginitif yaitu aspek pengetahuan tentang politik warga negara, 2) aspek sikap

(17)

yaitu membangun karakter dan keberpihakan warga negara dalam kehidupan demokrasi dan 3) aspek keterampilan yang memberikan kontribusi dalam membangun kecakapan warga negara. Pendidikan politik bertujuan untuk membentuk kesadaran politik. Subakti (dalam Fatwa, 2016) mengemukakan kesadaran politik merupakan kesadaran akan hak dan kewajiban sebagai warga negara yang menyangkut pengetahuan seseorang terhadap lingkungan masyarakat dan politik serta menyangkut minat dan perhatian seseorang tentang lingkungan masyarakat dan politik tempat ia hidup. Pendidikan politik mempengaruhi budaya politik dalam suatu negara. Pemahaman politik yang baik akan membentuk budaya politik yang baik dan harapannya tipe budaya politik partisipan dapat terwujud.

D. Referensi

Affandi, I. (2012) Pendidikan Politik. Bandung: Mutiara Press.

Arifin A., & Wijaya H. (2014). Budaya Politik Pemilih Pemula (Studi Analisis Budaya Politik Pemilih Pemula Mahasiswa Universitas Sumatera Utara.

Laporan Akhir Pelaksanaan Penelitian PNBP USU Tahun Anggaran 2014.

Universitas Sumatera Utara.

Fatwa, A., N. (2016). Pengaruh Kesadaran politik Terhadap Partisipasi Politik Masyarakat dalam Pemilihan Bupati Tahun 2013 di Desa Sesulu Kabupaten Penajam Paser Utara. E-Journal Ilmu Pemerintahan Vol. 4 No. 4 Tahun 2016 Hal 1615-1626

Istikharah & Asrinaldi. (2019). Pendidikan Politik bagi Masyarakat sebagai Penyelenggaran Pemilu Tingkatan Ad Hoc. Nusantara: Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial Vol. 6 No. 2 Tahun 2019 Hal: 314-328

(18)

Munif A., dan Saleh K. (2015). Membangun Karakter Budaya Politik dalam Berdemokrasi. Jurnal Addin, Volume 9 Nomor 2, Agustus 2015.

Nurdiansyah, E. (2015). Implementasi Pendidikan Politik bagi Warga Negara dalam Rangka Mewujudkan Demokratisasi di Indonesia. Jurnal Bhinneka Tunggal Ika, Volume 2 Nomor 1, Mei 2015.

Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 36 Tahun 2010 tentang Pedoman Fasilitasi Penyelenggaraan Pendidikan Politik

Setiadi, Elly M., dan Kolip, U. (2013). Pengantar Sosiologi Poltik. Jakarta : Rajawali Press.

Sumartono.(2018). Budaya Politik dalam Masyarakat Pragmatis. Jurnal Lugas, Volume 2 Nomor 1, Juni 2018 (22-26)

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik

Referensi

Dokumen terkait

Penalaran mental anak – anak dibatasi oleh berpikir magis dan animisme, yang membatasi pemahaman tentang bagaimana dunia berjalan sehingga mengurangi kemampuan

Laporan tugas akhir ini merupakan salah satu laporan untuk memenuhi sebagian persyaratan guna mencapai gelar Ahli Madya Teknologi Hasil Pertanian di Fakultas

Untuk menjawab hipotesis ketiga maka dilakukan uji secara simultan (uji F). Dengan demikian hipotesis ketiga diterima. Hasil persamaan yang dilakukan secara manual dan

[r]

1. Pendinginan produk perikanan baik segar maupun olahan dimaksudkan untuk memperlambat proses kemunduran mutu selama distribusi, pemasaran atau penyimpanan

Hasil penerimaan pajak air permukaan merupakan dana bagi hasil yang dibagikan kepada pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota untuk periode Bulan April sampai

Bersedia menjadi pembimbing skripsi yang berjudul: “Pembuatan Aplikasi Mobile Kegiatan Pelatihan dan Jadwal Mengajar Di PPA-FEUI Pada Platform Android dengan