• Tidak ada hasil yang ditemukan

SKRIPSI OLEH RONNY SAMUEL TAMBUNAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "SKRIPSI OLEH RONNY SAMUEL TAMBUNAN"

Copied!
108
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

PENGARUH KEMAMPUAN MANAJERIAL DAN KEUNGGULAN KOMPETITIF TERHADAP KEBERHASILAN USAHA

PADA USAHA PAPAN BUNGA DI MARIENDAL (KECAMATAN MEDAN AMPLAS)

OLEH

RONNY SAMUEL TAMBUNAN 090502232

PROGRAM STUDI STRATA 1 MANAJEMEN DEPARTEMEN MANAJEMEN

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2017

(2)

LEMBAR PERNYATAAN

Saya yang bertandatangan di bawah ini menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi saya yang berjudul “Pengaruh Kemampuan Manajerial Dan Keunggulan Kompetitif Terhadap Keberhasilan Usaha Bunga Papan Di Marendal” adalah benar hasil karya tulis saya sendiri yang disusun sebagai tugas akademik guna menyelesaikan beban akademik pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

Bagian atau data tertentu yang saya peroleh dari perusahaan atau lembaga, dan/atau saya kutip dari hasil karya orang lain telah mendapat izin, dan/atau dituliskan sumbernya secara jelas sesuai dengan norma, kaidah dan etika penulisan ilmiah.

Apabila kemudian hari ditemukan adanya kecurangan dan plagiat dalam skripsi ini, saya bersedia menerima sanksi sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Medan, 28 April 2017

Ronny Samuel Tambunan NIM. 090502232

(3)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

DEPARTEMEN MANAJEMEN

PERSETUJUAN ADMINISTRASI AKADEMIK Nama : Ronny Samuel Tambunan

NIM : 090502232

Program Studi : S1 - Manajemen Konsentrasi : Kewirausahaan

Judul : Pengaruh Kemampuan Manajerial Dan Keunggulan

Kompetitif Terhadap Keberhasilan Usaha Bunga Papan Di Marendal

Tanggal: 28 April 2017 Ketua Program Studi

NIP.

Dr. Muslich Lufti, SE, MBA 19580917 198601 1 003

(4)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

DEPARTEMEN MANAJEMEN

Nama : Ronny Samuel Tambunan

LEMBAR PENGESAHAN

NIM : 090502232

Program Studi : S1 - Manajemen Konsentrasi : Kewirausahaan

Judul : Pengaruh Kemampuan Manajerial Dan Keunggulan

Kompetitif Terhadap Keberhasilan Usaha Bunga Papan Di Marendal

Pembimbing Skripsi Pembaca Penilai

Drs. Raja Bongsu H, M.Si. Frida Ramadini, SE, MM.

NIP. 19591229 198903 1 002 NIP. 19741012 200501 2 003

Ketua Program Studi S1 Manajemen

NIP.

Dr. Muslich Lufti, SE, MBA 19580917 198601 1 003

(5)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

DEPARTEMEN MANAJEMEN

Nama : Ronny Samuel Tambunan

PENANGGUNG JAWAB SKRIPSI

NIM : 090502232

Program Studi : S1 - Manajemen Konsentrasi : Kewirausahaan

Judul : Pengaruh Kemampuan Manajerial Dan Keunggulan

Kompetitif Terhadap Keberhasilan Usaha Bunga Papan Di Marendal

Medan, 15 Maret 2017

NIM. 090502232

Ronny Samuel Tambunan

(6)

ABSTRAK

Usaha papan bunga adalah salah satu jenis usaha mikro dan kecil yang cukup eksis di Kota Medan dan terus menjamur. Usaha papan bunga ini berkembang seiring dengan berkembangnya kegiatan bisnis dan trend sosial masyarakat Medan yang gemar mengirimkan papan bunga untuk memberikan berbagai ungkapan. Penelitian ini ingin melihat bagaimana pengaruh kemampuan manajerial (X1) dan keunggulan kompetitif (X2) dalam mempengaruhi keberhasilan usaha (Y) papan bunga di Marindal Medan.

Analisis dilakukan dengan menggunakan regresi linier berganda dengan dukungan software SPSS versi 20. Hasil penelitian diperoleh bahwa, variabel bebas yang terdiri dari kemampuan manajerial dan keunggulan kompetitif baik secara parsial maupun bersama-sama berpengaruh terhadap keberhasilan usaha papan bunga di Marindal Medan. Angka R square atau koefisien determinasi diperoleh sebesar 0,803 yang berarti 80,3% variabel bebas yang digunakan dapat menjelaskan variabel tidak bebas dan sekitar 19,7% variasi keberhasilan usaha dijelaskan faktor-faktor lain yang tidak dimasukkan ke dalam model penelitian. Nilai koefisien regresi variabel kemampuan manajerial sebesar 0,52 sementara nilai koefisien regresi variabel keunggulan kompetitif lebih tinggi dari variabel kemampuan manajerial yakni sebesar 0,95 satuan.

Kata Kunci: kemampuan manajerial, keunggulan kompetitif, keberhasilan usaha, usaha papan bunga.

(7)

ABSTRACT

Flower board business is one kind of micro and small business that quite exist in Medan City and evolve over time. Flower board's bussiness evolves inline with the development of business activities and social trends in Medan, where the society love to send flowers board to provide a variety of expressions. This study wanted to see how the actual effect of managerial ability (X1) and competitive advantage (X2) in influencing business success (Y) of ‘flower board’ bussiness in Marindal Medan.

Analyses were performed using multiple linear regression with SPSS 20. Results showed that the independent variables that consist of managerial capability and competitive advantage either partially or simultantly affect the success of the business in Marindal Medan. Figures R square or determination coefficient obtained for 0,803, which means 80,3% of the independent variables used may explain the dependent variable, while approximately 19,7% of the variation wasn’t included in the research model. The value of regression coefficients of managerial capabilities is 0,52 while the competitive advantages variable is higher than managerial capabilities which amounted to 0.95 units.

Keywords: managerial ability, competitive advantage, business success, flower board business.

(8)

DAFTAR ISI

ABSTRAK ... i

ABSTRACT ... ii

DAFTAR ISI ... iii

DAFTAR TABEL ... vi

DAFTAR GAMBAR ... vii

DAFTAR LAMPIRAN ... viii

KATA PENGANTAR ... ix

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1. Latar Belakang... 1

1.2. Perumusan Masalah ... 8

1.3. Tujuan Penelitian ... 8

1.4. Manfaat Penelitian ... 9

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 10

2.1. Kemampuan Manajerial ... 10

2.1.1. Pengertian Kemampuan Manajerial ... 10

2.1.2. Dimensi Kemampuan Manajerial ... 16

2.2. Keunggulan Kompetitif ... 17

2.2.1. Pengertian Keunggulan Kompetitif ... 17

2.2.2. Dimensi Keunggulan Kompetitif ... 20

2.3. Keberhasilan Usaha ... 22

2.3.1. Pengertian Keberhasilan Usaha ... 22

2.3.2. Dimensi Keberhasilan Usaha ... 25

2.4. Penelitian Terdahulu ... 27

2.5. Kerangka Konseptual Penelitian ... 29

2.6. Hipotesis Penelitian ... 31

(9)

BAB III METODE PENELITIAN ... 32

3.1. Jenis Penelitian ... 32

3.2. Tempat dan Waktu Penelitian ... 32

3.3. Batasan Operasional ... 32

3.4. Defenisi Operasional ... 33

3.4.1. Variabel Kemampuan Manajerial (X1) ... 33

3.4.2. Variabel Keunggulan Kompetitif (X2) ... 34

3.4.3. Variabel Keberhasilan Usaha (Y) ... 34

3.5. Skala Pengukuran Variabel ... 36

3.6. Populasi dan Sampel Penelitian... 36

3.7. Jenis dan Sumber Data ... 37

3.7.1. Jenis Data ... 37

3.7.2. Sumber Data ... 38

3.8. Metode Pengumpulan Data ... 39

3.9. Uji Validitas dan Reliabilitas... 40

3.9.1. Uji Validitas ... 40

3.9.2. Uji Reliabilitas ... 40

3.10. Teknik Analisis ... 42

3.10.1. Analisis Deskriptif ... 42

3.10.2. Analisis Kuantitatif ... 42

3.10.3. Koefisien Determinasi ... 44

3.10.4. Uji Asumsi Klasik ... 44

3.10.5. Pengujian Hipotesis ... 46

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 48

4.1. Perusahaan yang Diteliti ... 48

4.2. Uji Instrumen Data ... 48

4.2.1. Uji Validitas ... 48

4.2.2. Uji Reliabilitas ... 52

(10)

4.3.1. Identitas Responden ... 54

4.3.2. Tanggapan Responden terhadap Variabel... 56

4.4. Analisis Regresi Berganda ... 59

4.4.1. Uji Normalitas ... 60

4.4.2. Uji Multikolinearitas ... 61

4.4.3. Uji Heteroskedastisitas ... 62

4.5. Hasil Analisis Regresi Berganda ... 64

4.5.1. Koefisien Determinasi (R2) ... 65

4.5.2. Uji Parsial (Uji t) ... 66

4.5.3. Uji Simultan (Uji F) ... 68

4.6. Pembahasan ... 69

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 71

5.1. Kesimpulan ... 71

5.2. Saran ... 72

Daftar Pustaka ... 74

Lampiran ... 81

(11)

DAFTAR TABEL

Tabel 1.1. PDRB Kota Medan ADHB ... 2

Tabel 1.2. PDRB Kota Medan ADHK ... 3

Tabel 1.3. Jumlah Pengguna Jasa Papan Bunga Toko Florist ... 5

Tabel 2.1. Penelitian Terdahulu ... 28

Tabel 3.1. Operasional Variabel Penelitian ... 35

Tabel 4.1. Pearson Correlations Variabel Kemampuan Manajerial ... 49

Tabel 4.2. Pearson Correlations Variabel Keunggulan Kompetitif ... 50

Tabel 4.3. Pearson Correlations Variabel Keberhasilan Usaha ... 51

Tabel 4.4. Reliability Test Variabel Kemampuan Manajerial ... 52

Tabel 4.5. Reliability Test Variabel Keunggulan Kompetitif ... 53

Tabel 4.6. Reliability Test Variabel Keberhasilan Usaha ... 54

Tabel 4.7. Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan ... 55

Tabel 4.8. Karakteristik Responden Berdasarkan Usia... 55

Tabel 4.9. Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Badan Usaha ... 56

Tabel 4.10. Frekwensi Variabel Kemampuan Manajerial ... 57

Tabel 4.11. Frekwensi Variabel Keunggulan Kompetitif ... 58

Tabel 4.12. Frekwensi Variabel Keberhasilan Usaha ... 59

Tabel 4.13. Hasil One Sample Kolmogorov Smirnov Test ... 60

Tabel 4.14. Hasil Output Uji Multikolinearitas ... 62

Tabel 4.15. Hasil Uji Heteroskedastisitas dengan Spearman Correlations .... 63

Tabel 4.16. Hasil Output Koefisien Regresi ... 64

Tabel 4.17. Model Summary Regresi ... 65

Tabel 4.18. Hasil Output – Koefisien Regresi ... 67

Tabel 4.19. Hasil Output – Anova ... 68

(12)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1. Dimensi Kemampuan Manajerial ... 16

Gambar 2.2. Dimensi Keunggulan Kompetitif ... 21

Gambar 2.3. Dimensi Keberhasilan Usaha ... 27

Gambar 2.4. Kerangka Teoritis Penelitian ... 29

Gambar 4.1. Histogram dan Normal PP-Plot Data ... 61

Gambar 4.2. Uji Heteroskedastisitas dengan Scatter-Plot Data ... 63

(13)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Kuesioner Penelitian ... 81

Lampiran 2 Hasil Tabulasi Data Kuesioner ... 84

Lampiran 3 Uji Validitas dan Reliabilitas ... 87

Lampiran 4 Hasil Output Regresi ... 90

(14)

BAB I PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG

Sebagai ibu kota Provinsi Sumatera Utara, Kota Medan dewasa ini terus mengalami pertumbuhan yang pesat di berbagai sektor. Berdasarkan publikasi BPS Kota Medan, dapat dilihat bahwa pertumbuhan ekonomi Kota Medan cukup menggemberikan dengan pertumbuhan rata-rata per tahun (berdasarkan data tahun 2011-2014) atas dasar harga berlaku mencapai 12,59%. Diantara ketiga sektor yang ada, yang memiliki pertumbuhan paling tinggi adalah kategori sektor tertier, disusul sektor sekunder dan sektor primer. Sektor-sektor yang memiliki pertumbuhan paling tinggi diantara 17 sektor yang ada antara lain; sektor penyediaan akomodasi makanan serta minuman rata-rata tumbuh 20,88% per tahun, disusul sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial tumbuh 18,61% dan sektor administrasi pemerintahan, pertahanan dan jaminan sosial wajib dengan pertumbuhan per tahun mencapai 17,83%.

Sementara bila dilihat berdasarkan perkembangan PDRB harga konstan (dengan tahun dasar 2010) diketahui laju pertumbuhan ekonomi Kota Medan pada tahun 2014 megalami peningkatan bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Pada tahun 2014 pertumbuhan mencapai 6,05%, sedangkan tahun 2013 sebesar 5,36%. Hal ini desebabkan mayoritas lapangan usaha mengalami peningkatan pertumbuhan, yakni lapangan usaha jasa kesehatan lainnya, lapangan usaha penyediaan akomodasi dan

(15)

perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor dan lapangan usaha konstruksi.

Tabel 1.1.

Produk Domestik Regional Bruto Kota Medan

Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) Tahun 2010–2014 (milyar Rp.)

No Lapangan usaha 2011 2012 2013 2014 Avg Gr

A Primer 1,313.71 1,439.03 1,574.52 1,742.87 8.89%

1 Pertanian, kehut, ikan 1,311.23 1,436.57 1,572.05 1,740.47 8.90%

2 Pertamb & Penggalian 2.48 2.46 2.47 2.40 0.46%

B Sekunder 36,700.29 40,588.18 45,075.24 50,840.99 12.36%

3 Industri pengolahan 18,641.60 20,259.34 21,681.11 23,881.03 10.62%

4 Peng. listrik dan gas 213.01 211.07 170.73 151.31 0.78%

5 Air, sampah, limbah, du 179.50 215.41 229.27 260.17 12.30%

6 Konstruksi 17,666.18 19,902.36 22,994.13 26,548.48 14.21%

C Tertier 66,045.45 75,460.00 84,674.05 94,741.29 13.32%

7 Perd.bsr & ec, rep mbl/m 24,542.67 27,456.48 31,360.90 36,433.79 13.72%

8 Transportasi & gudang 9,295.47 10,855.11 10,512.65 9,681.41 5.88%

9 Akom & mak, minuman 2,522.44 3,140.34 3,619.63 4,357.45 20.88%

10 Informasi & komunikasi 5,521.09 6,221.31 6,776.71 7,297.74 9.37%

11 Jasa keu & asuransi 7,233.96 8,562.63 9,827.56 10,852.92 15.02%

12 Real estat 7,662.82 8,455.62 10,306.41 11,906.22 16.91%

13 Jasa perusahaan 2,372.84 2,734.68 3,169.68 3,622.95 15.19%

14 Adm.pem, pert & jamsos 1,798.39 2,187.88 2,442.80 2,822.97 17.83%

15 Jasa pendidikan 2,800.39 3,204.44 3,560.10 4,076.43 12.72%

16 Jasa kes & keg.sosial 1,246.70 1,473.18 1,729.98 2,097.36 18.61%

17 Jasa lainnya 1,048.68 1,168.33 1,367.63 1,592.05 14.86%

PDRB 104,059.45 117,487.21 131,323.81 147,325.15 12.59%

Growth 13.62% 12.90% 11.73% 12.11% 12.59%

Sumber: Kota Medan Dalam Angka 2015, Data Diolah

Sektor yang mengalami pertumbuhan ekonomi tertinggi berasal dari sektor lapangan usaha jasa kesehatan yaitu sebesar 12,19%, diikuti lapangan usaha penyediaan akomodasi dan makan minum sebesar 9,63%, lapangan usaha informasi dan komunikasi sebesar 9,51%, lapangan usaha perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor sebesar 9,14%, lapangan usaha konstruksi sebesar 8,95%, lapangan usaha real estate sebesar 8,64%, lapangan usaha jasa pendidikan sebesar 8,16%, lapangan usaha jasa lainnya sebesar 8,05%, lapangan usaha administrasi

(16)

pemerintahan pertahanan dan jaminan sosial wajib sebesar 7,37%, lapangan usaha pengadaan air, pengelolaan sampah, limbah dan daur ulang sebesar 6,67%, lapangan usaha jasa perusahaan sebesar 6,50%, lapangan usaha jasa keuangan dan asuransi sebesar 4,76%, lapangan usaha industri pengolahan sebesar 3,55%, lapangan usaha pengadaan listrik dan gas 2,75%, lapangan usaha pertanian, kehutanan, dan perikanan sebesar 1,57%, lapangan usaha pertambangan dan penggalian sebesar 5,02% dan lapangan usaha transportasi dan pergudangan sebesar 13,31%. Jika dilihat kontribusi masing-masing lapangan usaha pada tahun 2014 masih sangat dominan berasal dari perdagangan besar dan eceran; reparasi mobil dan sepeda motor sebesar 24,73.

Tabel 1.2. Produk Domestik Regional Bruto Kota Medan

Atas Dasar Harga Konstan (ADHK 2010) Tahun 2010–2014 (milyar Rp.)

Lapangan usaha 2011 2012 2013 2014 Avg Gr

A Primer 1,203.87 1,213.19 1,226.33 1,294.54 1.12%

1 Pert,kehut, perikanan 1,201.54 1,210.98 1,224.19 1,292.41 1.12%

2 Pertam & Penggalian 2.33 2.21 2.14 2.13 -2.51%

B Sekunder 34,352.93 36,496.43 38,392.02 40,700.31 6.27%

3 Industri pengolahan 16,897.65 17,521.74 17,862.60 18,345.63 3.51%

4 Listrik dan gas 179.65 166.48 143.64 147.59 -1.22%

5 Air, sampah, limbah, du 170.44 177.27 184.10 196.38 4.58%

6 Konstruksi 17,105.19 18,630.94 20,201.68 22,010.71 8.98%

C Tertier 62,118.78 67,452.39 71,176.07 75,502.85 7.07%

7 P.bsr & ec, rep mbl & mtr 23,293.86 25,348.12 27,537.20 30,052.91 8.37%

8 Transp & pergud 8,541.97 9,265.46 8,175.82 7,187.92 -1.78%

9 Akm & mak. minuman 2,273.55 2,469.71 2,631.50 2,884.83 9.00%

10 Informasi & komunikasi 5,595.20 6,145.85 6,756.42 7,398.84 9.73%

11 Jasa keuangan & asuransi 6,742.40 7,241.80 7,747.57 8,116.67 6.94%

12 Real estat 6,939.07 7,508.26 8,111.58 8,812.47 8.36%

13 Jasa perusahaan 2,252.84 2,391.24 2,554.29 2,720.26 7.23%

14 Adm.pem, pert & jamsos 1,644.40 1,819.46 1,947.04 2,090.47 9.24%

15 Jasa pendidikan 2,666.26 2,891.93 3,131.91 3,387.36 7.62%

16 Jasa kesehatan & keg.sos 1,189.99 1,333.45 1,460.09 1,638.15 11.50%

17 Jasa lainnya 979.24 1,037.11 1,122.65 1,212.97 7.30%

PDRB 97,675.58 105,162.58 110,794.42 117,497.62 6.75%

Growth 7.87% 7.71% 5.38% 6.05% 6.75%

(17)

Seiring dengan pesatnya pertumbuhan di hampir seluruh sektor yang ada, sektor UMKM juga mengalami perkembangan yang positif di Kota Medan. Adapun salah satu sektor UMKM yang berkembang di Kota Medan tersebut adalah bisnis papan bunga atau florist. Hal ini dikarenakan seiring dengan berkembangnya kegiatan ekonomi, bisnis dan sosial semakin meningkat pula berbagai kegiatan seremonial yang membutuhkan papan bunga, karangan bunga dan sejenisnya, misalnya untuk kegiatan ucapakan selamat untuk peresmian kantor baru, ulang tahun perusahaan, ulang tahun pribadi, launching produk, pernikahan, ulang tahun, pelantikan pengurus organisasi sosial atau pun bisnis, ucapan belasungkawa dan lain-lain. Oleh karenanya bisnis yang berkembang di Kota Medan sejak awal tahun 80-an ini terus berkembang dan dianggap masih terus memiliki peluang meskipun persaingan semakin ketat.

Berdasarkan pra survey yang dilakukan, untuk jasa papan bunga tarif yang dikenakan cukup bervariasi berkisar Rp100.000 s.d. Rp200.000 per unit. Untuk usaha- usaha papan bunga yang masih kecil, rata-rata setiap minggunya minimal dapat menjual 10 s.d. 20 papan bunga. Untuk kelompok usaha yang lebih besar dapat menerima orderan hingga 150 sampai 500 papan bunga per bulan, dengan omset mencapai Rp 20 juta hingga Rp 30 juta. Adapun jumlah rata-rata karyawan yang aktif di usaha-usaha papan bunga adalah berkisar 3 s.d. 5 orang karyawan untuk usaha yang kecil dan berkisar 6 – 15 orang untuk skala bisnis papan bungan yang lebih besar.

Dari hasil pra survey juga diketahui bahwa perkiraan keuntungan satu papan bunga Rp 25.000 dengan perkiraan harga jual Rp 80.000/papan, upah rangkai Rp

(18)

25.000 dan upah hantar Rp 30.000. Bila dalam satu minggu bisa menjual 50 papan bunga maka penjualannya adalah 50 x 25.000 = Rp 1.250.000, jadi dalam satu bulan bisa menimbun keuntungan berkisar 1.250.000 x 4 = Rp 5.000.000. Dalam setahun keuntungan yang diperoleh adalah Rp5.000.000 x 12 = Rp60.000.000. Sedangkan modal yang dikeluarkan untuk 10 papan bunga hanya Rp 14.500.000 per tahun.

Tabel 1.3. berikut ini menyajikan perkembangan penjualan papan bunga salah satu usaha papan bunga di Marindal (Kecamatan Medan Amplas), yakni Toko Florist.

Dimana berdasarkan tabel dapat dilihat jumlah pesanan papan bunga berada pada perkembangan yang realatif stabil dalam kurun waktu 2012 s.d. 2014. Toko Papan Bunga Florist sendiri merupakan salah satu toko yang memperkerjakan 7 orang karyawan dan menjalankan prinsip-prinsip manajemen modern dalam kegiatan operasionalnya, seperti memiliki rencana pemasaran, pengawasan dan supervisi karyawan, pencatatan dan pembukuan keuangan, pembagian tugas dan lain-lain.

Tabel 1.3. Jumlah Pengguna Jasa Papan Bunga Toko Florist 2012-2014

Bulan 2012 2013 2014

Januari 174 174 154

Pebruari 185 162 162

Maret 173 155 155

April 164 177 177

Mei 162 134 134

Juni 155 155 177

Juli 177 177 134

Agustus 134 134 155

September 187 155 177

Oktober 179 177 134

Nopember 185 134 177

Total 1875 1734 1736

Sumber: Toko Bunga Florist 2015

(19)

Adapun fenomena yang menarik peneliti adalah, bahwa sebagian besar usaha- usaha papan bunga di Kota Medan masih banyak yang menjalankan usahanya tanpa memperhatikan aspek-aspek manajemen. Padahal sebagaimana diketahui bahwa sekecil apapun usaha yang dijalankan pasti akan membutuhkan manajemen. Dengan penerapan manajemen yang baik pencapaian tujuan usaha akan dapat dilakukan dengan lebih terarah, efektif dan efisien, sebagaimana dikemukakan dalam sejumlah penelitian oleh Ripani (2011), Sumanto (2010), dan Muhlisin (2012). Dimana menurut penelitian- penelitian tersebut dimensi variabel kemampuan manajerial antara lain tercermin dari ada tidaknya penerapan perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan serta pengawasan.

Di sisi lain, di samping kemampuan manajerial, faktor keunggulan kompetitif juga menjadi variabel yang tidak kalah penting. Hal ini setidaknya dikemukakan Istanto (2010), Kadarningsih dan Nuswantoro (2012), dan Apriliani (2015). Dalam penelitian-penelitian tersebut dikemukakan keunggulan kompetitif antara lain meliputi, kemampuan memberikan pelayanan yang baik, kemampuan membangun kedekatan dan komunikasi yang baik dengan para pelanggan serta kemampuan perusahaan dalam menciptakan produk dan layanan yang relatif lebih baik dibandingkan dengan usaha sejenis, misalnya produk yang lebih kreatif dari sisi kemasan, warna, inovasi-inovasi tambahan dan lain-lain.

(20)

Diharapkan, dengan dukungan kemampuan manajerial dan keunggulan kompetitif diharapkan keberhasilan usaha akan dapat diwujudkan secara lebih efektif dan efisien. Setidaknya hal ini telah dibuktikan berdasarkan sejumlah penelitian.

Persoalan lain yang dihadapi oleh usaha-usaha papan bunga di Kota Medan adalah, semakin ramainya orang yang tertarik untuk terjun di bisnis ini. Sehingga membuat persaingan antar pengusaha papan bunga menjadi semakin ketat. Banyak diantara usaha-usaha papan bunga yang kemudian kalah bersaing dengan usaha-usaha papan bunga baru yang lebih inovatif dan lebih banyak menerapkan prinsip-prinsip manajemen modern bahkan tidak sedikit yang harus menutup usahanya karena kalah bersaing dan ditinggalkan konsumennya. Kendati demikian banyak pula yang mampu bertahan dalam persaingan yang semakin ketat dengan cara melakukan berbagai perbaikan dan mengikuti perkembangan yang terjadi di pasar.

Dengan melihat fenomena yang terjadi tersebut, penulis merasa tertarik untuk melakukan kajian lebih jauh mengenai bisnis papan bunga di Marindal Kecamatan Medan Amplas. Di tengah persaingan yang tinggi seiring menjamurnya usaha-usaha sejenis, faktor apa saja yang mempengaruhi keberhasilan usaha papan bunga di Kota Medan. Apakah faktor kemampuan manajerial dan keunggulan kompetitif untuk memenangkan persaingan berpengaruh positif pada keberhasilan usaha-usaha papan bunga tersebut.

Berdasarkan hal tersebut maka penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh kemampuan manajerial dan keunggulan kompetitif terhadap keberhasilan usaha papan

(21)

bunga. Maka judul yang diajukan dalam penelitian ini adalah “Pengaruh kemampuan manajerial dan keunggulan kompetitif terhadap keberhasilan usaha papan bunga di Marindal”.

1.2. PERUMUSAN MASALAH

Berdasarkan uraian pada latar belakang dapat dirumuskan permasalahan pada penelitian ini adalah:

1) Apakah kemampuan manajerial wirausaha berpengaruh terhadap keberhasilan usaha papan bunga di Marindal?

2) Apakah keunggulan kompetitif berpengaruh terhadap keberhasilan usaha papan bunga di Marindal?

3) Apakah kemampuan manajerial dan keunggulan kompetitif secara bersama- sama berpengaruh terhadap keberhasilan usaha papan bunga di Marindal?

1.3. TUJUAN PENELITIAN

Berdasarkan permasalahan tersebut di atas, tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah:

1) Untuk menganalisis apakah kemampuan manajerial wirausaha berpengaruh terhadap keberhasilan usaha papan bunga di Marindal.

2) Untuk menganalisis apakah keunggulan kompetitif berpengaruh terhadap keberhasilan usaha papan bunga di Marindal.

(22)

3) Untuk menganalisis apakah kemampuan manajerial dan keunggulan kompetitif secara bersama-sama berpengaruh terhadap keberhasilan usaha papan bunga di Marindal.

1.4. MANFAAT PENELITIAN

Penelitian ini diharapkan memberi manfaat untuk:

1) Sebagai bahan masukan bagi pemilik usaha papan bunga untuk meningkatkan pengguna jasa papan bunga mereka dan agar usaha mereka dapat bertumbuh dari tahun ke tahun

2) Menambah khasanah dan memperkaya penelitian ilmiah di Fakultas Ekonomi dan Bisnis

3) Bagi peneliti, penelitian ini sebagai langkah awal dalam penerapan ilmu pengetahuan dan menambah wawasan.

4) Mengingat keterbatasan dalam penelitian ini maka dapat digunakan sebagai bahan referensi bagi penelitian selanjutnya.

(23)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. KEMAMPUAN MANAJERIAL 2.1.1. Pengertian Kemampuan Manajerial

Yang dimaksud kemampuan atau abilities ialah bakat yang melekat pada seseorang untuk melakukan suatu kegiatan secara phisik atau mental yang diperoleh sejak lahir, belajar, dan dari pengalaman. Kemampuan seseorang akan turut serta menentukan perilaku dan hasilnya (Yudsi,2010:14). Sementara menurut Robins (2007:46) kemampuan adalah kapasitas individu untuk melaksanakan berbagai tugas dalam pekerjaan tertentu. Seluruh kemampuan seorang individu pada hakekatnya tersusun dari dua perangkat faktor yaitu kemampuan intelektual dan kemampuan fisik.

Sedangkan menurut Gibson (2008:123) kemampuan menunjukkan potensi orang untuk melaksanakan tugas atau pekerjaan. Kemampuan itu mungkin dimanfaatkan atau mungkin juga tidak. Kemampuan berhubungan erat dengan kemampuan fisik dan mental yang dimiliki orang untuk melaksanakan pekerjaan dan bukan yang ingin dilakukannya.

Pada dasarnya kata manajerial berasal dari kata manajemen. Berdasarkan pendapat Koontz and Donnel (1972) dalam Handoko (2012:29) manajemen adalah terlaksananya sebuah pekerjaan, melalui tindakan orang lain (dalam hal ini adalah pekerja atau pegawai). Millet (1954) dalam Handoko (2012:32) menyebutkan bahwa

(24)

sebuah kinerja dari orang-orang yang sudah terorganisir secara formal sebagai sebuah kelompok guna memperoleh suatu tujuan yang diinginkan. Sedangkan Terry dalam Handoko (2012:45) mengungkapkan bahwa manajemen merupakan suatu proses atau keranga kerja. Di dalamnya melibatkan bimbingan atau pengarahan dari suatu kelompok orang yang mengarah ke tujuan perusahaan atau organisasional dengan maksud yang lebih real atau nyata. Adapun manjerial adalah perpaduan seni dan ilmu, sebuah ilmu dalam mengatur segala sesuatunya dengan benar. Pelaku ilmu disebut dengan manajer. Seorang manajer haruslah menguasai ilmu manajerial dengan baik.

Theodorus dalam Handoko (2012:13) menjelaskan bahwa praktek manajerial adalah kegiatan yang dilakukan oleh manajer. Selanjutnya Siagian (2008:163) mengemukakan bahwa manajemen yang efektif adalah sumber keberhasilan dari suatu organisasi dan managerial skill adalah keahlian menggerakkan orang lain untuk bekerja dengan baik.

Kemampuan manajerial sangat berkaitan erat dengan manajemen kepemimpinan yang efektif, karena sebenarnya manajemen pada hakekatnya adalah masalah interaksi antara manusia baik secara vertikal maupun horizontal oleh karena itu kepemimpinan dapat dikatakan sebagai perilaku memotivasi orang lain untuk bekerja kearah pencapaian tujuan tertentu. Kepemimpinan yang baik seharusnya dimiliki dan diterapkan oleh semua jenjang organisasi agar bawahannya dapat bekerja dengan baik dan memiliki semangat yang tinggi untuk kepentingan organisasi.

Davis dalam Engkoswara dan Komariah, 2010:178 mengelompokkan keterampilan manajerial menjadi tiga bagian utama, yaitu:

(25)

1) Technical skills (keterampilan teknis) yang diperlukan manajer agar ia mampu mengawasi dan menilai pekerjaan sesuai dengan keahliannya.

2) Human skills (keterampilan manusiawi). Keterampilan ini merujuk pada kemampuan dalam membangun relasi dan dapat bekerja sama dengan orang lain.

3) Conceptual skills (keterampilan konseptual). Keterampilan ini menunjukkan kemampuan manajer dalam berfikir dan menganalisis suatu persoalan serta memutuskan dan memecahkan masalah.

Dalam formulasi lain Stoner (dalam Wahyosumidjo, 2011: 96-99) mengemukakan terdapat 8 (delapan) macam tugas pokok yang harus dikerjakan oleh setiap manajer dalam organisasi. Tugas-tugas pokok tersebut meliputi; a) Managers work with and through other people; tiap manajer mempunyai tanggung jawab untuk bekerja sama dengan orang lain. Pengertian orang lain tidak hanya bawahan dan atasan melainkan juga para manajer lain yang ada di dalam organisasi. b) Managers are responsible and accountable; manajer bertanggung jawab atas tugas-tugas serta berkewajiban untuk melaksanakan tugas-tugas tersebut dengan berhasil. c) Managers competing goals and set priority; tiap manajer akan menghadapi sejumlah tujuan organisasi, permasalahan dan berbagai macam kebutuhan. d) Managers must think leadership and conceptually; manajer harus berpikir secara analitis dan konseptual.

Untuk menjadi seorang analitis, seorang manajer harus mampu menjabarkan persoalan-persoalan ke dalam komponen-komponen atau bagian, kemudian menganalitis bagian-bagian tersebut dan akhirnya sampai kepada pemecahan yang

(26)

tepat. e) Managers are mediators; manajer adalah seorang penengah. Dalam kehidupan organisasi adakalanya terjadi perselisihan pendapat antar perseorangan, antar kelompok maupun antar organisasi, sehingga diperlukan penengah. f) Managers are politicans; manajer adalah seorang politisi. Sebagai politisi, seorang manajer harus mampu bertindak persuasif dan berkompromi demi pengembangan tujuan organisasi dan perlu adanya penyebaran jaringan kerja yang lebih luas dengan manajer lain. g) Managers are diplomat; manajer adalah seorang diplomat. Dalam peranannya sebagai seorang diplomat, manajer adalah wakil resmi pada berbagai macam tingkat pertemuan. h) Managers makes dfficult decisions; manajer membuat berbagai macam keputusan. Tidak ada organisasi yang berjalan mulus tanpa tantangan sepanjang waktu, banyak berbagai macam jenis tantangan yang terjadi, seperti: dana, masalah sumber daya rnanusia, dan berbagai masalah yang berkaitan dengan kebijaksanaan organisasi.

Winardi (2007:14) mengemukakan bahwa kemampuan manajerial adalah kesanggupan mengambil tindakan-tindakan perencanaan, pengorganisasian pelaksanaan, pengawasan yang dilakukan untuk mencapai sasaran yang telah ditetapkan. Menurut Wibowo (2012:14) bila ingin sukses, maka seseorang harus memiliki “keterampilan manajerial” diantaranya energi spiritual, keterampilan emosional, kekuatan intelektual, kualitas fisik dan penguasaan teknologi terapan.

Sedangkan menurut Siagian (2007:67), kemampuan manajerial adalah kemampuan untuk mengelola usaha seperti perencanaan, pengorganisasian, pemberian motivasi, pengawasan dan penilaian. Kemampuan manajerial merupakan modal utama yang

(27)

harus dimiliki oleh seorang manajer agar dalam pengelolaan perusahaan dapat memberikan hasil yang optimal dan sesuai dengan tujuan yang diharapkan.

Menurut Hasibuan (2011:57) bahwa prestasi manajer dapat diukur dalam bentuk dua konsep yaitu efisiensi dan efektivitas. Menurutnya efisiensi berarti melakukan kerja dengan benar dan efektivitas berarti melakukan pekerjaan yang benar.

Agar manajer dapat mencapai organisasi yang efisien dan efektif maka seorang manajer diharuskan memiliki keterampilan manajerial.

Kemampuan manajerial berkaitan dengan kemampuan menjalankan fungsi- fungsi manajemen, yaitu fungsi perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan. Fungsi-fungsi manajemen ini merupakan proses dari pelaksanaan manajemen suatu perusahaan dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan (Maman, 2014:22). Lebih lanjut Maman mengungkapkan, terdapat tujuh aspek kemampuan manajerial, yakni; kepemimpinan, pemecahan masalah, komunikasi, keterampilan manajerial, pengalaman, kewiraswastaan, dan motivasi.

Seseorang akan mampu mengelola organisasi apabila ia memiliki kecakapan manajerial (manajerial competency) yaitu suatu keterampilan atau karakteristik personal yang membantu tercapainya kinerja yang tinggi dalam tugas manajemen.

Adapun indikator kemampuan manajerial sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Winardi (2007:4) yaitu:

a. Perencanaan. Perencanaan adalah fungsi seorang manajer yang berhubungan dengan memilih tujuan, kebijaksanaan, prosedur dan program-program dari

(28)

alternatif yang ada. Jadi masalah perencanaan adalah masalah “memilih” yang terbaik dari dari beberapa alternatif yang ada.

b. Pengorganisasian. Pengorganisasian adalah suatu proses penentuan, pengelompokan, dan pengaturan bermacam-macam aktivitas yang diperlukan untuk mencapai tujuan menempatkan orang-orang pada setiap aktivitas ini, menyediakan alat-alat yang diperlukan, menetapkan wewenang yang secara relatif didelegasikan kepada setiap individu yang akan melakukan aktivitas- aktivitas tersebut.

c. Pelaksanaan. Pelaksanaan merupakan suatu kegiatan yang dilakukan oleh manajer untuk membimbing, mengarahkan, dan mengatur segala kegiatan karyawan yang telah diberi tugas dalam melaksanakan suatu kegiatan usaha dengan demikian, seorang manajer harus mampu menggerakan karyawanya dengan cara memberikan motivasi, mengerti akan hubungan pribadi dan aktifitas kelompok dalam menyelesaikan pekerjaanya.

d. Pengawasan. Aktivitas pengawasan atau pengendalian merupakan proses untuk menjamin bahwa tujuan perusahaan akan tercapai. Pengendalian pada hakekatnya merupakan usaha memberikan petunjuk para pelaksana agar mereka selalu bertindak sesuai dengan rencana.

Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa kemampuan manajerial adalah kemampuan yang dimiliki oleh seseorang dalam mengimplementasikan fungsi manajerial melalui pendekatan interpersonal yang

(29)

sifatnya humanis, komunikasi yang persuasif serta pengambilan keputusan yang tepat sehingga tercipta suasana dinamis dan iklim yang kondusif dalam organisasi. Berbagai kemampuan manajerial tersebut berisi tugas, peran serta fungsi pemimpin dalam mengendalikan institusi sehingga secara maksimal mendukung pencapaian tujuan yang telah ditetapkan.

2.1.2. Dimensi Kemampuan Manajerial

Berdasarkan sejumlah teori umum dan fakta empiris yang diuraikan di atas dapat disimpulkan bahwa yang dijadikan indikator kemampuan manajerial adalah kemampuan manajer atau pimpinan suatu organisasi dalam menjalankan proses manajemen seperti; perencanaan, pengorganisasian, kepemimpian dan pengawasan dan menerapkan beberapa keahlian utama manajerial seperti; keahlian konseptual, administratif dan teknis. Dalam sebuah organisasi yang lebih besar indikator ini dapat dikembangkan menjadi lebih kompleks sesuai dengan keadaan organisasi. Namun dalam usaha dan kegiatan bisnis sederhana lazim digunakan dimensi umum sebagaimana tersaji pada gambar berikut:

Gambar 2.1.

Dimensi Kemampuan Manajerial Kemampuan

Manajerial Perencanaan

Pengorganisasian

Kepemimpinan

Pengawasan Sumber: Suharsaputra (2010), Ripani (2011), Sumanto (2010) dan Muhlisin (2012)

(30)

2.2. KEUNGGULAN KOMPETITIF 2.2.1. Pengertian Keunggulan Kompetitif

Dewasa ini semakin diyakini bahwa kunci utama dalam memenangkan persaingan adalah dengan memberikan nilai dan kepuasan kepada pelanggan melalui penyampaian produk dan jasa yang berkualitas dengan harga bersaing. keunggulan kompetitif adalah perkembangan dari nilai yang mampu diciptakan perusahaan untuk pembelinya. Keunggulan kompetitif adalah sesuatu yang memungkinkan sebuah perusahaan memperoleh keuntungan yang lebih tinggi dabandingkan dengan rata-rata keunggulan yang diperoleh pesaing dalam industri (Tjiptono, 2008:86).

Untuk merancang penawaran pasar yang menghantarkan nilai lebih daripada pesaing yang berusaha memenangkan pasar yang sama, perusahaan harus memahami pelanggan dan mengembangkan hubungan yang kuat dengan pelanggan. Penawaran tersebut disebut juga dengan keunggulan bersaing (Kotler, 2010:178), dimana perusahaan memiliki keunggulan melebihi pesaing yang diperoleh dengan menawarkan nilai yang lebih besar kepada konsumen daripada tawaran pesaing.

Menurut Tangkilisan (2007:69) keunggulan kompetitif merujuk pada kemampuan sebuah organisasi untuk memformulasikan strategi yang menempatkannya pada suatu posisi yang menguntungkan berkaitan dengan perusahaan lainnya. Keunggulan Kompetitif muncul bila pelanggan merasa bahwa mereka menerima nilai lebih dari transaksi yang dilakukan dengan sebuah organisasi pesaingnya.

(31)

Keunggulan kompetitif adalah merujuk pada kemampuan sebuah organisasi untuk memformulasikan strategi yang menempatkannya pada suatu posisi yang menguntungkan berkaitan dengan perusahaan lainnya. Keunggulan kompetitif muncul bila pelanggan merasa bahwa mereka menerima nilai lebih dari transaksi yang dilakukan dengan sebuah organisasi pesaingnya (Setiawan, 2007:89). Sementara dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2014), dinyatakan bahwa keunggulan kompetitif bersifat kompetisi dan bersifat persaingan.

Selanjutnya, Porter (2008:182) mengemukakan bahwa keunggulan kompetitif juga dapat disebut sebagai konsep keunggulan kompetitif (competitive advantage).

Porter mengemukakan ada tiga landasan strategi yang dapat membantu organisasi memperoleh keunggulan kompetitif, yaitu keunggulan biaya, diferensiasi, dan fokus.

Porter menamakan ketiganya strategi umum. Keunggulan biaya menekankan pada pembuatan produk standar dengan biaya perunit sangat rendah untuk konsumen yang peka terhadap perubahan harga. Diferensiasi adalah strategi dengan tujuan membuat produk yang menyediakan jasa yang dianggap unik di seluruh industri dan ditujukan kepada konsumen yang tidak terlalu peduli dengan perubahan harga. Fokus berarti membuat produk dan menyediakan jasa yang memenuhi keperluan sejumlah kelompok kecil konsumen.

Cravens dalam Prasetya, Rahardja dan Hidayati (2007:40) mengemukakan bahwa keunggulan kompetitif seharusnya dipandang sebagai suatu proses dinamis bukan sekedar dilihat sebagai hasil akhir. Keunggulan kompetitif memiliki tahapan

(32)

proses yang terdiri atas sumber keunggulan, keunggulan posisi dan prestasi hasil akhir serta investasi laba untuk mempertahankan bisnis. Keunggulan dipertahankan dengan berjuang sekuat tenaga untuk melakukan perbaikan secara terus menerus terhadap nilai yang diberikan pada para pembeli dan atau mengurangi biaya dalam menyediakan produk atau jasa.

Menurut Prakosa (2008:33) keunggulan kompetitif adalah cara terpenuhi jika pelanggan memperoleh perbedaan yang konsisten dalam attribute yang terpenting dari produk yang dihasilkan dibandingkan pesaingnya, dimana perbedaan tersebut merupakan dampak langsung dari kesenjangan/kemampuan antara produsen dan pesaingnya. Perusahaan yang melakukan inovasi berkelanjutan dipandang sebagai sumber keunggulan kompetitif. Strategi bersaing adalah kombinasi antara tujuan akhir yang diperjuangkan perusahaan dengan alat (kebijakan) dimana perusahaan berusaha sampai ke sana. Bahwa keunggulan kompetitif berkaitan dengan cara bagaimana perusahaan memilih dan benar-benar dapat melaksanakan strategi generik ke dalam praktik. Semua bagian yang ada di dalam organisasi, baik yang berupa sumber daya maupun aktivitas dapat menjadi keunggulan kompetitif. Strategi harus didesain unutk mewujudkan keunggulan kompetitif yang terus menerus, sehingga perusahaan dapat mendominasi pasar lama maupun pasar baru. Hal terpenting dalam mencapai kesuksesan strategi yang diterapkan adalah dengan mengidentifikasi asset perusahaan yang sesungguhnya, dalam hal ini adalah tangible dan intangible resaources yang membuat organisasi itu unik.

(33)

2.2.2. Dimensi Keunggulan Kompetitif

Treacy dan Wiersma dalam Prasetya, Rahardja dan Hidayati (2007) mengemukakan keunggulan kompetitif perusahaan dapat dibangun di atas salah satu dari tiga disiplin nilai. Pertama, operasional prima (operational excellence).

Perusahaan yang menggunakan strategi ini berupaya mencapai biaya paling efisien pada setiap proses bisnis yang menghasilkan kualitas jasa dan barang sesuai harapan pelanggan. Kedua, keakraban dengan pelanggan (customer intimacy). Perusahaan yang menggunakan strategi ini mempertahankan bisnis dengan menunjukkan pemahaman luar biasa pada kebutuhan dan harapan pelanggan melebihi rata-rata kompetitor.

Ketiga, produk atau layanan yang senantiasa inovatif dan terdepan (product leadership).

Pengukuran keunggulan kompetitif dalam penelitian Day dan Wensley dalam Setiawan (2007) menyatakan ada dua pijakan dalam mencapai keunggulan kompetitif, pertama adalah keunggulan sumber daya yang terdiri dari keunggulan keahlian dan keunggulan dalam bahan baku, kemudian yang kedua adalah keunggulan posisi yang terdiri dari keunggulan biaya relatif rendah dan keunggulan nilai bagi pelanggan.

Augusty dalam Prasetya, Rahardja dan Hidayati (2007) menyatakan bahwa ada tiga indikator keunggulan kompetitif berkelanjutan, yaitu durabilitas, imitabilitas, dan kemudahan menyamai. Durabilitas menunjukan seberapa lama dapat bertahan superioritas aset-aset stratejik organisasi dan kinerja keberhasilan organisasi.

Imitabilitas menunjukkan seberapa sulit pesaing meniru keunggulan kompetitif

(34)

organisasi. Sedangkan kemudahan menyamai menunjukkan seberapa mudah pesaing menyamai aset-aset stratejik organisasi. Walaupun mudah menyamai aset stratejik organisasi lain, namun belum tentu dapat meniru keungulan bersaing yang telah ada, apalagi bila dilihat seberapa lama mampu mempertahankan keunggulan kompetitif.

Bharadwaj dalam Setiawan (2007) mengemukakan, ada lima indikator yang digunakan untuk mengukur keunggulan kompetitif, yaitu:

a. Keunikan produk adalah keunikan produk perusahaan yang memadukan nilai seni dengan selera pelanggan.

b. Harga bersaing adalah kemampuan perusahaan untuk menyesuaikan harga produknya dengan harga umum di pasaran.

c. Jarang dijumpai berarti keberadaanya langka dalam persaingan yang saat ini dilakukan.

d. Tidak mudah ditiru berarti dapat ditiru oleh pesaing tetapi dengan tidak sempurna.

e. Tidak mudah digantikan berarti tidak memiliki pengganti yang sama.

Gambar 2.2.

Dimensi Keunggulan Kompetitif

Keunggulan Kompetitif Operational Excelence

Customer Intimacy

Product Leadership

(35)

Adapun indikator keunggulan kompetitif pada penelitian ini adalah indikator yang digunakan Treacy dan Wiersma dalam Hidanti (2007) yakni; operational excellence, customer intimacy dan product leadership.

2.3. KEBERHASILAN USAHA 2.3.1. Pengertian Keberhasilan Usaha

Perusahaan adalah setiap bentuk badan usaha yang menjalankan setiap jenis usaha yang bersifat tetap dan terus menerus dan didirikan, bekerja, serta berkedudukan dalam wilayah negara indonesia untuk tujuan memperoleh keuntungan dan atau laba (Kansil, 2010:2). Menurut pendapat Swastha dan Sukotjo (2012:12) definisi atau pengertian perusahaan adalah adalah suatu organisasi produksi yang menggunakan dan mengkoordinir sumber-sumber ekonomi untuk memuaskan kebutuhan dengan cara yang menguntungkan.

Pada umumnya tujuan pokok suatu perusahaan adalah untuk memperoleh keberhasilan dalam berusaha yang diindikasikan dengan tercapainya keuntungan yang terus meningkat dari waktu ke waktu. Kendati demikian, disamping tujuan pokok tersebut, masih ada tujuan-tujuan penting lainnya, antara lain adanya pertumbuhan skala usaha dalam jangka panjang, memberikan dukungan untuk berbagai kepentingan sosial dan sebagainya (Drucker, 2008).

Didirikannya sebuah perusahaan memiliki tujuan yang jelas. Ada pendapat yang menyatakan bahwa tujuan perusahaan adalah untuk mencapai keuntungan

(36)

maksimal atau laba yang sebesar-besarnya. Pendapat lain mengatakan bahwa tujuan perusahaan adalah ingin memakmurkan pemilik perusahaan atau para pemilik saham.

Sedangkan pendapat yang lain lagi menyatakn bahwa tujuan perusahaan adalah memaksimalkan nilai perusahaan yang tercermin pada harga sahamnya. Ketiga pendapat tersebut sebenarnya secara substansial tidak banyak berbeda. Hanya saja penekanan yang ingin dicapainya berbeda antara tujuan yang satu dengan yang lainnya.

Pendapat yang menyatakan bahwa tujuan perusahaan adalah mencapai laba yang sebesar-besarnya atau mencapai laba maksimal mengandung konsep bahwa perusahaan harus melakukan kegiatannya secara efektif dan efisien. Efektif berkaitan dengan tujuan yang hendak dicapai, sedangkan efisien berkenaan dengan biaya yang seminimal mungkin untuk mencapai tujuan tersebut (Martono dan Harjito, 2010:2).

Sebagai salah satu tujuan terpenting dari kegiatan organisasi, keberhasilan usaha selanjutnya dapat diartikan sebagai suatu keadaan dimana usaha mengalami peningkatan dari hasil yang sebelumnya. Keberhasilan usaha merupakan salah tujuan utama dari sebuah perusahaan, dimana segala aktivitas yang ada didalamnya ditujukan untuk mencapai suatu keberhasilan.

Dalam pengertian umum, Mudzakar dalam Andari (2011:21) mengemukakan bahwa keberhasilan usaha adalah suatu kondisi yang menunjukkan suatu keadaan yang lebih baik/unggul dari masa sebelumnya. Menurut Suyatno (2010:179) keberhasilan usaha merupakan cerminan dari kinerja usaha dan merupakan salah satu tujuan utama dari para pengusaha, dimana dapat dilihat dari beberapa aspek yaitu meningkatnya

(37)

pertumbuhan usaha, kinerja keuangan (profit) dan citra (image) perusahaan. Primiana (2009:49) mengemukakan bahwa keberhasilan usaha terlihat dari sudah terpenuhinya permodalan, penyaluran modal secara produktif dan tercapainya tujuan organisasi.

Sementara Noor (2007:397) berpendapat bahwa keberhasilan usaha pada hakikatnya adalah keberhasilan dari bisnis mencapai tujuannya, dimana suatu bisnis dikatakan berhasil bila mendapatkan laba, karena laba adalah tujuan dari seseorang melakukan bisnis. Hal yang sama juga dikemukakan oleh Wijaya dalam Suryana (2011:168) yang mengemukakan bahwa yang merupakan tujuan kritis dan menjadi ukuran keberhasilan suatu perusahaan adalah laba.

Tambunan (2011:14) menjelaskan, faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan usaha terdiri dari dua faktor, yaknik internal dan eksternal. Faktor internal antara lain, kualitas sumber daya manusia, penguasaan organisasi, struktur organisasi, sistem manajemen, partisipasi, dan kultur/budaya bisnis, kekuatan modal, jaringan bisnis dengan pihak luar dan enterpreneurship. Faktor eskternal dapat dibagi menjadi dua faktor yaitu pemerintah dan non pemerintah. Faktor dari pemerintah diantaranya, kebijakan ekonomi, birokrat, politik dan tingkat demokrasi. Faktor non pemerintah yaitu sistem perekonomian, sosio-kultur budaya masyarakat, sistem perburuhan dan konsidisi perburuhan, kondisi infrastrukur, tingkat pendidikan masyarakat, dan lingkungan global.

Suyatno (2010:179) berkaitan dengan faktor penentu keberhasilan usaha industri kecil ini, hasil penelitiannya menemukan bahwa keberhasilan usaha kecil

(38)

ditandai dengan munculnya inovasi dan adanya perilaku mau mengambil resiko dari pengusaha. Demikian pula halnya denga hasil penelitian Murphy, dalam Suyatno (2010) menemukan bahwa keberhasilan usaha kecil disumbangkan oleh kerja keras, dedikasi, komitmen terhadap pelayanan dan kualitas, tingkat pendidikan pengusaha dan pengalaman yang relevan.

2.3.2. Dimensi Keberhasilan Usaha

Adapun mengenai indikator keberhasilan usaha menurut sejumlah literatur yang telah diuraikan di atas dikemukan sebagai berikut:

Menurut Riyanti (2010:28) indikator keberhasilan usaha terdiri dari;

peningkatan omzet, bertambahnya jumlah karyawan, meningkatnya volume penjualan dan meningkatnya jumlah pelanggan dan transaksi. Bienamyme dalam Novari (2012) menyebutkan bahwa dua indikator terpenting yang dapat digunakan untuk menilai keberhasilan usaha adalah; meningkatnya jumlah karyawan dan meningkatnya omzet penjualan.

Beberapa indikator dalam menentukan keberhasilan usaha menurut Noor (2007:397) adalah sebagai berikut:

a. Laba/profitability. Laba merupakan tujuan utama dari bisnis. Laba usaha adalah selisih antara pendapatan dengan biaya.

b. Produktivitas dan efisiensi. Besar kecilnya produktivitas suatu usaha akan menentukan besar kecilnya produksi. Hal ini akan mempengaruhi besar kecilnya

(39)

penjualan dan pada akhirnya menentukan besar kecilnya pendapatan, sehingga mempengaruhi besar kecilnya laba yang diperoleh.

c. Daya saing. Daya saing adalah kemampuan atau ketangguhan dalam bersaing untuk merebut perhatian dan loyalitas konsumen. Suatu bisnis dapat dikatakan berhasil, bila dapat mengalahkan pesaing atau paling tidak masih bisa bertahan menghadapi pesaing.

d. Kompetensi dan etika usaha. Kompetensi dan etika usaha merupakan akumulasi dari pengetahuan, hasil penelitian, dan pengalaman secara kuantitatif maupun kualitatif dalam bidangnya sehingga dapat menghasilkan inovasi sesuai dengan tuntutan zaman.

e. Terbangunnya citra baik. Citra baik perusahaan terbagi menjadi dua yaitu, trust internal dan trust external. Trust internal adalah amanah atau trust dari segenap orang yang ada dalam perusahaan. Sedangkan trust external adalah timbulnya rasa amanah atau percaya dari segenap stakeholder perusahaan, baik itu konsumen, pemasok, pemerintah, maupun masyarakat luas, bahkan juga pesaing.

Indikator keberhasilan usaha menurut Purnama dan Suyanto (2010), kriteria yang cukup signifikan untuk menentukan keberhasilan suatu usaha dapat dilihat dari:

peningkatan dalam akumulasi modal atau peningkatan modal, jumlah produksi, jumlah pelanggan, perluasan usaha, perluasan daerah pemasaran, perbaikan sarana fisik dan pendapatan usaha. Adapun indikator keberhasilan usaha menurut Suryana (2008: 85)

(40)

keberhasilan usaha terdiri dari: modal, pendapatan, volume penjualan, output produksi dan tenaga kerja.

Dapat diketahui bahwa terdapat banyak pendapat dan pandangan mengenai dimensi keberhasilan usaha. Maka dimensi yang digunakan untuk penelitian ini menggunakan kombinasi dari pendapat Purnama dan Suyanto (2010), Riyanti (2010), Noor (2007) dan Novari (2012) bahwa dimensi keberhasilan usaha yaitu diantarannya adalah; peningkatan modal, jumlah produksi, jumlah pelanggan, perluasan usaha, perluasan daerah pemasaran, perbaikan sarana fisik dan meningkatnya pendapatan usaha.

2.4. PENELITIAN TERDAHULU

Beberapa penelitian terdahulu mengenai keberhasilan usaha, kemampuan manajerial dan keunggulan kompetitif antara lain:

Keberhasilan Usaha Peningkatan Modal

Jumlah Produksi

Jumlah Pelanggan

Perluasan Usaha

Perl.Wil.Pemasaran

Perb.Sarana Fisik

Peningk. Pendapatan

Gambar 2.3.

Dimensi Keberhasilan Usaha

(41)

Tabel 2.1.

Penelitian Terdahulu

No Nama Judul Hasil Penelitian

1 Syofia Sofatunisa R (2014)

Pengaruh Kemampuan Manajerial terhadap Keberhasilan Usaha Pengrajin

Boneka - Survey Pada Pengrajin Boneka di Sentra Industri Boneka di Kota Bandung

Hasil penelitian memberikan temuan bahwa kemampuan manajerial

berpengaruh positif signifikan terhadap keberhasilan usaha yang diukur

berdasarkan indikator laba.

2 Andhika Agung Pamungkas dan Maya

Setiawardani (2015)

Pengaruh Kemampuan Manajerial terhadap Keberhasilan Usaha

Hasil penelitian memberikan hasil yang kemampuan manajerial berpengaruh positif dan signifikan terhadap keberhasilan bisnis.

3 Yuni Istanto (2010)

Pengaruh Strategi Keunggulan kompetitif dan Positioning Terhadap Kinerja (Survey Pada Koperasi Serba Usaha di

Kabupaten Sleman Yogyakarta)

Hasi penelitian diperoleh bahwa strategi keunggulan kompetitif dan keunggulan positioning berpengaruh positif terhadap keberhasilan usaha Koperasi Serba Usaha di Kabupaten Sleman.

4 Ana

Kadarningsih (2010)

Keunggulan kompetitif; Faktor- faktor yang mempengaruhi dan Dampaknya pada Kinerja Selling- In (Studi pada outlet Binaan PT Indosat Semarang)

Hasil menunjukkan bahwa kualitas servis outlet, diferensiasi, reputasi perusahaan, kualitas hubungan dengan custumer outlet, adaptasi lingkungan memiliki pengaruh pada keunggulan kompetitif untuk meningkatkan penjualan.

5 Lydia Apriliani (2015)

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Keunggulan kompetitif dalam UpayaMeningkatkan Market Share (Studi Kasus pada Smartphone Iphone di Semarang)

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada persamaan pertama kualitas produk, inovasi produk berpengaruh positif dan signifikan terhadap keunggulan

kompetitif. Untuk persamaan kedua keunggulan kompetitif serta harga berpengaruh positif dan signifikan terhadap market share. Variabel inovasi produk merupakan faktor yang paling dominan mempengaruhi keunggulan kompetitif dan faktor terkecil mempengaruhi market share adalah harga.

(42)

2.5. KERANGKA KONSEPTUAL PENELITIAN

Berdasarkan tinjauan landasan teori dan penelitian-penelitian terdahulu, maka dalam penelitian ini dapat disusun suatu kerangka pemikiran seperti yang digambarkan berikut ini:

Berdasarkan Gambar 2.4 dapat dilihat bahwa variabel penelitian terdiri dari 3 variabel, yakni kemampuan manajerial (X1) dan keunggulan kompetitif (X2) sebagai variabel bebas, sedangkan keberhasilan usaha adalah variabel tidak bebas/terikat (Y).

a) Variabel Kemampuan Manajerial (X1)

Kemampuan manajerial adalah kesanggupan mengambil tindakan-tindakan perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengawasan yang dilakukan untuk mencapai sasaran yang telah ditetapkan. Dalam variabel kemampuan manajerial ini terdapat beberapa dimensi, antara lain: perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), pelaksanaan (actuating), pengawasan (controling), dimana berdasarkan teori varibel ini diduga memiliki hubungan positif dengan variabel keberhasilan usaha (Y).

+

+ Keunggulan

Kompetitif Kemampuan

Manajerial

Keberhasilan Usaha

Gambar 2.4.

Kerangka Toritis Penelitian

(43)

b) Variabel Keunggulan Kompetitif (X2). Keunggulan kompetitif adalah kesanggupan perusahaan dalam memberikan nilai tambah dibandingkan dengan kompetitor yang ada. Keunggulan kompetitif adalah kunggulan yang membedakan kualitas pelayanan/produk dibandingkan dengan usaha-usaha sejenis di sekitar perusahaan.Dalam variabel keunggulan kompetitif ini terdapat beberapa dimensi, antara lain: operasional yang prima (operational excelence), keakraban dengan pelanggan (customer intimacy) dan produk atau layanan yang selalu inovatif dan terdepan (product leadership), dimana variabel ini diduga memiliki hubungan positif dengan variabel keberhasilan usaha (Y).

c) Varianel Keberhasilan Usaha (Y)

Keberhasilan usaha adalah sesuatu keadaan yang menggambarkan kondisi atau capaian atau hasil kinerja lebih baik dari kondisi sebelumnya bahkan lebih baik dari pada lainnya yang sederajat atau sekelasnya. Dalam variabel keberhasilan usaha terdapat beberapa dimensi, antara lain: peningkatan modal, peningkatan produksi, peningkatan jumlah pelanggan, perluasan usaha, perluasan wilayah pemasaran, perbaikan sarana fisik, dan peningkatan pendapatan, dimana variabel ini diduga memiliki hubungan positif dengan variabel kemampuan manajerial (X1) dan keunggulan kompetitif (X2).

(44)

2.6. HIPOTESIS PENELITIAN

Adapun hipotesis penelitian dikemukakan sebagai berikut:

a) Terdapat pengaruh positif kemampuan manajerial terhadap keberhasilan usaha papan bunga di Marindal.

b) Terdapat pengaruh positif keunggulan kompetitif terhadap keberhasilan usaha papan bunga di Marindal.

c) Terdapat pengaruh positif secara bersama-sama kemampuan manajerial dan keunggulan kompetitif terhadap keberhasilan usaha papan bunga di Marindal.

(45)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. JENIS PENELITIAN

Penelitian ini merupakan penelitian yang menganalisis pengaruh, dimana penelitian dimaksudkan untuk mencari atau menguji pengaruh variabel bebas terhadap variabel tidak bebas.

3.2. TEMPAT DAN WAKTU PENELITIAN

Penelitian ini dilaksanakan pada usaha-usaha papan bunga (florist) yang beroperasi di daerah Marindal Kecamatan Medan Amplas Kota Medan. Kegiatan penelitian berlangsung pada Bulan Desember 2016 – Pebruari 2017.

3.3. BATASAN OPERASIONAL

Batasan operasional penelitian merupakan petunjuk mengenai batasan operasional kegiatan penelitian. Pengertian variabel penelitian adalah merupakan suatu objek atau sifat, atau atribut atau nilai dari orang, atau kegiatan yang mempunyai bermacam-macam variasi antar satu dengan lainnya yang ditetapkan oleh peneliti dengan tujuan untuk dipelajari dan ditarik kesimpulan (Salam, 2012). Variabel yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dua jenis variabel, yaitu variabel terikat (dependen) dan variabel bebas (independen). Berikut ini adalah penjelasan kedua

(46)

a) Variabel bebas atau independen (X). Merupakan variabel yang mempengaruhi atau menjadikan sebab perubahanya atau timbulnya variabel dependen (Sugiyono, 2012). Variabel independen penelitian ini adalah kemampuan manajerial (X1) dan keunggulan kompetitif (X2).

b) Variabel terikat atau dependen (Y). Merupakan variabel yang dipengaruhi atau menjadikan akibat, karena adanya variabel bebas (Sugiyono, 2012). Ada juga yang menyebutkan variabel ini sebagai variabel-variabel pendorong dan variabel masukan yang sering disebut sebagi prediktor. Dalam penelitian ini variabel dependen adalah keberhasilan usaha (Y).

3.4. DEFENISI OPERASIONAL

Definisi operasional adalah definisi yang diberikan kepada suatu variabel dengan cara memberikan arti atau menspesifikasikan kegiatan atau memberi suatu operasional yang diperlukan untuk mengukur variabel tersebut. Definisi operasional variabel penelitian ini kemudian diuraikan menjadi Indikator Empiris (IE) yang meliputi:

3.4.1. Variabel Kemampuan Manajerial (X1)

Kemampuan manajerial adalah kesanggupan mengambil tindakan-tindakan perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengawasan yang dilakukan untuk mencapai sasaran yang telah ditetapkan. Agar dapat diukur variabel kemampuan

(47)

manajerial dinilai dengan menggunakan Skala Likert 5 poin (5-point Likert scale).

Dalam variabel kemampuan manajerial ini terdapat beberapa indikator, antara lain:

1) Perencanaan (planning) 2) Pengorganisasian (organizing) 3) Pelaksanaan (actuating) 4) Pengawasan (controling)

3.4.2. Variabel Keunggulan Kompetitif (X2)

Keunggulan kompetitif adalah kesanggupan perusahaan dalam memberikan nilai tambah dibandingkan dengan kompetitor yang ada. Keunggulan kompetitif adalah kunggulan yang membedakan kualitas pelayanan/produk dibandingkan dengan usaha- usaha sejenis di sekitar perusahaan.Dalam variabel keunggulan kompetitif ini terdapat beberapa indikator, antara lain:

1) Operasional yang prima (operational excelence) 2) Keakraban dengan pelanggan (customer intimacy)

3) Produk atau layanan yang selalu inovatif dan terdepan (product leadership).

3.4.3. Variabel Keberhasilan Usaha (Y)

Keberhasilan usaha adalah sesuatu keadaan yang menggambarkan kondisi atau capaian atau hasil kinerja lebih baik dari kondisi sebelumnya bahkan lebih baik dari pada lainnya yang sederajat atau sekelasnya. Dalam variabel keberhasilan usaha terdapat beberapa indikator, antara lain: 1) Peningkatan modal, 2) Peningkatan

Gambar

Tabel 1.3. berikut ini menyajikan perkembangan penjualan papan bunga salah  satu usaha papan bunga di Marindal (Kecamatan Medan Amplas), yakni Toko Florist

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian menunjukan bahwa telah ada pengaruh hukum waris Islam terhadap hukum waris adat Gayo dengan diberikannya hak waris cucu yang orang tuanya meninggal terlebih dahulu

Sebagai orang yang beriman pada kitabullah Al Qur'an, Ahmad Dahlan sekali-kali tidak pernah meragukan (me-dhoni-kan) Al Qur'an, ia mengajarkan pemahaman terhadap

Penelitian ini mendasarkan pendapat dalam literatur analis keuangan yang fokus utamanya adalah pada book-tax differences dimana laba fiskal lebih besar dibanding laba akuntansi

dilakukan secara teratur dan berkala (Depkes, 2004). Jadi bila Dinas kesehatan tidak melakukan supervise maka tugas puskesmas menggantikan jadwal Dinas

kering benih, kandungan karotenoid dan antosianin benih dan buah, jumlah daun dan tinggi bibit mencapai maksimum dan menurun pada fase kedua. Selama periode

Menurut Sugiyono (2006:19) “variabel penelitian itu adalah suatu atribut atau sifat atau aspek dari orang maupun objek yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan

Los yang akan direncanakan pada pasar Banjarsari yaitu areal yang ditinggikan kira-kira 30 cm untuk para pedagang dan pembeli dalam tawar menawar barang antara pedagang dan pembeli

Perubahan perilaku seksual pranikah siswa membuktikan bahwa layanan bimbingan kelompok teknik diskusi memberikan pengaruh terhadap pemahaman tentang perilaku seksual pranikah