KEMENTERIAN AGRARIA DAN TATA RUANG/BADAN PERTANAHAN NASIONAL DIREKTORAT JENDERAL PENGENDALIAN DAN PENERTIBAN TANAH DAN RUANG
PEMANFAATAN RUANG DAN PENGENDALIAN YANG
RESPONSIF: Peran Perencana
6 Januari 2021
Kongres Daerah IAP Provinsi Lampung Dr. Ir. Budi Situmorang, MURP
Direktur Jenderal Pengendalian dan Penertiban Tanah dan Ruang
SISTEMATIKA TAYANGAN
01.
02.
03.
Siklus Penataan Ruang: Perencanaan
PEMANFAATAN Pengendalian Pemanfaatan Ruang
Tantangan Pemanfaatan Ruang dan Pengendalian
PANTAU DAN KONTROL PENATAAN RUANG : Upaya yang Telah Dilakukan
04.
Penataan Ruang Saat Ini
SIKLUS PENATAAN RUANG
Penataan ruang adalah pedoman untuk pembangunan (UUPR)
Pemanfaatan Ruang = PEMBANGUNAN sesuai dengan Rencana Tata Ruang
Pengendalian Pemanfaatan Ruang adalah upaya untuk mewujudkan TERTIB TATA RUANG.
Pengendalian Pemanfaatan Ruang dilakukan berdasarkan muatan Rencana Tata Ruang, untuk memastikan pemanfaatan ruang (pembangunan) sesuai dengan RTR.
Pengendalian Pemanfaatan Ruang terdiri atas instrumen pencegahan dan penegakan hukum terhadap pelanggaran pemanfaatan ruang.
T U R - B I N - L A K - W A S
Penyelesaian Sengketa Penataan Ruang
Pengenaan Sanksi
Penilaian Pelaksanaan
KKPR
Pengendalian Perwujudan
RTR
T U R
B I N
PERENCANAAN
Rencana Tata Ruang
PEMANFAATAN RUANG
Kesesuaian Keg.
Pemanfaatan Ruang
Sinkronisasi Program
PENGENDALIAN PEMANFAATAN
RUANG
Peninjauan Kembali/Revisi
RTR
WA S
PENATAAN RUANG SAAT INI
• Kondisi Penataan Ruang saat ini :
– Kaku/rigid, terkesan “Blue-print” dalam 20 tahun dan hanya boleh direvisi 1x setelah 5 tahun. Sering disebutkan malah penghambat investasi atau
penghambat upaya merespon konsekuensi atau dampak dinamika yg terjadi.
– Proses penyusunan sampai bisa dijadikan acuan pembangunan lama (paling tidak 2,5-3 tahun), kadang sulit diprediksi, serta melibatkan para pihak yg luas.
– Implikasinya, total biaya menjadi cukup besar
– Sangat teknokrat (teoritis), kadang lebih meneruskan kondisi eksisting (bukan prediksi masa depan, bahkan terkesan tidak berani koreksi kondisi eksisting), dan penggunaan bahasanya sulit dipahami.
– Secara teknis, proses bisnis Penataan Ruang mempunyai banyak titik yang
bottleneck (selanjutnya)
Tahap Persiapan
Tahap Pengumpulan Data dan Informasi
Tahap Pengolahan dan Analisis Data
Penyusunan Konsep RTRW/RDTR
Tahap Penyusunan dan Pembahasan Raperda
Pemenuhan Syarat Rekomendasi Gubernur
Penyusunan KLHS
Keluaran:
• Materi Teknis
• Album Peta
• Naskah Akademis
• Raperda
• Dokumen KLHS
Pembahasan dengan DPRD Surat Rekomendasi Gubernur
diterbitkan
Pengajuan ke Loket Persetujuan Subtansi
Pembahasan Lintas Sektor K/L Pemerintah Pusat
Diperoleh Persetujuan Substansi dari Menteri
ATR/BPN *
Penerbitan Nomor Registrasi
Penetapan Perda RTRW/RDTR ***
Penelaahan terhadap RTRW dan KLHS
Perumusan rencana program, kegiatan, indikator kinerja,
kelompok sasaran dan pendanaan indikatif
Renstra PD (5 th)
Renja PD (program prioritas/ 1 tahun) sebagai dasar
penyusunan APBD
APBD untuk perwujudan program
dalam RTR Persiapan Penyusunan Renstra-
PD
Pengajuan Izin Lokasi
Pengajuan IMB Pengajuan Izin Lingkungan
Pengajuan permohonan KRK
KRK terbit, sebagai dasar penyusuna Rencana teknis
bangunan gedung
Penentuan IMB melalui SIMBG PENYUSUNAN RTRW/RDTR LEGALISASI PERDA RTR
PEMANFAATAN
Sebagai dasar dalam pemanfaatan ruang melalui
penerbitan izin pemanfaatan ruang (Izin Lokasi, Izin Lingkungan, IMB)
PENGENDALIAN PENERTIBAN
Sumber: Permen ATR/BPN 9/2017 tentang Pedoman Pemantauan dan Evaluasi
Pemanfaatan Pengumpulan data dan informasi
Penilaian Perwujudan Struktur Ruang
Laporan Hasil Pemantauan dan Evaluasi Penilaian Perwujudan Pola Ruang Pemantauan
Evaluasi
Inventarisasi Pengaduan/Pelaporan/
Temuan
Penelitian awal
AUDIT TATA RUANG
Pelaksanaan FASTIB
Pemberian Rekomendasi kepada instansi
berwenang Pelaksanaan WASMATLITRIK
Penyidikan
Pengenaan sanksi pidana Evaluasi oleh Gubernur **,
berkonsultasi dengan Mendagri dan berkoordinasi dengan Menteri
ATR/BPN
PERDA RTRW
Sumber: Permen ATR/BPN 1/2018 dan Permen
ATR/BPN 16/2018 Sumber: PP 23/2014 tentang Pemerintahan
Daerah Permen ATR/BPN 8/2017 (*)
Permendagri 13/2016 (**) UU 12/2011 (***)
Sumber: Permendagri 86/ 2017 dan PP 24/2018
Sumber: Permen ATR/BPN No 17 /2017 PEMANTAUAN DAN EVALUASI 1. Laporan/ Pengaduan/Temuan
2. Hasil wastek/wasus 3. Temuan PPNS 4. Kebutuhan mendesak
Pelaporan
PENGAWASAN
IMB efektif
PENGAWASAN TEKNIS
Kinerja Pengaturan Kinerja Pembinaan Kinerja Pelaksanaan 1. Kinerja Perencanan 2. Kinerja Pemanfaatan 3. Kinerja Pengendalian Kinerja Fungsi dan Manfaat
Kinerja Pemenuhan SPM
Laporan Pengawasan Teknis
PENGAWASAN KHUSUS
Audit Pemanfaatan Ruang
Rekomendasi Penyelesaian Permasalahan Khusus Pengumpulan dan pemeriksaan data dan
informasi Pelaksanaan kajian teknis Pengenaan
Sanksi Administratif
PROSES PENATAAN RUANG (PERENCANAAN, PEMANFAATAN, PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG, PENGAWASAN)
PERENCANAAN PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG
PERIZINAN
Melihat kesesuaian rencana tata ruang (pola, struktur, KUPZ/PZ)
INSENTIF &
DISINSENTIF
Pemberian Insentif Sebagai dasar dalam
Perwujudan program melalui dokumen Rencana Pembangunan Daerah (RPJPD,
RPJMD, RKPD, Renstra pd, Renja PD)
Kegiatan berpotensi melampui daya dukung
dan daya tampung lingkungan
Pemberian Disinsentif
Evaluasi kegiatan pemanfaatan
ruang
Temuan indikasi ketidaksesuaian pemanfaatan ruang PZ
Masukan untuk peningkatan kinerja pemanfaatan ruang
Masukan untuk sinkronisasi program sektoral
Masukan untuk Peninjauan Kembali RTR
Masukan untuk Audit Tata Ruang Penyusunan matriks persandingan
program
1. Ketentuan Umum PZ/PZ 2. Peraturan
Perundang- undangan Sektoral Overlay Pola
Ruang dan Peta Penggunaan Lahan Terbaru
wewenang ATR/BPN
terdapat indikasi pidana
P21 PERWUJUDAN RTR
Kegiatan yang diajukan masuk dalam kriteria
memotivasi, mendorong, memberikan daya terhadap perwujudan
RTR
Peninjauan Kembali RTRW WASTEK DAN WASUS menjadi masukan untuk PK RTRW
Hasil PE menjadi masukan untuk PK RTRW Hasil PE menjadi masukan untuk sinkronisasi program
Hasil PE dan kegiatan evaluasi pemanfaatan ruang menjadi masukan untuk sinkronisasi program INSTRUMEN PENGENDALIAN
Hasil Audit menjadi masukan untuk PK RTRW
TANTANGAN PEMANFAATAN RUANG & PENGENDALIAN
a.
Dinamika pembangunan (pemanfaatan ruang) yang VUCA vs Acuan Pembangunan yg relatif kaku/statis
Volatile : sangat cepat berubah
Uncertain : tidak pasti dan sulit diprediksi
Complex : melibatkan banyak factor
Ambigous : tidak jelas
b.
Bencana Alam vs Resiko Bencana: bencana alam yang semakin tinggi frekuensi dan luas dampaknya
rendahnya kualitas data resiko bencana
analisis resiko bencana tidak akurat
c.
Perubahan Iklim:meningkatnya frekuensi dan intensitas kejadian iklim ekstrim, kejadian banjir dan longsor,
munculnya wabah penyakit, dan serangan hama
d.
Kekuatan Jaringan Globalisasi vs Identitas Tingginya arus informasi dan mobilitas manusia
Pengaruh nilai-nilai budaya luar terhadap kehidupan masyarakat
e.
Tabrakan Dualism yang Tidak Seimbang: Perkotaan vs Perdesaan
Investasi Ekonomi vs Lingkungan
Industri dan Jasa vs Pertanian
Tantangan Pengendalian Pemanfaatan Ruang tidak
terlepas dari dinamika dunia, yaitu:
>> BENCANA NON ALAM
Bencana Non Alam (UU 24 tahun 2007) mencakup gagal teknologi, gagal modernisasi, wabah penyakit, dan Epidemi .
Karakter Bencana Non Alam ini sering tidak terduga dan menyebab massal serta merusak tatanan kehidupan yg baku dipaksa untuk berubah
TEKNOLOGI: SEBAGAI FAKTOR PEMICU DINAMIKA
Revolusi Industri 4.0 ditandai perkembangan teknologi yang penting:
BIG DATA: meliputi Volume (data besar atau banyak, diproduksi Media sosial dan komunikasi M2M), Variasi (jenis data, didominasi mesin pencari – search engine di internet, medsos, koneksi M2M – IoT), dan Kecepatan (kecepatan produksi data, koneksi M2M), untuk pengambilan keputusan berbasis data
KECERDASAN BUATAN: program komputasi yg dapat membuat mesin bekerja layaknya manusia spt mengambil keputusan, memecahkan masalah, dan
melakukan prediksi. AI bekerja menggunakan algoritma dengan machinelearning.
BLOCKCHAIN: sistem transakasi dan manajemen data digital yang tersebar dimana semua pengguna sistem tersebut memepunyai satu konsensus bersama.
Ini menghilangkan peran perantara sehingga bisa membuat biaya transaksi lebih murah. Penggunaannya di bidang finansial (keuangan), ketahanan pangan, tata kelola lingkungan, dan perencanaan kota (Anascavage and Davis, 2018)
• Penataan Ruang yg berbasis data dan informasi yang lengkap, akurat, dan muktahir.
• Data dan informasi terkait dinamika2 di atas, diperoleh dengan waktu yg lebih cepat dan murah.
• Proses simulasi untuk pengambilan keputusan kondisi ruang yang
diinginkan.
• Dampak dari dinamika 2 di atas, dapat diindikasikan terhadap ruang yang
ditargetkan, melalui simulasi. Sekaligus,
simulasi pengambilan keputusan dengan
kondisi sbg dampak dinamika2 tsb.
TANTANGAN PEMANFAATAN RUANG & PENGENDALIAN
FLEKSIBEL/ADAPTIF
RESPON YANG CEPAT
AGILE
Tangkas dan gesit dalam merespon dinamika dan ketidakpastian
Proses cepat, transparan, dan terukur
Memodifikasi produk penataan ruang yang kaku/predictable menjadi fleksibel dan adaptif melalui instrumen
pengendalian pemanfaatan ruang
Berdasar pada nilai tambah akibat perubahan pemanfaatan ruang: cost and benefit analysis
Hybrid/Flexible zoning
merespon terhadap dinamika pembangunan dan kecepatan pembangunan dan investasi
Penggunaan teknologi dan artificial technology
Penggunaan standar kawasan
TANTANGAN PEMANFAATAN RUANG & PENGENDALIAN
Hal tersebut ditandai dengan pengaturan:
(i) konsep peruntukan ruang yang
mengakomodasi implikasi ruang dari dinamika atau perubahan yang terjadi beserta dampak nya tanpa mengingkari kondisi eksisting yang sudah ada
sebelumnya,
(ii) penerapan persyaratan atau kriteria atau standar pembangunan (pemanfaat ruang) yang disesuaikan,
(iii) fleksibel dalam penetapan program prioritas (berdasarkan waktu pelaksanaan maupun ketersediaan biaya), dan
(iv) efektifitas tidak kaku (baca: jebakan untuk pilihan hitam atau putih), tetapi lebih
menekankan pemberian solusi (yg
bervariasi) dengan tetap tegas (memberikan efek jera).
• Bentuk? – penetapan Peruntukan Ruang Dasar (Zona Dasar) Municipal Code – AS menyebut Base Zone), yang dilengkapi paket Ketentuan Kegiatan pemanfaatan ruang (baca: bukan peruntukan ruang) di masing-masing Zona Dasar baik yang diijinkan dan dilarang, beserta Paket Pengaturan pembangunan.
Nomenklatur yang tepat masing akan terus dibahas lebih lanjut, apakah berupa Code (Ketentuan) atau Peraturan Zonasi (peraturan) atau Guidance
(panduan).
Sifat Fleksibel atau Responsif – menjawab
kebutuhan para pihak yang semakin sadar terhadap tertib tata ruang (baca: RTR sebagai dasar
pembangunan publik maupun privat). Kedua, integrasi aspek pertanahan yang merupakan sisi lain dari koin matra pembangunan bersama tata ruang, untuk menjawab tuntas kebutuhan dan tertib tata ruang termasuk lingkungan.
Menuju Pengendalian Pemanfaatan Ruang yang Responsif
TANTANGAN PEMANFAATAN RUANG & PENGENDALIAN
• Kenapa? Menjawab tuntutan yang dinamis
terhadap pengaturan ruang, berupa pendalaman atau pengkayaan (Hybrid), bahkan yang belum diatur (baru) dan/atau bisa mengancam atau merusak, diatur baru (yang secara lebih flesibel sehingga dapat dikendalikan).
• Kapan? disesuaikan dengan tuntutan
kebutuhan atau kondisi yang mendesak. Waktu penyelesaian bisa cepat dan terkontrol karena sudah tersedia modul atau standar atau kriteria serta berada di ranah eksekutif, serta segera dieksekusi menjawab dinamika.
• Mekanismenya? Kombinasi Teknokratik dan Partisipasi, tetapi partisipatif secara terus mnerus lebih banyak porsinya. Diawali
menyiapkan modul berupa ketentuan-ketentuan kegiatan yang diijinkan dan dilarang per zonasi spesifik yang terdampak dari dinamika atau perubahan tsb,
• Siapa? Pengaturan ruang ini adalah upaya diskresi yang dilakukan eksekutif, karena merupakan ranah pelaksana pembangunan. Untuk itu, kepala daerah didisain suatu tim atau KOMITE (terkait penataan ruang), yang terdiri dari para pakar sesuai dinamika atau perubahan yang terjadi, termasuk dampaknya, dengan perangkat daerah terkait serta perwakilan masyarakat berupa tokoh
masyarakat dan asosiasi profesi/akademisi. Menteri berperan menyiapkan NSPK dan standar atau kriteria atau modul, yang akan menjadi dasar bagi kepala daerah menjabarkan sesuai kondisi setempat.
• Dimana? Pengaturan ruang ini dapat dilaksanakan di berbagai tingkat sesuai dengan kewenangan para pihak eksekutif, tetapi efektifitas pengaturan ruang responsif ini diawali dengan pengaturan ruang dari level bawah atau detail (pendekatan Bottom-up). Di tingkat lebih makro, hanya berupa arahan kebijakan yang
mempertimbangkan wilayah yg luas.
Menuju Pengendalian Pemanfaatan Ruang yang Responsif
UPAYA YANG DILAKUKAN:
PANTAU DAN KONTROL PENATAAN RUANG
Web Aplikasi Pantau dan Kontrol Tata Ruang (PATROLTARU) Kota Medan dibangun untuk mendorong keterbukaan informasi publik mengenai rencana tata ruang, mendorong keterlibatan publik dalam pengawasan langsung terhadap realisasi rencana tata ruang, serta memudahkan pengawas lapangan dalam pencatatan dan pengecekan laporan pengaduan tata ruang di Kota Medan
Menampilkan informasi tata ruang yang mudah dipahami (online)
Memberikan akses yang luas terhadap informasi tata
ruang Kota Medan (24 jam)
Mendorong partisipasi masyarakat dalam
mengawasi pembangunan kota sesuai RTR (real time dan cepat)
Pemeriksaan
Media verifikasi data laporan pengaduan dan pengecekan pelanggaran di lapangan oleh
petugas dinas
Pelaporan
Media pengumpulan data laporan pelanggaran pemanfaatan ruang dari
masyarakat
Optimalisasi Proses Pengawasan Pemanfaatan
Ruang di Kota Medan
Penindakan
Media penyimpaan informasi penindakan terhadap bangunan yang
melanggar sebagai informasi timbal balik kepada masyarakat
Info Tata Ruang
Media informasi tata ruang kota medan yang
meliputi peta pola ruang, peruntukan ruang dan ketentuan kegiatan pemanfaatan
ruang
Masyarakat Dinas PU Kota Medan Satpol PP
RESPONSIF Pemanfaatan Ruang Melalui Penggunaan teknologi
(artificial technology)
Kab. Badung
Kota Malang Kota Medan
Pantau dan Kontrol Tata Ruang
https://sidumas.badungkab.go.id/
https://patroltaru.malangkota.go.id/
+ Manfaat Implementasi Web Aplikasi Patrol Taru
PEMERINTAH DAERAH
1. Informasi Rencana Tata Ruang (Perda dan Perkada) mudah diakses melalui web aplikasi pada saat
pengambilan keputusan dalam menganalisa permasalahan secara spasial
2. Laporan dapat diproses secara realtime kapanpun dan dimanapun
3. Kontrol data laporan kegiatan pemanfaatan ruang per Wilayah lebih terstruktur, rapi, mudah diakses, dan dapat dilihat pemetaan hasil pemeriksaannya 4. Big Data rekapitulasi data , baik untuk
penyempurnaan rencana tata ruang maupun pengolahan laporan kegiatan pemanfaatan ruang
memperlancar proses pembangunan di daerah Memberi kepastian hukum bagi pelaku pembangunan