• Tidak ada hasil yang ditemukan

2. KAJIAN PUSTAKA 2.1 Perusahaan Keluarga 2.2 Transfer Pengetahuan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "2. KAJIAN PUSTAKA 2.1 Perusahaan Keluarga 2.2 Transfer Pengetahuan"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

2. KAJIAN PUSTAKA 2.1 Perusahaan Keluarga

Perusahaan keluarga adalah perusahaan yang dimiliki, dijalankan, dan dikontrol oleh anggota dari keluarga tersebut. Anggota dari perusahaan keluarga lebih banyak didominasi oleh pihak keluarga maka dari itu perusahaan keluarga memiliki struktur organisasi yang berbeda (Prasetio & Nugraheni, 2018). Meskipun demikian tidak semua kegiatan operasional dari perusahaan harus dijalankan oleh anggota keluarga. Banyak perusahaan keluarga yang memiliki karyawan untuk diperkerjakan dalam membantu kegiatan operasionalnya. Para karyawan tersebut diperkerjakan untuk menempati posisi lower level management, sedangkan untuk orang yang berasal dari dalam keluarga pemilik perusahaan akan menempati posisi top level management (Remiasa & Wijaya, 2017).

Kontribusi anggota keluarga dalam perusahaan bisa memperkuat perusahaan tersebut karena anggota keluarga biasanya memiliki loyalitas yang tinggi dan rela berkorban terhadap perusahaan milik keluarganya. Meskipun demikian, tidak jarang terjadi masalah – masalah yang dapat mempengaruhi keberlangsungan dan kinerja dari perusahaan keluarga. Salah satu masalah yang sering terjadi dalam perusahaan keluarga adalah dalam hal pergantian kepemimpinan (Pricillia & Mustamu, 2014). Pendahulu akan cenderung memilih calon penerusnya yang berasal dari anggota keluarga pemilik perusahaan karena adanya ikatan batin (Prasetio & Nugraheni, 2018). Sebagian besar perusahaan keluarga akan mempertahankan seorang anggota keluarganya untuk bekerja dan dijadikan calon penerus meskipun calon penerus tersebut kurang mampu untuk menjalankan tugas (Santoso & Kristanti, 2018). Hal ini dapat berdampak pada menurunnya kinerja dari perusahaan bahkan dapat membahayakan keberlangsungan dari perusahaan tersebut.

2.2 Transfer Pengetahuan

Transfer pengetahuan adalah proses memindahkan pengetahuan dari individu yang disebut sebagai sumber pengetahuan kepada penerima pengetahuan. Dalam konteks penelitian ini transfer pengetahuan merupakan proses memindahkan pengetahuan dari generasi pendahulu kepada generasi penerus. Transfer pengetahuan biasanya direncanakan oleh generasi pendahulu

(2)

untuk mempersiapkan generasi penerus yang akan menjadi cikal bakal pemimpin perusahaan (Kusuma, 2015).

Tujuan utama dari proses transfer pengetahuan adalah agar generasi penerus dapat memperoleh pengetahuan dari generasi sebelumnya melalui aktivitas mengingat, menganalisis, memahami, maupun menerapkan pengetahuan tersebut. Proses transfer pengetahuan seringkali tidak berjalan sempurna karena baik dari generasi pendahulu maupun generasi penerus memiliki kelemahan dan keterbatasan masing – masing misalnya masalah dalam berkomunikasi, perbedaan sudut pandang, salah penafsiran, dan metode yang digunakan (Soedibyo, 2012).

Transfer pengetahuan sangatlah penting dalam menjaga keberlangsungan dari perusahaan keluarga. Karena setiap strategi yang digunakan dalam memecahkan masalah atau keterampilan teknis akan membutuhkan pengetahuan yang cukup. Tidak berlebihan jika mengatakan bahwa transfer pengetahuan merupakan proses yang paling penting dalam menjaga keberlangsungan perusahaan keluarga (Kamener & Putri, 2017). Hal tersebut karena transfer pengetahuan merupakan faktor kunci keberhasilan untuk menciptakan suksesor yang berkompeten agar siap untuk menjadi pemimpin yang mampu mempertahankan dan meningkatkan kinerja dari perusahaan.

1.2.1 Pengetahuan Tacit dan Eksplisit

Menurut Nonaka & Takeuchi (1995) pengetahuan dibedakan menjadi dua, yaitu pengetahuan tacit dan ekplisit. Pengetahuan tacit merupakan pengetahuan yang bersifat personal dan sulit untuk didapatkan. Pengetahuan tacit mengacu pada pengetahuan pribadi yang dimiliki oleh individu dalam bentuk pengalaman, pengetahuan, keahlian, dan lain sebagainya. Tetapi pada kenyataannya pengetahuan tacit merupakan pengetahuan yang sulit untuk digambarkan dan dikomunikasikan (Sulisthio & Yulianus, 2015). Pengetahuan ekplisit merupakan pengetahuan yang mudah didapatkan dan mudah diubah ke dalam bentuk formal seperti dokumentasi atau aturan tertulis yang mudah dikomunikasikan sehingga lebih mudah ditransfer daripada pengetahuan tacit (Wahyuni, 2018).

Nonaka & Takeuchi (1995) menjelaskan bahwa proses penciptaan pengetahuan terjadi karena adanya interaksi antara pengetahuan tacit dan pengetahuan eksplisit melalui proses konversi pengetahuan yang disebut SECI (Socialization, Eksternalization, Contribution,

(3)

Internalization). Ke empat aktivitas tersebut menggambarkan cara bagaimana suatu pengetahuan dikonversi melalui suatu interaksi antara pengetahuan tacit dan pengetahuan eksplisit yang dapat dimodelkan ke dalam SECI Model dalam Gambar 1. Terbagi menjadi empat model konversi pengetahuan sebagai berikut:

Socialization : Transfer pengetahuan dari individu kepada individu lainnya. Berbagi pengetahuan tacit melalui pengalaman bersama secara langsung.

Externalization : Mengubah pengetahuan tacit menjadi pengetahuan eksplisit. Pada fase ini pengetahuan tacit diubah kedalam bentuk yang mudah dimengerti dan ditafsirkan sehingga dapat digunakan oleh orang lain.

Combination : Mengorganisasi kumpulan pengetahuan eksplisit kedalam media yang lebih sistematis, melalui proses penambahan pengetahuan baru, kombinasi dan kategorisasi pengetahuan yang telah terkumpul.

Internalization : Transformasi dari pengetahuan eksplisit menjadi pengetahuan tacit.

Biasanya didapatkan ketika individu melalui proses belajar dan lambat laun membentuk pengetahuan baru di dalam individu.

Gambar 1. Seci Model

(4)

1.2.2 Metode Transfer Pengetahuan

Proses transfer pengetahuan menjadi dasar dari seluruh rangkaian proses alih generasi pada perusahaan keluarga. Dalam mempersiapan calon penerus untuk menjadi pemimpin membutuhkan pengetahuan yang cukup mengenai perusahaan, industri dimana perusahaan beroperasi, keterampilan manajemen terkait kemampuan mempengaruhi orang lain, dan pengetahuan yang berkaitan tentang kekurangan dan kelebihan dari dalam diri penerus. Oleh sebab itu, calon penerus harus menguasai pengetahuan tacit dan eksplisit yang dimiliki oleh pendahulunya. Transfer pengetahuan ini biasanya dilakukan dengan cara pelatihan maupun dengan melibatkan calon penerus untuk mengikuti kegiatan perusahaan.

1. Tahapan

Menurut Kusuma (2016) proses transfer pengetahuan dibagi menjadi 3 tahap yaitu:

1. Mengenal perusahaan : Pada tahap mengenal perusahaan, penerus mendapatkan pendidikan dasar dan mulai berfikir tentang pilihan karir, melibatkan dirinya dalam kegiatan perusahaan untuk mengembangkan semangat kewirausahaan dalam lingkungan perusahaan. Pada tahap ini juga penerus mendapatkan pendidikan formal yang dinilai dapat menunjang keberhasilan perusahaan keluarga.

2. Familiarisasi : Pada tahap familiarisasi pendahulu akan mengenalkan penerus pada usaha agar penerus dapat membiasakan dirinya pada usaha, mendapatkan petunjuk awal untuk menjalankan usaha, serta mulai mendapat tanggung jawab dan membangun beberapa area bisnis sesuai kehendaknya.

3. Pengembangan independen : Selanjutnya pada tahap terakhir yaitu tahap pengembangan independen dimana penerus sudah mulai mengelola perusahaan secara mandiri. Menggunakan pengetahuan yang diperoleh dari pendahulu dan mengkombinasikannya dengan pengetahuan yang dimilikinya.

2. Tipe pengetahuan yang ditransfer

(5)

Menurut Indarti & Kusuma (2016) terdapat 4 tipe pengetahuan yaitu:

1. Knowledge of the product adalah kumpulan berbagai informasi mengenai produk seperti komposisi, quality standard, dan proses untuk membuat produk tersebut.

2. Knowledge of company management adalah pengetahuan yang ditransfer yang identik dengan manajemen keuangan, manajemen karyawan, partner perusahaan, risiko, competitor, dan siklus bisnis.

3. Technical knowledge adalah bagaimana cara berkomunikasi dan bernegosiasi serta menjaga relasi dengan konsumen.

4. Philosophical knowledge identik dengan nilai – nilai kejujuran, religi, serta intuisi yang menjadi pedoman bagi generasi penerus dalam menjalankan bisnisnya.

Transfer pengetahuan sangat berarti dan bermanfaat bagi suksesor dalam rangka untuk mencapai cita – cita dari perusahaan yang dipimpinnya. Proses transfer pengetahuan dapat dikatakan sukses apabila suksesor mampu untuk mempertahankan dan meningkatkan kinerja dari perusahaan (Pramudyo, 2013).

2.3 Kinerja

Menurut Sobirin (2014) kinerja adalah kemampuan untuk menghasilkan atau potensi untuk menciptakan hasil (sebagai contoh, produktifitas, jumlah pelanggan, dan laba dari perusahaan). Indikator paling umum untuk dapat mengetahui kinerja dari sebuah perusahaan dapat dilihat dari efisiensi dan efektifitasnya. Efisiensi dalam hal ini adalah seberapa minimumnya sumber daya yang digunakan oleh perusahaan untuk menciptakan sebuah produk.

Sedangkan efektifitas adalah seberapa bisa perusahaan menghasilkan sesuatu yang sama atau bahkan lebih baik daripada sebelumnya. Meskipun kedua indikator tersebut merupakan indikator yang umum digunakan oleh perusahaan, sering kali perusahaan berbeda menggunakan indikator yang berbeda.

Dalam penelitian ini akan menggunakan 3 indikator untuk mengukur tingkat kinerja pada perusahaan keluarga.

1. Keuangan.

Pada perspektif ini akan menggunakan tolak ukur kinerja keuangan yaitu penjualan atau omset karena tolak ukur tersebut secara umum digunakan oleh perusahaan yang

(6)

mencari keuntungan. Tolak ukur keuangan diciptakan dengan baik agar dapat memberikan gambaran yang akurat terhadap keberhasilan suatu perusahaan.

2. Pelanggan.

Pada perspektif ini akan membahas mengenai pangsa pasar yang bermanfaat untuk mengukur seberapa besar segmen pasar tertentu yang bisa dikuasai oleh perusahaan.

3. Tenaga kerja.

Intinya adalah bagaimana mengukur kinerja perusahaan yang dilihat dari jumlah produktifitas yang dihasilkan. Biasanya perusahaan akan berusaha meningkatkan jumlah produktifitas dengan menambah atau memaksimalkan kinerja karyawan bahkan membeli mesin baru.

Secara lebih spesifik dari sudut pandang penerus, proses transfer pengetahuan terdiri dari 3 fase yang dirangkum dalam Gambar 2. Fase pertama adalah tahapan – tahapan yang harus dilalui oleh calon penerus. Pada fase ini penerus mulai belajar dan dilibatkan dalam kegiatan perusahaan. Kemudian pada fase kedua adalah tipe – tipe pengetahuan yang didapatkan penerus dari pendahulunya. Dan pada fase yang terakhir adalah hasil dari setiap proses transfer pengetahuan kepada kinerja perusahaan keluarga.

(7)

Gambar 2. Kerangka pemikiran

Referensi

Dokumen terkait

Ade yang sarat akan makna untuk diolah menjadi kumpulan kutipan lirik yang divisualisasikan secara eksplorasi/ eksperimen dalam pendekatan tipografi disamping untuk

Dimana apabila menunjukan status tersedia dari sebuah sarana pada suatu tanggal tertentu itu artinya sarana tersebut masih bisa untuk dilakukan pemesanan karena

Peraturan Mahkamah Agung Nomor 2 Tahun 2009 Tentang Biaya Proses Penyelesaian Perkara dan Pengelolaannya pada Mahkamah Agung dan Badan Peradilan yang berada

Good comparison testing is the key to a good translation. The purpose of this test is to see whether or not the translation is understood correctly by

Para PNS lingkungan Kecamatan dan Kelurahan wajib apel pagi setiap hari senin di Halaman Kantor Kecamatan Kebayoran Baru, dan akan diberikan teguran kepada yang tidak ikut apel

Penelitian ini merupakan pengembangan dari penelitian yang dilakukan oleh Ayu Sari dan Rina Harimurti dengan judul Sistem Pakar untuk Menganalisis Tingkat Stres Belajar pada Siswa

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, penulis akan meneliti pengaruh dari penerapan PSAK 24 khususnya mengenai imbalan pascakerja terhadap risiko perusahaan dan

Achmad Wardi - Badan Wakaf Indonesia bekerjasama dengan Yayasan Dompet Dhuafa Republika sebagai pengelola RS - Masyarakat dhuafa (gratis disubsidi dana zakat).