• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA Konsep Pengembangan Ekonomi Wilayah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "TINJAUAN PUSTAKA Konsep Pengembangan Ekonomi Wilayah"

Copied!
54
0
0

Teks penuh

(1)

Pada bab ini dijelaskan berbagai tinjauan pustaka yang berkaitan dengan konsep pengembangan ekonomi wilayah, kebocoran wilayah, sistem agribisnis, keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif, kebijakan perdagangan internasional, pembangunan ekonomi berkelanjutan serta tinjauan terdahulu tentang komoditas kayu manis. Selain itu pada bab ini juga dijelaskan parameter, indikator dan spesifikasi model serta peubah-peubah yang berkaitan dengan penelitian ini.

Konsep Pengembangan Ekonomi Wilayah

Penggunaan istilah pembangunan atau pengembangan oleh sebagian kalangan dianggap sebagai hal yang dapat saling dipertukarkan. Sebutan tersebut sesuai dengan definisi dalam Bahasa Inggris yaitu development. Namun di Indonesia penggunaan istilah pembangunan atau pengembangan berbagai kalangan cenderung pula digunakan secara khusus (Rustiadi et al. 2005).

Secara umum pembangunan merupakan proses perubahan dalam banyak aspek kehidupan yang hakekatnya bertujuan untuk memberi perbaikan tingkat kesejahteraan masyarakat ke arah yang lebih baik dan lebih merata, serta dalam jangka panjang agar dapat berlangsung secara berkelanjutan (Anwar, 2005) Selanjutnya Todaro (1998) menjelaskan bahwa pembangunan paling tidak harus memenuhi tiga komponen dasar yang dijadikan sebagai basis konseptual dan pedoman praktis. Komponen yang paling hakiki tersebut yaitu kecukupan makanan (sustenance), memenuhi kebutuhan pokok, meningkatkan rasa harga diri atau jati diri (self-esteem), serta kebebasan (freedom) untuk memilih. Selanjutnya Todaro juga mendefinisikan pembangunan merupakan proses multidimensional yang melibatkan perubahan-perubahan besar dari struktur sosial, sikap mental yang sudah terbiasa dan lembaga-lembaga nasional sebagai akselerator pertumbuhan ekonomi, pengurangan ketimpangan, dan kemiskinan absolut.

Rustiadi et al. (2005) dan Anwar (2005) mengemukakan bahwa pada hakekatnya tujuan pembangunan wilayah secara umum, adalah untuk: (i) meningkatkan produktivitas, efisiensi dan pertumbuhan (growth); (ii)

(2)

meningkatkan pemerataan keadilan, keberimbangan (equity), dan (iii) mendorong keberlanjutan (sustainability). Selanjutnya pembangunan berbasis pengembangan wilayah dan lokal memandang pentingnya keterpaduan antar sektoral, antar spasial (ruang), serta antar pelaku pembangunan di dalam dan antar daerah.

Pengembangan wilayah yang baik dicirikan dengan terjadinya keterkaitan antara sektor dalam suatu wilayah dengan baik, dalam arti terjadinya transfer input dan output, barang dan jasa antar sektor secara dinamis, dimana keragaman potensi sumberdaya alam serta aktivitas-aktivitas sosial ekonomi tersebar secara merata dan terjadinya interaksi spasial yang optimal, dalam arti terjadinya struktur keterkaitan antar wilayah yang berlangsung secara dinamis. Dalam pembangunan wilayah, struktur keterkaitan perekonomian wilayah merupakan faktor dasar yang membedakan antara satu wilayah dengan wilayah lainnya. Perbedaan tersebut sangat erat kaitannya dengan kondisi dan potensi suatu wilayah, baik dilihat dari aspek fisik lingkungan, ekonomi, sosial, dan kelembagaan. Oleh sebab itu pembangunan suatu wilayah harus dilihat secara dinamis dan bukan dilihat sebagai konsep yang statis.

Selanjutnya memperhatikan perkembangan teori pembangunan ekonomi pasca perang dunia kedua, yang awalnya didominasi oleh pemikiran neoklasik dimana akumulasi kapital merupakan engine pertumbuhan ekonomi suatu negara atau wilayah. Salah satu model yang sering digunakan sebagai rujukannya adalah model Harrod-Domar. Pada tahun 1940-an, Roy Harrod dan Evsey Domar secara terpisah telah membangun suatu model makro dinamis melalui pengembangan teori Keynes. Pada tahun 1950-an dan 1960-an, model ini diaplikasikan untuk perencanaan ekonomi di negara berkembang. Teori ini memang berhasil membangun ekonomi Jerman dan Israel, tetapi useless untuk diterapkan di negara berkembang. Hal ini karena fakta menunjukkan bahwa melakukan pengembangan investasi ternyata tidak cukup untuk bagi peningkatan pembangunan ekonomi (Hayami, 2001).

Dalam perspektif perkembangan teori pembangunan ekonomi, terlihat bahwa perkembangannya telah diwarnai oleh berbagai model seperti yang dikembangkan oleh Robert Solow tahun 1956 dan Tom Swan 1956. Dengan menggunakan fungsi produksi neoklasik, Solow 1956 dan Swan 1956 dengan

(3)

sudut pandang yang sangat berbeda dari model Harrod-Domar kaitannya dengan akumulasi modal dan pertumbuhan ekonomi. Perbedaannya model tersebut terletak pada asumsi fungsi produksi yang digunakan. Pada model Harrod-Domar diasumsikan bahwa rasio kapital dan output bersifat tetap. Asumsi ini berimplikasi bahwa fungsi produksi agregat memiliki bentuk Y = AK, dimana A = 1/c dan bersifat konstan; dan c = K/Y. Sementara Solow-Swan model menggunakan bentuk fungsi produksi neoclassical yakni Y = f(L,K;T); dimana Y adalah output dan L adalah tenaga kerja yang berada dalam tingkat teknologi T (Hayami, 2001).

Armstrong dan Taylor (2001) menjelaskan bahwa jika memperhatikan pertumbuhan ekonomi regional dengan menggunakan pendekatan neoklasik yang memperhatikan dari sisi faktor supply seperti pertumbuhan angkatan kerja, pertumbuhan stok modal dan perubahan teknis, dengan kesimpulan utama pendekatan neoklasik dalam menjelaskan disparitas pertumbuhan regional terlihat telah mengesampingkan kontribusi potensial dari faktor-faktor dari sisi permintaan (demand). Untuk menutup kelemahan tersebut, sehingga pendekatan neoklasik telah dimodifikasi dengan mempertimbangkan aspek perdagangan antar wilayah. Dengan demikian modifikasi tersebut telah membuka kemungkinan bahwa perbedaan dalam pertumbuhan regional dapat dijelaskan selain dari sisi supply juga dapat dijelaskan dari sisi demand seperti dari aspek pertumbuhan ekspor regional.

Beberapa studi historis tentang pertumbuhan dan pembangunan wilayah berbasis sumberdaya di Amerika Utara misalnya telah melahirkan model berbasis ekspor (export-base model) sebagaimana Armstrong dan Taylor (2001) menjelaskan bahwa riset terbaru dari model tersebut memperhatikan beberapa wilayah khususnya di Amerika Utara Bagian Barat Laut, telah terjadi pertumbuhan “tanpa” dibandingkan “modal dan tenaga kerja yang mengalir ke wilayah ini dalam mengeksploitasi sumberdaya alamnya. Meningkatnya permintaan dunia terhadap sumberdaya alam, maka hubungan transportasi dengan dunia luar sangat diperlukan, sehingga dalam kondisi tersebut integrasi wilayah ke dalam pasar dunia menjadi sangat penting dalam mempengaruhi pertumbuhan ekonomi wilayah.

(4)

Pada teorema Heckscher-Ohlin dijelaskan bahwa ekspor akan terspesialiasi pada produksi dan komoditas yang menggunakan faktornya yang relatif berlimpah. Wilayah dengan supply bahan baku yang berlimpah akan terspesialisasi pada komoditas intensif misalnya barang semi olahan atau primer (Armstrong dan Taylor 2001). Stimulus terhadap permintaan ekspor memiliki pengaruh multiplier terhadap pendapatan wilayah dan berpengaruh terhadap akselerator investasi. Di sisi lain, lebih tingginya harga faktor produksi akan menarik tenaga kerja dan modal dari wilayah lainnya. Arus masuk tenaga kerja akan meningkatkan permintaan terhadap barang yang diproduksi dan di konsumsi secara lokal, seperti transportasi, jasa personal dan layanan pemerintah. Demikian juga industri-industri subsider yang menyediakan jasa-jasa khusus, dan untuk sektor ekspor juga akan lahir dengan berlangsungnya pertumbuhan ekonomi.

Sehingga akan memacu aglomerasi ekonomi lokal serta setiap ekonomi skala internal yang ada pada industri ekspor, dan lebih lanjut lagi akan memicu sektor ekspor dengan menurunkan biaya produksi dan distribusi.

Dengan fleksibelnya faktor harga sehingga hukum keunggulan komparatif akan membuat wilayah dapat bertahan melalui realokasi faktor-faktor produktif ke komoditas ekspor. Artinya teori berbasis ekspor dalam bentuk yang lebih luas adalah merangsang suatu keunggulan atas pendekatan neoklasik yang penekanannya pada peran dari faktor permintaan tanpa mengesampingkan sisi penawaran dalam perekonomian wilayah. Pendekatan ini di kritisi karena bentuknya yang sederhana dan hanya menjelaskan perkembangan historis wilayah yang tergantung pada ekspor bahan baku. Namun demikian model tersebut telah mampu menjelaskan pentingnya ekspor dalam perekonomian wilayah.

Kemudian dalam tesis Kaldor tahun 1970 dijelaskan behwa pertumbuhan output per kapita dari suatu wilayah ditentukan oleh kemampuan suatu wilayah dalam eksploitasi skala ekonomi dengan memanfaatkan spesialisasi. Manfaat ini berhubungan dengan tipe aktivitas produktif dimana suatu wilayah melakukan spesialiasi. Menurut Armstrong dan Taylor (2001) pengembangan dari tesis Kaldor dilakukan oleh Dixon-Thirlwall tahun 1970 difokus pada konstruksi penjelasan Kaldor yang lebih kuat mengenai disparitas pertumbuhan wilayah, dan memberikan perhatian khusus pada proses penyebab kumulatif yang

(5)

mempengaruhi pertumbuhan wilayah. Proses penyebab kumulatif tersebut dimasukkan ke dalam model dengan memperhitungkan pengaruh umpan balik (feedback effect) dari pertumbuhan suatu wilayah terhadap kompetitivitas sektor ekspor. Kompetitivitas ini pada gilirannya akan mempengaruhi pertumbuhan output wilayah, yang lebih lanjut akan memberikan pengaruh terhadap produktivitas dan kompetitivitas pada sektor ekspor berikutnya.

Armstrong dan Taylor (2001) menjelaskan kunci utama dari model Dixon- Thirlwall adalah dimulai dari pertumbuhan pada produktivitas tenaga kerja.

Menurut Kaldor, pertumbuhan produktivitas adalah tergantung pada dua faktor, yaitu kecepatan perubahan teknis dan pertumbuhan rasio modal/tenaga kerja.

Produktivitas akan meningkat jika kemajuan teknis meningkat, atau jika rasio modal/tenaga kerja meningkat (melalui investasi pada pabrik dan alat-alat baru).

Kondisi tersebut pada gilirannya akan tergantung pada pertumbuhan output, yang dengan sendirinya ditentukan oleh pertumbuhan sektor ekspor. Karena pertumbuhan pada sektor ekspor tergantung pada kompetitivitas relatif terhadap wilayah-wilayah yang memproduksi substitusinya, ini berarti bahwa harga ekspor wilayah relatif terhadap harga barang substitusi yang diproduksi di wilayah- wilayah lain, dalam mempengaruhi pertumbuhan sektor ekspor suatu wilayah.

Pada poin inilah terjadinya proses sebab akibat, karena harga ekspor wilayah ditentukan sebagian oleh hasil produktivitas.

Kemudian Hayami (2001) menjelaskan bahwa model Harrod-Domar menunjukkan pentingnya peranan investasi di dalam proses pertumbuhan ekonomi, sebagaimana ditunjukkan dengan dampak pengganda yang diperoleh, seperti (1) investasi dapat menciptakan pendapatan, dan (2) investasi membesarkan kapasitas produksi perekonomian dengan cara meningkatkan stok modal. Pada bagian pertama disebut sebagai dampak permintaan, dan bagian kedua disebut sebagai dampak penawaran investasi.

World Bank (2006) dengan Rural Investment Climate Survey (RICS) menjelaskan bahwa usaha Pemerintah Indonesia dalam mendorong pengembangan investasi terlihat belum optimal terutama, dalam perbaikan iklim investasi dan kewirausahaan yang berimbang. Dengan lain perkataan bahwa Bank Dunia melihat bahwa dalam kegiatan pembangunan di Indonesia dewasa ini masih

(6)

ditemui adanya kesenjangan (disparity) terutama dalam pengembangan investasi di perdesaan bila dibandingkan dengan perkotaan. Dari survei tersebut World Bank merekomendasikan perlunya pemerataan dan keberimbangan pembangunan antara perdesaan dan perkotaan di Indonesia terutama dalam meningkatkan keberimbangan investasi.

Dari berbagai konsep dasar pengembangan ekonomi wilayah, maka dapat diartikan bahwa pembangunan wilayah pada hakekatnya ditujukan untuk: (i) meningkatkan produktivitas, efisiensi dan pertumbuhan (growth), (ii) meningkatkan pemerataan keadilan, keberimbangan (equity); dan (iii) mendorong keberlanjutan (sustainability). Pencapaiannya membutuhkan dukungan keterkaitan antar sektor, spasial dan antar pelaku pembangunan di dalam dan antar wilayah. Peningkatan pemanfaatan sumberdaya alam, sumberdaya manusia, sumberdaya sosial, dan sumberdaya buatan, perlu dilakukan terutama melalui peningkatan investasi di daerah serta mendorong penggunaan teknologi.

Peran Ekspor dalam Pengembangan Ekonomi Wilayah

Armstrong dan Taylor (2001) menjelaskan bahwa pengembangan ekonomi regional dengan menggunakan pendekatan neoklasik dalam menjelaskan disparitas pengembangan ekonomi regional terlihat telah mengabaikan kontribusi potensial faktor-faktor dari sisi permintaan (demand), karena hanya memperhatikan dari sisi supply seperti angkatan kerja, pertumbuhan stok modal dan perubahan teknis. Untuk menutupi kelemahan model tersebut Armstrong dan Taylor (2001) menjelaskan pengembangan ekonomi regional dapat dimodifikasi oleh Dixon dan Thirlwall dengan aspek perdagangan antar wilayah.

Dalam teori basis dijelaskan bahwa kegiatan basis merupakan kegiatan yang bersifat exogenous, artinya tidak terikat pada kondisi internal perekonomian wilayah dan sekaligus berfungsi mendorong pertumbuhan jenis pekerjaan lainnya (Tarigan, 2005). Teori basis ekspor merupakan teori yang paling sederhana dalam model perekonomian wilayah. Teori ini menganggap bahwa adanya dua bagian dalam sistem ekonomi regional, yaitu adanya daerah bersangkutan dan daerah lainnya. Dalam teori tersebut masyarakat diasumsikan sebagai suatu sistem sosial ekonomi yang melakukan perdagangan dengan masyarakat lain di luar batas

(7)

wilayahnya. Faktor penentu (determinant) pertumbuhan ekonomi dikaitkan secara langsung kepada permintaan barang dari daerah lain di luar batas masyarakat ekonomi regional. Pertumbuhan industri yang menggunakan sumberdaya lokal, termasuk tenaga kerja dan material untuk komoditas ekspor akan meningkatkan kesempatan kerja dan kesempatan masyarakat (Rahardjo, 2005).

Aktivitas dalam perekonomian regional digolongkan dalam dua sektor kegiatan yaitu aktivitas basis dan non basis. Kegiatan basis yaitu kegiatan yang melakukan aktivitas yang berorientasi ekspor (barang dan jasa) keluar batas wilayah perekonomian tertentu. Sedangkan kegiatan non basis merupakan kegiatan yang menyediakan barang dan jasa yang dibutuhkan oleh masyarakat yang berada di dalam batas wilayah perekonomian yang bersangkutan, dimana luas lingkup produksi dan pemasaran adalah bersifat lokal (Rahardjo, 2005).

Aktivitas basis memiliki peran sebagai penggerak utama (primer mover) dalam pertumbuhan suatu wilayah. Semakin besar ekspor suatu wilayah ke wilayah lain maka akan semakin majunya pertumbuhan wilayah tersebut, demikian sebaliknya. Setiap perubahan yang terjadi pada sektor basis akan menimbulkan efek ganda (multiplier effect) dalam perekonomian regional.

Analisis basis ekonomi yaitu berkenaan dengan identifikasi pendapatan basis (Richardson, 1971). Bertambah banyaknya kegiatan basis dalam suatu wilayah, maka semakin mendorong arus pendapatan ke wilayah yang bersangkutan, dan selanjutnya akan menambah permintaan terhadap barang dan jasa di dalam wilayah tersebut, sehingga pada akhirnya akan menimbulkan kenaikan volume kegiatan non basis. Berkurangnya aktivitas basis akan mengakibatkan berkurangnya pendapatan yang mengalir ke dalam suatu wilayah dan akhirnya menyebabkan turunnya permintaan produk dari aktivitas non basis. Walaupun teori basis mengandung kelemahan karena membagi perekonomian regional hanya dalam dua sektor kegiatan, yakni basis dan non basis. Namun teori tersebut sangat bermanfaat sebagai sarana untuk menjelaskan struktur ekonomi suatu wilayah, dan bukan sebagai alat untuk membuat proyeksi jangka pendek atau jangka panjang.

Berlangsungnya globalisasi perdagangan yang ditandai dengan semakin terbukanya akses pasar komoditas suatu negara, sehingga makin mendorong

(8)

ketatnya persaingan antar negara/ wilayah dalam perdagangan komoditas (Arifin et al. 2007). Dalam konteks seperti ini perekonomian suatu wilayah akan diwarnai oleh kemampuan perdagangan (ekspor). Pentingnya ekspor dalam perspektif pengembangan ekonomi wilayah dapat ditunjukkan diantaranya oleh kinerja ekspor. Untuk menganalisis basis ekonomi suatu wilayah, salah satu model yang lazim digunakan diantaranya adalah menggunakan model Location Quotient (LQ) dapat digunakan untuk mengetahui seberapa besar tingkat spesialisasi sektor basis atau unggulan (leading sectors). Selain menggunakan model LQ leading sector juga dapat ditentukan dengan menggunakan analisis model Input-Output (I-O).

Dari berbagai konsep ekspor dalam pembangunan ekonomi wilayah, sehingga dapat dipahami bahwa dalam pengembangan ekonomi wilayah terutama dalam kondisi berlangsungnya globalisasi perdagangan, menunjukkan bahwa peran ekspor daerah merupakan komponen strategi yang penting dan perlu terus didorong peningkatannya. Hal ini karena ekspor dapat mempengaruhi pertumbuhan perekonomian wilayah. Artinya ketika ekspor daerah mengalami gangguan, maka keberlanjutan ekonomi wilayah yang bersumber dari ekspor akan mengalami hambatan atau permasalahan.

Keterkaitan antar Sektor dan Multiplier terhadap Ekonomi Wilayah

Meningkatkan struktur keterkaitan antar sektor dalam perekonomian dan meningkatkan keseimbangan antar sektor merupakan salah satu strategi yang perlu dilakukan dalam menggerakkan pembangunan ekonomi wilayah. Dalam ekonomi pasar, keterkaitan ekonomi dapat diwujudkan melalui peningkatan keterkaitan antar pelaku ekonomi, seperti dalam melakukan jual beli input produksi. Misalkan produsen rokok membutuhkan input tembakau sebagai bagian dari bahan bakunya, sehingga dalam produksi ia harus membeli tembakau dari petani tembakau. Sedangkan petani tembakau jika ingin meningkatkan output, membutuhkan input pupuk. Untuk mendapatkan pupuk ia harus membeli pupuk tersebut dari pabrik pupuk. Sementara pabrik pupuk untuk produksi ia membutuhkan mesin, tenaga kerja dan begitu seterusnya. Dari hubungan tersebut terlihat bahwa antar pelaku ekonomi saling terkait. Dengan demikian sulit bagi kita menentukan ujung dan pangkal dari keterkaitan ekonomi semacam itu. Tetapi

(9)

yang pasti, dari gambaran di atas terlihat dalam pengembangan suatu sektor ekonomi memiliki keterkaitan dengan sektor lainnya.

Studi tentang keterkaitan antar sektor dalam perekonomian telah banyak dilakukan oleh peneliti terdahulu seperti Rameezdeen et al. (2003), melakukan kajian tentang keterkaitan antara sektor konstruksi dan sektor lainnya dalam perekonomian Sri Lanka, ia menjelaskan bahwa sektor konstruksi secara signifikan memiliki keterkaitan ke depan (forward linkages) dan keterkaitan ke belakang (backward linkages) dalam perekonomian Sri Lanka. Kajian keterkaitan sektor yang dibangun dilakukan dengan menggunakan model analisis Input- Output sebagaimana yang dikembangkan oleh Wassily Leontif pada tahun 1930- an yang dapat digunakan untuk menjelaskan, mendefinisi, dan mengukur, serta menaksir keterkaitan antar sektor serta memprediksi indikasi kebocoran wilayah.

Selain itu penggunaan model input-output juga telah digunakan untuk menganalisis dan menjelaskan serta mengukur keterkaitan antar sektor dalam perekonomian, seperti telah dilakukan oleh (Pietroforte and Gregori, 2003; dan Rameezdeen et al. 2003).

Terintegrasinya sektor-sektor dan terbentuknya keseimbangan antar sektor dalam perekonomian suatu negara dan wilayah merupakan salah satu kunci keberhasilan pembangunan ekonomi sesungguhnya. Keterkaitan antar sektor secara umum dapat diidentifikasi dalam bentuk seperti; (1) efek keterkaitan antar industri (interindustry linkage effect); yaitu mengukur efek dari peningkatan satu unit permintaan akhir (final demand) terhadap tingkat produksi dalam setiap sektor, (2) efek keterkaitan ketenagakerjaan (employment linkage effect); yaitu mengukur penggunaan total tenaga kerja pada suatu sektor sebagai akibat perubahan satu unit permintaan akhir, dan (3) efek keterkaitan penciptaan pendapatan (income generation linkage effect): yaitu mengukur efek perubahan salah satu variabel eksogen dalam permintaan akhir terhadap peningkatan pendapatan (Rustiadi et al. 2005).

Nazara (1997) menjelaskan bahwa analisis input-output merupakan model yang berusaha memasukkan fenomena keseimbangan umum dalam analisis empirik seperti dari sisi produksi. Selain itu Jensen (2001) menjelaskan bahwa penggunaan model leontief dapat diaplikasikan dalam model tertutup dan model

(10)

terbuka, terutama dalam menganalisis perencanaan dan analisis ekonomi nasional.

Sedangkan model input-output modern yang merupakan pengembangan dari model leontief, sebagaimana dijelaskan Reis dan Rua (2006) dapat digunakan untuk mengukur keterkaitan antar sektor domestik dan keterkaitan antar perdagangan, dengan cara mendeteksi koefisien keterkaitan pada model input- output.

Model input-output (I-O) pertamakali dikembangkan oleh Leontief pada dekade tahun 1930-an. Salah satu yang sering dibicarakan dari model tersebut ketika berhubungan dengan input-output yaitu dikenal dengan istilah interindustry analysis, hal ini karena tujuan dasar dalam kerangka input-output adalah menganalisis interdependence industry dalam perekonomian. Selanjutnya Leontief mengemukakan bahwa tabel Input-Output dalam analisis perekonomian dan perencanaan pembangunan merupakan bagian dari model General Equilibrium. Model dasar input-output yang telah dikembangkan oleh Leontief tersebut menggambarkan; (1) Struktur perekonomian tersusun atas beberapa sektor yang saling berintegrasi melalui transaksi jual beli antara pemenuhan input dengan penjualan produk; (2) Output suatu sektor dijual kepada sektor lainnya guna memenuhi permintaan akhir; (3) Input suatu sektor dibeli dari sektor-sektor lainnya seperti dari rumah tangga (dalam bentuk tenaga kerja), dari pemerintah (dalam bentuk pajak), penyusutan, surplus usaha, serta impor dari wilayah lain.

Sedangkan (4) hubungan antara input dan output bersyarat linier, (5) dalam suatu kurun waktu analisis (biasanya dilakukan selama satu tahun) dengan total input sama dengan total output (Nazara, 1997).

Berbagai kelebihan penggunaan tabel Input-Output dalam perencanaan pembangunan diantaranya adalah dapat menjelaskan dengan baik keterkaitan sektor (sectoral linkage), dampak pengganda (multiplier effect), dan tingkat kebocoran wilayah (regional leakages) berbagai sektor dalam perekonomian baik skala nasional maupun wilayah, serta dapat diketahuinya (1) besarnya output dan kebutuhan faktor produksi lain dari satu set permintaan akhir, (2) dapat di prediksi akibat yang ditimbulkan atau perubahan permintaan, baik yang disebabkan oleh sektor pemerintah maupun swasta terhadap perekonomian, (3) perubahan

(11)

teknologi dan harga relatif yang di integrasikan ke dalam model melalui penyesuaian koefisiennya (BPS, 2000).

Berbagai keterbatasan dalam penyusunan tabel Input-Output diantaranya menggunakan asumsi-asumsi: (1) homogenitas atau keseragaman: yaitu setiap sektor hanya memproduksi satu jenis output yang seragam, dengan susunan input tunggal. Dengan kata lain antara suatu sektor dengan sektor lainnya tidak dapat saling mensubstitusi; (2) linearinitas/proporsionalitas atau kesebandingan;

yaitu kenaikan penggunaan input berbanding lurus dengan kenaikan output. Selain itu setiap sektor hanya memiliki satu fungsi produksi fixed proportional. Asumsi ini menyampingkan pengaruh skala ekonomis; (3) aditivitas atau penjumlahan ; yaitu efek total dari kegiatan produksi di berbagai sektor, merupakan penjumlahan dari proses produksi masing-masing sektor secara terpisah. Ini berarti seluruh pengaruh di luar sistem input-output diabaikan (Anwar, 2004).

Tabel I-O pada dasarnya merupakan uraian statistik dalam bentuk matrik yang menyajikan informasi tentang transaksi barang dan jasa serta saling keterkaitan antar-satuan kegiatan ekonomi dalam suatu wilayah pada suatu periode tertentu. Sebagai suatu model kuantitatif, Tabel I-O akan memberikan gambaran yang menyeluruh tentang (1) struktur perekonomian wilayah/ nasional yang mencakup struktur output dan nilai tambah masing-masing sektor. (2) struktur input antara, yaitu penggunaan berbagai barang dan jasa oleh sektor- sektor produksi, (3) struktur penyediaan barang dan jasa baik produksi dalam negeri maupun barang-barang yang berasal dari impor, dan (4) struktur barang dan jasa, baik permintaan antara oleh sektor-sektor produksi maupun permintaan akhir untuk konsumsi, investasi dan ekspor.

Penggunaan Tabel Input-Output di Indonesia dalam perkembangannya mulai dikenal sejak akhir Pelita I, dimana LIPI merupakan lembaga yang pertama kali melakukan exercise penyusunan tabel Input-Output di Indonesia tahun 1969.

Namun karena keterbatasan data yang tersedia pada saat itu LIPI awalnya dalam menerapkan model Input-Output menggunakan metode tidak langsung (non survey method). Kemudian pengembangan model Input-Output tersebut di Indonesia telah dilakukan oleh Biro Pusat Statistik (BPS) kerjasama dengan Bank Indonesia dan Institute of Development Economic (IDE) dengan penyusunan

(12)

menggunakan metode surve (survey method) untuk tahun 1971. Dengan adanya pengembangan model Input-Output oleh BPS, sehingga sejak saat itu BPS secara terus menerus menyusun tabel Input-Output Indonesia secara berkala setiap lima tahun sekali hingga dewasa ini.

Dalam perkembangannya analisis model input-output juga telah digunakan untuk analisis keseimbangan ekonomi yang didasarkan atas arus transaksi antar pelaku perekonomian, dengan penekanan utama yaitu pada sisi produksi.

Sedangkan teknologi produksi yang digunakan menunjukkan berperan pentingnya analisis ini. Lebih spesifik lagi teknologi yang berperan terbesar dalam mempengaruhi hasil analisis adalah teknologi yang berkaitan dengan penggunaan input antara. Sedangkan untuk tahap tertentu, input primer dianggap sebagai variabel eksogen, seperti halnya dari sisi permintaan akhir yang sering dianggap sebagai variabel endogen.

Karena dalam perkembangannya penggunaan alat analisis model input- output dapat digunakan untuk mengukur keterkaitan sektor (sectoral linkage), dan dampak pengganda (multiplier effect), serta indikasi tingkat kebocoran wilayah (regional leakages), baik skala nasional maupun wilayah. Dengan demikian berarti model input-output merupakan alat analisis yang masih relevan untuk digunakan dewasa ini. Walaupun kemampuannya sebagai alat analisis masih memiliki berbagai keterbatasan.

Konsep Kebocoran Wilayah Perkembangan Definisi Kebocoran Wilayah

Dilihat dari unsur kata “kebocoran wilayah” terdiri dari dua unsur kata yaitu

“kebocoran” dan “wilayah”. Kata kebocoran oleh beberapa ahli didefinisikan, seperti Doeksen dan Charles (1969) menjelaskan kebocoran adalah jumlah perubahan total output sebagai hasil perubahan satu dolar pada permintaan akhir yang tidak terhitung pada suatu wilayah karena berkaitan dengan impor, atau jumlah pendapatan baru yang tidak dihasilkan di dalam suatu wilayah sebagai akibat kenaikan satu dolar pada pendapatan karena adanya impor. Selanjutnya Bendavid (1991) menjelaskan bahwa kebocoran adalah tipe pengeluaran yang tidak meningkatkan tambahan pendapatan domestik seperti pada pengeluaran

(13)

pembelian barang-barang yang berasal dari impor, termasuk pembelian yang dilakukan di luar wilayah, pengeluaran untuk pajak, tabungan, dan sejenisnya dimana pada kegiatan pengeluaran tersebut tidak menghasilkan arus peningkatan pendapatan bagi masyarakat dan wilayah.

Selain itu dalam model dasar arus melingkar pendapatan nasional (circular flow of national income model), semua pendapatan yang diterima oleh rumah tangga dibelanjakan untuk konsumsi sekarang. Dalam model arus melingkar pendapatan yang diperluas, sebagian dari pendapatan yang diterima oleh rumah tangga ditabung, sebagian digunakan untuk membayar pajak dan sebagian dibelanjakan untuk barang dan jasa yang di impor. Pada kondisi seperti ini Tabungan (saving), pajak (taxation) dan impor (imports) merupakan penarikan atau “kebocoran” arus pembelanjaan pendapatan (Bendavid, 1991). Sedangkan Reis dan Rua (2006) menjelaskan bahwa dalam ekonomi terbuka kecil, kebocoran didefenisikan adanya tambahan impor produk jika permintaan akhir untuk output meningkat sebesar satu unit. Sedangkan Rada dan Taylor. (2006) menjelaskan kebocoran dapat dilihat dari sisi agregat demand pada perubahan investasi, ekspor dan belanja pemerintah, yang menghasilkan multiplier pendapatan yang kecil bagi suatu daerah.

Kemudian “kata wilayah” menurut konsep nomenklatur kewilayahan seperti

“wilayah”, “kawasan”, “daerah”, “regional”,”area”, “ruang”, dan istilah-istilah sejenis, banyak dipergunakan, dan saling dapat dipertukarkan pengertiannya, walaupun masing-masing memiliki bobot penekanan pemahaman yang berbeda- beda (Rustiadi et al. 2005). Namun demikian secara teoritik tidak ada perbedaan nomenklatur atara istilah wilayah, kawasan, dan daerah, semuanya secara umum dapat diistilahkan dengan wilayah (region). Dengan demikian ”wilayah” dapat didefinisikan sebagai unit geografis dengan batas-batas spesifik (tertentu) dimana komponen-komponen wilayah tersebut satu sama lain saling berinteraksi. Selain itu Anwar (2004) menjelaskan bahwa kegiatan pembangunan yang menggunakan teknologi padat modal serta kurang memanfaatkan tenaga kerja lokal berpotensi menciptakan kebocoran wilayah, hal ini karena multiplier yang ditimbulkan tidak dapat ditangkap secara optimal oleh suatu wilayah.

(14)

Dari berbagai konsep dan pendefinisian kata kebocoran dan wilayah, maka dapat diartikan bahwa ”kebocoran wilayah” merupakan jenis aktivitas pengeluaran/penerimaan wilayah yang tidak meningkatkan tambahan pendapatan suatu wilayah, atau dengan kata lain kebocoran wilayah merupakan kondisi terjadinya aliran nilai tambah ke wilayah lainnya karena adanya potensi nilai tambah yang tidak dapat dimanfaatkan secara optimal, sehingga menyebabkan kecilnya multiplier yang dapat ditimbulkan dari kegiatan ekonomi suatu wilayah.

Isu-Isu Kebocoran Wilayah

Dalam bidang ekonomi regional isu-isu tentang kebocoran wilayah merupakan salah satu hal penting yang sering menjadi perhatian para ahli ekonomi wilayah. Untuk mendapatkan jawaban mengapa kebocoran wilayah dipermasalahkan dalam bidang ekonomi regional, beberapa literatur menjelaskan seperti Rustiadi et al. (2005) bahwa kebocoran wilayah dapat mendorong semakin besarnya perangkap kemiskinan serta dapat mendorong semakin lebarnya ketimpangan ekonomi antar wilayah. Selain itu ditinjau dari tujuan pembangunan yaitu perlu diarahkan pada pertumbuhan (growth), efisiensi (effeciency) dan pemerataan (equity) serta keberlanjutan (sustainability), terutama dalam memberi panduan kepada alokasi sumberdaya, baik pada tingkatan nasional maupun regional (Anwar, 2005) maka terjadinya kebocoran wilayah dapat menghambat laju pertumbuhan pembangunan wilayah. Sedangkan Hayami (2001), menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi perlu memperhatikan faktor-faktor yang berkaitan dengannya serta perlu dilihat dari peningkatan rata-rata nilai tambah per kapita (pendapatan) yang diwujudkan melalui peningkatan penggunaan sumberdaya per kapita dan/atau “kemajuan teknologi” sebagai peningkatan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat, baik melalui input tenaga kerja, modal dan sumberdaya alam dalam periode tertentu, dengan “nilai tambah” yang didistribusikan ke pemilik sumberdaya sebagai pendapatannya, sehingga secara agregasi pendapatan masyarakat dapat menjadi pendapatan wilayah.

Karena dalam pembangunan ekonomi wilayah peningkatan nilai tambah dan pendapatan, merupakan sasaran pentingnya yang perlu dilakukan. Dengan demikian sehingga terjadi kebocoran nilai tambah tentu mempengaruhi

(15)

pendapatan wilayah. Artinya kebocoran wilayah dapat merugikan pembangunan ekonomi wilayah. Hal tersebut sesuai dengan Bendavid (1991) menjelaskan bahwa dalam pembangunan ekonomi wilayah, multiplikasi pendapatan merupakan inti dari proses pertumbuhan ekonomi. Terjadi kebocoran nilai tambah sehingga multiplier yang dihasilkan dari pembangunan ekonomi di suatu wilayah akan semakin kecil, atau dengan kata lain semakin besar kebocoran yang terjadi maka semakin besar multiplier pendapatan yang hilang. Dari berbagai konsep di atas sehingga dapat dipahami alasan mengapa para ahli ekonomi regional melihat kebocoran wilayah sebagai persoalan dalam pembangunan ekonomi wilayah.

Selain itu Gonarsyah (1977) menjelaskan bahwa kecilnya pendapatan suatu wilayah dapat mendorong terjadinya kesenjangan dan ketidakadilan serta dapat mengurangi tingkat kepercayaan masyarakat kepada pemerintah, terutama ketidakpercayaan pada kemauan baik (good will) dan kemampuan pemerintah dalam mengelola sumberdaya alam untuk sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat dan menciptakan pembangunan yang merata. Dengan kata lain terjadinya kebocoran wilayah dapat mengakibatkan kecilnya pendapatan suatu wilayah.

Kecilnya pendapatan mendorong kurangnya kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah, dan pada akhirnya dapat menghambat pertumbuhan wilayah.

Beberapa ahli melihat beberapa penyebab terjadi kebocoran wilayah (regional leakages) diantaranya karena adanya international dan interregional demonstration effect, yaitu adanya sifat masyarakat tertinggal yang cenderung mencontoh pola konsumsi di kalangan masyarakat modern. Artinya wilayah- wilayah yang telah lebih maju memperkenalkan produk-produk yang mutunya

"lebih baik" sehingga wilayah-wilayah masyarakat tradisional mengimpor dan mengkonsumsi barang-barang tersebut, dan pada akhirnya sejumlah modal yang telah terakumulasi bukan digunakan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi wilayahnya melainkan mendorong terjadi kebocoran wilayah (Anwar, 2004).

Kemudian Rustiadi el al. (2005) juga menjelaskan bahwa beberapa kekuatan penting yang menyebabkan kondisi kebocoran wilayah diantaranya yakni: (a) wilayah-wilayah yang telah lebih maju menciptakan keadaan yang

“menghambat” perkembangan wilayah-wilayah yang masih terbelakang (back- wash effects);(b) Wilayah-wilayah yang telah lebih maju menciptakan keadaan

(16)

yang “mendorong” perkembangan wilayah-wilayah yang masih terbelakang (spread effects). Selain itu fenomena backwash pada kawasan perdesaan dan daerah-daerah tertinggal berlangsung melalui beberapa tahap aliran, seperti: (1) aliran bahan mentah/bahan baku (sumberdaya alam), (2) aliran sumberdaya manusia berkualitas/produktif (brain drain), (3) aliran sumberdaya finansial (capital outflow), (4) aliran sumberdaya informasi, dan (5) aliran kekuasaan (power).

Berlangsung aliran bahan baku/mentah berupa sumberdaya alam seperti kayu, ikan, serta berbagai produk pertanian dan hasil ekstraksi sumberdaya alam yang dialirkan ke perkotaan untuk diolah (processing) guna menghasilkan produk-produk olahan. Pada tahap awal memang diyakini memiliki nilai tambah, dan proses masih dapat dianggap netral (tidak merugikan) jika: (1) pusat-pusat pengolahan di perkotaan merupakan lokasi-lokasi yang memiliki locational rent terbaik untuk kegiatan-kegiatan pengolahan, (2) proses ekstraksi sumberdaya alam di perdesaan dilakukan tanpa mengurangi daya dukung dan kualitas lingkungan (tidak menyebabkan degradasi atau kerusakan sumberdaya alam dan lingkungan hidup), serta (3) diiringi dengan terjadinya peningkatan produktivitas di perdesaan. Sedangkan pada saat perdesaan dan kawasan hinterland ditinggalkan oleh sumberdaya manusia yang berkualitas sehingga produktivitas perdesaan menjadi stagnan atau lebih rendah dibandingkan perkotaan.

Selain itu dari sisi sumberdaya terjadi proses "brain-drain" dalam arti mengalirnya intelektual perdesaan ke kota atau disedotnya intelektual-intelektual desa oleh perkotaan. Rendahnya kapasitas sumberdaya manusia perdesaan akibat mengalirnya sumberdaya manusia berkualitas ke kawasan perkotaan disatu sisi, dan terkonsentrasinya aktivitas-aktivitas pengolahan yang menghasilkan nilai tambah tinggi di kawasan perkotaan yang didukung oleh sumberdaya manusia yang lebih produktif, dan mengakibatkan terjadinya aliran konsentrasi kapital ke perkotaan. Lemahnya kapasitas produksi kawasan perdesaan menyebabkan masyarakat desa semakin tergantung pada konsumsi produk-produk manufaktur perkotaan. Akibat output barang/jasa yang dihasilkan di kawasan perdesaan bersifat inferior terhadap produk-produk olahan dari perkotaan, sehingga

(17)

menyebabkan perdesaan mengalami net-capital outflow, atau dalam kondisi demikian berarti desa mengalami "kebocoran".

Kemudian Anwar (2004) menjelaskan bahwa beberapa hal yang menyebabkan terjadinya kebocoran wilayah antara lain karena: (1) Sifat komoditas yang bersifat eksploitatif. Seperti pada umumnya natural resources mempunyai kecenderungan mengalami kebocoran wilayah yang tinggi apabila dalam sistem produksinya membutuhkan persyaratan-persyaratan tertentu, baik kualitas sumberdaya manusia, teknologi yang dipakai, kedekatan dengan pasar maupun persyaratan lainnya yang mengakibatkan aktivitas ekonomi suatu komoditas yang berasal dari suatu wilayah dilaksanakan di wilayah lain, sehingga sebagian besar nilai tambah ditangkap wilayah lainnya, (2) Sifat kelembagaan, yaitu menyangkut kepemilikan (owners).

Dari berbagai isu dalam kebocoran wilayah sehingga dapat diartikan bahwa kebocoran wilayah merupakan isu penting yang memiliki peran dalam mempengaruhi pertumbuhan ekonomi suatu wilayah. Dengan demikian sehingga terjadinya kebocoran wilayah maka multiplier yang dihasilkan dari pembangunan ekonomi di suatu wilayah tentu semakin kecil, atau dengan kata lain semakin besar kebocoran yang terjadi maka semakin besar potensi multiplier pendapatan bagi suatu wilayah yang hilang. Dengan lain perkataan bahwa untuk meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi wilayah maka perlu menekan tingkat kebocoran wilayah.

Pengukuran Kebocoran Wilayah

Beberapa literatur menjelaskan bahwa untuk melakukan identifikasi tentang kebocoran wilayah dalam perspektif ekonomi wilayah dapat digunakan pendekatan analisis model input-output, sebagaimana digunakan Doeksen dan Charles (1969); Bendavid (1991); Reis dan Rua (2006). Dalam melakukan pendeteksian kebocoran wilayah Doeksen dan Charles (1969) menjelaskan dapat diidentifikasi dari aspek multiplier output, dan multiplier income. Sedangkan Bendavid (1991) menjelaskan bahwa kebocoran wilayah dapat dilihat dari besar kecilnya komponen input antara yang berasal dari impor, termasuk juga pembelian yang dilakukan di luar wilayah. Selain itu Rada dan Lance (2006)

(18)

menjelaskan bahwa kebocoran dapat dilihat dari sisi aggregat demand ketika terjadinya perubahan dalam injeksi investasi, ekspor dan belanja pemerintah.

Kemudian Rodriguez dan Kroijer (2008) menjelaskan kebocoran dapat dilihat dari sisi pengeluaran lokal kaitannya dengan desentralisasi fiskal. Landesmann dan Robert (2006) kebocoran dapat dilihat dari derajat integrasi pasar modal (FDI, tenaga kerja asing). Sun (2007) Kebocoran dapat dilihat dari besar kecilnya rasio barang impor. Sedangkan Christopher dan Bryan (1994) menjelaskan kebocoran dapat ditandai oleh besarnya aspek tabungan (saving), pajak (taxation) dan besarnya belanja input impor, namun tidak meningkatkan pendapatan wilayah.

Kemudian menurut Reis dan Rua (2006) kebocoran wilayah dapat dilihat dari kebocoran ke belakang (backward leakage) dan kebocoran ke depan (forward leakage). Untuk mengidentifikasi kebocoran ke depan dapat digunakan nilai koefisien kebocoran sektor (Reis dan Rua, 2006) yaitu analog dengan pengukuran keterkaitan sektor yaitu, ditunjukkan rendahnya rata-rata koefisien sektor yang terboboti pada backward leakage atau forward leakage. Skema pembobotan pada impor, dan secara alami pada barang impor i tidak harus sama dengan impor sektor produksi. Untuk memboboti backward leakage yaitu menggunakan barang impor. Sedangkan untuk forward leakage digunakan sektor impor. Misalkan l j adalah jumlah elemen pada kolom ke-j dari matrik Am(I - Ad)-1 dan l yaitu i* jumlah elemen pada baris ke-i dari matrik (I– A*d)-1A*m.

Selanjutnya Doeksen dan Charles (1969) menjelaskan bahwa di Oklahoma secara umum daerah yang memiliki tingkat keterkaitan sektor ekonomi yang rendah, merupakan daerah yang mengalami kebocoran yang tinggi. Demikian juga daerah yang memiliki keterkaitan sektor ekonomi yang tinggi, karena daerahnya memiliki tingkat pengeluaran impor yang lebih besar, maka daerah tersebut juga memiliki tingkat kebocoran yang tinggi. Sedang Reis dan Rua (2006) hasil penelitiannya menunjukkan bahwa kebocoran wilayah sektor jasa di Portugal lebih rendah dibandingkan dengan kebocoran sektor lainnya, dan multiplier effect sektor akan lebih tinggi jika keterkaitan menyebar dalam perekonomian serta berdampak pada rendahnya kebocoran wilayah.

Dari berbagai konsep tentang pengukuran kebocoran wilayah maka dapat diartikan bahwa untuk mendeteksi indikasi, potensi dan dampak kebocoran

(19)

wilayah, maka dapat diidentifikasi dengan memperhatikan (i) koefisien keterkaitan sektor ke depan dan koefisien keterkaitan ke belakang pada model input output; yaitu semakin kecil nilai koefisien keterkaitan sektor maka semakin besar potensi terjadinya kebocoran wilayah, dan begitu juga sebaliknya semakin kuat keterkaitan antar sektor maka semakin kecil terjadinya kebocoran wilayah (ii) rasio input dan impor; yaitu semakin besar input impor yang digunakan dalam proses produksi maka semakin besar terjadinya potensi kebocoran wilayah, (iii) rasio permintaan antara dengan ekspor; yaitu semakin kecil permintaan antara dibandingkan dengan ekspor menunjukkan kecilnya nilai tambah yang diperoleh suatu wilayah atau semakin besarnya potensi kebocoran yang terjadi (iv) Dalam konteks sistem agribinis, dominan nilai tambah yang dimanfaatkan atau mengalir ke wilayah lain, menciptakan potensi kebocoran wilayah.

Konsep Sistem Agribisnis

Sistem agribisnis merupakan suatu konsep pengelolaan pertanian secara luas dan utuh yang dimana peran antar subsistem-subsistem saling terkait dalam membangun sistem pertanian yang utuh, yang terdiri dari subsistem input, produksi, pengolahan hasil, dan pemasaran serta faktor penunjang.

Pengembangan konsep agribisnis pertama kali dipelopori oleh Business School di Harvard University. Sedangkan di Indonesia pembahasan tentang agribisnis (agribusiness) dewasa ini telah berkembang sedemikian rupa sehingga menarik perhatian banyak kalangan, baik bagi kalangan yang menggeluti bidang pertanian maupun non pertanian. Hal ini karena adanya pergeseran kondisi perekonomian Indonesia yang semula dari dominasi peran sektor primer khususnya pertanian, yang akhir-akhir ini peran tersebut mulai bergeser ke sektor lainnya. Selain itu karena adanya kemauan politik (political will) pemerintah yang mengarahkan perlu keberimbangan perekonomian Indonesia yaitu antara sektor pertanian dengan sektor industri, sebagai upaya membangun keterkaitan sektor (Soekartawi, 2003).

Selanjutnya Soekartawi (2004) menjelaskan bahwa agribisnis adalah suatu kesatuan usaha yang meliputi salah-satu atau keseluruhan dari mata rantai produksi, pengolahan hasil dan pemasaran yang ada hubungannya dengan

(20)

pertanian dalam arti luas; yaitu usaha yang menunjang kegiatan pertanian dan kegiatan usaha yang ditunjang oleh kegiatan pertanian, sebagaimana dijelaskan dengan bagan mata rantai kegiatan agribisnis seperti pada Gambar 2 di bawah ini.

Gambar 2. Mata Rantai Kegiatan Agribisnis.

Dilihat dari unsur kata “agribisnis” terdiri dari dua unsur kata yaitu “agri dan bisnis”. Agri yaitu berasal dari kata agriculture (pertanian) dan kata bisnis berasal dari kata “bisnis” (usaha). Dari dua unsur kata tersebut sehingga kata agribisnis dapat diartikan “usaha dalam bidang pertanian”. Dalam arti luas Soekartawi (2003) menjelaskan bahwa kegiatan agribisnis yaitu kegiatan pertanian sejak produksi, pengolahan, dan pemasaran hingga kegiatan lainnya yang berkaitan dengan pengembangan pertanian.

Selain itu pertanian dilihat dari kegiatan usaha terdiri dari kegiatan usaha tani tanaman pangan, perkebunan, perhutanan, peternakan, dan perikanan. Usaha di bidang pertanian di Indonesia bervariasi dalam corak dan ragam. Dari aspek skala usaha terdapat skala usaha seperti skala usaha besar (seperti perusahaan perkebunan, industri minyak sawit, dan lain-lain), kemudian yang berskala menengah (seperti beberapa agroindustri menengah dan perkebunan menengah), serta ada yang berskala kecil seperti usaha tani-usaha tani dengan luas lahan di bawah 25 hektar dan berbagai industri skala rumah tangga (Gumbira, 2001).

Namun, apabila dikaji dari jumlah usahanya, maka usaha berskala kecil adalah yang paling banyak. Diperkirakan jumlahnya mencapai 90% dari seluruh usaha

(21)

agribisnis di Indonesia. Dengan demikian, pengembangan sektor agribisnis hendaknya terus dikembangkan dengan pendekatan sistem agribisnis yang berorientasi industri pedesaan dan pertanian rakyat yang modern.

Tidak dapat dipungkiri bahwa secara global bidang pertanian telah maju, baik teknologi maupun sistem dan orientasinya, tetapi penerapannya masih sangat kurang, terutama di negara-negara dunia ketiga. Teknologi pertanian, melalui pengembangan bioteknologi dan bio proses, teknologi mesin dan peralatan pertanian, teknik kimia, serta teknologi penunjang pertanian, seperti teknologi elektrik dan mikrochip, teknologi dirgantara, teknologi perhubungan dan telekomunikasi, dan lain-lain akan semakin nyata pengaruhnya bagi pengembangan sektor agribisnis, terutama untuk memasuki milenium ketiga.

Selain itu kemajuan lain dalam bidang agribisnis ditandai dengan semakin menyempitnya spesialisasi fungsional dan semakin jelasnya pembagian kerja berdasarkan fungsi-fungsi sistem agribisnis. Selain itu Gumbira (2001) juga menjelaskan fungsi-fungsi agribisnis terdiri atas kegiatan pengadaan dan penyaluran sarana produksi, kegiatan produksi primer (budidaya), pengolahan (agroindustri), dan pemasaran. Fungsi-fungsi tersebut kemudian disusun menjadi suatu subsistem dari sistem agribisnis, seperti Gambar 3 di bawah ini.

Gambar 3. Sistem Agribisnis dan Lembaga Penunjangnya

Konsep agribisnis merupakan suatu sistem, dimana bila akan dikembangkan harus terpadu dan selaras dengan semua subsistem yang ada di dalamnya.

SS I Pengadaan

dan Penyaluran

Sasaran Produksi

SS II (Produksi

Primer)

SS III (Pengolahan)

SS IV (Pemasaran)

Lembaga Penunjang Agribisnis

(22)

Pengembangan agribisnis tidak akan efektif dan efisien bila hanya mengembangkan salah satu subsistem yang ada di dalamnya. Selain itu Gumbira (2004), sebagai sebuah sistem agribisnis terdiri atas beberapa subsistem (Gambar 2). Sistem tersebut akan berfungsi baik apabila tidak ada gangguan pada salah satu subsistem (SS).

Pengembangan agribisnis harus mengembangkan semua subsistem di dalamnya karena tidak ada satu subsistem yang lebih penting dari subsistem lainnya. Setiap subsistem dalam sistem agribisnis mempunyai keterkaitan ke belakang dan ke depan. Tanda panah kebelakang (ke kiri) pada subsistem pengolahan (SS-III dalam Gambar 2) menunjukkan bahwa SS-III akan berfungsi dengan baik apabila ditunjang oleh ketersediaan bahan baku yang dihasilkan oleh SS-II. Tanda panah ke depan (ke kanan) pada SS-III menunjukkan bahwa subsistem pengolahan (SS-III) akan berhasil dengan baik jika menemukan pasar untuk produknya.

Agribisnis memerlukan lembaga penunjang termasuk kebijakan pemerintah seperti dari aspek pembiayaan/keuangan, pendidikan, penelitian, perhubungan dan pertanahan. Lembaga pendidikan dan pelatihan mempersiapkan para pelaku agribisnis yang profesional. Sedangkan lembaga penelitian memberikan sumbangan berupa teknologi dan informasi. Keberadaan lembaga-lembaga penunjang kebanyakan berada di luar sektor pertanian. Dengan demikian dapat diartikan bahwa pengembangan sektor pertanian terkait dengan sektor lainnya.

Dalam pengelolaan agribisnis, keterkaitan antar pelaku dari berbagai pihak seperti penghasil produk primer, pengolah, pedagang, distributor, importir, eksportir, dan lain-lain sangat dibutuhkan. Semakin baiknya keterkaitan dalam pengelolaan sistem agribisnis maka semakin besarnya pula perannya terhadap pembentukan perekonomian wilayah, terutama dalam memberikan sumbangan terhadap produk domestik bruto (PDB). Selain itu agribisnis juga berperan sebagai penyedia bahan kebutuhan hidup (pangan, perumahan, dan pakaian), penghasil devisa, pencipta lapangan kerja, dan sumber pendapatan masyarakat.

Menurut Austin (1981), agroindustri adalah usaha yang mengolah bahan baku hasil pertanian menjadi berbagai produk yang dibutuhkan konsumen. Dalam penggunaan sehari-hari istilah agroindustri sering dibagi menjadi agroindustri

(23)

hulu dan agroindustri hilir. Agroindustri hulu mencakup industri penghasil input pertanian, seperti pupuk, pestisida, alat-alat dan mesin-mesin pertanian, dan bahkan yang lebih luas lagi mencakup perusahaan penghasil bibit (pengertian industri yang lebih luas lagi). Sedangkan agroindustri hilir yaitu industri pengolahan hasil-hasil pertanian primer dan bahkan lebih luas lagi, mencakup industri sekunder dan tersier yang mengolah lebih lanjut produk olahan hasil pertanian primer, seperti tekstil dari benang, dan benang dari kapas atau ulat sutra, sepatu dari kulit dan kulit dari hewan, industri kue dari tepung (dan lain-lain produk antara) dan tepung dari gandum atau beras.

Kajian mengenai sistem agribisnis dan agroindustri dapat dilakukan dengan dua pendekatan analisis, yaitu pendekatan analisis makro dan mikro. Pendekatan analisis makro memandang agribisnis sebagai unit sistem industri dari suatu komoditas tertentu, yang membentuk sektor ekonomi secara regional atau nasional. Di lain sisi pendekatan analisis mikro memandang agribisnis sebagai suatu unit perusahaan yang bergerak, baik dalam salah satu subsistem agribisnis maupun bergerak pada lebih dari satu subsistem agribisnis komoditas.

Sistem agribisnis secara makro dipengaruhi oleh lingkungan ekonomi, politik, sosial budaya, hankam, dan teknologi, baik nasional, regional, maupun internasional. Dalam pengembangan sistem agribisnis nasional yang tangguh peran kebijakan pemerintah sebagai penuntun, pendorong, pengawas, dan pengendali berlangsungnya sistem agribisnis tersebut masih sangat dibuhkan, hal ini karena agribisnis berada dalam suatu lingkaran yang tidak terlepas dari kebijakan pemerintah.

Dari berbagai tinjauan literatur tentang konsep agribisnis sehingga dapat diartikan bahwa agribisnis sebagai sistem merupakan konsep pengelolaan pertanian secara luas dan utuh yang terdiri dari subsistem, yang membutuhkan keterkaitan yang erat dan utuh antar subsistem seperti subsistem input, produksi, pengolahan hasil, pemasaran dan faktor penunjang, terutama dalam upaya peningkatan pertanian dalam arti luas. Artinya kinerja sistem agribisnis sangat ditentukan oleh efektivitas masing-masing subsistem. Karena efektivitas pengelolaan sistem agribisnis dapat mempengaruhi pendapatan pelaku agribisnis, dengan demikian berarti agribisnis dapat mempengaruhi perekonomian wilayah.

(24)

Konsep Integrasi Harga

Peran pasar dalam penentuan harga merupakan hal pokok dalam perekonomian. Bagi sektor pertanian selain letak geografis, faktor pasar merupakan hal yang sangat penting untuk diperhitungkan dalam pengembangannya. Pentingnya pertimbangan faktor pasar karena sifat-sifat dari produk-produk pertanian umumnya bersifat mudah rusak (perishable) dan adanya kondisi lokasi produsen dan konsumen yang cenderung terpisah jauh dari pasar, sehingga harga produk dan biaya transportasi menjadi sangat mempengaruhi dalam transaksi. Artinya batas-batas geografis menjadi penting dalam penentuan permintaan dan penawaran, yang akhirnya dapat mempengaruhi pembentukan harga dan struktur kompetisi komoditas yang diperdagangkan (Ravallion,1986).

Dalam kegiatan perdagangan asumsi bekerjanya mekanisme pasar merupakan bagian penting yang dapat mempengaruhi kenerja perdagangan, sebagaimana konsep ekonomi klasik-David Ricardo dan konsep Neoklasik- Heckscher serta Ohlin serta konsep perdagangan modern Paul R. Krugman dan Michael E. Porter, menjelaskan bahwa asumsi sinyal harga di suatu pasar dapat ditransmisikan ke pasar lain atau terjadinya interaksi, sehingga gains from trade yang diwujudkan sebagai asumsi bekerjanya mekanisme pasar (Kasliwal, 1995).

Integrasi pasar yang dapat mentransmisikan harga secara sempurna merupakan tanda terjadinya struktur pasar yang kompetitif. Selain itu informasi pasar yang sempurna, serta tidak adanya biaya-biaya transaksi yang mendistorsi harga pasar (Goletti et al. 1995) juga merupakan tanda terjadinya integrasi pasar yang sempurna. Dengan kata lain menunjukkan terjadinya tingkat inefisiensi pemasaran.

Ravallion (1986) juga menjelaskan bahwa model integrasi pasar dapat digunakan untuk mengukur harga di pasar produsen dengan harga di pasar konsumen yang mempertimbangkan harga pada waktu yang lalu dan harga pada saat ini. Aktivitas pasar-pasar tersebut dihubungkan oleh arus produk, sehingga harga dan jumlah produk yang dipasarkan akan berubah bila terjadi perubahan harga di pasar lain. Selain itu Simatupang (1999) mengungkapkan bahwa jika distribusi harga sepenuhnya diatur oleh kekuatan pasar, maka pedagang perantara akan selalu menyalurkan komoditas ke daerah pemasaran yang memberikan

(25)

keuntungan yang lebih besar bagi pedagang.

Selanjutnya untuk memudah memahami konsep integrasi vertikal maka dapat dilihat Gambar 3, yang menggambarkan keterpaduan sistem komoditas secara vertikal yang membentuk suatu rangkaian pelaku-pelaku yang terlibat dalam sistem komoditas tersebut, mulai dari produsen/penyedia input/sarana produksi pertanian, distributor input/ sarana produksi pertanian, usaha tani, pedagang pengumpul, pedagang besar, usaha pengolahan hasil pertanian, pedagang pengecer, eksportir, sampai dengan konsumen domestik dan luar negeri (Gumbira, 2001) seperti Gambar 4.

Gambar 4. Model Integrasi Vertikal Sistem Agribisnis

Arah panah ke atas menunjukkan aliran produk/ barang dan sebaliknya arah panah ke bawah menunjukkan aliran uang atau nilai produk/barang. Di luar sistem aliran produk dan uang tersebut terdapat fasilitator dari berbagai lembaga pendukung bekerjanya makanisme sistem komoditas secara vertikal yang terpadu.

Studi integrasi pasar yang dilakukan dengan pendekatan metode tradisional dapat menggunakan korelasi pasangan (bivariate correlation) terutama untuk

(26)

harga antar wilayah (region). Dengan menggunakan metode tersebut korelasi dan koefisien regresi dapat diduga dari data deret harga spot pada lokasi pasar yang berbeda. Namun menurut Ravallion (1986) metode korelasi pasangan memiliki beberapa kelemahan inferensia dalam menjelaskan integrasi pasar, terutama apabila harga antar lokasi diasumsikan dalam bentuk fungsi linier dengan sudut kemiringan (slope) sama dengan satu (unity). Selain itu Ardeni (1989) menjelaskan bahwa pendekatan konvensional untuk pengujian integrasi pasar adalah tidak tepat karena mengabaikan sifat-sifat data deret waktu (time-series).

Sedangkan secara spesifik, korelasi serial dapat menyebabkan uji empiris integrasi pasar menjadi terganggu karena tidak konsisten dan bias serta kemungkinan menghasilkan persamaan regresi yang spurious.

Selanjutnya Ravallion (1986) menjelaskan bahwa integrasi pasar dapat dipisahkan dalam bentuk jangka pendek dan jangka panjang pada model dinamik untuk diferensiasi harga spasial. Dengan demikian maka integrasi pasar dan segmentasi pasar dapat ditunjuk dalam bentuk umum dan diuji dalam bentuk restriksi. Dengan menggunakan model dinamik maka dapat diungkap lebih banyak lagi tentang informasi pasar dibandingkan dengan model tradisonal atau konvensional yang bersifat statik. Namun demikian model dinamik yang dikembangkan Ravallion juga mengalami keterbatasan yaitu tidak mampu mengakomodasi sifat nonstasioner dari data deret harga yang digunakan.

Berbagai metode alternatif untuk mengevalusi keterkaitan/integrasi pasar telah dikembangkan seperti Engle dan Granger (1987) dengan menggunakan konsep kointegrasi, sebagai contoh Goodwin dan Schroder (1991) melakukan analisis kointegrasi untuk pasar ternak di Amerika Serikat, serta Ismet et al.

(1998) untuk pasar beras di Indonesia. Prosedur kointegrasi yang digunakan secara umum menunjukkan bahwa deviasi (et) dari keseimbangan untuk dua peubah/variabel ekonomi untuk masing-masing yang nonstasioner adalah stasioner. Dengan demikian maka uji kointegrasi dapat membuktikan khususnya keterkaitan harga jangka panjang antar harga dalam kawasan, dan juga keterkaitan harga jangka pendek.

Kemudian menurut Barrett (2001) metode analisis harga telah mengalami peningkatan, dimana data harga deret waktu yang mempunyai masalah otokorelasi

(27)

atau nonstasioner sudah dapat ditanggulangi dengan metode yang telah diperkenalkan pada akhir tahun 1980-an yaitu dengan menggunakan metode kointegrasi (cointegration) kausalitas Granger (Granger Causality) dan mekanisme koreksi galat (error correction mechanisms). Penggunaan metode tersebut dapat dimanfaatkan untuk menguji: (1) hubungan jangka panjang antar harga di dua pasar, (2) ada tidaknya hubungan satu atau dua arah untuk kekuatan proyeksi harga antar pasar, dan (3) penyesuaian dinamik deviasi keseimbangan jangka pendek dari keseimbangan jangka panjang.

Walaupun metode-metode tersebut mempunyai kelemahan karena menggunakan asumsi biaya-biaya transaksi perdagangan antar dua lokasi/pasar adalah konstan serta pengujian hipotesis efisiensi pasar tidak dipisahkan dengan pengujian dari kebenaran asumsi yang dapat mengganggu spesifikasi model.

Selanjutnya dijelaskan bahwa pengujian integrasi harga dengan uji kausalitas Granger (Granger causality test) akan diperoleh hasil yang menyesatkan (misleading), selain itu pendekatan dengan model vector auto regression akan termisspesifikasi (misspecified), sehingga analisis yang dilakukan tersebut terfokus hanya pada sifat dinamik jangka panjang. Oleh karena itu disarankan dalam melihat hubungan harga suatu komoditas yang diperdagangkan secara internasional dapat menggunakan error correction model (ECM) yang mengakomodasikan studi hubungan harga jangka pendek dan jangka panjang.

Penggunaan model analisis kointegrasi dan model korelasi galat (ECM) dalam mengkaji transmisi harga telah dilakukan oleh beberapa peneliti sebelumnya seperti Krivonos (2004) mengukur transmisi harga untuk pasar kopi internasional ke pasar lokal di negara-negara produsen seperti Brazilia, Ethiopia, Kenya, Kolombia dan Mexico untuk periode sebelumnya dan sesudah dilakukan reformasi perdagangan, menjelaskan bahwa transmisi harga terjadi lebih cepat pada saat harga turun dibandingkan dengan ketika kondisi harga naik. Dengan demikian produsen menanggung biaya ketika terjadi penurunan harga tersebut.

Selain itu Rapsomanikis et al. (2002) juga menggunakan uji kointegrasi Johansen untuk mengetahui adanya integrasi pasar dan transmisi harga gandum di Mesir dan pasar dunia, serta menunjukkan adanya integrasi antar pasar kopi Ethiopia dan Uganda dengan pasar internasional.

(28)

Selain itu peran pasar dalam penentuan harga merupakan hal pokok dalam perekonomian, sehingga bagi sektor pertanian, selain letak geografis, faktor pasar merupakan hal yang sangat penting untuk diperhitungkan dalam pengembangan ekonomi. Pentingnya pertimbangan faktor tersebut karena adanya pertimbangan sifat-sifat dari produk-produk pertanian bersifat mudah rusak (perishable) dan adanya kondisi lokasi produsen dan konsumen yang cenderung terpisah jauh dari pasar, sehingga harga produk dan biaya transportasi menjadi sangat mempengaruhi dalam transaksi. Dalam kondisi seperti ini maka batas-batas geografis menjadi penting dalam penentuan permintaan dan penawaran, karena dapat mempengaruhi pembentukan harga dan struktur kompetisi.

Agar studi tentang integrasi pasar lebih dapat dimengerti dan bermanfaat, bagi keakuratan penagmbilan kebijakan harga dan pasar, maka tidak hanya harga yang difokuskan dalam hubungan antar pasar, tetapi juga perlu memperhatikan tentang aliran barang, kebijakan perdagangan, dan biaya-biaya perdagangan yang disebabkan oleh hambatan tarif dan atau nontarif. Selanjutnya integrasi pasar yang dapat mentransmisikan harga secara sempurna, menandai terjadinya struktur pasar yang kompetitif. Sedangan informasi pasar yang sempurna ditunjukkan dengan tidak adanya biaya-biaya transaksi yang mendistorsi harga pasar. Berbagai penggunaan model kointegrasi (cointegration), kausalitas Granger (Granger causality) dan mekanisme koreksi galat (error correction mechanisms) dalam analisis integrasi pasar telah digunakan oleh para peneliti terdahulu, seperti telah digunakan (Corbae and Ouliaris, 1988; Saikkonen, 1992).

Kelebihan dari penggunaan model kointegrasi menurut Gujarati (2003), adalah metodenya sederhana, tidak perlu dipisahkan antara variable endogen dan eksogen, estimasinya sederhana yaitu dengan menggunakan metode OLS, dan forecastingnnya lebih baik dari persamaam simultan. Akan tetapi penggunaan metode tersebut juga memiliki beberapa kelemahan, yaitu: sedikit menggunakan prior information, tidak cocok untuk analisis kebijakan, membutuhkan data yang terlalu panjang karena adanya lag, dan variabel yang digunakan harus stationer dan jika tidak stationer maka transpormasi data mengalami kesulitan.

Dari berbagai konsep integrasi, dapat diartikan bahwa harga dan pasar merupakan hal pokok yang sangat penting untuk diperhitungkan dalam

(29)

pengembangan ekonomi wilayah yang berorientasi perdagangan. Karena sinyal harga di suatu pasar dapat menunjukkan transmisi harga satu pasar dengan pasar lain sehingga tingkat integrasi harga dapat dijadikan asumsi berkerja atau tidaknya mekanisme pasar. Selain itu karena model integrasi harga dapat digunakan untuk mengukur harga di pasar produksi dengan harga di pasar konsumsi yang mempertimbangkan harga pada waktu yang lalu dan harga pada saat ini. Sehingga perubahan harga dan jumlah produk yang dipasarkan akan berubah bila terjadi perubahan harga di pasar lain, serta jika distribusi harga sepenuhnya diatur oleh kekuatan pasar, maka pedagang perantara akan selalu menyalurkan komoditas ke daerah pemasaran yang memberikan keuntungan yang lebih besar bagi pedagang.

Konsep Keunggulan Komparatif dan Keunggulan Kompetitif

Konsep daya saing (competitiveness) atau keunggulan kompetitif (competitive advantage) sejatinya bukanlah konsep ekonomi, melainkan konsep politik Sharples dan/atau konsep bisnis yang digunakan sebagai dasar bagi banyak analisis strategis untuk meningkatkan kinerja perusahaan Gonarsyah (2005).

Namun dalam perkembangannya para ekonom dan pakar lainnya (misalnya, Barkema, Drabenstotti dan Tweeten, serta Sharples) mengartikan keunggulan kompetitif merupakan kombinasi dari adanya distorsi pasar dan keunggulan komparatif (comparative advantage). Selain itu Porter (1993) menjelaskan bahwa konsep keunggulan daya saing dapat digunakan untuk melihat kemampuan suatu daerah/perusahaan untuk mempertahankan dan meningkatkan pangsa pasarnya melalui pemanfaatan keunggulan komparatifnya.

Perubahan kekuatan bersaing dapat diakibatkan oleh faktor daya saing harga dan non harga, faktor harga seperti perbedaan laju peningkatan produktivitas, perubahan nilai tukar, perubahan pajak/subsidi ekspor dan perbedaan laju peningkatan tingkat harga nasional. Sedangkan dari sisi non harga dapat ditentukan seperti laju perbaikan kualitas ekspor, pengembangan produk baru, perbedaan laju perbaikan efisiensi pemasaran, dan perbedaan perubahan pemenuhan permintaan ekspor. Apabila tidak ada analisis harga dan non-harga dalam penentuan perubahan daya saing, maka dapat digunakan pangsa ekspor suatu negara sebagai refleksi dari perubahan daya saing. Walaupun perubahan

(30)

pangsa ekspor tidak menggambarkan secara keseluruhan daya saing, namun paling tidak dapat digunakan sebagai ukuran dalam menggambarkan daya saing suatu negara di pasar internasional (Chen dan Duan, 1999).

Analisis daya saing atau keunggulan kompetitif (competitive advantage) dapat digunakan untuk mengetahui kemampuan suatu daerah untuk memasarkan produknya di luar daerah atau di pasar global. Keunggulan kompetitif tidak lagi membandingkan potensi komoditas yang sama di suatu daerah dengan daerah lainnya (seperti pada keunggulan komparatif), melainkan membandingkan potensi komoditas dari suatu daerah dalam mengakses pasar global dibandingkan potensi komoditas yang sama dari semua daerah pesaingnya dalam pasar global.

Kemampuan memasarkan barang di pasar global sangat terkait dengan tingkat harga yang berlaku, dimana harga tersebut selalu berfluktuasi. Sedangkan keunggulan komparatif tidak dipengaruhi oleh fluktuasi harga pasar global tersebut. Walaupun demikian keunggulan komparatif dapat dijadikan sebagai pertanda awal bagi suatu komoditas dalam melihat prospek untuk memiliki keunggulan kompetitif (Tarigan, 2004).

Selain itu Saragih (2001) mengungkapkan bahwa keunggulan daya saing adalah kemampuan suatu daerah/perusahaan untuk mempertahankan dan meningkatkan pangsa pasar secara menguntungkan dan berkelanjutan melalui pemanfaatan keunggulan komparatifnya. Bahkan menurut Gonarsyah (2005), memberikan pengertian yang lebih operasional tentang keunggulan daya saing, yakni kemampuan untuk memasok barang dan jasa pada waktu, tempat dan bentuk yang diinginkan konsumen, baik di pasar domestik maupun di pasar internasional, pada harga yang sama atau lebih baik dari yang dipasarkan pesaing, dengan memperoleh keuntungan paling tidak sebesar biaya oportunitas, (opportunity cost) sumberdaya yang digunakan.

Selanjutnya distorsi dapat terjadi karena adanya kebijakan pemerintah (government policy), baik yang bersifat langsung (seperti tarif) maupun tak langsung (seperti regulasi), dan/atau karena adanya ketidaksempurnaan pasar (market imperfection), misalnya adanya monopoli/monopsoni domestik.

Sementara keunggulan komparatif, yang dicirikan oleh rendahnya biaya relatif di tingkat produsen dapat terjadi karena adanya keunggulan statik (static advantage)

(31)

akibat relatif kaya akan sumberdaya alam tertentu, sumberdaya manusia dan lokasi yang strategis; atau karena adanya keunggulan pembelajaran (learning advantage) yang bersifat dinamik, yang diperoleh dari proses pendidikan, pelatihan, pengalaman dan penelitian; atau kombinasi dari keunggulan statik dan keunggulan pembelajaran, termasuk kearifan tradisional.

Oleh karena itu walaupun di tingkat produsen suatu komoditas dapat dikatakan memiliki keunggulan komparatif, karena biaya oportunitas (opportunity cost) relatif rendah, namun di tingkat konsumen komoditas tersebut dapat saja tidak memiliki daya saing (keunggulan kompetitif), hal ini karena adanya distorsi pasar dan/atau biaya transaksi yang tinggi. Atau hal sebaliknya juga dapat terjadi:

karena adanya dukungan (campur tangan) kebijakan pemerintah, suatu komoditas memiliki daya saing di tingkat konsumen padahal ia tidak memiliki keunggulan komparatif di tingkat produsen. Dengan meningkatnya proses liberalisasi perdagangan sebagaimana disepakati dalam WTO, hanya komoditas yang memiliki keunggulan komparatif yang dapat memiliki keunggulan kompetitif (daya saing), karena berbagai campur tangan pemerintah makin tidak dimungkinkan lagi akibat disepakatinya prinsip tarifikasi dalam WTO. Sementara monopoli domestik semakin tertekan oleh makin terbukanya pasar domestik akibat makin gencarnya arus globalisasi. Jadi, ke depan upaya peningkatan daya saing harus lebih bertumpu pada upaya peningkatan produktivitas dan efisiensi daripada upaya yang bersifat protektif semata (Gonarsyah, 2005).

Selain itu Arifin et al. (2007) menjelaskan bahwa rendahnya daya saing produk Indonesia di pasar internasional disebabkan oleh beberapa faktor, secara umum diantaranya: (1) rendahnya produktivitas; (2) biaya tinggi; yakni tingginya biaya yang harus dikeluarkan oleh pengusaha Indonesia dalam melakukan produksi, (3) iklim investasi yang kurang kondusif; (4) penguasaan teknologi yang masih redah, belum berkembangnya merek produk atau paten nasional; (5) penerapan hambatan tarif dan non tarif di berbagai wilayah; (6) tren peningkatan permintaan produk berkualitas tinggi (aman, sehat dan ramah lingkungan).

Oleh karena itu dalam konteks peningkatan daya saing, peran pemerintah menjadi sangat krusial, sebagai fasilitator, regulator, dan bahkan dinamisator, melalui berbagai kebijakan yang secara langsung ataupun tidak langsung guna

(32)

mendukung upaya peningkatan produktivitas dan efisiensi seperti melalui penelitian dan pengembangan, penyuluhan, peningkatan akses terhadap kredit dan pasar, perbaikan infrastruktur dan sarana informasi pasar dan sebagainya. Karena dalam perspektif jangka panjang upaya-upaya demikian lebih memberikan perlindungan (proteksi) bagi masyarakat dalam era globalisasi ini daripada kebijakan proteksi yang sempit (seperti pengenaan tarif impor).

Esensi dari keunggulan komparatif adalah efisiensi. Bagaimana kaitannya dengan aspek pemerataan (equity) dan aspek keberkelanjutan (sustainability).

Teori ekonomi mengatakan bahwa setiap keseimbangan pasar yang efisien Pareto bertumpu pada landasan bawaan awal (initial endowments). Sebagaimana diketahui, dimungkinkan terdapat tak terhingga banyaknya keseimbangan pasar yang efisien Pareto, masing-masing dengan alokasi bawaan awal yang berbeda.

Secara teoritis sebenarnya tidak ada alih tukar (trade-off) antara efisiensi pemerataan sepanjang kondisi-kondisi berikut terpenuhi, terutama (1) pasar bersifat komplit dan kompetitif sempurna, dan (2) dimungkinkan untuk melakukan transfer kekayaan di antara konsumen yang sifatnya incentive-neutral atau secara lump sum. Adanya alihtukar efisiensi-pemerataan tentunya disebabkan oleh tidak dimungkinkannya transfer pendapatan secara lump sum, dan oleh informasi yang asimetris sehingga transfer tersebut tidak baik (Gonarsyah, 2005).

Dalam prakteknya keputusan politik (konsensus nasional) lebih dominan dalam menentukan alokasi bawaan awal mana yang dipilih agar lebih dapat mencerminkan pemerataan pendapatan yang lebih “adil”. Dalam konteks inilah munculnya tuntutan akan reformasi agraria harus dipahami. Lebih jauh, kalau konklusi teoritis di atas diperluas dengan memasukkan faktor waktu dan lebih dari satu generasi, maka hasilnya adalah dimungkinkan terjadinya jalur waktu yang efisien bagi suatu perekonomian, masing-masing tergantung pada alokasi bawaan antara generasi yang berbeda.

Selanjutnya keunggulan komparatif merupakan teori yang dikembangkan untuk menunjukkan bahwa suatu negara dapat memperoleh keuntungan dari perdagangan. Prinsip teori ini menyatakan bahwa apabila sumberdaya dapat berpindah antar negara, maka penduduk di suatu wilayah akan mengkhususkan diri pada komoditas-komoditas yang dapat mereka olah secara relatif lebih efisien.

Referensi

Dokumen terkait

Setidaknya dalam menaikkan tarif listrik, pemerintah harus melihat perbedaan khususnya dari tingkat pendapatan warganya dari suatu daerah dengan daerah yang lain..

Tempat/ sarana : Bangsal Kardiologi dewasa / kardiologi anak/ CICU/ Jaga/Poli Lama stase : Selama Kardiologi dewasa / kardiologi anak/ CICU/ Jaga/ Poli Kompentensi :

Hordeolum merupakan infeksi atau peradangan pada kelenjar di tepi kelopak mata bagian atas maupun bawah yang disebabkan oleh bakteri.. Kelenjar kelopak

Apabila terdapat hubungan yang erat antarkarakter stabilitas membran dan kandungan klorofil pada suhu tinggi dengan produksi umbi pada suhu tinggi, maka pengujian terhadap

Sebagai kepanjangan tangan PI-UMKM di daerah, Lembaga Intermediasi harus memiliki fungsi peran yang diharapkan oleh PI UMKM sebagai berikut : berpengalaman dalam

Asesmen awal medis yang dilakukan sebelum pasien di rawat inap, atau sebelum tindakan pada rawat jalan di rumah sakit, tidak boleh lebih dari 30 hari, atau riwayat medis

berikut ini adalah tampilan menu form perhitungan metode SMART yang berfungsi untuk menginformasikan hasil dari perhitungan SMART untuk menentukan hasil akhir