• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tahun 2003 -2004 DAN KESEHATAN HEWAN PERLINDUNGAN TANAMAN PROGRAM NASIONAL

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Tahun 2003 -2004 DAN KESEHATAN HEWAN PERLINDUNGAN TANAMAN PROGRAM NASIONAL"

Copied!
124
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

PROGRAM NASIONAL

'

PERLINDUNGAN TANAMAN

! . .

DAN KESEHATAN HEWAN Tahun 2003 - 2004

DEPARTEMEN PERTANIAN

: 2003

(3)

TIM PENYUSUN

1. Staf Ahli Menteri Pertanian Bidang Ketenagake~aan

2. Staf Ahli Menteri Pertanian Bidang Lingkungan dan Pengembangan Wilayah

3. Biro Perencanaan dan Keuangan, Sekretariat Jenderal Departemen Pertanian ·

4. Direktorat Perlindungan Hortikultura, Direktorat Jenderal Bina Produksi Hortikultura

5. · Direktorat Perlindungan Tanaman, Direktorat Jenderal Bina Produksi Tanaman Pangan

6. Direktorat Perlindungan Perkebunan, Direktorat Jenderal Bina Produksi Perkebunan

7. Direktorat Kesehatan Hewan, Direktorat Jenderal Bina Produksi Petemakan

8. Pusat Teknik dan Metoda Karantiria, Badan Karantina Pertanian Dibantu oleh seluruh Eselon I lingkup Departemen Pertanian

(4)

KATA PENGANTAR

Dalam membangun agribisnis yang berdaya saing, kegiatan perlindungan tanaman dan kesehatan hewan, terrnasuk karantina, berperan penting dalam menjaga kuantitas, kualitas, kontinyuitas, dan nilai tambah produk pertanian.

Kegiatan perlindungan tanaman dan kesehatan hewan tidak hanya brkaitan dengan organisme pengganggu tumbuhan (OPT) dan penyakit hewan menular (PHM), tetapi juga gangguan lainnya seperti kebanjiran, kekeringan, kebakaran, anomali iklim, dan gangguan usaha berupa penjarahan produksi dan lahan. Gangguan tersebut seeara langsung dan tidak langsung mempengaruhi produksi, pemasaran hasil, dan nilai tambah produksi pertanian. Oleh karena itu program perlindungan tanaman dan kesehatan hewan harus dilakukan secara terencana dan terpadu.

Buku "Progran Perlindungan Tanaman dan Kesehatan Hewan Tahun 2003--2004" merupakan program aksi terpadu dalam kegiatan perlindungan tanaman dan kesehatan hewan. Buku ini berisi uraian tentang kebijakandan program aksi perlindungan tanaman pada subsektor tanaman pangan, hortikultura, dan perkebunan serta program aksi kesehatan hewan pada subsektor petemakan pada tahun yang bersangkutan.

Tujuan utama penyusunan buku ini adalah untuk memberikan inforrnasi dan pedoman bagi semua pihak yang berkepentingan dalam kegiatan perlindungan tanaman dan kesehatan hewan. Untuk itu saran dan dukungan semua pihak sangat diharapkan.

Jakarta, April 2003 Sekretaris Jenderal Departemen Pertanian.

t

(5)

DAFTAR lSI

Halaman

KATA Pl:NGANTAR ... ·... iii

DAFTAR lSI ... ... iv

DAFTAR LAMPIRAN ... vii

I. PENDAHULUAN ... ... ... ... 1

A. LATAR BELAKANG... 1

B. TUJUAN DAN SASARAN ... 4

1. Tujuan... 4

2. Sasaran . ... . . .. . . .. .. . ... .. . .. . . . .. . . .. . . .. .. . . ... 5

II. KEKUATAN, KELEMAHAN, PELUANG DAN TANTANGAN.. 6.

A. KEKUATAN ... 6

1. Landasan Hukum ... ... ... ... ... .. 6

2. Kelembagaan ... ;... 7

3. Sumber Daya·Manusia ... ~... 13

4. Teknologi ... 13

5. Indonesia Masih Terbebas dari PHM dan OPT Penting T ertentu . .. . ... . . .. .. . . ... .. . ... .. . . ... . . .. . . . ... . . 14

B. KELEMAHAN ... 14

1. . Pelayanan . .. . . ... . .. . . . .. . . .. . . 14

2. Koordinasi ... ... ... .... .. . . .... .. .. ... ... ... ... 14

3. Penanganan OPT dan PHM ... 14

4. Penanggulangan Dampak Anomali lklim (Kekeringan, Banjir, dan Kepakaran)... 20

5. Penjarahan Produksi dan Gangguan Usaha ... 21

(6)

6. Otonomi Daerah.. ... ... .... .. ... . 22

C. PELUANG... 22

1. Keterbukaan Sistem Perekonomian Global... 22

2. Revolusi 3 T Mempermudah Pemasaran ... .... ... ... · 23

3. Meningkatnya Permintaan Produk yang Bermutu dan Aman ... 23

4. Kerjasama PHT antar Negara ... ... 23

D. TANTANGAN ... 24

1. Persaingan Makin Meningkat dalam Sistem Perekonomian Terbuka ... 24

2. Revolusi 3 T Mempermudah Penyebaran OPT dan PHM ... 25

3. Proteksi Berupa Non Tariff Barrier... 25

Ill. KERANGKA PIKIR DAN INDIKATOR KEBERHASILAN ... 28

A. MASUKAN (INPUT) ... ... ... ... 28

B. KELUARAN (OUTPUT)... 28

C. HASIL (OUTCOME)... 29

D. MANFAAT (BENEFIT) ... ~... 29 ·

E. DAMPAK (IMPACT)... 30

IV. KEBIJAKAN DAN STRATEGI... 31

A. KEB IJAKAN ... ~... ... .. .. .. .... .. . .. . .. .. . .. . .. .. .. . .... .. . .. . .. .... .. . .. . 31

1. Aspek OPT dan PHM... 31

2. Aspek Non OPT dan PHM ... ... ... 33

B. STRA TEGI ... ... ... . ... .... .. . . .... ... 34

. 1. Pengembangan dan Pemantapan SIM... 34

. 2. Pemantapan Pengamatan dan Peramalan... 35

(7)

3. Penyediaan Teknologi yang Tepat Guna dan Spesifik

Lokasi ... 35

4. Penyediaan Sarana Perlindungan Tanaman dan Kesehatan Hewan ... ·. ... ... . 35

5. Pemberdayaan Pelaku Perlindungan Tanaman dan Kesehatan Hewan ... ·... . 36

6. Pemantapan Gerakan Pengendalian... ... .. 36

7. Peningkatan Pelayanan dan Akuntabilitas Publik .. . . 37

V. PROGRAM AKSI ... 38

A. PERLINDUNGAN TANAMAN PANGAN ... 38

1. Prioritas Kegiatan... ... ... ... ... 38

2. Jenis Kegiatan ... ... ... ... ... . 39

B. PERLINDUNGAN HORTIKUL TURA... 40

1. Prioritas Kegiatan ... ... .... .... ... .. . . . .. . . ... . .. ... ... . . 40

2. Jenis Kegiatan ... .. ... ... .. ... ... ... ... .. . .. . . .. ... .. .. . . 42

C. PERLINDUNGAN PERKEBUNAN ... 42

1. Prioritas Kegiatan... 42

2. Jenis Kegiatan . . .. . . .... ... . . ... ... .... .. ... . . .. . . .. . ... .. ... . .. . 45

D. KESEHATAN HEWAN ... :... 46

1. Prioritas Kegiatan... 46

2. Jenis Kegiatan ... ... 47

E. KARANTINA P,ERTANIAN... 50

1. Prioritas Kegiatan... 50

2. Jenis Kegiatan ... ... ... ... .. . ... 50

LAMPl RAN ... .... ... ... .... ... 53

(8)

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

Lampiran 1 Keadaan Serangan OPT dan PHM pada Tahun

2001--2002 ··· 53 Lampiran 2 Keadaan PHM di Indonesia pada Tahun

2001-2002 ... ···. ... .. ... ... .. 58 Lampiran 3 : Dampak Anomali lklim Tanaman Pangan. dan

Hortikultura pada Tahun 2001-2002... 59 Lampiran 4 Perkiraan Hotspot pada Areal Perkebunan pada

Tahun 1999-2002 ... 60 . Lampiran 5 : Kerangka Pikir Pemantapan Perlindungan

Tanaman (Pangan, i-lortikultura, Perkebunan),

Kesehatan Hewan, dan Karantina. ... 61 Lampiran 6 Penjabaran Kegiatan dari Program Nasiohal

Perlindungan Tanaman, Kesehatan Hewan, dan

Karantina Pertanian ... ... . .... ... ... . . ... .. . . ... . 62 Lampiran 7 Penjabaran Peranan Pihak Terkait dalam Program

Nasional Perlindungan. Tanaman dan Kesehatan

Hewan dan Karan tina Pertanian ... ... .. . ... .. ... 78 Lampiran 8 Penjabaran Dukungan Pihak Terkait Lingkup

Departemen Pertanian Dalam Program Nasional Perlindungan Tanaman, Kesehatan Hewan dan

Karantina Pertanian ... . ... . . .. . .. ... ... .. . . ... . . . .. . . .. . . 93 Lampiran 9 Matrik Keterkaitan Kelembagaan Antar Sektor

Dalam Perlindungan Tanaman, Kesehatan Hewan

dan Karantina Pertanian ... . ... .. . .. . . ... ... 116

(9)

I. PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Dalam sistem dan usaha agribisnis, perlindungan tanaman dan kesehatan hewan termasuk karantina tumbuhan dan hewan merupakan bagian penting, baik di "on farm" maupun "off farm". Perlindungan tanaman dan kesehatan hewan serta karantina pertanian berperan dalam menjaga kuantitas, kualitas dan kontinuitas hasil atau produksi.

Kegiatan perlindungan tanaman dan kesehatan hewan erat kaitannya tidak hanya dengan gangguan organisme p engganggu tumbuhan ( OPT).d an p enyakit hewan menu/ar (PHM); tetapi juga dengan gangguan non-OPT seperti anomali iklim (kebanjiran, kekeringan, kebakaran) dan gangguan usaha berupa penjarahan produksi dan I ahan yang k esemuanya m empengaruhi penurunan produksi baik secara langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu perlindungan tanaman dan kesehatan hewan serta karantina pertanian menjadi salah satu faktor yang harus dipertimbangkan dalam setiap usaha budidaya tanaman dan hewan.

Secara makro kerugian yang diakibatkan oleh OPT dan PHM maupun dampak anomali iklim dan gangguan usaha cukup berarti.

Dalam kurun waktu 1997-2001, serangan OPT pada tanaman padi, jagung dan kedelai telah menimbulkan kerugian sekitar Rp 463 milyar setiap tahun. Serangan OPT pada beberapa tanaman perkebunan pada tahun 1999 telah menimbulkan kehilangan produksi dengan potensi kerugian mencapai Rp 340 milyar. Sedangkan pada h ewan k erugian · akibat PHM tertentu (Rabies, Brucellocis, Hog Cholera, Ngorok dan penyakit Anthrax) pada tahun 2000 telah menimbulkan ken.igian sekitar Rp 581,7 milyar. Berdasarkan rerata serangan tahun 1999--2002, kerugian potensial di tingkat petani karena s erangan 0 PT h ortikultura (mangga, jeruk, pisang, bawang merah, cabai, kentang, kubis dan tomat) diasumsikan rata-rata sebesar Rp 1,7 triliun/tahun. · Kerugian secara nyata di lapangan tentu lebih besar karena belum mencakup

(10)

semua OPT dan PHM dilaporkan. Sementara itu secara nasional kehilangan produksi padi akibat banjir dan kekeringan mencapai 804 ribu ton GKG/th atau setara dengan Rp 1,207 triliun. Pada subsektor perkebunan . potensi kerugian akibat bencana ~dam kekeringan dan

· kebakaran pada tahun 1997/1998 menurut perhitungan World Wildlife Funds mencapai Rp 1,17 triliun. Sampai dengan akhir tahun 2000 kerugian potensial yang dialami oleh perkebunan di Sumatera akibat penjarahan produksi dan penyerobotan lahan diperkirakan mencapai Rp 3 triliun. Rincian keadaan serangan OPT dan PHM tercantum pada Lamp iran 1, anomali iklim terhadap tanaman pang an dan hortikultura tercantum pada Lampiran 2, kebakaran tercantum pada Lampiran 3, dan gangguan usaha perkebunan tercantum pada Lampiran 4.

Berbagai klaim terhadap produk ekspor. pertanian Indonesia telah menimbulkan kerugian yang cukup besar. Sebagai contoh dikenakannya penahanan otomatis (automatic detention) oleh United States Food and Drug Administration (USFDA) terhadap ekspor biji kakao Indonesia. Disamping itu .banyak klaim dan penolakan produk ekspor pertanian Indonesia akibat tidak memenuhi persyaratan Sanitary and Phytosanitary (SPS) terutama karena adanya serangga, jamur dan kotoran serta residu pestisida.

Dewasa ini telah terjadi perubahan nilai pada konsumen yang .· mempengaruhi perilaku dalam membeli suatu produk agribisnis.

Meningkatnya kesadaran konsumen akan pentingnya kaitari kesehatan dan kebugaran dengan konsumsi makanan, telah meningkatkan tuntutan konsumen akan ka~dungan nutrisi dari produk-produk yang sehat, aman dan menunjang kebugaran. Disamping itu meningkatnya kesadaran akan lingkungan hidup, telah mendorong masuknya aspek kelestarian lingkungan dan pentingnya faktor Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) dalam pengambilan keputusan ekonomi.

Penilaian terhadap aspek keselamatan, kesehatan dan lingkungan dinilai pada keseluruhan proses produksi sampai pemasaran yang dikenal dengan pendekatan Sistem Mutu dan Keamanan Pangan termasuk di dalamnya Sistem Manajemen ISO 9000 tentang Manajemen Mutu, ISO 14000 tentang Manajemen Lingkungan dan

(11)

Sistem Manajemen Keamanan Pangan yang dikenal dengan Sistem HACCP (Hazard Analysis Critical Control Point). Produk pertanian yang dalam proses produksinya tidak ramah lingkungan, tidak mengindahkan keselamatan dan kesehatan kerja serta hak-hak azasi manusia akan ditolak atau tidak diterima oleh pasar/konsumen.

lnc;lonesia telah meratifikasi berbagai konvensi internasional yang berkaitan dengan mutu komoditas pertanian, seperti lntenational Plant Protection Convention (IPPC), . Codex Alimentarius, World Trade Agreement (WTA) dan Carthagena Protocols serta yang berkaitan dengan lingkungan seperti KIT Bumi Rio de Jeniero tahun 1992.

Sebagai konsekuensinya Indonesia harus siap merealisasikannya sejak dari awal produksi sampai ke tangan konsumen.

Di samping tantangan akibat perubahan internasional, perubahan lingkungan domestik seperti d iterbitkannya U U N o.22/1999 dan PP No. 25/2000 tentang otonomi daerah juga membawa perubahan penting dalam pelaksanaan pembangunan agribisnis. Pergeseran peran pemerintah yang semula dominan dalam pemb~ngunan agribisnis berubah menjadi fasilitator, stimulator atau promotor ·agar semua stakeholder yang terkait. dapat bergerak dan berfungsi s ecara o ptimal dalam pembangunan. Peran masyarakat menjadi lebih dominan serta peran pemerintah daerah menjadi lebih besar dalam pembangunan perlindungan tanaman dan kesehatan hewan. Koordinasi dan sinkronisasi menjadi hal yang sangat periting untuk dapat terlaksananya pembangunan perlindungan tanaman dan kesehatan hewan yang · sinergi dan optimal.

Dalam kaitannya dengan pengamanan produksi, untuk mencapai sinergi yang optimal diperlukan langkah-langkah yang terencana, sistematis dan terkoordinasi yang melibatkan semua stake holder perlindungan tanaman dan kesehatan hewan. Strategi dan kebijakan serta program disusun sejalan dengan peraturan perundangan yang berlaku dengan mengacu kepada kebijakan pembangunan sistem dan usaha agribisnis; memperhatikan kepentingan semua stake holder.

Untuk itu maka peran pemerintah sebagai fasilitator, motivator dan regulator serta kepedulian, kesiapan dan komitmen seluruh stake holder

(12)

sangat diharapkan bagi keberhasilan pengamanan sistem dan usaha agribisnis.

Dengan memperhatikan perubahan lingkungan strategis internasional dan domestik, perubahan paradigma yang ada serta peraturan perundangan yang ada, maka disusun "Program Nasional Perlindungan Tanaman dan Kesehatan Hewan 2003-2004", yang • mencakup perlindungan terhadap OPT, PHM, anomali iklim, dan gangguan manusia.

Pada bagian selanjutnya dari rancangan program nasional perlindungan tanaman dan kesehatan hewan ini akan diuraikan tentang tujuan dan sasaran; kekuatan, kelemahan, peluang, dan tantangan;

kerangka pikir; kebijakan dan strategi; serta program aksi perlindungan tanaman dan kesehatan hewan.

Diharapkan dokumen ini dapat digunakan sebagai bahan rujukan atau acuan bagi instansi/organisasi/pelaku usaha masing-masing dalam pembuatan kebijakan dan pelaksanaan pembangunan perlindungan tanaman dan kesehatan hewan.

B. TUJUAN DAN SASARAN 1. Tujuan

a. Meningkatkan koordinasi dan sinkronisasi instansi pemerintah, swasta dan masyarakat terkait dalam perencanaan, pelaksanaan dan pengendalian pembangunan perlindungan tanaman dan kesehatan hewan serta karantina pertanian;

b. Mensinkronkan program dan kegiatan perlindungan tanaman dan kesehatan hewan serta karantina pertanian antar berbagai instansi a tau o rganisasi di tingkat pusat, antar instansi tingkat pusat dengan perwakilan di luar negeri, antara Pusat dan Daerah (Provinsi dan Kabupaten), dan antar daerah/wilayah;

c. Mensinergikan kegiatan perlindungan tanaman dan kesehatan hewan serta karantina pertanian yang merupakan bagian dari

(13)

sistem dan usaha agribisnis yang berdaya saing, berkerakyatan, berkelanjutan, dan terdesentralisasi.

d. Menurunkan kerugian hasil karena gangguan OPT, PHM, anomali iklim (kebanjiran, kekeringan, kebakaran) dan manusia;

meningkatkan produksr . (tanaman pangan, perkebunan, ternak) baik jumlah maupun meningkatkan pendapatan/kesejahteraan petani agribisnis lainnya.

2. Sasaran

hortikultura, mutu; serta dan pelaku ·

a. T ercapainya koordinasi dan sinkronisasi instansi pemerintah, swasta dan masyarakat terkait dalam perencanaan, pelaksanaan dan pengendalian pembangunan perlindungan tanaman dan kesehatan hewan serta karantina pertanian;

b. Terwujudnya sinkronisasi program dan kegiatan perlindungan tanaman dan kesehatan hewan serta karantina pertanian antar berbagai instansi atau organisasi di tingkat pusat, antar instansi tingkat pusat dengan perwakilan di luar negeri, antara Pusat dan Daerah (Provinsi dan Kabupaten ), dan antar daerah/wilayah;

c. Terbangunnya sinergisme kegiatan perlindungan tanaman dan kesehatan hewan serta karantina pertanian yang merupakan bagian dari sistem dan usaha agribisnis yang berdaya saing, berkerakyatan, berkelanjutan, dan terdesentralisasi.

d. Terkendalinya serangan atau gangguan OPT, PHM, anomali iklim (kebanjiran, kekeringan, kebakaran), dan gangguan manusia; meningkatkan produksi (tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, peternakan) baik jumlah maupun mutu; serta meningkatnya pendapatan dan kesejahteraan petani dan pelaku agribisnis lainnya.

(14)

II. KEKUATAN, KELEMAHAN, PELUANG, DAN TANTANGAN Upaya peningkatan kuantitas, kualitas dan kontinuitas hasil pertanian perlu memperhatikan kekuatan, kelemahan, peluang dan tantangan · baik internal maupun eksternal yang terkait dengan aspek teknis, ekonomi, sosial, budaya maupun ekologi.

A. KEKUATAN

1. Landasan Hukum

Landasan hukum . berupa peraturan perundangan yang mengatur perlindungan tanaman dan kesehatan hewan sudah cukup lengkap, yaitu:

a. UU No. 6 Tahun 1967, tentang Pokok-pokok Peternakan dan Kesehatan Hewan

b. UU No. 5 Tahun 1990, tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

c. UU No. 12 Tahun 1992, tentang Sistem Budidaya'Tanaman.

d. UU No.16 Tahun 1992, tentang Karantina Hewan, lkan dan Tumbuhan.

e. UU No.7 Tahun 1996, tentang Pangan

f. UU No. 23 Tahun 1997 tantang Pengelolaan Lingkungan Hidup g. UU Nho. 8 Tahun 1999, tentang Perlindungan Konsumen h. UU No. 22 Tahun 1999, tentang Pemerintahan Daerah.

i. PP No. 15 Tahun 1977, tentang Penolakan, Pencegahan, Pemberantasan, dan Pengobatan Penyakit Hewan.

j. pp No. 22 Tahun 1983, tentang Kesehatan Masyarakat Veteriner.

k. PP No.6 Tahun 1995, tentang Perlindungan Tanaman.

I. PP No. 25 Tahun 2000, tentang Kewenangan Pemerintahan dan Kewenangan Provinsi sebagai Daerah Otonomi

(15)

m. PP No. 82 Tahun 2000, tentang Karantina Hewan.

n. PP No. 14 Tahun 2002, tentang Karantina Tumbuhan.

o. lnpres No.3 Tahun 1986, tentang Pengendalian Hama Wereng padaTanaman Padi.

p. Kepmentan No. 487 Tahun 1981, tentang Pencegahan, Pemberantasan, dan Pengobatan Penyakit Hewan Menular.

q. Kepmentan No.422 Tahun 1988 tentang Peraturan Karantina Hewan

r. Kepmentan No.38 Tahun 1990 tentang Syarat-syarat dan Tindakan Karantina Tumbuhan untuk Pemasukan Tanaman dan Bibit Tanaman ke dalam Wilayah Negara Rl.

s. Kepmentan No. 887 Tahun 1997, tentang Pedoman Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan.

t. Kep Mentan No. 357 Tahuh 2002 tentang Perizinan Usaha Perkebunan.

u. Kep Dirjen Bun No. 38 Tahun 1995, tentang Petunjuk Teknis Pembukaan Lahan Tanpa Bakar.

v. Kep Dirjen Nak No. 103 Tahun 1998 tentang Penyakit Hewan Menular Strategis yang Ditetapkan Pengendalian dan Pemberantasannya.

2. Kelembagaan

Kelembagaan pemerintah baik di pusat maupun daerah cukup memadai walaupun bervariasi, di samping itu sudah cukup banyak kelembagaan di tingkat petani, yaitu:

a. Pusat

Badan Karantina Pertanian beserta UPT (Balai/Stasiun Karantina Hewan dan Karantina Tumbuhan)

Direktorat Perlihdungan Tanaman, Ditjen Bina Produksi Tanaman Pangan

Direktorat Perlindungan Hortikultura, Ditjen Bina Produksi Hortikultura

(16)

Direktorat Perlindungan Perkebunan, Diljen Bina Produksi Perkebunan

Direktorat Kesehatan Masyarakat Veteriner, Ditjen Bina Produksi Peternakan

Direktorat Kesehatan Hewan, Diljen Bina Produksi Peternakan

Balai Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan, Jatisari Balai Penyidikan dan Pengujian Veteriner (BPPV)

Balai Penelitian Veteriner (Balitvet)

Balai Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan (BPMSOH) Pusat Veterinaria Farma (Pusvetma)

Balai Proteksi Tanaman Perkebunan (BPTP)

Kewenangan pemerintah pusat sebagaimana diatur dalam PP No. 25 tahun 2000, secara garis besar adalah terbatas pada aspek pengaturan, penetapan standar, pedoman dan norma di bidang perlindungan tanaman dan kesehatan hewan, dengan uraian sebagai berikut :

o Karantina pertanian sepenuhnya menjadi kewenangan pemerintah pusat karena tidak dilimpahkan ke provinsi maupun kabupaten.

o Pengaturan dan pengawasan produksi, peredaran penggunaan, dan pemusnahan pestisida dan bahan kimia pertanian lainnya, obat hewan, vaksin, sera, antigen, semen · beku, dan embrio ternak.

o Penetapan pedoman untuk pemantauan standar teknis minimal rumah sakit hewan dan satuan pelayanan peternakan terpadu.

o Penetapan norma dan standar teknis pemberantasan hama (OPT) pertanian.

o Pengaturan dan penetapan norma dan standar teknis pelayanan kesehatan hewan.

(17)

o Penetapan kriteria dan standar konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya yang meliputi perlindungan, pengawetan dan pemanfaatan secara lestari di bidang perkebunan.

o Penetapan kriteria dan standar dalam penyelenggaan penggunaan dan penanggulangan bencana pada areal perkebunan.

b. Daerah Provinsi

Dinas Pertanian (Tanaman Pangan, Hortikultura, Perkebunan, Peternakan)

Laboratorium lapangan Laboratorium Hayati

UPTD Balai Proteksi Tanaman (Pangan, Hortikultura, Perkebunan),

Laboratorium Pengamatan Hama dan Penyakit Balai Pengkajian Teknologi Pertanian

Brigade Proteksi Tanaman

Laboratorium Kesehatan Masyarakat Veteriner Laboratorium Kesehatan Hewan Tipe 8

Laboratorium Pestisida dsb.

Kewenangan provinsi di bidang perlindungan tanaman dan kesehatan hewan secara garis besar sebagai berikut :

o Pengaturan dan pelaksanaan penanggulangan wabah hewan dan penyakit menular di bidang pertanian lintas kabupaten/kota.

o Pelaksanaan penyidikan penyakit dibidang pertanian lintas kabupaten /kota.

o Penyediaan dukungan pengendalian eradikasi organisme pengganggu tumbuhan di bidang pertanian.

(18)

o Pemantauan, peramalan dan pengendalian serta penanggulangan eksplosi organisme pengganggu tumbuhan dan penyakit di bidang pertanian.

o Pengawasan pestisida dan alsin.

o Pelaksanaan pengamatan, peramalan OPT dan PHT.

c. Daerah Kabupaten/Kota

Dinas Pertanian {Tanaman Pangan, Hortikultura, Perkebunan, Peternakan)

Pengamat H ama dan Penyakit (PHP) I Pengendali OPT Pokja Kebakaran dan Bencana Kekeringan dan Banjir serta Gangguan Usaha Perkebunan

Laboratorium Kesehatan Hewan Tipe C

Pusat Pelayanan Kesehatan Hewan (Pos Keswan) Unit Pelaksana Perlindungan Tanaman

dsb.

Kewenangan kabupaten/kota di bidang perlindungan tanaman dan kesehatan hewan adalah selain yang menjadi kewenangan pemerintah pusat dan provinsi seperti tersebut di atas, uraian lebih rinci adalah sebagai berikut:

.... Per/indungan tanaman

o Pengamatan, identifikasi, pemetaan, pemberantasan, dan analisis dampak kerugian OPT

o Bimbingan pengamatan, pemantauan, peramalan OPT kepada masyarakat

o Pengumpulan dan pengolahan data OPT dan agroklimat.

o Bimbingan jasa perlindungan tanaman.

o Penyebaran informasi keadaan serangan OPT dan

· rekomendasi pengendaliannya.

o Pengamatan dan pemantauan daerah yang dicurigai sebagai sumber infeksi OPT

(19)

o Menetapkan larangan pemasukan dan pengeluaran media pembawa hama dan penyakit tanaman

o Bimbingan pemanfaatan dan pemantauan penggunaan agens hayati

o Pengawasan penggunaan pestisida.

o Penetapan areal puso dan atau eksplosi OPT dan bencana banjir serta kekeringan.

o Penyediaan dukungan pengendalian dan eradikasi tanaman atau bagian tanaman.

o Pengendalian eksplosi hama dan penyakit.

o Pelaksanaan penyidikan penyakit di bidang pertanian.

o Pengaturan dan pelaksanaan penanggulangan wabah hama dan penyakit menular di bidang pertanian.

I

o . Bimbingan dan pemantauan pelaksanaan pemberantas-

an hama dan penyakit tanaman.

o Pengelolaan laboratorium hama dan penyakit.

Kesehatan hewan

o Pengawasan urusan kesejahteraan hewan.

o Pembangunan dan pengelolaan laboratorium kesehatan hewan Tipe C.

o Pembangunan dan pengelolaan pasar hewan dan unit- unit peleyanan kesehatan hewan.

o Bimbingan, pemantauan dan pengawasan pembangunan dan operasional pasar hewan dan unit-unit pelayanan kesehatan hewan.

o Pengamatan dan pencatatan . kejadian penyakit hewan lingkup kabupaten.

o Penyidikan epidemiologi penyakit hewan parasiti, bakteriawi, virus, dan penyakit hewan lainnya.

o Pemetaan penyakit hewan.

(20)

o Pemantauan dan pengawasan penerapan standar- standar teknis Pasar Hewan dan unit-unit pelayanan · kesehatan hewan.

o Pengawasan kesehatan masyarakat veteriner.

d. Petani

Tempat Pelayanan Kesehatan Hewan {TPKH) Poliklinik Hewan

Praktek Dokter Hewan Mandiri lkatan Petani Alumni PHT lkatan Petani Pemandu PHT Pelayanan Agens Hayati

Regu Pengendalian Hama (RPH) dsb.

Hubungan antar lembaga tersebut di atas tidak bersifat hierarkis atasan - bawahan tetapi bersifat komplementer pembagian tugas; sehingga bersifat hubungan koordinasi, hubungan teknis fungsional, dan hubungan konsultatif.

Kelembagaan sebagaimana diuraikan di atas memang merupakan kekuatan, namun demikian masih dijumpai kelemahan.

Kelembagaan perlindungan tanaman dan kesehatan hewan yang baik di masa mendatang perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

o Ada kelembagaan yang jelas ditugasi menangani p erlindungan tanaman dan kesehatan hewan; baik di pusat, provinsi, dan kabupaten; bahkan di kelompok petani;

o Tidak didasarkan atas komoditas (tanaman pangan, perkebunan, · hortikultura);

o Jenis dan strukturnya disesuaikan dengan tugas, fungsi dan kewenangan yang telah ditetapkan, tidak tumpang tindih tetapi juga tidak ada yang tidak tertangani;

(21)

o Karena kewajiban perlindungan tanaman dan kesehatan hewan pada prinsipnya menjadi tanggung jawab petani maka kelembagaan petani harus kuat.

3. Sumber Daya Manusia

Sebagian SDM perlindungan tanaman dan kesehatan hewan sudah terlatih dan profesional, misalnya:

a. Lebih dari satu juta petani tanaman pangan dan hortikultura telah mengikuti S LPHT dan di antaranya telah berkualifikasi sebagai petani pemandu.

b. Untuk tanaman perkebunan telah dilatih sebanyak .:!:. 40.000 petani (pelatihan penerapan PHT) untuk petani kakao, lada, teh, jambu mete, kapas, karet dan kopi.

c. Pada tahun 2002 dalam rangka pengendalian eksplosi OPT hortikulurta telah dilatih (SLPHT) sebanyak 507 petugas, 1.423 petani peniandu, dan 4.915 petani pelaku.

d. Dalam rangka pengendalian kebakaran kebun dan lahan, telah dilatih sebanyak 87 4 orang petugas yang tersebar di tingkat provinsi dan kabupaten.

e. Sebagian besar petugas karantina hewan dan tumbuhan juga telah melalui pelatihan dasar dan tehnis perkarantinaan, yang tersebar di seluruh UPT.

f. Petugas petemakan dan kesehatan hewan yang telah . dilatih dalam pengendalian dan pemberantasan penyakit hewan menular lebih k urang 1 5.000 orang m antri h ewan dan p etugas vaksinator lainnya.

Peyugas dan petani yang telah terlatih tersebut penting sebagai modal dasar pengembangan SDM perlindungan.

4. Teknologi

Sebagian teknologi perlindungan tanaman dan kesehatan hewan serta karantina pertanian (terutama untuk OPT/PHM utama)

(22)

saat ini sudah tersedia, yang dihasilkan oleh lembaga penelitian, perguruan tinggi, swasta, dan masyarakat lainnya.

5. Indonesia Masih Terbebas dari PHM dan OPT Penting Tertentu Indonesia sampai dengan saat ini diakui oleh dunia, bahwa masih be bas dari berbagai PHM dan 0 PT p enting yang t ergolong major-disease List-A Office lntemationale des Epizootie (OlE) serta Daftar OPTK Golongan I, sehingga peluang ekspor yang memenuhi persyaratan SPS-Agreement sangat besar.

B. KELEMAHAN 1. Pelayanan

Pelayanan kepada pengusaha, petani, s esama p emerintah, masyarakat lain masih belum memuaskan, masih jauh dari kriteria pelayanan prima, antara lain karena :

a. Kesadaran bahwa pemerintah lebih bersifat "fasi/itator, motivator, regulator" bukan "activisr masih belum kuat. Semangat untuk melayani pengusaha, petani, dan pelaku agribisnis lainnya belum kuat;

b. Keterbatasan pengetahuan, kemampuan, jumlah SDM, fasilitas, dan dana operasional terutama di Kabupaten/kota;

c.

Keterbatasan data dan informasi yang lengkap, akurat dan cepat, karena sistem informasi manajemen (SIM) dan Sistem lnformasi Kesehatan Hewan Nasionl (Siskeswannas) yang belum baik (padahal hal tersebut sangat dibutuhkan para pelaku bisnis dan pemerintah).

2. Koordinasi

Koordinasi antar stake holder, baik pemerintah, petani, pengusaha, maupun masyarakat lain di pusat maupun di daerah belum memenuhi harapan dalam mendukung sistem dan usaha agribisnis yang berdaya saing, berkelanjutan, berkerakyatan dan terdesentralisasi.

(23)

3. Penanganan OPT dan PHM a. Sumber Daya Manusia

Banyak tenaga perlindungan yang sudah dilatih atau disekolahkan pada saat ini penempatannya tidak sesuai. Di samping itu jumlah tenaga yang ada masih belum memadai dibanding luas wilayah yang harus dibina dan sekarang tidak merata. Misalnya di perkebunan; tenaga perlindungan untuk mendukung terlaksananya penerapan PHT saat ini berjumlah 1.459 orang, dengan rincian 282 orang tenaga Balai Proteksi Tanaman Perkebunan . (BPTP) dan 1.117 orang tenaga Satgas BPTP. Permasalahannya adalah sebaran tenaga tersebut tidak merata dan belum dapat menjangkau seluruh wilayah binaan.

Pada tanaman pangan dan hortikultura diharapkan seorang Pengamat Hama dan Penyakit (PHP) I Pengendali OPT (POPT) mempunyai wilayah kerja satu kecamatan. Saat ini jumlah PHP kurang dari 3.000 orang. Dengan banyaknya pemekaran wilayah maka jumlah kecamatan bertambah banyak, sehingga jumlah PHP yang ada tidak memadai lagi.

Standar dokter hewan memberi pelayanan pada sejumlah 2.500 unit hewan (animal unit) masih jauh untuk dapat terpenuhi karena kurangnya tenaga dokter hewan.

Sampai dengan awal 2002 telah dilatih sebanyak

4 0.000 petani untuk petani kakao, lada, teh, karet dan kopi d i 12 provinsi. Jumlah ini masih terlalu kecil bila dibanding dengan total petani yang ada {<5%) dan belum menjangkau seluruh provinsi.

Masih sangat sedikit . petani yang mengetahui cara penerapan PHT secara benar. Dalam Pronas PHT, petani yang dilatih baru sekitar 1 (satu) juta orang; sehingga jumlah tersebut kurang dari 5 % jumlah petani (sebagian besar petani tanaman pangan, sedangkan petani hortikultura sangat sedikit)

(24)

Sampai dengan 2002 jumlah petugas karantina pertanian sekitar 1600 orang (sekitar 200 orang di kantor pusat dan sisanya tersebar di seluruh UPT). Padahal kebutuhan minimal idealnya sekitar 5000 orang petugas untuk ditugaskan di 83 UPT dan lebih dari 100 tempat pemasukan/pengeluaran di seluruh wilayah Rl.

. • Banyak tenaga perlindungan tanaman dan kesehatan hewan yang telah dilatih tetapi dialihfungsikan ke tugas lainnya dan penempatannya tidak sesuai sehingga pemberantasan penyakit hewan menular tidak dapat dilaksanakan sesuai dengan target yang telah ditentukan.

b. Kelembagaan

Kelembagaan petani berupa kelompok tani I koperasi sudah banyak terbentuk, namun kondisinya banyak yang tidak aktif, belum mandiri, . dan anggotanya masih bekerja secara individu; sehingga kemampuan untuk akses keberbagai sumberdaya relatif terbatas dan belum dapat menggerakkan anggota-anggotanya secara optimal untuk melaksanakan pengendalian OPT dan PHM

c .. Penerapan PHT Belum Memadai

Petani yar)g telah mendapat pelatihan penerapan PHT, masih belum seluruhnya mau; mampu dan mandiri untuk menerapkan PHT karena antara lain: harga produk yang relatif tidak berbeda antara mutu baik dan jelek, ketersediaan sarana dan prasarana proteksi dengan tingkat harga yang tidak terjangkau, dan tidak mau mengambil resiko gagal panen;

Pengendalian OPT dan PHM masih dilakukan secara parsial, hanya pada areal proyek, tidak serentak dalam gerakan masal p ada s eluruh a real yang terserang; sehingga kurang efektif, apalagi jika OPT dan PHM tersebut mempunyai tingkat mobilitas tinggi;

(25)

Pengunaan pestisida masih berlebihan, terutama disebabkan oleh pengetahuan dan kesadaran petani yang kurang, lemahnya penyuluhan perlindungan tanaman (termasuk penggunaan pestisida), kuatnya promosi pestisida, dan konsumen yang kurang menghargai produk bebas pestisida.

d. · Penerapan PHT belum Dilandasi Total Quality Management (TQM)

Penerapan PHT dalam kerangka budidaya tanaman yang baik belum banyak memperhatikan TOM. Seharusnya penerapan PHT dirancang dengan baik, diarahkan untuk menghasilkan produk pertanian yang memenuhi persyaratan mutu yang diminta konsumen. Produk yang dihasilkan dengan TOM akan mempunyai daya saing yang tebih baik, dan selanjutnya lebih mendorong pehlasyarakatan penerapan PHT.

e. Kondisi Lingkungan

Letak geografis daerah yang terserang OPT dan PHM masih banyak yang sulit dijangkau dan terpencil (remote area), daerah rawan penyakit hewan menular sehingga menyulitkan dalam pengendalian. Juga kondisi sosial dan budaya masyarakat yang tidak sejalan dengan prinsip-prinsip penerapan PHT dan

· PHM, seringkali mengakibatkan kegagalan dalam pelaksanaan PHT dan pembera.ntasan penyait hewan menular.

f. Perangkat Perlindungan

Perangkat perlindungan tanaman di daerah cukup banyak yaitu antara lain adalah Balai Proteksi Tanaman (Pangan, Hortikuttura, Perkebunan), Laboratorium Pengamatan Hama dan Penyakit, Laboratorium Lapangan, Laboratorium Pestisida, Laboratorium Agens Hayati, Laboratorium Pengendali Hama Vertebrata, Brigade Proteksi Tanaman, Pengamat Hama dan Penyakit, Laboratorium Kesehatan Hewan dan Pos Kesehatan Hewan (Poskeswan), Poliklinik Hewan, Rumah Sakit Hewan.

(26)

Biaya operasional perpngkat perlindungan selama ini disediakan melalui proyek dan dengan terbatasnya anggaran pembangunan (APBN) biaya operasional ini semakin tidak memadai bahkan tidak tersedia, s ehingga b anyak I aboratorium yang tidak terpelihara dengan baik. Dengan adanya otonomi, beberapa daerah telah mengubah status UPT Pusat menjadi UPT Daerah (UPTD). Permasalahannya biaya untuk operasional yang dapat disediakan oleh daerah tidak memadai dan UPTD belum dapat membiayai sendiri untuk operasionalnya. Di samping itu perangkat perlindungan yang sudah terbangun sebarannya belum sepenuhnya dapat menjangkau seluruh areal perkebunan rakyat.

Demikian pula dengan karantina pertanian, belum semua UPT di daerah dilengkapi dengan sarana prasarana laboratorium yang memadai yang dapat membantu dengan cepat untuk mendeteksi ada tidaknya OPTK/Hama Penyakit Hewan Karantina.

g. Teknologi

Sebagian teknologi PHT saat ini relatif sudah tersedia, baik hasil penelitian yang dilakukan oleh Puslit/Balit, Perguruan Tinggi dan hasil dari Balai Proteksi Tanaman; namun belum banyak tersedia terutama . untuk komoditas hortikultura.

Permasalahannya teknologi tepat guna yang spesifik lokasi sesuai dengan kondisi ekonomi, sosial budaya, dan ekologi setempat belum banyak dikembangkan. Penerapan teknologi PHT masih dilakukan secara parsial terutama pada areal petani peserta proyek dan kebun di luar proyek yang lebih luas arealnya relatif belum menerapkan PHT. Pengendalian OPT secara P?rsial tidak akan efektif dan harus serentak pada seluruh hamparan yang ada, apalagi jika OPT tersebut tingkat . mobilitasnya tinggi.

(27)

h. Ketentuan dan Peraturan Perundangan .

Undang-Undang No. 12 Tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman yang dijabarkan dalam PP No.6 Tahun 1995 tentang Perlindungan Tanaman mengamanatkan bahwa perlindungan tanaman dilaksanakan dengan menerapkan sistem Pengendalian Hama Terpadu {PHT), pelaksanaannya merupakan tanggung jawab masyarakat dan pemerintah.

Pemerintah berkewajiban melakukan pembinaan untuk memberdayakan masyarakat dalam melaksanakan PHT, termasuk memberi bantuan -terbatas dalam menanggulangi eksplosi. Dengan tupoksi yang baru, khususnya di · Diijen Bina Produksi Perkebunan; fungsi perlindungan tidak hanya mancakup pengendalian OPT, tetapi juga terhadap penanganan gangguan usaha Jainnya seperti penjarahan dan penyerobotan lahan. Dengan adanya UU No. 22 Tahun 1999 dan PP No. 25 Tahun 2000, titik berat pelaksana perlindungan perkebunan menjadi kewenangan prov1ns1 dan atau kabupaten.

Permasalahannya pengaturan yang lebih rinci dan ~elas tentang kewenangan pusat, provinsi, dan kabupaten serta sistem dan prosedurnya dalam penerapan PHT dan penanganan gangguan usaha belum tersedia.

Undang-Undang No. 6 Tahun 1967 tentang Pokok-pokok Peternakan dan Kesehatan Hewan mengamanatkan bahwa perlindungan kesehatan hewan dilaksanakan dengan menerapkan sistem penolakan penyakit hewan menular;

pengamatan dan pemetaan penyakit hewan menular;

pengendalian, pencegahan dan pemberantasan penyakit hewan menular, Pengobatan dan Pengawasan Obat Hewan {POH), serta pelayanan kesehatan hewan {Medik Veteriner). Dengan adanya ketentuan tersebut maka pemberantasan penyakit hewan menular yang bersifat wabah menjadi tugas pusat, sedangkan penyakit lintas kabupaten menjadi tugas provinsi dan penyakit yang individual di tingkat kabupaten menjadi tingkat kabupaten kota.

(28)

4. Penanggulangan Dampak Anomali lklim (Kekeringan, Banjir, dan Kebakaran)

a. Peningkatan frekuensi kejadian

Frekuensi kejadian kekeringan, kebanjiran dan kebakaran cenderung · makin sering, . dan penanganannya · seringkali terlambat, karena dana yang tidak tersedia dan atau tersedia namun tidak tepat waktu.

b. Dampak semakin luas

ketidak tepatan penanggulangan tidak hanya berakibat secara ekonomi pada saat terjadi, tetapi dapat berkembang ke periode pertanaman/panen berikutnya, di samping kerawanan ekonomi juga dapat berkembang ke kerawanan sosial.

c. Peramalan kurang akurat

Data ramalan iklim yang ada tingkat akurasinya masih terbatas (sering meleset}, sehingga menyulitkan perencanaan dan pelaksanaan penanggulangan anomali iklim.

·d. Distribusi informasi belum lancar

Arus informasi/data iklim belum lancar sampai ke tingkat petani dalam waktu yang tepat.

e. Kurang kesadaran terhadap lingkungan

Pengusahaan lahan-lahan dengan kemiringan lereng yang curam (> ·30 %), pemanfaatan daerah-daerah fungsi lindung/tangkapan air, pembukaan lahan dengan pembakaran, dan penerapan teknologi budidaya yang kurang . mengindahkan

· kaidah-kaidah konservasi tanah dan air, mengakibatkan bencana kekeringan banjir, dan kebakaran semakin meningkat.

f. Keterbatasan teknologi~ sarana, dan prasarana pengendalian Terbatasnya teknologi, sarana, ·dan prasarana pengendalian bencana alam, mengakibatkan hasH yang dicapai belum optimal.

(29)

5. Penjarahan Produksi dan Gangguan Usaha

Penjarahan produksi dan gangguan usaha pada usaha budidaya pertanian telah menimbulkan pengaruh tidak langsung terhadap kehilangan produksi. Akibat gangguan usaha yang terus- menerus mengakibatkan kebun/tanaman atau ternak terganggu dan kurang terawat yang pada gilirannya produktivitasnya · akan menurun. Sampai dengan akhir tahun 2000 kerugian potensial yang dialami perkebunan di Sumatera akibat penjarahan produksi dan penyerobotan lahan diperkirakan mencapai Rp 3 triliun. ·

a. Keterbatasan kepemilikan lahan

T erbatasnya lahan yang dimiliki masyarakat dan kesempatan berusaha terutama di daerah-daerah padat penduduk, menyebabkan tekanan terhadap lahan HGU berupa okupasi lahan meningkat.

b. Euphoria reformasi yang berlebihan dan lemahnya penegakan hukum

Euphoria reformasi yang berlebihan dan lemahnya penegakan hukum menyebabkan penjarahan produksi semakin meningkat baik dalam intensitas dan volume.

c. Rencana Umum Tata Ruang (RUTR) Wilayah

RUTR . Wilayah dibuat sesudah ada perkebunan dan areal perkebunan tersebut peruntukannya sudah menjadi fungsi lain, sehingga perpanjangan/pembaharuan HGU-nya tidak.

diterbitkan.

RUTR Wilayah belum mengakomodir wilayah-wilayah pertanian dengan ekosistem khas, sehingga banyak lahan- lahan pertanian dengan ekosistem berikut plasma nutfah yang khas menjadi hilang. Contoh areal ekosistem tembakau Deli dan areal Kakao jenis Mulia di. Jember yang hanya satu- . satunya di dunia.

(30)

d. Penyelesaian gangguan usaha yang berlarut-larut

Gangguan usaha yang terus-menerus dan tidak s elesai mengakibatkan pemeliharaan kebun/tanaman atau ternak terganggu sehingga kurang t erawat yang p ada g ilirannya a kan menurunkan produktivitas.

6. Otonomi Daerah

Serangan OPT, hama dan penyakit hewan, serta bencana alam tidak mengenal batas wilayah administrasi, sehingga agar penanganannya mencapai hasil yang maksimal harus dilakukan secara simultan dan komprehensif pada seluruh wilay~h yang terkena serangan/bencana. Sementara itu prioritas kepentingan dan kepedulian antara satu wilayah provinsi/kabupaten/kotaseringkali tidak sama, sehingga dikhawatirkan dapat terjadi kesalah-pahaman dalam m enangani s uatu p ersoalan yang t imbul p ada w ilayah yang berbatasan antar dua atau lebih provinsi/kabupaten/kota yang pada akhimya dapat mengakibatkan pelaksanaan/penanganan yang kurang efisen atau tidak sinergi.

C. PELUANG

1. Keterbukaan Sistem Perekonomian Global

Dalam era globalisasi, perdagangan dan investasi tidak lagi dibatasi secara geografis. Penanaman modal asing pada · sektor pertanian akan meningkat terutama pada kegiatan yang mempunyai keunggulan kompetitif, karena lahan tersedia cukup luas, tenaga kerja cukup tersedia dan relatif murah, dan potensi pasar domestik cukup besar. Oleh karena itu Indonesia kemungkinan besar akan menjadi tempat alokasi usaha-usaha agribisnis dari perusahaan multinasional yang padat modal. Perusahaan-perusahaan raksasa ini mengisi era globalisasi dan juga didorong oleh berbpgai kebijakan pemerintah, khususnya desakan dari negara-negara maju Eropa Barat d an A merika Serikat. Perkembangan ini membangun zaman · baru dengan ciri-ciri yang sangat berbeda dengan zaman

(31)

dibentuk oleh persyaratan dari "nation state", tetapi oleh kebutuhan untuk memenuhi pasar yang menarik di mana saja berada.

Akibatnya, terjadi suatu evolusi mengarah kepada ekonomi tanpa batas negara (borderless economy) di mana region cluster yang efektif akan menjadi gaya pendorong untuk daya saing yang efektif.

Kita dapat memanfaatkan koneksi, teknologi maju, SDM, serta sarana p erlindungan t ana man dan k esehatan h ewan yang mereka miliki.

2. Revolusi 3 T Mempermudah Pemasaran

Triple-T Revolution (Transportasi, Telekomunikasi, Turisme), menyebabkan semakin terpadunya wilayah pedesaan dan perkotaan, sehingga membuat pemasarari produk-produk pertanian akan semakin efisien dan harga yang diterima petani menjadi lebih tinggi. Dengan pendapatan yang lebih tinggi itu, maka meningkat pula perhatian petani dalam hal perlindungan tanaman maupun kesehatan hewan.

3. Meningkatnya Permintaan Produk yang Bermutu dan Aman Meningkatnya tuntutan masyarakat maju, dalam maupun luar negeri, terhadap produk pertanian yang bermutu dan aman konsumsi dan mereka mau membayar lebih mahal dari pada produk biasa, memberikan peluang yang sangat baik. Teknik budidaya a man konsumsi yang seminimal m ungkin a danya

c

emaran ( residu pestisida, toksin dan cemaran lain), pertanian organik dan sejenisnya, menjadi usaha agribisnis yang berpeluang baik.

4. Kerjasama PHT antar Negara

Penerapan PHT di Indonesia telah diakui keberhasilannya oleh banyak negara dan badan dunia. Tenaga-tenaga Indonesia banyak diminta oleh banyak negara terutama di Asia dan Afrika untuk membantu menerapkan PHT di negaranya, di samping banyak petugas/petani dan lembaga negara yang datang belajar PHT di Indonesia.

(32)

Kerjasama internasional ini perlu dikembangkan karena banyak memberikan keuntungan kepada Indonesia. Salah satu keuntungan adalah mengurangi resiko masuknya OPT berbahaya dari negara lain, sebab kalau PHT berhasil diterapkan dan OPT dapat dikendalikan di negara lain secara tidak langsung mengurangi kemungkinan masuknya OPT dari negara tersebut.

D. TANTANGAN

1. Persaingan Makin Meningkat dalam Sistem Perekonomian Terbuka

Salah satu lingkungan strategis yang sangat berpengaruh terhadap laju dari arah perkembangan pembangunan pertanian adalah liberalisasi perdagangan dan investasi dunia. Keadaan ter.sebut sebagai konsekwensi disyahkannya hasil Putaran Uruguai sebagai rangkaian dari kesepakatan General Agrement of Tariff and Trade (GATTIWTO) pada tanggal15 Desember 1993 yang sudah diratifikasi oleh Pemerintah Rl seperti tertuang dalam UU No. 7 Tahun 1994. Dalam agreement tersebut, sektor pertania_n tidak lagi diperlakukan secara eksklusif dalam kerangka GATT, bentuk-bentuk proteksi baik tarif maupun non-tarif perdagangan hasil-hasil agribisnis harus dihapus. Hal ini merupakan peluang dan sekaligus sebagai tantangan. Bagi negara yang mampu meningkatkan daya saingnya, b erkesempatan untuk memperbesar pang sa pasamya di pasar domestik maupun internasional dan sebaliknya untuk negara yang tidak mampu meningkatkan daya saingnya akan terdesak oleh pesaingnya .

. Secara singkat kesepakatan GATT/WTO ini akan menimbulkan paling tidak tiga implikasi penting, yaitu:

a. Indonesia terbuka terhadap barang-barang impor produk, alat dan mesin, serta jasa pertanian;

b. Usaha agribisnis harus tl3rbuka terhadap investasi saing;.

(33)

c. Sistem dan usaha agribisnis pertanian harus mampu bertahan dan bcrsaing dalam perdagangan bebas tanpa adanya subsidi dan proteksi pemerintah.

lmplikasi pertama akan menyebabkan agribisnis di dalam negeri harus menghadapi persaingan yang lebih terbuka dengan komoditas sejenis yang berasal dari impor. Usaha agribisnis tidak boleh berharap hanya dari tersedianya "pasar domestic eksklt_Jsif' saja (captive markets) melalui pemberian dan perlindungan pemerintah. Lebih dari itu para petani juga tidak lagi memperoleh subsidi dari pemerintah (implikasi ke-2). Para petani harus dapat hidup atas kemampuan sendiri. Dengan perkataan lain dalam era liberalisasi, usaha ·agribisnis di dalam negeri harus efisien. Efisien termasuk perlindungan tanaman dan kesehatan hewan, merupakan kata kunci untuk dapat bertahan dalam era perdagangan bebas.

2. Revolusi 3 T Mempermudah Penyebaran OPT dan PHM

Seperti diketahui bahwa gelombang revolusi infomasi pada hakekatnya ditopang oleh revolusi transportasi, telekomunikasi, dan turisme (Triple-T Revolution). Revolusi inilah pendukung utama globalisasi ekonomi yang menjadi isu populer saat ini.

Di samping dampak positif, Triple-T Revolution juga mengandung ekses negatif, dalam perlindungan tanaman dan kesehatan hewan; antara lain yaitu dengan semakin meningkatnya arus perdagangan komoditas pertanian yang tidak mengenal batas antar negara dan antar area, padahal situasi penyakit di setiap negara dan setiap area berbeda-beda, maka semakin besar pula risiko masuk dan menyebamya PHM dan OPT asing ke dalam wilayah Rl dan antar area di wilayah Rl.

3. Proteksi Berupa Non Tariff Barier

Era globalisasi menjadikan masalah mutu produk menjadi lebih kompleks. . Mutu yang semula didasarkah pada aspek kenampakan (appearances) saja, pada era globalisasi ini aspek keselamatan manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan serta aspek

(34)

lingkungan (sanitary and phytosanitary!SPS, Technical Barrier to Trade!TBT) turut ambil bagian dalam penentuan standar mutu produk. Kalau aspek kenampakan produk terutama hanya ditentukan oleh kesepakatan antara penjual dan pembeli saja, maka aspek SPS dan TBT ditentukan oleh pamerintah, yang dituangkan dalanm regulasi teknik (technical regulation) seperti dilakukan oleh Pemerintah Amerika Serikat terhadap ekspor kakao Indonesia.

Sifat pasar komoditas agribisnis berubah dari atomistik ke humanistik. Konsep pasar tradisional umumnya dikenal impersonal, tidak diskriminatif, dan tidak mengandung rasa; sedangkan pada pasar humanistik pertimbangan aspek kesehatan (healthy), lingkungan (eco labelling), dan hak azasi manusja (HAM). sangat diperhatikan. Konsumen akan melakukan boikot (embargo) terhadap produk yang dinilai menimbulkan kerusakan lingkungan atau pelanggaran HAM pada saat produk tersebut dihasilkan atau diangkut.

Penilaian terhadap aspek lingkungan dan HAM dilakukan sesuai konsep keamanan pangan (food safety) atau SPS dan TBT.

Sasaran utamanya selain terjaminnya ketersediaan pangan, juga terlindunginya konsumen dari pangan yang . berbahaya bagi kesehatan. Kesadaran akan pentingnya kesehatan dan kebugaran, meningkatkan tuntutan konsumen akan produk yang memenuhi kesehatan (healthy), keamanan (safety), kebugaran (fitness).

Perubahan gaya hidup juga telah merubah pola dan gaya konsumsi p roduk a gribisnis; t idak hanya sekedar dimensi fisiologis tetapi meluas pada dimensi psikologis dan kenikmatan (amenities), yang m eningkatkan t untutan k onsumen akan keragaman dan rasa (taste) produk.

Aspek lingkungan dan HAM dinilai pada keseluruhan proses produksi sampai pemasaran yang dikenal dengan pendekatan Sistem Mutu dan Keamanan Pangan, termasuk di dalamnya Sistem Manajemen ISO 9000 tentang Manajemen Mutu dan /SO 14000 tentang Manajemen Lingkungan dan Sistem Manajemen Keamanan

(35)

Pangan yang dikenal dengan sistem HACCP (Hazard Analysis Critical Control Point). Pengembangan sistem mutu dan keamanan pangan merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah, industri yang meliputi bahan baku, i ndustri p angan, dan distributor serta konsumen (WHO. 1993).

Dengan melihat pasar dunia sebagai titik masuk analisis, maka yang menjadi persoalan utamanya adalah bagaimana meningkatkan daya saing produk pertanian di pasar global. Tanpa daya saing yang tinggi, maka produk Indonesia akan kalah bersaing di pasar intemasional dan ini akan menimbulkan dampak yang berat bagi p erekonomian Indonesia, k hususnya apabila dilihat dari sudut pandang penyerapan tenaga kerja dan penerimaan devisa negara.

Oleh karena itu menjadi hal yang sangat penting untuk melihat secara mendalam kaitan antara seluruh kebijaksanaan nasional dengan proses pembentukan daya saing produk pertanian di pasar dunia, termasuk di dalamnya adalah otonomi daerah, khususnya dikaitkan dengan pelaksanaan perlindungan tanaman dan kesehatan hewan (termasuk karantina pertanian).

Konsekuensi diratifikasinya berbagai konvensi intemasional yang berkaitan dengan mutu komoditas pertanian, seperti lntenational Plant Protection Convention (IPPC), OlE, Codex Alimentarius, World Trade Agreement (WTA), dan Carthagena Protocols; Indonesia harus siap merealisasikannya. Kemampuan Indonesia dalam melaksanakan hal tersebut masih sangat rendah.

(36)

Ill. KERANGKA PIKIR DAN INDIKATOR KEBERHASILAN

Memperhatikan keadaan perlindungan tanaman dan kesehatan hewan serta karantina pertanian dengan berbagai kekuatan, kelemahan, peluang, dan tantangan sebagaimana telah diuraikan di depan, perlu dilakukan suatu proses melalui berbagai program d~n kegiatan untuk mencapai tujuan dan sasaran seperti tersebut di depan. Untuk mempermudah pemahaman kerangka pikir (log frame), pada Lampiran 4 dicantumkan "Kerangka Pikir Pemantapan Perlindungan Tanaman (Pangan, Hortikultura, Perkebunan), Kesehatan Hewan, dan Karantina Pertanian".

Kerangka pikir sekaligus untuk menggambarkan indikator · keberhasilan program perlindungan tanaman dan kesehatan hewan secara nasional dapat diuraikan sebagai berikut:

A. MASUKAN (INPU1) Sumber daya manusia Dana operasional

Sarana dan prasarana kerja Data dan informasi

Teknologi

Peraturan/kebijakan B. KELUARAN(OUTPU7)

Kebijakan, pedoman, norma dan standar teknis perlindungan tanaman (pangan, hortikultura, perkebunan) dan kesehatan hewan;

Data dan informasi tentang OPT dan penyakit hewan yang meliputi jenis, daerah sebaran, luas/jumlah terserang, intensitas serangan, kerugian yang ditimbulkannya, upaya pengendalian dan hasilnya;

Teknologi dan rekomendasi tentang PHT dan pengendalian penyakit hewan yang tepat guna dan spesifik lokasi;

Sarana perlindungan tanaman dan kesehatan hewan antara lain pestisida, obat hewan, alat dan mesin, dan agen hayati;

(37)

Pelaku perlindungan (petugas pemerintah pusat dan daerah, petani, pengusaha dan masyarakat lain) yang lebih handal;

Sistem karantina yang in-line-inspection;

Rencana makro (program Nasional Perlindungan Tanaman dan Kesehatan Hewan dan Karantina Pertanian)

Pelayanan kepada masyarakat pelaku agribisnis.

C. HASIL {OUTCOME)

Kesamaan persepsi dan gerak langkah stakeholder perlindungan tanaman dan kesehatan hewan, terutama antara pemerintah, petani, dan pengusaha baik dipusat, propinsi, maupun kabupaten/kota;

Meningkatnya pengumpulan, analisis dan penyebaran data dan informasi perlindungan tanaman dan hewan secara lebih lengkap, lebih akurat, dan lebih cepat;

Meningkatnya ketersediaan tekhologi dan rekomendasi tentang PHT dan pengendalian penyakit hewan, yang tepat guna dan spesifik lokasi, yang dapat diterapkan dimasyarakat;

Meningkatnya kemampuan pemerintah, petani, pengusaha, dan masyarakat lainnya dalam melakukan perlindungan dengan dukungan ketersediaan sarana perlindungan yang memenuhi kriteria 6 tepat (jenis, jumlah, mutu, waktu, tempat, dan harga};

Meningkatnya pengetahuan, kemauan, dan kemampuan pelaku perlindungan tanaman dan kesehatan hewan; baik petugas pemerintah di pusat maupun daerah, petani, pengusaha, dan masyarakat lainnya;

Terbangunnya jaringan (net-working) dengan pihak-pihak terkait;

Meningkatnya pelayanan kepada pelaku agribisnis.

D. MANFAAT {BENEFIT)

Meningkatnya kemandirian petani dalam perlindungan tanaman dan hewan;

Meningkatnya antisipasi dan langkah-langkah pengendalian terhadap munculnya gangguan pada tanaman dan hewan, baik yang

(38)

disebabkan oleh OPT, penyakit hewan, manusia, maupun anomaly iklim;

Meningkatnya pemasyarakatan dan penerapan PHT dan pengendalian penyakit hewan;

Meningkatnya penggunaan pestisida dan obat hewan secara baik dan benar sekaligus menurunnya jumlah penggunaan pestisida;

Meningkatnya pengembangan dan pemanfaatan agens hayati;

Menurunnya dampak negatif terhadap kesehatan manusia dan kelestarian lingkungan akibat tindakan perlindungan tanaman dan hewan;

Meningkatnya acceptabilitas daya saing produk pertanian di pasar;

Meningkatnya sinergisme stakeholder di pusat dan daerah Berkurangnya masalah gangguan usaha;

Menurunnya kejadian kebakaran lahan;

Berkurangnya dampak negatif akibat anomali iklim (kekeringan, kebanjiran dan kebakaran)

E. DAMPAK (lMPAC1)

Menurunnya kerugian hasil tanaman dan hewan karena menurunnya serangan OPT, serangan penyakit hewan, anomali iklim; dan gangguan manusia.

Terbebasnya Indonesia terhadap OPT/PHM tertentu;

Produksi dan produktifitas tanaman dan hewan pada taraf tinggi, baik secara kuantitas maupun kualitas;

Peningkatan pendapatan dan kesejahteraan bagi petani dan pengusaha pelaku agribisnis;

• . Kesehatan manusia baik sebagai produsen maupun konsumen lebih terjamin;

Lingkungan hidup baik yang biotik maupun abiotik lebih lestari;

Terwujudnya harmonisasi antara aspek ekonomi, sosial dan lingkungan.

(39)

IV. KEBIJAKAN DAN STRATEGI

Secara garis besar kebijakan perlindungan tanaman dan kesehatan hewan serta karantina pertanian yang mencakup perlindungan terhadap OPT dan PHM serta non OPT dan PHM, yaitu:

A. KEBIJAKAN

1. Aspek OPT dan PHM

a. Tanggung Jawab Masyarakat dan Pemerintah

Perlindungan tanaman dan kesehatan hewan menjadi tanggung jawab masyarakat (petani) bersama pemerintah. Oleh karena itu kemandirian petani dalam mengambil keputusan pengelolaan OPT/PHM di lahan usaha taninya sangat penting.

Dalam hal-hal tertentu pemerintah dapat memberikan bantuan sesuai kemampuan yang ada.

b. Perlindungan Tanaman dengan Sistem PHT

Sebagaimana ditegaskan dalam UU No. 12/1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman, bahwa pelaksanaan perlindungan tanaman menggunakan sistem PHT. Sistem PHT bukan merupakan paket teknologi yang siap diterapkan di berbagai daerah secara seragam, tetapi mendorong dikembangkannya cara-cara pengendalian OPT spesifik lokasi sesuai dengan kondisi yang ada.

Paling tidak terdapat 6 kata kunci. dalam penerapan PHT yaitu: 1) keanekaragaman ekologi, sosial, ·dan budaya; 2) keuntungan ekonomi; 3) keber!anjutan produksi; 4) kualitas produksi; 5) ketahanan terhadap pengaruh faktor luar; dan 6) memandirikan masyarakat petani. Pendekatan ekologi (termasuk budaya) dan ekonomi merupakan landasan utama perlindungan tanaman.

c. Pemberantasan Penyakit Hewan Menular (PHM)

Sebagaimana yang diamanatkan dalam UU No. 6 tahun 1967 tentang Pokok-Pokok Peternakan dan Kesehatan Hewan

(40)

dan PP No. 15 tahun 1977 tentang Penolakan, Pencegahan, Pemberantasan, dan Pengobatan Penyakit Hewan; maka kebijakan pemberantasan penyakit hewan menular diarahkan untuk mengoptimalkan produktivitas dan reproduktivitas temak menuju pemenuhan gizi masyarakat yang sehat dan berkualitas, mewujudkan status kesehatan hewan yang kondusif untuk menjamin kestabilan usaha bidang peternakan dan berdaya saing, melindungi temak dari penyakit yang mengancam kelestarian hewan dan lingkungan serta mewujudkan kesehatan hewan yang profesional.

d. PHT dan P2PHM Menjiwai Sistem Budidaya dan Agribisnis Sistem PHT dan P2PHM merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan sistem budidaya tanaman dan ternak serta pengamanan hasil dalam i<erangka pengembangan agribisnis.

Sistem PHT/P2PHM harus dirancang dan dilaksanakan sejak perencanaan sampai dengan setelah panen.

e. Penanggulangan Eksplosi OPT/PHM

Dalam keadaan normal, pengendalian OPT dan pengamanan anomali iklim menjadi tanggung jawab petani sebagai pengusaha tani. Tetapi dalam keadaan eksplosi/wabah sehingga petani/kelompok tani tidak mampu . mengendalikan, pemerintah · dapat membantu sarana, peralatan atau pembiayaan;· sesuai prosedur yang telah ditetapkan. Bantuan

· dilakukan secara berjenjang sesuai kemampuan yang dimiliki . dari Pemerintah Desa, Kecamatan, Kabupaten/Kota,. Provinsi, ·

dan Pusat. Bantuan pengendalian OPT/PHM juga dapat diberikan untuk pengendalian sumber serangan.

f. Kewajiban dalam Aspek-aspek Pelayanan

Aspek-aspek pelayanan yang menjadi kewajiban pemerintah dalam perlindungan tanaman pangan antara lain informasi keberadaan dan perkembangan OPT, prakiraan yang akan datang, informasi dan penyediaan teknologi, fasilitasi agar sarana perlindungan tanaman dapat diperoleh petani. dengan

(41)

mudah, cukup, mutu baik, harga wajar, aman digunakan, serta bimbingan teknis dan aspek-aspek pelayanan yang lain.

g. Karantina Pertanian sebagai Ujung Tombak Perlindungan Tanaman dan Kesehatan Hewan

Peranan karantina pertanian yang diharapkan menjadi ujung· tombak upaya pembangunan system dan usaha agribisnis, sesuai dengan tugas dan fungsinya di lini terdepan sebagai instrumen perlindungan sumber daya hayati pertanian dan akses perdagangan bagi produk agribisnis, sehingga arah kebijaksanaan pembangunan karantina pertanian adalah sebagaiberikut:

a. Pemantapan kapasitas kelembagaan (capacity building) dan sumber daya manusia serta manajemen perkarantinaan modern,

b. Pemantapan basis peraturan perundang-undangan tentang perkarantinaan yang kuat sebagai perangkat legislasi penyelenggaraan perkarantinaan,

c. Pemantapan teknik dan metoda operasional tindakan karantina hewan dan tumbuhan, mengacu pada standar dan prosedur operasional yang berlaku internasional,

d. Pemantapan peranan karantina pertanian ·dan kualitas pelayanan masyarakat,

e. Pemantapan kerja sama yang serasi, selaras dan terpadu, baik intra · maupun inter departemen dan pihak lain yang terkait di dalam negeri serta kerja sama internasional.

2. Aspek Non OPT dan PHM

a. Pembukaan Lahan Tanpa Bakar

Pembukaan lahan untuk usaha budidaya pertanian dilakukan tanpa bakar untuk mencegah terjadinya degradasi kesuburan fisik tanah dan kemampuan menahan air serta hilangnya plasma nutfah. Pembakaran diperkenankan hanya

(42)

untuk tujuan khusus yaitu sesuai dengan ketentuan dan pedoman yang telah ditentukan.

b. Penangan Gangguan Usaha dengan Pembangunan Masyarakat (Community Development)

Pemecahan/penyelesaian gangguan usaha disesuaikan dengan kondisi masing-masing wilayah yang melatarbelakangi terjadinya konflik dimaksud. Penyelesaian konflik dilakukan dengan pendekatan "win-win solution", dengan memperhatikan aspek hukum dan modal sosial setempat (budaya, kelembagaan dan kearifan lokal); misalnya d~lam bentuk pengembangan usaha agribisnis yang dapat memberikan perolehan manfaat bersama (corporate community) dan pemberdayaan masyarakat.

c. Penanganan Bencana Alam (Banjir dan Kekeringan) dengan Pelestarian Lingkungan Hidup

Penanganan bencana alam (kekeringan dan banjir) ditekankan kepada pencegahan melalui penerapan pelestarian lingkungan antara lain. seperti penghijauan daerah fungsi lindung dan tangkapan air dengan tanaman keras/tahunan yang mempunyai nilai ekonomis, penerapan teknologi budidaya yang_

memperhatikan kaidah-kaidah konservasi . tanah dan air, menghindari pemanfaatan lahan dengan kemiringan lereng lebih dari 30° untuk tanaman pangan dan kemiringan lereng lebih dari 45° untuk lahan perkebunan.

B. STRATEGI

Starategi yang diterapkan dal_am melaksanakan kebijaksanaan di atas pada dasarnya adalah penguatan atau pemantapan subsistem - subsistem dalam sistem perlindungan tanaman dan kesehatan hewan, maupun karantina pertanian yaitu:

1. Pengembangan dan Pemantapan SIM

Data dan informasi sangat penting dalam pengambilan keputusan oleh semua stakeholder baik di tingkat perencanaan,

(43)

pelaksanaan, pengawasan, maupun evaluasi. Arus data dan informasi dari lapangan, kecamatan, kabupatenlkota, provinsi, pusat maupun luar negeri perlu dimantapkan dalam sistem informasi manajemen (SIM) perlindungan yang handal. Pengumpulan, pengolahan, penyajian, penyeb~rluasan data dan informasi perlu ditingkatkan menjadi lebih akurat, lengkap, dan cepat. ·

2. Pemantapan Pengamatan dan Peramalan

Pengamatan diarahkan untuk mengetahui dengan cepat, lengkap dan akurat tentang apa jenis gangguan OPT I PHM I anomali iklim I gangguan manusia, menyerang tanaman I hewan apa, di mana, dan kapan; yang mencakup intensitas, luas, dan kerugian yang ditimbulkan serta perkembangannya. Hasil pengamatan digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan pengendalian dan tindakan lain yang diperlukan.

Peramalan. diarahkan untuk memperkirakan perkembangan serangan OPT I PHM, perkembangan iklim dan dampak anomalinya, baik jangka pendek maupun jangka panjang, sehingga dapat diambil tindakan antisipatif yang tepat; dalam hal ini antara lain perlunya peringatan dini (early warning system) .

3. Penyediaan Teknologi yang Tepat Guna dan Spesifik Lokasi Teknologi perlindungan tanaman dan kesehatan hewan yang spesifik lokasi dan dapat diterapkan oleh masyarakan dengan mudah, efektif, murah dan aman sangat diperlukan. Dewasa ini teknologi yang tersedia pada umumnya bersifat umum dan banyak yang sulit diterapkan masyarakat, di samping itu masih sangat banyak yang bel urn tersedia teknologinya.

4. Penyediaan Sarana Perlindungan Tanaman dan Kesehatan Hewan

Sarana perlindungan tanaman dan kesehatan hewan baik untuk pencegahan, pengendalian maupun eradikasi (misalnya pestisida, obat hewan, alat dan mesin, agens hayati), perlu diusahakan memenuhi kriteria 6 tepat yaitu tepat jenis, mutu, waktu,

(44)

jumlah, tempat, dan harga, sehingga masyarakat dapat menggunakannya dengan mudah, efektif, murah, dan aman.

Penggunaan pestisida dan obat hewan cenderung masih berlebihan, belum sepenuhnya sesuai dengan sistem PHT. Untuk mengurangi dampak negatif penggunaan pestisida, ditempuh antara lain dengan:

a. Pestisida yang dizinkan Menteri Pertanian harus jenis yang lebih aman terhadap manusia dan lingkungan hidup, lebih efektif terhadap OPT tanaman dan tidak meninggalkan residu yang berlebihan.

b. Peningkatan pelatihan dan penyuluhan kepada petani.

c. Pengawasan dalam pembuatan, peredaran, penggunaan dan pemusnahan.

d. Peningkatan pemasyarakatan PHT

5. Pemberdayaan Pelaku Perlindungan Tanaman dan Kesehatan Hew an

Pelaku perlindungan tanmaman atau kesehatan hewan adalah komponen yang paling strategis dan menentukan. Pelaku disini dapat diartikan sebagai lembaga maupun perorangannya, meliputi pemerintah (pusat I provinsi I kabupaten I kota), petani, pengusaha, dan masyarakat lain. Pemberdayaan pelaku antara lain dapat dilakukan melalui pendidikan, pelatihan, kursus, penyuluh<im, seminarllokakarya, penerangan, sekolah lapang, dan apresiasi.

6. Pemantapan Gerakan Pengendalian

. Gerakan pengendalian OPT I PHM di lapangan pada dasarnya tanggung jawab petani. Oleh karena itu pelaksanaan pengendalian OPTIPHM di lapangan oleh petani baik secara individual maupun masal sangat penting ditingkatkan dan dimantapkan. Pemerintah memfasilitasi dan dapat memberikan bantuan dalam hal terjadi ekplosi/wabah. Tindakan pengendalian seharusnya sesuai dengan prinsip-prinsip PHT/P2PHM dan diusahakan bersama-sama tidak parsial. Peranan pemerintah

Referensi

Dokumen terkait

Potongan harga merupakan diskon produk atau harga marginal rendah yang diberikan untuk mempengaruhi konsumen dalam berbelanja agar lebih impulsif Iqbal

No Judul Jenis Karya Penyelenggara/ Penerbit/Jurnal Tanggal/ Tahun Ketua/ Anggota Tim Sumber Dana Keterangan 1 NA NA NA NA NA NA NA GL. KEGIATAN

Pemerintah kota bukan pemilik tanah negara, karena tidak dapat menunjukkan bukti legal dalam persidangan sehingga warga pemegang surat hijau menurut hukum tidak ada

Membahas mengenai Corporate Social Responsibility (CSR), Aprida mengemukakan bahwa CSR atau tanggung jawab sosial perusahaan merupakan bentuk komitmen perusahaan

Perbandingan grafik arus pada kedua regulator saat menggerakkan satu jari, perbedaan pada keduanya tidak memiliki selisih yang jauh.. Tetapi startup regulator UBEC arus terukur

Jumlah banyaknya pupuk K yang diberikan untuk memperoleh hasil yang maksimum ataupun yang lebih menguntungkan tergantung kepada beberapa hal seperti : jenis tanaman yang

naik kepermukaan dan menyebabkan adanya aspal bebas pada permukaan perkerasan, disamping juga kadar aspal yang berlebih dalam campuran yang disebabkan oleh menyatunya lapisan HRS

Uji ARCH LM untuk Estimasi Model GARCH (1,1) pada periode 2, menunjukkan nilai Obs*R2 sebesar 0.113976 dengan tingkat signifikansi lebih besar dari 10%, yang berarti, tidak