• Tidak ada hasil yang ditemukan

SKRIPSI PENGARUH PROFITABILITAS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "SKRIPSI PENGARUH PROFITABILITAS"

Copied!
97
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH PROFITABILITAS, LEVERAGE DAN UKURAN PERUSAHAAN TERHADAP NILAI PERUSAHAAN

DENGAN CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY SEBAGAI VARIABEL MODERASI

(STUDI KASUS PADA PERUSAHAAN SEKTOR PERTAMBANGAN YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA PERIODE 2015-2019)

OLEH

ROSDIANA MIRANDA 170502122

PROGRAM STUDI STRATA 1 MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN 2021

(2)
(3)
(4)
(5)

i

PENGARUH PROFITABILITAS, LEVERAGE DAN UKURAN PERUSAHAAN TERHADAP NILAI PERUSAHAAN

DENGAN CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY SEBAGAI VARIABEL MODERASI

(STUDI KASUS PADA PERUSAHAAN SEKTOR PERTAMBANGAN YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA PERIODE 2015-2019) Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh Return on Equity (ROE), Debt to Equity Ratio (DER), dan Total Asset Terhadap Nilai Perusahaan dengan Corporate Social Responsibility sebagai variabel moderasi studi pada perusahaan sektor pertambangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2015-2019. Penelitian ini merupakan penelitian asosiatif dan jenis data yang digunakan adalah data kuantitatif yang diperoleh dari laporan tahunan perusahaan yang telah diaudit di Bursa Efek Indonesia selama periode penelitian.

Populasi penelitian ini adalah seluruh perusahaan sektor pertambangan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia periode 2015-2019. Jumlah populasi perusahaan tersebut adalah sebanyak 38 perusahaan. Berdasarkan metode purposive sampling jumlah observasi yang memenuhi kriteria sampel adalah sebanyak 65 observasi yang dilakukan oleh 13 perusahaan. Teknik analisis yang digunakan adalah teknik Stuctural Equation Model dengan PLS (SEM-PLS). Hasil penelitian menunjukkan Return on Equity secara parsial berpengaruh positif signifikan terhadap nilai perusahaan pada perusahaan sektor pertambangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2015-2019, Debt to Equity Ratio dan Total Asset secara parsial berpengaruh positif tidak signifikan terhadap nilai perusahaan pada perusahaan sektor pertambangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2015-2019.

Hasil uji parsial dengan variabel moderasi adalah bahwa Corporate Social Responsibility dapat memoderasi pengaruh Return on Equity dan Debt to Equity Ratio secara positif dan signifikan terhadap nilai perusahaan pada perusahaan sektor pertambangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2015-2019 tetapi tidak dapat memoderasi pengaruh Total Asset terhadap nilai perusahaan pada perusahaan sektor pertambangan yang terdaftar di BEI periode 2015-2019.

Kata Kunci: Return on Equity, Debt to Equity Ratio, Total Asset, Corporate Social Responsibility, Nilai perusahaan

(6)

ii

THE INFLUENCE OF PROFITABILITY, LEVERAGE, AND FIRM SIZE ON FIRM VALUE WITH CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY

AS MODERATING VARIABEL

(STUDY ON MINING SECTOR COMPANIES LISTED ON INDONESIA STOCK EXCHANGE FOR THE PERIOD 2015-2019)

The purpose of this study was to determine and analyze the effect of Return on Equity (ROE), Debt to Equity Ratio (DER), and Total Asset on Firm Value with Corporate Social Responsibility (CSR) as a moderating variabel studied in mining sector companies listed on Indonesia Stock Exchange for the period of 2015-2019.

This research is an associative research and the type of data used is quantitative data obtained from the company’s annual reports that have been audited on Indonesia Stock Exchange during the study period. The population of this research is all mining sector companies that are listed on Indonesia Stock Exchange for the period of 2015-2019. The total population of the company is 38 companies. Based on purposive sampling method the number of observation that meet the sample criteria is 65 observations made by 13 companies. The analysis technique used is Structural Equation Model with PLS (SEM-PLS). The result showed that the Return on Equity partially has a positif and significant effect on firm value in mining sector companies listed on Indonesia Stock Exchange for the period 2015-2019, Debt to Equity Ratio and Total Asset partially have a positif and insignificant effect on firm value in mining sector companies listed on Indonesia Stock Exchange for the period 2015-2019. The result of the partial test with moderating variable indicate that Corporate Social Responsibility can moderate the effect of Return on Equity and Debt to Equity Ratio positive and significant on firm value in mining sector companies listed on Indonesia Stock Exchange for the period 2015-2019 but can not moderate the effect of Total Asset on firm value in mining sector companies listed on Indonesia Stock Exchange for the period 2015-2019.

Keywords: Return on Equity, Debt to Equity Ratio, Total Asset, Corporate Social Responsibility, Firm Value

(7)

iii

Segala puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat dan kasih yang diberikan kepada peneliti sehingga dapat menyelesaikan perkuliahan dan penelitian skripsi ini, dengan judul “Pengaruh Profitabilias, Leverage, dan Ukuran Perusahaan Terhadap Nilai Perusahaan dengan Corporate Social Responsibility Sebagai Variabel Moderasi (Studi Kasus pada Perusahaan Sektor Pertambangan Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Periode 2015- 2019)" guna memenuhi salah satu syarat dalam memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

Peneliti mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada kedua orang tua, Bapak Pardamean Turnip dan Ibu Erika Samosir yang telah memberikan dukungan moral dan material, semangat dan pengertian, peneliti mengucapkan terima kasih yang tulus dan tak terhingga kepada kedua orang tua.

Pada kesempatan ini peneliti juga mengucapkan terima kasih kepada:

1. Bapak Dr. Fadli, SE, M.Si, selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

2. Ibu Dr. Khaira Amalia Fachrudin, SE, MBA, AK dan Ibu Inneke Qamariah, SE, M.Si, selaku Ketua dan Sekretaris Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

3. Bapak Dr. Amlys Syahputra Silalahi, SE, M.Si, selaku Dosen Pembimbing yang telah sangat banyak meluangkan waktunya ditengah kesibukan untuk memberikan bimbingan, arahan dan saran dalam penulisan skripsi ini.

4. Ibu Beby Kendida Hasibuan, SE, M.Si, dan Ibu Dra. Lisa Marlina, M.Si, selaku

(8)

iv

5. Seluruh Dosen dan Staf di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara untuk segala jasanya selama perkuliahan.

6. Teristimewa kepada keluarga Kakak tersayang Giovani Turnip dan Maria Turnip, Abang tersayang Gionini Turnip dan Pebrualdo Turnip yang selalu mendukung peneliti.

7. Kepada teman-teman peneliti, teristimewa teman-teman diskusi tugas peneliti, Grace Purba, Rini Wulandari, Rizka Nurul dan Vina Amanda, teman bimbingan peneliti, Alvin, Cheryl Natalie, Dina Liviana, dan Princess Can, dan juga semua teman peneliti selama perkuliahan, peneliti mengucapkan terima kasih atas segala kerja sama, semangat dan dukungan yang diberikan.

Semoga Tuhan Yang Maha Esa memberikan balasan atas kebaikan- kebaikan yang telah diberikan kepada peneliti baik di dunia maupun di akhirat kelak. Peneliti menyadari sepenuhnya skripsi ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik yang bersifat membangun sangat peneliti harapkan demi kesempurnaan skripsi ini.

Medan, Juni 2021 Peneliti

Rosdiana Miranda 170502122

(9)

v

Halaman

ABSTRAK i

ABSTRACT ii

KATA PENGANTAR iii

DAFTAR ISI v

DAFTAR TABEL viii

DAFTAR GAMBAR ix

DAFTAR LAMPIRAN x

BAB I PENDAHULUAN 1

1.1 Latar Belakang 1

1.2 Rumusan Masalah 15

1.3 Tujuan Penelitian 15

1.4 Manfaat Penelitian 16

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 18

2.1 Landasan Teori 18

2.1.1 Teori Sinyal 18

2.1.2 Teori Stakeholder 18

2.1.3 Trade off Theory 19

2.2 Nilai Perusahaan 20

2.2.1 Pengertian Nilai Perusahaan 20

2.2.2 Skala Pengukuran Nilai Perusahaan 21

2.3 Profitabilitas 22

2.3.1 Pengertian Profitabilitas 22

2.3.2 Skala Pengukuran Profitabilitas 22

2.4 Leverage 23

2.4.1 Pengertian Leverage 23

2.4.2 Skala Pengukuran Leverage 23

2.5 Ukuran Perusahaan 24

2.5.1 Pengertian Ukuran Perusahaan 24

2.5.2 Skala Pengukuran Ukuran Perusahaan 25

2.6 Corporate Social Responsibility 25

2.6.1 Pengertian Corporate Social Responsibility 25 2.6.2 Komponen Corporate Social Responsibility 26 2.6.3 Pengungkapan Corporate Social Responsibility 28 2.6.4 Skala Pengukuran Corporate Social Responsibility 29

2.7 Penelitian Terdahulu 29

2.8 Kerangka Konseptual 32

2.8.1 Pengaruh Profitabilitas Terhadap

Nilai Perusahaan 32

2.8.2 Pengaruh Leverage Terhadap

Nilai Perusahaan 33

2.8.3 Pengaruh Ukuran Perusahaan Terhadap Nilai

(10)

vi

Nilai Perusahaan 34

2.8.5 Corporate Social Responsibility Memoderasi Pengaruh Leverage terhadap

Nilai Perusahaan 35

2.8.6 Corporate Social Responsibility Memoderasi Pengaruh Ukuran Perusahaan terhadap

Nilai Perusahaan 35

2.9 Hipotesis Penelitian 37

BAB III METODE PENELITIAN 38

3.1 Jenis Penelitian 38

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian 38

3.3 Batasan Operasional 38

3.4 Definisi Operasional 39

3.5 Populasi dan Sampel Penelitian 42

3.5.1 Populasi Penelitian 42

3.5.2 Sampel Penelitian 42

3.6 Data Penelitian 44

3.6.1 Jenis dan Sumber Data 44

3.7 Metode Pengumpulan Data 44

3.8 Teknik Analisis Data 45

3.8.1 Statistik Deskriptif 47

3.8.2 Analisa Outer Model 47

3.8.3 Analisa Inner Model 50

3.9 Pengujian Hipotesis 51

3.9.1 Uji Signifikansi Parsial (Uji-t) 51 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 54

4.1 Gambaran Umum Perusahaan 54

4.2 Analisis Deskriptif 59

4.3 Metode Path Modeling PLS (SEM-PLS) 61

4.4 Analisis Outer Model 63

4.5 Analisis Inner Model 64

4.6 Pengujian Hipotesis 65

4.5.1 Uji Signifikansi Parsial (Uji-t) 65

4.7 Pembahasan Hasil Penelitian 67

4.7.1 Pengaruh Return on Equity Terhadap

Nilai Perusahaan 67

4.7.2 Pengaruh Debt to Equity Ratio Terhadap

Nilai Perusahaan 68

4.7.3 Pengaruh Total Asset Terhadap

Nilai Perusahaan 70

4.7.4 Pengaruh Corporate Social Responsibility Dalam Memoderasi Pengaruh Return on Equity Terhadap

(11)

vii

Terhadap Nilai Perusahaan 72

4.7.6 Pengaruh Corporate Social Responsibility Dalam Memoderasi Pengaruh Total Asset Terhadap

Nilai Perusahaan 73

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 75

5.1 Kesimpulan 75

5.2 Saran 76

DAFTAR PUSTAKA 77

DAFTAR LAMPIRAN 80

(12)

viii

No. Tabel Judul Halaman

2.1 Penelitian Terdahulu 29

3.1 Definisi Operasional dan Skala Pengukuran Variabel 41 3.2 Jumlah Sampel Berdasarkan Karakteristik Sampel 43 3.3 Daftar Perusahaan Sektor Pertambangan

yang Dijadikan Sampel 43

3.4 Ringkasan Rule of Thumb Evaluasi Model Pengukuran 50 3.5 Ringkasan Rule of Thumb Evaluasi Model Struktural 51 4.1 Statistik Deskriptif Variabel Penelitian ... 59

4.2 Hasil Uji Determinasi R-Square 64

4.3 Hasil Uji Effect Size 65

4.4 Hasil Uji Signifikansi Parsial (Uji-t) 65

(13)

ix

No. Gambar Judul Halaman

1.1 PBV Perusahaan Sektor Pertambangan Tahun 2015-2019 3 1.2 ROE Perusahaan Sektor Pertambangan Periode 2015-2019 5 1.3 DER Perusahaan Sektor Pertambangan Periode 2015-2019 7 1.4 Total Asset Perusahaan Sektor Pertambangan

Periode 2015-2019 100

2.1 Kerangka Konseptual 36

3.1 Kerangka Analisis Jalur 46

4.1 Hasil Kerangka Analisis Jalur 61

(14)

x

No. Lampiran Judul Halaman

1 Daftar Perusahaan Sektor Pertambangan yang

Dijadikan Sampel ... 80 2 Statistik Deskriptif Variabel Penelitian ... 80

3 Hasil Uji R-Square 81

4 Hasil Uji Effect Size 81

5 Hasil Uji Signifikansi Parsial (Uji-t) 81

6 Data Price Book Value (PBV), Return on Equity (ROE), Debt to Equity Ratio (DER), Total Asset,

dan Corproate Social Responsibility (CSR) 82

(15)

1 1.1 Latar Belakang

Di era digital saat ini, persaingan ekonomi semakin luas dan ketat. Terjadi perluasan ekonomi yang membawa banyak perusahaan baru muncul dan menimbulkan persaingan antar perusahaan untuk menjadi pemimpin pasar.

Kemajuan dan perubahan yang terjadi juga membawa dampak yang cukup signifikan terhadap pengelolaan suatu perusahaan dan juga strategi bersaing perusahaan. Oleh karena itu, untuk dapat beradaptasi dan bertahan dalam situasi dan kondisi persaingan yang ketat, setiap perusahaan diharapkan mampu beradaptasi dan mengikuti perkembangan perekonomian. Salah satu cara perusahaan bertahan di tengah persaingan usaha yang semakin ketat ini adalah dengan terus-menerus meningkatkan nilai agar dapat bertahan melangsungkan usahanya dan mencapai tujuan.

Tujuan utama perusahaan adalah untuk memaksimalkan nilai perusahaan.

Nilai perusahaan adalah penilaian investor tentang seberapa baik keadaaan suatu perusahaan, baik kinerja maupun prospek masa depan (Brealey, Myers, & Marcus, 2007). Nilai perusahaan dapat diartikan sebagai harga yang akan dibayarkan oleh pembeli atau calon investor apabila perusahaan akan dijual. Oleh karena itu, semakin tinggi nilai perusahaan maka akan semakin besar pula kemakmuran pemegang saham.

Pada dasarnya untuk mengukur nilai perusahaan dapat melalui beberapa aspek, salah satunya adalah harga pasar saham. Harga pasar saham perusahaan mencerminkan penilaian investor secara keseluruhan atas setiap ekuitas yang dimiliki

(16)

perusahaan. Selain itu, nilai perusahaan juga dapat dihitung dengan Price to Book Value (PBV). Price to book value digunakan untuk mengetahui apakah harga saham perusahaan saat ini tergolong murah atau mahal. Semakin rendah rasio PBV artinya harga saham dianggap undervalued (murah) dan sebaliknya semakin tinggi rasio PBV artinya harga saham dianggap overvalued (mahal) (Syahyunan, 2015).

Menurut Syahyunan (2015), sejak tahun 2007 sektor pertambangan menjadi primadona bursa saham Indonesia dengan mencatat pertumbuhan yang tinggi. Oleh karena itu, sektor pertambangan merupakan salah satu sektor industri yang memberikan kontribusi besar bagi penerimaan ekonomi. Sehingga setiap perusahaan pertambangan diharapkan mampu menjaga nilai perusahaannya agar dapat tetap bertahan dalam pasar dan berkontribusi bagi pendapatan negara.

Selama periode 2015-2019 perusahaan pertambangan mengalami penurunan nilai perusahaan yang cukup signifikan pada tahun 2019. Berikut grafik rasio PBV beberapa perusahaan sektor pertambangan selama lima tahun terakhir periode 2015-2019.

Sumber: www.idx.co.id, 2021 (Data diolah)

Gambar 1.1

Price to Book Value Perusahaan Sektor Pertambangan Tahun 2015-2019

2015 2016 2017 2018 2019

ADRO 0,36 1,18 1,07 0,6 0,77

ITMG 0,56 1,67 1,8 1,53 1

PSAB 1,66 1,47 0,99 0,99 1,27

BSSR 2,01 2,45 2,71 2,9 2,07

ESSA 0,72 0,68 0,85 1,07 0,83

0,501 1,52 2,53 3,5

PBV (x)

(17)

Pada Gambar 1.1 di atas terlihat perusahaan sektor pertambangan memiliki nilai PBV yang berfluktuasi dari tahun 2015-2019. Pada tahun 2015, perusahaan dengan nilai PBV tertinggi adalah PT Baramulti Suksessarana Tbk (BSSR) dengan nilai 2,01x. Selanjutnya perusahaan dengan tingkat PBV terendah adalah PT Adaro Energy Tbk (ADRO) dengan nilai 0,36x. Nilai PBV BSSR mengalami peningkatan selama 2015-2018, tetapi setelah itu nilainya menurun pada tahun 2019 dari 2,9x menjadi 2,07x. Sementara itu, perusahaan ADRO mengalami fluktuasi selama lima tahun terakhir dengan rata-rata nilai PBV sebesar 0,79x. Penyebab penurunan dan fluktuasi nilai PBV perusahaan ini salah satunya diasumsikan karena turunnya harga batu bara sepanjang tahun 2019. Penurunan harga batu bara tersebut mengakibatkan terjadi penurunan harga saham perusahaan yang merupakan salah satu indikator PBV.

Selain penurunan harga batu bara, fenomena penurunan rasio PBV perusahaan pada sektor pertambangan juga diduga karena pengaruh kinerja keuangan perusahaan.

Perusahaan dalam perkembangan jangka panjangnya selalu berusaha untuk mempertahankan keunggulan bisnis dengan cara meningkatkan nilai perusahaan.

Peningkatan nilai perusahaan dapat dicapai dengan cara melaksanakan fungsi manajemen keuangan, dimana satu keputusan keuangan yang diambil akan memengaruhi kinerja keuangan.

Suatu perusahaan dikatakan mempunyai nilai yang baik jika kinerja keuangan perusahaan juga baik. Salah satu rasio dalam penilaian kinerja keuangan perusahaan adalah profitabilitas. Profitabilitas adalah kemampuan perusahaan menghasilkan laba.

Profitabilitas bagi perusahaan merupakan rasio yang menjadi pertimbangan bagi investor untuk melakukan investasi pada sebuah perusahaan. Profitabilitas dapat

(18)

diproksikan dengan Return on Asset atau Return on Equity. Dalam penelitian ini proksi yang digunakan adalah Return on Equity. Rasio ini menghitung kemampuan perusahaan menghasilkan laba dari ekuitas yang dimiliki perusahaan. Semakin tinggi profitabilitas maka akan semakin tinggi pula nilai perusahaan, dimana akan akan meningkatkan pula keuntungan bagi investor (Brigham & Houston, 2006).

Menurut Brigham & Houston (2006), ROE merupakan rasio yang paling penting karena pemegang saham selalu menginginkan tingkat pengembalian yang tinggi atas modal yang di investasikan dan ROE menunjukkan tingkat investasi yang akan investor peroleh. Pertumbuhan ROE menunjukkan prospek perusahaan yang menjanjikan karena mengindikasikan adanya potensi peningkatan keuntungan di masa depan. Apabila terdapat kenaikan permintaan saham suatu perusahaan, maka secara tidak langsung akan menaikkan harga saham di pasar modal dan pada akhirnya meningkatkan nilai perusahaan (Hermuningsih, 2013).

Berikut pada Gambar 1.2, grafik rasio Return On Equity beberapa perusahaan pada sektor pertambangan selama 5 tahun berturut turut periode 2015-2019.

Sumber: www.idx.co.id, 2021 (Data diolah)

Gambar 1.2

Return On Equity Perusahaan Sektor Pertambangan Periode 2015-2019

2015 2016 2017 2018 2019

ADRO 4,5 9 13,11 11,1 10,9

ITMG 7,56 14 26 27 15

PSAB 9,4 6,5 4,5 5,2 1,2

BSSR 25,13 21,53 55,25 45,96 17,89

ESSA 2,66 0,07 1,04 12,73 0,19

100 2030 4050 60

ROE (%)

(19)

Pada Gambar 1.2 di atas terlihat bahwa nilai Return on Equity (ROE) selama 5 tahun terakhir memiliki nilai yang cenderung menurun. Perusahaan dengan tingkat laba yang tertinggi adalah PT.Baramulti Suksessarana Tbk (BSSR) pada tahun 2017 yaitu sebesar 55,25%. Selain itu pada perusahaan ITMG, pada tahun 2017 nilai ROE perusahaan sebesar 26%, lalu ROE perusahaan meningkat menjadi 27% pada tahun 2018. Peningkatan ROE ini tidak sejalan dengan peningkatan PBV perusahaan yang dijelaskan pada Gambar 1.1 dimana nilai PBV perusahaan ITMG justru menurun dari 1,80x menjadi 1,53x.

Laba perusahaan adalah salah satu faktor yang dapat menciptakan nilai perusahaan. Hal ini karena penilaian prestasi perusahaan dapat dilihat dari kemampuan perusahaan menghasilkan laba. Karena pengaruhnya terhadap nilai perusahaan, beberapa peneliti telah melakukan penelitian mengenai pengaruh profitabilitas yang diukur dengan return on equity terhadap nilai perusahaan.

Penelitian mengenai pengaruh Return on Equity (ROE) terhadap nilai perusahaan menunjukkan hasil yang tidak konsisten. Pada penelitian Hermuningsih (2013), profitabilitas yang diproksikan dengan ROE memiliki hubungan positif dan signifikan terhadap nilai perusahaan. Penelitian ini didukung oleh hasil penelitian Rahmantio, Saifi, & Nurlaily (2018) dan Kusumaningrum (2016) yaitu bahwa ROE berpengaruh positif signifikan terhadap nilai perusahaan. Berbeda dengan penelitian sebelumnya, hasil penelitian Rahayu (2010) dan Sambora, Handayani, & Rahayu (2014), menunjukkan bahwa ROE berpengaruh positif tidak signifikan terhadap nilai perusahaan. Hasil ini didukung oleh hasil penelitian Manoppo & Arie (2016)

(20)

yaitu ROE berpengaruh negatif tidak signifikan terhadap nilai perusahaan.

Selain profitabilitas, untuk menghasilkan kinerja keuangan yang baik perusahaan harus memperhatikan dan mempertimbangkan keputusan tentang struktur pendanaan yang tepat (Manoppo & Arie, 2016). Salah satu sumber pendanaan bagi perusahaan adalah hutang. Kebijakan hutang terkait dengan siapa yang akan mendanai perusahaan. Hutang perusahaan diasumsikan dapat berefek positif dan negatif. Oleh karena itu, kebijakan hutang perlu dikelola.

Penggunaan hutang yang tinggi akan meningkatkan nilai perusahaan karena dapat menghemat pajak tetapi penggunaan hutang yang tinggi juga dapat menurunkan nilai perusahaan karena risiko kepailitan akan semakin besar.

(Brigham & Houston, 2006).

Salah satu rasio untuk menghitung pengunaan hutang oleh perusahaan adalah rasio leverage. Menurut Brealey, Myers, & Marcus (2007), leverage menunjukkan kemampuan perusahaan membayar seluruh kewajiban finansial.

Leverage menunjukkan seberapa besar kemampuan perusahaan dalam memenuhi segala kewajiban finansial seandainya perusahaan dilikuidasi (Agnes, 2004).

Rasio leverage dapat diproksikan dengan Debt to Equity Ratio (DER). DER merupakan rasio hutang terhadap ekuitas atau perbandingan jumlah hutang dan ekuitas perusahaan. Berikut pada Gambar 1.3 merupakan grafik rasio DER beberapa perusahaan pada sektor pertambangan selama 5 tahun periode 2015-2019.

(21)

Sumber: www.idx.co.id, 2021 (Data diolah)

Gambar 1.3

Debt to Equity Ratio Perusahaan Sektor Pertambangan Periode 2015-2019

Dari Gambar 1.3 di atas dapat dilihat bahwa DER perusahaan tertinggi selama lima tahun terakhir adalah PTSurya Esa Perkasa Tbk (ESSA) dengan nilai 2,88x pada tahun 2017. Perusahaan dengan tingkat DER terendah adalah Adaro Energy Tbk (ADRO) dengan nilai 0,1x pada tahun 2018. Walaupun memiliki nilai tertinggi dari keempat perusahaan lainnya, ESSA menunjukkan fluktuasi nilai DER dimana perusahaan mengalami penurunan cukup signifikan di tahun 2017-2018 dari 2,88x menjadi 1,93x. Penurunan rasio DER perusahaan ESSA pada 2018 tidak sejalan dengan nilai PBV perusahaan. Nilai PBV perusahaan ESSA justru meningkat pada tahun 2018. Tetapi dapat dilihat pada tahun 2019 penurunan nilai DER perusahaan ESSA sejalan dengan penurunan nilai PBV perusahaan tahun 2019. Hal ini menimbulkan asumsi bahwa ada ketidakpastian pengaruh leverage

2015 2016 2017 2018 2019

ADRO 0,78 0,72 0,67 0,10 0,10

ITMG 0,41 0,33 0,42 0,49 0,37

PSAB 1,60 1,49 1,63 1,47 1,80

BSSR 0,66 0,44 0,40 0,63 0,47

ESSA 0,52 2,20 2,88 1,93 1,90

0,00 0,50 1,00 1,50 2,00 2,50 3,00 3,50

DER (x)

(22)

terhadap nilai perusahaan.

Menurut Manoppo & Arie (2016), semakin tinggi rasio DER maka semakin besar jumlah modal pinjaman yang dapat digunakan oleh perusahaan untuk menghasilkan keuntungan bagi perusahaan. Selain itu, berdasarkan teori sinyal, perusahaan yang berkualitas baik dengan sengaja akan memberikan sinyal pada pasar, dengan demikian pasar dapat menyeleksi sendiri perusahaan mana yang berkualitas baik dan buruk jika dilihat dari jumlah hutang yang dikelola dan digunakan oleh perusahaan. Jika perusahaan mampu menunjukkan kualitas perusahaan yang baik maka diharapkan ketidakpastian berkurang, hal tersebut berdampak kepada minat investor yang semakin tinggi untuk berinvestasi pada perusahaan yang menyebabkan harga saham perusahaan tersebut meningkat dan diikuiti dengan peningkatan nilai perusahaan.

Penelitian mengenai hubungan leverage dengan nilai perusahaan telah dilakukan oleh beberapa peneliti. Salah satunya adalah penelitian Dewi &

Suputra (2019), penelitian ini menyatakan bahwa leverage yang diproksikan dengan DER berpengaruh negatif tidak signifikan terhadap nilai perusahaan.

Penelitian lain dari Wulandari & Wiksuana (2017), menyatakan bahwa DER berpengaruh positif signifikan terhadap nilai perusahaan. Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Rudangga & Sudiarta (2016). Arah positif dari hubungan pengaruh DER terhadap nilai perusahaan berarti semakin tinggi leverage maka semakin tinggi pula nilai perusahaan yang diperoleh. Penelitian ini menunjukkan perusahaan mampu melunasi hutang-hutang jangka panjangnya sehingga dapat dikatakan bahwa perusahaan sudah melakukan

(23)

kinerja terbaiknya untuk menciptakan nilai perusahaan yang baik. Berbeda dengan penelitian sebelumnya, pada penelitian Manoppo & Arie (2016) struktur modal yang diproksikan dengan DER mempunyai pengaruh positif tidak signifikan terhadap nilai perusahaan. Selain itu dalam penelitian Rahmantio, Saifi, & Nurlaily (2018) mengatakan bahwa DER memiliki pengaruh negatif tidak signifikan terhadap nilai perusahaan. Artinya besar kecilnya hutang perusahaan tidak terlalu berpengaruh terhadap nilai sebuah perusahaan.

Faktor lainnya yang harus diperhatikan dan diperhitungkan dalam meningkatkan nilai perusahaan adalah ukuran perusahaan. Ukuran perusahaan merupakan besaran total aset perusahaan. Berdasarkan total asetnya, perusahaan dikategorikan menjadi dua jenis, yaitu perusahaan berskala besar dan perusahaan berskala kecil. Bagi investor ukuran perusahaan mengindikasikan kemampuan perusahaan. Semakin besar ukuran perusahaan maka perusahaan diasumsikan akan semakin mudah perusahaan memperoleh sumber pendanaan. Selain itu, besar kecilnya perusahaan dapat secara langsung berpengaruh terhadap nilai perusahaan (Rudangga & Sudiarta, 2016).

Ukuran perusahaan dapat diproksikan dengan total aset perusahaan. Total aset perusahaan merupakan jumlah total aset atau kekayaan yang dimiliki oleh perusahaan. Berikut pada Gambar 1.4, grafik total aset beberapa perusahaan pada sektor pertambangan selama lima tahun periode 2015-2019.

(24)

Sumber: www.idx.co.id, 2021 (Data diolah).

Gambar 1 4

Total Asset Perusahaan Sektor Pertambangan Periode 2015-2019

Dapat dilihat pada Gambar 1.4, total aset perusahaan tertinggi selama lima tahun terakhir adalah perusahaan J Resources Asia Pasifik (PSAB). Perusahaan ini mengalami fluktuasi selama lima tahun terakhir. Total aset tertinggi PSAB sebesar USD 991.158.564 pada tahun 2019. Pada tahun 2016, aset perusahaan PSAB mengalami peningkatan dari USD832.633.330 pada tahun 2015 menjadi USD852.939.392. Peningkatan total aset PSAB ini tidak sejalan dengan nilai PBV perusahaan, karena dapat dilihat kembali pada Gambar 1.1, nilai PBV perusahaan PSAB pada tahun 2016 justru menurun. Sementara itu, pada tahun 2018 aset perusahaan menurun dari USD921.249.943 menjadi USD915.784.613, penurunan ini pun tidak sejalan dengan nilai PBV perusahaan.

Ukuran perusahaan yang besar mencerminkan bahwa perusahaan tersebut sedang mengalami perkembangan dan pertumbuhan yang baik. Peningkatan nilai perusahaan biasanya ditandai dengan total aktiva perusahaan yang mengalami

2015 2016 2017 2018 2019

ADRO 5959629 6522257 6814147 7060755 7217105 ITMG 1178363 1209792 1358663 1442728 1209041 PSAB 832633330 852939392 921249943 915784613 991158564 BSSR 173877318 183981910 210137454 245100202 250680316 ESSA 277845932 667090331 820794309 912036915 895312424

0 200000000 400000000 600000000 800000000 1E+09 1,2E+09

Juta USD

Total Asset

(25)

kenaikan lebih besar dibandingkan dengan jumlah hutang perusahaan. Adapun penelitian yang meneliti pengaruh ukuran perusahaan terhadap nilai perusahaan, yaitu penelitian Rudangga & Sudiarta (2016) dan Wulandari & Wiksuana (2017), hasil penelitiannya menemukan bahwa ukuran perusahaan berpengaruh positif signfikan terhadap nilai perusahaan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ukuran perusahaan yang besar bisa menjamin nilai perusahaan yang tinggi, karena perusahaaan besar diasumsikan berani melakukan investasi baru terkait dengan ekspansi, sebelum kewajiban-kewajibannya terlunasi. Berbeda dari kedua penelitian sebelumnya, penelitian Manoppo & Arie (2016) memberikan hasil bahwa ukuran perusahaan berpengaruh positif tidak signifikan terhadap nilai perusahaan. Hasil penelitian ini mengatakan bahwa ukuran perusahaan bukan merupakan pertimbangan bagi para investor dalam berinvestasi. Selain itu, hasil penelitian Rahmantio, Saifi, & Nurlaily (2018) menyatakan bahwa ukuran perusahaan berpengaruh negatif tidak signifikan terhadap nilai perusahaan.

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, sektor pertambangan merupakan salah satu sektor yang memberikan kontribusi yang besar bagi perekonomian Indonesia. Pada kuartal I tahun 2018, kontribusi sektor pertambangan mencapai 7,97% dari Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. Namun, kegiatan pertambangan untuk mengambil bahan galian lapisan bumi juga menimbulkan dampak lingkungan yang sangat besar. Beberapa masalah yang ditimbulkan dari kegiatan sektor pertambangan antara lain erosi, pencemaran aliran sungai, kerusakan struktur tanah, kerusakan ekosistem sehingga mengganggu habitat mahkluk hidup, dan menyisakan lahan kritis yang berdampak pada keselamatan

(26)

warga sekitar lahan pertambangan. (Tribun Pontianak, 2015).

Berdasarkan pemaparan di atas dan dari beberapa hasil penelitian yang tidak konsisten diduga adanya faktor lain yang turut memengaruhi hubungan profitabilitas, leverage dan ukuran perusahaan terhadap nilai perusahaan khususnya sektor pertambangan. Menurut Wijaya (dalam Wulandari & Wiksuana, 2017), pengambilan keputusan ekonomi yang hanya melihat dari sisi nilai perusahaan (corporate value) yang direfleksikan dalam kondisi keuangan suatu perusahaan saat ini sudah tidak relevan lagi. Oleh karena itu, terdapat variabel yang dapat memperkuat atau memoderasi pengaruh profitabilitas, leverage dan ukuran perusahaan terhadap nilai perusahaan khususnya sektor pertambangan yang banyak berhubungan dengan lingkungan. Variabel moderasi yang akan diteliti adalah informasi mengenai tanggung jawab sosial perusahaan dari aspek sosial, lingkungan dan keuangan.

Menurut World Business Council in Sustainable Development, Corporate Social Responsibility adalah komitmen dari perusahaan untuk berperilaku etis dan berkontribusi terhadap pembangunan ekonomi yang berkelanjutan untuk meningkatkan kualitas hidup karyawan dan keluarganya, komunitas lokal dan masyarakat luas. CSR dalam penelitian ini berfungsi sebagai variabel pemoderasi untuk melihat apakah CSR mampu memperkuat atau memperlemah hubungan antara profitabilitas, leverage dan ukuran perusahaan terhadap nilai perusahaan.

Berdasarkan teori stakeholder dinyatakan bahwa perusahaan harus melakukan pengungkapan tanggung jawab sosial kepada para stakeholder (Wulandari & Wiksuana, 2017). Pengungkapan CSR diharapkan dapat memengaruhi

(27)

keputusan investor untuk pengambilan keputusan investasi. Pada perusahaan pertambangan, dengan menerapkan CSR perusahaan diasumsikan akan dipandang baik dan akan memikat investor untuk menambah jumlah investasinya. Menurut Chen & Chen (2011), pengungkapan tanggung jawab sosial pada perusahaan pertambangan memperkuat pengaruh dari pengungkapan laporan keuangan seperti profitabilitas, leverage dan ukuran perusahaan terhadap nilai perusahaan.

Profitabilitas perusahaan yang meningkat menunjukkan perusahaan mampu mendapatkan laba yang besar. Dengan pengungkapan CSR yang dapat menarik perhatian investor maka investor akan semakin percaya dan menanamkan modalnya ke perusahaan. Hal tersebut akan berdampak pada peningkatan saham perusahaan dan akan meningkatkan nilai perusahaan. Menurut Nuswandari, Sanarto, & Jannah (2019) dalam penelitiannya, pengungkan CSR berpengaruh positif signifikan terhadap pengaruh profitabilitas terhadap nilai perusahaan. Artinya pengungkapan CSR dapat memperkuat hubungan profitabilitas terhadap nilai perusahaan.

Penelitian lainnya dari Wulandari & Wiksuana (2017) memberikan hasil bahwa CSR mampu memoderasi pengaruh profitabilitas terhadap nilai perusahaan.

Berbeda dengan dua penelitian sebelumnya, menurut Akmalia, Dio, & Hesty (2017), pengungkapan CSR tidak dapat memoderasi hubungan profitabilitas terhadap nilai perusahaan.

Leverage merupakan rasio untuk mengukur seberapa jauh operasional perusahaan dibiayai oleh hutang. Apabila perusahaan dapat mengelola hutang dengan baik guna meningkatkan keuntungan maka akan memberikan respon positif bagi investor. Jadi, meskipun tingkat hutang yang dimiliki oleh perusahaan

(28)

tergolong tinggi, tetapi terdapat hubungan yang baik antara perusahaan dan stakeholders sehingga perusahaan mampu memberikan informasi tanggung jawab sosial perusahaan yang baik (Dewi & Suputra, 2019). Menurut Wulandari &

Wiksuana (2017) dalam penelitiannya, CSR mampu memperkuat pengaruh DER terhadap nilai perusahaan. Hasil yang berbeda didapatkan dalam penelitian Dewi &

Suputra (2019) yang menemukan bahwa variabel CSR merupakan variabel moderasi yang memperlemah pengaruh leverage pada nilai perusahaan.

Ukuran perusahaan mengukur besar kecilnya perusahaan. Secara rasional perusahaan yang memiliki ukuran yang besar akan diberikan kewajiban yang besar pula untuk melakukan CSR. Oleh karena itu, perusahaan diharapkan mampu melakukan pengungkapan CSR sebagai upaya meningkatkan citra positif dan memperoleh legitimasi dan pengakuan dari para stakeholders.

Menurut Wulandari & Wiksuana (2017) dalam penelitiannya, CSR mampu memoderasi pengaruh ukuran perusahaan terhadap nilai perusahaan. Menurut penelitian Chumaidah & Priyadi (2018), variabel CSR sebagai variabel moderasi tidak dapat memoderasi hubungan ukuran perusahaan terhadap nilai perusahaan.

Artinya walaupun perusahaan mempunyai skala yang besar atau total aset yang besar, tidak menjamin perusahaan akan lebih banyak melakukan tanggung jawab sosial dan mengungkapkan CSR dalam laporan tahunan perusahaannya.

Berdasarkan latar belakang yang telah di uraikan di atas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai “Pengaruh Profitabilitas, Leverage, Dan Ukuran Perusahaan Terhadap Nilai Perusahaan Dengan Corporate Social Responsibility Sebagai Variabel Moderasi (Studi Kasus Pada Perusahaan

(29)

Sektor Pertambangan di BEI Periode 2015-2019)”.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah, maka rumusan masalah yang akan dirumuskan pada penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Apakah Profitabilitas berpengaruh secara positif signifikan terhadap nilai perusahaan sektor pertambangan di Bursa Efek Indonesia periode 2015-2019?

2. Apakah Leverage berpengaruh secara positif signifikan terhadap nilai perusahaan sektor pertambangan di Bursa Efek Indonesia periode 2015-2019?

3. Apakah Ukuran Perusahaan berpengaruh secara positif signifikan terhadap nilai perusahaan sektor pertambangan di Bursa Efek Indonesia periode 2015-2019?

4. Apakah pengungkapan Corporate Social Responsibility dapat memoderasi pengaruh profitabilitas terhadap nilai perusahaan sektor pertambangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2015-2019?

5. Apakah pengungkapan Corporate Social Responsibility dapat memoderasi pengaruh leverage terhadap nilai perusahaan sektor pertambangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2015-2019?

6. Apakah pengungkapan Corporate Social Responsibility dapat memoderasi pengaruh ukuran perusahaan terhadap nilai perusahaan sektor pertambangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2015-2019?

1.3 Tujuan Penelitian

Sesuai dengan latar belakang masalah dan perumusan masalah di atas maka

(30)

tujuan dari penelitian ini adalah:

1. Untuk menganalisis dan mengetahui pengaruh Profitabilitas terhadap nilai perusahaan sektor pertambangan di Bursa Efek Indonesia periode 2015-2019.

2. Untuk menganalisis dan mengetahui pengaruh Leverage terhadap nilai perusahaan sektor pertambangan di Bursa Efek Indonesia periode 2015-2019.

3. Untuk menganalisis dan mengetahui pengaruh Ukuran Perusahaan terhadap nilai perusahaan sektor pertambangan di Bursa Efek Indonesia periode 2015-2019.

4. Untuk menganalisis dan mengetahui apakah pengungkapan Corporate Social Responsibility dapat memoderasi pengaruh profitabilitas terhadap nilai perusahaan sektor pertambangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2015-2019.

5. Untuk menganalisis dan mengetahui apakah pengungkapan Corporate Social Responsibility dapat memoderasi pengaruh leverage terhadap nilai perusahaan sektor pertambangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2015-2019.

6. Untuk menganalisis dan mengetahui apakah pengungkapan Corporate Social Responsibility dapat memoderasi pengaruh ukuran perusahaan terhadap nilai perusahaan sektor pertambangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2015-2019.

1.4 Manfaat Penelitian

Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi beberapa pihak, adapun manfaat penelitian ini adalah:

(31)

1. Bagi Peneliti

Diharapkan penelitian ini menjadi penambah wawasan dan pengetahuan mengenai nilai perusahaan yang dipengaruhi oleh profitabilitas, leverage, dan ukuran perusahaan dengan variabel moderasi corporate social responsibility.

2. Bagi Akademisi

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi yang dijadikan bahan pertimbangan bagi akademisi dan pihak lain yang hendak meneliti khususnya penelitian selanjutnya yang berkaitan dengan nilai perusahaaan.

3. Bagi Praktisi dan Investor

Sebagai sumber informasi mengenai faktor apa saja yang dapat mempengaruhi nilai perusahaan, terutama profitabilitas, leverage dan ukuran perusahaan.

(32)

18 2.1 Landasan Teori

2.1.1 Teori Sinyal (Signaling Theory)

Dalam teori sinyal dijelaskan mengapa perusahaan berusaha untuk memberikan informasi keuangan atau laporan keuangan perusahaan kepada pihak eksternal. Perusahaan terdorong untuk memberikan informasi karena adanya asimetri informasi antara perusahaan dengan pihak eksternal. Asimetri informasi ini timbul karena kurangnya informasi yang dapat digunakan pihak eksternal mengenai kinerja perusahaan. Hal ini akhirnya menyebabkan investor memberikan penilaian rendah pada saham perusahaan.

Perusahaan dapat meningkatkan nilai dengan mengurangi informasi yang asimetris. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan memberikan sinyal pada pihak luar, contohnya seperti informasi keuangan. Pemberian informasi keuangan akan mengurangi ketidakpastian mengenai prospek perusahaan kedepannya. Selain itu, sinyal yang diberikan perusahaan dapat berupa informasi mengenai apa yang telah dilakukan oleh manajemen untuk merealisasikan keinginan investor/pemilik. Sinyal dapat berupa promosi atau informasi lain yang menyatakan bahwa perusahaan tersebut lebih baik daripada perusahaan lain (Rahayu, 2010).

2.1.2 Teori Stakeholder

Stakeholder adalah individu maupun sekelompok individu atau organisasi yang dapat mempengaruhi tujuan perusahaan dan juga dapat dipengaruhi oleh

(33)

tujuan perusahaan. Teori Stakeholder menurut Ghozali & Chariri (2007) mengatakan bahwa perusahaan bukanlah entitas yang hanya beroperasi untuk kepentingannya sendiri namun harus memberikan manfaat bagi stakeholdernya.

Menurut Kasali (2005), stakeholder dapat diklasifikasikan menjadi dua jenis, pertama stakeholder internal yaitu stakeholder yang berada di dalam organisasi, seperti karyawan, manajer dan pemegang saham (shareholder) yang kedua adalah stakeholder eksternal yaitu stakeholder yang berada diluar organisasi seperti pemasok, konsumen, masyarakat dan pemerintah.

Perusahaan harus menjaga hubungan dengan stakeholdernya. Salah satu cara yang dapat dilakukan perusahaan adalah dengan mengakomodasi keinginan dan kebutuhan stakeholder, terutama stakeholder yang mempunyai power terhadap ketersediaan sumber daya yang digunakan untuk aktivitas operasional perusahaan, misalnya tenaga kerja pasar atas produk perusahaan dan lain-lain. Salah satu strategi untuk menjaga hubungan dengan para stakeholder perusahaan adalah dengan melaksanakan CSR, dengan melaksanakan CSR diharapkan keinginan dari stakeholder dapat terakomodasi sehingga akan menghasilkan hubungan yang baik antar perusahaan dengan para stakeholder dan dapat meningkatkan nilai perusahaan. Jadi, dapat dikatakan bahwa keberadaan dan keberlangsungan suatu perusahaan sangat dipengaruhi oleh dukungan yang diberikan oleh stakeholder kepada perusahaan tersebut (Ghozali & Chariri, 2007).

2.1.3 Trade Off Theory

Menurut Brigham & Houston (2001), trade off theory merupakan model struktur modal yang mempunyai asumsi bahwa struktur modal perusahaan

(34)

merupakan keseimbangan antara keuntungan penggunaan hutang dengan biaya financial distress (kesulitan keuangan) dan agency cost (biaya keagenan) atau dapat dikatakan bahwa trade off theory adalah teori mengenai struktur modal yang didasarkan pada pertukaran antara keuntungan dan kerugian penggunaan hutang.

Teori trade off juga disebut teori pertukaran leverage di mana perusahaan menukar manfaat pajak dari pendanaan hutang dengan masalah yang ditimbulkan oleh potensi kebangkrutan (Brigham & Houston, 2001). Hutang yang menimbulkan beban bunga akan dapat menghemat pajak. Beban bunga dapat dikurangkan dari pendapatan sehingga laba sebelum pajak akan menjadi lebih kecil yang mengakibatkan pajak yang harus dibayarkan perusahaan juga semakin kecil.

Penggunaan hutang yang dapat mengurangi pajak ini dikarenakan sifat tax deductibility of interest payment.

Perusahaan berdasarkan trade off theory akan berusaha mengoptimalkan leverage sampai tingkat tertentu untuk memaksimalkan nilai perusahaan dengan memanfaatkan pajak akibat penggunaan hutang (Mahardika & Aisjah, 2014).

Sejauh manfaat yang diterima perusahaan lebih besar dari pengorbanan yang dilakukan maka penambahan hutang akan diperkenankan untuk memaksimumkan nilai pasar.

2.2 Nilai Perusahaan

2.2.1 Pengertian Nilai Perusahaan

Nilai perusahaan dapat diartikan sebagai besaran harga perusahaan ketika perusahaan dijual. Dari sisi investor, nilai perusahaan merupakan tingkat keberhasilan perusahaan yang dilihat dari harga sahamnya. Harga saham yang

(35)

tinggi membuat nilai perusahaan tinggi dan meningkatkan kepercayaan pasar, tidak hanya terhadap kinerja perusahaan saat ini namun juga pada prospek perusahaan di masa depan. Harga pasar saham mencerminkan penilaian investor dan sebagai barometer kinerja manajemen perusahaan. Peningkatan harga saham akan meningkatkan nilai perusahaan yang pada akhirnya akan memberikan tingkat pengembalian yang tinggi bagi pemegang saham (Rudangga & Sudiarta, 2016).

Meningkatkan nilai perusahaan merupakan tujuan utama perusahaan. Hal ini karena nilai perusahaan dapat memberikan kemakmuran bagi pemegang saham secara maksimal. Dapat dikatakan pula bahwa nilai perusahaan digunakan sebagai indikator bagi pasar untuk menilai perusahaan secara keseluruhan (M & Priantinah, 2012).

2.2.2 Skala Pengukuran Nilai Perusahaan

Nilai perusahaan dapat diukur dengan rasio Price Book Value (PBV). PBV merupakan salah satu rasio yang dapat digunakan investor dalam menganalisis saham perusahaan. Investor menggunakan rasio ini dalam menganalisis fundamental perusahaan, karena rasio ini dapat mewakili kinerja perusahaan. PBV dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut:

Price Book Value = 𝑯𝒂𝒓𝒈𝒂 𝒑𝒆𝒓 𝑳𝒆𝒎𝒃𝒂𝒓 𝑺𝒂𝒉𝒂𝒎 𝑵𝒊𝒍𝒂𝒊 𝑩𝒖𝒌𝒖 𝒑𝒆𝒓 𝑳𝒆𝒎𝒃𝒂𝒓 𝑺𝒂𝒉𝒂𝒎

PBV adalah perbandingan antara harga saham dengan nilai buku per lembar saham. Menurut Syahyunan (2015), PBV dapat digunakan untuk mengetahui apakah harga suatu saham saat ini murah atau mahal. Semakin rendah rasio PBV artinya harga saham dianggap undervalued (murah) dan sebaliknya semakin tinggi rasio PBV artinya harga saham dianggap overvalued (mahal).

(36)

2.3 Profitabilitas

2.3.1 Pengertian Profitabilitas

Pada prinsipnya tujuan perusahaan dalam operasionalnya adalah untuk memaksimalkan profit atau keuntungan. Menurut Brigham & Houston (2006), profitabilitas adalah hasil akhir dari sejumlah kebijakan dan keputusan yang dilakukan oleh perusahaan. Profitabilitas menunjukkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan dan mengukur tingkat efisiensi dalam penggunaan aset/ekuitas yang dimiliki.

Peningkatan profitabilitas menunjukkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan yang tinggi bagi pemegang saham. Profitabilitas yang tinggi akan membantu perusahaan dalam membayarkan dividen. Dengan rasio profitabilitas yang tinggi, perusahaan akan menarik minat investor untuk menanamkan modalnya di perusahaan. Sehingga perusahaan akan dipandang memiliki prospek yang baik di masa depan dan pada akhirnya akan meningkatkan nilai perusahaan yang tercermin dari harga saham yang meningkat (Pramana & Mustanda, 2016).

2.3.2 Skala Pengukuran Profitabilitas

Pengukuran profitabilitas perusahaan dapat menggunakan beberapa indikator, diantaranya adalah laba operasi, laba bersih, tingkat pengembalian aktiva (ROA), dan tigkat pengembalian ekuitas pemilik (ROE). Dalam penelitian ini rasio yang digunakan untuk mengukur profitabilitas perusahaan adalah Return on Equity (ROE).

Return on equity merupakan rasio laba bersih terhadap ekuitas saham. Rasio ini merupakan ukuran profitabilitas dari sudut pandang pemegang saham. Menurut Rudangga & Sudiarta (2016), ROE adalah hasil pengembalian ekuitas yang

(37)

menunjukkan efisiensi penggunaan modal sendiri. ROE dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut:

ROE = 𝑳𝒂𝒃𝒂 𝑩𝒆𝒓𝒔𝒊𝒉 𝒖𝒏𝒕𝒖𝒌 𝒑𝒆𝒎𝒆𝒈𝒂𝒏𝒈 𝒔𝒂𝒉𝒂𝒎 𝒃𝒊𝒂𝒔𝒂

𝑬𝒌𝒖𝒊𝒕𝒂𝒔 𝑺𝒂𝒉𝒂𝒎 𝑩𝒊𝒂𝒔𝒂 × 𝟏𝟎𝟎%

2.4 Leverage

2.4.1 Pengertian Leverage

Menurut Brigham & Houston (2006), leverage adalah rasio yang menghitung seberapa jauh perusahaan menggunakan pendanaan melalui hutang. Perusahaan mengambil hutang untuk memperoleh kesempatan mengembangkan bisnis.

Leverage merupakan rasio utang yang dapat menunjukan kemampuan dari suatu perusahaan untuk memenuhi segala kewajiban (Rudangga & Sudiarta, 2016).

Selain itu, leverage juga digunakan perusahaan untuk meningkatkan modal dalam rangka meningkatkan keuntungan.

2.4.2 Skala Pengukuran Leverage

Dalam penelitian ini rasio leverage diproksikan dengan debt to equity ratio (DER). Debt to equity ratio (DER) adalah perbandingan jumlah hutang jangka panjang perusahaan dengan modal sendiri. Rasio ini menggambarkan kemampuan perusahaan untuk memenuhi seluruh kewajiban dengan modal sendiri. DER digunakan sebagai pengukur seberapa jauh suatu perusahaan dibiayai oleh kreditur (Sambora, Handayani, & Rahayu, 2014). DER dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

Debt to Equity Ratio = 𝑻𝒐𝒕𝒂𝒍 𝑯𝒖𝒕𝒂𝒏𝒈

𝑻𝒐𝒕𝒂𝒍 𝑬𝒌𝒖𝒊𝒕𝒂𝒔 × 100%

Semakin tinggi nilai DER artinya semakin sedikit penggunaan modal

(38)

sendiri dibandingkan dengan hutang. Hal ini berdampak pada semakin besarnya beban perusahaan terhadap pihak kreditur. Dengan meningkatnya beban terhadap kreditur, laba yang diterima perusahaan juga akan berkurang. Berkurangnya laba perusahaan pada akhirnya akan berdampak bagi pemegang saham. (Sambora, Handayani, & Rahayu, 2014).

2.5 Ukuran Perusahaan

2.5.1 Pengertian Ukuran Perusahaan

Ukuran perusahaan merupakan cerminan dari total aset yang dimiliki suatu perusahan. Ukuran perusahaan dijadikan investor sebagai indikator untuk berinvestasi karena besarnya perusahaan menggambarkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba. Ukuran perusahaan yang besar mencerminkan bahwa perusahaan sedang mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang baik sehingga meningkatkan nilai dari suatu perusahaan.

Semakin besar ukuran perusahaan maka diasumsikan bahwa perusahaan akan semakin mudah dalam memperoleh pendanaan baik eksternal maupun internal. Hal ini dikarenakan total aset perusahaan yang besar menjadi jaminan bahwa perusahaan akan mampu membayarkan kembali pinjaman yang diberikan sehingga meningkatkan kepercayaan investor.

2.5.2 Skala Pengukuran Ukuran Perusahaan

Ukuran perusahaan diukur dengan total asset perusahaan yang diperoleh melalui laporan keuangan perusahaan. Berdasarkan ukurannya perusahaan dapat dikategorikan menjadi dua jenis, yaitu perusahaan berskala kecil dan perusahaan

(39)

berskala besar. Berikut rumus untuk mengukur ukuran perusahaan:

Size = Log Total Asset

Perusahaan yang berskala besar cenderung akan menarik minat investor dan akan berimbas dengan nilai perusahaan nantinya. Sehingga dapat dikatakan bahwa besar kecilnya ukuran suatu perusahaan secara langsung berpengaruh terhadap nilai dari perusahaan tersebut. Nilai perusahaan yang meningkat dilihat dari total aktiva perusahaan yang mengalami kenaikan dan lebih besar dibandingkan dengan jumlah hutang perusahaan (Rudangga & Sudiarta, 2016).

2.6 Corporate Social Responsibility

2.6.1 Pengertian Corporate Social Responsibility

Menurut The World Business Council for Sustainable Development (WBCSD), Corporate Social Responsibility adalah komitmen berkelanjutan dalam bisnis untuk bertindak etis dan berkontribusi dalam proses pembangunan ekonomi berkelanjutan, peningkatan kualitas hidup para karyawan beserta keluarganya, dan peningkatan kualitas komunitas dan masyarakat luas. Pengertian ini didukung oleh definisi CSR menurut World Bank yaitu: “the commitment of business to contribute to sustainable economic development working with employees and their representatives the local community and society at large to improve quality of life, in ways that are both good for business and good for development”.

Di Indonesia peraturan mengenai CSR dimuat dalam UU Perseroan Terbatas No 40 tahun 2007. Dalam UU tersebut CSR disepadankan dengan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TSL). CSR diartikan sebagai komitmen perusahaan berperan serta dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan untuk

(40)

meningkatkan kualitas kehidupan dan lingkungan yang bermanfaat, baik bagi perseroan sendiri, komunitas setempat maupun masyarakat pada umumnya.

Dari pengertian CSR yang telah dijelaskan dapat disimpulkan bahwa CSR merupakan salah satu hal yang tidak terpisahkan bagi perusahaan. Perusahaan harus berkontribusi terhadap lingkungan kerjanya, baik dalam pembangunan ekonomi negara, meningkatkan kualitas hidup tenaga kerja dan keluarganya, membantu komunitas lokal dan masyarakat luas, dan memperhatikan kepentingan stakeholder dengan harapan memberikan manfaat kesejahteraan bagi masyarakat.

2.6.2 Komponen Corporate Social Responsibility

Menurut Wibisono (dalam Tiffany, 2016), CSR terdiri dari beberapa komponen utama yaitu:

1. Perlindungan lingkungan

Perusahaan melakukan perlindungan lingkungan sebagai wujud tanggung jawab pada pembangunan berkelanjutan. Perusahaan harus menjaga keadaan lingkungannya dan tidak boleh menimbulkan kerusakan, sehingga eksistensi perusahaan terjamin. Contoh perlindungan lingkungan antar lain: pengelolaan limbah yang dihasilkan sebagai residu dari proses produksi harus terlebih dahulu di netralisis sebelum akhirnya dibuang.

2. Perlindungan dan jaminan karyawan

Tanpa adanya karyawan, perusahaan tidak akan mampu menjalankan kegiatannya. Oleh karena itu, melindungi kesejahtraan karyawan adalah syarat mutlak yang menjadi tolak ukur bagi perusahaan dalam menghargai karyawannya. Ketika karyawan merasa sejalan dengan perusahaan, maka hal

(41)

ini akan berdampak positif bagi perusahaan. Apabila perusahaan memberikan imbalan yang sesuai, maka karyawan akan memberikan kontribusi yang positif pula dan bekerja keras demi perusahaan yang telah berjasa baginya.

Contohnya: pelatihan dan pemberian bonus.

3. Interaksi dan keterlibatan perusahaan dengan masyarakat

Peran masyarakat setempat dalam menentukan kebijakan perusahaan sangatlah penting. Perusahaan harus dapat menjaga hubungan yang harmonis dengan masyarakat sehingga tidak timbul kesenjangan antara masyarakat lokal dengan perusahaan. Contoh: mempekerjakan penduduk lokal.

4. Kepemimpinan dan pemegang saham

Pemegang saham merupakan pihak yang paling memiliki kepentingan terhadap pencapaian keuntungan yang diperoleh perusahaan. Hal ini dikarenakan investor telah berinvestasi dan mengharapkan hasil investasi yang maksimal dari saham yang mereka miliki. Contohnya: melibatkan pemegang saham dalam pengambilan keputusan.

5. Penanganan pelanggan dan produk

Saat pelanggan merasa puas dengan produk yang dihasilkan, maka akan timbul kepercayaan pada perusahaan dan pelanggan akan melakukan pembelian kembali.

Hal ini membuat bisnis dapat terus bergulir dan keuntungan dapat dinikmati.

Contohnya: menyediakan custumer service yang mumpuni dan mudah diakses.

6. Pemasok (supplier)

Pemasok merupkan pihak yang menguasai jaringan distribusi. Hubungan yang baik dengan pemasok menguntungkan perusahaan. Karena pemasok telah

(42)

mengetahui kegiatan perusahaan dan akan memenuhinya. Contohnya:

komunikasi yang baik dengan pemasok.

7. Komunikasi dan laporan

Keterbukaan terhadap komunkasi dan pelaporan akan membantu perusahaan dalam pengambilan keputusan. Diperlukan keterbukaan informasi material dan relevan bagi stakeholder. Contohnya: mencantumkan pengungkapan kontribusi sosial ke dalam laporan tahunan.

2.6.3 Pengungkapan Corporate Social Responsibility

Dalam perusahaan pengungkapan CSR menjadi hal yang penting. Hal ini karena keadaan perusahaan yang berada di tengah-tengah masyarakat dan aktivitasnya dapat berdampak bagi kehidupan sosial dan lingkungan masyarakat.

Dengan adanya pengungkapan CSR, diharapkan perusahaan mampu mendapat dukungan dari stakeholder agar mendukung perusahaan dalam operasional dan pencapaian tujuan. (Tiffany, 2016).

Pengungkapan CSR merupakan suatu usaha perusahaan yang dapat menyeimbangkan berbagai komitmennya terhadap kelompok dan individu dalam lingkungan perusahaan. Dari pengertian tersebut terlihat bahwa tanggung jawab suatu perusahaan semakin luas dan tidak terbatas hanya kepada pencarian laba untuk para pemegang saham saja. Konsep pelaporan CSR digagas dalam Global Reporting Initiative (GRI). Dalam GRI Guidelines disebutkan bahwa perusahaan dapat menjelaskan dampak aktivitas perusahaan terhadap ekonomi, lingkungan dan sosial. Tiga dimensi tersebut kemudian diperluas menjadi sejumlah 91 item.

(43)

2.6.4 Skala Pengukuran Corporate Social Responsibility

Pengukuran CSR dilakukan berdasarkan pada indikator pengungkapan yang diungkapkan oleh perusahaan yang dihitung dengan menjumlahkan seluruh item yan sesungguhnya diungkapkan dengan jumlah item pengungkapan. Berikut merupakan rumus yang digunakan:

CSRI = 𝑱𝒖𝒎𝒍𝒂𝒉 𝑰𝒕𝒆𝒎 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝑫𝒊𝒖𝒏𝒈𝒌𝒂𝒑𝒌𝒂𝒏 𝟗𝟏

2.7 Penelitian Terdahulu

Terdapat beberapa penelitian terdahulu yang dilakukan oleh beberapa peneliti untuk mengetahui adanya hubungan antara profitabilitas, leverage, dan ukuran perusahaan terhadap nilai perusahaan dengan corporate social reponsibility sebagai variabel moderasi, seperti yang telah dilakukan oleh Wulandari &

Wiksuana (2017) dengan hasil bahwa profitabilitas berpengaruh negatif terhadap nilai perusahaan, leverage dan ukuran perusahaan berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan dan pengungkapan CSR sebagai variabel pemoderasi mampu memoderasi pengaruh profitabilitas dan leverage terhadap nilai perusahaan tetapi tidak dapat memoderasi pengaruh size terhadap nilai perusahaan.

Adapun ringkasan penelitian terdahulu pada Tabel 2.1 di bawah:

Tabel 2 1 Penelitian Terdahulu

No Nama

Peneliti

Judul Penelitian

Variabel Penelitian

Metode

Penelitian Hasil Penelitian

1. Ni Made Laksmi Dewi dan I D.G.

Dharma Suputra (2019)

Pengaruh Profitabilitas dan Leverage pada Nilai Perusahaan dengan Corporate

Dependen:

Nilai Perusahaan

Independen:

1. Profitabilitas

Moderate Regression Analysis

1. Profitabilitas berpengaruh positif signifikan pada nilai perusahaan

2. Leverage berpengaruh negatif tidak signifikan pada nilai perusahaan.

3. Corporate Social

(44)

Lanjutan Tabel 2.1

No Nama

Peneliti

Judul Penelitian

Variabel Penelitian

Metode

Penelitian Hasil Penelitian Social

Responsibili ty Sebagai Variabel Pemoderasi

(ROA) 2. Leverage (DER)

Moderasi: CSR

Responsibility memperkuat pengaruh profitabilitas pada nilai perusahaan

4. Corporate Social

Responsibility memperlemah pengaruh leverage pada nilai perusahaan

2. Cahyani Nuswanda ri, Sunarto, Afifatul Jannah (2018)

Corporate Social Responsibili ty

Moderated the Effect of Liquidity and Profitability on the Firm Value

Dependen:

Nilai Perusahaan

Independen:

1. Leverage (DER) 2. Profitabilitas (ROE)

Moderasi:CSR

Regression Analysis

1. Likuiditas berpengaruh negatif signifikan terhadap nilai perusahaan

2. Profitabilitas berpengaruh positif tidak signifikan terhadap nilai perusahaan 3. CSR berpengaruh positif

signifikan terhadap nilai perusahaan

4. CSR tidak dapat memoderasi hubungan likuiditas dan nilai perusahaan

5. CSR memperkuat hubungan hubungan profitabilitas dengan nilai perusahaan 3. Chumaida

h dan Maswar Patuh Priyadi (2018)

Pengaruh Profitabilita s dan Size Terhadap Nilai Perusahaan dengan CSR sebagai variabel moderasi

Dependen:

Nilai Perusahaan

Independen:

1. Profitabilitas (ROA) 2. Size

Moderasi: CSR

Regresi Linier Berganda

1. ROA berpengaruh positif dan signifikan terhadap nilai perusahaan

2. Size berpengaruh positif tidak signifikan terhadap nilai perusahaan

3. CSR berpengaruh positif signifikan terhadap nilai perusahaan

4. CSR dapat memoderasi hubungan profitabilitas terhadap nilai perusahaan secara positif dan signifikan 5. CSR dapat memoderasi

pengaruh Size terhadap nilai perusahaan secara positif tidak signifikan

4. Imam

Rahmanti o, Muhamm ad Saifi dan Ferina Nurlaily (2018)

Pengaruh Debt to Equity Ratio, Return on Equity, Return on Asset dan Ukuran Perusahaan terhadap Nilai Perusahaan (Studi Kasus pada

Dependen:

Nilai Perusahaan

Independen:

1. Debt to Equity Ratio (DER) 2. Return on Equity (ROE) 3. Return on Asset (ROA)

Regresi Liner Berganda

1. DER berpengaruh negatif tidak signifikan terhadap nilai perusahaan

2. ROE berpengaruh positif dan signifikan terhadap nilai perusahaan

3. ROA berpengaruh negatif tidak signifikan terhadap nilai perusahaan

4. Ukuran Perusahaan berpengaruh negatif tidak signifikan terhadap nilai perusahaan

Gambar

Tabel 2 1  Penelitian Terdahulu  No  Nama  Peneliti  Judul  Penelitian  Variabel  Penelitian  Metode
Gambar 2.1  Kerangka Konseptual Profitabilitas Leverage Ukuran Perusahaan  Nilai  Perusahaan
Gambar 3.1  Kerangka Analisis Jalur

Referensi

Dokumen terkait

adalah sepatu tidak gampang rusak atau robek. 3) Keinginan menggunakan sepatu dengan merek Vans karena ingin mengikut. trend yang

Bentuk dasar denah yang berbentuk lingkaran didasarkan pada pola sirkulasi yang terjadi dalam suatu bangunan stasiun televisi, yaitu sistem sirkulasi radial.. Sedangkan, dari

yang dilakukan terhadap teks atau wacana pemberitaan media ini sangat penting..

Kalau membuat monumen biasanya untuk keperluan pesanan orang, misal dia mau dibuatkan monumen yang seperti ini atau yang begitu, dan saya akan buat sektsanya beserta

Hari PPOK Sedunia adalah even tahunan yang diselenggarakan sejak tahun 2002 atas Prakarsa Global Initiative for Chronic Obstructive Lung Disease (GOLD) yang

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi kesiapan Dusun Mulia RT 05 RW 04 menuju Desa Mandiri ditinjau dari Indeks Desa Membangun dalam dimensi

Terima kasih yang dalam pula ditujukan kepada berbagai komunitas agama dan budaya di Yogyakarta, Bali dan Toraja yang melalui pengalaman kehidupan mereka telah memberi

Dari hasil program tersebut dapat diketahui nilai faktor keamanan lereng dan pola bidang longsor pada lereng sehingga dapat diambil kesimpulan pengaruh tanaman