• Tidak ada hasil yang ditemukan

IR - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA BAB 1 PENDAHULUAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "IR - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA BAB 1 PENDAHULUAN"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Stabilitas Keuangan menurut Sutton dan Tosovsky (2005) dalam Bank Indonesia (2007:13) adalah situasi dimana sistem keuangan dapat: (1) mengalokasikan sumber daya secara efisien ke dalam kegiatan produktif pada waktu yang berbeda-beda, (2) memprediksi dan mengukur risiko finansial, dan (3) menyerap shocks. Maksud dari ketiga poin tersebut, yaitu stabilitas sistem keuangan meliputi efisiensi dan ketahanan sistem keuangan yang notabene merupakan suatu konsep yang kompleks. Stabil tidaknya sistem keuangan tidak hanya bergantung pada institusi keuangan secara individu, melainkan bergantung pada interaksi yang kompleks antara lembaga keuangan, sektor riil dan pasar keuangan.

Stabilitas keuangan internasional sangat penting dalam sistem keuangan di Indonesia. Sistem keuangan internasional yang stabil maka lembaga-lembaga keuangan dapat menjalankan fungsinya dengan baik. Menurut Crocket (1997) dalam Bank Indonesia (2007:13), jika terjadi ketidakstabilan keuangan akan memberikan dampak negatif pada efektivitas kebijakan moneter apabila perbankan tidak mentransmisikan kebijakan moneternya dengan baik. Stabilitas keuangan menekankan stabilnya dua komponen penting yaitu key institution dan key market yang membentuk sistem keuangan. Bank umumnya dipandang sebagai key institution sedangkan key market mencakup pasar uang dan valas, pasar obligasi negara dan korporasi, pasar modal, serta pasar derivatif.

Menurut Warjiyo (200: 429), stabilitas sistem perbankan dan sistem moneter memiliki hubungan yang saling berkaitan. Stabilitas sistem perbankan secara umum artinya suatu kondisi dimana dicerminkan dengan perbankan yang sehat serta berjalannya fungsi intermediasi perbankan. Salah satu fungsi intermediasi pada perbankan adalah dengan memobilisasi simpanan masyarakat guna disalurkan dalam bentuk kredit dan pembiayaan lain. Jika kondisi tersebut berjalan lancar maka proses perputaran uang dan juga mekanisme transmisi

(2)

kebijakan moneter juga akan berjalan dengan baik. Berdasarkan pendapat tersebut, maka stabil tidaknya sistem perbankan akan terjadi apabila perbankan dalam kondisi sehat dan mampu menjalankan kegiatan operasionalnya secara efektif.

Pengukuran tingkat stabilitas perbankan dapat diukur dengan berbagai macam metode diantaranya metode CAMELS, Altman Z-score, Grover G-Score, Springate S-Score, Z-score dan lain-lain. Metode Z-score dipilih dalam penelitian ini karena Z-Score adalah salah satu ukuran yang objektif untuk mengukur risiko kebangkrutan bank sekaligus menilai tingkat kesehatan serta stabilitas perbankan dibandingkan dengan metode lainnya (Čihák & Hesse, 2010). Selain itu Z-Score juga mengkombinasikan ukuran profitabilitas bank, leverage, dan volatilitas tingkat keuntungan bank yang menjadi sebuah ukuran stabilitas bank. Z-score pertama kali diperkenalkan oleh Roy pada tahun 1952 yang pada dasarnya diperuntukkan untuk menganalisis kemungkinan terjadinya kebangkrutan pada suatu perusahaan dan sebagai proksi dari stabilitas (Khasawneh, 2016). Nilai Z- Score yang tinggi menunjukkan stabilitas bank semakin baik sehingga tingkat resiko kebangkrutan semakin rendah (Čihák & Hesse, 2010).

Stabilitas perbankan dan stabilitas sistem keuangan memiliki hubungan yang erat. Adanya hubungan yang erat maka stabilitas perbankan perlu diperhatikan demi kelangsungan perbankan tersebut dan juga sistem keuangan yang ada. Maksud dari hubungan tersebut adalah ketika salah satu perbankan mengalami ketidakstabilan maka akan mempengaruhi tingkat stabilitas sistem keuangan. Haron dan Ahmad (2000) menyatakan bahwa perbankan Islam mengelola dirinya sendiri sebagai lembaga keuangan yang tidak hanya berperan penting dalam memobilisasi sumber daya, alokasi sumber daya dan utilitas sumber daya keuangan, tapi juga berperan dalam mengimplementasikan kebijakan moneter pemerintah. Sistem yang diterapkan perbankan syariah bertujuan untuk stabilisasi sektor keuangan seperti halnya kebijakan moneter pemerintah. Kegiatan perbankan Islam tidak hanya sebagai penghimpun dan penyalur dana bagi masyarakat, akan tetapi juga sebagai pendorong proses implementasi kebijakan moneter sebagaimana yang dilakukan oleh bank konvensional. Hal tersebut menjadi alasan pentingnya peneliti untuk mencari faktor-faktor yang dapat

(3)

mempengaruhi ketidakstabilan suatu perbankan. Hal tersebut dimaksudkan agar bank selalu menjaga stabilitasnya masing-masing sehingga stabilitas moneter dapat berjalan secara efektif.

Adanya krisis keuangan global menyebabkan macetnya sistem keuangan dunia dan berdampak pada merosotnya aktivitas ekonomi serta perdagangan dunia.

Salah satu krisis keuangan global yang terjadi yaitu Subprime Mortgage terjadi di Amerika Serikat yang perlahan menerpa negara-negara lain dan terjadi sejak semester kedua tahun 2008. Awal tahun 2009 Indonesia memperoleh dampaknya yakni semakin melemahnya laju pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Industri perbankan syariah di Indonesia tiga tahun terakhir mengalami perkembangan yang pesat diiringi dengan meningkatnya permasalahan dan tantangan yang dihadapi (Rosyadi, 2017). Berikut adalah data mengenai pertumbuhan BUS di Indonesia dengan diikuti pertumbuhan total asset, kecukupan modal bank (CAR), Biaya Operasional Pendapatan Operasional (BOPO), PDB, inflasi, dan suku bunga:

Tabel 1.1

Pertumbuhan Total Asset, Kecukupan Modal Bank (CAR), Biaya Operasional Pendapatan Operasional (BOPO), GDP, Inflasi, dan Suku Bunga pada Bank Umum Syariah di Indonesia

Keterangan

Tahun

2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 Total asset (Milyar rupiah) 147.581 180.360 204.961 213.423 254.184 288.027 297.032

CAR (%) 14,14 14,42 15,74 15.02 16.63 17.91 21,39

BOPO (%) 76,35 82,16 96,97 97,01 96,22 94,91 90.1

GDP (%) 6,53 5,56 5,01 4,88 5,03 5,07 5,17

Inflasi (%) 4,3 8,38 8,36 8,35 3,02 3,61 3,13

Suku bunga (%) 6,03 5,56 5,01 4,88 5,03 5,07 5,17

Sumber: Statistik Perbankan Syariah (2019)

Berdasarkan data pada tabel 1.1 menunjukkan bahwa total asset, kecukupan modal, Biaya Operasional Pendapatan Operasional (BOPO) yang dimiliki oleh Bank Umum syariah berdasarkan data Statistik Perbankan Syariah mengalami peningkatan yang fluktuatif dari tahun 2012 hingga tahun 2018. Pada faktor makroekonomi yang terdapat di Indonesia seperti inflasi dan Produk Domestik Bruto (PDB), dan suku bunga pada tahun 2012 hingga tahun 2018 juga

(4)

mengalami peningkatan yang fluktuatif setiap tahunnya. Perkembangan Bank Umum Syariah yang begitu pesat ditunjukkan dengan total aset Bank Umum Syariah yang pertahunnya mengalami peningkatan. Bank Umum Syariah perlu menjaga stabilitasnya dalam menghadapi keadaan ekonomi di Indonesia agar mendapat kepercayaan masyarakat sebagai perantara jasa keuangan yang dipilih.

Berdasarkan hal tersebut peneliti ingin mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi stabilitas perbankan agar masing-masing perbankan dapat memitigasi resiko yang muncul apabila terjadi ketidakstabilan. Peneliti juga menggunakan sampel Bank Umum Syariah karena memiliki perkembangan yang pesat dibandingkan dengan industri perbankan syariah lainnya yakni dengan jangka waktu tujuh tahun yaitu tahun 2012-2018 pada penelitian ini.

Beberapa peneliti mencoba menguraikan pengaruh faktor internal dan faktor eksternal terhadap stabilitas bank. Adapun menurut Čihák & Hesse (2010) faktor internal yang mempengaruhi tingkat stabilitas bank adalah karakteristik bank, persaingan antar bank dan kondisi makroekonomi serta kondisi pemerintahan. Menurut Yudaruddin (2016) faktor makro ekonomi tingkat stabilitas bank dapat dilihat dari inflasi, suku bunga, dan PDB (Produk Domestik Bruto). Adapun menurut Wibowo (2016) tingkat stabilitas bank dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya kompetisi, diversifikasi pendapatan dan penyaluran utang, ukuran bank serta capital buffer. Menurut penelitian Pujianti & Nurbetty (2016) tingkat stabilitas bank dipengaruhi oleh rasio konsentrasi pasar, rasio efisiensi dengan proksi BOPO (Biaya Operasional Pendapatan Operasional) dan inflasi.

Berdasarkan pendapat Čihák & Hesse (2010), Yudaruddin (2016) dan Wibowo (2016) serta Pujianti dan Nurbetty (2016) maka peneliti menggunakan faktor internal yang mempengaruhi tingkat stabilitas meliputi ukuran bank, efisiensi, dan capital buffer sedangkan faktor eksternalnya menggunakan kondisi makroekonomi di Indonesia. Indikator makroekonomi meliputi Produk Domestik Bruto (PDB), inflasi, dan suku bunga. Pemilihan keenam variabel yakni faktor internal dan eksternal terhadap stabilitas tersebut didasakan karena masih jarang yang meneliti keenam faktor tersebut dengan kurun waktu periode 2012-2018

(5)

dengan sampel Bank Umum Syariah (BUS). Penggunaan variabel dengan faktor eksternal juga didasarkan pada ketertarikan penulis untuk meneliti seberapa kuat tingkat ketahanan stabilitas perbankan syariah dalam menghadapi timbulnya gejolak ekonomi dengan sistem perekonomian Indonesia yang terbuka.

Penelitian ini dilakukan dengan harapan dapat memberikan implikasi manfaat pada beberapa pihak. Pertama, bagi perbankan sebagai pedoman dalam menjaga stabilitas perbankan yang diakibatkan oleh beberapa faktor internal dan eksternal dari tingkat stabilitas. Kedua, bagi regulator atau pemangku kebijakan sebagai acuan dalam mengatur kebijakan makroekonomi. Ketiga, untuk peneliti selanjutnya dapat dijadikan referensi mengenai topik faktor-faktor yang mempengaruhi stabilitas Bank Umum Syariah yang menggunakan alat ukur Z- Score dengan menggunakan metode analisis yang berbeda serta dilakukan penambahan variabel.

1.2 Kesenjangan Penelitian

Kesenjangan penelitian dapat dilihat berdasarkan penelitian sebelumnya yang membahas tentang stabilitas perbankan syariah dan faktor internal dan eksternal dari tingkat stabilitas tersebut. Berdasarkan penelitian sebelumnya, seperti yang telah dilakukan oleh Čihák & Hesse (2010) menyatakan bahwa ukuran bank memiliki pengaruh signifikan positif terhadap stabilitas bank sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Korbi dan Bougatef (2017) menunjukkan hasil bahwa ukuran bank memiliki pengaruh signifikan negatif terhadap stabilitas.

Faktor internal lainnya selain ukuran bank adalah efisiensi dan capital buffer. Hasil dari penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Čihák & Hesse (2010), Pujianti dan Nurbetty (2016) menunjukkan bahwa efisiensi memiliki pengaruh signifikan negatif terhadap tingkat stabilitas. Adapun untuk faktor internal selanjutnya adalah capital buffer menurut hasil dari penelitian Wibowo (2016) menunjukkan bahwa capital buffer memiliki pengaruh signifikan positif terhadap stabilitas.

(6)

Tingkat stabilitas bank tidak hanya dipengaruhi oleh faktor internal melainkan juga faktor eksternal. Faktor eksternal dari stabilitas salah satunya Produk Domestik Bruto (PDB). Yudaruddin (2016) menyatakan bahwa Produk Domestik Bruto (PDB) memiliki pengaruh signifikan positif terhadap tingkat stabilitas bank. Hasil dari penelitian tersebut jauh berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Čihák & Hesse (2010) bahwa Produk Domestik Bruto (PDB) tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap tingkat stabilitas bank.

Inflasi juga menjadi faktor eksternal pada penelitian ini. Berdasarkan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Yudaruddin (2016), Čihák & Hesse (2010) menunjukkan hasil bahwa inflasi tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap tingkat stabilitas. Berbeda dengan hasil yang dikemukakan oleh Korbi dan Bougatef (2017), Pujianti dan Nurbetty (2016) mereka mengemukakan bahwa inflasi memiliki pengaruh signifikan terhadap tingkat stabilitas.

Faktor eksternal lainnya yang menjadi faktor dari tingkat stabilitas adalah suku bunga. Suku bunga berdasarkan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Yudaruddin (2016) menyatakan bahwa suku bunga memiliki pengaruh signifikan postif terhadap stabilitas. Hasil tersebut jauh berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Graeve dan Koetter (2014), serta Uhde dan Heimeshoff (2009) bahwa suku bunga menujukkan hasil tidak signifikan terhadap stabilitas bank.

Masalah yang diangkat dalam penelitian ini mengenai faktor-faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi tingkat stabilitas Bank Umum Syariah (BUS) di Indonesia. Peneliti melakukan penelitian ini merujuk berdasarkan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Yudaruddin (2016) yang berjudul Dampak Faktor Makroekonomi terhadap Stabilitas Bank Pembangunan Daerah di Indonesia, Čihák & Hesse (2010) yang berjudul Islamic Bank and Financial Stability: An Empirical Analysis, Korbi dan Bougatef (2017) dengan judul Regulatory capital and stability of Islamic and conventional banks serta Wibowo (2016) yang berjudul Stabilitas Bank dan Diversifikasi Sumber Pendapatan:

Analisis Per Kelompok Bank di Indonesia. Perbedaan dengan penelitian sebelumnya adalah penambahan dan pengurangan variabel penelitian dan subjek penelitian. Adapun untuk penelitian sebelumnya variabel yang di teliti hanya

(7)

faktor eksternal saja atau internal saja tidak internal dan eksternal sehingga peneliti pada penelitian ini menggunakan faktor internal dan juga faktor eksternal agar Bank Umum Syariah bisa lebih memperhatikan faktor internal atau ekstrenal yang paling berpengaruh terhadap stabilitas. Subjek yang dilakukan dalam penelitian ini adalah Bank Umum Syariah di Indonesia yang telah beropereasi selama 7 tahun terakhir yaitu periode 2012-2018. Penelitian sebelumnya mayoritas menggunakan perbandingan bank syariah dan bank konvensional, ada juga yang hanya menggunakan bank konvensional saja. Peneliti pada penelitian ini hanya menggunakan Bank Umum Syariah agar lebih terfokus karena berdasarkan data Statistik Perbankan Syariah perkembangan Bank Umum Syariah sangat pesat dalam industri perbankan sehingga perlu dijaga stabilitasnya.

Berdasarkan uraian dan penjelasan kesenjangan penelitian di atas maka diperlukan penelitian lebih lanjut, sehingga peneliti melakukan penelitian lebih lanjut dengan judul “Determinan Faktor Internal dan Faktor Eksternal Terhadap Stabilitas Bank Umum Syariah Periode 2012-2018” dengan rumusan masalah sebagai berikut:

1. Apakah ukuran bank secara parsial mempengaruhi tingkat stabilitas Bank Umum Syariah di Indonesia periode 2012-2018?

2. Apakah efisiensi secara parsial mempengaruhi tingkat stabilitas Bank Umum Syariah di Indonesia periode 2012-2018?

3. Apakah capital buffer secara parsial mempengaruhi tingkat stabilitas Bank Umum Syariah di Indonesia periode 2012-2018?

4. Apakah Produk Domestik Bruto (PDB) secara parsial mempengaruhi tingkat stabilitas Bank Umum Syariah di Indonesia periode 2012-2018?

5. Apakah inflasi secara parsial mempengaruhi tingkat stabilitas Bank Umum Syariah di Indonesia periode 2012-2018?

6. Apakah suku bunga secara parsial mempengaruhi tingkat stabilitas Bank Umum Syariah di Indonesia periode 2012-2018?

7. Apakah ukuran bank, efisiensi, capital buffer, Produk Domestik Bruto (PDB), Inflasi, dan suku bunga secara simultan mempengaruhi tingkat stabilitas Bank Umum Syariah di Indonesia periode 2012-2018?

(8)

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka dapat dirumuskan tujuan penelitian sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui pengaruh ukuran bank secara parsial terhadap tingkat stabilitas Bank Umum Syariah di Indonesia periode 2012-2018.

2. Untuk mengetahui pengaruh efisiensi secara parsial terhadap tingkat stabilitas Bank Umum Syariah di Indonesia periode 2012-2018.

3. Untuk mengetahui pengaruh capital buffer secara parsial terhadap tingkat stabilitas Bank Umum Syariah di Indonesia periode 2012-2018.

4. Untuk mengetahui pengaruh Produk Domestik Bruto (PDB) secara parsial terhadap tingkat stabilitas Bank Umum Syariah di Indonesia periode 2012-2018.

5. Untuk mengetahui pengaruh inflasi secara parsial terhadap tingkat stabilitas Bank Umum Syariah di Indonesia periode 2012-2018.

6. Untuk mengetahui pengaruh suku bunga secara parsial terhadap tingkat stabilitas Bank Umum Syariah di Indonesia periode 2012-2018.

7. Untuk mengetahui pengaruh ukuran bank, efisiensi, capital buffer, Produk Domestik Bruto (PDB), inflasi, dan suku bunga secara simultan terhadap tingkat stabilitas Bank Umum Syariah di Indonesia periode 2012-2018.

1.4 Ringkasan Hasil Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kuantitatif. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS), Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan annual report Bank Umum Syariah. Adapun proksi dari stabilitas Bank Umum Syariah yaitu menggunakan Z-Score. Sampel yang digunakan sebanyak 11 Bank Umum Syariah dengan periode 2012-2018. Penelitian ini menggunakan regresi data panel dengan model random effect model. Hasil temuan peneliti menunjukkan bahwa ukuran bank, capital buffer, Produk Domestik Bruto (PDB), dan efisiensi berpengaruh signifikan terhadap stabilitas Bank Umum Syariah sedangkan inflasi

(9)

dan tingkat suku bunga tidak berpengaruh terhadap stabilitas Bank Umum Syariah.

Hasil temuan tersebut dapat dijadikan bahan evaluasi agar Bank Umum Syariah lebih banyak memperhatikan faktor internal dari stabilitas bank.

1.5 Sistematika Penulisan

BAB 1 PENDAHULUAN

Bab ini berisi latar belakang masalah, kesenjangan penelitian, tujuan penelitian, ringkasan hasil penelitian, serta kontribusi riset.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

Bab ini menjelaskan tentang teori yang dipakai, penelitian sebelumnya, hubungan antar variabel, kerangka berfikir dan hipotesis penulis.

BAB 3 METODE PENELITIAN

Bab ini menjelaskan tentang jenis dan pendekatan penelitian, model empiris, definisi operasional variabel, jenis dan sumber data, populasi dan sampel, serta teknik analisis yang digunakan dalam penelitian.

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

Bab ini memuat igambaran umum tentang variabel penelitian, deskripsi statistik, uji hipotesis dan interpretasi hasil penelitian.

BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN

Bab ini berisi tentang ringkasan hasil penelitian, keterbatasan penelitian, dan saran dari penulis.

Referensi

Dokumen terkait

Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa kategori yang berbeda dari belanja dan pendapatan negara memiliki pengaruh yang berbeda terhadap investasi swasta, dan

Analisis mikrobiologi penting dalam menentukan keamanan dan kualitas dari suatu makanan, oleh sebab itu pada penelitian ini dimaksudkan untuk menilai keberadaan bakteri dalam

Hasil penelitian ini menunjukan bahwa produk domestik bruto (PDB) diperoleh tingkat signifikan sebesar 0,03, Inflasi diperoleh tingkat signifikan sebesar 0,598, dan

Distribusi pengetahuan responden tentang perilaku personal hygiene genetalia dalam pencegahan kanker serviks sebelum diberikan peer education menunjukkan bahwa dari 41

3. Customer Loyalty Award sebagai Leader of Net Promoter untuk kategori minimarket dari Majalah SWA.. dalam Jutaan Rupiah, kecuali dinyatakan lain 1. Ikhtisar Keuangan. Laporan

Selanjutnya hasil penelitian Awaliyah (2020) diperoleh hasil bahwa Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dan Upah Minimum Provinsi (UMP) memiliki pengaruh yang signifikan terhadap

Tujuan yang hendak dicapai penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimanakah Representasi karikatur ”Karut Marut Hukum dan Peradilan di Indonesia” dalam Harian Kompas edisi