• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN TEORI DAN KERANGKA PIKIR. Teknik Analisis Data

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II TINJAUAN TEORI DAN KERANGKA PIKIR. Teknik Analisis Data"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

9

BAB II

TINJAUAN TEORI DAN KERANGKA PIKIR A. Peneliti Terdahulu

No Peneliti / Tahun

Variabel Penelitian

Teknik Analisis Data

Hasil penelitian 1 Masruroh,

2018

EVA dan MVA Metode analisis

data yang

diperlukan secara kuantitatif dengan berdasarkan data skunder yang telah

dikumpulkan.

Kinerja keuangan EVA tahun 2012 lebih kecil dari nol, tahun 2013 lebih besar dari nol, tahun 2014 dan 2015 lebih kecil dari nol, serta periode 2016 dan 2017 lebih besar dari nol. nol. EVA yang lebih besar dari nol berarti

perusahaan dapat

menciptakan nilai tambah.

Jika nilai EVA kurang dari 0, berarti perusahaan tidak dapat menciptakan nilai tambah.

Selama periode penelitian 2012-2017, kinerja keuangan MVA menunjukkan nilai positif yang artinya dapat memberikan kesejahteraan bagi pemegang saham.

2 (Ardiani &

Sriwardany, 2021)

EVA dan MVA Metode analisis data yang di perlukan secara kuantitatif dengan berdasarkan data skunder yang telah

dikumpulkan.

Hasil penelitian ini menunjukan bahwa metode EVA memiliki kinerja keuangan yang kurang baik dan metode MVA memiliki kinerja keuangan yang baik

pada perusahaan

Pertambangan Sub Sektor BatuBara yang terdaftar di BEI Periode 2016-2020.

(2)

3

(ButarButar , 2017)

EVA dan MVA

Metode analisis

data yang

diperlukan secara kuantitatif dengan berdasarkan data skunder yang telah

dikumpulkan.

Tambang (Persero) Tbk kurang memuaskan, sedangkan kinerja keuangan PT. Bukit Asam (Persero) Tbk dan PT. Timah (Persero) Tbk memiliki kinerja yang cukup memuaskan. Berdasarkan analisis MVA ketiga perusahaan memiliki kinerja keuangan yang cukup memuaskan, karena memiliki nilai MVA positif.

Perusahaan BUMN Sektor Pertambangan memiliki perkembangan invested capital cenderung meningkat, sedangan laba yang dihasilkan cenderung menurun. Hal ini berdampak pada Nilai EVA yang dihasilkan perusahaan.

Harga saham yang terus menurun juga berpengaruh terhadap kinerja keuangan perusahaan. Harga saham yang menurun berdampak pada Nilai MVA yang dihasilkan perusahaan.

4 Rauf 2016 EVA dan MVA Metode analisis

data yang

diperlukan secara kuantitatif dengan berdasarkan data skunder yang telah

dikumpulkan.

menemukan bahwa: EVA 2013-2015 positif. MVA perusahaan pertambangan sampel adalah positif untuk periode 2013-2015, sehingga perusahaan dapat meningkatkan kekayaan pemegang sahamnya.

5 Nasrianto 2021

EVA dan MVA Metode analisis

data yang

diperlukan secara kuantitatif dengan berdasarkan data skunder yang telah

dikumpulkan.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Economic Value Added (EVA) mendominasi di bawah nol, yang berarti

perusahaan belum

menciptakan nilai tambah ekonomi. Kinerja keuangan Market Value Added (MVA) periode 2016-2020

(3)

menunjukkan nilai positif, artinya perusahaan dapat memberikan keuntungan bagi pemegang sahamnya.

Perbedaan Penelitian ini dengan penelitian sebelumnya adalah terletak pada objek penelitian yang di gunakan yaitu pada PT. Aneka Tambang dengan periode tahun 2016-2020, pertambangan di indeks LQ45 dengan periode tahu 2013-2015 dan perusahaan tambang yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dengan periode tahun yang diteliti yaitu 2011-2015. Penelitian ini menggunakan perusahaan PT.

Bumi Resources Tbk dengan periode tahun 2016-2020. Persamaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya yaitu sama-sama menggunakan variabel EVA dan MVA untuk mengetahui apakah terjadi nilai tambah ekonomis atau tidak terjadi nilai tambah ekonomis pada perusahaan tersebut.

B. Tinjauan Pustaka 1. Kinerja Keuangan a. Pengertian Kinerja

Kinerja adalah hasil kerja yang dicapai oleh perusahaan saat mencapai tujuannya selama periode waktu tertentu. Menurut Irham (2013), kinerja adalah hasil dari suatu organisasi, dan suatu organisasi baik organisasi bersifat profit oriented dan non oriented yang dihasilkan selama periode waktu tertentu. Chaizi Nasucha menegaskan bahwa kinerja organisasi adalah efek dari suatu organisasi secara keseluruhan yang meningkatkan kemampuan organisasi untuk memenuhi kebutuhan yang ditetapkan setiap kelompok terkait dengan upaya sistematis dan untuk secara konsisten dan efektif mencapai kebutuhan tersebut. Menurut (Putra, AR, & Muhammad, 2015) kinerja diartikan sebagai tingkat pencapaian hasil atau tujuan perusahaan, tingkat pencapaian misi perusahaan, tingkat pencapaian prestasi

(4)

kerja yang sebenarnya, dan tingkat pencapaian misi perusahaan. Hal ini juga diartikan sebagai kinerja perusahaan selama periode waktu yang mencerminkan tingkat kesehatan.

b. Kinerja Keuangan

Kinerja keuangan suatu perusahaan sangat penting untuk diketahui, karena melalui pengukuran dan evaluasi kinerja keuangan, perusahaan dapat menyusun rencana-rencana atau target-target untuk masa yang akan datang. Selain itu, pengukuran kinerja keuangan akan memudahkan pihak manajemen dalam mengidentifikasi masalah-masalah yang terdapat dalam bidang keuangan sebuah perusahaan, sehingga dapat ditentukan suatu solusi yang lebih akurat bagi penanganan masalah-masalah tersebut. Menurut (Jumingan, 2006) yang dimaksud dengan kinerja keuangan perusahaan adalah prestasi yang dicapai perusahaan dalam periode tertentu yang mencerminkan tingkat kesehatan dari perusahaan tersebut. Kinerja keuangan perusahaan merupakan salah satu dasar penilaian mengenai kondisi keuangan perusahaan yang dapat dilakukan berdasarkan analisis rasio-rasio keuangan. Menurut (Munawir, Analisa Laporan Keuangan, 2007) yang dimaksud dengan kinerja keuangan perusahaan adalah pengukuran prestasi yang dapat dicapai oleh perusahaan yang mencerminkan kondisi kesehatan dari suatu perusahaan pada kurun waktu tertentu. Pengukuran prestasi pada umumnya didasarkan atas laba yang dihasilkan dibandingkan dengan investasi yang ditanam dalam perusahaan.

Kedua definisi tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan kinerja keuangan perusahaan adalah prestasi atau hasil yang dicapai suatu perusahaan dalam periode waktu tertentu yang menggambarkan tentang keadaan atau posisi keuangan tersebut. Pengukuran kinerja keuangan perusahaan diperlukan

(5)

untuk menentukan keberhasilan dalam mencapai tujuan. Tujuan dari pengukuran kinerja yang dikemukakan oleh (Munawir, Analisa Laporan Keuangan, 2007) adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui tingkat likuiditas, yaitu kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban keuangan yang harus segera dipenuhi pada saat ditagih.

2. Untuk mengetahui tingkat solvabilitas, yaitu kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban keuangannya apabila perusahaan tersebut dilikuidasi.

3. Untuk mengetahui tingkat profitabilitas atau rentabilitas, yaitu kemampuan perusahaan menghasilkan laba periode tertentu dibandingkan penggunaan aktiva atau modal secara produktif.

4. Untuk mengetahui tingkat stabilitas usaha, yaitu kemampuan perusahaan menjalankan dan mempertahankan usahanya agar tetap stabil, hal tersebut diukur dari kemampuan membayar pokok hutang dan beban bunga tepat waktu, serta pembayaran dividen secara teratur kepada pemegang saham tanpa kesulitan.

Pada prinsipnya kinerja dapat dilihat dari siapa yang melakukan penelitian itu sendiri. Bagi manajemen, melihat konstribusi yang dapat diberikan oleh suatu bagian tertentu bagi pencapaian tujuan secara keseluruhan. Sedangkan bagi pihak luar manajemen, kinerja merupakan alat untuk mengukur suatu prestasi yang dicapai oleh suatu organisasi dalam suatu periode tertentu yang merupakan cerminan tingkat hasil pelaksanaan aktivitas kegiatannya, namun demikian penilaian kinerja suatu organisasi baik yang dilakukan pihak manajemen perusahaan diperlukan sebagai dasar penetapan kebijaksanaan di masa yang akan datang. Guna mengetahui tingkat kinerja perusahaan dilakukan serangkaian

(6)

tindakan evaluasi yang pada intinya adalah penilaian atas hasil usaha yang dilakukan selama periode waktu tertentu. Hasil usaha tersebut dapat berupa barang atau jasa yang dapat menjadi atribut dari keberhasilan kerja organisasi. Harmono (2009) mengemukakan bahwa: Kinerja keuangan umumnya diukur berdasarkan penghasilan bersih (laba) atau sebagai dasar bagi ukuran yang lain seperti imbalan investasi (Return of Investment) atau penghasilan persaham (Earning Per Share) c. Penilaian Kinerja

Penilaian kinerja dilakukan untuk memberikan penilaian terhadap hasil kerja atau prestasi kerja yang diperoleh perusahaan. Menurut Irham (2013) penilaian kinerja adalah suatu penilaian yang dilakukan kepada pihak manajemen perusahaan baik para karyawan maupun manajer yang selama ini telah melakukan pekerjaannya. Menurut Irham (2013) penilaian kinerja merupakan proses mengevaluasi seberapa baik karyawan mengerjakan pekerjaannya ketika dibandingkan dengan satu set standar, dan kemudian mengomunikasikan informasi tersebut. Penilaian yang dilakukan tersebut nantinya akan menjadi bahan masukan yang berarti dalam menilai kinerja yang dilakukan dan selanjutnya dapat dilakukan perbaikan, atau yang biasa disebut perbaikan yang berkelanjutan.

d. Pentingnya Penilaian Kinerja

Dalam rangka melakukan perbaikan yang berkesinambungan maka suatu organisasi perlu melakukan penilaian kinerja. Menurut Irham (2013) ada beberapa alasan dan pertimbangan untuk itu diantaranya:

a) Penilaian kinerja memberikan informasi bagi pertimbangan pemberian promosi dan penetapan gaji.

b) Penilaian kinerja memberikan umpan balik bagi para manajer maupun karyawan untuk melakukan introspeksi dan meninjau kembali perilaku

(7)

selama ini, baik yang positif maupun negatif untuk kemudian dirumuskan kembali sebagai perilaku yang mendukung tumbuh berkembangnya budaya organisasi secara keseluruhan.

c) Penilaian kinerja diperlukan untuk pertimbangan pelatihan dan pelatihan kembali (retraining) serta pengembangan.

d) Penilaian kinerja dewasa ini bagi setiap organisasi khususnya organisasi bisnis merupakan suatu keharusan, apalagi jika dilihat tingginya persaingan antar perusahaan.

e) Hasil penilaian kinerja lebih jauh akan menjadi bahan masukan bagi pemerintah dalam melihat bagaimana kondisi perusahaan tersebut, termasuk menjadi bahan masukan bagi lembaga tersebut dan termasuk menjadi bahan masukan bagi lembaga pemberi pinjaman dalam melihat kinerja suatu perusahaan.

e. Manfaat Penilaian Kinerja

Bagi pihak manajemen perusahaan ada banyak manfaat dengan dilakukannya penilaian kinerja. Menurut Irham (2013) penilaian kinerja dimanfaatkan manajemen untuk:

a) Mengelola operasi organisasi secara efektif dan efesien melalui pemotivasian karyawan secara maksimum

b) Membantu pengambilan keputusan yang bersangkutan dengan karyawan, seperti Promosi, transfer, dan pemberhentian.

c) Mengidentifikasikan kebutuhan pelatihan dan pengembangan karyawan dan untuk menyediakan kriteria seleksi dan evaluasi program pelatihan karyawan.

d) Menyediakan umpan balik bagi karyawan mengenai bagaimana atasan mereka menilai kinerja mereka.

(8)

e) Menyediakan suatu dasar bagi distribusi penghargaan.

2. Laporan Keuangan

Pada mulanya laporan keuangan bagi perusahaan hanyalah sebagai hasil akhir dari pekerjaan bagian pembukuan. Untuk selanjutnya laporan keuangan digunakan juga sebagai dasar untuk menentukan atau menilai posisi keuangan perusahaan tersebut, dimana dengan hasil analisis tersebut pihak-pihak yang berkepentingan dapat mengambil keputusan. Jadi untuk mengetahui posisi keuangan suatu perusahaan serta hasil-hasil yang telah dicapai oleh perusahaan tersebut diperlukan adanya laporan keuangan dari perusahaan yang bersangkutan.

a. Pengertian Laporan Keuangan

Laporan keuangan adalah laporan data yang menggambarkan posisi keuangan suatu perusahaan untuk suatu periode tertentu. Laporan keuangan dapat digunakan oleh peneliti untuk menilai kesehatan suatu perusahaan. Laporan keuangan ini sangat berguna bagi pihak internal maupun eksternal untuk mengetahui kemajuan perusahaan. Menurut (Kasmir, 2014) “Laporan keuangan adalah laporan yang menunjukkan posisi keuangan suatu perusahaan, baik saat ini maupun pada periode tertentu.” Sedangkan menurut (Harahap, 2006) “laporan keuangan adalah laporan yang menggambarkan posisi keuangan dan hasil operasi suatu perusahaan pada suatu titik waktu tertentu atau untuk periode tertentu”.

Menurut (Hanafi & Halim, 2003)“Laporan keuangan merupakan salah satu sumber informasi yang penting disamping informasi lain seperti informasi industri, kondisi perekonomian, kualitas manajemen dan lainnya.” Menurut (Munawir, 2004) bahwa: Laporan keuangan merupakan pada dasarnya adalah hasil dari proses akuntansi yang dapat digunakan sebagai alat komunikasi antara data keuangan atau

(9)

aktivitas suatu perusahaan dengan pihak yang berkepentingan dengan data atau aktivitas dari perusahaan tersebut.

Berdasarkan beberapa pengertian di atas dapat diartikan bahwa laporan keuangan adalah:

1) Merupakan potret perusahaan, yaitu dapat menggambarkan kinerja keuangan maupun kinerja manajemen perusahaan, apakah dalam kondisi yang baik atau tidak.

2) Merupakan rangkaian akitivitas ekonomi perusahaan yang diklasifikasikan pada periode tertentu.

3) Merupakan ringkasan dari suatu proses transaksi-transaksi keuangan yang terjadi selama periode yang bersangkutan.

b. Tujuan Laporan Keuangan

Seperti diketahui bahwa setiap laporan keuangan yang dibuat sudah pasti memiliki tujuan tertentu. Dalam praktiknya terdapat beberapa tujuan yang hendak dicapai, terutama bagi pemilik usaha dan manajemen perusahaan. Di samping itu tujuan laporan keuangan disusun guna memenuhi kepentingan berbagai pihak yang berkepentingan terhadap perusahaan. Menurut Standar Akuntansi Keuangan (Ikatan Akuntansi Indonesia, 1994) bahwa tujuan laporan keuangan adalah menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja serta perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi.

(10)

3. Economic Value Added (EVA) a. Pengertian EVA

Konsep EVA, atau nilai tambah ekonomi, adalah pendekatan baru untuk mengevaluasi pekerjaan perusahaan dengan memberikan perhatian yang adil terhadap harapan penyandang dananya. Metode EVA pertama kali dikembangkan pada tahun 1993 oleh Stewart & Stern, seorang analis keuangan di Stern Stewart &

Co. Di Indonesia, metode ini disebut metode NITAMI (nilai tambah ekonomis).

EVA/NITAMI adalah metode manajemen keuangan untuk mengukur pengembalian ekonomi perusahaan yang menyatakan kesejahteraan hanya tercipta ketika perusahaan dapat memenuhi biaya operasional dan modalnya. (Tunggal, 2001)

Menurut (Young & O'Byrne, 2001) EVA merupakan alat komunikasi yang efektif baik untuk penciptaan nilai yang dapat dijangkau oleh manajer lini yang akhirnya mendorong kinerja perusahaan dan untuk menghubungkan dengan pasar modal. Ide dasar dari EVA adalah pengemasan ulang dari manajemen perusahaan yang dapat dipercaya dan prinsip keuangan yang pernah ada. Namun EVA merupakan investasi terpenting karena ia membuat teori keuangan modern.

Implikasi manajerial dari teori ini adalah mudah diakses oleh manajer perusahaan yang tidak terlatih dengan baik dalam keuangan atau tidak pernah memikirkannya.

EVA membantu para manajer untuk lebih memahami tujuan keuangan, dan dengan demikian membantu mereka untuk mencapai tujuan.

(Young dan O’Bryne 2001) Economic Value Added (EVA) atau disebut juga dengan nilai tambah ekonomis (NITAMI) diartikan sebagai suatu konsep yang dilandasi oleh pemikiran bahwa dalam pengukuran laba operasi perusahaan harus

(11)

dengan adil mempertimbangkan harapan-harapan setiap penyedia dana (kreditur dan pemegang saham). Derajat keadilannya dinyatakan dengan ukuran tertimbang dan struktur modal yang ada (Widayanto, 1993) Berdasarkan pendapat-pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa pengertian Economic Value Added (EVA) adalah keuntungan operasional setelah pajak, dikurangi biaya modal yang digunakan untuk menilai kinerja perusahaan dengan memperhatikan secara adil harapan-harapan para pemegang saham dan kreditur. Economic Value Adde (EVA) merupakan perangkat finansial untuk mengukur keuntungan nyata perusahaan. Hal ini membuat perhitungan Economic Value Added (EVA) lain dengan perhitungan analisis rasio keuangan lainnya. Perbedaan tersebut dikarenakan pada perhitungan dengan menggunakan pendekatan Economic Value Added (EVA) dilibatkannya biaya modal operasi setelah laba bersih, dimana hal tersebut tidak dilakukan dalam perhitungan konvesional.

b. Perhitungan EVA

Langkah - langkah untuk mengitung EVA (Tunggal, 2001):

1) Menghitung NOPAT (Net Operating After Tax)

NOPAT adalah laba yang berasal dari perusahaan setelah pajak tapi belum pendanaan biaya dan non-kas pembukuan setelah entri seperti itu. NOPAT juga adalah total keuntungan yang tersedia untuk memberikan pengembalian tunai kepada seluruh penyedia pembiayaan modal untuk perusahaan.

Rumus:

NOPAT = Laba (Rugi) Usaha - Pajak 2) Menghitung Invested Capital

Menurut Young (2001) Invested Capital adalah:

(12)

Jumlah seluruh keuangan perusahaan, terlepas dari kewajiban jangka pendek, pasiva yang tidak menanggung bunga (non interestbearing liabilities), seperti utang, upah yang jatuh tempo (accrued wages), dan pajak yang akan jatuh tempo (accrued taxes).

Dimana menghitung Invested Capital menurut Tunggal, 2001 dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:

Rumus:

Invested Capital = Total Hutang & Ekuitas - Hutang Jk. Pendek Total hutang dan ekuitas menunjukkan beberapa bagian dari setiap rupiah modal sendiri yang dijadikan jaminan utang. Pinjaman jangka pendek tanpa bunga merupakan pinjaman yang pelunasan maupun pembayaran akan dilakukan dalam jangka pendek (satu tahun sejak tanggal neraca) dengan menggunakan aktiva lancar yang dimiliki perusahaan, dan atas pinjaman itu tidak dikenai bunga, seperti hutang usaha, hutang pajak, biaya yang masih harus dibayar, dan lain-lain.

3) Menghitung WACC (Weight Average Cost Of Capital) Menurut (Sundjaja & Barlian, 2003) adalah:

Biaya modal rata-rata tertimbang (WACC) mencerminkan rata-rata biaya modal yang diharapkan dimasa yang akan datang. Biaya rata-rata tertimbang diperoleh dengan menimbang biaya dari setiap jenis modal tertentu dengan proporsinya dalam struktur modal perusahaan.

Tahap -tahap menghitung WACC (Weight Average Cost Of Capital) menurut Tunggal, 2001 dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:

Rumus:

WACC = {(D x rd) (1-Tax) + (E x re)

(13)

Dimana:

a. Tingkat Modal (D) diketahui dari perbandingan antara total hutang dengan jumlah hutang dan ekuitas.

Dapat dirumuskan sebagai berikut:

𝑻𝒊𝒏𝒈𝒌𝒂𝒕 𝑴𝒐𝒅𝒂𝒍 (𝑫) = 𝑻𝒐𝒕𝒂𝒍 𝑯𝒖𝒕𝒂𝒏𝒈

𝑻𝒐𝒕𝒂𝒍 𝑯𝒖𝒕𝒂𝒏𝒈 𝒅𝒂𝒏 𝑬𝒌𝒖𝒊𝒕𝒂𝒔𝒙𝟏𝟎𝟎%

b. Cost Of Debt (rd) diketahui dari perbandingan antara beban hutang dengan total hutang dimana jumlah pinjaman bank (jangka pendek).

Dapat dirumuskan sebagai berikut:

𝑪𝒐𝒔𝒕 𝑶𝒇 𝑫𝒆𝒃𝒕(𝒓𝒅) =𝑩𝒆𝒃𝒂𝒏 𝑩𝒖𝒏𝒈𝒂

𝑻𝒐𝒕𝒂𝒍 𝑯𝒖𝒕𝒂𝒏𝒈 𝒙𝟏𝟎𝟎%

c. Tingkat Modal dan Ekuitas (E) diketahui dari perbandingan total ekuitas dan jumlah hutang dan ekuitas.

Dapat dirumuskan sebagai berikut:

𝑻𝒊𝒏𝒈𝒌𝒂𝒕 𝑴𝒐𝒅𝒂𝒍 𝒅𝒂𝒏 𝑬𝒌𝒖𝒊𝒕𝒂𝒔(𝑬) = 𝑻𝒐𝒕𝒂𝒍 𝑬𝒌𝒖𝒊𝒕𝒂𝒔

𝑻𝒐𝒕𝒂𝒍 𝑯𝒖𝒕𝒂𝒏𝒈 𝒅𝒂𝒏 𝑬𝒌𝒖𝒊𝒕𝒂𝒔𝒙𝟏𝟎𝟎%

d. Cost Of Equity (re) diketahui dari perbandingan antara laba bersih setelah pajak dengan total ekuitas.

Dapat dirumuskan sebagai berikut:

𝑪𝒐𝒔𝒕 𝑶𝒇 𝑬𝒒𝒖𝒊𝒕𝒚(𝒓𝒆) =𝑳𝒂𝒃𝒂 𝑩𝒆𝒓𝒔𝒊𝒉 𝑺𝒆𝒕𝒆𝒍𝒂𝒉 𝑷𝒂𝒋𝒂𝒌

𝑻𝒐𝒕𝒂𝒍 𝑬𝒌𝒖𝒊𝒕𝒂𝒔 𝒙𝟏𝟎𝟎%

e. Tingkat Pajak (Tax) diketahui dari perbandingan beban pajak dengan laba sebelum pajak.

Dapat dirumuskan sebagai berikut:

(14)

𝑻𝒊𝒏𝒈𝒌𝒂𝒕 𝑷𝒂𝒋𝒂𝒌(𝑻𝒂𝒙) = 𝑩𝒆𝒃𝒂𝒏 𝑷𝒂𝒋𝒂𝒌

𝑳𝒂𝒃𝒂 𝑩𝒆𝒓𝒔𝒊𝒉 𝑺𝒆𝒃𝒆𝒍𝒖𝒎 𝑷𝒂𝒋𝒂𝒌𝒙𝟏𝟎𝟎%

Dimana:

D = Tingkat Modal rd = Cost Of Debt

E = Tingkat Modal dan Ekuitas re = Cost Of Equity

T = Tingkat Pajak

4) Menghitung Capital Charges

Menurut Tunggal, 2001 Capital Charges adalah aliran kas yang dibutuhkan untuk mengganti para investor atau resiko usaha dari modal yang ditanamkan.

Capital Charges didapat dengan mengkalikan WACC dengan Invested Capital.

Dapat dirumuskan sebagai berikut:

Capital Charges = WACC x Invested Capital 5) Menghitung EVA

Menurut Young & O’ Byrne (2001) EVA sama dengan selisih antara laba operasi perusahaan setelah pajak (NOPAT) dengan biaya modal. Biaya modal sama dengan modal yang diinvestasikan perusahaan dikalikan dengan biaya modal rata-rata tertimbang secara matematis.

Dimana menghitung EVA menurut Tunggal, 2001 dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:

EVA = NOPAT - Capital Charges Atau

EVA = NOPAT - (WACC x Invested Capital)

(15)

Keterangan:

EVA = Economic Value Added

NOPAT = Net Operating Profit After Tax WACC = Weighted Average Cost Of Capital IC = Invested Capital

c. Kriteria Economic Value Added (EVA)

Untuk mengetahui apakah dalam perusahaan telah terjadi penciptaan nilai atau tidak, dapat ditentukan dengan kriteria yang dikemukakan oleh (Widayanto, 2004) sebagai berikut:

1) EVA > 0, maka terjadi nilai tambah ekonomis dalam perusahaan, sehingga semakin besar EVA yang dihasilkan, maka harapan para penyandang dana dapat terpenuhi dengan baik, yaitu mendapatkan pengembalian investasi yang sama atau lebih dari yang diinvestasikan dan kreditur mendapatkan bunga. Keadaan ini menunjukan bahwa perusahaan berhasil menciptakan nilai (create value) bagi pemilik modal sehingga menandakan bahwa kinerja keuangannya baik.

2) EVA < 0, maka menunjukan tidak terjadi proses nilai tambah ekonomis bagi perusuhaan, karena laba yang tersedia tidak bisa memenuhi harapan pada penyandang dana terutama pemegang saham yaitu tidak mendapatkan pengembalian yang setimpal dengan investasi yang ditanamkan dan kreditur tetap mendapatkan bunga. Sehingga dengan tidak ada nilai tambah mengindikasikan kinerja keuangan kurang baik.

3) EVA = 0, maka menunjukan posisi impas karena semua laba yang telah digunakan untuk membayar kewajiban kepada penyandang dana baik kreditur

(16)

maupun pemegang saham.

d. Keunggulan dan Kelemahan EVA

Salah satu keunggulan EVA sebagai penilai kinerja perusahaan adalah dapat digunakan sebagai penciptaan nilai (value creation). Keunggulan EVA yang lain adalah:

1) EVA memfokuskan penilaian pada nilai tambah dengan memperhitungkan beban sebagai konsekuensi investasi.

2) Konsep EVA adalah alat perusahaaan dalam mengukur harapan yang dilihat dari segi ekonomis dalam pengukurannya yaitu dengan memperhatikan harapan penyandang dana secara adil dimana derajat keadilan dinyatakan dengan ukuran tertimbang dari struktur modal yang ada dan berpedoman pada nilai pasar dan bukan pada nilai buku.

3) Perhitungan EVA dapat dipergunakan secara mandiri tanpa memerlukan data pembanding seperti standar industri atau data perusahaan lain sebagai konsep penilaian.

4) Konsep EVA dapat digunakan sebagai dasar penilaian pemberian bonus pada karyawan terutama pada devisi yang memberikan EVA lebih sehingga dapat dikatakan bahwa EVA menjalankan stakholders satisfaction concepts.

5) Pengaplikasian EVA yang mudah menunjukan bahwa konsep tersebut merupakan ukuran praktis, mudah dihitung dan mudah digunakan sehinggah merupakan salah satu bahan pertimbangan dalam mempercepat pengambilan keputusaan bisnis.

Selain berbagai keunggulan, konsep EVA juga memiliki kelemahan-kelemahan,

(17)

antara lain:

1) EVA hanya mengukur hasil akhir (result), konsep ini tidak mengukur aktivitas- aktivitas penentu.

2) EVA terlalu bertumpu pada keyakinan bahwa investor sangat mengandalkan pendekatan fundamental dalam mengkaji dan mengambil keputusan untuk menjual atau membeli saham tertentu padahal faktor-faktor lain terkadang justru lebih dominan.

e. Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi EVA

Menurut Young dan O’Bryne (2001), peningkatan EVA dan penciptaan nilai dapat terjadi ketika suatu perusahaan dapat mencapai hal berikut:

1) Meningkatnya pengembalian atas modal yang ada Jika NOPAT meningkat sedangkan WACC dan modal yang diinvestasikan tetap, maka EVA akan meningkat.

2) Pertumbuhan yang menguntungkan, karena nilai diciptakan ketika pertumbuhan NOPAT melebihi WACC.

3) Pelepasan dari aktiva yag memusnahkan nilai. Jika pengurangan modal lebih mengganti kerugian dengan peningkatan perbedaan NOPAT dan WACC maka EVA meningkat.

4) Periode lebih panjang dimana diharapkan NOPAT lebih tinggi dibandingkan WACC.

(18)

4. Market Value Added (MVA) a. Pengertian MVA

Tujuan utama pengelolaan keuangan perusahaan adalah untuk memaksimalkan kemakmuran pemegang saham. Tujuan ini jelas menguntungkan bagi para pemegang saham dan memastikan bahwa sumber daya yang terbatas dialokasikan secara efisien. Kemakmuran pemegang saham dapat dimaksimalkan dengan memaksimalkan selisih antara nilai pasar modal dan modal ekuitas yang diberikan investor kepada perusahaan. Perbedaan ini disebut nilai tambah pasar (MVA). (Warsono, 2003)

Kekayaan pemegang saham akan menjadi maksimal dengan memaksimalkan perbedaan antara nilai pasar ekuitas perusahaan dengan jumlah ekuitas yang diinvestasikan investor. Maka para analis keuangan memaksimalkan kekayaan tersebut dengan melihat ukuran kinerja dengan menggunakan pendekatan MVA dan EVA. Kekayaan pemegang saham akan di maksimalkan dengan meminimalkan perbedaan antara nilai pasar ekuitas dengan ekuitas (modal sendiri) yang diserahkan ke perusahaan oleh para pemegang saham perusahaan). perbedaan ini disebut sebagai MVA. (Husnan & Pudjiastuti, 2004). Nilai tambah pasar atau MVA adalah perbedaan antara nilai pasar saham perusahaan dengan jumlah ekuitas modal investor yang telah diberikan oleh pemegang saham.

b. Perhitungan MVA

Nilai Market Value Added dapat dihitung dengan rumus (Young dan O’Byrne, 2001): MVA = Nilai pasar ekuitas – modal yang diinvestasikan investor

MVA = Pt.Qt - P0.Qt

(19)

Keterangan:

Pt = Harga pasar saham per lembar

Qt = Jumlah lembar saham yang beredar pada periode t

P0 = Harga pasar saham per lembar pada saat penawaran perdana c. Kriteria MVA

Dilakukan analisis berdasarkan tolok ukur MVA (Young & O’bryne, 2001)

1) Jika MVA > 0, (positif) menunjukkan bahwa perusahaan mampu meningkatkan nilai modal yang telah diinvestasikan oleh penyandang dana.

2) Jika MVA < 0 (negatif) menunjukkan bahwa perusahaan tidak berhasil meningkkatkan nilai modal yang telah diinvestasikan oleh penyandang dana.

5. Keunggulan dan Kelemahan MVA

Kelebihan MVA menurut (Zaky & Ary, 2002) MVA merupakan ukuran tunggal dan dapat berdiri sendiri yang tidak membutuhkan analisis trend sehingga bagi pihak menajemen dan penyedia dana akan lebih mudah dalam menilai kinerja perusahaan. Sedangkan kelemahan MVA adalah MVA hanya dapat diaplikasikan pada perusahaan yang sudah go public saja.

6. Hubungan EVA dengan MVA

MVA di gunakan untuk mengukur seluruh pengaruh kinerja manajerial sejak perusahaan berdiri hingga sekarang. MVA adalah yang dihasilkan kinerja manajerial sepanjang umur perusahaan yang di present valuekan. MVA merupakan pengukur kinerja eksternal dan hanya dapat di ukur jika perusahaan telah go public, dimana MVA cenderung memberikan penilaian yang lebih besar dari tambahan kekayaan investasi yang sesungguhnya.

(20)

Pada dasarnya, EVA dan MVA terdapat suatu hubungan tetapi hubungan tersebut bukanlah merupakan suatu hubungan langsung. Jika sebuah perusahaan memiliki sejarah nilai-nilai EVA yang negatif maka nilai MVA-nya kemungkinan juga akan negative dan begitu pula sebaliknya jika terdapat sejarah akan nilai-nilai EVA yang positif. Namun begitu, harga saham yang merupakan unsur utama dari perhitungan MVA, lebih tergantung pada ekspektasi kinerja di masa mendatang daripada suatu kinerja historis. Oleh sebab itu, sebuah perusahaan dengan sejarah nilai EVA yang negative dapat saja memiliki nilai MVA yang positif, asalkan para investornya mengharapkan terjadinya suatu perubahan dimasa mendatang.

Selain itu, ketika EVA atau MVA digunakan untuk mengevaluasi kinerja manajerial sebagai bagian dari program kompensasi insentif, EVA adalah ukuran yang umum digunakan. Alsannya adalah (1) EVA menunjukkan adanya nilai tambah yang terjadi selama suatu tahun tertentu sedangkan MVA mencerminkan kinerja perusahaan sepanjang hidupnya, bahkan mungkin termasuk masa-masa sebelum manajer yang ada sekarang dilahirkan, dan (2) EVA dapat diterapkan pada masing-masing divisi atau unit-unit yang lain dari sebuah perusahaan besar, sedangkan MVA harus diterapkan untuk perusahaan secara keseluruhan. Karena alasan-alasan tersebut, MVA terutama hanya digunakan untuk mengevaluasi pejabat-pejabat tinggi perusahaan selama jangka waktu 5 hingga 10 tahun, atau bahkan lebih lama. (Brigham & Houston, 2006).

(21)

C. Kerangka Pikir

Kerangka pikir penelitian membantu peneliti secara sistematis menangani permasalahan yang tercermin dalam laporan keuangan. Kinerja keuangan sendiri dapat diartikan sebagai kinerja koperasi dalam mengelola sumber daya keuangan dalam usahanya. Laporan keuangan dapat memberikan informasi yang berguna bagi pihak-pihak yang berkepentingan dengan perusahaan karena dapat diinterpretasikan atau dianalisis untuk memperoleh gambaran kinerja keuangan suatu perusahaan. Penilaian kinerja keuangan PT. Bumi Resources Tbk dapat dilakukan dengan menganalisis kinerja laporan keuangan perusahaan periode 2016- 2020. Untuk mengukur kinerja keuangan diperlukan data laporan keuangan berupa laporan laba rugi dan laporan posisi keuangan. Secara sederhana EVA dapat diketahui sebagai EVA = NOPAT – CAPITAL CHARGES. Dan MVA menghitung nilai pasar saham perusahaan dan menghitung modal investasi. Setelah mengetahui nilai EVA dan MVA, maka tahu berapa lama sebuah perusahaan dapat memaksimalkan nilainya dan meningkatkan nilai pemegang saham. Berikut adalah skema kerangka yang digambarkan dalam kerangka berikut:

(22)

Gambar 1 Kerangka Pikir

Apabila hasil positif EVA > 0, maka terjadi nilai tambah ekonomis dalam perusahaan, jika EVA = 0, maka menunjukan posisi impas. EVA negatif < 0, maka menunjukan tidak terjadi proses nilai tambah ekonomis bagi perusuhaan.

(Widayanto, 2004) Jika MVA positif > 0 menunjukkan bahwa perusahaan mampu meningkatkan nilai modal yang telah diinvestasikan oleh penyandang dana. MVA yang negatif MVA< 0 menunjukkan bahwa perusahaan tidak berhasil meningkatkan nilai modal yang telah diinvestasikan oleh penyandang dana. (Young

& O’bryne, 2001)

PT. Bumi Resourses Tbk. Terdaftar di BEI periode 2016-2020

Laporan Keuangan Tahunan Perusahaan

Kinerja Keuangan

EVA MVA

(>0) Nilai Tambah

Ekono mis

(<0) Tidak Terjadi

Nilai Tambah Ekonomis (0=)

Impas

(Positif) Memberikan Kemakmuran

Kepada Investor

(Negatif) Tidak Memberikan Kemakmuran Kepada Investor

Referensi

Dokumen terkait

Setelah menganalisis data objek penelitian, tema besar yang penulis angkat mengenai fenomena perokok di kalangan remaja SMP dalam film ini adalah “perokok

Ketika konsumen mempunyai pengalaman yang baik atas penggunaan berbagai merek produk yang dihasilkan dijual oleh sebuah toko makanan, maka konsume akan memberikan citra

3HPEHODMDUDQ WXWRULDO \DQJ GLPDNVXG GDODP NHJLDWDQ LQL DGDODK GLPDQD SHPEHODMDUDQ GLODNXNDQ VHFDUD PDQGLUL XQWXN PDWHULPDWHUL \DQJ

kesempatan pada siswa untuk saling membagikan ide-ide dan pertimbangan jawaban yang paling tepat. Berdasarkan teori tersebut NHT merupakan salah satu teknik

Ujian Akhir Nasional, selanjutnya disingkat dengan Ujian Nasional, adalah kegiatan penilaian hasil belajar siswa secara nasional yang dilaksanakan pada akhir

Segala puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yesus Kristus atas setiap kasih karunia dan rahmat-Nya yang begitu besar, penulis dapat menyelesaikan

Berdasarkan analisis situasi tersebut, maka melalui kegiatan pengabdian masyarakat Program Kemitraan Masyarakat ini, dapat diberikan bekal keahlian kepada siswa

Dari semua keunggulan yang teradapat dalam media pembelajaran video simulasi yang telah disebutkan di atas merupakan beberapa manfaat yang berpengaruh terhadap proses