BAB II
LANDASAN TEORI
A. Penelitian yan g Relevan
Penelitian M insih & Dewi (2012) melakukan studi tentang "Pendidikan Karakter Berbasis Kecerdasan Mejemuk dalam Membentuk Kemandirian Siswa SD Muhamm adiyah Program Khusus Kota Surakarta". (tiap judul dicetak miring) Hasil riset tersebut mengungkap implementasi tiga pendekatan untuk mengembangkan pendidikan karakter di sekolah, pertama : Inquiry- based learning (penst imulasian gairah belajar anak), kedua; C ollaborative and Cooperative Learning (kerja sama dalam proses dan hasil), dan ketiga;
integrated learning (pemahaman yang bertolak dari ragam tema atau pelajaran tertentu).
Adapun pengembangan inteligensi di sekolah menggunakan teori multiple intelegences yang berarti sekolah juga mentransformasi siswa dengan berbagai kecerdasan lainnya yang diasumsikan dapat menyukseskan masa depan mereka selain dengan kecerdasan akademik, antara Iain : Kemampuan Verbal, Kecerdasan Spritual, Kemampuan Gerak Umum atau Kinestetik, Kemampuan Gambar, Kemampuan M usik, Kemampuan IntrapersonaI„ Kemampuan Interpersonal, Kemampuan Natural, dan Kemampuan Logika-M atematika.
Pengembangan independensi melaui pendidkan kepdbadan bebass multipel inteligensi bersumber pada daya aktual dan potensi utama milik siswa. Tiga independensi yang ditanamkan kepada siswa di sekolah yaitu mengenai belajar, hidup, dan memastikan masa depan.
Penelitian Isroah, Sukanti, Widayati (2013) tentang "Implementasi Pendidikan Karakter Dalam Perkuliahan Perpajakan Pada Mahasisw a Jurusan Pendidikan Akuntansi Fise Universitas Negeri Yogyakarta” Hasil
riset tersebut mengungkap: (1) Inefisiensi model penugasan mandiri terhadap mahasiswa Jurusan Pendidikan A kuntansi FISE UNY dalam Perkuliahan Perpajakan untuk berperilaku jujur. Ini dibuktikan dengan siklus pertama bahwa mahasiswa tidak menunaikan kewajibannya sendiri, yang mana mahasiswa menyelesaikan tugas mandiri dengan meniru hasil kerja teman, artinya kesadaran berkomitmen pada kewajiban itu nihil. (2) Efektivitas Kerja praktik (simulasi) secara berkelompok terhadap mahasiswa Jurusan Pendidikan A kuntansi FISE U NY dalam Perkuliahan Perpajakan untuk berperilaku bertanggung jawab. M elalui angket tertutup diketahui bahwa kebanyakan mahasiswa mempunyai integritas moral dan kom itmen yang tinggi secara akademik maupun nonakademik.
Riset Uci Sanusi (2012), mengenai ”Pendidikan Kemandirian di Pondok Pesantren: Studi M engenai Realitas Kemandirian Santri di Pondok Pesantren al-lstiqlal Cianjur dan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tasikmalaya.” Pola yang digunakan adalah deskriptif. Independensi santri dan usaha pesantren dalam membangun tradisi mereka dideskripsikan, faktor pendukung dan penghambat maupun model pengembangan kemandirian santri tak luput dari analisisnya. Hasil riset mendapati bahwa: (1) Santri berperilaku mandiri dalam pola hidup bersahaja seperti mencuci, makan, dan sebagainya. Santri tidak bergantung pada orang Iain merupakan indikasi minimal dan utama; dan (2) Kurikulum yang diaplikasikan oleh kedua pesantren tersebut sangat sederhana dalam struktural maupun pendokumentasian. Inisiatif pengasuh dan dewan guru menjadi patokan rancangan jadwal aktivitas pembelajaran dan kurikulum.
Riset Oci M elisa Depiyanti (2012), mengenai ”M odel Pendidikan Karakter di Islamic Full Daya School: Studi Deskriptif pada SD Cendekia Leadership School Bandung." Dengan pendekatan kualitatif dan metode deskriptif,
penelitian berfokus pada pola rancang an program, implentasi, penilaian, faktor yang menunjang dan yang menghambat serta konstruksi bentuk pendidikan karakter di SD Cendekia Leadership School. Konsep 4H (Heart, Head, Health dan Hands) dipadu dengan mengembangkan 35 domain menjadi substansi pendidikan karakter secara eksplisit di setiap tahapan maturasi anak.
Pengalaman dan pembiasaan dengan cara langsung merupakan metode primer dalam implementasi pendidikan karakter disertai dengan penilaian bertahap, yaitu harian, per term dan per dua term.
Riset M . Syaifuddien Zuhriy (2011), mengenai ”Budaya Pesantren dan Pendidikan Karakter Pada P ondok Pesantren Salaf Pesantren Langitan Tuban dan Pesantren Ihyaul U lum Lamongan”. Eksplikasi dalam riset ini tentang pendidikan karakter yang diim plementasikan hingga dapat membuat kekhasan dalam budaya oleh kedua pesantren tersebut.
M enggunakan metode deskriptif dan pendekatan kualitatif penelitian ini menyatakan: (1) pesantren yang merupakan bagian dari budaya memiliki tiga elemen pokok, yaitu kemandirian kepemimpinan kyai tanpa pengooptasian pemerintah, lalu kitab-kitab klasik (kitab kuning) sebagai referensi pengajian dan terakhir adanya values system tersendiri yang tercipta dari berbagai sumber kajian milik mereka.
Elemen-elemen tersebut berjalan bersamaan dengan kedinamisan pesantren sampai budaya yang khas itu terbentuk. Tidak diperlainkan, Ponpes Langitan Tuban dan Ponpes Ihyaul U lum Babat. Kedua pesantren salaf ini juga mengembangkan budaya yang ada berdasarkan kaidah atau pedoman tenentu berasal dari ajaran kebijaksanaan klasik. Klasik yang berarti pengetahuan dan kajian yang eksis sejak periode Nabi saw., para sahabat, tabiin dan generasi setelahnya yang bisa ditemukan dalam referensi masyhur di pesantren. Adapun pengembangan budayanya dititik beratkan
pada kedisiplinan, kemandirian, kebersihan, kerapian, dan kepedulian sosial, lebih-lebih di Langitan. Seluruh budaya tersebut terbentuk dari sistematisasi pesantren merakayasa kebiasaan para santri di pesantren.
Dalam arti, visi, misi, beserta tujuan yang diupayakan untuk diraih bersama, baik oleh pengasuh, pengurus maupun santri menjadi haluan segala aktivitas yang lazim di pesantren. A ktivitas lazim ini secara kekinian bahasa sekarang diistilahkan pendidikan karakter; dan (2) setidaknya ada tiga faktor pendukung kesuksesan Ponpes Ihyaul U lum Babat dan Ponpes Langitan Tuban ini dalam pendidikan karakter; pertama kyai sebagai teladan, kemudian, simbiosis interaksi bersinambung antara santri, pengurus, dan pengasuh yang berintensitas tinggi.
Terakhir, tata tertib dan pedoman santri diterapkan untuk mengikuti strategi pesantren, pengaturan tergantung pada elaborasi dalem karsa (pengasuh) beserta visi dan misi lembaga. Agus Dwi Santoso (2014) dalam studinya berjudul “Implementasi Pendidikan Karakter dalam M embangun Kemandirian dan D isiplin Siswa di M T.sN Kanigoro Kras Kabupaten Kediri,”
menemukkan bahwa kemandirian dan kedisiplinan siswa dapat dikembangkan melalui pendidikan karakter yang implementasinya didahului dengan penelaahan secara intensif terhadap visi misi sekolah yang sesudah itu menyosialisasikannya kepada segenap warga sekolah. Fase pembinaan kedisiplinan dan kemandirian ditempuh dengan fase keteladanan dan pembudayaan yang dipertunjukkan oleh dewan guru dan pemangku kepentingan warga sekolah. Pembinaan perilaku mandiri ini diterapkan dengan tahapan dan dilakukan pengontrolan intensif. (ini kutipan terlalu panjnag)
Penelitian Suryadi & Sanusi (2016) berjudul ”M enuju Pendidikan Kemandirian: Gagasan Penting dari Pesantren." Penelitian ini merupakan studi
kepustakaan. Hasil analisisnya bahwa salah satu watak yang mesti ditum buhkembangkan adalah kemandirian. Pesantren merupakan lembaga yang mempraktikkan pendidikan kemandirian. Santri mampu berperilaku mandiri di pesantren didorong beberapa faktor, antara Iain: Prinsip kemandirian ditanamkan oleh pesantren ke dalam kurikulum dan proses pemelajaran (pengajian); Pesantren ragam keterampilan untuk ditetapkan secara langsung dalam keseharian; Pesantren membekali santri dengan pengetahuan aplikatif perihal pemimpin atau cara memimpin (leadership) dan membimbing penerapannyanya ketika menyantri atau sesudahnya saat kembali ke masyarakat; sebagai modal kesanggupan menaikkan derajat ekonomi dan lingkungan sosialnya, pesantren membekali santri dengan pengetahuan entrepreneurship (kew iraswastaan); dan Pesantren melanggengkan prinsip ikhtiar dengan menghindari cara instan dalam menjalani hidup.
Prima Aswirna. (2013) dalam studinya tentang ’Small And M edium Industry For Sustaining M adrasa In Global Change: Study at Darul M a’rifat M odern Islamic Boarding School in East Java" menemukan: (1) Adanya tiga puluh industri menengah dan kecil di Pondok M odern Darul M a’rifat; (2) Penerapan teori atau praktik kecakapan dan kemampuan hidup berw iraswasta secara langsung di Pondok M odern Darul M a’rifat, contoh: belugas di pabrik roti dan mengoperasikan m ini market; (3) Kualitas kecakapan hidup dan keterampilan berwiraswasta para santri cukup tingg i dengan 82% sebagai nilai rata-rata.
Johansyah (2011) dalam studinya tentang "Karakter Dalam Islam: Kajian dari Aspek M etodologis” menyimpulkan bahwa karakter adalah pilar utama untuk memperkenalkan manusia yang andal, baik individual ataupun kolektif.
Dalam Islam, istilah karakter lebih diketahui dengan akhlak Nabi saw. ketika
beliau diutus Allah sebagai rasul. Dengan antusias pendidikan kepribadian yang berlansung, penelitian ini mempelajari dan menjelaskan aktualisasi pendidikan tersebut dalam Islam. Berdasarkan data dalam Islam pendidikan kepribadian dikenal dengan term akhlak karimah. Adapun metode terbaik dalam pendidikan akhlak, dengan habituasi perihal kebaikan hingga diasumsikan sebagai budaya dalam tindakan, perasaan, maupun pikiran adalah mengacu pada sudut pandang metodologis, keteladanan, dan metode pembiasaan. M empertunjukkan keteladanan kepada pesena didik hingga yang demikian itu menjadi sifat-sifat yang diinternalisasikan ke dalam psike mereka. Sifat-sifat tersebut menjadi segala sesuatu yang diketahui sekaligus untuk dimanisfestasikan dalam perilaku.
Penelitian Siti Zulaikah (2019) dengan judul Penguatan Pendidikan Karakter Melalui Pendidikan Agama Islam D i Sm pn 3 Bandar Lampung.
M enemukan bahwasanya Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) dengan pendidikan Islam terbagi menjadi 3: PPK berbasis kelas, PPK berbasis sekolah, PPK berbasis masyarakat. PPK berbasis kelas sudah terlaksana dengan baik, karena setiap tahapan sudah dilaksanakan dengan baik. Tahapan tersebut adalah mengintegrasikan PPK ke dalam program dengan pengelolaan kelas, PPK melalui pemilihan dan penggunaan metode pembelajaran tematik, PPK dengan kegiatan literasi, PPK dengan penyuluhan. Dari seluruh tahapan implementasi ini, dapat diasumsikan telah dilaksanakan secara optimal.
Selanjutnya, PPK berbasis pada budaya sekolah dimana budaya tersebut memiliki banyak nilai-nilai substansial PPK yang diterapkan. PPK berbasis budaya sekolah ditemukan berjalan dengan baik dalam pelaksanaannya.
Dengan keadaan sosial dan budaya di SM PN 3 Bandar Lampung untuk menerapkan berbagai macam sifat mulia, berimplikasi pada kemudahan pengintegrasian siswa dengan model pendidikan. Terakhir PPK berbasis
masyarakat belum berjalan selaras dengan konsep PPK dalam pelaksanaannya. Terbatasnya ruang lingkup untuk pengimplementasian menjadi faktor penghambat. Didapatkan juga kolaborasi yang masih minim, yaitu guru diniah dan komunitas ulama. Namun, hubungan komite sekolah dengan wali murid sebagai pemeran penting kunci dalam pendidikan masih tetap berlaku. Dengan demikian bisa disimpulkan bahwa PPK berbasis masyarakat adalah satu-satunya yang belum terimplementasi secara baik.
Kajian Siswanto (2013) mengenai Pendidikan Karakter berbasis Nilai-nilai Religius menyatakan bahwa pengelolaan pendidikan yang
tidak sewajarnya dalam menekankan aspek kognitif dan tidak mengindahkan aspek-aspek Iain terbukti dapat membuat keretakan dalam kepribadian seseorang (split personality). Kecenderungan hedonistik, rasionalis, matrealistik, rendahnya inteligensi emotional, dan lemahnya kecerdasan spiritual banyak ditemukan dari lulusan pada saat ini. Dengan demikian, tepat kiranya segenap lini dan tingkat pendidikan mencanangkan pendidikan karakter. Pendidikan karakter sebagai proyeksi subtansial dari pendidikan nasional, yaitu menciptakan individu yang berakhlak mulia penuh dengan iman dan takwa. Demikian halnya melalui empat strategi, pendidikan karakter dapat ditetapkan, yakni: pertama, strategi inklusif oleh guru ke dalam silabus dan RPP; kedua, strategi tradisi sekolah; ketiga, strategi eksplorasi diri (sell exploration); dan keempat, strategi evaluasi teman.
B. Konsep karakter kemandirian
Term kemandirian diperoleh asal adjektiva mandiri dengan prefiks ke dan sufiks an menjadi nomina yang menyatakan suatu hal atau keadaan.
Kemandirian ataupun mandiri yang dibuat asal morfem diri, yang juga dalam gagasan Rogers (Brammer & Shostrom, 1982) disebut dengan nomina se/I,
adalah esensi istilah tersebut. Sintesis yang banyak dipakai atau tidak berjauhan dengan term kemandirian adalah autonomy dan frekuen juga dengan istilah se/I-re/lance.
Otonomi adalah dapat menentukan dan berkuasa atas diri dengan bebas untuk mengatur dan memberi perintah dalam kesatuan (Chaplin, 2002).
Adapun otonomi atau kemandirian didefinisikan: ” The capacity to oversee and direct ones own contem plations, charge, and activities openly and obligation while evercom ing sensations of disgrace and uncertainty’ menurut Seifert dan Hoffnung (1994). Desmita (2012) meringkaskan arti term tersebut sebagai penguasaaan kendali atas diri, menata gagasan, pertimbangan batin dan sesuatu yang dilakukan tanpa batasan atau halangan ikatan tuntutan serta berikhtiar demi mengalahkan keseganan dan kebimbangan.
Perkembangan kemandirian adalah runtunan perubahan terkait dengan kaidah regulatif yang tersusun dengan baik. Demikian arah perkembangan tersebut harus berkesesuaian antara esensi keberadaan manusia dengan intensi hidupnya (Ali dan Asrori, 2004). M enurut Erikson, usaha seseorang anak memberdayakan diri dengan lepas dari orangtua demi memperoleh jati dirinya menuju watak kepribadian kukuh dan independen juga merupakan bentuk kemandirian (Desmita, 2010). Kemandirian lazim nya dicirikan dengan sanggup menetakkan takdir diri, berprakarsa dan inventif, mengendalikan tindak tanduk, berkomitmen, tidak mudah terpancing, menentukan sendiri ketetapan atau langkah yang harus dijalankan, serta mampu menyelesaikan persoalan dengan bebas dari kendali selain dirinya. M elalui sikap kemandirian itu, seorang anak diharapkan menjadi lebih optim istis berkomitmen atas dirinya. Ringkasnya, bahwa kemandirian bisa dipahami dengan; (1) Suatu kondisi gairah kompetitif dan progresivitas yang dimiliki seseorang ; (2) Kemampuan memutuskan dan berinisiatif untuk menyelesaikan persoalan; (3)
Kepercayaan atas kemampuan diri dalam memenuhi kewajibannya, dan (4) Kesediaan menanggung konsekuensi atas pendapat ataupun tindakannya.
Berpijak pada pemahaman tersebut, kemandirian mengandung kompleksitas kemampuan, yang dinyatakan melalui proses pertimbangan secara baik-baik atau sempurna dan dilaksanakan penuh konsekuen. Demikian pengertian yang ada berimplikasi pada kematangan jiwa dalam berfikir dan bertindak sebagai potensi yang butuh penganalisisan secara menyeluruh.
Havighurst (1972) mengklasifikasikan kemandirian dalam empat golongan, yaitu: (1) Kemandirian emosi, ialah tidak bergantung pada orang Iain dalam menguasai kendali keadaan maupun reaksi psikologis dan fisiologis; (2) Kemandirian ekonomi, ialah kemampuan memanajemani urusan keuangan tanpa bergantung pada pihak tertentu; (3) Kemandirian intelektual, ialah kecakapan untuk memecahkan komplikasi; (4) Kemandirian sosial, ialah berkesanggupan dalam optimalisasi potensi dan aktualisasi diri saat berinteraksi di tengah masyarakat.
Sedangkan Steiberg (Desmita, 2010) memisahkan corak kemandiran ke dalam tiga model (1) Kemandirian emosional (emotional autonom y), yaitu tanda kemandirian yang memperlihatkan peralihan keakraban antar individu secara emosional, seperti hubungan anak dengan orang tua atau murid dengan gurunya; (2) Kemandirian perangai (behavioral autonomy), yaitu kemampuan dalam memutuskan sesuatu secara independen dan bertindak konsekuen; (3) Kemandirian mutu atau harkat (value autonomy), yaitu kemampuan memberi makna pada peranti pedoman tentang salah dan benar, tentang skala prioritas ataupun yang tidak berharga.
Deborah (2007) mendeskripsikan bahwa kemandirian memiliki ciri, diantaranya: (1) konsekuen, yaitu mampu menyelesaikan suatu tugas dengan sanggup mempertanggungjawabkan hasilnya; (2) Independensi, yaitu keadaan
seseorang yang tidak bersandar pasrah ataupun mengandalkan otoritas tertentu dan tidak membutuhkan arahan dalam mengurus ataupun memecahkan prolem diri sendiri; (3) Otonomi dan merdeka yakni mampu memberi ketentuan atau ketetapan hati (se/I-determination) dalam mengontrol setiap tindakan atau kejadian yang bersangkutan pada diri; (4) Kecakapan menguraikan suatu permasalahan, dengan petunjuk dan bantuan yang cukup seseorang dapat termotivasi untuk mengatasi persoalan dengan efisien.
Ciri-ciri kemandirian menurut Familia (Desmita, 2010): (1) M ampu berpikir dan melakukan sesuatu untuk pribadi, giat, dinamis, inventif, cakap, dan tampak bebas pengaruh; (2) Berkecenderungan menyelesaikan masalah yang dialamainya dengan penuh keterampilan dan usaha; (3) Berani menerima risiko dengan memikirkan baik-baik dalam menentukan dan memutuskan sesuatu; (4) Kemantapan diri, tanpa banyak mengajukan pertanyaan atau pertolongan kepada pihak lainnya untuk memenuhi kewajiban-kewajjbannya;
dan (5) M emiliki pengendalian diri yang kokoh dan progresif akan keberlangsungan hidup yang berarti ia bisa mengontrol tindakana, menyelesaikan permasalahan, dan memberi pengaruh terhadap lingkungan atas prakarsa, ikhtiar maupun daya upaya sendiri.
Independensi individu akan menampakkan tingkah eksplorasi, mampu menentukan langkah yang diambil, inverntif dan perasaan yang kuat dari dalam diri. D i sisi Iain dia juga tajam dalam menganalisa, berani mengambil suatu tindakan, berlepas hati dalam melaksanakan berbagai kegiatannya, mampu berkompromi dengan kenyataan sekaligus memotori sekitarnya, mengadakan interaksi antar tolan yang sama usianya, berpedoman dan mampu mengontrol kediriannya. (M onks, dkk, 1994). Nihilnya perilaku mandiri pada generasi muda mengakibatkan beragam kepribadian, seperti; inferioritas, pemyegan, minim antusias dalam bersekolah, inefisiensi cara belajar,
mudah gelisah dan pesimistis.
Steinberg mengelompokkan kemandirian berdasarkan 3 ranah, yaitu:
(1) Kemandirian Emosional (Emotional Autonomy), yaitu kedew ssaan yang mengacu pada pemahaman yang ditumbuhkan anak mengenai individuasinya sendiri untuk berlepas diri ketergantungannya dari orang tua dalam memenuhi kebutuhan fisiologis utamanya; (2) Kemandirian Berperangai (Behavioral Autonomy), yaitu kemandirian berperilaku bebas dari ketergantungan akan pengaruh dan tuntunan pihak Iain untuk melakukan sesuatu atau tindakan sendiri (Ginintasi, 2009). Perangai yang demikian mengacu pada kemampuan individu beraktivitas sebagai pengekspresian suatu fungsi kebebasan secara konkret berkaiitan dengan regulasi umum yang berkenaan dengan tabiat serta menentukan ketetapan; dan (3) Kemandirian harkat (Value Autonomy), adalah kemandirian yang berlandaskan pada suatu pemahaman akan kecakapan individu dalam memutuskan sesuatu dan menentukan pilihan dengan lebih mengindahkan pedoman individual dan gagasan miliknya sendiri daripada kredo orang Iain.
Ali dan A srori (2008) menerangkan faktor-faktor yang mempengaruhi kemandirian diantaranya, gen turunan, pola asuh otoritatif, sekolah dan masyarakat. Faktor genetik atau turunan adalah faktor utama yang memberi pengaruh pada evolusi manusia. Genetika merupakan keseluruhan karakterisasi personal yang diturunkan ayah ibu kandung serta semua potensi psikologis maupun fisiologis milik individu dengan perantaraan pewarisan gen-gen asal sisi orang tua dari periode konsepsi. M eski seperti itu hanya beberapa bagian dari material genetik yang muncul dapat dilihat dan diukur.
M aterial genetik berupa tampilan sifat dan fisik yang bisa diamati tersebut dinamakan fenotipe (Santrock, 2003).
Dalam pandangan lain yang lebih ringkas bahwa ada dua faktor;
internal dan eksternal yang memengaruhi kemandirian. Faktor internal yang dimaksudkan yaitu seluruh aspek yang melekat pada individu, mencakup:
umur, gender, edukasi, kognisi, aktivitas, pendirian dan tingkah laku.
Adapun faktor eksternal mencakup elemen sosial, budaya, ekonom i atau keuangan, politik, dan kom unikasi yang luas.
Dengan cara ini halnya kemandirian bisa mengandung pengertian yang tidak sekadar dibangum oleh bahwa kemandirian tidak hanya dapat dibentuk oleh stimulan personal. Keadaan dan kondisi luar (lingkungan) juga turut memberi pengaruh kemandirian bagi individu. Dalam pengembangan kemandirianya pula, dapat diaplikasikan dengan menanamkan prinsip keluhuran bagi seseorang termasuk pengodisian keadaan lingkungan, hidup dan belajarnya. (M udyahardjo, 2011).
Adapun pesantren dan kaitannya dengan metode peningkatan kemandirian yang kerap diterapkan antara Iain: (1) Penanaman sistem nilai kemandirian dalam kurikulum dan rangkaian runtunan pemelajaran (pengaj ian); (2) Pembekalan bermacam keahlian (like skill bagi murid; (3) Pembekalan suatu keterampilan manajerial atau memimpin (leadership) dan membimbing pengaplikasiannya; (4) Pembekalan pengetahun perihal w iraswasta (enterpreneurship) untuk menaikkan tingkat perekonomian dan lingkungan sosial; (5) Penetapan tradisi hidup dengan banyak inisiatif, daya upaya, gigih dan tidak mengutamakan jalan instan dengan sena-merta dalam hidup; (6) Kehidupan kiai dengan segala tata caranya menjadi preseden, berikut serta sarana maupun seluruh penunjang utamanya milik pesantren menjadi motivasi santri untuk benabiat mandiri.
Contohnya, seorang santri mencari, mengolah bahan dan memasaknya sendiri untuk memenuhi kebutuhan makan. Dalam memenuhi perihal berpenampilan rapi, pencucian berikut penyetrikaan harus dilakukan sendiri
dan bentuk pemenuhan kebutuhan Iain sebagainya. As as kemandirian dengan berbagai aspeknya yang dikemas dalam sistem untuk mewujudkan pola edukasi kepribadian menjadi tradisi inilah sebagai pembukt ian atas asumsi aktualisasi pesantren dalam periode yang cukup lama. (Sanusi, 2012).
C. Model Pendidikan Karakter Kemandirian
Pendidikan karakter kemandirian adalah bagian integral dari pendidikan karakter. Oleh karena itu kemandirian tidak dapat terlepas dari kajian tentang pendidikan karakter itu sendiri. Pendidikan karakter adalah suatu sistem penggemblengan nilai etik yang mencakup unsur pengetahuan, kebulatan tekad, keinsafan, atau kognisi kepada peserta didik untuk diaplikasikan. M enurut Burke (1980) ranah fundamen parsial dari pemelajaran dan edukasi yang layak adalah pendidikan karakter. Pendidikan karakter dimaksudkan untuk membina perkembangan pesena didik dengan kepribadian luhur good character) seraya menunaikan dan mengecamkan nilai etik dan memutuskan ketetapan dengan elegan dalam interaksi antar makhluk maupun terhadap Sang Pencipta. Segala rancangan usaha intensional upaya untuk membangun kepribadian pesena didik menjadi baik adalah makna dari pendidikan karakter (Lickona, 2004).
Pendidikan karakter sebagai rangkaian penanaman nilai karakter kepada individu sekolah yang mencakup segmen informasi, perhatian, keinginan dan aktivitas untuk melaksanakan sifat-sifat tersebut terhadap Tuhan Yang M aha Esa, diri sendiri, orang lain, bangsa, dan identitas, sehingga mereka menjadi manusia yang sempurna. M enanamkan nilai ke dalam individu sekolah baru akan menarik jika siswa, tetapi juga instruktur, kepala dan tenaga kependidikan di sekolah, yang semuanya harus dikaitkan dengan pendidikan karakter. (Samami dan Hariyanto, 2012). M enyinggung pengertian di atas,
dapat dipahami dengan baik bahwa pendidikan karakter juga dapat dipahami sebagai proses bimbingan yang diberikan kepada murid untuk berevolusi atau bertransformasi menjadi insan kamil yang berkepribadian dalam iktikad, akal budi, intuisi dan ragawi. Adapun maksud dari model pendidikan karakter yaitu konstruksi pendidikan kepribadian yang mencakup haluan, perencanaan dan penilaian yang dibuat dengan desain sedemikian rupa.
Pendidikan karakter dapat dimaknai sebagai penanaman nilai, pengajaran keadaban, pengarahan kesusilaan, pembinaan tabiat dengan tujuan menghasilkan kecakapan individu dalam menetapkan suatu kepatutan, melestarikan dan merealisasikan apa yang patut dalam hidup dengan sungguh- sungguh. Pendidikan karakter dalam visi pendidikan nasional merupakan suatu rancangan edukasi yang mengorganisasi dan meredusir asas moral untuk dihadirkan dengan mempertimbangankan aspek psikologis dan konsiderasi edukasi. (Samani & Hariyanto, 2012). Penanaman nilai-nilai yang berkesesuaian dengan tradisi tertentu dan kelayakan normatif untuk menjadi pilar induk perangai luhur dan konsekuen juga merupakan tujuan pendidikan karakter. (Zuchdi, 2008).
Kurikulum pendidikan nasional meski sudah menyediakan materi Pancasila dan Kewarganegaraan sebagai pelajaran masih tetap diasumsikan kurang maksimal mengenai ranah kepribadian ini. Pendidikan karakter sampai sekarang sekadar diterapkan pada tingkat prasekolah. Berlainan tingkat sekolah dasar dan seterusnya minim akan penggemblengan tersebut.
M egawangi (2004) menyimpulkan sembilan formula dasar watak yang mesti dirasukkan; (a) berketuhanan (dye Allah, trust, reverence, loyality); (b) konsekuen, mandiri, integritas dan patuh (responsibility, excellence, self reliance, discipline, orderness); (c) reliabilitas (trustworthness, reliability, honesty); (d) khidmat (respect, courtesy, obedience), (e) humanis, kooperatif
dan dermawan (dye, com passion, caring, empathy, generosity, m oderation, cooperation); mantap jiwa, inventif, pemrakarsa dan mahardika (gonfidence, assertiveness, creativity, resourcefulness, courage, determ ination and enthusiasm),' (g) keadilan, kerahiman, dan kepemimpinan (justice, fairness, mercy, leadership),' (h) baik hati, bersahaja dan jatmika (kindness, friendliness, humility, modesty), dinamis dan harmonis (tolerance, flexibility, peacefulness, unity).
Adapun model-model yang harus ada dalam pendidikan karakter sesuai gagasan M uchlas Samani & Hariyanto (2012) antara lain:
a. Hiwar
M etode hiwar (percakapan) adalah sebuah prinsip dan cara teratur dalam sebuah dialog antara satu orang dengan orang lainnya untuk benukar informasi mengenai susatu topik dan ditujukan pada satu maksud yang diinginkan. M etode ini sangat berdampak pada psike komunikan jiwa atau audiens yang ikut sena beraudiensi dalam pokok pembicaraan dengan antusiasme dan saksama.
b. Qishah
Kisah atau cerita merupakan metode penunjang pendidikan yang berperan penting. Dalam model ini narasi yang disusun dengan kes an, memori, atau interpretasi manusia akan suatu kejadian dikemas dalam sebuah metode tersendiri. M odel qishah mengandung sebuah teladan atau preseden yang baik.
c. Amsal
M etode perumpamaaan ini patut diterapkan dalam mendidik kepribadian seseorang. Pikiran ataupun wacana mengenai suatu hal, pengetahuan, dan sebagainya dalam bentuk kata-kata disiapkan dan diungkapkan.
d. Keteladanan
M etode ini lebih efektif dan berdaya guna dalam pembentukan karakter, yang mana seseorang kebanyakannya memiliki kecenderungan meneladan (mencontoh) pendidik atau gurunya. Sebab secara kejiwaan seseorang terutama anak-anak lebih mudah atau suka menirukan. Logisnya orang tua lazim berupaya dalam sifat, kelakuan, perbuatan, dan sebagainya sebagai teladan bagi anak.
e. Habituasi
Pembiasaan adalah upaya penyesuaian repetitif agar menjadi terbiasa (terlatih). M etode ini memiliki inti pengalaman dan pengulangan karena pola untuk melakukan reaksi pada kondisi tertentu yang dipelajari dan dilakukan berulang oleh seseorang untuk hal yang sama berdasarkan apa yang dialaminya. Habituasi juga dapat mengistimewakan individu sebagai sesuatu yang istimewa, yang mana efisiensi energi menjadi spontanitas dan gaya yang melekap pada diri. M enurut para ahli, metode ini sangat memiliki keefektifan dalam membentuk kepribadian individu.
Contohnya, anak-anak yang dibiasakan bangun pagi oleh orang tua mereka, maka bangkit di bagian awal dari hari ataupun berpagi-pagi itu akan menjadi kebiasaan.
Perencanaan yang cermat mengenai pendidikan kararkter M enurut Bagir (2005), dkk., mencakup empat tingkatan implementasi:
1. Konseptual, yaitu rumusan ide dasar yang terukur dan bermakna.Dengan menyatakan visi dan misi, sebuah lembaga dapat menjelaskan tujuan dan memprediksi haluan untuk mewujudkan pendidikan karakter sesuai program.
2. Institusional, yaitu pengintegrasian misi dapat direalisasikan melalui pengorganisasian institution culture atau pranata resmi yang
mengatur, melengkapi, dan memenuhi berbagai kompleks kebutuhan setiap subjek sebagai cerminan pendidikan karakter
3. Operasional, yaitu memadukan strategi pendidikan karakter dengan analisanya sehingga terwujud koherensi nilai fundamen keagamaan melalui pengintegrasian kurikulum beserta ekstrakulikulernya
4. Arsitektural, yaitu pendirian sarana dengan rancang bangun berkarakter mempengaruhi kepribadian peserta didik tersendiri.
Pembangunan tempat ibadah, laboratorium, perpustakaan dan sebagainya merupakan bagian dari alat untuk mencapai tujuan pendidikan.
M enurut Sulhan (2010), pesantren dapat membentuk kepribadian santri antara lain melalui cara:
1. M enanamkan falsafah akhlak di tiap aktivitas pemelajaran dengan tradisi:
a. M engenalkan nilai-nilai keluhuran (knowing the good
b. M enstimulus anak untuk berbuat kebajikan (desiring the good).
c. M eningkatkan tabiat gemar atau suka akan kebaikan (loving the good}.
2. M encipta moto atau semboyan yang menum buhkan, memelihara dan memperkembangkan tradisi baik dalam kehidupan (pesantren).
3. M emonitor terus-menerus, adalah bagian dari realisasi pembentukan karakter. Beberapa perkara yang mesti dipantau secara kontinu yaitu:
a. Disiplin kehadiran di pesantren b. Tata cara makan di kant in c. Cara berbicara
d. Perilaku saat di masjid
4. Evaluasi orang tua. Pengukuran akan pertumbuhan dan perkembangan anak dilakukan melalui pengamatan. Orang tua sangat berkesempatan untuk untuk mengawasi dan menilai kebiasaan anak, terutama perihal pembentukan kepribadian.
Beberapa pola pendidikan karakter lainnya di pesantren yang diajukan Koesuma (2010).
a. Pendekatan normatif, yaitu pengelola lembaga secara beriringan merumuskan tata tertib atau tata kelola (good governance) yang berlandaskan nilai-nilai agamawi dalam penyelenggaraan pendidikan akhlak. Formulasi tata kelola dibuat secara bersama- sama, lebih-lebih mengikutsertakan santri. Cara ini dimaksudkan untuk melahirkan kekolektifan komitmen etis sebagai benih kontrol sosial demi mewujudkan institution culture yang sebenarnya.
b. Pendekatan pemodelan, yaitu upaya oleh pesantren baik pengelola maupun pimpinannya untuk menjadi preseden dari pengaplikasian rumusan tata tertib. Teladan dari perilaku, sikap, dan ucapan ucap, sikap sebagai manifestasi formula hasil kesepakatan bersama
c. Pendekatan reward and punishment, yaitu pemberian ganjaran sebagai usaha pembiasan dan menyadarkan akan adanya konsekuensi dalam hidup
d. Pendekatan suasana belajar, yaitu dengan pengkondisian atmosfer belajar secara lahir dan psikis. Suasana yang kondusif akan menjadi sumber pencerahan akan nilai bagi segenap warga pesantren.
M isalnya, pengeksposan tulisan lafal sabda atau firman, kata mutiara, visi misi pesantren, dan sebagainya di lokasi yang strategis.
Peletakkan bangunan masjid, salah satu contoh secara fisik. Adapun secara psikis, antara lam; tradisi mengawali belajar dengan
membaca Al-Qur“an yang dipandu ustadz, program salat jamaah, kultum, musabaqah dan sebagainya.