4
Universitas Kristen Petra
2. TINJAUAN PUSTAKA
Menurut Montgomery (2005) pengertian kualitas dapat didefinisikan dalam banyak cara. Kebanyakan orang mengartikan konsep kualitas sebagai hubungan antara satu atau lebih karakteristik dari suatu produk atau jasa. Kualitas akan menjadi suatu hal yang sangat penting bagi konsumen ketika mereka hendak memilih suatu produk atau jasa yang akan dibeli. Oleh karena itu, kualitas dapat didefinisikan sebagai kepuasan yang dirasakan pelanggan setelah menggunakan barang atau jasa yang dibeli, lebih dari yang diharapkan sebelum membeli produk atau jasa tersebut.
2.1 Karakteristik Kualitas
Setiap produk memiliki sejumlah elemen yang bersama-sama menggambarkan apa yang pengguna atau konsumen anggap sebagai kualitas.
Terkadang karakteristik kualitas juga disebut dengan karakteristik critical-to- quality (CTQ). Beberapa tipe karakteristik kualitas yang ada adalah physical, sensory, dan time orentiation. Physical merupakan karakteristik kualitas yang dilihat berdasarkan segi bentuk/fisik dari suatu produk seperti panjang, lebar, viskositas, voltage, dan diameter. Sensory merupakan karakteristik kualitas yang dilihat berdasarkan penampilan luar dari suatu produk seperti rasa, warna, penampilan, dan bau. Sedangkan, time orentiation merupakan karakteristik kualitas yang dilihat berdasarkan pelayanan jasa yang diberikan dari suatu produk seperti reliability, durability, dan serviceability (Montgomery, 2005).
2.2 Quality Control
Quality control adalah suatu aktivitas untuk mengukur ciri-ciri dari kualitas produksi, membandingkan dengan spesifikasi-spesifikasi yang ada, dan melakukan perbaikan jika terdapat perbedaan antara penampilan yang sebenarnya dengan standar yang ada. Quality control ini sangat penting untuk dilakukan karena dapat membantu dalam mengurangi penyimpangan atau kesalahan yang
5
Universitas Kristen Petra
ada, sehingga dapat mengarahkan kepada proses produksi sesuai dengan tujuan yang ingin dicapainya (Besterfield, 1990).
Pengendalian kualitas terbagi menjadi 2 macam, yaitu online (statistical quality control) dan offline (design of experiment). Statistical quality control (pengendalian kualitas statistik) merupakan suatu teknik penyelesaian masalah yang digunakan untuk memonitor, mengendalikan, menganalisis, mengelola dan memperbaiki produk, yang mana prosesnya menggunakan metode statistik.
Sedangkan design of experiment (perancangan eksperimen) merupakan suatu rancangan percobaan atau pengujian yang bertujuan untuk melakukan perubahan terhadap variabel input dari proses atau sistem, sehingga dapat meneliti dan mengidentifikasi sebab perubahan dari output. Alat-alat yang dipakai dalam mengendalikan kualitas ada tujuh, yaitu:
a. Histogram
Histogram biasanya digunakan untuk mengetahui distribusi dan penyebaran data (Montgomery, 2005). Pembentukan histogram untuk data yang kontinu diperlukan adanya range data dalam bentuk interval yang biasanya disebut dengan kelas interval, cell atau bins. Jumlah batang yang terdapat pada histogram merupakan hasil dari jumlah observasi yang dilakukan, dimana jumlah batang yang baik berkisar antara 5-20 diagram batang. Semakin sedikit jumlah kelas interval yang ada pada histogram, maka penyebaran data yang ada tidak dapat terlihat dengan jelas. Sebaliknya jika jumlah kelas interval yang ada pada histogram semakin banyak, maka penyebaran data yang ada dapat terlihat dengan jelas.
Gambar 2.1. Histogram
6
Universitas Kristen Petra
b. Check Sheet
Check sheet merupakan suatu lembaran yang digunakan untuk mencatat pengambilan data yang berulang atau bisa juga untuk seorang pengambil data yang melakukan banyak pengambilan dan dapat digunakan untuk mengambil data masa lalu (Breyfogle, 2003). Beberapa kegunaan dari check sheet adalah sebagai berikut (Besterfield, 1990):
• Menganalisis kondisi aktual untuk tujuan produk atau perbaikan kualitas layanan, penggunaan sumber daya yang efisien dan mengurangi biaya.
• Eliminasi kondisi yang menyebabkan produk tidak sesuai dan terjadinya keluhan pelanggan.
• Standarisasi operasi yang ada dan yang diusulkan.
• Pendidikan dan pelatihan personil dalam pengambilan keputusan dan tindakan korektif.
Gambar 2.2. Check Sheet
c. Pareto Chart
Pareto chart hampir sama dengan histogram, namun pareto ini merupakan data attribut yang dikategorikan, serta dapat digunakan untuk membuat prioritas kecacatan mana yang terbesar, yang mana hanya memperhatikan 20% penyebab yang menyebabkan 80% masalah (Breyfogle, 2003). Di-dalam pareto chart ini ditampilkan data kecacatan yang diurutkan dari frekuensi terbesar hingga terkecil.
Langkah-langkah yang harus dilakukan untuk membuat pareto chart adalah:
7
Universitas Kristen Petra
• Mendefinisikan masalah dan karakteristik proses yang akan digunakan.
• Mendefinisikan periode waktu yang akan digunakan seperti, harian, mingguan atau shift.
• Total jumlah dari setiap karakteristik yang ada.
• Peringkat karakteristik sesuai dengan total jumlah.
• Plot jumlah kejadian karakteristik sesuai dengan urutan yang ada dalam bentuk grafik batang.
Gambar 2.3. Pareto Chart
d. Cause and Effect Diagram (Fishbone)
Alat yang efektif sebagai bagian dari proses pemecahan masalah adalah Cause and Effect Diagram (Fishbone) yang juga dikenal sebagai diagram Ishikawa (dicetuskan oleh Karoru Ishikawa) atau fishbone diagram (Breyfogle, 2003). Tahapan yang harus dilakukan dalam mendesain fishbone diagram ini adalah mendefinisikan 5M+1E (Man, Method, Material, Measurement, Machine, Environment).
8
Universitas Kristen Petra
Gambar 2.4. Cause and Effect Diagram (Fishbone)
e. Defect Concentration Diagram
Defect Concentration Diagram merupakan tools yang digunakan untuk mencari bagian dari suatu produk atau jasa yang paling banyak terjadi cacat.
Gambar 2.5. Defect Concentration Diagram
f. Scatter Diagram
Scatter diagram digunakan untuk mencari korelasi antara sumbu x dan sumbu y. Terdapat tiga macam bentuk korelasi yaitu korelasi positif, korelasi negatif, dan tidak ada korelasi (Besterfield, 2003).
9
Universitas Kristen Petra
Gambar 2.6. Scatter Diagram
g. Control Chart
Control chart digunakan untuk mengendalikan proses agar tetap stabil, yang mana dikendalikan dengan batas atas dan batas bawah. Adapun general model yang terdapat pada control chart yaitu:
UCL (Upper Centre Line) = µw + Lsw (2.1)
CL (Centre Line) = µw (2.2)
LCL (Lower Centre Line) = µw - Lsw (2.3) Dimana, µw = Rata-rata dari sample, w
L = Jarak control limit dari centre line sw = Standard deviasi, w
Gambar 2.7. Control Chart
10
Universitas Kristen Petra
2.3 Definisi dan Pengelompokan Biaya Kualitas
Biaya kualitas didefinisikan sebagai biaya yang timbul dari kegiatan untuk mencegah, menilai, dan memperbaiki kualitas dari produk/jasa (Campanella, 1999). Berdasarkan metode PAF (Prevention Appraisal Failure), biaya kualitas dikelompokan menjadi 4 bagian yaitu biaya pencegahan (prevention cost), biaya penilaian (appraisal cost), biaya kegagalan internal (internal failure cost), dan biaya kegagalan eksternal (external failure cost).
Biaya pencegahan dan biaya penilaian termasuk ke dalam cost of conformance (biaya untuk memastikan apakah produk/jasa sesuai dengan harapan konsumen). Sedangkan biaya kegagalan internal dan biaya kegagalan eksternal termasuk ke dalam cost of nonconformance (biaya yang dikelurkan karena ditolaknya produk/jasa). Oleh karena itu, biaya kualitas merupakan penjumlahan dari cost of conformance dan cost of nonconformance.
Biaya pencegahan adalah biaya yang dikeluarkan untuk mencegah terjadinya cacat kualitas. Macam-macam biaya pencegahan antara lain adalah biaya pelatihan kualitas yang digunakan untuk program pelatihan internal dan eksternal, biaya perencanaan kualitas berupa upah atau overhead untuk perencanaan kualitas, biaya pemeliharaan peralatan, dan biaya penjaminan supplier.
Biaya penilaian adalah biaya yang dikeluarkan untuk mendeteksi unit sebelum dikirim ke pelanggan. Macam-macam biaya penilaian antara lain adalah biaya pengujian dan inspeksi, peralatan pengujian, pengujian secara laborat, pengujian dan evaluasi lapangan, dan biaya informasi.
Biaya kegagalan internal adalah biaya yang terjadi karena ketidaksesuaian dengan persyaratan terdeteksi sebelum barang sampai ke tangan pelanggan.
Macam-macam biaya kegagalan internal antara lain adalah biaya tindakan koreksi, biaya rework dan scrap, biaya proses, biaya ekspedisi, biaya inspeksi dan pengujian ulang.
Biaya kegagalan eksternal adalah biaya yang terjadi karena produk gagal memenuhi syarat dan diketahui saat produk sudah di tangan pelanggan. Macam- macam biaya kegagalan eksternal antara lain adalah biaya untuk menangani keluhan dan pengembalian dari pelanggan, biaya penarikan kembali dan
11
Universitas Kristen Petra
pertanggungjawaban produk, dan penjualan yang hilang karena produk tidak memuaskan.
2.4 Tujuan dan KegunaanBiaya Kualitas
Suatu keadaan yang menimbulkan besarnya biaya kualitas yang harus dikeluarkan adalah ketika konsumen menemukan adanya cacat pada produk yang sudah dipasarkan (external failure cost), karena perusahaan harus mengeluarkan sejumlah biaya untuk menangani komplain dari konsumen atau bahkan mengganti produk yang cacat tersebut dengan produk yang baru untuk menjaga kepercayaan dari konsumen. Namun ketika suatu perusahaan melakukan pencegahan adanya produk cacat dengan menambah prevention cost, melakukan inspeksi, pengujian, dan perbaikan, maka kemungkinan terjadinya cacat pada produk jadi akan semakin berkurang dan biaya yang dikeluarkan pun jauh lebih murah.
Kondisi yang paling diinginkan oleh setiap perusahaan adalah mengeluarkan biaya seminimal mungkin dan hal itu akan tercapai jika perusahaan menerapkan sistem manajemen kualitas. Sistem manajemen kualitas ini akan digunakan untuk mencegah terjadinya kecacatan dan menunjang peningkatan kualitas secara berkelanjutan (Campanella, 1999).
Penerapan biaya kualitas ini memiliki tujuan untuk melakukan peningkatan sistem kualitas yang ada sehingga dapat mengarahkan perusahaan pada penurunan biaya operasi atau biaya produksi. Biaya kualitas ini juga dapat digunakan sebagai dasar penentuan biaya kegagalan terbesar yang terjadi dan mempunyai pengaruh yang besar terhadap kepuasan konsumen.
2.5 Metode Pengelompokan Data Biaya Kualitas
Pengelompokan data biaya kualitas ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kegiatan apa saja yang membutuhkan biaya untuk perbaikan atau pencegahan kualitas, mengidentifikasi biaya yang berlebihan, dan meningkatkan profit bagi perusahaan. Tiga metode pengelompokan data biaya kualitas yang dapat digunakan menurut Dale & Plunkett (1995) adalah PAF (Prevention- Appraisal-Failure) cost element method, time-based cost element method, dan semi-structured cost element identification and measurement method.
12
Universitas Kristen Petra
PAF (Prevention-Appraisal-Failure) merupakan suatu metode yang dapat digunakan untuk melakukan pengelompokan terhadap elemen-elemen biaya kualitas ke dalam kategori pencegahan, penilaian, dan kegagalan. Metode PAF ini lebih cocok diterapkan pada industri manufaktur daripada di industri jasa karena elemen-elemen biayanya lebih mudah diidentifikasi.
Beberapa cara yang dilakukan Time-Based Cost Element Method yaitu mendaftar setiap kegiatan yang akan diamati dalam suatu usaha, kemudian dilakukan pengelompokan berdasarkan kegiatan yang memiliki nilai kualitas dan kegiatan yang tidak memiliki nilai kualitas. Setelah itu yang harus dilakukan selanjutnya adalah menghitung prosentase waktu kegiatan yang digunakan untuk mendukung biaya kualitas dan prosentase waktu kegiatan yang tidak mendukung biaya kualitas. Metode time-based ini lebih cocok digunakan pada industri jasa, namun pada industri manufaktur juga dapat diterapkan pada bagian administrasi.
Metode semi-structured ini cocok untuk diterapkan pada industri jasa maupun industri manufaktur. Beberapa elemen yang ada didasarkan pada dua sumber yaitu aktivitas manusia (soft quality cost), scrap, dan waste (hard quality cost). Selain itu, ada juga tiga buah metode yang dapat digunakan yaitu department based quality cost analysis method, team based quality cost analysis method, dan process cost model.
Pada department based quality cost analysis method, masing-masing departemen memiliki hak untuk mengelompokan elemen biaya kualitas sesuai dengan kebijakannnya masing-masing. Hasil yang diperoleh dari masing-masing departemen tersebut nantinya akan diserahkan pada satu orang yang diberi tanggung jawab untuk mengelolanya.
Penerapan yang dilakukan pada team based quality cost analysis method adalah membentuk suatu tim khusus yang terdiri dari perwakilan tiap departemen dalam perusahaan. Tim khusus tersebut nantinya harus mengikuti workshop mengenai biaya kualitas, menentukan metode yang akan digunakan dan melaksanakan metode tersebut.
13
Universitas Kristen Petra
2.6 Data Flow Diagram
Data Flow Diagram (DFD) merupakan bentuk grafis dari suatu sistem yang terdiri dari empat bentuk simbol untuk menggambarkan bagaimana data mengalir melalui suatu proses tertentu (McLeod & Schell, 2001). Empat simbol tersebut terdiri dari:
• Unsur lingkungan (orang, organisasi, dan sistem lainnya)
• Proses yang biasa digunakan untuk mengubah input menjadi output
• Aliran data yang terdiri dari relasi data antar elemen
• Penyimpanan data untuk menyimpan data yang penting
Data flow diagram memiliki 3 bagian utama yaitu context diagram, leveled DFD, dan balanced DFD. Context diagram merupakan level tertinggi yang menyajikan suatu sistem lingkungan. Tahap-tahap yang perlu diperhatikan saat membuat context diagram adalah hanya menggunakan simbol proses tunggal, label dari simbol proses harus mewakili seluruh sistem yang ada, dan harus dapat menampilkan seluruh arus data yang ada dalam sistem.
Leveled DFD digunakan dalam suatu hierarki yang terdiri dari level 0 (figure 0), level 1 (figure 1), level 2 (figure 2), dan seterusnya sesuai dengan kondisinya. Penggunaan leveled DFD ini bertujuan untuk menggambarkan alur data pada context diagram secara lebih terperinci lagi. Sedangkan balanced DFD merupakan sistem koneksi yang muncul di semua tingkat sistem.