• Tidak ada hasil yang ditemukan

2. LANDASAN TEORI 2.1. Landasan Teori

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "2. LANDASAN TEORI 2.1. Landasan Teori"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

2. LANDASAN TEORI

2.1. Landasan Teori 2.1.1. Pengertian Kualitas

Para pakar kualitas memberikan definisinya masing-masing mengenai kualitas. Menurut (Hongren, Foster, Datar 2000:676) kualitas mempunyai arti yang luas yaitu daya guna, harapan pelanggan, dan tingkat kesesuaian produk dengan standar yang ditetapkan oleh perusahaan. Dan menurut J.M Juran, kualitas dapat diartikan sebagai fitness for use yaitu ciri-ciri produk yang memenuhi permintaan pelanggan dan bebas dari kekurangan (Fandy Tjiptono, Anastasia Diana 1995:24). Sementara itu menurut (Dale, Carol, Glen Besterfield 1999:5) kualitas adalah produk atau jasa yang memenuhi atau sesuai dengan ekspetasi pelanggan. Secara umum definisi kualitas adalah ukuran relatif tingkat kebaikan atau kesesuaian (Hansen dan Mowen 2003:441). Dan secara operasional kualitas produk atau jasa adalah sesuatu yang memenuhi atau melebihi ekspektasi pelanggan (Hansen dan Mowen 2003:441). Ekspektasi pelanggan dapat dijelaskan melalui atribut-atribut mutu atau hal-hal yang sering disebut sebagai dimensi mutu. Jadi kualitas produk atau jasa adalah sesuatu yang memenuhi atau melebihi ekspektasi pelanggan dalam delapan dimensi berikut :

1. Kinerja (Performance)

Adalah tingkat konsistensi dan kebaikan fungsi-fungsi produk.

2. Estetika (Aesthetics)

Berhubungan dengan penampilan wujud produk (misalnya gaya dan keindahan).

3. Kemudahan perawatan dan perbaikan (Serviceability)

Berkaitan dengan tingkat kemudahan merawat dan memperbaiki produk.

4. Keunikan (Features)

Adalah karakteristik produk yang berbeda secara fungsional dari produk- produk sejenis.

(2)

5. Reliabilitas (Reliability)

Adalah probabilitas produk menjalankan fungsi dimaksud dalam jangka waktu tertentu.

6. Durabilitas (Durability)

Adalah umur manfaat dari fungsi produk.

7. Tingkat Kesesuaian (Quality of conformance)

Adalah ukuran mengenai apakah suatu produk telah memenuhi spesifikasinya.

8. Pemanfaatan (Fitness for use)

Adalah kecocokan dari sebuah produk menjalankan fungsi-fungsi sebagaimana yang diiklankan.

Dengan demikian perbaikan kualitas berarti perbaikan pada satu atau lebih dari delapan dimensi di atas sementara tetap mempertahankan kinerja dimensi lainnya.

2.1.2. Jenis Kualitas

Secara umum 2 jenis kualitas adalah quality of design dan quality of conformance. Yang dimaksud dengan quality of design adalah fungsi dari spesifikasi suatu produk (Hansen dan Mowen 2003:441). Sedangkan quality of conformance adalah suatu ukuran tentang bagaimana suatu produk dapat sesuai dengan spesifikasi dan pemakaiannya (Hansen dan Mowen 2003:442).

2.1.3. Pengertian Biaya kualitas

Biaya kualitas adalah “ the cost that exist because poor quality may or does exist ”. (Hansen dan Mowen 2003:442). Oleh karena itu biaya kualitas berkaitan dengan kreasi, identifikasi, perbaikan dan pencegahan kerusakan. Biaya kualitas juga dapat diartikan sebagai “costs incurred to prevent poor quality from occurring or those costs incurred because poor quality has occurred“. (Hongren et. Al. 1994:795). Sedangkan menurut (Hongren, Sundem, Stratton 1999:340) biaya kualitas adalah “the effort to ensure that products and service perform to customer requirements”. Melalui pengertian-pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa biaya kualitas adalah biaya yang timbul karena mungkin atau telah

(3)

dihasilkan kualitas yang jelek atau cacat sehingga produk yang dihasilkan sesuai dengan harapan konsumen.

2.1.4 Jenis-jenis Biaya kualitas

Biaya kualitas menurut (Hansen dan Mowen 2003: 443) dikategorikan menjadi 4, yaitu :

a. Prevention costs (biaya pencegahan) adalah biaya-biaya yang dikeluarkan untuk mencegah terjadinya kerusakan selama proses produksi. Misalnya biaya untuk program pelatihan mutu, perencanaan mutu, pelaporan mutu, pemilihan dan evaluasi pemasok, audit mutu, siklus mutu, uji lapangan, dan peninjauan desain.

Apabila besarnya biaya pencegahan ditingkatkan maka diharapkan besarnya biaya kegagalan dapat ditekan atau bahkan dihilangkan sehingga mencapai tingkat nol (zero defect).

b. Appraisal cost (biaya penilaian) adalah biaya yang terjadi dalam rangka memberikan jaminan kepastian bahwa produk yang dihasilkan sudah sesuai dengan syarat-syarat suatu produk yang dapat diterima. Misalnya biaya pemeriksaan dan pengujian bahan baku, pemeriksaan kemasan, kegiatan penilaian pengawasan, penilaian produk, penilaian proses.

c. Internal failure costs (biaya kegagalan internal) adalah biaya-biaya yang terjadi akibat adanya kegagalan dalam proses internal sebelum produk tersebut dikirim ke konsumen. Misalnya pengerjaan ulang, pemeriksaan ulang, perubahan desain.

d. External failure costs (biaya kegagalan eksternal) adalah biaya-biaya yang terjadi akibat dari produk yang dikirim gagal dalam memenuhi permintaan konsumen (standar kualitas) yaitu untuk memberikan pelayanan kepada konsumen setelah produk dikirim ke konsumen. Misalnya biaya penarikan. biaya jaminan, perbaikan, biaya mengatasi keluhan pelanggan.

2.1.5 Laporan Biaya Kualitas

Berikut adalah beberapa tipe laporan biaya kualitas (Hansen dan Mowen 1994 :786) :

(4)

1. Interim standar report, yaitu : laporan yang membandingkan antara biaya kualitas aktual dengan biaya kualitas standar. Contoh dari bentuk laporannya dapat dilihat pada tabel 2.1.

Tabel 2.1.

Jensen Products

Interim Standard Performance Report : Quality Costs For the year Ended March 31, 1995

Actual

Costs Budgeted CostsA

Variance Prevention Costs :

Fixed :

Quality Trainning $ 35,000 $ 30,000 $ 5,000 U Reliability engineering 80,000 80,000 0 Total prevention $ 115,000 $ 110,000 $ 5,000 U Appraisal Costs :

Variable :

Material inspection $ 20,000 $ 28,000 $ 8,000 F Product acceptance 10,000 15,000 5,000 F Process acceptance 38,000 35,000 3,000 U Total appraisal $ 68,000 $ 78,000 $ 10,000 F Internal failure costs :

Variable :

Scrap $ 50,000 $ 44,000 $ 6,000 U Rework 35,000 36,500 1,500 F Total internal failure $ 85,000 $ 80,500 $ 4,500 U External failure costs :

Fixed :

Customer complaints $ 25,000 $ 25,000 $ 0 Variable :

Warranty 25,000 20,000 5,000 U Repair 15,000 17,500 2,500 F Total external failure $ 65,000 $ 62,500 $ 2,500 U Total quality costs $ 333,000 $ 331,000 $ 2,000 U Percentage of actual

salesB

11.89 % 11.82 % 0.07 % U

A Based on actual sales B Actual sales of $ 2,800,000 Sumber:Hansen & Mowen 1994:787

(5)

2. One-year trend reports, yaitu : laporan yang membandingkan kinerja kualitas tahun berjalan dengan kinerja kualitas tahun sebelumnya. Contoh dari bentuk laporannya dapat dilihat pada tabel 2.2.

Tabel 2.2.

Jensen Products

Performance Report : Quality Costs, One-Year Trend For the year Ended March 31, 1995

Actual Costs 1995A

Actual Costs

1994 Variance

Prevention Costs : Fixed :

Quality Trainning $ 35,000 $ 36,000 $ 1,000 F Reliability engineering 80,000 120,000 40,000 U Total prevention $ 115,000 $ 156,000 $ 41,000 F Appraisal Costs :

Variable :

Material inspection $ 20,000 $ 33,600 $ 13,600 F Product acceptance 10,000 16,800 6,800 F Process acceptance 38,000 39,200 1,200 F Total appraisal $ 68,000 $ 89,600 $ 21,600 F Internal failure costs :

Variable :

Scrap $ 50,000 $ 48,000 $ 2,000 U

Rework 35,000 40,000 5,000 F Total internal failure $ 85,000 $ 88,000 $ 3,000 F External failure costs :

Fixed :

Customer complaints $ 25,000 $ 33,000 $ 8,000 F Variable :

Warranty 25,000 23,000 2,000 U

Repair 15,000 16,400 1,400 F

Total external failure $ 65,000 $ 72,400 $ 7,400 F Total quality costs $ 333,000 $ 406,000 $ 73,000 F Percentage of actual

salesB

11.89 % 14.5 % 2.61 % F

A Based on actual current sales of $ 2,800,000 Sumber: Hansen & Mowen 1994:788

(6)

3. Multiple-period trend reports, yaitu : laporan yang membandingkan kinerja kualitas untuk beberapa tahun. Contoh dari bentuk laporannya dapat dilihat pada tabel 2.3.

Tabel 2.3.

Jensen Products

Long-range Performance Report For the year Ended March 31, 1995

Actual Costs Target CostsA Variance Prevention Costs :

Fixed :

Quality Trainning $ 35,000 $ 15,000 $ 20,000 U Reliability engineering 80,000 40,000 40,000 U Total prevention $ 115,000 $ 55,000 $ 60,000 U Appraisal Costs :

Variable :

Material inspection $ 20,000 $ 5,000 $ 15,000 U Product acceptance 10,000 - 10,000 U Process acceptance 38,000 10,000 28,000 U Total appraisal $ 68,000 $ 15,000 $ 53,000 U Internal failure costs :

Variable :

Scrap $ 50,000 $ - $ 50,000 U

Rework 35,000 - 35,000 U

Total internal failure $ 85,000 $ - $ 85,000 U External failure costs :

Fixed :

Customer complaints $ 25,000 $ - $ 25,000 U Variable :

Warranty 25,000 - 25,000 U

Repair 15,000 - 15,000 U

Total external failure $ 65,000 $ 0 $ 65,000 U Total quality costs $ 333,000 $ 70,000 $ 263,000 U Percentage of actual

salesB

11.89 % 2.5 % 9.39 % U

A

Based on actual current sales of $ 2,800,000.

Sumber:Hansen & Mowen 1994:791

4. Long-range standar report, yaitu : laporan yang membandingkan antara realisasi biaya kualitas tahun berjalan dengan target biaya kualitas yang diinginkan. Contoh dari bentuk laporannya dapat dilihat pada tabel 2.4.

(7)

Tabel 2.4.

Jensen Products

Performance Report : Quality Costs, Multiple-period Trend For the year Ended March 31, 1995

Year Quality Costs Actual Sales Costs as a

percentage of sales

1991 $462.000 $2.200.000 21.0 %

1992 423.000 2.350.000 18.0 %

1993 412.500 2.750.000 15.0 %

1994 406.000 2.800.000 14.5 %

1995 $333.000 $2.800.000 11.9 %

Sumber:Hansen & Mowen 1994:788 2.1.6 Manfaat Informasi Biaya Kualitas

Menurut (Hansen & Mowen 2003:452) tujuan utama laporan biaya kualitas adalah untuk memperbaiki dan mempermudah perencanaan, pengendalian, dan pengambilan keputusan manajerial. Sebagai contoh untuk memutuskan imlplementasi program seleksi pemasok dalam rangka memperbaiki mutu bahan baku, seorang manajer perlu melakukan penilaian terhadap biaya mutu saat ini menurut item dan kategori, penilaian biaya tambahan yang berkaitan dengan program, serta penilaian terhadap penghematan yang diproyeksikan oleh item dan kategori. Selain itu, proyeksi mengenai kapan biaya dan penghematan itu terjadi perlu dibuat. Setelah pengaruh kas tersebut diproyeksikan, maka analisis penganggaran modal dapat dilakukan untuk menilai manfaat program yang diusulkan. Jika hasilnya menguntungkan dan program mulai dijalankan, maka penting untuk memantau program dengan menggunakan pelaporan standar kinerja.

2.1.7 Optimalisasi Biaya Kualitas

Menurut (Hansen & Mowen 2003:447) optimalisasi terhadap biaya kualitas perlu dilakukan dalam rangka untuk menyeimbangkan antara prevention dan appraisal costs (control costs) dengan internal dan eksternal costs (failure

(8)

costs). Untuk melakukan optimalisasi biaya kualitas ada dua pendekatan yang dapat dilaksanakan, yaitu :

a. Traditional view

Menurut traditional view jika besarnya biaya pencegahan dan biaya penilaian (control costs) tinggi maka biaya kegagalan internal dan eksternal (failure costs) rendah, demikian juga sebaliknya jika biaya kegagalan tinggi maka biaya kontrolnya rendah. Menurut pandangan ini upaya yang harus dilakukan adalah menyeimbangkan antara biaya kontrol dengan biaya kegagalan sehingga terjadi adanya acceptable quality level (AQL), apabila keseimbangan tersebut telah tercapai, maka optimalisasi biaya kualitas juga telah tercapai.

b. World class view

Menurut pandangan ini kategori biaya kualitas yang ada dapat dikelola secara berbeda, sehingga titik keseimbangan tidak harus dicapai, yang harus dilakukan adalah awalnya prevention cost dan appraisal cost ditingkatkan sampai internal failure cost dan eksternal failure cost mencapai titik nol, pada saat itulah maka diadakan cutt of (pemotongan) terhadap prevention cost dan appraisal cost, sehingga biaya kualitas akan akan turun secara permanen. Dalam pendekatan ini total quality control (TQC) diperlukan untuk menghasilkan zero defect.

2.1.8 Pengertian Produktivitas

“Productivity concerns producing output efficiently and specifically addresses the relationship of output and the inputs used to produce the output”

(Hansen & Mowen 2003:455). Berarti produktivitas adalah kemampuan menghasilkan output secara efisien dan produktivitas merupakan hubungan dari output dan input yang digunakan dalam menghasilkan output tersebut. Agar produktivitas dapat seimbang antara input yang ada dengan output yang dihasilkan maka perlu diperhatikan total productive efficiency. Yang dimaksud dengan total productive efficiency adalah suatu titik yang merupakan kombinasi yang baik antara technical efficiency dan price efficiency.

Sedangkan menurut (Morse, Davis & Hartgraves 1996:236) Produktivitas merupakan hubungan antara output dan input:

(9)

Productivity =

Inputs Outputs

2.1.9 Pengukuran Produktivitas

Bagian lain yang perlu diperhatikan dalam produktivitas adalah cara pengukurannya “Productivity measurement concerns measuring productivity changes so that efforts to improve productivity can be evaluated” (Hansen and Mowen 2003:457). Pengukuran produktivitas melalui perubahan produktivitas yang harus diukur sedemikian rupa, sehingga usaha untuk meningkatkan produktivitas dapat dievaluasi.

Menurut (Hansen & Mowen 2003:458) pengukuran produktivitas dapat dilakukan secara:

a. Parsial yaitu pengukuran produktivitas secara parsial merupakan ratio (perbandingan) antara output dengan satu input. Pengukuran secara parsial dapat dibagi menjadi dua, yaitu:

• Operational productivity measure dimana output dan input yang diukur kuantitas fisiknya.

• Financial productivity measure dimana output dan input yang diukur dinyatakan dalam rupiah atau dolar.

Sebagai contoh, pada tahun 1997 Kankul Company memproduksi 120.000 mesin untuk AC window dan menggunakan 40.000 jam tenaga kerja. Rasio produktivitas tenaga kerja adalah 3 mesin per jam yaitu dari

000 . 40

000 .

120 . Ini adalah

ukuran operasional karena input dan output dinyatakan dalam bentuk fisik.

Apabila harga jual tiap mesin adalah $50 dan biaya tenaga kerja adalah $12 per jam, maka output dan input dapat dinyatakan dalam dolar. Rasio produktivitas tenaga kerja yang dinyatakan dalam istilah keuangan adalah $12,50 dari pendapatan per dolar biaya tenaga kerja yaitu dari

000 . 480

$

000 . 000 . 6

$ .

Keunggulan pengukuran secara parsial yaitu ukuran parsial memungkinkan manajer untuk memusatkan perhatiannya pada penggunaan input tertentu.

Pengoperasian ukuran parsial memiliki keunggulan, yaitu mudah diinterpretasikan oleh seluruh karyawan perusahaan, sehingga ukuran tersebut mudah untuk

(10)

digunakan untuk menilai kinerja produktivitas personil operasi. Misalnya jumlah tenaga kerja dapat dihubungkan dengan unit yang diproduksi per jam atau unit yang diproduksi per kilogram bahan. Jadi ukuran operasional parsial menyediakan umpan balik agar personil operasi dapat menghubungkan dan memahami ukuran yang berkaitan dengan input tertentu yang berada dalam kendali mereka. Ini menambah kemungkinan bahwa ukuran operasional parsial bisa diterima oleh personil operasi. Lagipula untuk pengendalian operasional, standar kinerja seringkali sangat pendek. Misalnya, standar kinerja dapat berupa rasio produktivitas dari produk sebelumnya. Dengan menggunakan standar ini tren produktivitas untuk tahun berjalan dapat ditelusuri.

b. Total productivity measurement. Dalam praktek mengukur pengaruh seluruh input mungkin tidak diperlukan. Banyak perusahaan hanya mengukur produktivitas faktor-faktor yang dianggap sebagai indikator relevan bagi keberhasilan dan kinerja perusahaan, jadi dalam istilah praktis pengukuran total produktivitas bisa didefinisikan sebagai pemusatan perhatian pada beberapa input yang secara total dapat mencerminkan keberhasilan perusahaan.

c. Profit linked productivity measurement yaitu menghitung atau menetapkan jumlah perubahan laba berkaitan dengan perubahan produktivitas. Laba berubah dari periode dasar ke periode berjalan. Beberapa dari perubahan laba tersebut disebabkan oleh perubahan produktivitas.

2.1.10 Kualitas dan produktivitas

Menurut (Hansen & Mowen 2003:799) Perbaikan kualitas dapat meningkatkan produktivitas maupun sebaliknya. Sebagai contoh, apabila pengulangan kerja (rework) berkurang karena menurunnya unit produk cacat, maka sedikit tenaga kerja dan bahan yang digunakan untuk menghasilkan output yang sama. Penurunan jumlah unit cacat memperbaiki kualitas sementara pengurangan jumlah input yang digunakan meningkatkan produktivitas. Karena sebagian besar perbaikan kualitas mengurangi jumlah sumber daya yang digunakan untuk memproduksi dan menjual output perusahaan, maka kebanyakan perbaikan kualitas akan meningkatkan produktivitas. Jadi perbaikan kualitas secara umum akan tercermin pada ukuran produktivitas.

(11)

2.1.11 Korelasi

Pada pronsipnya, prosedur korelasi bertujuan untuk mengetahui dua hal pada hubungan antara dua variabel :

• Apakah kedua variabel tersebut memang mempunyai hubungan yang signifikan.

• Jika terbukti hubungan adalah signifikan, bagaimana arah hubungan dan seberapa kuat hubungan tersebut.

Sesuai dengan jenis data yang ada, yaitu nominal, ordinal, interval dan rasio maka SPSS menyediakan menu-menu untuk mengukur korelasi variabel-variabel yang mempunyai jenis data yang berbeda-beda. Alat ukur korelasi yang digunakan untuk data rasio adalah PEARSON.

2.2. Hipotesa

Dalam penelitian ini yang menjadi masalah yaitu bagaimana pengaruh biaya kualitas terhadap produktivitas tenaga kerja dan bahan baku, dimana penelitian yang dilakukan secara inferensial melalui metode statistik korelasi. Maka hipotesa penulis terhadap masalah pengaruh biaya kualitas terhadap produktivitas tenaga kerja dan bahan baku yaitu :

• Bahwa peningkatan biaya prevention menyebabkan peningkatan produktivitas bahan baku.

• Bahwa peningkatan biaya appraisal menyebabkan peningkatan produktivitas bahan baku.

• Bahwa peningkatan biaya failure menyebabkan penurunann produktivitas bahan baku.

• Bahwa peningkatan biaya prevention menyebabkan peningkatan produktivitas tenaga kerja.

• Bahwa peningkatan biaya appraisal menyebabkan peningkatan produktivitas tenaga kerja.

• Bahwa peningkatan biaya failure menyebabkan penurunan produktivitas tenaga kerja.

• Bahwa peningkatan biaya control menyebabkan penurunan biaya failure.

Referensi

Dokumen terkait

Hasil terbaik dari pemilahan fraksi bahan dari corong 1 adalah pada perlakuan kecepatan putar pisau rotari 500 rpm dan kcepatan aliran udara 2,8 m/detik, yaitu diperoleh

Sehingga hal ini sesuai dengan data yang diperoleh pada penelitian ini bahwa viskositas polimer yang dihasilkan melalui teknik semikontinu paling besar kemudian teknik seeding 10%

Target penerimaan perpajakan pada APBN tahun 2013 ditetapkan sebesar Rp1.193,0 triliun, terdiri atas pendapatan pajak dalam negeri sebesar Rp1.134,3 triliun

Dari paparan di atas, yang menjadi fokus peneltian adalah upaya untuk meningkatkan disiplin belajar dengan menggunakan pelatihan self management pada siswa kelas

Promosi jabatan merupakan sarana yang dapat mendorong pegawai untuk lebih baik atau lebih bersemangat dalam melakukan suatu pekerjaan dalam lingkungan organisasi.Dengan melihat

The results of the study indicate that supplementation with a combination of anti- oxidants does not significantly influence serum concentrations of total and HDL-choles- terol as

Reorientasi yang diarahkan kepada pemantapan sistem standarisasi nasional serta akreditasi di bidang kesehatan hewan yang akan mendukung pengakuan intenasional yang syah terhadap

Sampel tersebut lalu didiamkan selama 24 jam yang bertujuan agar bakteri yang terkandung dalam media agar dapat tumbuh serta terdapat endapan pada media BHI Brott..