• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kata Pengantar. Kepala Perwakilan, Sumitro, SE., Ak., MM., CA., CFrA.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Kata Pengantar. Kepala Perwakilan, Sumitro, SE., Ak., MM., CA., CFrA."

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

P

I

O

N

I

R

(3)

Kata

Pengantar

Sesuai dengan mandat yang diamanatkan, BPKP telah menjalankan fungsi pengawasan sebagai Auditor Internal instansi pemerintah. Dengan terbitnya PP No 60 Tahun 2008 tentang SPIP, BPKP mendapat amanat untuk melakukan pembinaan penyelenggaraan SPIP.

Perwakilan BPKP Provinsi Papua Barat adalah instansi vertikal BPKP di daerah yang memberikan kontribusi terhadap pengembangan manajemen pemerintahan khususnya dalam mengawal pemerintah derah menuju sistem otonomi daerah yang transparan, bertanggung jawab dan akuntabel serta mampu memberikan kontribusi bagi terciptanya kebijakan pemerintah pusat yang berpihak kepada kepentingan masyarakat Papua Barat.

Profil Perwakilan BPKP Provinsi Papua Barat ini merupakan media untuk lebih memperkenalkan tugas dan fungsi BPKP kepada stakeholders di Provinsi Papua Barat yang dalam waktu tiga tahun keberadaannya berbagai upaya telah dilakukan untuk mendorong manajemen pemerintahan mencapai Good Governance and Clean Government.

Kepala Perwakilan,

(4)

Berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 103 Tahun 2001, sebagaimana telah beberapa kali diubah, terakhir dengan Peraturan Presiden Nomor 3 Tahun 2013, BPKP melaksanakan tugas pemerintahan di bidang pengawasan keuangan dan pembangunan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan yang berlaku.

Perwakilan BPKP Provinsi Papua Barat berkedudukan di Jalan Angkasa Mulyono – Amban Manokwari dan sesuai dengan Keputusan Kepala BPKP Nomor: KEP-06.00.00-286/K/2001 tentang Organisasi dan Tata Kerja Perwakilan BPKP, sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Keputusan Kepala BPKP Nomor: KEP-713/K/SU/2012. Wilayah Kerja Perwakilan BPKP Provinsi Papua Barat mencakup Provinsi Papua Barat dengan jumlah sebanyak 1 Pemerintahan Provinsi dan 13 Pemerintahan Daerah.

(5)

Visi, Misi dan

Nilai-Nilai BPKP

Visi BPKP

Auditor Presiden yang responsif, interaktif dan terpecaya untuk mewujudkan akuntabilitas keuangan negara yang berkualitas

Misi BPKP

1. Menyelenggarakan pengawasan intern terhadap akuntabilitas keuangan negara yang mendukung tata kepemerintahan yang baik dan bebas KKN 2. Membina secara efektif penyelenggaraan sistem pengendalian intern

pemerintah

3. Mengembangkan kapasitas pengawasan intern pemerintah uang profesional dan kompeten

4. Menyelenggarakan sistem dukungan pengambilan keputusan yang andal bagi Presiden/Pemerintah.

Nilai-Nilai BPKP

PIONIR

Profesional Integritas Orientasi Pengguna

Nurani dan Akal Sehat

Independen Responsibel

5 AS

Kerja Keras Kerja Cerdas Kerja Tuntas Kerja ikhlas Kerja dg integritas

(6)

Struktur

Organisasi

Struktur Organisasi Perwakilan BPKP Provinsi Papua Barat adalah sebagai berikut:

(7)

Sumber

(8)
(9)

Kegiatan dan

Layanan Produk

Kegiatan utama yang dilakukan oleh Perwakilan BPKP Provinsi Papua Barat dibagi dalam 3 kegiatan yaitu preventif, edukatif, dan represif dengan rincian sebagai berikut:

1.

Preventif meliputi:

a. Evaluasi Sistem Pengendalian Intern b. Reviu Proses Pengadaan Barang dan Jasa c. Sistem Informasi Manajemen Daerah

d. Reviu Laporan Keuangan melalui Bimbingan Teknis

e. Asistensi Good Governance pada Pemerintah Daerah dan Instansi Vertikal

f. Asistensi Sistem Informasi Akuntansi Sektor BUMN/D g. Pengembangan Manajemen Risiko

h. Pembinaan Penyelenggaraan SPIP i. Pengembangan Fraud Control Plan j. Clearing House

2.

Edukatif meliputi:

a. Jasa Pembinaan Jabatan Fungsional Auditor b. Program Anti Korupsi

c. Jasa Kediklatan Teknis Substansi bagi Auditor d. Transfer Knowledge melalui Sinergi Pengawasan

3.

Represif meliputi: a. Audit Investigatif

(10)

Capaian

Tapkin 2013

No Sasaran Strategis Target Realisasi % Capaian

1 Meningkatnya Kualitas LKKL dan LKPD 68,70 122,65 178,53% 2 Tercapainya Optimalisasi Penerimaan Negara 55,25 83,33 150,83% 3 Terselenggaranya SPM pada IPD dan terselenggaranya GG pada BUMN/BUMD

43,75 75,00 171,43%

4 Meningkatkan Kesadaran dan Keterlibatan K/L, Pemda, BUMN/BUMD, dalam Upaca Pencegahan dan

Pemberantasan Korupsi

51,33 106,16 206,81%

5 Meningkatnya Kualitas

Penerapan SPIP di K/L/Pemda

3,44 19,15 556,19%

6 Meningkatnya kapasitas aparat pengawasan intern pemerintah yang profesional dan kompeten pada K/L, Pemda

8,33 16,67 200,08

7 Meningkatnya efektifitas perencanaan pengawasan dan kualitas pengelolaaan

keuangan

41,79 41,26 98,74

8 Terselenggaranya sistem dukungan pengambilan keputusan bagi pimpinan

(11)

Kerjasama

Eksternal

1. Provinsi Papua Barat

Dengan MoU Nomor: PRJ-1070/K/ D5/2006 tanggal 18 Okt 2006

2. Kab. Fak Fak

Dengan MoU Nomor: 703/PW27/ 1/2012 tanggal 4 Jun 2012

3. Kab. Manokwari

Dengan MoU Nomor: PRJ-43/PW27 /1/2012 tanggal 9 Jan 2012

4. Kab. Sorong

Dengan MoU Nomor: 890/307/2013 dan MoU-527/PW27/3/2013 tanggal 1 April 2013

5. Kota Sorong

Dengan MoU Nomor: 890/307/2013 dan MoU-527/PW27/3/2013 tanggal 30 April 2010

6. Kab. Raja Ampat

Dengan MoU Nomor: 900/35/RA/2014 dan MoU-02/PW27/3/2014 tanggal 23 Januari 2014

7. Kab. Sorong Selatan

Dengan MoU Nomor: 890/307/2013 dan MoU-527/PW27/3/2013 tanggal 16 Juli 2009

8. Kab. Teluk Bintuni

Dengan MoU Nomor: MoU-1517/PW26/3/2009 tanggal 3 Agustus 2009

9. Kab. Teluk Wondama

Dengan MoU Nomor: MoU-63/PW26/3/2009 tanggal 14 Januari 2009

10. Kab. Kaimana

Dengan MoU Nomor: MoU-192/PW26/3/2010 tanggal 14 Januari 2010

11. Kab. Maybrat

Dengan MoU Nomor: 900/255/2011 tanggal 28 November 2011

12. Kab. Tambraw

(12)

SP

IP

Pada Perwakilan BPKP Provinsi Papua Barat telah di bentuk Satgas SPIP yang tertuang dalam Peraturan Kepala Perwakilan BPKP Provinsi Papua Barat Nomor: PER-18.1/PW27/1/2013 tanggal 1 April 2013.

Desain penyelenggaraan SPIP di lingkungan Perwakilan BPKP Provinsi Papua Barat tertuang dalam Peraturan Kepala Perwakilan BPKP Provinsi Papua Barat Nomor PER-18.2/PW27/1/2013 tanggal 1 April 2013.

Sampai dengan saat ini, kegiatan mapping berupa pelaksanaan diagnostic assesment penelitian tentang penerapan SPIP pada Perwakilan Provinsi Papua Barat telah dilaksanakan sesuai Nota Dinas Kepala Perwakilan BPKP Perwakilan Papua Barat Nomor :ND-1823/PW27/3/2013 tanggal 1 Oktober 2013. Hasil pemetaan telah dituangkan dalam Laporan Hasil Pemetaan Nomor: LAP-1979/PW27/3/2013 tanggal 18 Oktober 2013.

3 (tiga) Risiko Tertinggi pada Bagian Tata Usaha dan penanganan risiko tersebut antara lain:

NO

PERNYATAAN RISIKO

PENANGANAN RISIKO

1

Risiko pengeluaran tidak

didukung dengan bukti

formal yang sah

Penguatan proses reviu atasan

dan sosialisasi mekanisme

verifikasi pertanggungjawaban

pengeluaran anggaran

2

Risiko pengeluaran

melebihi anggaran yang

tersedia

Penguatan proses reviu atasan

dan sosialisasi mekanisme

verifikasi pertanggungjawaban

pengeluaran anggaran

3

Risiko DRPP tidak dapat

digunakan dalam

pengendalian

perencanaan

Penguatan proses verifikasi

oleh atasan dan peningkatan

kapasitas pegawai

(13)

3 (tiga) Risiko Tertinggi pada Bidang Pengawasan IPP dan penanganan risiko tersebut antara lain:

NO

PERNYATAAN RISIKO

PENANGANAN RISIKO

1

Hasil audit tidak

berkualitas

Penguatan proses reviu atasan

dan PKS pedoman audit

2

LHA/KKA hilang

Pengarsipan dokumen

3

Auditor kurang

memahami audit

pengadaan barang dan

jasa

Diklat / PKS

3 (tiga) Risiko Tertinggi pada Bidang APD dan penanganan risiko tersebut antara lain:

NO

PERNYATAAN RISIKO

PENANGANAN RISIKO

1

Risiko kurangnya

pemahaman arti penting

SPIP dari Pemda

Mengintensifkan sosialisasi

dan komunikasi pentingnya

SPIP kepada Pemda

2

Risiko penyajian LKPD

tidak sesuai SAP dan

tidak dapat

mengidentifikasi

kelemahan SPIP

Workshop SAP kepada

Inspektorat dan menyurati

Inspektorat agar mengirim LHP

PBJ

3

Risiko pengelolaan

keuangan daerah tidak

akuntabel/ tidak sesuai

ketentuan yang berlaku

Penyempurnaan SOP

Kerjasama Perwakilan dengan

Pemda dan peningkatan

kapasitas PFA.

(14)

3 (tiga) Risiko Tertinggi pada Bidang AN dan penanganan risiko tersebut antara lain:

NO

PERNYATAAN RISIKO

PENANGANAN RISIKO

1

Risiko data yang

diperoleh tidak

memadai/tidak lengkap

Koordinasi dengan BUMD/BUL

mengenai jadwal waktu

penugasan

2

Risiko keterlambatan

dalam pendistribusian

laporan hasil reviu

Pengaturan mengenai batas

waktu reviu

3

Risiko hasil Bimtek/

Konsultasi tidak

menggambarkan kondisi

yang sebenarnya

peningkatan kompetensi SDM

lebih banyak.

3 (tiga) Risiko Tertinggi pada Bidang Investigasi dan penanganan risiko tersebut antara lain:

NO

PERNYATAAN RISIKO

PENANGANAN RISIKO

1

Instansi merasa tidak ada

kewajiban untuk

menerapkan FCP

Penguatan proses reviu atasan

dan PKS pedoman audit

2

Pihak-pihak yang

bersengketa tetap pada

pendirian masing-masing

Pengarsipan dokumen

3

HP dan atau Anggaran

Biaya audit investigasi

kurang memadai

(15)

Inovasi Perwakilan

BPKP Prov. Pabar

1. LAKIP Perwakilan tahun 2013 dapat terbit tepat tanggal 31 Desember 2013 dan langsung diserahkan ke Pimpinan BPKP, sudah dirancang dukungan data kinerja yang terprogram.

2. Dalam rangka pengendalian risiko dalam penyelenggaraan SPIP:

 Selain diterbitkan ST dan Pengantar ST, juga dikirimkan surat kepada Pemerintah Provinsi/Kabupaten/Kota ybs tentang besaran biaya yang akan menjadi beban mitra kerja.

 Ditegaskan bahwa biaya penggantian perjalanan dinas ditetapkan besaran lumpsum/uang harian sesuai standar biaya umum BPKP, sedang biaya hotel dan transport masih bisa berubah naik/turun sesuai bukti pembayaran (at cost).

 Dalam setiap penerbitan ST diberikan tulisan pada footer: “Pegawai

BPKP tidak menerima gratifikasi dalam bentuk apapun dalam melaksanakan tugas pengawasan. Keluhan mengenai penugasan agar kirim SMS ke nomor 0811470252”

3. Wilayah Papua Barat sebagai pionir pembentukan Asosiasi Auditor Internal Pemerintah Indonesia (AAIPI). Sudah disahkan susunan kepengurusan oleh Dewan Pimpinan Pusat AAIPI.

4. Untuk memberi motivasi kepada semua pegawai, tiap hari Senin pukul 07.50 Kaper memberi motivasi dan arahan kepada semua pegawai antara lain tentang konsep Pionir dan 5 As. Hal ini berdampak pada :

 Tapkin 2013 tercapai 100%.

 Tahun 2013 telah terjadi peningkatan opini LKPD dari 2 yang WDP menjadi 5 WDP.

 laporan yang diterbitkan oleh perwakilan tidak ada yang terlambat (tidak pernah ditegur oleh Rendal).

 Capaian penugasan Investigasi Perwakilan yang tinggi, yaitu realisasi audit investigasi 5 dari rencana 4 dan PKKN 13 dari rencana 4.

5. Untuk peningkatan kinerja dan kualitas output BPKP, diadakan raker dua kali dalam tahun 2013.

6. Perwakilan membuat Laboratorium SIMDA sangat bermanfaat dalam rangka menunjang pemberian konsultasi dan bimbingan teknis kepada Pemerintah Daerah dalam Peningkatan Akuntabilitas Keuangan di Daerah, serta peningkatan kapabilitas SDM BPKP.

7. Perwakilan mempunyai kolom Opini pada Harian “Radar Sorong” yang dimuat tiap hari Sabtu sebagai sarana pemberian informasi kepada

(16)

Mitigasi

Risiko

1. Pelaksanaan tugas pokok dan fungsi pada Perwakilan BPKP Provinsi Papua Barat mengandung risiko, baik yang bersumber dari internal maupun eksternal.

2. Dari hasil identifikasi risiko, telah diidentifikasi sebanyak 243 (dua ratus empat puluh tiga) risiko dan dampak, yang terdiri dari Bagian Tata Usaha sebanyak 53 (lima puluh tiga) risiko/dampak, Bidang IPP 34 (tiga puluh empat) risiko/dampak, Bidang APD 38 (tiga puluh delapan) risiko/dampak, Bidang Akuntan Negara 44 (empat puluh empat) risiko/dampak dan bidang investigasi sebanyak 74 (tujuh puluh empat) risiko/dampak.

3. Dari hasil analisis risiko diperoleh profil risiko tiap Bagian dan Bidang yang dipetakan ke dalam kuadran I (kemungkinan kejadian tinggi dengan dampak rendah) sebanyak 9 (sebilan) risiko, kuadran II (kemungkinan kejadian tinggi dan dampak tinggi) sebanyak 106 (seratus enam) risiko, kuadran III (kemungkinan kejadian rendah dan dampak rendah) sebanyak 54 (lima puluh empat) risiko dan kuadran IV (kemungkinan kejadian rendah namun dampak tinggi) sebanyak 74 (tujuh puluh empat) risiko.

4. Penanganan risiko dengan strategi preventif dilakukan pada risiko yang berada di kuadran I dan III, penanganan risiko dengan strategi mitigatif dilakukan pada risiko pada kuadran IV, sedangkan penanganan risiko yang berada pada kuadran II dilakukan dengan strategi preventif dan mitigatif.

(17)

Reformasi

Birokrasi

Dalam rangka meningkatkan efektivitas pelaksanaan Reformasi Birokrasi Perwakilan BPKP Provinsi Papua Barat, dibentuk Tim Reformasi Birokrasi dan Tim Teknis Reformasi Birokrasi melalui:

Keputusan Kepala Perwakilan BPKP Provinsi Papua Barat Nomor : KEP-17.1/PW27/1/2013 tanggal 1 April 2013 tentang Penetapan Tim Reformasi Birokrasi di lingkungan perwakilan BPKP Provinsi Papua Barat,

dan Nomor : KEP-18.2/PW27/1/2013 tanggal 1 April 2013 tentang Penetapan Tim Teknis Reformasi Birokrasi di Lingkungan Perwakilan BPKP Provinsi Papua Barat.

Penanggung jawab Reformasi Birokrasi adalah Kepala Perwakilan BPKP Provinsi Papua Barat yang dalam pelaksanaan tugasnya sehari-hari dibantu oleh Pejabat Struktural dan Fungsional.

Pelaksanaan Reformasi Birokrasi 2010-2014

a. Program, Kegiatan, Agenda, dan Hasil yang Diharapkan (2010-2014)

1)Program Manajemen Perubahan

Program ini bertujuan untuk mengubah secara sistematis dan konsisten dari sistem dan mekanisme kerja organisasi serta pola pikir dan budaya kerja individu atau unit kerja yang lebih baik sesuai dengan tujuan dan sasaran Reformasi Birokrasi.

2) Program Penataan Peraturan Perundang-undangan

(18)

3) Program Penataan dan Penguatan Organisasi

Program ini bertujuan untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas organisasi secara proporsional sesuai dengan kebutuhan pelaksanaan tugas sehingga organisasi menjadi tepat fungsi dan tepat ukuran (right sizing).

4) Program Penataan Tatalaksana

Program ini bertujuan untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas sistem, proses, dan prosedur kerja yang jelas, efektif, efisien, dan terukur.

5) Program Penataan Sistem Manajemen SDM Aparatur

Program ini bertujuan untuk meningkatkan profesionalisme SDM aparatur, yang didukung oleh sistem rekrutmen dan promosi aparatur berbasis kompetensi, transparan, serta memperoleh gaji dan bentuk jaminan kesejahteraan yang sepadan.

6) Program Penguatan Pengawasan

Program ini bertujuan untuk meningkatkan penyelenggaraan pemerintahan yang bersih dan bebas KKN.

7) Program Penguatan Akuntabilitas Kinerja

Program ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas dan akuntabilitas kinerja.

8) Program Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik

Program ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik sesuai kebutuhan dan harapan masyarakat.

9) Program Monitoring, Evaluasi dan Pelaporan

Program ini bertujuan untuk menjamin agar pelaksanaan reformasi birokrasi dijalankan sesuai dengan ketentuan dan target yang ditetapkan.

(19)

Penghargaan

Eksternal

1. Role Model Peningkatan Organisasi Yang Responsif dan Antisipatif

2. Juara I Lomba Anugerah Kehumasan dan Website 2013 3. Penghargaan dari Pemkab Raja Ampat atas

Kerjasamanya sehingga LKPD Pemkab Raja Ampat Tahun 2012 memperoleh Opini WDP dari BPK-RI 4. Penghargaan dari Kepolisian Daerah Papua atas Bantuan dan Koordinasi dalam Penuntasan Kasus Tindak Pidana Korupsi

5. Penghargaan dari Pemerintah Kabupaten Sorong atas Fasilitasi pada Pemerintah Kabupaten Sorong, DPRD Kabupaten Sorong, dan Polres Sorong Kota

6. Penghargaan dari Pemerintah Kabupaten Sorong atas Kerjasamanya sehingga LKPD Pemkab Sorong Tahun 2012 memperoleh Opini WDP dari BPK-RI

7. Penghargaan dari Inspektorat Provinsi Papua Barat ats Kerjasama dalam EKPPD, Verifikasi dan Validasi Pelayanan Publik dan Pengawalan Proses Penerimaan CPNS 2013

8. Penghargaan Kepada Sumitro, SE.,AK.,MM.,CA.,CFrA. Sebagai Narasumber Kegiatan Pelatihan, Peningkatan Pelayanan Prima dan Pendapatan Target Penerimaan

(20)

Referensi

Dokumen terkait

Penyusunan Laporan Kinerja Instansi Pemerintah (LKjIP) Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat Tahun 2016, dimaksudkan sebagai

LKj tahun 2016 merupakan periode laporan yang kedua dari Renstra Perwakilan BPKP Provinsi Jambi periode 2015 – 2019 dimana analisis capaian kinerja yang harus di uraikan terdiri

Pemohon informasi yang memohon informasi program Bangga Kencana, PPID Perwakilan BKKBN Provinsi Sumatera Selatan menyediakan layanan informasi publik melalui kontak para

Peraturan Gubernur Sumatera Barat Nomor 3 Tahun 2020 tentang Kedudukan, Susunan Organisasi Tugas dan Fungsi Serta Tata Kerja Dinas Daerah Provinsi Sumatera Barat

Di wilayah kerja Perwakilan BPKP Provinsi Sulawesi Selatan, kondisi yang ada saat ini kedudukan APIP pada tingkat kapabilitas paling tinggi masih berada pada “Level

Berdasarkan hasil evaluasi Inspektorat BPKP, kinerja Perwakilan BPKP Provinsi Sumatera Barat pada Tahun 2011 dan 2012 masing-masing mendapatkan nilai 84,67 dan 87,30 dengan

Dalam upaya pencapaian Visi dan Misi tersebut diimplementasikan melalui pelaksanaan tugas pokok dan fungsi BPMPT Provinsi Jawa Barat dalam penyelenggaraan

Profil Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Barat Tahun 2016 adalah salah satu media penyampaian pertanggungjawaban kepada publik yang memuat pencapaain Dinas Kesehatan