4 Ibid, hlm 3 5 Ibid, hlm 5

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

1

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Negara sebagai suatu identitas yang tampak abstark dan merupakan unsur-unsur negara yang berupa rakyat, wilayah dan pemerintah. Salah satu unsur-unsur negara adalah rakyat. Rakyat yang tinggal di wilayah negara menjadi penduduk negara yang bersangkutan. Warga negara adalah bagian dari penduduk suatu negara. Warga negara memiliki hubungan dengan negaranya. Kedudukannya sebagai warga negara menciptakan hubungan berupa peranan, hak dan kewajiban yang bersifat timbal balik.

Pemahaman yang baik mengenai hubungan antar warga negara dengan negara sangat penting untuk mengembangkan hubungan yang harmonis, konstruktif, dan demokratif. Pada akhirnya pola hubungan yang baik antara warga negara dengan negara lain dapat mendukung kelangsungan hidup bernegara.

Hemat penulis, makalah ini menuliskan berkaitan mengenai konstitusi negara Indonesia. Mengenai pengertian konstitusi, sejarah konstitusi, perubahan konstitusi pasca amandemen UUD 1945, dan tata urutan perundang-undangan. Dimana semua mengandung substansi yang sangat penting bagi negara Indonesia.

B. Rumusan Masalah

1. Apa pengertian konstitusi dalam suatu negara?

2. Bagaimana sejarah konstitusi?

3. Bagaimana perubahan konstitusi?

(2)

2

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian Konstutusi

Konstitusi merupakan naskah dasar sebagai kaidah fundamental

negara. Istilah konstitusional berasal dari bahasa Perancis constituer yang

berarti membentuk, yaitu membentuk menyusun atau menyatakan suatu negara, konstitusi diartikan peraturan dasar tentang pembentukan suatu negara,

atau UUD.1

Dalam KBBI istilah konstitusi berati sebagai ketentuan dan aturan mengenai ketatanegaraan atau berarti juga undang-undang suatu negra. Dalam

bahasa Belanda istilah konstitusi dikenal dengan grondwet (grond= dasar,

wet= undang-undang) yang berarti UUD. Dalam bahasa Inggris dikenal

dengan istilah constitusion yang diartikan sebagai undang-undang dasar yaitu

keseluruhan peraturan yang tertulis maupun tidak tertulis yang mengatur masyarakat dalam menyelenggarakan pemerintahan negara.

Secara terminologis konstitusi adalah sekumpulan ketentuan-ketentuan dan aturan-aturan dasar yang dibentuk untuk mengatur fungsi dan struktur lembaga pemerintahan termasuk juga dasar hubungan antara negara dan rakyat

dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.2

Tujuan adanya konstitusi secara ringkas dapat diklasifikasikan tiga tujuan, yaitu :

1. Konstitusi bertujuan memberikan pembatasan sekaligus pengawasan

terhadap kekuasaan politik.

2. Konstitusi bertujuan untuk mengawasi atau mengontrol proses-proses

kekuasaan dari para enguasa.

3. Konstitusi bertujuan memberi batasan-batasan ketetapan bagi para

penguasa dalam menjalankan kekuasannya.

B. Sejarah Konstitusi

Catatan historis timbulnya negara konstitusi sebenarnya merupakan proses sejarah yang panjang dan menarik untuk dikaji. Konstitusi sebagai suatu kerangka kehidupan politik telah disusun melalui dan oleh hukum. Yaitu sejak zaman sejarah Yunani dimana mereka telah mengenal beberapa kumpulan hukum pada masa kejayaan Athena. Pemahaman pada masa itu henyalah merupakan suatu kumpulan dari peraturan serta adat kebiasaan

semata-mata.3

Kemudian pada masa Kekaisaran Roma pengertian konstitusi memperoleh tambahan arti sebagai suatu kumpulan ketentuan serta peraturan yang dibuat oleh para kaisar. Termasuk didalam nya pernyataan pendapat para ahli hukum serta adat kebiasaan setempat disamping pada undang-undang.

1

Noor Ms Bakkary, Pendidikan Kewarganegaraan, Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2012, Hlm 131

2

Ibid, hlm 132

(3)

3 Konstitusi Roma mempunyai pengaruh cukup besar sampai abad pertengahan. Dimana konsep tentang kekuasaan tertinggi dari para kaisar Roma telah menjelma dalam bentuk umum di Perancis. Bahkan kegandrungan orang Romawi akan masa orde telah memberikan inspirasi bagi tumbuhnya paham “Demokrasi Perwakilan” dan “Nasionalisme”. Dua paham inilah merupakan

cikla bakal munculnya paham konstitusi modern.4

Pada abad pertengahan corak konstitusi bergeser ke arah feodilisme yang mengandung pengertian bahwa tanah dikuasai oleh para tuan tanah. Suasana seperti ini dibarengi oleh adanya keyakinan bahwa setiap orang harus mengabdi pada salah satu tuannya. Sehingga raja yang semestinya mempunyai status lebih tinggi dari pada tuan rumah dan menjadi tidak mendapat tempat. Pada abad VII (zaman klasik) lahirlah konstitusi Madinah yang dibentuk pada awal masa klasik Islam tepatnya sekitar tahun 622 M. Sedangkan di Eropa kontitusi, pihak raja lah yang memperoleh kemenangan yaitu ditandai dengan semakin kokohnya absolutisme. Khususnya di Perancis, Rusia, dan Australia pada abad ke-15.

Lain halnya di Inggris, kaum bangsawan lah yang mendapat kemenangan dan sebagai puncak kemenangannya ditandai dengan pecahnya revolusi istana pada tahun 1688. Kemenangan kaum bangsawan dalam revolusi istana ini telah menyebabkan berakhirnya absolutisme di Inggris, serta munculnya parlemen sebagai pemegang kedaulatan.

Konstitusi sebagai UUD dalam hukum dasar yang mempunyai arti penting atau sering disebut dengan konstitusi modern. Baru muncul bersamaan dengan semakin berkembangnya sistem demokrasi perwakilan dan konsep nasionalisme. Demokrasi perwakilan muncul sebagai pembunuhan rakyat akan kehadiran lembaga legislatif. Lembaga ini diharapkan dapat membuat UUD untuk mengurangi serta membatasi dominasi hak-hak raja. Alasan inilah yang mendudukan konstitusi sebagai hukum dasar yang lebih tinggi daripada raja. Sekaligus terkandung maksud memperkokoh lembaga perwakilan rakyat. Beralih pada masa perang dunia I tahun 1914 telah banyak memberikan dorongan yang dahsyat bagi konstitusionalisme. Yaitu, dengan jalan menghancurkan pemerintahan yang tidak liberal dan menciptakan negara baru

dengan konstitusi yang berdasarkan demokrasi dan nasionalisme.5

C. Cara mengubah konstutusi

a. Perubahan konstutusi pasca amandemen UUD 1945.

Menurut Miriam Budiarjo ada 4 macam prosedur dalam mengubah konstitusi yaitu :

1) Sidang badan legislatif dengan ditambah beberapa syarat, misalnya :

pencapaian kuorum dalam jumlah minimum untuk menerimanya.

2) Referendum yaitu permintaan pendapat rakyat tentang perlunya

perubahan atau tidak terdapat konstitusi.

3) Melalui negara-negara bagian dalam negara federal.

4) Melalui musyawarah khusus.

4Ibid, hlm 3

(4)

4 Di Indonesia, prosedur perubahan diatur dalam pasal 37 UUD 1945 dan peraturan lainnya seperti ketetapan MPR No.1/MPR/193 dan peraturan lainnya. Menurut pasal 37 UUD 1945. Menyebutkan :

1) Untuk mengubah UUD sekurang-kurangnya 2/3 daripada jumlah

anggota MPR harus hadir.

2) Keputusan diambil dengan persetujuan sekurang-kurangnya 2/3

dari jumlah anggota yang hadir.

Sedang menurut Tap MPR No.1/MPR/1/93 tentang referendum, prosedur perubahan UUD 1945 sebagai berikut :

1) Usul perubahan itu diajukan oleh sekurang-kurangnya 3 fraksi

secara utuh disertai tanda tangan peserta sidang.

2) Diadakan referendum

3) Hasil referendum sekurang-kurangnya 91% menyetujui perubahan

UUD.6

Berdasarkan pasal 37 UUD 1945 setelah di amandemen, perubahan UUD diatur sebagai berikut :

1) Usul perubahan pasal UUD dapat diagendakan dalam sidang MPR

apabila diajukan sekurang-kurangnya 1/3 dari jumlah anggita MPR.

2) Setiap usul perubahan pasal UUD diajukan secara tertulis di

tunjukkan jelas bagian yang disusulkan untuk diubah beserta alasannya.

3) Untuk mengubah pasal UUD sidang MPR dihadiri

sekurang-kurangnya 2/3 dari anggota MPR.

4) Putusan untuk mengubah pasal UUD dilakukan dengan persetujuan

sekurang-kurangnya 50% + 1 dari seluruh anggota MPR.

5) Khusus tentang bentuk NKRI tidak dapat dilakukan perubahan.

b. Amandemen UUD 1945

UUD 1945 telah mengalami 4 kali perubahan yaitu perubahan pertama SU MPR tanggal 12-19 oktober 1999. Perubahan kedua pada sidang tahunan MPR yang ditetapkan 19 agustus 2000. Perubahan ketiga dilakukan pada ST MPR tanggal 9 november 2001 sedangkan perubahan keempat dilaksanakan pada ST MPR 10 agustus 2002 tentu saja dengan hasil amandemen tersebut terjadilah perubahan dari segi redaksi, kontennya, maupun maknanya. Perubahan itu juga ada pengurangan, ada penghapusan, ada penambahan, dan ada yang baru sama sekali.

Diantara hasil perubahan yang prinsipil dari UUD 1945 hasil amandemen antara lain :

1) Tentang MPR dimana anggotanya berasal dari hasil pemilu (tidak ada

yang di angkat).

2) Presiden dipilih langsung oleh rakyat.

3) Keberadaan DPH dihapus.

6Jazim Hamid, Pendidikan Kewarganegaraan “Paradigma untuk Mahasiswa”, Bandung : Alfabeta, 2013, Hlm

(5)

5

4) Munculnya lembaga yudikatif yaitu Mahkamah Konstitusi (MK).

5) Masa jabatan presiden maksimal 2 periode.

6) Ada pembatasan-pembatasan tentang wewenang presiden.

7) Dimasukannya tentang pasal-pasal hak asasi manusia.

8) Pemerintahan memperioritaskan anggran pendidikan miminal 20% dari

APBN dan APBD dan lain-lainnya.

Dengan ditetapkannya perubahan UUD 1945 pada tanggal 10 Agustus 2002 maka UUD 1945 hanya terdiri atas pembukaan dan hutang tubuh (pasal-pasalnya). Sedangkan status penjelasannya UUD 1945 yang dulunya merupakan lampiran yang tak terpisahkan dari naskah UUD. Sekarang tidak alagi diakui sebagai bagian tak terpisahkan dari naskah UUD 1945.

Adapaun hal-hal pokok yang diatur dalam batang tubuh UUD 1945 hail amandemen adalah :

1) Sistem pemerintahan negara.

2) Kelembagaan negara

3) Pemerintah daerah

4) Hubungan antara negara dan warga negara/penduduk.

5) Bendera dan bahasa.

6) Perubahan UUD.

7) Aturan peralihan dan tambahan.7

D. Tata Urutan Perundang-Undangan RI

Tata urutan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia sejak orde lama, orde baru, hingga sekarang ini telah mengalami beberapa perubahan. Pada awalnya, tercantum dalam TAP MPR No. V/MPR/173 dan TAP MPR No.IX/MPR/1978. Di era reformasi tata urutan peraturan perundangan itu diubah dengan keluarnya TAP MPR No.III/MPR/2003 kemudian pada tahun 2004 tata aturan perundangan disusun berdasarkan UU No. 10 Tahun 2004 yang isinya sebagai berikut :

1) UUD 1945 2) Undang-undang/Perpu 3) Peraturan pemerintahan 4) Perpres 5) Perda8 7

Taufiqurrahman Syahuri, Tafsir Konstitusi Berbagai Aspek Hukum, Jakarta, Prenada Media Group, 2011, Hlm

37

(6)

6

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan

Hubungan hukum warga negara dengan negara yang baik adalah hubungan hukum yang sederajat dan timbal balik antara warga negara sesungguhnya tidak ada perbedaan kedudukan tinggi atau rendah, baik itu warga negara dan negara memilki kedudukan yang sama dan sederajat. Apa yang menjadi hak warga negara menjadi kewajiban negara dan berlaku sebaliknya. Dengan posisi yang sederajat dan timbal balik, maka antara keduanya dapat-dapat saja saling menggugat mankala hak dan kewajiban yang timbul dari keduanya diabikan. Artinya warga negara dapat menggugat pemerintah negara itu jika hak-haknya tidak dipenuhi sebaliknya pula negara dapat menuntut balik warga negara untuk memenuhi kewajibannya.

Indonesia sendiri memiliki sebuah konstitusi yang merupakan sebuah gambaran dan penjelasan tentang mekanisme lembaga-lembaga negara. Lebih itu di dalamnya ditemukan kedudukan hak dan kewajiban warga negara sendiri. Begitu pentingnya kehadiran konstitusi di sebuah negara yang sulit dibayangkan bagaimana sebuah negara jika mengalami krisis konstitusi.

B. Penutup

Demikianlah makalah yang dapat kami buat, tentunya masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu kritik dan saran kami harapkan dari pembaca guna membangun kami agar lebih baik. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

(7)

7

DAFTAR PUSTAKA

Bakkary, Noor Ms. Pendidikan Kewarganegaraan. Yogyakarta : Pustaka Pelajar. 2012.

Winarno. Pancasila dan UUD 1945. Yogyakarta: Ombak Dua.2014.

Thaib, Dahlan. Teori dan Hukum Konstitusi. Jakrta: Raja Grafindo Persada. 2008.

Hamudi, Jazim. Pendidikan Kewarganegaraan “Paradigma Terbaru Untuk Mahasiswa”.

Bandung: Alfabeta. 2013.

Syahuri, Tufiqurrahman. Tafsir Konstitusi Berbagai Aspek Hukum. Jakarta: Pranada Media

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :