• Tidak ada hasil yang ditemukan

DED TPST KOTA SUNGAI PENUH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "DED TPST KOTA SUNGAI PENUH"

Copied!
117
0
0

Teks penuh

(1)

KATA PENGANTAR

Jumlah penduduk yang terus meningkat dan aktivitas sosial ekonomi masyarakat pastinya akan berkembang terus, berdampak peningkatan volume sampah yang diangkut dalam satuan waktu. Jika tidak dilakukan penanganan yang baik akan mengakibatkan terjadinya perubahan keseimbangan lingkungan yang merugikan atau tidak diharapkan sehingga dapat mencemari lingkungan, baik terhadap tanah, air dan udara. Idealnya TPA digunakan sebagai tempat penampungan akhir dari sampah-sampah yang tidak bisa diolah kembali (di daur ulang atau di konversikan menjadi energi). Berdasarkan kondisi pengelolaan sampah eksisting khususnya pengelolaan sampah di TPA yang kondisinya masih harus ditingkatkan, maka sarana pemrosesan sampah di TPA menjadi salah satu prioritas program pengembangan dimasa yang akan datang. Untuk itu diperlukan perencanaan TPST Kota Sungai yang kedepannya akan dijadikan pedoman dalam pembangunan kondtruksi TPST tersebut, dengan harapan TPST yang direncanakan dapat bermanfaat bagi peningkatan pengelolaan sampah dan dapat mewujudkan suatu pembangunan yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan.

Laporan Akhir ini merupakan salah satu dokumen yang disyaratkan bagi kelengkapan pekerjaan “DED TPST KOTA SUNGAI PENUH”, yang ditugaskan dari Dinas PU Kota Sungai Penuh. Laporan Akhir ini adalah laporan tahap akhir yang berisikan Pendahuluan, Gambaran Umum Wilayah, Analisis Kondisi Fisik Rencana TPST dan Rencana Pengembangan TPST dan Kriteria Design dan Rencana Anggaran Biaya. Harapan Konsultan mudah-mudahan Laporan Akhir ini bermanfaat bagi pihak-pihak yang terkait. Kepada pihak-pihak yang telah membantu hingga terselesaikannya laporan ini kami sampaikan terima kasih.

Sungai Penuh, Desember 2016 Konsultan Perencana,

(2)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR ISI ... ii

DAFTAR TABEL ... v

DAFTAR GAMBAR ... vii BAB 1 PENDAHULUAN ... 1-1

1.1 Latar Belakang ... 1-1 1.2 Maksud Dan Tujuan... 1-1 1.3 Ruang Lingkup Pekerjaan ... 1-2 1.4 Sistematika Pembahasan ... 1-3 1.5 Daftar Istilah ... 1-4

BAB 2 GAMBARAN UMUM WILAYAH ... 2-1

2.1 Daerah Studi ... 2-1 2.1.1 Batasan Administrasi ... 2-1 2.1.2 Letak Geografi ... 2-3 2.1.3 Hidrologi... 2-4 2.1.4 Hidrogeologi ... 2-4 2.1.5 Topografi ... 2-5 2.1.6 Iklim ... 2-7 2.1.7 Geologi... 2-11 2.1.8 Demografi (Kependudukan) ... 2-13 2.1.9 Sosial dan Budaya ... 2-13 2.1.10 Transportasi ... 2-15 2.1.11 Keuangan dan Perekonomian Daerah ... 2-16 2.1.12 Produk Domestik Regional Bruto ... 2-17 2.2 Kebijakan Pembangunan Dan Tata Ruang ... 2-18 2.2.1 Kebijakan Penataan Ruang ... 2-18

(3)

2.2.2 Tujuan Pembangunan Daerah ... 2-19 2.2.3 Tujuan Penataan Ruang ... 2-20 2.2.4 Strategi Penataan Ruang... 2-20 2.2.5 Arah Pengembangan Tata Ruang ... 2-23 2.3 Prasarana Kota ... 2-25 2.3.1 Sistem Penyediaan Air Minum ... 2-25 2.3.2 Drainase ... 2-25 2.3.3 Air Limbah ... 2-26 2.3.4 Data Jaringan Jalan dan Sarana Transportasi ... 2-27 2.4 Kondisi Eksisting Sistem Pengelolaan Persampahan ... 2-29 2.4.1 Sumber Sampah ... 2-29 2.4.2 Daerah Pelayanan ... 2-29 2.4.3 Timbulan, Komposisi dan Karakteristik Sampah ... 2-29 2.4.4 Teknik Operasional Pengolahan Sampah Eksisting ... 2-31 2.4.5 Aspek Kelembagaan ... 2-38

BAB 3 ANALISIS KONDISI FISIK RENCANA TPST KOTA SUNGAI PENUH ... 3-1

3.1 Analisis Kondisi Fisik TPST ... 3-1 3.1.1 Lokasi TPST ... 3-1 3.1.2 Topografi ... 3-1 3.1.3 Klimatologi ... 3-5

BAB 4 ANALISIS BEBAN PENGELOLAAN SAMPAH PADA RENCANA TPST ... 4-1 4.1 Konsep Zero Waste ... 4-1 4.2 Konsep Pengolahan Persampahan ... 4-4 4.3 Rencana Wilayah Pelayanan ... 4-5 4.3.1 Penentuan Wilayah Pelayanan ... 4-5 4.4 Proyeksi Jumlah Penduduk dan Timbulan Sampah ... 4-5 4.4.1 Proyeksi Jumlah Penduduk ... 4-5 4.4.2 Proyeksi Timbulan Sampah ... 4-7

(4)

4.5 Analisis Beban Pemrosesan Sampah & Prediksi Umur Layan Rencana TPST ... 4-12 4.6 Estimasi Kebutuhan Lahan Landfill ... 4-14

BAB 5 RENCANA PENGEMBANGAN TPST DAN KRITERIA DESAIN ... 5-1

5.1 Rencana Operasi Landfilling ... 5-1 5.2 Rencana Penataan TPST ... 5-3 5.3 Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) ... 5-6 5.3.1 Rancangan TPST ... 5-6 5.3.2 Kriteria Desain Fasilitas Umum ... 5-15 5.3.3 Fasilitas Umum ... 5-15 5.3.4 Fasilitas Perlindungan Lingkungan ... 5-17 5.3.5 Fasilitas Penunjang ... 5-21 5.3.6 Fasilitas Operasional ... 5-22

BAB 6 DETAIL PERANCANGAN TPST ... 6-1

6.1 Perhitungan Bangunan Pelengkap ... 6-1 6.1.1 Tempat Pembuangan Sementara (TPS) ... 6-1 6.1.2 Tempat Sorting (Pemilahan) ... 6-2 6.1.3 Pengomposan ... 6-3 6.2 Debit Lindi ... 6-7 6.3 Perhitungan Dimensi Unit Instalasi Pengolah Lindi ... 6-8 6.3.1 Kolam Anaerobik ... 6-8 6.3.2 Kolam Fakultatif ... 6-9 6.3.3 Kolam Maturasi ... 6-12 6.3.4 Wetland... 6-13 6.3.5 Biofilter ... 6-13

BAB 7 RENCANA ANGGARAN BIAYA ... 7-1

7.1 Umum ... 7-1 7.2 Rencana Anggaran Biaya Pekerjaan Pembuatan TPST ... 7-1

(5)

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Luas Wilayah dan Pembagian Daerah Administrasi Menurut Kecamatan di Kota Sungai Penuh, 2014 ... 2-1 Tabel 2.2 Batas-batas Wilayah Kecamatan di Kota Sungai Penuh, 2014 ... 2-3 Tabel 2.3 Daerah Aliran Sungai (DAS) di Wilayah Kota Sungai Penuh ... 2-4 Tabel 2.4 Klasifikasi dan Panjang/Luas Drainase Menurut Kecamatan di Kota Sungai Penuh, 2014 ... 2-4 Tabel 2.5 Luas Wilayah di Atas Permukaan Laut (DPL) Menurut Kecamatan di Kota Sungai Penuh, 2014 ... 2-5 Tabel 2.6 Rata-rata Suhu Udara, Kelembaban Relatif, Tekanan Udara, Kecepatan Angin, Curah Hujan dan Penyinaran Matahari di Stasiun Meteorologi Depati Parb, 2014 ... 2-7 Tabel 2.7 Suhu Udara Maksimum, Minimum dan Rata-rata per Bulan di Stasiun Meteorologi Depat Parbo, 2014 ... 2-7 Tabel 2.8 Klasifikasi Lereng di Kota Sungai Penuh... 2-8 Tabel 2.9 Potensi Bahan Galian dan Pertambangan di Kota Sungai Penuh, 2014 ... 2-11 Tabel 2.10 Jumlah Penduduk Kota Sungai Penuh Menurut Jenis Kelamin dan Rasio Jenis Kelamin Dirinci Per Kecamatan, 2014 ... 2-13 Tabel 2.11 Jumlah Fasilitas Pendidikan di Kota Sungai Penuh Dirinci Per Kecamatan, 2014 .. 2-13 Tabel 2.12 Jumlah Tenaga Medis di RSU Mayjen H.A. Thalib, 2008 -2014 ... 2-14 Tabel 2.13 Jumlah Tenaga Medis di Rumah Sakit DKT, 2008-2014 ... 2-15 Tabel 2.14 Jumlah Tenaga Medis yang Praktek di Kota Sungai Penuh, 2014 ... 2-15 Tabel 2.15 Realisasi Pemasukan PBB Menurut Bulan di Kota Sungai Penuh, 2014 (Rp) ... 2-16 Tabel 2.16 Perkembangan PDRB Kota Sungai Penuh atas Dasar Harga Konstan Tahun 2000 Menurut Lapangan Usaha (juta rupiah) ... 2-17 Tabel 2.17 Sarana Transportasi Antar Provinsi di Kota Sungai Penuh Tahun 2010 ... 2-28 Tabel 2.18 Besaran Timbulan Sampah (volume) ... 2-29 Tabel 2.19 Besaran Timbulan Sampah (Berat) ... 2-30 Tabel 2.20 Rekapitulasi Besaran Timbulan Sampah ... 2-30 Tabel 2.21 Klasifikasi Bahan Wadah Per Kategori Sampah ... 2-32 Tabel 2.22 Sarana dan Prasarana Sistem Pengumpulan dan Pengangkutan Eksisting ... 2-34 Tabel 2.23 Petugas Pengumpulan dan Pengangkutan Sampah Eksisting ... 2-34 Tabel 2.24 Estimasi Pengurangan Sampah di Kota Sungai Penuh ... 2-38 Tabel 2.25 Retribusi Sampah Berdasarkan Peraturan Daerah No. 10 Tahun 2011 ... 2-41 Tabel 3.1 Data Klimatologi Kota Sungai Penuh ... 3-5 Tabel 3.2 Fluktuasi Curah Hujan Periode 2010-2014 stasiun Depati Parbo ... 3-6 Tabel 4.1 Persentase Tingkat Pelayanan dan Potensi Reduksi Sistem Persampahan Kota Sungai Penuh ... 4-4

(6)

Tabel 4.2 Jumlah Penduduk Wilayah Pelayanan Kota Sungai Penuh ... 4-6 Tabel 4.3 Proyeksi Jumlah Penduduk Wilayah Pelayanan ... 4-6 Tabel 4.4 Proyeksi Jumlah Komponen Lain ... 4-7 Tabel 4.5 Proyeksi Timbulan Sampah Dari Permukiman Perkecamatan ... 4-8 Tabel 4.6 Proyeksi Timbulan Sampah Dari Non Permukiman ... 4-9 Tabel 4.7 Proyeksi Timbulan Sampah di Landfill yang berasal dari Permukiman ... 4-10 Tabel 4.8 Proyeksi Sampah yang Berasal dari Non Permukiman ... 4-11 Tabel 4.9 Rekapitulasi Timbulan Sampah ... 4-12 Tabel 4.10 Umur Layan Rencana TPST Sumur Gedang ... 4-12 Tabel 4.11 Luas Zona Landfill Setiap 3 tahun ... 4-15 Tabel 5.1 Perbedaan Controlled Landfill dan Sanitary Landfill ... 5-1 Tabel 5.2 Rencana Pemanfaatan Lahan TPST Kota Sungai Penuh ... 5-3 Tabel 5.3 Contoh Bahan, Operasi, serta Kebutuhan Peralatan dalam TPST ... 5-9 Tabel 6.1 Luas TPS dan Volume Kontainer yang Digunakan ... 6-1 Tabel 6.2 Luas TPS dan Dimensi Kontainer ... 6-1 Tabel 6.3 Rancangan Desain TPS pada TPST ... 6-1 Tabel 6.4 Persentase Timbulan Sampah Berdasarkan Jenisnya ... 6-2 Tabel 6.5 Perhitungan Dimensi Bak Penimbunan perhari ... 6-3 Tabel 6.6 Perhitungan Jumlah Unit Bak Penimbunan Skala Kota Sungai Penuh ... 6-3 Tabel 6.7 Rekapitulasi Kebutuhan Lahan untuk Bangunan Pelengkap TPST Sumur Gedang ... 6-7 Tabel 6.8 Perhitungan Dimensi Unit Kolam Anaerobik ... 6-9 Tabel 6.9 Perhitungan Kolam Fakultatif ... 6-11 Tabel 6.10 Perhitungan Dimensi Kolam Maturasi ... 6-12 Tabel 6.11 Perhitungan Dimensi Wetland ... 6-13 Tabel 6.12 Perhitungan Dimensi Biofilter ... 6-13 Tabel 6.13 Rekapitulasi Dimensi Unit Instalasi Pengolah Lindi ... 6-14

(7)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Administrasi Kota Sungai Penuh ... 2-2 Gambar 2.2 Peta Hidrogeologi dan Produktifitas Akuiver Kota Sungai Penuh ... 2-6 Gambar 2.3 Peta Kemiringan Lereng ... 2-9 Gambar 2.4 Peta Kondisi Jenis Tanah ... 2-10 Gambar 2.5 Peta Geologi Kota Sungai Penuh ... 2-12 Gambar 2.6 Teknis Operasional Pengolahan Persampahan Eksisting ... 2-31 Gambar 2.7 Kombinasi Pola Pengumpulan Pengangkutan ... 2-37 Gambar 2.8 Struktur Organisasi Dinas Kebersihan, Pertamanan, dan Pemadam Kebakaran ... 2-40 Gambar 3.1 Metoda Tacyhmetri ... 3-3 Gambar 3.2 Gambar Hitungan Luas Sistem Koordinat ... 3-4 Gambar 4.1 Pembagian Wilayah Pelayanan Sistem Persampahan Kota Sungai Penuh ... 4-5 Gambar 4.2 Grafik Umur Layan TPST Sumur Gedang Kota Sungai Penuh ... 4-13 Gambar 5.1 Layout Rencana TPST Kota Sungai Penuh ... 5-5 Gambar 5.3 Alat Pemisah Berdasarkan Berat Jenis... 5-7 Gambar 5.2 Gambar Alat Pemisah Berdasarkan Ukuran ... 5-7 Gambar 5.4 Alat Pemilah berdasarkan jenis dan ukuran ... 5-7 Gambar 5.5 Aliran Proses RDF ... 5-8

(8)

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang

Kota Sungai Penuh adalah salah satu kota di Provinsi Jambi yang dibentuk berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2008. Kota Sungai Penuh merupakan pemekaran dari Kabupaten Kerinci dan pengesahannya dilakukan oleh Menteri Dalam Negeri pada tanggal 8 Oktober 2009. Secara administrasi, wilayah Kota Sungai Penuh terbagi menjadi 8 kecamatan yang meliputi 4 kelurahan dan 65 desa dengan luas wilayah ± 39.150 Ha atau sekitar 0,73% dari luas keseluruhan Propinsi Jambi. Jumlah penduduk Kota Sungai Penuh adalah 85.270 jiwa (sumber: Kota Sungai Penuh Dalam Angka 2013).

Seiring dengan semakin meningkatnya jumlah penduduk dan perkembangan ekonomi di Kota Sungai Penuh, maka selain menimbulkan kemajuan wilayah di satu sisi, tapi juga menimbulkan permasalahan lingkungan disisi lainnya. Kondisi tersebut terjadi sebagai akibat dari meningkatnya timbulan limbah (air limbah dan sampah) tanpa dibarengi dengan penyediaaan prasarana dan sarana yang memadai.

Kota Sungai Penuh yang sedang berkembang telah menghadapi banyak masalah dalam pengelolaan sampahnya. Permasalahan pengelolaan persampahan di Kota Sungai Penuh muncul dari berbagai aspek yaitu aspek teknis operasional, keuangan, manajemen, dan sosio kultural. Perhatian yang tinggi dari Pemerintah Provinsi Jambi terhadap pengelolaan persampahan untuk Kota Sungai Penuh, dalam pelaksanaannya sampai dengan saat ini belum dapat mengejar percepatan penambahan jumlah penduduk dan beragamnya perkembangan kehidupan kota. Akibat dari semakin bertambahnya jumlah penduduk perkotaan dan berkembangnya berbagai macam kegiatan ekonomi di Kota Sungai Penuh. Pengelolaan sampah merupakan sistem yang terkait dengan banyak pihak, mulai dari penghasil sampah (seperti rumah tangga, pasar, institusi, industri, dan lain-lain), pengelola (kontraktor), pembuat peraturan, sektor informal, maupun masyarakat yang terkena dampak pengelolaan sampah tersebut sehingga penyelesaiannyapun membutuhkan pendekatan yang komprehensif dan keterlibatan semua pihak yang terkait. Guna terselenggaranya pengelolaan prasarana dan sarana persampahan yang baik dan terencana diperlukan suatu perencana yang sistematis dan integratif.

1.2

Maksud Dan Tujuan

Maksud dari kegiatan DED TPST Kota Sungai Penuh adalah dengan adanya kegiatan DED ini diharapkan menghasilkan suatu desain rinci yang siap untuk dilaksanakan fisiknya. Dengan

(9)

tersedianya desain rinci tersebut akan memudahkan dalam melakukan konstruksi sehingga tujuan akhirnya yakni peningkatan pelayanan dapat tercapai dengan baik.

1.3

Ruang Lingkup Pekerjaan

Lingkup pekerjaan Perencanaan DED TPST Kota Sungai Penuh antara lain: 1. Persiapan.

Pekerjaan ini meliputi persiapan penjadwalan ulang penempatan Tenaga Ahli, Pengiriman peralatan untuk membantu pekerjaan perencanaan tersebut dan koordinasi awal dengan Dinas Pekerjaan Umum Kota Sungai Penuh dan beberapa instansi terkait.

2. Survey Lapangan untuk mendapatkan data primer dan sekunder.

a.

Pengumpulan Data Primer

Pengumpulan Data Primer, dilakukan dengan pengamatan atau observasi langsung/ pengamatan lapangan sehingga akan didapat informasi atau data secara visual pada wilayah perencanaan. Pengumpulan Data Primer dapat pula dilakukan dengan cara Wawancara atau Tanya Jawab kepada Instansi dan masyarakat terkait. Dengan rincian sebagai berikut:

 Observasi / survey lapangan kondisi dan potensi  Survey pengukuran Topografi Tanah dan Photo Udara  Survey pengukuran mekanika tanah

b.

Pengumpulan Data Sekunder

 Standar, pedoman dan ketentuan  Literatur

3. Menganalisa jenis TPST/TPST yang cocok untuk Kota Sungai Penuh. 4. Perencanaan Teknis

a.

Analisa

 Analisa terhadap keterkaitan kondisi eksisting

 Hal – hal yang diperhatikan adalah keadaan lokasi ditinjau dari kondisi disekitar.  Penyusunan rencana fasilitas pemilahan sampah, pengolahan sampah organik

menjadi kompos dan fasilitas pengolahan bijih plastik.  Rencana Iokasi lahan urug (landfill).

 Penyusunan rencana detail instalasi pengolahan air lindi.

 Penyusunan rencana detail sumur pantau dan instalasi pengolahan gas mektan.

b.

Pemvisualisasian gambar 3D (tiga dimensi)

(10)

Maksud dari pemvisualisasian 3D (tiga dimensi) adalah sebagai bahan presentasi awal ke Dinas Pekerjaan Umum Kota Sungai Penuh sebagai pihak pemberi tugas, masyarakat dan Instansi terkait lainnya sehingga dapat dilihat rencana keseluruhan berupa visualisasi 3D yang minimal memuat unsur-unsur bentuk bangunan pengolahan sampah organic, pengolahan bijih plastik, jalur Jaringan perpipaan gas, kemiringan pipa (profil hidrolis), instalasi pengolahaan lindi dan sumur pantau serta lahan urug (landfill).

c.

Gambar-gambar Rencana

Dokumen ini nantinya harus memuat gambar rencana induk sampai detailnya, dengan ketentuan sebagai berikut:

 Ukuran yang digunakan metric.

 Kode-kode gambar (arsir) yang sesuai dengan jenis pekerjaannya.  Keterangan pemakaian bahan material yang jelas.

 Kop gambar dan pengesahan.

 Spesifikasi bahan material yang akan digunakan. 5. Perhitungan struktur

6. Penyusunan Engineering Estimate (EE), Bill of Quantity (BQ), Gambar Teknis dan Detail Konstruksi.

7. Penyusunan Rencana Anggaran Biaya (RAB)

8. Dalam penyusunan Rencana Anggaran Biaya (RAB) sudah termasuk analisa pekerjaan, waktu pelaksanaan (time schedule) dan upah bahan.

9. Penyusunan Rencana Kerja dan Syarat-syarat (RKS)

1.4

Sistematika Pembahasan

BAB 1 PENDAHULUAN

Bab ini berisi tentang latar belakang, maksud, tujuan dan sasaran kegiatan, dasar hukum, ruang lingkup, sistematika pembahasan laporan pendahuluan istilah yang digunakan yang secara keseluruhan telah diuraikan di atas.

BAB 2 GAMBARAN UMUM WILAYAH

Bab ini menguraikan mengenai gambaran umum wilayah kegiatan yaitu Kota Sungai Penuh. BAB 3 ANALISIS KONDISI FISIK TPST SUMUR GEDANG KOTA SUNGAI PENUH

Bab ini menguraikan mengenai rencana lokasi TPST, hasil topografi, penyelidikan tanah dan klimatologi.

(11)

Bab ini menguraikan mengenai rencana wilayah pelayanan, konsep pengelolaan sampah yang akan diterapkan, proyeksi jumlah penduduk dan timbulan sampah Kota Sungai Penuh dan estimasi kebutuhan lahan TPST

BAB 5 RENCANA PENGEMBANGAN TPST DAN KRITERIA DESAIN

Bab ini menguraikan mengenai rencana penataan TPST yang terdiri dari rencana site plan TPST dan kriteria desain yang akan digunakan

BAB 6 DETAIL PERANCANGAN TPST

Bab ini menguraikan mengenai detail perancangan TPST Kota Sungai Penuh sesuai dengan rencana penataan lahan (site plan)

BAB 7 RENCANA ANGGARAN BIAYA

Bab ini menguraikan mengenai rencana anggaran biaya (RAB) yang diperlukan untuk membangun TPST

1.5

Daftar Istilah

Berdasarkan Rancangan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Pengembangan Sistem Pengelolaan Sampah (Sumber: Dirjen Pekerjaan Umum, PLP tahun 2011). Istilah-istilah yang harus dipahami adalah :

1. Sampah adalah sisa kegiatan sehari-hari manusia dan/atau proses alam yang berbentuk padat

2. Sampah Rumah Tangga adalah sampah yang berasal dari kegiatan sehari-hari dalam rumah tangga, tidak termasuk tinja dan sampah spesifik

3. Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga adalah sampah yang berasal dari kawasan komersial, kawasan industri, kawasan khusus, fasilitas sosial, Fasilitas umum, dan/atau Fasilitas lainnya

4. Pengelolaan Sampah adalah kegiatan yang sistematis, menyeluruh, dan berkesinambungan yang meliputi pengurangan dan penanganan sampah.

5. Sistem Pengelolaan Sampah yang selanjutnya disingkat SPS adalah satu kesatuan fisik (teknik) dan non fisik (kelembagaan, manajemen, keuangan, peran serta masyarakat dan hukum) dari prasarana dan sarana persampahan

6. Pengembangan Sistem Pengelolaan Sampah adalah kegiatan yang bertujuanmembangun, memperluas, dan atau meningkatkan sistem fisik dan non fisik dalam satu kesatuan yang utuh untuk melaksanakan pengelolaan sampah menuju keadaan yang lebih baik

(12)

7. Penyelenggaraan Pengembangan Sistem Pengelolaan Sampah adalah kegiatan merencanakan, membangun, mengoperasikan dan memelihara, merehabilitasi, memantau dan mengevaluasi sistem pengelolaan sampah.

8. Penyelenggaraan Pengelolaan Sampah yang selanjutnya disebut penyelenggara adalah Pemerintah Daerah dan/atau badan usaha milik negara/badan usaha milik daerah, koperasi, badan usaha swasta, dan/atau kelompok masyarakat yang melakukan penyelenggaraan pengelolaan sampah

9. Sumber Sampah adalah asal timbulan sampah

10. Timbulan Sampah adalah sampah yang dihasilkan dari sumber sampah

11. Pengurangan Sampah adalah rangkaian kegiatan yang meliputi pembatasan timbulan sampah, pemanfaatan kembali sampah dan/atau pendaurulangan sampah

12. Penanganan Sampah adalah rangkaian kegiatan pemilahan, pewadahan, pengumpulan, pemindahan dan pengangkutan serta pemrosesan akhir

13. Pewadahan adalah kegiatan menampung sampah sementara dalam suatu wadah individual atau komunal di tempat sumber sampah dengan mempertimbangkan jenis- jenis sampah

14. Pengumpulan adalah kegiatan mengumpulkan sampah dari sumber ke TPS dan/atau TPS-3R

15. Pengangkutan adalah kegiatan mengangkut sampah dari sumber, lokasi TPS dan/atau TPS -3R ke TPST

16. Tempat Penampungan Sementara yang selanjutnya disingkat TPS adalah tempat sebelum sampah diangkut ke tempat pendaur ulang, pengolahan dan/atau tempat pengolahan sampah terpadu, merupakan landasan pemindahan yang dapat dilengkapi dengan ramp dan container

17. Tempat Pengolahan Sampah Dengan Prinsip 3R (reduce, reuse dan recycle) yang selanjutnya disingkat TPS 3R adalah tempat dilaksanakannya kegiatan pengumpulan, pemilahan, penggunaan ulang, dan pendaur ulang skala kawasan

18. Tempat Pengolahan Sampah Terpadu yang selanjutnya disingkat TPST adalah tempat dilaksanakannya kegiatan pengumpulan, pemilahan, penggunaan ulang, pendaur ulang, pengolahan, pemrosesan akhir dan pemindahan residu skala kota

19. Stasiun Peralihan Antara yang selanjutnya disingkat SPA adalah sarana pemindahan dan pengolahan sampah dari alat angkut kecil (truk) ke alat angkut lebih besar (trailer/prime mover) dan diperlukan untuk kabupaten/kota yang memiliki lokasi TPST jaraknya lebih dari 25 km

(13)

20. Pengolahan adalah proses perubahan bentuk sampah dengan mengubah karakteristik komposisi dan jumlah sampah

21. Pemrosesan Akhir Sampah adalah proses pengembalian sampah dan/atau residu hasil pengolahan sampah sebelumnya ke media lingkungan secara aman

22. Tempat Pemrosesan Akhir yang selanjutnya disingkat TPST adalah tempat untuk memproses dan mengembalikan sampah ke media lingkungan secara aman

23. Lindi adalah cairan yang timbul sebagai limbah akibat masuknya air eksternal ke dalam urugan atau timbunan sampah, melarutkan dan membilas materi terlarut, termasuk juga materi organik hasil proses pengolahan lindi dan penanganan gas di TPST

24. Teknologi Penimbunan Sampah adalah cara untuk mengembalikan sampah ke media lingkungan secara aman melalui proses pemadatan dan penutupan secara berkala dan dilengkapi dengan proses pengolahan lindi dan penanganan gas TPST

25. Penimbunan Terbuka adalah proses penimbunan sampah di TPST tanpa melalui proses pemadatan dan penutupan secara berkala.

(14)

BAB 2

GAMBARAN UMUM WILAYAH

2.1

Daerah Studi

2.1.1 Batasan Administrasi Kota Sungai Penuh terletak di ujung barat Provinsi Jambi dengan jarak 421 Km dari Kota Jambi. Kota Sungai Penuh merupakan kota terpadat kedua di Provinsi Jambi setelah Kota Jambi.

Batas wilayah Kota Sungai Penuh ini antara lain:

 Sebelah Utara berbatasan dengan : Kec. Siulak, Kec. Depati Tujuh dan Kec, Air Hangat Timur Kab. Kerinci

 Sebelah Selatan berbatasan dengan : Kec. Keliling Danau Kab. Kerinci  Sebelah Barat berbatasan dengan : Kec. Pesisir Selatan Prov. Sumbar

 Sebelah Timur berbatasan dengan : Kec. Air Hangat Timur dan Kec. Sitinjau Laut Kab. Kerinci

Luas keseluruhan Kota Sungai Penuh ini adalah 391, 5 Km2 atau sekitar 0,73% dari luas keseluruhan Provinsi Jambi. Kota Sungai Penuh ini terdiri dari 8 kecamatan, 4 kelurahan dan 65 desa. 59% atau sebesar 231,77 km2 dari luas keseluruhan Kota Sungai Penuh ini merupakan kawasan hutan lindung Taman Nasional Kerinci Seblat, sedangkan sekitar 41% merupakan daerah perkotaan. Luas wilayah menurut kecamatan di Kota Sungai penuh dapat dilihat pada Tabel 2-1. Tabel 2.1 Luas Wilayah dan Pembagian Daerah Administrasi Menurut Kecamatan di Kota Sungai Penuh, 2014

No Kecamatan Luas (Ha) Banyak

Desa Kelurahan Jumlah

1 Tanah Kampung 1.100 13 - 13 2 Kumun Debai 14.200 9 - 9 3 Sungai Penuh 335 3 2 5 4 Hamparan Rawang 1.215 13 - 13 5 Pesisir Bukit 1.946 9 - 9 6 Sungai Bungkal 11.095 5 1 6 7 Pondok Tinggi 9.095 7 1 8 8 Kota Baru 164 6 - 6 JUMLAH 39.150 65 4 69

(15)
(16)

2.1.2 Letak Geografi Secara astronomis, Kota Sungai Penuh terletak di antara 1040’ – 20 26’ lintang selatan dan di antara 1010 08’ – 1010 – 50’ bujur timur. Ketinggian Kota Sungai Penuh berada di antara 500 -1500 meter dari permukaan laut. Sedangkan secara geografis, Kota Sungai Penuh dalam lingkup Kabupaten Kerinci di bagian barat Provinsi Jambi yang berbatasan langsung dengan Provinsi Sumatera Barat dan Provinsi Bengkulu.

Tabel 2.2 Batas-batas Wilayah Kecamatan di Kota Sungai Penuh, 2014

No Kecamatan Batas Wilayah

1 Tanah Kampung Utara

Selatan Timur Barat

Kec. Hamparan Rawang, Kota Sungai Penuh Kec. Sitinjau Laut, Kab. Kerinci

Kec. Sitinjau Laut, Kab. Kerinci

Kec. Kumun Debal & Kec. Pondok Tinggi, Kota Sungai Penuh

2 Kumun Debai Utara

Selatan Timur Barat

Kec. Pondok Tinggi, Kota Sungai Penuh Kec. Keliling Danau, Kab. Kerinci

Kec. Tanah Kampung, Kota Sungai Penuh Kab. Pesisir Selatan, Prov. Sumbar

3 Sungai Penuh Utara

Selatan Timur Barat

Kec. Hamparan Rawang, Kota Sungai Penuh Kec. Pondok Tinggi, Kota Sungai Penuh Kec. Hamparan Rawang, Kota Sungai Penuh Kec. Kota Baru, Kota Sungai Penuh

4 Hamparan Rawang Utara Selatan Timur Barat

Kec. Depati VII, Kab. Kerinci

Kec. Sungai Penuh dan Kec. Tanah Kampung, Kota Sungai Penuh

Kec. Air Hangat Timur, Kab. Kerinci Kec. Kota Baru, Kota Sungai Penuh

5 Pesisir Bukit Utara

Selatan Timur Barat

Kec. Depati VII, Kab. Kerinci

Kec. Sungai Bungkal, Kota Sungai Penuh Kec. Koto Baru, Kota Sungai Penuh Kec. Sungai Bungkal, Kota Sungai Penuh

6 Sungai Bungkal Utara

Selatan Timur Barat

Kec. Pesisir Bukit, Kota Sungai Penuh Kec. Pondok Tinggi, Kota Sungai Penuh Kec. Sungai Penuh, Kota Sungai Penuh Kab. Pesisir Selatan, Provinsi Sumbar

7 Pondok Tinggi Utara

Selatan Timur Barat

Kec. Sungai Penuh & Kec. Sungai Bungkal, Kota Sungai Penuh

Kec. Kumun Debai, Kota Sungai Penuh Kec. Tanah Kampung, Kota Sungai Penuh Kab. Pesisir Selatan, Provinsi Sumbar

8 Kota Baru Utara

Selatan Timur Barat

Kec. Depati VII, Kab. Kerinci

Kec. Pesisir Bukit, Kota Sungai Penuh Kec. Hamparan Rawang, Kota Sungai Penuh Kec. Pesisir Bukit, Kota Sungai Penuh Sumber : Sungai Penuh Dalam Angka, 2015

(17)

2.1.3 Hidrologi Kondisi hidrologi Kota Sungai Penuh dapat sebenarnya dapat dilihat dari adanya sumber-sumber air baik berupa air permukaan, mata air maupun air tanah. Sungai Utama yang terdapat di Kota Sungai Penuh adalah : Sungai Ning, Sungai Pengasah, Sungai Air Sesat, Sungai Air Sempit, Sungai Terung, Sungai Air Hitam, Sungai Batang Sangir, Sungai Air Bungkal, dan Sungai Batang Merao.

Tabel 2.3 Daerah Aliran Sungai (DAS) di Wilayah Kota Sungai Penuh Nama DAS Luas (Ha) Debit (m2/detik) DAS Batanghari

Sub Das Batanghari Hulu Sub DAS Batang Tebo Sub DAS Batang Tabir Sub DAS Barang Sumai

Sub DAS Batang Merangin-Tembesi Sub DAS Baranghari Hilir

4.537.881 - - - - - - - - 60 27 - 53 1.000 Sumber : Dinas Pekerjaan Umum Kota Sungai Penuh, 2015

Tabel 2.4 Klasifikasi dan Panjang/Luas Drainase Menurut Kecamatan di Kota Sungai Penuh, 2014 No Kecamatan Klasifikasi dan Panjang/Luas Drainase

Terbuka (m2) Tertutup (m2) 1 Tanah Kampung 16.210 43.400 2 Kumun Debai 103.660 - 3 Sungai Penuh - - 4 Hamparan Rawang - - 5 Pesisir Bukit - - 6 Sungai Bungkal - - 7 Pondok Tinggi - - 8 Koto Baru - - Jumlah 11.9870 43.400

Sumber : Sungai Penuh Dalam Angka 2015

2.1.4 Hidrogeologi Berdasarkan hasil penyelidikan hidrogeologi regional, Sungai Penuh dapat di bagi kedalam tiga (3) wilayah produktivitas akuifer (lapisan pembawa air) yaitu :

1. Akuifer produktif sedang dengan penyebaran luas, keterusan rendah sampai sedang, muka air tanah beragam dan debit sumur kurang dari 5 I/det.

2. Akuifer dengan produktifitas rendah setempat dimana umumnya keterusan rendah, setempat sedang, air tanah dan jumlahnya cukup dapat diperoleh terutama di lembah-lembah atau zona sesar dan pelapukan.

3. Daerah air tanah langkaPemanfaatan air permukaan sebagai air baku untuk pelayanan air bersih di Kota Sungai Penuh terutama berasal dari anak Sungai Ampuh yang terletak kurang

(18)

lebih 3 M di bagian tenggara Kota Sungai Penuh yakni di desa Sungai Jernih Kecamatan Sungai Penuh.

2.1.5 Topografi Kota Sungai Penuh terletak di daerah dataran tinggi. Ketinggian Kota Sungai Penuh berada antara 500 – 1.500 meter dari permukaan laut. Kota Sungai Penuh dikelilingi oleh perbuktan di sebelah utara dan barat. Letak Kota Sungai Penuh yang berada di dataran tinggi ini membuat Kota Sungai Penuh menjadi perlintasan sistem sungai regional, yang mengalir dari hulu di utara kearah hilir di selatan.

Tabel 2.5 Luas Wilayah di Atas Permukaan Laut (DPL) Menurut Kecamatan di Kota Sungai Penuh, 2014

No Kecamatan

Luas Wilayah Menurut Posisi Ketinggian dari Permukaan Laut

(Ha) Jumlah 100 – 500 Mdpl 500 – 1000 Mdpl > 1000 Mdpl 1 Tanah Kampung - 1.100 - 1.100 2 Kumun Debai - 860 13.340 14.200 3 Sungai Penuh - 335 - 335 4 Hamparan Rawang - 1.215 - 1.215 5 Pesisir Bukit - 1.216 730 1.946 6 Sungai Bungkal - 310 10.325 11.095 7 Pondok Tinggi - 770 10.335 9.095 8 Kota Baru - 164 - 164 Jumlah - 5.970 33.180 39.150

(19)
(20)

2.1.6 Iklim Suhu rata-rata Kota Sungai Penuh ada;lah 22,5 0C selam tahun 2014. Suhu maksimum di Kota ini adalah 29,6 0C ang terjadi pada bulan April-Mei dan suhu maksimum sebesar 17,7 0C yang terjadi pada bulan September.

Curah hujan rata-rata per bulan sepanjang tahun 2014 sebesar 112,6 mm3 dengan curah hujan terendah sebesar 12,4 mm3 terjadi pda bulan Juni dan curah hujan tertinggi sebesar 293,8 mm3 terjadi pada bulan November.

Kelembaban relatif udara rata-rata per bulan sebesar 83% dengan kelembaban udara terendah terjadi pada bulan September yaitu sebesar 79% dan kelembaban udara tertinggi terjadi pada bulan Januari yaitu sebesar 86%.

Tabel 2.6 Rata-rata Suhu Udara, Kelembaban Relatif, Tekanan Udara, Kecepatan Angin, Curah Hujan dan Penyinaran Matahari di Stasiun Meteorologi Depati Parb, 2014

Uraian Rata-rata Suhu (0c) Maksimum Minimum Rata-rata Kelembaban Relatif (%) Tekanan Udara (mb) Kecepatan Angin (knot) Curah Hujan (mm3) Penyinaran Matahari (%) 29.1 18.4 22.5 83.0 1016.4 6.0 112.6 50.0

Sumber : Sungai Penuh Dalam Angka 2015

Tabel 2.7 Suhu Udara Maksimum, Minimum dan Rata-rata per Bulan di Stasiun Meteorologi Depat Parbo, 2014

No Bulan Curah Hujan (mm3) Banyak Hari Hujan Kelembaban Relatif (%)

1 Januari 122.2 20 86 2 Februari 34.4 6 82 3 Maret 115.5 18 83 4 April 155.5 21 85 5 Mei 198.3 26 86 6 Juni 12.4 10 80 7 Juli 40.6 5 80 8 Agustus 188.2 15 84 9 September 85.3 11 79 10 Oktober 43.1 6 81 11 November 293.8 22 85 12 Desember 61.3 22 83 Rata-rata 112.6 15

(21)

Lokasi Kota Sungai Penuh yang berada pada dataran tinggi, membuat kemiringan lereng wilayah Kota Sungai Penuh menjadi sangat bervariasi, topografinya dapat dibagi menjadi topografi yang relative datar, berbukit-bukit dan terjal.

Lahan yang memiliki keringan relative datar (12,3%) terdapat sebagian besar di Kecamatan Hamparan Rawang dan Tanah Kampung, serta di Kecamatan Pesisir Bukit, Sungai Penuh dan Kumun bagian timur. Untuk wilayah yang berada di daerah perbukitan (28,2%) terletak di bagian barat Kecamatan Sungai Penuh dengan Kabupaten Pesisir Selatan, sementara wilayah yang terjal terletak di bagian tengah Kecamatan Sungai Penuh dan Kumun Debai (24,3%) .

Tabel 2.8 Klasifikasi Lereng di Kota Sungai Penuh

No Klasifikasi Lereng Lereng Luas (Ha) Persentase Luas (%)

1 Datar 0 – 2% 4.812 12,29

2 Bergelombang > 2 – 15% 4.618 11,8

3 Berbukit > 15 – 25% 11.051 28,23

4 Curam > 25 – 40% 9.171 23,42

5 Sangat Curam, terjal > 40% 9.498 24,23

Luas Wilayah Kota 39.150 100

(22)
(23)
(24)

2.1.7 Geologi Kota Sungai Penuh secara regional berada di lingkungan Bukit Barisan yang dibentuk oleh bentang alam perbukitan dan pegunungan dengan relief permukaan yang umumnya tinggi. Pembentukan bentang alam yang tampak seperti sekarang ini sangat dipengaruhi oleh susunan batuan (litologi), struktur geologi yang berkembang, serta proses-proses geologi yang sedang berlangsung. Pusat kegiatan kota menempati bagian kaki dari bentang alam tersebut yang disusun oleh endapan material rombakan, batuan gunung api, sedimen, dan batuan terobosan yang secara morfologi berupa kipas.

Tabel 2.9 Potensi Bahan Galian dan Pertambangan di Kota Sungai Penuh, 2014

No Jenis Bahan Galian Lokasi Desa Kecamatan

1 Batu Bata Tanah Kampung Tanah Kampung

2 Sirtu Sei Kumun Mudik, Bukit Khayangan Kumun Debai

3 Emas Sei. Indrapura Pesisir Bukit

4 Kaolin Tanah Kampung, Kumun Tanah Kampung, Kumun Debai

5 Granit Pesisir Bukit Pesisir Bukit

6 Basalt Pelayang Raya Sungai Penuh

(25)
(26)

2.1.8 Demografi (Kependudukan) Jumlah penduduk Kota Sungai Penuh berdasarkan hasil proyeksi penduduk pada tahun 2014 adalah sebesar 86.220 jiwa, dengan rincian penduduk laki-laki sebesar 42.824 jiwa, sedangkan penduduk perempuan sebanyak 43.396 jiwa, dengan rasio jenis kelamin sebesar 98,68. Penduduk terpadat terletak di Kecamatan Pondok Tinggi dengan jumlah penduduk sebanyak 16.645 jiwa dan kecamatan dengan pendudukan sedikit adalah Kecamatan Kota Baru dengan penduduk sebanyak 8.198 jiwa.

Tabel 2.10 Jumlah Penduduk Kota Sungai Penuh Menurut Jenis Kelamin dan Rasio Jenis Kelamin Dirinci Per Kecamatan, 2014

No Kecamatan Laki-Laki Perempuan Penduduk Jumlah Rasio Jenis Kelamin

1 Tanah Kampung 4.254 4.353 8.607 97.73 2 Kumun Debai 4.238 4.303 8.541 98.49 3 Sungai Penuh 4.934 4.996 9.930 98.76 4 Hamparan Rawang 6.681 6.879 13.560 97.12 5 Pesisir Bukit 5.203 5.567 10.770 93.46 6 Pondok Tinggi 8.309 8.336 16.645 99.68 7 Sungai Bungkal 5.066 4.903 9.969 103.32 8 Kota Baru 4.139 4.059 8.198 101.97 Jumlah 42.824 43.396 86.220 98.68

Sumber : Sungai Penuh Dalam Angka 2015

2.1.9 Sosial dan Budaya

2.1.9.1 Pendidikan

Sektor pendidikan adalah salah satu hal yang terus dibangun dan ditingkatkan oleh Pemerintah Kota mengingat pendidikan merupakan sector penunjang yang sangat penting untuk menjadikan sumber daya manusia yang cerdas dan dapat membangun suatu wilayah menjadi lebih berkembang. Jumlah sekolah negeri dan swasta yang tersebar di Kota Sungai Penuh pada tahun 2014 dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Tabel 2.11 Jumlah Fasilitas Pendidikan di Kota Sungai Penuh Dirinci Per Kecamatan, 2014

No Kecamatan Jumlah Sarana Pendidikan

TK SD SMP SMA Negeri SMA Swasta SMK

1 Tanah Kampung 2 11 1 - - 1 2 Kumun Debai 3 9 1 - - 2 3 Sungai Penuh 6 9 4 2 18 - 4 Hamparan Rawang 7 11 1 1 - - 5 Pesisir Bukit 3 9 2 - - 2 6 Sungai Bungkal 4 11 1 - 5 - 7 Pondok Tinggi 6 10 1 1 - - 8 Koto Baru 4 4 1 1 - - Jumlah 35 74 12 5 23 5

(27)

Berdasarkan tabel diatas dapat dikatakan bahwa fasilitas pendidikan di Kota Sungai Penuh belum merata, hal ini dapat dilihat adanya beberapa kecamatan yang tidak memiliki fasilitas pendidikan untuk jenjang SMA baik negeri maupun swasta dan SMK. Dari tabel tersebut dapat dilihat bahwa Kecamatan Hamparan Rawang memiliki jumlah fasilitas pendidikan paling banyak untuk jenjang pendidikan TK yaitu sebanyak 7 sekolah dan SD sebanyak 11 sekolah. Kecamatan paling sedikit fasilitas pendidikan untuk jenjang TK dan SD yaitu: fasilitas pendidikan TK paling sedikit berada di Kecamata Tanah Kampung yaitu sebanyak 2 sekolah, sedangkan untuk fasilitas pendidikan SD paling sedikit berada di Kecaatan Kota Baru yaitu sebanyak 4 sekolah. Fasilitas pendidikan SMP dan SMA baik Negeri mauapun Swasta paling banyak terdapat di Kecamatan Sungai Penuh yang terdiri dari SMP sebanyak 4 sekolah, SMA negeri sebanyak 2 sekolah dan SMA swasta sebanyak18 sekolah sedangkan untuk fasilitas pendidikan tingkat SMK paling banyak terdapat di Kecamatan Kumun Debai yaitu sebanyak 2 sekolah dan Kecamatan Koto Baru sebanyak 2 sekolah.

2.1.9.2 Kesehatan

Selain fasilitas dan pelayanan pendidikan, pelayanan kesehatan juga merupakan prioritas utama Kota Sungai Penuh. Kesehatan masyarakat dan pemenuhan pelayanan dan fasilitas kesehatan sangatlah penting bagi masyarakat Kota Sungai Penuh sehingga perlu untuk diperbaiki dan ditingkatkan pelayanannya. Fasilitas dan pelayanan pendidikan serta kesehatan perlu dipertimbangkan dan berpeluang sebagai salah satu pusat kegiatan kota dalam pembentukan struktur dan pola ruang Kota Sungai Penuh di masa mendatang.

Tabel 2.12 Jumlah Tenaga Medis di RSU Mayjen H.A. Thalib, 2008 -2014

No Tenaga Kesehatan Jumlah (Orang)

2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 1 Dokter Spesialis 8 7 10 10 10 11 12 2 Dokter Umum 15 22 19 13 13 19 21 3 Dokter Gigi 3 5 5 5 5 6 6 4 Bidan 9 11 11 11 14 23 41 5 Perawat 15 134 134 134 73 184 210

6 Para Medis Pembantu 158 - - - -

7 Para Medis Non Perawat 12 - - - - 46 65

8 Tenaga Non Medis/TU 58 - - - - 16 166

9 Apoteker 100 - - - - 8 8

Jumlah 378 441 179 115 306 313 529

(28)

Tabel 2.13 Jumlah Tenaga Medis di Rumah Sakit DKT, 2008-2014

No Tenaga Kesehatan Jumlah (Orang)

2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 1 Dokter Spesialis 4 4 6 8 8 12 8 2 Dokter Umum 6 6 6 7 7 10 9 3 Dokter Gigi - - - 1 4 Bidan 1 1 1 1 1 2 2 5 Perawat 20 20 22 22 25 24 22

6 Para Medis Pembantu - - - -

7 Para Medis Non Perawat 3 3 3 3 3 12 12

8 Tenaga Non Medis/TU 4 4 5 5 5 8 8

9 Apoteker - 1 1 1 1 1 1

Jumlah 38 39 44 47 50 69 63

Sumber : Sungai Penuh Dalam Angka, 2015

Tabel 2.14 Jumlah Tenaga Medis yang Praktek di Kota Sungai Penuh, 2014 Tenaga Kesehatan Jumlah (Orang)

Dokter Spesialis Praktek 15

Dokter Umum Praktek 48

Dokter Gigi Praktek 18

Bidan Praktek 51

Rumah Sakit Swasta -

Klinik/Rumah Bersalin 6

Sumber : Sungai Penuh Dalam Angka, 2015

2.1.10 Transportasi Aksesibilitas sangat dipengaruhi oleh ketersediaan sarana dan prasarana transportasi. Ketersediaan sarana dan prasarana transporasi yang sangat dominan di Kota Sungai Penuh adalah sarana dan prasarana transportasi darat. Hal ini dikarenakan kondisi geografis dari Kota Sungai Penuh yang tidak memiliki pantai serta sungai yang besar, serta kontur tanah yang berbukit-bukit.

Untuk pergerakan internal di wilayah Kota Sungai Penuh dilayani oleh transportasi jalan dan jembatan. Transportasi jalan dan jembatan ini memegang peranan yang sangat penting dalam menunjang mobilitas orang dan barang, terutama dilihat dari kapasitas angkutnya dibandingkan dengan transportasi lainnya.

Jalan mempunyai peranan yang cukup penting sebagai sarana untuk memperlancar aktivitas perekonomian, pembangunan dan stabilitas sosial. Sehingga kondisi jalan menjadi bagian yang perlu diperhatika seiring dengan pertambahan jumlah kendaraan yang begitu pesat. Tercatat 72,33 persen jalan di Kota Sungai Penuh dalam kondisi baik pada tahun 2014, sedangkan kondisi jalan yang rusak berat sebanyak 11,94 persen.

(29)

2.1.11 Keuangan dan Perekonomian Daerah Secara regional, Kota Sungai Penuh merupakan pusat ekonomi bagi wilayah hinterlandnya, dalam hal ini wilayah Kabupaten Kerinci. Karakteristik ekonomi Kota Sungai Penuh tercermin dari dominasi kegiatan perdagangan dan jasa di Kota Sungai Penuh, yang menjadi orientasi bagi wilayah hinterlandnya. Kota Sungai Penuh berperan sebagai pusat distribusi dan koleksi barang dan jasa bagi wilayah di Kota Sungai Penuh itu sendiri maupun wilayah regionalnya.

Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) otonom Kota Sungai Penuh terdiri dari Pendapatan, Belanja dan Pembiayaan.

Realisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Sungai Penuh selama tahun 2014 terdiri dari :

- PBB : Rp. 330.949.958

- Pajak daerah : Rp. 6.861.587.049

- Pajak Retribusi :

- Lain-lain PAD yang sah : Rp. 10.277.753.474.000

- Pungutan oleh UPT dipenda Provinsi Jambi : Rp. 7.582.103.533

Tabel 2.15 Realisasi Pemasukan PBB Menurut Bulan di Kota Sungai Penuh, 2014 (Rp) No Bulan Perkotaan Perdesaan Pertambangan Perkebunan Kehutanan Jumlah

1 Januari - - - - 2 Februari - - - - 3 Maret 7869502 - - - - 78695021 4 April 15414803 62468 - - - 15477271 5 Mei 94398070 6555401 - - - 100953471 6 Juni 81546997 13575346 - - - 95122343 7 Juli 28037610 6491378 - - - 34528988 8 Agustus 12158965 567664 - - - 12726629 9 September 28177116 4452147 - - - 32629263 10 Oktober 9840135 6111782 - - - 15951917 11 November 533289767 1962626 - - - 7295523 12 Desember 676417 1627634 - - - 8395051 Jumlah 289543512 41406446 - - - 330949958

Sumber : Sungai Penuh Dalam Angka, 2015

Laju Pertumbuhan ekonomi di Kota Sungai Penuh sebesar 6,3% pertahun, bila dilihat dari laju pertumbuhan ekonomi persektor yang terbesar terdapat pada sektor bangunan sebesar 7,83%, sektor lainnya yang tersebar yaitu sektor perdagangan, hotel dan restoran sebesar 7,80%, sektor pengangkutan dan komunikasi 6,38%, dan sektor industry dan pengolahan 6,08%.

Sektor yang selalu menunjukkan peningkatan adalah sektor perdagangan dengan laju pertumbuhan 3,37% pada tahun 2004 terus meningkat sebesar 7,8 % pada tahun 2009. Ini menunjukkan ciri daerah perkotaan dimana sektor perdagangan merupakan sektor dominan yang menggerakan perekonomian kota.

Kondisi makro ekonomi menggambarkan perkembangan ekonomi Kota Sungai Penuh selama 6 tahun dimana pertumbuhan ekonomi Kota Sungai Penuh sejak Tahun 2004 tumbuh setiap

(30)

tahunnya diatas 5,0 %, bahkan pada tahun 2009 dan 2010 mengalami peningkatan cukup signifikan sebesar 6,3 % pada tahun 2009, dan 6,4% pada tahun 2010, pertumbuhan ini berada diatas pertumbuhan ekonomi nasional yang hanya 5,2%.

2.1.12 Produk Domestik Regional Bruto Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) pada tingkat regional (provinsi) menggambarkan kemampuan suatu wilayah untuk menciptakan output (nilai tambah) pada suatu waktu tertentu. Untuk menyusun PDRB digunakan 2 pendekatan, yaitu produksi dan penggunaan. Keduanya menyajikan komposisi data nilau tambah bruto yang mampu diciptakan oleh lapangan usaha atas berbagai aktivitas produksinya. Sedangkan dari sisi penggunaan menjelaskan tentang penggunaan dari nilai tambah tersebut.

Pendapatan per kapita diperoleh dengan cara membagi PDRB atas dasar harga berlaku dengan jumlah pendudukpertengahan tahun yang bersangkutan, sedangkan pendapatan regional per kapita adalah PDRN atas dasar biaya faktor dibagi dengan jumlah penduduk pertengahan tahun. PDRB perkapita Kota Sungai Penuh atas dasar harga berlaku tahun 2009 sebesar Rp.16.179.095,- , angka ini naik dari tahun sebelumnya yaitu sebesar Rp.14.566.058,-Sedangkan PDRB perkapita atas dasar harga konstan sebesar Rp.6.077.527,-pada tahun 2008, naik menjadi Rp.6.412.271,- pada tahun 2009.

Pendapatan regional perkapita diperoleh dengan cara membagi nilai PDRN atas dasar biaya faktor dengan jumlah penduduk pertengahan tahun. Pada tahun 2008, pendapatan regional perkapita Kota Sungai Penuh atas dasar harga berlaku sebesar Rp. 12.940.777,-, dan naik menjadi Rp.14.073.515,- pada tahun 2009. Sedangkan pendapatan regional perkapita atas dasar harga konstan sebesar Rp.5.400.380,- pada tahun 2008, naik menjadi Rp.6.656.951,- pada tahun 2009.

PDRB Kota Sungai Penuh persektor tahun 2009 sebesar Rp. 1,3 Trilyun, dengan komposisi terbesar terdapat pada sektor perdagangan, hotel, dan restoran sebesar Rp. 374,68 Milyar (28,63 %), Selanjutnya yaitu pengangkutan dan komunikasi sebesar Rp. 237,68 Milyar (19,36 %), perusahaan jasa-jasa lainnya sebesar Rp. 212,99 Milyar (16,28 %), pertanian sebesar 184,20 Milyar (14,08 %), dan sektor keuangan, persewaan, dan jasa sebesar Rp. 144,58 Milyar (11,05 %).

Tabel 2.16 Perkembangan PDRB Kota Sungai Penuh atas Dasar Harga Konstan Tahun 2000 Menurut Lapangan Usaha (juta rupiah)

No Sektor 2008 2009

1

PERTANIAN

Tanaman Bahan Pangan Tanaman Perkebunan

Peternakan dan Hasil-hasilnya Kehutanan Perikanan 66.791,01 41,774,77 8.635,66 15,549,07 14,61 816,90 70,404,64 44.293,66 8.819,09 16,421,63 14,63 855,62

(31)

No Sektor 2008 2009 2

PERTAMBANGAN & GALIAN Minyak dan Gas Bumi Pertambangan Tanpa Migas Penggalian 772,52 - - 772,52 799,91 - - 799,91 3 INDUSTRI PENGOLAHAN Industri Migas

Industri Non Migas

33.051,06 - 33.051,06 35.059,26 - 35.059,26 4

LISTRIK, GAS DAN AIR BERSIH Listrik Gas Kota Air Bersih 4.140,78 3.006,41 - 1.134,37 4.283,85 3.118,85 - 1.165,00

5 BANGUNAN DAN KONSTRUKSI 22.625,31 24.396,18

6

PERDAGANGAN, HOTEL DAN RESTORAN Perdagangan Besar dan Eceran

Hotel Restoran 134.831,69 112.680,89 2.211,97 19.938,82 145.322,54 122.119,27 2.301,06 20.902,21 7

PENGANGKUTAN DAN KOMUNIKASI Pengangkutan

Angkutan Rel Angkutan Jalan Raya Angkutan Laut ASDP

Angkutan Udara

Jasa Penunjang Angkutan Komunikasi 104.887,15 100.210,49 - 96.791,69 - - - 3.418,80 4.676,65 111.582,46 106.518,13 - 102.944,83 - - - 3.573,30 5.064,33 8

KEUANGAN, PERSEWAAN DAN JASA PERUSAHAAN Bank

Lembaga Keuangan Bukan Bank Jasa Penunjang Keuangan Sewa Bangunan Jasa Perusahaan 54.409,36 13.379,38 6.434,62 - 33.532,13 1.063,23 57.455,51 14.680,67 6.777,20 - 34.894,54 1.103,11 9 JASA-JASA Pemerintah Umum Swasta Sosial Kemasyarakatan Hiburan dan Rekreasi

Perorangan dan Rumah Tangga

66.364,62 44.018,25 22.346,37 17,247,82 585,63 4.512,92 69.313,77 45.654,53 23.659,25 18.345,66 607,92 4.705,66 Jumlah 487.873,49 518.618,13

Sumber : PDRB Kota Sungai Penuh, 2010

2.2 Kebijakan Pembangunan Dan Tata Ruang

2.2.1 Kebijakan Penataan Ruang Berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor : 17/PRT/M/2009, Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota merupakan rencana tata ruang yang bersifat umum dari wilayah kota, yang merupakan penjabaran dari RTRW provinsi, dan yang berisi tujuan, kebijakan, strategi penataan ruang wilayah kota, rencana struktur ruang wilayah kota, rencana pola ruang wilayah

(32)

kota, penetapan kawasan strategis kota, arahan pemanfaatan ruang wilayah kota, dan ketentuan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah kota.

Berdasarkan UU No. 26 Tahun 2007 yang merupakan undang-undang yang mengatur tetang penataan ruang, maka RTRW Sungai Penuh merupakan penjabaran dari ketiga rencana tersebut.

Dalam penyusunan Rencana Tata Ruang Kota Sungai Penuh 2011 – 2031 mengacu pada rencana - rencana sebagai berikut:

1. Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional dan Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi

2. Pedoman dan petunjuk pelaksanaan bidang penataan ruang.

3. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah.

Kebijakan dan strategi Penataan Ruang Wilayah Kota Sungai Penuh meliputi kebijakan dan strategi pengembangan struktur ruang dan pola ruang.

a. Kebijakan pengembangan struktur ruang meliputi :

1. Pemantapan pusat pelayanan kegiatan yang memperkuat kegiatan berskala regional.

2. Peningkatan aksesibilitas dan keterkaitan antar pusat kegiatan skala lokal dan regional.

3. Peningkatan kualitas dan jangkauan pelayanan sistem sarana dan prasarana umum skala lokal dan regional.

b. Kebijakan pengembangan pola ruang meliputi :

1. Pemeliharaan dan pelestarian fungsi kawasan lindung dan ruang terbuka hijau. 2. Pengendalian kegiatan budidaya yang berdampak kepada kelestarian lingkungan

hidup.

3. Perwujudan pengembangan kegiatan budi daya yang optimal dan efisien. 4. Peningkatan fungsi kawasan untuk pertahanan dan keamanan negara.

c. Kebijakan pengembangan kawasan strategis meliputi :

1. Pengembangan kawasan strategis perspektif ekonomi. 2. Pengembangan kawasan strategis perspektif sosial budaya.

3. Pengembangan kawasan strategis perspektif fungsi dan daya dukung lingkungan hidup.

2.2.2 Tujuan Pembangunan Daerah Tujuan dari pembangunan daerah di Kota Sungai Penuh Tahun 2005 – 2025 antara lain:

a. Mendukung kelancaran koordinasi antar pelaku pembungan dalam pencapaian tujuan daerah;

b. Menjamin terciptanya integrasi, sinkronasi dan sinergisitas baik antar daerah, antar

(33)

c. Menjamin keterkaitan dan konsistensi antara perencaan, penganggaran, pelaksanaan dan pengawasan,

d. Menjamin tercapainya penggunaan sumber daya secara efisien, efektif, berkeadilan dan

berkelanjutan serta,

e. Mengoptimalkan partisipasi masyarakat.

2.2.3 Tujuan Penataan Ruang Adapun tujuan dari penataan ruang antara lain :

a. Untuk mewujudkan ruang wilayah nasional yang aman, nyaman, produktif, dan

berkelanjutan berlandaskan Wawasan Nusantara dan Ketahanan Nasional dengan, terwujudnya keharmonisan antara lingkungan alam dan lingkungan buatan.

b. Terwujudnya keterpaduan dalam penggunaan sumber daya aam dan sumber daya

buatan dengan memperhatikan sumber daya manusia.

c. Terwujudnya perlindungan fungsi ruang dan pencegahan dampak negative terhadap

lingkungan akibat pemanfaatan ruang.

d. Mewujudkan Kota Sungai Penuh sebagai pusat pelayanan pendidikan, perdagangan dan jasa serta pariwisata berskala regional yang aman nyaman, produktif dan berkelanjutan.

2.2.4 Strategi Penataan Ruang Strategi pemantapan pusat pelayanan kegiatan yang memperkuat kegiatan berskala regional meliputi :

A. Menetapkan hirarki sistem pusat pelayanan secara berjenjang. B. Mengembangkan aksesibilitas transpostasi darat ke bandar udara. C. Mengembangkan pusat perdagangan dan jasa berskala regional. D. Mengembangkan kegiatan pendidikan dan pelatihan

E. Mengembangkan kegiatan wisata alam dan wisata budaya.

a. Strategi peningkatan aksesibilitas dan keterkaitan antar pusat kegiatan skala local dan

regional meliputi :

1. Meningkatkan kapasitas jaringan jalan yang mendorong interaksi kegiatan antar pusat pelayanan kegiatan kota.

2. Mengembangkan jalan lingkar dalam dan lingkar luar.

3. Meningkatkan pelayanan moda transportasi yang mendukung tumbuh dan berkembangnya pusat pelayanan kegiatan kota secara terintegrasi.

4. Mengembangkan terminal angkutan umum regional dan terminal angkutan umum dalam kota.

(34)

b. Strategi peningkatan kualitas dan jangkauan pelayanan sistem sarana dan prasarana umum skala lokal dan regional :

1. Mendistribusikan sarana lingkungan di setiap pusat kegiatan sesuai fungsi kawasan dan hirarki pelayanan.

2. Mengembangkan sistem prasarana energi.

3. Mengembangkan sistem jaringan telekomunikasi dan informasi. 4. Mengembangkan prasarana sumber daya air.

5. Meningkatkan sistem pengelolaan persampahan. 6. Meningkatkan jangkauan pelayanan air bersih. 7. Meningkatkan prasarana pengelolaan air limbah.

8. Mengembangkan sistem prasarana drainase secara terpadu.

c. Strategi pemeliharaan dan pelestarian fungsi kawasan lindung dan ruang terbuka hijau meliputi :

1. Mengembangkan kerjasama antar wilayah Perbatasan dalam mempertahankan fungsi lindung.

2. Mempertahankan dan melestarikan kawasan yang berfungsi lindung sesuai dengan kondisi ekosistemnya.

3. Melestarikan daerah resapan air untuk menjaga ketersediaan sumberdaya air.

4. Mencegah dilakukannya kegiatan budidaya di sempadan mata air yang dapat mengganggu kualitas air, kondisi fisik dan mengurangi kuantitas debit air.

5. Mengelola dan melestarikan sumberdaya hutan melalui kegiatan penanaman kembali hutan yang gundul dan menjaga hutan dari pembalakan liar.

6. Mengamankan benda cagar budaya dan sejarah dengan melindungi tempat serta ruang di sekitar bangunan bernilai sejarah, dan situs purbakala.

7. Menetapkan daerah evakuasi bencana.

8. Mewujudkan jalur evakuasi bencana secara terpadu dengan wilayah yang berbatasan. 9. Mempertahankan fungsi dan menata ruang terbuka hijau yang ada;

10. Mengembalikan ruang terbuka hijau yang telah beralih fungsi

11. Meningkatan dan menyediakan ruang terbuka hijau 30% secara proporsional di seluruh wilayah kota.

d. Strategi pengendalian kegiatan budidaya yang berdampak kepada kelestarian lingkungan hidup meliputi :

1. Mengendalikan perkembangan pusat-pusat kegiatan agar tetap terjadi keseimbangan perkembangan antar wilayah.

2. Mengendalikan kegiatan pertanian pada kawasan yang seharusnya berfungsi lindung untuk memelihara kelestarian lingkungan.

(35)

3. Mengembangkan dan memanfaatkan kawasan hutan produksi pola partisipasi masyarakat dengan pertanian konservasi.

4. Mengendalikan perluasan pertanian pada kawasan rawan bencana dan kawasan yang seharusnya berfungsi lindung untuk memelihara kelestarian lingkungan.

e. Strategi Perwujudan pengembangan kegiatan budi daya yang optimal dan efisien meliputi : Menetapkan kawasan budi daya sesuai daya dukung dan daya tampung lingkungan.

1. Mendorong pengembangan kawasan budi daya secara vertikal di kawasan kepadatan tinggi.

2. Mengembangkan wilayah tanaman holtikultura sesuai dengan potensi dan kesesuaian lahan secara optimal.

3. Memperhatikan keterpaduan antar kegiatan budi daya.

f. Strategi peningkatan fungsi kawasan untuk pertahanan dan keamanan negara, meliputi :

1. Mendukung menetapkan kawasan peruntukan pertahanan dan keamanan;

2. Mengembangkan budidaya secara selektif didalam dan disekitar kawasan untuk menjaga fungsi pertahanan dan keamanan;

3. Mengembangkan kawasan lindung dan / atau kawasan budidaya tidak terbangun disekitar kawasan pertahanan dan keamanan negara sebagai zona penyangga; dan

4. Turut serta memelihara dan menjaga aset-aset pertahanan dan keamanan.

g. Strategi Kebijakan pengembangan kawasan strategis perspektif ekonomi meliputi: 1. Menetapkan kawasan strategis pertumbuhan ekonomi yang berbasis ekowisata.

2. Menetapkan kawasan strategis pertumbuhan ekonomi yang berbasis industry kecil.

3. Menetapkan kawasan strategis pertumbuhan ekonomi yang berbasis kawasan perdagangan dan jasa skala kota.

4. Menetapkan kawasan strategis pertumbuhan ekonomi yang berbasis kawasan terpadu skala wilayah.

h. Strategi Kebijakan pengembangan kawasan strategis perspektif sosial budaya meliputi : 1. Menetapkan kawasan pendidikan dan pelatihan

2. Menetapkan kawasan kebudayaan Islam.

i. Strategi Kebijakan pengembangan kawasan strategis perspektif fungsi dan daya dukung lingkungan hidup meliputi :

1. Menetapkan kawasan strategis dari sudut pandang fungsi dan daya dukung lingkungan berupa Taman Nasional Kerinci Seblat.

2. Menetapkan kawasan strategis dari sudut pandang fungsi dan daya dukung lingkungan berupa Kawasan Resapan Air.

(36)

2.2.5 Arah Pengembangan Tata Ruang Menurut Rencana Tata Ruang dan Wilayah Kota Sungai Penuh, sistem jaringan Prasarana Wilayah Kota Sungai Penuh terdiri atas:

 Sistem jaringan prasarana utama; dan  Sistem jaringan prasarana lainnya.

A. Sistem jaringan prasarana utama terdiri atas

a. Sistem jaringan transportasi darat, terdiri atas 1. Jaringan jalan;

2. Jaringan prasarana lalu lintas dan angkutan jalan; dan 3. Jaringan pelayanan angkutan jalan

b. Sistem jaringan transportasi udara, terdiri atas

1. Pengaturan terhadap kawasan keselamatan operasional penerbangan

B. Sistem jaringan prasarana lainnya terdiri atas a. Sistem jaringan energi meliputi

1. Pembangkit tenaga listrik meliputi :

Pengembangan Pembangkit Tenaga Listrik (PLTA) Batang Merangin di Kabupaten Kerinci.

Pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTPB) Lempur di Kabupaten Kerinci.

Pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH), Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan Pembangkit Listrik Tenaga Angin di Kecamatan Kumun Debai dan Kecamatan Sungai Penuh.

2. Jaringan transmisi tenaga listrik meliputi :

Pengembangan interkoneksi Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) Merangin; Pengembangan saluran yang melalui Desa Koto Baru – Desa Sungai Liuk – Desa Koto Lolo; dan

Pengembangan gardu induk di Desa Koto Lolo Kecamatan Pesisir Bukit.

b. Sistem Jaringan Telekomunikasi, meliputi 1. Jaringan kabel meliputi :

Pengembangan jaringan serat optic.

Pengembangan dan peningkatan jaringan dalam wilayah Kota Sungai Penuh. Pengembangan dan peningkatan bangunan pengelolaan jaringan telepon berupa Stasiun Telepon Otomatis (STO) di Kecamatan Sungai Penuh.

2. Jaringan nirkabel meliputi :

Pengembangan menara telekomunikasi dan/atau menara telekomunikasi bersama.

(37)

1. Sistem wilayah sungai

Sistem wilayah sungai meliputi pengelolaan Wilayah Sungai Batanghari yang mencakup DAS Batanghari.

2. Sistem Jaringan irigasi

Sistem jaringan irigasi meliputi pemanfaatan air sungai untuk irigasi di seluruh Kecamatan dalam Kota Sungai Penuh.

3. Sistem Jaringan air baku

Sistem jaringan air baku untuk air bersih meliputi Sungai Batang Merao, Sungai Jernih, Sungai Ampuh, Sungai Batang Sangkir, Sungai Batang Busi; dan Sungai Sangkakala

4. Sistem Pengendalian Banjir

Sistem pengendali banjir meliputi (a) Pengembangan waduk penampungan air di Kecamatan Tanah Kampung dan Kecamatan Sungai Penuh, (b) Normalisasi aliran sungai di seluruh wilayah Kota Sungai Penuh, (c) Pengendalian kawasan terbangun, kawasan rawan banjir di Kecamatan Tanah Kampung, Kecamatan Hamparan Rawang, Kecamatan Kumun Debai dan sebagian Kecamatan Sungai Penuh, dan (d) Peningkatan kualitas jaringan drainase di seluruh wilayah.

d. Sistem infrastruktur perkotaan

Sistem infrastruktur perkotaan meliputi : 1. Sistem penyediaan air minum

Sistem penyediaan air minum meliputi

Pengembangan sistem jaringan perpipaan; dan Pengembangan sistem non perpipaan

2. Sistem pengolahan air limbah

Sistem pengolahan air limbah terdiri atas

Sistem pembuangan air limbah bahan berbahaya dan beracun; Sistem pembuangan air limbah terpusat; dan

Sistem pembuangan air limbah rumah tangga individual dan komunal. 3. Sistem Persampahan

Sistem persampahan meliputi

Rencana Tempat Penampungan Sementara (TPS); Rencana Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST); Rencana Tempat Pemrosesan Akhir (TPA);

Peningkatan dan pengembangan teknologi pengolahan sampah. 4. Sistem drainase

(38)

Peningkatan dan pengembangan saluran drainase dengan basis Daerah Aliran Sungai (DAS) berupa pengembangan sistem kanal pengendali Banjir di wilayah Kecamatan Hamparan Rawang, Kecamatan Tanah Kampung, Kecamatan Sungai Penuh dan Kecamatan Kumun Debai.

Perbaikan saluran drainase pada Jalan Muradi, Jalan A. Yani, Jalan Depati Parbo dan Kawasan Pasar Tanjung Bajure serta saluran drainase yang bermasalah lainnya melalui peningkatan kapasitas dan daya tampung saluran. Penataan saluran drainase pada kawasan perumahan dan kawasan pusat pelayanan.

Penanganan saluran – saluran yang berfungsi ganda sebagai saluran drainase dan saluran irigasi.

2.3 Prasarana Kota

2.3.1 Sistem Penyediaan Air Minum Pemanfatan sumber daya air di Kota Sungai Penuh terutama berasal dari sumber air permukaan yaitu Sungai Batang Merao, Sungai Batang Sangkir, Sungai Jernih, Sungai Ampuh, Sungai Buai dan Sungai Sangkakala yang direncanakan untuk dimanfaatkan sebagai sumber air untuk sistem jaringan irigasi dan sumber air baku untuk air minum.

Sumber air yang telah dimanfaatkan adalah Sungai Batang Merao, Sungai Jernih dan Sungai Ampuh melalui Instalasi Pengolahan Air Bersih (IPA) yang merupakan air baku bagi PDAM Tirta Sakti Sungai Penuh, dengan debit yang dihasilkan dari sumber air baku ini adalah 76 L/detik.

2.3.2 Drainase Rencana sistem drainase Kota Sungai Penuh terdiri dari pengaturan dan sinkronisasi sistem jaringan primer, sekunder dan tersier yang terdiri dari :

1. Sistem jaringan primer sebagai saluran penampung limpasan air hujan utama ditetapkan pada beberapa aliran sungai yang melintasi Kota Sungai Penuh yang terdiri dari Sungai Ning, Sungai Pengasah, Sungai Air Sesat, Sungai Air Sempit, Sungai Terung, Sungai Air Hitam, Sungai Batang Sangkir, Sungai Air Bungkal, Sungai Rampuh, Sungai Ulu Air Kumun dan Sungai Batang Bungkal dengan outlet pada saluran utama Sungai Batang Merao di Kecamatan Tanah Kampung.

2. Sistem jaringan sekunder di kembangkan untuk membentuk sistem cluster berupa pengembangan sistem kanal pengendali banjir, terutama pada wilayah Kecamatan Hamparan Rawang, Tanah Kampung dan Kumun Debai dan sebagian Kecamatan Sungai Penuh yang rawan terhadap genangan akibat topografi wilayah. Sistem cluster dipecah untuk menciptakan daerah tampungan air sementara, berupa polder-polder pada ketiga

(39)

wilayah tersebut, sehingga tidak langsung masuk ke aliran Sungai Batang Merao, dengan luas masing-masing polder 0,5 m2 dengan kapasitas 5.000 m3.

3. Penataan sistem jaringan tersier dengan melakukan pemantapan dan kontinuitas saluran pada depan persil perumahan terutama pada permukiman perkotaan yang telah berkembang menjadi permukiman padat terutama di Kecamatan Sungai Penuh dan Kecamatan Hamparan Rawang agar terhubung dengan sistem sekunder.

Sementara untuk kawasan pengembangan perkotaan dan permukiman pedesaan dikembangkan sistem tersier yang terintegrasi dengan pengembangan sistem sekunder berupa polder sementara hingga dapat dialirkan ke saluran sekunder.

Arahan sistem drainase Kota Sungai Penuh meliputi :

1. Peningkatan dan pengembangan saluran drainase dengan basis Daerah Aliran Sungai (DAS) berupa pengembangan sistem kanal pengendali banjir di wilayah Kecamatan Hamparan Rawang, Kecamatan Tanah Kampung, Kecamatan Sungai Penuh dan Kecamatan Kumun Debai.

2. Perbaikan saluran drainase pada Jalan Muradi, Jalan A. Yani, Jalan Depati Parbo dan Kawasan Pasar Tanjung Bajure serta saluran drainase yang bermasalah lainnya melalui peningkatan kapasitas dan daya tampung saluran.

3. Penataan saluran drainase pada kawasan perumahan dan kawasan pusat pelayanan. 4. Penanganan saluran – saluran yang berfungsi ganda sebagai saluran drainase dan

saluran irigasi.

2.3.3 Air Limbah Pada dasarnya air limbah terdiri dari 2 bentuk yaitu air kotor (Grey Water) dan limbah manusia (Black Water). Grey Water yaitu limbah manusia dalam bentuk cairan yang dihasilkan dari sisa kegiatan pemakaian air domestik, seperti air bekas mandi, mencuci dan sebagainya. Sedangkan

Black Water yaitu buangan limbah padat yang berasal dari kotoran manusia. Prakiraan air limbah di Kota Sungai Penuh pada tahun 2031 untuk grey water sebesar 17.973 m3 dan black water 8.987 m3.

Penanganan air limbah dapat dilakukan melalui dua teknologi pembuangan, yaitu sistem setempat (onsite system) dan sistem terpusat (offsite sysfem). Sistem setempat yaitu suatu

sistem pembuangan air limbah sekaligus pengolahannya yang dilakukan di tempat tersebut melalui penguraian bakteri anaerob. Teknologi pengolahan sistem setempat biasanya menggunakan Septic Tank atau Cubluk disertai Bidang Resapan. Sedangkan sistem terpusat

yaitu bentuk pembuangan air limbah menggunakan sistem perpipaan yang berfungsi mengalirkan air limbah dari sumbernya ke suatu tempat pengolahan.

Pengelolaan air limbah membutuhkan sistem pengolahan yang memenuhi kaidah teknis sesuai dengan teknologi pembuangan yang akan diterapkan. Langkah antisipasi dalam menangani

(40)

besarnya buangan air limbah adalah dengan pembangunan IPAL (instalasi pengolahan air limbah) terpadu dibeberapa titik krusial, misalnya pusat perumahan maupun pusat kota. Pada Tahun 2011 akan dibangun IPAL komunal di Tanjung Bajure yang untuk menampung buangan air limbah dari pusat kota (pasar) disamping melayani buangan air limbah dari perumahan penduduk.

Arahan sistem pengolahan air limbah Kota Sungai Penuh terdiri atas :

a. Sistem pembuangan air limbah bahan berbahaya dan beracun. b. Sistem pembuangan air limbah terpusat.

c. Sistem pembuangan air limbah rumah tangga individual dan komunal.

Rencana sistem pembuangan air limbah bahan berbahaya dan beracun diarahkan pada Kawasan Rumah Sakit di Kecamatan Sungai Penuh. Sedangkan rencana sistem pembuangan air limbah terpusat berupa pengembangan sistem Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) diarahkan pada kawasan pusat pemerintahan dan kawasan perdagangan dan jasa di Kecamatan Sungai Penuh.

Untuk rencana sistem pembuangan air limbah rumah tangga individual dan komunal meliputi :

a. Sistem pembuangan air limbah rumah tangga individual diarahkan pada kawasan

perumahan kepadatan rendah dan sedang di Kecamatan Tanah Kampung, Kecamatan Kumun Debai, Kecamatan Pesisir Bukit dan Kecamatan Hamparan Rawang; dan

b. Sistem pembuangan air limbah rumah tangga komunal diarahkan pada kawasan

perumahan kepadatan tinggi di Kecamatan Sungai Penuh.

2.3.4 Data Jaringan Jalan dan Sarana Transportasi Secara umum, fungsi jaringan jalan di Kota Sungai Penuh terdiri atas jaringan jalan arteri sekunder, Kolektor Primer, kolektor sekunder, dan jalan lokal. Jalan arteri sekunder di Kota Sungai Penuh merupakan akses keluar-masuk Kota Sungai Penuh dari utara, barat dan selatan. Jalan kolektor sekunder menjadi penghubung jalan arteri sekunder ke pusat-pusat kegiatan di Kota Sungai Penuh. Untuk lebih jelas, gambaran sistem jaringan jalan diuraikan pada tabel berikut.

Sedangkan Jembatan yang ada di Kota Sungai Penuh tersebar pada masing-masing kecamatan sebanyak 64 buah jembatan, sebagian besar jembatan-jembatan ini sudah berupa beton, kondisi jembatan pada umumnya dalam keadaan baik dan beberapa dalam kondisi rusak sehingga perlu penanganan segera. Menurut hasil survey lapangan masih terdapat dibeberapa titik ruas jalan, jembatan tidak atau belum dapat menahan berat kendaraan roda empat atau lebih.

Sarana transportasi Kota Sungai Penuh antara lain:

(41)

TERMINAL; Terminal Kumun saat ini belum berfungsi dengan baik sebagai pergantian modar dari transportasi regional ke transportasi lokal, hal ini disebabkan lokasi yang relatif jauh dari pusat kota serta dikarenakan masalah pengalihan aset yang belum diserahkan oleh Pemerintah Kabupaten Kerinci ke Pemerintah Kota Sungai Penuh. Karenanya, kedepannya perlu dicari alternatif lain untuk lokasi terminal yang layak dan sesuai dengan kondisi jaringan jalan Kota Sungai Penuh.. Salah satu alternative lokasi terminal Kota Sungai penuh adalah daerah Desa Gedang dan Sumur Anyir Kecamatan Sungai Penuh, hal ini terkait dengan rencana pembangunan jalan lingkar kota yang merupakan akses menuju lokasi terminal tersebut.

MODA ANGKUTAN; Moda angkutan yang digunakan di Kota Sungai Penuh terdiri atas angkutan pribadi dan angkutan umum. Angkutan umum untuk pelayanan kota berupa angkot dan angdes. Pelayanan angkutan umum di Kota Sungai Penuh juga melayani trayek Sungai Penuh – Desa dalam Kabupaten Kerinci disamping trayek dalam lingkup Kota Sungai Penuh. Untuk nama dan kode Trayek Angkutan Umum di Kota Sungai Penuh belum dilakukan penetapannya, hal ini menjadi salah satu program yang harus ditindaklanjuti oleh Pemerintah Kota Sungai Penuh agar jaringan transportasi di Kota Sungai Penuh terpadu dan terintegrasi. Untuk moda angkutan antar kota dan antar provinsi dilayani oleh beberapa perusahaan oto bus yang terdiri dari bus besar, sedang dan kecil yang melayani rute Sungai Penuh Padang, Jambi, Pekan Baru, Bengkulu dan Jakarta.

Tabel 2.17 Sarana Transportasi Antar Provinsi di Kota Sungai Penuh Tahun 2010 No Nama Perusahaan Jumlah Bus (Unit) Bus Besar Bus Sedang Bus Kecil/Travel Jenis Bus

1 Gunung Kerinci 8 4 - - 2 Cahaya Kerinci 5 - - - 3 Safa Marwa 33 4 4 4 4 Kerinci Indah 5 - - - 5 Ayu 20 - - - 6 Megis Indah 5 - - - 7 Kerinci Utama 8 - - - 8 Kelinci Putih 4 - - - 9 Sinar Kerinci 6 - - - 10 Famili Kerinci 4 - - - 11 Kerinci Permata 5 - - - 12 Kerinci Mulya 5 - - -

13 Anak Anum Kerinci 8 - - -

Jumlah 116 8 4 4

(42)

B. Sarana Pejalan Kaki

Sarana pejalan kaki (trotoar) di Kota Sungai Penuh secara umum berada di bagian kanan-kiri ruas jalan kolektor serta pusat-pusat kegiatan perkotaan. Kondisi yang ada relatif belum berfungsi secara optimal karena masih bercampurnya fungsi kegiatan yang memanfaatkan ruang pejalan kaki, terutama kegiatan Pedagang Kaki Lima (PKL). Selain itu kondisi sarana pejalan kaki yang ada sebagian mengalami kerusakan dan perlu pengintegrasian.

2.4 Kondisi Eksisting Sistem Pengelolaan Persampahan

2.4.1 Sumber Sampah Sumber sampah di Kota Sungai Penuh berasal dari sampah rumah tangga (pemukiman) (berpenghasilan tinggi, sedang dan rendah) dan sampah dari tempat komersil seperti : restauran, pertokoan, pasar, perkantoran, sekolah, hotel, penyapuan jalan, penyapuan taman serta sampah dari sarana umum lainnya. Pengelolaan kebersihan kota umumnya dilaksanakan oleh Dinas Kebersihan dan Pertamanan atau badan lingkungan hidup setempat. Pengelolaan sampah ini biasanya dilakukan dengan teratur melalui Dinas Kebersihan dan Pertamanan yang dilakukan setiap hari dengan cara mengumpulkan sampah dari sumbernya setiap pagi, siang atau sore hari yang kemudian dilakukan pengangkutan dan pembuangan ke Tempat Pembuangan Akhir dengan menggunakan truk. Aktivitas pengelolaan kebersihan di Kota Sungai Penuh ini seluruhnya dibiayai oleh dana APBD Kota Sungai Penuh.

2.4.2 Daerah Pelayanan

Daerah pelayanan pengelolaan sampah perkotaan saat ini melayani semua Kecamatan di Kota Sungai Penuh, namun untuk Kecamatan Koto Baru, Hamparan Rawang, Kumun Debai dan Tanah Kampung belum terlayani secara baik dikarenakan akses jalan dan fasilitas yang belum memadai.

2.4.3 Timbulan, Komposisi dan Karakteristik Sampah Komposisi timbulan sampah di Kota Sungai Penuh dikaji melalui Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan dan Pertamanan Kota Sungai Penuh. Terdapat 68 sampel yang dilakukan pada tiga sumber sampah perumahan, yaitu perumahan pendapatan tinggi, menengah, dan rendah. Maka didapatlah besaran timbulan sampah seperti pada tabel dibawah ini.

Tabel 2.18 Besaran Timbulan Sampah (volume)

No Kategori Sampel Volume Rerata Sampel Volume Per Satuan (liter) Volume Total per Hari (liter)

1. Rumah Permanen Tangga 8,08 1,616 org/hr 36.206,480 lt/hr

Gambar

Tabel 2.1 Luas Wilayah dan Pembagian Daerah Administrasi Menurut Kecamatan di Kota Sungai Penuh, 2014
Tabel 2.4 Klasifikasi dan Panjang/Luas Drainase Menurut Kecamatan di Kota Sungai Penuh, 2014  No  Kecamatan  Klasifikasi dan Panjang/Luas Drainase
Tabel 2.5 Luas Wilayah di Atas Permukaan Laut (DPL) Menurut Kecamatan di Kota Sungai Penuh, 2014
Tabel 2.7 Suhu Udara Maksimum, Minimum dan Rata-rata per Bulan di Stasiun Meteorologi Depat Parbo,  2014
+7

Referensi

Dokumen terkait

D BIDANG PEM ANFAATAN DAN PENGENDALIAN TATA RUANG KEGIATAN REHABILITASI/ PEM BANGUNAN JARINGAN IRIGASI (DAK). KEGIATAN PELAKSANAAN NORM ALISASI

REKAPITULASI PENGUMUMAN PEMENANG PELELANGAN UMUM KEJAKSAAN NEGERI SUNGAI PENUH. TAHUN

Pemerintah Kota Sungai Penuh c/q Dinas Pertanian, Perkebunan dan Kehutanan Kota Sungai Penuh Tahun Anggaran 2011, akan melaksanakan Pelelangan Sederhana Program

Pada lahan terbuka atau tampa vegetasi, air hujan yang jatuh sebagian besar menjadi limpasan permukaan yang mengalir menuju sungai sehingga aliran sungai

Untuk mencapai daerah berpendapatan tinggi, maka seharusnya Kota Sungai Penuh harus melakukan transformasi struktural dari sistem ekonominya yang berbasis produksi

Kebijakan akuntansi yang digunakan dalam penyusunan laporan keuangan PDAM Tirta Khayangan Kota Sungai Penuh didasarkan pada Pedoman Akuntansi Perusahaan Daerah Air Minum yang

Kota Sungai Penuh terdiri dari 5 kecamatan, dengan luas wilayah secara keseluruhan mencapai 39.150 Km2. Pengelolaan persampahan yang dilaksanakan oleh Pemerintah Kota Sungai

Pada kondisi saat ini transportasi umum Kota Sungai Penuh tersedia jaringan trayek angkutan umum yang rutenya melayani langsung ke kabupaten Kerinci, rute tersebut