SURYA
1
Vol.03, No.XIX, September 2014
Ilkafah*, Sriami**
………...……….…… …… . .….
ABSTRAK
…… … ...…… …. …… …… . .….
Pasien yang mengalami trauma kepala akan mengalami tirah baring. Tirah baring atau
imobilisasi akan menyebabkan perubahan pada sistem pernafasan dimana akan terjadi
penumpukan sputum. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh ROM pasif
terhadap penumpukan sputum pada pasien cedera kepala ringan. Desain penelitian ini
menggunakan
Quasy Experiment
dengan pendekatan
cross sectional
. Metode sampling yang
digunakan adalah
consecutive
dengan sampelnya 18 responden. Data penelitian ini diambil dengan
mengisi lembar observasi setelah responden diberi intervensi ROM. Setelah di tabulasi data yang
ada dianalisis dengan menggunakan uji
wilcoxon sign rank test
dengan tingkat kemaknaan
P
0,05.
Hasil penelitian adalah sebelum diberikan intervensi sebagian besar (61,6%) penumpukan
sputumnya ditandai dengan 2 tanda klinis yaitu adanya suara nafas tambahan
ronchi
dan frekwensi
nafas bertambah dan setelah diberikan intervensi pada observasi hari ke-3 sebagian besar (66,7%)
masih menetap sedangkan pada observasi hari ke-7 sebagian besar (61,1%) sudah berkurang. Pada
uji statistik deperoleh hasil nilai koofisien Z=-3,508 dan nilai
sig 2 tailed
(P)=0,000. Kesimpulan
penelitian ini adalah terdapat pengaruh ROM pasif terhadap penumpukan sputum pada pasien
cedera kepala ringan, oleh karena itu perawat perlu melakukan intervensi ROM pada pasien cedera
kepala ringan untuk mengurangi penumpukan sputum. Untuk penelitian selanjutnya bisa
dilakukan penelitian mengenai intervensi lain dalam mengatasi penumpukan sputum diantaranya
mobililisasi atau rentang gerak aktif, perkusi dada atau intervensi non farmakologi lainya.
Kata kunci: ROM pasif, penumpukan sputum
PENDAHULUAN
. … … . …
Cedera kepala merupakan salah satu
penyebab kematian dan kecacatan utama pada
kelompok usia produktif dan sebagian besar
terjadi akibat kecelakaan lalu lintas (Mansjoer,
2000). Cedera kapala dapat mengakibatkan
masalah besar bagi seseorang, karena cedera
kapala akan menimbulkan masalah secara
langsung maupaun tidak langsung. Akibat dari
masalah
tersebut,
maka
membutuhkan
penanganan
segera
untuk
menghindari
rangkaian
kejadian
yang
menimbulkan
gangguan mental dan fisik bahkan kematian.
Adapun masalah tidak langsung cedera kepala
terjadinya
perubahan
bahkan
kerusakan
neurologi
berat,
untuk
mencegah
atau
mengurangi resiko kerusakan lebih lanjut perlu
dilakukan tindakan imobilisasi (Sylvia &
Wilson, 2005).
Menurut Hidayat (2006), pasien cedera
kepala perlu dilakukan imobilisasi, namun
imobilisasi dapat menimbulkan gangguan pada
banyak sistem tubuh, dimana tingkat keparahan
gangguan tergantung dari umur klien, kondisi
kesehatan secara keseluruhan dan tingkat
imobilisasi yang dialami. Gangguan pada
sistem pernapasan menyebabkan terjadinya
penurunan kemampuan klien untuk batuk
produktif, sehingga penyebaran mukus dalam
bronkus meningkat terutama pada posisi
terlentang, akibat hal ini terjadilah penumpukan
sputum
di
saluran
pernapasan.
Untuk
mengurangi penumpukan sputum, salah satunya
dengan mereposisikan paru yang menggantung.
Maka dari itu perlu dilakukan mobilisasi untuk
mencegah terjadinya penumpukan sputum.
Mobilisasi yang dapat dilakukan pada pasien
cedera kepala dengan melakukan latihan
rentang gerak pasif/ROM pasif (Potter & Perry,
2005).
Dari hasil survei awal yang dilakukan
peneliti di ruang Bougenvile dan di ruang
Teratai RSUD dr. SOEGIRI Lamongan,
diperoleh
data
penderita
cedera
kapala
berjumlah 98 pasien di ruang Bougenvile dan di
ruang Teratai berjumlah 42 pasien pada tahun
2010. Sedangkan pada tahun 2011 dari bulan
Januari sampai September sebanyak 101
pasien. Dari 6 pasien cedera kepala ringan yang
dirawat di ruang Bougenvile dan Teratai
66,67% mengalami penumpukan sputum,
dengan gejala terdengar suara napas tambahan
ronchi
dan frekwensi napas yang bertambah,
dari data tersebut dapat dipelajari bahwa masih
banyak pasien yang mengalami cedera kepala
ringan
terjadi
penumpukan
sputum.
Penumpukan sputum tersebut kemungkinan
disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya;
infeksi pada saluran pernapasan, asap rokok
dan debu, kondisi mukosa, tingkat cedera
kepala dan ketidakmampuan untuk melakukan
mobilisasi (Potter & Perry, 2005).
Infeksi pada saluran napas, biasanya
disebabkan oleh virus dan bakteri, penyakit
sistem pernapasan akibat virus dan bakteri
dibedakan menjadi penyakit saluran napas atas
dan penyakit saluran napas bawah (Sylvia &
Willson (2005). Faktor asap rokok dan debu,
merupakan penyebab paling sering batuk,
perokok seringkali menderita batuk kronis
karena terus menerus mengisap benda asing
(asap)
dan
saluran
napasnya
seringkali
mengalami peradangan kronik (Carpenito, 2011
dan Doengoes, 1999)
Faktor kondisi mukosa, dinding dari
seluruh sistem pernapasan dilapisi oleh mukosa
yang saling berhubungan sehingga infeksi atau
masalah yang terjadi di suatu tempat dengan
mudah bisa mempengaruhi bagian saluran
pernapasan yang lainya, saluran pernapasan dan
hidung sampai bronkeolus dilapisi oleh
membran mukosa yang bersilia. Ketika udara
masuk kedalam rongga hidung udara tersebut
disaring, dihangatkan dan dilembabkan, ketiga
proses ini merupakan fungsi utama dari mukosa
respirasi. Faktor tingkat cedera kepala, cedera
kepala yang mengenai pusat pernapasan akan
mempengaruhi
fungsi
pusat
pengaturan
pernapasan tergantung dari derajat cedera
kepala, dimana otot-otot pernapasan diatur oleh
pusat pernapasan yang terdiri dari neuron dan
reseptor pada pons dan medulla oblongata.
Pusat pernapasan merupakan bagian dari sistem
saraf yang mengatur semua aspek pernapasan
(Sylvia & Willson, 2005).
Faktor ketidakmampuan, dimana pasien
cedera kepala terjadi ketidakmampuan untuk
beraktivitas sehingga mengalami imobilisasi,
dimana
efek
dari
imobilisasi
akan
mempengaruhi pada kondisi psikologis dan
fisiologis
individu.
Pengaruh
psikologis
diantaranya
dapat
menyebabkan
depresi,
perubahan perilaku, perubahan siklus tidur dan
gangguan koping. Sedangkan pengaruh secara
fisiologis diantaranya; perubahan metabolik,
perubahan sistem pernapasan, perubahan sistem
muskuloskeletal, perubahan sistem integument
dan perubahan sistem eliminasi. Perubahan
pada sistem pernapasan diantaranya; ekspansi
paru menurun, dan terjadinya lemah otot yang
dapat
menyebabkan
proses
metabolisme
terganggu. Penurunan ekspansi paru dapat
terjadi karena tekanan yang meningkat oleh
permukaan paru akibatnya, terjadi penumpukan
sekret di saluran pernapasan (Hidayat, 2006).
Penumpukan
sputum
pada
klien
cedera
kepala
dapat
dicegah
dengan
mempertahankan
kepatenan
jalan
napas,
diantaranya dengan meminta klien melakukan
napas dalam dan membatukan sputum tiap 1
sampai 2 jam, dengan cara menginstruksikan
klien melakukan napas dalam sebanyak 3 kali
dan membatukan pada saat mengeluarkan napas
yang ketiga (Pahria, 2009). Selain itu dapat
dilakukan
pengisapan
nasotracheal
tube/orotracheal tube
untuk mengeluarkan
sekret pada jalan napas atas, sedangkan untuk
mengeluarkan sekret baik atas maupun bawah
dapat menggunakan
endotracheal tube.
Dapat
pula dengan melakukan mobilisasi atau
perubahan
posisi
untuk
mengurangi
penumpukan
sputum.
Untuk
menjamin
keadekuatan mobilisasi maka perawat dapat
mengajarkan klien latihan ROM, apabila klien
tidak mempunyai kontrol motorik volunter
maka dapat dilakukan latihan rentang gerak
pasif ( Potter & Perry 2005 ).
Tujuan penelitian ini untuk
mengetahui
pengaruh
Range Of Motion
pasif terhadap
penumpukan sputum pada pasien cedera kepala
ringan di ruang Bougenvile dan Teratai RSUD
Dr. SOEGIRI Lamongan.
METODOLOGI PENELITIAN .
Desain penelitian
Quasy exsperiment
design
.
dengan pendekatan
Crossectional
dengan metode sampling yaitu
Consecutive
Sampling. Populasinya yaitu seluruh pasien
cedera kepala ringan di ruang Bougenvile dan
Teratai RSUD Dr. SOEGIRI Lamongan Tahun
2012, dengan jumlah sampel sebanyak 18
pasien
cedera
kepala
ringan.
Variabel
independen yaitu
range of motion
pasif dan
variabel dependen yaitu kejadian penumpukan
sputum. Instrumen yang digunakan dalam
penelitian ini adalah dengan menggunakan SOP
ROM (Range Of Motion) Pasif pada variabel
independen dan lembar observasi (
check list
)
pada varibel dependen.
Pengolahan data
menggunakan
editing
,
coding
,
scoring
,
tabulating
, dan uji Wilcoxon signed rank test
dengan ρ<0,05.
HASIL PENELITIAN. … …
Data Umum
1. Karakteristik umur
44% 33% 17% 6% 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 15-25 tahun 26-35 tahun 36-45 tahun 46-55 tahun frekwensi prosentaseDiagram 1 Distribusi Frekuensi Pasien Cedera
Kepala Ringan Berdasarkan Umur
di ruang Bougenvile dan Teratai
RSUD Dr. SOEGIRI Lamongan
April 2012
Berdasarkan diagram 1 diatas diperoleh
data bahwa sebagian responden berumur 15-25
tahun sebanyak 8 responden (44%) dan
sebagian kecil berumur 46-55 tahun sebanyak
1 responden (6%).
2.
Karakteristik Jenis Kelamin
61% 39%
laki-laki perempuan
Diagram 2 Distribusi Frekuensi Pasien Cedera
Kepala Ringan Berdasarkan Jenis
Kelamin
di ruang Bougenvile dan
Teratai
RSUD
Dr.
SOEGIRI
Lamongan April 2012
Berdasarkan diagram 4.2 didapatkan
data bahwa sebagian besar responden berjenis
kelamin laki-laki sebanyak 11 responden (61%)
dan selebihnya berjenis kelamin perempuan
sebanyak 7 responden (39%).
3.
Karakteristik Pekerjaan
0 1 2 3 4 5 6 4 3 6 3 2 22% 17% 33% 17% 11%Diagram
3
Distribusi
Frekuensi
PasienCedera
Kepala
Ringan
Berdasarkan Jenis Kelamin di ruang
Bougenvile dan Teratai RSUD Dr.
SOEGIRI Lamongan April 2012
Berdasarkan diagram 3 diatas diperoleh
data bahwa sebagian responden pekerjaanya
wiraswasta berjumlah 6 responden (33%) dan
sebagian kecil IRT berjumlah 2 responden
(11%).
4.
Karakteristik Riwayat Merokok
67%
33% Merokok
Tidak Merokok
Diagram 4 Distribusi Frekwensi Pasien Cedera
Kepala
Ringan
Berdasarkan
Riwayat
Merokok
di
ruang
Bougenvile dan Teratai RSUD Dr.
SOEGIRI Lamongan April 2012
Berdasarkan diagram 4 didapatkan data
bahwa sebagian besar responden merokok
sebanyak 12 responden (67%) dan selebihnya
tidak merokok berjumlah 6 responden (33% ).
Data Khusus
1.
Intervensi ROM (Range Of Motion)
pasif
Table 1 Distribusi pasien cedera kepala
berdasarkan intervensi ROM (
Range Of
Motion
) pasif di ruang Bougenvile dan
Teratai RSUD Dr. SOEGIRI Lamongan
Tahun 2012
No. ROM Pasif
Frekwensi
Prosentase (%)
1
2
Dilakukan
ROM pasif
Tidak
dilakukan
ROM pasif
9
9
50
50
Jumlah
18
100
Berdasarkan table 1 didapatkan data
bahwa sebagian responden dilakukan ROM
(
Range Of Motion
) pasif sebanyak 9 responden
(50%) dan selebihnya tidak dilakukan ROM
(
Range Of Motion
) pasif berjumlah 9 responden
(50% ).
2.
Penumpukan sputum
pre
ROM (
Range
Of Motion
) pasif pada pasien cedera
kepala
.
Table 2 Distribusi pasien cedera kepala
berdasarkan penumpukan sputum
pre
ROM (
Range Of Motion
) pasif
di ruang Bougenvile dan Teratai
RSUD Dr. SOEGIRI Lamongan
Tahun 2012
No Penumupukan
Sputum
Frekwensi Prosentase
1 2 3 1 Tanda Klinis 2 Tanda Klinis 3 Tanda Klinis 1 11 6 5,6 61,1 33,3 Total 18 100
Berdasarkan table 4.2 didapatkan data
bahwa sebagian besar responden penumpukan
sputumnya ditandai dengan 2 tanda klinis
sebanyak 11 responden (61,1%) dan sebagian
kecil ditandai dengan 1 tanda klinis sebanyak 1
responden (5,6%).
3.
Penumpukan sputum
post
ROM
(Range Of Motion) pasif pada pasien
cedera kepala
.
Table 3 Distribusi pasien cedera kepala
berdasarkan penumpukan sputum
post
ROM (
Range Of Motion
)
pasif di ruang Bougenvile dan
Teratai RSUD Dr. SOEGIRI
Lamongan Tahun 2012
No Penumpuk
an Sputum
Hari ke-3 Hari ke-7
Frekw ensi Prosentasi % Frekw ensi Pros enta si % 1 2 3 Menetap Berkurang Hilang 12 6 0 66,7 33,3 0 3 11 4 16,7 61,1 22,2 Total 18 100 18 100
Berdasarkan tabel 3 didapatkan data
bahwa pada hari ke-3 observasi sebagian besar
responden menetap penumpukan sputumnya
sebanyak 12 responden (66,7%) dan tidak
satupun (0%) yang hilang penumpukan
sputumnya.
Sedangkan
pada
hari
ke-7
observasi,
sebagian
besar
penumpukan
sputumnya berkurang sebanyak 11 responden
(61,1% ) dan sebagian kecil penumpukan
sputumnya menetap sebanyak 3 responden
(16,7%).
4.
Pengaruh ROM (
Range Of Motion
) Pasif
Terhadap Penumpukan Sputum Pada
Pasien
Cedera
Kepala
di
Ruang
Bougenvile
dan
Teratai
RSUD
Dr.SOEGIRI Lamongan.
Table 4. Distribusi frekwensi
post-test
Pengaruh
ROM
(
Range
Of
Motion
)
Pasif
Terhadap
Penupukan
Sputum
di
ruang
Bougenvile dan Teratai RSUD Dr.
SOEGIRI Lamongan Tahun 2012
No. Intervensi Penumpukan
Sputum Hari ke-3 % Hari ke-7 % 1 ROM Menetap Berkurang Hilang 5 4 0 27,8 22,2 0 0 7 2 0 38,9 11,1 2 Tidak ROM Menetap Berkurang Hilang 7 2 0 38,9 11,1 0 3 4 2 16,7 22,2 11,1 Total 18 100 18 100