• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH RANGE OF MOTION PASIF TERHADAP PENUMPUKAN SPUTUM PADA PASIEN CEDERA KEPALA RINGAN DI RUANG BOUGENVILE DAN TERATAI RSUD Dr.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENGARUH RANGE OF MOTION PASIF TERHADAP PENUMPUKAN SPUTUM PADA PASIEN CEDERA KEPALA RINGAN DI RUANG BOUGENVILE DAN TERATAI RSUD Dr."

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

SURYA

1

Vol.03, No.XIX, September 2014

Ilkafah*, Sriami**

………...……….…… …… . .….

ABSTRAK

…… … ...…… …. …… …… . .….

Pasien yang mengalami trauma kepala akan mengalami tirah baring. Tirah baring atau

imobilisasi akan menyebabkan perubahan pada sistem pernafasan dimana akan terjadi

penumpukan sputum. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh ROM pasif

terhadap penumpukan sputum pada pasien cedera kepala ringan. Desain penelitian ini

menggunakan

Quasy Experiment

dengan pendekatan

cross sectional

. Metode sampling yang

digunakan adalah

consecutive

dengan sampelnya 18 responden. Data penelitian ini diambil dengan

mengisi lembar observasi setelah responden diberi intervensi ROM. Setelah di tabulasi data yang

ada dianalisis dengan menggunakan uji

wilcoxon sign rank test

dengan tingkat kemaknaan

P

0,05.

Hasil penelitian adalah sebelum diberikan intervensi sebagian besar (61,6%) penumpukan

sputumnya ditandai dengan 2 tanda klinis yaitu adanya suara nafas tambahan

ronchi

dan frekwensi

nafas bertambah dan setelah diberikan intervensi pada observasi hari ke-3 sebagian besar (66,7%)

masih menetap sedangkan pada observasi hari ke-7 sebagian besar (61,1%) sudah berkurang. Pada

uji statistik deperoleh hasil nilai koofisien Z=-3,508 dan nilai

sig 2 tailed

(P)=0,000. Kesimpulan

penelitian ini adalah terdapat pengaruh ROM pasif terhadap penumpukan sputum pada pasien

cedera kepala ringan, oleh karena itu perawat perlu melakukan intervensi ROM pada pasien cedera

kepala ringan untuk mengurangi penumpukan sputum. Untuk penelitian selanjutnya bisa

dilakukan penelitian mengenai intervensi lain dalam mengatasi penumpukan sputum diantaranya

mobililisasi atau rentang gerak aktif, perkusi dada atau intervensi non farmakologi lainya.

Kata kunci: ROM pasif, penumpukan sputum

PENDAHULUAN

. … … . …

Cedera kepala merupakan salah satu

penyebab kematian dan kecacatan utama pada

kelompok usia produktif dan sebagian besar

terjadi akibat kecelakaan lalu lintas (Mansjoer,

2000). Cedera kapala dapat mengakibatkan

masalah besar bagi seseorang, karena cedera

kapala akan menimbulkan masalah secara

langsung maupaun tidak langsung. Akibat dari

masalah

tersebut,

maka

membutuhkan

penanganan

segera

untuk

menghindari

rangkaian

kejadian

yang

menimbulkan

gangguan mental dan fisik bahkan kematian.

Adapun masalah tidak langsung cedera kepala

terjadinya

perubahan

bahkan

kerusakan

neurologi

berat,

untuk

mencegah

atau

mengurangi resiko kerusakan lebih lanjut perlu

dilakukan tindakan imobilisasi (Sylvia &

Wilson, 2005).

Menurut Hidayat (2006), pasien cedera

kepala perlu dilakukan imobilisasi, namun

imobilisasi dapat menimbulkan gangguan pada

banyak sistem tubuh, dimana tingkat keparahan

gangguan tergantung dari umur klien, kondisi

kesehatan secara keseluruhan dan tingkat

imobilisasi yang dialami. Gangguan pada

sistem pernapasan menyebabkan terjadinya

penurunan kemampuan klien untuk batuk

produktif, sehingga penyebaran mukus dalam

bronkus meningkat terutama pada posisi

terlentang, akibat hal ini terjadilah penumpukan

sputum

di

saluran

pernapasan.

Untuk

mengurangi penumpukan sputum, salah satunya

dengan mereposisikan paru yang menggantung.

Maka dari itu perlu dilakukan mobilisasi untuk

mencegah terjadinya penumpukan sputum.

(2)

Mobilisasi yang dapat dilakukan pada pasien

cedera kepala dengan melakukan latihan

rentang gerak pasif/ROM pasif (Potter & Perry,

2005).

Dari hasil survei awal yang dilakukan

peneliti di ruang Bougenvile dan di ruang

Teratai RSUD dr. SOEGIRI Lamongan,

diperoleh

data

penderita

cedera

kapala

berjumlah 98 pasien di ruang Bougenvile dan di

ruang Teratai berjumlah 42 pasien pada tahun

2010. Sedangkan pada tahun 2011 dari bulan

Januari sampai September sebanyak 101

pasien. Dari 6 pasien cedera kepala ringan yang

dirawat di ruang Bougenvile dan Teratai

66,67% mengalami penumpukan sputum,

dengan gejala terdengar suara napas tambahan

ronchi

dan frekwensi napas yang bertambah,

dari data tersebut dapat dipelajari bahwa masih

banyak pasien yang mengalami cedera kepala

ringan

terjadi

penumpukan

sputum.

Penumpukan sputum tersebut kemungkinan

disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya;

infeksi pada saluran pernapasan, asap rokok

dan debu, kondisi mukosa, tingkat cedera

kepala dan ketidakmampuan untuk melakukan

mobilisasi (Potter & Perry, 2005).

Infeksi pada saluran napas, biasanya

disebabkan oleh virus dan bakteri, penyakit

sistem pernapasan akibat virus dan bakteri

dibedakan menjadi penyakit saluran napas atas

dan penyakit saluran napas bawah (Sylvia &

Willson (2005). Faktor asap rokok dan debu,

merupakan penyebab paling sering batuk,

perokok seringkali menderita batuk kronis

karena terus menerus mengisap benda asing

(asap)

dan

saluran

napasnya

seringkali

mengalami peradangan kronik (Carpenito, 2011

dan Doengoes, 1999)

Faktor kondisi mukosa, dinding dari

seluruh sistem pernapasan dilapisi oleh mukosa

yang saling berhubungan sehingga infeksi atau

masalah yang terjadi di suatu tempat dengan

mudah bisa mempengaruhi bagian saluran

pernapasan yang lainya, saluran pernapasan dan

hidung sampai bronkeolus dilapisi oleh

membran mukosa yang bersilia. Ketika udara

masuk kedalam rongga hidung udara tersebut

disaring, dihangatkan dan dilembabkan, ketiga

proses ini merupakan fungsi utama dari mukosa

respirasi. Faktor tingkat cedera kepala, cedera

kepala yang mengenai pusat pernapasan akan

mempengaruhi

fungsi

pusat

pengaturan

pernapasan tergantung dari derajat cedera

kepala, dimana otot-otot pernapasan diatur oleh

pusat pernapasan yang terdiri dari neuron dan

reseptor pada pons dan medulla oblongata.

Pusat pernapasan merupakan bagian dari sistem

saraf yang mengatur semua aspek pernapasan

(Sylvia & Willson, 2005).

Faktor ketidakmampuan, dimana pasien

cedera kepala terjadi ketidakmampuan untuk

beraktivitas sehingga mengalami imobilisasi,

dimana

efek

dari

imobilisasi

akan

mempengaruhi pada kondisi psikologis dan

fisiologis

individu.

Pengaruh

psikologis

diantaranya

dapat

menyebabkan

depresi,

perubahan perilaku, perubahan siklus tidur dan

gangguan koping. Sedangkan pengaruh secara

fisiologis diantaranya; perubahan metabolik,

perubahan sistem pernapasan, perubahan sistem

muskuloskeletal, perubahan sistem integument

dan perubahan sistem eliminasi. Perubahan

pada sistem pernapasan diantaranya; ekspansi

paru menurun, dan terjadinya lemah otot yang

dapat

menyebabkan

proses

metabolisme

terganggu. Penurunan ekspansi paru dapat

terjadi karena tekanan yang meningkat oleh

permukaan paru akibatnya, terjadi penumpukan

sekret di saluran pernapasan (Hidayat, 2006).

Penumpukan

sputum

pada

klien

cedera

kepala

dapat

dicegah

dengan

mempertahankan

kepatenan

jalan

napas,

diantaranya dengan meminta klien melakukan

napas dalam dan membatukan sputum tiap 1

sampai 2 jam, dengan cara menginstruksikan

klien melakukan napas dalam sebanyak 3 kali

dan membatukan pada saat mengeluarkan napas

yang ketiga (Pahria, 2009). Selain itu dapat

(3)

dilakukan

pengisapan

nasotracheal

tube/orotracheal tube

untuk mengeluarkan

sekret pada jalan napas atas, sedangkan untuk

mengeluarkan sekret baik atas maupun bawah

dapat menggunakan

endotracheal tube.

Dapat

pula dengan melakukan mobilisasi atau

perubahan

posisi

untuk

mengurangi

penumpukan

sputum.

Untuk

menjamin

keadekuatan mobilisasi maka perawat dapat

mengajarkan klien latihan ROM, apabila klien

tidak mempunyai kontrol motorik volunter

maka dapat dilakukan latihan rentang gerak

pasif ( Potter & Perry 2005 ).

Tujuan penelitian ini untuk

mengetahui

pengaruh

Range Of Motion

pasif terhadap

penumpukan sputum pada pasien cedera kepala

ringan di ruang Bougenvile dan Teratai RSUD

Dr. SOEGIRI Lamongan.

METODOLOGI PENELITIAN .

Desain penelitian

Quasy exsperiment

design

.

dengan pendekatan

Crossectional

dengan metode sampling yaitu

Consecutive

Sampling. Populasinya yaitu seluruh pasien

cedera kepala ringan di ruang Bougenvile dan

Teratai RSUD Dr. SOEGIRI Lamongan Tahun

2012, dengan jumlah sampel sebanyak 18

pasien

cedera

kepala

ringan.

Variabel

independen yaitu

range of motion

pasif dan

variabel dependen yaitu kejadian penumpukan

sputum. Instrumen yang digunakan dalam

penelitian ini adalah dengan menggunakan SOP

ROM (Range Of Motion) Pasif pada variabel

independen dan lembar observasi (

check list

)

pada varibel dependen.

Pengolahan data

menggunakan

editing

,

coding

,

scoring

,

tabulating

, dan uji Wilcoxon signed rank test

dengan ρ<0,05.

HASIL PENELITIAN. … …

Data Umum

1. Karakteristik umur

44% 33% 17% 6% 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 15-25 tahun 26-35 tahun 36-45 tahun 46-55 tahun frekwensi prosentase

Diagram 1 Distribusi Frekuensi Pasien Cedera

Kepala Ringan Berdasarkan Umur

di ruang Bougenvile dan Teratai

RSUD Dr. SOEGIRI Lamongan

April 2012

Berdasarkan diagram 1 diatas diperoleh

data bahwa sebagian responden berumur 15-25

tahun sebanyak 8 responden (44%) dan

sebagian kecil berumur 46-55 tahun sebanyak

1 responden (6%).

2.

Karakteristik Jenis Kelamin

61% 39%

laki-laki perempuan

Diagram 2 Distribusi Frekuensi Pasien Cedera

Kepala Ringan Berdasarkan Jenis

Kelamin

di ruang Bougenvile dan

Teratai

RSUD

Dr.

SOEGIRI

Lamongan April 2012

(4)

Berdasarkan diagram 4.2 didapatkan

data bahwa sebagian besar responden berjenis

kelamin laki-laki sebanyak 11 responden (61%)

dan selebihnya berjenis kelamin perempuan

sebanyak 7 responden (39%).

3.

Karakteristik Pekerjaan

0 1 2 3 4 5 6 4 3 6 3 2 22% 17% 33% 17% 11%

Diagram

3

Distribusi

Frekuensi

PasienCedera

Kepala

Ringan

Berdasarkan Jenis Kelamin di ruang

Bougenvile dan Teratai RSUD Dr.

SOEGIRI Lamongan April 2012

Berdasarkan diagram 3 diatas diperoleh

data bahwa sebagian responden pekerjaanya

wiraswasta berjumlah 6 responden (33%) dan

sebagian kecil IRT berjumlah 2 responden

(11%).

4.

Karakteristik Riwayat Merokok

67%

33% Merokok

Tidak Merokok

Diagram 4 Distribusi Frekwensi Pasien Cedera

Kepala

Ringan

Berdasarkan

Riwayat

Merokok

di

ruang

Bougenvile dan Teratai RSUD Dr.

SOEGIRI Lamongan April 2012

Berdasarkan diagram 4 didapatkan data

bahwa sebagian besar responden merokok

sebanyak 12 responden (67%) dan selebihnya

tidak merokok berjumlah 6 responden (33% ).

Data Khusus

1.

Intervensi ROM (Range Of Motion)

pasif

Table 1 Distribusi pasien cedera kepala

berdasarkan intervensi ROM (

Range Of

Motion

) pasif di ruang Bougenvile dan

Teratai RSUD Dr. SOEGIRI Lamongan

Tahun 2012

No. ROM Pasif

Frekwensi

Prosentase (%)

1

2

Dilakukan

ROM pasif

Tidak

dilakukan

ROM pasif

9

9

50

50

Jumlah

18

100

Berdasarkan table 1 didapatkan data

bahwa sebagian responden dilakukan ROM

(

Range Of Motion

) pasif sebanyak 9 responden

(50%) dan selebihnya tidak dilakukan ROM

(

Range Of Motion

) pasif berjumlah 9 responden

(50% ).

2.

Penumpukan sputum

pre

ROM (

Range

Of Motion

) pasif pada pasien cedera

kepala

.

Table 2 Distribusi pasien cedera kepala

berdasarkan penumpukan sputum

pre

ROM (

Range Of Motion

) pasif

di ruang Bougenvile dan Teratai

RSUD Dr. SOEGIRI Lamongan

Tahun 2012

No Penumupukan

Sputum

Frekwensi Prosentase

(5)

1 2 3 1 Tanda Klinis 2 Tanda Klinis 3 Tanda Klinis 1 11 6 5,6 61,1 33,3 Total 18 100

Berdasarkan table 4.2 didapatkan data

bahwa sebagian besar responden penumpukan

sputumnya ditandai dengan 2 tanda klinis

sebanyak 11 responden (61,1%) dan sebagian

kecil ditandai dengan 1 tanda klinis sebanyak 1

responden (5,6%).

3.

Penumpukan sputum

post

ROM

(Range Of Motion) pasif pada pasien

cedera kepala

.

Table 3 Distribusi pasien cedera kepala

berdasarkan penumpukan sputum

post

ROM (

Range Of Motion

)

pasif di ruang Bougenvile dan

Teratai RSUD Dr. SOEGIRI

Lamongan Tahun 2012

No Penumpuk

an Sputum

Hari ke-3 Hari ke-7

Frekw ensi Prosentasi % Frekw ensi Pros enta si % 1 2 3 Menetap Berkurang Hilang 12 6 0 66,7 33,3 0 3 11 4 16,7 61,1 22,2 Total 18 100 18 100

Berdasarkan tabel 3 didapatkan data

bahwa pada hari ke-3 observasi sebagian besar

responden menetap penumpukan sputumnya

sebanyak 12 responden (66,7%) dan tidak

satupun (0%) yang hilang penumpukan

sputumnya.

Sedangkan

pada

hari

ke-7

observasi,

sebagian

besar

penumpukan

sputumnya berkurang sebanyak 11 responden

(61,1% ) dan sebagian kecil penumpukan

sputumnya menetap sebanyak 3 responden

(16,7%).

4.

Pengaruh ROM (

Range Of Motion

) Pasif

Terhadap Penumpukan Sputum Pada

Pasien

Cedera

Kepala

di

Ruang

Bougenvile

dan

Teratai

RSUD

Dr.SOEGIRI Lamongan.

Table 4. Distribusi frekwensi

post-test

Pengaruh

ROM

(

Range

Of

Motion

)

Pasif

Terhadap

Penupukan

Sputum

di

ruang

Bougenvile dan Teratai RSUD Dr.

SOEGIRI Lamongan Tahun 2012

No. Intervensi Penumpukan

Sputum Hari ke-3 % Hari ke-7 % 1 ROM Menetap Berkurang Hilang 5 4 0 27,8 22,2 0 0 7 2 0 38,9 11,1 2 Tidak ROM Menetap Berkurang Hilang 7 2 0 38,9 11,1 0 3 4 2 16,7 22,2 11,1 Total 18 100 18 100

Berdasarkan table 4 diatas menunjukan

bahwa responden (

post-test

) yang dilakukan

ROM Pasif pada observasi hari ke-3 tidak

satupun (0%) yang penumpukan sputumnya

hilang, dan yang tidak dilakukan ROM pasif

hampir sebagian (38,9%) menetap penumpukan

sputumnya. Sedangkan pada observasi hari

ke-7 pada responden yang di beri ROM pasif tidak

hampir sebagian (38,9%) penumpukan

sputumnya berkurang dan yang tidak dilakukan

ROM pasif penumpukan sputumnya hilang

sebanyak 2 responden (11,1%).

Berdasarkan hasil perhitungan dengan

menggunakan

uji

wilcoxon

dan

analisa

menggunakan

program

SPSS

16.5

For

Windows

pengaruh ROM (

Range Of Motion

)

terhadap penumpukan sputum pada pasien

cedera kepala di ruang Bougenvile dan Teratai

RSUD Dr. SOEGIRI Lamongan, diperoleh nilai

koofisien Z = -3,508 dan nilai

sig 2 tailed

(P) =

0,000 dimana

P

< 0,05 maka H0 ditolak artinya

ada pengaruh ROM (

Range Of Motion

)

(6)

terhadap penumpukan sputum pada pasien

cedera kepala.

PEMBAHASAN … . … …

1.

Identifikasi

penumpukan

sputum

sebelum

(

pre-test

)

dilakukan

ROM

(

Range Of Motion

) pasif pada pasien

cedera kepala

Berdasarkan tabel 2 didapatkan data

bahwa sebagian besar responden penumpukan

sputumnya ditandai dengan 2 tanda klinis

sebanyak 11 responden (61,1%) dan sebagian

kecil ditandai dengan 1 tanda klinis sebanyak 1

responden (5,6%). Dua tanda klinis yang

dimaksud ialah adanya suara nafas tambahan

(

ronchi

) dan frekwensi nafas yang bertambah (

>20 x per menit), 1 tanda klinis apabila salah

satu tanda tersebut ada dan 3 tanda klinis bila

kedua tanda klinis tersebut ada, ditambah ada

bantuan otot bantu pernafasan.

Menurut Doenges (1999), tanda

terjadinya ketidakefektifan jalan napas akibat

akumulasi sekret diantaranya: Terdapat suara

napas tambahan

ronchi

dan

krekles,

frekwensi

napas bertambah dan terjadinya perubahan

kedalaman pernapasan, nadi meningkat, batuk,

sianosis,

pernyataan

kesulitan

bernapas,

penggunaan otot bantu pernapasan, dan

dyspneu.

Namun demikian peneliti menggunakan

3

tanda

klinis

yang

digunakan

dalam

mengobservasi pasien diantaranya adanya suara

nafas tambahan

ronchi

, frekwensi nafas

bertambah dan adanya otot bantu pernafasan

karena adanya ketiga tanda tersebut sudah

menunjukan adanya penumpukan sputum.

Selain itu, karena tanda klinis lainya bisa

disebabkan oleh gangguan yang lain pada

pasien cedera kepala.

Sebagian

besar

pasien

yang

di

observasi pada saat sebelum diberi intervensi (

pre-test

), terdapat dua tanda klinis yaitu adanya

suara nafas tambahan

ronchi

dan frekwensi

nafas yang bertambah. Hal ini disebabkan

karena pasien cedera kepala diobservasi pada

hari pertama atau kedua MRS sehingga

frekwensi yang ditandai dengan 2 tanda klinis

lebih banyak daripada yang disertai dengan

adanya otot bantu pernafasan. Adanya suara

nafas tambahan

ronchi

sebagian besar diikuti

oleh frekwensi nafas yang bertambah dan hanya

sebagian kecil saja yang tidak diikuti oleh

bertambahnya frekwensi nafas.

2.

Identifikasi penumpukan sputum sesudah

(

post-test

) diberikan

ROM (

Range Of

Motion

) pasif pada pasien cedera kepala

Berdasarkan table 3 didapatkan data

bahwa pada hari ke-3 observasi sebagian besar

responden menetap penumpukan sputumnya

sebanyak 12 responden (66,7%) dan tidak

satupun (0%) yang hilang penumpukan

sputumnya.

Sedangkan

pada

hari

ke-7

observasi,

sebagian

besar

penumpukan

sputumnya berkurang sebanyak 11 responden

(61,1% ) dan sebagian kecil penumpukan

sputumnya menetap sebanyak 3 responden

(16,7%). Pada hari ketiga observasi setelah

dilakukan ROM dari hari pertama penumpukan

sputumnya sebagian besar masih menetap dan

pada hari ketujuh sebagian besar penumpukan

sputumnya

berkurang.

Dengan

demikian

intervensi ROM pada penumpukan sputum

lebih berpengaruh apabila dilakukan semakin

lama dan rutin.

Menurut Richardson (2011), normalnya

saluran napas menghasilkan lendir tanpa itu

saluran udara menjadi kering dan rusak. Tapi

kadang-kadang

lendir

diproduksi

secara

berlebihan, hal ini menyebabkan adanya

dorongan untuk batuk dan mengeluarkan lendir

sebagai dahak. Peningkatan mukus/ lendir pada

bronkeolus terjadi pada pasien yang mengalami

imobilisasi dalam waktu yang lama. Seperti

halnya yang terjadi pada pasien cedera kepala

karena ketidakmampuanya akan mengalami

(7)

tirah

baring,

sehingga

inervensi

untuk

mencegah terjadinya penumpukan sputum

harus

dilakukan.

Intervensi

ROM

yang

diberikan

akan

berpengaruh

terhadap

pergerakan ekspansi dada dan kelenturan otot

sehingga pasien mampu melakukan batuk

efektif untuk mengeluarkan sputum.

Kondisi yang semakin memperberat

penumpukan sputum pada pasien cedera kepala

selain karena ketidakmampuan atau tirah baring

yang dialami, diperburuk oleh kebiasaan

merokok yang mana pada hasil penelitian

sebagian besar responden adalah perokok

dimana kebiasaan ini biasanya di dominasi

oleh kaum laki-laki dan hasil penelitian

diperoleh data sebagian besar adalah laki-laki.

Hal ini sesuai dengan teori yang menyatakan

bahwa laki-laki lebih sering mengalami cedera

kepala dari pada perempuan.

3.

Pengaruh Mobilisasi ROM (

Range Of

Motion

) Pasif Terhadap Penumpukan

Sputum pada Pasien Cedera Kepala di

Ruang Bougenvile dan Teratai RSUD Dr.

SOEGIRI Lamongan 2012

Berdasarkan uji stastitik

Wilcoxon

diperoleh hasil nilai koofisien Z= -3,508 dan

nilai

sig 2 tailed

(P) = 0,000 dimana

P

< 0,05

maka H0 ditolak artinya ada pengaruh ROM

(

Range Of Motion

) terhadap penumpukan

sputum pada pasien cedera kepala di ruang

Boegenvile dan Teratai RSUD Dr. SOEGIRI

Lamongan 2012.

Pada tabel 4 pasien cedera kepala

setelah diberikan ROM (

Range Of Motion

)

pasif menunjukan bahwa responden (

post-test

)

yang dilakukan ROM Pasif pada observasi hari

ke-3 tidak satupun (0%) yang penumpukan

sputumnya hilang, dan yang tidak dilakukan

ROM

pasif

hampir

sebagian

menetap

penumpukan sputumnya. Sedangkan pada

observasi hari ke-7 pada responden yang di beri

ROM

pasif

hampir

sebagian

(38,9%)

penumpukan sputumnya berkurang dan yang

tidak dilakukan ROM pasif hanya sebagian

kecil saja (11,1%) yang penumpukan

sputumnya hilang. Dari data tersebut dapat

dipelajari

bahwa

penumpukan

sputum

dipengaruhi oleh tingkat imobilitas seseorang

karena akan berpengaruh terhadap pergerakan

ekspansi dada seorang yang mengalami tirah

baring atau imobilisasi.

Menurut Potter & Perry (2005), Klien

yang memiliki keterbatasan mobilisasi sendi

karena penyakit, ketidakmampuan atau trauma

membutuhkan latihan sendi untuk mengurangi

bahaya imobilisasi. Rom pasif merupakan

gerakan persendian klien sesuai dengan rentang

gerak yang normal yang dilakukan oleh orang

lain baik petugas kesehatan maupun keluarga

pasien.

Tujuan

ROM

adalah

untuk

mempertahankan atau meningkatkan kekuatan

dan kelenturan otot, mempertahankan fungsi

kardiorespirasi dan mencegah kontraktur serta

kekakuan pada persendian.

Intervensi ROM pasif yang dilakukan

peneliti dengan cara membagi kelompok

menjadi dua kelompok yakni kelompok kontrol

dan kelompok intervensi, dimana pada urutan

ganjil sebagai kelompok intervensi dan genap

sebagai kelompok kontrol. Dalam kurun waktu

tiga bulan peneliti mendapatkan responden 18

orang. ROM pasif dilakukan setiap hari dari

hari pertama observasi sebanyak dua kali

sehari, pada pelaksanaanya peniliti lebih sering

melakukanya pada saat siang dan sore hari.

Setiap kali ROM membutuhkan waktu kurang

lebih 15 menit, pada hari-hari berikutnya

sebagian keluarga juga memberikan keterangan

bahwa

mereka

meniru

intervensi

yang

diberikan peneliti. Namun demikian banyak

pula pasien ataupun keluarga yang kurang

kooperatiif sehingga peneliti tidak bisa leluasa

untuk

melaksanakan

semua

rangkaian

pergerakan sendi dalam memberikan intervensi.

Tiga responden dinyatakan

drop out

dari

kriteria responden karena keluarga yang

(8)

ditengah penelitian menyatakan tidak bersedia

keluarganya untuk dilakukan intervensi setiap

hari, dengan alasan takut mengganggu pasien.

Mobilisasi yang dapat dilakukan pada

pasien cedera kepala dengan melakukan latihan

rentang gerak pasif/ROM pasif. Gerakan ROM

pasif bermanfaat untuk mempertahankan fungsi

respirasi yang dilakukan beberapa kali selama

pasien

tirah

baring

dan

efektif

untuk

mengurangi terjadinya penumpukan sputum

karena latihan pergerakan sendi/ROM yang

dilakukan secara terus menerus akan membuat

otot-otot menjadi lentur dan tidak kaku,

sehingga kemampuan pasien mengeluarkan

dahak yang secara fisiologis diproduksi 100 ml

tiap hari dapat kembali dan ekspansi dada

kembali

normal

sehingga

tidak

terjadi

penumpukan sputum (Kusyati, 2006).

Namun demikian pasien yang dirawat

di ruang Bougenvile dan Teratai adalah pasien

dengan cedera kepala ringan, dalam beberapa

hari

perawatan

mereka

mampu

untuk

melakukan mobilisasi seperti menggerakan

tangan dan kaki, dan bahkan ada yang bisa

untuk merubah posisi duduk. Sehingga pada

pasien yang tidak dilakukan ROM pasif hampir

sebagian

(44,4%)

atau

4

responden

penumpukan

sputumnya

berkurang

dan

sebagian kecil (22,2%) atau 2 responden

penumpukan sputumnya hilang.

Beberapa intervensi non farmakologi

lain dapat dilakukan namun beberapa tindakan

yang bertujuan untuk mengurangi sputum pada

pasien cedera kepala kurang sesuai, seperti

latihan batuk efektif yang dapat meningkatkan

TIK, latihan nafas dalam juga kurang efektif

karena

kondisi

pasien

yang

tidak

memungkinkan untuk menerima instruksi,

begitu pula intervensi perkusi dada dan vibrasi

yang tidak bisa dilakukan pada pasien trauma

karena kecurigaan adanya trauma pada dada

mengingat sebagian besar cedera kepala akibat

kecelakaan lalu lintas dan jatuh.

KESIMPULAN DAN SARAN

… …

Kesimpulan

1) ROM (

Range Of

Motion) pasif mengurangi

penumpukan sputum pada sebagian besar

pasien cedera kepala di ruang Bougenvile

dan Teratai RSUD Dr. SOEGIRI Lamongan

3) Terdapat pengaruh ROM (

Range Of

Motion)

pasif penumpukan sputum pada pasien

cedera kepala di ruang Bougenvile dan

Teratai RSUD Dr. SOEGIRI Lamongan.

Saran

Hasil

penelitian dapat memberikan

sumbangan ilmu pengetahuan khususnya dalam

hal penanganan penumpukan sputum di RSUD

dr. Soegiri Lamongan dengan pemberian

perlakuan ROM (

Range Of

Motion) pasif dan

sebagai sarana pembanding bagi dunia ilmu

pengetahuan dalam memperkaya informasi

tentang penanganan penumpukan sputum.

Selain itu dapat digunakan sebagai bahan

masukan dan pertimbangan guna meningkatkan

status

kesehatan

pasien

cedera

kepala

khususnya dalam mengurangi penumpukan

sputum.

Daftar Pustaka

Brunner & Suddart. (2010).

Keperawatan

Medikal Bedah

. Jakarta: EGC.

Carpenitto L. (2011).

Diagnosis Keperawatan

.

Jakarta: EGC.

Doenges M., Frances M, & Geisler, A. (1999).

Rencana

Asuhan

Keperawatan

.

Jakarata: EGC.

Hidayat A.A.A. (2006).

Kebutuhan Dasar

Manusia

. Jakarta: Salemba Medika.

Kusyati E. (2006).

Ketrampilan dan Prosedur

Laboratorium

. Jakarta: EGC

Mansjoer A., Triyanti K., & Savitri R. (2000).

Kapita Selekta Kedokteran

. Jakarta:

EGC.

(9)

Pahria T. (2009).

Asuhan Keperawatan pada

Pasien

dengan

Gangguan

Persyarafan.

Jakarta: EGC.

Potter & Perry. (2005).

Fundamental of

Nursing

. Jakarta: EGC.

Ricardson. (2011).

Pembentukan Sputum

.

www.pewarta.com. Diakses tanggal

27 Oktober 2011. Jam 09.30 WIB.

Sylvia & Willson, (2005

). Patofisiologi

.

Gambar

Diagram  1  Distribusi  Frekuensi  Pasien  Cedera  Kepala  Ringan  Berdasarkan  Umur  di  ruang  Bougenvile  dan  Teratai  RSUD  Dr
Diagram 4 Distribusi Frekwensi Pasien Cedera  Kepala  Ringan  Berdasarkan  Riwayat  Merokok  di  ruang

Referensi

Dokumen terkait

Iz grafov lahko vidimo, da anketiranke in anketiranci sejma 2016 kupujejo manj knjig kot tisti, ki so sejem obiskali leta 2004.. Odstotek anketirank in anketirancev, ki kupijo več

Dan Nancy Veronica S (2010) menyatakan bahwa ada pengaruh yang positif dan signifikan antara kualitas layanan terhadap loyalitas pelanggan, sedangkan pada penelitian

Oleh sebab itu maka penelitian yang akan dilakukan merupakan upaya dalam mengidentifikasi sejauhmana persepsi stakeholder dan masyarakat di Kota Sukabumi sebagai pelaku

Sistem yang dikembangkan diharapkan dapat memenuhi kebutuhan fungsional agar dapat digunakan sesuai dengan proses bisnis yang telah berjalan pada sisi admin

Membran terbaik yang dapat digunakan dalam pemisahan larutan detergen ialah pada konsentrasi NPE 5% yang memiliki nilai indeks rejeksi di atas

Penatalaksanaan asma kerja yang diinduksi iritan dan WEA adalah menghilangkan pajanan derajat tinggi atau menggunakan alat pelindung diri dan penderita masih dapat bekerja di

Hasil yang didapatkan berupa rancangan layar input dan output sistem informasi akuntansi persediaan PT Aon Sofa yang membantu perusahaan dalam menangani kegiatan