8
LANDASAN TEORI
2.1 Pembelajaran
Berdasarkan Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 Bab I Ketentuan Umum Pasal 1 ayat 20, pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar.
Menurut Australian National Training Authority, (2003) pembelajaran juga digunakan untuk menggambarkan konteks yang lebih luas yang juga meliputi bidang-bidang seperti kebijakan organisasi, dukungan siswa, dan sistem administrasi.
Pembelajaran dapat diartikan juga sebagai praktek penyusunan media teknologi komunikasi dan isi untuk membantu agar dapat terjadi transfer pengetahuan secara efektif antara guru dan peserta didik. Proses ini berisi penentuan status awal dari pemahaman peserta didik, perumusan tujuan pembelajaran, dan merancang "perlakuan" berbasis-media untuk membantu terjadinya transisi. Idealnya proses ini berdasar pada informasi dari teori belajar yang sudah teruji secara pedagogis dan dapat terjadi hanya pada siswa, dipandu oleh guru, atau dalam latar berbasis komunitas (Supriatna & Mulyadi, 2009).
2.2 Online Learning
Beberapa persamaan yang digunakan sebagai sinonim dari online
learning adalah : e-learning, internet learning, distributed learning, networked learning, tele-learning, virtual learning, computer-assisted learning, web-based learning, dan distance learning. Sehingga bisa
dikatakan bahwa pada online learning, siswa berada jauh dari pengajar atau instruktur, dan siswa memanfaatkan teknologi untuk mengakses materi pembelajaran (Kaninnen, 2009).
Online learning mencakup berbagai teknologi seperti world-wide-web, email, chat, newsgroups, dan text, audio dan video conference yang
dikirim melalui jaringan komputer (jaringan area lokal, intranet atau internet publik) untuk memberikan pendidikan dan pelatihan, baik jarak jauh maupun di dalam kelas. Sistem berbasis web yang dapat diakses publik meliputi halaman web dari yang sederhana hingga platform pengiriman online yang kompleks mengatur akses siswa untuk konten, interaksi kelompok, penilaian online dan fungsi pendukung seperti pendaftaran dan catatan siswa (Australian National Training Authority, 2003).
Proses pembelajaran secara online dapat diselenggarakan dalam berbagai cara berikut (Rochaety, Rahayuningsih, & Yanti, 2005):
1. Proses pembelajaran secara konvensional (lebih banyak face to face
meeting) dengan tambahan pembelajaran melalui media interaktif
2. Dengan metode campuran, yakni secara umum sebagian besar proses pembelajaran dilakukan melalui komputer, namun tetap juga memerlukan face to face meeting untuk kepentingan tutorial atau mendiskusikan bahan ajar,
3. Metode pembelajaran yang secara keseluruhan hanya dilakukan secara
online, metode ini sama sekali tidak ditemukan face to face meeting.
Dalam Australian National Training Authority, (2003) menyatakan online learning merupakan bagian dari e-learning. Online learning merupakan suatu pembelajaran yang menggunakan internet, intranet dan ekstranet, atau pembelajaran yang menggunakan jaringan komputer yang terhubung secara langsung dan luas cakupannya (global). E-learning merupakan suatu konsep yang lebih luas dibandingkan online learning, yaitu meliputi suatu rangkaian aplikasi dan proses-proses yang menggunakan semua media elektronik untuk membuat pelatihan dan pendidikan vokasional menjadi lebih fleksibel. Sedangkan distance
learning, cakupannya lebih luas dibandingkan e-learning, yaitu tidak
hanya melalui media elektronik tetapi bisa juga menggunakan media non-elektronik. Distance learning lebih menekankan pada ketidakhadiran pendidik pada 3 (tiga) setiap waktu (Guri & Rosenblit, 2005). Hubungan antara online learning, e-learning dan distance learning dapat dilihat pada gambar di bawah ini.
Gambar 2.1 Hubungan antara online learning, e-learning dan distance
learning (Sumber: Guri & Rosenblit, 2005)
2.2.1 Kelebihan dan Kekurangan dari E-Learning
Salah satu kekuatan pembelajaran online adalah bahwa siswa dapat mengakses materi e-learning di mana saja, kapan saja dan pada setiap kesempatan yang mereka inginkan. Siswa dapat dengan bebas belajar kapan mereka punya waktu. Koordinator dari kursus bisa berada di suatu tempat dan peserta bisa berada di seluruh tempat di dunia. Segala sesuatu yang diperlukan untuk belajar adalah di internet, dan materi tentu saja dapat diakses oleh peserta melalui web (Kaninnen, 2009).
Kelebihan dari e-learning antara lain (Bouhnik & Marcus, 2006):
a. Kebebasan untuk memutuskan kapan setiap pelajaran yang akan dipelajari,
b. Kurangnya ketergantungan pada kendala waktu dosen,
c. Kebebasan untuk mengungkapkan pikiran, dan mengajukan pertanyaan, tanpa keterbatasan,
d. Kondusif untuk guru memberikan kepuasan tanggapan untuk pertanyaan murid-muridnya,
e. Cara di mana konten yang disajikan membuat nyaman untuk meninjau pelajaran yang dipelajari sebelumnya,
f. Aksesibilitas untuk, dan ketersediaan, dimana subjek kursus ini adalah materi, serta bahan-bahan terkait yang siswa dapat mengeksplorasi pada pilihannya sendiri, berkontribusi untuk belajar mandiri dan siswa dapat mengembangkan ide-ide independen, dan juga berguna dalam memungkinkan siswa bekerja untuk memanfaatkan pengetahuan baru yang diperolehnya dalam hubungannya dengannya tugas yang diberikan.
Sehingga Bouhnik & Marcus, (2006) menyimpulkan manfaat
e-learning dapat dikategorikan sebagai berikut:
a. Fleksibilitas material dan waktu, b. Aksesibilitas terhadap materi, c. Visibilitas multimedia, d. Ketersediaan data.
Sedangkan kekurangan yang dimiliki oleh pemanfaatan e-learning, hanya sebuah konsekuensi wajar dari pengelolaan dan kondisi e-learning yang kurang mendukung, yaitu (Alfitman, 2006):
a. Kecenderungan mengabaikan aspek akademik atau aspek sosial dan sebaliknya mendorong tumbuhnya aspek bisnis/komersial,
b. Proses belajar mengajar cenderung ke arah pelatihan daripada pendidikan,
c. Berubahnya peran pengajar dari yang semula menguasai teknik pembelajaran konvensional, kini juga dituntut mengetahui teknik
pembelajaran yang menggunakan ICT (Information, Communication
and Technology),
d. Tidak semua tempat tersedia fasilitas internet (mungkin hal ini berkaitan dengan masalah tersedianya listrik, telepon ataupun komputer).
2.2.2 Karakteristik E-Learning
Secara umum, e-learning mempunyai karakteristik sebagai berikut (Alfitman, 2006):
a. Non-linearity – pemakai (user) bebas untuk mengakses (browse) tentang objek pembelajaran dan terdapat fasilitas untuk memberikan persyaratan tergantung pada pengetahuan pemakai,
b. Self-managing – pemakai dapat mengelola sendiri proses pembelajaran dengan mengikuti struktur yang telah dibuat,
c. Feedback-interactivity – pembelajaran dapat dilakukan dengan interaktif dan disediakan feedback pada proses pembelajaran,
d. Multimedia-learners style – e-learning menyediakan fasilitas multimedia. Keuntungan dengan menggunakan multimedia, mahasiswa dapat memahami lebih jelas dan nyata sesuai dengan tipe mahasiswanya,
e. Just in time – e-learning menyediakan kapan saja yang diperlukan pemakai, untuk menyelesaikan permasalahan atau hanya ingin meningkatkan pengetahuan dan keterampilan,
f. Dinamiyc updating – mempunyai kemampuan memperbaharui isi materi secara otomatis pada perubahan yang terbaru,
g. Easy accessibility/access ease – hanya menggunakan browser (dan mungkin beberapa terpasang),
h. Collaborative learning – dengan tool pembelajaran memungkinkan bisa saling interaksi, maksudnya bisa berkomunikasi secara langsung pada waktu yang bersamaan (synchronous) atau berkomunikasi pada waktu yang berbeda (asynchronous). Pemakai bisa berkomunikasi dengan pembuat materi, mahasiswa yang lain, dan pengunjung.
2.2.3 Penerapan E-Learning
Penerapan e-learning banyak variasinya, karena perkembangannya
yang relatif masih baru. Setiap introduksi suatu teknologi pendidikan tertentu yang baru seperti pemanfaatan internet, ada empat hal yang perlu disiapkan, yaitu (Muzid & Munir, 2005):
a. Melakukan penyesuaian kurikulum. Kurikulum sifatnya holistik di mana pengetahuan, ketrampilan dan nilai (values) diintegrasikan dengan kebutuhan di era informasi ini. Kurikulumnya bersifat
competency based curriculum,
b. Melakukan variasi cara mengajar untuk mencapai dasar kompetensi yang ingin dicapai dengan bantuan komputer,
c. Melakukan penilaian dengan memanfaatkan teknologi yang ada (menggunakan komputer, online assessment system),
d. Menyediakan material pembelajaran seperti buku, komputer, multimedia, studio yang memadai. Materi pembelajaran yang disimpan di komputer dapat diakses dengan mudah baik oleh dosen maupun mahasiswa.
Menurut Sihabudin, (2009), ada tiga kemungkinan dalam pengembangan sistem pembelajaran berbasis internet, yaitu:
a. Web course
Penggunaan internet untuk keperluan pendidikan, yang mana peserta didik dan pengajar sepenuhnya terpisah dan tidak diperlukan adanya tatap muka.Seluruh bahan ajar, diskusi, konsultasi, penugasan, latihan, ujian, dan kegiatan pembelajaran lainnya sepenuhnya disampaikan melalui internet. Dengan kata lain model ini menggunakan sistem jarak jauh.
b. Web centric course
Penggunaan internet yang memadukan antara belajar jarak jauh dan tatap muka (konvensional). Sebagian materi disampikan melalui internet, dan sebagian lagi melalui tatap muka. Fungsinya saling melengkapi. Dalam model ini pengajar bisa memberikan petunjuk pada siswa untuk mempelajari materi pelajaran melalui web yang telah dibuatnya. Siswa juga diberikan arahan untuk mencari sumber lain dari situs-situs yang relevan. Dalam tatap muka, peserta didik dan pengajar lebih banyak diskusi tentang temuan materi yang telah dipelajari melalui internet tersebut.
c. Web enhanced course
Pemanfaatan internet untuk menunjang peningkatan kualitas pembelajaran yang dilakukan di kelas. Fungsi internet adalah untuk memberikan pengayaan dan komunikasi antara peserta didik dengan pengajar, sesama peserta didik, anggota kelompok, atau peserta didik dengan nara sumber lain. Oleh karena itu peran pengajar dalam hal ini dituntut untuk menguasai teknik mencari informasi di internet, membimbing mahasiswa mencari dan menemukan situs-situs yang relevan dengan bahan pembelajaran, menyajikan materi melalui web yang menarik dan diminati, melayani bimbingan dan komunikasi melalui internet, dan kecakapan lain yang diperlukan.
Nedelko (2008), menyatakan ada tiga jenis format penerapan
e-learning, yaitu:
a. Web supported e-learning, yaitu pembelajaran tetap dilakukan secara tatap muka dan didukung dengan penggunaan website yang berisi rangkuman tujuan pemebelajaran, materi pembelajaran, tugas, dan tes singkat.
b. Blended or mixed mode e-learning, yaitu sebagaian proses pembelajaran dilakukan secara tatap muka dan sebagian lagi dilakukan secara online.
c. Fully online e-learning format, yaitu seluruh proses pembelajaran dilakukan secara online termasuk tatap muka antara pendidik dan peserta didik juga dilakukan secara online yaitu dengan menggunakan
2.2.4 Tujuan E-learning
Pada prinsipnya, apapun medianya (komputer, audio, maupun
video) e-learning tersebut mempunyai semacam tujuan atau dampak yang
sama, yakni dapat mengukur sejauh mana user atau student mengerti terhadap pembelajaran yang diberikan. Pengukuran bisa dilakukan dengan berbagai cara seperti dengan memberikan tugas atau kuis didalam
e-learning. Dengan tugas atau kuis tersebut, pengelola e-learning dapat
mengevaluasi dan mengetahui, apakah user/student mereka sudah mengerti atau belum terhadap pelajaran yang diberikan. Jika belum mengerti, maka pembelajaran mungkin akan lebih diperjelas melalui penyediaan sarana untuk tanya-jawab, chatting antara berbagai pihak dalam e-learning dan fitur lainnya. Selain itu pengukuran juga bisa dilakukan melalui survey, polling dan forum. Dengan demikian ada catatan dalam kemajuan sebuah pembelajaran (Alfitman, 2006).
2.3 Quality Assurance pada Learning Management
System (LMS)
Secara umum, Quality Assurance adalah suatu proses penentuan dan pemenuhan standar kualitas yang secara konsisten dan terus- menerus, dengan tujuan untuk meningkatkan kepuasan para stakeholder. Quality
Assurance juga didefinisikan sebagai sistem manajemen dan prosedur
penilaian yang diadopsi oleh suatu organisasi untuk memonitor kinerja terhadap sasaran, dan untuk memastikan pencapaian kualitas output dan peningkatan kualitas. (Belawati & Zuhairi, 2007).
Berdasarkan aspek produk, kualitas dapat dilihat pada materi pembelajaran, tingkat kelulusan, jumlah pendaftar, dan jumlah alumni. Kualitas proses meliputi bidang-bidang seperti proses belajar dan mengajar, bimbingan untuk peserta, dan mengelola informasi peserta. Kualitas produksi meliputi pembuatan course, pembuatan konten cetak dan multimedia, penjadwalan, penyampaian materi pada peserta, dan transmisi konten. Sedangkan kualitas filosofi meliputi hal-hal seperti visi, misi, kebijakan, tata kelola, budaya perusahaan, dan pencitraan di masyarakat (Belawati & Zuhairi, 2007).
Adanya kendala (internal dan eksternal), dapat mempengaruhi kualitas pembelajaran dalam LMS. Kendala internal meliputi relevansi dan kualitas kurikulum dan materi pembelajaran, tingkat keaktifan interaksi peserta, dan kualitas sistem penilaian. Sedangkan kendala eksternal meliputi perilaku peserta (kurang termotivasi, tidak menyiapkan diri menerima pelajaran, hambatan budaya), kemampuan pendanaan yang lebih kecil dari kebutuhan, dan fasilitas infrastruktur (sistem jaringan komunikasi yang tidak dapat diandalkan) (Dhanarajan, 2008).
2.4 Web Course
Untuk mendistribusi kursus (course) melalui Internet (web) dengan menggunakan berbagai fitur kolaborasi dibutuhkan sistem yang dapat mengelola data pendidikan dan pelatihan, yaitu Learning Management
2.4.1 Learning Management System (LMS)
E-learning yang harus dikembangkan bukan hanya sekedar
memasukan bahan ajar, namun lebih bersifat komprehensif, e-learning yang mampu mengakomodasi sistem pembelajaran yang mengatur peran pengajar, siswa, pemanfaatan sumber belajar, pengelolaan pembelajaran, sistem evaluasi dan monitoring pembelajaran. Dalam hal ini e-learning yang diperlukan meliputi suatu sistem pengelolaan pembelajaran online terintegrasi yaitu Learning Management System (LMS) (Munir, 2010).
Pembelajaran online yang menggunakan e-learning sangat ditentukan oleh model LMS yang dikembangkan dan pemanfatannya secara optimal, efektif dan efisien. Menurut Wahono (2003), e-learning merupakan suatu jenis belajar mengajar yang memungkinkan tersampaikannya bahan ajar ke siswa dengan menggunakan media
internet, intranet atau media jaringan komputer lain.
Menurut Rosenberg (2005), menekankan bahwa e-learning merujuk pada penggunaan teknologi internet untuk mengirimkan serangkaian solusi yang dapat meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan.
2.4.2 Dukungan LMS terhadap E-learning
LMS atau platform e-learning atau Learning Content Management System (LCMS) adalah aplikasi yang mengotomasi dan memvirtualisasi
e-learning, saat ini telah tersedia banyak LMS, baik yang komersial atau
pun yang bersifat Open Source.
Beberapa LMS yang komersial adalah ANGEL Learning,
ApexLearning, Blackboard, Desire2Learn, eCollege, IntraLearn, Learn.com, Meridian KSI, NetDimensions_EKP, Open Learning Environment (OLE), Saba Software, SAP Enterprise Learning, dan
lainnya. Contoh LMS yang bersifat Open Source adalah Atutor, Claroline,
Dokeos, dotLRN, eFront, Fle3, Freestyle Learning, ILIAS, KEWL.nextgen, LON-CAPA, MOODLE, OLAT, OpenACS, OpenUSS, Sakai, Spaghetti Learning, dan lainnya (Sutanta, 2009).
Secara umum LMS menyediakan fitur standar untuk e-learning (Sutanta, 2009), diantaranya:
1. Fitur untuk materi pembelajaran, meliputi daftar pelajaran dan kategorinya, silabus, materi pelajaran (berbasis teks atau multimedia), serta bahan pustaka,
2. Fitur untuk diskusi dan komunikasi, meliputi forum diskusi (mailing
list), instant messenger, pengumuman, profil dan kontak instruktur,
serta File and Directory Sharing,
3. Fitur untuk ujian dan tugas, meliputi ujian (exam), tugas (assignment), dan penilaian.
2.4.3 MOODLE
MOODLE adalah Modular Object-Oriented Dynamic Learning Environment merupakan ‘open source’ sistem pembelajaran virtual gratis
yang didirikan dan dikelola oleh Martin Dougiamas seorang WebCT
administrator di Curtin University Australia. MOODLE diciptakan untuk
membantu pendidik untuk memiliki sebuah platform di mana mereka dapat membuat kursus online. MOODLE yang dikembangkan sepanjang waktu oleh beberapa pihak yang membuat kualitas baru dan meningkatkan yang sudah ada. Versi pertama MOODLE diluncurkan pada tahun 2002 dan telah berkembang pesat selama bertahun-tahun merupakan sistem perangkat lunak yang dirancang dari dua komponen dasar, MySQL (Structured Query Language yang merupakan salah satu database open
source paling populer di dunia) dan PHP (Elameer & Idrus, 2010). MOODLE mencakup unsur-unsur berikut:
• tools administrasi,
• registrasi pelajar dan pelacakan fasilitas, • mail internal, diskusi dan berita forum, • chatting dengan atau tanpa moderator, • bahan ajar dasar,
• sumber daya tambahan, termasuk bahan bacaan, dan link ke sumber daya luar di perpustakaan dan di internet,
• self-assessment kuis yang dapat mencetak secara otomatis, • prosedur penilaian formal,
• tools yang memudahkan otorisasi untuk membuat dokumen yang diperlukan termasuk penyisipan hyperlink,
• mampu mendukung berbagai kursus (Moodle.org).
MOODLE adalah sebuah nama untuk sebuah program aplikasi
yang dapat merubah sebuah media pembelajaran ke dalam bentuk web. Aplikasi ini memungkinkan siswa untuk masuk ke dalam “ruang kelas digital” untuk mengakses materi pembelajaran. Dengan menggunakan
MOODLE, dapat dibuat materi pembelajaran, kuis, jurnal elektronik dan
lain-lain. MOODLE adalah Course Management System (CMS), adalah sebuah paket gratis yang dirancang untuk dapat membantu pendidik menciptakan komunitas pembelajaran online yang efektif. MOODLE dapat di-download secara gratis, digunakan, ataupun dimodifikasi oleh siapa saja dengan lisensi secara GNU (General Public License). MOODLE memiliki tiga jenis manajemen, yaitu manajemen situs, manajemen pengguna, dan tentu saja manajemen kursus. Memiliki beberapa modul untuk meningkatkan interaksi antara pengguna. Memiliki karakteristik utama sebagai platform sederhana yang cocok untuk kelas online serta melengkapi pembelajaran tatap muka. MOODLE memiliki komunitas pengguna yang besar dan beragam dengan lebih dari 330.000 pengguna terdaftar hanya dalam http://moodle.org, dengan lebih dari 70 bahasa di 196 negara (Alnsour, et al., 2011).
2.4.3.1 Perbandingan LMS
Dalam memilih LMS, kita membandingkan fitur apa saja yang ditawarkannya. Dengan cara tersebut akan mendapat gambaran yang lebih jelas untuk membuat keputusan, LMS mana yang paling cocok. Kriteria penting yang dibutuhkan untuk memilih LMS yang tepat adanya dukungan terhadap proses bisnis (workflow), format-format file tertentu, standarisasi, dapat diintegrasikan dengan sistem lain, tersedianya upgrade dan patch, serta dapat beradaptasi dengan kebutuhan organisasi (Berking, 2010).
Ketika memilih LMS, prosedur yang dilakukan untuk proses pemilihan sebagai berikut (Hussein, 2011):
1. Identifikasi kebutuhan pengguna.
2. Pilih beberapa LMS yang dapat memenuhi kebutuhan pengguna. 3. Lakukan penilaian (assessment) untuk menemukan kelebihan dan
kekurangan masing-masing LMS.
4. Urutkan berdasarkan kelebihan dan kekurangan.
5. Tentukan LMS mana yang paling sesuai untuk memenuhi kebutuhan pengguna.
Proses tersebut juga dapat digambarkan sebagai berikut:
Gambar 2.2 Proses pemilihan LMS (Hussein, 2011)
Sedangkan menurut Berking(2010) proses pemilihan LMS sebagai berikut:
1. Menentukan kebutuhan
2. Menentukan anggaran untuk membeli system, pelatihan, dan penyesuaian (customization) dengan kebutuhan.
3. Menentukan kategori sistem yang dibutuhkan.
4. Mengidentifikasi spesifikasi masing-masing yang sesuai dengan kategori dan mendukung tipe pembelajaran.
5. Membangun matriks untuk menilai masing-masing LMS dikaitkan dengan dukungannya terhadap kebutuhan.
6. Lakukan penyaringan, hilangkan LMS yang tidak memenuhi kebutuhan atau biayanya melampaui anggaran.
7. Buat matriks yang lebih rinci dari masing-masing LMS yang lolos penyaringan.
8. Buat keputusan.
Fitur-fitur yang dibutuhkan untuk online learning diantaranya manajemen kompetensi, sertifikasi, dan alokasi sumber daya (tempat, ruangan, buku pelajaran, instruktur, dll). Para siswa ditingkatkan aktifitas belajarnya dengan menggunakan fitur-fitur interaktif seperti forum diskusi dan konferensi video. Tabel di bawah ini menunjukkan fitur-fitur yang ditawarkan beberapa LMS (tmdhosting.com/blog/lms-hosting-guide.html):
Tabel 2.1 Perbandingan LMS
(Sumber : tmdhosting.com/blog/lms-hosting-guide.html)
Moodle Dokeos Atutor Docebo JoomlaLMS Bahasa Didukung lebih dari
60 bahasa 34 (dengan level kualitas yang bervariasi) Dukungan bahasa hanya sebagian 18 5 Chat Ya Ya Ya Ya Ya e-Mail Ya - Ya Ya Ya Kalendar Ya Ya Ya - Ya Survei Ya Ya Ya Ya Ya Pengumuman Ya Ya Ya - Ya Buku Nilai Ya Ya Ya Ya Ya Penugasan Ya Ya Ya - -Berbagi berkas Ya - Ya - Ya Kuis Ya Ya Ya Ya Ya Sertifikat Ya Ya Ya Ya Ya Forum Ya Ya Ya Ya Ya Konferensi Ya Ya Ya Ya Ya Peran Ya Ya Ya Ya Ya Template Ya Ya Ya Ya -Absensi Ya - - - Ya
Dari tabel 2.1 dapat disimpulkan bahwa MOODLE memiliki berbagai keunggulan dibandingkan dengan LMS lain.
2.4.3.2 Kelebihan dan Kelemahan LMS MOODLE
MOODLE sebagai sebuah pilihan LMS, memberikan beberapa
kelebihan (Sutanta, 2009), antara lain:
1. Kelengkapan fitur, MOODLE menyediakan fitur yang lengkap untuk sebuah proses pembelajaran, meliputi fitur untuk komunikasi (chatting, messaging, atau forum), fitur untuk pembuatan dan administrasi materi pembelajaran, fitur untuk melacak dan mengikuti perkembangan proses pembelajaran (tracking data) dengan user
interface yang mudah dipahami, fitur untuk perluasan fitur
(ekstensibilitas plugin) yang fleksibel dengan dukungan fasilitas dokumentasi API (guideline, dan template untuk programming).
2. Kemudahan penggunaan, karena hampir seluruh komponen dalam MOODLE dapat diatur secara luar dan fleksibel sesuai dengan kebijakan dan kebutuhan proses pembelajaran di masing-masing institusi.
3. Potensi penerapan, MOODLE dapat diterapkan pada hampir seluruh jenjang pendidikan (penerapan pada pendidikan pra sekolah dan sekolah dasar hanya bisa difungsikan sebagai pelengkap) dan berbagai jenis pelatihan.
4. Tersedia secara gratis, sebagai perangkat-lunak open source (di bawah lisensi GNU PublicLicense), MOODLE memberikan kebebasan untuk mengkopi, menggunakan, dan memodifikasinya.
5. Dapat langsung bekerja tanpa harus melakukan modifikasi pada sistem operasi Unix, Linux, Windows, Mac OS X, Netware, dan sistem lainnya
yang mendukung PHP, termasuk pada sebagian besar provider web
hosting dengan basis data terbaik bagi MOODLE adalah MySQL.
6. Disediakan mengikuti konsep pembelajaran yang komprehensif dan fleksibel.
Kekurangan yang masih dijumpai pada LMS MOODLE (Sutanta, 2009), antara lain:
1. Tidak selalu mendukung terhadap web browser yang ada, sekalipun dapat diperbaharui dengan cara men-download aplikasi MOODLE yang terbaru.
2. Pada pilihan bahasa masih ada beberapa bagian dalam tampilan
e-learning yang tidak dapat dirubah.
2.5 Model ADDIE
ADDIE framework adalah proses desain instruksional yaitu dengan
melakukan 5 (lima) tahap Analysis, Design, Development, Implementation, dan Evaluation. Merupakan suatu pendekatan yang umum banyak digunakan dalam pengembangan program pembelajaran dan pelatihan. Pendekatan ini menyediakan tahapan yang jelas untuk pelaksanaan dan instruksi yang efektif. ADDIE framework membawa desain instruksional dan project life cycle dengan menyediakan proses yang aktif dalam pengembangan dalam pemecahan masalah akan kebutuhan pembelajaran (Peterson, 2003) seperti dijelaskan dalam gambar di bawah ini.
Gambar 2.3 Model ADDIE (Sumber : Elameer & Idrus, 2010)
2.6 Knowledge Management
Manajemen pengetahuan (KM) adalah rangkaian tindakan sistematis yang dilakukan organisasi untuk mendapatkan manfaat yang sebesar mungkin dari ketersediaan pengetahuan. Manajemen pengetahuan juga kadang-kadang didefinisikan sebagai rangkaian kegiatan yang memungkinkan dan mendukung pembelajaran dalam organisasi yang terdiri dari akuisisi pengetahuan, menumbuhkan pengetahuan, saling berbagi pengetahuan dan penggunaan pengetahuan (Shawar, 2009).
2.6.1 Siklus Manajemen Pengetahuan
Siklus Manajemen Pengetahuan Nonaka dan Takeuchi berkonsentrasi pada spiral pengetahuan yang menjelaskan transformasi pengetahuan tacit menjadi pengetahuan eksplisit dan kemudian kembali
menjadi basis pengetahuan untuk individu, kelompok, dan organisasi untuk meningkatkan inovasi dan pembelajaran (Nicosord, 2011) seperti gambar di bawah ini.
Gambar 2.4 Siklus Manajemen Pengetahuan Nonaka dan Takeuchi (Sumber : Nicosord, 2011)
Siklus Manajemen Pengetahuan Nonaka dan Takeuchi terdiri dari empat langkah berikut:
1. Langkah pertama: Sosialisasi (tacit to tacit)
Sebagian besar pengetahuan berada dalam otak manusia, untuk itu dibutuhkan suatu cara untuk mengumpulkan tacit knowledge tersebut. Sosialisasi adalah kegiatan interaksi sosial sebagai media untuk berbagi pengetahuan menggunakan komunikasi face to face. Sebagai contoh adalah komunikasi antara dokter ahli dan bidan di pelatihan deteksi dini kanker.
2. Langkah kedua: Eksternalisasi (tacit to explicit)
Proses eksternalisasi memberikan bentuk pada tacit knowledge dan mengubahnya menjadi pengetahuan eksplisit. Sebagai contoh adalah
jurnalis yang melakukan wawancara dengan dokter ahli, dan kemudian mengemasnya menjadi tulisan yang mudah dimengerti masyarakat. 3. Langkah ketiga: Kombinasi (explicit to explicit)
Kombinasi adalah proses mengkombinasikan pengetahuan-pengetahuan eksplisit menjadi bentuk baru. Tidak ada pengetahuan baru yang dihasilkan pada langkah ini, hanya membuat laporan, analisis, atau basis data baru. Konten diorganisasikan menjadi lebih logis dan terkonsolidasi.
4. Langkah keempat: Internalisasi (explicit to tacit)
Proses konversi terakhir ini terjadi melalui penggabungan pengetahuan yang sudah terkonsolidasi dengan pengetahuan baru. Seorang yang mengerjakan pekerjaan sambil belajar akan meningkatkan pengetahuan tersebut menjadi tacit knowledge individu itu sendiri.
2.6.2 Hubungan antara Knowledge Management System
(KMS) dengan Learning Management System (LMS)
Tujuan KMS adalah untuk mendukung proses transfer pengetahuan yang tepat, pada orang yang tepat, dan pada saat yang tepat (Abdullah, 2008). KMS adalah salah satu jenis system informasi yang mendukung kegiatan yang berhubungan dengan akuisisi, pembuatan, kodifikasi, penyimpanan, transfer, pencarian, dan penggunaan pengetahuan. Saling berbagi pengetahuan akan semakin memperbaiki pemecahan masalah (Tiwana, 2000).
Sedangkan learning management system bertujuan untuk mendukung proses pembelajaran dengan pemanfaatan teknologi internet, yang berfokus pada akuisisi pengetahuan individu. Dengan dukungan teknologi tersebut memungkinkan organisasi untuk focus pada pengembangan strategi pembelajaran untuk mendukung transfer pengetahuan berdasarkan kebutuhan (Mihalca, 2008).
Baik KM maupun LMS mempunyai fitur-fitur yang berfungsi untuk bertukar pikiran, keahlian, pengetahuan, dan kompetensi, serta konten pembelajaran dan berbagai layanan bantuan, yang memungkinkan untuk saling berkomunikasi dan berkolaborasi. Karakteristik yang harus dimiliki
KM dan LMS adalah memiliki struktur pengetahuan yang komprehensif
dalam bentuk konten pembelajaran, mempunyai outline, proses berbagi pengetahuan yang mudah untuk diikuti, dan menggunakan media teknologi untuk berbagi pengetahuan, kolaborasi, dan komunikasi (Yordanova, 2007).
2.6.3 Perbedaan antara Knowledge Management System
(KMS) dengan Learning Management System (LMS)
Proses menangkap pengetahuan dalam KMS sangat mirip dengan proses yang berhubungan dengan pemilihan konten pembelajaran dalam
LMS. Keluaran dari proses pembelajaran seharusnya tidak hanya
mengetahui berbagai fakta dari topik-topik yang berbeda, tetapi juga mendapatkan keahlian yang dapat diterapkan sekaligus membangun
kompetensi. Sehingga proses KMS seharusnya lebih dalam dan terintegrasi dalam penyampaian konten pembelajaran (Yordanova, 2007).
Sebaliknya, proses pembelajaran dengan LMS mengimplementasikan berbagai jenis pelatihan dalam standar pendidikan. Dengan cara tersebut komunikasi dan kolaborasi akan meningkat dan pertukaran kompetensi dapat terjadi (Yordanova, 2007).
2.7 Matriks Signifikan Penelitian
Tabel 2.2 Matriks Signifikan Penelitian
JURNAL PENULIS METODE KONSEP
RANCANGAN
Assesing the Quality of a Web-based Learning System for Nurses
Chi-Yuan Chen, Ray-E Chang, Ming-Chien Hung, Mei-Hsin Lin, Springer Science + Business Media, LLC 2008.
survey and data collection with questionnaire web-based learning system, mature information systems success model Effective Lay Outreach
and Media_Based Education for Promoting Cervical Cancer Screening Among Viatnemese American Wowan
Jeremiah Mock, Stephen J. McPhee, Thoa Nguyen, Ching Wong, Hiep Doan, Ky Q. Lai, Kim H. Nguyen, Tung T. Nguyen, Ngoc Bui-Tong, American Journal of Public Health, Vol.97, No.9, pp. 1693-1700, September 2007.
postoutreach questioneraires
lay health worker outreach plus media-based education (combined intervention) or media-based education only. Improving Breast
Cancer Education : The Case of an Evolving Multidisciplinary Module for Undergraduate Medical Students (Lausanne Medical School, 1993-2008)
Maryse Fiche, Domenico Lepori, Daniel Guntern, Patrick Jucker-Kupper, Wendy Jeanneret, Khalil Zaman, Sara Vadot, Jean-rancois. Delaloye, J Cans Educ, 25, pp.101-105, Januari 2010. Kern's framework for curriculum design integrated course content, the develop of electronic course documents, implementation of computer-aided small group learning Instructional Design and e-learning
Husnayati Hussin, Fatimah Bunyarit, Ramlah Hussein, Emerald Journal, Campus Wide Information Systems, Emerald Journal, 26 1, 4-19, 2009. interview, questionnaire based- survey instructional design elements (content, interaction, feedback, interface design, students involvement), effective e-learning environment Redesigning Online Learning for International Graduate Seminar Delivery
Michael Power and Norman Vaughan, Journal of Distance Education, Vol.24, No.2, 2010 design research approach, questionaires to measure awareness, knowledge, and pap testing blended online learning design