Pengaruh Faktor Iklim Terhadap Tanaman
Pada musim kemarau sering kita melihat tanaman ada yang kering dan ada yang layu. Kering disebabkan adanya suhu yang tinggi, sedangkan layu disebabkan adanya kekurangan air. Pada musim hujan kita sering melihat tanaman kerdil dan berbuah sedikit, bahkan ada yang tidak berbuah sama sekali. Hal ini disebabkan oleh zat makanan yang tidak banyak diserap oleh tanaman karena larut oleh air hujan. Pengaruh iklim terhadap tanaman yang perlu kita ketahui adalah: suhu, sinar matahari, air, kelembaban dan angin.
Pengaruh Suhu Terhadap Tanaman Dikenal ada tiga macam suhu yaitu:
a).Suhu minimum: adalah suhu yang paling rendah dimana tanaman masih bisa hidup, sedangkan pada suhu di bawah minimum tanaman sudah tidak bisa hidup lagi.
b).Suhu maksimum : adalah suhu yang paling tinggi dimana tanaman masih bisa hidup, sedangkan pada suhu di atas maksimum tanaman sudah tidak bisa hidup lagi.
c).Suhu optimum : adalah suhu dimana tanaman tumbuh dan berproduksi dengan sebaik-baiknya. Pada temperatur ini cocok untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Untuk tanaman hortikultura berdasarkan kisaran temperatur optimumnya dapat dikelompokkan menjadi: (1) Tanaman dengan kisaran temperatur optimum yang rendah (cool season crops); (2). Tanaman dengan kisaran temperatur optimum yang tinggi (warm season crops).
Pengaruh Sinar Matahari Terhadap Tanaman
Pengaruh sinar matahari pada tanaman hortikultura dibedakan atas dua:
1).Pengaruh teriknya/kerasnya sinar matahari; setiap tanaman berbeda-beda responnya terhadap kerasnya sinar matahari. Ada tanaman yang tumbuh baik pada tempat yang terbuka, sebaliknya ada tanaman yang tumbuh lebih baik pada tempat yang memakai peneduh atau di tempat yang teduh.
2).Pengaruh lama/panjangnya sinar matahari terhadap tanaman; disebut juga foto-periodisme. Perkembangan tanaman sehari-hari dipengaruhi oleh lama/panjangnya penyinaran. Perkembangan tanaman di daerah tropis berbeda dengan di daerah temperata. Menurut reaksi tanaman sesuai dengan panjangnya penyinaran maka dibedakan tiga jenis tanaman: (1) Tanaman yang membutuhkan penyinaran panjang. (2) Tanaman yang membutuhkan penyinaran pendek.
(3) Tanaman yang reaksinya netral. Kegagalan bagi beberapa tanaman yang dibibitkan di Indonesia seperti Paprika, jenis-jenis kubis dll disebabkan karena fotoperiodisme yang tidak sesuai.
Pengaruh Air Terhadap Tanaman
Merupakan kebutuhan terbesar bagi tanaman. Kandungan air tiap tanaman berbeda-beda, berkisar dari 90 % untuk tanaman muda sampai kurang dari 10 % untuk tanaman yang menua. Tanaman yang mengandung minyak kandungan airnya juga sedikit. Bagi tanaman keras atau tanaman menahun kandungan airnya akan menurun sesuai dengan umurnya.
Air yang dibutuhkan oleh tanaman adalah air yang terdapat di dalam tanah yang ditahan oleh butir-butir tanah, air hujan dan air irigasi. Tanaman lebih banyak memerlukan air pada masa pertumbuhan vegetatifnya. Bila pada masa mudanya tanaman menderita kekurangan air akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tanaman itu sendiri. Oleh karena itu tanaman pada masa ini sangat peka terhadap kekurangan air. Masa ini disebut masa kritis, yang tidak sama untuk semua tanaman. Misalnya untuk kentang masa kritis itu pada masa umbi terbentuk.
Pengaruh Kelembaban Terhadap Tanaman
Kelembaban udara berpengaruh terhadap penguapan pada permukaan tanah dan penguapan pada daun. Bila kelembaban udara tinggi sangat menguntungkan tumbuhnya cendawan/fungi yang berarti merugikan petani. Tetapi kelembaban yang tinggi akan berpengaruh terhadp tumbuhnya organ vegetatif.
Pengaruh Angin Terhadap Tanaman
Angin merupakan unsur penting bagi tanaman. Karena angin dapat: Mengatur penguapan/temperatur
Membantu penyerbukan, lebih-lebih penyerbukan bersilang Membawa uap air, sehingga udara panas menjadi sejuk Membawa gas-gas yang sangat dibutuhkan oleh tanaman
Tanaman bisa terbakar karena angin
Penyerbukan karena angin, bijinya tidak bisa menjadi murni sehingga tanaman perlu diisolasi Dapat menyebarluaskan gulma.
Membawa serangga tertentu ke mana-mana Angin yang kencang dapat merebahkan tanaman
Salah satu jalan untuk mengatasi pengaruh buruk angin, ialah dengan jalan menanam pohon penahan angin yang dapat menjamin perlindungan sejauh 15 – 20 kali tinggi pohon pelindung. Misalnya tinggi pohon 10 meter, tanaman sejauh 150 – 200 meter dapat dilindungi sehingga memperlambat kecepatan angin. Angin dengan kecepatan 4 – 5 sampai 6 – 7 m/sek sudah tidak mampu untuk merobohkan tanaman.
Hubungan Lapisan Tanah Dengan Tanaman
Tanah adalah tempat tumbuh bagi tanaman. Di lapangan pertanian tanah adalah alat produksi untuk menghasilkan hasil pertanian. Sebagai alat produksi pertanian, maka tanah berfungsi sebagai tempat tegak tanaman, sebagai tempat persediaan air dan udara sehingga akar dapat bernafas dan menghisap makanan dari dalam tanah.
Secara garis besar ada tiga lapisan tanah yaitu:
a). Lapisan tanah atas (top soil). Lapisan ini biasanya berwarna coklat atau kehitam-hitaman dan lebih lunak. Lapisan ini merupakan tempat tumbuhnya tanaman sehingga disebut tanah pertanian. Pada lapisan ini juga terdapat jasad hidup (mikro dan makroorganisme).
b). Lapisan tanah bawah (sub soil). Lapisan ini berwarna lebih muda dan terang, lebih padat dan kandungan bahan organiknya lebih sedikit. Umumnya lapisan ini kurang subur, dan jasad hidup juga lebih sedikit. Perakaran tanaman kurang menembus lapisan ini kecuali tanaman keras yang memiliki sistem perakaran tunggang yang dalam.
c). Lapisan bahan induk. Lapisan ini masih merupakan batuan pejal karena belum mengalami proses pelapukan. Batuan ini dapat digolongkan dalam batuan beku dan batuan endapan atau
batuan metamorfose. Dengan proses yang lama dan dipengaruhi oleh beberapa faktor bahan-bahan ini akan berubah menjadi tanah di atasnya.
Proses Pembentukan Tanah
Perkembangan tanah dari batuan induk yang padat menjadi lunak (subsoil dan top soil) memakan waktu lama sampai ratusan bahkan ribuan tahun. Perubahan itu terjadi karena proses pelapukan karena pengaruh iklim. Yang termasuk iklim disini adalah: sinar matahari, perbedaan temperatur antara siang dan malam, keadaan musim kemarau dan penghujan, dan air hujan. Pelapukan itu sendiri ada tiga macam yaitu: pelapukan fisik, pelapukan kimia dan pelapukan biologis
Pelapukan fisik
Sering disebut alterasi yaitu proses pemecahan dan pelembutan batuan tanpa mengalami perubahan susunan kimia dan tak ada pembentukan mineral baru. Hasil pelapukan ini merupakan pecahan batuan dan mineral dengan susunan kimia yang sama dengan batuan aslinya. Pelapukan fisik berlangsung pada daerah yang beriklim kering dan panas. Penyebabnya adalah pergantian temperatur yang sangat besar antara siang dan malam hari.
Pelapukan kimia
Adalah proses pelapukan dan penguraian pecahan batuan dan mineral-mineral ke dalam unsur penyusunnya yang biasanya disertai dengan pembentukan mineral-mineral baru. Pelapukan terjadi karena pengaruh reaksi kimia, sehingga terjadilah penguraian ke dalam unsur-unsur penyusunnya. Senyawa yang larut yang terlepas bersama dengan sisa penguraian akan membentuk mineral-mineral baru.
Mineral baru yang terjadi selama pembentukan tanah disebut mineral sekunder, sedang mineral asli disebut mineral primer. Penyebab utama pelapukan kimia adalah air (air yang penuh gas O2
dan CO2 menjadi katalisator reaksi kimia). Reaksi kimia yang melarutkan dan menguraikan
mineral-mineral antara lain: oksidasi, reduksi, hidratasi, hidrolisis, pembentukan senyawa karbonat dan pelarutan. Contoh CaCO3 + H2OCa(HCO3)2 (asam karbonat yang bisa melarut).
Pelapukan biologis
Pelapukan disebabkan oleh kegiatan tanaman dan hewan, baik tingkat tinggi maupun tingkat rendah. Akar tumbuhan tingkat tinggi masuk ke dalam celah-celah (retakan) batuan dan membantu memecahkan batuan. Mikro dan makro organisme mempertinggi kandungan CO2
karena pernafasan dan juga menambah keasaman tanah. Penguraian sisa organis oleh mikroba tanah menghasilkan CO2 , asam-asam organik dan anorganik yang membantu juga pelapukan
secara kimia. Semua jasad hidup tanah, selanjutnya hidup dan mati pada tanah dan akhirnya membantu mempercepat pembentukan tanah.
Ketiga macam pelapukan tanah tidak berdiri sendiri tetapi susul-menyusul atau bersama-sama bekerja menghancurkan batuan. Sedikit-demi sedikit dan terus-menerus proses fisik, kimia dan biologi berlangsung, sehingga terbentuklah tanah pertanian.
Sifat-sifat Fisik dan Morfologi Tanah
Sifat morfologi tanah adalah sifat-sifat tanah yang dapat diamati dan dipelajari di lapangan. Sebagian dari sifat-sifat morfologi tanah merupakan sifat-sifat fisik dari tanah tersebut.
Warna Tanah
Warna merupakan petunjuk untuk beberapa sifat tanah, karena warna tanah dipengaruhi oleh beberapa faktor yang terdapat dalam tanah tersebut. Penyebab perbedaan warna umumnya disebabkan oleh perbedaan kandungan bahan organik. Makin tinggi kandungan bahan organik warna tanah makin gelap. Di lapisan bawah kandungan bahan organiknya rendah, warna tanah dipengaruhi oleh bentuk dan banyaknya senyawa Fe. Di daerah yang selalu tergenang air seluruh tanah berwarna abu-abu karena senyawa Fe terdapat dalam keadaan reduksi (Fe ++).
Tanah yang berdrainase baik yaitu tanah yang tidak pernah terendam air, Fe terdapat dalam keadaan oksidasi (Fe +++) misalnya dalam senyawa Fe2O3 (hematit) yang berwarna merah atau
Fe2O3.3 H2O (limonit) yang berwarna kuning coklat. Bila tanah kadang-kadang basah dan
kadang-kadang kering maka disamping warna abu-abu didapat pula bercak-bercak karatan merah atau kuning. Beberapa jenis mineral seperti kuarsa dapat menyebabkan warna tanah menjadi lebih terang.
Tekstur Tanah
Tanah terdiri dari berbagai ukuran. Bagian tanah yang berukuran lebih dari 2mm sampai lebih kecil dari pedon disebut fragmen batuan atau bahan kasar (kerikil sampai batu). Bahan-bahan tanah yang lebih halus (< 2mm) disebut fraksi tanah halus yang dapat dibedakan menjadi:
Pasir : 2 mm - 50µ Debu : 50µ - 2µ Liat : kurang dari 2µ
Tekstur tanah menunjukkan kasar halusnya tanah dari fraksi tanah halus (< 2 mm). Berdasarkan atas perbandingan banyaknya butir-butir pasir, debu dan liat maka tanah dikelompokkan kedalam beberapa kelas tekstur:
Kasar : Pasir, Pasir berlempung
Agak kasar : Lempung berpasir, Lempung berpasir halus
Sedang : Lempung berpasir sangat halus, Lempung, Lempung berdebu, Debu Agak halus : Lempung liat, Lempung liat berpasir, Lempung liat berdebu.
Halus : Liat berpasir, Liat berdebu, Liat
Di lapangan tekstur tanah dapat ditentukan dengan memijit tanah basah di antara jari-jari, sambil dirasakan halus kasarnya yaitu dirasakan adanya butir-butir pasir, debu dan liat sebagai berikut.
Pasir: rasa kasar sangat jelas; tidak melekat; tidak dapat dibentuk bola dan gulungan. Pasir berlempung: rasa kasar jelas; sedikit sekali melekat; dapat dibentuk bola yang
mudah sekali hancur.
Lempung berpasir: rasa kasar agak jelas; agak melekat; dapat dibuat bola mudah hancur. Lempung: rasa kasar dan tidak licin; agak melekat; dapat dibentuk bola agak teguh; dapat
sedikit dibuat gulungan dengan permukaan mengkilat.
Lempung berdebu: rasa licin; agak melekat; dapat dibentuk bola agak teguh, dapat dibuat gulungan dengan permukaan mengkilat.
Debu: rasa licin sekali; agak melekat; dapat dibentuk bola teguh,; dapat dibuat gulungan dengan permukaan mengkilat.
Lempung berliat: rasa agak licin; agak melekat; dapat dibentuk bola agak teguh, dapat dibentuk gulungan yang agak mudah hancur.
Lempung liat berpasir: rasa halus dengan sedikit bagian agak kasar; agak melekat; dapat dibentuk bola agak teguh, dapat dibentuk gulungan mudah hancur.
Lempung liat berdebu: rasa halus agak licin; melekat; dapat dibentuk bola teguh; gulungan mengkilat.
Liat berpasir: rasa halus, berat, tetapi terasa sedikit kasar; melekat; dapat dibentuk bola teguh, mudah digulung.
Liat berdebu: rasa halus, berat, agak licin; sangat lekat; dapat dibentuk bola teguh, mudah digulung.
Liat: rasa berat, halus; sangat lekat; dapat dibentuk bola dengan baik, mudah digulung. Struktur Tanah
Struktur tanah merupakan gumpalan kecil dari butir tanah. Gumpalan terjadi karena butir-butir pasir, debu, dan liat terikat satu sama lain oleh suatu perekat seperti bahan organik, oksida-oksida besi dan lain-lain. Gumpalan-gumpalan ini mempunyai bentuk, ukuran dan kemantapan (ketahanan) yang berbeda-beda. Menurut bentuknya struktur dibedakan menjadi:
Lempeng (platy) : sumbu vertikal < sumbu horisontal. Ditemukan pada horison E atau pada lapisan padas liat.
Prisma: sumbu vertikal > sumbu horizontal dan bagian atasnya rata. Ditemukan di horison B tanah daerah iklim kering.
Tiang: sumbu vertkal > sumbu horisontal dan bagian atasnya membulat. Ditemukan di horison B tanah daerah iklim kering.
Gumpal bersudut: seperti kubus dengan sudut-sudut tajam. Sumbu vertikal = sumbu horisontal. Ditemukan di horison B tanah daerah iklim basah.
Gumpal membulat: seperti kubus dengan sudut-sudut membulat. Sumbu vertikal = sumbu horisontal. Ditemukan di horison B tanah daerah iklim basah.
Granuler: bulat-porous. Ditemukan di horison A Remah: bulat sangat porous. Ditemukan di horison A
Di daerah curah hujan tinggi umumnya ditemukan struktur remah atau granuler di permukaan dan gumpal di horison bawah. Di daerah kering sering dijumpai tanah dengan struktur tiang atau prisma di lapisan bawah.
Ukuran struktur tanah berbeda-beda sesuai dengan bentuknya. Struktur lempeng ukurannya 1 – 10 mm, prisma dan tiang 10 – 100 mm, gumpal 5 – 50 mm, granuler 1 – 10 mm, sedangkan remah 1 – 5 mm.
Tanah dengan struktur baik (granuler, remah) mempunyai tata udara yang baik, unsur-unsur udara yang baik, unsur-unsur hara lebih mudah tersedia dan mudah diolah. Struktur tanah yang baik adalah yang bentuknya membulat sehingga tidak dapat saling bersinggungan dengan rapat. Akibatnya pori-pori tanah banyak terbentuk. Disamping itu struktur tanah harus tidak mudah rusak (mantap) sehingga pori-pori tanah tidak cepat tertutup bila terjadi hujan.
Konsistensi Tanah
Konsistensi tanah adalah kekuatan daya kohesi butir-butir tanah atau daya adhesi butir-butir tanah dengan benda lain. Hal ini ditunjukkan oleh daya tahan tanah terhadap gaya yang akan mengubah bentuk. Gaya-gaya tersebut misalnya pencangkulan, pembajakan dll. Tanah yang mempunyai konsistensi baik umumnya mudah diolah dan tidak melekat pada alat pengolah tanah. Oleh karena tanah dapat ditemukan dalam keadaan lembab, basah atau kering maka konsistensi tanah disesuaikan dengan keadaan tanah tersebut.
Dalam keadaan lembab tanah dibedakan kedalam konsistensi gembur (mudah diolah) sampai teguh (agak sulit dicangkul). Dalam keadaan kering, tanah dibedakan ke dalam konsistensi lunak sampai keras. Dalam keadaan basah, dibedakan kedalam konsistensi plastis sampai tidak plastis atau tidak lekat sampai lekat.
Di lapangan tanah yang dalam kondisi lembab atau kering konsistensi tanah ditentukan dengan meremas segumpal tanah. Bila gumpalan tersebut mudah hancur, maka tanah dikatakan berkonsistensi gembur atau lunak. Bila gumpalan tanah sukar hancur dengan remasan tersebut tanah dikatakan berkonsistensi teguh atau keras
Sifat-Sifat Kimia Tanah
Pertumbuhan tanaman dipengaruhi oleh bermacam-macam faktor antara lain: sinar matahari, suhu, udara, air serta unsur-unsur hara dalam tanah (N, P, K dll). Tanah merupakan perantara
penyediaan faktor-faktor tersebut kecuali matahari. Pertumbuhan tanaman tidak hanya dipengaruhi oleh tersedianya unsur hara dalam tanah, tetapi juga faktor-faktor lain seperti tersebut di atas. Terhadap unsur hara pertumbuhan tanaman dibatasi oleh faktor yang paling jelek (Ingat hukum minimum dari Liebig).
pH Tanah
Menunjukkan sifat kemasaman atau alkalinitas tanah. pH tanah umumnya berkisar dari 3,0 – 9,0. Di Indonesia umumnya tanahnya bereaksi masam dengan pH 4,0 – 5,5 sehingga tanah dengan pH 6,0 – 6,5 sering dikatakan cukup netral meskipun sebenarnya masih agak masam. Di daerah rawa-rawa sering ditemukan tanah-tanah sangat masam dengan pH kurang dari 3,0 yang disebut tanah sulfat masam (cat clay) karena banyak mengandung asam sulfat. Di daerah yang sangat kering kadang-kadang pH tanah sangat tinggi (> 9,0) karena banyak mengandung garam natrium.
Pentingnya pH Tanah
1). Menentukan mudah tidaknya unsur-unsur hara diserap tanaman. Umumnya unsur hara mudah diserap akar tanaman pada pH tanah sekitar netral, karena pada pH tersebut unsur hara mudah larut dalam air. Pada tanah masam unsur P tidak dapat diserap tanaman karena difiksasi oleh Al, sedangkan pada tanah alkalis unsur P juga tidak dapat diserap tanaman karena difiksasi oleh Ca.
2). Menunjukkan kemungkinan adanya unsur-unsur beracun. Pada tanah masam banyak ditemukan ion-ion Al di dalam tanah. Kecuali memfiksasi P juga merupakan racun bagi tanaman. Pada tanah rawa yang pHnya terlalu rendah menunjukkan kandungan sulfat tinggi, yang juga merupakan racun bagi tanaman. Tanah yang terlalu masam menyebabkan banyak unsur-unsur mikro menjadi mudah larut, sehingga ditemukan unsur-unsur mikro yang terlalu banyak. Unsur mikro dibutuhkan dalam jumlah sedikit oleh tanaman, tetapi kalau terdapat dalam jumlah besar akan menjadi racun bagi tanaman.
3). Mempengaruhi perkembangan mikro organisme. Bakteri berkembang dengan baik pada pH tanah berkisar 5,5 atau lebih. Kurang dari 5,5 perkembangannya sangat terhambat. Jamur berkembang baik pada segala tingkat kemasaman tanah, tetapi pada pH lebih dari 5,5
perkembangannya bersaing dengan bakteri. Bakteri pengikat nitrogen dari udara dan bakteri nitrifikasi hanya dapat berkembang dengan baik pada pH lebih dari 5,5.
Mengubah pH Tanah
Tanah yang terlalu masam dapat dinaikkan pH nya dengan menambahkan kapur ke dalam tanah, sedang tanah yang terlalu alkalis dapat diturunkan pH nya melalui penambahan belerang.
Koloid Tanah
Koloid tanah adalah bahan mineral dan bahan organik tanah yang sangat halus sehingga mempunyai luas permukaan yang sangat tinggi per satuan berat (massa). Termasuk koloid tanah adalah liat (koloid anorganik) dan humus (koloid organik). Menurut Brady (1974) koloid berukuran 0,001µ - 1 µ, sehingga tidak semua fraksi liat termasuk koloid. Koloid tanah merupakan bagian tanah yang sangat aktif dalam reaksi-reaksi fisikokimia di dalam tanah. Partikel koloid yang sangat halus disebut micell (micro cell) umumnya bermuatan negatif.
Karena itu ion-ion bermuatan positif tertarik pada koloid tersebut sehingga terbentuk lapisan ganda ion (ionic double layer). Adanya sistem seperti ini erat kaitannya dengan pertukaran kation dalam proses pemupukan. Kation-Na+ sedang yang termasuk kation-kation asamadalah H+ dan Al+++. Kation-kation basa umumnya merupakan unsur hara yang diperlukan tanaman. Disamping itu basa-basa umumnya mudah tercuci, sehingga tanah dengan kejenuhan basa tinggi menunjukkan bahwa tanah tersebut belum banyak mengalami pencucuian dan merupakan tanah yang subur.
Kejenuhan basa berhubungan erat dengan pH tanah, dimana tanah-tanah dengan pH rendah umumnya mempunyai kejenuhan basa rendah, sedang tanah-tanah dengan pH yang tinggi mempunyai kejenuhan basa yang tinggi pula.
Biologi Tanah dan Bahan Organik Tanah Biologi Tanah
Tanah pertanian yang baik atau tanah yang subur yang biasanya dikerjakan oleh manusia tidak hanya terdiri dari padatan tanah, air dan udara, melainkan juga terdapat jasad-jasad hidup dalam
tanah. Tanpa adanya jasad hidup tanah ini, maka peredaran unsur-unsur hara akan terhenti sehingga kesuburan tanah cepat sekali merosot.
Jasad hidup dalam tanah pada garis besarnya dibedakan menjadi dua golongan besar yaitu: 1). Yang berasal dari tumbuh-tumbuhan : bakteria, cendawan, dan ganggang yang berukuran kecil sekali. Semua ini disebut mikroflora tanah.
2). Yang berasal dari hewan tingkat rendah seperti Protozoa dan Nematoda yang berukuran kecil disebut mikrofauna tanah, sedang yang agak besar disebut makrofauna tanah.
Mikroflora bersama mikrofauna menyusun mikroba tanah. Mikroba tanah dari berbagai ukuran, sebagian besar hidup pada top soil. Semakin ke bawah baik jenis maupun jumlahnya semakin berkurang.
Bahan Organik Tanah
Bahan organik tanah ialah keseluruhan sisa-sisa bahan yang berasal dari jasad hidup, baik yang berupa bahan yang masih segar maupun yang sudah melalui pembusukan. Bahan organik ini mempunyai peranan penting di dalam tanah terutama pengaruhnya tehadap kesuburan tanah.
Sumber Bahan Organik Tanah
Sisa-sisa tanaman baik yang berupa daun-daun, ranting-ranting, batang, dan akar-akar tanaman baik yang masih segar maupun yang sudah terurai merupakan penyusun bahan organik tanah yang terbesar. Sebagian kecil tersusun atas makro dan mikrobia tanah yang sudah mati. Di dalam tanah bahan organik ini senantiasa mengalami penguraian sebagai akibat kegiatan mikroba tanah. Perombakan mulai dari yang komplek menjadi senyawa yang lebih sederhana sampai akhirnya menjadi kation dan ion-ion yang dilepaskan ke dalam tanah. Lama-kelamaan bahan organik tanah akan habis sehingga perlu mendapatkan tambahan. Tambahan itu diperoleh dari:
a). Tanah-tanah hutan, daun-daun dari berbagai tanaman dan sisa hewan yang mati pada permukaan tanah.
b). Pada tanah pertanian bahan organik diperoleh dari sisa tanaman setelah panen, bebagai macam rumput liar, tanaman penutup tanah, dan berbagai pupuk hijau yang dimasukkan ke dalam tanah pada waktu pengolahan tanah.
c). Sumber lain dari bahan organik tanah adalah pupuk kandang, kompos dan berbagai jasad hidup yang sudah mati dalam tanah. Bahan organik yang sudah membusuk akan menjadi bahan humus yang sifatnya lebih stabil.
Humifikasi
Huminifikasi adalah proses pembentukan humus dalam pengolahan bahan organik tanah. Bila tata udara baik dan lancar serta kelembaban cukup maka organisme yang telah mati segera diserang oleh mikro dan makrobia tanah seperti bakteri, cendawan, Protozoa dan Nematoda. Yang mudah terurai adalah dari golongan karbohidrat, protein sedang lemak dan selulose agak lambat. Lignin dan lilin karena mengandung minyak paling lambat penguraiannya. Dengan adanya penguraian ini lambat laun terjadi pengumpulan lignin dan sisa yang tahan penguraian. Kedua bahan ini bersama protein membentuk suatu senyawa baru tahan penguraian yang disebut humus.
Humus berwarna coklat atau coklat kehitam-hitaman, berbentuk non kristalin, dan bersifat koloidal dan mempunyai perbandingan karbon dan nitrogen umumnya antara 10 – 20 %. Di dalam tanah yang terpelihara baik-baik dan dimana aktivitas bakteri optimal, humus merupakan bagian terbesar dari bahan organik total, yakni 80 – 90 %.
Peranan bahan organik tanah
Bahan organik yang telah mengalami penguraian, akan terjadi humifikasidan mineralisasi. Pada humifikasi akan terbentuk humus yang relatif stabil, warna coklat kehitam-hitaman dan bersifat koloidal. Sedang pada mineralisasi dilepaskan berbagai senyawa dan unsur-unsur yang berperanan sebagai unsur hara tanaman. Di dalam tanah bahan organik dan humus bercampur dengan bagian-bagian mineral tanah, sehingga bahan organik memegang peranan:
a.) Warna tanah menjadi coklat kehitam-hitaman.
b). Mempertinggi daya pengikatan air, mempengaruhi struktur tanah terutama pada tanah liat sehingga air dan udara menjadi lancar dan mempermudah pengolahan tanah. Pada tanah yang berpasir mempermudah terbentuk agregat-agregat tanah sekunder yang mudah mengikat air.
c). Warna tanah yang coklat kehitam-hitaman dapat lebih cepat menyerap panas matahari sehingga temperatur tanah bisa naik yang dapat merangsang perkembangan dan kegiatan tanah.
d). Dapat bekerja sebagai pengikat butir primer tanah sehingga dapat menaikkan kemantapan struktur tanah yang tidak mudah rusak karena air hujan.
2. Mempengaruhi sifat-sifat kimia dan kesuburan tanah
a). Menaikkan nilai tukar kation tanah.
b). Merupakan gudang unsur hara dengan melepaskan berbagai unsur pada mineralisasi dan humifikasi bahan organik.
c). Mempertahankan reaksi tanah dan pencucian dengan mengabsorpsi kation-kation dan anion-anion dalam tanah.
d). Asam organik dan asam anorganik yang dilepaskan pada penguraian bahan organik, membantu menguraikan mineral-mineral dan bahan induk tanah.
3. Mempengaruhi kehidupan jasad hidup tanah
Bahan organik merupakan sumber makanan dan energi bagi jasad hidup tanah pada waktu terjadinya penguraian senyawa-senyawa komplek diubah menjadi senyawa-senyawa sederhana dan unsur bebas. Tanpa adanya jasad hidup tanah unsur hara tanaman dalam bahan organik tetap dalam bentuk tidak tersedia bagi tanaman.
Mempertahankan Bahan Organik Tanah
Usaha untuk mempertahankan bahan organik tanah dan untuk menaikkan dengan jalan sebagai berikut:
1). Mengembalikan sisa-sisa bekas tanaman, terutama bahan organik yang mempunyai nilai perbandingan C : N rendah, jangan mengadakan pembakaran sisa-sisa tanaman.
2). Adakan pergiliran tanaman yang tepat.
3). Tanah dipupuk dengan berbagai pupuk hijau, atau tanaman penutup tanah.
4). Dapat juga tanah diberi pupuk kandang dan kompos.
5). Perlu adanya tanaman tumpang sari dan tanaman penutup tanah sehingga oksidasi bahan organik secara langsung dapat dihindari.
6). Dengan mengadakan pengolahan tanah yang cukup, dan mencegah adanya erosi di musim penghujan.
Tanah yang paling baik untuk tanaman adalah tanah yang subur, yang kaya akan sat hara yang dibutuhkan oleh tanaman. Selain subur juga tanaman membutuhkan air yang cukup dan kepadatan tanah yang memadai. Tanaman hortikultura sangat baik tumbuh pada tanah yang remah yaitu tanah yang tidak keras dan tidak berair banyak. Untuk meremahkan tanah agar rata, setelah dibajak kemudian dicangkul.
Bongkahan-bongkahan hasil pembajakan dipecah dengan cangkul sehingga tanah menjadi lembut dan remah. Dalam pengolahan tanah untuk menghindari genangan air perlu dalam petakan dibuatkan bedengan dengan lebar bedengan kira-kira 200 cm. Antara bedengan yang satu dengan yang lain dibuatkan parit dengan kedalaman kira-kira 40 cm dan lebar 20 – 30 cm.
Dalam sektor pertanian, disamping tanah, air merupakan faktor yang ikut menentukan naik turunnya produksi tanaman. Kekurangan air, kelebihan air atau pembagian air yang tidak merata mengakibatkan merosotnya hasil produksi. Tindakan untuk menguasai air dalam tanah dengan cara mengatur air dalam tanah.
Mengatur air di dalam tanah
Dengan masuknya teknik pertanian secara modern air dalam tanah dapat dikuasai dan diatur oleh manusia:
1). Pembajakan yang dalam menyebabkan tanah menjadi lunak dan longgar, sehingga air bisa masuk lebih dalam dan dapat ditahan.
2). Pemberian penutup tanah dan humus secukupnya dapat mengurangi larinya air sehingga dapat meningkatkan kuantitas air yang ditahan.
3). Pada tanah lereng atau miring untuk mengurangi kecepatan aliran air dapat dibikin kontur, sehingga erosi dapat dikurangi dan air dapat ditahan masuk ke dalam tanah.
4). Pada tanah yang tergenang air dapat dibuatkan drainase.
5). Melakukan penyiangan rumput-rumput liar dan pemberian mulsa untuk mengurangi penguapan tanah.
6). Dengan irigasi untuk meningkatkan pemakaian air. Diusahakan antara air yang diuapkan dengan ketersediaan air dalam tanah seimbang.
Drainase
Cara yang dilakukan untuk mengatasi kelebihan air Kerugian bila kelebihan air:
b). Aktivitas jasad hidup tanah berkurang atau sama sekali tidak ada kegiatan.
c). Tanah akan menjadi terlalu dingin, sehingga perkembangan tanaman menjadi lambat.
d). Pengolahan tanah menjadi sulit, biasanya tanah akan melekat pada alat-alat pengolah.
e). Pertumbuhan rumput-rumput pengganggu manjade semakin liar.
Gejala-gejala kelebihan air
1). Perkembangan tanaman tampak terlambat.
2). Tanaman daun-daunnya agak menguning.
Sistem drainase
1. Sistem permukaan tanah
Air dialirkan pada jaringan selokan yang agak menurun, dan selanjutnya diarahkan pada selokan yang lebih besar atau ke sungai. Bentuknya seperti huruf V. Mudah dikerjakan dan mudah pemeliharaannya. Namun permukaannya mudah ditumbuhi rumput sehingga biaya pemeliharaan lebih mahal karena sering dikerjakan.
2. Sistem di bawah tanah
Dengan menanam pipa-pipa di bawah tanah yang telah dilubangi. Lubang bisa menyerupai titik-titik, membujur searah dengan panjang pipa atau melintang. Pipa-pipa ini disebut drain. Pipa drain ini dihubungkan dengan pipa drain yang lebih besar dan selanjutnya dibuang dalam selokan atau bak penampungan.
Irigasi
Tindakan memberikan tambahan air pada saat-saat cadangan air di dalam tanah tidak mencukupi. Irigasi dapat dibedakan menjadi dua yaitu irigasi mutlak dan irigasi tambahan.
Irigasi yang sangat diperlukan pada musim kering. Tanpa irigasi ini tanaman tidak mungkin akan dapat hidup apalagi menghasilkan.
Irigasi tambahan
Irigasi yang berbentuk siraman lewat pipa-pipa air. Disini tanaman masih bisa hidup tetapi hal ini sangat tergantung dengan curah hujan, lebih-lebih pada musim kemarau. Tanpa irigasi tambahan hasilnya akan sangat minim. Irigasi dengan cara ini cukup menguntungkan karena dapat digunakan pada posisi tanah bagaimanapun, baik tanah yang rata maupun yang tidak. Pada tanah yang sangat permeabelpun dapat dipakai misnya tanah pasir yang strukturnya jelek, karena alat dapat dipindah-pindahkan. Tetapi ada juga kekurangannnya yaitu pada saat terjadinya angin kencang pembagian air kurang merata.
Pupuk Anorganik Untuk Tanaman
Pupuk anorganik adalah pupuk yang dibuat oleh pabrik-pabrik pupuk dengan meramu bahan-bahan kimia (anorganik) berkadar hara tinggi. Misalnya pupuk urea berkadar N 45-46% ( setiap 100 kg urea terdapat 45-46 kg hara nitrogen). Jenis pupuk anorganik ini banyak sekali baik bentuk, warna maupun cara penggunaannya. Keanekaragaman pupuk anorganik ini sangat menguntungkan petani jika dipahami betul aturan pemakaiannya, sifat-sifatnya serta manfaatnya bagi tanaman.
Ada beberapa keuntungan penggunaan pupuk anorganik yaitu
1). Pemberiannya dapat terukur dengan tepat karena takaran haranya pas.
2). Kebutuhan tanaman akan hara dapat dipenuhi dengan perbandingan yang tepat.
3). Tersedia dalam jumlah yang cukup.
4). Mudah diangkut karena jumlahnya sedikit, sehingga kalkulasi biaya angkut lebih murah.
Kekurangannya, sedikit mengandung atau sama sekali tidak mengandung unsur mikro, sehingga bila diberikan lewat akar harus diimbangi dengan pemberian pupuk daun yang banyak
mengandung unsur mikro. Ada dua jenis pupuk anorganik yaitu pupuk tunggal dan pupuk majemuk.
Cara Memupuk Dengan Pupuk Anorganik
Cara memupuk sangat tergantung pada jenis tanaman yang dipupuk. Ada tiga cara pemberian pupuk (kecuali pupuk daun) yaitu sebagai berikut.
1). Ditabur atau disebar
Cara ini dapat diterapkan pada pupuk yang berupa butiran atau serbuk. Penaburannya dilakukan ke seluruh lahan yang akan dipupuk. Pemupukan dengan cara ditabur ini biasanya dilakukan pada tanaman yang jarak tanamnya rapat atau tidak teratur dan pada tanaman yang sistem perakarannya dangkal. Kelemahan dari cara ini memungkinkan pertumbuhan rumput pengganggu lebih cepat, kurang mengeni sasaran, dan sering terkikis air.
2). Diletakkan di antara larikan atau barisan
Pada cara ini pupuk ditempatkan di antara dua larikan tanaman yang kemudian ditutup dengan tanah. dari. Cara ini sangat baik dan umumnya dilakukan pada tanaman yang ditanam secara teratur dengan jarak yang lebih leluasa. Keuntungan cara ini ialah perkembangan akar akan lebih cepat sehingga pertumbuhannya akan lebih baik.
3). Ditempatkan dalam lubang
Cara ini umumnya diterapkan pada tanaman tahunan seperti buah-buahan. Lubang untuk pupuk dibuat terlebih dahulu sedalam 30 cm. Letak lubang persis di bawah tajuk di sekitar batang tanaman. Ke dalam lubang tersebut dimasukkan pupuk, lalu ditutup dengan tanah. Pada tanaman muda, lubang cukup dibuat pada jarak 10 cm dari batang. Keuntungan cara ini sama dengan larikan.
Dosis Pemupukan Pupuk Anorganik
Setelah memahami cara-cara memupuk, akan muncul pertanyaan seberapa banyak pupuk diberikan dan berapa banyak unsur hara yang dibutuhkan agar diperoleh hasil yang maksimal? Bagaimana cara menebak dengan tepat hara yang kurang pada tanah yang akan ditanami?
Memberikan jawaban atas dua pertanyaan itru kepada petani agak sulit, namun pertanyaan itu harus dijawab bila ingin sukses dalam budidaya. Untuk itu perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1). Menganalisis tanah
Maksudnya adalah pemeriksaan tanah untuk mengetahui hara yang kurang pada tanah tersebut. Dapat dilakukan di laboratorium atau balai penelitian dinas pertanian. Untuk keperluan penelitian ini diperlukan tanah sampel lebih kurang 1 kg. Sarat tanah yang akan dijadikan sampel adalah: harus bersih dari rumput; tanah dekat pohon; diambil pada kedalaman 15-30 cm untuk tanaman semusim, dan 1 meter untuk tanaman tahunan.
Di laboratorium tanah diteliti secara saksama. Hal-hal yang diteliti meliputi kandungan hara tanah, reaksi tanah, hara yang kurang, dan hara yang berlebih. Dari data hasil penelitian tersebut akan terungkap kondisi tanah tersebut.
2). Memperhatikan gejala pada tanaman
Maksudnya adalah memperhatikan gejala-gejala yang muncul pada tanaman bila kekurangan unsur hara tertentu. Memperhatikan gejala kekurangan unsur hara pada tanaman merupakan ketrampilan dan kebiasaan. Contoh bila tanaman tampak hitam, daun bagian bawah menguning, mengering sampai berwarna coklat muda, batang pendek dan lemah, ini tandanya tanaman kekurangan unsur hara Nitrogen.
3). Menganalisis tanaman
Bagian tanaman yang sudah kering dikirim ke laboratorium dan setelah itu di analisis susunan kimianya. Data hasil analisis dibandingkan dengan analisis tanaman yang sehat sehingga dapat diketahui unsur yang kurang tersebut. Hasil penelitian tersebut akan memperlihatkan zat makanan yang diperlukan tanaman.
4). Melakukan percobaan pemupukan
Menentukan dosis pemupukan yang tepat pada jenis tanaman tertentu dapat ditempuh dengan membuat petak-petak percobaan misalnya dengan ukuran 2m x 2m. Cara ini banyak dilakukan
peneliti untuk mengetahui dosis pemupukan yang tepat bagi suatu tanaman. Petak-petak diolah secara seksama, kemudian ditaburi dengan pupuk misalnya NPK. Dosis pupuk yang ditaburkan berbeda-beda. Dengan dosis yang berbeda akan diperoleh pertumbuhan tanaman yang berbeda. Dosis pada petak yang memberikan pertumbuhan tanaman yang paling baik merupakan dosis yang tepat.
Pupuk Daun dan Penggunaannya
Pupuk daun termasuk pupuk anorganik yang cara pemberiannya ke tanaman melalui penyemprotan ke daun. Sebelum disemprotkan umumnya pupuk daun perlu diencerkan dengan konsentrasi tertentu sesuai dosis yang dianjurkan untuk tanaman. Penyerapan zat haranya jauh lebih cepat dibandingkan dengan pupuk akar sehingga tanaman akan lebih cepat menumbuhkan tunas dan tanah tidak rusak sehingga pemupukan lewat daun dipandang lebih berhasil dibanding lewat akar.
Banyak macam pupuk daun yang dapat dijumpai di pasaran. Namun secara garis besar ada dua bentuk yaitu bentuk cair dan padat. Bentuk padat berupa kristal halus sampai berupa tepung. Kalau kita ingin berhasil menggunakan pupuk daun harus kandungan haranya kita ketahui. Ada dua kelompok pupuk daun berdasar unsur hara yang dikandungnya yaitu unsur makro dan unsur mikro. Namun rata-rata pupuk daun adalah pupuk lengkap yang mengandung unsur hara makro dan unsur mikro.
Penggunaan pupuk daun melalui alat semprot. Sebelum disemprotkan ke daun ada beberapa hal yang perlu diketahui.
a). Konsentrasi pupuknya harus sesuai dengan petunjuk yang ada pada kemasan, jangan berlebihan.
b). Pupuk daun disemprotkan pada daun yang menghadap ke bawah.
c). Penyemprotan dilakukan pada saat matahari tidak terik. Paling ideal dilakukan pada pagi atau sore hari.
d). Penyemprotan jangan dilakukan pada musim hujan.
Pupuk Organik Untuk Tanaman
Sampai tahun 1850 pupuk anorganik belum ditemukan, sehingga seluruh pemupukan menggunakan pupuk organik. Dapat dimaklumi tanah pada saat itu yang dipupuk dengan pupuk organik bertambah subur saja. Selain menambah unsur makro dan mikro pupuk organik terbukti baik dalam memperbaiki struktur tanah pertanian. Pupuk organik tidak lain dihasilkan dari pelapukan sisa-sisa tanaman, hewan dan manusia.
Kelebihan pupuk organik sebagai berikut.
1). Memperbaiki struktur tanah. Saat penguraian bahan organik dalam pupuk organisme tanah dapat sebagai perekat dan dapat mengikat butiran tanah menjadi butiran yang lebih besar.
2). Menaikkan daya serap tanah terhadap air. Bahan organik memiliki daya serap yang besar terhadap air tanah, sehingga pupuk organik berpengaruh positif terhadap hasil tanaman terutama pada musim kering.
3). Menaikkan kondisi kehidupan di dalam tanah. Hal ini disebabkan oleh organisme dalam tanah yang memanfaatkan bahan organik sebagai makanan. Dalam proses pembusukan jasad renik memperoleh makanan dan sumber tenaga. Semakin banyak pupuk organik semakin banyak pula jasad renik dalam tanah.
4). Sebagai sumber zat makanan bagi tanaman. Pupuk organik mengandung zat makanan yang lengkap tetapi kadarnya tidak setinggi pupuk anorganik, dan daya kerjanya lambat. Untuk mencapai hasil maksimal pemakaian pupuk organik hendaknya diimbangi dengan pupuk anorganik. Dengan demikian akan tercipta tanah pertanian yang kaya zat hara, strukturnya gembur atau remah, dan berwarna coklat kehitaman.
Jenis pupuk organik sangat beragam dan ditentukan oleh asal bahan pembentuknya. Dari sini lahir pupuk kandang, kompos, pupuk hijau, humus, pupuk guano.
1). Pupuk Kandang
Berasal dari kotoran ternak baik padat maupun cair. Yang berasal dari feses lebih disukai dibandingkan yang berasal dai urine walaupun kandungan zat haranya lebih tinggi dari feses. Kandungan zat hara dalam pupuk kandang berbeda-beda tergantung dari jenis, usia dan makanan ternak.
Dalam pupuk kandang kita mengenal istilah pupuk panas dan pupuk dingin. Pupuk panas penguraiannya sangat cepat sehingga terbentuk panas, bahan organiknya banyak yang hilang karena menguap dan berubah menjadi gas. Pupuk dingin penguraiannya berjalan sangat lambat sehingga tidak terbentuk panas.
Untuk memperoleh pupuk kandang yang berkualitas harus mengikuti tahapan-tahapan sebagai berikut.
a). Dekomposisi. Penguraian zat yang ada dalam kotoran ternak menjadi zat yang dapat diserap oleh tanaman
b). Pengeringan. Dilakukan di bawah sinar matahari atau alat pengering bila cuaca mendung. Yang baik bila kadar airnya sudah menurun dari 70% menjadi 30%.
c). Pengayakan. Dilakukan untuk membuang materi-materi kasar sampai diperoleh partikel-partikel yang lebih halus.
d). Pemberantasan tanaman pengganggu. Menghilangkan benih-benih tanaman yang terbawa dalam pupuk kandang agar tidak mengganggu tanaman yang akan dipupuk misalnya dengan menggunakan obat khusus polaris.
Menggunakan pupuk kandang untuk tanaman buah-buahan dengan mengisi lubang tanam seminggu sebelum penanaman bibit. Untuk tanaman sayuran dilakukan dengan cara disebar diantara guludan, ditutup tipis dengan tanah. Ada juga menugal terlebih dahulu lalu dalam lubang tugalan diberi pupuk kandang. Untuk tanaman dalam pot pemberian pupuk kandang ¼ - ¾ bagian media tanam.
2). Kompos
Merupakan pelapukan bahan-bahan berupa dedaunan, jerami, alang-alang, rumput, kotoran hewan, sampah kota dan sebagainya. Dapat dibuat oleh manusia dengan cara-cara tertentu. Kandungan zat hara dalam kompos tergantung dari bahan yang dikomposkan, cara pengomposan, dan cara penyimpanannya. Menggunakan kompos sebagai pupuk tidak jauh berbeda dengan pupuk kandang yaitu ditebarkan atau ditaruh dalam lubang tanam.
3). Pupuk Hijau
Disebut pupuk hijau karena yang dimanfaatkan sebagai pupuk adalah hijauan yaitu bagian-bagian daun, tangkai, dan batang tanaman yang masih muda. Umumnya yang digunakan sebagai bahan pupuk hijau adalah tanaman dari golongan Leguminosae yang kaya akan unsur nitrogen.
Penggunaan tanaman Leguminosae sebagai pupuk hijau bila dibenamkan ke tanah adalah :
a). memberi pengaruh baik terhadap kehidupan jasad renik tanah.
b). memperkaya tanah dengan humus atau bahan organik tanah.
c). mengembalikan unsur hara yang tercuci.
d). menekan pertumbuhan rumput liar.
e). mencegah erosi, dan melindungi tanah dari guyuran air hujan yang berlebihan.
Adalah sisa tumbuhan berupa daun, akar, cabang dan batang yang sudah membusuk secara alami lewat bantuan mikroorganisme (di dalam tanah) dan cuaca (di atas tanah). Lapisan atas tanah di hutan banyak terbentuk humus. Ciri khas humus adalah berwarna hitam sampai coklat tua. Sifatnya tidak berbeda dari kompos yaitu mudah mengikat dan merembeskan air dan gembur. Oleh karena itu mudah memperbaiki tanah yang kurang beres. Cara menggunakan tidak jauh berbeda dengan kompos. Karena sulit diperoleh pemakaian hanya terbatas pada pengisi media tanaman pot. Jarang digunakan pada lahan yang luas.
5). Pupuk Guano
Bahannya berasal dari kotoran berbagai jenis burung liar dan kelelawar. Pupuk ini kaya akan berbagai unsur hara seperti N 8-13%, fosfor 5-12%, kalium 1,5-2,5%, kalsium 7,5-11%, magnesium 0,5-1%, dan sulfur 2-3,5%. Sangat baik untuk menyuburkan tanah tetapi sangat sulit diperoleh. Banyak terdapat di gua-gua kelelawar. Pemakaiannya sama saja dengan humus. Harganya bisa mencapai 7 kali lipat dari harga urea sehingga pupuk guano sering hanya digunakan pada tanaman kesayangan.
6). Pupuk organik buatan
Adalah pupuk organik yang sudah melalui proses pabrikasi dan teknologi tinggi. Pupuk yang dihasilkan bersifat organik dengan bentuk fisik dan cara kerjanya seperti pupuk anorganik atau pupuk kimia. Beberapa contoh pupuk organik buatan adalah Asri Kascing, Green Asri, Biopro SO5, MSA (Mukti Sari Asri), SNN (Super Natural Nutrition), Kompos BMF, Biofert-Plus, Mitra Flora, Agro King 2000, Albatros.