• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. lembaga pendidikan yang bercorak klasik lainnya. 1 karena kitab itu sampai

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. lembaga pendidikan yang bercorak klasik lainnya. 1 karena kitab itu sampai"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

1

A. Latar Belakang Masalah

Kitab Ta’lim al-Muta’allim adalah salah satu kitab yang dikarang oleh al-Zarnuji dan diajarkan di lingkungan pondok pesantren, madrasah, serta lembaga pendidikan yang bercorak klasik lainnya.1 karena kitab itu sampai sekarang masih sangat melekat dan berpengaruh dalam lingkungan pondok pesantren, madrasah dan hampir diajarkan di semua lembaga pendidikan Islam.2 Bahkan nilai-nilai pendidikan yang tertuang dalam kitab Ta’lim al-Muta’allim dijadikan suatu dasar tuntunan dan etika dalam belajar bagi mereka secara umum.

Al-Zarnuji merupakan seorang tokoh ulama dalam dunia pendidikan Islam. Ia tergolong sebagai ulama’ klasik yang hidup pada abad pertengahan masa Daulah Abbasiyah. Al-Zarnuji dikenal melalui karya monumentalnya yaitu bernama kitab Ta’lim al-Muta’allim.3 Namun ketenaran nama serta biografinya tidak sehebat kitab yang dikarangnya, sebagai satu–satunya karya beliau yang masih ada sampai sekarang.

Pendidikan yang ditanamkan dalam kitab Ta’lim al-Muta’allim ini adalah pendidikan akhlak mengenai bagaimana seorang peserta didik belajar, dan

1 Moh. Ali, Reorientasi Makna Pendidikan : Urgensi Pendidikan Terpadu, dalam Marzuki Wahid, Suwendi, Saefudin Zuhri (editor). 1999. Pesantren Masa Depan, Bandung: Pustaka Hidayah. Hlm. 172

2

Abu Muhammad Iqbal. 2015. Pemikiran Pendidikan Islam Gagasan-Gagasan Besar Para

Ilmuan Muslim, Yogyakarta : Pustaka Pelajar. Hlm. 378.

3 Al-Zarnuji dalam Syekh Ibrahim bin Ismail. Tt. (syarah) Ta’lim al-Muta’allim, Indonesia: Maktabah Syarqiah. Hlm. 4

(2)

bagaimana seorang pendidik mengajar ilmunya kepada anak-anak didiknya. Hal ini menurut al-Zarnuji adanya relasi antara peserta didik dengan pendidik yang berkaitan dengan akhlak sangat penting, karena kedudukan akhlak dalam kehidupan manusia menempati tempat yang sangat penting, baik sebagai individu maupun sebagai anggota masarakat dan bangsa, sebab jatuh bangunnya atau baik buruknya suatu bangsa tergantung bagaimana akhlaknya.4 Karena pendidikan pada hakekatnya bukan hanya mengisi otak anak didik dengan segala ilmu pengetahuan saja yang belum mereka ketahui, akan tetapi pendidikan merupakan suatu proses pembinaan akhlak dan jiwa mereka, menanamkan rasa keutamaan, membiasakan mereka dalam kesopanan yang tinggi, dan menghindari akhlak yang tercela.5

Lingkungan hidup sangat mempengaruhi perkembangan anak dalam kehidupannya sehari-hari berinteraksi dengan orang-orang yang ada disekelilingnya. Kemudian secara bertahap, anak mulai mengenal orang-orang yang ada di keluarganya, seperti bapak, saudara, teman, tetangga dan masyarakat sekelilingnya, karena setiap anak yang dilahirkan dalam keadaan suci.6 Sedangkan yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi adalah orang tua dan lingkungannya. Hal ini sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh al-Zarnuji tentang fitrah dengan mengutip hadist Rasul SAW,

4 Rahmat Djatnika.1992. Sistem Ethika Islami, Jakarta : Pustaka Panjimas. Hlm. 11.

5 Ally As`ad. 1978. Bimbingan Bagi Penuntuk Ilmu Pengetahuan, (Terjemah Ta`lim al-Muta`alm). Kudus : Menara Kudus. Hlm. 50.

6 Ibnu Hamzah Al Husaini Al Hanafi Ad Damsyqi. 2005 Asbabul Wurud : Latar Belakang Historis Timbulnya Hadits-hadits Rasul: Terjmh H.M. Suwarta Wijaya dan Zafrullah Salim. Jakarta: Kalam Mulia. Hlm.110

(3)

“Menceritakan Hajib bin Walid, menceritakan Muhammad bin Harib tentang Zabidi bin Zuhri menceritakan saya Said bin musaib tentang Abu Hurairah sesungguhnya Rasulullah SAW. Bersabda : “tiada manusia lahir (dilahirkan) kecuali dalam keadaan fitrah, maka orang tuanyalah yang menjadikan mereka Yahudi Nasrani Atau Majusi.”. (H.R.Muslim) 7

Dari hadits ini dapat dipahami betapa pentingnya peranan keluarga, guru dan lingkungan, jika seorang anak dilahirkan dan dibesarkan orang tua dalam lingkungan yang kurang baik, kemudian dilanjutkan di sekolah diajar oleh guru yang kurang pandai mendidik, ditambah dengan lingkungan masyarakat yang kurang mengindahkan akhlak maka hasilnya juga tidak baik.8

Memperhatikan kenyataan tersebut maka akhlak atau etika yang diajarkan menurut al-Zarnuji dalam kitab Ta`lim al-Muta`allim tersebut prinsip pokoknya adalah penghormatan kepada ilmu dan guru serta penghormatan terhadap ilmu pengetahuan serta ulama.9 keutamaan mencarinya, murid yang mempelajarinya serta orang atau guru yang mentransfer ilmu. Dari sinilah nampak etika pendidikan murid yang mensajikan penghargaan terhadap ilmu

7

Imam Abu Husain Muslim Al-Hajj. 1992. Shohih Muslim, jilid II. Beirut: Dar al-Ilmiah, Hlm.458

8 Bambang Sujono.dan Yuliani. 2005. Mencerdasan Perilaku Anak Usia Dini: Jakarta. Elek Media Komputindo. Hlm. 13.

9 Ally As`ad. 1978. Bimbingan Bagi Penuntuk Ilmu Pengetahuan, (Terjemah Ta`lim al-Muta`alm). Kudus : Menara Kudus. Hlm. 35.

(4)

yang begitu tinggi, sangat berpengaruh terhadap motivasi dan dedikasi yang tinggi baik dari anak didik maupun guru. Pembahasan mengenai interaksi guru dan murid oleh al-Zarnuji ditulis dalam Pasal 4 tentang memuliakan ilmu dan ahli ilmu. Sebagaimana nasehat beliau sebagai beikut : 10

“Ketahuilah sesungguhnya orang yang mencari ilmu itu tidak akan memperoleh ilmu dan kemanfaatannya, kecuali dengan menghargai ilmu beserta ahlinya(Ulama),dan menghormati guru serta memulyakannya.”11

Dalam upaya pembentukan akhlak dan kepribadian anak, orang tua dan guru memegang peranan yang sangat penting dan strategis dalam membentuk akhlak atau moral anak yang baik yang bisa menghapus sifat-sifat tercela menjadi sifat terfuji.12

Di tengah situasi sosial masyarakat yang penuh dengan suasana kekerasan, penyimpangan norma, dan makin besarnya tingkat kenakalan anak di mana-mana, maka pendidikan akhlak sangat penting untuk ditanamkan sejak dini ketika anak belum memiliki jangkauan ilmu pengetahuan yang banyak dan pergaulan yang luas. Pendidikan akhlak adalah menanamkan moral anak didik yang merupakan ciri khas yang sedang dikembangkan dan terapkan dalam program-progam dalam kurikulum pendidikan sekarang, sebagai ciri khas pendidikan yang berkarakter bangsa. Hal ini sesuai dengan Pendidikan Agama

10

Syekh al-Zarnuji dalam Syekh Ibrahim bin Ismail. Tt (syarah) Ta’lim al-Muta’allim, Indonesia: Maktabah Syarqiah , Hlm. 16

11 Aliy As`ad. 1978. Bimbingan Bagi Penuntuk Ilmu Pengetahuan, (Terjemah Ta`lim al-Muta`alm). Kudus : Menara Kudus. Hlm. 35.

(5)

Islam dan budi pekerti atau moral adalah pendidikan yang berlandaskan pada aqidah yang berisi tentang keesaan Allah Swt. atau ilmu tauhid sebagaimana yang dijelaskan oleh al-Zarnuji dalam kitab Ta’lim al-Muta’allim pada pasal tiga tentang memilih ilmu, guru, teman dan ketabahan dalam belajar. Dalam memilih ilmu al-Zarnuji mengharuskan untuk mendahulukan ilmu tauhid sebagai sumber utama menanamkan nilai-nilai keimanan kepada Allah.13 Sumber lainnya adalah akhlak yang merupakan manifestasi dari aqidah, yang sekaligus merupakan landasan pengembangan nilai-nilai karakter. Dengan demikian pendidikan Agama Islam dan budi pekerti adalah pendidikan yang ditujukan untuk dapat menserasikan, menselaraskan dan menyeimbangkan antara iman, Islam, dan ihsan.14

Penerapan kurikulum pendidikan berkarakter bangsa ini pada dasarnya sudah ada dan sudah lama diterapkan di pondok-pondok pesantren yang ada di Indonesia baik pesantren tradisional maupun pesantren modern (kholaf).15 Para santri dididik untuk memahami dan mengamalkan nilai-nilai moral atau etika dalam kehidupan sehari-harinya, mereka mempelajari kitab yang sangat populer di setiap kalangan pondok pesantren, yaitu kitab Ta’lim al-Muta’allim sebagai bagian dari kitab wajib yang harus dipelajari oleh setiap santrinya, karena kitab itu merupakan bagian metode belajar utama yang meletakkan konsep-konsep etika sebagai paradigma dasarnya, dan kitab itu tidak diajarkan di madrasah yang ada di luar pesantren, apalagi di sekolah-sekolah negeri para

13 Syekh al-Zarnuji dalam Syekh Ibrahim bin Ismail. Tt (syarah) Ta’lim al-Muta’allim, Hlm. 13 14 Permen No 58 Tahun 2014. Tentang Peraturan Mentri Pendidikan dan Kebudayaan tentang

Kurikulum Tahun 2013 pada sekolah menengah pertama dan Madrsah Tsanawiyah. 15

(6)

siswanya tidak pernah mengenalnya, tetapi sebagian kecil mengenalnya semenjak kitab itu diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Fenomena ini diperkuat dengan kenyataan adanya perbedaan sikap etika keilmuan yang dimiliki oleh para pelajar di pesantren dengan pelajar di sekolah bukan pesantren. Sikap keilmuan para pelajar pesantren itu mereka rata-rata lebih moralis dan agamis atau religius dibandingkan pelajar yang bukan dari pesantren.16 Keilmuan pelajar pesantren sarat dengan nilai moral spiritual sebagaimana pengaruh yang diajarkan kitab Ta’lim al-Muta’allim dan pendidikan Islam lainya. Sementara pelajar yang bukan pesantren relatif kecil atau bahkan hampa dari nilai-nilai tersebut. Hal ini dibuktikan dengan kenyataan yang ada bahwa murid atau santri di pesantren tidak pernah terjadi demo santri kepada para Kyainya, sedangkan siswa di sekolah bukan pesantren itu sering terjadi demo para siswa atau mahasiswa kepada para rektor atau pemimpin universitasnya, hal ini adalah kebiasaan yang mudah ditonton di mana-mana. Fenomena tersebut logis karena metode pengajarannya atau cara belajar mereka berbeda.17 Para santri sudah biasa belajar dengan beberapa petunjuk gurunya yang penuh berkah dan ikhlas dengan penerapan etika pendidikan siswanya sesuai yang diajarkan kitab Ta’lim al-Muta’allim dan dapat memberikan kontribusi terhadap etika, sikap dan prilaku para siswanya.

Sedangkan pelajar yang bukan santri itu masih asing bahkan tidak pernah kenal kitab tersebut, kalaupun ada pendidikan Islam di sekolah itu jumlah jam

16 Ahmad Tafsir. 2013. Ilmu Pendidikan Islami, Bandung. Rosda Karya. Hlm. 306.

17 Abu Muhammad Iqbal. 2015. Pemikiran Pendidikan Islam Gagasan-Gagasan Besar Para Ilmuan Muslim. Yogyakarta : Pustaka Pelajar. Hlm. 378.

(7)

pelajarannya sangat terbatas, mereka lebih banyak mempelajari mata pelajaran umum, sehingga para siswanya jauh dari nilai-nilai moral agama dan sering terjadi perang antar siswa atau bahkan artara siswa sekolah satu dengan para siswa sekolah lainya, mereka sering terjadi tawuran dimana-mana, adanya sekelompok oknum siswa yang bersikap dan berprilaku seperti preman tidak beraturan, seperti yang sedang ngetren sekarang mereka menghentikan mobil di tengah-tengah jalan untuk dipaksa berhenti kemudian dinaikinya, mereka tidak punya etika yang baik, sikap dan prilakunya seperti bukan seorang pelajar yang diharapakan.

Berdasarkan fenomena tersebut, penulis merasa tertarik untuk melakukan pengkajian tentang Etika Murid dalam pendidikan Menurut Persfektif al-Zarnuji.

B. Perumusan Masalah

Berrdasarkan latar belakang permasalahan di atas, maka perumusan masalah penelitian ini adalah sebagai beriku:

1. Bagaimana etika murid dalam Pendidikan menurut al-Zarnuji ?

2. Apa relevansi etika murid dan aktualisasinya dalam pendidikan menurut al-Zarnuji terhadap pendidikan Islam sekarang ?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah tersebut, maka tujuan Penelitian ini sebagai berikut:

(8)

1. Mendeskripsikan etika murid dalam pendidikan menurut al-Zarnuji.

2. Mendeskripsikan relevansi dan aktualisasi etika murid dalam pendidikan menurut al-Zarnuji terhadap pendidikan Islam sekarang.

D. Kajian Pustaka

Berdasarkan pengamatan dan penelusuran penulis tidak menemukan penelitian yang membahas tentang etika murid dalam pendidikan menurut presfektif al-Zarnuji dan relevansi dan aktualisasi etika Pendidikan murid dalam pendidikan menurut al-Zarnuji terhadap pendidikan sekarang. Namun telah ada penelitian yang berkaitan dengan tema pembahasan tersebut di antaranya penelitian yang dilakukan oleh:

1. Zeni Mufida (Skripsi: Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2013) dengan judul “Nilai Pendidikan Karakter dalam kitab Ta’lim al-Muta’allim dan Ayyuhal Walad serta Relevansinya terhadap Pendidikan Agama Islam”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai pendidikan karakter yang ada dalam kitab Ta’lim al-Muta’alim dan Ayyuhal Walad dan untuk mengetahui relevansi nilai pendidikan karakter dalam kitab Ta’lim al-Muta’allim dan Ayyuhal Walad terhadap Pendidikan Agama Islam.18

2. Maemonah (Tesisi : Program Pasca Sarjana IAIN Walisongo Semarang, 2001 berjudul: Reward and Punishment: Sebagai Metode Pendidikan Anak (Studi Pemikiran Ibnu Maskawaih, al-Ghozali dan al-Zarnuji):, yang mana

18 Zeni Mufida. 2013. Nilai Pendidikan Karakter dalam kitab Ta’limul Muta’allim dan Ayyuhal Walad serta Relevansinya terhadap Pendidikan Agama Islam, (Skripsi Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN. Sunan Kalijaga. Yogyakata.

(9)

dalam hubungannya dengan metode reward and punishmemnt, dalam kitab Ta’lim al-Muta'allim menurutnya dapat dilihat melalui hubungan guru dan murid.19

3. Awaludin Pimay. (Tesis Program Pasca Sarjana IAIN Walisongo Semarang, 1999. Konsep Pendidik dalam Islam (Studi Komparasi atas Pandangan al-Ghozali dan al-Zarnuji). Dalam tesis ini dijelaskan tentang konsep pendidik dalam pendidikan Islam secara ideal menurut al-Zarnuji yang dikomparasikan dengan pemikiran Imam al-Ghazali.20

Adapun tesis yang akan penulis ajukan ini adalah sebagai lanjutan dan

pengembangan dari penelitian yang telah ditulis oleh para peneliti sebelumnya. Dalam penelitian yang dilakukan oleh penulis, tentu berbeda dengan penelitian sebelumnya. Perbedaannya, yaitu :

1. Zeni Mufida Kesimpulan dari skripsi ini yang berjudul Nilai Pendidikan Karakter dalam kitab Ta’lim al-Muta’allim dan Ayyuhal Walad serta Relevansinya terhadap Pendidikan Agama Islam.21 Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa nilai pendidikan karakter yang terkandung dalam kedua kitab tersebut antara lain religious, disiplin, kerja keras, demokratis, rasa ingin tahu, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, tanggungjawab, jujur, toleransi, mandiri, peduli sosial. Relevansi nilai

19

Maemonah. 2001, metode reward and punishmemnt, Sebagai Metode Pendidikan Anak (Studi Pemikiran Ibnu Maskawaih, al-Ghozali dan al-Zarnuji), (Tesis Program Pasca Sarjana Fakultas Tarbiyah IAIN Wali Songo Semarang.

20 Awaluddin Pimay. 1999. Konsep Pendidik dalam Islam (Studi Komparasi atas Pandangan al-Ghozali dan Al-Zarnuji),” Tesis PPS IAIN Walisongo Semarang, Semarang: Perpustakaan Pasca Sarjana IAIN Walisongo.

21 Zeni Mufida. 2013. Nilai Pendidikan Karakter dalam kitab Ta’limul Muta’allim dan Ayyuhal Walad serta Relevansinya terhadap Pendidikan Agama Islam, (Skripsi Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN. Sunan Kalijaga. Yogyakata.

(10)

pendidikan karakter dengan Pendidikan Agama Islam sangat relevan, baik tujuan, materi, dan metode yang digunakan dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Fokus pembahasan skripsi Zeni Mufida ini adalah tentang macam-macam nilai pendidikan karakter yang terdapat dalam kitab Ta’limul Muta’allim dan Ayyuhal Walad serta relevansinya terhadap Pendidikan Agama Islam. Sedangkan pembahasan penulis lebih fokus pada etika murid dalam pendidikan menurut al-Zanuji yang berkaitan dengan pendidikan akhlak yang ada dalam kitab Ta’lim al-Muta’allim dan relevansi serta aktualisasi etika Pendidikan murid dalam pendidikan menurut al-Zarnuji terhadap pendidikan Islam sekarang. Jadi, baik secara tema dan judul serta fokus pembahasanya itu sangat jelas sekali berbeda.

2. Maemonah dengan judul tesis: Reward and Punishment: Sebagai Metode Pendidikan Anak (Studi Pemikiran Ibnu Maskawaih, Ghozali dan al-Zarnuji):,22 Bahwa kesimpulan dari penelitian ini adanya hubungan atau relasi antara metode reward and punishmemnt, dalam studi pemikiran Ibnu Maskawaih, al-Ghozali dan al-Zarnuji. Fokus pembahasan Tesis Maemonah ini adalah tentang hubungan atau relasi antara metode reward and punishmemnt, dalam studi pemikiran Ibnu Maskawaih, al-Ghozali dan al-Zarnuji. Sedangkan pembahasan penulis lebih fokus pada etika murid dalam pendidikan menurut al-Zanuji yang berkaitan dengan pendidikan akhlak yang ada dalam kitab Ta’lim al-Muta’allim dan relevansi serta aktualisasi etika Pendidikan murid dalam pendidikan menurut al-Zarnuji

22 Maemonah. 2001, metode reward and punishmemnt, Sebagai Metode Pendidikan Anak (Studi Pemikiran Ibnu Maskawaih, al-Ghozali dan al-Zarnuji), (Tesis Program Pasca Sarjana Fakultas Tarbiyah IAIN Wali Songo Semarang.

(11)

terhadap pendidikan Islam sekarang. Jadi secara tema dan judul serta fokus pembahasanya itu sangat jelas sekali berbeda.

3. Awaludin Pimay. Judul tesis “Konsep Pendidik dalam Islam (Studi Komparasi atas Pandangan al-Ghozali dan al-Zarnuji)”. 23

Dalam tesis ini dijelaskan kesimpulan dalam hasil penelitiannya bahwa konsep pendidik dalam pendidikan Islam secara ideal menurut al-Zarnuji yang dikomparasikan dengan pemikiran Imam al-Ghazali. Fokus pembahasan tesisAwaludin Pimayiniadalah tentang konsep pendidik dalam pendidikan Islam secara ideal menurut al-Zarnuji yang dikomparasikan dengan pemikiran Imam al-Ghazali. Sedangkan pembahasan penulis lebih fokus pada etika murid dalam pendidikan menurut al-Zanuji yang berkaitan dengan pendidikan akhlak yang ada dalam kitab Ta’lim al-Muta’allim dan relevansi serta aktualisasi etika Pendidikan murid dalam pendidikan menurut al-Zarnuji terhadap pendidikan Islam sekarang. Jadi secara tema dan judul serta fokus pembahasanya itu sangat jelas sekali berbeda.

Dari ketiga hasil penelitian tersebut, penulis mencoba berbeda dengan para peneliti sebelumnya, yaitu dengan cara menela`ah dan mencari tahu tentang signifikansi dari kitab Ta’lim al-Muta`allim, untuk mengungkap pemikiran pendidikan al-Zarnuji lebih spesifik tentang etika murid dalam pendidikan menurut al-Zarnuji yang berkaitan dengan pendidikan akhlak yang ada dalam kitab Ta’lim al-Muta’allim.

23 Awaluddin Pimay. 1999. Konsep Pendidik dalam Islam (Studi Komparasi atas Pandangan al-Ghozali dan Al-Zarnuji),” Tesis PPS IAIN Walisongo Semarang, Semarang: Perpustakaan Pasca Sarjana IAIN Walisongo.

(12)

E. Kerangka Pemikiran

1. Tinjauan tentang Etika

Etika atau akhlak merupakan salah satu buah iman oleh karena itu agar anak mempunyai moral yang bagus harus dilandasi dengan iman dan terdidik untuk selalu ingat pasrah kepada-Nya.24 Dengan iman dan takwa yang kuat, akan mampu mengendalikan seseorang sehingga sanggup melakukan perbuatan yang baik dan meninggalkan prilaku sosial yang buruk. Istilah Akhlak, secara etimologi berasal dari bahasa Arab, merupakan bentuk jamak dari Al-khulq, yang artinya gambaran bathin, perangai atau tabiat dan karakternya.25

Imam Al-Ghozali dalam kitabnya “Ihya Uluum al-Din” juz III menjelaskan bahwa “akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang dari padanya timbul perbuatan-perbuatan dengan mudah tanpa memerlukan pertimbangan pemikiran”26

Rahmat Djatnika menjelaskan bahwa “akhlak berarti budi pekerti yang memiliki sinonim dengan kata etika dan moral. Etika berasal dari bahasa Latin, yaitu etos yang berarti kebiasaan, dan kata moral juga berasal dari bahasa Latin yaitu mores yang berarti kebiasaan.27

24

Bambang Sujono.dan Yuliani. 2005. Mencerdasan Perilaku Anak Usia Dini, Jakarta. Elek

Media Komputindo. Hlm.16

25 A. Malik Fadjar dan Abdul Ghafur. 1978. Sistem Ethika Islami, Jakarta : Pustaka Panjimas. Hlm. 83.

26 Al-Ghazali. 2004. Ihya `Ulumuddin, Juz 3 Kairo-Mesir : Darul Hadist. Hlm. 70. 27 Rahmat Djatnika.1992. Sistem Ethika Islami, Jakarta : Pustaka Panjimas. Hlm. 26.

(13)

Pendidikan akhlak ini bukanlah suatu topik yang baru dalam dunia pendidikan. Pada kenyataannya, bahwa pendidikan moral ternyata sudah lama dibicarakan seumur dalam dunia pendidikan itu sendiri. Hal ini berdasarkan penelitian sejarah di seluruh negara yang ada di dunia ini, pada dasarnya pendidikan memiliki dua tujuan utama, yaitu membimbing para siswa atau generasi muda untuk menjadi manusia yang cerdas dan memiliki budi pekerti yang baik.28 Hal ini dijelaskan juga dalam Al-Qur`an mengenai akhlak seorang muslim banyak sekali ditemukan di antara pokok-pokok keutamaan akhlak seperti jujur, kerja keras, disiplin, toleransi, cinta damai, demokratis, menghargai karya-karya orang lain dan lain-lain. Diantara macam akhlak tersebut telah dijelaskan dalam Al-Qur`an surat An-Nisa ayat 135 :29

Artinya :“ Wahai oang-orang yang beriman jadilah kamu penegak

keadilan, menjadi saksi karena Allah, walaupun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabatmu. Jika dia (yang terdakwa) kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tau kemaslahatan (kebaikannya). Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutarbalikan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka ketahuilah Allah Maha Teliti segala apa yang kamu kerjakan.

28 Thomas Lickona. 2012. Educating For Character, (Mendidik Untuk Membentuk Karakter),

Jakarta : Bumi Aksara. Hlm.7.

29 Departemen Agama. 1993. Al-Qur`an dan Terjemahannya, Srabaya : Surya Cipta Aksara. Hlm.

(14)

Demikian pokok-pokok keutamaan akhlak yang ada dalam Al-Qur`an yang menjadi acuan dan pedoman dalam mendidik karakter anak bangsa. Hal ini sesuai dengan penerapan pokok-pokok nilai-nilai pendidikan karakter yang ada 18 macam menurut dinas pendidikan yang sudah diberlakukan sejak tahun 2011, yaitu religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tau, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial dan tanggungjawab.30

2. Tinjauan tentang Murid.

Kata “Murid” berasal dari bahasa Arab, yaitu arada, yu’ridu, iradatan, muridan” yang berarti orang yang menginginkan, dan menjadi salah satu sifat Allah SWT. yang berarti “Maha Menghendaki”.31

Hal ini dapat dipahami karena seorang murid adalah orang yang menghendaki agar mendapatkan ilmu pengetahuan, keterampilan, pengalaman, dan kepribadian yang baik untuk bekal hidupnya agar berbahagia di dunia dan di akhirat dengan jalan belajar yang sungguh-sungguh. Istilah murid ini banyak digunakan dalam tasawuf sebagai orang yang belajar mendalami ilmu tasawuf kepada seorang guru yang dinamai syekh.32

Selain kata murid dijumpai pula kata al-tilmiz yang juga berasal dari bahasa Arab, yang memiliki arti pelajar. Istilah ini antara lain digunakan oleh Ahmad Shalaby. Selanjutnya terdapat pula kata

30

Kemendiknas,PendidikanKarakterbangsa,dalamperpustakaan.kemdiknas.go.id/download/Pendid ikan%20Karakter.pdf, diakses 22 mei 2014.

31 Engr Sayyid Khaim Husayn Naqawi. 1992. Dictionary Of Islamic Terms, Hlm. 235.

32 Abd al-Rahman, Abd al-Khaliq, Al-Fikr Al-Shufi Fi Dhau Al-Kitab Wa Al-Sunnah, (Maktabah Ibn Taimiyah, Kuwait, 1986), Hlm. 316-349.

(15)

mudarris, berasal dari bahasa Arab, yaitu orang yang mempelajari sesuatu.33 Kata ini dekat dengan kata madrasah, sehingga lebih tepat digunakan untuk arti pelajar pada suatu madrasah.

3. Tinjauan Prespektif al-Zarnuji.

Al-Zarnuji Adalah Syaikh Burhan al-Islam al-Zarnuji (W 602 H/1223 M). Seorang penulis atau mushonnif beberapa kitab yang dijadikan panduan dan pegangan berbagai kalangan. Salah satu yang terkenal adalah kitab Ta'lim al-Muta'allim, yang menjelaskan metode belajar dan etika-etika mencari ilmu. Al-Zarnuji merupakan ahli pendidikan dan pengikut fiqih Hanafi.

Adapun nama pribadi yang sebenarnya sampai sekarang belum ditemukan

literatur yang menulisnya.34 Di sisi lain ada orang lain lagi yang dikenal sebagai al-Zarnuji, yaitu Nu’man Ibrahim al-Zarnuji (640 H / 1242 M ) seorang ahli bahasa dari Bukhara dan penulis kitab al-muwadloh fi Syarhi Maqomat al-Hariri.

Menurut al-Zarnuji pembinaan akhlak anak akan berhasil jika guru dan seluruh komponen keluarga bersama-sama membina anak menjadi cerdas, dengan rasa tanggung jawab bersungguh-sungguh dan kasih sayang yang tulus, disamping itu dia harus juga tetap sabar menjadi dewasa dalam berbagai hal dan selalu dibimbing oleh gurunya serta terus menerus dalam belajarnya dan diawasi serta selalu diperhatikan oleh kedua orang tuanya dari pergaulan teman yang kurang baik, lingkungan tempat tinggal yang kurang

33

Engr sayyid Khaim Husayn Naqawi. 1992. Dictionary Of Islamic Terms, Hlm. 375.

34 Aliy As`ad. 2007. Bimbingan Bagi Penuntuk Ilmu Pengetahuan, (Terjemah Ta`lim al-Muta`alm), Kudus : Menara Kudus Hlm. ii.

(16)

kondusif dalam perkembangan moral anak, baik di lingkungan sekolah, maupun di lingkungan keluarga serta lingkungan masyarakat pada umum yang dapat mempengaruhi sikap dan perbuatan siswa yang mencerminkan bahwa siswa tersebut memiliki akhlak mulia.

F. Metode Penelitian

1. Jenis Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang dapat dikatagorikan sebagai penelitaian pustaka (Library Reseach), yaitu jenis penelitian yang dilakukan melalui mempelajari atau tela`ah buku-buku dan sumber-sumber lain yang berkaitan dengan penelitaian yang dilakukannya.35 Pengumpulan datanya dilakukan dengan cara menghimpun data dari berbagai literatur baik sumber rujukan yang primer maupun sekunder. Penelitian ini mengacu pada strategi penelitian etnogrrafi dalam penelitian kualitatif, yakni proses penelitiannya pleksibel dan biasanya berkembang sesuai dengan kondisi dalam merespon kenyataan-kenyataan hidup yang dijumpai di lapangan.36

2. Pendekatan Penelitian

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan filosofis pedagogik, yakni pendekatan yang membahas tentang pemikiran-pemikiran seorang tokoh. Sedangkan pedagogik mencoba menjelaskan tentang seluk-beluk model pendidikan.37 Disamping itu bahwa dalam uraian penelitian ini, khususnya pada bagian analisis, penulis banyak menggunakan teori-teori

35

Mukhtar. 2010. Bimbingan Skripsi tesis, dan Artikel Ilmiah: Panduan berbasis Penelitian Lapangan dan Perpustakaan, Ciputat : Guan Persada Press. Hlm.193.

36 Jonh W. Creswell. 2014. Research Design (Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif dan Mixed

Terjemah Achmad Fawaid). Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Hlm. 20.

37

(17)

filosofis. Penulis memilih untuk menggunakan pendekatan filosofis paedagogis. Karena pendekatan ini lebih fokus mengarah pada tujuan penelitian. Penelitian ini juga mengunakan pendekatan deskriptif kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif yang berupa kata-kata tertulis dan bukan angka yang biasanya disusun kedalam teks yang diperluas. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang mengunakan latar alamiah, dengan maksud menafsirkan fenomena yang terjadi dan dilakukan dengan jalan melibatkan berbagai metode yang ada.38

Karakteristik penelitian kualitatif yakni memiliki ciri yaitu, latar ilmiah, manusia sebagai alat instrument, metode kualitatif, analisis data secara induktif, grounded theory, dan deskriptif. Penelitian ini mempunyai dua ciri yaitu manusia sebagai alat instrument, maksudnya peneliti sendiri atau dengan bantuan orang lain merupakan alat pegumpul data utama. Ciri selanjutnya yaitu penelitian ini bersifat deskriptif, karena itu metodenya juga digolongkan kedalam metode deskriptif, metode deskriptif dapat diartikan sebagai prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan atau melukiskan keadaan subyek atau obyek penelitian pada masa sekarang berdasarkan fakta-fakta yang tampak atau sebagaimana adanya.39

3. Teknik Pengumpulan Data

Berdasarkan jenis penelitian yang penulis gunakan, yaitu penelitaian kepustakaan, maka pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode

38

Lexy j, Moleong, Metodologi penelitian kualitatif, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2013),

Hlm. 5

(18)

dokumentasi yang dilakukan dengan cara mencari, memilih, menyajikan dan menganalisis data-data dari literatur atau sumber-sumber yang berkaitan dengan permasalahan yang diteliti.40

Adapun sumber data yang digunakan dalam metode library research ini, mencakup dua jenis sumber data. Dua sumber data tersebut adalah sebagai berikut penyusunan penelitian tesis ini:41

a. Sumber data primer, yaitu sumber yang berhubungan langsung dengan subjek yang sedang diteliti. Adapun sumber primer penelitian ini adalah kitab Ta`lim al-Muta`allim yang ditulis oleh Syekh al-Zarnuji dalam Syeh Ibrahim bin Isma’il. Tt. Syarah Ta`lim al-Muta`allim. Indonesia: Maktabah Syarqiah.

b. Sumber data sekunder, yaitu karya orang-orang lain yang berkenaan dengan pemikiran tokoh tersebut dan sumber lain yang berkaitan dengan penelitian ini atau dalam arti tidak langsung diperoleh peneliti subjek penelitian. Juga berarti berbagai sumber data yang membahas tentang bab-bab atau isi yang terkandung di dalam kitab Ta'lim al-Muta'allim.

4. Analisis Data

Untuk menganalisis data, penulis menggunakan analisis deskriptif-analitik. Deskriptif berarti menggambarkan secara tepat sifat-sifat suatu individu, keadaan, gejala, atau untuk menentukan penyebaran suatu gejala, atau untuk menetukan ada tidaknya hubungan antara suatu gejala dengan gejala lain dalam masyarakat. Dengan kata lain deskriptif berarti menggambarkan

40 Arif Furchan dan Agus Maimun. 2010. Studi Tokoh: Metode Penelitian Mengenai Tokoh.:

Yogyakartat : Guan Persada Press. Hlm.193.

41

(19)

fenomena-fenomena yang ada baik fenomena yang bersifat alamiah ataupun rekayasa manusia guna memahami bentuk, aktivitas, karakteristik, perubahan, hubungan kesamaan dan perbedaannya dengan penomena lain.42

Hal ini juga bisa dilakukan dengan mengilustrasikan pendekatan linier dan hierrarkis yang dibangun dari bawah ke atas, tetapi dalam praktiknya pendekatan ini lebih interaktif, beragam tahap saling berhubungan dan tidak harus selalu sesuai dengan susunan yang telah disajikan. Pendekatan ini dapat dijelaskan dalam langkah-langkah sebagai berikut: Langkah pertama mengelolah dan mempersiapkan data untuk dianalisis. Kedua membaca seluruh data. Ketiga menganalisis lebih detail dengan meng-coding data.43

Adapun analisis data sebagaimaana diungkapkan oleh Noeng Muhajir secara teknis konten analisis mencakup upaya 1) klasifikasi tanda-tanda yang dipakai dalam komunikasi, 2) menggunakan kriteria sebagai dasar komunikasi, 3) menggunakan teknik analisis tertentu untuk membuat prediksi.44 Penerapan analisis ini dengan membaca, mencermati, memahami, serta mendiskripsikan hasil karya al-Zarnuji tentang etika murid dalam pendidikan.

F. Sistematika Penulisan

Penyusunan tesis ini dibagi menjadi lima bab, bab satu adalah pendahuluan, bab ini berisi tentang latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan dan kegunaan penelitian, kajian pustaka, kerangka teori,

42

Nana Syaodih Sukmadinata. 2010. Metode Penelitian Pendidikan, Bandung: Remaja Rosdakarya. Hlm.72.

43 Jonh W. Creswell. 2014. Research Design (Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif dan Mixed

Terjemah Achmad Fawaid), Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Hlm. 276.

(20)

metode penelitian, dan sistematika pembahasan. Hal ini bertujuan untuk mengarahkan pembaca terhadap esensi dari penelitian ini.

Bab dua, Pengertian pendidikan, etika, dasar dan ruang lingkupnya, tujuan pendidikan etika, perbedaan pendidikan etika dengan pendidikan karakter. Dalam bab ini juga akan dibahas tentang pengertian murid dan kedudukannya, model-model pembelajaran etika. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan pemahaman awal kepada pembaca tentang pembelajaran pendidikan etika.

Bab tiga, yaitu pokok-pokok pemikiran al-Zarnuji. Hal ini akan dibahas tentang gambaran umum isi kitab Ta`lim al-Muta`allim, biografi al-Zarnuji, karya-karyanya dan pemikiran al-Zarnuji tentang pendidikan etika serta konsep-konsep pendidikan etika menurutnya.

Bab empat analisis pemikiran al-Zarnuji tentang pendidikan etika dalam kitab Ta`lim al-Muta`allim dan relevansi serta aktualisasinya terhadap dunia pendidikan masa kini. Bab ini merupakan analisis terhadap pendidikan etika murid menurut al-Zarnuji dalm kitabnya untuk mencari relevansi dan aktualisasi dalam konteks dunia pendidikan Islam sekarang.

Bab lima kesimpulan dan saran, bab ini berisi tentang kesimpulan dari hasil analisis data dan berisi saran yang sesuai dengan pembahasan yang terjadi.

Referensi

Dokumen terkait

Peneliti menjadikan Panti Asuhan ‘Taman Harapan Muhammadiyah’ Lengkong, Bandung sebagai objek penelitian untuk mencari tahu bagaimanakah komunikasi interpersonal

Sehingga penulis mencoba untuk memperbaiki pembelajaran matematika ini dengan melakukan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan judul Meningkatkan Aktivitas Dan

d. Anak mencoba bermain mencari kartu angka yang sesuai dengan jumlah gambar.. Permainan ini terus berlanjut sampai anak mencoba permainannya Berdasarkan hasil observasi

Dengan melihat pada dua hipotesis diatas, peneliti mengambil hipotesis yang pertama, hipotesis ini digunakan untuk mencari jawaban atas rumusan masalah yang ketiga yakni”

Selain itu peneliti telah melakukan pra-riset sebelumnya melalui media sosial Instagram dengan menggunakan fitur polling untuk mencari tahu seberapa banyak

Mengacu pada Pertanyaan Penelitian maka tujuan penelitian yang peneliti maksudkan adalah, mencari tahu bagaimana Pemikiran Hasyim Asy`ari tentang pendidikan Islam,

Penelitian yang dilakukan penulis dalam skripsi ini tidak jauh berbeda dengan peneliti terdahulu, namun peneliti ini lebih difokuskan pada manajemen kesiswaan

Pada bab ketiga, penulis akan mencoba menganalisis rumusan masalah yang telah diangkat yaitu “Mengapa terdapat perbedaan tingkat toleransi dalam kehidupan beragama