• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Setiap warga negara berhak memperoleh pendi-dikan yang bermutu. Untuk dapat menyelenggarakan pendidikan yang bermutu, setiap satuan pendidikan harus memenuhi Standar Nasional Pendidikan yang dilakukan melalui kegiatan akreditasi terhadap ke-layakan setiap satuan/program pendidikan. Menurut Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan dan perubahannya pada Peraturan Pemerintah No. 32 Tahun 2013, Standar Nasional Pendidikan berfungsi sebagai acuan minimal dalam pengelolaan dan penyelenggaraan pendidikan. Acuan tersebut untuk memacu pengelola, penyeleng-gara dan satuan pendidikan meningkatkan kinerjanya dalam memberikan layanan pendidikan yang bermutu. Ruang lingkup Standar Nasional Pendidikan yang harus dilaksanakan oleh pengelola sekolah dalam rangka penjaminan mutu meliputi delapan standar, yaitu: 1) Standar Isi; 2) Standar Proses; 3) Standar Kompetensi Lulusan; 4) Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan; 5) Standar Sarana dan Prasarana; 6) Standar Pengelolaan; 7) Standar Pembiayaan; dan 8) Standar Penilaian Pendidikan.

Standar Nasional Pendidikan yang berkaitan dengan perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan kegiatan pendidikan pada tingkat satuan pendidikan,

(2)

2

kabupaten/kota, provinsi, pemerintah atau nasional agar tercapai efisiensi dan efektif penyelenggaraan pen-didikan yaitu terdapat dalam Standar Pengelolaan Pen-didikan diatur dalam Permendiknas No. 19 Tahun 2007. Dalam Standar Pengelolaan Pendidikan terdapat enam komponen kegiatan penting yang harus di-laksanakan oleh setiap satuan pendidikan dasar dan menengah, yaitu: 1) Perencanaan Program; 2) Pelak-sanaan Rencana Kerja; 3) Pengawasan dan Evaluasi; 4) Kepemimpinan Sekolah/Madrasah; 5) Sistem Informasi Manajemen; dan 6) Penilaian Khusus. Tujuan Standar Pegelolaan Pendidikan dipisahkan menjadi 2, yaitu tujuan secara umum dan tujuan secara khusus (Naskah Akademik Standar Pengelolaan Pendidikan). Tujuan Standar Pegelolaan Pendidikan secara umum untuk meningkatkan mutu layanan minimal Penge-lolaan Pendidikan Nasional. Tujuan secara khusus Standar Pengelolaan Pendidikan untuk: 1) memberikan acuan bagi terwujudnya sistem perencanaan pendidik-an; 2) Memberi kerangka acuan bagi pengorganisasian, pelaksanaan, pemantauan dan pengendalian pendidik-an; 3) Sebagai acuan dasar pengawasan dan penilaian pendidikan; 4) Memberikan acuan dan pedoman me-nyeluruh kepada seluruh warga bangsa dan khususnya yang berkiprah dalam pengelolaan pendidikan; 5) Menciptakan terwujudnya koordinasi dan keterpaduan pelaksanaan amanah pendidikan bagi semua rakyat (education for all) baik secara vertikal maupun horisontal.

(3)

3

Apabila setiap jenjang pengelola satuan pendi-dikan berupaya memberi jaminan mutu dan dilakukan secara terstandar berkelanjutan, maka mutu pendidi-kan Indonesia secara nasional apendidi-kan meningkat. Pening-katan mutu pendidikan akan berdampak pada mutu sumber daya manusia secara nasional. Untuk meme-lihara efektivitas peran para konstituen dalam pengem-bangan kebijakan, pengambilan keputusan, dan penye-lenggaraan pendidikan diperlukan sistem tata pamong (governance). Tata pamong yang baik (good governance) jelas terlihat dari lima kriteria yaitu kredibilitas, transparansi, akuntabilitas, tanggung-jawab, dan adil (BAN-PT 2010:17).

Setiap sekolah di Indonesia berhak untuk meminta akreditasi atau siap untuk dilakukan akre-ditasi oleh Badan Akreakre-ditasi Sekolah secara periodik. Secara konsep, tujuan diselenggarakannya akreditasi sekolah/madrasah ialah 1) memberikan informasi tentang kelayakan sekolah/madrasah atau program kejuruan yang dilaksanakannya berdasarkan Standar Nasional Pendidikan; 2) memberikan pengakuan peringkat kelayakan; 3) memberikan rekomendasi tentang penjaminan mutu pendidikan kepada progam dan atau satuan pendidikan yang diakreditasi dan pihak terkait (BAS-S/M 2009:6). Adapun hasil akre-ditasi sekolah diberi peringkat berdasarkan penilaian diri (instrumen akreditasi) oleh sekolah bersama tim penilai (assessor) dari Badan Akreditasi Sekolah Sekolah/Madrasah (BAS-S/M) yang kemudian oleh Badan Akreditasi Sekolah ditentukan sekolah tersebut

(4)

4

diberi peringkat akreditasi A, B, atau C berdasarkan nilai kualifikasi yang dicapai secara keseluruhan dari Standar Nasional Pendidikan. Hasil akreditasi sekolah menunjukkan perbedaan kualifikasi yang dicapai oleh tiap-tiap sekolah yang mencakup delapan Standar Na-sional Pendidikan, dimana kedelapan Standar NaNa-sional Pendidikan itu diwadahi dalam Standar Pengelolaan Pendidikan. Mengingat Standar Pengelolaan Pendidikan adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan hal perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan kegiatan pendidikan.

Berdasarkan Instrumen Akreditasi SMA/MA dari BAS S/M (2014) tanpa mengabaikan 7 standar lainya dalam Standar Nasional Pendidikan, secara khusus dalam penilaian Standar Pengelolaan Pendidikan diten-tukan kualifikasi berdasarkan enam komponen peng-ukuran standar pengelolaan yang dijabarkan sebagai berikut: (1) Sekolah/Madrasah mendapat kualifikasi A apabila: Merumuskan dan menetapkan visi, mudah dipahami dan sering disosialisaikan. Sedangkan sekolah akan mendapat kualifikasi B jika merumuskan dan menetapkan visi, mudah dipahami dan pernah di-sosialisasikan; (2) Sekolah/Madrasah mendapat kuali-fikasi A apabila: Sekolah/Madrasah memiliki pedoman yang mengatur tujuh atau lebih aspek pengelolaan secara tertulis. Sedangkan kualifikasi B jika memiliki pedoman yang mengatur lima atau enam aspek penge-lolaan secara tertulis; (3) Sekolah/Madrasah mendapat kualifikasi A apabila: Memiliki struktur organisasi yang dipajang di dinding dan disertai uraian tugas yang

(5)

5

jelas. Sedangkan kualifikasi B jika Memiliki struktur disertai uraian tugas yang jelas; (4) Sekolah/Madrasah mendapat kualifikasi A apabila: Sebanyak 76% – 100% kegiatan sesuai dengan rencana kerja tahunan. Sedangkan kualifikasi B Sebanyak 51% – 75% kegiatan sesuai dengan rencana kerja tahunan; (5) Sekolah/-Madrasah mendapat kualifikasi A apabila: Melaksana-kan empat atau lebih kegiatan kesiswaan. SedangMelaksana-kan kualifikasi B melaksanakan tiga kegiatan kesiswaan; (6) Sekolah/Madrasah mendapat kualifikasi A apabila: Me-laksanakan empat atau lebih kegiatan pengembangan kurikulum dan pembelajaran. Sedangkan kualifikasi B melaksanakan tiga kegiatan pengembangan kurikulum dan pembelajaran.

Dari sebagian komponen pengukuran tersebut di atas jelas membedakan kualifikasi sekolah berperingkat A dan B dengan sangat jelas. Meski begitu, Soedjono (2012:2) mengungkapkan faktanya penyelenggaraan akreditasi Sekolah/Madrasah saat ini menghadapi be-berapa persoalan diantaranya (1) hasil akreditasi belum menggambarkan kondisi objektif sekolah; (2) hasil akreditasi belum menunjukkan indikator akuntabilitas; (3) hasil akreditasi sekolah belum dijadikan sebagai alat pembinaan, pengembangan dan peningkatan mutu pendidikan di sekolah; (4) peringkat hasil akreditasi belum menggambarkan kelayakan sekolah; dan (5) hasil akreditasi belum mampu memberikan rekomen-dasi tentang penjaminan mutu pendidikan. Menurut Asmani (2010:27) banyak pihak yang selama ini skeptis terhadap objektivitas proses dan hasil akreditasi,

(6)

6

mereka mengukur ada banyak kejanggalan, penyalah-gunaan, dan penyimpangan yang dilakukan, baik oleh pihak sekolah yang di akreditasi maupun oleh tim asesor yang berkaitan dengan korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN). Karena assesor tidak jarang memberi kesempatan untuk mengadakan apa yang belum tersedia di lapangan.

Penelitian Subagyo (2013) yang bertujuan menge-tahui signifikansi perbedaan keterlaksanaan standar pengelolaan pendidikan antara SD/MI Terakreditasi A dengan B di Kota Salatiga, ditemukan bahwa nilai hasil uji beda (t-test) keofisien t = 0,425; p = 0,674 > 0,05, dengan demikian dari hasil penelitian tersebut artinya tidak ada perbedaan yang signifikan antara SD/MI Terakreditasi A dengan SD/MI Terakreditasi B dalam keterlaksanaan Standar Pengelolaan Pendidikan di Kota Salatiga. Kesimpulan dari penelitian ini kemudian dapat dijadikan landasan bahwa terdapat kesenjangan antara kondisi ideal dengan praktek. Idealnya sekolah yang terakreditasi A merupakan bukti bahwa peringkat itu menunjukkan pengelolaan pendidikan di sekolah telah memenuhi seluruh standar pengelolaan pendidikan.

Hasil penelitian tentang Pengelolaan Pendidikan di SMK Farmasi “Yayasan Pharmasi” Semarang oleh Haryono (2010) menemukan bahwa SMK Farmasi Semarang belum melakukan pengelolaan pendidikan sesuai dengan Standar Pengelolaan Pendidikan secara maksimal, sekolah yang diteliti kurang memahami Standar Pengelolaan Pendidikan.

(7)

7

Berdasarkan hasil penelitian dan uraian di atas ditemukan bahwa pada kondisi ideal sekolah yang terakreditasi A memiliki kualifikasi lebih tinggi dari sekolah terakreditasi B. Namun dari penelitian Subagyo (2013) menunjukkan bahwa Keterlaksanaan Standar Pengelolaan Pendidikan di SD/MI Terakreditasi A dan B di Kota Salatiga tidak ada perbedaan signifikan. Begitu juga dengan penelitian Haryono (2010). Kontradiksi antara keadaan ideal dan hasil penelitian tersebut menarik untuk dilakukan penelitian mengenai keterlak-sanaan standar pengelolaan pendidikan di SMA Terakreditasi A dan B di Kabupaten Semarang.

Di Kabupaten Semarang terdapat 26 SMA Negeri dan Swasta. Bedasarkan penelitian pendahuluan diperoleh data Akreditasi SMA seperti Tabel 1.1 berikut ini:

Tabel 1.1

Daftar Akreditasi SMA Kabupaten Semarang

Peringkat Akreditasi Jumlah Sekolah Jumlah Total Negeri Swasta A 8 4 12 B 0 6 6 C - - - Terakreditasi sebelum 2009/2010 3 0 3 Tidak Terakreditasi 0 3 3 Tidak Terlacak 0 2 2 Jumlah Total 11 15 26

Sumber: Penelitian Pendahuluan, Mei 2015

Penelitian ini menjadi penting untuk segera dilakukan, sebab jumlah SMA yang telah terakreditasi dan yang belum terakreditasi selisihnya cukup banyak, terlebih apabila menyangkut masa berlaku akreditasi bagi SMA Terakreditasi A dan Terakreditasi B di

(8)

8

Kabupaten Semarang perlu untuk dilihat keterlaksana-an stketerlaksana-andar pengelolaketerlaksana-an pendidikketerlaksana-an agar dapat terus menjamin keberlanjutan penjaminan mutu pendidikan. Melalui penelitian ini akan dilihat apakah ada perbeda-an atau tidak mengenai keterlaksperbeda-anaperbeda-an stperbeda-andar penge-lolaan di sekolah terakreditasi A dan B di Kabupaten Semarang, serta belum adanya penelitian yang menje-laskan komponen mana dalam standar pengelolaan pendidikan di SMA Terakreditasi A dan B di Kabupaten Semarang yang keterlaksanaannya masih berada pada kategori Sangat Rendah.

Hal ini menarik minat peneliti untuk dilaku-kannya penelitian dalam kapasitas melihat apakah ada perbedaan signifikan keterlaksanaan standar pengelo-laan pendidikan di SMA Terakreditasi A dan B di Kabupaten Semarang serta menjelaskan komponen mana dalam Standar Pengelolaan Pendidikan di SMA terakreditasi A dan B di Kabupaten Semarang yang keterlaksanaannya masih berada pada kategori Sangat Rendah.

1.2 Rumusan Masalah

Rumusan masalah penelitian ini dirumuskan sebagai berikut:

1. Adakah perbedaan signifikan keterlaksanaan Standar Pengelolaan Pendidikan di SMA terakreditasi A dan SMA terakreditasi B di Kabupaten Semarang?

2. Komponen Standar Pengelolaan Pendidikan mana yang keterlaksanaannya masih berada dalam

(9)

9

kategori Sangat Rendah pada SMA terakreditasi A dan B?

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan persoalan penelitian sebagaimana yang dirumuskan di atas, penelitian ini bertujuan untuk:

1. Mangetahui signifikansi perbedaan keterlaksanaan Standar Pengelolaan Pendidikan di SMA terakre-ditasi A dan B di Kabupaten Semarang

2. Mengetahui komponen mana dalam Standar Pengelolaan Pendidikan di SMA terakreditasi A dan B di Kabupaten Semarang yang keterlaksanaannya masih berada pada kategori Sangat Rendah.

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Manfaat Teoritik

Secara teoritis, hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan sebagai: Bahan kajian yang relevan untuk meningkatkan mutu sekolah, dimana hal ini sejalan dengan Umiarso dan Gojali (2010) yang menjelaskan bahwa peningkatan mutu dalam pendidikan dapat dilakukan melalui prinsip Total Quality Manajemen, secara khusus dalam rangka menuju akreditasi sekolah berkaitan dengan pelaksanaan Standar Pengelolaan Pendidikan sehingga memenuhi ketercukupan standar pelayanan minimal di SMA dalam proses pengelolaan sekolah untuk menjadi lebih baik.

(10)

10

Apabila hasil penelitian ini menemukan tidak ada perbedaan signifikan Keterlaksanan Standar Pegelolaan Pendidikan antara SMA Terakreditasi A dan SMA Ter-akreditasi B maka sesuai dengan hasil penelitian Subagyo (2013). Namun apabila hasil penelitian me-nemukan ada perbedaan signifikan, hal ini berarti penelitian tidak sejalan dengan Subagyo (2013).

1.4.2 Manfaat Praktis

Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat sebagai: Masukan bagi Kepala Sekolah, Penilik dan Pengawas, Pengurus Yayasan, serta Dinas Pendidikan Kabupaten Semarang untuk meningkatkan Pengelolaan Pendidikan.

Referensi

Dokumen terkait

TH22452 Robotika 28 Beacon1 Beacon2 Sound Pulse Sound Pulse Robot Light Pulse BEACON RF Receiver IR Emitter Ultrasonic Emitter Beacon3 Light Pulse Sound Pulse ROBOT RF Transmitter

Strategi belajar self regulated learning merupakan cara yang efektif di perguruan tinggi maka mahasiswa Universitas Terbuka diharapkan dapat mengatur strategi belajarnya

Hasil penelitian Moran dan Volkwein (1988) menunjukkan bahwa iklim organisasi yang baik dapat meningkatkan kolaborasi antar anggota organisasi, lebih banyak dukungan

Untuk mengetahui dan mengkaji upaya hukum yang dapat dilakukan oleh konsumen dalam hal pihak Lembaga bimbingan belajar Ganesha Operation Kebumen tidak bersedia

20 Tahun 2003 Bab XIII, pasal 31 yang di antaranya berisi (1) setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan, (2) setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan

Peta sebaran reservoar hidrokarbon Berdasarkan hasil slicing yang dilakukan pada dua parameter yang dianggap cukup baik dalam memisahkan litologi batupasir yang berperan

Tugas akhir ini memiliki judul “PERENCANAAN DISTRIBUSI PRODUK AIR MINUM DALAM KEMASAN DENGAN PENDEKATAN DISTRIBUTION REQUIREMENT PLANING (DRP)” dimana pembuatan ini

biksu Mei Jue berniat mengumpulkan aliran" putih ( Wu Dang, Kun Lun, dll ) untuk membasmi aliran sesat ... Zhao Min waktu nyerang Zhou Zhiruo memang mengaku kalau dia dari