• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERATURAN DAERAH KOTA TERNATE NOMOR 02 TAHUN 2005

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PERATURAN DAERAH KOTA TERNATE NOMOR 02 TAHUN 2005"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

Menimbang

Mengingat

PERATURAN DAERAH KOTA TERNATE

NOMOR 02 TAHUN 2005

TENTANG PAJAK RESTO RAN

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA TERNATE

a. bahwa dengan ditetapkannya Undang-undang Nemer 34 Tahun 2000 tentang Perubahan Atas Undang-undang Nemer 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Jo Peraturan Pemerintah Nemer 65 tahun 2001 merupakan ebjek pajak yang berdiri sendiri, maka dengan demikian Peraturan Daerah Keta Ternate Nemer 04 Tahun 2000 tentang Pajak Hotel dan Resteran perlu ditinjau kembali dan disesuaikan; b. bahwa berdasarkan pertimbangan huruf a diatas, dan dalam rangka meningkatkan pelayanan perlu menetapkan Peraturan Daerah Keta Ternate tentang Pajak Resteran.

1. Undang-undang Nemer 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana {Lem6aran 'J.&gara 1?:I. 'Tahun. 1981 9I{pmor 76, 'Iambahan. Lembaran 'J.&gara 9I{pmor 3209)i

2. Undang-undang Nemer 17 Tahun 1997 tentang Badan Penyelesaian Sengketa Pajak [Lembaran. 'J.&gara 1?:I. tafiun 1997 9I{pmor 41, Tambahan. Lembaran. 'J.&gara !/?.;I.'l{.omor3684)i

3. Undang-undang Nemer 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Restribusi Daerah(Lembaraa 'lI&gara!/?.;I'Tafiun1997'l{.omor41,'Iambahan.Lembaran. 'lI&gara 'l{.omor3685)sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nemer 34 Tahun 2000 (Lembaran 'lI&gara!/?.;I'Iahun. 2000 9I{pmor246, 'Iambahan. Lembaran 'lI&gara!/?.;I'l{.omor 4048)i

4. Undang-undang Nemer 19 Tahun 1997 tentang Penagihan Pajak dengan Surat Paksa(Lem6aran'll&gara~pu6fikJtufonesia'Tafiun 1997'l{.omor 42,'Iambahan. Lembaran. 'lI&gara!/?.;I9I{pmor3686),

5. Undang-undang Nemer 11 Tahun 1999 tentang Pembentukan Ketamadya Daerah Tingkat II Ternate {Lembaran 'lI&gara 1?:I'Tafiun 1999 9I{pmor45, .'Iambahan. Lembaran. 'lI&gara~pu6{iJ..:.lncfoMSia '1I/9mor3824)i

(2)

6. Undang-undang Nemer 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bebas Dari Kerupsi, Kelusi dan Nepetisme {Lem6aran 9\&gara 'Iahun.1999 'J.{gmor 7~ 'Iambahan.Lembaran.9\&gara'J.£omor3845)i

7. Undang-undang Nemer 10 Tahun 2004, tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan {Lem6aran 9\&gara tahun. 2004 'J.{gmor53, Tambahan.Lembaran. 9\&gara 'J.£omor 4389)i

8. Undang-undang Nemer 32 Tahun 2004, tentang Pemerintahan Daerah (Lembarasi '.J.f!gara 'Iahun. 2004 'J.{gmor 125, Tambahan. Lemburan 9\&gara 'J.{gmor 4337) 9. Undang-undang Nemer 33 Tahun 2004, tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah {Lem6aran 9\&gara 'FuI. 'Iahun. 2004 'J.{g1tUJr

126, 'Iambahan.Lembaran 9\&gara'FuI.'J.{gmor 4338)i

10.Peraturan Pemerintah Nemer 30 Tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin PegawaiNegeri Sipil(Lembaran.9\&gara 'FuI. 'Tahun 1980'J.{g1tUJr50, 'Iambahan. Lembaran 9\&gara'FuI'J.£omor3176)i

11.Peraturan Pemerintah Nemer 65 Tahun 2001 tentang Pajak Daerah {Lem6aran 'J.£egara'FuI.'Iahun. 2001'J.{gmor118,'Iambahan.Lembaran.9\&gara 'FuI.'J.{gmor4138)i 12.Peraturan Menteri Dalam Negeri Nemer 4 Tahun 1997 tentang Penyidik

PegawaiNegeriSipil di Lingkungan Pemerintah Daerah;

13.Keputusan Menteri Dalam Negeri Nemer 172 Tahun 1997tentang Kriteria Wajib Pajak dan Wajib Menyelenggarakan Pembukuan dan Tata Cara Pembukuan;

14. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nemer 173 Tahun 1997 tentang Tata Cara Pemeriksaan di Bidang Pajak Daerah;

15. Keputusan MenteriDalam Negeri Nemer 178 Tahun 1997 tentang Pedeman TataCara Pemungutan Pajak Daerah;

16.Peraturan Daerah Keta Ternate Nemer 04 Tahun 2000 tentang Pajak Hotel dan Resteran.

Dengan Persetujuan Bersama

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KOTA TERNATE dan

WALIKOTA TERNATE MEMUTUSKAN

Menetapkan: PERATURAN DAERAH KOTA TERNATE TENTANG PAJAK RESTO RAN

(3)

BABI

KETENTUAN UMUM Pasal1

Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan : a. Daerah adalah Daerah Kota Temate.

b. Pemerintah Daerah adalah Pemerintah Kota Temate c. Kepala Daerah adalah Walikota Temate

d. Badan Pengelolaan Keuangan Daerah, adalah Badan Pengelolaan Keuangan Daerah Kota Temate e. Pejabat adalah Pegawai yang diberi tugas tertentu di bidang perpajakan daerah sesuai Peraturan

Perundang-undangan yang berlaku .

f. Badan adalah sekumpulan orang dan atau modal yang merupakan kesatuan baik yang melakukan usaha maupun yang tidak melakukan usaha yang meliputi perseroan terbatas, perseroan komanditer, perseroan lainnya, badan usaha milik negara atau daerah dengan nama dan dalam bentuk apapun, firma, kongsi, koperasi, dana pensiun, persekutuan, perkumpulan, yayasan, organisasi masa, organisasi sosial politik, organisasi sejenis lembaga, bentuk usaha serta bentuk badan usaha lainnya;

g. Pajak daerah yang selanjutnya disebut pajak adalah iuran wajib yang dilakukan oleh perorangan atau badan kepada daerah tanpa imbalan langsung yang seimbang yang dapat dipaksakan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku, yang digunakan untuk membiayai penyelenggarakan pemerintahan dan pembangunan daerah;

h. Restoran adalah tempat menyantap makanan dan atau minuman yang disediakan dengan dipungut bayaran.

i. Pajak Restoran adalah pungutan daerah atas pelayanan restoran

j. Objek pajak adalah setiap pelayanan yang disediakan dengan pembayaran di Restoran. k. Subjek pajak adalah perorangan atau badan yang dapat dikenakan pajak daerah I. Wajib pajak adalah pengusaha restoran

m. Wajib pajak Restoran adalah orang atau badan yang menyelenggarakan usaha restoran. n. Masa pajak adalah jangka waktu yang lamanya sarna dengan 1 (satu) bulan takwin atau jangka

waktu lain yang ditetapkan dengan Keputusan Kepala Daerah

o. Tahun pajak adalah jangka waktu yang lamanya 1 (satu) tahun takwin

p. Pajak yang terutang adalah pajak yang harus dibayar pada suatu saat dalam masa pajak dalam tahun pajak atau dalam bagian tahun pajak menurut ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan daerah

q. Surat pemberitahuan pajak daerah (SPTPD) adalah surat yang oleh wajib pajak digunakan untuk melaporkan perhitungan dan atau pembayaran pajak, objek pajak dan atau bukan objek pajak, dan atau harta dan kewajiban menu rut ketentuan Peraturan Perundang-Undangan Perpajakan Daerah

r. Surat ketetapan pajak daerah (SKPD) adalah surat ketetapan pajak yang menentukan besamya jumlah pokok pajak

s. Surat Setoran Pajak Daerah (SSPD) adalah surat yang digunakan olah wajib pajak untuk melakukan pembayaran atau penyetoran pajak yang terutang ke kas daerah atau ditempat lain yang ditetapkan oleh Kepala Daerah

t. Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar (SKPDKB) adalah surat ketetapan pajak yang menentukan besamya jumlah pokok pajak, jumlah kredit pajak, jumlah kekurangan pembayaran pokok pajak, besarnya sanksi administrasi dan jumlah yang harus dibayar. u. Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar Tambahan (SKPDKBT) adalah surat ketetapan pajak

(4)

v. Surat Ketetapan PajakDaerah Lebih Bayar (SKPDLB) adalah surat ketetapan pajak yang menentukan jumlah kelebihan pembayaran pajak karena jumlah kredit pajak lebih besar daripada pajak yang terutang atau tidak seharusnya terutang.

w. Surat Tagihan Pajak Daerah (STPD) adalah surat untuk melakukan tagihan pajak dan atau sanksi administrasi berupa bunga dan, atau denda

x. Pemeriksaan adalah serangkaian kegiatan untuk mencari, mengumpulkan, mengelola data dan atau keterangan lainnya untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan daerah dan retribusi daerah serta untuk tujuan lain dalam rangka melaksanakan ketentuan Peraturan Perundang-Undangan Perpajakan Daerah dan Retribusi Daerah

y. Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) adalah Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di Lingkungan Pemerintah Kota Ternate yang diberi wewenang khusus oleh Peraturan Perundang-undangan yang berlaku untuk melakukan penyidikan terhadap pelanggaran Peraturan Daerah ; z. Penyidikan Tindak Pidana dibidang Pajak Daerah adalah serangkaian tindakan yang dilakukan

oleh Penyidik Pegawai Negeri Sipil yang selanjutnya disebut Penyidik, untuk mencari serta mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu membuat terang tindak pidana pajak daerah yang terjadi serta menemukan tersangkanya.

BAB II

NAMA, OBYEK DAN SUBYEK PAJAK

Pasal2

Nama Pajak adalah Pajak Restoran dipungut pajak atas setiap pelayanan yang dilakukan dengan pembayaran

Pasal3

(1) Obyek pajak adalah setiap pelayanan yang disediakan restoran dengan pembayaran (2) Obyek pajak sebagaimana dimaksud pad a ayat (1) Pasal ini, antara lain :

a. Rumah Makan b. Cafe

c. Warung nasi d. Warung es e. Warung kopi

f. Warung makan bongkar pasang

(3) Suyjek Pajak adalah perorangan atau bad an yang melakukan pembayaran restoran

Pasal4

(1) Dikecualikan dari objek pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (3) Peraturan Daerah ini, terdiri dari :

a. Pelayanan usaha jasa bog a atau catering

b. Rumah makan yang peredarannya tidak melebihi batas tertentu yang ditetapkan atau berada pada tempat tertentu

(2) Rumah makan yang peredarannya tidak melebihi batas tertentu yang ditetapkan atau berada ada tempat tertentu sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf b Pasal ini,diatur lebih lanjut dengan Keputusan Kepala Daerah.

(5)

BAB III

DASAR PENGENAAN DAN TARIF PAJAK

Pasal5

Dasar pengenaan pajak restoran ditentukan berdasarkan jumlah pembayaran yang dilakukan kepada rumah makan, warung makan, cafe, bar dan usaha lain yang sejenis yang menyediakan fasilitas penyantapannya atau disantap ditempat lain.

Pasal6

Tarif Pajak Restoran ditetapkan sebesar 10% (sepuluh persen)

BABIV

WILAYAH PEMUNGUTAN DAN CARA PERHITUNGAN PAJAK

Pasal7

(1) Pajak yang terutang di Wilayah Pemerintah Kota Tenate

(2) Besarnya pajak yang terutang dihitung dengan cara mengalikan tarif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6, dengan dasar pengenaan sebagaimana dimaksud dalam pasal 5 (3) Pemungutan Pajak tidak dapat diborongkan

BABV

MASA PAJAK DAN SAAT PAJAK TERUTANG DAN SURAT PEMBERITAHUAN PAJAK DAERAH

Pasal8

(1) Wajib pajak diharuskan menggunakan nota penjualan sebagai bukti atas pembayaran yang dilakukan kepada pengusaha rumah makan, cafe, bar, warung makan dan usaha lain yang sejenis yang disertai fasilitas penyantapannya atau disantap ditempat lain.

(2) Nota penjualan sebagaimana dimaksud pada ayat 1, disediakan oleh Pemerintah Daerah Kota Ternate.

(3) Apabila wajib pajak menggunakan mesin cash register wajib memasukan program pengenaan pajak restoran sebesar 10% (sepuluh persen) dan kepada konsumen diberikan nota cash register sebagai bukti pembayarannya.

Pasal9

(1) Pajak yang terutang dipungut dalam wilayah Pemerintah Kota Ternate

(2) Besarnya pokok pajak yang terutang dihitung dengan cara mengalikan tarif sebagaimana dimaksud dalam pasal 6 dengan dasar pengenaan sebagaimana dimaksud dalam pasal 5

Pasal10

Masa pajak adalah jangka waktu yang lamanya 1 (satu) bulan takwin.

Pasal11

Pajak terutang dalam masa pajak terjadi pada sa at pembayaran atau pelayanan di restoran, rumah makan, warung makan, cafe, bar, warung kopi, warung es, rumah makan bongkar pasang dan usaha lain yang sejenis yang disertai dengan fasilitas penyantapannya atau disantap ditempat lain.

(6)

Pasal12

(1) Setiap wajib pajak mengisi SPTPD

(2) SPTPD sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) pasal ini harus di isi dengan jelas, benar dan lengkap serta di tandatangani oleh wajib pajak atau kuasanya

(3) SPTDP sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) pasal ini harus disampaikan kepada Kepala Daerah atau pejabat yang ditunjuk selambat-Iambatnya 10 (sepuluh) hari setelah berakhimya mas a pajak (4) Bentuk, isi dan tata cara pengisian SPTDP ditetapkan dengan Keputusan Kepala Daerah

Pasal13

(1) Untuk mendapatkan data obyek pajak secara benar dan akurat, Kepala Daerah atau pejabat yang ditunjuk dapat melakukan pemeriksaan dan pemantauan kepada wajib pajak (2) Tata cara pemeriksaan dan pemantauan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) Pasal ini,

diatur lebih lanjut dengan Keputusan Kepala Daerah

BABVI

TATA CARA PERHITUNGAN DAN PENETAPAN PAJAK

Pasal14

(1) Berdasarkan SPTDP sebagaimana dimaksud dalam pasal 10 ayat (1) Peraturan Daerah ini, Kepala Daerah menetapkan pajak terutang dengan menerbitkan SKPD

(2) Apabila SKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Pasal ini, tidak atau kurang dibayar setelah lewat waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari sejak SKPD diterima, dikenakan sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% (dua persen) dari kekurangan pajak yang harus dibayar sebulan dan ditagih dengan menerbitkan STPD.

Pasal15

(1) Wajib pajak yang membayar sendiri SPTDP sebagaimana dimaksud dalam pasal 10 ayat (1) Peraturan Daerah ini, digunakan untuk menghitung dan menetapkan pajak sendiri yang terutang (2) Dalam jangka waktu 5 (lima) tahun sesudah saat terutangnya pajak, Kepala Daerah dapat

menerbitkan: a. SKPDKB b. SKPDKBT c. SKPDN

(3) SKPDKB sebagaimana dalam ayat (2) huruf a Pasal ini diterbitkan :

a. Berdasarkan hasil pemeriksaan atau keterangan lain, pajak yang terutang tidak atau kurang dibayar, dikenakan sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% (dua persen) sebulan dihitung dari pajak yang kurang atau terlambat dibayar untuk jangka waktu paling lama 24 (dua puluh empat) bulan dihitung sejak sa at terutangnya pajak

b. SPTPD tidak disampaikan dalam jangka waktu yang ditentukan dan telah di tegur secara tertulis, dikenakan sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% (dua persen) sebulan di hitung dari pajak yang kurang atau terlambat dibayar untuk jangka waktu paling lama 24 (dua puluh empat) bulan di hitung sejak sa at terutangnya pajak

c. Kewajiban mengisi SPTDP tidak di penuhi, pajak yang terutang di hitung secara jabatan dan dikenakan sanksi administrasi berupa kenaikan sebesar 25% (dua puluh lima persen) dari pokok pajak ditambah sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% (dua persen) sebulan di hitung dari pajak yang kurang atau terlambat dibayar untuk jangka waktu paling lama 24 (dua puluh empat) bulan di hitung sejak sa at terutangnya pajak

(4) SKPDKBT sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) huruf

b

Pasal ini, diterbitkan apabila ditemukan data baru atau data yang semula belum terungkap yang menyebabkan penambahan jumlah pajak yang terutang akan dikenakan sanksi administrasi berupa kenaikan 100% (seratus persen) dari jumlah kekurangan pajak tersebut.

(7)

(5)SKPDN sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf c , diterbitkan apabila jumlah pajak yangterutang sama besamya dengan jumlah kredit pajak atau pajak tidak terutang dan tidak ada kredit pajak

(6) Apabila kewajiban membayar pajak terutang dalam SKPDKB dan SKPDKBT sebagaimana dimaksud

dalam ayat (2) huruf a dan b pasal ini, tidak dibayar sepenuhnya atau sebagian dalam jangka

waktuyang telah ditentukan, di tagih dengan menerbitkan STPD ditambah dengan sanksi administrasi

berupabunga 2% (dua persen) sebulan dari jumlah pajak terutang.

(7) Penambahan jumlah pajak yang terutang sebagaimana dimaksud dalam ayat (4) Pasal ini, tidak

dikenakan apabila wajib pajak melaporkan sendiri sebelum dilakukan tindakan pemeriksaan.

BAB VII

TATA CARA PEMBAYARAN

Pasal 16

(1) Pembayaran pajak dilakukan di Kas Daerah atau tempat lain yang ditunjuk oleh Kepala Daerah

sesuai waktu yang ditentukan oleh SPTPD, SKPD, SKPDKB, SKPDKBT dan STPD

(2) Apabila pembayaran pajak dilakukan ditempat lain yang ditunjuk hasil penerimaan pajak harus

di setor ke Kas Daerah selambat-Iambatnya 1 X 24 jam atau dalam waktu yang ditentukan oleh

Kepala Daerah

(3) Pembayaran pajak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan (2) pasal ini. Dilakukan dengan

menggunakan SSPD.

Pasal17

(1) Pengusaha restoran, rumah makan, warung makan, cafe, warung es, warung kopi, rumah makan

bongkar pasang harus melaksanakan pembayaran pajak restoran ke Kas Daerah atau di tempat

lain yang ditunjuk oleh Pemerintah selambat-Iambatnya tanggal 10 setiap bulan atau ditentukan

lain oleh Kepala Daerah

(2) Kepala Daerah dapat memberikan persetujuan kepada wajib pajak untuk mengangsur pajak

teutang dalam kurun waktu tertentu setelah memenuhi persyaratan yang telah di tentukan

(3) Angsuran pembayaran pajak sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) Pasal ini, harus di lakukan

secara teratur dan berturut-turut dengan dikenakan bunga 2% (dua persen) sebulan dari jumlah

pajak yang belum atau kurang dibayar.

(4) Kepala Daerah dapat memberikan kepada wajib pajak untuk menunda pembayaran pajak sampai

batas waktu yang telah ditentukan setelah memenuhi persyaratan yang telah ditentukan dengan

dikenakan bunga 2% (dua persen) sebulan dari jumlah pajak yang belum atau kurang dibayar

(5) Persyaratan untuk mengangsur dan menunda pembayaran serta tata cara pembayaran angsuran

dan penundaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dan (4) Pasal ini, ditetapkan dengan

Keputusan Kepala Daerah.

Pasal18

(1) Setiap pembayaran pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal15 Peraturan Daerah ini, diberikan

tanda bukti pembayaran dan dicatat dalam buku penerimaan

(2) Bentuk, jenis, isi, ukuran tanda bukti pembayaran dan buku penerimaan pajak sebagaimana

(8)

BAB VIII

TATA CARA PENAGIHAN PAJAK

Pasal19

(1) Surat teguran atau surat peringatan atau surat lain yang sejenis sebagai awal tindakan pelaksanaan penagihan pajak dikeluarkan 7 (tujuh) hari sejak sa at jatuh tempo pembayaran (2) Dalam jangka waktu 7 (tujuh) hari setelah tanggal surat teguran atau surat peringatan atau surat

lain yang sejenis disampaikan wajib pajak harus melunasi pajak terutang (3) Surat teguran, surat peringatan atau surat lain yang sejenis sebagaimana dimaksud dalam ayat

(1) Pasal ini, dikeluarkan oleh pejabat yang ditunjuk.

Pasal20

(1) Apabila jumlah pajak yang masih harus dibayar tidak dilunasi dalam jangka waktu sebagaimana ditentukan dalam surat teguran atau surat peringatan atau surat lain yang sejenis, jumlah pajak yang harus dibayar ditagih dengan surat paksa

(2) Pejabat yang ditunjuk menerbitkan surat paksa segera setelah lewat 21 (dua puluh satu) hari sejak tanggal surat teguran atau surat peringatan atau surat lain yang sejenis disampaikan kepada wajib pajak

Pasal21

Apabila pajak yang harus dibayar tidak dilunasi dalam jangka waktu 2 x 24 jam sesudah tanggal pemberitahuan surat paksa, pejabat yang ditunjuk segera menerbitkan surat perintah melaksanakan penyitaan atas izin Pengadilan Negeri

Pasal22

Setelah dilakukan penyitaan dan wajib pajak belum melunasi hutang pajaknya, setelah lewat 10 (sepuluh) hari sejak tanggal pelaksanaan surat perintah melaksanakan penyitaan, pejabat yang ditunjuk mengajukan permintaan penetapan tanggal pelelangan kepada Kantor Lelang Negara

Pasal23

Setelah Kantor Lelang Negara menetapkan hari, tanggal, jam dan tempat pelaksanaan lelang, juru sita memberitahukan dengan segera secara tertulis kepada wajib pajak.

Pasal24

Bentuk, jenis dan isi formulir yang dipergunakan untuk pelaksanaan penagihan pajak daerah ditetapkan oleh Kepala Daerah.

BABIX

PEMBUKUAN DAN PEMERIKSAAN

Pasal25

Wajib pajak wajib menyelenggarakan pembukuan dan catatan-catatan atas semua pelayanan direstoran

Pasal26

(1) Pajak yang telah dibayar termasuk yang berdasarkan surat pemberitahuan setelah masa (SPSM) setiap 3 (tiga) bulan diperiksa oleh tim pemeriksa yang hasilnya dimuat dalam berita acara untuk dipergunakan sebagai dasar perhitungan SKPDKB, SKPDKBT, SKPDN dan SKPDLB (2) Tim pemeriksa pajak restoran dibentuk berdasarkan keputusan Kepala Daerah (3) Tim pemeriksa sebagaimana dimaksud pad a ayat (2) mempunyai tugas menguji kepatuhan

pemenuhan pembayaran pajak

(9)

(4) Untuk keperluan pemeriksaan wajib pajak diwajibkan memperlihatkan, meminjamkan buku,

catatan, dokumen penjualan, memberi kesempatan untuk memasuki ruangan/tempat yang

diperlukan dan memberi keterangan yang dapat dipertanggung jawabkan.

Pasal27

(1) Kepala Daerah atau pejabat yang ditunjuk berwenang melakukan pemeriksaan untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan daerah dalam rangka melaksanakan peraturan

perundang-undangan perpajakan

(2) Wajib pajak yang diperiksa wajib :

a. Memperlihatkan dan atau menunjukkan buku atau catatan dokumen yang menjadi dasarnya

dan dokumen lain yang berhubungan dengan obyek pajak yang terutang

b. Memberikan kesempatan untuk memasuki tempat atau ruangan yang dianggap perlu dan memberi bantuan guna kelancaran pemeriksaan

c. Memberikan keterangan yang diperlukan

(3) Tata cara pemeriksaan pajak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) Pasal ini, diatur lebih lanjut

dengan Keputusan Kepala Daerah

BABX

TATA CARA PENGURANGAN, KERINGANAN DAN PEMBEBASAN PAJAK

Pasal28

(1) Kepala Daerah atau pejabat yang ditunjuk berdasarkan permohonan wajib pajak dapat memberikan

pengurangan, keringanan dan pembebasan pajak

(2) Tata cara pemberian pengurangan, keringanan dan pembebasan pajak sebagaimana dimaksud

dalam ayat (1) Pasal ini, ditetapkan oleh Kepala Daerah. BABXI

TATA CARA PEMBETULAN, PEMBATALAN, PENGURANGAN KETETAPAN DAN PENGHAPUSAN ATAU PENGURANGAN SANKSI ADMINISTRASI

Pasal29

(1) Kepala Daerah karena jabatan atau atas permohonan wajib pajak dapat :

a. Membetulkan SKPD atau SKPDKB atau SKPDKBT atau STPD yang dalam penerbitannya

terdapat kesalahan tulis, kesalahan hitung, dan atau kekeliruan dalam penerapan peraturan

perundang-undangan perpajakan daerah

b. Membatalkan atau mengurangkan ketetapan pajak yang tidak benar

-c. Mengurangkan atau menghapuskan sanksi administrasi berupa bunga, denda dan kenaikan

pajak yang terutang dalam hal sanksi tersebut dikenakan karena kehilafan wajib pajak atau

bukan karena kesalahannya.

(2) Permohonan pembetulan, pembatalan, pengurangan ketetapan dan penghapusan atau

pengurangan sanksi administrasi atas SKPD, SKPDKB, SKPDKBT dan STPD sebagaimana

dimaksud dalam ayat (1) pasal ini harus disampaikan secara tertulis oleh wajib pajak kepada

kepala daerah atau pejabat yang ditunjuk selambat-Iambatnya 30 (tiga puluh) hari sejak tanggal

diterima SKPD, SKPDKB, SKPDKBT atau STPD dengan memberikan alasan jelas.

(3) Kepala Daerah atau pejabat yang ditunjuk paling lama 3 (tiga) bulan sejak surat permohonan

(10)

-(4) Apabila setelah lewat 3 (tiga) bulan sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) Pasal ini, Kepala Daerah atau pejabat yang ditunjuk tidak memberikan keputusan, permohonan pembetulan, pembatalan, pengurangan ketetapan dan penghapusan atau pengurangan sanksi administrasi dianggap dikabulkan.

BAB XII

KEBERATAN DAN BANDING

Pasal30

(1) Wajib pajak dapat mengajukan keberatan kepada Kepala Daerah atau pejabat yang ditunjuk atas suatu: a. SKPD b. SKPDKB c. SKPDKBT d. SKPDLB e. SKPDN

(2) Permohonan keberatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) Pasal ini, harus disampaikan secara tertulis dalam Bahasa Indonesia paling lama 3 (tiga) bulan sejak tanggal SKPD, SKPDKB, SKPDLB, dan SKPDN diterima oleh wajib pajak atau tanggal pemotongan atau pemungutan oleh pihak ketiga sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) Pasal ini, dengan alasan yang jelas, kecuali apabila wajib pajak dapat menunjukkan bahwa jangka waktu itu tidak dapat dipenuhi karena keadaan diluar kekuasaannya.

(3) Kepala Daerah atau pejabat yang ditunjuk dalam jangka waktu paling lama 12 (dua belas) bulan sejak tanggal surat permohonan keberatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) Pasal ini diterima sudah memberikan keputusan

(4) Apabila setelah lewat waktu 12 (dua belas) bulan sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) Pasal ini, Kepala Daerah atau pejabat yang ditunjuk tidak memberikan keputusan, permohonan keberatan diangap dikabulkan.

(5) Pengajuan keberatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) Pasal ini tidak menunda kewajiban membayar pajak.

Pasal31

(1) Wajib pajak dapat mengajukan banding kepada Badan Penyelesaian Sengketa Pajak dalam jangka waktu 3 (tiga) bulan setelah diterimanya keputusan keberatan.

(2) Pengajuan banding sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 Pasal ini tidak menunda kewajiban membayar pajak.

Pasal32

Apabila pengajuan keberatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 atau banding sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 Peraturan Daerah ini dikabulkan sebagian atau seluruhnya, kelebihan pembayaran pajak dikembalikan dengan ditambah imbalan bunga sebesar 2% (dua persen) sebulan untuk paling lama 24 (dua puluh empat) bulan.

(11)

BAB XIII

TATA CARA PENGEMBALIAN KELEBIHAN PEMBAYARAN PAJAK

Pasal33

(1) Wajib pajak dapat mengajukan permohonan pengembalian kelebihan pembayaran pajak kepada Kepala Daerah atau pejabat yang ditunjuk secara tertulis dengan menyebutkan sekurang-kurangnya:

a. Nama dan alamat wajib pajak b. Masa Pajak

c. Besarnya kelebihan pembayaran pajak d. Alasan yang jelas

(2) Kepala Daerah atau pejabat yang ditunjuk dalam jangka waktu paling lama 12 (dua be/as) bulan sejak diterimanya permohonan pengembalian kelebihan pembayaran pajak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) Pasal ini, harus memberikan keputusan

(3) Apabila dalam jangka waktu sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) Pasal ini dilampaui oleh Kepala Daerah atau pejabat yang ditunjuk tidak memberikan keputusan permohonan pengembalian kelebihan pembayaran pajak dianggap dikabulkan dan SKPDLB harus diterbitkan dalam waktu paling lama 1 (satu) bulan

(4) Apabila wajib pajak mempunyai utang pajak lainnya, kelebihan pembayaran pajak sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) Pasal ini langsung diperhitungkan untuk melunasi terlebih dahulu utang pajak dimaksud.

(5) Pengembalian kelebihan pembayaran pajak dilakukan dalam waktu paling lama 2 (dua) bulan sejak diterbitkannya SKPDLB dengan menerbitkan Surat Perintah Membayar Kelebihan Pajak (SPMKP)

(6) Apabila pengembalian kelebihan pembayaran pajak dilakukan setelah lewat waktu 2 (dua) bulan sejak diterbitkannya SKPDLB, Kepala Daerah atau pejabat yang ditunjuk memberikan imbalan bunga sebesar 2% (dua persen) sebulan atas keterlambatan pembayaran kelebihan pajak.

P

a

sal34

Apabila kelebihan pembayaran pajak diperhitungkan dengan hutang pajak lai'nnya sebagaimana dimaksud dalam pasal 32 ayat (4) Peraturan daerah ini, pembayaran dilakukan dengan cara pemindah bukuan dan bukti pemindah bukuan juga berlaku sebagai bukti pembayaran.

BABXIV

KADALUARSA PENAGIHAN

Pasal35

(1) Hak untuk melakukan penagihan pajak kadaluarsa setelah melampui jangka waktu 5 (lima) tahun terhitung sejak saat terutangnya pajak, kecuali apabila wajib pajak melakukan tindak pidana dibidang perpajakan daerah.

(2) Kadaluarsa penagihan pajak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) pasal ini tidak tertangguh apabila;

a. Diterbitkannya surat teguran dan surat paksa atau

(12)

BABXV

KETENTUAN PIDANA

Pasal36

(1) Wajib pajak karena kealpaannya tidak menyampaikan SPTPD atau mengisi dengan tidak benar

atau tidak lengkap atau melampirkan keterangan yang tidak benar sehingga merugikan keuangan daerah diancam pidana kurungan paling lama 3 (tiga) bulan atau denda paling banyak 3 (tiga) kali jumlah pajak yang terhutang.

(2) Wajib pajak yang dengan sengaja tidak menyampaikan SPTPD atau mengisi dengan tidak benar

sehingga merugikan keuangan daerah diancam pidana penjara paling lama 3 (tiga) bulan dan

atau denda paling banyak Rp. 5.000.000,- (lima juta rupiah)

(3) Tindak pidana sebagaiman dimaksud ayat (1) dan (2) Pasal ini, adalah pelanggaran

Pasal37

Tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam pasal 36 Peraturan Daerah ini, tidak dapat dituntut

setelah melampui jangka waktu 10 (sepuluh) tahun sejak saat terutangnya pajak.

BABXVI PENYIDIKAN

Pasal38

(1) Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu dilingkungan Pemerintah Daerah diberi wewenang khusus

sebagai penyidik untuk melakukan penyidikan tindak pidana dibidang perpajakan daerah

sebagaimana dimaksud dalam undang-undang nomor 8 tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana

(2) Wewenang penyidikan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) pasal ini adalah :

a. Menerima, mencari, mengumpulkan dan meneliti mengenai keterangan atau laporan berkenaan

dengan tindak pidana di bidang perpajakan daerah agar keterangan atau laporan tersebut menjadi lengkap dan jelas

b. Meneliti, mencari, mengumpulkan keterangan mengenai orang pribadi atau badan hukum

tentang kebenaran perbuatan yang dilakukan sehubungan dengan tindak pidana perpajakan daerah tersebut

c. Meminta keterangan dan barang bukti dari perorangan atau badan sehubungan dengan

tindak pidana dibidang perpajakan daerah

d. Memeriksa buku-buku, catatan-catatan dan dokumen-dokumen lain berkenaan dengan tindak

pidana di bidang perpajakan daerah

e. Melakukan penggeledahan untuk melakukan untuk mendapatkan barang bukti pembukuan,

pencatatan dan dokumen-dokumen lain, serta melakukan penyitaan terhadap barang bukti

tersebut

f. Meminta bantuan tenaga ahli dalam rangka melaksanakan tugas penyidikan tindak pidana

dibidang perpajakan daerah

g. Menyuruh berhenti, melarang seseorang meninggalkan ruangan atau tempat pada saat

pemeriksaan sedang berlangsung dan memeriksa identitas orang lain atau dokumen yang

dibawa sebagaimana dimaksud pada huruf e

h. Memotret seseorang yang dikaitkan dengan tindak pidana perpajakan daerah

i. Memanggil orang untuk di dengar keterangannya dan diperiksa sebagai tersangka atau saksi

j. Menghentikan penyidikan

k. Melakukan tindakan lain yang perlu untuk kelancaran penyidikan tindak pidana dibidang

perpajakan daerah menurut hukum yang dapat dipertanggugjawabkan

(13)

(3) Penyidik sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) pasal ini memberitahukan dimulainya penyidikan

dan menyampaikan hasil penyidikannya kepada penuntut umum sesuai dengan ketentuan yang

diatur dalam Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana.

BAB XVII SANKSI ADMINISTRASI

Pasal39

Kepala Daerah atau pejabat yang ditunjuk dapat menutup dan mencabut izin usaha bagi pengusaha restoran, rumah makan, warung makan, cafe, warung kopi, warung es, bar, rumah makan bongkar pasang dan usaha lain yang sejenis apabila:

a. Melalaikan kewajiban dan atau selama 2 (dua) bulan berturut-turut tidak membayar pajak atau

b. Dengan sengaja memungut pajak dengan tidak menggunakan nota pembayaran / penjualan yang

sah, atau memungut dan tidak disetorkan ke kas daerah

c. Tidak melayani dengan baik petugas dan atau tanpa alasan yang sah untuk diadakan tindakan

pemeriksaan dan melawan petugas pemeriksa yang sah yang dilengkapi dengan surat tugas dari Kepala Daerah

BAB XVIII KETENTUANPENUTUP

Pasal40

Hal-hal yang belum diatur dalam Peraturan Daerah ini, sepanjang mengenai teknis pelaksanaannya akan diatur lebih lanjut oleh Kepala Daerah

Pasal41

Dengan berlakunya Peraturan Daerah ini, maka Peraturan Daerah Kota Ternate Nomor 04 Tahun

2000 tentang Pajak Hotel dan Restoran dan segala peraturan pelaksanaannya dinyatakan dicabut

dan tidak berlaku lagi

Pasal42

Peraturan Daerah ini mulai berlaku pad a tanggal diundangkan.

Agar setiap orang dapat mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dengan

(14)

II

Ditetapkan di Ternate

Pada tanggal : 29 Januari 2005 WALIKOTA TERNATE

ttd Diundangkan di Ternate

Pada tanggal : 29 Januari 2005

SEKRETARIS DAERAH KOTA TERNATE

Drs. H. SYAMSIR ANDILI ttd

Drs. H. FACHRY AMMARI

{Lembaran Daerah.1(pta 'Iernate 'Iahun. 20059{.omor 02 Seri 'E) Salinan sesuai aslinya

Kepa~gian Hukum dan Ham

~~ Kcj A TERNATE

~

v:

I: M. ARIF ABD. GANI, SH

i, NIP. 630 008 535

I

i

I'

,

(15)

PENJELASAN

PERATURAN OAERAH KOTA TERNATE

NOMOR 02 TAHUN 2005

TENTANG PAJAK RESTORAN

I. PENJELASAN UMUM

Bahwa dengan telah ditetapkannya Undang - undang nomor 34 Tahun2000 tentang perubahan

atas Undang-undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah jo

Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2001 tentang Pajak Daerah, maka Pajak Hotel dan Pajak

Restoran merupakan obyek pajak yang berdiri sendiri-sendiri, sehingga masing-masing obyek

pajak tersebut perlu diatur dengan Peraturan Daerah sendiri-sendiri.

Sehubungan dengan hal tersebut,maka Peraturan Daerah Kota Ternate Nomor 04 Tahun

2000 tentang Pajak Hotel dan Restoran perlu dipisah dan disesuaikan.

II. PENJELASAN PASAL OEMI PASAL

Pasal 1 : Pasal 2 Pasal 3 Pasal4 Pasal5 Pasal6 Pasal7

Pasal ini huruf

a

s/a

z

memuat pengertian istilah yang dipergunakan dalam Peraturan Daerah ini. Dengan adanya pengertian tentang istilah tersebut dimaksudkan untuk

mencegah timbulnya salah tafsir dan salah pengertian dalam memahami dan melaksanakan pasal-pasal yang bersangkutan, sehingga para pihak dan aparatur dalam melaksanakan hak dan kewajibannya dapat berjalan dengan lancar dan akhimya

dapat dicapai tertib administrasi. Pengertian ini diperlukan karena istilah-istilah terse but

mengandung pengertian yang baku dan teknis dalam bidang Pajak Restoran.

: Cukup Jelas Ayat(1) Cukup Jelas Ayat (2) Cukup Jelas Ayat (3) Cukup Jelas Ayat (1) Cukup Jelas Ayat (2) Cukup Jelas Cukup Jelas Cukup Jelas Ayat(1) Cukup Jelas Ayat (2) Cukup Jelas Ayat (3)

Yang dimaksud dengan tidak dapat diborongkan adalah bahwa seluruh proses kegiatan pemungutan tidak dapat diserahkan kepada pihak ketiga. Namun dimung kinkan adanya kerjasama dengan pihak ketiga dalam rangka proses pemungutan

(16)

pajak, antara lain pencetakan formulir perpajakan, pengiriman surat-surat kepada

Wajib Pajak, atau penghimpunan data obyek dan subyek pajak. Kegiatan yang

tidak dapat dikerjasamakan dengan pihak ketiga adalah kegiatan penghitungan

besarnya pajak yang terutang, pengawasan penyetoran pajak dan penagihan

pajak. Pasal8 : Ayat(1) Cukup Jelas Ayat (2) Cukup Jelas Ayat (3) Cukup Jelas Pasal9 : Ayat (1) Cukup Jelas Ayat (2) Cukup Jelas Pasal 10 : Cukup Jelas Pasal 11 : Cukup Jelas Pasal12 : Ayat (1) Cukup Jelas Ayat (2) Cukup Jelas Ayat (3) Cukup Jelas Ayat (4) Cukup Jelas Pasal 13 : Ayat (1) Cukup Jelas Ayat (2) Cukup Jelas Pasal14 : Ayat(1) Cukup Jelas Ayat (2) Cukup Jelas Pasal15 : Ayat(1) Cukup Jelas Ayat (2) Cukup Jelas Ayat (3) Cukup Jelas Ayat (4) Cukup Jelas Ayat (5) Cukup Jelas Ayat (6) Cukup Jelas Ayat (7) Cukup Jelas Pasal16 : Ayat(1) Cukup Jelas Ayat (2) Cukup Jelas 33

(17)

Pasal 17 Pasal 18 Pasal 19 Pasal20 Pasal21 Pasal22 Pasal23 Pasal24 Pasal25 Pasal26 Pasal27 Ayat (3) Cukup Jelas : Ayat(1) Cukup Jelas Ayat (2) Cukup Jelas Ayat (3) Cukup Jelas Ayat (4) Cukup Jelas Ayat (5) Cukup Jelas : Ayat (1) Cukup Jelas Ayat (2) Cukup Jelas : Ayat (1) Cukup Jelas Ayat (2) Cukup Jelas Ayat (3) Cukup Jelas : Ayat(1) Cukup Jelas Ayat (2) Cukup Jelas Cukup Jelas Cukup Jelas Cukup Jelas Cukup Jelas

Pembukuan dan catatan-catatan atas semua pelayanan merupakan bahan-bahan

pemeriksaan dan pemantauan.

: Ayat(1) Cukup Jelas Ayat (2) Cukup Jelas Ayat (3) Cukup Jelas Ayat (4) Cukup Jelas : Ayat (1)

Kepala Daerah dalam rangka pengawasan berwenang untuk :

a

.

Menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban pokok;

b. Tujuan lain-lain dalam rangka me/aksanakan Peraturan Perundang-undangan

Perpajakan Daerah

Pemeriksaan dapat dilakukan di kantor atau ditempat wajib pajak yang /ingkup

(18)

Ayat (2)

Apabi/a Wajib Pajak tidak dapat memenuhi kewajibannya yang berkaitan dengan pemeriksaan pajak, maka besamya pajak ditetapkan sesuai kemampuan pendapatan penerimaan wajib pajak.

Ayat (3)

Cukup Jelas

Pasal28 : Ayat(1)

Pengurangan, keringanan dan pembebasan pajak dapat dikenakan dengan

mempertimbangkan antara lain kemampuan membayar Wajib Pajak

Ayat (2)

Cukup Jelas

Pasal29 : Ayat (1)

Apabila Wajib Pajak berpendapat bahwa jum/ah pajak dalam surat ketetapan dan pemungufan tidak sebagaimana mestinya, maka Wajib Pajak dapat mengajukan keberatan hanya kepada Kepala Daerah atau pejabat yang menerbitkan surat ketetapan pajak dengan membuat perhitungan jum/ah yang seharusnya dibayar menurut perhitungan Wajib Pajak.

Ayat (2) Cukup Jelas Ayat (3) Cukup Jelas Ayat (4) Cukup Jelas Pasal30 : Ayat(1) Cukup Jelas Ayat (2) Cukup Jelas Ayat (3) CukupJelas Ayat (4) Cukup Jelas Ayat (5) Cukup Jelas Pasal 31 : Ayat (1) Cukup Jelas Ayat (2) Cukup Jelas

Pasal 32 : Cukup Jelas

Pasal33 : Ayat (1) Cukup Jelas Ayat (2) Cukup Jelas Ayat (3) Cukup Jelas Ayat (4) Cukup Jelas Ayat (5) Cukup Jelas Ayat (6) Cukup Jelas 35

(19)

Pasal 34 : Cukup Jelas Pasal35 Pasal36 Pasal37 Pasal38 Pasal39 Pasal40 Pasal41 Pasal42 : Ayat (1) Cukup Jelas Ayat (2) Cukup Jelas : Ayat (1) Cukup Jelas Ayat (2) Cukup Jelas Ayat (3) Cukup Jelas : Cukup Jelas : Ayat (1)

Penyidik Pegawai Negeri Sipi/ sebagaimana dimaksud, da/am operasiona/

nya berdasarkan Peraturan Menteri Da/am Negeri Nomor 4 Tanun 1997 tentang Penyidik Pegawai Negeri Sipil dilingkungan Pemerintah Daerah Ayat (2) Cukup Jelas Ayat (3) Cukup Jelas : Cukup Jelas Cukup Jelas Cukup Jelas Cukup Jelas

Referensi

Dokumen terkait

Masyarakat setempat menilai pengelola kawasan dan Pemerintah Desa tidak bersikap tegas dan tidak adil terhadap pencurian yang dilakukan oleh masyarakat dari luar kawasan,

Berdasarkan uraian pada latar belakang di atas, maka peneliti ingin merumuskan permasalahan dalam penelitian ini sebagai berikut: “Bagaimanakah penerapan Sistem Informasi

Sementara itu, dalam studi ini dilakukan di organisasi yang berorientasi nirlaba dan dalam konteks B2C, sehingga permasalahan yang akan dikaji dalam penelitian

Persamaan dengan penelitian Sri Astuti adalah sama sama fokus ke persepsi, hanya yang diteliti wisatawan mancanegara terhadap produk pariwisata Bali,

Dalam arti bahwa segala macam barang, bahan ataupun peralatan harus dapat disediakan tepat pada waktu dibutuhkan, dalam jumlah yang cukup tidak kurang atau lebih, dan

30 Tahun 1999 adalah identik dengan perdamaian yang diatur dalam Kitab Undang-undang Hukum Perdata, maka berarti konsiliasi tidak hanya dapat dilakukan untuk mencegah

Ibadah di rumah sebagai bentuk aplikasi atas kebijakan yang ada, hal ini menunjukkan bahwa masjid hadir sebagai lembaga yang peduli akan kemaslahatan umatnya, interaksi

dilakukan oleh penulis, penulis dapat menyimpulkan bahwa dalam penerapan prinsip service excellence oleh customer service pada BRI Syariah KCP Sragen, bahwa