• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV PENCAPAIAN IPM PER KECAMATAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB IV PENCAPAIAN IPM PER KECAMATAN"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

BAB IV

PENCAPAIAN IPM PER KECAMATAN

Ketika terjadi pergeseran paradigma pembangunan dari pembangunan yang berorientasi ekonomi (pertumbuhan ekonomi, kebutuhan dasar, kesejahteraan masyarakat dan pengembangan sumber daya manusia) kepada pembangunan yang berorientasi manusia maka terjadi pergeseran pusat perhatian pembangunan dari yang bersifat fisik kepada manusia. Ketika manusia menjadi titik sentral pembangunan maka secara otomatis manusia tidak hanya menjadi objek pembangunan tetapi juga menjadi subjek pembangunan dalam setiap tahap pembangunan.

Sehingga pembangunan sesungguhnya adalah tentang penduduk (berupa pendidikan, kesehatan dan pelayanan sosial), untuk penduduk (berupa penciptaan peluang kerja melalui perluasan pertumbuhan ekonomi) dan oleh penduduk (berupa upaya pemberdayaan penduduk dalam partisipasi politik dan pembangunan). Keberhasilan pembangunan manusia pada akhirnya akan menentukan keberhasilan pembangunan secara keseluruhan.

Untuk mengukur pencapaian keberhasilan pembangunan manusia dimanifestasikan dalam bentuk indeks pembangunan manusia (IPM) yang merupakan pengukuran perbandingan nilai harapan hidup, pengetahuan dan standar hidup layak. IPM dapat digunakan untuk mengklasfikasikan apakah suatu wilayah dikatagorikan maju, berkembang, atau terbelakang, dan digunakan untuk mengukur pengaruh dari kebijakan pembangunan terhadap kualitas hidup. Mulai tahun ini penghitungan IPM menggunakan metode baru yang lebih relevan dalam menggambarkan kondisi masyarakat.

Berikut gambaran pencapaian indeks pembangunan manusia di Kabupaten Subang tahun 2015, dipaparkan menurut tingkat kecamatan.

(2)

4.1. Letak Geografis Kecamatan

Secara geografis Kabupaten Subang terletak di Jawa Barat bagian utara, karakteristik sosial budaya masyarakat antar kecamatan cukup beragam. Kondisi ini erat kaitannya dengan tipologi wilayah tempat domisili penduduk yang sangat berbeda. Penduduk yang berdomisili di kecamatan-kecamatan bagian selatan wilayah Kabupaten Subang (sebesar 23,63 persen luas wilayah) menempati daerah pegunungan. Bagi yang berada di kecamatan pada bagian tengah yang merupakan bagian terbesar ( 48,37 persen) menempati daerah pedataran. Dan 28,00 persen dari luas wilayah berada di sekitar pantai dan ditempati oleh 29,84 persen penduduk Kabupaten Subang.

Dengan perbedaan geografis dan sosial budaya penduduknya, maka permasalahan indikator IPM dihadapi setiap kecamatan mempunyai perbedaan. Pada bidang kesehatan, permasalahan-permasalahan yang ada disinyalir terkait dengan pola hidup bersih dan sehat, terutama dalam kesehatan lingkungan. Akses terhadap sarana pendidikan serta budaya masyarakat yang berbeda di daerah pegunungan, pendataran, dan pantai cukup berpengaruh terhadap pencapaian indikator di bidang pendidikan. Kondisi geografis dan sumber daya alam mempengaruhi jenis mata pencaharian, dan lapangan usaha masyarakat. Selain itu, distribusi barang/jasa juga sangat berpengaruh terhadap harga konsumen sehingga akhirnya berpengaruh kepada kemampuan daya beli.

(3)

Tabel 4.1. Luas Wilayah dan Penduduk Kabupaten Subang Menurut Kecamatan dan Katagori Wilayah

Tahun 2015

Daerah Kecamatan Wilayah Luas Wilayah % Penduduk Jumlah Penduduk %

Pegunungan 1.Sagalaherang 50,45 23,63 29,769 19,36 2.Serangpanjang 51,79 25,354 3.Jalancagak 40,86 46,426 4.Ciater 53,86 29,363 5.Cisalak 79,41 40,747 6.Kasomalang 39,44 42,546 7.Tanjungsiang 75,32 44,385 8.Cijambe 93,63 39,447 Pedataran 1.Cibogo 53,71 48,37 45,897 51,11 2.Subang 54,00 130,036 3.Kalijati 98,04 64,335 4.Dawuan 82,98 39,821 5.Cipeundeuy 92,66 48,521 6.Pabuaran 65,43 61,377 7.Purwadadi 89,93 62,752 8.Cikaum 92,80 48,126 9.Pagaden 44,44 61,781 10.Pagaden Barat 48,25 33,977 11.Cipunagara 100,73 60,957 12.Compreng 63,86 44,684 13.Binong 50,98 43,654 14.Tambakdahan 54,58 41,078 Pantai 1.Patokbeusi 80,62 28,00 80,486 29,53 2.Ciasem 110,49 106,183 3.Pamanukan 48,81 57,430 4.Sukasari 51,79 40,785 5.Pusakanagara 53,29 39,136 6.Pusakajaya 59,46 45,563 7.Legonkulon 73,00 22,069 8.Blanakan 97,15 63,132 Kabupaten Subang 2.051,76 100,00 1 539 817 100,00

(4)

4.2. Pencapaian IPM per Kecamatan.

Dalam mengevaluasi kinerja suatu program diperlukan pemahaman yang sama, bahwa tidak setiap program yang telah selesai dilaksanakan akan seketika mempengaruhi peningkatan IPM. Sebab seperti telah dikemukakan diatas bahwa peningkatan sebagian besar komponen IPM merupakan akibat dari suatu proses pembangunan jangka panjang. Sebagai contoh, peningkatan pendapatan rumah tangga melalui usahanya yang berkembang, belum tentu langsung meningkatkan daya beli apabila rumah tangga tersebut tidak mengalami perbaikan pola konsumsinya. Disamping itu pengaruh ekonomi makro (salah satunya inflasi) juga berpengaruh terhadap melemahnya daya beli. Maka perubahan yang berdampak kepada pola hidup yang menjadi lebih baiklah yang sangat berpengaruh terhadap peningkatan IPM.

Gambaran perkembangan indeks pembangunan manusia masing-masing kecamatan dapat dilihat pada tabel 4.2. Pada tahun 2015 ada 11 kecamatan telah berada pada posisi di atas angka IPM Kabupaten (65,93) atau sebesar 36,67 persen. Posisi urutan teratas adalah Kecamatan Subang (73,56), Kecamatan Kasomalang (70,60) dan Kecamatan Purwadadi (69,42) sedangkan kecamatan yang paling terendah adalah Kecamatan Cikaum, kecamatan Legonkulon dan kecamatan Compreng yang masing-masing memiliki angka IPM sebesar (59,09), (59,85) dan (60,65).

Berbagai upaya telah ditempuh dalam memacu angka IPM baik melalui peningkatan kualitas serta penambahan jumlah sarana maupun pembebasan pungutan biaya untuk mendapatkan pelayanan pendidikan dan kesehatan dengan berbagai program (BOS, keaksaraan fungsional dan pendidikan luar sekolah, pelayanan kesehatan gratis, dsb) ataupun pelaksanaan program-program berkelanjutan seperti PKH dan lain-lain. Meskipun di beberapa wilayah dirasa belum optimal pelaksanaan dari program-program pembangunan tersebut sehingga masih membutuhkan perhatian yang lebih intensif lagi guna mempertajam hasil

(5)

pasar nasional maupun regional serta stabilitas ekonomi mempunyai pengaruh yang cukup besar walaupun Pemerintah Daerah melakukan intervensi.

Tabel 4.2. Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Subang Menurut Kecamatan Tahun 2015

No. Kecamatan IPM Tahun 2015

[1] [2] [3] 01. Sagalaherang 63.06 02. Serangpanjang 61.74 03. Jalancagak 66.22 04. Ciater 65.74 05. Cisalak 64.75 06. Kasomalang 70.60 07. Tanjungsiang 67.00 08. Cijambe 66.70 09. Cibogo 67.21 10. Subang 73.56 11. Kalijati 68.71 12. Dawuan 63.83 13. Cipeundeuy 67.05 14. Pabuaran 63.61 15. Patokbeusi 63.06 16. Purwadadi 69.42 17. Cikaum 59.09 18. Pagaden 65.16 19. Pagaden Barat 63.08 20. Cipunagara 62.65 21. Compreng 60.65 22. Binong 67.05 23. Tambakdahan 62.40 24. Ciasem 68.08 25. Pamanukan 65.45 26. Sukasari 61.11 27. Pusakanagara 60.83 28. Pusakajaya 62.92 29. Legonkulon 59.85 30. Blanakan 64.90 Kabupaten Subang 65,93

(6)

Berkaitan dengan indikator kesehatan dan pendidikan merupakan komponen yang kontribusinya sulit untuk dipacu untuk menghasilkan peningkatan yang sifatnya spontan dan dapat dirasakan dalam waktu dekat. Peningkatan yang terjadi, seperti telah diungkapkan, tidak terlepas dari pondasi pembangunan yang telah diletakkan sebelumnya serta sifatnya relatif lebih stabil dan mudah mengalami kejenuhan apabila telah mencapai derajat tertentu. Semisal, Untuk melihat lebih jauh hasil yang telah dicapai pada proses pembangunan manusia di Kabupaten Subang, perlu kiranya kita telaah satu per satu kemajuan yang didapat untuk masing-masing komponen. 40 45 50 55 60 65 70 75 IPM Sag alah eran g Ser angp anja ng Jala ncag ak Cia ter Cis alak Kas om alan g Tanj ungs iang Cija mbe Cib ogo Sub ang Kal ijati Daw uan Cip eund euy Pab uara n Pat okbe usi Pur wad adi Cik aum Pag aden Pag aden Bar at Cip unag ara Com pren g Bin ong Tam bakd ahan Cia sem Pam anuk an Suk asar i Pus akan agar a Pus akaj aya Lego nkul on Bla naka n Grafik 4.1.

Indeks Pem bangunan Manusia

Kabupaten Subang Menurut Kecam atan, Tahun 2015

(7)

4.3. Pencapaian IPM Dibidang Kesehatan.

Berdasarkan Survei IPM 2015, capaian angka harapan hidup Kabupaten Subang mencapai sebesar 71,25, cukup tinggi bila dibandingkan dengan angka harapan hidup kabupaten lain di Jawa Bara. Walau demikian angka harapan hidup masih harus ditingkatkan dengan upaya yang bersifat komprehensif dan lintas sektor, agar perbaikan derajat kesehatan yang direfleksikan secara nyata melalui penurunan angka kematian bayi secara baik dapat terwujud di masa mendatang.

Faktor utama yang besar pengaruhnya terhadap peningkatan derajat kesehatan adalah upaya menurunkan tingkat kematian bayi dan balita secara bertahap harus terus menjadi prioritas, begitu pula penanganan status gizi pada balita dari waktu ke waktu agar terus ditingkatkan, dengan tidak mengabaikan program-program lain yang bersentuhan langsung dengan perbaikan derajat kesehatan. Selain berpengaruh pada pencapaian derajat kesehatan, faktor kurangnya gizi juga menyebabkan anak sulit tumbuh kembang yang menyebabkan sulitnya mengikuti pelajaran dengan baik.

Tingkat kesehatan bayi juga dipengaruhi oleh kondisi kesehatan lingkungan dan kesehatan ibu. Tidak sedikit anak yang mengalami lahir dengan berat badan rendah karena dilahirkan oleh ibu yang menderita kekurangan gizi. Dimana anak-anak yang mengalami kondisi tersebut membutuhkan penanganan serius sebab mereka terancam untuk mengalami tumbuh kembang yang lambat serta kecerdasan rendah. Anak-anak yang berpotensi mangalami hal tersebut utamanya yang berasal dari keluarga tidak mampu.

Melihat kondisi yang ada, derajat kesehatan yang di atas angka kabupaten baru 13 kecamatan (43,33 persen). Peringkat tertinggi adalah kecamatan Pamanukan sebesar (73,68 tahun) dan Kecamatan Subang (73,65 tahun) , sedangkan yang berada pada urutan paling bawah adalah kecamatan Compreng sebesar (68,42).

(8)

Tabel 4.3 : Angka Harapan Hidup Usia 0 (AHHo) Tahun Di Kabupaten Subang menurut Kecamatan

Tahun 2015.

No. Kecamatan Angka Harapan Hidup Usia 0 (AHHo) Tahun Tahun 2015

[1] [2] [3] 01. Sagalaherang 71.42 02. Serangpanjang 70.59 03. Jalancagak 69.14 04. Ciater 73.11 05. Cisalak 68.69 06. Kasomalang 72.53 07. Tanjungsiang 68.69 08. Cijambe 71.86 09. Cibogo 68.95 10. Subang 73.65 11. Kalijati 70.77 12. Dawuan 71.65 13. Cipeundeuy 73.58 14. Pabuaran 70.62 15. Patokbeusi 73.45 16. Purwadadi 70.23 17. Cikaum 70.13 18. Pagaden 72.12 19. Pagaden Barat 70.62 20. Cipunagara 70.85 21. Compreng 68.42 22. Binong 69.68 23. Tambakdahan 72.76 24. Ciasem 72.89 25. Pamanukan 73.68 26. Sukasari 70.35 27. Pusakanagara 69.55 28. Pusakajaya 70.20 29. Legonkulon 71.21 30. Blanakan 73.61 Kabupaten Subang 71,25

(9)

Yang perlu digali lebih mendalam adalah permasalahan yang terjadi di kecamatan- kecamatan yang dimana pencapaian harapan hidupnya masih relatif rendah. Perbaikan yang dapat dilakukan adalah melalui peningkatan pelayanan tenaga kesehatan dalam proses persalinan, peningkatan cakupan kunjungan balita ke posyandu, penanganan kasus kegawatdaruratan ibu dan anak, serta peningkatan sarana kesehatan dasar.

50 55 60 65 70 75 AHHo Saga lahe rang Sera ngpa njan g Jala nca gak Cia ter Cisa lak Kaso mala ng Tanj ungsi ang Cija mbe Cib ogo Suba ng Kalija ti Daw uan Cip eund euy Pabu aran Pato kbeu si Purw adad i Cika um Paga den Paga den Bara t Cip unag ara Comp reng Bino ng Tamb akd ahan Ciase m Pama nuka n Suka sari Pusa kana gara Pusa kaja ya Lego nku lon Blan aka n Grafik 4.2.

Angka Harapan Hidup Usia 0 Tahun

di Kabupaten Subang Menurut Kecamatan, Tahun 2015

(10)

4.4. Pencapaian IPM Dibidang Pendidikan.

Sebagai sarana penyiapan sumberdaya manusia yang berkualitas yang dapat beradaptasi dengan perkembangan pengetahuan dan teknologi, pendidikan memiliki peranan yang sangat penting bagi pembangunan. Meningkatnya pembangunan bidang pendidikan akan meningkatkan perkembangan pembangunan secara keseluruhan.

Setidaknya ada empat permasalahan dalam pembangunan di bidang pendidikan (Prof. Dr. H. Sofyan Sauri, M.Pd,6), yaitu: Pertama, terkait dengan kualitas pendidikan, yang bisa dilihat dari tiga indikator utama yakni proses pembelajaran yang masih konvensional, kinerja dan kesejahteraan guru yang belum optimal, jumlah dan kualitas buku di sekolah yang belum memadai. Kedua, pemerataan pendidikan, yang bisa dilihat dari tiga indikator utama yakni kerusakan sarana dan prasarana ruang kelas, keterbatasan aksebilitas dan daya tampung serta kekurangan tenaga guru. Ketiga, efisiensi pendidikan, yang bisa dilihat dari tiga indiktaor yakni penyelenggaraan otonomi pendidikan yang belum optimal (MBS belum optimal), keterbatasan anggaran (kemampuan pemerintah yang terbatas dan rendahnya partisipasi masyarakat), dan mutu SDM pengelola pendidikan.

Keempat, relevansi pendidikan, yang bisa dilihat dari tiga indikator yakni kemitraan

dengan Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI) yang belum optimal, kurikulum yang belum berbasis masyarakat dan potensi daerah, serta kecakapan hidup (life skill) yang dihasilkan belum optimal.

Selain permasalahan tersebut, permasalahan lainnya yang sering menjadi kendala pada masyarakat adalah adanya faktor budaya dan lingkungan sehingga menghambat realisasi peningkatan rata-rata lama sekolah.

Peningkatan angka rata-rata lama sekolah dan menurunan serta pencegahan angka rawan putus sekolah harus terus diupayakan dan menjadi prioritas disertai dengan peningkatan kualitas gedung-gedung sekolah dan memudahkan akses masyarakat untuk tetap bersekolah sebagai upaya

(11)

penduduk yang relatif besar di usia muda diperlukan persiapan sarana penunjang pendidikan yang memadai, utamanya ditujukan bagi penduduk usia 10-14 tahun yang masih relatif besar. Selain dari upaya tersebut upaya penyuluhan dan pemberian motivasi tentang pentingnya pendidikan juga harus terus dilakukan.

Pengukuran indikator pendidikan pada penghitungan IPM metode baru menggunakan dua variabel yaitu harapan lama sekolah (sebagai pengganti angka melek huruf pada IPM metode lama) dan rata-rata lama sekolah. Pada tahun 2015 indeks pendidikan di kabupaten Subang tidak bisa dikatakan tinggi, dengan indeks hanya sebesar 53,51 seharusnya dapat ditingkatkan lagi dengan memaksimalkan partisipasi sekolah bagi anak 7 tahun ke atas dan juga peningkatan kesempatan dalam menuju jenjang sekolah yang lebih atas.

Harapan lama sekolah di kabupaten Subang mencapai 11,51. Harapan lama sekolah bisa meningkat apa bila partisipasi sekolah bagi anak berusia 7 tahun ke atas meningkat, penunjang sarana pendidikan dan berdirinya sekolah-sekolah baru adalah hal lainnya yang bisa meningkatkan harapan lama sekolah. Tumbuh suburnya sekolah boarding yang bertaraf internasional dan perguruan tinggi baik negeri maupun swasta membuktikan bahwa Subang adalah dunia yang nyaman bagi pendidikan, akan tetapi pada kenyataannya partispasi sekolah pelajar tempatan Subang masih dirasa sangat kurang, motivasi pelajar Subang dalam melanjukan pendidikannya akan berdampak pada kualitas sumberdaya manusia sehingga meningkatkan kontribusinya dalam pembangunan kabupaten Subang. Harapan lama sekolah yang tertinggi dicapai oleh kecamatan kecamatan Cisalak (13.31) dan kecamatan Subang (12,64). Banyaknya pondok pesantren di kecamatan Cisalak turut berkontribusi terhadap harapan lama sekolah di kecamatan Cisalak, sementara kecamatan Subang merupakan daerah perkotaan dengan kesadaran pendidikan penduduknya cukup tinggi. Sementara kecamatan Blanakan memiliki harapan lama sekolah yang terrendah (9,75), hal ini menunjukan bahwa kesadaran pendidikan di kecamatan Blanakan perlu ditingkatkan secara optimal.

(12)

Rata-rata lama sekolah untuk penduduk lebih dari 25 tahun ke atas di kabupaten Subang masih belum sesuai harapan, dengan rata-rata lama sekolah sebesar 6,46 seharusnya bisa lebih ditingkatkan lagi. Budaya masyarakat dan faktor ekonomi mempengaruhi penduduk untuk melanjutkan pendidikannya. Pada tahun ini kecamatan dengan rata-rata lama sekolah tertinggi adalah kecamatan Subang (8,60) dan kecamatan Kasomalang (8,18). Sedangkan kecamatan Blanakan memiliki rata-rata sekolah 5,01, merupakan yang terrendah di kabupaten Subang.

Peningkatan indeks pendidikan (yang ditunjang oleh harapan lama sekolah dan rata-rata lama sekolah) kurun waktu lima tahun terakhir relatif cukup baik, ini merupakan keberhasilan perencanaan pembangunan tahun-tahun sebelumnya. Yang perlu terus diupayakan adalah memelihara upaya-upaya positif yang telah dirintis serta lebih mempertajam sehingga dapat dihasilkan capaian yang lebih baik. Jika aspek pendidikan tidak ditangani secara baik dan lebih dini, dikhawatirkan pada rentang waktu 3-5 tahun ke depan akan berdampak pada pencapaian angka melek huruf dan rata-rata lama sekolah.

Relatif belum optimalnya pencapaian rata-rata lama sekolah dimungkinan karena masih cukup besarnya penduduk dewasa Kabupaten Subang yang tingkat pendidikannya tidak tamat pendidikan dasar, sehingga meskipun partisipasi sekolah penduduk usia muda sudah sedemikian dipacu peningkatannya namun belum terasa hasilnya secara nyata. Perlu kiranya disusun intervensi strategis dalam upaya menaikkan kualitas SDM dari sisi pendidikan, khususnya bagi mereka yang telah putus sekolah sejak kurun waktu 5-10 tahun yang lalu.

Program pendidikan dasar 9 tahun seyogyanya juga diupayakan lebih serius bagi penduduk putus sekolah yang belum mengenyam pendidikan dasar maupun menengah pertama meskipun usianya telah beranjak dewasa. Salah satu jalan keluarnya adalah dengan lebih mengoptimalkan pemanfaatan pendidikan luar sekolah (PLS) seperti, program Paket A, B dan C dan keaksaraan fungsional.

(13)

Kondisi tingkat pendidikan menurut kecamatan, apabila dibandingkan dengan daerah pedataran dan pantai, indeks pendidikan di daerah pegunungan relatif lebih baik. Hampir seluruh kecamatan di daerah pegunungan mempunyai indeks pendidikan di atas indeks kabupaten. Serta ada kecenderungan semakin mendekati daerah pantai dan kecamatan yang letaknya agak menjorok dari jalur transportasi, mempunyai indeks lebih kecil dibanding dengan indeks pendidikan di wilayah lainnya.

(14)

Tabel 4.4 : Harapan Lama Sekolah (HLS) penduduk Dewasa Di Kabupaten Subang menurut Kecamatan

Tahun 2015

No. Kecamatan Harapan Lama Sekolah (HLS)

[1] [2] [3] 01. Sagalaherang 10,47 02. Serangpanjang 10,59 03. Jalancagak 11,15 04. Ciater 10,58 05. Cisalak 13,31 06. Kasomalang 12,56 07. Tanjungsiang 12,55 08. Cijambe 11,95 09. Cibogo 12,48 10. Subang 12,64 11. Kalijati 11,59 12. Dawuan 11,15 13. Cipeundeuy 11,36 14. Pabuaran 11,72 15. Patokbeusi 10,93 16. Purwadadi 11,78 17. Cikaum 10,08 18. Pagaden 12,67 19. Pagaden Barat 12,60 20. Cipunagara 10,59 21. Compreng 10,45 22. Binong 12,62 23. Tambakdahan 10,19 24. Ciasem 11,01 25. Pamanukan 11,12 26. Sukasari 9,99 27. Pusakanagara 10,35 28. Pusakajaya 12,21 29. Legonkulon 10,41 30. Blanakan 9,75 Kabupaten Subang 11,51

(15)

5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 HLS Saga lahe rang Sera ngpa njan g Jala ncag ak Cia ter Cis alak Kaso mal ang Tanj ungs iang Cija mbe Cib ogo Suba ng Kalij ati Daw uan Cip eund euy Pabu ara n Pato kbeu si Purw adad i Cik aum Paga den Paga den Bara t Cip unag ara Com pre ng Bino ng Tam bakd ahan Cia sem Pam anuk an Suka sari Pusa kana gara Pusa kaja ya Lego nkul on Blan akan Grafik 4.3.

Harapan Lama Sekolah Penduduk

(16)

Komponen IPM bidang pendidikan lainnya adalah Rata-rata lama Sekolah

Tabel 4.5 : Rata-rata Lama Sekolah (RLS) penduduk Dewasa Di Kabupaten Subang menurut Kecamatan

Tahun 2015.

No. Kecamatan Rata-Rata Lama Sekolah (RLS)

[1] [2] [3] 01. Sagalaherang 7,09 02. Serangpanjang 5,81 03. Jalancagak 7,71 04. Ciater 7,19 05. Cisalak 7,14 06. Kasomalang 8,18 07. Tanjungsiang 6,73 08. Cijambe 7,45 09. Cibogo 5,58 10. Subang 8,60 11. Kalijati 6,81 12. Dawuan 7,04 13. Cipeundeuy 6,22 14. Pabuaran 5,87 15. Patokbeusi 5,89 16. Purwadadi 8,18 17. Cikaum 5,06 18. Pagaden 6,61 19. Pagaden Barat 5,17 20. Cipunagara 5,71 21. Compreng 5,08 22. Binong 6,22 23. Tambakdahan 5,04 24. Ciasem 6,21 25. Pamanukan 5,81 26. Sukasari 5,05 27. Pusakanagara 5,28 28. Pusakajaya 5,19 29. Legonkulon 5,02 30. Blanakan 5,01

(17)

Penduduk dengan tingkat pendidikan relatif lebih tinggi dibandingkan dengan kecamatan lainnya adalah di ibu kota kabupaten yaitu Kecamatan Subang (8,60 tahun). Hal ini dapat dimengerti, sebab Kabupaten Subang merupakan sentra pertanian dengan sebaran pusat perekonomian hanya berada di beberapa titik saja. Penduduk dengan tingkat pendidikan yang relatif lebih tinggi akan berusaha mencari lapangan usaha yang sesuai dengan tingkat pendidikan/ijazah yang dimilikinya. Peluang ini untuk mencari lapangan usaha tersebut biasanya terdapat di ibukota pemerintahan. Disamping itu, jenjang pendidikan menengah dan tinggi juga terkonsentrasi di Kecamatan Subang, sehingga banyak siswa dari seluruh pelosok di Kabupaten Subang yang ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi berpindah domisili ke Kecamatan Subang. Karena adanya kondisi tersebut, maka rata-rata lama sekolah penduduk Kecamatan Subang mencapai 8,60 tahun (setara dengan tamat kelas 2 SLTP).

2 3 4 5 6 7 8 9 RLS Sag alahe rang Ser angp anja ng Jala nca gak Ciate r Cisa lak Kaso mala ng Tanju ngsi ang Cija mbe Cibo go Sub ang Kali jati Dawu an Cipe unde uy Pab uara n Pato kbeu si Pur wada di Cika um Pag aden Pag aden Bar at Cipu naga ra Com pren g Bin ong Tam bakd ahan Ciase m Pam anuka n Suka sari Pusa kana gara Pusa kaja ya Lego nku lon Blana kan Grafik 4.4.

Rata-rata Lama Sekolah Penduduk Dewasa Kabupaten Subang Menurut Kecamatan, Tahun 2015

(18)

Dari grafik sebelumnya (Grafik 4.4) kembali terlihat bahwa rata-rata sekolah kecamatan-kecamatan yang berada di daerah pegunungan umumnya lebih baik dibandingkan dengan kecamatan-kecamatan di daerah pedataran dan pantai. Bahkan kecamatan-kecamatan yang berada di daerah pedataran dan pantai, hampir keseluruhan mempunyai rata-rata lama sekolah di bawah angka kabupaten. Fenomena ini perlu kajian yang lebih mendalam untuk perencanaan pembangunan di bidang pendidikan, sebagai upaya mendukung akselerasi pencapaian IPM di tingkat kecamatan.

Permasalahan rendahnya tingkat pendidikan harus dapat teridentifikasi dengan baik, sehingga dapat menjawab apakah benar terpengaruh oleh ketersediaan sarana/layanan pendidikan? masalah ekonomi akibat mahalnya biaya pendidikan? Atau masalah sosial budaya lainnya?

(19)

4.5. Pencapaian IPM Dibidang Daya Beli.

Kemampuan daya beli merupakan indikator yang tidak berdiri sendiri tetapi terkait dengan kondisi perekonomian secara makro, baik makronasional maupun makrointernasional, misalnya guncangan harga bahan bakar minyak (BBM), memberikan pengaruh terhadap perekonomian Kabupaten Subang dengan kenaikan BBM jelas mempengaruhi sekali kepada kemampuan daya beli masyarakat karena melambungnya harga-harga kebutuhan pokok, faktor lain yang mempengaruhi daya beli adalah pendapatan masyarakat itu sendiri. Berbicara masalah pendapatan terbentang sederet permasalahan yang terkait dengan tingginya angka pengangguran, jumlah penduduk miskin, iklim investasi dan rendahnya tingkat pendidikan. Pendek kata indikator daya beli tidak tunggal karena sangat tergantung kepada kondisi perekonomian, sehingga indikator daya beli relatif sulit untuk diintervensi.

Dibandingkan dengan kondisi IPM di bidang kesehatan dan pendidikan, kondisi dibidang daya beli kecamatan-kecamatan di daerah pedataran dan pantai mempunyai pola yang berbeda. Ada kecenderungan daya beli di daerah pantai dan pedataran memiliki daya beli yang lebih besar di bandingkan dengan daerah pegunungan.

(20)

Tabel 4.6 : Daya Beli Penduduk Menurut Kecamatan Di Kabupaten SubangTahun 2015

No. Kecamatan

Daya Beli (rupiah/kapita/tahun Tahun 2015 [1] [2] [4] 01. Sagalaherang 7 210.98 02. Serangpanjang 7 661.29 03. Jalancagak 9 256.25 04. Ciater 8 497.34 05. Cisalak 7 083.79 06. Kasomalang 9 971.61 07. Tanjungsiang 9 988.46 08. Cijambe 8 206.77 09. Cibogo 11 998.47 10. Subang 11 966.14 11. Kalijati 11 979.11 12. Dawuan 7 201.14 13. Cipeundeuy 9 930.40 14. Pabuaran 8 028.80 15. Patokbeusi 7 407.24 16. Purwadadi 10 684.68 17. Cikaum 7 090.87 18. Pagaden 7 244.42 19. Pagaden Barat 7 583.21 20. Cipunagara 8 416.72 21. Compreng 8 500.30 22. Binong 10 184.88 23. Tambakdahan 8 839.30 24. Ciasem 11 972.02 25. Pamanukan 9 191.93 26. Sukasari 8 754.41 27. Pusakanagara 8 105.42 28. Pusakajaya 7 906.70 29. Legonkulon 7 091.11 30. Blanakan 11 984.35 Kabupaten Subang 9 301.00

(21)

Dibukanya tol cikapali sejak Agustus 2015 seharusnya dapat memacu pertumbuhan ekonomi di kabupaten Subang, namun kondisi makro perekonomian nasional yang kurang menguntungkan turut berimbas terhadap daya beli masyarakat di kabupaten Subang, yang walaupun tumbuh akan tetapi tidak terjadi lompatan yang luar biasa.

Secara umum penduduk kabupaten Subang memiliki indeks daya beli berkategori sedang. Dengan indeks sebesar 67,92, rata-rata daya beli penduduk kabupaten Subang mencapai PPP sebesar Rp. 9 301 ribu perkapita/tahun.

Terdapat lima kecamatan yang memiliki pendapatan per kapita PPP tertinggi di kabupaten Subang dengan kemampuan daya beli yang hampir merata, yaitu Kecamatan Cibogo, Blanakan, Kalijati, Ciasem dan Subang. Besaran daya beli masing masing kecamatan tersebut adalah 11 998.47; 11 984.35; 11 979.11; 11 972.02 dan 11 966.14 ribu rupiah per kapita/tahun. Sedangkan kecamatan-kecamatan dengan tingkat daya beli yang berada relatif rendah dibandingkan dengan kecamatan lainnya adalah Kecamatan Legonkulon (Rp.7 090.87 ribu) dan Cikaum (Rp.7 091.11 ribu), Cisalak (Rp.7 091.79 ribu,-).

Pemerintah Kabupaten Subang untuk meningkatkan komponen daya beli mesti menyiapkan strategi dan kebijakan yang berpihak pada masyarakat, seperti menyiapkan program ketahanan pangan secara berkelanjutan, mempertahankan kemampuan daya beli masyarakat miskin dan tertinggal, langkah-langkah pemerintah pusat dalam mengembangkan subsidi langsung tunai dapat pula dioptimalkan karena terbukti efektif menghindari merosotnya kemampuan daya beli masyarakat secara luas, walaupun dalam beberapa sisi harus ditinjau ulang agar berhasil dan tepat guna dalam mendongkrak daya beli masyarakat.

(22)

0.00 2,000.00 4,000.00 6,000.00 8,000.00 10,000.00 12,000.00 Daya Beli Sag ala hera ng Ser angp an... Jalan caga k Cia ter Cis alak Kas omalan g Tan jung sian g Cija mbe Cib ogo Sub ang Kali jati Daw uan Cip eund euy Pab uara n Pat okbe usi Pur wad adi Cik aum Pag aden Pag aden Bar at Cip unag ara Com pren g Bino ng Tamb akda han Cia sem Paman ukan Suk asar i Pus akan agar a Pus akaja ya Lego nkulon Blan akan Grafik 4.5.

Daya Beli Penduduk Kabupaten Subang Menurut Kecamatan Tahun 2015

Gambar

Tabel 4.1. Luas Wilayah dan Penduduk Kabupaten Subang  Menurut Kecamatan dan Katagori Wilayah
Tabel 4.2.  Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Subang   Menurut Kecamatan Tahun 2015
Tabel 4.3 : Angka Harapan Hidup Usia 0 (AHHo) Tahun  Di Kabupaten Subang menurut Kecamatan
Tabel 4.4 : Harapan Lama Sekolah (HLS) penduduk Dewasa  Di Kabupaten Subang menurut Kecamatan
+3

Referensi

Dokumen terkait

Beberapa hal yang menjadi pertimbangan dalam penentuan lokasi penelitian yaitu: (1) Kabupaten Bangli memiliki produksi kopi Arabika paling tinggi di Provinsi

Hasil penelitian menunjukkan bahwa indeks kepuasan keseluruhan masyarakat Tanjungpinang BP2T dapat dikatakan dalam kondisi baik yaitu dengan nilai IKM yang telah di konversi

tidak SRI KEHATI memiliki rasio lebih tinggi dan total aset pada perusahaan. PNBN di tahun 2015 sendiri tercatat sebesar Rp 183.121 miliar, naik

Prediket: Dengan nilai indeks ISR sebesar 50%, maka predikat tingkat pengungkapan CSR berdasarkan ISR BSM pada tema pendanaan dan investasi dari tahun 2015 sampai

Tingkat Ancaman Bencana Gempabumi di Desa Muruh Kecamatan Gantiwarno Kabupaten Klaten Termasuk dalam tingkat Tinggi hal ini diperoleh dari hasil perpaduan indeks