REGULASI DAN ETIKA PENGGUNA MEDIA SOSIAL
REGULASI DAN HUKUM ICT
Nama
: Hendri Yulianda
NIM
: 55416110026
Program Studi
: Magister Teknik Elektro
DOSEN : Dr Ir Iwan Krisnadi MBA
P
ROGRAM STUDI MAGISTER TEKNIK ELEKTRO
FAKULTAS PASCASARJANA
UNIVERSITAS MERCU BUANA
JAKARTA
I. PENDAHULUAN
Dalam kondisi yang serba modern saat ini tidak bisa kita pungkiri sisi kekurangan justru lebih terbuka lebar, dengan media social orang lain bisa berbuat apa saja tanpa Batasan jarak dan waktu. Seorang yang menpunyai niat buruk bisa menprovokasi sekian banyak orang dalam waktu yang singkat. Ketika kita hidup dalam atmosfir demokrasi, maka iklim saling melontarkan pendapat dan adu argumen tentu menjadi suatu hal yang biasa dan jangan sampai “diambil hati”. Ini adalah ekses demokrasi. Jika tidak suka, maka jangan hidup di negara demokrasi.
Etika dalam dunia komunikasi sendiri ada yang mendefiinisikan sebagai standar dan peraturan moral untuk pekerja profesional media yang harus diterapkan dalam berbagai situasi. Etika menjadi pegangan utama bagi para pekerja media di luar regulasi dan kebijakan pemerintah yang bersifat formal. Etikalah yang memandu komunikator mengenai bagaimana seharusnya mereka berperilaku dalam berbagai situasi, di mana kegiatan mereka mungkin mempunyai dampak negatif terhadap orang lain. Komunikasi dan Psikologi adalah bidang yang saling berkaitan satu sama lain, terlebih sama-sama melibatkan manusia. Komunikasi adalah kegiatan bertukar informasi yang dilakukan oleh manusia untuk mengubah pendapat atau perilaku manusia lainnya. Sementara, perilaku manusia merupakan objek bagi ilmu psikologi. Sehingga, terbentuklah teori psikologi komunikasi.
II. LANDASAN TEORI
A. Pengertian Regulasi
b. Pengertian Etika
Sementara itu etika media massa ialah kesadaran moral mengenai kewajiban-kewajiban media massa dan mengenai penilaian media massa yang baik dan yang buruk, yang benar dan yang salah. Etika adalah sebuah studi tentang formasi nilai-nilai moral dan prinsip-prinsip benar dan salah. Dalam kaitannya dengan jurnalistik, etika merupakan perspektif moral yang diacu dalam mengambil keputusan peliputan dan pemuatan fakta menjadi berita.
Selain undang-undang dan peraturan-peraturan lain yang dibuat oleh lembaga legislatif ataupun pemerintah tersebut, perlu adanya pedoman berperilaku lain yang tidak memberi sanksi fisik, baik berupa penjara atau denda, namun lebih pada sanksi moral untuk mengatur manusia dalam berinteraksi dengan media yang memiliki aspek yang kompleks berupa etika. Dalam bukunya An Introduction to Ethics, W. Lilie memberi definisi “etika” sebagai ilmu pengetahuan normatif mengenai kelakuan manusia dalam kehidupannya di masyarakat. Dari pendapat tersebut—juga pendapat ahli-ahli yang lain, dapat disimpulkan bahwa etika adalah ilmu pengetahuan normatif yang menjadi bagian dari filsafat moral. Ketiga hal ini dapat dihubungkan sebagai berikut; etika merupakan filsafat moral dan filsafat moral adalah bagian dari filsafat yang disebut filsafat praktis. Dan berbicara tentang filsafat maka tak dapat dilepaskan dari konteks asal-usulnya sebagai ilmu pengetahuan karena kedudukan filsafat yang menjadi induk ilmu pengetahuan.
Etika media massa merupakan bagian yang paling banyak disorot dari kemerdekaan pers. Hal
ini dikarenakan hilangnya filter yang membatasi antara informasi yang diberikan oleh media massa
dengan yang dikonsumsi oleh masyarakat dalam era kemerdekaan pers ini. Media massa menjadi
bebas untuk menayangkan informasi apapun yang mereka suka. Demikian pula dengan masyarakat,
dengan semakin bebasnya informasi yang diberikan oleh media, konsumen semakin bebas untuk
mengkonsumsi informasi itu. Tentu hal ini memiliki dampak positif dan negatif. Dampak positif dari
hal ini ialah media semakin bebas berekspresi dalam menayangkan informasi dan konsumen semakin
variatif dalam memilih informasi apa yang mereka inginkan. Sementara dampak negatifnya ialah
semakin hilangnya budaya-budaya masyarakat karena arus informasi yang mengalir bebas ini.
Sebagai contoh, saat ini semakin banyak surat kabar, majalah atau tabloid yang hanya menjual
sensasi dan sensualitas yang kualitas isinya sebenarnya meragukan dan masyarakat pun bisa dengan
nilai kehidupan dan budaya bangsa Indonesia. Kode Etik adalah peraturan moral, atau pedoman dari tingkah laku yang membantu aksi personal dalam situasi khusus. Dalam konteks jurnalistik, kode etik memegang peranan yang sangat penting dalam dunia pers.
III. ANALISIS DAN PEMBAHASAN
A. Penyebab Remaja Sering Menyalahgunakan Jejaring social Menurut kami, remaja sering menyalahgunakan jejaring sosial karena :
1. Kondisi Psikologis Labil
Remaja adalah saat diantara masa anak-anak dan dewasa. Sehingga kondisi psikologisnya sering labil.
2. Ingin Mencurahkan Isi Hati
Karena kondisi psikologisnya labil, maka seringkali mencurahkan isi hatinya di
jejaring sosial supaya orang lain tahu isi hatinya. Namun, jika menggunakan ungkapan yang buruk, maka akan menjadi masalah yang lain.
3. Kondisi lingkungan yang kurang memperhatikannya
Misalnya kasih sayang yang kurang dari kedua orangtuanya, atau kondisi lingkungan tempat tinggal yang kurang peduli dengannya.
4. Ingin mengekspresikan diri
Menurut survey kami, ada beberapa siswa yang sebenarnya terlihat pendiam, namun di jejaring sosial ia selalu terlihat ekspresif. Bahkan, hal itu dilarang. Karena ia tak mencerminkan dirinya yang sebenarnya.
5. Coba-coba
Seringkali remaja membuka situs web di jejaring sosial karena coba-coba. Misalnya sebuah iklan di sebuah situs web. Namun, dapat menjadi kebiasaan yang buruk. 6. Dampak Negatif dan Positif Jejaring Sosial
Berikut adalah dampak negatif yang timbul akibat pengguaan jejaring sosial:
Kecanduan
Lupa waktu
Bisa terperangkap dalam kejahatan internet
Berkurangnya perhatian terhadap keluarga
Tergantikannya kehidupan sosial
Tersebarnya data penting yang tidak semestinya
Membuat prestasi pelajar semakin menurun
Tumbuhnya sikap hedonisme dan konsumtif
B. Berikut beberapa tips untuk mengurangi kecanduan internet.
1 Niat yang kuat
Niat yang besar dan kuat untuk “sembuh” dan lepas dari kecanduan internet adalah suatu pangkal usaha kita karena tanpa niat yang kuat, semuanya seakan sia – sia. Ditambah juga dengan berdo’a kepada Tuhan YME.
2 Cari tahu masalahnya
Bagi sebagian orang saat merasa gundah dan gelisahakan berkurang jika berinteraksi dengan internet atau yang lebih tragis lagi bisa dikatakan bila seseorang sedang “sakaw” maka akan sembuh ketika sudah menggunakan internet. Masalah seperti ini yang harus ditemukan dan menggantikan dengan hal yang positif lagi.
3 Kenali pemicunya
4 Ubah pola kebiasaan online
Jika kebiasaan online kita menghabiskan waktu seharian untuk berinternet yang belum tentu arahnya, maka kita harus mulai merubah kebiasaan itu dengan membuat pola baru dimana misalnya, membaca email sebagai prioritas, dilanjutkan dengan membaca informasi berita setelah itu kita harus mulai berani untuk tidak melakukan hal-hal yang tidak menjadi prioritas, namun aturan yang dibuat itu harus dipatuhi.
5 Atur ulang jadwal rutinitas.
Biasanya orang yang kecanduan internet tidak mempunyai jadwal yang teratur dalam kesehariannya. Oleh karena itu, kita harus mulai mengatur ulang jadwal rutinitas kita dengan baik dan seimbang, antara kewajiban dan hak.
C. Undang-undang (UU) penggunaan Jejaring Sosial
Adapun Perundang-undangan yang mengatur penggunaan jejaring sosial Perkembangan teknologi informasi yang demikian pesatnya haruslah diantisipasi dengan hukum yang mengaturnya dimana kepolisian merupakan lembaga aparat penegak hukum yang memegang peranan penting didalam penegakan hukum, sebab tanpa adanya hukum yang mengatur dan lembaga yang menegakkan maka dapat menimbulkan kekacauan didalam perkembangannya. Dampak negative tersebut menimbulkan suatu kejahatan yang dikenal dengan nama “CYBERCRIME” yang tentunya harus diantisipasi dan ditanggulangi.
Menjawab tuntutan dan tantangan komunikasi global lewat Internet, Undang-Undang yang
diharapkan (ius konstituendum) adalah perangkat hukum yang akomodatif terhadap perkembangan
serta antisipatif terhadap permasalahan, termasuk dampak negatif penyalahgunaan Internet dengan
berbagai motivasi yang dapat menimbulkan korban-korban seperti kerugian materi dan non materi.
Saat ini, Indonesia belum memiliki Undang-Undang khusus/cyber law yang mengatur mengenai
cybercrime walaupun rancangan undang-undang tersebut sudah ada sejak tahun 2000 dan revisi
terakhir dari rancangan undang-undang tindak pidana di bidang teknologi informasi sejak tahun 2004
sudah dikirimkan ke Sekretariat Negara RI oleh Departemen Komunikasi dan Informasi serta
dikirimkan ke DPR namun dikembalikan kembali ke Departemen Komunikasi dan Informasi untuk
berlaku umum dan dapat dikenakan bagi para pelaku cybercrime terutama untuk kasus-kasus yang menggunakan komputer sebagai sarana, antara lain:
Contoh Pelanggaran UU-ITE [pasal 30 (3)] Contoh Cyber-Crime Indonesia berdasarkan pasal 30 [3] UU-11-2008 dengan ancaman pidana maksimum 8 tahun denda maksimum Rp.800juta – pasal 46 [3].
Pasal 30
1. Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum mengakses Komputer dan/atau Sistem Elektronik milik Orang lain dengan cara apa pun.
2. Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum mengakses Komputer dan/atau Sistem Elektronik dengan cara apa pun dengan tujuan untuk memperoleh Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik.
3. Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum mengakses Komputer dan/atau Sistem Elektronik dengan cara apa pun dengan melanggar, menerobos,
melampaui, atau menjebol sistem pengamanan.
Pasal 46
1. Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp600.000.000,00 (enam ratus juta rupiah).
2. Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp700.000.000,00 (tujuh ratus juta rupiah).
D. Jenis Jenis Pelanggaran Dunia Maya
Departemen Komunikasi dan Informasi (Depkominfo) menetapkan tiga jenis pelanggaran hukum yang terjadi dalam memanfaatkan sistim komunikasi teknologi informasi atau dikenal dengan istilah kejahatan di “dunia maya”. Jenis pelanggaran itu diatur dan ditentukan sanksi hukumnya dalam RUU Informasi dan transaksi elektronik (ITE) yang akan disahkan DPR-RI, kata Dirjen Aplikasi Telematika, Departemen Komunikasi dan Informasi (Depkominfo) RI, Ir Cahyana Ahmadjayadi dalam penjelasan tertulis di Padang, Rabu (30/05).
Hal itu disampaikannya terkait pembahasan RUU ITE yang tengah dilakukan DPR-RI dan kini dalam tahap sosialisasi kepada publik dengan melibatkan pemerintah (Departemen Komunikasi dan Informasi RI). Kejahatan itu meliputi, pelanggaran isi situs web, pelanggaran dalam perdagangan secara elektronik dan pelanggaran bentuk lain. Kejahatan isi situs web terdiri dari pornografi dan pelanggaran hak cipta, ujarnya. Pornografi merupakan pelanggaran paling banyak terjadi di “dunia maya” dengan menampilkan foto, cerita atau gambar bergerak yang pemuatannya selalu berlindung dibalik hak kebebasan berpendapat dan berserikat. Alasan ini, sering digunakan di Indonesia oleh pihak-pihak yang terlibat dalam pornografi itu, sehingga situs-situs porno tumbuh subur karena mudah diakses melalui internet.
Sementara itu, pelanggaran hak cipta sering terjadi baik pada situs web pribadi, komersial maupun akademisi berupa, memberikan fasilitas download gratis baik foto, lagu, softwere, film dan karya tulis dilindungi hak ciptanya. Selain itu, menampilkan gambar-gambar dilindungi hak cipta untuk latar belakang atau hiasan “web pages” dan merekayasa gambar atau foto orang lain tanpa izin, seperti banyak terjadi pada situs-situs porno.
Kemudian, penipuan pemasaran berjenjang online ciri-cirinya mencari keuntungan dari
merekrut anggota dan menjual produk secara fiktif dengan resiko bagi korban, 98 % investasi ini
gagal atau rugi. Sedangkan penipuan kartu kerdit ciri-cirinya terjadi biaya misterius pada penagihan
kartu untuk produk atau layanan internet yang tidak pernah dipesan dengan resiko, korban perlu
waktu untuk melunasi kreditnya.Sementara itu, pelanggaran dalam bentuk lain terdiri dari
recreational hacker, cracker atau criminal minded hacker, political hacher, denial of service attack
(DoS), Viruses, Piracy (pembajakan), Fraud, Phishing, perjudian dan cyber stalking.Ia menjelaskan,
recreational hacker umumnya bertujuan hanya untuk menjebol suatu sistim dan menunjukkan
kegagalan atau kurang andalnya sistim keamanan pada suatu perusahaan.
Cracker atau criminal minded hacker motivasinya antara lain untuk mendapatkan keuntungan finansial dengan melakukan sabotase sampai pada penghancuran data. Political hacher merupakan aktivitas politik melalui suatu situs web untuk menempelkan pesan atau mendiskreditkan lawan. Denial of service attack (DoS) merupakan penyerangan dengan cara membanjiri data yang besar dan mengakibatkan akses ke suatu situs web menjadi sangat lambat atau berubah menjadi macet atau tidak bisa diakses sama sekali. Viruses berupa penyebaran sedikitnya 200 virus baru melalui internet dan biasanya disembunyikan dalam file atau e-mail yang akan di download atau melalui jaringan internet dan disket. Piracy berupa pembajakan perangkat lunak yang menghilangkan potensi pendapatan suatu perusahaan yang memproduksinya seperti, games, aplikasi bisnis dan hak cipta lainnya.
IV. KESIMPULAN DAN PENUTUP
1. Kesimpulan
Disinilah regulasi berperan untuk menjaga kepentingan masyarakat dari kepentingan-kepentingan tertentu. Tujuannya yaitu untuk meminimalisir masyarakat yang memiliki potensi besar untuk menjadi korban konvergensi media, khususnya generasi muda yang dianggap memiliki akses terhadap media konvergen dan rancunya batasan seberapa jauh isi media konvergen dianggap melanggar norma yang berlaku..Namun, yang menarik ialah bahwa teknologi selalu mendahului regulasi. Bagaimana caranya mengontrol semua ini? Yang dianggap paling berwenang ialah negar akarena negara dianggap penyeimabng antara pasar dan masyarakat. Di sisi lain negara mempunyai wewenang untuk menjaga efektifnya sebuah regulasi. Secara ideal hubungan antara negara, pasar, dan masyarakat seharusnya berjalan seimbang. Jangan sampai salah satu pihak mendominasi dan masyarakat hanya bisa menerima informasi apa yang diberikan media.
Ada beberapa catatan penting tentang pelaksanaan etika media massa, antara lain:
1. Pelaksanaan etika media massa masih membutuhkan perjuangan yang berat dan terus menerus. Etika media massa sangat sulit untuk dilaksanakan oleh semua pihak. Visi, misi, dan orientasi yang berbeda-beda antar media massa menyebabkan perbedaan pla dalam pelaksanaan etika. Media yang orientasinya pada keuntungan materi dengan mementingkan pasar akan lebih cenderung untuk mengekspos berita yang sensasional, bombastis, kriminal atau bahkan seks. Media seperti ini akan kesulitan dalam menerapkan etika media massa.
2. Pelaksanaan etika bisa terhambat karena masing-masing pihak membuat ukuran sendiri-sendiri mengenai etika.
3. Pelaksanaan etika media massa sulit diwujudkan karena tanggung jawabnya terletak pada diri sendiri dan sanksi masyarakat.
2. Penutup
DAFTAR PUSTAKA
Rahardi,kunjana. 2006 dimensi-dimensi kebahasaan. Yogyakarta :pt. Gelora aksara. Budiarjo, miriam, dasar-dasar ilmu politik, pt. Gramedia pustaka utama, jakarta Mas’oed mukhtar, dan andrew mac collin, 2000, perbandingan sistem politik,gajah mada
university press, yogyakarta.
Harmonis, dr. Fal., m.si, makalah dan jurnal perkuliahan komunikasi politik, umj, 2012 Dan nimo, komunikasi politik, 2005, rosydakarya, bandung. Cet-vi
Wahid, umaimah, dr, materi perkuliahan ekonomi media politik, pascasarjana umj, 2011
Uu penyiaran no. 32 tahun 2002, internet.jujun s. Suriasumantri, filsafat ilmu sebuah pengantar populer, 1994.
Heryanto, Gun Gun, Dinamika Komunikasi Politik, Jakarta, PT. Lasswell Visitama, 2011. Internet :
Http://alumnihmm.blogspot.com/2008/04/pengertian-retorika.html
http://id.shvoong.com/law-and-politics/political-philosophy/2096138-pengertian-retorika. Bincang Media, blog iwan awaluddin yusuf dosen ilmu komunikasi universitas islam indonesia
(uii), peneliti di pusat kajian media dan budaya populer (pkmbp) dan pemantau regulasi dan regulator media (pr2media) yogyakarta.
http://luthfyrijalulfikri.blogspot.co.id/2012/12/regulasi-dan-etika-media.html
http://carafitrah.blogspot.co.id/2014/10/pengertian-regulasi.html
https://coretantugas.wordpress.com/2013/05/18/penyalahgunaan-jejaring-sosial/
http://id.wikipedia.org. “Jejaring Sosial,” dalam Wikipedia.com.
http://insan.or.id. “Manfaat Positif dari Jejaring Sosial,” dalam Depkominfo. http://www.hendriono.web.id. “Efek Negatif Jejaring Sosial bagi Siswa,” dalam Hendriono Online.
http://media.kompasiana.com. “Dampak Positif dan Negatif Jejaring Sosial,” dalam Kompasiana..