• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengentalan dan Penguapan Produk Pertani

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Pengentalan dan Penguapan Produk Pertani"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN PRAKTIKUM SATUAN OPERASI INDUSTRI

(Pengentalan dan Penguapan Produk Pertanian Cair)

Oleh :

Nama : Nur Oktavia B.

NPM : 240110120046

Hari, Tanggal Praktikum : Kamis, 22 Mei 2014 Waktu : 15.00 – 17.30 WIB Co.Ass : Astri Ariyanti

Rizqi Putri Fathoni

LABORATORIUM PASCA PANEN DAN TEKNOLOGI PROSES JURUSAN TEKNIK DAN MANAJEMEN INDUSTRI PERTANIAN

FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN UNIVERSITAS PADJADJARAN

2014

(2)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dalam kehidupan sehari-hari kegiatan pemekatan atau pengentalan banyak terjadi, misalnya ketika ibu sedang memasak, kadang-kadang masakan yang dimasak berasa hambar atau kurang asin, sehingga ibu menambahkan garam ke dalamnya. Dari kejadian tersebut dapat kita ambil kesimpulan bahwa pengentalan atau pemekatan adalah bertambahnya rasio konsentrasi zat terlarut di dalam larutan akibat penambahan zat terlarut (Zulfikar, 2010).

Tidak hanya dalam kehidupan sehari-hari saja, pengentalan juga banyak digunakan untuk proses penanganan hasil pertanian terutama dalam industri pengolahan hasil pertanian. Pengentalan bertujuan untuk mengawetkan bahan pangan sehingga memperpanjang masa simpan. Selain menambah zat ke dalam larutan, pengentalan juga dapat dilakukan dengan cara mengurangi kadar air larutan tersebut sehingga konsentrasi zat akan meningkat, caranya yaitu dengan dilakukan penguapan.

Sebagai mahasiswa calon sarjana teknologi pertanian, kita harus mengetahui prinsip dari pengentalan dan penguapan itu sendiri agar dapat diaplikasikan pada industri-industri pertanian. Oleh karena itu dilakukanlah praktikum ini agar mahasiswa lebih mengetahui dan paham tentang proses pengentalan dan penguapan beserta aplikasinya.

1.2 Tujuan

1.2.1 Tujuan Instruksional Umun (TIU)

Mahasiswa dapat mempelajari pengentalan dan penguapan dalam unit operasi industri hasil pertanian

1.2.2 Tujuan Instruksional Khusus (TIK)

1. Mempelajari perubahan titik didih produk pertanian cair selama pemanasan dan penguapan

(3)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengentalan

Pengentalan atau pemekatan didefinisikan sebagai peningkatan komposisi senyawa terlarut (solute) dalam pelarutnya melalui metode evaporasi atau vaporisasi (vaporization) tanpa mengubahnya menjadi produk kering, meskipun hasil akhir dari proses pemekatan dapat berupa ekstrak dengan viskositas tinggi. Istilah vaporisasi atau boiling down lebih sering digunakan untuk menggambarkan pemekatan suatu ekstrak dibandingkan dengan evaporasi (Ramadhan, 2011).

Menurut Frianka (2013), pemekatan merupakan proses peningkatan konsentrasi atau membuang sebanyak mungkin pelarut dengan cara proses vacum atau penguapan biasa, dimana akan dihasilkan ekstrak pekat yang berbentuk ekstrak kental atau ekstrak kering. Tujuan dari adanya pemekatan adalah meningkatkan kadar zat aktif dalam volme yang kecil, mempermudah proses pembuatan, dan menghilangkan sisa pelarut.

Parameter yang mempengaruhi proses pemekatan meliputi jumlah larutan yang akan dipekatkan dan kestabilan dari zat terlarut. Jika diperkirakan zat terlarut yang dikehendaki bersifat termostabil maka pemekatan dapat dilakukan pada tekanan biasa atau di bawah vakum. Zat yang bersifat termolabil harus dipekatkan dengan suhu yang diperkirakan tidak akan mendegradasi zat tersebut. Peningkatan tekanan dapat dilakukan agar suhu yang diperlukan untuk menguapkan pelarut dapat diturunkan (Ramadhan, 2011).

2.2 Penguapan

Evaporasi atau yang biasa disebut penguapan merupakan unit operasi yang digunakan untuk menghilangkan sebagian air yang terdapat dalam bahan pangan cair dengan cara mendidihkan. Evaporasi bertujuan untuk meningkatkan padatan dan masih dalam bentuk puree. Evaporasi secara umum dapat didefinisikan dalam dua kondisi, yaitu:

(4)

(2) Evaporasi yang dimaknai dengan proses penguapan yang timbul akibat diberikan uap panas (steam) dalam suatu peralatan.

Panas dapat disuplai dengan berbagai cara, diantaranya secara alami dan penambahan steam. Evaporasi didasarkan pada proses pendidihan secara intensif yaitu

(1) pemberian panas ke dalam caira

(2) pembentukan gelembung-gelembung (bubbles) akibat uap (3) pemisahan uap dari cairan

(4) mengkondensasikan uapnya.

Evaporasi atau penguapan juga dapat didefinisikan sebagai perpindahan kalor ke dalam zat cair mendidih. Pengeringan vakum, merupakan pengeringan yang menggunakan logam sebagai medium pengontak panas atau menggunakan efek radiasi. Pada proses ini penguapan air berlangsung lebih cepat pada tekanan rendah. Perbedaan evaporasi dengan metode pengeringan vakum ada pada tujuan pengolahan, produk yang dikeringkan dan hasil akhirnya. Produk akhir evaporasi adalah liquid terkonsentrasi, bukan solid. Uap air digunakan sebagai pengubah fasa saat mengkonsentrasi komponen yang tidak tahan panas seperti protein dan gula. Panas diberikan pada larutan dan sebagian dari solvent berubah menjadi uap. Proses evaporasi berlangsung pada temperatur tinggi dengan tekanan yang rendah. Dalam proses evaporasi, sisa dari proses tersebut (fase yang ditinggalkan) adalah zat cair (kadang-kadang zat cair yang sangat viskos). Dalam proses pengeringan, sisa dari proses tersebut adalah zat padat. Pada evaporasi, cairan yang diuapkan dalam kuantitas relatif banyak, sedangkan pada pengeringan sedikit. Dengan alat pengering vakum, sebagian air dari bahan pangan pangan akan dihilangkan dengan cara diuapkan, sehingga kadar air seimbang dengan kondisi udara normal atau setara dengan nilai aktifitas air (Aw) yang aman dari kerusakan mikrobiologis, enzimatis dan kimiawi (Agustina, 2012).

(5)

Proses ini dilakukan dengan memanaskan cairan sampai mencapai titik didihnya. Masalah-masalah didalam evaporasi ini meliputi pindah panas pada umumnya dan kesetimbangan massa dan energi.

Faktor yang mempengaruhi laju penguapan adalah :  Laju panas pada waktu dipindahkan ke bahan cair.

 Jumlah panas yang dibutuhkan untuk menguapkan setiap pound cair.  Suhu maksimum yang diperkenankan untuk bahan cair.

 Tekanan pada saat penguapan terjadi.

 Perubahan lain yang mungkin terjadi di dalam bahan selama proses penguapan berlangsung.

Sebagai suatu bagian proses di dalam pabrik, secara prinsip alat penguapan mempunyai 2 fungsi yaitu merubah panas dan memisahkan uap yang terbentuk dari bahan cair.

Ketentuan-ketentuan yang penting pada praktek penguapan adalah:

 Suhu maksimum yang diperkenankan, yang sebagian besar di bawah 212°F  Promosi perputaran bahan cair melalui permukaan pindah panas untuk

mempertahankan koefisisen pindah panas yang tingi dan untuk menghindari setiap pemanasan lokal yang terlalu tinggi.

 Kekentalan bahan cair yang selalu meningkat dengan cepat karena meningkatnya jumlah bahan yang tidak telarut.

 Setiap kecenderungan untuk berbusa yang akan mempersulit pemisahan bahan cair dengan uap.

2.3 Satuan Konsentrasi Larutan 2.3.1 Molaritas

(6)

penggunaan satuan ini adalah ketidaktepatan dalam pengukuran volum. Selain itu, volum suatu cairan berubah sesuai temperatur, sehingga molaritas larutan dapat berubah tanpa menambahkan atau mengurangi zat apapun. Selain itu, pada larutan yang tidak begitu encer, volume molar dari zat itu sendiri merupakan fungsi dari konsentrasi, sehingga hubungan molaritas-konsentrasi tidaklah linear.Secara matematik dinyatakan sebagai berikut:

Molalitas merupakan satuan konsentrasi yang penting untuk menentukan sifat-sifat yang tergabung dari jumlah partikel dalam larutan. Molalitas (m) didefinisikan sebagai banyak mol zat terlarut yang dilarutkan dalam satu kilogram (1.000 gram) pelarut. Misalkan jika 2 mol garam dapur (NaCl) dilarutkan dalam 1.000 gram air maka molalitas garam dapur tersebut adalah 2 molal. Secara matematis pernyataan tersebut dinyatakan seperti berikut (Deswanti, 2013).

m=n ×1000 n = jumlah mol zat terlarut p = massa pelarut (gram) m = massa zat terlarur (gram)

2.4 Titik Didih

(7)

selalu lebih tinggi dari titik didih pelarut murninya. Hal ini disebabkan adanya partikel - partikel zat terlarut dalam suatu larutan menghalangi peristiwa penguapan partikel partikel pelarut. Oleh karena itu, penguapan partikel -partikel pelarut membutuhkan energi yang lebih besar. Perbedaan titik didih larutan dengan titik didih pelarut murni di sebut kenaikan titik didih yang dinyatakan dengan (ΔTb) (Triyadi, 2011).

Berdasarkan persamaan matematis, dapat dirumuskan:

ΔTb = titik didih larutan – titik didih pelarut

Menurut hukum Raoult, besarnya kenaikan titik didih larutan sebanding dengan hasil kali dari molalitas larutan (m) dengan kenaikan titik didih molal (Kb). Oleh karena itu, kenaikan titik didih dapat dirumuskan seperti berikut:

ΔT = Kb x m Keterangan:

ΔT = kenaikan titik didih molal

Kb = tetapan kenaikan titik didih molal m = molalitas larutan

2.5 Gula dan Garam

Glukosa atau biasa disebut dengan gula yaitu bentuk lain dari karbohidrat

(8)

yang dapat menghantarkan arus listrik. Cairan dalam tubuh makhluk hidup mengandung larutan garam,misalnya sitoplasma dan darah.Reaksi kimia untuk menghasilkan garam antara lain:

1. Reaksi antara asam dan basa, misalnya HCl + NH3→ NH4Cl.

2. Reaksi antara logam dan asam kuat encer, misalnya Mg + 2 HCl → MgCl2+ H2.

Terbentuknya garam ini umumnya akibat dari penguapan air yang mengandung garam seperti air laut yang banyak mengandung ion-ion Na+

( S o d i u m ) d a n C l- (Cloride). Di antara tahapan proses yang dipergunakan,

kristalisasi merupakan salah satu proses dalam produksi garam farmasetis. Disamping untuk menghasilkan kristal garam, kristalisasi juga dimaksudkan untuk menghasilkan produk kristal dengan kemurnian, ukuran dan jumlah tertentu. Kristalisasi Garam diproleh dari proses pembentukan fase padat(kristal) komponen tunggal dari fase cair (larutan atau lelehan) yang multi komponen, dan dilakukan dengan cara pendinginan, penguapan dan kombinasi pendinginan dan penguapan. Proses pembentukan kristal dilakukan dalam tiga tahap, yaitu :

1. pencapaian kondisi super/lewat jenuh (supersaturation), 2. pembentukan inti kristal (nucleation), dan

3. pertumbuhan inti kristal menjadi kristal (crystal growth).

(9)

BAB III

METODOLOGI PENGAMATAN DAN PENGUKURAN

3.1 Alat dan Bahan 3.1.1 Alat

Peralatan yang digunakan dalam praktikum Pengentalan dan Penguapan ini yaitu :

1. Beaker glass, dengan indikator volume 2. Kompor listrik

3. Pengaduk

4. Termometer air raksa 5. Timbangan digital

3.1.2 Bahan

Adapun bahan yang digunakan dalam praktikum Pengentalan dan Penguapan ini yaitu:

1. Air 2. Garam

3.2 Prosedur Praktikum

Adapun langkah-langkah dalam melakukan praktikum ini yaitu:

A. Prosedur pengukuran perubahan kenaikan suhu titik didih dengan penambahan konsentrasi yaitu:

1. Menyiapkan Beaker glass. Memasukkan air murni yang cukup panas sebanyak 400 ml ke dalam Beaker glass kemudian dipanaskan di atas kompor listrik sampai mencapai titik didihnya. Melakukan pengukuran suhu titik didih pelarut murni.

2. Sementara itu melakukan penimbangan berat garam yang akan dilarutkan

(10)

4. Setiap kali penambahan gula diukur suhu titik didih larutan. Mengusahakan volume larutan konstan, bila perlu menambahkan air murni untuk mengganti volume air yang teruapkan

B. Pengukuran laju penguapan dan laju perpindahan panas

1. Memanaskan Beaker glass yang berisi larutan dengan konsentrasi 70% lebih lanjut

(11)

BAB IV

HASIL PERCOBAAN

4.1 Hasil Percobaan A (Pengukuran Perubahan Kenaikan Suhu Titik Didih dengan Penambahan Konsentrasi

Tabel 1. Tabel data hasil percobaan A

No

2. 1,17 5 91,2 0,2 0,05 0,0260 373,0260

3. 2,34 10 91,3 0,1 0,10 0,0512 373,0512

4. 7,02 30 91,8 0,5 0,30 0,1537 373,1537

5. 11,70 50 91,0 -0,8 0,50 0,2502 373,2562

6. 16,38 70 91,5 0,5 0,70 0,3590 373,3590

Perhitungan

A. Menghitung garam yang ditambahkan Gram terlarut= Vpelarut

Garam yang ditambahkan = 1,17 gram – 0 gram = 1,17 gram 3. 10 400

1000×0,1×58,5=2,34gram

Garam yang ditambahkan = 2,34 gram – 1,17 gram = 1,17 gram 4. 30 400

1000×0,3×58,5=7,02gram

Garam yang ditambahkan = 7,02 gram – 2,34 gram = 4,68 gram 5. 50 400

1000×0,5×58,5=11,7gram

(12)

6. 70 400

1000×0,7×58,5=16,38gram

Garam yang ditambahkan = 16,38 gram – 11,7 gram = 4,68 gram

B. Menghitung Molalitas Larutan (m)

m=gramterlarut

C. Menghitung ΔTb Tiap Konsentrasi Larutan

∆ Tb=

Rg.

(

TAO

)

2. M a. m

Hu.1000 Keterangan:

ΔTb = perubahan kenaikan suhu titik didih dengan penambahan konsentrasi (K)

Rg = tetapan gas ideal (8,314 J/mol K)

TAO = titik didih pelarut murni = 100oC = 373 K

mA = BM pelarut H2O (Mr =18)

m = molalitas larutan (mol)

(13)
(14)

363.8 364 364.2 364.4 364.6 364.8 365

Gambar 1. Grafik Tc Percobaan Terhadap Konsentrasi

372.9 373 373.1 373.2 373.3 373.4 0

Gambar 2. Grafik Tc Perhitungan Terhadap Konsentrasi

4.2 Hasil Percobaan B (Pengukuran Laju Penguapan dan Laju Perpindah Panas) Tabel 2. Tabel data hasil percobaan B

No C=berat garam×1000ml

volume larutan × Mr

(15)

1. C1=16,38gr ×1000ml

B. Menghitung Laju Penguapan (qu)

qu=Hu×∆ M ∆ t

qu=Hu× B

Keterangan:

qu = laju penguapan (watt)

(16)

Gambar 3. Grafik Perubahan Massa Terhadap Waktu

C. Menghitung laju Perpindahan Panas (qc)

qc=m× Cp×∆ T ∆ t

qc=m× Cp× B

Keterangan:

qc = laju perpindahan panas (watt)

m = massa larutan (kg)

(17)

Gambar 4. Grafik Suhu Titik Didih terhadap Waktu qc=m× Cp×∆ T

∆ t

qc=m× Cp× B

qc=0,1638kg ×4,180kJ

kg. K ×0,081 qc=0,05545kJ/menit

qc=0,92432watt

D. Menghitung Laju Panas Keseluruhan (qv)

qv = U A (Td – Tc)

qv = qu + qc

=

(

Hu×∆ M

∆ t

)

+

(

m×Cp × ∆ T

∆ t

)

qv = 42958,23 watt + 0,92432 watt

qv = 42959,15 watt

BAB V PEMBAHASAN

Pada praktikum ini dilakukan percobaan dua proses yaitu pengentalan dan penguapan. Kedua proses ini sama-sama bertujuan untuk meningkatkan konsentrasi larutan. Perbedaannya adalah apabila pengentalan, dilakukan penambahan zat terlarut ke dalam larutan. Sedangkan penguapan adalah proses meningkatkan konsentrasi dengan menggunakan uap panas sehingga kadar air dalam larutan berkurang sehingga konsentrasi akan meningkat. Kedua proses ini juga sama-sama cara untuk mengawetkan bahan pangan agar memiliki umur simpan yang lebih lama.

(18)

mendidih tersebut ditambahkan garam sebanyak 1,17 gram. Titik didih larutan menjadi meningkat 0,2 o C menjadi 91,2 oC. Kemudian larutan

ditambahkan garam lagi sebanyak 1,17 gram untuk mendapatkan konsentrasi larutan garam sebesar 10%, penambahan garam tersebut menyebabkan kenaikan titik didih sebesar 0.1 oC. Untuk konsentrasi

larutan 30 %, larutan 10% ditambahkan garam 4,68 gram dan titik didihnya naik menjadi 91,8 oC. Selanjutnya pada konsentrasi larutan 50 %

dengan dilakukan penambahan garam sebanyak 4,68 gram, titik didih turun menjadi 91 oC. Perlakuan terakhir adalah pada konsentrasi 70 % ,

garam ditambahkan sebanyak 4,68 gram pada larutan sehingga titik didih meningkat lagi menjadi 91,5 oC.

Setelah diukur kenaikan titik didihnya, dilakukan perhitungan konsentrasi. Konsentrasi yang dihitung pada praktikum ini adalah molalitas dengan nilai yang berbanding lurus dengan konsentrasi dalam satuan persen. Selain itu, dihitung pula nilai ΔTb dan Tc nya. Hasil praktikum tersebut menunjukan bahwa apabila larutan ditambahkan konsentrasinya maka akan terjadi kenaikan suhu titik didih yang besarnya berbanding lurus dengan konsentrasi larutan. Hasil praktikum kurang sesuai dengan literatur , dimana dalam literatur dijelaskan bahwa dengan adanya zat terlarut maka akan menurunkan tekanan uap larutan, sehingga untuk mencapai tekanan uap sama dengan tekanan air atmosfer ( titik didih tercapai saat tekanan uap sama dengan 760 mm Hg) maka diperlukan pemanasan lebih tinggi lagi, dengan kata lain terjadi kenaikan titik didik larutan seiring dengan bertambahnya konsentrasi larutan. Sedangkan yang diperoleh pada praktikum ini tidak demikian, dari konsentrasi 0 % hingga 30 %, titik didih semakin meningkat namun pada konsentrasi 50 %, titik didih justru turun kemudian naik lagi pada konsentrasi 70 %. Jika dilihat dari grafik pun, grafik Tc percobaan tidak linear dengan R2 hanya 0,097,

sangat jauh berbeda dengan grafik Tc perhitungan yang memiliki nilai R2

sebesar 1.

(19)

dilakukan pengukuran suhu titik didih dan volumenya. Pada percobaan pertama, larutan garam dengan konsentrasi 70 % dipanaskan dan setelah 3 menit didapatkan bahwa volume larutan sebesar 300 mL, suhu titik didih larutan sebesar 91,5 oC, dan perubahan massa masih 0 gram. Selanjutnya

pada waktu 3 menit, volume larutan menjadi 290 mL artinya terdapat perubahan massa sekitar 10 gram dan suhu titik didih menjadi 91 oC.

Selanjutnya pada waktu 6 menit berjalan, didapatkan data bahwa volumenya turun lagi menjadi 270 mL, suhu titik didih 92 oC dan

perubahan massa sebesar 20 gram dari percobaan sebelumnya. Kemudian pengukuran dilanjutkan pada menit ke 9 didapatkan bahwa volume larutan menjadi 250 mL dengan dan titik didih tetap, sedangkan perubahan massa nya turun lagi sekitar 20 gram. Untuk pengamatan pada waktu 12 menit diperoleh volume sebesar 225 mL dengan titik didih 93 oC. Hingga pada

menit ke 15 volume turun lagi menjadi 210 mL dengan titik didih 92 oC.

Seiring dengan terus dilakukannya pemanasan, dimana pada pemanasan tersebut terjadi penguapan, konsentrasi terus bertambah hingga pada pengukuran terakhir yaitu pada menit ke 15 konsentrasi larutan sebesar 133 %. Konsentrasi bisa melebihi seratus persen dikarenakan pada saat awal proses penguapan, konsentrasi sudah mencapai 70 % sedangkan penguapan terus dilakukan yang menyebabkan berkurangnya kadar air sehingga meningkatkan konsentrasi larutan.

(20)

panas, dapat diperoleh laju panas keseluruhan yaitu sebesar 2577,549 kJ/menit atau sekitar 42959,15 watt.

Dari kedua hasil percobaan, praktikum kali ini masih terdapat banyak kesalahan. Selain pada hasil percobaan A yang tidak sesuai dengan literatur, ketidaksesuaian terlihat juga pada hasil percobaan B, dimana terdapat suhu titik didih yang naik turun atau dapat juga dilihat dari grafik yang fluktuatif dengan nilai R2 tidak lebih dari 0,5. Padahal secara teori,

seharusnya titik didih tersebut selalu meningkat seiring bertambahnya konsentrasi. Hal ini mengindikasikan bahwa terdapat kesalahan pada praktikum ini, yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperti kesalahan ketika membaca skala pada termometer atau pada Beaker glass. Atau dapat juga disebabkan oleh kesalahan ketika melakukan perhitungan dan sebagainya.

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan

Dari hasil praktikum yang telah dilakukan, dapat disimpulkan:

1. Meningkatkan konsentrasi larutan dapat dilakukan dengan cara pengentalan atau penguapan

2. Pengentalan merupakan penambahan zat terlarut ke dalam larutan 3. Penguapan merupakan pengurangan kadar air atau pelarut dari larutan 4. Semakin tinggi konsentrasi, akan semakin meningkatkan titik didih

(21)

5. Pengaplikasian pengentalan atau penguapan disesuaikan dengan kebutuhan bahan pangan yang akan ditangani

6.2 Saran

Adapun saran yang dapat diberikan untuk praktikum ini adalah sebagai berikut:

1. Praktikan sebaiknya memahami praktikum yang akan dilakukan agar tidak banyak terjdi kesalahan ketika melakukan prosedur dan dapat langsung mengambil kesimpulan ketika sedang melakukan praktikum 2. Ketika melakukan percobaan A, volume larutan seharusnya dalam

keadaan konstan

3. Mengunakan peralatan praktikum dengan hati-hati karena praktikum ini berhubungan dengan benda panas

4. Menggunakan Beaker glass dan termometer dengan skala yang lebih presisi agar diperoleh nilai yang akurat

5. Melakukan perhitungan secara perlahan dan teliti

DAFTAR PUSTAKA

Agustina, Nurul.2012.Teknik Pangan. Terdapat pada:

http://nurulagustinac.wordpress.com/2012/01/17/teknik-pangan/ (diakses

pada tanggal 25/05/2014 pukul 20.54 WIB)

Deswanti, Reni.2013.Sifat Kologatif Larutan. Terdapat pada:

http://renideswantikimia.wordpress.com/kimia-kelas-xii-3/semester-i/1-sifat-koligatif-larutan/3-kenaikan-titik-didih-larutan/ (diakses pada tnggal

25/05/2014 pukul 20,58 WIB)

Frianka, Hertyn.2013.Teknologi Pemektan Bahan Alam. Terdapat pada

http://hertynfrianka.blogspot.com/2013/05/teknologi-pemekatan-bahan-alam.html (diakses pada tanggal 25/05/2014 pukul 19.04 WIB)

Nurul Kh.2013.Pengentalan dan Penguapan Produk Pertanian Cair. Teknik Pertanian, FTIP, Unpad.

Ramadhan, Gema.2011.Tahap Antara Proses Ekstraksi Pemekatan. Terdapat pada:

http://jurnalramadhan.blogspot.com/2011/12/tahap-antara-proses-ekstraksi-pemekatan.html (diakses pada tanggal 25/05/2014 pukul 19.05

(22)

R., Dadi, Sudaryanto dan dkk. 2014. Penuntun Praktikum Satuan Operasi Industri. FTIP, Unpad.

Triyadi, Rikky.2011.Pengentalan dan Penguapan Produk. Terdapat pada:

http://triyadirikky06.blogspot.com/2011/10/pengentalan-dan-penguapan-produk.html (diakses pada tanggal 25/05/2014 pukul 20.55 WIB)

Zulfikar.2013.Pengenceran. Terdapat pada:

http://www.chem-is-try.org/materi_kimia/kimia-kesehatan/larutan/pengenceran/ (diakses pada

tanggal 25/05/2014 pukul 19.09 WIB)

LAMPIRAN

(23)

Gambar

Tabel 1. Tabel data hasil percobaan A
Gambar 1. Grafik Tc Percobaan Terhadap Konsentrasi
Gambar 3. Grafik Perubahan Massa Terhadap Waktu

Referensi

Dokumen terkait

dikelola oleh negara maupun yang bukan milik negara yang secara tidak secara langsung menyatakan terlibat dalam aktivitas diplomasi publik negara tersebut. Bentuk terakhir

pemaknaan strategi maka strategi yang dapat dilakukan adalah melakukan peminjaman modal pada institusi atau organisasi penunjang untuk melakukan pembesaran ikan,

Pada iklan produk segmentasi dewasa yang tayang di televisi edisi Desember 2012, anak-anak beradegan sebagai peran tambahan atau figuran dengan prosentase

Misalnya pada gerakan menendang bola secara terhentak, otot hamstring yang memendek secara tiba-tiba akan menyebabkan kontraksi kurang maksimal sehingga

Selain kebutuhan-kebutuhan yang berhasil diketahui seperti telah tersebut diatas, dari hasil penelitian ini juga ditemukan alasan-alasan yang mendorong responden (remaja akhir)

Jika Modal Besar dari pemegang saham bisa dipastikan kegiatan pemegang saham bisa dipastikan kegiatan bisnis yang berlangsung akan besar karena mampu untuk membuat bisnis besar

Pada penelitian ini diusulkan, untuk dapat menunjang pengolahan data administrasi relawan Palang Merah Indonesia Kabupaten Sumedang sehingga dapat dengan lebih mudah

Rencana Kerja Pemerintah Desa (RKP Desa) merupakan penjabaran dari RPJM Desa untuk jangka waktu 1 (satu) tahun yang memuat rencana penyelenggaraan Pemerintahan Desa,