• Tidak ada hasil yang ditemukan

OPTIMALISASI PUBLIC PRIVATE PARTNERSHIP. pdf

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "OPTIMALISASI PUBLIC PRIVATE PARTNERSHIP. pdf"

Copied!
40
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latarbelakang

Lingkungan hidup memiliki peranan penting dalam kehidupan manusia.

Hal itu tidak terlepas dari peran lingkungan hidup untuk mempengaruhi

kesejahteraan manusia. Menurut kamus besar bahasa Indonesia, lingkungan hidup

memiliki arti sebagai kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan

makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi alam itu

sendiri, kelangsungan perikehidupan, dan kesejahteraan manusia serta makhluk

hidup lain.1

Negara Indonesia sebagai negara hukum tentunya telah memperhatikan

aspek pentingnya lingkungan hidup dalam rangka menunjang kesejahteraan dan

eksistensi manusia2. Tujuan besar negara yang terkandung dalam alenia ke empat

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 yaitu “melindungi

segenap bangsa Indonesia”, menjadi suatu tujuan yang juga harus penuhi dalam mewujudkan perlindungan warganegara dari dampak lingkungan yang buruk.

Pasal 28H ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun

1945 memberikan hak kepada setiap orang untuk mendapatkan lingkungan hidup

yang baik dan sehat. Dalam penjelasan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008

tentang Pengelolaan Sampah, amanat Undang-Undang Dasar Negara Republik

Indonesia pasal 28 H ayat (1) tersebut dimaknai sebagai pemberian konsekuensi

kepada pemerintah dan pemerintah daerah untuk wajib memberikan pelayanan

publik dalam pengelolaan sampah.

Dalam pasal 1 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang

Pengelolaan Sampah, sampah memiliki arti sebagai sisa kegiatan sehari-hari

manusia dan/atau proses alam yang berbentuk padat. Pertambahan penduduk dan

perubahan pola konsumsi masyarakat menimbulkan bertambahnya volume, jenis,

1

Pusat Bahasa.2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Hlm.831 2

(2)

2

dan karakteristik sampah yang semakin beragam. Dengan penduduk 243.740.000

jiwa (data 2011), pengelolaan sampah di Indonesia memerlukan penanganan yang

komprehensif dan terpadu dari hulu ke hilir agar memberikan manfaat secara

ekonomi, sehat bagi masyarakat, dan aman bagi lingkungan hidup.3 Pengelolaan

sampah sendiri memiliki makna sebagai kegiatan yang sistematis, menyeluruh,

dan berkesinambungan yang meliputi pengurangan dan penanganan sampah.4

Namun realitanya, penanganan sampah di berbagai daerah di Indonesia

masih belum dilaksanakan secara terpadu dan komprehensif. Bukti yang pertama

adalah adanya berbagai demonstrasi menuntut pengelolaan sampah yang serius

dari pemerintah daerah seperti yang terjadi di daerah Bandung, Bekasi, Bengkulu

dan Sragen.5 Yang kedua menurut data dari Badan Pusat Statistik Jawa Tengah,

untuk Jawa Tengah saja pada tahun 2011 dari volume sampah rata-rata perhari

sebesar 24.116,63 m3, sampah yang terangkut sekitar 11.750,85 m3. Jadi dapat

disimpulkan bahwa jumlah sampah harian di Jawa Tengah yang terangkut hanya

sebesar 48,73 % saja. Ketiga, apabila kita melihat data jumlah sampah yang

terangkut berdasarkan daerah kabupaten/kota di provinsi Jawa Tengah terlihat

jelas disparitas pengelolaan sampah di Jawa Tengah. Sebagai contoh untuk Kota

Surakarta rata-rata jumlah sampah yang terangkut perhari sebesar 90% pada 2011,

namun di kota Magelang pada tahun yang sama jumlah sampah yang terangkut

hanya 39,96% saja.6 Selain dilihat dari ketiga hal tersebut, penilaian hasil

pengelolaan sampah di Indonesia juga berasal dari pemeringkatan lembaga

Internasional yang menempatkan Indonesia di peringkat 120 dari 139 negara

dalam bidang kebersihan berarti Indonesia negara terjorok ke 19 di dunia.7

3

Badan Pusat Statistik (BPS). 2013. Jumlah Penduduk Indonesia (Ribu) 1930-2011. BPS. Jakarta 4

Lihat Pasal 1 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 Tentang Pengelolaan Sampah 5

Disarikan dari artikel :

Sri Sumi. 10 Desember, 2012 . Ratusan Warga Tuntut Kepala BLH di Copot, Solopos, hlm. 6 , Anonim. 2010. Lingkungan Tercemar, Warga Demo ke Gedung Sate. http://poskota.co.id/berita-terkini/2010/11/12/lingkungan-tercemar-sampah-warga-demo-ke-gedung-sate [20 Juni 2013] Anonim. 2012. Sampah BIM Numpuk, Warga Ancam Demo. http://radarbengkulu.web.id/berita-utama/sampah-bim-numpuk-warga-ancam-demo.html/ [20 Juni 2013]

6

Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah. 2013. Volume Sampah Rata-Rata Per Hari Menurut Kabupaten/Kota di Jawa Tengah Tahun 2011 (m3). BPS. Semarang

7

(3)

3

Pemerintah sebagai organisator dari negara, memiliki tanggung jawab

untuk memenuhi hak konstitusi warga negara atas lingkungan hidup yang baik.

Hal tersebut sesuai dengan asas tanggung jawab negara yang tercantum dalam

pasal 2 huruf a Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan

Pengelolaan Lingkungan Hidup. Dalam era Otonomi Daerah, pemerintah daerah

memiliki kewajiban dalam mengelola lingkungan di daerahnya tidak terkecuali

dalam pengelolaan sampah.8 Dalam ayat 1 (a) pasal 11 Undang-Undang Nomor

18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah dinyatakan bahwa “setiap orang

berhak mendapatkan pelayanan dalam pengelolaan sampah secara baik dan

berwawasan lingkungan dari Pemerintah, pemerintah daerah, dan/atau pihak lain

yang diberi tanggung jawab untuk itu”. Berdasarkan hal tersebut, sudah jelas

bahwa pemerintah daerah memiliki kewajiban mengelola sampah secara baik dan

berwawasan lingkungan bagi setiap orang di daerahnya.

Bila dihubungkan antara realita pengelolaan sampah dan kewajiban

pengelolaan sampah oleh pemerintah daerah, dapat kita ketahui bersama bahwa

belum ada pemenuhan hak warga negara atas lingkungan hidup yang baik. Protes

rakyat di berbagai daerah menunjukkan bahwa masih adanya daerah yang belum

berhasil mengelola sampah. Kemudian, banyaknya rata-rata jumlah sampah

perhari yang belum terangkut dan disparitas pengelolaan sampah di daerah

menunjukkan bahwa warga negara Indonesia di berbagai daerah sedang

mendapatkan perlakuan yang tidak adil oleh pemerintah daerahnya dalam hal

pelayanan pengelolaan sampah. Padahal dalam pengelolaan sampah, pemerintah

daerah berpedoman pada satu undang-undang yang sama yaitu Undang-Undang

Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah.

Permasalahan pengelolaan sampah sebenarnya dapat teratasi apabila

pemerintah daerah mampu menerapkan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008

tentang Pengelolaan Sampah secara menyeluruh. Salah satu hal yang belum

banyak di terapkan dalam hal pengelolaan sampah di berbagai daerah adalah

bentuk kerjasama dalam bidang persampahan. Selain dalam Undang-Undang

8

(4)

4

Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, kerjasama dalam

pengelolaan sampah sebenarnya juga sudah diatur dalam Peraturan Pemerintah

Nomor 50 Tahun 2007 tentang Tata Cara Pelaksanaan Kerjasama Daerah. Dalam

penjelasan pasal 4 Peraturan Pemerintah tersebut, salah satu obyek kerjasama

yang dapat dikerjasamakan oleh pemerintah daerah adalah pelayanan dalam

bidang persampahan. Melalui kerja sama daerah diharapkan dapat mengurangi

kesenjangan daerah dalam penyediaan pelayanan umum khususnya yang ada di

wilayah terpencil, perbatasan antar daerah dan daerah tertinggal. Pelaksanaan

kerja sama harus berpegang pada prinsip efisiensi, efektivitas, sinergi, saling

menguntungkan, kesepakatan bersama, itikad baik, mengutamakan kepentingan

nasional dan keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, persamaan

kedudukan, transparansi, keadilan dan kepastian hukum.

Dalam mewujudkan kerjasama daerah di bidang pengelolaan sampah,

pemerintah daerah dapat mengemasnya dalam bentuk public private partnership

(PPP) atau kerjasama pemerintah-swasta (KPS). Perwujudan public private

partnership sebenarnya telah dilakukan oleh pemerintah daerah dalam

pengelolaan sampah. Namun pengelolaan sampah yang menggunakan mekanisme

public private partnership saat ini hanya sebatas pengelolaan sampah pada tahap

pengolahan dan pemrosesan akhir saja seperti yang telah dilakukan di daerah

Jakarta, Padang, Surakarta, Medan dan lain sebagainya9. Akan tetapi pada tahapan

pemilahan, pengumpulan dan pengangkutan sampah , public private partnership

masih belum di terapkan secara optimal. Apabila dalam pengelolaan sampah

konsep public private partnership dapat di optimalkan pada tahapan pemilahan,

pengumpulan, pengangkutan, pengolahan dan pemrosesan akhir sampah maka

diharapkan akan terwujud suatu pemenuhan hak konstitusi warga negara yang

berkeadilan atas lingkungan hidup yang baik dan sehat oleh pemerintah daerah,

yang dalam hal ini lingkungan yang terbebas dari sampah.

9

Disarikan dari :

Edisi November 2011. Diskusi Skema Proyek KPS Sektor Persampahan. Bappenas : Sustaining Partnership, hlm. 27

(5)

5

Mencermati pemaparan yang telah diutarakan, maka perlu adanya suatu

pengoptimalan public private partnership dalam pengelolaan sampah demi

mewujudkan lingkungan hidup yang baik di Indonesia. Pengoptimalan public

private partnership perlu dilakukan oleh pemerintah daerah sehingga tidak ada

lagi permasalahan pengelolaan sampah yang dilakukan oleh pemerintah daerah

terhadap warga negara yang notabene memiliki hak konstitusi untuk mendapatkan

lingkungan hidup yang baik. Dengan demikian akar permasalahan yang menjadi

pertanyaan besar untuk dikaji adalah bagaimana pengelolaan sampah yang selama

ini dilakukan oleh pemerintah daerah? Apakah public private partnership dalam

pengelolaan sampah dapat memenuhi hak atas lingkungan hidup yang baik ?

Berdasarkan latar belakang tersebut, penulis tertarik untuk mengkaji lebih

mendalam persoalan tersebut dalam karya tulis dengan judul “Optimalisasi

Public Private Partnership oleh Pemerintah Daerah sebagai Upaya Pemenuhan Hak Konstitusi Atas Lingkungan Hidup yang Baik (Studi Kasus Pengelolaan Sampah di Indonesia)”.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang di atas maka penulis merumuskan

permasalahan sebagai berikut :

1. Bagaimana pengaturan dan pelaksanaan public private partnership oleh

pemerintah daerah dalam pengelolaan sampah selama ini di Indonesia?

2. Bagaimana konsep pengoptimalan public private partnership oleh

pemerintah daerah dalam mengatasi permasalahan pengelolaan sampah di

Indonesia ?

1.3 Tujuan Penulisan

1. Tujuan Objektif

a. Untuk mengetahui pengaturan dan pelaksanaan public private partnership

oleh pemerintah daerah dalam pengelolaan sampah selama ini di

(6)

6

b. Untuk mengetahui konsep pengoptimalan public private partnership oleh

pemerintah daerah dalam mengatasi permasalahan pengelolaan sampah

di Indonesia.

2. Tujuan Subjektif

a. Menambah, memperluas, memperdalam, dan mengembangkan

pengetahuan dan pengalaman serta pemahaman aspek hukum dan

demokrasi dalam teori dan praktik yang berguna bagi penulis.

b. Untuk mengikuti Kompetisi Esai dan Karya Tulis Ilmiah Mahasiswa

Nasional 2013 (KERTAS Nasional 2013) yang diselenggarakan oleh

Lembaga Penalaran dan Penulisan Karya Ilmiah Fakultas Hukum

Universitas Hasanuddin Indonesia (LP2KI FH-UH).

1.4 Manfaat Penulisan

1. Manfaat Teoritis

a. Penulisan ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran atas

permasalahan; dan

b. Penulisan ini dapat digunakan sebagai bahan acuan sebagai bahan

referensi di bidang karya ilmiah yang dapat mengembangkan ilmu

pengetahuan terutama di bidang hukum.

2. Manfaat Praktis

a. Penulisan ini diharapkan dapat memberi masukan dan tambahan

pengetahuan bagi masyarakat pada umumnya dan berbagai pihak yang

terkait dengan masalah yang diteliti, dan berguna bagi para pihak yang

berminat pada masalah yang sama; dan

b. Memberikan masukan kepada dinas terkait yang membawahi bidang

penyelesaian perkara dalam memberikan pelayanan pembinaan perilaku

(7)

7 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kerangka Teori

2.1.1 Hak Konstitusi Warga Negara 2.1.1.1 Negara Hukum

Pasal 1 (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 menyatakan bahwa “nega ra Indonesia adalah negara hukum”. Konsep negara hukum atau rechtsstaat mulai muncul secara eksplisit pada abad ke-19.

Konsep ini berasal dari Freidrich Julius Stahl yang di ilhami oleh Immanuel

Kant. Menurut Stahl, unsur negara hukum (rechtsstaat ) adalah : 10

a. perlindungan hak-hak asasi manusia

b. pemisahan kekuasaan untuk menjamin hak-hak itu

c. pemerintah berdasarkan peraturan perundang-undangan

d. peradilan administrasi dalam perselisihan.

Sedangkan prinsip suatu negara hukum menurut J.B.J.M ten Berge

adalah adanya asas legalitas, perlindungan hak-hak asasi, pemerintah terikat

pada hukum, monopoli paksaan pemerintah untuk menjamin penegakan hukum

dan pengawasan oleh hakim yang merdeka. 11

2.1.1.2 Hak Konstitusi

Dalam suatu negara hukum seperti halnya negara Indonesia, hak asasi

merupakan suatu hal yang penting. Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara

Republik Indonesia Tahun 1945 secara implisit menjamin keberadaan hak

asasi. Kemudian dalam pasal-pasal Undang-Undang Dasar Negara Republik

Indonesia tahun 1945 hak asasi juga sudah dijamin secara tegas. Hak-hak asasi

yang diatur dalam konstitusi negara inilah yang kemudian disebut sebagai hak

konstitusi.12

10

Miriam Budiardjo. 1982. Dasar-Dasar Ilmu Politik. Jakarta : Gramedia, hlm. 57-58, 11

Philipus M. Hadjon. 1987. Perlindungan Hukum Bagi Rakyat di Indonesia. Surabaya : Bina Ilmu, hlm. 76-82

12

(8)

8

Penghormatan, perlindungan, dan pemenuhan atas kesejahteraan

sebesar-besarnya bagi rakyat merupakan prinsip yang mendasari mengapa

pembangunan dijalankan dan menjadi hak rakyat dan kewajiban pemerintah.

Mengapa hak rakyat? Pertama, ditataran normatif, pembukaan dan Pasal-pasal

UUD 1945 mengamanatkan secara eksplisit kewajiban dan peran negara.

Kedua, prinsip-prinsip hak dalam perspektif hak asasi manusia bahwa hak

merupakan hal yang tak terpisahkan. Hak asasi tidak bisa diambil maupun

diserahkan, sifatnya melekat. Ketiga, ditataran praktikal, mengenai relasi logis

pendapatan dan belanja anggaran. Fakta bahwasanya penerimaan APBN

Indonesia lebih dari 70 % adalah berasal dari pajak yang dipungut dari rakyat.

Keempat adalah relasi negara dan masyarakat. Negara sebagai entitas politik

memiliki segi kontrak sosial dengan rakyat yang mengunci keberadaan negara.

Segi inilah menjadi pembahasan inti adanya hak warga negara. 13

Relasi politik dari pendekatan berbasis hak adalah munculnya entitas

subyek, yakni pemegang hak dan pemenuh hak. Setiap pemegang hak memiliki

hak melekat untuk menuntut hak serta menuntut akuntabilitas pemenuh hak.

Sedangkan pemenuh hak memiliki tanggungjawab untuk memenuhi,

melindungi, dan menghormati hak maupun pemegang hak.14 Dalam konstitusi

negara Indonesia terdapat 40 hak konstitusional yang dapat di kelompokkan

dalam 14 rumpun sesuai dengan jenisnya. Apabila dihubungkan dengan karya

tulis kami, terdapat beberapa hak konstitusi yang terkait pada pembahasan

karya tulis kami. Hak konstitusi tersebut diantaranya adalah :15

a. Hak Atas Kesehatan & Lingkungan Sehat

1. Hak untuk hidup sejahtera lahir dan batin Pasal 28H (1)

2. Hak mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat Pasal 28H (1)

b. Hak Atas Kepastian Hukum & Keadilan

13

Ahmad Miftah, dkk .2009. Belajar dari 10 Propinsi di Indonesia: Upaya Pencapaian MDG’s Melalui Inisiatif Multi Pihak. Jakarta : Kemitraan bagi Pembaruan Tata Pemerintahan, hlm. 5 14

Ibid. hlm 6

15

(9)

9

Hak atas pengakuan, jaminan dan perlindungan dan kepastian hukum

yang adil Pasal 28D (1)

c. Hak Bebas Dari Ancaman, Diskriminasi & Kekerasan

Hak untuk bebas dari perlakuan diskriminatif atas dasar apapun Pasal 28I

(2)

2.1.2 Lingkungan Hidup

2.1.2.1 Lingkungan

Pembagian lingkungan dibagi menjadi tiga kelompok dasar yaitu

lingkungan fisik, biologis dan sosial . Lingkungan fisik (physical environment)

adalah segala sesuatu di sekitar manusia yang berbentuk benda mati seperti

rumah, kendaraan, tanah, udara, air, api dan lain-lain. Lingkungan biologis

(biological environment) adalah segala sesuatu yang berada di sekitar kita yang

berupa makhluk hidup seperti manusia, binatang dan tumbuh-tumbuhan.

Lingkungan sosial (social environment) adalah orang lain yang ada disekitar

kita, seperti tetangga, teman dan lain-lain.16

2.1.2.2 Lingkungan Hidup

Manusia bersama tumbuhan, hewan dan jasad renik hidup bersamaan

menempati suatu ruang tertentu. Selain makhluk hidup, dalam ruang itu juga

terdapat benda tak hidup, seperti udara yang terdiri atas bermacam gas, air

dalam bentuk uap, cair dan padat, tanah dan batu. Ruang yang ditempati suatu

makhluk hidup bersama dengan benda hidup dan tak hidup di dalamnya

disebut lingkungan hidup.17 Istilah Lingkungan Hidup, dalam bahasa Inggris

disebut dengan environment, dalam bahasa Belanda disebut dengan milieu,

atau dalam bahasa Perancis disebut dengan I’environment.18

Munadjat Danusaputro seorang pakar lingkungan hidup mendefinisikan

Lingkungan hidup adalah semua benda dan kondisi termasuk di dalamnya

16

Fuad Amsyari, 1989, Prinsip-prinsip Masalah Pencemaran Lingkungan, Jakarta: Ghalia Indonesia, cet.ketiga, hal 11-12

17Otto Soemarwoto,” Ekologi, Lingkungan Hidup”, Jakarta: Djembatan, 2001, hlm 51 -52 18

(10)

10

manusia dan tingkah perbuatannya, yang terdapat dalam ruang tempat manusia

berada dan mempengaruhi hidup dan kesejahteraan manusia.19

Menurut Pasal 1 butir (1) Undang-undang No 32 Tahun 2009 tentang

Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup,

Lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhialam itu sendiri, kelangsungan perikehidupan, dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain.

Lingkungan hidup merupakan anugrah Tuhan Yang Maha Esa yang

wajib dilestarikan dan dikembangkan kemampuannya agar tetap dapat menjadi

sumber penunjang hidup bagi manusia dan makluk hidup lainnya demi

kelangsungan dan peningakatan kualitas hidup. Manusia tanpa lingkungan

hidupnya adalah suatu abstraksi belaka.

2.1.2.3 Dasar Hukum Lingkungan Hidup

Lingkungan hidup telah menjadi masalah yang perlu ditanggulangi

bersama demi kelangsungan hidup di dunia. Konferensi PBB tentang

lingkungan hidup manusia akhirnya diadakan di Stockholm tanggal 5-16 Juni

1972 sebagai awal kebangkitan modern yang ditandai perkembangan berarti

bersifat menyeluruh ke berbagi pelosok dunia dalam bidang lingkungan hidup.

Konferensi itu dihadiri 113 negara dan beberapa puluh peninjau serta telah

menghasilkan Stockholm Declaration yang berisi 24 prinsip lingkungan hidup

dan 109 rekomendasi rencana aksi lingkungan hidup manusia, hingga dalam

suatu resolusi khusus, konferensi menetapkan tanggal 5 Juni sebagi hari

lingkungan hidup sedunia.20

Di Indonesia perhatian mengenai lingkungan hidup sudah dilakukan

sejak tahun 1960-an, tonggak pertama sejarah tentang permasalahan

lingkungan hidup dipancangkan melalui seminar tentang “Pengelolaan

Lingkungan Hidup Manusia dan Pembangunan Nasional” di Bandung pada

19

Munadjat Danusaputro, 1980, Hukum Lingkungan Buku I Umum, Bandung: Binacipta, hlm 67 20

(11)

11

tanggal 15-18 Mei 1972. Dalam seminar tersebut disampaikan makalah yang

merupakan pengarahan pertama mengenai perkembangan Hukum Lingkungan

di Indonesia oleh Mochtar Kusumaatmadja.21

Ketentuan hasil tersebut membawa makna penting sekaligus secercah

harapan bagi tersedianya jaminan konstitusi atas keberlangsungan lingkungan

di alam khatulistiwa ini. Sebagaimana kita tahu dalam UUD NRI 1945 Pasal

28H ayat (1) dan Pasal 33 ayat (4) adalah merupakan ketentuan kunci tentang

diaturnya norma mengenai lingkungan di dalam konstitusi. Secara

berturut-turut kedua Pasal tersebut berbunyi sebagai berikut:

Pasal 28H ayat (1): “Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan

batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan

sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan”.

Pasal 33 ayat (4): “Perekonomian nasional diselenggarakan berdasar

atas demokra si ekonomi dengan prinsip kebersa maan, efisiensi

berkeadilan,berkelanjutan, ber wa wa san lingkungan, kemandirian, serta

dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional”.

Berdasarkan kedua Pasal tersebut di atas maka sudah jelas bahwa UUD

1945 juga telah mengakomodasi perlindungan konstitusi (constitutional

protection) baik terhadap warga negaranya untuk memperoleh lingkungan

hidup yang memadai maupun jaminan terjaganya tatanan lingkungan hidup

yang lestari atas dampak negatif dari aktivitas perekonomian nasional.

Selain Indonesia, hak-hak serta kewajiban konstitusional terkait dengan

lingkungan hidup juga terdapat di dalam berbagai konstitusi negara-negara

dunia, misalnya Afrika Selatan (1996), Angola (1992), Armenia (1995),

Belanda (1983), Bhutan (2008), Brasil (1988), Chili (1980), Ekuador (2008),

India (1976), dan lain sebagainya.

Dalam kaitannya dengan penegakan hukum maka peranan konstitusi sebagai “langit” dari segala bidang hukum nasional menjadi teramat penting, sebab konstitusi merupakan titik puncak tertinggi piramida aturan bernegara

dari segala hukum yang berlaku di dalam negeri. Dalam teori stufenufbau der

21

(12)

12

rechtsordnung, Hans Nawiasky menyebutnya dengan istilah “staatsgrundgesetz”.22

2.1.3 Sampah

2.1.3.1 Definisi Sampah

Sampah adalah semua benda padat buangan yang tidak dipakai, tidak

disenangi atau sesuatu yang harus dibuang atau sisa dari aktifitas manusia yang

sudah tidak digunakan lagi yang berasal dari rumah tangga, pasar, perkantoran,

hotel dan lain-lain. Sampah merupakan hasil samping dari aktifitas manusia

yang tidak digunakan. 23 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang

Pengelolaan Sampah menyatakan bahwa sampah adalah sisa kegiatan

sehari-hari manusia dan/atau dari proses alam yang berbentuk padat.

2.1.3.2 Sumber Sampah

Sumber atau tempat penghasil sampah pada umumnya berkaitan dengan

tata guna lahan. Jumlah sumber sampah dapat sesuai dengan kategori

penggunaannya. Sumber sampah dapat diklasifikasikan sebagi berikut : 24

1) Daerah pemukiman

Sampah pemukiman berasal dari aktivitas rumah tangga berupa

persiapan di dapur, sisa makanan, pembersihan lantai rumah dan

halaman. Jenis sampah biasanya berupa sampah basah dan kering.

2) Daerah institusi

Sumber sampah komersial yaitu pasar, pertokoan, restoran,

perusahaan, supermarket, hotel, percetakan, bengkel dll. Jenis sampah

yang dihasilkan sebagian besar sampah kering (rubbish).

22

Hamid A. Attamimi, Peranan Keputusan Presiden Republik Indonesia dalam Penyelenggaraan Pemerintah Negara: Suatu Studi Analisis Mengenai Keputusan Presiden yang Berfungsi Pengaturan dalam Kurun Waktu Pelita I Pelita IV, Disertasi Ilmu Hukum Fakultas Pascasarjana Universitas Indonesia, Jakarta, 1990, hlm. 287.

23

Notoatmodjo S. 2007, Kesehatan Masyarakat. Ilmu dan Seni. Rineka Cipta. Jakarta. 24

(13)

13

3) Sampah jalan dan tempat terbuka

Sampah katagori ini berasal dari kegiatan penyapuan jalan dan trotoar,

taman, lapangan , tempat rekreasi. Jenis sampah biasanya berupa

daun, ranting pohon, kertas pengbungkus, puntung rokok.

4) Daerah industri

Sumber sampah industri berasal dari perusahaan yang bergerak

dibidang industri berat, industri ringan, pabrik.

5) Rumah sakit dan tempat pengobatan

Sampah rumah sakit pengelolaannya ditangani terpisah dengan

sampah lainnya karena bersifat khusus kemungkinan mengandung

kuman penyakit menular. Sampah yang dihasilkan berupa bekas

operasi, pembalut luka, potongan anatomi, sampah dapur dan kantor.

2.1.3.3 Pengelolaan Sampah

Pengelolaan sampah menurut Pasal 1 butir (5) Undang-Undang Nomor

18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah adalah “ kegiatan yang sistematis,

menyeluruh, dan berkesinambungan yang meliputi pengurangan dan penanganan sampah”. Pengelolaan sampah diselenggarakan berdasarkan asas tanggung jawab, asas berkelanjutan, asas manfaat, asas keadilan, asas

kesadaran, asas kebersamaan, asas keselamatan, asas keamanan, dan asas nilai

ekonomi.

Dalam Pasal 20 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang

Pengelolaan Sampah, pengurangan sampah meliputi kegiatan pembatasan

timbulan sampah, pendauran ulang sampah dan pemanfaatan kembali sampah.

Sedangkan penanganan sampah akan dejelaskan dalam tabel dibawah ini :

Tabel 1 . Tahapan Penanganan Sampah Menurut Permendagri No 33/ 2010 tentang Pedoman Pengelolaan Sampah

Penanganan sampah Konsep

Pemilahan (pasal 5)

Memilah sampah rumah tangga sesuai dengan jenis sampah dengan menyediakan fasilitas tempat sampah organik dan anorganik di setiap kawasan

Pengumpulan (pasal 6)

(14)

14

terpisahnya sampah sesuai dengan jenis sampah Pengangkutan

(pasal 7)

- sampah rumah tangga ke TPS tanggung jawab RT/RW.

- dari TPS ke TPA tanggung jawab pemerintah daerah. - sampah kawasan permukiman, kawasan komersial, kawasan industri, dan kawasan khusus, dari sumber sampah sampai ke TPS dan/atau TPA, menjadi tanggung jawab pengelola kawasan.

- sampah dari fasilitas umum, fasilitas sosial, dan fasilitas lainnya dari sumber sampah dan/atau dari TPS sampai ke TPA, menjadi tanggung jawab pemerintah daerah.

Pengolahan (pasal 8)

mengubah karakteristik, komposisi, dan jumlah sampah yang dilaksanakan di TPS dan di TPA dengan memanfaatkan teknologi yang ramah lingkungan. Pemrosesan Akhir

(pasal 9)

dilakukan dengan pengembalian sampah dan/atau residu hasil pengolahan ke media lingkungan secara aman.

Keterangan : TPS : Tempat Pembuangan Sementara TPA : Tempat Pembuangan Akhir

RT/RW : Rukun Tetangga / Rukun Warga

2.1.4 Public Private Partnership (PPP) / Kerjasama Pemerintah Swasta (KPS)

Kerjasama Pemerintah Swasta disingkat KPS atau dalam

bahasa Inggris disebut sebagai Public Private Pa rtnership atau disingkat PPP

adalah suatu perjanjian kontrak antara pemerintah, baik pusat ataupun daerah

dengan mitra swasta. Melalui perjanjian ini , keahlian dan aset dari kedua belah

pihak (pemerintah dan swasta) dikerjasamakan dalam menyediakan pelayanan

kepada masyarakat. Dalam mlakukan kerjasama ini risiko dan manfaat

potensial dalam menyediakan pelayanan ataupun fasilitas dipilah/dibagi kepada

pemerintah dan swasta.25

Sebagaimana diketahui bahwa seiring dengan dinamisnya pelaksanaan

otonomi daerah, maka pemerintah (daerah) memiliki peluang yang sangat besar

untuk melaksanakan kerjasama dengan pihak ketiga sebagaimana dijamin

25

(15)

15

dalam Pasal 195 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004. Dalam butir (3)

Pasal 195 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 dinyatakan bahwa “Dalam

penyediaan pelayanan publik, daerah dapat bekerjasama dengan pihak ketiga”.

Perjanjian antara pemerintah daerah dengan pihak swasta dimungkinkan

sepanjang yang menyangkut pelayanan publikatau public services .26

Public services dicirikan dengan dua ciri, yaitu: (1) Non excludability,

yaitu orang-orang yang membayar diharapkan dapat menikmati barang itu;

dan (2) Non rivalry consumption , yaitu seorang yang mengkonsumsi barang

itu, dan orang lain mengkonsumsinya pula. Berhubung pemerintah tidak

memiliki kemampuan untuk menghasilkan barang public services yang akan

dapat dinikmati oleh seluruh rakyat di atas maka pemerintah harus

menyediakannya agar kesejahteraan seluruh masyarakat dapat ditingkatkan.27

Karena kemampuan pemerintah terbatas maka tidak tertutup

kemungkinan terjadinya government failure, dimana intervensi privat dapat

dimungkinkan dengan alasan sebagai berikut: (1) meningkatnya penduduk di

perkotaan sementara sumber keuangan pemerintah terbatas; (2) pelayanan yang

diberikan sektor privat/ pelayanan dianggap lebih efisien; (3) banyak bidang

pelayanan tidak ditangani pemerintah sehingga sektor swasta/privat dapat

memenuhi kebutuhan yang belum ditangani tanpa mengambil alih tanggung

26

ibid hal 55 27

Nurdjaman, Arsyad, 1992, Keuangan Negara, Intermedia, Jakarta. Hlm 17

(16)

16

jawab pemerintah; (4) akan terjadi persaingan dan mendorong pendekatan yang

bersifat kewiraswastaan dalam pembangunan nasional.28

KPS akan memiliki peran penting dalam mewujudkan Visi 2025

mengingat sumber daya fiskal yang terbatas. Dengan pertumbuhan ekonomi

yang lebih cepat sebagai hasil dari MP3EI 2011-2025, penerimaan pajak akan

meningkat pula, dan anggaran fiskal Indonesia akan berkembang. Kerangka

peraturan sebagai payung hukum implementasi KPS bidang infrastruktur di

Indonesia menggunakan Perpres 67/2005 yang kemudian direvisi melalui

Perpres 13/2010 dan Perpres 56/2011 tentang Kerjasama Pemerintah Dengan

Badan Usaha Dalam Penyediaan Infrastruktur. Ini merupakan peraturan

pemilihan badan usaha pembangunan infrastruktur yang kompetitif, terbuka,

dan transparan. Kerjasama Pemerintah-Swasta /KPS (Public Private

Partnership / PPP) akan digunakan sebagai alternatif sumber pembiayaan pada

kegiatan pemberian layanan dengan karakteristik layak secara keuangan dan

memberikan dampak ekonomi tinggi dan memerlukan dukungan dan jaminan

pemerintah yang minimum.29

Prinsip Dasar KPS yakni: Adanya pembagian risiko antara pemerintah

dan swasta dengan memberi pengelolaan jenis risiko kepada pihak yang dapat

mengelolanya; Pembagian risiko ini ditetapkan dengan kontrak di antara pihak

dimana pihak swasta diikat untuk menyediakan layanan dan pengelolaannya

atau kombinasi keduanya; Pengembalian investasi dibayar melalui pendapatan

proyek (revenue) yang dibayar oleh pengguna (user charge); Kewajiban

penyediaan layanan kepada masyarakat tetap pada pemerintah, untuk itu bila

swasta tidak dapat memenuhi pelayanan (sesuai kontrak), pemerintah dapat

mengambil alih.

Tujuan pelaksanaan KPS: Mencukupi kebutuhan pendanaan secara

berkelanjutan melalui pengerahan dana swasta; Meningkatkan kuantitas,

kualitas dan efisiensi pelayanan melalui persaingan sehat; Meningkatkan

28

Zainal Asikin. Perjanjian Kerjasama Antara Pemerintah dan Swasta dalam Penyediaan Infrastruktur Public. Mimbar hukum volume 25 nomor 1 februari 2013 hal 57

29

(17)

17

kualitas pengelolaan dan pemeliharaan dalam penyediaan infrastruktur;

Mendorong dipakainya prinsip pengguna membayar pelayanan yang diterima

atau dalam hal tertentu mempertimbangkan kemampuan membayar pengguna.

Sedangkan manfaat skema KPS: Tersedianya alternatif berbagai sumber

pembiayaan; Pelaksanaan penyediaan infrastruktur lebih cepat; Berkurangnya

beban (APBN/APBD) dan risiko pemerintah; Infrastruktur yang dapat

disediakan semakin banyak; Kinerja layanan masyarakat semakin baik;

Akuntabilitas dapat lebih ditingkatkan; Swasta menyumbangkan modal,

teknologi, dan kemampuan manajerial.

2.2 Kerangka Pemikiran

Gambar 2.Skematik Kerangka Pemikiran

(18)

18

Penjelasan kerangka pemikiran :

Dalam suatu negara hukum, setiap orang memiliki jaminan memperoleh

hak konstitusi. Hak atas lingkungan hidup baik adalah bagian dari hak konstitusi.

Salah satu upaya pemenuhan hak atas lingkungan hidup yang baik adalah melalui

pengelolaan sampah yang berwawasan lingkungan. Di era otonomi daerah ini,

pengelolaan sampah yang berwawasan lingkungan merupakan tugas utama dari

pemerintah daerah. Namun realitanya pengelolaan sampah oleh pemerintah daerah

masih menunjukkan adanya disparitas penanganan sampah, rendahnya kualitas

penanganan sampah, dan minimnya anggaran untuk mewujudkan pengelolaan

sampah yang baik. Pihak swasta yang dikenal memiliki pendanaan besar, berdaya

saing tinggi dan berkualitas dipandang sangat potensial untuk bermitra dengan

pemerintah daerah. Konsep kemitraan antara pemerintah daerah dengan pihak

swasta inilah yang kemudian dinamakan Public Private Pa rtnership/ Kerjasama

Pemerintah-Swasta. Diharapkan melalui optimalisasi konsep tersebut, akan

(19)

19 BAB III

METODE PENULISAN

3.1 Metode Perancangan penelitian

3.1.1 Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam karya tulis ini adalah penelitian

hukum normatif, yakni metode penelitian hukum yang dilakukan dengan

meneliti bahan pustaka atau data sekunder saja.30 Dalam karya tulis ini

penelitian bersifat deskriptif analitis, yaitu dengan cara mengumpulkan data

yang menggambarkan atau memaparkan fakta-fakta maupun data-data serta

analisis dari hasil penelitian yang bertujuan memperoleh gambaran guna

mendukung argumentasi hukum secara sistematis dan terstruktur berdasarkan

yuridis normatif yaitu analisa penelitian berdasarkan pada ketentuan peraturan

perundang-undangan yang juga mengacu pada fakta dan teori pendukung

dalam permasalahan pengelolaan sampah oleh pemerintah daerah.

3.1.2 Pendekatan Penelitian

Dalam karya tulis ini ada beberapa pendekatan yang digunakan oleh

penulis, antara lain: pendekatan perundang-undangan (statute approa ch) yaitu

mencari peraturan perundang-undangan mengenai atau yang berkaitan dengan

pengelolaan sampah, kemudian menelaah semua undang-undang dan regulasi

yang bersangkut paut dengan isu hukum yang sedang ditangani.31 Pendekatan

studi kasus (case approach) yaitu melalui pengujian secara rinci terhadap satu

latar yaitu indonesia atau satu kejadian tertentu yang berupa permasalahan

pengelolaan sampah di daerah. Pendekatan studi kasus sebagai suatu

pendekatan dengan memusatkan perhatian pada suatu kasus secara intensif dan

rinci yang dalam hal ini adalah kasus pengelolaan sampah di berbagai daerah di

Indonesia. Pendekatan selanjutnya yang penulis gunakan adalah pendekatan

komparasi (compa ration approach). Pendekatan ini berdasarkan perbandingan

30

Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, 2001, Penelitian Hukum Normatif (Suatu Tinjauan Singkat), Jakarta: Rajawali Pers, hlm. 13-14.

31

(20)

20

pengelolaan sampah di berbagai daerah dan juga mengambil percontohan

pengelolaan sampah di negara tetangga. Selain itu, penulis menggunakan

pendekatan konseptual (conceptual approach) dengan menelaah dan

memahami konsep-konsep32 mekanisme terkait public private partnership.

3.1.3 Jenis Data

Secara umum, data dalam penelitian dibedakan antara data yang

diperoleh secara langsung dari masyarakat dan dari bahan pustaka. Data yang

diperoleh langsung dari masyarakat dinamakan data primer atau data dasar dan

yang kedua diberi nama data sekunder.33 Jenis data yang penulis pergunakan

dalam penelitian ini berupa data sekunder, yaitu data atau informasi hasil

penelaahan kepustakaan atau dokumen penelitian serupa yang pernah

dilakukan sebelumnya.

3.1.4 Sumber Data

Sumber data yang digunakan adalah data sekunder. Dalam karya tulis

ini, penulis menggunakan bahan hukum34, yang terdiri dari:

a) Bahan Hukum Primer, meliputi;

1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;

2) Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah.

3) Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan

Pengelolaan Lingkungan Hidup.

4) Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah

5) Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 2007 tentang Tata Cara

Pelaksanaan Kerjasama Daerah.

6) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 33 Tahun 2010 Tentang

Pedoman Pengelolaan Sampah

7) Permendagri nomor 22 tahun 2009 tentang Petunjuk Teknik Tata Cara

Kerjasama Daerah

32

Johnny Ibrahim, 2007, Teori dan Metodologi Penelitian Hukum Normatif, Malang; Bayumedia Publising, hlm 391.

33

Soerdjono Soekanto, 2010, Pengantar Penelitian Hukum, Jakarta: UI Press. hlm. 51. 34

(21)

21

b) Bahan Hukum Sekunder, meliputi; buku, jurnal, majalah, artikel,dll

c) Bahan Hukum Tersier35, yaitu bahan yang memberi petunjuk atau

penjelasan terhadap bahan hukum primer maupun sekunder, yaitu Kamus

Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dan Black`s La w Dictionary.

3.2 Metode Pengumpulan Data

Dalam penelitian pada umumnya, dikenal tiga jenis alat pengumpulan data

yaitu studi dokumen atau bahan pustaka dan observasi36. Dalam hal ini penulis

menggunakan studi dokumen atau studi pustaka yang dilakukan dengan cara

pengumpulan data melalui buku-buku, jurnal, majalah yang relevan dengan

permasalahan yang diteliti, melalui peninggalan tertulis berupa

perundang-undangan, buku, arsip-arsip dan termasuk juga bahan tentang pendapat, teori, dalil

dan sebagainya yang berhubungan dengan masalah yang diteliti.

3.3 Metode Pengolahan Data

Dalam proses pengolahan data penelitian ini akan melalui beberapa tahapan,

yaitu:

1. Editing adalah proses meneliti kembali data–data yang telah diperoleh,

apakah data–data tersebut telah memenuhi syarat untuk dijadikan bahan

dalam proses selanjutnya, dengan kata lain, kerja memperbaiki kualitas data

serta menghilangkan keraguan data.

2. Analyzing, proses analisis yang dilakukan dengan menggunakan konsep

atau teori yang relevan dengan permasalahan yang sedang dikaji.

3. econtruction, menyusun data secara teratur, berurutan, logis, sehingga

mudah dipahami dan diinterpretasikan.

4. Concluding, pengambilan kesimpulan dari data – data yang diperoleh untuk

menemukan jawaban.

35

Ibrahim R, 1995, Sinopsis Penelitian Ilmu Hukum. Raja Grafindo Persada, hlm 41-43. 36

(22)

22 3.4 Metode Analisis Data

Dalam menganalisis data penulis berdasarkan logika secara induktif yang

bertolak dari fakta-fakta yang ada dalam masyarakat kemudian diabstraksikan dan

dicari prinsip-prinsip untuk dibangun suatu hipotesa. Fakta yang kemudian

berhasil dikumpulkan dijadikan bahan klasifikasi dan analisis dengan

menggunakan teknik analisis deskriptif yang bertujuan untuk menguraikan

sebagai permasalahan hukum yang ada, sehingga didapatkan konsep tepat untuk

pengelolahan sampah oleh pemerintah daerah.

Metode deskriptif, yaitu suatu metode yang digunakan untuk mempelajari

permasalahan yang ada dalam masyarakat, serta tata cara yang berlaku dalam

masyarakat sehari-hari serta situasi-situasi tertentu.37 Penulisan deskriptif

menitikberatkan pada sistematika dan kesan dominan yang jelas, sehingga dapat

diperoleh suatu penjelasan dan solusi penyelesaian masalah yang tepat.

37

(23)

23 BAB IV

PEMBAHASAN

4.1 Pengaturan dan Pelaksanaan dalam Pengelolaan Sampah Selama Ini di Indonesia

UUD NRI 1945 telah mengakomodasi perlindungan konstitusi

(constitutional protection) terhadap warga negaranya untuk memperoleh

lingkungan hidup yang memadai maupun jaminan terjaganya tatanan lingkungan

hidup yang lestari atas dampak negatif dari aktivitas perekonomian nasional.

Tatanan lingkungan yang baik dalam hal ini berkaitan dengan pengelolaan

lingkungan yang baik, termasuk salah satunya dalam hal pengelolaan sampah

yang sejatinya, sampah merupakan salah satu dari unsur lingkungan.

Sebagaimana telah dipaparkan sebelumnya dalam latar belakang, dalam

pengelolaan sampah masih ditemukannya disparitas kebersihan oleh pemerintah

daerah yang merupakan bukti belum terpenuhinya hak-hak warganegara atas

lingkungan hidup yang baik. Disparitas kebersihan merupakan wujud

ketidakadilan pemerintah daerah dalam pengelolaan sampah yang merata,

kooperatif dan berasaskan keadilan di daerahnya. Tidak meratanya pengelolaan

sampah tersebut terjadi karena pemerintah daerah belum bisa secara maksimal

menjangkau seluruh wilayah di daerahnya jika hanya dilakukan oleh pemerintah

daerah sendiri secara langsung. Sebagai jalan keluar, pemerintah daerah dapat

bekerja sama dengan pihak swasta dalam pengelolaan sampah daerah dalam

bentuk public private partnership(PPP) atau kerjasama pemerintah-swasta (KPS).

Permasalahan pengelolaan sampah sebenarnya dapat teratasi apabila

pemerintah daerah mampu menerapkan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008

tentang Pengelolaan Sampah secara menyeluruh. Dalam Pasal 26 BAB VIII

Tentang Kerja Sama dan Kemitraan, (1) Pemerintah daerah dapat melakukan kerja

sama antar pemerintah daerah dalam melakukan pengelolaan sampah. (2) Kerja

sama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diwujudkan dalam bentuk kerja

sama dan/atau pembuatan usaha bersama pengelolaan sampah. Ditegaskan lagi

(24)

24

perubahan Perpres Nomor 67/2005 bahwa Pemerintah Daerah dapat bekerjasama

dengan pihak swasta dalam penyediaan sarana persampahan.

Selain itu pengaturan kerjasama dalam pengelolaan sampah dengan swasta

diperkuat dalam Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 2007 tentang Tata Cara

Pelaksanaan Kerjasama Daerah. Dalam penjelasan pasal 4 Peraturan Pemerintah

tersebut, salah satu obyek kerjasama yang dapat dikerjasamakan oleh pemerintah

daerah adalah pelayanan dalam bidang persampahan. Melalui kerja sama daerah

diharapkan dapat mengurangi kesenjangan daerah dalam penyediaan pelayanan

umum khususnya yang ada di wilayah terpencil, perbatasan antar daerah dan

daerah tertinggal. Pelaksanaan kerja sama harus berpegang pada prinsip efisiensi,

efektivitas, sinergi, saling menguntungkan, kesepakatan bersama, itikad baik,

mengutamakan kepentingan nasional dan keutuhan wilayah Negara Kesatuan

Republik Indonesia, persamaan kedudukan, transparansi, keadilan dan kepastian

hukum.

Perwujudan public private pa rtnership sebenarnya telah dilakukan oleh

pemerintah daerah dalam pengelolaan sampah. Namun pengelolaan sampah yang

menggunakan mekanisme public private pa rtnership saat ini hanya sebatas

pengelolaan sampah pada tahap pengolahan dan pemrosesan akhir saja seperti

yang telah dilakukan di daerah Jakarta, Surakarta, Medan dan lain

sebagainya.38Akan tetapi pada tahapan pemilahan, pengumpulan dan

pengangkutan sampah, public private partnership masih belum di terapkan secara

optimal.

Provinsi DKI Jakarta bawah Permendagri No. 33 Tahun 2010, Pemerintah

Provinsi DKI Jakarta menggandeng swasta untuk pengolahan sampah di TPA

Bantargebang, maupun rencana pengelolaan sampah ke depan dengan skema

PPP/KPS.39

38

Bapenass, Edisi November 2011. Diskusi Skema Proyek KPS Sektor Persampahan. Bappenas : Sustaining Partnership, hlm. 27

Liston Damanik. 2012. Pengelolaan Sampah Kota Medan Kerjasama Pihak Asing. http://medan.tribunnews.com/2012/06/18/pengelolaan-sampah-kota-medan-kerja-sama-pihak-asing [ 21 Juni 2013 ]

39

(25)

25

Kota Surakarta dalam hal pengelolaan sampah sepenuhnya masih menjadi

tanggung jawab Kantor Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP), Dinas Pasar,

Dinas Pekerjaan Umum, kantor kecamatan, dan kantor kelurahan melalui LKMD.

Penanganan sampah di jalan-jalan protokol dan kelas II serta tempat-tempat

fasilitas umum yang dilayani oleh 71 TPS yang dilakukan Kantor Dinas

Kebersihan dan Pertamanan dibantu kantor kecamatan untuk wilayah

masing-masing kecamatan. Sampah pasar dari 37 pasar yang ditangani oleh Dinas Pasar,

sedangkan sampah di saluran drainase ditangani oleh Dinas Pekerjaan Umum.

Untuk kebersihan lingkungan di kelurahan ditangani melalui koordinasi LKMD.

Sampah yang telah terkumpul di TPS di setiap kelurahan akan diangkut oleh

truk-truk DKP Kota Surakarta ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA)40. Selain itu, “…Pemerintah Kota Surakarta menggaet pihak ketiga (swasta) dalam menangani masalah pengelolaan dan pengolahan sampah di TPA Putri Cempo. Kesepakatan kerjasama (MoU) dengan investor Jerman telah di tanda tangani oleh Walikota Surakarta Joko Widodo, perwakilan Aero Tech GMBH Jerman Volker Schulz Berendt dan Direktur PT Selaras Daya Utama (Sedayu) Lilik Setiawan pada 6 Oktober 2009….”41

Tidak jauh berbeda dengan kota-kota sebelumnya yang menggunakan

konsep kerja sama swasta dengan Pemerintah Daerah di Pemrosesan Tahap Akhir,

di Kota Medan pun demikian,

“…Selain itu pada sektor persampahan, melakukan kampanye kepada masyarakat menerapkan konsep 3 R, melakukan program Bank Sampah, peningkatan kuantitas dan kualitas infrastruktur persampahan, dalam hal ini Pemko Medan secara berkesinambungan meningkatkan alokasi anggaran serta kerja sama dengan pihak swasta, seperti yang dilakukan pada penyediaan tehnologi pengelolaan persampahan di Tempat Pembuangan Akhir (TPA)…”42

40

Sessario Bayu Mangkara, dkk, Penerapan Sistem Pengelolaan Sampah Kota Dengan Pemberdayaan Fungsi Tps Sebagai Solusi Pengurangan Timbunan Sampah Di TPA Kota Surakarta, http://pkm.openthinklabs.com/home/contoh-proposal/pkm-gt/uns/pengelolaan-sampah-kotaDikutip Minggu 23 Juni 2013 Pujuk 23.47

41 ibid 42

(26)

26

Sejalan Dengan itu, Denpasar dengan konsep Sarbagita (Denpasar, Badung,

Gianyar, dan Tabanan) yang menerapkan Public Private Pa rtnership (PPP) untuk

pengelolaan sampah telah menunjukkan keberhasilan pengelolaan sampah yang

dapat dilihat pada Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Sarbagita yang merupakan

Proyek kerjasama antara Badan Pengelolan Kebersihan Sarbagita (BPKS) dan PT.

Navigat Organic Energy Indonesia (NOEI) melalui PPP yang telah berhasil

menjual listrik yang dihasilkan kepada PT. PLN. TPA dengan luas 25 Ha ini

merupakan tempat pengelolaan sampah terpadu yang akan melayani buangan

sampah dari empat Kabupaten/Kota di wilayah Bali Selatan.43

Public Private Partnership / Kerjasama antara Pemerintah dengan Swasta

ini telah diperkuat dengan terbitnya Perpres No 13 Tahun 2010 yang merupakan

perubahan atas Perpres No. 67 Tahun 2005 tentang Kerjasama Pemerintah dengan

Badan Usaha dalam penyediaan infrastruktur, dimana disebutkan dalam pasal 4

ayat 1 yang menyatakan jenis infrstuktur yang dapat dikerjasamakan dengan

Badan Usaha mencakup sarana persampahan yang meliputi pengangkut dan

tempat pembuangan.44

Seiring dengan dinamisnya pelaksanaan otonomi daerah, maka pemerintah

(daerah) memiliki peluang yang sangat besar untuk melaksanakan kerjasama

dengan pihak ketiga sebagaimana dijamin dalam Pasal 195 Undang-Undang

Nomor 32 Tahun 2004 tentang Otonomi Daerah. Dalam butir (3) Pasal 195

Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 dinyatakan bahwa “Dalam penyediaan pelayanan publik, daerah dapat bekerjasama dengan pihak ketiga”. Perjanjian antara pemerintah daerah dengan pihak swasta dimungkinkan sepanjang yang

menyangkut public services atau pelayanan publik.45

Dengan begitu, ada baiknya apabila kerja sama pemerintah – swasta

dioptimalkan tidak hanya sebatas pengelolaan sampah pada tahap pengolahan dan

43

Rizki Maulana, 2012, Keberhasilan Penanganan Pembiayaan Sampah Sesuai Permasalahannya, http://edukasi.kompasiana.com/2012/01/12/keberhasilan-penanganan- pembiayaan- sampah- sesuai-permasalahannya-426970.html, Dikutip Minggu 26 Juni 2013 Pukul 15.00

44 Ibid 45

(27)

27

pemrosesan akhir saja sebagaimana yang sudah dilakukan oleh Pemerintah

Daerah di beberapa kota dan kabupaten di Indonesia, namun ada baiknya lebih di

optimalkan melalui tahapan yang lain, yakni: tahapan pemilahan, pengumpulan

dan pengangkutan sampah.

Sebagai percontohan, ada baiknya apa bila kita melihat sistem pengelolan

sampah antara Pemerintah Kota Batam yang bekerja sama dengan swasta, tidak

hanya bekerja di tahap akhir saja, namun bekerja sama dari tahap pemilahan dan

pengangkutan. Dengan adanya Perpres No. 56/2011 dan Perpres 13/2010 tentang

Perubahan Perpres 67/2005 yang memungkinkan pengelolaan kebersihan dari

hulu sampai hilir diberikan kepada swasta, Pemkot Batam melakukan kajian.

Hasilnya, pengelolaan sampah layak diserahkan ke swasta. Secara ekonomis,

Pemkot dan pihak swasta akan sama-sama untung. Kota Batam melaksanakan

Kerjasama Pemerintah Swasta (KPS) dalam pengelolaan sampah dengan

menggandeng Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dan PT

Sarana Multi Infrastruktur (SMI) dalam menyusun persiapan proyek KPS

pengelolaan sampah di Kota Batam. 46

Kerjasama ini menguntungkan karena pelayanan kesampahan pada

masyarakat meningkat dan menguntungkan bagi Anggaran Pendapatan Belanja

Daerah (APBD) karena Pemko Batam tidak mengeluarkan anggaran untuk

pengelolaan sampah.47

“…Pengelolaan sampah di Kota Batam telah dilakukan antara kerjasama pemerintah dengan pihak swasta. pengelolaan dilakukan dari hulu ke hilir atau dari sumber sampah hingga ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Telaga Punggur. Sementara pemerintah hanya mengelola sampah yang ada di tempat-tempat tertentu. Kerjasama pemerintah dalam pengelolaan sampah dengan swasta ini pertama dan satu-satunya di Indonesia. Batam memiliki visi misi untuk menjadikan Batam yang bersih, hijau, indah dan nyaman. Yang akan ditargetkan dapat tercapai pada tahun 2011 mendatang. Batam telah tiga kali berturut-turut memperoleh penghargaan Adipura dan pada

46

Bappenas, Edisi November 2011. Mekanisme KPS Sektor Pengelolaan Sampah, Bappenas : Sustaining Partnership, hlm. 24

47

(28)

28

tahun 2010 merupakan penghargaan Adipura yang ke empat dan kini masih dalam tahap penilaian. Pengelolaan sampah oleh pihak swasta ini telah dimulai sejak April 2009 lalu. “Dengan sistem pengelolaan sampah oleh pihak swasta ini, Pemko bisa menghemat anggaran. Bahkan Pemko mendapat kontribusi ke PAD dari kerjasama ini yang mencapai Rp1,1 miliar per tahun,” ujarnya…”48

Penerapan public private partnership dalam 5 tahapan penanganan sampah

bukanlah suatu hal yang sulit untuk diterapkan di Indonesia. Apabila kita melihat

perkembangan pengelolaan sampah di luar negeri seperti halnya di negara India,

penerapan public private pa rtnership pada 5 tahapan penanganan sampah juga

bukanlah suatu hal yang baru lagi. Sistem pengelolaan sampah di India sudah

berjalan secara holistik, artinya pemilahan, pengumpulan, pengangkutan, dan

pengolahan sampah sudah berjalan dengan baik. Untuk lebih memperjelas sistem

penerapan public private pa rtnership pada penanganan sampah di India, kami

sajikan skema penanganan sampah di India sebagai berikut:

Gambar 3. Recent Trends of PPP Intervention in MSWM in India49

Melalui skema penerapan public private partnership (PPP) pada

penanganan sampah di India tersebut , dapat kita ketahui bahwa metode

pengelolaan sampah terutama proses penanganan sampah di India memiliki

48

Humas Batam, 2010, Puteri Indonesia Pelajari Sistem Pengelolaan Sampah di Batam, http://www.humasbatam.com/2010/05/21/puteri-indonesia-pelajari-sistem-pengelolaan-sampah-di-batam/ Dikutip Senin 24 Juni 2013 Pukul 00:24

49

(29)

29

Gambar 4. Diagram Persentase

Peran Setiap Tahapan

Penanganan Sampah di India

kesamaan dengan metode penanganan sampah di Indonesia. Walaupun terdapat

kesamaan dalam metode penanganan sampah antara India dengan Indonesia,

namun apabila kita melihat dari segi keterlibatan swasta dalam setiap tahapan

penanganan sampah masih terdapat suatu perbedaan.

Perbedaan penanganan sampah dari segi keterlibatan swasta melalui public

private partnership antara India dengan Indonesia untuk selebihnya dijelaskan

dalam tabel dibawah ini :

Tabel 2. Perbandingan Penerapan Metode Penanganan Sampah Bila Dilihat dari Segi Penggunaan Public Private Partnership

Negara

Metode Penanganan Sampah

Pemilahan

Pengumpul-an

Pengangkut-an

Pengolah-an

Pemrosesan

akhir

India Partnership Partnership Partnership Partnership Partnership

Indonesia masyarakat Public Public Partnership Partnership

Keterangan : - Partnership : sudah menjalankan public private partnership

- Publik : Masih dikelola pemerintah - Masyarakat : tanggung jawab masyarakat

Penerapan public private partnership

pada penanganan sampah tahap

pengumpulan dan pengangkutan di India

tidak terlepas dari realita bahwa dalam

pelaksanaannya 79% tahapan penanganan

sampah ada pada kedua tahapan tersebut.50

Apabila dibandingkan dengan tahapan yang

lain, tahap pemilahan hanya memiliki peran

15% dari keseluruhan penanganan sampah.

Sedangkan tahap pengolahan dan

50

(30)

30

pemrosesan akhir hanya berperan 6% saja dalam penanganan sampah di India.

Realita tersebut merupakan salah satu penyebab adanya keterlibatan swasta dalam

tahapan pengumpulan dan pengangkutan sampah di India.

Hal lainnya yang menarik di India adalah peran swasta melalui program

tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) mereka.51 Banyak sekali perusahaan di

India yang program CSR-nya membantu bidang lingkungan/persampahan.

Menariknya, keterlibatan pihak swasta bukan hanya memberi uang semata, tetapi

benar-benar terlibat langsung. Semua karyawan diwajibkan untuk bekerja sekian

jam membantu program CSR dengan terjun langsung ke lapangan. Selain itu, di

samping program CSR yang dilakukan ke luar, di internal perusahaan pun

dilakukan sosialisasi dengan gencar, karena perusahaan beranggapan bahwa

karyawan mereka merupakan bagian dari masyarakat yang juga bertanggung

jawab dalam pengelolaan sampah. 52 Program CSR dalam Kerja Sama pemerintah

dengan swasta terkait pengelolaan sampah merupakan hal lain yang menjadi

pembeda pelaksanaan public private partnership Di Indonesia dan India.

Sebagaimana kita tahu Corporate Social Responsibility (CSR) bukan

sekedar trend social, namun merupakan sinergi dari upaya yang berkelanjutan

untuk menginformasi program-program sosial demi menciptakan ekonomi yang

lebih ramah lingkungan dengan melibatkan para pelaku pembangunan untuk

bekerjasama dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup.53 Dengan

berpedoman pada Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan

dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, CSR berwawasan lingkungan dapat

dilaksanakan di Indonesia khususnya dalam hal pelayanan publik khususnya

dalam penanganan sampah melalui public private partnership yang sejatinya

adalah wujud dari asas tanggung jawab, berkelanjutan, keadilan dan kesadaran,

hukum guna memenuhi hak konstitusi masyarakat di daerahnya atas lingkungan

yang baik.

51

Mirza, 2013, Cara India Mengelola Sampah, http://aceh.tribunnews.com/2013/06/07/cara-india-kelola-sampah, Dikutip Senin 24 Juni 2013 Pukul 00:27

52 ibid 53

(31)

31 4.2 Konsep Pengoptimalan Public Private Partnership

4.2.1 Konsep Public Private Partnership yang Telah Diterapkan dalam Penanganan Sampah

Konsep Public Private Pa rtnership / Kerjasama Pemerintah-Swasta

diselenggarakan oleh pemerintah daerah dan pihak swasta. Pihak swasta dalam

konsep kerjasama ini merupakan suatu bagian dari badan hukum. Konsep

Public Private Partnership dapat diterapkan pada sektor persampahan karena

penanganan sampah merupakan bagian dari pelayanan publik.

Dalam hal pemenuhan hak masyarakat atas lingkungan yang baik

melalui pelayanan publik sektor persampahan, pemerintah daerah tidak dapat

dengan sembarangan menerapkan konsep tersebut untuk penyediaan

pelayanan publik. Untuk pelayanan publik khususnya sektor penanganan

sampah, pelaksanaan konsep tersebut memerlukan berbagai pertimbangan.

Berbagai pertimbangan tersebut diantaranya :

1) Penanganan sampah secara maksimal tidak dapat disediakan oleh

pemerintah daerah karena pemerintah daerah terkendala dengan

sumberdaya keuangan daerah atau keahlian.

2) Pelibatan swasta diyakini dapat meningkatkan kualitas penanganan

sampah atau/dan mempercepat pembangunan daerah serta dapat

meningkatkan pendapatan asli daerah dibandingkan bila ditangani

sendiri oleh pemerintah daerah.

3) Ada dukungan dari masyarakat atas keterlibatan swasta dalam

penanganan permasalahanan sampah di suatu daerah.

4) Keluaran dari penanganan sampah tersebut dapat terukur dan terhitung

tarifnya, sehingga biaya penyediaan penanganan sampah tersebut dapat

tertutupi dari pemasukan tarif.

5) Ada pihak swasta yang sudah mempunyai “rekam jejak” baik dalam

bekerjasama dengan pemerintah daerah.

6) Ada peluang terjadinya kompetisi sehat dari pihak swasta yang terjun

dalam sektor penanganan sampah.

(32)

32

penanganan sampah.

Apabila tidak ada faktor-faktor yang menjadi pertimbangan tersebut di

atas, maka kerja sama dengan perusahaan swasta dipertimbangkan untuk tidak

dilakukan karena tidak ada manfaatnya bagi masyarakat dan pembangunan

daerah. Akan tetapi realitanya, banyak pemerintah daerah yang telah

menerapkan konsep public private partnership dalam penanganan sampah.

Hal ini mengindikasikan bahwa berbagai pertimbangan diatas benar-benar

terjadi dalam dinamika penanganan sampah di daerah-daerah.

Gambar 5 :Skematik Kondisi Aktual Public Private Partnership dalam Berbagai Tahapan Penanganan Sampah di Daerah

Melalui bagan diatas, dapat kita ketahui bahwa pemerintah daerah

memiliki kewenangan yang besar dalam melakukan penanganan sampah.

Bentuk dari kewenangan pemerintah daerah dalam hal penanganan sampah

adalah kewenangan pemerintah daerah untuk menyelenggarakan Public

Private Partnership dalam penanganan sampah di daerahnya. Dinamika

penerapan konsep public private partnership dalam penanganan sampah di

(33)

33 Tabel 3 : Penerapan Konsep Public Private Partnership dalam Penanganan

Sampah di Berbagai Daerah di Indonesia

Daerah Tahap

penanganan

Bentuk Public Private Partnership

Surakarta Pemrosesan akhir

Pengelolaan Solid Waste Final Disposal and Treatment Facility

Bekasi Pegolahan dan Pemrosesan

akhir

Pengelolaan program LFG (Landfill Gas) Flaring System

Depok Pegolahan dan Pemrosesan

akhir

membangun tempat penampungan sementara atau Intermediate Treatment Facility (ITF) di atas lahan seluas 10 hektar Jakarta Pegolahan dan

Pemrosesan akhir

Pembangunan tempat penampungan sementara atau Intermediate Treatment Facility Sunter dengan Pola kerjasama adalah Build-Operate-Transfer ( BOT). Bandung,

Cimahi

Pengolahan sampah

Pengelolaan Proyek TPA Legok Nangka di Nagreg

Batam Pengangkutan, pengolahan dan

pemrosesan akhir

Pemkot memberi waktu 25 tahun kepada PT Surya Sejahtera untuk mengelola

sampah di Batam

*Disarikan dari majalah sustaining partnership

Dari tabel tersebut, dapat kita ketahui bahwa dalam penerapan konsep

Public Private Pa rtnership / Kerjasama Pemerintah Swasta, pemerintah

daerah cenderung memanfaatkan konsep ini pada tahapan pengolahan dan

pemrosesan akhir saja. Walaupun penerapan konsep tersebut telah dilakukan

pada tahap pengolahan dan pemrosesan akhir, namun masih terdapat berbagai

permasalahan penanganan sampah di daerah yang terbukti dengan masih

banyaknya sampah yang belum terangkut, berbagai demonstrasi dan juga dari

hasil pemeringkatan lembaga internasional terkait kualitas kebersihan

Indonesia. Jadi dapat kami simpulkan bahwa penanganan sampah yang telah

dilakukan oleh pemerintah daerah dengan menggunakan Public Private

Partnership sampai saat ini masih belum dapat memenuhi hak masyarakat atas

(34)

34

4.2.2 Konsep Pengoptimalan Public Private Pa rtnership dalam Mengatasi

Permasalahan Pengelolaan Sampah di Daerah

Public Private Pa rtnership / Kerjasama Pemerintah-Swasta dalam

pengelolaan sampah telah dilakukan oleh beberapa pemerintah daerah di

Indonesia. Walaupun konsep tersebut sudah diterapkan di berbagai daerah,

namun nyatanya kita masih belum mendapatkan pemenuhan hak atas

lingkungan yang baik dalam bentuk pengelolaan sampah yang berwawasan

lingkungan. Hal itu dikarenakan dalam penerapan konsep public private

partnership, pemerintah daerah tidak memanfaatkan konsep tersebut secara

optimal pada setiap tahapan penanganan sampah dan cenderung hanya

menerapkan konsep tersebut pada tahap pengolahan dan pemrosesan akhir

sampah saja. Penanganan sampah yang baik tidak hanya diperoleh dari

pengolahan dan pemrosesan akhir saja. Tahap pemilahan, pengumpulan dan

pengangkutan sampah juga dapat menentukan keberhasilan penanganan

sampah di suatu daerah.

Penerapan public private partnership pada tahapan pengolahan dan

pemrosesan akhir sampah yang telah dilakukan oleh pemerintah daerah

menggunakan mekanisme kontrak yang telah disediakan pemerintah pusat

yaitu dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) Nomor 22 Tahun

2009 tentang Petunjuk Teknik Tata Cara Kerjasama Daerah. Penanganan

sampah merupakan bagian dari pelayanan publik sehingga dalam penyusunan

kontrak kerjasama, pemerintah daerah dapat menggunakan salah satu dari 10

macam jenis kontrak yang telah disediakan dalam peraturan menteri dalam

negeri tersebut. Karena dalam penanganan sampah terdiri dari 5 tahapan yaitu

pemilahan, pengumpulan, pengangkutan, pengolahan dan pemrosesan akhir

maka dapat disimpulkan bahwa untuk penerapan konsep optimalisasi public

private partnership dalam hal pengumpulan dan pengangkutan sampah,

pemerintah daerah juga dapat menggunakan jenis-jenis kontrak yang ada pada

peraturan menteri dalam negeri tersebut. Berikut kami sajikan tabel jenis-jenis

kontrak yang terdapat dalam Permendagri Nomor 22 Tahun 2009 tentang

(35)

35 Tabel 4 : Jenis-Jenis Kontrak Berdasarkan Permendagri Nomor 22 Tahun 2009 tentang Petunjuk Teknis Tata Cara Kerja Sama Daerah

Kontrak

Kontrak Pelayanan Kontrak Bangun Rehabilitasi

Patungan Operasional/

pemeliharaan Kelola Sewa Konsesi

Bangun guna

(36)

36

Dari tabel diatas dapat kita ketahui bahwa dalam penerapan kontrak

kerjasama antara pemerintah dengan swasta terdapat berbagai macam jenis

kontrak beserta kelebihan dan kelemahan dari masing-masing kontrak. Dalam

konsep optimalisasi public private pa rtnership pada karya tulis ini, kami

menawarkan suatu konsep pengoptimalan dalam penanganan sampah yaitu

pada tahapan pengumpulan dan pengangkutan sampah yang dalam

kerjasamanya pemerintah daerah diberi kebebasan dalam menggunakan salah

satu dari berbagai jenis kontrak diatas. Kebebasan yang diberikan kepada

pemerintah daerah untuk menggunakan salah satu dari jenis kontrak diatas

dalam pelaksanaan konsep optimalisasi public private partnership di dasari

dari adanya perbedaan kondisi daerah di Indonesia. Melalui pertimbangan

tersebut diharapkan setiap daerah dapat memilih kontrak kerjasama dalam

rangka optimalisasi public private partnership yang sesuai dengan kondisi

daerahnya masing-masing.

Adannya berbagai jenis kontrak yang telah disediakan dalam

Permendagri Nomor 22 Tahun 2009 tentang Petunjuk Teknik Tata Cara

Kerjasama Daerah tidak semata-mata dapat mengatasi permasalahan

penanganan sampah. Walaupun terdapat dasar hukum dan mekanisme

kerjasama yang jelas, namun dari segi pendanaan pemerintah daerah tetap saja

memiliki keterbatasan. Ketika penerapan konsep public private pa rtnership,

pemerintah daerah dapat saja mereduksi pengeluaran penanganan sampah,

namun dalam pelaksanaannya setiap kontrak memiliki kesepakatan tertentu

yang mana dalam kesepakatan tersebut masih memberikan kewajiban pada

pemerintah daerah untuk mengeluarkan pendanaan. Sebagai contoh untuk

jenis kontrak pelayanan, pada jenis ini pemerintah daerah masih memiliki

kewajiban dalam pembayaran sewa sarana prasarana yang telah disediakan

swasta, pembayaran biaya perawatan sarana prasarana dan lain-lain. Dalam

konsep optimalisasi public private partnership ini, kami telah mendapatkan

solusi atas permasalahan tersebut. Solusi dari permasalahan tersebut adalah

dengan pemanfaatan dana CSR (Coorporate Social Reesponsibility) untuk

Gambar

Gambar 1. Diagram Kebutuhan Investasi Pelayanan Publik Indonesia
Gambar 2.Skematik  Kerangka Pemikiran
Gambar  3. Recent Trends of PPP Intervention in MSWM in India49
Tabel 2. Perbandingan Penerapan Metode Penanganan Sampah Bila Dilihat
+5

Referensi

Dokumen terkait

125. The simplest PPP solution is to let the private party have the responsibility of making a university building available to public students. The private party will then

Melalui Public Private Partnership atau yang dikenal dengan skema KPBU maka pihak swasta baik perusahaan lokal maupun internasional secara terbuka memiliki

Critical success factor dalam Public Private Partnership dengan skema Build Operate Transfer bagi pihak swasta yaitu Analisa finansial (Estimasi biaya tepat);

Dalam perjanjian kerjasama menggunakan mekanisme Public Private Partnership khususnya dengan kontrak BOT ini terdapat beberapa unsure antara lain; 1) Adanya pihak

To know the implementation of community empowerment program through CSR, this research purposed to describe partnership pattern in Sukorejo Pasuruan viewed from public- private

Sustainable Basic Education Transformation Through Public-Private Partnership in Nigeria Siti Alida John Abdullah* Danjuma Abdullahi Kamaruddin Abdulsomad School of Government,

Table 6 SWOT Matrix, Tourism Development to Increase Economic Growth in Kedungsepur through Public – Private Partnership Sector Strengths Weaknesses Opportunities Strategy of SO :

Oleh sebab itu penelitian Public Private Partnership di era new normal ini dapat menjadi alternatif isu yang menarik untuk dikaji khususnya berkaitan dengan pelaksanaan program-program