1
Pengaruh Kecerdasan Rohani dalam Kepemimpinan
Pedesaan terhadap Bangsa
Nurmitha Atmia/I34120046
Kepemimpinan merupakan hal yang sangat penting yang mendasar yang diperlukan oleh individu, untuk berinteraksi dengan dirinya sendiri, antar individu dan kelompok atau dalam lingkup masyarakat. Untuk menuju kesuksesan sebuah bangsa yang bersih, nyaman, teratur, disegani bangsa luar dan menjadi bangsa yang besar maka jiwa kepemimpinan merupakan kunci dari jawaban tersebut, Jiwa kepemimpinan adalah berbagai karakter yang positif dan harus dimilki oleh seorang pemimpin,karena pemimpin adalah yang mengarahkan perjalanan (Ali 2013). Jika seseorang sudah memliki jiwa kepemimpinan yang baik dalam dirinya maka dia akan berkontribusi lebih baik lagi untuk kelompoknya, masyarakat bahkan bangsanya.
Jika jiwa kepemimpinan ini diterapkan sedini mungkin saat berada ditingkat Sekolah Dasar dan terus dilatih hingga dewasa maka bangsa yang ditempatinya dan masyarakat disekelilingnya akan mendapatkan dampak yang baik dan cukup berarti bagi kehidupan selanjutnya, dia akan mengabdi menjadi seorang pemimpin ditingkat desa/kota/bangsa yang mampu membuat perubahan yang lebih baik pada desa/kota/bangsa dan masyarakatnya.
1
amanah. Pemimpin akan memahami segala permasalahan melalui hatinya, serta akalnya dan sekaligus menjadi muara tempat bertanya setiap permasalahan agar tidak melanggar standar kerja terlebih lagi keluar dari syariat agama” (Ali 2013).Selain itu pendidikan, keluarga , lingkungan dan pertemanan merupakan beberapa faktor pengaruh yang sangat mempengaruhi dalam terbentuknya jiwa kepemimpinan dalam diri seseorang. Menurut Sarros dan Butchatsky (1996) dalam Ali (2013), kepemimpinan dapat didefinisikan sebagai suatu perilaku dengan tujuan tertentu untuk mempengaruhi sebagai suatu perilaku dengan tujuan tertentu untuk mempengaruhi aktivitas para anggota kelompok untuk memcapai tujuan bersama yang dirancang untuk memberikan manfaat individu dan organisasi.
Ruang lingkup pemerintahan yang menjadi dasar suatu bangsa salah satunya adalah Pemerintahan dipedesaan. Pedesaan merupakan kawasan yang sangat memerlukan kepemimpinan yang baik karena memiliki Sumber Daya Alam yang melimpah, kearifan lokal yang perlu dijaga, dan juga masyarakat yang bersifat heterogen. Oleh karena itu peran pemimpin desa atau kepala desa sangat mempengaruhi perkembangan desa ke arah yang lebih baik. Pemimpin desa yang baik adalah pemimpin yang memilki jiwa kepemimpinan yang baik, bisa mendengar saran dan keluhan warga secara langsung , memiliki kecerdasan rohani, intelektual, emosional dan physical. Sehingga akan mampu membawa perubahan yang lebih baik untuk desanya.
2 oleh pemerintah akan tepat sasaran dan efektif, karena adanya transparansi, kejujuran, tanggung jawab yang tinggi serta moral yang baik dalam setiap penentuan kebijakan atau kepustusan kepada warga desa.
Lalu bagaimana dengan para pemimpin yang tidak memliki kecerdasan rohani dan jiwa kepemimpinan yang baik? Bahkan ada yang ‘memakan uang rakyat’ , hal ini menunjukan bahwa kerusakan moral sudah mulai tampak, bahkan sudah meraja rela di bumi pertiwi ini. Ada kepala desa yang demi mengembalikan modal kampanye saat pemilihan desa, dia rela mengkhianati amanah yang telah diberikan warga padanya. Ironis! Ini terjadi karena sudah mulai lunturnya jiwa kepemimpinan yang bersumber pada kecerdasan rohani yang menerangi kecerdasan intelektual, emosional, dan physical (Ali 2013).
Maka diperlukan revolusi mental dan pendidikan agama, dan diterapkannya kecerdasan rohani yang diterapkan sejak usia dini yang akan melekat dan melembaga hingga dewasa serta untuk memperbaiki kerusakan moral, agar kerusakan moral tersebut tidak semakin meraja rela dan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang besar dan berbudi pekerti. Kita juga harus menjunjung tinggi nilai-nilai pancasila dan menyerapi setiap makna yang terkandung didalamnya.
“Padahal kalau pendidikan agama meresap dan memasuki sendi-sendi kalbu pelajar, mahasiswa,aparatur negara dan para pemimpin, pasti kita akan terhindar dari peristiwa tragis tersebut karena hati diliputi kebeningan, sehingga jiwa cenderung ke arah kesabaran dan kebaikan karena memilki jiwa yang tenang” (Ali 2013)