• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA Sejarah Domba

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "TINJAUAN PUSTAKA Sejarah Domba"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

TINJAUAN PUSTAKA

Sejarah Domba

Domba lokal merupakan domba asli Indonesia yang mempunyai daya adaptasi yang baik terhadap iklim tropis, makanan yang kualitasnya rendah, penyakit dan gangguan caplak, sumber gen yang khas, produktif dipelihara dengan biaya rendah serta dapat beranak sepanjang tahun. Domba lokal mempunyai posisi yang sangat strategis di masyarakat karena mempunyai fungsi sosial, ekonomis, dan budaya serta merupakan sumber gen yang khas untuk digunakan dalam perbaikan bangsa domba di Indonesia melalui persilangan antar bangsa domba lokal dengan domba impor. Selain itu, domba juga termasuk ternak penghasil daging yang sangat potensial serta mampu mengkonversikan bahan pakan berkualitas rendah menjadi produk bergizi tinggi, memiliki kemampuan reproduksi yang relatif tinggi, produk sampingan berupa kulit, bulu, tulang, kotoran ternak bisa digunakan sebagai bahan baku industri (Abidin dan Sodiq, 2002).

Klasifikasi Domba

Domba adalah ternak ruminansia yang memiliki perut majemuk dan secara fisiologis sangat berbeda dengan ternak non ruminansia yang memiliki perut tunggal seperti unggas dan babi (Tomaszewska et al., 1993). Domba merupakan hewan ruminansia kecil yang masih tergolong kerabat kambing, sapi dan kerbau. Bangsa domba secara umum diklasifikasikan berdasarkan atas hal-hal tertentu diantaranya berdasarkan perbandingan banyaknya daging atau wol, ada tidaknya tanduk atau berdasarkan asal ternak (Ikhsan 2009). Menurut Blakely (1991) Domba diklasifikasikan sebagai berikut :

(2)

Domba yang ada di Indonesia untuk saat ini diperkirakan asal-usulnya adalah berasal dari pedagang-pedagang yang melakukan aktivitas membeli rempah-rempah di Indonesia pada zaman dahulu. Pedagang tersebut pada umumnya berasal dari Asia Barat Daya. Di Indonesia domba dipelihara untuk menghasilkan daging, disamping wool dan kulit, sementara kotorannya digunakan sebagai pupuk. Domba asli Indonesia sering disebut domba lokal. Domba lokal ini mempunyai ciri-ciri yang spesifik diantaranya mudah dibudidayakan dan banyak berkembang di daerah Jawa Barat dan Jawa Tengah.

Populasi ternak domba di Indonesia pada tahun 2011 berjumlah 11,79 juta ekor atau setara dengan 25,9 persen dari total populasi ternak ruminansia (tabel 1) dan populasi domba di pulau Jawa terbesar yakni 73,5 persen dari total populasi domba Indonesia.

Tabel 1. Populasi Ternak Ruminansia Indonesia Tahun 2011

Ternak Populasi (Ekor)

Sapi Potong Sapi Perah Kerbau Kambing Domba

14.820.000 59.000.000 1.310.000 16.950.000 11.790.000

Total 45.460.000

Sumber: Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (2012)

(3)

Pelepah Kelapa Sawit daun sawit 4 – 6 kg/pelepah, bahkan produksi pelepah dapat mencapai 40 – 50 pelepah/pohon/tahun dengan berat sebesar 4,5 kg/ pelepah, hasil panen pelepah ini merupakan potensi yang cukup besar sebagai pakan ternak ruminansia (Umar, 2009).

Pelepah kelapa sawit dapat diberikan dalam bentuk segar atau diproses menjadi silase. Hasil Penelitian menunjukan penggunaan pelepah sawit dalam bentuk silase pada sapi sebanyak 50% dari total pakan dapat menghasilkan pertambahan bobot badan harian berkisar 0,62 - 0,75 kg dengan nilai konversi pakan antara 9 – 10 (Jafar, 1990). Kandungan gizi pelepah kelapa sawit berdasarkan hasil analisis proksimat dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Kandungan Gizi Pelepah Sawit (Dalam Bahan Kering)

Zat Nutrisi Kandungan (%)

(4)

Bungkil Inti Sawit

Bungkil inti sawit (BIS) merupakan salah satu hasil ikutan pengolahan inti sawit (daging biji sawit plus batok). BIS yang dihasilkan mencapai 45-46 persen dari inti sawit, atau 2,0-2,5 persen dari bobot tandan sawit. Penggunaan BIS dalam ransum sapi perah, sapi potong, domba, dan kambing sudah banyak diteliti. Umumnya konsentrat untuk sapi perah mengandung BIS 65 persen, jagung 25 persen, dan bungkil kedelai 8 persen. Pada sapi potong, BIS dapat digunakan sampai 70 persen dalam ransum konsentrat. Pemberian BIS hingga 30 persen pada domba yang diberi pakan dasar rumput dapat meningkatkan pertumbuhan dari 30 g (hanya diberi rumput) menjadi 70 g/ekor/ hari (Batubara, 1993).

Bungkil Inti Sawit dapat diberikan sebersar 30 persen dalam pakan domba, akan tetapi BIS dapat juga diberikan sebanyak 40 persen dalam konsentrat untuk penggemukan domba dengan penambahan molases sebanyak 20 persen (Hasnudi, 2005). Kandungan gizi Bungkil Inti Sawit berdasarkan hasil analisis proksimat dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Kandungan Gizi Bungkil Inti Sawit (Dalam Bahan Kering).

(5)

Dalam penggunaannya untuk pakan dedak padi memiliki beberapa kendala diantaranya adalah tingginya lemak sekitar 6-10 persen, sehingga dedak mudah mengalami ketengikan oksidatif. Ketengikan oksidatif disebabkan oleh auto oksidasi radikal asam lemak tidak jenuh dalam lemak. Auto oksidasi dimulai dengan pembentukan radikal-radikal bebas, lalu radikal ini dengan oksigen membentuk peroksida aktif yang dapat membentuk hidroperoksida yang bersifat sangat tidak stabil dan mudah pecah menjadi senyawa dengan rantai karbon yang lebih pendek (asam lemak, aldehida, keton) yang bersifat volatil dan menimbulkan bau tengik pada lemak. Selain itu dedak padi memiliki zat anti nutrisi inhibitor tripsin dan asam fitat (Amrullah, 2004). Tingginya kandungan zat asam pitat dapat mengganggu ketersediaan fosfor dalam ransum. (Sukria dan Krisnan, 2009). Adapun kandungan nilai gizi dari dedak padi ini dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4. Kandungan Nilai Gizi Dedak Padi (Dalam Bahan Kering)

Kandungan Zat Nilai Gizi (%)

Protein Kasar

Tanaman kelapa (Cocos nucifera L.) termasuk jenis tanaman palma yang memiliki multi fungsi karena hampir semua bagian dari tanaman tersebut dapat dimanfaatkan. Tanaman ini banyak dijumpai di Indonesia yang merupakan penghasil kopra terbesar kedua di dunia, sesudah Phillipina. Usaha budidaya tanaman kelapa melalui perkebunan terutama dilakukan untuk memproduksi minyak kelapa yang berasal dari daging buahnya dengan hasil samping berupa ampas kelapa (Miskiah, 2006).

(6)

murni masih memiliki kandungan protein yang cukup tinggi. Hal ini menyebabkan ampas kelapa berpotensi untuk dimanfaatkan dan diolah menjadi pakan ternak. Protein kasar yang terkandung pada ampas kelapa mencapai 23%, dan kandungan seratnya yang mudah dicerna merupakan suatu keuntungan tersendiri untuk menjadikan ampas kelapa sebagai bahan pakan pedet (calf), terutama untuk menstimulasi rumen (Miskiah, 2006). Hasil analisis proksimat terhadap bungkil kelapa dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5. Hasil Analisis Proksimat Bungkil Kelapa (Dalam Bahan Kering).

Komposisi Kadar (%) Spadiciflorae dan genus Metroxylon. Tanaman sagu terdiri atas sagu berduri dan sagu tidak berduri. Sagu berduri adalah sagu Tuni ( M. rumpii), sagu Ihur (M. sylvestre), sagu Makanaru (M.longispinum) dan sagu duri rotan (M. microcanthum) serta satu jenis sagu yang tidak berduri yaitu sagu molat (M. sagu), kelima jenis sagu ini mempunyai nilai ekonomis yang tinggi di Maluku (Sangadji, 2009).

(7)

Banyak penelitian telah dilakukan dalam melihat pemanfaatan ampas sagu sebagai komponen pakan, baik dalam ransum ruminansia maupun monogastrik. Pantjawidjaja et al. (1984) melaporkan bahwa substitusi rumput lapangan dengan ampas sagu (Metroxylon sp) sampai pada level 45 persen dengan urea 3 persen dari bahan kering ampas sagu tidak memperlihatkan perbedaan yang nyata dalam efisiensi penggunaan pakan dan pertambahan bobot badan sapi peranakan ongole (PO), sedangkan menurut Nurkurnia (1989) penggunaan 40 persen ampas sagu dalam ransum tidak mempengaruhi produksi VFA total atau parsial, imbangan asetat/propionat dan produksi NH3.

Hasil penelitian yang dilaporkan oleh Ralahalu (1998) menjelaskan bahwa penggunaan ampas sagu hasil fermentasi dengan Aspergillus niger sampai taraf 15 persen dalam ransum ternak babi memberikan pertambahan bobot badan yang baik. Dilihat dari segi kuantitas, ampas sagu cukup tersedia untuk digunakan sebagai pakan ternak terutama pada daerah-daerah produsen tepung sagu seperti Maluku dan Papua, tetapi dari segi kualitas, ampas sagu mempunyai nilai gizi yang rendah karena kadar serat kasarnya yang tinggi dan kadar proteinnya yang rendah, walaupun kadar patinya cukup tinggi. Komposisi kimia ampas sagu dapat dilihat dalam Tabel 6.

Tabel 6. Komposisi Kimia Ampas Sagu (Dalam Bahan Kering)

Komposisi Kadar (%)

(8)

Mineral

Ternak tidak dapat membentuk mineral, sehingga harus disediakan dalam makanannya, mineral tersebut harus disediakan dalam perbandingan yang tepat dan dalam jumlah yang cukup. Terlalu banyak mineral dapat membahayakan individu. Suatu keuntungan ialah bahwa sebagian besar mineral dapat diberikan dalam jumlah yang besar dalam pakan tanpa mengakibatkan kematian, tetapi kesehatan hewan menjadi mundur sehingga menyebabkan kerugian ekonomis besar (Anggorodi, 1994).

Jumlah Mineral yang dibutuhkan ternak memang relatif sedikit, namun mineral sangat penting dan diperlukan kesempurnaan pakan yang dikonsumsi oleh ternak tersebut. Mineral yang diperlukan oleh tubuh ternak terbagi dalam dua kelompok, yakni mineral makro yang terdiri dar Ca, P, Mg, Na, K dan Cl, serta mineral mikro yang terdiri atas Cu, Mo, Fe dan lain-lain. Kebutuhan akan mineral makro lebih banyak dibandingkan jumlah kebutuhan mineral mikro (Murtidjo, 1993).

Mineral berfungsi sebagai bahan pembentukan tulang dan gigi yang menyebabkan adanya jaringan keras dan kuat, mempertahankan keadaan koloidal dari beberapa senyawa dalam tubuh, memelihara keseimbangan asam basa tubuh, aktivator sistem enzim tertentu, komponen dari suatu enzim dan mineral mempunyai sifat yang karakteristik terhadap kepekaan otot dan saraf (Tillman et al, 1993).

Molasses

(9)

Keuntungan penggunaan molasses untuk pakan ternak adalah kadar karbohidrat tinggi (48 – 60 persen sebagai gula) dan sangat disukai oleh ternak. Tetes juga mengandung vitamin B kompleks dan unsur - unsur mikro yang penting bagi ternak, sedangkan kelemahannya ialah apabila dikonsumsi secara berlebihan dapat menyebabkan diare. (Rangkuti et al., 1985). Kandungan nilai gizi molases dapat dilihat pada tabel 7.

Tabel 7. Kandungan nilai gizi molasses (Dalam Bahan Kering).

Kandungan Nilai Gizi (%)

Protein Kasar Serat Kasar Lemak Kasar Abu

BETN

3,94 0,40 0,30 11,00 84,40 Sumber : Fahmi (2013)

Garam

Semua herbivora suka mengkonsumsi garam apabila disediakan dalam bentuk jilatan (lick) atau dalam bentuk halus dalam tempat mineral. (Tillman et. al., 1993). Garam yang dimaksud adalah garam dapur (NaCl), dimana selain berfungsi sebagai mineral juga berfungsi sebagai pembatas konsumsi yang berlebihan bagi ternak karena adanya rasa asin. Hampir semua bahan makanan nabati (khususnya hijauan tropis) mengandung Na dan Cl relatif lebih kecil dibanding bahan makanan hewani (Parakkasi, 1995).

Urea

(10)

Urea (CO(NH2)2) merupakan salah satu sumber non protein nitrogen (NPN) yang berbentuk kristal putih, bersifat mudah larut dalam air. Urea dalam proses fermentasi akan diuraikan kembali oleh enzim urease menjadi amonia dan karbondioksida, selanjutnya amonia akan digunakan untuk membentuk asam amino (Poerwanto, 2003).

Nitrogen dalam media fermentasi mempunyai fungsi fisiologis bagi mikroorganisme, yaitu sebagai bahan untuk mensintesis protein dan asam nukleat. Penggunaan urea dalam proses fermentasi mempengaruhi kandungan protein kasar, serat kasar, lemak kasar, BETN dan bahan kering (Andayani dan Yatno, 2001).

Mikroba Lokal

a. Saus Burger Pakan (SBP)

Saus Burger Pakan (SBP) merupakan sebuah produk yang mengandung multi-mikroba seperti mikroba asan laktat, mikroba selulolitik, mikroba amilolitik dan mikroba baik lainnya serta asam asam amino esensial, vitamin, mineral, dan bahan bahan alami yang memberikan zat-zat yang sangat dibutuhkan oleh ternak untuk pertumbuhan dan kesehatan. Pemakaian SBP dapat dilakukan dengan penyiraman, penyemprotan pada pakan atau dicampurkan langsung dengan minuman ternak. Untuk pakan ternak ruminasia seperti sapi, kerbau, kambing dan domba, “Saus Burger Pakan” pakan dapat dibuat dari bahan pakan sumber serat (jerami, rumput, tebon, jagung) sebagai sumber energi dan protein dapat digunakan dedak padi, pollard, tepung jagung, ampas ketela, ampas sagu, kulit kedelai, atau sejenisnya.

b. Probion

(11)

Probion merupakan produk campuran berbagai macam mikroba yang dibuat melalui proses inkubasi anaerob isi rumen dengan tambahan mineral dan bahan organik yang dibutuhkan mikroba. Mikroba yang terdapat dalam probion diharapkan dapat menghasilkan enzim yang mampu merombak dan merenggangkan ikatan lignosellulosa dan lignohemisellulosa, sehinga pelepah sawit menjadi lebih mudah dicerna oleh mikroba rumen, sehingga pelepah sawit hasil fermentasi akan mampu memenuhi kebutuhan ternak terhadap hijauan sebagai sumber serat (Haryanto et,al.,2003).

Teknologi probion dapat meningkatkan kandungan protein pakan dan nilai kecernaan serat (NDF) lebih tinggi. Probion mampu meningkatkan bobot ternak 10 persen dalam kurun waktu yang relatif pendek. Probion dapat menurunkan biaya produksi sehingga akan meningkatkan keuntungan. Probion sangat potensial dikomersialkan untuk industri pakan dalam produksi berserat untuk ternak ruminansia (Haryanto, 2003).

c. Aspergillus niger

Aspergillus niger merupakan salah satu jenis Aspergillus yang tidak menghasilkan mikotoksin sehingga tidak membahayakan. Proses fermentasi menggunakan kapang, selain pembentukan miselium selalu diikuti oleh pembentukan spora yang berguna untuk pembuatan inokulum pada proses fermentasi. Inokulum yang berupa spora merupakan starter yang baik dalam fermentasi (Purwadaria et al., 1995).

(12)

Peningkatan kandungan protein kasar yang sejalan dengan pertumbuhan kapang (jamur) dikarenakan tubuh jamur terdiri dari elemen yang mengandung nitrogen. Selain itu enzim yang dihasilkan oleh jamur juga merupakan protein. Dinding sel jamur mengandung 6,3 persen protein kasar, sedangkan membran sel pada jamur yang berhifa mengandung protein 25-45 persen dan karbohidrat 25-30 persen. (Musnandar, 2003).

Fermentasi

Fermentasi adalah proses penguraian unsur-unsur organik kelompok terutama karbohidrat untuk menghasilkan energi melalui reaksi enzim yang dihasilkan oleh mikroorganisme. Proses fermentasi dapat dikatakan sebagai proses ”protein enrichment” yang berarti proses pengkayaan protein bahan dengan menggunakan mikroorganisme tertentu (Sarwono, 1996).

(13)

Konsumsi Pakan

Konsumsi pakan merupakan salah satu indikator terbaik dari produksi ternak. Jumlah konsumsi pakan merupakan faktor penentu paling penting yang menentukan jumlah nutrien yang didapat oleh ternak dan berpengaruh terhadap tingkat produksi. Konsumsi pakan dipengaruhi oleh temperatur lingkungan, palatibilitas, status fisiologis, konsentrasi nutrisi, bentuk pakan, bobot tubuh dan produksi (Anggorodi, 1994).

Ternak ruminansia mempunyai keistimewaan, salah satunya adalah dapat makan dengan cepat dan menampung makanan dalam jumlah yang banyak. Kemampuan mengkonsumsi pakan ini dapat dipengaruhi oleh beberapa hal yaitu kapasitas tampung alat pencernaan ternak, bobot badan, bentuk dan kandungan zat- zat makanan ransum, kebutuhan ternak akan zat-zat makanan, status fisiologi ternak dan genotip ternak. (Williamson dan Payne, 1993).

Temperatur lingkungan dan konsumsi pakan ternak ( hewan ) adalah 2 hal yang akan selalu saling terkait. Yang mana temperatur lingkungan akan sangat mempengaruhi konsumsi pakan ternak. Suhu lingkungan di bawah thermoneutral menyebabkan kosumsi pakan ternak meningkat, sedangkan suhu lingkungan di atas kisaran tersebut menyebabkan penurunan konsumsi pakan. Penurunan konsumsi pakan, antara lain disebabkan oleh meningkatnya konsumsi air minum yang digunakan untuk mempertahankan suhu tubuh terhadap suhu lingkungan yang bertambah panas (Housebandry, 2009).

(14)

Faktor yang mempengaruhi palatabilitas pada ternak ruminansia adalah kecerahan warna, rasa, tekstur dan kandungan nutrisi. Pakan yang berkualitas baik tingkat konsumsinya lebih tinggi dibandingkan dengan pakan yang berkualitas rendah, sehingga pakan yang kualitas relatif sama maka tingkat konsumsinya juga tidak jauh berbeda (Ensminger, 1990).

Kebutuhan ternak terhadap pakan dicerminkan oleh kebutuhannya terhadap nutrisi. Jumlah kebutuhan nutrisi setiap harinya sangat tergantung pada status fisiologis ternak. Status fisiologi ternak ruminansia seperti umur, jenis kelamin, fase (pertumbuhan, dewasa, bunting, menyusui), kondisi tubuh (normal, sakit) sangat mempengaruhi konsumsi pakannya. Maka, setiap ekor ternak yang berbeda kondisinya membutuhkan pakan yang berbeda pula (Prihatman, 2000).

Konsentrasi nutrisi merupakan jumlah nutrisi didalam pakan. Konsentrasi nutrisi yang sangat berpengaruh terhadap konsumsi pakan antara lain konsentrasi energi yang terkandung di dalam pakan. Konsentrasi energi pakan berbanding terbalik dengan tingkat konsumsinya. Makin tinggi konsentrasi energi di dalam pakan, maka jumlah konsumsinya akan menurun. Sebaliknya, konsumsi pakan akan meningkat jika konsentrasi energi yang dikandung pakan rendah. Konsumsi pakan mempunyai hubungan erat dengan kebutuhan energi ternak yang sering menyebabkan konsumsi pakan ternak menjadi berbeda (Williamson dan Payne, 1993).

Pakan dengan kandungan Bahan Kering tinggi berpengaruh terhadap intake. Pada ruminansia intake dipengaruhi oleh tingkat penyerapan dan bentuk pakan. Ternak ruminansia lebih menyukai pakan bentuk butiran (hijauan yang dibuat pellet atau dipotong) daripada hijauan yang diberikan seutuhnya. Hal ini berkaitan erat dengan ukuran partikel yang lebih mudah dikonsumsi dan dicerna (Sutardi, 1980).

(15)

Ternak ruminansia, produksi dapat berupa pertambahan berat badan (ternak potong), air susu (ternak perah), tenaga (ternak kerja) atau kulit dan bulu/wol. Makin tinggi produk yang dihasilkan, makin tinggi pula kebutuhannya terhadap pakan. Apabila jumlah pakan yang dikonsumsi (disediakan) lebih rendah daripada kebutuhannya, ternak akan kehilangan berat badannya (terutama selama masa puncak produksi) di samping performansi produksinya tidak optimal (Astanto, 2008).

Pertambahan Bobot Badan Ternak

Pertumbuhan adalah perubahan ukuran yang meliputi perubahan berat hidup, bentuk, dimensi linier dan komposisi tubuh termasuk perubahan komponen-komponen tubuh seperti otot, lemak, protein dan abu pada karkas. Keragaman ukuran tubuh pada ternak dapat disebabkan kondisi pemeliharaan, pengaruh pemberian pakan, kondisi alat pencernaan dan keragaman genetik (Mulliadi, 1996).

Pertambahan berat badan dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu pakan (total protein yang diperoleh setiap harinya), jenis kelamin, umur, genetik, lingkungan, dan manajemen tata laksana. Bobot tubuh berfungsi sebagai salah satu kriteria ukuran yang penting dalam menentukan pertumbuhan dan perkembangan ternak. Selain itu, bobot tubuh juga berfungsi sebagai ukuran produksi dan penentu ekonomi. Bobot tubuh seekor ternak dipengaruhi oleh bangsa ternak, jenis kelamin, umur, jenis kelahiran, dan jenis pakan (National Research Council, 2000).

(16)

Jenis kelamin sangat berpengaruh terhadap performa produksi ternak. Hal ini disebabkan oleh adanya pengaruh terhadap tenunan tubuh yang sekaligus mempengaruhi pertumbuhan maupun persentase karkas ternak. Perbedaan pertambahan bobot badan dan persentase karkas berdasarkan jenis kelamin dipengaruhi oleh hormon somatotropin (Irmawaty dan Padang, 2007).

Rauf (1988) menyatakan bahwa, peranan yang penting dari hormon pertumbuhan terletak pada stimulasi peningkatan ukuran tubuh, memacu peningkatan dan percepatan pertumbuhan. Selanjutnya, dinyatakan bahwa hormon pertumbuhan juga berpengaruh antagonistik terhadap insulin di dalam otot dan tenunan adiposa. Hormon kelamin memberikan pengaruh yang menonjol terhadap pertambahan bobot badan ternak yang sekaligus memberikan perbedaan bobot dan persentase karkas. Jenis kelamin jantan memiliki performa produksi (pertambahan bobot badan, konsumsi bahan kering dan efisiensi penggunaan pakan) dan status faal (suhu tubuh, respirasi dan pulsus) yang lebih tinggi dibanding ternak betina.

Pertambahan bobot badan pada ternak jantan disebabkan adanya hormon androgen yang merangsang pertumbuhan. Hormon androgen pada ternak jantan dapat merangsang dan menstimulan pertumbuhan, pertumbuhan yang cepat pada saat pubertas sebagian disebabkan oleh pengaruh anabolik protein dari androgen sehingga ternak jantan dapat lebih besar dibandingkan dengan ternak betina (Putri, 2014).

(17)

Pertumbuhan ternak muda sebagian besar disebabkan oleh perumbuhan otot, tulang belulang dan organ-organ vital. Proses pertumbuhan pada semua jenis ternak terkadang berlansung cepat, lambat dan bahkan terhenti jauh sebelum hewan tersebut mencapai dalam ukuran besar tubuh (Parakkasi, 1995)

Produktivitas seekor ternak dipengaruhi oleh faktor genetik atau keturunan dan faktor lingkungan. Faktor genetik merupakan faktor keturunan yang dibawa sejak lahir dan bersifat tetap, sedangkan faktor lingkungan merupakan kesempatan atau peluang untuk memaksimalkan peran faktor genetik yang dimilikinya dan bersifat tidak tetap atau bisa berubah dari waktu ke waktu. Ternak dengan mutu genetik yang baik akan berproduksi dengan baik pula jika didukung oleh faktor lingkungan yang cocok. Demikian pula sebaliknya, meskipun diberi lingkungan yang baik jika mutu genetik seekor ternak tidak unggul maka produktivitas ternak tersebut juga tidak sebesar dibanding ternak dengan mutu genetik yang lebih unggul (Wiyanto, 2012)

Perawatan merupakan salah satu bagian daripada pemeliharaan ternak yang tidak dapat diabaikan begitu saja. Beberapa perawatan penting yang harus dilakukan secara rutin dalam pemeliharaan ternak antara lain : pemberian pakan yang berkualitas, memandikan, pencukuran bulu, pemotongan kuku, pembersihan kandang, serta pemeliharaan kesehatan ternak (Panjaitan et al, 2003)

(18)

Pertambahan bobot badan merupakan salah satu kriteria yang dapat digunakan untuk mengevaluasi kualitas bahan makanan ternak, karena pertumbuhan yang diperoleh dari suatu percobaan merupakan salah satu indikasi pemanfaatan zat– zat makanan dari pakan yang diberikan. Dari data pertambahan bobot badan harian akan diketahui nilai suatu bahan pakan ternak (Church and Pond 1995). Pertumbuhan dapat dinilai sebagai peningkatan tinggi, panjang, ukuran lingkar dan bobot yang terjadi pada seekor ternak muda yang sehat serta diberi pakan, minum dan mendapat tempat berlindung yang layak. Pertumbuhan umumnya diukur dengan berat dan tinggi (Aberle et al, 2001).

Konversi Pakan

Konversi pakan adalah perbandingan antara jumlah yang dikonsumsi pada waktu tertentu dengan produksi yang dihasilkan (pertambahan bobot badan) dalam kurun waktu yang sama. Konversi pakan merupakan suatu indikator teknis yang dapat menggambarkan tingkat efisiensi penggunaan pakan, semakin rendah angka konversi pakan berarti semakin baik (Anggorodi, 1994). Konversi pakan ditentukan berdasarkan beberapa faktor yaitu suhu lingkungan, potensi genetik dan kandungan nutrisi dalam pakan. Konversi pakan juga dipengaruhi oleh jumlah pakan yang dikonsumsi, bobot badan, gerak atau aktivitas tubuh, suhu dalam kandang (Parakkasi, 1995).

(19)

al., 2003). Keadaan suhu yang relatif tinggi pada suatu lingkungan pemeliharaan ternak menyebabkan terjadinya cekaman panas. Cekaman panas (heat stress) menyebabkan gangguan terhadap pertumbuhan pada ternak (Mashaly et al., 2004). Penurunan pertumbuhan ini terkait dengan penurunan konsumsi pakan dan peningkatan konsumsi air minum selama ternak mengalami cekaman panas (Cooper dan Washburn, 1998).

Faktor genetik merupakan faktor keturunan yang dibawa sejak lahir dan bersifat tetap, 70% dari produktivitas ternak dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan 30% oleh faktor genetik. Di antara faktor lingkungan tersebut, aspek pakan mempunyai pengaruh yang paling besar yaitu sekitar 60%. Hal ini menunjukan bahwa meskipun potensi genetik tinggi, tetapi bila pakan yang diberikan tidak memenuhi syarat kualitas, maka produktifitas yang tinggi serta nilai konversi pakan yang baik sulit untuk dicapai (Wiyanto, 2012).

Kandungan nutrisi dalam pakan merupakan faktor utama dalam keberhasilan usaha pengembangan peternakan disamping faktor bibit dan tatalaksana. Semakin baik kualitas pakan yang dikonsumsi ternak, maka akan diikuti dengan pertambahan bobot badan yang lebih tinggi sehingga makin efisien penggunaan pakannya (Parakkasi, 1995).

(20)

Kecernaan Bahan Pakan

Kecernaan zat makanan didefinisikan sebagai jumlah zat makanan yang tidak diekskresikan dalam feses atau dengan asumsi bahwa zat makanan tersebut dicerna oleh hewan, apabila dinyatakan dalam persentase maka disebut koefisisen cerna (Tillman, 1993). Kecernaan bahan makanan dapat dipengaruhi oleh umur ternak, level pemberian pakan, cara pengolahan dan pemberian pakan, komposisi pakan, dan kadar zat makanan yang dikandungnya. Faktor lain yang dapat mempengaruhi kecernaan pakan khususnya pakan hijauan adalah populasi mikroba dan laju alir makanan (Tomaszewska et al., 1993). Keberadaan pakan dalam alat pencernaan ruminansia akan mengalami perubahan kimia, biologi, dan fisik. Setiap jenis ternak memiliki kemampuan yang berbeda dalam mendegradasi pakan, sehingga mengakibatkan perbedaan kecernaan dalam rumen (Sutardi, 1980).

(21)

Terdapat beberapa metode yang digunakan untuk mengukur kecernaan suatu bahan pakan seperti in vivo, in sacco dan in vitro. Teknik evaluasi pakan secara invivo mempunyai tingkat akurasi yang lebih tinggi dibanding teknik lain karena bersifat aplikatif pada ternak secara langsung. Dalam metoda ini semua pakan, sisa pakan dan feses ditimbang dan dicatat, kemudian diambil sampel untuk dianalisis. Dengan mengetahui jumlah pakan yang diberikan, sisa pakan, dan feses maupun urine yang dikeluarkan setiap ekor ternak serta mengetahui kandungan zat makanan bahan pakan, sisa pakan, feses atau urine, maka akan didapat nilai kecernaan dari masing-masing komponen (Suparjo, 2008). Selisih antara konsumsi zat makanan bahan pakan dengan ekskresi zat makanan feses menunjukkan jumlah zat makanan bahan pakan yang dapat dicerna (Church dan Pond, 1985).

Rumen dan retikulum berisi mikroorganisme seperti bakteri dan protozoa. Nilai kecernaan yang meningkat berkaitan dengan peningkatan aktivitas mikroorganisme dalam rumen yang menunjukkan pemenuhan kebutuhan mikrorganisme untuk optimasi aktivitas mikroorganisme merupakan hal yang penting. Mikroorganisme memecah partikel-partikel kecil pakan untuk memproduksi zat-zat kimia sederhana yang beberapa diantaranya diserap melalui dinding lambung dan sebahagian lagi dimanfaatkan oleh mikroorganisme (Gatenby, 1991).

(22)

a. Kecernaan Bahan Kering

Secara keseluruhan semakin tinggi waktu inkubasi, terutama pada 1,5 – 4,5 jam semakin tinggi pula bahan kering terdegradasi. Fenomena ini dapat dijelaskan dengan dua pendekatan, pertama ditinjau dari kelarutan bahan pakan atau ransum itu sendiri terutama pada 0-1 jam inkubasi, semakin tinggi daya larut (solubilitas) suatu bahan akan memberi kontribusi tinggi terhadap meningkatnya bahan kering terdegradasi. Kedua pada 3 – 4,5 jam fermentasi merupakan puncak aktivitas mikroba rumen dalam mendegradasi pakan, karena semakin tinggi bahan kering terdegradasi lebih banyak ditentukan oleh aktivitas mikroba rumen itu sendiri (Putra, 2006)

Substrat bagi mikroorganisme rumen adalah selulosa dan hemiselulosa dan degradasi lignin terjadi pada akhir pertumbuhan primer melalui metabolisme sekunder dalam kondisi defisiensi nutrien seperti nitrogen, karbon atau sulfur. Faktor-faktor yang mempengaruhi kecernaan bahan kering adalah suhu, laju perjalanan melalui alat pencernaan, bentuk fisik dari pakan, komposisi ransum, dan pengaruh dari perbandingan dengan zat lainnya dari bahan pakan tersebut (Anggorodi, 1994).

Menurut Tillman et al, (1993) kecernaan sering erat hubungannya dengan konsumsi, yaitu pada pemberian dengan kandungan serat tinggi yang sifatnya sangat voluminous, lamban dicerna dibandingkan pakan yang tidak berserat. Oktarina et al (2004) menyatakan bahwa peningkatan kadar protein kasar dalam pakan akan meningkatkan laju perkembangbiakan dan populasi mikroba rumen sehingga kemampuan mencerna menjadi lebih besar. Selain itu menurut Mackie et al (2002) adanya aktivitas mikroba dalam saluran pencernaan sangat mempengaruhi kecernaan.

(23)

b. Kecernaan Bahan Organik

Kecernaan bahan organik menggambarkan ketersediaan nutrien dari pakan. Bahan organik terdiri dari lemak, protein kasar, serat kasar, dan bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN). Faktor-faktor yang mempengaruhi kecernaan bahan organik adalah aktivitas mikroorganisme, bentuk fisik pakan, dan kecernaan bahan kering. Kecernaan serat suatu bahan pakan sangat mempengaruhi kecernaan pakan, baik dari segi jumlah maupun dari komposisi kimia seratnya (Tillman et al, 1993).

Setelah 24 jam inkubasi, residu pakan dalam tabung dikeluarkan dan dicampur dengan larutan detergen netral, ditransfer ke cawan, dibilas, dikeringkan dan diabukan. Nilai kecernaan bahan organik didapat melalui selisih kandungan bahan organik awal sebelum inkubasi dan setelah inkubasi, proporsional terhadap kandungan bahan organik sebelum inkubasi (Jayanegara, et al, 2009) nilai degradasi bahan organik antara 48, 26 persen – 53,75 persen (Firsoni et al, 2008). Menurut sutardi (1980) bahan organik merupakan dari bahan kering, sehingga meningkatnya konsumsi bahan kering maka konsumsi bahan organik akan meningkat pula. Peningkatan kecernaan bahan organik sejalan dengan meningkatnya kecernaan bahan kering, karena sebahagian besar komponen bahan kering terdiri dari bahan organik.

Van Soest (1994) menyatakan bahwa kemampuan mencerna bahan pakan ditentukan oleh beberapa faktor seperti jenis ternak, komposisi kimia pakan dan penyimpanan pakan. Daya cerna suatu bahan pakan tergantung pada keserasian zat-zat yang terkandung didalam bahan pakan.

Income Over Feed Cost (IOFC)

(24)

pemeliharaan. Income Over Feed Cost diperoleh dengan menghitung selisih pendapatan usaha peternakan dikurangi dengan biaya ransum. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi Income Over Feed Cost yaitu harga ransum, konsumsi ransum, dan besarnya pendapatan (Kasim, 2002).

Gambar

Tabel 5. Hasil Analisis Proksimat Bungkil Kelapa (Dalam Bahan Kering).

Referensi

Dokumen terkait

Konsumsi bahan kering yang belum memenuhi kebutuhan konsumsi menjadi salah satu penyebab pertambahan bobot badan harian anak domba pada penelitian ini tidak dapat mencapai

Penelitian ini bertujuan untuk menguji sistem pengukuran tubuh dan indeks morfologi dalam mengevaluasi ternak untuk menduga bobot badan dan tipe ternak pada domba ekor gemuk dan

Konsumsi pakan yang baik pada ternak akan meningkatkan produktivitas. ternak, yaitu dengan menghasilkan pertambahan bobot badan harian (PBBH)

Selama pertumbuhan seekor ternak ada dua hal yang terjadi, yaitu (1) bobot badannya meningkat sampai mencapai bobot badan dewasa, yang disebut pertumbuhan dan

Pertambahan bobot badan ini masih berada di bawah hasil yang diperoleh Manurung (1994), dimana dengan perbaikan pakan pertambahan bobot badan ternak babi lokal dapat mencapai

Komposisi kimia dan produksi hijauan sangat berpengaruh terhadap produktivitas ternak, ternak yang dilahirkan pada musim panas umumnya memiliki bobot badan yang rendah, produksi

Tujuan penelitian adalah untuk menganalisis respons performans pertumbuhan ternak itik (bobot badan akhir, pertambahan bobot badan (PBB), konsumsi pakan, dan konversi ransum

Jumlah makanan dan mutu makanan yang baik tidak dapat mengubah tubuh ternak secara genetik bertubuh kecil, tetapi pemberian makanan dalam jumlah yang rendah tidak akan