i
1.5 Ruang LingkupWilayah ... 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Pedagang Kaki Lima ... 3
2.2 Penelitian Terdahulu... 3
2.3 Standar Pelayanan Minimal Fasilitas Pendidikan ... 5
2.3.1 Standar Sarana Prasarana Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional RI ... 5
2.3.2 Standar dan Ketentuan Mengenai Daerah Layanan Fasilitas Pendidikan Menengah ... 5
2.3.3 SNI 03-1733-2004 tentang Tata Cara Perencanaan Lingkungan Perumahan di Perkotaan ... 5
2.4 Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 24 Tahun 2007 Tanggal 28 Juni 2007... 7
2.5 Metode AHP ... 8
2.5.1 Pengertian AHP ... 8
2.5.2 Prinsip Dasar dan Aksioma AHP ... 9
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 1.1 Metode Perolehan data ... 11
1.2 Metode Analisis ... 11
1.3 Variabel Penelitian ... 13
1.3.1 Analisa Faktor ... 14
1.3.2 Identifikasi Faktor Terpilih ... 14
1.3.3 Perhitungan Jumlah Sarana Pendidikan ... 17
1.3.4 Penentuan lokasi ... 17
BAB IV GAMBARAN UMUM WILAYAH DAN ANALISA 4.1 Gambaran Umum Wilayah ... 18
4.2 Analisa ... 21
4.3 Analisa Penentuan Jumlah Sekolah ... 22
4.4 Analisis Penentuan Lokasi Alternatif Fasilitas Pendidikan (SD dan SMP) di Kecamatan Asemrowo ... 24
4.4.1 Penentuan lokasi anternatif ... 24
4.4.2 Evaluasi Jumlah dan lokasi fasilitas pendidikan ... 25
4.4.3 Analisa lokasi Rekomendasi ... 27 BAB V KESIMPULAN
1 BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Penentuan lokasi sekolah pada hakikatnya adalah suatu proses untuk mencapai keadaan yang lebih baik di masa yang akan datang melalui pemilihan alternatif rencana yang rasional, sistematis, mengenai apa yang akan dilakukan, bagaimana melakukannya, siapa pelaksananya dan kapan suatu kegiatan dilaksanakan dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan lebih efektif dan efisien sehingga proses pendidikan itu dapat memenuhi tuntutan kebutuhan masyarakat.
Dalam penentuan lokasi pendidikan terdapat banyak faktor yang mempengaruhi penentuan lokasi seperti regulasi dan kebijakan yang biasanya berupa standar fasilitas itu sendiri dan variabel-variabel yang terdapat dalam penelitian penentuan lokasi seperti kedekatan dengan permukiman, tata guna lahan, pengaruh kawasan rawan bencana dan faktor-faktor lainnya dapat membantu penentuan lokasi agar lebih tepat dan akurat sehingga tujuan dari penyediaan fasilitas pendidikan itu tercapai.
Penetapan fasilitas pendidikan bertujuan untuk memberikan pelayanan fasilitas / sarana pendidikan yang optimal bagi masyarakat. Sarana pendidikan adalah semua fasilitas yang diperlukan dalam proses belajar mengajar. Dengan adanya sarana pendidikan diharapkan proses pembelajaran dapat berjalan dengan lancar, teratur, efektif dan efisien. Untuk mencapai pelayanan yang optimal, maka faktor yang perlu ditetapkan meliputi jangkauan pelayanan sekolah, jumlah penduduk yang diperlukan untuk mendukung adanya fasilitas tersebut (Eko, 1987). Sebelum diadakan penataan dan pengaturan kebutuhan, diperlukan perencanaan, pengadaan, dan penyimpanan serta penempatan barang, ada beberapa hal yang harus diperhatikan pada penempatan diantaranya adalah mudah dijangkau (ada kendaraan umum), jauh dari keramaian, jauh dari tempat berbahaya, lingkungan yang aman dan kondusif.
1.2. Rumusan Masalah
Dalam makalah ini terdapat 2 rumusan masalah yaitu :
1. Apa saja faktor/variabel yang bisa digunakan dalam penetuan lokasi SD dan SMP di Kecamatan Asemrowo berdasarkan Jurnal-jurnal terkait?
2. Apa saja faktor terpilih dalam penentuan lokasi SD dan SMP di Kecamatan Asemrowo ?
3. Berapa jumlah SD dan SMP yang di butuhkan di kecamatan Asemrowo?
4. Dimana Lokasi alternative penempatan SD dan SMP di Kecamatan Asemrowo ? 1.3. Tujuan
Tujuan dari penulisan masalah ini
1. Analisa Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap penentuan Lokasi SD dan SMP di Kecamatan Asemrowo.
2
3. Analisa Kebutuhan jumlah SD dan SMP di Kecamatan Asemrowo. 4. Alternatif penentuan lokasi SD dan SMP di kecamatan Asemrowo. 1.4. Ruang Lingkup Materi
Isi makalah ini dibatasi dengan hal-hal berikut :
1. Makalah ini dibatasi dengan hanya menganalisis fasilitas Pendidikan yang di dalamnya adalah fasilitas SD dan SMP di Kecamatan Asemrowo
1.5.Ruang lingkup Wilayah
batas wilayah kecamatan Asemrowo adalah sebagai berikut : Sebelah utara : Selat Madura
Sebelah timur : Kecamatan Sawahan dan Kecamatan Bubutan Sebelah selatan : Kecamatan Sukomanunggal
3 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Definisi Fasilitas Pendidikan
Fasilitas pendidikan merupakan salah satu sarana yang harus terpenuhi dalam suatu kota maupun wilayah. Suatu fasilitas pendidikan sangat penting dalam dunia pendidikan karena dapat menunjang penyelenggaaan proses belajar mengajar dalam rangka mencapai tujuan pendidikan. Menurut Ibrahim Bafadal (2003: 2),sarana pendidikan adalah salah satu sumber daya yang menjadi tolok ukur mutu sekolah dan perlu peningkatan terus menerus seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang cukup canggih. Sedangkan pengertian sarana pendidikan menurut (Tim Penyusun Pedoman Media Pendidikan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan) adalah semua fasilitas yang diperlukan dalam proses belajar mengajar, baik yang bergerak, maupun tidak bergerak, agar pencapaian tujuan pendidikan dapat berjalan dengan lancar, teratur, efektif dan efisien.Jadi dapat disimpulkan bahwa sarana pendidikan adalah “semua perangkatan peralatan, bahan dan perabot yang secara langsung digunakan dalam proses pendidikan di sekolah”.
2.2. Penelitian Terdahulu
4
data dilakukan dengan menggunakan tiga teknik analisis, yaitu Analitycal Hierarchy Proccess (AHP), Analisis Kinerja (Performance Analysis) dan Land Suitability Analysis. AHP digunakan untuk menentukan faktor-faktor prioritas dalam menempatkan lokasi SMP. Performance Analysis digunakan untuk menentukan wilayah-wilayah priontas yang perlu penambahan unit SMP. Sedangkan Land Suitability Analysis digunakan untuk menentukan penempatan lokasi SMP.
Penentuan bobot untuk masing-masing faktor dan sub faktor (kritena) dilakukan melalui pengolahan hasil-hasil kuesioner pembobotan yang diperoleh dari pendapat responden. Tahapan pengolahan data dimulai dengan tabulasi hasil kuesioner, perhitungan rata-rata geometrik, norrmalisasi dan perhitungan nilai bobot, dan diakhiri dengan uji konsistensi. Proses yang sarna juga dilakukan pada level kriteria. Matrik perbandingan berpasangan antar kriteria untuk faktor jarak dan perolehan bobot dan masing-masing kritria. Sesuai perolehan bobot dari masing-masing faktor maupun kriteria, maka dapat dihitung hasil akhir (bobot final) dan masing-masing kriteria dengan cara mengalikan bobot masing-masing kriteria dengan cara mengalikan bobot faktor yang ada di atasnya.
Hasil analisis dengan metode AHP menunjukkan bahwa faktor penduduk memiliki bobot paling besar (51.67%), kemudian diikuti faktor distribusi sekolah (25,58%) pada urutan kedua. Faktor lahan (12,61%) menempati urutan ketiga dan urutan keempat adalah faktor jarak (5,12%). Sedangkan urutan terakhir adalah faktor transportasi (5,02%). Dari peringkat faktor tersebut dapat disimpulkan bahwa faktor penduduk dan faktor distribusi sekolah lebih penting dibanding faktor lahan, jarak dan transportasi. Jadi menurut responden, faktor prioritas untuk menernpatkan lokasi SMP di Kabupaten Rembang adalah faktor penduduk dari faktor distribusi sekolah. Sedangkan faktor lahan, jarak dan transportasi merupakan faktor pendukung dari faktor penduduk dan faktor distribusi sekolah.
5
2.3. Standar Pelayanan Minimal Fasilitas Pendidikan
Dasar penyediaan sarana pendidikan ini juga mempertimbangkan pendekatan desain keruangan unit-unit atau kelompok lingkungan yang ada. Tentunya hal ini dapat terkait dengan bentukan grup bangunan/blok yang nantinya terbentuk sesuai konteks lingkungannya. Sedangkan penempatan penyediaan fasilitas ini akan mempertimbangkan jangkauan radius area layanan terkait dengan kebutuhan dasar sarana yang harus dipenuhi untuk melayani pada area tertentu. Perencanaan sarana pendidikan harus didasarkan pada tujuan pendidikan yang akan dicapai, dimana sarana pendidikan dan pembelajaran ini akan menyediakan ruang belajar harus memungkinkan siswa untuk dapat mengembangkan pengetahuan, keterampilan, serta sikap secara optimal. Oleh karena itu dalam merencanakan sarana pendidikan harus memperhatikan standar yang telah ditetapkan oleh pemerintah.
2.3.1. Standar Sarana dan Prasarana Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional RI
Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI Nomor 24 Tahun 2007 yang mencakup sarana dan prasarana untuk SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/MA. Ketentuan yang diatur dalam standar ini meliputi satuan:
a. Satuan pendidikan b. Luasan lahan c. Bangunan gedung d. Prasarana dan sarana
2.3.2. Standar dan Ketentuan Mengenai Daerah Layanan Fasilitas Pendidikan Menengah
Dalam standar fasilitas pendidikan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, bahwa kriteria lokasi fasilitas pendidikan untuk Sekolah Menengah, yaitu:
1. Mudah dicapai dari setiap bagian kecamatan.
2. Dapat dicapai oleh murid selama kurang dari 45 menit berjalan kaki. 3. Jauh dari pusat keramaian (pertokoan, perkantoran, perindustrian).
2.3.3. SNI 03-1733-2004 tentang Tata Cara Perencanaan Lingkungan Perumahan di Perkotaan
6
kebutuhan sarana pendidikan dan pembelajaran yang memuat kriteria untuk tiap tingkatan Pendidikan.
Gambar 2.1 SNI Sarana Pendidikan
7
2.4. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 24 Tahun 2007 Tanggal 28 Juni 2007
Untuk SMP/MTs yang memiliki 15 sampai dengan 32 peserta didik per rombongan belajar, bangunan memenuhi ketentuan rasio minimum luas lantai terhadap peserta didik seperti tercantum pada Tabel
Banyak Rasio minimum luas lantai bangunan terhadap peserta didik (m2/peserta didik)
No rombongan
Bangunan satu Bangunan dua Bangunan tiga belajar
lantai lantai lantai
1 3 6,9 7,6 -
Untuk SMP/MTs yang memiliki 15 sampai dengan 32 peserta didik per rombongan belajar, lahan memenuhi ketentuan rasio minimum luas lahan terhadap peserta didik seperti tercantum pada Tabel
Banyak Rasio minimum luas lahan terhadap peserta didik (m2/peserta didik)
No rombongan
Bangunan satu Bangunan dua Bangunan tiga belajar
lantai lantai lantai
8 SATUAN PENDIDIKAN SD/MI
1. Satu SD/MI memiliki sarana dan prasarana yang dapat melayani minimum 6 rombongan belajar dan maksimum 24 rombongan belajar.
2. Satu SD/MI dengan enam rombongan belajar disediakan untuk 2000 penduduk, atau satu desa/kelurahan.
3. Pada wilayah berpenduduk lebih dari 2000 dapat dilakukan penambahan sarana dan prasarana untuk melayani tambahan rombongan belajar di SD/MI yang telah ada, atau disediakan SD/MI baru.
4. Pada satu kelompok permukiman permanen dan terpencil dengan banyak penduduk lebih dari 1000 jiwa terdapat satu SD/MI dalam jarak tempuh bagi peserta didik yang berjalan kaki maksimum 3 km melalui lintasan yang tidak membahayakan.
SATUAN PENDIDIKAN SMP/MTs
1. Satu SMP/MTs memiliki sarana dan prasarana yang dapat melayani minimum 3 rombongan belajar dan maksimum 27 rombongan belajar.
2. Minimum satu SMP/MTs disediakan untuk satu kecamatan.
3. Seluruh SMP/MTs dalam setiap kecamatan menampung semua lulusan SD/MI di kecamatan tersebut.
4. Lokasi setiap SMP/MTs dapat ditempuh peserta didik yang berjalan kaki maksimum 6 km melalui lintasan yang tidak membahayakan.
2.5. Metode AHP (Analytical Hierarcy Process)
2.5.1. Pengertian AHP
9
Metode Saaty (Analisis Hirarki Proses) yang digunakan dalam studi ini dikarenakan metode ini mempunyai keuntungan antara lain (Saaty, 1993:27):
a. Mekanisme pendekatan, yaitu suatu konsep operasional guna menyelesaikan studi proyek ini secara terarah dan sesuai dengan kerangka acuan kerja. Termasuk dalam pola dan konsep operasional tersebut adalah cara yang digunakan dalam menggali dan menemukan permasalahan yang ada. Selanjutnya setiap data dan fakta yang masuk dianalisis dengan metode standar dan berbagai pemanfaatan ilmiah lainnya, serta standar perencanaan tata ruang yang berlaku. Metode ini adalah suatu cara praktis untuk menangani secara kualitatif bermacam hubungan fungsional dalam suatu jaringan yang kompleks.
b. Mempunyai kemampuan memadukan perencanaan ke depan (yang diproyeksikan) dan perencanaan ke belakang (yang diinginkan) dengan cara yang interaktif, yang mencerminkan pertimbangan dari semua stakeholder. c. Merupakan cara baru untuk menganalisa suatu permasalahan dengan
kemampuan memadukan data yang sudah ada dengan pertimbangan subyektif tentang faktor-faktor tak wujud, memasukkan pertimbangan beberapa orang dalam memecahkan konfliks, melakukan analisis sensitivitas dan revisi biaya murah, menggunakan prioritas marginal maupun prioritas rata-rata untuk membimbing pengalokasian, meningkatkan kemampuan manajemen untuk melakukan pertimbangan secara eksplisit.
d. Suatu teknik yang melengkapi berbagai teknik lain, prioritas (meminimaumkan resiko) untuk memilih proyek atau aktivitas.
e. Suatu pengganti tunggal untuk aneka ragam skema untuk memproyeksikan masa depan dan melindungi terhadap resiko dan ketidakpastian.
2.5.2. Prinsip Dasar dan Aksioma AHP
AHP didasarkan pada 3 prinsip dasar yaitu:
a. Dekomposisi
Dengan prinsip ini struktur masalah yang kompleks dibagi menjadi bagian-bagian secara hierarki. Tujuan didefinisikan dari yang umum sampai khusus. Dalam bentuk yang paling sederhana struktur akan dibandingkan tujuan, kriteria dan level alternatif. Tiap himpunan alternatif mungkin akan dibagi lebih jauh menjadi tingkatan yang lebih detail, mencakup lebih banyak kriteria yang lain.
b. Perbandingan penilaian/pertimbangan (comparative judgments)
10
Perbandingan berpasangan dalam bentuk matriks jika dikombinasikan akan menghasilkan prioritas.
c. Logical consistency
11
BAB III
METODOLOGI
3.1 Metode Perolehan Data
Metode pengumpulan data yang digunakan sebelum melakukan analisasi penentuan
lokasi dibagi menjadi metode survey primer dan survey sekunder.
Survey Primer
Survei primer dilakukan untuk mendapatkan data kondisi eksisting lokasi SMPN di
Kecamatan Asemrowo. Saat survey primer, teknik pengambilan data yang dilakukan adalah
teknik observasi lapangan. Tujuan teknik ini adalah untuk mengetahui dan
mendokumentasikan kondisi eksisting lokasi penelitian.
Survey Sekunder
Survey sekunder dilakukan untuk memperoleh data yang berasal dari kepustakaan dengan
melakukan studi, yaitu :
1) Studi literatur/pustaka, dilakukan melalui studi kepustakaan di jurnal, penelitian
sebelumnya dan kebijakan atau peraturan yang berhubungan dengan tema penelitian.
2) Tinjauan media yaitu informasi-informasi yang diperoleh sebagai input dalam penelitian ini
diperoleh dari internet.
3.2 Metode Analisis
Metode analisis yang digunakan adalah AHP dan analisis lanjutan. AHP adalah Alat
evaluasi dan representasi solusi secara sederhana melalui model hirarki. Sedangkan
hierarki sendiri didefinisikan sebagai alat untuk memahami permasalahan yang kompleks
dengan menyusunnya menjadi tingkatan (level) dengan elemen yang homogen di setiap
tingkatan. Pada prinsipnya, elemen pada level puncak akan mempengaruhi elemen-elemen
pada level di bawahnya, dan elemen-elemen pada level terendah adalah elemen paling
dependen (Permadi S, 1992).
Tujuan analisis AHP adalah untuk mendapatkan prioritas unsur dalam elemen. Teknik
untuk mendapatkan ukuran tingkat kepentingan ini dilakukan dengan cara membandingkan
tiap unsur satu sama lain atau disebut sebagai pairwise comparison. Basis dari ukuran ini
12
penentu lokasi SD dan SMP dan kemudian akan dilakukan analisis lanjutan menggunakan
overlay peta.
Overlay Peta adalah suatu teknik yang dilakukan untuk mendapatkan daerah
kesesuaian ataupun tujuan lain dengan cara menumpuk peta-peta yang berbeda. Penilaian
mengenai kesesuaian suatu bentang tanah terhadap penggunaan tertentu pada tingkat
pengelolaan dan hasil yang wajar, dengan tetap memperhatikan kelestarian produktifitas
dan lingkungannya. Pada penelitian ini, peneliti menggunakan analisis overlay sebagai
analisis lanjutan untuk mendapatkan daerah kesesuaian lahan untuk dibangun sekolah. Kriteria “sesuai atau tidak sesuai” didapatkan dengan cara pembobotan masing-masing faktor dari analisis sebelumnya. Overlay juga digunakan untuk penentuan lokasi alternatif
dari permasalahan yang ada.
Berikut adalah alur berfikir dalam penelitian evaluasi lokasi sekolah (SD dan SMP di
kecamatan Asemrowo)
Evaluasi Lokasi SMPN di Kecamatan Asemrowo berdasarkan perspektif
Tinjauan
Menentukan Faktor Yang Dilibatkan
Mengumpulkan
Analisis Dengan
Faktor Prioritas
Rekomendasi Evaluasi kondisi
13
3.3 Variabel Penelitian
Variabel penelitian didapatkan dengan cara kajian pustaka dari sumber-sumber penelitian
terdahulu dan regulasi yang berlaku. Variabel yang sama tidak ditulis ulang. Berikut adalah
penjabaran variabel penelitian.
Acuan Penentuan Faktor Faktor Dari Acuan Atau
Regulasi
Faktor Terpilih
Permen Pendidikan Nasional
No. 24 Tahun 2007 Tentang
Jarak terhadap Garis
Sepadan Sungai dan Rel
5. Distribusi Sekolah
Eko Budi Santoso, 2009 Jarak dengan permukiman
penduduk
Kepemilikan status lahan
Departemen Pendidikan
Peruntukan lahan sesuai
14 Losch, Model Gravitasi) Jaringan jalan
Aglomerasi (persebaran
sekolah)
3.3.1 Analisa Faktor
Faktor-faktor atau variabel penelitian yang berupa jarak, lahan, penduduk,
transportasi, dan distribusi sekolah akan menjadi inputan pada saat analisa faktor melalui
AHP. AHP akan menentukan faktor terpilih berdasarkan nilai perbandingan faktor dengan
faktor lain. Faktor hasil dari AHP ini merupakan faktor yang menurut responden
diprioritaskan. Faktor ini akan dilanjutkan pada overlay peta berdasarkan pembobotan yang
dibuat peneliti.
3.3.2 Identifikasi Faktor Terpilih
Identifikasi faktor terpilih berarti memberikan keterangan faktor-faktor disertai dengan
pengkategoriannya. Identifikasi faktor terpilih dapat dijabarkan seperti pada gambar dibawah
ini.
Faktor Kriteria Keterangan
Jarak Jarak terhadap
pencemaran, dan kebisingan.
Daerah radius pabrik dibagi menjadi
4 yaitu wilayah terdampak I
(0-500m), Wilayah terdampak II
(>500m), wilayah terdampak III
(>1km), dan wlayah tidak terdampak
(1,5-2km) (Jurnal Arsitektura, 2017)
15
meliputi garis sempadan bangunan
dengan as jalan, tepi sungai, tepi
pantai, jalan kereta api, dan/atau
jaringan tegangan tinggi, jarak
antara bangunan dengan
batas-batas persil, dan jarak antara as
jalan dan pagar halaman yang
ditetapkan dalam Peraturan Daerah.
Jarak 12 m dari rel kereta adalah
milik PT KAI (Permen Pendidikan
Nasional No. 24 Tahun 2007)
Lahan Land use
Kondisi fisik lahan tidak
rawan bencana
Land Use ini merupakan peruntukan lahan yang ada sesuai kondisi
eksisting. Land Use ini meliputi
Kawasan lindung, jasa, industri,
perdagangan, Sawah irigasi teknis
dan non teknis, Sawah tadah hujan,
tegalan, lahan kosong (Jurnal
Penataan Ruang, 2009)
Kondisi fisik lahan rawan bencana adalah keadaan meliputi daerah
rawan bencana dan tidak rawan
bencana) (Jurnal Penataan Ruang,
2009)
sensus penduduk. jumlah penduduk
dibedakan menjadi =<1000,
1000-2000,>=2000, dengan standar SNI
adalah 4800(SNI 03-1733-2004)
dan (Jurnal Penataan Ruang)
Jumlah lulusan SD merupakan jumlah penduduk usia 10-16 tahun
berdasarkan hasil sensus. Jumlah
lulusan SD ini dapat disamakan
16
yaitu 1080, SMP tipe B 720, SMP
tipe C 360 (SNI 03-1733-2004)
Transportasi Jaringan jalan
Angkutan umum
Jaringan jalan merupakan akses yang dibutuhkan untuk menuju
sekolah. Jalan disini diklasifikasikan
menjadi jalan kecamatan, jalan
kabupaten, jalan provinsi, jalan
nasional(Jurnal Penataan Ruang,
2009)
Ketersediaan atau ketidaktersediaan angkutan umum maksudnya akses
untuk menuju sekolah dapat
negeri/ SMPmilik pemerintah hanya
1 per kecamatan (Permen
3.2.3 Perhitungan Jumlah Sarana Pendidikan
Perhitungan jumlah sarana dan prasarana pendidikan dilakukan melalui perbandingan
17
Standar yang digunakan dapat penelitian ini adalah SNI 03-1733-2004 yang menjelaskan
jangkauan pelayanan SD, proyeksi kebutuhan SMP bahkan persyaratan yang harus
dipenuhi dalam penentuan lokasinya. Selain itu peneliti menggunakan data BPS sebagai
input data.
3.2.4 Penentuan Lokasi
Penentuan lokasi dilakukan dengan analisis overlay peta. Overlay Peta adalah suatu
teknik yang dilakukan untuk mendapatkan daerah kesesuaian ataupun tujuan lain dengan
cara menumpuk peta-peta yang berbeda. Penilaian mengenai kesesuaian suatu bentang
tanah terhadap penggunaan tertentu pada tingkat pengelolaan dan hasil yang wajar, dengan
tetap memperhatikan kelestarian produktifitas dan lingkungannya. Pada penelitian ini,
peneliti menggunakan analisis overlay sebagai analisis lanjutan untuk mendapatkan daerah kesesuaian lahan untuk dibangun sekolah. Kriteria “sesuai atau tidak sesuai” didapatkan dengan cara pembobotan masing-masing faktor dari analisis sebelumnya. Overlay juga
digunakan untuk penentuan lokasi alternatif dari permasalahan yang ada. Pada proses ini
peta yang merupakan faktor terpilih dari AHP akan dilakukan pembobotan untuk
18 BAB IV
GAMBARAN UMUM WILAYAH DAN ANALISA
4.1 Gambaran Umum Wilayah
a. Land Use
Kecamatan Asemrowo merupakan kecamatan yang didominasi oleh wilayah industri dan pabrik. Penggunaan lahan untuk untuk wilayah industri dan pabrik hampir sebagian besar terdapat dalam wilayah ini, namun ada juga penggunaan lahan untuk permukiman, fasilitas umum, serta perdagangan dan jasa, berikut merupakan peta pengggunaan lahan di Kecamatan Asemrowo.
Gambar 4.1.1 Peta Land Use Kecamatan Asemrowo
b. Kondisi rawan bencana
19
Gambar 4.1.2 Peta Rawan Bencana Kecamatan Asemrowo.
c. Kondisi permukiman
Kecamatan Asemrowo mempunyai luas wilayah sebesar 13,92 Km2 dengan jumlah penduduk sebesar 45.933 jiwa dan mempunyai kepadatan 3.299,78 jiwa penduduk per kilometer kuadrat. Untuk data jumlah penduduk masing-masing kelurahan dapat dilihat pada gambar dibawah ini :
Gambar 4.1.3 Jumlah Penduduk Kecamatan Asemrowo
20
Gambar 4.1.4 Lokasi permukiman di Kecamatan Asemrowo
d. Lokasi Industri
Kecamatan Asemrowo merupakan kecamatan yang didominasi oleh wilayah industri dan pabrik. Penggunaan lahan untuk untuk wilayah industri dan pabrik hampir sebagian besar terdapat dalam wilayah ini. Lokasi Industri dan Pergudangan pada Kecamatan Asemrowo dapat dilihat pada peta dibawah ini :
21 e. Jaringan Jalan
Jaringan jalan yang dibutuhkan dalam penentuan lokasi fasilitas pendidikan yaitu jalan lingkungan dan jalan local, berikut merupakan peta jaringan jalan yang ada di Kecamatan Asemrowo
Gambar 4.1.5 Peta Jaringan Jalan di Kecamatan Asemrowo
4.2 Analisa
22 4.3 Analisa Penentuan Jumlah Sekolah
a. Penentuan jumlah Sekolah Dasar
Penentuan jumlah sekolah dasar ditentukan dengan menggunakan regulasi SNI dengan lingkup pelayanan sebesar satu kelurahan. Dalam hal ini akan dihitung jumlah sekolah dasar per kelurahan menurut SNI 03-1733-2004, dimana setiap satu sekolah melayani 1600 jiwa
b. Penetuan jumlah Sekolah Menengah Pertama
Penentuan jumlah sekolah menengah pertama ditentukan dengan menggunakan regulasi SNI dengan lingkup pelayanan sebesar satu kecamatan. Dalam hal ini akan dihitung jumlah sekolah menengah pertama di Kecamatan Asemrowo menurut SNI 03-1733-2004, dimana setiap satu sekolah melayani 4800 jiwa pendukung
No Kecamatan
4.4.1 Penentuan Lokasi Alternatif
23
Gambar 4. Tahapan analisis penentuan lokasi alternatif Sumber : Analisis penulis, 2018
Tabel Klasifikasi Kesesuaian Lokasi dapat dilihat pada tabel dibawah ini Tabel 8. Klasifikasi kelas kesesuaian lahan dibangunnya Fasilitas Pendidikan
No Skor Total Klasifikasi Kesesuaian Keterangan
1 0-19 Tidak Sesuai Lokasi sangat
direkomendasikan sebagai tempat dibangunnya Sekolah Menengah Pertama
2 19-26 Kurang Sesuai Lokasi kurang
direkomendasikan sebagai tempat dibangunnya Sekolah Menengah Pertama
3 26-35 Sesuai Lokasi tidak
direkomendasikan sebagai tempat dibangunnya Sekolah Menengah Pertama
Proses pembobotan kepada factor dilakukan berdasarkan nilai bobot kriteria dan bobot factor yang terdapat dalam Tabel 3. Setelah dibobotkan peta tersebut akan di-overlay , overlay dalam analisis ini menggunakan aplikasi Arc-GIS. Overlay dilakukan dalam 2 tahapan yaitu pertama dengan me-overlay factor-factor dalam kriteria satu persatu sesuai dengan pembobotan dengan tools Weighted Overlay dalam aplikasi dan selanjutnya adalah
overlay kriteria-kriteria yang sudah berbobot dengan tools Weighted Sum. Hasil dari proses
24
reclassification ) yang range nya disesuaikan dengan range kelas interval masing-masing kelas klasifikasi kesesuaian, sebagaimana ditampilkan dalam Tabel 8 di atas.Hasil klasifikasi ulang ini adalah Peta Lokasi Alternatif Fasilitas Pendidikan di Kecamatan Asemrowo, sebagaimana terlihat pada Gambar 4.4.1
Gambar 4.4.1 Peta Lokasi Alternatif Fasilitas Pendidikan
4.4.2 Evaluasi Jumlah dan Lokasi Fasilitas Pendidikan
a. Evaluasi Jumlah dan Lokasi Sekolah Dasar
No Nama
Kelurahan
Kondisi eksisting Jumlah dan Lokasi
Seharusnya Kesesuaian
25
b. Evaluasi Jumlah dan Lokasi Sekolah Menengah Pertama
No Nama
Kelurahan
Kondisi eksisting Jumlah dan Lokasi
Seharusnya Kesesuaian
Jumlah Lokasi Jumlah Lokasi Sesuai Tidak
4.4.3 Analisa lokasi rekomendasi
Penentuan lokasi rekomendasi fasilitas pendidikan dilakukan dengan menempatkan sekolah pada kawasan dengan klasifikasi kawasan “sesuai” dengan hasil analisa pada sub bab selanjutnya dan membangun sekolah sesuai dengan standar SNI yang seharusnya yang juga memperhatikan radius pelayanan dari sekolah tersebut
a. Jumlah dan Lokasi Rekomendasi Sekolah Dasar
Jumlah Sekolah Dasar pada kelurahan di Asemrowo sudah sesuai dengan rekomendasi namun lokasi nya masih belum sesuai, dibawah ini merupakan tabel dan peta rekomendasi sekolah dasar di Kecamatan Asemrowo.
No Nama Kelurahan Lokasi
26
2 Asemrowo Jalan Asem V , Kelurahan Asemrowo
Gambar 4.4.3.1 Peta Rekomendasi Lokasi SD di Kecamatan Asemrowo
b. Jumlah dan Lokasi Rekomendasi Sekolah Menengah Pertama
Jumlah dan Lokasi Sekolah Menengah Pertama pada kelurahan di Asemrowo tidak sesuai dengan rekomendasi, dibawah ini merupakan tabel dan peta rekomendasi Sekolah Menengah Pertama di Kecamatan Asemrowo.
No Nama Lokasi
27
28 BAB 5
KESIMPULAN
Dalam penentuan lokasi sarana pendidikan tidak hanya dengan melakukan kajian terhadap regulasi, namun juga dibutuhkan tinjauan terhadap jurnal atau penelitian terkait untuk menambah referensi faktor sebelum melakukan analisis. Dalam penelitian ini, peneliti melakukan studi literatur terhadap jurnal terkait dan didapatkan faktor-faktor berupa jarak, transportasi, penduduk, lahan dan distribusi sekolah. Setiap faktor tersebut memiliki kriteria tersendiri dimana jarak memiliki 3 kriteria yaitu di tengah-tengah permukiman,jarak terhadap pabrik, jarak terhadap rel atau sepadan sungai. Sedangkan penduduk memiliki kriteria yaitu jumlah penduduk, dan jumlah penduduk lulusan SD. Untuk transportasi, dibagi menjadi 2 yaitu jaringan jalan dan tersedianya angkutan umum. Sedangkan distribusi sekolah dibagi menjadi 3 yaitu jumlah sekolah dan aglomerasi sekolah. Setelah dilakukan analisis AHP, maka di dapat kriteria yang menjadi input overlay peta adalah jarak terhadap industri, berada ditengah-tengah permukiman, land use, rawan bencana, jumlah lulusan SD, dan kedekatan dengan jaringan jalan.
29
DAFTAR PUSTAKA
39
LAMPIRAN
Faktor Hasil Analisis Keterangan
Goal Terdapat 5 Faktor yang
akan ditentukan
prioritasnya berdasarkan nilai yang muncul yaitu lahan, penduduk, jarak, transportasi, dan distribusi
sekolah. Menurut
stakeholder pemerintah (dikbud), faktor yang paling dianggap penting adalah lahan sengan nilai inconsistency sebesar 0,06 atau data tersebut valid.
Jarak Dalam faktor jarak, kriteria
prioritas menurut stakeholder adalah ditengah-tengah
permukiman
Lahan Dalam faktor lahan, kriteria
rawan bencana sangat diprioritaskan responden
Penduduk Dalam penentuan lokasi
40
lulusan SD
Transportasi Kriteria kedekatan dengan
jaringan jalan menjadi prioritas pada faktor transportasi
Distribusi sekolah
Responden memilih jumlah SMP lebih penting daripada distribusi SMP
Sudut Pandang Bapekko
Goal Menurut Bapekko, dari
kelima faktor tersebut, faktor lahan menjadi faktor prioritas. Dengan tingkat inconsistency 0,09 sehingga data dianggap valid
Jarak Berdasarkan Bapekko,
lokasi prioritas SMP terletak
di tengah-tengah
permukiman
Lahan Dari faktor lahan, kriteria
41
Penduduk Menurut sudut pandang
Bapekko, jumlah lulusan SD menjadi kriteria prioritas penentu lokasi SMP
Transportasi Jaringan jalan menjadi
kriteria prioritas dalam penentuan lokasi SMP di Kecamatan Asemrowo sebesar 0,08
Distribusi Sekolah
Menurut Bapekko,
persebaran SMP lebih penting daripada jumlah SMP
Sudut Pandang Masyarakat 1 (Sunarsih)
Goal Masyarakat lebih memilih
faktor jarak sebagai faktor penentu lokasi SMP
Jarak Jarak yang lebih spesifik
42
Lahan Land use menjadi kriteria
yang dipilih masyarakat dengan tingkat inconsistency 0 atau data dapat diterima
Penduduk Penduduk lebih menekankan
kepada jumlah penduduk sebagai kriteria yang harus diakomodasi dengan adanya SMP
Transportasi Dalam faktor transportasi,
kriteria jaringan jalan lebih prioritas daripada ketersediaan angkutan umum menurut responden masyarakat
Distribusi sekolah
43
Sudut Pandang Masyarakat 2 (Tono)
Goal Menurut pandangan
masyarakat 2, faktor lahan merupakan faktor terpenting dalam penentuan lokasi SMP
Jarak Terdapat 3 kriteria dalam
faktor jarak, dimana masyarakat 2 lebih memprioritaskan pada jarak terhadap pabrik daripada kriteria lain
Lahan Faktor lahan yang dipilih
masyarakat tersebut lebih menekankan pada peruntukan lahan/land use daripada kriteria lain
Penduduk Jumlah lulusan SD
menjadi kriteria prioritas
dengan tingkat
inconsistency 0/dapat diterima
Transportasi Menurut faktor
44
Distribusi Sekolah
Dengan tingkat
inconsistency 0, jumlah SMP menjadi kriteria prioritas
Sudut Pandang Masyarakat 3 (Ismail)
Goal Dengan tingkat
inconsistency 0,09/ dapat diterima, pandangan masyarakat ke 3 terhadap faktor penentuan lokasi menyatakan bahwa lahan menjadi faktor prioritas
Jarak Menurut masyarakat,
kriteria di tengah-tengah permukiman sebagai kriteria prioritas penentuan lokasi mewakili faktor jarak
Lahan Rawan bencana lebih
45
Penduduk Berdasarkan faktor
penduduk, jumlah lulusan SD menjadi
kriteria yang
mempengaruhi penentuan lokasi
Transportasi Jaringan jalan menjadi
kriteria penentu dalam faktor transportasi berdasarkan responden masyarakat
Distribusi Sekolah
Dengan tingkat
inconsistency 0, kriteria jumlah SMP lebih diperhatikan daripada kriteria lain menurut masyarakat 3
Kombinasi Seluruh Stakeholder
Goal Seluruh stakeholder
46
berarti konsisten/data dapat diterima
Jarak Dalam faktor jarak, kriteria
ditengah-tengah
permukiman menjadi kriteria prioritas dalam menentukan lokasi SMP
dengan tingkat
inconsistency 0,01
Lahan Seluruh responden
sepakat bahwa land use sangat diperhatikan dalam penentuan lokasi SMP mewakili faktor lahan dengan inconsistency 0
Penduduk Jumlah lulusan SD
menjadi faktor terpenting yang diperhatikan dalam menentukan lokasi SMP
menurut seluruh
responden
Transportasi Dengan konsistensi data
yang tetap, kriteria jaringan jalan merupakan kriteria yang diprioritaskan seluruh responden
Distribusi Sekolah