LAPORAN
PRAKTIKUM BIOGEOGRAFI VEGETASI DAN POPULASI SAMPLING
DI GROJOGAN SEWU, TAWANGMANGU, KARANGANYAR
Laporan terstruktur ini disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Biogeografi Dosen Pengampu : Dr. Mohammad Gamal Rindarjono, M.Si
Disusun Oleh:
Enrico Fahmi Annuri (K5412029) Albertus Erico Jerry K N (K5415005) Anggita Puspitosari (K5415010) Cikal Lembayu (K5415015) Efi Indrajati (K5415020) Grizka Luthfiah P (K5415025) Kaana Munawaroh (K5415030) Linda Nurmalasari (K5415032) Muhammad Daito Daka D (K5415037) Novia Rizki (K5415043) Shenina Putri P (K5415053) Rina Trie N (K5415048) Vidia Cendana Wangi (K5415058)
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GEOGRAFI FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami haturkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas rahmat dan karuni-Nya penulis dapat menyusun laporan praktikum ini dengan lancar. Praktikum ini disusun sebagai tugas praktikum mata kuliah Biogeografi.
Dalam penulisan laporan praktikum ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada pihak-pihak yang membantu dalam menyelesaikan laporan praktikum ini, khususnya kepada :
1. Bapak Dr. Mohammad Gamal Rindarjono, M.Si selaku dosen pembimbing mata kuliah Biogeografi yang memberikan tugas praktikum ini
2. Kakak Asisten dosen yang telah mendampingi dan membagi ilmu pengetahuannya dalam kegiatan praktikum di Grojogansewu Tawangmangu
3. Rekan-rekan kelompok Biogeografi kelompok A, Pendidikan Geografi 2015
4. Secara khusus penulis menyampaikan terima kasih kepada keluarga tercinta yang telah memberikan dorongan dan bantuan serta pengertian yang besar kepada penulis.
5. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu, yang telah memberikan bantuan dalam penulisan makalah ini
Saya selaku penulis telah menyusun laporan praktikum ini dengan berusaha sebaik-baiknya menyusun laporan praktikum ini. Akan tetapi, saya juga menyadari sepenuhnya bahwa laporan praktikum ini masih terdapat beberapa kekurangan dan masih jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, saya berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan laporan praktikum ini.
Surakarta, Desember 2016
DAFTAR ISI
Cover ...i
Kata Pengantar...ii
Daftar isi...iii
BAB I : PENDAHULUAN 1.1...Latar Belakang 1 1.2...Rumusan Masalah 3 1.3...Tujuan 3 BAB II : TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengertian Pengindraan jauh...4
2.2. Pengertian Citra Alos...11
2.3. Pengertian Citra Landsat...12
2.4. Pengertian Pesisir...12
2.5. Pengertian Abrasi...12
2.6. Pengertian penutupan lahan ...14
BAB III : METODE PENELITIAN 3.1. Tahap persiapan ...15
3.2. Tahap Pengolahan data ...15
3.3. Tahap analisis dan uji akurasi...19
3.4. Tahap Kerja Lapangan ...19
3.5. Tahap Penyusunan basis data...19
3.6. Tahap Pembuatan Laporan...19
BAB IV : HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Letak Kabupaten Demak ...20
4.3. Pemanfaatan sungai-sungai di Kab Demak...21
4.4. jenis citra satelit yang digunakan penelitian...21
4.5. Perubahan penggunaan lahan di Kab Demak...22
4.6. Perubahan Garis Pantai Kab Demak 1999-2006...25
4.7. Pemanfaatan PJ untuk analisis perubahan garis pantai Semarang-Demak...25
BAB V : PENUTUP 5.1. Kesimpulan ...26 Daftar Pustaka
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
Praktikum merupakan suatu pembelajaran dengan mahasiswa melakukan percobaan dengan mengalami sendiri sesuatu yang dipelajari. Praktikum memiliki kelebihan tersendiri dengan metode pembelajaran yang lainnya, yaitu: mahasisiswa langsung memperoleh pengalaman dan keterampilan dalam melakukan praktikum, mempertinggi partisipasi mahasiswa baik secara individu maupun kelompok, mahasiswa belajar berfikir melalui prinsip-prinsip metode ilmiah atau belajar mempratekkan prosedur kerja berdasarkan metode ilmiah (Djamarah, 2010). Pembelajaran dengan praktikum sangat efektif untuk mencapai seluruh ranah pengetahuan secara bersamaan, antara lain melatih agar teori dapat diterapkan pada permasalahan yang nyata (kognitif), melatih perencanaan kegiatan secara mandiri (afektif), dan melatih penggunaan instrumen tertentu (psikomotor) (Rahayuningsih, 2005).
Praktikum Biogeografi ini dilakukan atas tugas yang diberikan oleh Bapak Gamal selaku dosen mata kuliah Biogeografi. Dalam praktikum ini mahasiswa diminta untuk menghitung jumlah populasi kera ekor panjang dan pemetaan vegetasi sampling di Grojogan Sewu, Tawangmangu, Karanganyar. Praktikum ini dibagi menjadi 6 kelompok tiap kelompok beranggotakan 10-12 orang dan 1 orang asisten dosen sebagai pembimbing dalam praktikum populasi dan vegetasi sampling.
1.2. Tujuan
1. Untuk mengetahui kepadatan populasi monyet ekor panjang di Wisata Alam Grojogan Sewu, Karanganyar.
BAB II DASAR TEORI 1.1. Dasar Teori
1. Studi Lapangan
Studi lapangan (Field study) adalah metode pembelajaran melalui pengumpulan data secara langsung dengan pengamatan, wawancara, mencatat atau mengajukan pertanyaan – pertanyaan ( Nigel Bevan dan Tomer Sharon, 2009 ). Dalam studi lapangan ada beberapa teknik yang bisa digunakan dalam mengumpulkan data yaitu observasi, wawancara dan studi dokumentasi.
Observasi adalah mengadakan pengamatan terhadap obyek yang diteliti. Observasi dilakukan untuk memperoleh informasi dari obyek yang kita amati. Dalam pengamatan kali ini kita dapat mengamati kelakuan monyet-monyet yang ada di Wisata Alam Grojogan Sewu. Setelah kita mengamati kelakuan seperti apa saja yang dilakukan oleh monyet-monyet disana, kita dapat menganalisis aktivitas apa yang sering dilakukan monyet disana dan bagaimana karakteristik monyet di Wisata Alam Grojogan Sewu serta bagaimana perbedaan monyet-monyet disana dengan jenis monyet yang lain.
Wawancara adalah teknik penelitian yang paling sosiologis karena bentuknya yang berasal dari interaksi verbal antara peneliti dan koresponden dan juga cara yang paling baik untuk menentukan kenapa seseorang bertingkah laku, dengan menanyakan secara langsung ( Black & Champion, 1992 : 305). Dalam pengamatan ini tidak dilakukan teknik wawancara karena pengamatan ini hanya bertujuan untuk mengamati kelakuan Macaca Fascicularis di Wisata Alam Grojogan Sewu saat tepat dilakukannya pengamatan.
perekaman suatu peristiwa atau obyek yang dilanjutkan dengan pengelolaan data tersebut sehingga menjadi suatu berkas/bukti yang dapat digunakan dalam penyusunan laporan dan sebagai pelengkap serta bukti terhadap kredibilitas data laporan tersebut. Dalam pengamatan di Wisata Alam Grojogan Sewu juga dilakukan dokumentasi terhadap obyek yang diamati seperti pengambilan gambar terhadap obyek baik aktivitas monyet dan pengamatan jenis vegetasi serta proses berlangsungnya pengamatan yang dilakukan oleh pengamat. Selain dari pengambilan gambar ada juga perekaman video dalam pengamatan yang dapat digunakan dalam penyusunan laporan.
2. Metode Transek
Transek adalah jalur sempit melintang lahan yang akan dipelajari/diselidiki. Tujuannya adalah untuk mengetahui perubahan vegatasi dan perubahan lingkungan atau untuk mengetahui jenis vegetasi yang ada dalam suatu lahan tertentu secara cepat ( Marno, 2014 : 7 ). Metode transek ada dua jenis yaitu transek sabuk dan transek garis. Dalam pengamatan ini menggunakan transek sebagai berikut
a. Transek Squared Line
Metode Penelitian ini menggunakan metode garis berpetak (Squared Line) berbentuk bujur sangkar, dilakukan dengan cara menarik garis lurus memotong garis kontur. Jarak antara plot pengamatan dibuat secara sistematis berdasarkan perbedaan struktur vegetasinya dengan jarak 10 m dan jarak antara jalur 200 m. Di dalam plot pengamatan dibuat petak ukur 20 x 20 m untuk pohon, 10 x 10 m untuk pancang dan 5 m x 5 m untuk semai dan tumbuhan bawah, data y Aqq ang terkumpul dari hasil pengamatan di lapangan, selanjutnya di analisis menurut Soerinegara dan Indrawan (1982) dalam Ramli (2003) sebagai berikut :
Kerapatan=Jumlah individu suatu jenisLuas seluruh petak
Kerapatan Relatif=Keraptan seluruh jenis ×Kerapatan suatu jenis 100 %
BAB III
METODE PRATIKUM 3.1. Waktu dan Tempat
Pratikum ini dilaksanakan pada tanggal 10 Desember 2016 di Wisata Alam Grojogan Sewu. Pelaksanaan pratikum dimulai pada pukul 09.32 – 12.00 WIB.
Grojogan Sewu merupakan salah satu air terjun yang berada di Provinsi Jawa Tengah, tepatnya terletak di Desa Tawangmangu, Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar yang terdapat di lereng Gunung Lawu. Grojogan Sewu terletak pada koordinat geografis 07040'46,62" S - 11108'11,21"E dan sekitar 27 km di sebelah timur Kota
Karanganyar. Air terjun Grojogan Sewu merupakan bagian dari Hutan Wisata Grojogan Sewu yang memiliki ketinggian ± 81 m dan airnya berasal dari Kali Samin.
Sedangkan Hutan Wisata Grojogan Sewu memiliki luas 20 Ha dengan berbagai jenis pohon hutan yang tumbuh dan dihuni oleh sekelompok kera jinak.Wisata Alam Grojogan Sewu juga difungsikan sebagai kawasan konservasi yang telah memberikan banyak manfaat bagi pemerintah dan aktivitas perekonomian setempat khususnya sebagai lokasi pariwisata alam. Dengan demikian Hutan Wisata Grojogan Sewu ini memiliki berbagai fasilitas yang ditawarkan kepada pengunjung yang datang agar para pengunjung merasa nyaman seperti Taman Binatang Hutan, kolam renang, tempat istirahat, kios makanan, kios buah-buahan dan cinderamata, mushola dan MCK. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Hariadi Siswantoro dari Universitas Diponegoro, Semarang bahwa hampir 60% wisatawan menyukai kelengkapan sarana prasarana wisata, kebersihan dan pengelolaan sampah ( Hariadi Siswantoro,2012 : 104).
e. Alas 2. Bahan
a. Rafia 3.3. Prosedur Kerja
1. Menghitung Kepadatan Vegetasi
a. Membuat petak dengan ukuran 2×2 m, 5×5 m, 10×10 m dan 20×20 m.
b. Setiap sudut petak ditandai dengan satu orang dalam kelompok untuk mempermudah batasan area yang diamati.
c. Mengidentifikasi setiap vegetasi dalam satu petak kedalam kategori-kategori yang telah ditentukan ( semai, pancang, tiang dan pohon ) yang kemudian diberi penomoran. Pengidentifikasian dilakukan sesuai dengan teori yang telah didapat seperti dalam petak yang berukuran 2×2 m mempunyai ciri-ciri vegetasi yang ketinggiannya ≤ 1,5 m yang termasuk kategori semai (seedling). Dengan demikian mahasiswa harus memahami ciri karakteristik setiap satuan petak agar tidak salah identifikasi vegetasi. Sedangkan, penomoran dilakukan agar mempermudah dalam penghitungan jumlah jenis vegetasi dalam satu petak dan meminimalisir penghitungan ganda.
d. Mengukur ketinggian dan diameter setiap jenis tanaman di dalam satu transek tersebut.
e. Setelah mengkur ketinggian dan diameter
f. Mencatat semua hasil pengamatan dan pengukuran di lapangan. 2. Menghitung Kepadatan Monyet Ekor Panjang (Macaca Fascicularis)
a. Membuat transek berdasarkan luasan area 100 m yang kemudian transek ini akan menjadi satu grub wilayah.
b. Mencatat waktu dimulainya pengamatan dari titik start ( titik start dalam pengamatan ini adalah setelah masuk dalam pintu masuk Wisata Alam Grojogan Sewu).
c. Mencatat waktu setelah menemukan satu grub monyet yang ditemui dan mencari titik koordinat lokasi tersebut.
e. Mengamati aktivitas setiap monyet yang ditemui dan diklasifikasikan dalam berbagai jenis aktivitas yang telah disediakan seperti sleep, inactive, locomotion, eat, groom, play dan other. Sambil mengamati juga dilakukan penghitungan ada berapa ekor monyet yang melakukan aktivitas yang sama. Hal ini dilakukan dalam 1 menit dan dilakukan secara berulang-ulang selama 10 menit per grub yang ditemui.
f. Mencatat semua hasil pengamatan aktivitas monyet dan penghitungan jumlah monyet di lapangan.
BAB IV
2. Kaliandra ( Caliandra calothyrsus ) 8 3. Rumput Sintrong (Crassocephalum
crepidioides )
9
4. Stevia ( Stevia rebaudiana ) 13 5. Peterseli ( Petroselinum crispum ) 5 6. Paku Sayur ( Athyrium sp. ) Banyak 7. Pohon Serut ( Streblus asper ) 6
b. Kategori Pancang (Sapling)
No Nama Vegetasi Jumlah
1. Andong ( Cordyline fruticosa ) 2 2. Pohon Tanjung (Mimusops elengi ) 5 3. Lamtoro ( Leucaena leucocephala ) 1 4.
2. Lo Han Kuo ( Momordica grosvenori ) 1
d. Kategori Pohon (Tree)
No Nama Vegetasi Jumlah
2. Tumbuhan X1 1
Dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
Kerapatan Spesies=Luas PetakJumlah Spesies /m2
Kerapatan Relatif=Kerapatan seluruh spesies ×Kerapatan Spesies A 100 % Keterangan :
Kerapatan spesies dihitung dengan membagi antara jumlah spesies yang berhasil diamati dengan luasan area yang dipetakan. Dalam pengamatan ini mengambil ukuran petak 20 × 20 m, sehingga luasan petak yang digunakan dalam rumus ini adalah 400 m atau 4 m2. Sedangkan untuk kerapatan relatif diperoleh dengan
membagi antara kerapatan suatu spesies tertentu dengan kerapatan seluruh spesies. Kerapatan seluruh spesies ini didapat dengan menjumlah seluruh kerapatan spesies yang dihitung dengan rumus kerapatan spesies.
Dengan menghitung kedua rumus diatas diperoleh data sebagai berikut :
No Nama Vegetasi Kerapatan Spesies
(/m2)
Kerapatan Relatif (%)
1. Sintrong ( Crassocephalum crepidioides )
4. Stevia ( Stevia rebaudiana ) 3.25 17.8 5. Peterseli ( Petroselinum
crispum )
1.25 6.84
6. Paku Sayur ( Athyrium sp. ) - -7. Pohon Serut ( Streblus asper
)
2 10.95
fruticosa )
15. Tumbuhan X1 0.25 1.36
JUMLAH 18.25 99.86
2. Hasil Pengamatan Monyet Ekor Panjang (Macaca Fascicularis)
No Grub Jumlah
Individu
Posisi Waktu
1. 1 88 49S 514191mT 9153129 mU 09.33 WIB
2. 2 194 49S 514307 mT 9153242 mU 10.10 WIB
3. 3 52 49S 514306 mT 9153237 mU 11.58 WIB
Jumlah Individu 334
Group name : 1
3. 3' - - 3 - - 2 - 5
Location : 49S 514307 mT 9153242 mU Date/time : Dec, 10th 2016/10.10 p.m.
4. 4' - - 2 2 - - - 4
5. 5' - 2 2 1 - - - 5
6. 6' - 1 1 2 - - - 4
7. 7' - 1 2 - - - - 3
8. 8' - - 4 1 - - - 5
9. 9' - - 2 1 - - - 3
10. 10' - - 1 - - - - 1
Dari data yang telah dapat diatas, dicari rata-rata per grub dan kepadatan grub serta kepadatan individu populasi monyet di Wisata Alam Grojogan Sewu dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
Rata−rata per grub=total monyettotal grub
Kepadatan Grup=Luas AreaJumlahGrub
(km2)
Kepadatan Individu= Jumlah Individu Luas Area(km2) Keterangan :
Jumlah Grub : Banyaknya grub yang ditemui dalam area pengamantan Luas Area : Luasnya wilayah Wisata Alam Grojogan Sewu yaitu 0,2 km2
Berikut adalah penghitungan dari rumus diatas :
Rata−rata per grub=total monyettotal grub
¿3343
¿111,34
Kepadatan Grup=Luas AreaJumlahGrub
¿o3.2 tempat. Lokasi yang dipilih dalam pengamatan ini adalah Wisata Alam Grojogan Sewu yang terletak di Desa Tawangmangu, Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah. Wisata Alam Grojogan Sewu ini terletak di lereng Gunung Lawu sehingga vegetasi yang tumbuh bersifat heterogen. Oleh karena itu, Wisata Alam Grojogan Sewu digunakan sebagai wilayah konservasi yang sekaligus dapat meningkatkan tingkat ekonomi masyarakat sekitar melalui bidang pariwisatanya.
Wisata Alam Grojogan Sewu merupakan kawasan pelestarian alam yang berada pada koordinat geografis 07040'46,62" S - 11108'11,21"E. Status awal kawasan ini sebelum
1128/PTGH/Kw-JTG/1995 tanggal 30 Nopember 1995 dengan luas areal pengusahaan pariwisata alam ditetapkan yaitu 20,3 ha. Berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan No. 435/Kpts-II/1999 tanggal 15 Juni 1999 yang telah diperbaharui dengan Keputusan Menteri Kehutanan No. 359/Kpts-II/2004 tanggal 1 Oktober 2004, telah ditunjuk Kawasan Hutan di Wilayah Provinsi Jawa Tengah seluas 757.250 ha termasuk di dalamnya TWA Grojogan Sewu. Kegiatan pengusahaan pariwisata alam ini telah diperpanjang dengan Keputusan Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam No. 51/Kpts/Dj-VI/1988 untuk jangka waktu 20 tahun hingga tahun 2009. Pada tahun 2009, diperpanjang lagi berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. SK. 661/Menhut-II/2009 tanggal 15 Oktober 2009 tentang Perpanjangan Izin Pengusahaan Pariwisata Alam Seluas 20,3 ha di Blok Pemanfaatan TWA Grojogan Sewu atas nama PT Duta Indonesia Djaya. Dalam Peraturan Daerah Provinsi Jawa Tengah Nomor 6 Tahun 2010 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi Jawa Tengah Tahun 2009-2029, TWA Grojogan Sewu telah disebutkan menjadi bagian dari kawasan pelestarian alam di Provinsi Jawa Tengah.
Metode Penelitian ini menggunakan metode garis berpetak (Squared Line) berbentuk bujur sangkar, dilakukan dengan cara menarik garis lurus memotong garis kontur. Dalam pratikum ini menggunakan ukuran petak 2×2 m, 5×5 m, 10×10 m dan 20×20 m dengan empat (4) kategori yang digunakan yaitu kategori semai, pancang, tiang dan pohon. Dimana setiap area transek/petak yang dilakukan pengamatan menghasilkan distribusi vegetasi yang berbeda-beda dengan nilai kuantitas yang berbeda pula. Seperti halnya dalam ukuran transek 2×2 m yang termasuk dalam kategori semai terdapat beberapa jenis vegetasi yaitu rumput, tumbuhan paku, dsb.
Untuk memperoleh data dari lapangan kita mengadakan klasifikasi kategori vegetasi yang dibedakan menjadi empat kategori yaitu semai, pancang, tiang dan pohon. Dari setiap kategori mempunyai syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh si vegetasi agar vegetasi tersebut dapat masuk kedalam suatu kategori. Berikut acuan kita dalam menklasifikasikan jebis vegetasi yang ada di Wisata Alam Grojogan Sewu yaitu
No Kategori Transek Tinggi Diameter
1
3 Tiang ( Pole ) 10 × 10 m ≥ 1.5 m 10 – 19 cm 4 Pohon ( Tree ) 25 × 25 m ≥ 1.5 m ≥ 20 cm
Berdasarkan data yang kita peroleh dari pengamatan vegetasi yang ada di Wisata Alam Grojogan Sewu dapat dilihat bahwa kerapatan spesies dan kerapatan relatif dalam ukuran transek 25×25 m didominasi oleh vegetasi Stevia ( Stevia rebaudiana ) yang mempunyai nilai kerapatan spesies 3.25/m2 dengan tingkat 17.8 % kerapatn relatif.
Stevia ( Stevia rebaudiana Bertoni) termasuk tanaman perdu famili Compositae berasal dari Paraguay. Daun stevia mengandung steviosida dengan tingkat kemanisan 200 - 300 kali lebih tinggi dari gula tebu (sukrosa). Stevia telah digunakan sebagai pemanis minuman teh lokal dan obat - obatan oleh penduduk asli Paraguay suku Guarani sejak ratusan tahun yang lalu.
Stevia memiliki daya adaptasi lingkungan sangat luas, dari daerah tropik sampai sejauh 600 LU dengan musim dingin cukup ekstrem. Di daerah subtropik stevia dapat tumbuh di
dataran rendah. Di daerah tropik stevia dapat tumbuh pada daerah dengan ketinggian 250 m dpl (Bogor), namun pertumbuhan optimum diperoleh pada daerah dengan ketinggian tempat 800 – 2000 m dpl, dengan suhu optimum berkisar 20 - 30 0C. Tempat 800 - 2000
mdpl, dengan suhu optimum berkisar 20 - 300 C.Di tempat asalnyatanaman stevia liar
tumbuh setinggi 60-70 cm di tanah masam(pH 4-5), permukaan air dangkal, serta kandungan fosfat dan bahan organik rendah. Namun, kondisi tanah yang ideal untuk pertumbuhan stevia yang optimum adalah pH 5-7, kapasitas menahan air baik, drainase baik, dan mengandung bahan organik yang cukup. Stevia tidak toleran terhadap lahan dengan pH tinggi sehingga sebaiknya tidak ditanam pada lahan basa (saline). Tanaman stevia yang dibudidayakan dapat tumbuh baik dengan tinggi tanaman bisa mencapai1,8 m. Di Indonesia, lahan dengan tanah andosol, terrarosa, dan latosol di dataran tinggi yang bertekstur gembur ideal untuk penanaman stevia. Dengan syarat – syarat kehidupan tumbuhan genus ini, wilayah Karanganyar terutama wilayah Wisata Alam Grojogan Sewu dapat dijadikan tempat yang ideal sebagai media tumbuh kembangnya vegetasi jenis Stevia.