• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN PRAKTIKUM EKOLOGI HEWAN (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "LAPORAN PRAKTIKUM EKOLOGI HEWAN (1)"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN PRAKTIKUM EKOLOGI HEWAN

RESPON HEWAN TERHADAP LINGKUNGAN BIOTIK DAN ABIOTIK (AKTIFITAS SERANGGA PERKEBUNAN)

Oleh: Kelompok 2

1. Abdul Roni (12222002) 2. Ayu Pujiastuti (12222017) 3. Bunga Pertiwi (12222018) 4. Asia Astuti (12222013) 5. Desi Ratnasari (12222023) 6. Eli Apriana (12222032) 7. Fini Eka Pramitha (12222037) 8. Fitri Astriawati (12222038) 9. Gestri Rolahnoviza (12222040)

Dosen Pembimbing: Irham Falahudin, M.Si

PROGRAM STUDI BIOLOGI

FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI RADEN FATAH

(2)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Hewan merupakan hewan yang bersifat motil, artinya dapat berjalan dari satu tempat ke tempat lain. Jenis-jenis hewan tertentu tinggal disuatu lingkungan hidup yang sesuai dengan cirri-ciri kehidupannya. Sehingga ada yang ada hidup ditanah disebut dengan terrestrial, di pohon disebut arboreal dan di air dikenal dengan aquatic. Berpindah atau tidaknya bergantung pada lingkungan.

Organisme yang hidup di alam memiliki tingkat dan jenis kepekaan yang berbeda-beda terhadap suatu rangsangan. Setiap spesies yang satu dengan spesies yang lainnya akan memberikan respon (tanggapan) yang berbeda-beda terhadap suatu rangsangan, hal ini berkaitan erat dengan habitat dan kebiasaan spesies tersebut. Adanya respon saat terjadinya suatu rangsangan ini merupakan salah satu cara mahkluk hidup mempertahankan diri terhadap rangsangan itu sendiri. Pertahanan diri suatu jenis mahkluk hidup ini biasanya dilakukan dengan cara penyesuaian diri terhadap lingkungan yang mengalami rangsangan. Adaptasi dilakukan pada lingkungan yang baru, tentu lebih berbeda dari lingkungan habitat biasanya sebagai lingkungan hidup.

Faktor lingkungan sangat berpengaruh terhadap kehidupan hewan. Faktor lingkungan terbagi menjadi dua yaitu: kondisi dan sumber daya. Respon hewan terhadap kedua faktor ini akan mempengaruhi hewan pada suatu habitat. Dengan demikian hewan akan melakukan adaptasi untuk menyesuaikan terhadap lingkungan yang baru.

1.2 Tujuan

Dalam tujuan kegiatan ini mahasiswa diharapkan dapat:

1. Untuk melihat keanekaragaman serangga arboreal pada tanaman kelapa sawit.

(3)

1.3 Alat dan Bahan

Alat yang digunakan dalam praktikum, antara lain silinder trap, tali, mangkok warna kuning.

Bahan yang digunakan dalam praktikum antara lain bunga mawar (Rosa gallica) kupu-kupu (Appias libythea), pisang (Musa paradisiaca).

1.4 Cara Kerja

1. Metode Silinder Trap

a. Menentukan lahan perkebunan 100x100 meter, kemudian sampel tanaman dipilih sebanyak 4 pohon secara acak dan pengambilannya secara sistematik baik diagonal maupun lajur dan baris.

b. Kemudian menyiapkan perangkap berupa mangkok yang berwarna kuning yang di dalamnya diisi dengan pisang ambon (Musa paradisiaca) sebagai umpannya.

c. Perangkap disebar sebanyak 1 perangkap perpohon yang dipasang selama 1x24 jam. Kemudian sampel serangga yang tertangkap dibawa ke laboratorium.

2. Metode Hand collecting

a. Pengambilan sampel serangga pohon dilakukan dengan menggunakan koleksi langsung dengan tangan yaitu menggunakan pinset sebagai alat bantunya. Pengambilan dilaksanakan selama 10 menit per/pohon. b. Sampel yang didapat di koleksi dalam botol yang sudah diberi alcohol.

Kemudian sampel di identifikasi di laboratorium.

(4)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Respon Hewan

Dalam menanggapi (merespon) perubahan faktor-faktor lingkungan, menurut karmadibrata (1992) dikenal tiga macam respon dasar hewan untuk menanggapi kondisi faktor lingkungan, yaitu respons pengaturan, respon penyesuaian dan respon perkembangan. ketiga macam respon itu beroperasi menurut mekanisme sistem umpan balik negatif, seperti cara kerja termostat (Sukarsono, 2009).

1. Respon Reversibel

Respon tipe ini berlangsung cepat dan terjadi melalui mekanisme fisiologi hewan yang menyangkut proses perubahan metabolisme tubuhnya. contoh dari respon tipe ini adalah adanya perubahan bentuk pupil mata hewan karena berubahnya intensitas cahaya, gerakan sayap serangga bila suhu turun, kontraksi hewan bila terkena sentuhan dan lain sebagainya (Sukarsono, 2009).

2. Respon tak reversibel

Respon perkembangan sifatnya berlangsung lama karena bukan saja melibatkan terjadinya proses-proses yang banyak macamnya tetapi juga menyangkut terjadinya perubahan struktur yang lebih banyak pula. Perwujudan dari respon ini yang berupa perubahan struktur dan morfologi tertentu sifatnya relatif permanen. contohnya adalah perubahan jumlah mata faset karena kondisi lingkungan yang bersuhu tinggi (Sukarsono, 2009).

2.2 Respon Individu Hewan Terhadap Perubahan Lingkungan

Menurut Sukarsono (2009), individu melakukan respon terhadap perubahan lingkungan dengan menggunakan beberapa cara seperti, fisiologis, morfologis dan perilaku.

1. Respon Fisologis

(5)

jika tubuh kita terdedah oleh udara dingin, maka pembuluh darah diwajah kita akan mengerut dan akan terasa dingin.

2. Respon Morfologis

Hewan yang memelihara suhu tubuh internal secara tetap disebut dengan hewan endotermik, dalam lingkungan yang dingin memiliki kemampuan adaptasi dengan cara meminimalkan energi yang dikeluarkan. 3. Respon Perilaku

Kebanyakan hewan menghadapi perubahan lingkungan dengan cara bergerak dari satu habitat ke habitat lainnya untuk menghindari bagian yang tidak cocok.

2.3 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Respon Hewan 1. Faktor Biotik

Faktor biotik merupakan faktor-faktor hidup semua organisme yang merupakan bagian dari lingkungan suatu individu (Campbell, 2010).

2. Faktor Abiotik

Faktor abiotik merupakan faktor-faktor tak hidup seperti suhu, cahaya, air, iklim, sinar matahari dan lain sebagainya (Campbell, 2010).

2.4 Aklimasi dan Adaptasi

Alkimatisasi dan adaptasi merupakan perwujudan respon terhadap lingkungannya. Aklimatisasi terjadi pada periode ontogeny, reversible, dan tidak diwariskan. Yang serupa dengan aklimatisasi adalah aklimasi. Perbedaannya aklimatisasi menyangkut banyak factor alami, aklimasi digunakan untuk satu atau dua faktor yang terjadi dalam lingkungan terkontrol di laboratorium. Contoh : respon Rana pipiens berupa laju konsumsi oksigen pada kondisi suhu tertentu menjadi berbeda setelah mengalami aklimasi, dan perubahan ini tidak langgeng. Adaptasi melibatkan perubahan yang diakibatkan seleksi alam, bersifat herediter, dan proses berlangsung meliputi sejumlah besar generasi yang berurutan (Ginanjar, 2012).

(6)

1. Adaptasi fisiologis

Adaptasi fisiologi adalah penyesuaian yang dipengaruhi oleh lingkungansekitar yang menyebabkan adanya penyesuaian pada alat-alat tubuh untuk mempertahankan hidup dengan baik. Adaptasi fisiologis (adaptasi fungsional) adalah seluruh perangkat kemampuan fisiologis untuk menghadapi kondisi lingkungannya, meliputi proses kimiawi, substansi kimiawi, enzim, ko-enzim serta hormon yang terlibat pada proses tersebut. Adapatasi fiologis biasa didukung oleh adaptasi struktural dan perilaku. 2. Adaptasi morfologis

Adaptasi morfologi adalah penyesuaian pada organ tubuh yang disesuaikan dengan kebutuhan organisme hidup. Contoh: Koral Madrepora berbeda bentuk pada lingkungan yang berbeda. Adanya kesamaan corak dan kondisi lingkungan, mungkin menghasilkan bentuk yang serupa pada berjenis-jenis hewan dari kelompok yang bertaksonomi perkerabatan jauh. Contoh: berbagai jenis ikan dan mamalia yang hidup di lautan. Adaptasi struktural menyangkut seluruh aspek hidup hewan. Misal: tipe mulut pada Insekta dan tipe paruh pada burung sesuai dengan jenis makanannya. Adapatasi dari berbagai struktur tubuh saling mendukung untuk melakukan suatu fungsi hidup, misal pada burung karnivor memiliki paruh yang kukuh dah tajam, penglihatan tajam, daya terbang baik dan kaki bercakar kuat. Adaptasi tidak hanya menyangkut bentuk dan besar struktur, melainkan juga warna, pola pewarnaan, dan aspek fenotip lainnya.

Aturan mengenai adaptasi struktural pada hewan:

a. Aturan Bergmann: Hewan yang hidup di suhu tinggi cenderung bertubuh kecil dibandingkan kerabatnya yang hidup di daerah suhu rendah.

(7)

c. Aturan Gloger: Hewan homoterm di daerah beriklim panas dan lembab cenderung berpigmen hitam, di daerah kering berpigmen kuning, coklat dan merah, dan pada daerah dingin pigmen mengalami reduksi.

d. Aturan Jordan: Jumlah vertebrata pada jenis-jenis ikan di perairan bersuhu rendah cendurung lebih sedikit dibandingkan dengan di peraiaran bersuhu tinggi.

e. Sayap dari jenis burung di daerah pegunungan atau beriklim dingin cenderung berukuran lebih panjang dibandingkan dengan yang di dataran rendah atau beriklim panas.

3. Respon dan Adaptasi Perilaku

Perilaku hewan merupakan aktivitas terarah berupa respon terhadap kondisi dan sumber daya lingkungan. Terjadinya suatu perilaku melibatkan peranan reseptor dan efektor serta koordinasi saraf dan hormon. Jenis efektor yang paling berperan adalah otot-otot tubuh.

Perilaku pada hewan rendah seluruhnya ditentukan secara genetik, bersifat khas, terjadi secara otomatis. Pada hewan tinggi banyak mengandung komponen yang tidak bersifat herediter, melainkan proses belajar yang dipengaruhi faktor lingkungan. Pada Invertebrata berupa taksis atau refleks, pada serangga berupa instink dan pada manusia ditentukan oleh komponen belajar dan menalar.

a. Taksis

(8)

disebut tropisme. Misal Respon kemotropi negative Hydra terhadap larutan asam (tentakel dan tubuh mengkerut). Kinesis merupakan gerakan yang tidak terorientasi langsung pada sumber stimulus dan dicapainya situasi akhir terjadi melalui gerakan coba-coba. Misal Jenis Protozoa berpindah tempat karena respon kemikinesis negatif (Ginanjar, 2012).

b. Refleks

Sejumlah gerakan atau perilaku hewan umumnya berlangsung secara refleks,meskipun frekuensinya berkurang pada hewan tinggi. Refleks merupakan gerakanotomatis yang terjadi aakibat beroperasinya mekanisme reseptor sederhana, dnproporsional terhadap besarnya stimulus. Pada hewan rendah, berbagai aktivitaspenting terjadi sebagai seurutan refleks-refleks. Misal pada lalat. Refleks merupakan salah satu komponen dasar dari perilaku yang mempunyai nilai kesintasan. Refleks akan menjauhkan hewan dari kondisi membahayakan dan memanfaatkan sumber daya lingkungannya (Ginanjar, 2012).

c. Perilaku Naluriah Naluri (instink)

(9)

d. Belajar

Menurut Ginanjar (2012) belajar merupakan perubahan perilaku akibat suatu pengalaman, berarti respon terhadap suatu stimulus tertentu menjadi berubah dibandingkan sebelumnya.Terjadi pada Vertebrata tinggi, dan paling efektif pada usia muda. Macam-macam corak belajar:

a).Habituasi (pembiasaan), hewan tidak lagi memberikan respon pada suatustimulus yang tidak memberikan arti dalam kehidupannya. Misal: anak hewan menghindari bunyi/gerakan tiba-tiba, setelah tahu tidak memberikan efek buruk, maka stimulus tidak diacuhkan lagi.

b).Pengkondisian, suatu stimulus yang tadinya tidak mengandung arti, setelah melalui pengalaman menjadi penting, yakni terbinanya kesan hubungan antara stimulus dengan ganjaran. Misal respon anjing yang diberi stimulus visual dan auditori.

c).Imprinting (perekaman), perilaku naluriah mengikuti induk. Misal anak itik yang ditetaskan secara terisolasi, akan terus mengikuti manusia atau objek bergerak yang pertama kali dilihatnya.

d). Imitating (meniru), suatu individu dalam kelompok akan melakukan gerakan atau aktiviatar tertentu (berlari, bernyanyi, makan dll) yang sama dengan individu lain dalam kelompok. Terjadi pada hewan yang bersifat gregarious. e).Trial and Error (coba-coba), eliminasi dari semua stimulus

dan respon, kecuali yang relevan, dengan diperolehnya ganjaran atau hukuman. Misalnya anak ayam mematuki sembarang objek, lalu hanya mematuki makanannya saja. f).Reasoning (menalar), meliputi terjadinya proses pembinaan

(10)

didahului coba-coba. Hanya terjadi pada mamalia tingkat tinggi, misal lumba-lumba, anjing dan kera. Misal kera yang terkurung mengambil pisang di luar dengan tongkat. Menalar atau belajar konsepsional paling baik perkembangannya pada manusia, karena perkembangan bagian korteks otaknya paling baik

4. Adaptasi Tingkah Laku

Menurut Ginanjar (2012), makhluk hidup melakukan penyesuaian diri terhadap lingkungan di sekitar habitat tempat hidupnya tidak terkecuali manusia. Adaptasi yang dilakukan makhluk hidup bertujuan untuk dapat bertahan hidup dari kondisi lingkungan yang mungkin kurang menguntungkan. Di bawah ini adalah merupakan beberapa bentuk adaptasi tingkah laku (behavioral adaptation) pada binatang/hewan disekitar kita disertai pengertian dan arti definisi :

a. Mimikri

Mimikri adalah teknik manipulasi warna kulit pada binatang seperti misalnya bunglon yang dapat berubah-ubah sesuai warna benda di sekitarnya agar dapat mengelabuhi binatang predator/pemangsa sehingga sulit mendeteksi keberadaan bunglon untuk dimangsa. Jika bunglon dekat dengan dedaunan hijau maka dia akan berubah warna kulit menjadi hijau, jika dekat batang pohon warna coklat, dia juga ikut ganti warna menjadi coklat, dan lain sebagainya.

b. Hibernasi

(11)

bangun setelah masa sulit terlewati. Contoh hewan yang berhibernasi yaitu seperti ular, ikan, beruang, kura-kura, bengkarung, dan lain-lain. c. Autotomi

Autotomi adalah teknik bertahan hidup dengan cara mengorbankan salah satu bagian tubuh. Contoh autotomi yaitu pada cicak /cecak yang biasa hidup di dinding rumah dan pohon. Cicak jika merasa terancam ia akan tega memutuskan ekornya sendiri untuk kabur dari sergapan musuh. Ekor yang putus akan melakukan gerakan-gerakan yang cukup menarik perhatian sehingga perhatian pemangsa akan fokus ke ekor yang putus, sehingga cicak pun bisa kabur dengan lebih leluasa.

d. Estivasi

Estivasi adalah menonaktifkan diri (dorman) pada saat kondisi lingkungan tidak bersahabat. Bedanya dengan hibernasi adalah di mana pada estivasi dilakukan pada musim panas dengan suhu udara yang panas dan kering. Hewan-hewan seperti kelelawar, tupai, lemur kerdil, dilakukan dengan mengestivasi diri di tempat yang aman dan terlindung. Pada tumbuhan estivasi juga dilakukan oleh oleh pohon jati dengan meranggas atau menggugurkan daun.

e. Simbiosis Rayap dan Flagellata

Rayap membutuhkan bantuan makhluk hidup lainnya yaitu flagelata untuk mencerna kayu yang ada di dalam usus rayap. Tanpa flagellata rayap tidak akan mampu mencerna kayu yang masuk ke dalam tubuhnya. Rayap-rayap kecil yang baru menetas mendapatkan flagellata dengan jalan menjilat dubur rayap dewasa. Rayap secara periodik melakukan aktivitas ganti kulit dan meninggalkan bagian usus lama, sehingga rayap akan memakan kulit yang mengelupas untuk memasukkan kembali flagellata ke dalam usus pencernaannya. f. Pernapasan Ikan Paus

(12)

permukaan akan membuang udara kotor lewat hidung mirip seperti air mancur yang berisi karbon dioksida bercampur uap air jenuh yang terkondensasi

2.5 Thermoregulasi

Themoregulasi adalah proses yang terjadi pada hewan untuk mengatur suhu tubuhnya agar tetap konstan dinamis. Adapun mekanismenya adalah mengatur keseimbangan antara perolehan panas dengan pelepasan panas. Suhu tubuh hewan dipengaruhi oleh suhu lingkungan hewan. Namun untuk hidup secara normal hewan harus memilih kisaran suhu yang lebih sempit dari kisaran suhu tersebut yang ideal dan disukai agar proses fisiologi soptimal. Suhu tubuh konstan sangat dibutuhkan karena perubahan suhu berpengaruh pada konformasi protein dan ativitas enzim juga pada energi kinetik molekul zat. Kenaikan suhu lingkungan mengakibatkan peningkatan laju reaksi yang berpengaruh pada aktivitas metabolisme sel tubuh (Ginanjar, 2012).

Kemampuan hewan untuk mempertahankan suhu tubuh menurut Ginanjar (2012) ada 2, yaitu:

1. Hewan poikiloterm adalah hewan yang suhu tubuhnya selalu berubah seiring dengan berubahnya suhu lingkungan.

(13)

BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil

Berdasarkan pengamatan yang telah dilaksanakan pada respon hewan kupu-kupu (Appias libythea), diperoleh hasil sebagai berikut:

(14)

Kupu-Hewan merupakan organisme yang bersifat motil, artinya dapat berjalan dari satu tempat ke tempat lain. Hewan tinggal di suatu lingkungan hidup yang sesuai dengan ciri-ciri kehidupannya. Sehingga ada hewan yang hidup di tanah yang disebut dengan hewan terrestrial, hewan yang hidup di pohon disebut hewan arboreal dan hewan yang hidup di air disebut sebagai hewan aquatic.

Namun dalam praktikum ini, yang diamati adalah keanekaragaman serangga arboreal yaitu kelas insecta dari ordo Lepidoptera (kupu-kupu). Pengamatan di awali dengan membuat perangkap untuk serangga arboreal, pada awalnya metode yang digunakan adalah metode silinder trap yang telah dilengkapi dengan yellow pan trap yang kemudian dipasang di pohon setinggi 60 m. Tata letak silinder trap dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu botton tata letak yang paling atas (60 m), middle tata letak di bagian tengah (30 m), dan lower tata letak paling bawah (10 m), jadi dalam satu pohon terdapat tiga silinder trap yang dipasang. Selanjutnya perangkap silinder trap tersebut dibiarkan selama 1x24 jam.

Berdasarkan hasil praktikum, tidak ditemukan spesies serangga arboreal yang terperangkap dalam silinder trap yang telah dipasang, hal ini mungkin disebabkan karena pohon yang digunakan sebagai tempat silinder trap kurang tinggi, yaitu berkisar 20 m, sehingga letak perangkap botton hanya setinggi 20 m, middle setinggi 10 m, dan lower setinggi 5 m, selain itu mungkin makanan yang diletakkan dalam mangkok yellow pan trap kurang menarik perhatian serangga, sehingga tidak ada serangga yang mendekati perangkap yang telah dipasang.

Karena dengan metode silinder trap tidak ditemukan spesies, maka diganti dengan metode hand collecting, yaitu pengambilan serangga pohon secara langsung dengan tangan yaitu menggunakan jarring-jaring atau pinset sebagai alat bantunya. Spesies yang berhasil ditemukan yaitu berjumlah 2 spesies, spesies pertama dengan ukuran tubuh yang kecil mempunyai motif sayap yang berwarna coklat dan abu-abu. Sedangkan pada spesies yang kedua, mempunyai ukuran tubuh yang relatif besar, mempunyai motif sayap yang unik, yaitu adanya percampuran warna pada sayap yang meliputi warna hijau, kuning, putih, coklat, dan hitam.

(15)

ada juga faktor teknis yang menyebabkan matinya kupu-kupu tersebut yaitu saat penangkapan, terpegang tubuhnya terlalu kuat. Lama perjalanan, yang menyebabkan kekurangan oksigen. Kupu-kupu tidak dapat beradaptasi dengan tumbuhan baru. Karena tanaman di habitat aslinya tidak sama dengan tanaman yang dijadikan lingkungan baru sebagai tempat hidupnya.

Serangga arboreal ini memiliki peranan ekologis yang sangat penting bagi kehidupan, diantaranya yaitu serangga berperan sebagai komponen rantai makanan, sebagai penyerbuk (pollinator) yang andal untuk semua jenis tanaman dan dapat berperan sebagai indicator, yaitu untuk memprediksi tingkat kepunahan spesies lain atau perubahan mikro lingkungan, habitat maupun ekosistem tertentu. Dari uraian di atas dapat dilihat bahwa faktor fisik lebih banyak berpengaruh terhadap serangga di bandingkan faktor internal atau faktor dari hewan pemangsa lainnya. Faktor tersebut seperti suhu dan kisaran suhu, kelembapan/hujan, cahaya/ warna/bau, angin dan tofografi. Serangga memiliki kisaran suhu tertentu dimana serangga tersebut dapat bertahan hidup. Pada umumnya suhu yang relatif adalah suhu minimum 150C, suhu optimum 250C, dan suhu maksimum 450C. Tinggi rendahnya populasi suatu jenis serangga pada suatu waktu merupakan hasil pertemuan antaradua faktor, yaitu faktor biotic dan faktor abiotik (lingkungan).

(16)

4.1 Kesimpulan

Respon hewan terhadap perubahan lingkungan bermacam-macam, yaitu dengan menggunakan beberapa cara seperti, fisiologis, morfologis dan perilaku. Faktor yang mempengaruhi yaitu Faktor lingkungan, terbagi menjadi dua yaitu: kondisi dan sumber daya. diantaranya kedua faktor ini akan mempengaruhi hewan pada suatu habitat. Dengan demikian hewan akan melakukan adaptasi untuk menyesuaikan terhadap lingkungan yang baru.

4.2 Saran

Sebaiknya pada saat praktikum Respon Hewan Terhadap Lingkungan Biotik dan Abiotik ini, diharapkan seluruh praktikan harus dapat pergi ke lapangan tempat praktikum ini berlangsung, agar praktikan dapat mengerti dan memahami secara langsung kegiatan tentang praktikum ini.

(17)

Campbell, Neil A, dkk. 2012. Biologi Edisi Kedelapan Jilid 2. Jakarta: Erlangga.

Ginanjar, Rifki Saeful. 2012. Respon dan Adaptasi Hewan http:// www.

scribd.com/doc/86616691/Makalah-Respon-Dan-Adaptasi-Hewan. Diakses

pada 26 Juni 2014. Pukul 22.00 WIB.

Referensi

Dokumen terkait

Mitokondria adalah organel yang memiliki struktur kompleks yang berfungsi untuk membentuk energy yang disebut “the power house”.. mitokondria merupakan

Sedangkan antara rumput yang tumbuh di tempat tersebut dengan belalang dan hewan kecil A terjadi simbiosis parasitisme, karena mereka merupakan konsumen