• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN PENDAHULUAN KATARAK DI POLI MATA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "LAPORAN PENDAHULUAN KATARAK DI POLI MATA"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN PENDAHULUAN KATARAK DI POLI MATA DI

RSD dr. SUBANDI JEMBER

Disusun untuk memenuhi tugas pada Pendidikan Profesi Ners

Stase Keperawatan Medikal Bedah

Oleh

Winda Sulistya Safitri

NIM 102311101036

KEMENTRIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

UNIVERSITAS JEMBER

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

(2)

A. Tinjauan Teori Katarak 1. Definisi

Katarak adalah opasitas lensa kristalina yang normalnya jernih. Biasanya terjadi akibat proses penuaan tapi dapat timbul pada saat kelahiran (katarak kongenital). Dapat juga berhubungan dengan trauma mata tajam maupun tumpul, penggunaan kortikosteroid jangka panjang, penyakit sistemik, pemajanan radiasi, pemajanan yang lama sinar ultraviolet, atau kelainan mata lain seperti uveitis anterior (Smeltzer & Bare, 2002).

Menurut Mansjoer (2000), katarak adalah setiap keadaan kekeruhan pada lensa yang dapat terjadi akibat hidrasi (penambahan cairan) lensa, denaturasi protein lensa, atau akibat kedua-duanya. Biasanya mengenai kedua mata dan berjalan progresif. Katarak adalah penurunan progresif kejernihan lensa. Lensa menjadi keruh atau berwarna putih abu-abu, dan ketajaman penglihatan berkurang. Katarak terjadi apabila protein-protein lensa yang secara normal transparan terurai dan mengalami koagulasi (Corwin, 2001).

2. Klasifikasi

Berdasarkan usia yang mengalami katarak dapat diklasifikasikan menjadi katarak kongenital, katarak juvenil, dan katarak senil (Ilyas, 2004).

a. Katarak Kongenital

(3)

b. Katarak Juvenil

Katarak yang mulai terbentuk pada usia kurang dari 9 tahun dan lebih dari 3 bulan. Katarak juvenil biasanya merupakan penyulit penyakit sistemik ataupun metabolik dan penyakit lainnya seperti:

1) Katarak metabolic

a) Katarak diabetik dan galaktosemik (gula) b) Katarak hipokalsemik (tetanik)

c) Katarak defisiensi gizi

d) Katarak aminoasiduria (termasuk sindrom Lowe dan homosistinuria) e) Penyakit Wilson

f) Katarak berhubungan dengan kelainan metabolik lain. 2) Katarak traumatic

3) Katarak komplikata

a) Kelainan kongenital dan herediter (siklopia, koloboma, mikroftalmia,

aniridia, pembuluh hialoid persisten, heterokromia iridis).

b) Katarak degeneratif (dengan miopia dan distrofi vitreoretinal), seperti

Wagner dan retinitis pigmentosa, dan neoplasma).

c) Katarak anoksik

d) Toksik (kortikosteroid sistemik atau topikal, ergot, naftalein, dinitrofenol, triparanol, antikholinesterase, klorpromazin, miotik, klorpromazin, busulfan, dan besi).

e) Lain-lain kelainan kongenital, sindrom tertentu, disertai kelainan kulit (sindermatik), tulang (disostosis kraniofasial, osteogenesis inperfekta, khondrodistrofia kalsifikans kongenita pungtata), dan kromosom.

f) Katarak radiasi c. Katarak senil

adalah semua kekeruhan lensa yang terdapat pada usia lanjut, yaitu usia diatas 50 tahun. Perubahan lensa pada usia lanjut:

1) Kapsul

(4)

c) Bentuk lamel kapsul berkurang atau kabur. d) Terlihat bahan granular

2) Epitel – makin tipis

a) Sel epitel (germinatif) pada equator bertambah besar dan berat. b) Bengkak dan vakuolisasi mitokondria yang nyata.

3) Serat lensa :

a) Lebih irregular

b) Pada korteks jelas kerusakan serat sel.

c) Brown sclerotic nucleus, sinar ultraviolet lama kelamaan merubah protein nukleus ( histidin, triptofan, metionin, sistein, tirosin) lensa, sedang warna coklat protein lensa nukleus mengandung histidin dan

triptofan dibanding normal. 4) Korteks tidak berwarna karena:

a) Kadar asam askorbat tinggi dan menghalangi fotooksidasi. b) Sinar tidak banyak mengubah protein pada serat muda.

Katarak senil biasanya berkembang lambat selama beberapa tahun, kekeruhan lensa dengan nukleus yang mengeras akibat usia lanjut yang biasanya mulai terjadi pada usia lebih dari 60 tahun. Katarak senil secara klinik dibagi menjadi empat stadium yaitu:

1) Insipien

(5)

2) Intumesen

Kekeruhan lensa disertai pembengkakan lensa akibat lensa degeneratif yang menyerap air. Masuknya air ke dalam celah lensa disertai pembengkakan lensa menjadi bengkak dan besar yang akan mendorong iris sehingga bilik mata menjadi dangkal dibanding dengan keadaan normal. Pencembungan lensa ini akan dapat memberikan penyulit glaukoma. Katarak intumesen biasanya terjadi pada katarak yang berjalan cepat dan mengakibatkan miopia lentikular. Pada keadaan ini dapat terjadi hidrasi korteks sehingga akan mencembung dan daya biasnya akan bertambah, yang memberikan miopisasi. Pada pemeriksaan slitlamp terlihat vakuol pada lensa disertai peregangan jarak lamel serat lensa.

3) Imatur

Sebagian lensa keruh atau katarak. Katarak yang belum mengenai seluruh lapis lensa. Pada katarak imatur akan dapat bertambah volume lensa akibat meningkatnya tekanan osmotik bahan lensa yang degeneratif. Pada keadaan lensa mencembung akan dapat menimbulkan hambatan pupil, sehingga terjadi glaukoma sekunder.

4) Matur

Pada keadaan matur kekeruhan telah mengenai seluruh masa lensa. Kekeruhan ini bisa terjadi akibat deposisi ion Ca yang menyeluruh. Bila katarak imatur atau intumesen tidak dikeluarkan maka cairan lensa akan keluar, sehingga lensa kembali pada ukuran yang normal. Akan terjadi kekeruhan seluruh lensa yang bila mana akan mengakibatkan kalsifikasi lensa. Bilik mata depan akan berukuran kedalaman normal kembali, tidak terdapat bayangan iris pada lensa yang keruh, sehingga uji bayangan iris negatif.

5) Hipermatur morgagni

(6)

dan lipatan kapsul lensa. Kadang-kadang pengkerutan berjalan terus sehingga hubungan dengan zonula zinn menjadi kendor. Bila proses katarak berjalan lanjut disertai dengan kapsul yang tebal maka korteks yang berdegenerasi dan cair tidak dapat keluar, maka korteks akan memperlihatkan bentuk sebagai sekantong susu disertai dengan nukleus yang terbenam di dalam korteks lensa karena lebih berat. Keadaan ini disebut katarak Morgagni.

3. Etiologi

Menurut Mansjoer (2000), faktor risiko terjadinya katarak bermacam-macam, yaitu sebagai berikut:

a. Usia lanjut

Katarak umumnya terjadi pada usia lanjut (katarak senil). Dengan bertambahnya usia lensa akan mengalami proses menua, di mana dalam keadaan ini akan menjadi katarak.

b. Kongenital

Katarak dapat terjadi secara kongenital akibat infeksi virus di masa pertumbuhan janin

c. Genetic

Pengaruh genetik dikatakan berhubungan dengan proses degenerasi yang timbul pada lensa.

d. Diabetes mellitus

(7)

e. Merokok

Merokok dan mengunyah tembakau dapat menginduksi stress oksidatif dan dihubungkan dengan penurunan kadar antioksidan, askorbat dan karetenoid. Merokok menyebabkan penumpukan molekul berpigmen 3 hydroxykhynurine

dan chromophores, yang menyebabkan terjadinya penguningan warna lensa. Sianat dalam rokok juga menyebabkan terjadinya karbamilasi dan denaturasi protein.

f. Konsumsi alcohol

Peminum alkohol kronis mempunyai risiko tinggi terkena berbagai penyakit mata, termasuk katarak. Dalam banyak penelitian alkohol berperan dalam terjadinya katarak. Alkohol secara langsung bekerja pada protein lensa dan secara tidak langsung dengan cara mempengaruhi penyerapan nutrisi penting pada lensa.

4. Tanda dan gejala

(8)

5. Patofisiologi

Lensa yang normal adalah struktur posterior iris yang jernih, transparan, berbentuk seperti kancing baju dan mempunyai kekuatan refraksi yang besar. Lensa mengandung tiga komponen anatomis. Pada zona sentral terdapat nukleus, di perifer ada korteks, dan yang mengelilingi keduanya adalah kapsul anterior dan posterior. Dengan bertambahnya usia, nucleus mengalami perubahan warna menjadi coklat kekuningan. Disekitar opasitas terdapat densitas seperti duri di anterior dan posterior nukleus. Opasitas pada kapsul posterior merupakan bentuk katarak yang paling bermakna, nampak seperti kristal salju pada jendela.

Perubahan fisik dan kimia dalam lensa mengakibatkan hilangnya transparansi. Perubahan pada serabut halus multipel (zunula) yang memanjang dari badan silier ke sekitar daerah di luar lensa, misalnya dapat menyebabkan penglihatan mengalami distorsi. Perubahan kimia dalam protein lensa dapat menyebabkan koagulasi, sehingga mengabutkan pandangan dengan menghambat jalannya cahaya ke retina. Salah satu teori menyebutkan terputusnya protein lensa normal terjadi disertai influks air ke dalam lensa. Proses ini mematahkan serabut lensa yang tegang dan mengganggu transmisi sinar. Teori lain mengatakan bahwa suatu enzim mempunyai peran dalam melindungi lensa dari degenerasi. Jumlah enzim akan menurun dengan bertambahnya usia dan tidak ada pada kebanyakan pasien yang menderita katarak.

(9)

6. Komplikasi

Bila katarak dibiarkan maka akan terjadi komplikasi berupa glaukoma dan uveitis. Glaukoma adalah peningkatan abnormal tekanan intraokuler yang menyebabkan atrofi saraf optik dan kebutaan bila tidak teratasi (Doenges, 2000). Uveitis adalah inflamasi salah satu struktur traktus uvea (Smeltzer, 2002).

7. Penatalaksanaan

Pembedahan dilakukan bila tajam penglihatan sudah menurun sedemikian rupa sehingga mengganggu pekerjaan sehari-hari atau bila telah menimbulkan penyulit seperti glaukoma dan uveitis (Mansjoer, 2000). Dalam bedah katarak, lensa diangkat dari mata (ekstraksi lensa) dengan prosedur intrakapsular atau ekstrakapsular. Ekstraksi intrakapsular yang jarang lagi dilakukan saat ini adalah mengangkat lensa in toto, yakni di dalam kapsulnya melaui insisi limbus superior 140-1600. Pada ekstraksi ekstrakapsular juga dilakukan insisi limbus superior, bagian anterior kapsul dipotong dan diangkat, nukleus diekstraksi dan korteks lensa dibuang dari mata dengan irigasi dan aspirasi atau tanpa aspirasi sehingga menyisakan kapsul posterior.

Fakofragmentasi dan fakoemulsifikasi dengan irigasi atau aspirasi (atau keduanya) adalah teknik ekstrakapsular yang menggunakan getaran-getaran ultrasonik untuk mengangkat nukleus dan korteks melalui insisi lumbus yang kecil (2-5 mm), sehingga mempermudah penyembuhan luka pasca operasi. Teknik ini kurang bermanfaat pada katarak senilis yang padat dan keuntungan insisi lumbus yang kecil agak berkurang jika dimasukkan lensa intraokuler. Pada beberapa tahun silam, operasi katarak ekstrakapsular telah menggantikan prosedur intrakapsular sebagai jenis bedah katarak yang paling sering. Alasan utamanya adalah bahwa apabila kapsul posterior utuh, ahli bedah dapat memasukkan lensa intra okuler ke dalam kamera posterior. Insiden komplikasi pasca operasi seperti abasio retina dan edema makula lebih kecil bila kapsul posteriornya utuh.

(10)

atau mengangkat benda berat selama sekitar satu bulan. Matanya dapat dibalut selama beberapa hari, tetapi kalau matanya terasa nyaman, balutan dapat dibuang pada hari pertama pasca operasi dan matanya dilindungi dengan kacamata. Perlindungan pada malam hari dengan pelindung logam diperlukan selama beberapa minggu. Kacamata sementara dapat digunakan beberapa hari setelah operasi, tetapi biasanya pasien melihat dengan cukup baik melalui lensa intraokuler sambil menantikan kacamata permanen.(Vaughan, 2000).

8. Pemeriksaan penunjang

Selain uji mata yang biasanya dilakukan menggunakan kartu snellen, keratometri, pemeriksaan lampu slit dan oftalmoskopi, maka A-scan ultrasound

(echography) dan hitung sel endotel sangat berguna sebagai alat diagnostik, khususnya bila dipertimbangkan akan dilakukan pembedahan. Dengan hitung sel endotel 2000 sel/mm3, pasien ini merupakan kandidat yang baik untuk dilakukan fakoemulsifikasi dan implantasi IOL (Smeltzer & Bare, 2002).

9. Pathway Terlampir

B. Asuhan Keperawatan 1. Pengkajian

a. Identitas Klien: nama, umur, jenis kelamin, agama, pendidikan, alamat, pekerjaan, status perkawinan.

Katarak biasanya lebih banyak pada orang yang berusia lanjut. Pekerjaan yang sering terpapar sinar ultraviolet akan lebih berisiko mengalami katarak. b. Riwayat kesehatan: diagnosa medis, keluhan utama, riwayat penyakit

sekarang, riwayat kesehatan terdahulu terdiri dari penyakit yang pernah dialami, alergi, imunisasi, kebiasaan/pola hidup, obat-obatan yang digunakan, riwayat penyakit keluarga.

(11)

c. Riwayat penyakit saat ini d. Riwayat penyakit dahulu e. Riwayat penyakit keluarga

Biasanya terdapat keluarga yang lain yang juga mengalami katarak. f. Genogram

g. Pengkajian Keperawatan:

1) Persepsi kesehatan & pemeliharaan kesehatan

Persepsi kesehatan dan pemeliharaan kesehatan berbeda pada setiap klien. 2) Pola nutrisi/metabolik

Tidak ada gangguan terkait pola nutrisi dan metabolic klien. 3) Pola eliminasi

Tidak ada gangguan pada pola eliminasi klien. 4) Pola aktivitas & latihan

Perubahan aktivitas biasanya/ hobi sehubungan dengan gangguan penglihatan.

5) Pola tidur & istirahat

Tidak ada gangguan pola tidur dan istirahat yang disebabkan oleh katarak. 6) Pola kognitif & perceptual

Gangguan penglihatan (kabur/tak jelas), sinar terang menyebabkan silau dengan kehilangan bertahap, kesulitan memfokuskan kerja dengan dekat/ merasa di ruang gelap.

7) Pola persepsi diri

Klien berisiko mengalami harga diri rendah karena kondisi yang dialaminya.

8) Pola seksualitas & reproduksi

Tidak ada gangguan pada pola seksualitas dan reproduksi yang diakibatkan oleh katarak.

9) Pola peran & hubungan

(12)

10) Pola manajemen & koping stress

Klien dapat mengalami stress karena klien tidaka dapat melihat secara jelas seperti sebelumnya.

11) Sistem nilai dan keyakinan

System nilai dan keyakinan seseorang akan berbeda satu sama lain. h. Pemeriksaan fisik

1) Keadaan umum, tanda vital

2) Pengkajian Fisik (inspeksi, palpasi, perkusi, auskultasi): kepala, mata, telinga, hidung, mulut, leher, dada, abdomen, urogenital, ekstremitas, kulit dan kuku, dan keadaan lokal.

Pada inspeksi mata akan tampak pengembunan seperti mutiara keabuan pada pupil sehingga retina tak akan tampak dengan oftalmoskop (Smeltzer, 2002). Katarak terlihat tampak hitam terhadap refleks fundus ketika mata diperiksa dengan oftalmoskop direk. Pemeriksaan slit lamp

(13)

2. Diagnosa Keperawatan

Diagnosa keperawatan yang dapat muncul pada klien yang mengalami katarak adalah:

a. Hambatan berjalan (00088) berhubungan dengan adanya gangguan penglihatan (katarak)

b. Risiko jatuh (00155) dengan faktor risiko fisiologis: kesulitan melihat (katarak)

c. Risiko trauma (00038) dengan faktor risiko penglihatan yang buruk (katarak) d. Ansietas (00146) berhubungan dengan stress situasional akibat prosedur

medis

(14)

3. Intervensi Keperawatan

No Diagnosa Tujuan Kriteria hasil Intervensi Rasional

1. Hambatan berjalan (00088)

1. Identifikasi kebiasaan dan faktor-faktor yang bantu (tongkat atau walker) 6. Instruksikan pada klien untuk

meminta bantuan ketika melakukan perpindahan, joka

1. Mengetahui kebiasaan-kebiasaan klien yang berpotensi mengakibatkan jatuh pada klien

2. Mengetahui penyebab jatuh klien agar untuk selanjutnya dapat dihindari

3. Memodifikasi lingkungan yang berisiko menyebabkan jatuh klien

4. Membantu klien untuk berjalan, agar dapat menghindari benda yang menghalangi klien ketika berjalan 5. Agar klien dapat menggunakan alat

bantu dengan tepat

(15)

diperlukan dalam meminimalkan risiko terjadinya jatuh pada klien

1. Berikan informasi faktual meliputi dignosa, prognosis, dan terapi sesuai kondisi klien 2. Dampingi klien untuk

mengurangi ketakutan klien

3. Kaji respon kecemasan verbal maupun non verbal klien

4. Gunakan komunikasi terapeutik dan pendekatan yang baik pada klien

3. Respon kecemasan digunakan untuk mengetahui adanya perubahan emosi pada klien

(16)

4. menggunakan teknik

relaksasi untuk mengurani ansietas

5. Berikan terapi nonfarmakologis untuk mengurangi ansietas klien

6. Kolaborasi dengan tim medis terkait pemberian obat untuk menurunkan kecemasan klien

5. Terapi non farmakologis digunakan untuk membuat klien nyaman sekaligus mengurangi kecemasan yang dialami klien

(17)

DAFTAR PUSTAKA

Bulechek, Gloria M., et al. Tanpa tahun. Nursing Interventions Classification (NIC). Fifth Edition. Mosby Elsevier.

Ilyas, Sidarta. 2004. Ilmu Penyakit Mata. Edisi III. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Mansjoer, Arief. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi III. Jilid II. Media Aesculapius: Jakarta.Moorhead, Sue., et al. Tanpa tahun. Nursing Outcomes Classification (NOC). Mosby Elsevier.

NANDA. 2012. Nursing Diagnosis Definitions and Classification. Wiley-Blackwell.

Referensi

Dokumen terkait

Surat Keterangan Kesediaan Barang/Jaminan Suplay dari Produsen Pupuk Organik dan Pestisida, dan surat dukungan suplayer untuk gunting pangkas, serta kesanggupan

Nilai bobot yang dihasilkan pada perhitungan Fuzzy AHP ini mengindikasikan tingkat kepentingan dari setiap kriteria penilaian kinerja, dimana semakin besar bobot yang

a Sebelum proses penarikan konduktor dan ground wire dilaksanakan, harus di cek terlebih dahulu seluruh jalur yang akan dilalui pekerjaan stringing apakah telah aman, terutama

2 data spasial dan atribut jalan, sungai, lokasi bangunan, landuse Kota Bogor dapat diperoleh dari data peta format vektor pada penelitian sebelumnya yakni Sistem

Pengaruh Ekstrak Etanol Tali Putri (Cassytha filiformis L.) terhadap Fungsi Hati Mencit Putih Jantan.. Padang : Fakultas Farmasi

Secara umum pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran inkuiri dengan pendekatan saintifik pada siklus I telah terlaksana cukup baik. Meskipun

Pengobatan secara tradisional masih tetap berlangsung di desa ini yaitu terdapat dukun kampung yang biasa membantu dalam kegiatan melahirkan dan melakukan

Objek penelitian merupakan suatu atribut atau sifat atau nilai dari orang objek atau kegiatan yang mempunyai variabel tertentu yang diterapkan untuk dipelajari dan ditarik