TUGAS METODOLOGI PENELITIAN ILMU PEMERINTAHAN
PRO DAN KONTRA MENGENAI KENAIKKAN TUNJANGAN UANG MUKA FASILITAS PEJABAT NEGARA DILIHAT DARI PENDEKATAN PILIHAN
RASIONAL
DOSEN PENGAMPU : MUHTAR HABODDIN, S.IP, MA
OLEH :
MOCHAMAD TAUFIQ ISMAIL
NIM : 1351 2060 1111 021
ILMU PEMERINTAHAN
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS BRAWIJAYA
A. Latar Belakang.
Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi yang terus mengalami kenaikan seiring dengan terus melonjaknya harga minyak dunia telah menyebabkan kesengasaraan bagi rakyat miskin di Indonesia. Ditengah gejolak harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi yang terus mengalami naik turun, pejabat negara justeru menunjukkan perilaku yang tidak berpihak kepada rakyat kecil. Pejabat negara seolah menutup mata dengan keadaan rakyat miskin di Indonesia yang terus menjerit kesulitan hidup, harga-harga menjadi naik yang disebabkan oleh kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi. Mereka menggunakan uang negara dengan tidak memperhatikan kondisi bangsa sehingga tersipta ketidakadilan di negeri ini.
Ketua DPR-RI Setya Novanto melalui surat Nomor AG/00026/DPR RI/I/2015 meminta dilakukan revisi besaran tunjang uang muka bagi pejabat negara dan lembaga negara untuk pembelian kendaraan perorangan, yang dalam Perpres Nomor 68 Tahun 2010 ditetapkan sebesar Rp 116.500.000,- (seratus enam belas juta lima ratus ribu rupiah) disesuaikan menjadi Rp 250.000.000,- (dua ratus lima puluh juta rupiah).1Peraturan Presiden
No. 39 Tahun 2015 adalah sebgai bukti bahwa kebijakan pemerintah yang hanya memihak kepada para pejabat negara. Seolah-olah pejabat negara dimanjakan dengan segala keistimewaan yang diperoleh melalui Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) alias uang rakyat. Perpres No. 39 Tahun 2015 tentang perubahan atas Peraturan Presiden nomor 68 tahun 2010 tentang fasilitas uang muka bagi pejabat negara pada lembaga negara untuk pembelian kendaraan perorangan. Pada Peraturan Presiden tersebut menjelaskan bahwasanya tunjangan mobil untuk para pejabat negara dinaikkan dari senilai Rp. 116.500.000 menjadi sebesar Rp. 210.280.000. Kenaikan tunjangan uang muka bagi pejabat negara tersebut tidak sesuai dengan keadaan dan kondisi bangsa Indonesia saat ini. Kebijakan ini justeru hanya memanjakan pejabat negara saja.
Mereka yang mendapat uang muka ini adalah anggota Dewan Perwakilan Rakyat (560 orang), anggota Dewan Perwakilan Daerah (132 orang), hakim agung (40 orang), hakim konstitusi (9 orang), anggota Badan Pemeriksa Keuangan (5 orang), dan anggota Komisi Yudisial (7 orang).2 Dengan jumlah pejabat negara yang berjumlah banyak seperti itu akan
ada pembengkakan anggaran negara untuk post pemberian fasilitas tunjangan penabat negara.
1 http://setkab.go.id/inilah-kronologis-lahirnya-perpres-kenaikan-tunjangan-uang-muka-kendaraan-pejabat-negara/ diunduh tanggal 07 April 2015 pukul 07.24
Ini sangat bertentangan terhadap janji Presiden Joko Widodo untuk penghematan penggunaan anggaran negara.
Kecurigaan dalam penggunaan uang negara oleh pejabat tersebut terlihat setelah Presiden Joko Widodo menyetujui begitu saja apa yang telah diusulkan oleh Pimpinan DPR-RI. Apabila ini bukan masalah yang bersifat politis tentu saja Presiden Joko Widodo menolak dan mengkaji ulang apa yang telah di usulkan oleh Ketua DPR-RI Setya Novanto tersebut. Selalu ada kompromi dalam setiap pembuatan kebijakan yang dialkukan oleh beberapa pihak. Ada yang menilai bahwa Presien Joko Widodo menyetujui ususalan yang di ajukan karena sebagai salah satu cara balas budi kepada legislatif setelah pemilu dan pejabat agar tidak berseberangan atau sejalan dengan pemerintah.
Peraturan ini semakin janggal ketika Presiden Joko Widodo baru mengkonsultasikan No. 39 Tahun 2015 tentang pemberian fasilitas uang muka bagi pejabat negara setelah preaturan ini disahkan. Peraturan yang semestinya dikonsultasikan setelah usulan yang disampaikan oleh Ketua DPR-RI Setya Novanto justeru baru dikonsultasikan setelah menjadi keputusan resmi. Ada unsur politis yang sangat kuat dan saling kompromi dalam pembuatan Perpres mengenai pemberian fasilitas uang muka bagi pejabat negara kali ini.
Pemerintahan Presiden Joko Widodo mendapat kritikan yang sangat keras terkait penerbitan Peraturan Presiden yang ditetapkan tertanggal 20 Maret 2015 oleh berbagai kalangan di Indonesia. Ini bukanlah persoalan kriminalitas yang dilakukan oleh pejabat negara. Ini adalah soal etika publik pejabat negara dalam melaksanakan kegiatannya menjalankan pemerintahan yang baik. Tidak menjadi masalah bila penggunaan uang rakyat untuk kepentingan pejabat negara asalkan digunakan sesuai dengan rasa tanggungjawab yang tinggi.
Penilian terhadap nilai moral telah disampaikan oleh beberapa kalangan di Indonesia melalui krtikan-kritikannya. Pejabat negara yang seharusnya menjadi contoh dan panutan oleh seluruh rakyat di Indonesia seharusnya mempunyai etika yang baik. Meskipun mereka menggunakan uang Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) telah sesuai aturan hukum yang berlaku, mereka telah membuat sakit hati para masyarakat di Indonesia. Tidak ada yang salah untuk menaikkan tunjangan uang muka pembelian mobil bagi pejabat negara yang tethormat. Akan tetapi dalam membuat pertauaran baru mengenai itu Presiden dan jajarannya harus mengoreksi terlebih dahulu saat yang tepat untuk memberlakukan peraturan yang telah dikeluarkan tersebut.
Pendektatan pilihan rasional dianggap cocok untuk menganalisis masalah yang baru-baru ini terjadi. Peraturan yang semula diusulkan dari kalangan legislatif atau DPRD. Hal ini sesuai fakta pada 5 Januari 2015, Ketua DPR-RI Setya Novanto melalui surat Nomor AG/00026/DPR RI/I/2015 meminta dilakukan revisi besaran tunjang uang muka bagi pejabat negara dan lembaga negara untuk pembelian kendaraan perorangan, yang dalam Perpres Nomor 68 Tahun 2010 ditetapkan sebesar Rp 116.500.000,- (seratus enam belas juta lima ratus ribu rupiah) disesuaikan menjadi Rp 250.000.000,- (dua ratus lima puluh juta rupiah).3
Berdasarkan fakta tersebut diketahui bahwa ada maksud yang lain dari penyampaian usulan tersebut yang menguntungkan bagi kalangannya.
Hal ini sesua dengan prinsip dari pendekatan rational choice yakni individu sebagai aktor terpenting dalam perpolitikan dan sebagai makhluk rasional selalu mempunyai tujuan. Sebagai makhluk rasional ia selalu mempunyai tujuan-tujuan (goal-seekig atau goal-oriented) yang mencerminkan apa yang dianggapnya kepentingan diri sendiri.4 Ia melakukan hal itu
dalam situasi terbatasnya sumberdaya (resource restaint), dan karena itu ia perlu membuat pilihan.5 Pendekatan pilihan rasional memusatkan perhatian pada pilihan yang dibuat oleh
para individu yang terlibat dalam pembuatan kebijakan pemerintah.6 Asumsi utama dari
pendekatan pilihan rasional inin adalah bahwa setiap kepususan yang diambil oleh individu atau aktor politik memiliki tujuan prbadi.
3 http://setkab.go.id/inilah-kronologis-lahirnya-perpres-kenaikan-tunjangan-uang-muka-kendaraan-pejabat-negara/ diunduh tanggal 07 April 2015 pukul 05.38.
4 Miriam Budiarjo, ”Dasar-dasar Ilmu Politik”, Kompas Gramedia, Jakarta, 2010, hlm 93. 5 Ibid.
Seperti yang dijelaskan Mouzelis (1975) pada jurnal analis sosial menjelaskan bahwa organisasi (termasuk di dalamnya organisasi pemerintah) terdiri atas sejumlah individu yang memiliki tata nilai pribadi, harapan, dan pola perilaku sendiri. Adalah suatu fenomenayang tidak dapat dihindari bila individu-individu yang tergabung di dalam organisasi tersebut memiliki sejumlah tujuan pribadi dan akan berusaha memperjuangkan pencapaiannya.7
Sehingga keputusan yang diambil oleh eksekutif pada haikatnya adalah keputusan yang dijalani melalui berbagai kompromi-kompromi dari sebuah perjuangan untuk mencapai tujuan kelompok atau organisasi dan kepentingan individu.
Sekalipun berbagai penganut Rational Choice mempunyai penjelasan yang berbeda-beda, substansi dasar dari doktrin ini telah dirumuskan oleh James B. Rule, sebagai berikut (terjemahannya dipersingkat)8:
1. Tindakan manusia (human action) pada dasarnya adalah “instrumen” (dalam arti : alat bantu), agar perilaku manusia dapat dijelaskan sebagai usaha untuk mencapai suatu tujuan yang sedikit banyak jarak jauh. Untuk manusia, atau untuk kesatuan yang lebih besar, tujuan atau nilai terusan secara hierarkis yang mencerminkan preferensinya mengenai apa yang diinginkan atau diperlukannya. Hierarki preferensi ini relatif stabil.
2. Para aktor merumuskan perilakunnya melalui perhitungan rasional mengenai aksi mana yang akan memaksimalkan keuntungannya. Informasi relevan yang dimiliki oleh aktor sangat memengaruhi hasil dari perhitungannya.
3. Proses-proses sosial berskala besar termasuk hal-hal seperti ratings, institusi dan praktik-praktik merupakan hasil dair kalkulasi seperti itu. Mungkin akibat dari pilihan kedua, pilihan ketiga, atau pilihan N perlu dilacak.
Pendekatan pilihan rasional adalah pendekan yang mengamati sosok aktor politik yang membuat kompromi dengan aktor-aktor politik lainya. Aktor politik membuat berbagai alternatif-alternatif keputusan yang apabila keputusan yang satu tidak berhasil diimplementasikan, masih ada alternatif kebijakan yang lain. Kebijakan-kebijakan yang dibuat melalui kompromi-kompromi tersebut tentu saja menguntungkan bagi aktor politik yang berkepentingan.
C. Latar Belakang Lahirnya Perpres No. 39 Tahun 2015.
7 Jurnal Analisis Sosial Demokratisasi dan Kemiskinan atau Kesempatan ?, Yayasan Obor Indonesia, Volume 6 : hlm 93
Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI) Setya Novanto telah mengirim surat kepada Menteri Sekretaris Kabinet yakni Andi Wijoyanto mengenai menaikkan biaya tunjangan mobil oejabat negara. Kemudian Menteri Sekretaris Kabinet menindaklanjuti kiriman surat yang disampaikan oleh Setya Novanto dengan mengirim surat kepada Menteri Kaeuangan Bambang Brodjonegoro.
Adapun pejabat negara yang dimaksud dalam ketentuan ini adalah Anggota DPR, Dewan Perwakilan Daerah, hakim Mahkamah Agung, hakim Mahkamah Konstitusi, Anggota Badan Pemeriksa Keuangan, dan Anggota Komisi Yudisial.9 Tunjangan ini akan diberikan
kepada pejabat non-pimpinan di setiap periode masa jabatan, atau enam bulan setelah dilantik. Sedangkan pimpinan setingkat ketua dan wakil ketua tidak menerima tunjangan DP pembelian mobil karena berhak mendapatkan mobil dinas.10
Pimpinan DPR-RI Setya Novanto memiliki alasan tersendiri dalam menanggapi persoalan yang sedang dibicarakan berbagai kalangan di Indonesia. Dia berdalih usulan yang disampaikan kepada presiden tersebut sangat normatif dan sangat wajar sekali dilakukan oleh lembaga-lembaga negara, kementerian-kementerian setiap awal periode pemerintahan. Usulan kenaikan tunjangan uang muka kepada pejabat negara sudah ada sejak tahun 2010 yakni pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Alasan lonjakan inflasi yang telah diutarakan sangatlah tidak logis dan rasional. Pasalnya kenaikan uang muka mobil yang disetujui Jokowi kali ini mencapai 85 persen dari harga semula.11
Pertimbangan Presiden Joko Widodo untuk meloloskan usulan yang disampaikan melalui ketua DPR-RI yakni dengan menyampaikan surat kepada Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro. Dalam surat itu, Menteri Keuangan menyampaikan, bahwa dengan mempertimbangkan prinsip-prinsip pengelolaan keuangan negara yaitu tertib, taat pada peraturan perundang-undangan, efisiensi, ekonomis, efektif, transparan dan bertanggungjawab dengan memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan, maka besaran fasilitas uang muka bagi pejabat negara pada lembaga negara untuk pembelian kendaraan perorangan adalah sebesar Rp. 210.890.000,- (dua ratus sepuluh juta delapan ratus sembilan
9 http://www.tempo.co/read/news/2015/04/06/078655613/Ini-Alasan-DPR-Usulkan-Kenaikan-Uang-Muka-Mobil-Pejabat Diunduh tanggal 07 April 2015 pukul 12.33
10 Ibid.
puluh ribu rupiah).12Hanya melalui pertimbangan inilah yang memebuat Presiden Joko
Widodo mengundangkan usulan yang disampaikan dari pihak legislatif tersebut.
Presiden seharusnya mengingat janji untuk menghemat pengeluaran pada Anggara Pendapatan Belanja Negara (APBN). Pengeluaran dana yang diperoleh dari APBN untuk hal yang digunakan untuk kepentingan pribadi seharusnya tidak lolos begitu saja. Dengan kata lain anggaran negara dapat digunakan untuk hal yang seharusnya bagi kepentingan rakyat.
Pendekatan pilihan rasional juga menjelaskan bahwa pasti ada kompromi yang dilakukan antara aktor politik yang menguntungkan bagi keduanya. Melihat permaslahan dengan dikelurkannya Perpres No. 39 Tahun 2015 tentang kenaikan tunjangan uang muka bagi pejabat negara, ada aktor-aktor politik yang diuntungkan. Antara Presiden Joko Widodo dengan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI) khususnya.
Selama ini antara legislatif sering tidak sejalan dan bertolak belakang dengan apa yang menjadi kebijakan dari pemerintahan Joko Widodo. Menjadi sangat politis ketika Presiden moloskan usulan kenaikan tunjangan dan fasilitas pejabat negara yang disampaikan ketua DPR-RI. Keuntungan yang didapat dari Presiden Joko Widodo adalah agar legislatif di negeri ini tidak berseberangan dengan pemerintah yang dipimpnnya. Hal tersebut sangatlah tidak sesuai dengan janji presiden untuk penghematan anggaran negara.
Kalangan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) melalui ketuanya mendapat keuntungan dari usulan yang disampaikan oleh pimpinannya. Untuk mengembalikan “modal” atau bahkan “utang”yang telah dikeluarkan ketika kampanye khususnya, pastinya kandidat terpilih akan memeras pikiran dan tenaga mati-matian agar dapat mencukupinya, akhirnya cara-cara jangka pendek pun dia lakuakan meski itu harus menabrak aturan hukum yang berlaku dan risiko masuk bui pun siap menanti.13Tujuan dari dilakukannya cara-cara seperti itu adalah
untuk mengembalikan biaya pemilu yang telah dikeluarkan sekaligus investasi politik pada masa mendatang apabila masih ada naiatan untuk terjun pada pertarungan politik.
12 http://setkab.go.id/inilah-kronologis-lahirnya-perpres-kenaikan-tunjangan-uang-muka-kendaraan-pejabat-negara/, diundih tanggal 08 April 2015 pukul 05.26
D.Etika Pejabat Publik yang Dipertanyakan.
Dikeluarkannya Peraturan Presiden No. 39 Thun 2015 menyebabkan berbagai kritikan muncul dari berbagai kalangan. Seperti halnya kritikan terhadap janji Presiden Joko Widodo untuk menghemat pengeluaran dana pada Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN). Kritikan yang dilontarkan oleh beberapa kalangan mengenai Peraturan Presiden yang tidak tepat momentumnya. Momentum yang sangat tidak tepat dikarenakan kebijakan menaikkan tunjangan fasilitas uang muka mobil pejabat negara dikeluarkan pada saat rakyat sedang menderita dengan berbagai kenaikkan harga. Kenaikkan harga barang-barang yang disebabkan karena kebijakan Presiden Joko Widodo untuk melepas harga Bahan Bakar Minyak (BBM) kepada harga pasar. Hal itu menyebebabkan subsidi untuk rakyat yang membutuhkan di Indonesia di cabut. Dengan dikeluarkannya Perpres No. 39 Tahun 2015 telah menyakiti masyarakat Indonesia karena sangat tidak berpihak kepada rakyat miskin.
Nuansa politis yang terjadi antara eksekutif dan legislatif mewarnai dikeluarkannya Perpres yang menguntungkan bagi kdua belah pihak. Mereka terliabat dalam “permainan tawar –menawar” dimana kemenangan lebih tergantung pada “keterampilan dan kehendak menggunakan keuntungan tawar-menawar [lain]” dan “persepsi permainan lain”ketimbang pada posisi dalam sebuah hirarki.14 Jika diamati antara pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat
(DPR) dengan Presiden merupakan kedudukan yang sejajar, keadaan tersebut bisa saling menguntungkan. Disaat Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) menginginkan keuntungan yang diperloeh dari sebuah keputusan, mereka dapat bekerja sama dan saling kompromi dengan Presiden seperti halnya kebijakan ini. Begitu juga lembaga eksekutif ingin mendapatkan dukungan dari kalangan legislatif, ini merupakan balas budi agar pihak legislatif dapat sejalan dan sependapat dengan eksekutif. Hal tersebut berguna untuk melancarkan dan agar dipermudah urusan dalam pembuatan sebuah kebijakan agar disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).
Nuansa politis memang sangat kental, dan wajar pada sebuah pembuatan kebijakan. Tetapi ada yang sangat dirugikan dalam hal ini, yakni rakyat Indonsia. Disaat harga barang-barang naik dikarenakan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) naik, ada kebijakan pemerintah yang menguntungkan bagi kaum elit saja. Etika pejabat publik dipertanyakan disaat seperti ini dimana rakyat sedang susah payah meneruskan kehidupan demi menghidupi dirinya.
D.Untung dan Rugi.
Perpres No. 68 Tahun 2010 sama saja halnya dengan Perpres yang baru saja diputuskan oleh Presiden Joko Widodo yakni Perpres No. 39. Tahun 2015. Perpres No. 68 Tahun 2010 dinilai hanya pemberian tunjangan secara simbolik kepada pejabat negara. Dana yang didapat dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) yang seharusnya digunakan untuk kepentingan rakyat digunakan tidak sesuai dengan tujuan dan harapannya. Hal tersebut dikarenakan ana tunjangan yang diberikan kepada para pejabat negara banyak yang masuk ke kantong pribadi.
Sama halnya dengan Perpres No. 39 Tahun 2015, perpres ini diberikan hanyalah bersifat simbolik saja kepada pejabat negara. Dana tunjangan yang diberikan kepada pejabat negara bisa memunculkan korupsi baru dan hanya masuk ke kas pribadi pejabat negara.
Ini adalah cara baru bagi kedua lembaga negara untuk mendapatkan satu titik temu. Cara diamana mereka, kedua lemabaga negara saling mendapatka keuntungan yang diperloeh dari kerjasama dan kompromi yang dilakukan.
Kedua Perpres baik Perpres yang dikeluarkan saat pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono maupun Presiden Joko Widodo sama-sama menguntungkan bagi kalangan elit. Kedua perpres sama-sama merugikan bagi masyarkat karena tidak memeihak sama sekali bagi msayarakat kecil.
Peraturan Presiden No. 39 Tahun 2015 mengenai kenaikkan tunjangan uang muka pejabat negara yang diusulkan oleh ketua DPR RI sangatlah bernuansa politis. Banyak kritikan yang dlontarkan perilah peraturan yang dikeluarkan oleh Presiden Joko Widodo. Pasalnya mobil dinas para pejabat negara yang sekiranya masih sangat layak dipakai dalam keseharian dan jauh dari kata tidak layak. Berkat keputusan itulah terkuak nuansa politis yang terjadi antara kesua lemabaga negara tersebut.
Etika pejabat negara kembali dipertanyakan dikarenakan karean dianggap tidak berpihak terhadap masyarakat miskin Indonesia. Perilaku pejabat negara yang seharusnya menjadi contoh yang baik bagi masyarakat justeru menimbulkan kekecawaan. Bagaimana tidak, peraturan yang menguntungkan hanya bagi kalangan elit tersebut dikeluarkan pada saat yang tidak tepat. Perpres No. 39 Tahun 2015 tersebut dikeluarkan pada saat Presiden Joko Widodo mengeluarkan kebijakan kenaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Sehingga banyak masyarakat yang menganggap pemerintahan Joko Widodo tidak berpihak kepada masyarakat miskin.
Keputusan yang diambil selalu ada kepentingan didalamnya. Seperti dikeluarkannya Perpres No. 39 Tahun 2015 yang saling menguntungkan bagi keduannya. Bagi kalangan legislatif kenaikkan tunjangan fasilitas uang muka bagi pejabat negara diindikasi masuk ke kantong pribadi masing-masing anggota dewan. Dana tunjangan yang didapat dari anggaran negara tersebut digunakan untuk mengembalikan modal kampanye masing-masing anggota dewan. Dari kalangan eksekutif kesempatan tersebut dipergunakan untuk “berdamai” dengan pihak legislatif yang selama ini sering berseberangan. Hal-hal tersebut merupakan berbagai kompromi dan kerja sama yang menguntungkan yang dilakukan oleh kedua lembaga negara di Indonesia.
Melihat kritikan yang sangat pedas dilontarkan berbagai kalangan mengenai kebijakan Presiden Joko Widodo. Presiden harus segera mencabut peraturan yang dianggap tidak berpihak terhadap rakyat kecil. Revisi harus dilakukan segera oleh presiden dengan mengedepankan asas keterbukaan, dan rasa tanggung jawab yang tinggi terhadap rakyat Indonesia. Hal-hal tersebut merupakan tugas dan tanggung jawab Presiden Joko Widodo terhadap seluruh rakyat Indonesia.
Budiarjo, Miriam. 2010. Dasar-Dasar Ilmu Politik. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama
Thompson, Dennis Frank. 1993. Etika Politik Pejabat Negara. Terjemahan Political Ethics and Public Office oleh Benyamin Molan. 1999. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia.
Wasesa, Silih Agung. 2011. Political Branding & Public Relations. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.
Surbakti, Ramlan. 2010, Memahami Ilmu Politik. Jakarta : Grasindo.
Jurnal Analisis Sosial Demokratisasi dan Kemiskinan atau Kesempatan ?, Yayasan Obor Indonesia, Volume 6
http://setkab.go.id/inilah-kronologis-lahirnya-perpres-kenaikan-tunjangan-uang-muka-kendaraan-pejabat-negara/
http://www.tempo.co/read/news/2015/04/06/078655613/Ini-Alasan-DPR-Usulkan-Kenaikan-Uang-Muka-Mobil-Pejabat
http://www.harianterbit.com/national/read/2015/04/05/24458/25/25/Tunjangan-DP-Mobil-Pejabat-Simbolis-Uangnya-Masuk-Kantong-Pribadi