• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAHAN DAN METODE Isolat Bakteri dan Ikan Uji

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "BAHAN DAN METODE Isolat Bakteri dan Ikan Uji"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

# Ko re sp o n d e n si: Balai Rise t Per ikan an Bu d id aya Air Tawar d an Pe nyu lu h an Pe rikan an. Jl. Se m p u r No . 1 , Bo g o r 1 61 2 9 , In d o n e s ia.

Te l. + 6 2 2 5 1 8 3 1 3 2 0 0 E-m ail: desysugi ani@ yahoo.co.i d

Tersedia online di: ht t p://ej ournal-balit bang.kkp.go.id/index.php/j ra

VAKSIN KERING BEKU SEL UTUH BAKTERI Aeromonas hydrophila UNTUK PENCEGAHAN

PENYAKIT M OTILE AEROM ONADS SEPTICEM IA PADA IKAN LELE, NILA, DAN GURAM I

Desy Sugiani#, Taukhid, Uni Purwaningsih, dan Angela M ariana Lusiast uti

Balai Penelitian dan Pen gemb angan Bud idaya Air Tawar Jl. Sem pur No. 1, Bogor 16129

(Naskah dit erima: 11 Januari 2018; Revisi final: 8 M ei 2018; Diset ujui publikasi: 8 M ei 2018)

ABSTRAK

Vaksinasi merupakan salah satu cara yang efektif untuk pencegahan penyakit infeksius pada budidaya ikan. Produk vaksin yan g t erse dia saat in i m asih berbasis p rod uk cair (wat er based vaccines), yang mem iliki kekurangan dalam stabilitas produk yang tidak tahan lama jika disimpan dalam suhu ruang dan keterbatasan dalam t ran po rtasi. Pene litian ini be rt uju an un tuk m engemb an gkan met ode p rep arasi se diaan prod uk vaksin sel utuh Aeromonas hydrophila dalam bentuk kering beku (freeze dried) untuk pengendalian penyakit pada ikan lele (Clarias sp.), nila (Oreochromis nilot icus), dan gurami (Osphronemus gouramy). Penelitian dilakukan dengan membuat produk vaksin kering beku pada suhu -100°C, uji mutu, uji keamanan, dan uji efikasi. Penelitian ini telah menghasilkan produk vaksin kering beku yang aman diaplikasikan pada ikan lele, nila, dan gurami, serta dapat menginduksi peningkatan level titer antibodi. Sediaan vaksin sel utuh A. hydrophila dengan metode kering beku dapat mereduksi berat produk vaksin cair 100 g menjadi serbuk sebesar 4,2 g. Efikasi vaksin menghasilkan tingkat sintasan relatif (RPS/relative percent survival) pada ikan nila (Oreochromis nilot icus) 45,83%; ikan lele (Clarias sp.) 70%; dan ikan gurami (Osphronemus gouramy) 31,67%. Vaksin kering beku sel utuh bakteri Aeromonas hydrophila paling efektif diberikan pada ikan lele untuk mencegah penyakit Motile Aeromonads Septicemia.

KATA KUNCI: vaksin kering beku; Aeromonas hydrophila; lele; nila; gurami; RPS

ABSTRACT: The efficacy of freeze dried whole cell vaccine Aeromonas hydrophila against motile aeromonads septicemia on catfish, tilapia, and gouramy. By: Desy Sugiani, Taukhid, Uni Purwaningsih, and Angela M ariana Lusiastuti

Vaccination is one of t he most effect ive methods t o prevent disease out breaks and distribution in aquacult ure. Commercial fish vaccine products are mainly available in liquid-based products (water-based vaccines), which have several limitations such as stability issues of the products (durability) when stored at room temperature, bulky packaging, and t ransportation complexit y during dist ribut ion. This st udy aimed t o develop a met hod of vaccine preparat ion using t he freeze-dried met hod as part of t he management cont rol of Aeromonads sept icemia disease in freshwat er aquacult ure. The st udy consist ed of several st ages: t he first st age was t he product ion of freeze-dried Aeromonas hydrophila vaccine product at -100°C. The second st age was vaccine qualit y t est followed by t he t hird st age which was vaccine efficacy t est . This research produced frozen dried vaccine product s t hat were considered safe t o be applied t o cat fish, t ilapia, and gourami, and could increase t he ant ibody t it er. The format ion of t he whole cell vaccine of A. hydrophila using t he freeze-dried met hod could reduce t he weight of t he liquid form of t he vaccine product from 100 g t o a powder weighing only 4.2 g. The result s of t he vaccine efficacy t est showed t he relat ive percent survivals (RPSs) of Clarias sp., Oreochromis niloticus and Osphronemus gouramy were 70%, 45.83%, and 31.67%, respect ively. Freeze dried vaccine of whole cells Aeromonas hydrophila are most effect ive in cat fish t o prevent M ot ile Aeromanads Sept icemia.

(2)

PENDAHULUAN

Aeromonas hydrophila adalah bakt eri gram negat if yang menyebabkan hemorrhagic sept icemia at au mot ile aeromonads sept icemia (MAS) dengan mo rt alit as t inggi pada spesies ikan air t awar dan st adia pert umbuhan yang b erbed a (Liu et al., 2 01 5; Wan g et al., 20 15 ; Su g ia n i et al. , 2 0 1 2 ). Ge ja la MAS t e r m a s u k p e m b e n g k a k a n ja r in g a n , lu k a m e r a h , n e k r o s is , ulserasi, dan sept ikemia hemo ragik. Spesies ikan yang paling sering t erkena dampak MAS meliput i ikan nila, ikan lele, ikan mas (Salah et al., 2015), dan ikan gurami (Sugiani et al., 2016). Meskipun A. hydrophila biasanya dianggap sebagai pat o gen sekunder t erkait dengan wabah penyakit , bisa juga muncul sebagai pat o gen ut ama yang menyebabkan wabah pada budidaya ikan dengan tingkat kematian tinggi dan kerugian eko nomi yang serius t erhadap akuakult ur.

Unt uk mengendalikan MAS, ikan yang t erinfeksi dapat dio bati dengan antibiot ik melalui pakan maupun perendaman. Namun, prakt ek ini mahal dan biasanya t idak efekt if karena ikan sakit cenderung t idak mau m akan . Se lain it u , MAS yan g d ise b ab kan o le h A. hydrophila t ermasuk infeksi akut yang menyebabkan mo rt alit as dalam 24 jam (Pridgeo n & Klesius, 2011). Selanjut nya, hanya ada t iga ant ibio t ik saat ini yang d is e t u ju i p e n g g u n a a n n ya s e ca r a t e r b a t a s o le h pemerint ah Indo nesia berdasarkan Permen KP No . 52 Tahun 2014 di antaranya golo ngan t et rasiklina dengan n a m a z at a kt if k lo rt e t ra siklin a, o ks it e t ra siklin a, t et rasiklina. Selain it u, ada juga go lo ngan makro lida dengan zat akt if erit ro misina, dan go lo ngan kuino lo n d en gan n am a zat akt if en ro flo ksasin a. Me lu asnya 2012; Sugiani et al., 2013; 2015). Ada beberapa vaksin yan g t e lah d ike m ban gkan u n t uk m e lin d u n gi ikan t erhadap penyakit yang disebabkan o leh A. hydrophila yait u vaksin inakt if dari bakt eri yang dilemahkan dan vaksin sub-unit (Caipang et al., 2014). Meskipun vaksin su nt ik d ap at men gem ban gkan kekebalan p ro t ekt if unt uk A. hydrophila (Dash et al., 2011; Sugiani et al., 20 14), namun pe nge mbangan ap likasi vaksin pada pembudidaya ikan di Indo nesia kurang efektif sehingga memengaruhi t ingkat keberhasilan kegiat an vaksinasi ikan.

Beberapa vaksin bakt eri t elah dikembangkan dan d iu ji co b a s e ca ra e ksp e rim e n t al. Se b ag ian b e s ar

vaksin bakt eri memberikan t anggap kebal pada inang t erhadap u ji t an t an g pat o gen . Meskipu n seb agian besar vaksin bakt eri t erbukt i efisien, upaya penelit ian masih diperlukan unt uk membuat vaksin yang benar-b e n a r e fe k t if u n t u k ik a n . Pe m a h a m a n t e n t a n g m ekan ism e keke balan ikan se lam a vaksin asi akan menghasilkan desain dan met o de vaksinasi yang lebih b a ik , ya n g p a d a a k h ir n ya d a p a t m e n g h a s ilk a n ke mampu an pro t eksi yan g leb ih t inggi bila t erjadi infeksi bakt eri di fasilit as akuakult ur (Caipang et al., 2014).

Sediaan vaksin saat ini lebih banyak dalam bent uk cair, hal ini t ent u saja menambah biaya kirim pro duk d an b e r im b as p a d a m e n in g k at n ya h ar ga va ks in . Penyimpanan vaksin dalam bentuk cair biasanya hanya b ert ah an se lam a sat u t ah un dalam suh u 4 °C. Jika disimpan dalam suhu ruang disinyalir pro duk vaksin akan cepat rusak. Sugiani et al. (2016) melakukan survai ke pembudidaya dan dipero leh info rmasi bahwa jenis sediaan vaksin kering (powder) diminat i pembudidaya untuk digunakan dalam aplikasi vaksinasi sama halnya dengan vaksin cair. Bakteri dapat dikeringkan pada suhu r e n d a h (f r eeze dr ied) d e n g a n d u a m e t o d e , yait u pengeringan sempro t (spray drying) dan pengeringan va k u m (va cu u m d r yi n g) d e n g a n t u ju a n u n t u k meningkat kan daya t ahan dalam pro ses lama wakt u penyimpanan (Chavez & Ledebo er, 2007). Penelit ian ini bert ujuan unt uk mengembangkan metode preparasi sediaan pro duk vaksin melalui met o de kering beku (f r eeze dr ied) d e n g an p e n g e r in g a n va k u m u n t u k pengendalian penyakit ikan lele, nila, dan gurami.

BAHAN DAN M ETODE

Isolat Bakteri dan Ikan Uji

Ba k t e r i ya n g d ig u n a k a n s e b a g a i s u m b e r pembuat an vaksin (mast er seed) adalah iso lat bakt eri Aeromonas hydrophila AHL0905-2 yang dikult ur pada media Tr ypt ic Soy Agar (TSA). Ikan uji menggunakan ikan air t awar yait u ikan nila (Oreochromis nilot icus) berukuran 35 ± 0,5 g; ikan lele (Clarias sp.) berukuran 1 5 ± 0 ,5 g ; d a n ikan g u r a m i (O. g our am y Lac.) berukuran 25 ± 1,5 g. Semua ikan yang digunakan sudah melewat i masa aklimat isasi selama 14 hari.

Preparasi Vaksin Kering Beku

(3)

diinakt ifasi dengan menambahkan NBF (neut ral buffer formalin) 3% (v/v), melalui pengadukan selama ± 6 jam. Pe n g u k u r a n k e p e k a t a n s u s p e n s i s t o k va k s in m e n g g u n a k a n s p e k t r o fo t o m e t e r p a d a p a n ja n g ge lo m b an g 6 60 n m d an d ilaku kan plat t ing u n t u k menget ahui kepadat an sel (cell forming unit) (cfu). St o k vaksin yang t elah dipero leh kemudian disimpan dalam fr eezer d en gan suh u -6 0°C selama ± 2 4 jam . St o k vaksin beku dikeringkan dalam mesin pengering vakum pada suhu -100°C (CoolSafe™ freeze dryer) selama 36-48 jam . Set e lah kering sem purna, vaksin disimp an dalam suhu 4°C, sedangkan unt uk penyimpanan jangka panjang vaksin disimpan dalam suhu -20°C.

Uji Sterilitas dan Keam anan Vaksin

Uji st e r ilis as i s t o k b a kt e ri d ila k u k a n d e n ga n gurami sebanyak 100 eko r dengan t iga kali ulangan. Set iap eko r ikan disunt ik int raperit o neal dengan 0,2 mL vaksin. Set elah t ujuh hari pemeliharaan dilakukan reiso lasi bakt eri unt uk mendet eksi A. hydrophila dari ikan perlakuan. Vaksin dikat akan aman jika hasil dari re iso lasi t id ak d ip e ro le h b akt e ri akt if yan g sam a dengan iso lat vaksin dan t idak t erjadi kemat ian ikan pasca vaksinasi.

Uji Efikasi Vaksin dan Uji Tant ang

Pe ngujian efikasi vaksin ke ring be ku d ilakukan pada tiga jenis ikan yang berbeda (nila, lele, dan gurami) dengan t iga ulangan dan ko nt ro l t anpa vaksin. Vaksin kering beku diencerkan menggunakan larut an salin steril (NaCl 0,845%) sebanyak 100 mL, hingga suspensi t erlarut sempurna. Set iap eko r ikan diinjeksi int rap-erit oneal dengan 0,2 mL suspensi vaksin. Pemeliharaan ikan set elah divaksin dilakukan selama 21 hari dan wakt u uji t ant ang salama 14 hari. Uji t ant ang dengan menggunakan bakt eri A. hydrophila virulen pada do sis LD50 (1 x 107 cfu mL-1). Ikan diamat i set iap minggu

unt uk gambaran hemat o lo gi dan diamat i set iap hari unt uk sint asan (SR), kemudian dihit ung menjadi nilai r elat i ve per cent sur vi val (RPS) u n t u k m e n e n t u ka n efekt ivit as vaksinasi.

HASIL DAN BAHASAN

Vaksin A. hydrophila Kering Beku

Has il p r o d u k vak sin k e r in g b e ku se l u t u h A. hydrophila disimpan dalam wadah t abung kaca vo lume 15 mL dilengkapi dengan penut up dan diisi sediaan vaksin sebanyak 5 -7 mL. Lama wakt u pen geringan

dengan kepadat an sel bakt eri 3 x 1011 cfu mL-1 adalah

± 42 jam t anpa hent i hingga dipero leh sediaan vaksin kerin g b e ku yan g se m p urn a. Hasil se d iaan vaksin kering beku A. hydrophila dari yang semula berbent uk cair dengan berat 100 g t erdehidrasi menjadi serbuk ber warna put ih kemerahan dengan berat 4,2 g. Vaksin dalam b en t uk serb uk t e rsebu t leb ih mu dah d alam pengemasan dan pro ses pengiriman. Menurut To ledo et al. (2 0 1 0 ), b a k t e r i ya n g d ik e r in g k a n d a p a t me nghasilkan pro du k yan g t erde hidrasi d an st ab il selama penyimpanan. Vaksin dalam bentuk kering yang t elah t erdehidrasi diharapkan akan lebih t ahan lama jika d ib an d in gkan d e n gan p ro d u k cair d an d ap at disimpan pada suhu ruang untuk jangka waktu tert entu. Serbuk vaksin kering beku yang dihasilkan dalam penelit ian ini belum dapat t erlarut sempurna ket ika proses pengenceran kembali sebelum digunakan unt uk perlakuan vaksinasi, diduga karena sel bakt eri yang t e rlalu ke r in g d a n t id ak t e re n k ap su la si se h in gga menghambat pro ses kelarut an suspensi. Pembuat an s e d ia a n va k s in k e r in g b e k u s e la n ju t n ya d a p a t menggunakan filler unt uk membant u daya larut dalam air. Chavez & Ledebo er (2007) mengemukakan bahwa bakt eri dapat dikeringkan pada suhu rendah (freeze dried) unt uk meningkat kan masa waktu penyimpanan. Bakt eri kering dapat bert ahan selama lebih dari t iga b u lan p ad a su h u 3 0 °C. Pe n am b ah an p r o t e in d an karbo hidrat sebagai pembawa (filler) dapat menambah masa wakt u penyimp anan dan efekt ivit asnya dapat dipert ahankan o pt imal. Penggunaan pro t ein kedelai dan malt o d ekst rin at au su su skim dan gum acacia (g u m m i ar a bi cu m) d a p a t m e n g h a s ilk a n t in g k a t ketahanan bakt eri kering t erbaik selama penyimpanan.

St erilit as dan Keam anan Vaksin

Hasil uji st erilit as pada sediaan vaksin kering beku set elah dilakukan preparasi go res pada media t ript one soya agar (TSA) dan plat t ing cair pada media t ript ic soy br ot h (TSB) m e n u n ju kkan t id a k ad a b akt e ri yan g t u m b u h d ari je n is A. hydr ophil a m au p u n b a kt e r i ko nt aminan.

(4)

Hasil re-iso lasi t erhadap beberapa ikan pascavaksinasi juga t idak dit e mukan adanya pert umbuhan bakt eri yan g sama d engan A. hydrophila. Den gan dem ikian vaksin kering beku yang dihasilkan pada pengujian ini dapat dinyat akan aman unt uk ikan uji dan bersifat st e ril.

Efikasi Vaksin

Hasil t it er ant ibo di menunjukkan bahwa perlakuan vaksin kering beku pada masa induksi vaksin sampai m inggu ke -2 u n t u k ke lo m p o k ikan le le , n ila, d an g u r a m i t e r n ya t a le b ih t in g gi d a lam m e m b e n t u k resp o ns im un den gan nilai 5-8 (lo g 2). Selanju t nya sem ua p erlakuan me ngalam i p en urun an nilai t it e r an t ib o d i p ad a m as a m in g gu k e -3 d an p ad a sa at dilakukan uji t ant ang. Pada masa pemulihan yait u dua m in gg u s e t e la h u ji t a n t a n g t e rlih a t b ah wa t it e r a n t ib o d i m e n g a la m i s e d ik it p e n in g k a t a n ya n g kemudian diikut i adanya penurunan kembali (Gambar 2).

Tit er ant ibo di mencerminkan kemampuan t ubuh ikan t erhadap infeksi bakt eri melalui respo ns imun sp e sifik. Se makin t inggi n ilai t it e r an t ib o d i m aka diharapkan kemampuan perlindungan terhadap infeksi juga me n jadi t inggi. Ant ib o di yan g b ered ar dalam s ir k u la s i d a r a h a k a n m e n e t r a lis a s i m o le k u l ant ifago sit ik dan ekso t o ksin lainnya yang dipro duksi bakt e ri. Hasil penelit ian t erhadap respo ns hu mo ral pada nila merah terhadap A. hydrophila yang diinaktivasi dengan fo rmalin dan diberikan dengan injeksi int rap-e rit o n rap-e al d a p at m rap-e n gin d u ks i t it rap-e r a n t ib o d i p ad a hanya dapat bertahan dan berfungsi dengan baik pada beberapa hari atau minggu setelah adanya invasi bakt eri ke dalam t ubuh dan berfungsi sebagai respo ns imun a n t i-in fe k s i fa s e a w a l. Ca r u s o et al. (2 0 0 2 ) mengemukakan bahwa selama infeksi bakt eri sedang berlangsung, adanya respons pertahanan ikan dit andai dengan banyaknya leuko sit yang dit ransfer sehingga akan n am pak adanya p en in gkat an ju mlah le uko sit d alam darah yang b erfu ngsi u n t uk m en ge lim inasi serangan bakt eri.

Jumlah mo no sit , neut ro fil, dan limfo sit mengalami fluktuasi membent uk suat u ho meo st asi t o t al leuko sit dengan rat a-rat a t erlihat adanya peningkat an jumlah limfo sit dan mo no sit , sert a adanya penurunan jumlah neut ro fil jika dibandingkan dengan ko nt ro l (Gambar 3, 4, 5).

Hal ini menunjukkan adanya akt ivit as pert ahanan no n-spesifik dari ikan be rupa peningkat an mo no sit darah yang berfungsi sebagai sel fago sit (makro fag) yan g akan m e m fago sit o sis an t ige n b akt e ri d alam t ubuh ikan. Peningkat an jumlah limfo sit menunjukkan bahwa ada akt ivit as pert ahanan selular spesifik yang memungkinkan adanya pembent ukan ant ibo di at au memo ri pada ikan yang dapat bert ahan dari infeksi A. hydr ophila.

Bailo nea et al. (2 010 ) mem pe ro leh hasil b ah wa vaksinasi po livalen (Aeromonas hydrophila, Pseudomo-Gambar 1. Sint asan ikan nila, lele, dan gurami pada uji keamanan vaksin kering

(5)

Gambar 2. Tit er ant ibo di ikan lele, nila, dan gurami pasca vaksinasi dengan vaksin kering beku dan set elah uji t ant ang dengan A. hydrophila.

Figure 2. Tit er ant ibodies of cat fish, t ilapia, and gouramy post vaccinat ion using freeze-dried vaccine and aft er challenge t est wit h A. hydrophila.

Gambar 3. Keragaan t o t al limfo sit pada ikan lele, nila, dan gurami selama vaksinasi dengan vaksin kering beku dan set elah uji t ant ang dengan A. hydrophila.

Figure 3. Performance of t ot al lymphocyt es of cat fish, t ilapia, and gouramy during vaccinat ion using freeze-dried vaccine and aft er challenge t est wit h A. hydrophila.

0 Weeks of t he induct ion of vaccine

Masa induksi vaksin Weeks of t he induct ion of vaccine

Masa setelah uji tantang minggu ke-Weeks of t he induct ion of vact ion

(6)

na s aer ug i nosa, d a n En t er ococcus du r an s) d a p a t memengaruhi respo ns aglut inasi hemat o lo gi dan se-rum pada ikan nila yang dit ant ang dengan Aeromonas hydrophila dengan dua do sis; 1 x 104 cfu mL-1 dan 1 x

108 cfu mL-1. Ikan diuji t ant ang sepuluh hari set elah

vaksinasi secara int raperit o neal dengan A. hydrophila LD50-96 jam (1 x 107 bahwa 10 hari set elah imunisasi t erjadi peningkat an erit ro sit , leuko sit , t ro mbo sit , dan pro duksi limfo sit dalam darah.

Rat a-rat a kemat ian ikan set elah uji t ant ang unt uk ikan nila t er vaksin 14,44%; ikan nila ko nt ro l 26,67%; ikan lele t er vaksin 10%; ikan lele ko nt ro l 33,33%; ikan Gambar 4. Keragaan t ot al neut ro fil pada ikan lele, nila, dan gurami selama vaksinasi dengan

vaksin kering beku dan set elah uji t ant ang dengan A. hydrophila.

Figure 4. Performance of t ot al neut rophils of cat fish, t ilapia, and gouramy during vaccina-t ion freeze-dried vaccine and afvaccina-t er challenge vaccina-t esvaccina-t wivaccina-t h A. hydrophila.

Gambar 5. Keragaan t o t al mo n o sit pada ikan lele, n ila, dan guram i selam a vaksinasi dengan vaksin kering beku dan set elah uji t ant ang dengan A. hydrophila. Figure 5. Performance of t ot al monocyt es of cat fish, t ilapia, and gouramy during vaccinat ion

freeze-dried vaccine and aft er challenge t est wit h A. hydrophila. 0 Weeks of t he induct io n of vaccine

Masa set e lah uji t ant ang m inggu

ke-Lele (Cat fish) Nila (Tilapia) Guram i (Gouramy)

-5 Weeks of t he induct ion of vaccine

Masa setelah uji tantang minggu ke-Weeks of t he induct ion of vaccine

Masa setelah uji tantang minggu ke-Weeks of t he induct ion of vact ion

(7)

gu rami t e r vaksin 4 5,56%; dan ikan guram i ko n t ro l 6 6 ,6 7 %. Ha s il t e r s e b u t m e m p e r lih a t k a n a d a n ya p e rb e d aa n ke m a t ia n ik an s e b e sa r 1 2 ,2 3 % u n t u k kelo mpo k ikan nila; 23,33% unt uk kelo mpo k ikan lele; dan 21 ,11% unt uk kelo mpo k ikan gurami. Sint asan t e r t in g g i d ip e r o le h k e lo m p o k ik a n n ila d e n g a n vaksinasi dan yang t erendah adalah kelo mpo k ikan gurami t anpa vaksin. Gambar 6 memperlihatkan bahwa kelo mpo k perlakuan vaksin ikan nila, lele, dan gurami s e t e la h d iu ji t a n t a n g d e n g a n b a k t e r i h o m o lo g b e rd asarkan je n is vaksin yan g dib e rikan m e m iliki sint asan yang lebih t inggi jika dibandingkan dengan t anpa vaksinasi.

Nilai RPS ikan n ila, le le , d an gu ram i p asca u ji t an t a n g m e n u n ju k ka n h as il ya n g b e r b e d a n yat a (Ta b e l 1 ). Nilai RPS t e r t in gg i (7 0 %) d id a p a t d ar i

p e r laku an vaksin ke rin g b e k u A. hydr ophi la ya n g diberikan pada ikan lele dan diuji t ant ang o leh bakt eri t unggal A. hydrophila ho molo g. Tingkat sintasan relatif (RPS) ikan nila yang divaksinasi menggunakan vaksin A. hydrophila yang diinakt ivasi dengan fo rmalin (0,3%) set elah u ji t ant ang adalah 49,99-66 ,66% p ada 6 -10 minggu pascavaksinasi (Salah et al., 2015).

Pe r s ya r a t a n d a r i Ke m e n t e r ia n Ke la u t a n d a n Perikanan bahwa nilai RPS unt uk pro duk vaksin ikan yang d apat dikat akan baik dan dapat diedarkan ke pembudidaya adalah yang memiliki RPS > 50%, akan t et api nilai RPS pada ikan nila (45,83%) dan gurami (31,67%) m asih rendah, capaian nilai RPS ini m asih dapat ditingkat kan lagi dengan cara pembuatan produk vaksin menggunakan t ekno lo gi kering beku dengan memberikan t ambahan perlakuan enkapsulasi pada sel Gambar 6. Sint asan ikan nila, lele, dan gurami pasca uji t ant ang dengan A. hydrophila.

Figure 6. Survival rat e of t ilapia, cat fish, and gouramy aft er challenge t est wit h A. hydrophila.

Tabel 1. Nilai sint asan relat if (RPS) ikan nila, lele, dan gurami pascavaksinasi dengan vaksin kering beku A. hydrophila

Table 1. Relat ive percent survival (RPS) value of t ilapia, cat fish, and gouramy post vaccina-t ion wivaccina-t h freeze dried vaccine A. hydrophila

Ke terangan: Angka yang d iikuti o leh huruf yang berbed a p ad a ko lo m yang sama men unju kkan berbe d a n yata p ad a taraf uji P> 0 ,05

Remar ks: The numbers fol lowed by differ ent l et t er s i n t he same column show si gni ficant ly differ ent at t he P> 0 .05 t est level

Perlakuan jenis ikan Fish type per treatment

RPS

Relative percent sur vival (%)

Nila (Oreochromis niloticus) 45 .83a

Lele (Clarias sp.) 70 .00b

Gu r am i (Osphronemus gouramy) 31 .67c

0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14

S

in

ta

sa

n

/

S

u

rv

iv

a

l

ra

te

(%

)

Uji t ant ang (Hari ke-) / Days of challenge

Nila vaksinasi (Tilapia vaccine ) Lele vaksinasi (Cat fish vaccine) Gurami vaksinasi (Go uram y vaccine) Nila kont rol (Tilap ia cont rol) Lele kont rol (Cat fish co nt ro l) Gurami ko nt rol (Go uramy co nt ro l)

Nilai vaksinasi (Tilapia vaccine) Gurami vaksinasi (Gouramy vaccine) Lele ko ntrol (Cat fish control)

(8)

bakt eri sebelum dilakukan pro ses pengeringan unt uk m e lin d u n gi se l b akt e ri d an u n t u k m e n in g kat k an t ingkat kelarut an pro duk, dan dibuat dalam sediaan mult ivalen. Sediaan vaksin dalam bent uk bivalen at au p o liva le n a k a n le b ih m e n in g k a t k a n RPS ik a n d ib a n d in g k a n d e n g a n va k s in m o n o va le n d a la m melindungi ikan dari serangan infeksi t unggal maupun ko -infeksi (Sugiani et al., 2013; 2015).

Hasil penelit ian pencegahan penyakit St rept o co c-co sis akibat infeksi St rept ococcus iniae pada nila merah (Oreochromis nilot icus x O. mossambicus) menggunakan vaksin b akt e ri yan g d iin akt ivasi fo r m alin d e n gan perlakuan 1% vaksin kering beku yang dicampur pakan komersil yang diberikan secara o ral menunjukkan hasil t it er ant ibo di pada minggu ke-1 (0,70 ± 0,17) dan minggu ke-4 (0,4 0 ± 0,46). Kemat ian ikan selama masa in duksi vaksin 9,75% dengan nilai persent ase sintasan relat if (RPS) sebesar 41,46% (Suanyuk & It saro , 2011).

Penggunaan vaksin kering beku pada ikan salmo n u nt uk p en yakit furu nkulo sis m e mp erlihat kan nilai pe rsen t ase sint asan relat if (RPS) seb esar 70 %-10 0% pada aplikasi lapang, akan t et api nilai RPS t urun lebih r e n d a h 3 0 %-4 0 % s e t e la h d iu ji t a n t a n g s e ca r a eksperimen t al. Fo rmulasi vaksin kering beku t elah diuji kemampuannya dan dapat memberikan respo ns yan g baik u n t uk p ro life rasi lim fo sit dan pro d uksi ant ibo di. Vaksin kering beku memiliki masa simpan yang lebih panjang dengan po t ensi yang sama sepert i b a kt e ri yan g b aru t u m b u h , m e n u n ju kk an b ah wa vaksin cair 100 g menjadi serbuk sebesar 4,2 g. Efikasi vaksin menghasilkan t ingkat sint asan relat if (RPS/ rela-t ive percenrela-t survival) pada ikan nila (Oreochromis nilot icus) 45,83%; ikan lele (Clarias sp.) 70%; dan ikan gurami (Osphronemus gouramy) 31,67%.

UCAPAN TERIM A KASIH

Penelit ian ini t elah t erlaksana dengan sumber dana dari DIPA BPPBAT T.A. 20 16, Kem ent erian Kelaut an dan Perikanan dengan judul “Preparasi sediaan vaksin melalui enkapsulasi dan freeze dried untuk pengendalian penyakit ikan”. Penulis mengucapkan terima kasih atas ke rja sam a d alam pe laksanaan ke giat an p en elit ian ke p ad a Bap ak Se t ia d i, Ed y Far id Wad jd y, Ah m ad Wahyudi, dan Jo han Afandi.

DAFTAR ACUAN

Bailo nea, R.L., Mart insa, M.L., Mo urino a, J.L.P., Vieiraa, F.N., Pedro t t ia, F.S., Nun esa, G.C., & Silvaa, B.C. (2010). Hemat o lo gy and agglut inat io n t it er aft er po lyvalent immunizat ion and subsequent challenge w it h Aer om on a s h yd r op h i l a in Nile t ila p ia (Or eoch r om i s n i l ot i cu s). Ar ch i vos d e M edi ci na Vet erinaria, 42, 221-227.

Caipang, M.A.C., Lucanas, J.B., & Lay-yag, C.M. (2014). Updat es o n t he vaccinat io n against bact erial dis-eases in t ilapia, Oreochromis spp. and Asian seabass, Lat es calcarifer. AACL Bioflux, 7(3), 184-193. Caruso , D., Schlumbe rge, O., Dahm , C., & Pro t e au,

J.P. (2 002 ). Plasm a lyso zym e levels in sh eat fish Silurus glanis L. su bje ct e d t o st ress an d e xperi-ment al infect io n wit h Edwardsiella t arda. Aquacul-t ure Research, 33, 999-1008. That o i, H. (2011). Do se dependence specific and no n-specific immune respo nses o f indian majo r carp (L. rohit a ham) t o int raperit o n eal inje ct io n o f fo rmalin killed Aeromonas hydrophila who le cell vaccine . Vet erinar y Research Communicat ions, 35 , muno lo gical respo nses. Fish Shellfish Immunology, 45, 175–183.

Mar sd e n , M.J., Va u g h a n , L.M., Fit zp at rick , R.M., Fo st erm, T.J., & Seco m bes, C.J. (1998 ). Po t en cy t est ing o f a live, genet ically at t enuat ed vaccine fo r salmo nids. Vaccine, 16(11-12), 1087-1094. Prasad, S., & Areecho n, N. (2010). Efficacy o f fo

rma-lin-killed Aeromonas hydrophila and Streptococcus sp. vaccine in red t ilapia. Our Nat ure, 8, 231-240. Pridgeo n, J.W., Klesius, P.H., Mu, X., & So ng, L. (2011).

(9)

Salah, M.A, Aqel, S.A., Arshad, H.R., & Nashwa, M.A.A. (2015). The respo nse o f new-seaso n nile t ilapia t o Aeromonas hydrophila vaccine. Int ernat ional Jour-nal of clinical, 8(3), 4508-4514.

Suanyuk, N., & It saro , A. (2011 ). Efficacy o f inact i-vat e d St rept ococcus iniae vaccine and pro t ect ive effect o f b-(1.3/1.6)–glucan o n t he effect iveness o f vaccine in red t ilapia Oreochromis nilot icus x O. mossambicus. Songklanakarin Journal of Science and Technology, 33(2), 143-149.

Su giani, D., Su ken da, Harris, E., & Lusiast u t i, A.M. (2012). Pengaruh ko -infeksi bakt eri St rept ococcus agalact iae dengan Aeromonas hydrophila t erhadap gambaran hemat o lo gi dan hist o pat o lo gi ikan t ila-pia (Oreochromis nilot icus). Jurnal Riset Akuakult ur, 7(1), 85-91.

Su giani, D., Su ken da, Harris, E., & Lusiast u t i, A.M. (2013). Vaksin ikan t ilapia (Oreochromis nilot icus) menggunakan vaksin monovalen dan bivalen unt uk pencegahan penyakit mot ile aeromonas sept icemia dan st rept o co cco sis. Jurnal Riset Akuakult ur, 8(2), 229-239.

Su giani, D., Lu siast u t i, A.M., Sukend a, & Harris, E. (2014). Pro fil pro t ein vaksin Aeromonas hydrophila dan Streptococcus agalact iae hasil inaktivasi dengan

fo rmalin: Diuji menggunakan sodium dodecyl sul-phat e-polyacrylamide gel elect rophoresis. Jurnal Riset Akuakult ur, 9(3), 449-461.

Sugiani, D., Ar yat i, Y., Mufidah, T., & Pur waningsih, U. (201 5). Efe kt ivit as vaksin bivalen Aeromonas hydr ophila d an M ycobact er ium for t ui t um u n t u k pe ncegah an infeksi p en yakit pada ikan gu rami (Osphronemus gour amy). Jur nal Riset Akuakult ur, 10(4), 567-577.

Sugiani, D., Arifin, O.Z., Pur waningsih, U., & Wadjdy, E.F. (2 0 1 6 ). Uji ap likas i lap an g vaksin b ivale n hydro fo rt yVac dan vaksin mo no valent (Hydro Vac d a n Myco fo r t yVa c) p a d a b e n ih ika n g u r a m i (Osphronemus gouramy). M edia Akuakult ur, 11 (2), 111-119.

To led o , N., Ferrer, J., & Bó rqu ez, R. (2 010). Dr ying and st o rage st abilit y o f a pro bio t ic st rain inco r-po rat ed int o a fish feed fo rmulat io n. Journal Dry-ing Technology, 28(40), 508-516.

Gambar

Gambar 1.Sintasan ikan nila, lele, dan gurami pada uji keamanan vaksin keringFigure 1.beku A
Gambar 2.Titer antibodi ikan lele, nila, dan gurami pasca vaksinasi dengan vaksin kering beku dan setelah
Gambar 4.Keragaan total neutrofil pada ikan lele, nila, dan gurami selama vaksinasi dengan
Gambar 6.Sintasan ikan nila, lele, dan gurami pasca uji tantang dengan Figure 6.A. hydrophila.Survival rate of tilapia, catfish, and gouramy after challenge test with A

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian bahwa bakteri Bakteri yang menyebabkan penyakit “mata belo” pada ikan gurami adalah bakteri Aeromonas hydrophila (NG01, NG06 dan NG13), sedangkan bakteri

Pengendalian Biofilm Aeromonas hydrophila Pada Permukaan Sisik Ikan dan Plastik PVC Dengan Senyawa Antimikroba Bakteri Asam Laktat

Formation and Control of Aeromonas hydrophila Biofilm on Stainless steel surfaces.. Food Science and Technology

Infeksi Aeromonas hydrophila menyebabkan penyakit bakterial yang bersifat akut biasa disebut “Penyakit Merah” yang menginfeksi semua umur dan jenis ikan air tawar bahkan

Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan, maka perlu dilakukan penelitian tentang “Identifikasi bakteri Aeromonas hydrophila pada ikan lele dumbo (Clarias

Dari hasil penelitian diketahui bahwa struktur jaringan hati dan ginjal ikan yang terinfeksi dengan bakteri Aeromonas hydrophila dan diobati dengan temulawak

JUMLAH ERITROSIT, KADAR HEMATOKRIT, DAN HEMOGLOBIN IKAN LELE DUMBO ( Clarias gariepinus ) YANG DIINFEKSI BAKTERI..

Perlakuan yang diberikan adalah perendaman benih ikan mas yang telah terinfeksi bakteri Aeromonas hydrophila sebanyak 15 ekor per akuarium dalam ekstrak daun teh tua