• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ekstraksi Cair-cair

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Ekstraksi Cair-cair"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN PRAKTIKUM PROSES PEMISAHAN & PEMURNIAN I

EKSTRAKSI CAIR - CAIR

Disusun untuk Memenuhi Salah Satu Laporan Praktikum Proses Pemisahan & Pemurnian I Dosen Pembimbing : Ir. Rintis Manfaati, MT

2 A TKPB Kelompok VII Disusun Oleh : Miman M. (101424022) Tsaniya S.M. (101424027) Vira K. W. (101424028) Widya Y. (101424029)

Tanggal Praktikum : 25 Mei 2012 Tanggal Penyerahan Laporan : 8 Juni 2012

TEKNIK KIMIA PRODUKSI BERSIH

POLITEKNIK NEGERI BANDUNG

(2)

EKSTRAKSI CAIR – CAIR

I. TUJUAN PERCOBAAN

A. Mengenal dan memahami prinsip operasi ekstraksi cair – cair pada kolom berpacking

B. Memahami perpindahan massa yang terjadi dalam kolom ekstraksi dan menentukan koefisien perpindahan massa.

C. Mempelajari pengaruh laju alir terhadap koefisien perpindahan massa

II. LANDASAN TEORI

Ekstraksi adalah salah satu cara memisahkan larutan dua komponen dengan menambahkan komponen ketiga (solvent) yang larut dengan solute tetapi tidak larut dengan pelarut (diluent). Dengn penambahan solvent ini sebagian solute akan berpindah dari fasa diluent ke fasa solvent (disebut ekstrak) dan sebagian lagi tetap tinggal di fasa diluent (disebut rafinat).

Perbedaan konsentrasi solute di dalam suatu fasa dengan konsentrasi pada keadaan setimbang merupakan pendorong terjadinya pelarutan (pelepasan) solute dari larutan yang ada. Gaya dorong (driving force) yang menyebabkan terjadinya proses ekstraksi dapat ditentukan dengan mengukur jarak sistrem dari kondisi setimbang.

Pertimbangan pemakaian proses ekstraksi sebagai proses pemisahn antara lain : 1. Komponen larutan sensitif terhadap pemanasan jika digunakan distilasi

meskipun pada kondisi vakum.

2. Titik didih komponen-komponen zat cair dalam campuran berdekatan. 3. Kemudahan menguap (volatilitas) komponen-komponen hampir sama. Pertimbangan-pertimbangan dalam pemilihan pelarut yang digunakan adalah : 1. Selektifitas (faktor pemisahan β)

β = fraksi massa solute dalam ekstrak / fraksi massa diluent dalam ekstrak fraksi masssa solute dalam rafinat / fraksi massa diluent dlm rafinat pada keadaaan setimbang. Agar proses ekstraksi bisa berlangsung, harga β harus lebih dari 1. Jika β = 1 mka kedu komponen tidak bis dipisahkan.

2. Koefisien distribusi

Sebaiknya dipilih harga koefisien distribusi yang besar, sehingga jumlah solvent yang dibutuhkan lebih sedikit.

(3)

Pemisahan solute dari slvent biasanya dilakukan dengan cara distilasi, sehingga diharapkan harga “volatilitas relatif” dari campuran tersebut cukup tinggi.

4. Densitas

Perbedaan densitas fasa solvent dan fasa diluent harus cukup besar. Perbedaan densitas ini akan berubah selama proses ekstraksi dan mempengaruhi laju perpindahan massa.

5. Tegangan antar muka (interfacial tention)

Tegangan antar muka yang besar menyebabkan penggabungan (coalescence) lebih mudah namun mempersulit proses pendispersian. Kemudahan penggabungan lebih dipentingkan sehingga dipilih pelrut yang memiliki tegangan antar muka yang besar.

6. Chemical reactivity

Pelrut merupakan senyawa yang stabil dan inert terhadap komponen-komponen dalam sistem material / bahan konstruksi.

7. Viskositas, tekanan uap dan titik beku dianjurkan rendah untuk memudahkan penanganan dan penyimpanan.

8. Pelarut tidak beracun dan tidak mudah terbakar

Penentuan ini bertujuan menentukankoefisien istribusi untuk sisten TCE-asam propionate-air dan menunjukan ketergantungannya terhadap konsentrasi.

Koefisien distribusi

Pelarut (air) dan larutan (TCE dan asam asetat) dicampur bersama dan kemudian dibiarkan membentuk dua lapisan terpish, fasa ekstrak dan fasa rafinat. Fasa ekstrak merupakan air dan asam asetat, sedangkan rafinat merupakan campuran TCE dengan asam asetat.

Koefisien distribusi , k, didefinisikan sebagai perbandingan

Dalam hal ini diasumsikan bahwa kesetimbangan berada antara dua fasa. Pada konsentrasi rendah, koefisien distribusi tergantung pada konsentrasi, sehingga y = kx. Neraca masssa

Prinsip-prinsip proses ekstraksi

1. Kontak antara pelarut dengan campuran zat terlarut (solute) dan dilute sehingga terjadi pemindahan massa zat terlarut (solute) ke pelarut.

(4)

2. Pemisahan kedua fasa tersebut (fasa cair-fasa organik)

Kesetimbangan massa dan transfer massa keseluruhan dengan fasa organik sebagai media kontinu.

untuk sistem trikloroetilen-asam asetat-air Vo = laju alir air (l/detik)

Vw = laju alir TCE (l/detik)

X = konsentrasi asam asetat dalam fasa organik (Kg/l) Y = konsentrasi asam asetat dalam fasa air (Kg/l)

1. Neraca massa massa

Asam propionate yang terekstraksi dari fasa organik (rafinat) = Vo (X1-X2) Asam propionate yang terekstraksi dari fasa air (ekstrak) = Vw (Y1-0) Maka, Vo (X1-X2) =Vw (Y1-0)

2. Koefisien perpindahan massa

Dengan ;

ΔX1 = gaya dorong pada puncak kolom = (X2 - 0) Δ X2 = gaya dorong pada dasar kolom = (X1 - X1*)

X1* = konsentrasi dalam fasa organik yang setimbang dengan konsentrasi Y1 pada fasa cair. Angka kesetimbangan dapat diperoleh menggunakan koefisien distribusi yang didapat dari percobaan pertama.

(5)

III. ALAT DAN BAHAN  Alat yang digunakan

 Seperangkat alat ekstraksi cair – cair  Corong pemisah 250 ml

 Gelas ukur 250 ml, 2 buah  Erlenmeyer

 Batang pengaduk

 Bahan yang digunakan  NaOH 0,1 M  Asam propionate  Tri cloro etilen (TCE)  Air (solvent)

 Tissue

IV. CARA KERJA

lakukan kalibrasi pompa TCE berdasarkan % bukaan terhadap laju

alir

isi tangki TCE dgn 10 L TCE dan 10 mL asam

propionat

isi tangki fasa air dgn 15 L air. jalankan pompa air dan isi kolom dengan laju alir tinggi sampai packing terendam.

jalankan pompa TCE dan set bukaan pompa TCE

pada variasi laju alir

biarkan proses berlangsung sampai TCE

habis, ambil sampel setiap tiga menit pada

rafinat dan ekstrak

titrasi dengan NaOH 0,1 M. ulangi percobaan

(6)

V. DATA PENGAMATAN A. Kalibrasi Laju Alir TCE

Laju Alir [mL/menit] Bukaan Pompa

200 19,87

300 52,13

400 84,39

500 116.65

B. Percobaan II (Penentuan neraca massa dan koefisien perpindahan massa dengan fasa cair sebagai media kontinu)

Volume TCE yang dimasukkan : 3 L Volume Asam asetat yang dimasukkan : 10 mL

y = 3.1x + 138.4 R² = 0.9569 150 200 250 300 350 0 20 40 60 80 Laj u Al ir Bukaan pompa

Kurva Kalibrasi Laju Alir terhadap

bukaan pompa

laju alir Linear (laju alir)

(7)

Standarisasi NaOH ± 0,01 N menggunakan 0,01 N

Waktu Praktikum : Jumat, 18 Mei 2012

Konsentrasi Asam oksalat

Volume Asam oksalat

Volume NaOH yang dibutuhkan

I II

0,01 N 10 mL 11,60 mL 11,60 mL

Volume total asam oksalat 11,60 mL

Standarisasi NaOH ± 0,01 N menggunakan 0,01 N

Waktu Praktikum : Jumat, 25 Mei 2012

Konsentrasi Asam oksalat

Volume Asam oksalat

Volume NaOH yang dibutuhkan

I II

0,01 N 10 mL 5,85 mL 5,85 mL

Volume total asam oksalat 5,85 mL

 Run 1

(Laju Alir air & TCE 200 mL/menit)

No Waktu (menit) Titran NaOH (mL) Ekstrak Rafinat 1 Umpan 1 2 3 11,05 1,2 3 6 12,35 1,1 4 9 13,35 1 5 12 1,9 0,8 6 15 11,5 0,8 7 18 11,65 0,7 8 21 18 0,4

(8)

 Run 2

(Laju Alir air & TCE 300 mL/menit)

No Waktu (menit) Titran NaOH (mL) Ekstrak Rafinat 1 Umpan 98,1 2 3 28,25 0,75 3 6 27 0,45 4 9 26,6 0,4  Run 3

(Laju Alir air & TCE 400 mL/menit)

No Waktu (menit) Titran NaOH (mL) Ekstrak Rafinat

1 Umpan 3,8

2 3 4,8 1

3 6 13,6 0,6

 Run 4

(Laju Alir air & TCE 500 mL/menit)

No Waktu (menit) Titran NaOH (mL) Ekstrak Rafinat

1 Umpan 46,3

2 3 20,6 0,5

(9)

C. Menentukan Koefisien Distribusi  Tabel Pengamatan :

No. Asam Asetat yang

ditambahkan (ml)

Volum titer NaOH

Rafinat (Fasa Organik) Ekstraksi (Fasa Air) 1. 2 0,3 30,95 2. 4 1,1 8,7 3. 5 2 15,9 4. 7 3,8 20,5

Percobaan I (Penentuan Koefisien distribusi)  Asam asetat dalam fasa air (ekstrak), Y

 Penambahan asam asetat 2 ml V1 x N1 = V2 x N 2

8,7 x 0,1 = 1 x N2 N2 =

= 0,87 M  Penambahan asam asetat 4 ml V1 x N1 = V2 x N 2

15,9 x 0,1 = 1 x N2 N2 =

= 1,59 M  Penambahan asam asetat 5 ml V1 x N1 = V2 x N 2

20,5 x 0,1 = 1 x N2 N2 =

= 2,05 M  Penambahan asam asetat 7 ml V1 x N1 = V2 x N 2

30,95 x 0,1 = 1 x N2 N2 =

(10)

 Asam asetat dalam fasa organic (rafinat),X  Penambahan asam asetat 2 ml

V1 x N1 = V2 x N 2 0,3 x 0,1 = 5 x N2 N2 =

= 0,006 M  Penambahan asam asetat 4 ml V1 x N1 = V2 x N 2

1,1 x 0,1 = 5 x N2 N2 =

= 0,022 M  Penambahan asam asetat 5 ml V1 x N1 = V2 x N 2

2 x 0,1 = 5 x N2 N2 =

= 0,04 M  Penambahan asam asetat 7 ml V1 x N1 = V2 x N 2

3,8 x 0,1 = 5 x N2 N2 =

= 0,076 M  Menghitung koefisien Distribusi

 Data 1 K = = = 145  Data 2 K = = = 72,27  Data 3 K = = = 51,25

(11)

 Data 4 K =

= = 40,724 Tabel hasil perhitungan

No. Asam Asetat

(ml)

Titer NaOH As.Asetat

dalam Ekstrak, Y As.Asetat dalam Rafiant, X Koefisien distribusi = Y/X Rafinat Ekstraksi 1. 2 0,3 8,7 0,87 0,006 145 2. 4 1,1 15,9 1,59 0,022 72,27 3. 5 2 20,5 2,05 0,04 51,25 4. 7 3,8 30,95 3,095 0,076 40,724

Kurva koefisien distribusi antara asam asetat dalam rafinat (X) VS asam asetat dalam ekstrak (Y)

Berdasarkan Kurva di atas, diperoleh slope K (Koefisien Distrbusi) adalah 0,032

y = 0.0321x - 0.025 R² = 0.9893 0 0.01 0.02 0.03 0.04 0.05 0.06 0.07 0.08 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 Ekstr ak Rafinat

(12)

Percobaan 2 : Penentuan Konsentrasi Asam Asetat di dalam sampel Vsampel = 10 mL

NNaOH = 0,0086 N

 Standarisasi NaOH ± 0,01 N menggunakan 0,01 N Waktu Praktikum : Jumat, 18 Mei 2012

0,0086 N

 Standarisasi NaOH ± 0,01 N menggunakan 0,01 N Waktu Praktikum : Jumat, 25 Mei 2012

0,0170 N

(13)

Run 1

Laju alir air & TCE : 200 mL/menit

No Nama sampel

Volume Titran (NaOH)

(mL)

Konsentrasi Asam Asetat (N) = 1 Umpan 1 0,00086 2 Rafinat 1 1,2 0,00103 3 Rafinat 2 1,1 0,00095 4 Rafinat 3 1 0,00086 5 Rafinat 4 0,8 0,00069 6 Rafinat 5 0,8 0,00069 7 Rafinat 6 0,7 0,00060 8 Rafinat 7 0,4 0,00013 9 Ekstrak 1 11,05 0,0091 10 Ekstrak 2 12,35 0,0106 11 Ekstrak 3 13,35 0,0115 12 Ekstrak 4 11,90 0,0102 13 Ekstrak 5 11,50 0,0099 14 Ekstrak 6 11,65 0,0100 15 Ekstrak 7 18,00 0,0155

Kurva waktu terhadap konsentrasi asam asetat yang terserap

0 0.005 0.01 0.015 0.02 0 5 10 15 20 25 K on s. asam as et at ( N) waktu (menit)

Kurva waktu vs kons asam asetat

Ekstrak Rafinat

(14)

Run 2

Laju alir air & TCE : 300 mL/menit

No Nama sampel

Volume Titran (NaOH)

(mL)

Konsentrasi Asam Asetat (N) = 1 Umpan 98,1 0,0084 2 Rafinat 1 0,75 0,000645 3 Rafinat 2 0,45 0,000387 4 Rafinat 3 0,4 0,000344 5 Ekstrak 1 28,25 0,0243 6 Ekstrak 2 27 0,0232 7 Ekstrak 3 26,6 0,0228

Kurva waktu terhadap konsentrasi asam asetat yang terserap

0 0.005 0.01 0.015 0.02 0.025 0.03 0 2 4 6 8 10 K o n s. asam aset at (N ) Waktu (Menit)

Kurva waktu vs kons asam asetat

Ekstrak Rafinat

(15)

Run 3

Laju alir air & TCE : 400 mL/menit

No Nama sampel

Volume Titran (NaOH)

(mL)

Konsentrasi Asam Asetat (N) = 1 Umpan 3,8 0,00327 2 Rafinat 1 1 0,00086 3 Rafinat 2 0,6 0,00052 5 Ekstrak 1 4,8 0,0041 6 Ekstrak 2 13,6 0,0117

Kurva waktu terhadap konsentrasi asam asetat yang terserap

0 2 4 6 8 10 12 14 16 0 2 4 6 8 K o n s asam ase at (N ) waktu (menit)

Kurva waktu vs konsentrasi asam asetat

Ekstrak Rafinat

(16)

Run 4

Laju alir air & TCE : 500 mL/menit

No Nama sampel

Volume Titran (NaOH)

(mL)

Konsentrasi Asam Asetat (N) = 1 Umpan 46,3 0,0398 2 Rafinat 1 3,5 0,00301 3 Rafinat 2 2,6 0,00223 5 Ekstrak 1 20,6 0,0177 6 Ekstrak 2 15,8 0,0135

Kurva waktu terhadap konsentrasi asam asetat yang terserap

PERHITUNGAN

Run

Laju Alir dan Laju Alir Organik (ml/menit) Konsentrasi as. asetat di rafinat, X (N) Konsentrasi as. asetat di ekstrak, Y (N) 1 200 0,00013 0,0155 2 300 0,00034 0,0228 3 400 0,00052 0,0117 4 500 0,00223 0,0135 0 5 10 15 20 25 0 2 4 6 8 ko n s. asam ase tat ( N ) waktu (menit)

Kurva waktu vs konsentrasi asam

asetat

Ekstrak Rafinat

(17)

1.

Run 1

 Menghitung kesetimbangan massa

Laju alir TCE = 200 ml/menit = 0,2 L/menit Laju alir air = 200 ml/menit = 0,2 L/menit

Asam asetat yang terekstraksi dari fasa organik (rafinat) = Vo (X1 – X2)

Asam asetat yang terekstraksi dari fasa air (ekstrak) = Vw (Y1 – 0)

Maka : Vo (X1 – X2) = Vw (Y1 – 0), dimana Vo = Vw X1 – X2 = Y1

X1 = 0,0155 + 0,00013

X1 = 0,01563

Asam asetat yang terekstraksi dari fasa organik (rafinat) = Vo (X1 – X2)

= 0,2 L/menit (0,01563 - 0,00013) mol/L = 0,0031 mol/menit

 Menghitung efisien ekstraksi

o Laju transfer asam = 0,0031 mol/menit

o Volume packing : Tinggi packing (t) = 113 cm Diameter packing (d) = 6 cm Volume packing = ¼ π d2 t = ¼ (3,14) (6)2 cm2 (113)cm = 3193 cm3 = 3,193 L

o Mean driving force :

(18)

= X2 – 0 = 0,00013– 0 = 0,00013 = X1 – X1* = 0,46837 ⁄ = 0,058 mol/L = 0,000852 L/menit 2.

Run 2

 Menghitung kesetimbangan massa

Laju alir TCE = 300 ml/menit = 0,3 L/menit Laju alir air = 300 ml/menit = 0,3 L/menit

Asam asetat yang terekstraksi dari fasa organik (rafinat) = Vo (X1 – X2)

Asam asetat yang terekstraksi dari fasa air (ekstrak) = Vw (Y1 – 0)

Maka : Vo (X1 – X2) = Vw (Y1 – 0), dimana Vo = Vw X1 – X2 = Y1

X1 = 0,0228 + 0,00034

X1 = 0,02314

Asam asetat yang terekstraksi dari fasa organik (rafinat) = Vo (X1 – X2)

= 0,3 L/menit (0,02314 - 0,00034) mol/L = 0,00684 mol/menit

 Menghitung efisien ekstraksi

o Laju transfer asam = 0,00684 mol/menit

o Volume packing = 3,193 L

(19)

= X2 – 0 = 0,00034 – 0 = 0,00034 = X1 – X1* = 0,68936 ⁄ = 0,090 mol/L = 0,00174 L/menit 3.

Run 3

 Menghitung kesetimbangan massa

Laju alir TCE = 400 ml/menit = 0,4 L/menit Laju alir air = 400 ml/menit = 0,4 L/menit

Asam asetat yang terekstraksi dari fasa organik (rafinat) = Vo (X1 – X2)

Asam asetat yang terekstraksi dari fasa air (ekstrak) = Vw (Y1 – 0)

Maka : Vo (X1 – X2) = Vw (Y1 – 0), dimana Vo = Vw X1 – X2 = Y1

X1 = 0,0117 + 0,00052

X1 = 0,01222

Asam asetat yang terekstraksi dari fasa organik (rafinat) = Vo (X1 – X2)

= 0,4 L/menit (0,01222 - 0,00052) mol/L = 0,00468 mol/menit

(20)

o Laju transfer asam = 0,004681 mol/menit

o Volume packing = 3,193 L

o Mean driving force :

= X2 – 0 = 0,00052 – 0 = 0,00052 = X1 – X1* = 0,35338 ⁄ = 0,054 mol/L = 0,00129 L/menit 4.

Run 4

 Menghitung kesetimbangan massa

Laju alir TCE = 500 ml/menit = 0,5 L/menit Laju alir air = 500 ml/menit = 0,5 L/menit

Asam asetat yang terekstraksi dari fasa organik (rafinat) = Vo (X1 – X2)

Asam asetat yang terekstraksi dari fasa air (ekstrak) = Vw (Y1 – 0)

Maka : Vo (X1 – X2) = Vw (Y1 – 0), dimana Vo = Vw X1 – X2 = Y1

X1 = 0,0135+ 0,00223

X1 = 0,01573

(21)

= Vo (X1 – X2)

= 0,5 L/menit (0,01573 - 0,00223) mol/L = 0,00675 mol/menit

 Menghitung efisien ekstraksi

o Laju transfer asam = 0,00675 mol/menit

o Volume packing = 3,193 L

o Mean driving force :

= X2 – 0 = 0,00223 – 0 = 0,00223 = X1 – X1* = 0,40617 ⁄ = 0,077 mol/L = 0,00177 L/menit

Laju alir air dan Laju alir

organik (ml/menit) Konsentrasi as. asetat di rafinat, X (N) Konsentrasi as. asetat di ekstrak, Y (N) Koefisien transfer massa (L/menit) 200 0,00013 0,0155 0,000852 300 0,00034 0,0228 0,00174 400 0,00052 0,0117 0,00129 500 0,00223 0,0135 0,00177

Referensi

Dokumen terkait

Pada penelitian ini kondisi optimum untuk parameter pembuatan fasa emulsi yaitu 1:1, pengaruh kecepatan pembuatan emulsi pada yaitu 1000 rpm.Pengaruh konsentrasi

Tulisan ini dimaksudkan untuk mengurai konsentrasi larutan HCl dalam fase internal yang memberikan persen ekstraksi optimum pada ekstraksi ion merkuri dalam larutan

Faktor yang mempengaruhi efektifitas ekstraksi dengan teknik emulsi membran cair antara lain lama waktu ekstraksi, pebandingan volume fasa membran dan fasa internal,

5 Konsentrasi larutan tembaga(II) pada fasa umpan sebagai fungsi waktu dalam proses dialisis dengan menggunakan membran PMMA-ditizon... 6 Konsentrasi larutan tembaga(II) pada

Untuk mengetahui konsentrasi kobal(II) dalam fasa organik yang telah Untuk mengetahui konsentrasi kobal(II) dalam fasa organik yang telah dipisahkan dengan corong pisah,

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kondisi optimum ekstraksi ion tembaga(II) dalam larutan, yang meliputi konsentrasi ditizon, dan kapasitas ekstraksi ion tembaga(II)

4ari percobaan, semakin besar konsentrasi asam asetat pada campuran maka semakin besar koefisien distribusi, hal ini disebabkan karena  pertambahan volume asam asetat

Ada suatu jenis pemisahan lainnya dimana pada satu fase dapat berulang-ulang dikontakkan dengan fase yang lain, misalnya ekstraksi berulang-ulang suatu larutan