LAPORAN TUTORIAL
LAPORAN TUTORIAL
SKENARIO D BLOK 26 TAHUN 2017
SKENARIO D BLOK 26 TAHUN 2017
Disusun Oleh: Disusun Oleh: Kelompok 2 Kelompok 2
Tutor: Bahrun Indawan Kasim, M.Kes Tutor: Bahrun Indawan Kasim, M.Kes
Maulia
Maulia Sari Sari Khairunisa Khairunisa 0401118141904011181419016016 Radhiyatul
Radhiyatul Husna Husna 0401118141904011181419032032 Muhammad
Muhammad Arma Arma 0401118141904011181419056056 M.
M. Farhan Farhan Habiburrahman Habiburrahman 0401118141904011181419066066 Eriska Geriana
Eriska Geriana Permatasari Saing Permatasari Saing 0401118141040111814190769076 Melpa
Melpa Yohana Yohana Sianipar Sianipar 0401118141904011181419078078 Suci
Suci Ramadhani Ramadhani 0401118141904011181419204204 Azora
Azora Khairani Khairani Kartika Kartika 0401128141904011281419082082 Masagus
Masagus M M I I N N A A 0401128141904011281419124124 Erlina
Erlina Purnamayani Purnamayani 0401128141904011281419126126
PENDIDIKAN DOKTER UMUM PENDIDIKAN DOKTER UMUM FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SRIWIJAYASRIWIJAYA 2017
KATA PENGANTAR KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa karena atas berkat, rahmat, dan Puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa karena atas berkat, rahmat, dan karunia-Nya lah kami dapat menyusun laporan tutorial ini sesuai dengan waktu yang telah karunia-Nya lah kami dapat menyusun laporan tutorial ini sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.
ditentukan.
Laporan ini merupakan tugas hasil kegiatan tutorial skenario D dalam blok 26 Laporan ini merupakan tugas hasil kegiatan tutorial skenario D dalam blok 26 Pendidikan Dokter Umum Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya tahun 2017. Disini kami Pendidikan Dokter Umum Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya tahun 2017. Disini kami membahas sebuah kasus kemudian dipecahkan secara kelompok berdasarkan sistematik yang membahas sebuah kasus kemudian dipecahkan secara kelompok berdasarkan sistematik yang mulai dariklarifikasi istilah, identifikasi masalah, menganalisis, meninjau ulang dan menyusun mulai dariklarifikasi istilah, identifikasi masalah, menganalisis, meninjau ulang dan menyusun keterkaitan antar masalah, serta mengidentifikasi topik pembelajaran.
keterkaitan antar masalah, serta mengidentifikasi topik pembelajaran.
Bahan laporan ini kami dapatkan dari hasil diskusi antar anggota kelompok dan bahan Bahan laporan ini kami dapatkan dari hasil diskusi antar anggota kelompok dan bahan ajar dari dosen-dosen pembimbing.
ajar dari dosen-dosen pembimbing.
Akhir kata, kami mengucapkan terimakasih kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, Akhir kata, kami mengucapkan terimakasih kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, orang tua, tutor dan para anggota kelompok yang telah mendukung baik moril maupun materil orang tua, tutor dan para anggota kelompok yang telah mendukung baik moril maupun materil dalam pembuatan laporan ini. Kami mengakui dalam penulisan laporan ini terdapat banyak dalam pembuatan laporan ini. Kami mengakui dalam penulisan laporan ini terdapat banyak kekurangan. Oleh karena itu, kami mohon maaf dan mengharapkan kritik serta saran dari kekurangan. Oleh karena itu, kami mohon maaf dan mengharapkan kritik serta saran dari pembaca demi
pembaca demi kesempurnaan laporan kesempurnaan laporan kami kami di kesempatan di kesempatan mendatang.Semoga laporan mendatang.Semoga laporan ini dapini dapatat bermanfaat bagi para pembaca.
bermanfaat bagi para pembaca.
Palembang, 24 Mei 2017 Palembang, 24 Mei 2017
Kelompok B2 Kelompok B2
DAFTAR ISI DAFTAR ISI
COVER
COVER ... ... 11 KATA
KATA PENGANTAR ...PENGANTAR ... .. 22 DAFTAR
DAFTAR ISI ISI ... ... 33 BAB
BAB I. I. PENDAHULUAN ...PENDAHULUAN ... 4... 4 BAB
BAB II. II. LAPORAN ...LAPORAN ... 5... 5 I.
I. SKENARIO SKENARIO ...5...5 II.
II. KLARIFIKASI KLARIFIKASI ISTILAH ...ISTILAH ... .. 55 III.
III. IDENTIFIKASI IDENTIFIKASI MASALAH MASALAH ... 6... 6 IV.
IV. ANALISIS ANALISIS MASALAH MASALAH ... 7... 7 V.
V. LEARNING LEARNING ISSUE ...ISSUE ... . 4141 VI.
VI. KERANGKA KERANGKA KONSEP KONSEP ... 67. 67
BAB
BAB III. III. PENUTUP ...PENUTUP ... 68... 68 A.
A. KESIMPULAN...KESIMPULAN... ... 6868
DAFTAR
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Blok Ilmu Kesehatan Masyarakatadalah blok ke-26 dari Kurikulum Berbasis Kompetensi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya Palembang. Pada kesempatan ini dilaksanakan tutorial studi kasus sebagai bahan pembelajaran untuk menghadapi kasus yang sebenarnya pada waktu yang akan datang. Kasus yang dipelajari tentang promosi kesehatan.
B. Maksud dan Tujuan
Adapun maksud dan tujuan dari laporan tutorial studi kasus ini, yaitu:
1. Sebagai laporan tugas kelompok tutorial yang merupakan bagian dari sistem pembelajaran KBK di Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya Palembang.
2. Dapat menyelesaikan kasus yang diberikan pada skenario dengan metode analisis pembelajaran diskusi kelompok.
3. Tercapainya tujuan dari metode pembelajaran tutorial.
C. Data Tutorial
1. Tutor : Bahrun Indawan Kasim, M.Kes 2. Moderator : Erlina Purnamayani
3. Sekretaris : Azora Khairani Kartika dan Muhammad Arma 4. Waktu : 1. Senin, 22 Mei 2017
Pukul 10.00 – 12.30 WIB 2. Rabu, 24 Mei 2017
BAB II LAPORAN
I. SKENARIO
Pimpinan Puskesmas “Rambutan” yaitu dr. Andi yang baru bertugas 4 bulan. Dalam 7 hari ini ada 5 orang anak Sekolah Dasar yang didiagnosa Demam Berdarah Dengue yang dirujuk ke Rumah Sakit dan beberapa orang yang diobservasi Demam Berdarah Dengue.
Dr. Andi mengadakan pertemuan dengan seluruh staf Puskesmas untuk melihat jadwal kegiatan Promosi Kesehatan dan Kesehatan Lingkungan di wila yah Puskesmas dan PHBS di Sekolah Dasar tersebut. Dari hasil pertemuan dengan staf Puskesmas adalah dalam 3 bulan ini kegiatan promosi kesehatan yang berhubungan dengan kesehatan lingkungan tidak dilaksanakan, sampah menumpuk karena pembuangan ke Tempat Pembuangan Akhir terhambat sehingga banyak sampah yang masuk selokan sehingga menghambat saluran air dan hasil pemantauan banyak jentik-jentik nyamuk di rumah-rumah penduduk.
Setelah melihat permasalahan yang ada, dr. Andi berkoordinasi dengan Pak Camat. Pak Camat sebagai penanggung jawab wilayah segera mengadakan pertemuan dengan Kepala Desa, Pak RT, Kepala Sekolah, Tokoh Agama, Kader Kesehatan Dokter Kecil, untuk mengadakan Survei Mawas Diri dan dilanjutkan dengan Musyawarah Masyarakat Desa dan diharapkan menurunkan penyakit Demam Berdarah Dengue di Kecamatan Rambutan.
II. KLARIFIKASI ISTILAH
No. Klarifikasi Definisi
1. Demam Berdarah Jenis penyakit demam akut yang disebabkan oleh salah satu dari empat cerotife virus lagi dengan dengus flavi virus. Penyakit ini ditemukan manusia oleh nyamuk aedes aegypti.
2. Puskesmas Pusat Kesehatan Masyarakat adalah poliklinik di tingkat kecamatan tempat rakyat menerima pelayanan, penyuluhan, mengenai keluarga berencana.
3. Promosi Kesehatan Suatu proses yang memungkinkan individu untuk meningkatkan derajat kesehatannya, termasuk didalamnya adalah sehat secara fisik, mental, dan sosial sehingga individu atau masyarakat dapat
merealisasikan cita-citanya, mencukupi kebutuhan-kebutuhannya serta mengubah atau mengatasi lingkungannya.
4. PHBS Perilaku Hidup Bersih Sehat adalah semua perilaku yang dilakukan atas kesadarannya sehingga anggota keluarga atau keluarga dapat menolong dirinya sendiri di bidang kesehatan dan berperan aktif dalam kegiatan-kegiatan kesehatan di masyarakat.
5. Survei Mawas Diri Kegiatan pengenalan, pengumpulan, dan pengkajian masyarakat kesehatan yang dilakukan oleh kader dan tokoh masyarakat setempat dibawah bimbingan kepala desa dan petugas kesehatan.
6. Kepala Desa Pimpinan tertinggi dari pemerintah desa.
7. Pak Camat Pemimpin kecamatan yang berada dibawah dan bertanggung jawab kepada bupati atau walikota.
8. Rukun Tetangga Pembagian wilayah di Indonesia dibawah rukun warga. Rukun tetangga bukanlah termasuk pembagian administrasi pemerintahan, dan pembentukannya adalah melalui musyawarah masyarakat setempat dalam rangka pelayan kemasyarakatan yang ditetapkan oleh desa atau kelurahan.
9. Kepala Sekolah Tenaga fungsional guru yang diberi tugas untuk memimpin suatu sekolah.
10. Tokoh Agama Orang-orang penting yang memimpin sekelompok umat beragama dalam menjalankan kegiatan beribadah atau kegiatan keagamaan yang lainnya.
III. IDENTIFIKASI MASALAH
1. Pimpinan Puskesmas “Rambutan” yaitu dr. Andi yang baru bertugas 4 bulan. Dalam 7 hari ini ada 5 orang anak Sekolah Dasar yang didiagnosa Demam Berdarah Dengue yang dirujuk ke Rumah Sakit dan beberapa orang yang diobservasi Demam Berdarah Dengue. 2. Dr. Andi mengadakan pertemuan dengan seluruh staf Puskesmas untuk melihat jadwal
kegiatan Promosi Kesehatan dan Kesehatan Lingkungan di wilayah Puskesmas dan PHBS di Sekolah Dasar tersebut. Dari hasil pertemuan dengan staf Puskesmas adalah dalam 3 bulan ini kegiatan promosi kesehatan yang berhubungan dengan kesehatan
lingkungan tidak dilaksanakan, sampah menumpuk karena pembuangan ke Tempat Pembuangan Akhir terhambat sehingga banyak sampah yang masuk selokan sehingga menghambat saluran air dan hasil pemantauan banyak jentik-jentik nyamuk di rumah-rumah penduduk.
3. Setelah melihat permasalahan yang ada, dr. Andi berkoordinasi dengan Pak Camat. Pak Camat sebagai penanggung jawab wilayah segera mengadakan pertemuan dengan Kepala Desa, Pak RT, Kepala Sekolah, Tokoh Agama, Kader Kesehatan Dokter Kecil, untuk mengadakan Survei Mawas Diri dan dilanjutkan dengan Musyawarah Masyarakat Desa dan diharapkan menurunkan penyakit Demam Berdarah Dengue di Kecamatan Rambutan.
IV. ANALISIS MASALAH
1. Pimpinan Puskesmas “Rambutan” yaitu dr. Andi yang baru bertugas 4 bulan. Dalam 7 hari ini ada 5 orang anak Sekolah Dasar yang didiagnosa Demam Berdarah Dengue yang dirujuk ke Rumah Sakit dan beberapa orang yang diobservasi Demam Berdarah Dengue.
a. Bagaimana siklus penularan DBD?
Penyakit Demam Berdarah Dengue ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti. Nyamuk ini mendapat virus Dengue sewaktu mengigit mengisap darah orang yang sakit Demam Berdarah Dengue atau tidak sakit tetapi didalam darahnya terdapat virus dengue. Seseorang yang didalam darahnya mengandung virus dengue merupakan sumber penularan penyakit demam berdarah. Virus dengue berada dalam darah selama 4-7 hari mulai 1-2 hari sebelum demam. Bila penderita tersebut digigit nyamuk penular, maka virus dalam darah akan ikut terisap masuk kedalam lambung nyamuk. Selanjutnya virus akan memperbanyak diri dan tersebar diberbagai jaringan tubuh nyamuk termasuk didalam kelenjar liurnya. Kira-kira 1 minggu setelah mengisap darah penderita, nyamuk tersebut siap untuk menularkan kepada orang lain (masa inkubasi ekstrinsik). Virus ini akan tetap berada dalam tubuh nyamuk sepanjang hidupnya. Oleh karena itu nyamuk Aedes aegypti yang telah mengisap virus dengue itu menjadi penular (infektif) sepanjang hidupnya. Penularan ini terjadi karena setiap kali nyamuk menusuk/mengigit, sebelum mengisap darah akan mengeluarkan air liur melalui alat tusuknya (proboscis) agar darah yang diisap tidak membeku. Bersama air liur inilah virus dengue dipindahkan dari nyamuk ke orang lain.
Gambar 1. Pola Penularan DBD
b. Bagaimana cara penangangan dan pencegahan DBD? Penanggulangan dan Promosi Kesehatan
Upaya penanggulangan DBD telah dilaksanakan sejak tahun 1968, namun diprogramkan secara teratur sejak tahun 1974 dengan dibentuknya Subdit Arbovirosis di Departemen Kesehatan. Berbagai kegiatan telah dilaksanakan antara lain meliputi: 1) Pelatihan dokter, 2) Pemberantasan vektor dan 3) Penyuluhan kepada masyarakat. Mengingat vaksin untuk mencegah dan obat untuk membasmi virusnya belum tersedia, maka cara yang dapat dilakukan sampai saat ini ialah
dengan memberantas nyamuk penularnya (vektor). Pemberantasan vektor dapat dilakukan terhadap nyamuk dewasa maupun jentiknya. Pada tahun 1969-1980 pemberantasan vektor menggunakan insektisida dengan fogging terutama bila terjadi
wabah atau kejadian luar biasa (KLB). Pada tahun 1988, selain fogging juga dilaksanakan abatisasi massal untuk membunuh jentik, yang dilakukan sebelum musim penularan di daerah endemis. Sejak tahun 1989/1990 dilaksanakan pemberantasan DBD secara terpadu, yaitu terdiri dari penanggulangan fokus, fogging
massal sebelum musim penularan dan abatisasi setiap tiga bulan di kelurahan-kelurahan endemis. Di kelurahan-kelurahan-kelurahan-kelurahan lain dalam wilayah kecamatan yang sama, dilakukan penyuluhan kepada masyarakat untuk melaksanakan PSN DBD. Cara tersebut mulai diterapkan secara intensif pada tahun 1991/1992, namun luas wilayah yang ditanggulangi masih sangat terbatas.
Namun demikian, hingga saat ini upaya pemberantasan DBD belum berhasil di Indonesia, sehingga penyakit ini masih sering terjadi dan menimbulkan KLB di berbagai daerah. Permasalahan utama dalam upaya menekan angka kesakitan adalah
masih belum berhasilnya upaya penggerakan peran serta masyarakat dalam PSN DBD melalui Gerakan 3M yang mulai diintensifkan sejak 1992.
Oleh karena itu, untuk meningkatkan upaya pemberantasan penyakit DBD pada tahun 2004 baik selama KLB maupun sesudah KLB dan untuk tahun-tahun yang akan datang diperlukan adanya Juru Pemantau Jentik (Jumantik) dalam melakukan pemeriksaan jentik secara berkala dan terus-menerus serta menggerakkan masyarakat dalam melaksanakan PSN DBD.
Penyuluhan dan penggerakan masyarakat untuk PSN (pemberantasan sarang nyamuk). Penyuluhan/informasi tentang demam berdarah dan pencegahannya dilakukan melalui jalur- jalur informasi yang ada:
Penyuluhan kelompok: PKK, organisasi sosial masyarakat lain, kelompok agama, guru, murid sekolah, pengelola tempat umum/instansi, dll.
Penyuluhan perorangan:
1. Kepada ibu-ibu pengunjung Posyandu
2. Kepada penderita/keluarganya di Puskesmas 3. Kunjungan rumah oleh Kader/petugas Puskesmas
Penyuluhan melalui media massa: TV, radio, dll (oleh Dinas Kesehatan Tk. II, I dan pusat). Menggerakkan masyarakat untuk PSN penting terutama sebelum musim penularan (musim hujan) yang pelaksanaannya dikoordinasikan oleh kepala Wilayah setempat. Kegiatan PSN oleh masyarakat ini seyogyanya
diintegrasikan ke dalam kegiatan di wilayah dalam rangka program Kebersihan dan Keindahan Kota. Di tingkat Puskesmas, usaha/kegiatan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) demam berdarah ini seyogyanya diintegrasikan dalam program Sanitasi Lingkungan.
Cara Melakukan Penyuluhan Kelompok
1. Penyuluhan kelompok dapat dilaksanakan di kelompok Dasawisma, pertemuan arisan atau pada pertemuan Warga RT/RW, pertemuan dalam kegiatan keagamaan atau pengajian, dan sebagainya.
2. Langkah-langkah dalam melakukan penyuluhan kelompok:
Usahakan agar setiap peserta pertemuan dapat duduk dalam posisi saling bertatap muka satu sama lain. Misalnya berbentuk huruf U, O atau setengah
lingkaran.
Mulailah dengan memperkenakan diri dan perkenalan semua peserta
Kemudian disampaikan pentingnya membicarakan demam berdarah dengue, antara lain bahayanya, dapat menyerang sewaktu-waktu pada semua umur terutama anak-anak.
Jelaskan materi yang telah disiapkan sebelumnya secara singkat dengan menggunakan gambar-gambar atau alat peraga misalnya lembar balik ( flipchart ) atau leaflet/poster
Setelah itu beri kesempatan kepada peserta untuk berbicara atau mengajukan pertanyaan tentang materi yang dibahas
Pada akhir penyuluhan, ajukan beberapa pertanyaan untuk mengetahui sejauh mana materi yang disampaikan telah dipahami.
Pelaporan penderita dan pelaporan kegiatan
1. Sesuai dengan ketentuan/sistim pelaporan yang berlaku, pelaporan penderita demam berdarah dengue menggunakan formulir :
W1/laporan KLB (wabah)
W2/laporan mingguan wabah
SP2TP : LB 1/laporan bulanan data kesakitan, LB 2/laporan bulanan data
kematian. Sedangkan untuk pelaporan kegiatan menggunakan formulir LB3/laporan bulanan kegiatan Puskesmas (SP2TP).
2. Penderita demam berdarah/suspect demam berdarah perlu diambil specimen darahnya (akut dan konvalesens) untuk pemeriksaan serologis. Specimen dikirim
bersama-sama ke Balai Laboratorium Kesehatan (BLK) melalui Dinas Kesehatan Dati II setempat.
Jika terjadi KLB, maka kegiatan tersebut di bawah ini harus dilakukan: 1. Pengobatan/perawatan penderita
2. Penyelidikan epidemiologi 3. Pemberantasan vector
4. Penyuluhan kepada masyarakat
5. Evaluasi/penilaian penanggulangan KLB
Pemberantasan vektor
Empat prinsip dalam membuat perencanaan pemberantasan vektor, yaitu:
1. Mengambil manfaat dari adanya perubahan musiman keadaan nyamuk oleh
pengaruh alam, dengan melakukan pemberantasan vektor pada saat kasus penyakit DBD paling rendah.
2. Memutuskan lingkaran penularan dengan cara menahan kepadatan vektor pada
tingkat yang rendah untuk memungkinkan penderita- penderita pada masa viremia sembuh sendiri.
3. Mengusahakan pemberantasan vektor di semua daerah dengan potensi penularan
tinggi, yaitu daerah padat penduduknya dengan kepadatan nyamuk cukup tinggi.
4. Mengusahakan pemberantasan vektor di pusat pusat penyebaran seperti sekolah,
Rumah Sakit, serta daerah penyangga sekitarnya.
c. Apakah kasus di skenario termasuk KLB?
KLB adalah kepanjangan dari Kejadian Luar Biasa. Kejadian Luar Biasa adalah suatu bentuk status yang ditetapkan oleh pemerintah Indonesia untuk menjelaskan atau mengklarifikasi kejadian merebaknya suatu wabah penyakit, baik yang menular maupun tidak menular. Status KLB hanya bisa diberikan oleh negara berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.
949/MENKES/SK/VII/2004.
Apabila timbul atau terjadi peningkatan suatu wabah penyakit atau kematian yang bermakna secara epidemiologis dalam kurun waktu tertentu pada suatu daerah tertentu maka status Kejadian Luar Biasa bisa ditetapkan oleh Pemerintah. Penetapan status Kejadian Luar Biasa didasarkan atas beberapa kriteria atau unsur sebagai berikut di bawah ini.
Unsur/Kriteria Dasar Penetapan Status Kejadian Luar Biasa (KLB) di Indonesia:
a. Munculnya suatu penyakit menular yang tidak dikenal karena belum ada sebelumnya
b. Terjadi suatu peningkatan yang signifikan suatu infeksi penyakit atau kematian terus-menerus selama 3 kurun waktu berturut-turut menurut jenis penyakit.
c. Adanya peningkatan jumlah orang yang menderita atau menemui ajalnya karena suatu penyakit sebanyak dua kali lipat atau lebih dibandingkan periode sebelumnya.
d. Dalam kurun waktu satu bulan terdapat penderita baru suatu penyakit dua kali lipat atau lebih daripada angka rata-rata perbulan dalam tahun sebelumnya.
d. Apa fungsi dan peran Puskesmas (UKM, UKP)?
Puskesmas mempunyai tugas melaksanakan kebijakan kesehatan untuk mencapai tujuan pembangunan kesehatan di wilayah kerjanya dalam rangka mendukung terwujudnya kecamatan sehat.Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4,Puskesmas menyelenggarakan fungsi:
penyelenggaraan UKM tingkat pertama di wilayah kerjanya; dan penyelenggaraan UKP tingkat pertama di wilayah kerjanya.
Puskesmas menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat tingkatpertama dan upaya kesehatan perseorangan tingkat pertama.Upaya kesehatan dilaksanakan secara terintegrasi dan berkesinambungan.
A. Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM) Tingkat Pertama
Upaya kesehatan masyarakat tingkat pertama meliputi upaya kesehatan masyarakat esensial danupaya kesehatan masyarakat pengembangan.Upaya kesehatan masyarakat esensial meliputi:
pelayanan promosi kesehatan;
pelayanan kesehatan lingkungan;
pelayanan kesehatan ibu, anak, dan keluarga berencana;
pelayanan gizi; dan
Upaya kesehatan masyarakat esensial harus diselenggarakan oleh setiap Puskesmas untuk mendukung pencapaian standar pelayanan minimal kabupaten/kota bidang kesehatan.
Upaya kesehatan masyarakat pengembangan merupakan upaya kesehatan masyarakat yang kegiatannya memerlukan upaya yang sifatnya inovatif dan/atau bersifat ekstensifikasi dan intensifikasi pelayanan, disesuaikan dengan prioritas
masalah kesehatan, kekhususan wilayah kerja dan potensi sumber daya yang tersedia di masing-masing Puskesmas.
B. Upaya Kesehatan Perseorangan (UKP) Tingkat Pertama
Upaya kesehatan perseorangan tingkat pertama dilaksanakan dalam bentuk:
rawat jalan;
pelayanan gawat darurat;
pelayanan satu hari (one day care); home care; dan/atau
rawat inap berdasarkan pertimbangan kebutuhan pelayanan kesehatan.
Upaya kesehatan perseorangan tingkat pertama sebagaimanadilaksanakan sesuai dengan standar proseduroperasional dan standar pelayanan.
Puskesmas memiliki wilayah kerja yang meliputi satu kecamatan atau sebagian dari kecamatan. Faktor kepadatan penduduk, luas daerah, keadaan geografi dan keadaan infrastruktur lainnya merupakan bahan pertimbangan dalam menentukan wilayah kerja puskesmas. Untuk perluasan jangkauan pelayanan kesehatan maka puskesmas perlu ditunjang dengan unit pelayanan kesehatan yang lebih sederhana yang disebut puskesmas pembantu dan puskesmas keliling. Khusus untuk kota besar dengan jumlah penduduk satu juta jiwa atau lebih, wilayah kerja puskesmas
dapat meliputi satu kelurahan. Puskesmas di ibukota kecamatan dengan jumlah penduduk 150.000 jiwa atau lebih, merupakan puskesmas Pembina yang berfungsi sebagai pusat rujukan bagi puskesmas kelurahan dan juga mempunyai
fungsi koordinasi.
Menurut Trihono (2005) ada 3 (tiga) fungsi puskesmas yaitu: pusat penggerak pembangunan berwawasan kesehatan yang berarti puskesmas selalu berupaya menggerakkan dan memantau penyelenggaraan pembangunan lintas sektor termasuk oleh masyarakat dan dunia usaha di wilayah kerjanya, sehingga berwawasan serta mendukung pembangunan kesehatan. Disamping itu puskesmas aktif memantau
dan melaporkan dampak kesehatan dari penyelenggaraan setiap program pembangunan diwilayah kerjanya. Khusus untuk pembangunan kesehatan, upaya yang dilakukan puskesmas adalah mengutamakan pemeliharaan kesehatan dan pencegahan penyakit tanpa mengabaikan penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan. Pusat pemberdayaan masyarakat berarti puskesmas selalu berupaya agar perorangan terutama pemuka masyarakat, keluarga dan masyarakat termasuk dunia usaha memiliki kesadaran, kemauan dan kemampuan melayani diri sendiri dan masyarakat untuk hidup sehat, berperan aktif dalam memperjuangkan kepentingan kesehatan termasuk sumber pembiayaannya, serta ikut menetapkan, menyelenggarakan dan memantau pelaksanaan program kesehatan. Pemberdayaan perorangan, keluarga dan masyarakat ini diselenggarakan dengan memperhatikan
kondisi dan situasi, khususnya sosial budaya masyarakat setempat.
Pusat pelayanan kesehatan strata pertama berarti puskesmas bertanggung jawab menyelenggarakan pelayanan kesehatan tingkat pertama secara menyeluruh, terpadu dan berkesinambungan. Pelayanan kesehatan tingkat pertama yang menjadi tanggungjawab puskesmas meliputi :
Pelayanan kesehatan perorangan adalah pelayanan yang bersifat pribadi (privat goods) dengan tujuan utama menyembuhkan penyakit dan pemulihan kesehatan perorangan, tanpa mengabaikan pemeliharan kesehatan dan pencegahan penyakit.
Pelayanan perorangan tersebut adalah rawat jalan dan untuk puskesmas tertentu ditambah dengan rawat inap.
Pelayanan kesehatan masyarakat adalah pelayanan yang bersifat publik (public goods) dengan tujuan utama memelihara dan meningkatkan kesehatan serta mencegah penyakit tanpa mengabaikan penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan. Pelayanan kesehatan masyarakat disebut antara lain adalah promosi kesehatan, pemberantasan penyakit, penyehatan lingkungan, perbaikan gizi, peningkatan kesehatan keluarga, keluarga berencana, kesehatan jiwa masyarakat
serta berbagai program kesehatan masyarakat lainnya.
Ada beberapa proses dalam melaksanakan fungsi tersebut yaitu merangsang masyarakat termasuk swasta untuk melaksanakan kegiatan dalam rangka menolong dirinya sendiri, memberikan petunjuk kepada masyarakat tentang bagaimana menggali dan menggunakan sumber daya yang ada secara efektif dan efisien, memberikan bantuan yang bersifat bimbingan teknis materi dan rujukan medis maupun rujukan kesehatan kepada masyarakat dengan ketentuan bantuan tersebut tidak menimbulkan ketergantungan memberikan pelayanan kesehatan langsung
kepada masyarakat, bekerja sama dengan sektor- sektor yang bersangkutan dalam melaksanakan program puskesmas.
e. Apa tugas Pemimpin Puskesmas secara umum?
Pemimpin Puskesma mempunyai tugas pokok dan fungsi: memimpin, mengawasi dan mengkoordinir kegiatan Puskesmas yang dapat dilakukan dalam jabatan struktural dan jabatan fungsional.
I. Tugas Pokok
Mengusahakan agar fungsi puskesmas dapat diselenggarakan dengan baik. II. Fungsi
1. Sebagai seorang Dokter 2. Sebagai Manajer
III. Kegiatan pokok
1. Melaksanakan fungsi-fungsi manajemen.
2. Melakukan pemeriksaan dan pengobatan pasien dalam rangka rujukan menerima menerima konsultasi.
3. Mengkoordinir kegiatan penyuluhan kesehatan masyarakat. 4. Mengkoordinir pengembangan PKMD.
5. Membina karyawan/karyawati puskesmas dalam pelaksanaan tugas sehari-hari.
6. Melakukan pengawasan melekat bagi seluruh pelaksanaan kegiatan/program.
7. Mengadakan koordinasi dengan Lintas Sektoral dalam upaya pembangunan kesehatan diwilayah kerja Puskesmas.
8. Menjalin kemitraan dengan berbagai pihak dan masyarakat dalam rangka peningkatan derajat kesehatan masyarakat.
9. Menyusun perencanaan kegiatan Puskesmas dengan dibantu oleh staf Puskesmas.
10. Memonitor dan mengevaluasi kegiatan Puskesmas.
11. Melaporkan hasil kegiatan program ke Dinas Kesehatan Kabupaten, baik berupa laporan rutin maupun khusus.
12. Membina petugas dalam meningkatkan mutu pelayanan.
13. Melakukan supervisi dalam pelaksanaan kegiatan di Puskesmas, Pustu, PKD, Puskesling, Posyandu dan di masyarakat.
14. Sebagai dokter (fungsional) melaksanakan tugas pelayanan pemeriksaan dan pengobatan pasien Puskesmas.
IV. Kegiatan Lain
Menerima konsultasi dari semua kegiatan Puskemas.
f. Bagaimana sistem rujukan dari Puskesmas ke RS?
Rujukan adalah pelimpahan wewenang dan tanggungjawab atas kasus penyakit atau masalah kesehatan yang diselenggarakan secara timbal balik, baik secara vertikal dalam arti satu strata sarana pelayanan kesehatan ke strata sarana pelayanan kesehatan lainnya, maupun secara horisontal dalam arti antar sarana pelayanan kesehatan yang sama. Sesuai dengan jenis upaya kesehatan yang diselenggarakan oleh puskesmas ada dua macam rujukan yang dikenal, yakni:
a. Rujukan upaya kesehatan perorangan
Cakupan rujukan pelayanan kesehatan perorangan adalah kasus penyakit. Apabila suatu puskesmas tidak mampu menanggulangi satu kasus penyakit tertentu, maka puskesmas tersebut wajib merujuknya ke sarana pelayanan kesehatan yang lebih
mampu (baik horisontal maupun vertikal). Sebaliknya pasien paska rawat inap yang hanya memerlukan rawat jalan sederhana, dirujuk ke puskesmas.
Rujukan upaya kesehatan perorangan dibedakan atas tiga macam:
Rujukan kasus keperluan diagnostik, pengobatan, tindakan medik (biasanya
operasi) dan lain-lain.
Rujukan bahan pemeriksaan (spesimen) untuk pemeriksaan laboratorium yang
lebih lengkap.
Rujukan ilmu pengetahuan antara lain mendatangkan tenaga yang lebih
kompeten untuk melakukan bimbingan kepada tenaga puskesmas dan ataupun menyelenggarakan pelayanan medik di puskesmas.
b. Rujukan upaya kesehatan masyarakat Cakupan rujukan pelayanan kesehatan masyarakat adalah masalah kesehatan masyarakat, misalnya kejadian luar biasa, pencemaran lingkungan, dan bencana
Rujukan pelayanan kesehatan masyarakat juga dilakukan apabila satu puskesmas tidak mampu menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat wajib dan pengembangan, padahal upaya kesehatan masyarakat tersebut telah menjadi
kebutuhan masyarakat. Apabila suatu puskesmas tidak mampu menanggulangi masalah kesehatan masyarakat, maka puskesmas tersebut wajib merujuknya ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.
Rujukan upaya kesehatan masyarakat dibedakan atas tiga macam:
Rujukan sarana dan logistik, antara lain peminjaman peralatan fogging,
peminjaman alat laboratorium kesehatan, peminjaman alat audio visual, bantuan obat, vaksin, bahan-bahan habis pakai dan bahan makanan.
Rujukan tenaga antara lain dukungan tenaga ahli untuk penyelidikan kejadian
luar biasa (KLB), bantuan penyelesaian masalah hukum kesehatan, penanggulangan gangguan kesehatan karena bencana alam.
Rujukan operasional, yakni menyerahkan sepenuhnya masalah kesehatan
masyarakat dan tanggungjawab penyelesaian masalah kesehatan masyarakat dan atau penyelenggaraan upaya kesehatan masyarakat (antara lain Upaya Kesehatan Sekolah, Upaya Kesehatan Kerja, Upaya Kesehatan Jiwa, pemeriksaan contoh air bersih) kepada Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.
Rujukan operasional diselenggarakan apabila puskesmas tidak mampu.
Secara skematis pelaksanaan azas rujukan dapat digambarkan sebagai berikut:
Gambar 2. Skema azas rujukan
2. Dr. Andi mengadakan pertemuan dengan seluruh staf Puskesmas untuk melihat jadwal kegiatan Promosi Kesehatan dan Kesehatan Lingkungan di wilayah
Puskesmas dan PHBS di Sekolah Dasar tersebut. Dari hasil pertemuan dengan staf Puskesmas adalah dalam 3 bulan ini kegiatan promosi kesehatan yang berhubungan dengan kesehatan lingkungan tidak dilaksanakan, sampah
menumpuk karena pembuangan ke Tempat Pembuangan Akhir terhambat sehingga banyak sampah yang masuk selokan sehingga menghambat saluran air dan hasil pemantauan banyak jentik-jentik nyamuk di rumah-rumah penduduk.
a. Bagaimana konsep Promosi Kesehatan?
Menyadari rumitnya hakikat dari perilaku, maka perlu dilaksanakan strategi promosi kesehatan paripurna yang terdiri dari (1) pemberdayaan, yang didukung oleh
(2) bina suasana dan (3) advokasi, serta dilandasi oleh semangat (4) kemitraan.
Pemberdayaan adalah pemberian informasi dan pendampingan dalam mencegah dan menanggulangi masalah kesehatan, guna membantu individu, keluarga atau kelompok-kelompok masyarakat menjalani tahap-tahap tahu, mau dan mampu mempraktikkan PHBS.
Bina suasana adalah pembentukan suasana lingkungan sosial yang kondusif dan mendorong dipraktikkannya PHBS serta penciptaan panutan-panutan dalam mengadopsi PHBS dan melestarikannya.
Sedangkan advokasi adalah pendekatan dan motivasi terhadap pihak-pihak tertentu yang diperhitungkan dapat mendukung keberhasilan pembinaan PHBS baik dari segi materi maupun non materi.
Gambar 3. Strategi Promosi Kesehatan
PRECEDE/PROCEED adalah Model partisipasi masyarakat yang berorientasi menciptakan masyarakat yang berhasil mengubah perilaku akibat intervensi promosi kesehatan. Model “PRECEDE/PROCEED” berfungsi sebagai “frame”.
Tujuannya untuk membangun program, menyediakan struktur organisasi & proses perencanaan, pelaksanaan serta evaluasi.Tiga tahap dalam perencanaan program menggunakan PRECEDE/PROCEED
1. Fluiditas: menggunakan langkah secara berurutan dan konsisten 2. Fleksibilitas - beradaptasi dengan kebutuhan stakeholder
3. Fungsi - berguna untuk menaksir perubahan perilaku
Tahapan Precede:
Tahap 1: Diagnosis Sosial: adalah proses penentuan persepsi masyarakat terhadap
kebutuhan kualitas hidupnya dan aspirasi masyarakat untuk meningkatkan kualitas hidupnya, melalui partisipasi dan penerapan berbagai informasi yang didesain sebelumnya
Tahap 2: Diagnosis Epidemiologi: identifikasi siapa atau kelompok mana yang
terkena masalah kesehatan (umur, jenis kelamin, lokasi, suku dll), bagaimana pengaruh atau akibat dari masalah kesehatan tersebut
Tahap 3: Perilaku dan diagnosis lingkungan: identifikasi masalah perilaku yang
mempengaruhi masalah kesehatan sekaligus diidentifikasi masalah lingkungan (fisik dan sosial) yang mempengaruhi perilaku dan status kesehatan ataupun kualitas hidup
Tahap 4: Pendidikan dan diagnosis organisasi: faktor predisposisi (predisposing
factor) seperti: pengetahuan, sikap, persepsi, kepercayaan dan nilai atau norma yang diyakini seseorang, faktor pemungkin (enabling factor), yaitu faktor lingkungan yang memfasilitasi perilaku seseorang faktor penguat (reinforcing factor) seperti perilaku orang lain yang berpengaruh (tokoh masyarakat, guru, petugas kesehatan, orang tua, pemegang keputusan) yang dapat mendorong orang
untuk berperilaku
Tahap 5: Administrasi dan Kebijakan diagnosis: analisis kebijakan, sumber daya
dan peraturan yang berlaku yang dapat memfasilitasi atau menghambat pengembangan program promosi kesehatan.
Tahapan Proceed:
Tahap 6: Implementasi: Tindakan mengubah tujuan program ke dalam tindakan
melalui perubahan kebijakan, regulasi dan organisasi
Tahap 7: Evaluasi Proses: Pengukuran implementasi untuk mengontrol,
meyakinkan dan meningkatkan kualitas program
Tahap 8: Evaluasi Dampak: dampak program diamati langsung
Gambar 4. Langkah Intervensi Promosi Kesehatan
Menurut Ewles dan Simnett (1994) dalam bukunya Maulana (2009), ada lima pendekatan promosi kesehatan, yaitu:
Pendekatan medik
Pendekatan ini mempunyai tujuan yaitu membebaskan dari penyakit dan kecacatan yang didefinisikan secara medik, seperti penyakit infeksi, kanker, dan jantung. Pendekatan ini melihat intervensi kedokteran untuk mencegah atau meringankan kesakitan. Pendekatan ini memberikan arti penting terhadap tindakan pencegahan medik, dan merupakan tanggung jawab profesi kedokteran, membuat kepastian bahwa pasien patuh pada prosedur yang dianjurkan.
Pendekatan perubahan perilaku
Pendekatan ini bertujuan mengubah sikap dan perilaku individual masyarakat, sehingga mereka mengadopsi gaya hidup sehat. Pendekatan ini meyakinkan kita bahwa gaya hidup sehat merupakan hal penting bagi klien.
Pendekatan pendidikan
Pendekatan ini bertujuan memberikan informasi dan memastikan pengetahuan dan pemahaman tentang perilaku kesehatan, dan membuat keputusan yang ditetapkan
atas dasar informasi yang ada.
Pendidikan berpusat pada klien
Tujuan dari pendekatan ini adalah bekerja dengan klien agar dapat membantu mereka mengidentifikasi apa yang ingin mereka ketahui dan lakukan, dan
membuat keputusan dan pilihan mereka sendiri sesuai kepentingan dan nilai mereka.
Pendekatan perubahan sosial
Pendekatan ini pada prinsipnya mengubah masyarakat, bukan pada perilaku setiap individu. Orang-orang yang menerapkan pendekatan ini memberikan nilai penting bagi hak demokrasi mereka mengubah masyarakat, memiliki komitmen pada penempatan kesehatan dalam agenda politik diberbagai tingkat.
b. Apa saja sasaran dari Promosi Kesehatan? 1. Sasaran primer
Dapat berupa pasien, individu sehat dan keluarga (rumah tangga) sebagai komponen dari masyarakat. Mereka ini diharapkan mengubah prilaku hidup mereka yang tidak bersih dan tidak sehat menjadi prilaku yang bersih dan sehat. 2. Sasaran Sekunder
Adalah para pemuka masyarakat, baik pemuka informal (misalnya pemuka adat, pemuka agama dan lainlain) maupun pemuka formal (misalnya petugas kesehtan, penjabat pemerintahan, organisasi kemasyarakatan dan media masa. Diharapkan mereka mampu menjadi panutan dalam mempraktiskan PHBS, turut menyebarluaskan PHBS, dan dapat juga sebagai kelompok penekan guna mempercepat terbentuknya PHBS
3. Sasaran Tersier
Adalah para pembuat kebijakan public yang berupa peraturan perundang-undangan di bidang kesehatan dan bidang-bidang lain yang berkaitan serta mereka yang dapat memfasilitasi atau menyediakan sumber daya.
c. Apa misi dan strategi Promosi Kesehatan?
- Misi promosi kesehatan secara umum dapat dirumuskan menjadi 3 butir, yaitu: a. Advokat. Melakukan advokasi berarti melakukan upaya-upaya agar para
pembuat keputusan mempercayai dan meyakini bahwa program kesehatan yang ditawarkan perlu didukung melalui kebijakan politik.
b. Menjembatani. Menjadi jembatan dan menjalin kemitraan dengan berbagai program dan sector yang terkait dengan kesehatan.Dalam melaksanakan programprogram kesehatan perlu kerja sama dengan program lain di
c. Memampukan. Memberikan kemampuan kepada masyarakat agar mereka mampu memelihara dan meningkatkan kesehatan mereka sendiri secara mandiri.Hal ini berarti masyarakat diberikan keterampilan agar mereka mandiri di bidang kesehatan, termasuk memelihara dan meningkatkan kesehatan mereka.
- Strategi promosi kesehatan:
Strategi dari promosi kesehatan dapat dilakukan yaitu :
a. Strategi global (berdasarkan WHO) yaitu advokasi,dukungan sosial,dan pemberdayaan masyarakat.
b. Strategi berdasarkan Piagam Ottawa dikelompokkan menjadi lima bagian yaitu:
Kebijakan berwawasan kesehatan Lingkungan yang mendukung Berorientasi pelayanan kesehatan Keterampilan individu
Gerakan masyarakat
d. Apa saja cakupan Promosi Kesehatan?
Ruang Lingkup Promosi Kesehatan Menurut Prof. Dr. Soekidjo Notoadmodjo, ruang lingkup promosi kesehatan dapat dilihat dari dimensi aspek pelayanan kesehatan, dimensi tatanan (setting) atau tempat pelaksanaan promosi kesehatan dan dimensi tingkat pelayanan.
Ruang Lingkup Berdasarkan Aspek Kesehatan
Secara umum bahwa kesehatan masyarakat itu mencakup empat aspek pokok, yakni: promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif
Ruang Lingkup Promosi Kesehatan Berdasarkan Tatanan Pelaksanaan
Ruang lingkup promosi kesehatan ini dikelompokkan menjadi promosi kesehatan pada tatanan keluarga (rumah tangga), pada tatanan sekolah, di tempat kerja, di
tempat-tempat umum, dan di institusi pelayanan kesehatan
Ruang Lingkup Berdasarkan Tingkat Pelayanan
Pada ruang lingkup tingkat pelayanan kesehatan promosi kesehatan dapat dilakukan berdasarkan lima tingkat pencegahan (five level of prevention) dari Leavel and Clark.
1. Promosi kesehatan ( health promotion) 2. Perlindungan khusus (specific protection)
3. Diagnosis dini dan pengobatan segera (early diagnosis and prompt treatment) 4. Pembatasan cacat (disability limitation)
5. Rehabilitasi (rehabilitation)
e. Bagaimana Promosi Kesehatan yang harus dilakukan Puskesmas?
Pelaksanaan promosi kesehatan di Puskesmas pada dasarnya adalah penerapan strategi promosi kesehatan, yaitu pemberdayaan, bina suasana, dan advokasi di tatanan sarana kesehatan, khususnya Puskesmas. Oleh karena itu, langkah awalnya adalah berupa penggerakan dan pengorganisasian untuk memberdayakan para petugas Puskesmas agar mampu mengidentifikasi 43 masalah-masalah kesehatan
yang disandang pasien/klien Puskesmas dan menyusun rencana untuk menanggulanginya dari sisi promosi kesehatan. Setelah itu, barulah dilaksanakan promosi kesehatan sesuai dengan peluang-peluang yang ada, yaitu peluangpeluang di
dalam gedung Puskesmas dan peluang-peluang di luar gedung Puskesmas.
Puskesmas merupakan unit pelaksana teknis dari dinas kesehatan kabupaten/kota. Oleh karena itu, keberhasilan pelaksanaan promosi kesehatan di Puskesmas juga merupakan tanggung jawab dari dinas kesehatan kabupaten/kota. Dengan demikian, sangat diperlukan keterlibatan dinas kesehatan kabupaten/kota dalam pelaksanaan promosi kesehatan di Puskesmas, khususnya dalam langkah penggerakan dan pengorganisasian untuk memberdayakan para petugas Puskesmas. Petugas Puskesmas harus mendapat pendampingan oleh fasilitator dari dinas kesehatan kabupaten/kota agar mampu melaksanakan: (1) Pengenalan Kondisi Puskesmas, (2) Identifikasi Masalah Kesehatan dan PHBS di Puskesmas, (3) Musyawarah Kerja, (4) Perencanaan Partisipatif, (5) Pelaksanaan Kegiatan dan (6) Pembinaan Kelestarian.
PENGENALAN KONDISI PUSKESMAS
Sebelum memulai promosi kesehatan di Puskesmas, perlu dilakukan pengenalan kondisi institusi kesehatan untuk memperoleh data dan informasi tentang PHBS di Puskesmas tersebut, sebagai data dasar (baseline data). Yang digunakan sebagai standar adalah persyaratan Puskesmas yang Ber-PHBS (8 indikator proksi). Pengenalan kondisi Puskesmas ini dilakukan oleh fasilitator dengan dukungan dari Kepala dan seluruh petugas Puskesmas.
Pengenalan kondisi Puskesmas dilakukan melalui pengamatan (observasi), penggunaan daftar periksa (check list), wawancara, pemeriksaan lapangan atau pengkajian terhadap dokumen-dokumen yang ada.
Pengenalan kondisi Puskesmas dilanjutkan dengan identifikasi masalah, yaitu masalah-masalah kesehatan yang saat ini diderita oleh pasien/pengunjung dan masalah-masalah kesehatan yang mungkin akan terjadi (potensial terjadi) jika tidak diambil tindakan pencegahan. Masalah-masalah kesehatan yang sudah diidentifikasi kemudian diurutkan berdasarkan prioritas untuk penanganannya. Identifikasi masalah dilanjutkan dengan Survai Mawas Diri, yaitu sebuah survai sederhana oleh petugas-petugas kesehatan di Puskesmas yang dibimbing oleh fasilitator. Dalam
survai ini akan diidentifikasi dan dibahas:
- Hal-hal yang menyebabkan terjadinya masalah-masalah kesehatan, baik dari sisi teknis kesehatan maupun dari sisi perilaku. Dari segi PHBS harus digali lebih lanjut data/informasi tentang latar belakang perilaku.
- Potensi yang dimiliki Puskesmas untuk mengatasi masalahmasalah kesehatan tersebut.
- Kelompok-kelompok Kerja (Pokja) apa saja yang sudah ada (jika ada) dan atau harus diaktifkan kembali/dibentuk baru dalam rangka mengatasi masalah-masalah kesehatan tersebut, jika perlu.
- Bantuan/dukungan yang diharapkan: apa bentuknya, berapa banyak, dari mana kemungkinan didapat (sumber) dan bilamana dibutuhkan.
Selain untuk menggali latar belakang perilaku pasien/pengunjung, survai ini juga bermanfaat untuk menciptakan kesadaran dan kepedulian para petugas Puskesmas terhadap masalah kesehatan (termasuk infeksi nosokomial) khususnya dari segi PHBS.
MUSYAWARAH KERJA
Musyawarah Kerja yang diikuti oleh seluruh petugas/karyawan Puskesmas, diselenggarakan sebagai tindak lanjut Survai Mawas Diri, sehingga masih menjadi tugas fasilitator untuk mengawalnya. Dalam rangka pembinaan PHBS di Puskesmas, Musyawarah Kerja bertujuan:
- Menyosialisasikan tentang adanya masalah-masalah kesehatan yang masih dan kemungkinan akan diderita/dihadapi pasien/ pengunjung serta langkah-langkah untuk mengatasi dan mencegahnya.
- Mencapai kesepakatan tentang urutan prioritas masalahmasalah kesehatan yang hendak ditangani.
- Mencapai kesepakatan tentang pokja-pokja yang hendak dibentuk baru atau diaktifkan kembali, jika diperlukan.
- Memantapkan data/informasi tentang potensi Puskesmas serta bantuan/dukungan yang diperlukan dan alternatif sumber bantuan/dukungan tersebut.
- Menggalang semangat dan partisipasi seluruh petugas/ karyawan untuk mendukung pembinaan PHBS di Puskesmas.
PERENCANAAN PARTISIPATIF
Setelah diperolehnya kesepakatan, fasilitator mengadakan pertemuan- pertemuan secara intensif dengan petugas kesehatan guna menyusun rencana pemberdayaan pasien dalam tugas masing-masing. Pembuatan rencana dengan
menggunakan tabel berikut:
Tabel 1 . Pembuatan rencana
Di luar itu, fasilitator juga menyusun rencana bina suasana yang akan dilakukannya di Puskesmas, baik dengan pemanfaatan media maupun dengan memanfaatkan pemuka/tokoh. Untuk bina suasana dengan memanfaatkan pemuka/tokoh digunakan tabel berikut.
Tabel 2 . Bina suasana
PELAKSANAAN KEGIATAN
Segera setelah itu, kegiatan-kegiatan yang tidak memerlukan biaya operasional seperti pemberdayaan pasien/pengunjung dan advokasi dapat dilaksanakan. Sedangkan kegiatan-kegiatan lain yang memerlukan dana dilakukan jika sudah tersedia dana, apakah itu dana dari Puskesmas, dari pihak donatur atau dari pemerintah. Pembinaan PHBS di Puskesmas dilaksanakan dengan pemberdayaan,
yang didukung oleh bina suasana dan advokasi. - Pemberdayaan
Pemberdayaan dilaksanakan oleh para petugaskesehatan yang melayani pasien/pengunjung (dokterkecil, perawat, bidan, laboran, penata rontgen,apoteker,
dan lain-lain). Pemberdayaan dilaksanakan di berbagai kesempatan, terintegrasi dalam pelayanan masing-masing petugas kesehatan kepada pasien/ pengunjung - Bina Suasana
Bina suasana di Puskesmas selain dilakukan oleh fasilitator, juga oleh pemuka/tokoh yang diundang untuk menyampaikan pesan-pesan. Para pemuka/ tokoh berperan sebagai motivator/kelompok pendorong (pressure group) dan juga panutan dalam mempraktikkan PHBS di Puskesmas. Bina suasana juga dapat
dilakukan dengan pemanfaatan media seperti billboard di halaman, poster di dinding ruangan, pertunjukan filem, pemuatan makalah/berita di majalah dinding, serta penyelenggaraan diskusi, mengundang pakar atau alim-ulama atau figur publik untuk berceramah, pemanfaatan halaman untuk taman obat/taman gizi dan
lain-lain. - Advokasi
Advokasi dilakukan oleh fasilitator dan Kepala Puskesmas terhadap pembuat kebijakan dan pemuka/tokoh masyarakat agar mereka berperanserta dalam kegiatan pembinaan PHBS di Puskesmas.Para pembuat kebijakan misalnya, harus memberikan dukungan kebijakan/pengaturan dan menyediakan sarana agar PHBS di Puskesmas dapat dipraktikkan. Para pemuka /tokoh masyarakat diharapkan untuk ikut serta melakukan motivasi terhadap pasien/pengunjung institusi kesehatan, berperan sebagai kelompok pendorong dan berperilaku sebagai panutan dalam hal PHBS di Puskesmas.
Advokasi juga dilakukan terhadap para penyandang dana, termasuk pengusaha, agar mereka membantu upaya pembinaan PHBS di Puskesmas.
Kegiatan-kegiatan pemberdayaan, bina suasana, dan advokasi di Puskesmas tersebut di atas harus didukung oleh kegiatan-kegiatan (1) bina suasana PHBS di Puskesmas dalam lingkup yang lebih luas (kabupaten/kota dan provinsi) dengan memanfaatkan media massa berjangkauan luas seperti surat kabar, majalah, radio, televisi dan internet; serta (2) advokasi secara berjenjang dari dari tingkat provinsi ke tingkat kabupaten/kota dan dari tingkat kabupaten/kota ke kecamatan.
f. Bagaimana peran Puskesmas dalam pengendalian vektor?
Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 581/Menkes/SK/VII/1992: “upaya pemberantasan penyakit demam berdarah dengue dilakukan melalui kegiatan pencegahan, penemuan, pelaporan penderita, pengamatan penyakit dan penyelidikan
epidiomologi, penanggulangan seperlunya, penanggulangan lain dan penyuluhan kepada masyarakat.”
1. Cara memberantas nyamuk dewasa
Fogging (pengasapan). Nyamuk Aedes aegypti dapat diberantas dengan fogging (pengasapan) racun serangga, termasuk racun serangga yang dipergunakan sehari-hari di rumah tangga. Melakukan pengasapan saja tidak cukup, karena dengan pengasapan itu yang mati hanya nyamuk (dewasa) saja. Selama jentiknya tidak
dibasmi, setiap hari akan muncul nyamuk yang baru menetas dari tempat perkembang biakannya Karena itu cara yang tepat adalah memberantas jentiknya
yang dikenal dengan istilah PSN DBD yaitu singkatan dari Pemberantasan Sarang Nyamuk Demam Berdarah Dengue.
Fogging tertutup adlah pada saat fogging dilakukan semua pintu dan jendela ditutup rapat – rapat. Dilakukan sekitar jam 7.00 – 10.00 dan jam 15.00 – 18.00. Fogging terbuka adalah pada saat fogging / pengasapan dilakukan semua pintu dan jendeladibuka lebar – lebar. Dilakukan sekitar jam 7.00 – 10.00 dan jam 15.00 – 18.00. Fogging fokus adalah fogging yang dilakukan dititik fokus dan sekitarnya dengan jarak radius 100 m atau ± 20 rumah sekitarnya. Dilakukan dua siklus dengan jarak seminggu, diikuti abatisasi. Fogging fokus dilakukan setelah penyelidikan epidemiologi positif.
Syarat PE /penyelidikan epidemiologi ( + ):
Dalam radius 100 m dari rumah penderita DBD ada 2 kasus DBD lainnya
Dalam radius 100 m dari rumah penderita DBD ditemukan ada kasus demam tanpa sebab jelas
Dalam radius 100 m dari rumah penderita DBD ditemukan 1 kasus meninggal karena sakit DBD
2. Cara memberantas jentik Aedes aegypti PSN DBD dilakukan dengan cara 3M, yaitu:
Menguras tempat-tempat penampungan air sekurang-kurangnya seminggu
sekali.
Menutup rapat-rapat tempat penampungan air
Menguburkan, mengumpulkan, memanfaatkan, atau menyingkirkan
barang- barang bekas yang dapat menampung air hujan seperti kaleng bekas, plastik bekas, dan lain-lain.
Selain itu ditambah dengan cara lainnya (yang dikenal dengan istilah 3M plus), seperti:
Ganti air vas bunga, minuman burung dan tempat-tempat lainnya seminggu
sekali
Perbaiki saluran dan talang air yang tidak lancar/rusak
Tutup lubang-lubang pada potongan bambu, pohon dan lain-lain misalnya
dengan tanah
Bersihkan/keringkan tempat-tempat yang dapat menapung air seperti pelepah
pisang atau tanaman lainnya termasuk tempat- tempat lain yang dapat menampung air hujan di pekaranga, kebun, pemakaman, rumah-rumah kosong, dan lain-lain.
Lakukan larvasidasi, yaitu membubuhkan bubuk pembunuh jentik (Abate 1 G,
Altosid 1,3 G dan Sumilarv 0,5 G (DBD)) di tempat- tempat yang sulit dikuras atau di daerah yang sulit air
Pelihara ikan pemakan jentik nyamuk
Pasang kawat kasa di rumah
Pencahayaan dan ventilasi memadai
Jangan biasakan menggantung pakaian dalam rumah Tidur menggunakan kelambu, dan
Gunakan obat nyamuk (bakar, gosok) dan lain-lain untuk mencegah gigitan
nyamuk.
Perlindungan perseorangan:
Memberikan anjuran untuk mencegah gigitan nyamuk Aedes aegypti yaitu dengan meniadakan sarang nyamuknya di dalam rumah. Yaitu dengan melakukan penyemprotan dengan obat anti serangga yang dapat dibeli di toko-toko seperti baygon, raid dan lain lain.
1. Pemberantasan vektor jangka panjang (pencegahan)
Satu cara pokok untuk pemberantasan vektor jangka panjang ialah usaha peniadaan sarang nyamuk, vas bunga dikosongkan tiap minggu, menguras bak mandi seminggu sekali yaitu dengan menggosok dinding bagian dalam dari bak mandi tersebut, tempat-tempat persediaan air agar dikosongkan lebih dahulu sebelum diisi kembali. Maksudnya agar larva-larva dapat disingkirkan.Dalam usaha jangka panjang untuk daerah dengan vektor tinggi dan riwayat wabah DBD maka kegiatan Puskesmas lebih lanjut yaitu: 1) Abatesasi untuk membunuh larva dan nyamuk, dan 2) Fogging dengan malathion atau f onitrothion.
2. Pemberantasan vektor dalam keadaan wabah. Kegiatan Puskesmas adalah membantu : a) Tim Propinsi/Dati II untuk survai larva dan nyamuk, b) Membantu penyiapan rumah penduduk untuk di-fogging.
Larvasidasi
Larvasidasi adalah menaburkan bubuk pembunuh jentik ke dalam tempat- tempat penampungan air. Bila menggunakan Abate disebut Abatisasi. Cara melakukan
larvasidasi:
1. Menggunakan bubuk Abate 1 G (bahan aktif: Temephos 1%) – Takaran penggunaan bubuk Abate 1 G adalah sebagai berikut: Untuk 100 liter cukup dengan 10 gram bubuk Abate 1 G dan seterusnya. Bila tidak ada alat untuk menakar, gunakan sendok makan, satu sendok makan peres (yang diratakan di atasnya) berisi 10 gram Abate 1 G. Selanjutnya tinggal membagikan atau menambahkannya sesuai dengan banyaknya air yang akan diabatisasi. Takaran tidak perlu tepat betul.
2. Menggunakan Altosid 1,3 G (bahan aktif: Metopren 1,3%) – Takaran penggunaan Altosid 1,3 G adalah sebagai berikut: Untuk 100 liter air cukup dengan 2,5 gram bubuk Altosid 1,3 G atau 5 gram untuk 200 liter air. Gunakan takaran khusus yang sudah tersedia dalam setiap kantong Altosid 1,3 G. Bila tidak ada – alat penakar, gunakan sendok teh, satu sendok teh peres (yang diratakan atasnya) berisi 5 gram Altosid 1,3 G. Selanjutnya tinggal membagikan atau
menambahkannya sesuai dengan banyaknya air. Takaran tidak perlu tepat betul. 3. Menggunakan Sumilarv 0,5 G (DBD) (bahan aktif:piriproksifen 0,5%) – Takaran
penggunaan Sumilarv 0,5 G (DBD) adalah sebagai berikut: Untuk 100 liter air cukup dengan 0,25 gram bubuk Sumilarv 0,5 G (DBD) atau 0.5 gram untuk 200 liter air. Gunakan takaran khusus yang tersedia (sendok kecil ukuran kurang lebih 0,5 gram). Takaran tidak perlu tepat betul.
Angka Bebas Jentik
Merupakan salah satu indicator keberhasilan program pemberantasan vector penular DBD. Angka Bebas Jentik sebagai tolak ukur upaya pemberantasan vector melalui gerakan PSN-3M menunjukan tingkat partisipasi masyarakat dalam mencegah DBD. Rata-rata ABJ yang dibawah 95% menjelaskan bahwa partisipasi masyarakat dalam mencegah DBD di lingkunagnnya masing-masing belum optimal.
Cara-cara memeriksa jentik: i) Periksalah bak mandi/WC, tempayan, drum dan tempat-tempat penampungan air lainnya, ii) Jika tidak tampak, tunggu ± 0,5-1 menit, jika ada jentik ia akan muncul kepermukaan air untuk bernapas, iii) Di tempat yang
gelap gunakan senter/battery. iv) Periksa juga vas bunga, tempat minum nurung, kaleng-kaleng, plastik, ban bekas dan lain-lain. Contoh formulir hasil pemeriksaan jentik :
HASIL PEMERIKSAAN JENTIK RT/RW:
desa/kelurahan :
No Nama Kepala Keluarga/pengelola bangunan Alamat (RT/RW)
Jentik Keterangan (+) (-) …………, ……… 20… Petugas Jumantik, ( ……… ) Catatan:
Satu lembar formulir di isi untuk kurang lebih 30 KK (kepala keluarga)
Melaporkan hasil pemeriksaan jentik (ABJ) ke puskesmas sebulan sekali.
Tabel 3. Formulir hasil pemeriksaan jentik
g. Bagaimana program pemberantasan sarang nyamuk?
Surat Nomor PM.01.11/MENKES/591/2016 tanggal 8 November 2016 mengatur tata laksana Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) 3M Plus dengan Gerakan satu rumah satu (Juru Pemantau Jentik) Jumantik.
Upaya pencegahan terhadap penularan DBD dan penyakit Virus Zika dilakukan dengan pemutusan rantai penularan DBD berupa pencegahan terhadap gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopicus. Langkah-langkah yang dilakukan antara lain melakukan pemantauan jentik nyamuk dan PSN 3M Plus disetiap rumah secara rutin untuk memberantas sarang nyamuk yaitudengan:
- menguras tempat-tempat yang sering dijadikan tempat penampungan air seperti bak mandi, ember air, tempat pemampungan air minum, penampungan air di
- menutup rapat-rapat tempat penampungan air seperti drum/gentong air, kendi air dan lainnya; dan
- memanfaatkan kembali atau mendaur ulang barang bekas yang dapat menampung air seperti botol plastik, kaleng, ban bekas karena berpotensi menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk Aedes.
Selain itu, ditambah dengan Plus pada 3M Plus yang merupakan segala bentuk kegiatan pencegahan daru gigitan nyamuk, seperti:
- Menaburkan atau meneteskan larvasida pada tempat penampungan yang sulit dibersihkan
- Menggunakan obat nyamuk atau anti nyamuk - Menggunakan kelambu saat tidur
- Memelihara ikan pemangsa jentik nyamuk - Menanam tanaman pengusir nyamuk
- Mengatur cahaya dan ventilasi dalam rumah
- Menghindari kebiasaan menggantung pakaian di dalam rumah yang dapat menjadi tempat istirahat nyamuk, dan
- Mulai menggunkaan air pancur shower untuk mandi, dengan tujuanmengurangi bak mandi
Kemenkes juga mengajak masyarakat untuk mengaktifkan kembali Gerakan satu Rumah Satu Jumantik. Jumantik adalah orang yang melakukan pemerikasaan, pemantauan dan pemberantasan jentik nyamuk khususnya Aedes aegypti dan Aedes
Albopictus. Hal ini dilakukan dengan:
- Mengajak keluarga dan tetangga di lingkungan sekitar untuk menjadi Jumantik Rumah dan melakukan pemantauan jentik nyamuk serta PSN 3M Plus di rumah masing-masing;
- Berkoordinasi dengan ketua/Pengurus RT setempat membentuk Jumantik Lingkungan dan Koordinator Jumantik; dan
- Berkoordinasi dengan Ketua/Pengurus RT dan RW setempat membentuk Supervisor Jumantik.
h. Apa saja program kesehatan yang ada di Sekolah Dasar?
Secara garis besar kegiatan pelayanan kesehatan di SD dan MI adalah : 1) PENYULUHAN KESEHATAN
Penyelenggaraan penyuluhan kesehatan secara integrasi dengan semua pihak sesuai kebutuhan. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan praktis
dalam rangka pemutusan rantai penularan penyakit, upaya pemeliharaan kesehatan pribadi siswa / guru yang ditekankan pada upaya pembentukan perilaku hidup besih dan sehat, maupun lingkungan fisik sekolah untuk mendukung terciptanya suasana yang sehat dalam proses pembelajaran. Contoh kegiatan : Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN), pemberantasan kecacingan, pencegahan terhadap penyalahgunaan NAPZA (Narkotika, Psikotropika dan Zat
Adiktif). 2) IMUNISASI
Setiap tahun Imunisasi dilakukan pada bulan november yang dikenal sebagai bulan imunisasi asan sekolah (BIAS). Tujuan pemberian imunisasi adalah untuk
memberikan perlindungan jangka panjang terhadap penyakit difteri dan tetanus dengan imunisasi Difteri Tetanus Toxoid (DT) dan Tetanus Toxoid (TT). Semua anak SD/MI kelas I menerima imunisasi DT, siswa kelas VI menerima imunisasi TT.
3) DOKTER KECIL
Adalah peserta didik yang ikut melaksanakan sebagian usaha pelayanan kesehatan serta berperan aktif dalam kegiatan kesehatan yang diselenggarakan di sekolah. Peserta didik yang dapat menjadi dokter kecil telah menduduki kelas IV, V, berprestasi di kelas, berwatak pemimpin, bertanggungjawab, bersih, berperilaku sehat serta telah mendapat pelatihan dari petugas puskesmas / Tim
Pembina UKS.
Kegiatan yang dilakukan dokter kecil diantaranya :
Mengamati kebersihan dan kesehatan pribadi Mengenali penyakit secara awal
Pengobatan sederhana
Menimbang dan mengukur tinggi badan Memeriksa ketajaman penglihatan Memeriksa kebersihan gigi
dll
4) P3K dan P3P
Kegiatan yang dilakukan pada PP adalah melakukan pengobatan sederhana dan PP baik pada penyakit, kecelakaan dan penanganan diare.
5) PENJARINGAN KESEHATAN
Penjaringan kesehatan dilakukan bagi siswa kelas I yang baru masuk dan hasilnya akan dimanfaatkan untuk perencanaan, pemantauan dan evaluasi
kegiatan UKS.
Inti dari kegiatan ini adalah untuk mengetahui secara dini masalah-masalah kesehatan anak sekolah, antara lain status gizi anak, kesehatan indra penglihatan dan pendengaran yang merupakan faktor penting bagi anak dalam proses pembelajaran.
Penjaringan kesehatan dilakukan secara bertahap pada siswa sekolah yang baru masuk yaitu :
Tahap awal penjaringan dilakukan di sekolah oleh guru di bantu dokter kecil :
pengenalan gejala sederhana, baik melalui pengamatan maupun wawancara dengan siswa dan orangtua mereka.
Tahap berikutnya dilakukan oleh tenaga paramedis dengan prosedur cara
pengamatan.
Tahap ketiga penjaringan kesehatan dilakukan oleh dokter dan akan jelas
memisahkan kasus yang telah diseteksi pada tahap pertama dan kedua untuk menetapkan tindak lanjut penanganan kasus.
6) PEMERIKSAAN BERKALA
Pemeriksaan berkala dilakukan oleh petugs kesehatan, guru UKS, dokter kecil kepada seluruh siswa dan guru setiap 6 bulan, untuk memantau, memellihara serta meningkatkan status kesehatan mereka.
Kegiatan yang dilakukan berupa penimbangan BB, pengukuran TB, pemeriksaan ketajaman penglihatan dan pendengaran oleh guru UKS dengan
dokter kecil, pemeriksaan kesehatan oleh petugas kesehatan. 7) PENGAWASAN WARUNG SEKOLAH
Untuk terselengggaranya warung sekolah/kantin yang sehat tentunya harus didukung oleh pengetahuan dan ketrampilan mengenai gizi, kebersihan dll, pembinaan ini dilakukan oleh tenaga kesehtan dan sekolah : guru UKS dan
dokter kecil. 8) DANA SEHAT
Dana sehat / dana UKS adalah dana yang diperuntukkan untuk kegiatan yang berhubungan dengan pelaksanaan UKS. Komponen pokok dari dana UKS
adalah hal yang berhubungan dengan dana tersebut dan pengelolaannya. a) Dana
Yang dimaksud dana disini adalah uang atau barang yang diterima atau dikumpulkan oleh Tim Pelaksana UKS baik dari peserta didik, komite sekolah, pemerintah maupun dari masyarakat untuk pelaksanaan program
UKS di sekolah. b) Pengelola
Pada organisasi Tim Pelaksana UKS harus ada bendahara yang bertugas melakukan pembukuan/pengelolaan dana UKS yang dicatat/dibukukan dalam buku khusus untuk pendanaan UKS
c) Pengelolaan dana UKS
Dana yang diperoleh dan digunakan oleh Tim Pelaksana UKS harus dikelola dengan baik. Untuk keperluan tersebut maka harus ditetapkan bendahara (guru atau anggota Komite sekolah) untuk menyiapkan pembukuan yang meliputi pencatatan alihan dana dan barang, bagaimana cara pertanggungjawabannya dan pelaporannya.
9) MEMANTAU KESEGARAN JASMANI
Kesegaran jasmani adalah kondisi jasmani yang bersangkut paut dengan kemampuan dan kesanggupannya berfungsi dalam pekerjaan secara optimal dan efisisen. Untuk mengetahui dan menilai tingkat kesegaran jasmani seseorang dapat dilakukan dengan melasanakan pengukuran dengan tes kesegaran jasmani. Dengan memakai instrumen Tes Kesegaran Jasmani Indonesia.
TKJI untuk kelompok umur 6 – 9 tahun adalah :
Lari 30 meter (mengukur kecepatan)
Gantung siku tekuk (mengukur kekuatan dan ketahanan otot lengan dan
bahu)
Baring duduk 30 detik (mengukur kekuatan dan ketahanan otot perut) Loncat tegak (mengukur tenaga explosif)
Lari 600 meter (mengukur daya tahan jantung paru)
TKJI untuk kelompok umur 10 – 12 tahun adalah :
Lari 40 meter (mengukur kecepatan)
Gantung siku tekuk (mengukur kekuatan dan ketahanan otot lengan dan
bahu)
Baring duduk 30 detik (mengukur kekuatan dan ketahanan otot perut)
Loncat tegak (mengukur tenaga explosif)
Lari 600 meter (mengukur daya tahan jantung paru)
10) UKGS
Usaha Kesehatan Gigi Sekolah adalah pelayanan kesehatan gigi yang dikerjakan oleh petugas kesehatan yang terdiri dari tiga macam pelayanan :
UKGS Tahap I : pendidikan dan penyuluhan kesehatan gigi dan
mengadakan kegiatan menggosok gigi masal minimal untuk kelas I,II,III dibimbing guru dengan memakai pasta gigi mengandugn fluoride minimal sekali sebulan.
UKGS Tahap II : UKGS tahap I ditambah penjaringan kesehatan gigi dan
mulut untuk kelas I diikuti pencabutan gigi sulung yang sudah waktunya tanggal. Pengobatan darurat untuk menghilangkan rasa sakit oleh guru, pelayanan medik dasar atas permintaan dan rujukan bagi yang memerlukan.
UKGS Tahap III : UKGS tahap II ditambah pelayanan medik dasar pada
kelas terpilih sesuai kebutuhan untuk kelas I,III,V dan VI.
11) PROGRAM UKS
Usaha Kesehatan Sekolah mempunyai 3 (tiga) program, yaitu : 1) pendidikan kesehatan, 2) pelayanan kesehatan, dan 3) menciptatakan lingkungan kehidupan sekolah yang sehat (kesehatan lingkungan di sekolah)
i. Apa saja tugas kader kesehatan di Sekolah Dasar? 6,7,8 Kegiatan Dokter Kecil
1. Menggerakkan teman asal saling mengadakan :
o Pengamatan kebersihan dan kesehatan pribadi o Penimbangan dan pengukuran tinggi badan o Penelitian penglihatan
o Pemeriksaan cacar, BCG o Pemeriksaan kesehatan gigi
2. Pengenalan dini penyakit dan tanda-tandanya 3. Pengobatan sederhana
4. Pengamatan kebersihan ruang UKS, warung dan kebun sekolah
5. Pengamatan hygiene/ sanitasi, rumah dan sekolah, halaman ruang kelas, perlengkapan, persediaan air bersih, tempat cucian, WC, kamar mandi, tempat
sampah, saluran pembuangan.
6. Penjagaan kesehatan terhadap kecelakaan : kotak P3K, alat pemadam kebakaran, alat bermain, lapangan bermain.
7. Pencatatan dan pelaporan. 8. Rujukan.
j. Apa saja indikator PHBS di Sekolah Dasar?
Terwujudnya Institusi Pendidikan Ber-PHBS, dengan indikator: 1. Tersedia sarana untuk mencuci tangan menggunakan sabun. 2. Tersedia sarana untuk mengosumsi makanan dan minuman sehat. 3. Tersedia jamban sehat.
4. Tersedia tempat sampah.
5. Terdapat larangan untuk tidak merokok.
6. Terdapat larangan untuk tidak menonsumsi NAPZA.
7. Terdapat larangan untuk tidak meludah di sembarang tempat. 8. Terdapat kegiatan memberantas jentik nyamuk secara rutin.
Beberapa indikator PHBS di sekolah dasar (Depkes, 2011), meliputi: 1. Mencuci tangan dengan air bersih dan sabun ketika berada di sekolah
2. Menggunakan jamban jika buang air kecil dan buang air besar ketika di sekolah 3. Membuang sampah pada tempatnya
4. Mengikuti kegiatan olahraga 5. Jajan di kantin sekolah
6. Memberantas jentik nyamuk
7. Mengukur berat badan dan tinggi badan setiap bulan 8. Tidak merokok disekolah
k. Apa tujuan dan sasaran dari PHBS?
PHBS mencakup semua perilaku yang harus dipraktikkan di bidang pencegahan dan penanggulangan penyakit, penyehatan lingkungan, kesehatan ibu dan anak, keluarga berencana, gizi, farmasi, dan pemeliharaan kesehatan. Perilaku-perilaku tersebut
harus dipraktikkan dimana pun seseorang berada di rumah tangga, di institusi pendidikan, di tempat kerja, di tempat umum, dan di fasilitas pelayanan kesehatan –
sesuai dengan situasi dan kondisi yang dijumpai. 1. PHBS di Rumah Tangga
Di rumah tangga, sasaran primer harus mempraktikkan perilaku yang dapat menciptakan Rumah Tangga Ber-PHBS, yang mencakup persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan, memberi bayi ASI eksklusif, menimbang balita setiap bulan, menggunakan air bersih, mencuci tangan dengan air bersih dan sabun, pengelolaan air minum dan makan di rumah tangga, menggunakan jamban sehat (Stop Buang Air Besar Sembarangan/Stop BABS), pengelolaan limbah cair di
rumah tangga, membuang sampah di tempat sampah, memberantas jentik nyamuk, makan buah dan sayur setiap hari, melakukan aktivitas fisik setiap hari, tidak merokok di dalam
rumah, dan lain-lain.
2. PHBS di Institusi Pendidikan
Di institusi pendidikan (kampus, sekolah, pesantren, seminari, padepokan, dan lain-lain), sasaran primer harus mempraktikkan perilaku yang dapat menciptakan Institusi Pendidikan Ber-PHBS, yang mencakup antara lain mencuci tangan menggunakan sabun, mengonsumsi makanan dan minuman sehat, menggunakan jamban sehat, membuang sampah di tempat sampah, tidak merokok, tidak
mengonsumsi napza, tidak meludah sembarang tempat, memberantas jentik nyamuk, dan lain-lain.
3. PHBS di Tempat Kerja
Di tempat kerja (kantor, pabrik, dan lain-lain), sasaran primer harus mempraktikkan perilaku yang dapat menciptakan Tempat Kerja BerPHBS, yang mencakup mencuci tangan dengan sabun, mengonsumsi makanan dan minuman sehat, menggunakan jamban sehat, membuang sampah di tempat sampah, tidak merokok, tidak mengonsumsi napza, tidak meludah sembarang tempat, memberantas jentik nyamuk, dan lain-lain.
4. PHBS di Tempat Umum
Di tempat umum (tempat ibadah, pasar, pertokoan, terminal, dermaga, dan lain-lain), sasaran primer harus mempraktikkan perilaku yang dapat menciptakan Tempat Umum Ber-PHBS, yang mencakup mencuci tangan dengan sabun, mengonsumsi makanan dan minuman sehat, menggunakan jamban sehat, membuang sampah di tempat sampah, tidak merokok, tidak mengonsumsi napza, tidak meludah sembarang tempat, memberantas jentik nyamuk, dan lain-lain. 5. PHBS di Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Di fasilitas pelayanan kesehatan (klinik, Puskesmas, rumah sakit, dan lain-lain), sasaran primer harus mempraktikkan perilaku yang dapat menciptakan Tempat Umum Ber-PHBS, yang mencakup mencuci tangan dengan sabun, mengonsumsi makanan dan minuman sehat, menggunakan jamban sehat, membuang sampah di tempat sampah, tidak merokok, tidak mengonsumsi napza, tidak meludah sembarang tempat, memberantas jentik nyamuk, dan lain-lain.