• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pelatihan Internasional untuk para Penatua dan Pewajib

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Pelatihan Internasional untuk para Penatua dan Pewajib"

Copied!
97
0
0

Teks penuh

(1)

Pelatihan Internasional

untuk para Penatua

dan Pewajib

Musim Gugur 2016

Subyek Umum:

Kembali ke Ortodoksi Gereja

Living Stream Ministry Anaheim, California

(2)

© 2016 Living Stream Ministry

All rights reserved. No part of this work may be reproduced or transmitted in any form or by any means—graphic, electronic, or mechanical, including photocopying, recording, or information storage and retrieval systems— without written permission from the publisher.

Edisi Pertama, Oktober 2016.

Translation from English

Original title: Returning to the Orthodoxy of the Church (Indonesian Translation)

Living Stream Ministry 2431 W. La Palma Avenue Anaheim, California 92801

(3)

DAFTAR ISI

Isi Halaman

Prakata 4

KEMBALI KE ORTODOKSI GEREJA Berita Satu:

Visi tentang Kristus yang Mulia

sebagai Anak Manusia yang Berjalan

di Tengah-tengah Kaki-kaki Pelita Emas

5

Berita Dua: Gereja di Efesus 17

Berita Tiga: Gereja di Smirna 28

Berita Empat: Gereja di Pergamus 37

Berita Lima: Gereja di Tiatira 50

Berita Enam: Gereja di Sardis 58

Berita Tujuh: Gereja di Filadelfia 67 Berita Delapan: Gereja di Laodikia 78 Berita Sembilan: Yerusalem Baru—Perampungan

Visi Sentral Ekonomi Allah dan Puncak Tertinggi dari

Wahyu Ilahi melalui Para Pemenang,

Yang Kembali ke Ortodoksi Gereja 89

(4)

PRAKATA

Garis besar-garis besar dan kutipan-kutipan ini disiapkan untuk Pelatihan Internasional untuk para Penatua dan Pewajib yang diadakan tanggal 6 sampai 8 Oktober 2016, di Gold Coast, Australia.

(5)

KEMBALI KE ORTODOKSI GEREJA (Kamis — Sidang Pertama Pagi)

Berita Satu

Visi tentang Kristus yang Mulia sebagai Anak Manusia

yang Berjalan di Tengah-tengah Kaki-kaki Pelita Emas

Pembacaan Alkitab: Why. 1:10—2:1

I. Jika kita ingin melihat visi tentang Kristus yang mulia dan tentang tujuh gereja di dalam Wahyu 1—3, kita harus memperhatikan hal-hal berikut ini:

A. Kita harus mengambil kedudukan seorang hamba—1:1: 1. Paulus mengatakan bahwa dia adalah seorang “budak

Kristus Yesus” (Rm. 1:1); dia memakai istilah ini mengindikasikan bahwa dia bukanlah rasul yang ditunjuk oleh dirinya sendiri atau yang disewa oleh Tuhan; melainkan, dia adalah rasul yang dibeli untuk melayani Allah dan meministrikan Kristus kepada umat-Nya, bukan dalam hayat alamiah melainkan dalam hayat yang telah dilahirkan kembali.

2. Kita perlu rela melayani orang lain sebagai seorang hamba, bahkan sebagai seorang budak, bukan memerintah atas orang lain—Mat. 20:24-28; 25:14; 2 Kor. 4:5; Gal. 6:17; Kel. 21:1-6; Yes. 50:4-5.

3. Dahulu Kristus telah melayani kita (Mrk. 10:45), sekarang Dia masih melayani kita (Luk. 22:26-27), dan kelak Dia akan melayani kita (12:37; Why. 7:17); jika kita akan melayani orang lain bersama Kristus, kita perlu mengizinkan Dia melayani kita terlebih dahulu.

B. Kita harus melatih roh insani kita sebagai organ bagi kita untuk melihat, menyadari, dan merespons pergerakan Allah; hanya roh yang dapat memberi respons kepada Roh—1:10; 4:5; 5:6; Mzm. 119:17-18.

C. Kita harus memiliki telinga untuk mendengar apa yang dikatakan Roh itu kepada gereja-gereja:

1. Penglihatan bergantung pada pendengaran; Yohanes pertama-tama mendengar suara itu (Why. 1:10) dan kemudian melihat visi itu (ay. 11-12); jika telinga kita berat dan tidak dapat mendengar, maka kita tidak dapat melihat—Yes. 6:9-10.

2. Tuhan selalu ingin membuka telinga kita untuk mendengarkan suara-Nya (Ayb. 33:14-16; Yes. 50:4-5; Kel. 21:6) sehingga kita bisa melihat hal-hal menurut ekonomi-Nya.

(6)

3. Telinga yang berat perlu disunat—Yer. 6:10; Kis. 7:51. 4. Telinga orang-orang dosa perlu dibasuh dengan darah

yang menebus dan diurapi dengan Roh itu—14:14, 17, 28. 5. Untuk melayani Tuhan sebagai imam-imam, telinga kita harus dibasuh dengan darah yang menebus—Kel. 29:20; Im. 8:23-24.

II. Kitab Wahyu adalah wahyu yang unik dan ultima dari Yesus Kristus—1:1a:

A. Yohanes diasingkan ke pulau Patmos karena dia setia kepada firman Allah dan karena dia adalah bagi kesaksian Yesus; di bawah lingkungan yang sedemikian, Kristus yang mulia mewahyukan diri-Nya sendiri kepada Yohanes dan memberikan wahyu-wahyu yang baru kepadanya—ay. 9. B. Di mata Yohanes, bumi telah menyusut, tetapi langit terbuka

kepadanya; ini mengingatkan kita kepada Yusuf yang di penjara, Musa yang di padang gurun, Daud yang di dalam kesusahan, dan Paulus yang dirantai; mereka semua menerima wahyu-wahyu yang segar.

C. Yohanes maju di jalur yang telah mereka tempuh; dia menerima visi-visi yang belum pernah dia terima sebelumnya dan hingga dia mengenal Tuhan yang ditakhtakan yang belum pernah dia kenal sebelumnya; sayang sekali anak-anak Allah seringkali menyalahpahami “Patmos” yang ditetapkan Allah.

III. Kristus sebagai Anak Manusia adalah Imam Besar, “yang mengenakan jubah yang panjangnya sampai ke kaki, dan dada-Nya berlilitkan ikat pinggang dari emas” (ay. 13), untuk mengasuh gereja-gereja dalam keinsanian-Nya dan merawat mereka dalam keilahian-Nya:

A. Anak Manusia berada dalam keinsanian-Nya, ikat pinggang emas menandakan keilahian-Nya, dan dada adalah tanda kasih:

1. Tadinya Kristus mengenakan ikat pinggang pada pinggang-Nya, dikuatkan bagi pekerjaan ilahi (Kel. 28:4; Dan. 10:5) untuk menghasilkan gereja-gereja, tetapi sekarang Dia mengenakan ikat pinggang pada dada-Nya, memperhatikan gereja-gereja yang telah Dia hasilkan oleh kasih-Nya.

2. Ikat pinggang emas menandakan keilahian Kristus sebagai energi ilahi-Nya, dan dada menandakan bahwa energi emas ini dijalankan dan dimotivasi oleh dan dengan kasih-Nya untuk merawat gereja-gereja.

(7)

B. Kristus memperhatikan gereja-gereja dalam keinsanian-Nya sebagai Anak Manusia untuk mengasuh mereka—Why. 1:13a:

1. Dia mengurus pelita-pelita pada kaki-kaki pelita agar menjadi tepat, dan mengasuh kita agar kita bisa gembira, senang, dan nyaman—Kel. 30:7; 27:20-21; cf. Mzm. 42:5, 11:

a. Hadirat Tuhan memberikan atmosfir yang lembut dan hangat untuk mengasuh diri kita, memberikan perhentian, kenyamanan, kesembuhan, pembasuhan dan dorongan kepada kita.

b. Kita dapat menikmati atmosfir yang mengasuh dari hadirat Tuhan di dalam gereja untuk menerima suplai hayat yang merawat—Ef. 5:29; cf. 1 Tim. 4:6; Ef. 4:11. 2. Dia merapikan sumbu-sumbu dari pelita-pelita pada kaki

pelita, memangkas semua hal negatif yang mengganggu bersinarnya kita—Kel. 25:38:

a. Bagian gosong dari sumbu itu menandakan hal-hal yang bukan menurut tujuan Allah yang perlu dipangkas, seperti daging kita, manusia alamiah kita, ego kita, dan ciptaan lama kita.

b. Dia merapikan semua perbedaan di antara gereja-gereja (segala perbuatan salah, segala kekurangan, segala kegagalan, dan segala cacat), sehingga mereka bisa menjadi sama dalam esens, penampilan dan ekspresi—cf. 1 Kor. 1:10; 2 Kor. 12:18; Flp. 2:2.

C. Kristus memperhatikan gereja-gereja dalam keilahian-Nya dengan kasih ilahi-Nya, yang ditandai oleh ikat pinggang emas pada dada-Nya, untuk merawat gereja-gereja—Why. 1:13b:

1. Dia merawat kita dengan diri-Nya sendiri sebagai Kristus yang almuhit di dalam ministri penuh-Nya dalam tiga tahap sehingga kita bisa bertumbuh dan matang dalam hayat ilahi untuk menjadi para pemenang-Nya untuk menggenapkan ekonomi kekal-Nya.

2. Sebagai Kristus yang berjalan, Dia mengenal kondisi setiap gereja, dan sebagai Roh yang berbicara, Dia merapikan dan mengisi kaki-kaki pelita dengan minyak yang segar, suplai Roh itu—2:1, 7.

3. Untuk berpartisipasi dalam pergerakan-Nya dan menikmati perawatan-Nya, kita harus berada di dalam gereja-gereja.

IV. Kepurbaan surgawi Tuhan digambarkan oleh kepala dan rambut-Nya yang putih bagaikan bulu wol putih, seperti salju—1:14; Dan. 7:9; Ayb. 15:10; cf. Kid. 5:11:

(8)

A. Tuhan Yesus adalah Allah (Yoh. 20:28-29); Dia melampaui waktu, dan Dia meliputi waktu—Mi. 5;2; Yes. 57:15.

B. Rambut putih menandakan pengalaman, kemuliaan, daya tahan, juga kekudusan—Ams. 16:31; 20:29.

C. Yesaya menyinggung tentang janji Allah untuk membasuh dosa manusia hingga menjadi seperti bulu wol dan putih seperti salju (1:18); bila kita mempertimbangkan betapa dosa-dosa kita telah dibasuh dan bahwa kita ini putih seperti kepala dan rambut Tuhan, maka kita tidak dapat tidak mengagumi kebesaran kasih karunia Tuhan!

V. Tujuh mata Tuhan itu seperti nyala api untuk mengawasi, mengamati, menyelidiki, dan menghakimi melalui menerangi dan menginfus—Why. 1:14; 5:6; Dan. 10:6: A. Mata Kristus adalah bagi pergerakan dan operasi Allah di

bumi karena tujuh adalah angka kelengkapan di dalam pergerakan Allah.

B. Mata Tuhan itu seperti nyala api terutama adalah untuk penghakiman-Nya—7:9-10; Why. 2:18; 19:11-12.

C. “Kepada takhta penghakiman Kristus / Aku selalu memandang; / Semoga semua penghidupanku dan pekerjaanku / Tahan pembakaran pada hari itu”—bait 5 (TL.) dari kidung yang ditulis oleh Watchman Nee; lihat Watchman

Nee—Pelihat Wahyu Ilahi Zaman Ini, (Inggris hal. 75).

VI. Kaki Tuhan seperti perunggu yang bersinar, seperti telah dibakar di dalam tungku, yang menandakan bahwa Dia berjalan dengan sempurna dan cemerlang itu melayakkan Dia untuk menjalankan penghakiman ilahi—Why. 1:15; Yeh. 1:7; Dan. 10:6; cf. Kel. 30:18; 38:8; Bil. 21:8-9.

VII. Suara Tuhan bagaikan desau air bah (Why. 1:15; cf. 14:2), yang adalah suara yang riuh, bunyi dari suara Allah yang Mahakuasa (Yeh. 1:24; 43:2) dalam keseriusan dan kekhidmatannya—cf. Why. 10:3.

VIII. Kristus adalah Pemegang para utusan cemerlang dari gereja-gereja—1:16a, 20:

A. Para utusan ini adalah orang-orang rohani di dalam gereja-gereja, yaitu orang-orang yang memikul tanggung jawab kesaksian Yesus.

B. Para utusan, yang memiliki sifat surgawi dan yang berada di dalam posisi surgawi seperti bintang-bintang, adalah orang-orang yang memiliki berita yang segar dari Tuhan bagi umat-Nya—2:1a.

C. Pengharapan dan kebahagiaan para utusan ini ada di surga; mereka memiliki persekutuan yang intim dengan Kristus;

(9)

mereka juga memiliki kuasa dan otoritas Tuhan, karena mereka berada di tangan kanan Tuhan Yesus—cf. Mzm. 16:1-3; 73:25-26.

D. Jika kita rela menundukkan diri kita secara total ke tangan Tuhan, mempedulikan hal-hal dari Kristus Yesus, dan dengan gembira memikul tanggung jawab demi Dia, maka kita bukan hanya akan menerima pahala Tuhan, tetapi Tuhan juga akan memakai kita untuk menggenapkan pekerjaan-Nya yang besar—1 Kor. 15:58; 16:10; cf. Kej. 15:1; Flp. 2:19-21.

IX. Dari mulut Kristus keluar sebilah pedang tajam bermata dua, yang adalah firman-Nya yang membedakan, menghakimi, dan membunuh untuk menanggulangi orang-orang dan hal-hal yang negatif—Why. 1:16b; Ibr. 4:12; Ef. 6:17.

X. Wajah Kristus seperti matahari yang bersinar dalam kuasanya (Dan. 10:6) untuk penerangan yang menghakimi guna mendatangkan kerajaan—Why. 1:`6c; Mat. 17:2; cf. Mal. 4:2; Hak. 5:31; Mat. 13:43.

XI. Kristus adalah Sang Pertama dan Sang Terakhir, meyakinkan kita bahwa Dia tidak akan pernah meninggalkan pekerjaan-Nya sebelum selesai, dan Sang hidup agar gereja-gereja sebagai ekspresi Tubuh-Nya itu hidup, segar, dan kuat—Why. 1:17-18a:

A. Melalui mengenal Tuhan sebagai Allah yang hidup selama-lamanya ini, kita dapat diyakinkan bahwa hadirat-Nya di dalam roh kita itu sepanjang waktu; tidak ada yang dapat meneguhkan kita melebihi jaminan hadirat Tuhan—2 Tim. 4:22; cf. Kej. 39:23.

B. Kata-kata Aku hidup selama-lamanya harus menjadi kekuatan dan pengharapan kita (Why. 1:18a); Allah yang hidup, yang diserukan oleh Abraham, yang dilayani oleh Daniel, yang disandari oleh Müller, dan yang dikenal oleh Watchman Nee dan Witness Lee adalah Allah yang memiliki kita dan yang kita layani; kita harus menyembah Dia dan memuji nama-Nya dengan sukacita!

XII. Kristus memiliki kunci maut dan Hades (Hades)—Why. 1:18b:

A. Maut adalah pengumpul dan Hades adalah penjaga, tetapi Kristus telah meniadakan maut di atas salib dan mengalahkan Hades di dalam kebangkitan-Nya—2 Tim. 1:10; Kis. 2:24.

(10)

B. Asalkan kita memberi Tuhan tumpuan, kesempatan dan jalan untuk bergerak dan bertindak di antara kita melalui berlatih untuk menyangkal diri, memikul salib, dan kehilangan hayat jiwa kita, maka maut dan Hades akan berada di bawah kendali-Nya—Mat. 16:18, 21-26.

Kutipan Berita Ministri:

BELAJAR BAGAIMANA MERAWAT ORANG

Anggota kelompok vital harus belajar bagaimana merawat orang untuk melanjutkan pengasuhan mereka kepada orang. Mengasuh tanpa merawat adalah sia-sia. Ketika seorang ibu ingin memberi makan anaknya yang nakal, dia pertama-tama akan membuat anaknya gembira dengan mengasuhnya. Tetapi tanpa merawatnya, pengasuhannya tidak bermakna. Setelah mengasuh anak itu, sang ibu merawatnya dengan memberi makan. Ini adalah cara Kristus sebagai Kepala memelihara gereja. Dia merawat kita setelah mengasuh kita.

Wahyu 1 mengindikasikan kepada kita bagaimana Kristus memper-hatikan gereja-gereja. Wahyu adalah kitab tanda-tanda. Tanda adalah simbol dengan perlambangan rohani. Tanda pertama dalam Kitab Wahyu mengindikasikan kepada kita mengenai Kristus dalam keinsanian-Nya sebagai Imam Besar, dan tanda terakhir adalah Yerusalem Baru. Sebagai Anak Manusia, Kristus sebagai Imam Besar sedang memelihara semua gereja sebagai kaki pelita (1:12-13). Di satu pihak, Dia mengasuh gereja-gereja dalam keinsanian-Nya; di pihak lain, Dia merawat gereja-gereja-gereja-gereja dalam keilahian-Nya. Anggota-anggota kelompok vital harus belajar kedua hal ini. Ketika kita mengunjungi orang, mengundang mereka ke rumah kita, atau mengontaki mereka sebelum dan sesudah sidang, kita harus menjadi satu dengan Kristus untuk mengasuh dan merawat mereka.

MAKNA DARI MENGASUH DAN MERAWAT ORANG

Mengasuh orang adalah membuat mereka gembira dan membuat mereka merasa senang dan nyaman. Kita harus memiliki wajah yang menyenangkan ketika mengontaki mereka. Kita harus gembira dan sukacita. Kita tidak seharusnya mengontaki seseorang dengan raut wajah yang menyedihkan. Kita harus mengindikasikan kepada orang bahwa kita murni sukacita dan gembira. Kalau tidak demikian, maka kita tidak akan dapat mengasuh mereka, untuk membuat mereka sukacita.

Kemudian kita harus melanjutkan untuk merawat mereka. Kita tidak merawat orang ketika kita berbicara tentang pernikahan, masa pacaran, politik, situasi dunia, atau pendidikan. Merawat orang adalah memberi makan mereka dengan Kristus yang almuhit dalam tiga tahap ministri-Nya yang penuh. Ketika kita berbicara kepada orang tentang Kristus, kita tidak seharusnya berbicara kepada mereka dalam suatu cara yang tidak dapat dipahami dengan bahasa yang mereka tidak mengerti. Kita harus menemukan suatu cara untuk menyajikan Kristus kepada setiap orang.

(11)

Jika seseorang ingin orang-orang makan daging sapi, dia harus menemukan suatu cara yang tepat untuk memasak daging itu yang membuat orang ingin sekali memakannya. Demikian juga halnya dengan kita, kita harus “memasak” Kristus yang almuhit. Ada banyak cara untuk memasak hal yang sama. Saya telah memasak Kristus di negara ini selama lebih dari tiga puluh tiga tahun dengan kira-kira tiga ribu berita.

Untuk merawat orang dengan Kristus, kita pertama-tama harus menuntut Kristus, mengalami Kristus, mendapatkan Kristus, menikmati Kristus, dan berbagian dalam Kristus. Dalam Kitab Filipi, khususnya dalam pasal dua dan tiga, Paulus menggunakan ungkapan dan pernyataan yang berbeda untuk menggambarkan bagaimana dia menuntut dan mengejar Kristus untuk mendapatkan Kristus. Dia memberi tahu kita bahwa kita harus melakukan segala sesuatu tanpa bersungut-sungut dan berbantah-bantahan. Saudari yang sedang menuntut Kristus harus belajar untuk tidak bersungut-sungut, dan saudara harus belajar untuk tidak bantahan. Jika Anda bersungut-sungut dan berbantah-bantahan, Anda akan membuat suatu pelanggaran terhadap Kristus yang diam di batin, yang adalah perwujudan dari Allah Tritunggal, sebab Allah ini sedang bekerja di dalam Anda agar Anda dapat mengerjakan keselamatan Anda (2:12-14). Keselamatan kita adalah kita mendapatkan dan mengalami Kristus. Mendapatkan Kristus adalah mengerjakan keselamatan organik kita setiap hari.

OLEH HAYAT ILAHI DAN MISTIKAL DALAM KEBANGKITAN Mengasuh orang dan merawat orang keduanya harus dengan hayat ilahi dan mistikal dalam kebangkitan, bukan oleh hayat alamiah dalam ciptaan lama. Ketika sesuatu yang ilahi sedang bekerja di dalam seseorang, orang ini menjadi sangat mistikal. Ketika saya masih muda, saya bekerja selama lebih dari tujuh setengah tahun pada sebuah perusahaan yang besar. Tiba-tiba, saya berhenti dari pekerjaan saya sehingga saya dapat memberitakan Kristus dengan seluruh waktu saya. Mereka bertanya bagaimana saya dapat menjalani hidup. Jawaban saya adalah Tuhan Yesus akan menyediakan bagi saya. Saya menjadi mistikal bagi teman sekelas dan rekan-rekan dan juga anggota keluarga saya. Mereka tidak dapat mengerti mengapa saya berhenti bekerja untuk melayani Tuhan dengan seluruh waktu saya. Saya menjadi suatu misteri bagi mereka.

Kita harus mengasuh orang dengan hayat yang ilahi dan mistikal dalam kebangkitan. Dalam kebangkitan berarti bahwa tidak ada sesuatu yang alamiah dalam hal kita memperhatikan orang. Segala sesuatu yang berasal dari hayat alamiah kita tidak seharusnya dipakai. Hayat kita harus dalam kebangkitan. Dengan perkataan lain, hayat alamiah kita harus disalibkan dan dibangkitkan untuk menjadi hayat insani dalam kebangkitan. Orang muda harus belajar bagaimana berjerih lelah di dalam Injil di kampus bukan dengan hayat alamiahnya tetapi dengan Allah di dalam mereka sebagai hayat mereka. Inilah hayat ilahi, dan hayat ilahi ini membuat kita menjadi suatu misteri. Orang yang dikontaki oleh Anda

(12)

mungkin akan bertanya dari mana Anda lulus sekolah dan gelar apa yang Anda sandang. Anda mungkin mengatakan bahwa Anda menyandang gelar sarjana biokimia dari Universitas Harvard. Mereka mungkin bertanya,” apa yang sedang Anda lakukan di sini?” Ketika Anda mengatakan bahwa Anda sedang belajar untuk memberitakan Kristus, mereka tidak akan dapat mengerti orang macam apakah Anda itu. Mereka akan berpikir, ”Orang ini telah lulus dari universitas yang terkenal dengan gelar yang hebat. Seluruh dunia memerlukan dia. Dia dapat saja mendapatkan pekerjaan yang luar biasa. Lalu mengapa dia datang ke sini untuk memberitakan Kristus?” Ini membuat Anda menjadi seorang yang mistikal. Anda telah mendapat pendidikan yang tinggi, tetapi Anda sekarang melakukan suatu pekerjaan yang kelihatannya tidak tinggi tetapi sangat mistikal. Anda telah menjadi seorang yang ilahi dan mistikal dalam kebangkitan.

Kita harus menyadari bahwa Roh pemberi-hayat yang telah diperkuat tujuh kali ganda hanya menghargai hal-hal yang ada dalam kebangkitan. Jika Anda melakukan suatu pekerjaan tidak dalam kebangkitan, Roh pemberi-hayat tidak akan pernah menghargai hal itu. Karenanya pekerjaan Anda akan ada dalam kesia-siaan tanpa ada hasil. Sebagian besar pekerjaan di dalam Kekristenan hari ini tidak di dalam kebangkitan. Sebagian besar orang Kristen bekerja dalam hayat alamiahnya, bukan dengan hayat ilahi dan mistikal dalam kebangkitan. Apapun yang alamiah adalah milik ciptaan lama. Kontak kita terhadap orang lain tidak seharusnya ada dalam ciptaan lama tetapi dalam kebangkitan. Hanya dengan jalan inilah kita dapat mengasuh dan merawat orang dengan Kristus, Sang almuhit itu.

TELADAN KRISTUS MENGASUH DAN MERAWAT GEREJA-GEREJA DALAM MEMELIHARA GEREJA-GEREJA-GEREJA-GEREJA

Kristus adalah teladan yang terbaik dalam mengasuh dan merawat gereja-gereja, seperti terlihat dalam Wahyu 1. Dalam ayat 12 dan 13, Yohanes mengatakan, ”Lalu aku berpaling untuk melihat suara yang

berbicara kepadaku. Setelah aku berpaling, tampaklah kepadaku tujuh kaki pelita dari emas. Di tengah-tengah kaki pelita itu ada seorang serupa Anak Manusia, berpakaian jubah yang panjangnya sampai di kaki, dan dadanya berlilitkan ikat pinggang dari emas.” Ini mengindikasikan bahwa

Kristus sedang memelihara kaki pelita dengan menjadi Anak Manusia yang berpakaian jubah yang panjang. Jubah ini adalah jubah imam (Kel. 28:33-35), yang mengindikasikan bahwa Kristus adalah Imam Besar kita.

Dada-Nya juga berlilitkan ikat pinggang dari emas. Ikat pinggang ini sebatang emas yang panjang. Ikat pinggang dan emas bukan dua hal yang terpisah. Ikat pinggang adalah emas tersebut. Ikat pinggang emas adalah sebatang emas yang panjang yang menjadi ikat pinggang. Anak Manusia ada dalam keinsanian-Nya, dan ikat pinggang emas ini melambangkan keilahian-Nya. Ikat pinggang ini dililitkan di dada-Nya, dan dada ini adalah suatu lambang kasih.

(13)

Para imam dalam Perjanjian Lama memakai ikat pinggang untuk pelayanan mereka (Kel. 28:4). Dalam Daniel 10:5 Kristus juga mengikat pinggang-Nya, dengan emas murni. Diikat pada pinggang adalah diperkuat untuk bekerja. Kristus telah menyelesaikan pekerjaan ilahi-Nya dalam menghasilkan gereja-gereja. Sekarang dengan kasih-Nya Dia sedang memelihara gereja-gereja yang telah Dia hasilkan. Inilah alasannya mengapa Dia diikat didada-Nya. Hari ini Kristus adalah Imam Besar kita yang memelihara gereja-gereja-Nya yang dibangun oleh jerih lelah-Nya. Tetapi sekarang Dia memelihara gereja-gereja bukan dengan ikat pinggang yang diikat di pinggang tetapi yang dililitkan di dada-Nya, yang melambangkan kasih. Saya mengharapkan kita semua dapat menyadari bahwa dalam hari-hari ini bahkan di antara kita, Kristus sedang mengenakan ikat pinggang emas pada dada-Nya.

Ikat pinggang emas adalah suatu tanda, perlambangan keinsanian Kristus menjadi tenaga-Nya. Tenaga Kristus secara keseluruhan adalah keilahian-Nya. Sebatang emas sekarang adalah sebuah ikat pinggang. Keseluruhan Kristus dalam keilahian-Nya telah menjadi ikat pinggang. Ikat pinggang emas melambangkan keilahian Kristus menjadi tenaga-Nya, dan dada-Nya melambangkan tenaga emas yang terlaksana dan dimotivasi oleh kasih-Nya. Tenaga ilahi-Nya terlaksana oleh dan dengan kasih-Nya untuk merawat gereja-gereja.

Memelihara Gereja-gereja dalam Keinsanian-Nya

Kristus memelihara gereja-gereja sebagai kaki pelita dalam keinsanian-Nya sebagai “Anak Manusia” untuk mengasuh mereka (Why. 1:13a). Kristus sebagai Imam Besar kita pertama-tama memelihara gereja-gereja yang telah Dia dirikan dalam keinsanian-Nya untuk mengasuh gereja-gereja, untuk membuat gereja-gereja sukacita, gembira, dan nyaman.

Dengan Membereskan Pelita-pelita

Dia melakukan hal ini dengan membereskan pelita-pelita dari kaki pelita. Imam Besar dalam Perjanjian Lama membereskan pelita-pelita dari kaki pelita setiap pagi (Kel. 30:7). Membereskan pelita-pelita adalah membuat pelita-pelita tersebut tepat.

Memotong Sumbu Pelita

Kristus memelihara kaki pelita dengan memotong sumbu pelita-pelita dari kaki pelita emas, seperti yang dilakukan imam dalam Perjanjian Lama (Kel. 25:38). Ketika sumbu terbakar, sumbu tersebut menjadi hangus dan gosong, sehingga imam harus memotong bagian yang hangus dan gosong dari sumbu itu. Inilah yang dimaksud memotong sumbu sehingga pelita itu dapat bersinar lebih baik lagi. Bagian sumbu yang hangus, yang padam, melambangkan hal-hal yang tidak seturut dengan tujuan Allah yang perlu dipotong, seperti daging kita, manusia alamiah kita, ego kita, dan ciptaan lama kita. Semua kaki pelita adalah organik. Mereka adalah kaki pelita yang hidup. Kapan kala setiap gereja adalah

(14)

kaki pelita yang hidup, tiap gereja memiliki banyak perasaan. Suatu gereja dengan sumbu yang hangus tidak akan merasa nyaman.

Kira-kira delapan tahun yang lalu, tidak ada perasaan sukacita atau kegembiraan dalam gereja di Anaheim. Ini karena sumbu yang telah mati, hangus, dan gosong. Namun, suatu hari Kristus sebagai Imam Besar kita datang untuk membereskan pelita-pelita dari kaki pelita, gereja di Anaheim, dengan memotong sumbu, untuk memotong semua sumbu yang hangus dan gosong. Inilah pengasuhan, untuk membuat gereja di Anaheim sukacita, gembira, dan nyaman. Tidak ada perbandingan antara situasi gereja di Anaheim delapan tahun lalu dan situasi pada hari ini. Delapan tahun yang lalu gereja di Anaheim penuh dengan sumbu yang hangus, gosong, tanpa sinar. Kaum beriman merasa tidak sukacita, tidak gembira, dan tidak nyaman. Tetapi suatu hari Tuhan Yesus sebagai Imam Besar dalam keinsanian-Nya datang untuk memotong hal-hal negatif. Kemudian kita menjadi sukacita, gembira, dan nyaman. Inilah pemeliharaan Kristus terhadap gereja dalam keinsanian-Nya untuk membereskan pelita-pelita gereja.

Saya bersyukur kepada Tuhan bahwa hari ini dalam pemulihan-Nya, Dia adalah Imam Besar dalam keinsanian. Ibrani 4 mengatakan “sebab

Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, dia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa” (ay. 15). Kristus kita adalah sama

seperti apa adanya kita. Dia telah dicobai dalam segala hal seperti kita, sehingga Dia dapat dengan mudah dijamah dengan perasaan lemah kita. Ini berarti bahwa Dia selalu bersimpati dengan kelemahan kita dalam keinsanian-Nya. Dia adalah Imam Besar dalam keinsanian-Nya yang memelihara kita melalui mengasuh kita setiap waktu.

Memelihara Gereja-gereja dalam Keilahian-Nya

Kristus sebagai Imam Besar memelihara gereja-gereja sebagai kaki pelita dalam keilahian-Nya dengan kasih ilahi-Nya, yang dilambangkan dengan ikat pinggang emas yang dililitkan di dada-Nya, untuk merawat gereja-gereja (Why. 1:13b). Kristus bukan hanya insani tetapi juga ilahi. Dia adalah Anak Manusia yang mengenakan ikat pinggang emas, yang melambangkan keilahian-Nya sebagai tenaga ilahi-Nya. Keilahian-Nya sebagai tenaga ilahi merawat gereja-gereja dalam banyak cara.

Wahyu 2 dan 3 mewahyukan perhatian Kristus terhadap kaki pelita. Di satu pihak, Dia memotong sumbu pelita-pelita gereja, memotong semua pelanggaran, kekurangan, kegagalan, dan cacat yang disebut dalam tujuh surat kiriman kepada tujuh gereja. Kristus melakukan pekerjaan pemotongan terbaik dalam keinsanian-Nya untuk mengasuh gereja-gereja. Di pihak lain, dalam tiap-tiap surat kiriman, kita melihat perawatan Kristus.

Dalam surat kiriman yang pertama kepada gereja di Efesus, Kristus berkata, “Siapa yang menang, dia akan Kuberi makan dari pohon

kehidupan yang ada di Taman Firdaus Allah” (2:7). Kita dapat berkata

(15)

para pemenang akan menikmati Kristus sebagai pohon hayat di dalam Taman Firdaus Allah. Tetapi jika kita tidak menikmati Kristus sebagai pohon hayat dalam kehidupan gereja pada hari ini, pasti kita tidak akan berbagian dalam pohon hayat di dalam zaman kerajaan. Berdasarkan pengalaman saya, hari ini gereja di Anaheim adalah suatu taman firdaus bagi saya. Dalam taman firdaus ini saya banyak makan Kristus sebagai pohon hayat setiap hari. Jika saya tidak makan Kristus di sini pada hari ini, saya tidak akan makan Dia dalam zaman kerajaan. Saya harus terlebih dulu makan Dia di sini.

Dalam surat kiriman yang kedua kepada Smirna, sebuah gereja yang dianiaya dan menderita, Kristus berkata bahwa Dia akan mengaruniakan mahkota hayat bagi mereka yang menang (ay. 10). Mahkota melambangkan kemenangan. Jika kita bukan seorang pemenang hari ini, yang mengalahkan aniaya dan penderitaan, bagaimana kita dapat menjadi pemenang dalam kerajaan? Kemenangan kita pada hari ini adalah dari Kristus yang menjadi hayat kita. Jika kita tidak memiliki kenikmatan seperti itu hari ini, bagaimana kita dapat mengenakan mahkota hayat dalam zaman akan datang?

Surat kiriman yang ketiga adalah kepada gereja di Pergamus. Pergamus adalah gereja yang telah kawin dengan dunia. Tuhan akan memberikan manna tersembunyi bagi para pemenang dalam gereja di Pergamus (ay. 17). Dalam Perjanjian Lama, satu bagian manna disimpan di dalam buli-buli emas, dan buli-buli emas itu tersembunyi di dalam tabut (Kel. 16:32-34; Ibr. 9:4). Hari ini kita harus menikmati Kristus yang tersembunyi dalam sifat ilahi emas Allah. Kemudian kita akan menikmati Kristus sebagai manna yang tersembunyi pada zaman yang akan datang. Tuhan juga akan memberikan kita sebuah batu putih yang di atasnya tertulis nama baru, yang melambangkan kita telah menjadi orang yang telah ditransformasi untuk menjadi bahan bangunan bagi pembangunan Allah.

Tuhan berjanji kepada para pemenang dalam gereja di Tiatira bahwa mereka akan dikaruniakan kuasa atas bangsa-bangsa, untuk meraja (Why. 2:26). Pertama-tama kita perlu meraja pada hari ini. Menurut Roma 5:17 kita harus menerima kasih karunia yang berlimpah dari Tuhan untuk meraja di dalam hayat pada hari ini. Jika kita tidak meraja hari ini di dalam hayat, bagaimana kita dapat menjadi raja pada zaman yang akan datang untuk memerintah bangsa-bangsa?

Dalam surat kiriman-Nya yang kelima, Tuhan berkata kepada gereja di Sardis bahwa mereka mati dan sekarat. Dia berjanji kepada para pemenang bahwa mereka akan dikenakan pakaian putih (Why. 3:5). Pakaian putih melambangkan penempuhan jalan dan hidup yang tidak dicemari oleh kematian. Cara para pemenang berjalan di dalam zaman ini akan menjadi hadiah bagi mereka pada zaman yang akan datang. Kita harus menjadi hidup sehingga kita dapat memiliki pakaian putih itu.

Tuhan berkata kepada gereja di Filadelfia untuk memegang apa yang ada padanya (ay. 11). Mereka yang menang dan memegang apa yang ada pada mereka dalam pemulihan Tuhan akan dibangun ke dalam Yerusalem

(16)

Baru, Bait Allah, sebagai sokoguru (ay. 12). Dalam surat kiriman yang ketujuh, Tuhan menasihati gereja di Laodikia untuk membeli daripada-Nya emas, pakaian putih, dan minyak untuk mengolesi mata untuk diselamatkan dari kemerosotan keadaan suam-suam kuku (ay. 18). Dia berjanji untuk makan bersama mereka yang membukakan pintu bagi Dia (ay. 20). Kita dapat melihat bahwa ini adalah perawatan Kristus dalam keilahian-Nya yang dilaksanakan dengan dan oleh kasih-Nya.

Dengan Ministri-Nya yang Ilahi dan Mistikal oleh Kasih dalam Tiga Tahap-Nya

Dia juga adalah Imam Besar dengan keilahian-Nya sebagai “tenaga ikat pinggang” untuk merawat kita oleh diri-Nya sendiri sebagai Kristus yang almuhit dalam tiga tahap ministri-Nya yang penuh.

Supaya Gereja-gereja Dapat Bertumbuh dan Matang dalam Hayat Ilahi-Nya

Perawatan-Nya kepada gereja-gereja dalam keilahian-Nya adalah supaya gereja-gereja dapat bertumbuh dan matang dalam hayat ilahi-Nya dan menjadi para pemenang dalam intensifikasi tujuh kali ganda-Nya.

Kristus kita hari ini adalah Imam Besar kita. Dalam keinsanian-Nya Dia mudah dijamah dengan perasaan kelemahan kita. Dia bersimpati terhadap kelemahan kita karena Dia telah dicobai dalam segala hal sama seperti kita. Dia sedang mengasuh kita di dalam keinsanian-Nya. Sementara itu, Dia sedang merawat kita dalam keilahian-Nya dengan segala aspek positif diri-Nya yang diwahyukan dalam ketujuh surat kiriman kepada tujuh gereja dalam Wahyu 2 dan 3. Dia sedang memelihara gereja-gereja dalam pemulihan dengan dua cara tersebut. Dalam keinsanian-Nya Dia sedang mengasuh kita untuk menjadikan kita tepat sehingga kita dapat sukacita, gembira, dan nyaman. Dalam keilahian-Nya Dia sedang merawat kita sehingga kita dapat bertumbuh dan matang dalam hayat ilahi untuk menjadi pemenang-Nya untuk merampungkan ekonomi kekal-Nya. (The Vital Groups, hal. 102-109)

(17)

KEMBALI KE ORTODOKSI GEREJA (Kamis — Sidang Kedua Pagi)

Berita Dua

Gereja di Efesus

Pembacaan Alkitab: Why. 2:1-7

I. Dalam hubungannya dengan tujuh gereja, yang diwakili oleh tujuh kaki pelita, kita harus memahami tiga hal: A. Ketujuh gereja ini adalah gereja-gereja yang riil yang eksis

pada waktu itu.

B. Ketujuh gereja ini mewakili tujuh lapis sejarah gereja. C. Kondisi dari gereja-gereja ini eksis secara bersamaan di

dalam tujuh lapis sejarah gereja.

II. Wahyu 2 dan 3 memperlihatkan apa yang perlu kita lakukan untuk kembali ke ortodoksi gereja—apa yang benar-benar menyenangkan Tuhan, apa yang Tuhan hakimi, dan apa jalan Tuhan yang sesungguhnya bagi gereja:

A. Jika seseorang benar-benar ingin berjalan di jalan Tuhan, maka dia harus membaca Wahyu 2 dan 3; hari ini gereja punya banyak masalah, maka Kitab Wahyu memberi tahu kita apa yang harus dilakukan; jika Anda tidak mencari jalan itu di dalam kedua pasal ini, Anda tidak tahu bagaimana menjadi seorang Kristen.

B. Ketujuh surat rasul kepada ketujuh gereja itu dimulai dengan Tuhan dan diakhiri dengan panggilan kepada para pemenang; para pemenang adalah orang-orang yang normal dan biasa; mereka yang tidak abnormal selama zaman yang abnormal ini adalah para pemenang.

C. Hari ini manusia jatuh, gagal, dan merosot terus menerus, tetapi para pemenang dipulihkan kepada kehendak Allah dan kembali ke ortodoksi gereja.

III. Ada empat poin utama di dalam surat rasuli Tuhan kepada gereja di Efesus—kasih, hayat, terang, dan kaki pelita— 2:1-7:

A. Kita tidak boleh meninggalkan Tuhan sebagai kasih kita yang pertama, dan kita harus melakukan pekerjaan-pekerjaan yang pertama; “tetapi jika tidak, maka Aku akan datang kepadamu dan akan menyingkirkan kaki pelitamu dari tempatnya, jika kamu tidak bertobat”—ay. 4-5:

1. Meninggalkan kasih yang pertama adalah sumber dan penyebab utama kegagalan gereja di sepanjang zaman.

(18)

2. Kitab Kolose memberi tahu kita bahwa Kristus kita harus memiliki tempat yang pertama dalam segala sesuatu; Dia harus memiliki keutamaan—1:18b.

3. Memulihkan kasih yang pertama adalah menganggap Tuhan Yesus sebagai yang pertama dalam segala sesuatu; jika kita membuat Kristus menjadi segala sesuatu di dalam kehidupan kita, ini berarti kita telah mengalahkan kehilangan kasih yang pertama—cf. Mzm. 73:25.

4. Mengalahkan kehilangan kasih yang pertama adalah didesak oleh kasih Kristus bukan hanya untuk hidup bagi Tuhan melainkan juga hidup kepada Tuhan—2 Kor. 5:9, 14-15:

a. Hidup kepada Tuhan berarti kita ditetapkan untuk mendapat kehormatan dengan diperkenan kepada-Nya melalui secara mutlak berada di bawah kendali, arahan, dan pemerintahan-Nya dan bahwa kita hanya mempedulikan arah dan sasaran-Nya.

b. Hidup kepada Tuhan berarti kita berada di bawah arahan dan kendali Tuhan dan bahwa kita memenuhi tuntutan-tuntutan-Nya, memuaskan kedambaan-kedambaan-Nya dan melengkapi apa yang Dia inginkan.

5. Kegagalan Israel adalah karena mereka meninggalkan Allah, sumber air-air hidup (Yer. 2:13), dan kemerosotan gereja adalah meninggalkan kasih yang pertama; sebenarnya, meninggalkan kasih yang pertama ini adalah meninggalkan Kristus, tidak mengambil Dia sebagai yang pertama dalam segala sesuatu.

6. Kasih yang pertama adalah memiliki Allah, Kristus, Tuhan, Tuan kita, sebagai Yang pertama dalam segala sesuatu—dalam hal-hal besar maupun dalam hal-hal kecil; kita perlu memohon pengampunan Tuhan untuk segala hal di mana kita tidak memberi Dia keutamaan. 7. “Pekerjaan-pekerjaan yang pertama” adalah

pekerjaan-pekerjaan yang dihasilkan dari “kasih yang pertama”— Why. 2:4-5:

a. Bila kita berdiri di hadapan takhta penghakiman Kristus (2 Kor. 5:10), kita tentunya tidak akan dipuji karena besarnya atau volume pekerjaan kita; yang akan Tuhan selidiki adalah berapa banyak dari apa yang kita lakukan itu berasal dari kasih kita kepada-Nya.

b. Hanya pekerjaan-pekerjaan yang dimotivasi oleh kasihlah yang adalah emas, perak, dan batu-batu

(19)

berharga (1 Kor. 3:12); bila orang-orang kudus dipenuhi dengan kasih yang pertama bagi Tuhan, maka segala sesuatu yang mereka lakukan berasal dari kasih mereka terhadap Tuhan dan adalah “jerih lelah kasih”—1 Tes. 1:3.

c. Sangat mungkin bagi kita, seperti bangsa Israel, menyembah dan melayani Allah, namun kita melakukannya dengan penuh dukacita, sama sekali tidak bergembira bahwa kita dituntut untuk melakukan hal-hal ini—Mal. 3:14.

8. Tuhan menyingkirkan kaki pelita gereja itu bukan berarti bahwa mulai sekarang tidak ada lagi aktifitas-aktifitas atau pergerakan-pergerakan luaran; melainkan berarti bahwa gereja itu tidak lagi dapat menjadi kesaksian Allah yang setia:

a. Jika kita meninggalkan kasih pertama kepada Tuhan dan tidak bertobat dan melakukan pekerjaan-pekerjaan yang pertama, sangat mungkin kita masih berdiri di atas tumpuan lokalitas, tetapi kita telah kehilangan realitas dan kesaksian Allah Tritunggal seperti yang dilambangkan oleh kaki pelita emas itu. b. Penyingkiran kaki pelita berarti bahwa di hadapan Allah, posisi gereja itu telah hilang dan bahwa ia telah kehilangan kesaksiannya, yaitu kesaksian Yesus; ia telah kehilangan posisinya dan didiskualifikasi dari menjadi gereja kesaksian Tuhan.

B. Jika kita memiliki kasih yang pertama terhadap Tuhan, kita akan membenci pekerjaan-pekerjaan para pengikut Nikolaus, yang juga dibenci oleh Tuhan—Why. 2:4, 6:

1. Kata Yunani untuk pengikut Nikolaus tersusun dari dua kata, yang kata yang pertama berarti “menaklukkan” atau “menang atas” dan yang kata yang kedua berarti “orang-orang umum,” ““orang-orang-“orang-orang sekuler,” atau “kaum awam.” 2. Karena itu para pengikut Nikolaus pasti mengacu kepada sekelompok orang yang menganggap diri mereka sendiri lebih tinggi daripada kaum beriman umum; ini tidak diragukan lagi adalah hierarki yang diadopsi dan didirikan oleh aliran Katolik dan aliran Protestan; Tuhan membenci pekerjaan-pekerjaan, perilaku-perilaku, dari para pengikut Nikolaus ini, dan kita harus membenci apa yang Tuhan benci.

3. Di dalam kehidupan gereja yang tepat tidak boleh ada kaum paderi ataupun kaum awam; semua orang beriman harus menjadi imam-imam Allah (1:6; 5:10; 1 Ptr. 2:5, 9);

(20)

karena kelas pengantara ini menghancurkan keimaman yang universal di dalam ekonomi Allah, dan Tuhan membencinya.

C. Di dalam kehidupan gereja yang baik, teratur, dan formal seperti gereja di Efesus, kita perlu mempertahankan makan Kristus sebagai pohon hayat—Why. 2:7:

1. Jika kita memberikan keutamaan kepada Kristus dalam segala sesuatu dan menikmati Dia sebagai pohon hayat setiap hari, maka kita akan menjadi orang-orang Kristen yang menakjubkan, yang menang, dan kehidupan gereja akan menjadi firdaus bagi kita.

2. Maksud Allah yang semula adalah bahwa manusia harus makan pohon hayat (Kej. 2:9, 16); karena kejatuhan, jalan ke pohon hayat telah ditutup bagi manusia (3:22-24); melalui penebusan Kristus, jalan bagi manusia untuk menjamah pohon hayat, yang adalah diri Allah sendiri di dalam Kristus sebagai hayat bagi manusia, telah dibuka kembali—Ibr. 10:19-20.

3. Tetapi di dalam kemerosotan gereja, agama merayap masuk dengan pengetahuannya untuk menyimpangkan kaum beriman Kristus dari makan Dia sebagai pohon hayat; maka, Tuhan berjanji untuk memberi para pemenang itu makan diri-Nya sendiri sebagai pohon hayat di dalam Firdaus Allah (Yerusalem Baru) sebagai pahala; ini adalah insentif bagi mereka untuk meninggalkan agama dengan pengetahuannya dan kembali kepada kenikmatan akan diri-Nya sendiri.

4. Janji Tuhan ini memulihkan gereja kepada maksud Allah yang semula menurut ekonomi-Nya; yang Tuhan inginkan agar dilakukan oleh para pemenang adalah apa yang harus dilakukan seluruh gereja di dalam ekonomi Allah; karena kemerosotan gereja, maka Tuhan datang memanggil para pemenang untuk menggantikan gereja dalam menggenapkan ekonomi Allah.

5. Makan pohon hayat, yaitu menikmati Kristus sebagai suplai hayat kita, haruslah menjadi perkara utama di dalam kehidupan gereja:

a. Isi dari kehidupan gereja bergantung pada kenikmatan akan Kristus; semakin banyak kita menikmati Dia, semakin kaya isi kehidupan gereja, tetapi menikmati Kristus ini menuntut kita mengasihi Dia dengan kasih yang pertama.

b. Jika kita meninggalkan kasih pertama kita terhadap Tuhan, kita akan kehilangan kenikmatan akan

(21)

Kristus dan kehilangan kesaksian Yesus; konsekuensinya, kaki pelita itu akan disingkirkan dari kita.

c. Tiga hal ini—mengasihi Tuhan, menikmati Tuhan, dan menjadi kesaksian Tuhan—berjalan bersama-sama.

D. Kasih berhubungan dengan hayat, dan hayat berhubungan dengan terang; kasih, hayat, dan terang adalah satu trinitas:

1. Jika kita membuat Kristus menjadi yang pertama dalam segala sesuatu, maka kita akan memiliki kasih yang pertama; jika kita memiliki kasih ini, maka kita memiliki hayat, dan kita akan menikmati Tuhan; jika kita memiliki hayat, maka hayat ini akan menjadi terang bagi kita— Yoh. 1:4; Flp. 2:15-16.

2. Terang dari kaki pelita, gereja, yang bersinar secara korporat itu berlawanan dengan cara individualis di malam gelap zaman gereja—cf. 2:5b.

E. Jika kita menikmati Kristus sebagai kasih, hayat, dan terang kita, kita akan memelihara kesaksian Yesus sebagai penyinaran kaki pelita di lokalitas kita—cf. 12:17b.

F. Kita perlu mengingat empat kata ini yang dimulai dengan huruf (l)—love, life, light, and lampstand (kasih, hayat, terang, dan kaki pelita):

1. Kita harus memberikan keutamaan kepada Tuhan Yesus dalam setiap hal dan dalam segala sesuatu untuk memulihkan kasih yang pertama.

2. Kemudian kita akan menikmati Dia sebagai pohon hayat, dan hayat ini segera menjadi terang hayat—Yoh. 8:12. 3. Kemudian kita akan bersinar di dalam kehidupan

sehari-hari kita dan secara korporat sebagai kaki pelita; jika tidak, kaki pelita ini akan disingkirkan dari kita secara individual dan dari gereja secara korporat.

4. Jika hari ini kita mengambil Kristus sebagai yang pertama dalam segala sesuatu, kita akan memiliki kasih, kita akan menikmati Dia sebagai hayat, kita akan bersinar dengan Dia sebagai terang, dan kita akan menjadi kaki pelita yang bersinar sebagai kesaksian Yesus; pada akhirnya ini akan menjadi pahala kita bukan hanya di zaman ini tetapi bahkan di zaman yang akan datang; di dalam Kerajaan Seribu Tahun, kita akan menikmati Kristus sebagai pahala kita di dalam Firdaus Allah.

(22)

MENANG ATAS MENINGGALKAN KASIH YANG PERTAMA Tuhan menyuruh kita menang atas segala macam agama, dan dalam ketujuh surat kiriman itu Dia juga menyuruh kita menang atas beberapa perkara lain. Perkara pertama yang harus kita kalahkan adalah meninggalkan, kehilangan, dan melupakan kasih yang pertama (Why. 2:4-5a). Banyak orang di Katolikisme mutlak bagi Gereja Katolik tetapi tidak mengasihi Tuhan atau firman kudus-Nya. Mereka tidak berkata, "Alkitab mengatakan, . . ." Sebaliknya, mereka mengatakan, "Paus berkata, . . ." atau "Gereja berkata, . . ." Ketika mereka berkata, "Gereja", yang mereka maksudkan adalah Gereja Katolik. Itulah sebabnya Tuhan Yesus dalam Wahyu 2 mengatakan, bahwa Izebel menyebut dirinya nabiah dan mengajar serta menyesatkan hamba-hambaNya (ay. 20). Itu mengindikasikan, bahwa Gereja Roma Katolik adalah yang melantik dirinya sendiri sebagai nabiah, dan yang menganggap dirinya menerima otoritas dari Allah untuk berbicara bagi Allah. Orang-orang yang benar-benar loyal terhadap Katolik, hanya menghargai apa yang dikatakan Paus, apa yang dikatakan Gereja. Mereka tidak menghiraukan apa yang dikatakan Alkitab. ltu mengindikasikan, bahwa mereka tidak memiliki kasih terhadap Tuhan.

Jika kita mengasihi seseorang, kita pasti ingin mendengarkan suaranya, perkataannya. Sebaliknya, jika kita tidak mengasihi seseorang, kita tidak akan mau mendengarkan suaranya, perkataannya. Sejumlah orang Katolik bersikap demikian terhadap Tuhan. Mereka memiliki nama Kristus, tetapi mereka tidak memiliki kasih sayang pribadi atau elemen mengasihi dalam batin mereka terhadap Kristus. Demikian pula halnya dengan lalang dalam Protestanisme, yang tidak beroleh selamat. Mereka tidak memiliki elemen kasih terhadap Tuhan secara pribadi.

Saya harus bersaksi, bahwa saya mengasihi Tuhan. Saya menerima Tuhan pada tahun 1925. Sejak saat itu, dalam tahun-tahun selanjutnya, saya merasakan Tuhan begitu mesra bagiku dan bahwa saya begitu dekat dengan-Nya. Saya tidak mempedulikan agama apa pun. Saya hanya memperhatikan Sang kekasih, ini, Sang hidup ini. Setiap kali saya menyeru nama-Nya, saya merasa gembira. Ketika kita bangun pagi, perkara pertama yang seharusnya kita lakukan adalah mengatakan, "O, Tuhan Yesus. O, Tuhan Yesus." Lebih baik lagi jika kita tambahkan, "Aku cinta pada-Mu." Kita seharusnya berkata, "O, Tuhan Yesus, aku cinta pada-Mu. O, Tuhan Yesus, aku cinta pada-Mu." Betapa mesranya, betapa manisnya dan betapa penuh kasihnya hal ini!

Allah kita, Kristus kita, Tuhan kita, bukan hanya patut dikasihi, tetapi juga sangat patut disayangi. Dia penuh dengan kasih sayang. Allah telah "jatuh cinta" kepada kita, umat pilihan dan tebusan-Nya. Jika Anda berkata, "O Tuhan Yesus, aku cinta pada-Mu," Anda akan segera jatuh cinta kepada-Nya. Cukup sering saya tidak mau melakukan suatu perkara, bukan hanya karena perkara itu tidak benar, atau karena saya takut kepada Allah, melainkan karena saya mengasihi-Nya. Saya berkata, “Tuhan Yesus, aku cinta pada-Mu, maka aku tidak dapat melakukan hal

(23)

ini." Saya benar-benar tidak dapat melakukan hal-hal tertentu, karena saya mengasihi-Nya.

Kita perlu menang atas kehilangan kasih yang pertama. Gereja di Efesus adalah gereja yang baik. Gereja di Efesus adalah gereja yang menurut aturan (teratur) dan memiliki bentuk luaran (Why. 2:2-3). Tentu saja, kita akan menyukai gereja semacam itu, tetapi gereja yang teratur semacam itu telah meninggalkan kasih yang pertama (ay. 4). Kata Yunani yang diterjemahkan "semula" sama dengan kata yang diterjemahkan "terbaik" dalam Lukas 15:22. Kasih kita yang semula terhadap Tuhan haruslah kasih yang terbaik bagi-Nya. Ketika anak yang hilang dalam Lukas 15 kembali ke rumah, sang ayah menyuruh pelayan membawakan jubah yang terbaik. Yang terbaik adalah yang semula.

Kini saya ingin mengajak Anda memikirkan kasih yang pertama. Banyak orang Kristen mengira, bahwa kasih yang pertama adalah kasih yang kita tujukan kepada Tuhan Yesus ketika kita beroleh selamat. Saya tidak mengatakan itu salah, tetapi itu tidak memadai. Kasih yang pertama, yang juga merupakan kasih yang terbaik, jauh melebihi kasih ketika kita beroleh selamat.

Kasih yang pertama adalah kasih yang merupakan diri Allah sendiri. Dalam Alkitab, kita diberi tahu bahwa Allah adalah kasih (1 Yoh. 4:8,16). Di alam semesta, hanya Allah yang adalah kasih. Tuhan menyuruh suami mengasihi istrinya. Tetapi mustahil para suami dapat mengasihi istri mereka dalam diri mereka sendiri, karena mereka bukanlah kasih. Hanya ada satu Persona yang adalah kasih—Allah.

Allah bukan hanya yang terbaik, tetapi juga yang pertama. Di alam semesta, Allahlah yang pertama. Kejadian 1:1 mengatakan, "Pada

mulanya Allah . . ." ltulah pembukaan Alkitab. Allah adalah permulaan.

Allah adalah yang pertama. Surat Kolose memberi tahu kita, bahwa Kristus kita harus mendapatkan tempat pertama. Dia harus memiliki keutamaan (1:18b). Kristus harus menjadi yang pertama. Apa yang dimaksud dengan memulihkan kasih yang pertama? Memulihkan kasih yang pertama adalah menaruh Tuhan Yesus sebagai yang pertama dalam segala sesuatu. Jika kita membuat Kristus menjadi yang utama dalam hidup kita, itu berarti kita telah menang atas kehilangan kasih yang pertama.

Kita perlu memperhatikan keadaan kita. Apakah Kristus adalah yang utama dalam segala sesuatu kita? Hal pertama yang harus kita kalahkan adalah kehilangan Kristus sebagai kasih yang pertama, kasih yang terbaik dan kasih yang sejati. Kegagalan bani Israel adalah mereka meninggalkan Allah, sumber air hidup, dan kemerosotan gereja adalah karena meninggalkan Kristus, tidak menjadikan Dia sebagai yang pertama dalam segala hal.

Kristus harus menjadi yang pertama, tidak hanya dalam perkara besar, tetapi juga dalam perkara kecil. Ketika saudara-saudara membeli dasi, mereka seharusnya mengutamakan Kristus. Jika saya memakai sebuah dasi yang bergaya duniawi, saya tidak akan dapat berbicara bagi Tuhan dalam pelayanan saya. Bahkan karena hati nuraniku, saya tidak

(24)

dapat memakai beberapa macam dasi. Para saudari seharusnya mengutamakan Kristus dalam hal memotong rambut mereka. Jika para saudari mengutamakan Kristus dalam hal memotong rambut mereka, berarti mereka menganggap Dia sebagai kasih mereka yang semula. Para saudari yang memotong rambutnya secara duniawi, tidak memiliki Kristus sebagai kasih mereka yang semula. Mereka tidak mengutamakan Dia. Kita seharusnya mengutamakan Kristus dalam hal berpakaian, dan dalam hal kita memotong rambut. Ketika kita mengutamakan Kristus dalam segala hal, itu berarti kita memulihkan kasih pertama yang telah hilang.

Ada orang mengira, kasih yang pertama adalah kasih kita kepada Tuhan ketika kita baru beroleh selamat dan baru menempuh kehidupan kristiani kita. Tetapi ketika saya beroleh selamat, walaupun saya sangat berterima kasih kepada Tuhan, saya tidak memiliki hati yang begitu menggebu-gebu untuk mengasihi Kristus seperti yang saya lakukan hari ini. Enam puluh tahun lebih yang lalu saya beroleh selamat dan saya mengasihi Tuhan Yesus, tetapi tidak seperti kasih saya hari ini. Jadi, kasih yang pertama seharusnya adalah memiliki Allah, Kristus, Tuhan, Tuan kita, sebagai Yang pertama dalam segala hal.

Sering kali ketika saya sedang mengenakan pakaian, saya berbicara kepada Tuhan, 'Tuhan, sukakah Engkau akan kemeja ini? Sukakah Engkau akan sepatu ini?" Percakapan itu sangat mesra terhadap Tuhan, sebagai kasih yang pertama. Memulihkan kasih yang pertama adalah mengutamakan Dia dalam perkara yang besar, juga dalam perkara yang kecil. Para suami seharusnya mengutamakan Kristus dalam pembicaraan mereka kepada istri-istri mereka. Kita perlu mohon Tuhan mengampuni kita atas segala hal yang di dalamnya kita tidak mengutamakan Dia.

Jika kita mengasihi Tuhan Yesus sedemikian rupa dan sampai tingkat yang demikian, kita tidak akan tinggal dalam ketiga "isme" itu. Kita tidak mungkin tetap tinggal dalam agama apa pun. Kita akan mengasihi semua orang Kristen, tetapi kita akan membenci "agama" apa pun. Kita harus mengasihi semua orang Kristen, tetapi kita harus membenci agama-agama tempat mereka berada. Karena Tuhan membenci "isme"-"isme" itu, kita juga seharusnya membenci mereka. Kita harus membenci apa yang dibenci Tuhan (lihat Why. 2:6).

Tuhan menyuruh membiarkan gandum dan lalang bertumbuh bersama sampai musim menuai. Kemudian, ketika Dia kembali, hal pertama yang akan dilakukan-Nya adalah mengutus malaikat-malaikat untuk mengikat lalang berberkas-berkas, dan melemparkannya ke lautan api. Anak-anak kerajaan, gandum itu, membentuk kerajaan; sedangkan anak-anak si jahat, lalang itu, membentuk penampilan luaran kerajaan, yaitu kekristenan hari ini. Tuhan membenci penampilan luaran itu, karena itu kita harus menang atasnya.

Kita juga perlu menang dalam hal memakai dasi, dalam hal memotong rambut, dan dalam segala perkara kecil. Dalam segala perkara, kita harus mengutamakan Kristus. Jika kita berbuat demikian, kehidupan kristiani kita akan berbeda dan perasaan kita pun akan berbeda. Sepanjang hari kita akan bersukacita di dalam Tuhan. Ketika kita bersukacita di dalam

(25)

dan bersama Tuhan, segalanya akan menyenangkan. Sebaliknya, ketika kita tidak bersukacita di dalam Tuhan dan bersama Tuhan, segalanya tidak menyenangkan. Kenikmatan atas Tuhan sebagai anugerah, menyertai mereka yang mengasihi-Nya (Ef. 6:24). Jadi, perkara pertama yang harus kita kalahkan adalah meninggalkan kasih yang pertama. Meninggalkan kasih yang pertama adalah sumber dan penyebab utama dari kegagalan gereja di sepanjang zaman.

MEMPERTAHANKAN MAKAN KRISTUS SEBAGAI POHON HAYAT

Dalam gereja yang begitu baik, teratur, dan memiliki bentuk seperti gereja di Efesus, pertama-tama kita perlu menang atas perkara kehilangan kasih yang pertama. Perkara kedua yang kita perlukan adalah mempertahankan makan Kristus sebagai pohon hayat. Dalam surat kiriman kepada orang Efesus, Tuhan berkata, "Siapa yang menang, dia

akan Kuberi makan dari pohon kehidupan yang ada di Taman Firdaus Allah" (Why. 2:7).

Tuhan Yesus menyuruh kita menang atas perkara meninggalkan kasih yang pertama dan mempertahankan makan Kristus sebagai pohon hayat. Jika kita mengutamakan Kristus dalam segala hal dan menikmati Dia sebagai pohon hayat setiap hari, kita akan menjadi orang Kristen yang hebat dan menang. Bila kita menikmati Kristus sebagai pohon hayat, kita memiliki Taman Firdaus Allah. Pohon hayat mula-mula terlihat dalam Kitab Kejadian, di taman Eden. Taman Eden itu adalah taman firdaus Allah pada saat itu. Hari ini, taman firdaus kita adalah kehidupan gereja.

Sejak tahun 1932 sampai sekarang, saya sudah menempuh kehidupan gereja selama enam puluh tahun lebih, maka saya memiliki banyak pengalaman mengenal kehidupan gereja. Jika Anda tidak mengutamakan Tuhan atau menikmati Tuhan selama satu bulan saja, maka kehidupan gereja akan menjadi tempat yang tidak menyenangkan bagi Anda. Mungkin, Anda tidak sampai mengatakan demikian, tetapi di dalam batin Anda, Anda akan menganggap kehidupan gereja tidak begitu baik. Jika demikian, gereja tidak lagi merupakan taman firdaus bagi Anda. Tetapi bila Anda menang atas perkara hilangnya kasih yang pertama dan Anda mempertahankan makan Kristus, yaitu mempertahankan kenikmatan Anda atas diri Tuhan, maka kehidupan gereja segera menjadi taman firdaus bagi Anda. Jadi, perasaan dan sikap kita terhadap gereja tergantung pada keadaan kita. Jika kita mengutamakan Tuhan dalam segala hal, dan menikmati Dia sebagai pohon hayat sepanjang hari, saat itu juga gereja, bagaimanapun keadaannya, akan menjadi taman firdaus bagi kita. Itulah sebabnya Tuhan berkata, bahwa kita harus makan pohon hayat dalam Taman Firdaus Allah.

Memang, Taman Firdaus Allah dalam Wahyu 2:7 sebenarnya mengacu kepada Yerusalem Baru dalam Kerajaan Seribu Tahun. Jika kita menikmati Tuhan dalam zaman ini, kita akan diberi pahala berupa makan pohon hayat, diri Kristus sendiri, dalam Yerusalem Baru, sebagai Taman Firdaus Allah dalam Kerajaan Seribu Tahun. Kita perlu senantiasa

(26)

menikmati suplai hayat Kristus dalam kehidupan gereja saat ini, sehingga kita dapat diberi pahala berupa kenikmatan atas Kristus sebagai pohon hayat dalam Taman Firdaus Allah, Yerusalem Baru, dalam Kerajaan Seribu Tahun. Dalam Yerusalem Baru, dalam kesegarannya sebagai Taman Firdaus Allah, kita akan berbagian sepenuhnya dalam kenikmatan atas suplai hayat yang kaya dari Kristus sebagai perwujudan Allah Tritunggal yang telah melalui proses dan rampung.

MEMANCARKAN TERANG ILAHI SEBAGAI KAKI PELITA Kita perlu menang atas perkara meninggalkan kasih yang pertama, mempertahankan makan Kristus sebagai pohon hayat, dan memancarkan terang ilahi sebagai kaki pelita (Why. 2:5b). Kasih berhubungan dengan hayat dan hayat berhubungan dengan terang. Kasih, hayat, dan terang adalah tiga hal yang saling berhubungan (trinitas). Jika Anda menjadikan Kristus yang pertama dalam segala hal, Anda memiliki kasih. Jika Anda memiliki kasih ini, Anda memiliki hayat, dan Anda akan menikmati Tuhan. Jika Anda memiliki hayat ini, hayat ini menjadi terang bagi Anda. Dalam kegelapan malam zaman gereja, terang kaki pelita, gereja, memancar secara korporat, bukan secara individual.

MEMELIHARA KESAKSIAN YESUS SEBAGAI PENYINARAN KAKI PELITA DI TEMPAT MEREKA

Jika kita menikmati Kristus sebagai kasih kita, hayat kita dan terang kita, kita akan memelihara kesaksian Yesus sebagai penyinaran kaki pelita di tempat kita (Why. 12:17b). Kita akan bersaksi tentang persona Kristus sebagai Allah dan sebagai manusia, tentang kehidupan insani Kristus, penyaliban Kristus, kebangkitan Kristus, kenaikan Kristus, turunnya Kristus, dan penampakan Kristus yang kedua. Penyinaran terang adalah suatu kesaksian. Dalam setiap aspek hidup kita sehari-hari, kita harus memancarkan Kristus. Penyinaran ini adalah penyinaran kaki pelita.

Kita perlu ingat keempat kata ini, yaitu kasih, hayat, terang dan kaki pelita. Keempatnya harus dimulai dengan kasih. Kita harus mengutamakan Tuhan Yesus dalam segala hal dan dalam segala cara untuk memulihkan kasih yang pertama. Kemudian kita akan menikmati Dia sebagai pohon hayat, dan hayat ini akan langsung menjadi terang hayat (Yoh. 8:12). Lalu, kita akan bersinar dalam hidup sehari-hari kita dan bahkan bersinar secara korporat sebagai kaki pelita. Kalau tidak, kaki pelita akan diambil dari kita secara individual dan dari gereja secara korporat. Tuhan mengingatkan gereja di Efesus agar bertobat dan memulihkan kasih yang pertama untuk kenikmatan atas diri-Nya. Kalau tidak, kaki pelita itu akan diambil dari mereka. Kita memerlukan kasih, hayat, terang, dan kaki pelita. Kemudian, kita akan diberi pahala oleh Tuhan dengan apa adanya kita dan hidup di dalam-Nya.

Dalam Alkitab, prinsipnya adalah pahala kita selalu merupakan apa adanya kita. Apa adanya kita akan menjadi pahala kita. Jika kita mengasihi orang lain, kasih kita kepada orang lain itu akan menjadi

(27)

pahala bagi kita. Jika kita menghormati orang tua kita, penghormatan kita terhadap mereka itu akan menjadi pahala kita. Jika kita tidak hidup menampilkan Kristus dan berperilaku di dalam Kristus, dalam kehidupan gereja, tidak akan ada pahala bagi kita dalam kehidupan gereja. Sebaliknya, karena kita tidak hidup menampilkan Kristus, kita mungkin merasa pahit terhadap para penatua dan terhadap semua orang kudus. Jika kita hidup menampilkan Kristus, dan berperilaku di dalam Kristus, penghidupan dan perilaku itu akan menjadi pahala kita. Kemudian kita akan gembira dalam kehidupan gereja. Jika hari ini kita mengutamakan Kristus dalam segala hal, kita akan memiliki kasih, kita akan menikmati Dia sebagai hayat, kita akan memancarkan Dia sebagai terang, dan kita akan menjadi kaki dian yang bersinar sebagai kesaksian Yesus. Hal itu akhirnya akan menjadi pahala kita, bukan hanya dalam zaman ini, tetapi juga dalam zaman yang akan datang. Dalam Kerajaan Seribu Tahun, kita akan menikmati Kristus sebagai pahala kita dalam Taman Firdaus Allah. (The Overcomers, hal 30-36)

(28)

KEMBALI KE ORTODOKSI GEREJA (Kamis — Sidang Malam)

Berita Tiga

Gereja di Smirna

Pembacaan Alkitab: Why. 2:8-11; 1:18; 22:13

I. Gereja di Smirna adalah gereja yang berada di bawah penderitaan penganiayaan (Why. 2:8-11):

A. Di dalam Bahasa Yunani Smirna berarti “mur,” satu rempah-rempah yang manis, yang figurnya, menandakan penderitaan; gereja di Smirna adalah gereja yang menderita—ay. 10:

1. Gereja yang teraniaya ini menderita di dalam kemanisan dan keharuman Kristus.

2. Gereja ini berada di dalam kesusahan dalam Yesus dan berada di dalam persekutuan dengan penderitaan-penderitaan-Nya—1:9; Flp. 3:10.

3. Gereja di Smirna menderita seperti diri Kristus sendiri dan karenanya menjadi kelanjutan penderitaan-Nya— Kol. 1:24:

a. Penderitaan-penderitaan Kristus ada dua kategori: penderitaan-penderitaan bagi penggenapan penebusan, yang telah dilengkapi oleh Kristus sendiri, dan penderitaan-penderitaan untuk menghasilkan dan membangun gereja, yang perlu dipenuhi oleh para rasul dan kaum beriman.

b. “Penderitaan-penderitaan Kristus. . . bagi Tubuh-Nya, yang adalah gereja” (ay. 24) harus dilengkapi oleh para pengikut-Nya baik secara individual maupun secara kolektif.

c. Di dalam gereja di Smirna, kita melihat kelanjutan kolektif dari penderitaan-penderitaan Yesus.

d. Karena gereja ini adalah kelanjutan dari penderitaan Yesus, maka gereja ini benar-benar adalah kesaksian Yesus—Why. 1:2, 9; 19:10.

B. Gereja di Smirna menderita “fitnah dari mereka yang menyebut dirinya orang-orang Yahudi, tetapi yang sebenar-nya tidak demikian, melainkan adalah sinagoga Satan”—2:9:

1. Para agamawan Yahudi memfitnah gereja yang menderita ini melalui mengkritiknya dengan jahat; mereka dengan keras kepala bersikukuh memelihara sistem agama Yahudi mereka, yang berisikan keimaman Lewi, ritual-ritual persembahan kurban, dan bait materi, yang

(29)

semuanya adalah lambang-lambang yang telah digenapkan dan digantikan oleh Kristus.

2. Karena gereja yang berada di bawah perjanjian yang baru di dalam ekonomi Allah tidak berbagian dalam praktek agama mereka, para agamawan Yahudi itu mengkritiknya dengan fitnah.

3. Dalam prinsipnya, hari inipun sama, orang-orang yang agamawi memfitnah gereja-gereja dalam pemulihan Tuhan yang mencari Tuhan dan mengikut Dia di dalam roh dan di dalam hayat dan yang tidak mempedulikan sistem agama.

4. Menurut firman Tuhan di dalam Yohanes 15:1, 4-5, dan 18-24, pokok anggur dan ranting-rantingnya itu ditentang oleh dunia agama (agama Yahudi); Kekristenan hari ini adalah dunia agama, sistem agama yang bukan hanya menentang Kristus, pokok anggur yang benar itu, tetapi juga menentang gereja, ranting-ranting dari pokok anggur itu—cf. Gal. 1:4.

C. Penganiayaan yang diderita oleh gereja dimulai sejak sinagoga agamawi orang-orang Yahudi dipicu oleh Satan, si seteru, dan dirampungkan oleh Kekaisaran Romawi yang dipakai oleh iblis, si pemfitnah; penganiayaan terhadap gereja yang menderita ini adalah kerjasama antara agama setani dengan politik-politik yang bersifat iblis—Why. 2:9-10.

D. Kepada gereja yang menderita ini, Tuhan Yesus berkata, “Aku tahu kesusahanmu”—ay. 9:

1. Kesusahan itu berharga bagi gereja karena kesusahan itu menguji hayat gereja itu.

2. Tujuan Tuhan dalam mengizinkan gereja menderita kesusahan ini bukan hanya adalah untuk mempersaksikan bahwa hayat kebangkitan-Nya mengalahkan maut tetapi juga untuk membuat gereja dapat menikmati segala kekayaan hayat-Nya—Yoh. 11:25; Why. 1:18; Ef. 3:8.

II. Dalam berbicara kepada gereja di Smirna, Tuhan mengatakan bahwa Dia adalah “Yang Awal dan yang Akhir, yang telah mati dan hidup kembali”—Why. 2:8: A. Fakta bahwa Kristus adalah yang Awal dan yang Akhir ini

berarti bahwa Dia tidak pernah berubah:

1. Di dalam penderitaan, gereja harus mengenal bahwa Tuhan adalah yang Awal dan yang Akhir, yaitu Dia yang kekal ada, dan tidak berubah.

2. Apa pun lingkungan penganiayaan itu, Tuhan tetap sama; tidak ada satu hal pun yang dapat mendahului Dia dan

(30)

tidak ada sesuatu pun yang tetap eksis setelah Dia; segala sesuatu berada di dalam batas-batas kendali-Nya.

B. Pengumuman Tuhan di dalam ayat 8 ini menyiratkan penciptaan—yang Awal—dan penyelesaian—yang Akhir— dan ini juga menyiratkan inkarnasi, penghidupan insani, ketersaliban, dan kebangkitan Kristus:

1. Ini adalah satu pengumuman untuk menguatkan gereja di Smirna yang menderita, yang sedang mengalami dan menderita martir.

2. Satu-satunya hal yang dapat menopang orang-orang kudus dalam penderitaan martir mereka adalah melihat Dia yang menciptakan dan yang akan menyelesaikan seluruh alam semesta ini dan yang telah berinkarnasi, hidup di bumi, tersalib, dan bangkit; visi yang demikian ini menopang para martir untuk berdiri di dalam penderitaan-penderitaan mereka—ay. 10.

3. Semua gereja lokal perlu percaya bahwa Tuhan Yesus adalah yang Pertama dan yang Terakhir, yang Awal dan yang Akhir; Dia akan menggenapkan apa yang telah Dia mulai di dalam pemulihan-Nya—22:13.

C. Sebagai Dia yang telah mati dan hidup kembali, Kristus adalah Dia yang hidup—2:8; 1:18:

1. Tuhan Yesus telah menderita kematian dan hidup kembali; Dia telah masuk ke dalam kematian, tetapi kematian tidak dapat menahan Dia, karena Dia adalah kebangkitan itu—Kis. 2:24; Yoh. 11:25.

2. “Aku telah mati, namun lihatlah, Aku hidup sampai selama-lamanya”—Why. 1:18:

a. Kebangkitan adalah hayat yang melalui kematian dan tetap hidup.

b. Kebangkitan Kristus adalah perpanjangan hari-hari-Nya; Dia akan tetap eksis sampai selama-lamanya di dalam kebangkitan-Nya.

3. Kristus yang bangkit, yaitu Dia yang hidup itu, hidup di dalam kita dan di antara kita; karena itu, semua gereja haruslah hidup sama seperti Dia itu hidup, penuh dengan hayat dan mengalahkan maut—1 Tim. 3:15.

4. Tuhan hidup selama-lamanya adalah kesaksian-Nya; semakin kita hidup, maka semakin kita adalah kesaksian dari Yesus yang hidup itu—Why. 1:2, 9; 19:10.

5. Supaya kita dapat menjadi hidup, kita bukan hanya harus memiliki hayat tetapi juga memiliki suplai hayat; sebagai Dia yang hidup, Kristus memperhatikan gereja-gereja melalui memberikan diri-Nya sendiri kepada kita bukan

(31)

hanya sebagai hayat tetapi juga sebagai suplai hayat— Yoh. 4:10, 14; 6:48, 51; Why. 2:7, 17; 3:20.

D. Sebagai Dia yang telah mati dan hidup kembali, Kristus memiliki kunci maut dan kunci Hades—1:18:

1. Tuhan Yesus mengalahkah maut dan menghancurkan Iblis, maka kunci maut dan kunci Hades sekarang ada di tangan-Nya, dan Dia menang atas kuburan—Ibr. 2:14; Why. 1:18.

2. Di dalam kebangkitan-Nya, Tuhan Yesus mengambil otoritas maut dan otoritas Hades; maut tunduk kepada-Nya dan Hades berada di bawah kendali-kepada-Nya—ay. 18. 3. Di dalam kehidupan gereja hari ini, kita tidak lagi tunduk

kepada maut dan Hades, karena Kristus telah menghapuskan maut dan mengalahkan Hades di dalam kebangkitan-Nya—Ibr. 2:14.

4. Kristus bukan hanya telah mengalahkan maut—Dia juga telah meniadakannya; 2 Timotius 1:10 mewahyukan bahwa Kristus meniadakan maut, dan membuatnya tidak berefek, melalui kematian-Nya yang menghancurkan iblis dan kebangkitan-Nya yang menelan maut—Ibr. 2:14; 1 Kor. 15:52-54.

III. “Setialah sampai mati dan Aku akan memberikan kepadamu mahkota hayat”—Why. 2:10:

A. “Setialah sampai mati”:

1. Tuhan ngotot bahwa hayat semua orang yang melayani Dia adalah milik Dia; inilah sebabnya mengapa kita harus setia bahkan sampai mati.

2. Setia sampai mati adalah perkara sikap dan waktu: a. Tentang sikap kita, kita harus setia walaupun harus

menghadapi kematian—12:11.

b. Tentang waktu, kita harus setia sampai mati. B. “Aku akan memberikan kepadamu mahkota hayat”:

1. Mahkota hayat, sebagai pahala bagi orang-orang yang setiap sampai mati dalam menang atas penganiayaan, menunjukkan kekuatan yang menang yang adalah kuasa hayat kebangkitan (Flp. 3:10); ini juga menunjukkan bahwa para pemenang ini telah mencapai kebangkitan yang ekstra dari antara orang mati (ay. 11), kebangkitan yang luar biasa.

2. Bukan hanya pohon hayat tetapi mahkota hayat juga akan menjadi pahala bagi gereja yang menderita—Why. 2:7, 10:

a. Makan pohon hayat itu batini bagi suplai, dan mahkota hayat itu lahiriah bagi kemuliaan.

(32)

b. Janji mengenai pohon hayat dan mahkota hayat itu terbungkus dengan hayat ilahi (Yoh. 1:4; 10:10; 11:25; 1 Yoh. 5:11-13); hayat ini harus menjadi makanan kita, dan kemudian hayat ini akan menjadi ekspresi kita dan pemuliaan kita sebagai mahkota hayat. Kutipan Berita Ministri:

GEREJA DI SMIRNA —

HAYAT KEBANGKITAN DAN MAHKOTA HAYAT

Di bawah kedaulatan-Nya, Tuhan telah memilih gereja-gereja untuk menggenapkan tujuan-Nya. dia memilih tujuh buah kota di Asia Kecil, yaitu Efesus, Smirna, Pergamus, Tiatira, Sardis, Filadelfia, dan Laodikia. Dalam bahasa Yunani, nama kota-kota itu sangat berarti, bahkan sesuai dengan makna rohani gereja itu. Pernah kita bahas bahwa arti “Efesus” adalah “yang patut didambakan”. Gereja Efesus adalah gereja yang Tuhan sayang dan Tuhan indahkan. “Smirna” dalam bahasa Yunaninya berarti “mur”. Mur adalah semacam rempah-rempah, yang dalam hal tanda mengindikasikan penderitaan. Dalam pelambangan, mur mengindikasikan penderitaan Kristus yang manis. Sebab itu, gereja di Smirna adalah gereja yang menderita, mengindikasikan gereja yang dianiaya oleh kekaisaran Romawi dari akhir abad pertama hingga awal abad keempat. Gereja yang teraniaya ini, menderita dalam kemanisan dan keharuman Kristus. Dengan kata lain, gereja ini berada dalam kesusahan Kristus dan persekutuan dalam penderitaan-Nya. Gereja di Smirna menderita seperti yang diderita oleh Kristus, dan sebagai penerus penderitaan Kristus. Dalam Kolose 1:24, Paulus memberi tahu kita bahwa dia “menggenapkan dalam tubuhku apa yang kurang pada penderitaan

Kristus, untuk Tubuh-Nya, yaitu gereja”. Paulus menggenapkan

penderitaan Kristus. Meskipun tidak ada yang dapat meneruskan penebusan Kristus, tetapi atas penderitaan Kristus perlu digenapkan oleh pengikut-pengikut-Nya, baik secara perorangan maupun kolektif. Dalam gereja di Smirna kita melihat penerus penderitaan Yesus yang kolektif. Karena gereja ini meneruskan penderitaan Yesus, maka dia sungguh-sungguh adalah kesaksian Yesus.

Mari kita perhatikan yang berbicara kepada gereja di Smirna. Dalam ayat 8 Tuhan berkata, “Inilah firman dari Yang Awal dan Yang Akhir,

yang telah mati dan hidup kembali.” Tuhan memberi tahu kepada gereja

yang menderita bahwa dia adalah Yang Awal dan Yang Akhir. Hal ini berarti, berapa pun beratnya penderitaan yang dialami-Nya, penderitaan itu tidak dapat mengakhiri atau mencelakai Dia. Dia adalah Yang Awal juga Yang Akhir. Ketika menderita, gereja harus mengenal bahwa Tuhan adalah Yang Awal dan Yang Akhir, yang ada untuk selama-lamanya dan yang tidak berubah selamanya. Bagaimanapun situasi penganiayaan itu, dia tetap sama; tidak ada sesuatu yang dapat berada di depan-Nya, juga

Referensi

Dokumen terkait

Dalam “Perancangan Wedding Magazine Pernikahan Adat Minangkabau di kota Padang” dalam bentukvisualisasi gambar foto ini dapat disimpulkan bahwa unsur-unsur yang digunakan

Apabila motif atau alasan dari penyalahgunaan kewenangan oleh pejabat tersebut adalah untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi dan

perbedaan skor akhir sebesar 2% diperoleh dari selisih antara hasil penelitian sebelumnya dengan hasil menggunakan perangkat lunak yang dibagi dengan total

Hasil analisis inferensial dengan uji independent Kolmogorov Smirnov, dinyatakan bahwa Ho ditolak dan dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan hasil belajar setelah

Secara teoritis, semakin banyak jumlah wisatawan dan semakin lama wisatawan tinggal di suatu daerah tujuan wisata, maka semakin banyak pula uang yang dibelanjakan di

Hubungan ini didefinisikan sebagai sejauh mana anggota/ pegawai mempersepsi bahwa organisasi (lembaga, atasan, rekan) memberi dorongan, respek, menghargai kontribusi

Permasalahan dalam penelitian ini adalah dikarenakan kontroversi sikap yang terjadi pada masyarakat Indonesia terkait penggunaan gambar garuda tersebut yang persis dengan

Sebuah website di Australia dan apli- kasi pada telepon pintar di Amerika bahkan melakukan hal yang lebih gila lagi, mereka bahkan memfasilitasi seseorang untuk ber- selingkuh