• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. dan menyebabkan tawa bagi pendengar ataupun pemirsa. Danandjaja (1989:498)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. dan menyebabkan tawa bagi pendengar ataupun pemirsa. Danandjaja (1989:498)"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Humor merupakan sebuah sarana hiburan yang menimbulkan kelucuan dan menyebabkan tawa bagi pendengar ataupun pemirsa. Danandjaja (1989:498) mengungkapkan bahwa di dalam masyarakat, humor, baik yang bersifat erotis dan protes sosial dapat dikendurkan melalui tawa. Oleh karena itu, melalui humor manusia dapat menghadapi ketimpangan masyakrakat dengan canda tawa. Humor dapat disajikan dalam berbagai bentuk seperti dongeng, teka-teki, puisi rakyat, nyanyian rakyat, sandiwara, karikatur dan lain-lain. Wacana humor yang menjadi bahan kajian tulisan ini adalah stand up comedy.1

Stand up comedy merupakan sebuah bentuk pertunjukan seni komedi yang dibawakan secara monolog oleh seorang comic2 secara langsung di depan para penonton dan berbicara langsung kepada mereka. Stand up comedy sesungguhnya merupakan label baru dalam seni melawak, khususnya seni lawak monolog. Jauh sebelum orang-orang mengenal stand up comedy seperti sekarang ini, ada seni lawak tunggal yang sudah berkembang, misalnya komedi tunggal yang dibawakan oleh Charlie Chaplin dan Basiyo. Komedi tunggal dikenal sebagai stand up comedy baru dimulai pada tahun 1966 yang dikemukakan oleh orang-orang dari Oxford, Inggris.

       

1

Wijana, I Dewa Putu,2004, Kartun, Jakarta,Ombak, hlm. 3 

(2)

Saat ini stand up comedy telah menjamur di berbagai negara, seperti Prancis dan Indonesia. Perkembangan stand up comedy di Prancis dimulai setelah Perang Dunia ke-2 yaitu sekitar tahun 1950an. Stand up comedy di Prancis mengalami puncak kejayaan ketika Jamel Débouzze dengan mendirikan Jamel Comedy Club. Di dalam Jamel Comedy Club terdapat sejumlah comic ternama seperti Gad Elmaleh, Tomer Sisley. Di Indonesia, komedi tunggal dengan

kemasan stand up comedy diperkenalkan oleh Ramon Papana. Ia

memperjuangkan stand up comedy di Indonesia sejak tahun 1997 hingga akhirnya pada tahun 2011 stand up comedy berkembang pesat dan lahirlah comic-comic

berbakat seperti Raditya Dika, Abdel, Ryan, dan sebagainya.

Kelucuan-kelucuan yang hadir dalam lawakan stand up comedy biasanya bermula dari comic yang mencela dirinya sendiri atau bahkan mencela orang lain. Tidak hanya itu, stand up comedy jugamengangkat topik dari fenomena-fenomena sosial jaman sekarang misalnya masalah kegalauan remaja dan percintaan. Tak jarang pula stand up comedy dijadikan sebagai wahana kritik sosial terhadap ketimpangan masyarakat yang disampaikan dengan santai dan dikemas secara humoris. Perhatikan contoh wacana stand up comedy berikut:

1.) je commence un petit peu à regretter parce que… parce que… parce que voilà elle je pensais vraiment que c’était la femme de ma vie, vraiment j’étais fou amoureux de cette fille-là et ça m’a brisé le cœur cette séparation et j’ai mis un petit moment avant de m’en remettre et euh… et c’est marrant parce que juste au moment où je pensais que j’allais plus jamais entendre parler d’elle

(TS) 2.) Gue jadi rentan galau. Gue rentan galau tiap hari, gue rentan banget sama galau.

Ngeliat menduung, ngeliat gambar ombaak, buka facebook mantan, galau

(3)

Aspek yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah mengenai penanda kohesi dan koherensi wacana stand up comedy Prancis (Tomer Sisley dan Gad Elmaleh) dan Indonesia (Raditya Dika dan Jui Purwoto). Pembuatan naskah sebelum pementasan merupakan persiapan yang mutlak dilakukan oleh setiap

comic. Menyusun materi lawakan tentu tidak lepas dari aspek-aspek kohesi agar terbentuk menjadi suatu materi lawakan yang koheren. Kohesi merupakan aspek yang berkenaan dengan hubungan bentuk antara bagian-bagian dalam suatu wacana. Selanjutnya, koherensi merupakan aspek yang menandai hubungan makna secara semantis antar bagian wacana.

1.2 RUMUSAN MASALAH

Dalam pembuatan materi, setiap comic harus memperhatikan keutuhan dan kesinambungan materi lawakan. Hal itu menimbulkan pertanyaan yang menarik untuk dikaji, yakni:

1. Apa sajakah aspek-aspek kohesi dan koherensi yang digunakan oleh setiap comic dalam membangun sebuah materi stand up comedy

Prancis dan Indonesia?

2. Apakah kekhasan kohesi dan koherensi yang terdapat dalam wacana

stand up comedy Prancis dan Indonesia?

1.3 TUJUAN PENELITIAN

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aspek-aspek kohesi dan koherensi yang digunakan oleh masing-masing comic dalam membangun materi

(4)

serta untuk mengetahui kekhasan aspek kohesi dan koherensi yang ada dalam wacana stand up comedy Prancis dan Indonesia.

1.4 RUANG LINGKUP PENELTIAN

Objek materiil penelitian mengenai analisis wacana ini adalah stand up comedy Prancis dan Indonesia. Data wacana stand up comedy diambil dari Gad Elmaleh dan Tomer Sisley (Prancis), serta Raditya Dika dan Jui (Indonesia) dengan masing-masing satu wacana untuk tiap comic. Dalam penelitian ini, peneliti membatasi penelitian hanya pada aspek kohesi-koherensi.

1.5 TINJAUAN PUSTAKA

Penelitian mengenai analisis wacana yang membahas kohesi dan koherensi sesungguhnya telah banyak dilakukan. Seperti yang telah dibahas oleh Beta Ika Wahyuningsih (2002) dalam skripsi yang berjudul judul Kohesi dan Koherensi Wacana Teras Berita le Point Suatu Tinjauan Analisis Wacana. Dalam skripsinya, dia mengkaji teras berita majalah mingguan Le Point sebagai wacana dalam bentuknya sebagai paragraf beserta ide pokok, jenis pemaparan wacana teras berita beserta kohesi gramatikal dan koherensi dalam paragraf teras berita Le Point. Hasil ulasan dari skripsi tersebut menyimpulkan bahwa di dalam wacana teras berita Le Point ditulis dengan pemaparan deskriptif. Ditinjau dari aspek kohesinya, di dalam wacana tersebut terdapat kohesi gramatikal berupa referensi, substitusi, elipsis, dan konjungsi sedangkan kohesi leksikal tidak masuk dalam bahasan. Dalam wacana teras berita Le Point digunakan digunakan koherensi pertentangan, sebab-akibat, tambahan, tempat, dan koherensi waktu.

(5)

Skripsi Aisyah Maulidina (2004) dengan judul Wacana Rubrik L’Infirmière A Dit Dalam Majalah Okapi (Sebuah Analisis Kohesi, Koherensi, dan Pragmatik). Ia meneliti mengenai aspek kohesi dan aspek koherensi yang membentuk wacana rubrik L’Infirmière A Dit, serta menganalisis tindak tutur langsung dan tak langsung yang terdapat dalam wacana rubrik L’Infirmière A Dit. Penggunaan kohesi gramatikal dalam wacana rubrik L’Infirmière A Dit meliputi referensi, substitusi, elipsis, dan konjungsi sedangkan kohesi leksikal yang ditemukan antara lain hubungan repetisi (kata dan klausa), sinonimi, antonimi, hiponimi, dan kolokasi. Hubungan koherensi yang terdapat dalam wacana rubrik

L’Infirmière A Dit yaitu hubungan pentahapan, kontras, kausalitas, dan pengandaian. Berkaitan dengan bentuk dan makna tindak tutur, di dalam wacana rubrik tersebut ditemukan adanya tindak tutur langsung dan tindak tutur tidak langsung.

Niken Pusposari (2008) melalui skripsi yang berjudul Kohesi Leksikal Pada Wacana Rubrik Faits Divers Dalam Harian Le Parisien. Dalam penelitian ini, dia mengulas mengenai kohesi leksikal yang terdapat di dalam wacana rubrik

faits divers dalam harian Le Parisien. Penelitian ini meneliti tentang bentuk-bentuk penggantian yang terdapat dalam rubrik faits divers. Penggantian-penggantian tersebut dalam bentuk repetisi, sinonimi, dan hiponimi.

Arul Wahyu I (2011) dalam skripsi yang bertajuk Kohesi Gramatikal Dalam Novel Bonjour Tristesse. Dalam novel Bonjour Tristesse penggunaan unsur kohesi gramatikal referensi, substitusi, elipsis dan konjungsi berperan

(6)

penting dalam menciptakan teks agar kalimat-kalimat dalam teks tersebut terkaitkan.

Anthony Hermawan (2012) dalam skripsi yang berjudul Kohesi Leksikal Dalam Novel Madame Bovary. Skripsi ini menganalisis aspek kohesi leksikal dalam wacana novel Madame Bovary. Hasil penelitiannya menyimpulkan bahwa kohesi leksikal yang terdapat dalam novel Madame Bovary yaitu repetisi, sinonimi, antonimi, hiponimi, dan kolokasi.

Dian Erlina (2003) dalam tesis yang berjudul Kohesi dan Koherensi Dalam Cerita Anak. Kohesi yang terdapat dalam cerita anak tersebut meliputi penunjukan, penggantian, pelesapan, perangkaian dan kohesi leksikal yang terdiri dari repetisi, sinonimi, hiponimi dan kolokasi. Jenis koherensi antar kalimat yang berupa koherensi penambahan, perurutan, perlawanan, penekanan, sebab-akibat, waktu, syarat, cara, kegunaan, penjelasan, dan penyimpulan. Berdasarkan hasil persentase, penanda kohesi dan koherensi yang terdapat dalam cerita anak jumlahnya lebih sedikit. Hal ini dikarenakan perangkat kohesi dan koherensi dalam cerita anak disesuaikan dengan bahasa anak yang cenderung singkat, ringkas, dan sederhana.

Dari uraian tinjauan pustaka di atas telah diketahui bahwa penelitian mengenai analisis wacana yang mencakup kohesi dan koherensi sudah pernah dilakukan sebelumnya. Namun demikian masih ada ruang untuk menganalisis kohesi dan koherensi melalui objek material yang lain. Penulis akan membahas kohesi dan koherensi dengan menggunakan objek material yang berbeda dari penelitian sebelumnya, yaitu wacana monolog stand up comedy.

(7)

1.6 LANDASAN TEORI

Dalam kajian linguistik, wacana diartikan sebagai satuan bahasa terlengkap; dalam hirearki gramatikal merupakan satuan gramatikal tertinggi atau terbesar. Wacana ini direalisasikan dalam bentuk karangan yang utuh, paragraf, kalimat atau kata yang membawa amanat yang lengkap (Kridalaksana, 1983:179).

Di dalam wacana, kohesi diartikan sebagai kepaduan bentuk yang secara struktural membentuk ikatan sintaktikal dan berkenaan dengan hubungan bentuk antara bagian-bagian dalam suatu wacana. Dengan kata lain, kohesi merupakan aspek fisik yang terdapat dalam suatu wacana. Widdowson (2007:46) mengungkapkan bahwa perangkat kohesi menghubungkan bagian-bagian wacana dalam satu kesatuan teks. Relasi kohesif sangat mendukung bagi pendengar/penerima wacana dalam memahami sebuah wacana. Halliday dan Hasan (1976:6) membagi kohesi dalam dua jenis yaitu kohesi gramatikal dan kohesi leksikal.

Kohesi gramatikal berkaitan dengan aspek gramatikal antar wacana. Kohesi gramatikal mencakup referensi, substitusi, elipsis, dan konjungsi. Kohesi leksikal adalah hubungan leksikal di dalam bagian wacana agar terbentuk suatu keserasian struktur wacana yang kohesif. Kohesi leksikal terdiri dari pengulangan, hiponimi, sinonim, antonimi, dan kolokasi.

Pada dasarnya koherensi merupakan suatu rangkaian gagasan yang tersusun secara teratur dan logis. Koherensi juga dapat terjadi secara implisit karena berkaitan dengan makna yang diinterpretasi oleh pembaca/pendengar. Berbagai macam hubungan antarbagian wacana yang bersifat koheren dapat

(8)

berupa hubungan sebab-akibat, perurutan, perlawanan, lebih, penjumlahan, waktu, syarat, cara, kegunaan, dan penjelasan. Masing-masing hubungan antarbagian tersebut memiliki penanda koherensi tertentu dalam penunjukan pertalian yang koheren.

1.7 METODE DAN DATA

Pengambilan data untuk penelitian ini berdasarkan tokoh comic yang paling terkenal di Prancis dan Indonesia serta pemilihan topik yang kompleks. Dengan demikian, peneliti menentukan stand up comedy dari Gad Elmaleh, Tomer Sisley, Jui Purwoto, dan Raditya Dika dengan masing-masing satu wacana

stand up comedy sebagai objek penelitian ini.

Ada tiga metode yang dilakukan dalam penelitian ini, yaitu metode pengumpulan data, metode analisis data, dan metode penyajian data.

1. Metode Pengumpulan Data

Dalam pengumpulan data penelitian, digunakan metode simak dan teknik catat. Metode simak merupakan sebuah metode yang dilakukan dengan menyimak, yaitu menyimak penggunaan bahasa. Setelah melakukan penyimakan, kemudian dilakukanlah teknik catat. Teknik catat dilakukan setelah penyimakan selesai dan dengan menggunakan alat tulis tertentu. Teknik catat seperti ini disebut juga dengan transkripsi.

2. Metode Analisis Data

Metode yang digunakan dalam menganalisis data yaitu dengan metode agih. Metode Agih merupakan sebuah metode yang alat penentunya bagian dari bahasa yang bersangkutan itu sendiri (Sudaryanto, 1993:15).

(9)

Teknik yang digunakan untuk analisis data yaitu menggunakan teknik ganti dan teknik lesap. Teknik ganti adalah teknik analisis yang berupa penggantian unsur lingual untuk mengetahui kadar kesamaan kelas atau kategori. Selanjutnya adalah teknik lesap, teknik lesap merupakan teknik analisis yang berupa penghilangan atau pelesapan satuan lingual. Metode penyajian data pada penelitian ini menggunakan metode informal yaitu menjelaskan hasil penelitian secara rinci dan terurai. Berikut dua contoh penerapan teknik lanjutan yang digunakan dalam analisis wacana stand up comedy.

(1) En règle générale la plupart des filles, elles veulent du sérieux tout de suite

‘Pada umumnya, sebagian besar cewek, mereka pengen serius cepet-cepet’

(TS) (1a) En règle générale, la plupart des filles, veulent du sérieux tout de suite

‘Pada umumnya, sebagian besar cewek, pengen serius cepet-cepet’

Kata yang dicetak tebal tersebut merupakan kohesi gramatikal yang berbentuk referensi persona, yaitu pengacuan yang menunjuk pada seseorang. Apabila kata « elle » ‘dia (perempuan)’ dilesapkan, maka wacana tersebut masih bermakna sama dan berterima.

(2) Gue jadi rentan galau.Gue rentan galau tiap hari, gue rentan banget sama galau.

(RD) (2a) Gue jadi rentan galau. Gue rentan bimbang tiap hari, gue rentan risau.

Dalam wacana di atas, terdapat repetisi/pengulangan kata ‘galau’. Pengulangan kata ‘galau’ ini untuk menegaskan kepada para penonton bahwa

(10)

perasaannya memang benar-benar galau. Ketika wacana tersebut diubah ujudnya dan kata ‘galau’ diganti menjadi seperti dalam wacana (2a), maka penegasan perasaan galau cenderung tidak terlalu kuat.

1.8 SISTEMATIKA PENELITIAN

Dalam BAB I penelitian ini akan disajikan ulasan mengenai latar belakang, rumusan masalah, tujuan, ruang lingkup penelitian, tinjauan pustaka, landasan teori, metode dan data, dan sistematika penyajian. Kemudian dalam BAB II akan dibahas tentang kerangka teori mencakup teori analisis wacana, kohesi dan koherensi. Selanjutnya dalam BAB III akan disampaikan analisis data, BAB IV merupakan kesimpulan dari hasil hasil analisis yang telah dilakukan disertai lampiran transkrip wacana stand up comedy.

Referensi

Dokumen terkait

Peneliti berasumsi bahwa komunitas pecinta drum Kota Bandung yang mengadakan pertunjukan musik berskala internasional memiliki strategi khusus yang secara tidak langsung

Dari hasil survey awal yang telah dilakukan, 2 dari 10 orang (20%) penonton stand up comedy di Kafe Bobber Kota Bandung menyatakan bahwa dengan seringnya menonton acara

Data primer adalah data yang secara langsung dari objek dicatat, dan diambil untuk pertama kali ( Marzuki,2000 ) Data tersebut menjadi data sekunder bila

Salah satu contohnya adalah ketika berbicara langsung dengan orang Jepang baik secara lisan ataupun tulisan,pembelajar bahasa Jepang akan merasa sulit untuk memutuskan kata kerja

(2008) menemukan bahwa family caregivers yang merawat lansia penderita demensia secara langsung memiliki nilai intrusion (pemikiran negatif) dan avoidance (rasa tidak

Berdasarkan fenomena tersebut, Peneliti ingin mengetahui bagaimana komika dalam karir stand up comedy nya bisa tetap bertahan di acara open mic dengan tekanan penonton dan

Kegiatan berbicara (bercerita) tentu akan lebih mudah jika kita benar-benar pernah mengalami atau dalam hal ini kita mendengar dan melihat suatu informasi secara

Teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah dokumentatif, yaitu dengan mengumpulkan data primer yang diambil dari buku-buku yang secara langsung berbicara