• Tidak ada hasil yang ditemukan

IV. HASIL. (sumber: Peta Rupa Bumi Digital, Bakosurtanal) Gambar 2. Peta lokasi Desa Pasireurih

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "IV. HASIL. (sumber: Peta Rupa Bumi Digital, Bakosurtanal) Gambar 2. Peta lokasi Desa Pasireurih"

Copied!
28
0
0

Teks penuh

(1)

4.1 Karakter Lanskap Perkampungan

Identifikasi karakter tapak diperlukan dalam upaya untuk mengetahui kondisi fisik dan sosial budaya yang terjadi saat ini. Selain untuk informasi kondisi existing, identifikasi tapak juga diperlukan untuk menganalisis relevansi tingkat keberlanjutan masyarakat yang menempati tapak. Dalam penelitian ini, karakter lanskap perkampungan yang dikaji meliputi karakter lanskap, karakter sosial, dan karakter spiritual. Melalui karakter lanskap pada ketiga lokasi penelitian dapat diketahui karakter lanskap perkampungan Desa Pasireurih saat ini.

4.1.1 Karakter Lanskap 1. Letak Geografis

Desa Pasireurih terletak pada lintang 06037’10” - 06038’40” LS dan 106042’45” - 106047’25” BT dengan ketinggian 350-500 mdpl dan luas wilayah 316 Ha. Pada bagian utara Desa Pasireurih berbatasan dengan Desa Parakan, Desa Sirnagalih pada bagian timur, Desa Tamansari pada bagian selatan, dan berbatasan dengan Desa Sukaresmi pada bagian barat (Gambar 2). Berjarak lima km dari kota Bogor atau 60 km dari kota Jakarta.

(sumber: Peta Rupa Bumi Digital, Bakosurtanal) Gambar 2. Peta lokasi Desa Pasireurih

(2)

2. Iklim

Berdasarkan data dari Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Balai wilayah II stasiun Kelas I Darmaga Bogor (2002-2008), kawasan studi termasuk beriklim tropik dengan jumlah curah hujan rata-rata tahunan 3.500-4.500 mm/th atau 323 mm/bln dengan jumlah hari hujan 284 hari. Curah hujan tertinggi terjadi pada bulan Maret sebesar 539 mm/bln dan curah hujan terendah terjadi pada bulan Agustus sebesar 165 mm/bln. Kelembapan udara rata-rata 84%, intensitas penyinaran rata-rata sekitar 65,1% dan kecepatan angin rata-rata 2,3 km/jam. Suhu harian rata-rata 20º-30ºC dengan rata-rata tahunan 29ºC.

Desa Pasireurih termasuk daerah yang beriklim tropis dengan ciri suhu relatif tinggi dan konstan. Lokasi penelitian berada di daerah dataran rendah dengan ketinggian 350-500 mdpl. Lakitan (1994) berpendapat, kenaikan ketinggian 100 m suhu akan turun dengan kisaran 0,6 C. Di Desa Pasireurih masih memiliki daerah tegakan pohon, baik di kebun-kebun maupun di leuweung tutupan (hutan keramat) yang berada di kawasan lebih tinggi dapat memberikan kesejukan pada permukiman yang berada di bawahnya. Selain ketinggian, bentukan lahan dan vegetasi yang ada juga mempengaruhi iklim (Hill, 1995).

Desa Pasireurih terletak pada ketinggian 350-500 mdpl memiliki suhu rata-rata 20º-30ºC dengan rata-rata-rata-rata tahunan 29ºC. Simonds (1983) menjelaskan bahwa selain letak geografis, ketinggian tempat, keterbukaan terhadap sinar matahari dan keberadaan air, vegetasi juga sangat berperan dalam mempengaruhi iklim kawasan.

Berdasarkan data stasiun Klimatologi Klas I Darmaga 2008, desa Pasireurih memiliki curah hujan rata-rata 3.500-4.500 mm/tahun. Curah hujan yang relatif tinggi pada lokasi penelitian cukup menjamin ketersediaan air sepanjang tahun sehingga dapat dimanfaatkan sebagai daerah pertanian. Curah hujan yang tinggi juga dapat menimbulkan tingkat erosi yang tinggi. Pemanfaatan lahan pertanian berupa sawah di lokasi penelitian yang mengikuti pola kontur dapat menahan limpasan air yang berlebih, terutama saat musim hujan.

(3)

3. Tanah dan Topografi

Kawasan Kampung Budaya Sindang Barang yang berada dalam wilayah Desa Pasireurih memiliki karakter tanah yang tergolong ke dalam jenis regosol (80%) , latosol (15%), dan lainnya (5%). Menurut klasifikasi tanah Throp dan Smith, tanah regosol termasuk ke dalam golongan azonal dimana tanah azonal tidak ditentukan oleh faktor iklim atau salah satu proses pembentukan tanah, tetapi oleh sifat bahan induk (BI).

Tanah regosol merupakan tanah sangat muda dan duduk di atas endapan material yang dalam, lunak, bercerai-berai dan tidak berbatu. Regosol biasa dijumpai di bukit pasir, lava dan daerah hasil letusan gunung berapi. Tanah regosol masih satu golongan dengan tanah aluvial yang memiliki tingkat produktivitas yang tinggi bila digunakan sebagai lahan pertanian.

Jenis tanah regosol dengan bahan induk abu volkan dan bahan sedimen merupakan jenis tanah yang berada di daerah pegunungan. Regosol menempati horizon A hingga horizon C dengan warna tanah kelabu kekuningan. Tekstur dari regosol adalah pasir berdebu (>60%). Kandungan bahan organiknya rendah sehingga kemampuan tanah dalam menjerap air rendah dan peka terhadap erosi. Untuk mengurangi dampak negatif dari kondisi demikian maka dibutuhkan upaya pencegahan dan penanggulangan erosi, yaitu dengan melakukan penanaman dengan tipe perakaran tanaman yang luas dan dalam.

Jenis tanah latosol merupakan tanah yang banyak terdapat di daerah beriklim sedang-panas, curah hujan >2000 mm/th. Latosol banyak terdapat di daerah tropis dengan ketinggian 10-1000 mdpl. Dan vegetasi utama adalah hutan hujan tropis lebat. Dibandingkan dengan jenis tanah yang lain di Indonesia, tanah latosol tergolong ke dalam tanah yang subur.

Tanah latosol menurut Kellog (1949) dalam Soepardi (1983) memiliki sifat-sifat yang dapat dengan mudah ditemukan, diantaranya adalah warna dari tanah latosol yang dominan merah atau kuning dan terbentuknya keadaan granular. Keadaan tersebut merangsang drainase dalam tanah yang sangat baik. Selanjutnya liat-hidroksida yang dimiliki oleh latosol yang tidak mempunyai sifat plastisitas dan kohesi yang menjadi ciri liat silikat daerah sedang. Hal tersebut memungkinkan pengolahan tanah latosol segera setelah hujan lebat tanpa

(4)

menyebabkan keadaan fisik tanah yang tidak baik. Dalam kata lain latosol dapat digunakan untuk pertanian meskipun dibawah tekanan curah hujan yang tinggi yang justru berdampak buruk bagi tanah jenis lainnya.

Keberadaan tanah latosol yang terdapat pada sebagian besar Desa Pasireurih menjadikan wilayah tersebut mempunyai produksi pertanian yang baik. Karena kesuburannya, banyak dari masyarakat yang memanfaatkan lahannya untuk bercocok tanam terutama padi dengan sistem sawah irigasi, palawija dan kebun campuran. Padi merupakan komoditi utama Desa Pasireurih dan digunakan dalam upacara Seren Taun (sedekah Bumi) yang biasa dilakukan pada 1 Muharram.

Usaha tani yang terdapat di Desa Pasireurih pada umumnya merupakan usaha tani konvensional yang menggunakan input dari luar cukup besar (seperti penggunaan pupuk kimia, pestisida kimia dan mengeksploitasi penggunaan sumber daya lahan). Dengan menurunnya hasil panen dan harga input yang mahal, sebagian petani kemudian beralih ke dalam usaha pertanian organik. Dengan digalakkannya sistem pertanian organik menjadikan Desa Pasireurih sebagai daerah percontohan pertanian padi organik di Kabupaten Bogor dengan hasil produksi yang baik. Hal ini juga tidak terlepas dari kepercayaan masyarakat setempat kepada Sanghyang Ambu Sri Rumbiyang Jati atau yang lebih dikenal dengan Dewi Sri sebagai pemberi kesuburan dan hasil yang baik, juga kepada

Sanghyang Ayah Kuwera Guru Bumi atau Batara Patanjala sebagai pemberi kesuburan dan kesejahteraan mempengaruhi cara mereka bertani.

Menurut klasifikasi kesesuaian lahan yang dibuat oleh Jawatan Pengawetan Tanah dan Air Amerika /(USDA) (Klingebiel dan Montgomery, 1961) dalam

Hardjowigeno dan Widiatmaka (2007) tanah di kawasan Desa Pasireurih tergolong ke dalam kesesuaian lahan kelas I dan II. Tanah yang tergolong dalam kesesuaian kelas II mempunyai hambatan sedikit yang dapat membatasi pemanfaatannya.

Tanah yang tergolong kelas I berdrainase baik, dan permukaannya hampir datar (0%-3%). Luas lahan yang termasuk ke dalam golongan kelas I di wilayah Desa Pasireurih kurang lebih 30% dari total keseluruhan lahan. Lahan tersebut banyak digunakan pertanian sawah dengan menggunakan sistem irigasi terbuka.

(5)

Lahan yang tergolong kelas II menjadi lahan yang mendominasi kawasan Desa Pasireurih, dengan karakter (a) lereng berombak, (b) bahaya erosi sedang, (c) kedalaman tanah kurang, (d) struktur dan daya olah tanah yang sedikit kurang sempurna, (e) keadaan sedikit alkalin atau salin dan (f) drainase sedikit terbatas. Menurut Arsyad (1979) dalam Hardjowigeno dan Widiatmaka (2007), dengan kondisi topografi yang sebagian besar datar sampai berombak dengan tingkat kemiringan 0%-8% sangat sesuai untuk dikembangkan sebagai daerah pertanian. Dalam hal ini terbukti dengan pemanfaatan lahan yang sebagian besar dijadikan lahan pertanian (sawah dan ladang) dengan komoditi yang diusahakan sama dengan komoditi lahan kelas I.

Selain itu di beberapa titik terdapat lahan dengan tingkat kemiringan 8%-15% yang dijadikan sebagai hutan keramat oleh masyarakat setempat. Pemanfaatan lahan tersebut sangat sesuai sebagai upaya konservasi lahan dimana lahan dengan kemiringan >8% tidak sesuai untuk dimanfaatkan sebagai lahan pertanian maupun konstruksi dan harus tetap dipertahankan sebagai hutan atau secara hati-hati dapat digunakan untuk aktivitas yang terbatas.

Topografi merupakan bentuk tiga dimensi dari permukaan bumi. Topografi dapat mempengaruhi penggunaan lahan. Selain itu topografi memiliki hubungan langsung dengan berbagai elemen yang ada di lingkungan sekitar dan menimbulkan berbagai efek, seperti karakter suatu kawasan, pemandangan, drainase, iklim mikro, serta penggunaan lahan (Booth, 1983).

4. Hidrologi

Kawasan Desa Pasireurih merupakan daerah dengan sumber daya air yang melimpah. Hal ini dikarenakan posisi dari Desa Pasireurih yang berada di kaki Gunung Salak, sehingga memiliki beberapa bentuk badan air, baik alami maupun buatan. Badan air alami yang ditemukan pada Desa Pasireurih yaitu berupa sungai dan sumber mata air, sedangkan badan air buatan yaitu berupa kolam. Beberapa bentuk badan air alami berupa sungai yang ada yaitu sungai Ciapus, sungai Cipamali, dan sungai Cinadita. Bentuk badan air alami berupa sumber mata air ada banyak, yang sudah dipelihara yaitu mata air Cimajakin, Cieja, Jalatunda, Cinyusu, dan Cimalipah.

(6)

(a)Sungai Cipamali (b) Sungai Cinadita Gambar 3. Badan air alami berupa sungai

Bentuk badan air yang terdapat di Kampung Sindang Barang yaitu berupa sungai, sumber mata air, dan sumur artesis. Sungai yang melintasi Kampung Sindang barang yaitu Sungai Cipamali dan Sungai Cinadita merupakan karakter sungai kecil dengan lebar 1,5-3 m dan berbatu (Gambar 3). Secara visual, kualitas air sungai Cipamali masih terlihat jernih walaupun banyak sampah plastik dan sisa bahan industri sepatu-sandal, begitupun air Sungai Cinadita secara visual terlihat jernih tetapi jarang terdapat sampah plastik dan kadang berwarna kecoklatan karena erosi tanah dari persawahan.

(a)Mata air Cimalipah (b) Mata air Sumur Jalatunda Gambar 4. Badan air alami berupa mata air

Sumber mata air banyak ditemukan, seperti mata air Sumur Jalatunda, Cieja, Cimajakin, dan Cimalipah. Kualitas air sumber mata air secara visual terlihat jernih dan air selalu keluar walaupun musim kemarau. Mata air Cieja, Cimalipah dan Sumur Jalatunda digunakan dalam Upacara Seren Taun yang dipercaya sebagai air suci yang memberikan manfaat bagi yang menggunakannya (Gambar 4). Untuk keperluan rumah tangga, masyarakat memperoleh air dari sumur atau

(7)

dari sumber mata air yang kemudian disalurkan melalui selang atau pipa ke rumah masyarakat. Untuk penggunaan irigasi lahan pertanian masyarakat menggunakan air dari sungai. Dikawasan Kampung Sindang Barang, RW 03 lebih banyak masyarakat yang mempunyai kolam dipekarangan mereka dibanding dengan RW 04 dan RW 05, hal ini dikarenakan luasan pekarangan yang relatif lebih luas.

(a)Sungai Ciapus (b) Mata air Nyangkokot Gambar 5. Badan air alami berupa mata air

Bentuk badan air yang dapat ditemukan di Dukuh Menteng yaitu sungai, sumur, sumber mata air dan kolam. Sungai yang terdapat di Dukuh Menteng yaitu, sungai Ciapus dengan karakter sungai yang besar dan berbatu. Secara visual masih terlihat jernih dan kadang terlihat sampah plastik (Gambar 5). Mata air yang ditemukan yaitu, mata air Nyangkokot dan Cinyusu, secara visual masih terlihat jernih dan selalu keluar ketika musim kemarau. Hal ini berbeda dengan sumur masyarakat yang debit airnya berkurang saat musim kemarau tiba. Untuk keperluan sehari-hari masyarakat sering menggunakan sumber mata air secara langsung dan untuk irigasi sawah menggunakan aliran air dari sumber mata air dan sungai. Saat musim kemarau tiba masyarakat lebih sering menggunakan sumber mata air dan saluran irigasi serta air sungai untuk keperluan sehari-hari. Kolam ikan jarang ditemukan di Dukuh Menteng karena bentuk topografi yang relatif berbukit sehingga terdapat hambatan dalam membuat saluran irigasinya.

Air merupakan salah satu elemen penting dalam lanskap. Air dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan manusia, seperti irigasi, kebutuhan sehari-hari, sumber tenaga, transportasi, pembatas iklim mikro, habitat makhluk hidup tertentu, rekreasi, pemandangan dan kenyamanan (Simonds, 1983). Sumber mata air yang ada umumnya mengalir sepanjang tahun, hal ini menjamin ketersediaan

(8)

pasokan air untuk usaha pertanian. Meskipun musim kemarau tiba, masyarakat masih bisa bertani.

Masyarakat lokasi penelitian umumnya kurang memperhatikan sanitasi dalam kehidupannya, hanya sebagian yang telah menerapkan sanitasi dengan baik. Hal ini terlihat dalam kebiasaan masyarakat yang secara langsung menggunakan air sungai dan air irigasi untuk keperluan sehari-hari. Jumlah anggota masyarakat yang memiliki toilet dalam setiap rumah masih sedikit, beberapa anggota masyarakat masih buang air di sungai atau saluran irigasi. Selain itu, limbah cair domestik yang memasuki badan air seperti sungai dan saluran irigasi tidak ditreatment terlebih dahulu.

Disamping itu terkait dengan kepariwisataan kondisi hidrologi di lokasi penelitian khususnya Dukuh Menteng cukup menunjang aktivitas wisata. Peningkatan pelayanan dengan menambah fasilitas air bersih perlu dilakukan untuk memberikan kenyamanan bagi wisatawan. Sungai Ciapus memberikan keuntungan lain sebagai daya tarik wisata, beberapa kegiatan yang dapat dikembangkan seperti tracking (menyusuri sungai), atraksi menambang dan memecah batu dan mandi di sungai.

5. Biota

Vegetasi memiliki peran yang penting dalam menunjang kehidupan. Penyebaran vegetasi antara lain berupa pekarangan, sawah, tegalan, kebun campuran, serta talun. Pada umumnya penyebaran vegetasi tidak terlalu berbeda, karena tingkat kemiringan lahan yang tergolong seragam.

Terdapat beberapa vegetasi dominan yang ada di kawasan Sindang Barang umumnya dan khususnya di Desa Pasireurih. Diantara vegetasi tersebut adalah palawija (Padi, Singkong, Ubi Jalar, Kacang Tanah, Jagung), sayur-sayuran (Mentimun, Cabe Besar, Cabe Rawit, Tomat, Terung, Buncis, Petsai/Sawi, Kacang Panjang, Bayam, Kangkung, Melinjo, Jamur), buah-buahan (Belimbing, Alpukat, Durian, jambu Biji, Jambu Air, Mangga, Jeruk, Manggis, Nangka, Rambutan, Nanas, Pepaya, Pisang, Sawo, Markisa, Lengkeng, Dukuh, Salak, Kelapa, Sirsak), kayu (Sengon, Jati, Mahoni, Nangka, Kelapa, Suren, Albasia, Bambu).

(9)

Pada umumnya masyarakat kurang memanfaatkan pekarangan disekitar rumah karena biasanya lebih menekuni bidang industri rumahan. Keragaman vegetasi kurang terlihat, masyarakat cenderung menanami pekarangan dengan tanaman hias agar rumah terlihat indah dan tidak gersang. Tanaman hias yang dapat dijumpai antara lain hanjuang merah (Cordylne fruticosa), bayam merah (Iresine herbstii), taiwan beauty (Cuphea sp.), heliconia, agave, palem merah, daun mangkokan (Polyscias scutellaria), bunga sepatu (Hibiscus rosa-sinensis), bambu jepang, sri rejeki (Dieffenbachia sp.), puring (Codieaum varigatum), aglonema, dll.

Selain vegetasi yang secara umum terdapat di wilayah Sindang Barang, menurut sejarah dari beberapa narasumber disebutkan bahwa terdapat beberapa vegetasi yang menjadi vegetasi khas kawasan Sindang Barang, dimana vegetasi tersebut terdapat dalam sejarah Pantun Bogor. Diantara vegetasi tersebut adalah

Hanjuang Merah (Cordyline fruticosa), Paku Jajar/Hanjuang Siang (Yucca elephantipes), Handeuluem Sieum (Graptophyllum pictum), Tanjung (Mimmusops elengi L.), Kirai (Metroxylon rumphii), dan Kawung (Arenga pinnata).

Selain itu, terdapat vegetasi yang secara budaya erat kaitannya dengan hubungan antara manusia dengan penciptanya. Diantaranya adalah Hanjuang Merah yang merupakan pohon suci yang dipercaya sebagai tempat turunnya Karuhun. Begitu juga dengan Kawung yang berfungsi sebagai pohon keramat yang dipercaya sebagai tempat turunnya Sanghyang Tunggal. Adapun Paku Jajar

merupakan simbol dari kerajaan Pajajaran dan hanya terdapat di kawasan kerajaan Pajajaran, sehingga Paku Jajar sudah jarang ditemukan (Gambar 6). Selain itu terdapat juga vegetasi yang dipercaya sangat ditakuti oleh makhluk halus yaitu pohon Tanjung.

(10)

(a) Paku Jajar (Yucca elephantipes) (b) Kirai (Metroxylon rumphii) Gambar 6. Vegetasi yang dikeramatkan

Satwa liar di lokasi studi sudah jarang ditemukan, yang dominan adalah hewan ternak. Satwa liar yang dapat dijumpai berupa beberapa jenis burung seperti burung kutilang, bangau. Hewan ternak yang biasanya dipelihara antara lain ayam, mentok, kelinci, kerbau, angsa dan beberapa jenis ikan. Sama halnya dengan kondisi vegetasi, menurut sejarah yang termaktub di dalam pantun Bogor, terdapat beberapa satwa khas yang dipercaya pernah hidup di kawasan Sindang Barang. Diantara satwa tersebut adalah Harimau Jawa, Heulang (Elang), Peucang

(Kancil), dan Burung Engrang.

Diantara satwa tersebut terdapat beberapa satwa yang dipercaya memiliki kekuatan dan kaitan yang erat dengan kerajaan Pajajaran, yaitu Harimau yang menjadi simbol Prabu Siliwangi, dan Heulang (Elang) yang dijadikan gelar bagi raja-raja Pajajaran. Namun demikian, diantara satwa-satwa tersebut hanya Burung Elang dan Kancil yang masih ada di kawasan Sindang Barang, terutama di Desa Pasireurih.

6. Bunyi

Bunyi merupakan salah satu unsur yang dapat membangkitkan suasana perdesaan. Bunyi yang mengesankan keadaan alam dapat berasal dari berbagai sumber, seperti dari satwa liar, hewan peliharaan, gesekan daun karena angin, atau suara gemericik air yang mengalir.

Suasana di lokasi penelitian Kampung Sindang Barang, khususnya RW 03 bunyi berasal dari suara gesekan daun oleh angin, hewan peliharaan dan satwa liar. Suasana ini dapat dinikmati hampir sepanjang hari, namun pada siang hari agak terganggu karena suara musik dari bengkel pembuat sepatu. Pada RW 04

(11)

bunyi alami kurang dapat dirasakan pada siang hari karena dominasi lahan terbangun dan suara kendaraan bermotor yang lalu lalang, pada malam hari bunyi alami dapat didengar. Di lokasi RW 05 suara alami kurang dapat dirasakan pada siang hari seperti di RW 04 karena dominasi lahan terbagun.

Suasana di Dukuh Menteng, bunyi alami dapat berasal dari gemericik air, hewan peliharaan dan satwa liar. Pada siang hari, bunyi alami kurang dapat terdengar karena dominasi lahan terbangun yang padat, biasanya terdengar bunyi mesin jahit dari industri rumahan sepatu/sandal. Di sore hari terdengar suara penduduk yang mengaji. Pada malam hari terdengar serangga dan hembusan angin malam.

Dengan meningkatnya jumlah penduduk dan mobilitas yang tinggi jumlah kendaraan bermotor semakin meningkat, terutama kendaraan roda dua. Hal ini dikarenakan kebutuhan alat angkut untuk pemasaran hasil kerajinan sepatu-sandal dari industri rumahan, maka tingkat kebisingan dan pencemaran udara juga makin tinggi. Dampak pencemaran ini dapat berupa gangguan kesehatan manusia dan terjadinya hujan asam.

Menurut Manik (2003), tanpa kegiatan pembangunan pun masalah lingkungan hidup dapat timbul, yang disebabkan oleh peristiwa alam dan pertumbuhan penduduk yang pesat. Dengan demikian, pembangunan tidak perlu dihentikan, tetapi dilakukan dengan berupaya memaksimalkan dampak positif dan meminimalkan dampak negatif. Untuk itu, dalam perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, dan pemantauan pembangunan diperlukan sumber daya manusia yang mempunyai integritas, kualitas, dan kepedulian lingkungan yang tinggi, serta teknologi yang ramah lingkungan.

7. Pemandangan

Karakter lanskap alami yang menonjol di Desa Pasireurih merupakan kawasan pertanian. Pemandangan pada keempat lokasi penelitian terlihat berbeda, pemanfaatan lahan yang berbeda membuat pemandangan yang berbeda. Sebagian besar lahan yang ada adalah lahan peartanian. Secara umum pada lokasi penelitian mencerminkan perkampungan di tengah lanskap perdesaan. Selain itu, terlihat karakter lanskap alam yang khas, yaitu melimpahnya sumber daya alam mineral

(12)

(material batuan) hasil letusan gunung Salak. Sumber daya tersebut diterapkan pada lanskap pertanian, yaitu tipe persawahan yang menggunakan tumpukan batu sebagai benteng penguat sekaligus pembatas dari setiap petakan sawah sebagai batas kepemilikan lahan.

Kampung Sindang Barang memiliki topografi yang relatif datar. Perkampungan telah dipadati dengan perumahan penduduk dengan sedikit open space di tengah perkampungan. Di samping itu, dari beberapa titik dapat terlihat pemandangan lanskap pertanian. Pemandangan yang menonjol di Kampung Sindang barang seperti pegunungan, hamparan padi, serta perkampungan masyarakat local (Gambar 7).

(a)Area pertanian (b) Perkampungan masyarakat lokal Gambar 7. Pemandangan pada Kampung Sindang Barang

Dukuh Menteng yang memiliki topografi relatif bergelombang. Pemandangan di wilayah ini menggambarkan perkampungan di tengah lanskap pertanian. Dengan pengembangan kawasan Kampung Budaya Sindang Barang menambah keindahan lanskap perkampungan. Pemandangan yang menonjol berupa pegunungan, hamparan padi dan tanaman sayur serta alur lintasan sungai (Gambar 8).

(13)

(a)Perkampungan masyarakat lokal (b) Area pertanian Gambar 8. Pemandangan Kampung Budaya Sindang Barang

Pemandangan merupakan suatu hal penting dalam penilaian lanskap. Pemandangan yang baik dapat memenuhi rasa keindahan, kepuasan, dan kenyamanan manusia. Pemandangan yang baik hendaknya dipertahankan, sedangkan pemandangan yang berkesan buruk hendaknya dapat dimodifikasi. Pemandangan merupakan gambaran suasana yang dinikmati pada suatu titik tertentu (Simonds, 1983).

Namun demikian, keindahan pemandangan yang ada masih terganggu dengan adanya sampah yang mengganggu dan pola permukiman yang belum tertata dengan baik. Pada beberapa tempat seperti di tepi sungai dan sudut-sudut kampung, terlihat sampah penduduk yang dibiarkan begitu saja (Gambar 9). Masyarakat masih kurang memperhatikan dampak yang ditimbulkan.

(a) Di bantaran sungai (b) Hasil industri rumahan sepatu-sandal Gambar 9. Pemandangan tumpukan sampah

(14)

8. Tata Ruang Perkampungan dan Pola Permukiman

Tata ruang di dalam lokasi penelitian umumnya menunjukkan suatu pola umum permukiman masyarakat Sunda yang berupa perkampungan dengan dikelilingi oleh lahan pertanian. Bentuk topografi yang relatif bergelombang tidak mempengaruhi pola permukiman yang padat dan sangat sedikit ruang terbuka/open space. Umumnya masyarakat bermukim pada topografi yang relatif datar. Berdasarkan Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) 2005-2025 (Bappeda, 2005), kawasan Desa Pasireurih khususnya Kampung Sindang Barang dan Dukuh Menteng diperuntukkan menjadi kawasan permukiman kota. Penggunaan lahan di wilayah Desa Pasireurih secara umum terdiri dari lahan terbangun (93.11 ha/ 29%) dan lahan terbuka berupa kebun campuran (123.64 ha/39%), dan sawah irigasi (97.32 ha/31%), (Gambar 10). Lahan terbangun di Desa Pasireurih berupa permukiman yang terdiri rumah penduduk, masjid, balai desa, sekolah dan fasilitas umum lainnya.

Gambar 10. Peta penggunaan lahan Desa Pasireurih

Aksesibilitas ke kota yang mudah hal ini berpengaruh pada aspek sosial dan ekonomi di Desa Pasireurih. Dari segi sosial, masyarakat memiliki tingkat adaptasi terhadap perubahan yang cepat, misalnya model rumah yang banyak

(15)

beralih menggunakan bahan konkrit dibandingkan dengan bahan kayu dan bambu/ bilik. Dari segi ekonomi, berpengaruh terhadap harga sewa (land rent) dan jual tanah (land sale) yang berada di dekat dengan jalan dua hingga empat kali lipat dalam selang waktu 3-4 tahun terakhir. Terlebih semenjak dibangun dan dibukanya kawasan Kampung Budaya Sindang Barang sebagai kawasan wisata yang menjadikan wilayah tersebut banyak dikunjungi oleh wisatawan.

Menurut Muanas et al. (1998), masyarakat Sunda yang mendiami wilayah Jawa Barat, mempunyai pola pemukiman dimana penduduk bertempat tinggal di suatu kampung sedang tanah pertanian atau tanah perkebunan ada di luar batas kampung mereka. Letak perumahan pada umumnya mengelompok dengan dua deret yang saling berhadapan, berpekarangan yang cukup luas. Di atas pekarangan ini terdapat sebuah atau beberapa buah rumah lain. Terdapat pula rumah-rumah tanpa pekarangan, sehingga tidak jelas hubungan antara rumah yang satu dengan yang lain. Pekarangan-pekarangan yang tidak dibatasi oleh pagar berfungsi sebagai batas atau zona antara, yang memisahkan bangunan rumah dengan tanah garapan atau antara rumah dengan rumah lainnya.

Selain itu, dalam kebudayaan masyarakat Sunda diterapkan beberapa aturan dalam penataan ruang yang menjadi ciri khas bagi permukiman Sunda. Aturan tersebut berdasarkan infomasi yang bersumber dari literatur Sunda (Pantun Bogor) dalam cerita Sanghyang Siksa Kandang Karesian bahwa terdapat tiga konsep patempatan dalam kebudayaan Sunda (Purnama, 2007). Konsep tersebut tersaji dalam Tabel 2.

Tabel 2. Konsep Dasar Tata Ruang Sunda

No. Konsep Uraian

1. Elemen Lemah-Cai : Cai nyusu, Imah, Pipir dan Buruan

2. Orientasi Luhur-Handap : Sanghyang Wuku, Luhur, Tengah, Handap 3. Mitos Wadah-Eusi & Kaca-kaca : Alam (jagat) padanan tubuh manusia

Pemahaman terhadap konsep Lemah-Cai pada lokasi penelitian relatif sama, syarat suatu permukiman yaitu lemah (tanah) yang layak huni dan layak dijadikan ladang (tempat bercocok tanam) serta cai (air) yang tersedia. Konsep Luhur-Handap merupakan satu ciri konsep orientasi pada patempatan, yakni keyakinan bahwa yang di luhur (di atas) dinilai lebih tinggi nilainya. Manifestasi konsep

(16)

Luhur-Handap yaitu penempatan permukiman yang berada diantara hutan adat (Leuweung Tutupan Leuweung Kolot) dan lahan pertanian. Pemahaman terhadap konsep Wadah-Eusi yaitu, bahwa setiap tempat selalu menjadi wadah sekaligus mempunyai eusi atau kekuatan supranatural (tempat yang dikeramatkan), seperti Sumur Jalatunda dan Leuweung Tutupan. Pemahaman terhadap konsep Kaca-kaca, yaitu batasan ruang lingkup kehidupan manusia yang tidak selamanya berada dalam kebebasan.

Dalam merancang rumah, masyarakat lokasi penelitian umumnya menggunakan bahan-bahan bangunan berasal dari luar seperti batu bata, kayu-kayu, kapur, keramik, semen, kaca,dll. Bahan bangunan yang terdapat di lokasi penelitian yaitu pasir dan batu kali tersedia cukup melimpah, sedangkan bahan bangunan bambu dan kayu ringan tersedia dalam jumlah yang terbatas.

(17)
(18)
(19)

4.1.2 Karakter Sosial

Karakter sosial masyarakat yang akan diangkat terkait dengan aspek sejarah, kependudukan, pendidikan, dan sistem kelembagaan dalam masyarakat.

Ditinjau dari aspek sejarah, sumber utama sejarah Sunda umumnya dan khususnya kawasan Sindang Barang adalah sumber lisan. Terdapat dua sumber sejarah yang menerangkan sejarah Sindang Barang, yaitu menurut Babad Pakuan dan Pantun Bogor. Menurut Babad Pakuan, nama “Sindang Barang” telah dikenal dan tercatat sebagai salah satu daerah penting kerajaan Sunda dan Pakuan Pajajaran. Hal ini dikarenakan di kawasan Sindang Barang terdapat salah satu keraton kerajaan yang merupakan tempat tinggal salah satu istri Prabu Siliwangi/ Sri Baduga yang bernama Dewi Kentring Manik Mayang Sunda. Sedangkan menurut Pantun Bogor, Sindang Barang dikenal dengan nama Lembur Taman

yang dibangun pada tahun 1611 oleh Mbah Camplang dan hingga saat ini masih ada bukti keberadaannya. Pada zaman Prabu Wisnu Bharata, Lembur Taman

dijadikan pusat perkembangan agama Sunda Kuna/Wiwitan. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan banyaknya situs berupa punden berundak yang berfungsi sebagai tempat beribadah agama Sunda Kuna/wiwitan. Nama Sindang Barang memiliki dua arti, salah satu sumber menyatakan sebagai tempat menyimpan barang. Arti masing-masing kata yaitu sindang berarti berdiam dan barang berarti benda. Menurut Pantun Bogor yaitu tempat menghentikan keinginan duniawi (menyepi).

Sejarah dari kawasan Sindang Barang diperoleh secara turun temurun dan tidak secara formal diajarkan dalam dunia pendidikan, sehingga banyak masyarakat yang mengetahui sejarah kawasan tersebut berasal dari orang tua mereka yang diajarkan secara turun temurun. Kondisi ini berdampak pada pengetahuan masyarakat setempat yang rendah terhadap keberadaan nilai dan budaya yang tinggi dari kawasan Sindang Barang.

Namun demikian atas inisiatif dari beberapa sesepuh (kokolot) di Desa Pasireurih khususnya Kampung Sindang Barang yang memiliki kepedulian dan kekhawatiran terhadap degradasi nilai budaya dari etnis Sunda (Kasundaan). Atas dasar inilah maka pada tahun 2004 didirikan Padepokan Seni Sunda Giri Sundapura yang menjadi cikal bakal terbentuknya Kampung Budaya Sindang

(20)

Barang (KBSB). Kemudian masyarakat setempat mulai mengenali dan mencintai kembali kesenian warisan leluhur yang hampir punah.

Para sesepuh mencari dan menggali kembali nilai budaya yang pernah dilaksanakan di kawasan lokasi penelitian. Hingga akhirnya sesepuh merekomendasikan Upacara Sedekah Guru Bumi (Seren Taun) dan berbagai tradisi, seni, dan kebudayaan lainnya untuk direvitalisasi. Dalam tahap perencanaan dan pelaksanaan tidak selamanya berjalan baik. Pro dan kontra mengenai revitalisasi Upacara Seren Taun berdampak pada kondisi masyarakat menjadi tidak kondusif. Upacara Seren Taun dipandang oleh beberapa tokoh masyarakat sebagai tradisi yang bukan berasal dari ajaran Islam, sehingga tidak sesuai untuk dilaksanakan di kawasan lokasi penelitian yang mayoritas beragama Islam.

Namun akhirnya hal tersebut dapat dipahami oleh sebagian masyarakat dan Upacara Seren Taun dapat dilaksanakan secara akbar pada tahun 2006. Pelaksanaan Seren Taun membawa berkah bagi sesepuh Sindang Barang, dimana Achmad Mikami Sumawijaya (ketua adat) diundang gubernur Jawa Barat untuk koordinasi mengenai kegiatan budaya di Sindang Barang. Pertemuan tersebut berakhir dengan penawaran dana oleh pihak Provinsi Jawa Barat kepada sesepuh Sindang Barang untuk mengembangkan kawasan Sindang Barang sebagai kawasan wisata budaya.

Penawaran tersebut ditindaklanjuti dengan dibangunnya Kampung Budaya Sindang Barang yang dibangun di atas tanah seluas 8.600 m2 dengan fasilitas berupa 1 unit Imah Gede (rumah ketua adat), 1 unit Girang Seurat (sekretariat), dan 2 unit Imah Kokolot (rumah sesepuh adat), 6 unit Imah Warga (rumah penduduk), 1 unit Bale Pangriungan (aula), 1 unit Imah Saung Talu (tempat kesenian), 6 unit Saung Leuit (lumbung padi), 1 unit Pawon (dapur), 2 unit

Tampian (kamar mandi), dan fasilitas penunjang lainnya seperti jalan beraspal serta Tajug (musholla).

Dalam penentuan letak kawasan Kampung Budaya Sindang Barang dan pembangunan fisik bangunan-bangunan adat didasarkan pada tuntunan dari Anis Djatisunda yang bersumber dari Pantun Bogor. Dalam tata letak kawasan diharuskan tempat yang akan dijadikan sebagai kawasan Kampung Budaya

(21)

Sindang Barang adalah tempat yang berada di daerah tinggi sebagai penghormatan bagi ketua adat.

Selain itu tempat yang akan dijadikan sebagai kawasan kampung adat harus berada diantara dua aliran sungai dan tentunya memiliki keterkaitan yang kuat dengan sejarah Sunda Tempo dulu. Dengan ketentuan demikian, maka ditetapkan Desa Pasireurih sebagai sebagai kawasan Kampung Budaya Sindang Barang khususnya di Dukuh Menteng karena berada di daerah yang tinggi dan diapit oleh dua aliran sungai, yaitu Sungai Ciapus dan Sungai Ciomas.

Keberadaan KBSB saat ini merupakan upaya revitalisasi dan pembangunan fisik berupa replikasi dan imitasi untuk menampilkan periode setting dari perkampungan tradisional tempo dulu yang pernah ada di Sindang Barang Kabupaten Bogor. Adapun untuk upaya revitalisasi, dilakukan terhadap pelestarian dan pengembangan nilai-nilai sejarah dan budaya yang tinggi dari kawasan Sindang Barang. Nilai-nilai tersebut tercermin secara tangble berupa pola permukiman (termasuk di dalamnya aspek kosmologi), kesenian dan elemen fisik sejarah serta budaya lainnya, maupun intangible dalam pola kehidupan sosial masyarakat.

Kampung Budaya Sindang Barang termasuk ke dalam wilayah administratif Desa Pasireurih, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor Provinsi Jawa Barat. Dari segi pemerintahan wilayah Desa Pasireurih terbagi ke dalam 14 RW, 54 RT, jumlah penduduk Desa Pasireurih pada tahun 2009 berjumlah 11.098 jiwa atau 2.666 KK dan terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun dengan laju pertumbuhan penduduk sebesar 3,4% atau rata-rata 313 jiwa per tahun, tingkat laju pertumbuhan tersebut tergolong tinggi. Hal ini perlunya perencanaan dalam mengatasi laju pertumbuhan penduduk yang tinggi. Kepadatan penduduk lokasi penelitian Kampung Sindang Barang (RW 03, RW 04, RW 05) memiliki kepadatan penduduk lebih tinggi dibandingkan dengan Dukuh Menteng (RW 08). Hal ini terlihat dari pola permukiman yang lebih padat di Kampung Sindang Barang dibanding Dukuh Menteng.

Mata pencaharian sebagian besar masyarakat Desa Pasireurih adalah petani dan pengrajin sepatu-sandal (industri rumahan). Pada awalnya sebagian besar penduduk bermata pencaharian sebagai petani kemudian beralih menjadi

(22)

pedagang, Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan pengrajin sepatu-sandal. Sejarah perkembangan industri rumahan sepatu-sandal dimulai pada tahun 70-an, banyak petani yang beralih menjadi pengrajin sepatu-sandal karena merasa pendapatannya lebih menguntungkan. Dengan ditetapkannya KBSB ke dalam kelompok obyek dan daya tarik wisata budaya Kabupaten Bogor, hal ini mencipatakan kesempatan kerja yang berarti mengurangi jumlah pengangguran serta adanya kemungkinan masyarakat untuk meningkatkan pendapatan dan taraf hidupnya. Pada lokasi penelitian Kampung Sindang Barang hanya sebagian kecil masyarakat yang berprofesi sebagai petani sedangkan pada lokasi Dukuh Menteng sebagian besar masyarakat berprofesi sebagai petani yang mempunyai sambilan pengrajin sepatu-sendal, hal ini dikarenakan jumlah kepemilikan lahan pertanian di Kampung Sindang Barang yang menurun.

Berdasarkan tingkat pendidikan masyarakat di lokasi penelitian pada tahun 2005 yang tersaji dalam Tabel 3, sebagian besar hanya menempuh sekolah dasar. Tingkat putus sekolah pada jenjang SD berjumlah 244 pelajar, SMP berjumlah 27 pelajar, dan SLTA berjumlah 1 pelajar. Masyarakat Kampung Sindang Barang mengenyam jenjang pendidikan yang cukup tinggi, rata-rata hingga SLTA/MA sedangkan masyarakat Dukuh Menteng yang mengenyam pendidikan tidak sebesar Kampung Sindang Barang, sebagian besar hanya menempuh pendidikan hingga SD. Paradigma masyarakat yang menganggap uang adalah yang utama berdampak pada pola kehidupan sosial yang kurang berkembang. Dahulu banyak masyarakat yang tidak berminat untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi, mayoritas dari mereka hanya selesai pada tingkat SD atau SMP dan itu pun dalam jumlah yang sedikit. Hal ini dipengaruhi pula oleh pandangan mereka bahwa sekolah adalah untuk memperoleh uang, sehingga daripada menghabiskan waktu untuk melanjutkan sekolah lebih baik langsung memperoleh uang dengan bekerja, terutama bekerja di “bengkel” industri rumahan sepatu-sendal. Namun paradigma tersebut mulai bergeser dari masyarakat hal ini dikarenakan usaha industri rumahan mulai mengalami pasang surut.

(23)

Tabel 3. Tingkat Pendidikan Tahun 2005 Belum sekolah Tidak sekolah TK/ PAUD SD/MI SLTP/ MTs SLTA/ MA Diploma Sarjana 1,277 323 103 5831 1391 1375 239 124

(Sumber data Bappeda 2005)

Sistem kelembagaan yang ada di Desa Pasireurih mengacu pada sistem pemerintahan umum yang berlaku di Indonesia. Setiap desa dipimpin oleh seorang Kepala Desa dibantu oleh sekretaris desa serta aparat desa lainnya. Kegiatan kemasyarakatan diakomodasi melalui organisasi seperti PKK, DKM, dan kelompok pemuda.

Selain itu terdapat kelembagaan adat Kampung Budaya Sindang Barang yang merupakan hasil musyawarah para sesepuh dan tokoh masyarakat Sindang Barang. Secara struktur adat KBSB dipimpin oleh seorang ketua adat (Sang Rama) dengan didukung seperangkat pengurus adat terdiri dari Serat, Sang Ambu, Ambu Sukla, Pre Ambu, Panengeun, Pangiwa, Panengkes, Kukuh, Jaba, Pamatang, Pangawin, Bareusan dan Panglarap. Sang Rama merupakan pemimpin dari sebuah kampung adat, di KBSB ketua adat dipimpin oleh Achmad Mikami Sumawijaya yang merupakan cucu dari Etong Sumawijaya (sesepuh Sindang Barang).

Saat ini KBSB belum menjadi sebuah kampung adat secara utuh, karena belum memenuhi persyaratan sebagai kampung adat. Persyaratan yang harus dipenuhi antara lain dalam kawasan kampung adat harus dihuni oleh masyarakat adat yang hidup sesuai dengan aturan adat, dan ini belum tercermin dalam kehidupan keseharian di KBSB. Walaupun demikian, masyarakat masih menghormati para sesepuh baik dalam meminta pendapat maupun dalam memecahkan suatu permasalahan.

Persepsi masyarakat lokal terhadap keberadaan KBSB dapat dikatakan cukup baik, terlebih dengan ditetapkannya KBSB sebagai kawasan budaya. Keberadaan KBSB berdampak pada perubahan di beberapa aspek baik dampak positif maupun negatif bagi masyarakat setempat.

Selain itu, terdapat organisasi yang mewadahi kebutuhan para petani yang bernama kelompok tani (poktan). Kelompok tani memberikan kemudahan dan

(24)

penyuluhan kepada anggotanya yang biasanya dibina oleh PPL (Petugas Penyuluh Lapang). Kelompok tani yang terdapat di Kampung Sindang Barang bernama Subur Makmur, sedangkan kelompok tani di Dukuh Menteng bernama Karya Tani. Gabungan beberapa kelompok tani di Desa Pasireurih bernama Mekar Wangi. Penyuluhan oleh PPL biasanya diadakan seminggu sekali tergantung kesepakatan kelompok tani. Masyarakat yang aktif terlibat dalam kegiatan membuat komunikasi berjalan dengan baik. Hal ini berbeda dengan industri rumahan sepatu-sandal yang tidak memiliki wadah organisasi atau koperasi. Meskipun pernah terbentuk hal ini tidak berjalan dengan baik dan akhirnya pecah.

4.1.3 Karakter Spiritual

Pada umumnya penduduk di Desa Pasireurih merupakan etnis Sunda yang mayoritas beragama Islam (90%). Budaya yang berkembang di lokasi penelitian merupakan kebudayaan Sunda yang telah melebur dengan kebudayaan Islam. Masyarakat masih memegang sistem kekeluargaan yang erat dalam kehidupan sehari-harinya. Seiring perkembangan zaman, karakter spiritual masyarakat setempat mulai terpengaruh.

Karakter spiritual masyarakat Kampung Sindang Barang dan Dukuh Menteng dari segi religi masyarakat masih memegang nilai-nilai agama walaupun kurang kaffah. Kegiatan pengajian dan sholat berjamaah di masjid dilakukan secara rutin di mushola atau masjid walaupun jamaahnya sedikit. Kegiatan pengajian untuk laki-laki biasanya dilaksanakan setiap malam senin dan untuk perayaan hari besar agama Islam tetap dilaksanakan seperti Muludan,

Muharaman, Isra Mi’raj, Idhul Fitri dan Idhul Adha. Tradisi budaya seperti Tahlilan, Akekahan, Rajaban Nadran, Nyaba dan Tujuh Bulanan masih dipertahankan.

Dengan mayoritas masyarakat lokasi penelitian yang berasal dari etnis Sunda memperkuat karakter Kampung Budaya Sindang Barang sebagai revitalisasi, replikasi, imitasi dan periode setting kawasan kampung Sunda tempo dulu. Budaya Sunda memiliki nilai luhur yang masih dijalankan oleh sebagian masyarakat. Beberapa budaya lokal yang menjadi ciri khas lokasi penelitian yaitu Upacara Seren Taun yang dilaksanakan setahun sekali pada tanggal 1 Muharram.

(25)

Upacara ini merupakan perwujudan rasa syukur kepada tuhan atas hasil panen yang melimpah. Selain itu, beberapa ritual yang direvitalisasi diantaranya

Runjakeun, Majikeun Pare, Serbet Kasep, Rengkong dan Angklung Gubrak. Pembinaan anak-anak serta pemuda di lokasi penelitian dalam bidang kesenian tradisional meningkatkan tingkat keberlanjutan budaya lokal yang mulai ditinggalkan.

Ketertarikan masyarakat pada taman rumah/pekarangan kurang terlihat hal ini karena kurangnya informasi dari pemerintah dan masyarakat lebih mengutamakan pekerjaannya sehingga sedikit waktu untuk pekarangan disekitar rumah.

4.2. Penilaian Keberlanjutan Masyarakat

Penilaian keberlanjutan masyarakat didasarkan pada jawaban kelompok masyarakat setempat, terkait dengan aspek ekologis, sosial dan spiritual. Informasi yang didapat dari masyarakat dapat menggambarkan kecenderungan masyarakat dalam mengelola lingkungan perkampungan sehingga dapat diketahui potensi maupun kendala yang dialami masyarakat untuk mencapai kondisi yang ideal.

Berdasarkan ketiga aspek ekologis, sosial dan spiritual, keempat lokasi studi menunjukkan awal yang baik ke arah keberlanjutan masyarakat. Aspek ekologi pada lokasi Kampung Sindang Barang dan Dukuh Menteng menunjukkan awal yang baik ke arah keberlanjutan. Aspek sosial menunjukkan kemajuan sempurna ke arah keberlanjutan. Aspek spiritual menunjukkan kemajuan sempurna menuju keberlanjutan pada keempat lokasi penelitian. Tabulasi data penilaian keberlanjutan masyarakat disajikan dalam Tabel 4.

Tabel 4. Penilaian Keberlanjutan Masyarakat

Aspek Penilaian Kampung Sindang Barang Dukuh Menteng

RW 03 RW 04 RW 05 RW 08

Aspek Ekologis 221b * 206b * 214b * 244b*

Sosial 345a * 341a * 366a * 360a *

Spiritual 369a * 378a * 375a * 365a *

(26)

Ket :

2). Pembobotan pada satu aspek

*

333+ Menunjukkan kemajuan sempurna ke arah keberlanjutan 166-332 Menunjukkan suatu awal yang baik ke arah keberlanjutan 0-165 Menunjukkan perlunya tindakan untuk mencapai keberlanjutan 3). Pembobotan gabungan dari ketiga aspek

**

999+ Menunjukkan kemajuan sempurna ke arah keberlanjutan 500-998 Menunjukkan suatu awal yang baik ke arah keberlanjutan 0-449 Menunjukkan perlunya tindakan untuk mencapai keberlanjutan

4.2.1 Aspek Ekologis

Aspek ekologis adalah salah satu aspek komponen dalam penilaian keberlanjutan masyarakat yang memiliki keterkaitan dengan ilmu arsitektur lanskap. Berdasarkan jawaban dari kelompok masyarakat di keempat lokasi studi, lokasi studi Kampung Sindang Barang dan Dukuh Menteng menunjukkan awal yang baik menuju menuju keberlanjutan. Nilai parameter yang rendah di Kampung Sindang Barang terdapat pada parameter ketersediaan, produksi dan distribusi makanan serta pola konsumsi dan pengelolaan limbah padat. Pada lokasi studi Kampung Sindang Barang dan Dukuh Menteng memiliki nilai yang rendah dalam parameter limbah cair dan pengelolaan polusi. Tabel 5 menunjukkan hasil penilaian aspek ekologis berdasarkan Penilaian Keberlajutan Masyarakat.

Tabel 5. Penilaian Aspek Ekologis

No. Parameter Lokasi Pengambilan

RW 03 RW 04 RW 05 RW 08 1 Sense/perasaan terhadap tempat 35b* 30b* 31b* 41b* 2 Ketersediaan, produksi dan distribusi

makanan 19c* 21c* 22c* 33b*

3 Infrastruktur, bangunan fisik dan

transportasi 42b* 33b* 37b* 41b*

4 Pola konsumsi dan pengelolaan

limbah padat 23c* 23c* 23c* 31b*

5 Air-sumber, mutu dan pola penggunaan

49b* 47b* 48b* 48b* 6 Limbah cair dan pengelolaan polusi

22c* 22c* 22c* 20c* 7 Sumber energi dan penggunaannya

31b* 30b* 31b* 30b*

Total Penilaian 221B** 206B** 214B** 244B**

Ket :

1). pembobotan variabel/parameter dalam satu aspek

*

50+ Menunjukkan kemajuan sempurna ke arah keberlanjutan 25-49 Menunjukkan suatu awal yang baik ke arah keberlanjutan 0-24 Menunjukkan perlunya tindakan untuk mencapai keberlanjutan

(27)

2). Pembobotan pada satu aspek

**

333+ Menunjukkan kemajuan sempurna ke arah keberlanjutan 166-332 Menunjukkan suatu awal yang baik ke arah keberlanjutan 0-165 Menunjukkan perlunya tindakan untuk mencapai keberlanjutan

4.2.2 Aspek Sosial

Aspek sosial dalam komponen Penilaian Keberlanjutan Masyarakat menitikberatkan pada aktivitas sosial keseharian masyarakat, komunikasi di dalam dan luar masyarakat, pendidikan, pelayanan umum, serta tingkat keberlanjutan ekonomi yang ada di dalam masyarakat. Tabel 6 menunjukkan hasil penilaian dalam aspek sosial berdasarkan Penilaian Keberlanjutan Masyarakat.

Berdasarkan parameter dalam aspek sosial, lokasi studi pada umumnya menunjukkan kemajuan sempurna menuju keberlanjutan. Nilai tertinggi pada parameter dalam aspek sosial yaitu mengenai keberlanjutan sosial, sedangkan nilai terendah terdapat pada parameter keberlanjutan ekonomi lokal yang sehat.

Tabel 6. Penilaian Aspek Sosial

No. Parameter Lokasi Pengambilan

RW 03 RW 04 RW 05 RW 08 1 Keterbukaan, kepercayaan, keselamatan;

ruang bersama 50a* 50a* 56a* 58a*

2 Komunikasi-aliran gagasan dan informasi

58a* 55a* 55a* 55a* 3 Jaringan pencapaian dan jasa

46b* 48b* 61a* 52a* 4 Keberlanjutan sosial

56a* 63a* 59a* 61a* 5 Pendidikan

56a* 53a* 52a* 52a* 6 Pelayanan kesehatan

45b* 40b* 44b* 42b* 7 Keberlanjutan ekonomi lokal yang sehat

34b* 32b* 39b* 40b*

Total Penilaian 345A** 341A** 366A** 360A**

Ket :

1). pembobotan variabel/parameter dalam satu aspek

*

50+ Menunjukkan kemajuan sempurna ke arah keberlanjutan 25-49 Menunjukkan suatu awal yang baik ke arah keberlanjutan 0-24 Menunjukkan perlunya tindakan untuk mencapai keberlanjutan 2). Pembobotan pada satu aspek

**

333+ Menunjukkan kemajuan sempurna ke arah keberlanjutan 166-333 Menunjukkan suatu awal yang baik ke arah keberlanjutan 0-166 Menunjukkan perlunya tindakan untuk mencapai keberlanjutan

4.2.3 Aspek Spiritual

Aspek spiritual dalam penilaian keberlanjutan masyarakat meliputi penilaian terhadap intensitas dan kualitas aktivitas religi, kebudayaan, maupun kesenian

(28)

yang saat ini masih dilakukan oleh masyarakat. Tabel 7 menunjukkan hasil penilaian berdasarkan Penilaian Keberlanjutan Masyarakat. Dari hasil penilaian terhadap parameter dalam aspek spiritual, keempat lokasi studi menunjukkan kemajuan sempurna menuju kerberlanjutan berdasarkan aspek spiritual. Pada keempat lokasi studi menunjukkan nilai terendah terdapat pada parameter dalam aspek spiritual mengenai seni dan kesenangan.

Tabel 7. Penilaian Aspek Spiritual

No. Parameter Lokasi Pengambilan

RW 03 RW 04 RW 05 RW 08

1 Keberlanjutan budaya 82a* 87a* 82a* 84a*

2 Seni dan kesenangan

28b* 28b* 27b* 30b* 3 Keberlanjutan spiritual

44b* 45b* 49b* 48b* 4 Keterikatan masyarakat

53a* 43b* 55a* 57a* 5 Gaya pegas masyarakat

47b* 56a* 47b* 47b* 6 Holographic baru, pandangan dunia

49b* 49b* 45b* 49b* 7 Perdamaian dan kesadaran global

66a* 70a* 70a* 66a*

Total Penilaian 369A** 378A** 375A** 365A **

Ket :

1). pembobotan variabel/parameter dalam satu aspek

*

50+ Menunjukkan kemajuan sempurna ke arah keberlanjutan 25-49 Menunjukkan suatu awal yang baik ke arah keberlanjutan 0-24 Menunjukkan perlunya tindakan untuk mencapai keberlanjutan 2). Pembobotan pada satu aspek

**

333+ Menunjukkan kemajuan sempurna ke arah keberlanjutan 166-334 Menunjukkan suatu awal yang baik ke arah keberlanjutan 0-167 Menunjukkan perlunya tindakan untuk mencapai keberlanjutan

Gambar

Gambar 10. Peta penggunaan lahan Desa Pasireurih
Tabel 5. Penilaian Aspek Ekologis
Tabel 6. Penilaian Aspek Sosial
Tabel 7. Penilaian Aspek Spiritual

Referensi

Dokumen terkait

Faktor-faktor dibawah ini yang tidak diperlukan untuk menghitung jumlah kalori yang dibutuhkan pada penderita Diabetes Mellitus :.. Berat badan penderita saat

untuk memperbaiki atau mengganti Jasa Lainnya dalam jangka waktu yang ditetapkan dalam pemberitahuan tersebut. Jika Penyedia tidak memperbaiki atau mengganti Jasa

penting untuk didiskusikan dengan para fihak dalam menentukan metode yang paling sesuai dengan Provinsi Sulawesi Tengah. Tulisan ini merupakan hasil antara paper)

tanggung jawab (volledig acquit et de charge) kepada Direksi dan Dewan Komisaris atas tindakan pengurusan dan pengawasan Program Kemitraan dan Bina Lingkungan

Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas yang telah dilaksanakan, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning

dasarkan ketentuan ini, UU Arbitrase jelas mengatur kewenan- gan pengadilan untuk mengabulkan permohonan pembatalan putusan arbitrase dan “menentukan bahwa suatu sengketa tidak

Terjadi pada hari pertama saat pasien masuk ke rumah sakit melalui IGD dan pada saat dokter dan apoteker memberikan resep, hasil laboraturium belum keluar.. 12 55 Tahun CKD stage V

Link Budget yang dihitung dalam perencanaan jaringan yaitu mulai dari Optical Line Terminal (OLT) sampai dengan Optical Network Terminal (ONT) pada Boundary yang