9
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.
Supervisi Klinis
2.1.1. Konsep Supervisi Klinis
Secara bahasa, supervisi klinis berasal dari kata supervisi dan klinis. Sagala dalam Yuni Siregar (2010) menyatakan bahwa menurut konsep kuno supervisi
dilaksanakan dalam bentuk “inspeksi“ atau
mencari kesalahan. Dalam pandangan modern supervisi adalah usaha untuk memperbaiki situasi belajar mengajar, yaitu supervisi sebagai bantuan bagi guru dalam mengajar untuk membantu siswa agar lebih baik dalam belajar. Sedangkan klinis dalam hal ini diartikan sebagai hubungan tatap muka antara supervisor dengan guru yang berfokus pada tingkah laku yang sebenarnya dari guru yang mengajar di kelas, maksudnya adalah tingkah laku yang sewajarnya untuk terselenggaranya pendidikan yang efektif, diperlukan upaya pembinaan secara teratur terhadap aspek-aspek personal, organisasional, operasional dan material.
Supervisi pendidikan mengemban fungsi
10
sebagaimana dimaksud Supervisi klinis merupakan bagian dari supervisi pengajaran.
Prosedur pelaksanaannya menekankan pada mencari penyebab dari kelemahan-kelemahan yang terjadi pada saat proses pembelajaran, kemudian secara langsung dicarikan upaya memperbaiki kelemahan tersebut.
Hasil diagnosis atas kelemahan-kelemahan guru dilakukan dengan cara wawancara atau dengan pengamatan langsung pada saat melaksanakan proses pembelajaran, kemudian langsung diikuti dengan
diskusi setelah guru selesai melaksanakan
pembelajaran untuk memperoleh balikan tentang kelebihan dan kelemahan yang ditemukan selama guru mengajar, serta upaya memperbaikinya.
Richard Waller dalam Ngalim Purwanto (2006: 89) menyatakan bahwa supervisi klinis merupakan salah
satu model supervisi yang difokuskan pada
peningkatan kemampuan mengajar melalui siklus yang sistematis, baik dalam perencanaan, pengamatan serta analisis yang intensif tentang penampilan mengajar yang nyata, serta bertujuan mengadakan perubahan dengan cara yang rasional.
Sementara itu, Keith Acheson dan Meredith D.
Gall menyatakan bahwa supervisi klinis adalah
11 antara tingkah laku mengajar yang nyata dengan tingkah laku yang ideal (Ngalim Purwanto: 2006: hal).
Berdasarkan pendapat di atas, penulis dapat disimpulkan bahwa supervisi klinis adalah suatu proses bimbingan yang bertujuan untuk membantu pengembangan profesionalitas guru khususnya dalam penampilan dan perilaku mengajar guru. Kepala
sekolah memiliki peran dalam meningkatkan
kemampuan guru dalam pengelolaan pembelajaran melalui supervisi klinis.
2.1.2. Tujuan Supervisi Klinis
Supervisi klinis bertujuan untuk membantu guru dalam memodifikasi pola-pola pengajaran yang tidak efektif. Dirjen PMPT Depdiknas (2007: 79) secara spesifik supervisi klinis dirinci sebagai berikut:
1. Menyediakan umpan balik yang objektif bagi guru
tentang pengajaran yang diselenggarakannya.
2. Mendiagnosis dan membantu memecahkan
kesulitan- kesulitan pengajaran.
3. Membantu guru mengembangkan kemampuan
dalam menggunakan strategi pengajaran.
4. Mengevaluasi guru untuk kepentingan promosi
jabatan dan keputusan lainnya.
5. Membantu guru mengembangkan sikap positif
terhadap pengembangan profesional yang
12
Dengan demikian supervisi klinis merupakan kegiatan yang dilaksanakan kepala sekolah terhadap guru agar dapat mengelola pembelajaran lebih berkwalitas.
Untuk mencapai tujuan supervisi klinis di butuhkan kerja sama yang baik antara kepala sekolah dan guru di sekolah.
2.1.3. Ciri-Ciri Supervisi Klinis
Menurut Ngalim Purwanto (2006: 91) supervisi klinis mengemukakan ciri-ciri sebagai berikut:
1. Bimbingan supervisor terhadap guru bersifat
bantuan, bukan perintah atau instruksi.
2. Jenis keterampilan yang akan disupervisi diusulkan
oleh guru yang disupervisi dan disepakati melalui pengkajian bersama antara guru dan pengawas.
3. Meskipun guru mempergunakan berbagai
keterampilan mengajar secara terintegrasi, sasaran supervisi hanya pada beberapa keterampilan saja.
4. Instrumen supervisi dikembangkan dan disepakati
bersama antara pengawas dan guru.
5. Balikan diberikan dengan segera dan objektif.
6. Meskipun pengawas telah menganalisis dan
menginterpretasikan data yang direkam oleh instrumen observasi, di dalam diskusi atau pertemuan balikan terlebih dahulu menganalisis kemampuannya.
13
7. Pengawas lebih banyak bertanya dan
mendengarkan daripada memerintah atau
mengarahkan.
8. Supervisi berlangsung dalam suasana yang akrab
dan terbuka.
9. Supervisi berlangsung dalam siklus yang meliputi
perencanaan, observasi dan diskusi/pertemuan balikan.
10.Supervisi klinis dapat dipergunakan untuk
pembentukan peningkatan dan perbaikan kemampuan mengajar guru.
Dengan demikian supervisi klinis merupakan bantuan yang diberikan kepala sekolah untuk meningkatkan ketrampilan guru dalam mengajar.
2.1.4. Langkah- langkah Supervisi Klinis
Langkah-langkah supervisi klinis yang perlu dilakukan menurut Cogan (1973) dalam Ibrahim Bafadal (2003: 46) ada delapan langkah sebagai berikut:
1. Tahap membangun dan menetapkan hubungan
guru dengan pengawas.
2. Tahap perencanaan bersama guru.
3. Tahap perencanaan strategi observasi.
4. Tahap observasi pembelajaran.
5. Tahap analisis proses pembelajaran.
6. Tahap perencanaan strategi pertemuan.
14
8. Tahap penjajagan rencana pertemuan berikutnya.
Berdasarkan pendapat di atas, penulis
mensintesiskan bahwa hal-hal yang dilakukan supervisor pada setiap langkahnya dapat dirinci sebagai berikut:
1) Pertemuan awal
Pada tahap ini supervisor mengadakan
pertemuan dengan guru yang akan disupervisi untuk membicarakan pelaksanaan pembelajaran yang akan diselenggarakan oleh guru dalam suasana yang akrab, harmonis dan terbuka. Kondisi demikian perlu diciptakan untuk membina hubungan kerja sama yang baik antara supervisor dengan yang disupervisi.
2) Observasi Mengajar
Pada tahap observasi ini guru berlatih mengajar dengan menerapkan komponen-komponen kemampuan yang telah disepakati bersama pada awal. Di pihak lain supervisor mengadakan pengamatan secara cermat dan objektif terhadap tingkah laku guru selama mengajar
dengan menggunakan alat perekam (lembar
pengamatan) yang juga telah disepakati sebelumnya, sesuai dengan permintaan guru. Misalnya, jika guru merasa lemah dalam kemampuan bertanya, memberi penguatan dan memberikan waktu untuk berpikir, maka ketiga hal itulah yang diamati dan direkam. Dalam pelaksanaannya, pada hal-hal tertentu untuk
15 pengamatan dan mencatat tingkah laku peserta didik di kelas serta interaksi antara guru dan siswa.
3) Pasca Observasi (Pertemuan Balikan)
Sebelum pertemuan balikan ini dilaksanakan, supervisor lebih dahulu mengadakan analisis dan menginterpretasikan data hasil pengamatan atau rekaman yang dibuat sebagai bahan pembicaraan pada pertemuan balikan.
Pertemuan balikan harus segera dilakukan untuk menjaga segala sesuatu yang terjadi masih segar dalam ingatan guru. Pertemuan dilakukan sama dengan waktu bebas dari perasaan dinilai atau diadili. Supervisor hendaknya menyajikan data sedemikian rupa, sehingga guru diharapkan dapat menemukan kelemahan/kekurangan dan kelebihannya sendiri. Yang menjadi tolok ukur pada pertemuan balikan ini, adalah kontrak yang telah disepakati bersama pada pertemuan awal. Selesai pertemuan ini hendaknya menyadari sampai seberapa jauh kontrak yang telah disepakati dapat tercapai. Berdasarkan pertemuan ini, guru dapat membuat kontrak berikutnya.
Berdasarkan paparan di atas, supervisi klinis pada dasarnya berfungsi memperbaiki kinerja guru di kelas secara terbimbing oleh kepala sekolah yang dinilai memiliki pengetahuan, pengalaman dan kemampuan lebih daripada yang disupervisi, meskipun dalam pelaksanaannya tidak boleh ditampakkan dalam
16
bentuk perilaku yang direktif. Dengah demikian, diprediksi bahwa pelaksanaan supervisi klinis secara
terprogram dan berkelanjutan akan dapat
meningkatkan kemampuan guru dalam melaksanakan tugas sebagai agen pembelajaran di kelas.
Berdasarkan tugas yang diamanatkan dalam ketentuan tersebut, maka peneliti berupaya untuk melakukan penelitian supervisi klinis dan efektifitas terhadap kinerja guru.
2.1.5. Program Supervisi Klinis
Penyusunan Program Supervisi klinis merupakan salah satu implementasi kompetensi kepala sekolah yaitu kompetensi supervisi. Pogram Supervisi klinis
dilakukan sebagai salah satu upaya untuk
meningkatkan kinerja guru dalam melaksanakan tugas pokoknya mengelola pembelajaran.
2.1.5.1 Tujuan Penyusunan Program
K3S (2013: 12), tujuan dari penyusunan program supervisi antara lain:
1) Sebagai petunjuk dalam pelaksanaan kegiatan
supervisi .
2) Meningkatkan kineja guru dalam perencanaan dan
pelaksanaan kegiatan belajar mengajar yang bermakna dan berkualitas.
3) Untuk memenuhi ketercapaian angka kredit
17
4) Untuk meningkatkan kompetensi pendidik dalam
pengembangan keprofesian berkelanjutan (PKB).
5) Meningkatkan kualitas pembelajaran dan mutu
pendidikan.
Untuk itu penting bagi kepala sekolah senantiasa menentukan tujuan pelaksanaan program supervisi yang akan dilaksanakan.
2.1.5.2 Sasaran Program Supervisi Klinis
Sasaran dari program kegiatan Supervisi klinis adalah Seluruh guru Kelas.
2.1.5.3 Hasil yang diharapkan
K3S (2014: 15), hasil yang diharapkan dari kegiatan supervisi klinis adalah:
1) Terlaksananya supervisi sesuai tujuan yang
ditetapkan.
2) Meningkatkan kinerja guru dalam mengelola
pembelajaran.
3) Tercapainya KKM dan SKL sesuai Kurikulum;
4) Tercampainya angka kredit pendidik (PKG).
5) Meningkatnya kompetensi pendidik melalui
mekanisme PKB;
6) Meningkatnya kualitas pembelajaran dan mutu
18
2.2
Kinerja Guru
2.2.1 Pengertian Kinerja Guru
Menurut Rivai (2004: 309), kinerja guru adalah: perilaku nyata yang ditampilkan oleh guru sebagai prestasi kerja berdasarkan standar yang ditetapkan dan sesuai dengan perannya di sekolah. Hal ini memuat kompetensi guru yang harus dimiliki dalam melaksanakan tugas dalam pembelajaran di kelas.
Peran guru yang dimaksud adalah berkaitan dengan peran guru dalam proses pembelajaran. Guru merupakan faktor penentu yang sangat dominan dalam pendidikan pada umumnya, karena guru memegang peranan dalam proses pembelajaran, dimana proses pembelajaran merupakan inti dari
proses pendidikan secara keseluruhan. Guru
merupakan perencana, pelaksana sekaligus sebagai evaluator pembelajaran di kelas...(Gunawan dalam Ondi Saondi, 2005: 3 ) Dengan demikian guru memiliki
peran utama dalam menentukan keberhasilan
pembelajaran dan mutu pendidikan.
Dalam hubungannya dengan menciptakan suasana pendidikan yang bermakna, menyenangkan, kreatif, dinamis dan dialogis Ondi Saondi dan Aris Suherman (2010: 54) menyatakan bahwa dalam
19
pendekatan pembelajaran guru dituntut untuk
memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1) Merencanakan pembelajaran sesuai dengan
kewajaran perkembangan mental siswa.
2) Membentuk group belajar yang saling
tergantung.
3) Menyediakan lingkungan yang mendukung
pembelajaran mandiri yang memiliki tiga
karakteristik yaitu kesadaran berpikir,
penggunaan strategi dan motivasi berkelanjutan
4) Mempertimbangkan keberagaman siswa didalam
kelas.
5) Memperhatikan multi intelegensi siswa
6) Menggunakan teknik-teknik bertanya yang
meningkatkan pembelajaran siswa, perkembangan pemecahan masalah dan ketrampilan tingkat tinggi.
7) Menerapkan penilaian autentik yaitu mengevaluasi
penerapan pengetahuan dan berfikir komplek dari pada hanya sekedar hafalan informasi faktual.
Untuk itu dalam pembelajaran guru diharapkan
menggunakan pendekatan pembelajaran dengan
memperhatikan perbedaan individu, dan tidak
menganggap semua peserta didik itu sama.
Lebih rinci lagi Ivor K. Davies juga mengatakan bahwa seorang guru mempunyai empat
20
fungsi umum yang merupakan ciri profesi seorang guru, adalah sebagai berikut:
1) Merencanakan, yaitu pekerjaan seorang guru
menyusun tujuan belajar.
2) Mengorgasisasikan, yaitu pekerjaan seorang guru
untuk mengatur dan menghubungkan sumber-sumber belajar sehingga dapat mewujudkan tujuan belajar dengan cara yang paling efektif, efesien, dan ekonomis mungkin.
3) Memimpin, yaitu pekerjaan seorang guru untuk
memotivasikan, mendorong,dan menstimulasikan
murid- muridnya, sehingga mereka siap
mewujudkan tujuan belajar.
4) Mengawasi, yaitu pekerjaan seorang guru
untuk menentukan apakah fungsinya dalam mengorganisasikan dan memimpin di atas telah berhasil dalam mewujudkan tujuan yang telah
dirumuskan. Jika tujuan belum dapat
diwujudkan, maka guru harus menilai dan mengatur kembali fungsi kinerjannya.
Dari uraian diatas penulis dapat menyimpulkan bahwa pada hakikatnya kinerja guru adalah prilaku yang dihasilkan seorang guru dalam melaksanakan tugasnya sebagai pendidik dan pengajar ketika mengajar di depan kelas, sesuai dengan kriteria tertentu seperti perencanaan program pengajaran, pelaksanaan kegiatan pembelajaran dan evaluasi
21 hasil pembelajaran. Kinerja seseorang Guru akan nampak pada situasi dan kondisi kerja sehari- hari dalam aspek kegiatan menjalankan tugas dan kualitas dalam melaksanakan kegiatan/tugas tersebut.
Berkaitan dengan kinerja guru dalam
melaksanakan kegiatan belajar mengajar dan tugas keprofesionalan guru dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 pasal 20 (a) Tentang Guru dan Dosen ditegaskan bahwa guru memiliki tugas keprofesionalan dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar yaitu merencanakan pembelajaran, melaksanakan proses pembelajaran yang bermutu, serta menilai dan mengevaluasi hasil pembelajaran.
Kinerja guru mempunyai spesifikasi tertentu. Kinerja guru dapat dilihat dan diukur berdasarkan spesifikasi/kriteria kompetensi yang harus dimiliki oleh setiap guru. Berkaitan dengan kinerja guru, wujud perilaku yang dimaksud adalah kegiatan guru dalam proses pembelajaran yaitu bagaimana kemampuan seorang guru dalam merencanakan pembelajaran, melaksanakan kegiatan pembelajaran, dan menilai hasil belajar.
2.2.2 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kinerja Guru
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kinerja guru berdasarkan pendapat Gibson (1995: 56) dalam
22
Suharsaputra (2010: 147) bahwa kinerja seseorang
dalam menjalankan peran dan fungsinya
dipengaruhi oleh: (a) Variabel Individu, (b) Variabel Organisasi, (c) Variabel Psikologis. Pendapat tersebut di atas menggambarkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja seseorang adalah faktor individu dengan karakteristik psikologisnya yang khas, dan
faktor organisasi berinteraksi dalam suatu
proses yang dapat mewujudkan suatu kualitas kerja dalam suatu lingkungan kerja seseorang tersebut.
Penilaian hasil belajar adalah kegiatan atau cara yang ditujukan untuk mengetahui tercapai atau tidaknya tujuan pembelajaran dan juga proses pembelajaran yang telah dilakukan. Pada tahap ini seorang guru dituntut memiliki kemampuan dalam menentukan pendekatan dan cara-cara evaluasi, penyusunan alat-alat evaluasi, pengolahan, dan penggunaan hasil evaluasi. Penilaian kinerja guru yang merujuk pada Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 Tahun 2009 menyebutkan bahwa penilaian kinerja guru adalah penilaian dari tiap butir kegiatan tugas utama guru dalam rangka pembinaan karir, kepangkatan, dan jabatan. Penilaian kinerja guru sangat berkaitan dengan pelaksanaan tugas utama seorang guru dalam penguasaan pengetahuan, penerapan pengetahuan dan
23
ketrampilan sebagaimana kompetensi yang
dibutuhkan. Indikator penilaian kinerja guru seperti
yang terdapat pada Peraturan Menteri Pemberdayaan
Aparatur Negara Nomor 16 Tahun 2009 di atas, dapat
dijabarkan sebagai berikut: (1) Kemampuan seseorang
dalam mengkomunikasikan pengetahuan sangat
bergantung pada penguasaan pengetahuan yang akan
dikomunikasikannya itu, (2) Kemampuan guru dapat
dilihat dari cara atau proses penyusunan program kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh guru, (3) Kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran menjadi hal penting karena berkaitan langsung dengan aktivitas belajar siswa di kelas, (4) Kemampuan melakukan evaluasi/penilaian pembelajaran.
Berdasarkan uraian di atas, kinerja guru dapat disimpulkan sebagai prestasi yang dicapai oleh seseorang guru dalam melaksanakan tugas mengajar selama periode tertentu sesuai standar kompetensi dan kriteria yang telah ditetapkan untuk pekerjaan tersebut, dengan indikator: (a) Menguasai bahan ajar, (b) kemampuan merencanakan kegiatan
pembelajaran, (c) kemampuan mengelola dan
melaksanakan kegiatan pembelajaran, (d) kemampuan
24
2.3
Evaluasi Model CIPPEvaluasi adalah kegiatan untuk mengumpulkan informasi tentang bekerjanya sesuatu, yang selanjutnya informasi tersebut digunakan untuk menentukan alternatif yang tepat dalam mengambil sebuah keputusan (Arikunto & Jabar 2008: 2).
Evaluasi merupakan bagian yang tidak
terpisahkan dalam pelaksanaan supervisi . Evaluasi merupakan tahapan dalam supervisi yang merupakan bagian penting untuk mengetahui keberhasilan guru dalam melaksanakan pembelajaran. Untuk menjamin mutu dan akuntabilitas penyelenggaraan pendidikan, undang-undang No. 20/2003 menyatakan sebagai berikut:
1) Evaluasi dilakukan dalam rangka mengendalikan
mutu pendidikan secara nasional sebagai bentuk akutablitas penyelenggaraan pendidikan kepada pihak-pihak yang berkempentingan. (Pasal 57 ayat 3)
2) Evaluasi dilakukan terhadap peserta didik, lembaga
dan program pendidikan pada jalur formal dan nonformal untuk semua jenjang, satuan, dan jenis pendidikan. (Pasal 57 ayat 2)
Model yang digunakan dalam penelitian ini adalah model evaluasi CIPP (context, input, process
25 and product) yang dikembangkan oleh Stufflebeam 1966.
Menurut Daniel Stufflebeam (2003 dalam Wiryawan 2011: 92) model CIPP dilukiskan sebagai berikut:
Gambar 2.1 Model Evaluasi CIPP
Context Berupaya mencari jawaban atas pertanyaan: apa yang perlu dilakukan Waktu pelaksanaan sebelum program dilaksnakan Keputusan perencanaan program Product: Berupaya mencari jawaban atas pertanyaan : Apakah program sukses? Waktu pelaksanaan : Ketika program selesai Keputusan : Resikel Ya atau tidak program harus diresikel Process Berupaya mecari jawaban atas pertanyaan: Apakah program sedang dilaksanakan? Keputusan Pelaksanaan Ketika program dilaksanakan Keputusan Pelaksanaan Input: Berupa mencari jawaban atas pertanyaan: Apa yang harus dilakukan? Waktu pelaksanaan : sebelum program dimulai Keputusan Penstrukturan program
26
Penjelasan dari masing-masing aspek dalam model CIPP adalah sebagai berikut:
1. Context Evaluation
Context Evaluation (evaluasi konteks) diartikan
sebagai situai atau latar belakang yang
mempengaruhi jenis-jenis tujuan dan strategi yang dilakukan dalam suatu program yang bersangkutan. penilaian dari dimensi konteks evaluasi ini seperti kebijakan atau unit kerja terkait, sasaran yang ingin dicapai unit kerja dalam waktu tertentu, masalah ketenagaan yang dihadapi dalam unit kerja terkait dan sebagainya.
Evaluasi konteks adalah upaya untuk
menggambarkan dan merinci lingkungan,
kebutuhan yang tidak terpenuhi, populasi dan sampel yang dilayani, dan tujuan proyek.
2. Input Evaluation
Input Evaluation pada dasarnya mempunyai
tujuan untuk mengaitkan tujuan, konteks, input, dan proses dengan hasil program. Evaluasi ini juga untuk menentukan kesesuaian lingkungan dalam membantu pencapaian tujuan dan objektif program.
Evaluasi ini menolong mengatur keputusan, menentukan sumber-sumber yang ada, alternatif apa yang diambil, apa rencana dan strategi untuk mencapai kebutuhan, bagaimana prosedur kerja untuk mencapainya
27
3. Process Evaluation
Process evaluation ini ialah merupakan model
CIPP yang diarahkan untuk mengetahui seberapa jauh kegiatan yang dilaksanakan, apakah program
terlaksana sesuai dengan rencana atau
tidak. Evaluasi proses juga digunakan untuk mendeteksi atau memprediksi rancangan prosedur atau rancangan implementasi selama tahap
implementasi, menyediakan informasi untuk
keputusan program dan sebagai rekaman atau arsip prosedur yang telah terjadi.
4. Product Evaluation
Evaluasi produk ialah untuk melayani daur ulang suatu keputusan dalam program. Dari evaluasi produk diharapkan dapat membantu pimpinan proyek dalam mengambil suatu keputusan terkait program yang sedang terlaksana, apakah program tersebut dilanjutkan, berakhir, ataukah ada keputusan lainnya. Keputusan ini juga dapat membantu untuk membuat keputusan selanjutnya, baik mengenai hasil yang telah dicapai maupun apa yang dilakukan setelah program itu berjalan
28
2.4
Tinjauan Penelitian Terdahulu
Penelitian sebelumnya yang mengangkat topik evaluasi pelaksanaan supervisi klinis diantaranya oleh Tony Bush (2005) yang berjudul “Overcoming the
barriers to effective clinical supervision.” masih ada
kepala sekolah dalam melaksanakan supervisi klinis kurang mengadakan komunikasi yang baik dengan guru, karena tidak memahami prinsip-prinsip supervisi yang baik. Sehingga hasil supervisi klinis kurang maksimal.
Penelitian yang dilakukan Agus Riyanto,
Samsudi, dan Fakhruddin (2014) Berjudul “Model Supervisi Klinis Berbasis “OJT” Sebagai Layanan Peningkatan Kompetensi Guru Melaksanakan Evaluasi Pembelajaran Praktik Produktif.” Hasil penelitian menunjukkan bahwa model supervisi klinis saat ini telah diterapkan oleh pengawas tetapi penerapan dan hasilnya belum maksimal karena beberapa kelemahan sehingga perlu dikembangkan supervisi klinis dengan beberapa perubahan agar dapat diterapkan dan memperoleh hasil yang lebih baik.
Penelitian yang dilakukan oleh Deddy Krisdyanto (2007: 87) tentang kontribusi manajemen kepala sekolah, supervisi klinis, dan kinerja guru terhadap hasil belajar Ilmu Pengetahuan Alam siswa kelas 5 Sekolah Dasar Negeri Kota Semarang tahun pelajaran
29 2007/2008, dari 205 orang guru sebagai responden, diketahui bahwa faktor suprvisi klinis mempunyai frekuensi pada posisi cukup dalam meningkatkan kinerja guru sehingga hasil belajar siswa meningkat.
Penelitian yang dilakukan oleh Lili Ng Chui Mi (2012) yang berjudul “Pelaksanaan Supervisi Klinis Kepala Sekolah untuk Meningkatkan Kinerja Guru dalam Mengelola Pembelajaran Pada SMA Negeri 2
Sambas.” Masih ditemukan hambatan dalam
pelaksanaan supervisi klinis baik dari guru maupun kepala sekolah.
30
2.5
Kerangka Dasar PenelitianHasil belajar sebagai hasil proses belajar mengajar dari seorang guru selama beberapa waktu yang berupa penilaian merupakan salah satu indikator berhasil atau tidaknya pembelajaran yang dilakukan oleh seorang guru. Hasil belajar akan maksimal bila komponen yang dimiliki sekolah bekerja secara efektif. Komponen-komponen tersebut diantaranya adalah faktor manusia sendiri, yaitu kepala sekolah dan guru.
Kepala sekolah sebagai pemimpin pendidikan di sekolah memiliki tugas dan tanggung jawab dalam mencapai tujuan pendidikan melalui berbagai kegiatan pendidikan yang dilaksanakan. Agar setiap kegiatan pendidikan dapat terlaksana dengan baik, kepala sekolah harus mengarahkan dan menggerakkan para guru dalam menjalankan tugasnya sebagai pengelola kegiatan belajar mengajar (kinerja guru).
Untuk bisa mengarahkan dan menggerakkan kinerja guru maka kepala sekolah perlu memiliki dan menerapkan tiga keterampilan manajerial secara baik. Keterampilan manajerial yang dimaksudkan adalah keterampilan konseptual, keterampilan teknis, dan keterampilan hubungan manusia.
Selain mengarahkan dan menggerakkan para guru, kepala sekolah bertugas dan bertanggung jawab terhadap kualitas kinerja guru. Oleh karena itu kepala
31 sekolah harus melaksanakan supervisi klinis kepada para guru. Tujuannya adalah untuk memberikan bimbingan dan pembinaan ke arah profesionalitas guru dalam mengelola pembelajaran. Disinilah supervisi klinis diharapkan mampu meningkatkan kinerja guru. Dari kinerja guru yang baik diharapkan akan menghasilkan mutu pendidikan yang baik pula, sehingga keterampilan manajerial kepala sekolah, pelaksanaan supervisi klinis, dan kinerja guru akan menentukan baik tidaknya mutu pendidikan di Sekolah Dasar sebagaimana tersaji pada gambar di bawah ini:
32
Gambar: 2.2 Kerangka berpikir
Kompetensi Supervisi KS
Supervisi Klinis Guru
Kinerja Guru
Prestasi Belajar Siswa