A. Defenisi dan Syarat Penggunaan
Rancangan Acak Lengkap (RAL) merupakan rancangan paling sederhana dari beberapa macam perancanngan yang baku. Rancangan ini dipergunakan jika ingin mempelajari perngaruh beberapa perlakuan (t) dengan sejumlah ulangan (r) untuk menjadi satuan-satuan percobaan (rt). RAL dilakukan dengan mengalokasikan pengacakan t kepada rt satuan percobaan.
Unit-unit percobaan dalam RAL dapat berupa sampel ternak (ekor), cawan/tabung, area lahan dan lain-lain yang merupakan satuan unit-unit yang diberi batasan sehingga tidak mempengaruhi satu-sama dan dengan kondisi lingkungan yang relatif dapat dikendalikan. Hal ini dilakukan untuk mencegah terjadinya interaksi pengaruh dua perlakuan yang berdekatan terhadap unit percobaan. Karena kondisi sampel dan lingkungan yang homogen, maka setiap perlakuan dan ulangan mempunyai peluang yang sama besar untuk menempati semua plot-plot percobaan sehingga pengacakan dilakukan secara lengkap.
Akurasi penggunaan RAL akan tercapai apabila: 1) bahan percobaan homogen atau relatif homogen; 2) kondisi lingkungan sama dan dapat dikendalikan; dan 3) jumlah perlakuan dibatasi.
B. Kelebihan dan Kekurangan
Beberapa kekurangan dalam penggunaan RAL antara lain: persyaratan kondisi sampel yang harus homogen, tidak mungkin dilakukan pada kondisi lingkungan yang tidak seragam, dan jumlah ulangan yang rendah akan memberikan hasil yang tidak konsisten.
C. Model Matematika
Dalam RAL, data percobaan didistribusikan melalui model persamaan sebagai berikut: i = 1, 2,... t
j = 1,2,... ri Dimana:
μ = Nilai tengah populasi
τ = pengaruh aditif (koefisien regresi parsial) dari perlakuan ke-i εij = galat percobaan dari perlakuan ke-I pada pengamatan ke-j
Contoh Sola Rancangan Acak Lengkap (RAL) - Analisis Manual
Contoh Sola Rancangan Acak Lengkap (RAL) - Analisis dengan SPSS
Rancangan Acak Lengkap (RAL) Non Faktorial
MENGOLAH DATA DARI HASIL PENELETIAN
YANG DIRANCANG DENGAN MENGGUNAKAN RANCANGAN ACAK LENGKAP
A. DEFENISI DAN SYARAT PENGGUNAAN
Rancangan Acak Lengkap (RAL) merupakan rancangan paling sederhana dari beberapa
macam perancanngan yang baku. Rancangan ini dipergunakan jika ingin mempelajari perngaruh
beberapa perlakuan (t) dengan sejumlah ulangan (r) untuk menjadi satuan-satuan percobaan
(rt). RAL dilakukan dengan mengalokasikan pengacakan t kepada rt satuan percobaan.
Unit-unit percobaan dalam RAL dapat berupa sampel ternak (ekor), cawan/tabung, area
lahan dan lain-lain yang merupakan satuan unit-unit yang diberi batasan sehingga tidak
mempengaruhi satu-sama dan dengan kondisi lingkungan yang relatif dapat dikendalikan. Hal
ini dilakukan untuk mencegah terjadinya interaksi pengaruh dua perlakuan yang berdekatan
terhadap unit percobaan. Karena kondisi sampel dan lingkungan yang homogen, maka setiap
perlakuan dan ulangan mempunyai peluang yang sama besar untuk menempati semua plot-plot
percobaan sehingga pengacakan dilakukan secara lengkap.
Akurasi penggunaan RAL akan tercapai apabila: 1) bahan percobaan homogen atau relatif
homogen; 2) kondisi lingkungan sama dan dapat dikendalikan; dan 3) jumlah perlakuan dibatasi.
RAL lebih sering digunakan dalam percobaan di Laboratorium karena kondisi lingkungan dapat
dikendalikan.
B. KELEBIHAN DAN KEKURANGAN
Beberapa keuntungan dari penggunaan RAL antara ain: denah percobaan yang lebih
penggunaan jumlah perlakuan dan ulangan; kehilangan informasi (data-hilang) relatif lebih kecil
dibandingan dengan perancangan yang lain.
Beberapa kekurangan dalam penggunaan RAL antara lain: persyaratan kondisi sampel
yang harus homogen, tidak mungkin dilakukan pada kondisi lingkungan yang tidak seragam, dan
jumlah ulangan yang rendah akan memberikan hasil yang tidak konsisten.
C. MODEL MATEMATIS RAL
Dalam RAL, data percobaan didistribusikan melalui model persamaan sebagai berikut :
Yij = µ + Ai + єij
єijk : Pengaruh galat II pada Faktor Utama taraf ke-i, Ulangan ke-j dan faktor tambanan pada taraf
UNTUK LEBIH JELASNYA PERHATIKAN CONTOH DI BAWAH INI
KITA AKAN MENGOLAH DATA DARI HASIL PENELITIAN DENGAN
MENGGUNAKAN SPSS 16 DAN MICROSOFT EXCEL
Data ini merupakan hasil penelitian yang berjudul “Keefektivan Trhochoderma Virens Dan
Trichoderma Harzianum Untuk Mengendalikan Rhizoctonia Solani Kuhn Pada Bibit
Lampiran 4 : Persentase Benih Berkecambah (Transformasi √x)
MENGANALISIS DENGAN MENGGUNAKAN MICROSFT EXCEL
Langkah 2 : Masukkan data Lampiran 4 yang berasal dari Skripsi ke dalam Microsoft
Excel
Langkah 3 : Menentukan Jumlah Perlakuan
Ketik =COUNTA(Blok Bagian Perlakuan) enter
Hasilnya
Langkah 4 : Menentukan Jumlah Ulangan
Ketik =COUNTA(Blog Bagian Ulangan)
Hasilnya :
Langkah 5 : Menentukan Faktor Koreksi (FK)
Ketik : =(Klik Bagian Grand Total^2)/(Perlakuan*Ulangan)
Hasilnya :
Langkah 6 : Menentukan Derajat Bebas Perlakuan
Ketik =Klik Bagian Perlakuan – 1
Hasilnya :
Langkah 7 : Menentukan Derajat Bebas Galat
Ketik =Klik Bagian Perlakuan*(Ulangan – 1)
Hasilnya :
Langkah 8 : Menentukan Derajat Bebas Total
Ketik =(Klik bagian Perlakuan*Ulangan)-1
Tampilan Pada Ms. Excel
Langkah 9 : Menentukan Jumlah Kuadrat Total
Ketik =SUMSQ(Blok Dari Bagian Data Ulangan I sampai Data Ulangan III)-FK
Tampilan Pada Ms. Excel
Langkah 10 : Menentukan Jumlah Kuadrat Perlakuan
Ketik =(SUMSQ(Blok bagian Total Sebelah Kanan)/Ulangan)-FK
Tampilan Pada Ms. Excel
Langkah 11 : Menentukan Jumlah Kuadrat Galat
Ketik =Klik Bagian JK Total – JK Perlakuan
Tampilan Pada Ms. Excel
Hasilnya :
Langkah 12 : Menentukan Kuadrat Tengah Perlakuan
Ketik =Klik Bagian JK Perlakuan/(Klik Bagian Jumlah Perlakuan – 1)
Hasilnya :
Langkah 13 : Menentukan Kuadrat Tengah Galat
Ketik =Klik Bagian JK Galat/Klik Bagian Derajat Bebas Galat
Tampilan Pada Ms. Excel
Hasilnya :
Langkah 14 : Menentukan F Hitung
Tampilan Pada Ms. Excel
Hasilnya :
Langkah 15 : Memasukkan Ke Dalam Tabel Sidik Ragam
Langkah 16 : Menentukan Nilai F Tabel dengan Taraf 0,05 dan 0,01
Untuk F Tabel 0,05 : Ketik =FINV(Klik Bagian 0,05 koma Klik bagian DB Perlakuan koma DB
Galat)
Hasilnya :
Untuk F Tabel 0,01 : Ketik =FINV(Klik Bagian 0,01 koma Klik bagian DB Perlakuan koma DB
Galat)
Tampilan Pada Ms. Excel
Langkah 17 : Menentukan “Berpengaruh Sangat Nyata” | “Berpengaruh Nyata” | dan
“Tidak Nyata”
Ketik =IF(Klik Bagian F Hitung Pada Tabel Sidik Ragam <Klik Bagian F Tabel
0,05,"tn",IF(Klik Bagian F Hitung Pada Tabel Sidik Ragam <Klik Bagian F Tabel
0,01,"*","**"))
Tampilan Pada Ms. Excel
Hasilnya :
Keterangan :
** ) Berpengaruh Sangat Nyata
tn) Tidak Berpengaruh Nyata
Setelah didapatkan hasil dari Analisis menggunakan Microsoft Excel, bandingkan dengan Skripsi
yang kita miliki. Selain dengan menggunakan Microsoft Excel kita juga bisa menggunakan SPSS
untuk menganalisis data penelitian.
MENGANALISIS DENGAN MENGGUNAKAN SPSS 16
Ketika membuka Program SPSS, ada dua Windows yang muncul yang pertama Untuk Data dan
yang kedua yaitu Untuk Output setelah menganalisis.
Tampilan Pada SPSS Bagian Output
Langkah 3 : Selanjutnya pada “Decimals” disesuaikan berapa banyak decimal yang akan
kita gunakan.
Langkah 4 : Setelah bagian Decimals, selanjutnya bagian “Label” buat sesuai dengan
Skripsi
Langkah 5 : Mengisi Bagian “Values” (Bagian Perlakuan)
Bagian ini bertujuan untuk memberikan label dari setiap perlakuan yang kita buat,
Contoh : 1= “Perlakuan A”, jadi ketika kita ketik Label 1 maka ini sama dengan Perlakuan A,
setelah selesai sampai semua Label dan Perlakuan dibuat, Klik OK.
Langkah 6 : Mengisi Bagian “Values” (Bagian Ulangan)
Bagian ini bertujuan untuk memberikan label dari setiap Ulangan yang kita buat,
Contoh : 1= “Ulangan I”, jadi ketika kita ketik Label 1 maka ini sama dengan Ulangan I, setelah
selesai sampai semua Label dan Perlakuan dibuat, Klik OK.
Klik bagian “Data View”, sehingga berpenampilan seperti ini.
Langkah 8 : Selanjutnya Isi Bagian Kolom Perlakuan, Ulangan, dan Hasil. Sehingga
Langkah 9 : Menganalisis Data
Klik Bagian Persentase Benih Berkecambah à Klik Tanda Panah Pada Bagian Dependent
Setelah itu Klik Bagian Trichoderma Virens dan Trichoderma Harzianum à Klik tanda panah
Setelah bagian Custom diklik, lihat bagian Kiri Kotak Dialog Univariate: Model, disitu ada
Setelah bagian Perlakuan di Klik, lalu Klik Tanda Panah di Bagian tengah Kotak Dialog,
Setelah itu Klik Continue
Langkah 12 : Klik bagian Post Hoc, Post Hoc berfungsi untuk menguji Lanjut dari Hasil
Setelah itu Klik Bagian LSD (untuk Uji BNJ), Tukey (untuk Uji BNJ), dan Duncan (Untuk Uji
Duncan) à Klik Continue
Pada bagian Tabel Sidik Ragam dari Output SPSS, bandingkan dengan data yang diolah dengan
Hasil dari Analisis dengan menggunakan SPSS
Hasil dari Analisis dengan menggunakan Microsoft Excel
Jika Sudah terjadi kesamaan Antara SPSS, Microsoft Excel, dan hasil di Skripsi. Maka sudah
benar apa yang telah kita lakukan.
Rancangan Acak Lengkap ( RAL )
Sabtu, 10 Desember 2011
Kelebihan Penggunaan RAL adalah pertama denah perancangan percobaan lebih mudah dan
Pengacakan dan Tata Letak
Nah, sekarang bagamana cara melakukan pengacakan pada RAL ini?
Untuk memudahkan anda memahaminya saya misalkan suatu penelitian terdiri dari 3 perlakuan
yaitu perlakuan A, B, dan C, yang diulang masing-masing 5 kali sehingga terdapat 15 satuan
percobaan. Prosedur pengacakan dan tata letak adalah sebagai berikut :
Langkah pertama adalah dengan menggunakan Tabel bilangan acak, maka tentukan terlebih
dahulu nomor urut dari 1 hingga 15 pada satuan-satuan percobaan yang sesuai. Tabel bilangan
acak ini mungkin berbeda-beda pada beberapa referensi buku. Tapi yang penting adalah anda
menggunakan tabel bilangan acak yang jelas referensinya. Di sini saya menggunakan tabel
bilangan acak dari buku Gomez & Gomez.
Langkah kedua adalah tempatkan ujung pensil anda secara sembarang. Misalnya dari
penempatan ujung pensil anda tersebut tepat pada baris ke-21 kolom ke-23.
Langkah ketiga, anda pilih 15 angka dalam susunan 3 digit (mengapa 15 angka? karena jumlah
satuan percobaan kita ada 15), baik secara vertikal (ke bawah atau ke atas) atau horizontal ke kiri
atau ke kanan), misalnya anda tetapkan saja secara vertikal ke bawah.
Berikut saya lampirkan sebagian dari tabel tersebut berikut ini :
Tempatkan ke-15 bilangan acak tersebut pada pada tabel berikut :
Kemudian anda berikan peringkat sesuai dari angka bilangan acak yang terkecil hingga terbesar
Setelah anda susun peringkatnya, maka anda tentukan satuan-satuan percobaan dengan peringkat
7, 8, 10, 11, dan 6 ditempatkan sebagai perlakuan A, peringkat 15, 14, 5, 1, dan 4 ditempatkan
sebagai perlakuan B, dan peringkat 2, 12, 13, 9, dan 3 ditempatkan sebagai perlakuan C, seperti
Langkah terakhir, anda tempatkan perlakuan-perlakuan tersebut pada lay out percobaan anda
dengan prosedur :
Pertama anda buat 15 kotak/petak dan beri nomor 1 hingga 15 seperti pada lay out berikut :
Kemudian anda tempatkan perlakuan-perlakuan sesuai dengan pengacakan yang anda lakukan
Sampai di sini, selesailah tugas anda dalam melakukan pengacakan.
Model Linear Aditif pada RAL:
Hipotesis
H0 : τ1 = τ2 = . . . = τt = 0 atau tidak ada pengaruh perlakuan terhadap respons yang diamati.
H1 : minimal ada satu τi ≠ 0, untuk i = 1, 2, … ,t atau paling sedikit ada sepasang τi yang tidak
sama.
Analisis Ragam dalam RAL:
Rumus-rumus perhitungannya :
a) Menghitung Jumlah Kuadrat :
derajad bebas (db) perlakuan didapatkan dengan rumus: db perlakuan = (t – 1)
derajad bebas (db) galat didapatkan dengan rumus: db galat = t(n-1)
derajad bebas (db) total didapatkan dengan rumus: db total = (tn-1)
Statistik Uji :
Kaidah Keputusan :
a. Apabila F Hitung ≤ F tabel 5%, Terima H0, berarti perlakuan tidak berpengaruh nyata, diberi
tanda tn (tidak nyata) atau ns (non significant).
b. Apabila F Hitung ≥ F Tabel 5% tapi ≤ F Tabel 1%, tolak H0 yang berarti perlakuan
berpengaruh nyata (diberi tanda *) atau F Hitung ≥ F Tabel 1%, tolak H0 yang berarti perlakuan
berpengaruh sangat nyata (diberi tanda **)
RANCANGAN ACAK LENGKAP (RAL) Oleh: Ir. Sri Nurhatika M.P Jurusan Biologi Fakultas
MAtematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya 2010
RANCANGAN ACAK LENGKAP (RAL) • Penggunaan RAL ini akan tepat apabila bahan
percobaan dan kondisi percobaan bersifat HOMOGEN. Juga apabila jumlah perlakuan terbatas. •
Kelebihan Penggunaan RAL adalah: 1. Denah perancangan percobaan lebih mudah 2. Analisis
statistiknya sangat sederhana. Pengacakan dan Tata Letak bagaimana cara melakukan
pengacakan pada RAL ini? Untuk memudahkan memahami, misalkan suatu penelitian terdiri
dari 3 perlakuan yaitu perlakuan A, B, dan C, yang diulang masing-masing 5 kali sehingga
terdapat 15 satuan percobaan. Prosedur pengacakan dan tata letak adalah sebagai berikut :
LANGKAH PER LANGKAH Langkah pertama adalah : • Menggunakan Tabel bilangan acak,
maka tentukan terlebih dahulu nomor urut dari 1 hingga 15 pada satuan-satuan percobaan yang
sesuai. • Tabel bilangan acak ini mungkin berbeda-beda pada beberapa referensi buku. • Tapi
yang penting adalah menggunakan tabel bilangan acak yang jelas referensinya. Di sini
menggunakan tabel bilangan acak dari buku Gomez & Gomez. • Langkah kedua adalah
tempatkan ujung pensil secara sembarang. Misalnya dari penempatan ujung pensil anda tersebut
tepat pada baris ke- 21 kolom ke-23. • Langkah ketiga, pilih 15 angka dalam susunan 3 digit
bawah atau ke atas) atau horizontal ke kiri atau ke kanan), misalnya anda tetapkan saja secara
vertikal ke bawah. • perhatikan angka-angka yang diblok dengan kotak merah berjumlah 15
angka. • Perhatikan angka-angka yang saya blok dengan kotak merah berjumlah 15 angka.
Tempatkan ke-15 bilangan acak tersebut pada pada tabel berikut : • Kemudian berikan peringkat
sesuai dari angka bilangan acak yang terkecil hingga terbesar seperti pada tabel berikut : •
Setelah itu, susun peringkatnya, maka tentukan satuan- satuan percobaan dengan peringkat 7, 8,
10, 11, dan 6 ditempatkan sebagai perlakuan A, peringkat 15, 14, 5, 1, dan 4 ditempatkan sebagai
perlakuan B, dan peringkat 2, 12, 13, 9, dan 3 ditempatkan sebagai perlakuan C, seperti terlihat
pada tabel berikut : LAY OUT PERCOBAAN • Buatlah 15 kotak/petak dan beri nomor 1 hingga
15 seperti pada lay out berikut : • Kemudian tempatkan perlakuan-perlakuan sesuai dengan
pengacakan yang dilakukan tadi seprti pada lay out berikut : Sampai di sini, selesailah tugas
Anda dalam melakukan pengacakan. Model Linear Aditif pada RAL Hipotesis H0 : τ1 = τ2 = . . .
= τt = 0 atau tidak ada pengaruh perlakuan terhadap respons yang diamati. H1 : minimal ada satu
τi ≠ 0, untuk i = 1, 2, … ,t atau paling sedikit ada sepasang τi yang tidak sama. Tabel Data
Pengamatan RAL Analisis Ragam dalam RAL: a) Menghitung Jumlah Kuadrat : Analisis Ragam
dalam RAL: b) Menghitung Kuadrat Tengah : derajad bebas (db) perlakuan didapatkan dengan
rumus: db perlakuan = (t – 1) derajad bebas (db) galat didapatkan dengan rumus: db galat =
t(n-1) derajad bebas (db) total didapatkan dengan rumus: db total = (tn-t(n-1) Statistik Uji tabel analisis
ragam (Anova) Kaidah Keputusan a. Apabila F Hitung ≤ F tabel 5%, Terima H0, berarti
perlakuan tidak berpengaruh nyata, diberi tanda tn (tidak nyata) atau ns (non significant). b.
Apabila F Hitung ≥ F Tabel 5% tapi ≤ F Tabel 1%, tolak H0 yang berarti perlakuan berpengaruh
nyata (diberi tanda *) atau F Hitung ≥ F Tabel 1%, tolak H0 yang berarti perlakuan berpengaruh
untuk Ilmu-Ilmu Pertanian, Ilmu-Ilmu Teknik, Biologi. Bandung. CV. Armico. 1991. 2.
Sastrosupadi, Adji. Rancangan Percobaan Praktis untuk Bidang Pertanian. Cetakan Pertama.
Yogyakarta. Kanisius. 1995. 3. Gomez.K.A and Gomez. A.A. Statistical Procedures For
Agricultural Research. John Wiley & Sons, Inc. 1995. 4. Hanafiah. K.A. Rancangan Percobaan:
teori dan aplikasi. Cetakan ke-5. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta Utara. 1991. 5. Sastrosupadi,
Adji. Rancangan Percobaan Praktis untuk Bidang Pertanian. Cetakan Pertama. Yogyakarta.
Kanisius. 1995. TERIMA KASIH
Journal of Marine and Aquatic Sciences 1 (2015) 7–13 Pengaruh Kepadatan Bagan Dan
Kedalaman Perairan Terhadap Produktivitas Hasil Tangkap Bagan Tancap Di Teluk Pang Pang,
Banyuwangi, Jawa Timur Rani Ekawaty a * a Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan,
Fakultas Kelautan dan Perikanan, Universitas Udayana, Bali, Indonesia * Penulis koresponden.
Tel.: +62-361-702-802 Alamat e-mail: [email protected] Abstract During 1998-2003
fisheries production tends to decrease for Muncar, Banyuwangi, East Java. Growing number of
fishing gears (especially the set fishing gear like the bambbo platform lift net) in the Pang Pang
bay even though its presence is not allowed, this is might be the caused of the decreased fisheries
production. As for the bamboo platform lift net itself has many factors that affect the catch effort
productivity. Some of them were examined in this study which are the density (unit/ha), water
depth (m) and time of hauling (min). From this study, we expected to know how far the influence
of each factors as well as the mathematical models of it. This study results shows that the density
of the bamboo platform lift net greatly affect the fishing gear productivity, that the higher the
density number will lead to further decline in the fishing gear productivity. The water depth also
has an effect, in which the deeper the waters of the fishing gear, the more catch result get. The
density number is < 5unit/ha, as the optimum water depth is ≥ 26,2 m. Keywords: density; water
depth; hauling time; time dummy; bamboo platform lift net 1. Pendahuluan Sebagai Negara
kepulauan (archipelagic state) yang besar, Indonesia memiliki wilayah teritorial perairan laut
seluas 3,1 juta km2. Di samping itu Indonesia memiliki pula hak dan tanggung jawab atas
pemanfaatan dan pengelolaan zona ekonomi eksklusif (ZEE atau EEZ) seluas 2,5 juta km2 ,
sehingga luas seluruh wilayah perairan laut di bawah yurisdiksi Indonesia menjadi 5,6 juta km2
(Birowo, 2001). Sebagian besar wilayah Indonesia terdiri dari perairan yang diperkirakan
mencapai 2/3 dari seluruh wilayah Indonesia. Meskipun Indonesia termasuk ke dalam wilayah
tropis ternyata secara geografis perairannya tidak homogen tetapi memiliki karakteristik yang
berbeda. Indonesia memiliki wilayah perairan pantai, teluk, selat, laut dan laut lepas (samudera).
Perairan di Samudera Hindia tentunya memiliki karakteristik yang berbeda dengan perairan Laut
Jawa. Dengan karakteristik yang berbeda ini mengakibatkan tipe perikanan yang ada di
masing-masing wilayah perairan berbeda. Jenis alat tangkap yang digunakan sudah tentu mengikuti
ketersediaan sumber daya ikan yang ada di wilayah perairan tersebut (Widianto, 2001). Selat
Bali merupakan perairan berbentuk corong yang subur, perikanan hampir bersifat mono-spesies
dan monogear, hasil tangkap utama ikan lemuru, alat tangkap purse seine, industri pengolahan
sudah sangat berkembang, dan tingkat eksploitasi cenderung over-fishing. Muncar merupakan
daerah dengan potensi perikanan cukup tinggi. Selama kurun waktu kurang lebih dua tahun
terakhir di Muncar, produksi hasil tangkap untuk alat tangkap bagan tancap semakin menurun
(istilah lokal oleh nelayan setempat disebut dengan “laib”) seiring dengan semakin bertambah
banyaknya jumlah unit alat tangkap bagan tancap yang beroperasi terutama di perairan dalam
Teluk Pang Pang, Muncar dimana kepadatan alat tangkapnya semakin tinggi. Bagan tancap
berdasarkan SK Bupati Banyuwangi tahun 1980 dengan 3 alasan, yaitu : 1) Bagan tancap adalah
alat tangkap menetap; 2) Mengganggu alur pelayaran; 3) Sisa-sisa bambuo dari bagan tancap
yang roboh dapat merusak jaring. Tetapi kenyataan yang ada alat tangkap ini justru semakin
bertambah dengan alasan factor ekonomi, nelayan banyak yang memilih alat tangkap ini.
Sedangkan informasi mengenai kepadatan yang diperbolehkan dalam rangka untuk menjaga
potensi lestari sangatlah terbatas, sehingga merupakan salah satu faktor penghambat
pengambilan keputusan yang efektif menyangkut sumberdaya ikan. Dari uraian tersebut
menunjukkan bahwa perlu dilakukan suatu penelitian tentang pengaruh kepadatan dan
kedalaman terhadap produktivitas alat tangkap bagan tancap agar dapat mendapatkan informasi
mengenai faktor-faktor apa sajakah yang berpengaruh dalam rangka pengelolaan sumberdaya
perikanan di wilayah perairan Selat Bali Banyuwangi Propinsi Jawa Timur. J. Mar. Aquat. Sci. 1:
7–13 (2015) 8 R. Ekawaty 2. Metode Penelitian 2.1 Lokasi Penelitian Penelitian ini dilaksanakan
di perairan Teluk Pang Pang/Sembulungan Muncar Banyuwangi Jawa Timur. Gambar 1
menyajikan lokasi penetian. Gambar 1. Lokasi Penelitian 2.2 Metode Penelitian Penelitian ini
dilakukan di perairan Teluk Pang Pang / Tanjung Sembulungan Muncar Banyuwangi Jawa
Timur. Berdasarkan Laporan Satatistik Perikanan Propinsi Jawa Timur tahun 2002, jumlah
armada tangkap yang menggunakan alat tangkap bagan tancap berjumlah 142 unit. Untuk
perolehan data menggunakan metode simple random sampling atau sampling acak sederhana,
diambil 12 sampel / responden, dengan rincian 6 sampel pada wilayah zona I (luar Teluk
Pang-pang) dan 6 sampel lainnya pada wilayah zona II (dalam Teluk Pang-Pang-pang). Pengumpulan data
primer dilakukan secara langsung oleh peneliti dengan ikut langsung melaut, dengan
menggunakan GPS untuk dapat mengetahui titik-titik lokasi letak bagan tancap. Selain itu
mengisi form survey berisi data yang meliputi: nama pemilik, kedalaman, lama operasi
penangkapan, hasil tangkapan,dll. Peneliti juga langsung terlibat langsung dalam pengumpulan
data mengenai hasil tangkapan dan konstruksi alat tangkap agar data yang diperoleh dapat lebih
lengkap guna mendapatkan data yang dibutuhkan. Pada pengambilan data primer dibedakan
antara waktu bulan terang dan waktu bulan gelap, sebenarnya hal ini mempengaruhi lama operasi
penangkapan, tetapi untuk nelayan alat tangkap bagan tancap hal ini dianggap tidak
mempengaruhi, karena nelayan bagan tancap tetap melakukan operasi penangkapan di waktu
bulan terang, berbeda dengan nelayan alat tangkap lain seperti purse seine dan payang.
Sedangkan pembagian waktu bulan terang dan bulan gelap adalah : untuk tanggal 21-9 adalah
waktu bulan gelap, untuk tanggal 10-20 adalah waktu bulan terang (dengan catatan : pada
penanggalan bulan Jawa). Data sekunder yang dikumpulkan diperoleh dari instansi terkait antara
lain: Laporan Dinas Perikanan maupun Laporan Statistik Perikanan yang digunakan sebagai
pedoman untuk mengetahui nama serta banyaknya alat tangkap dilokasi penelitian, serta data
yang lain dari BPPI Muncar. 2.3 Metode Analisis Data Setelah data dari lapang yang diperlukan
terkumpul, maka data disusun dan dianalisa. Data hasil tangkapan pada masing-masing daerah
operasi penangkapan dari form data produksi harian (Lampiran 2) tersebut, dianalisa dengan
metode statistik. Suatu uji statistik dapat dikatakan terbaik, apabila uji tersebut mampu
menghasilkan kesimpulan H0 ditolak manakala H0 tidak benar. Oleh karena itu jika data
penelitian memenuhi persyaratan untuk deselesaikan dengan metode parametrik, maka uji
statistik parametrik merupakan pilihan uji terbaik (Muhammad, 1991). Berdasarkan faktor-faktor
yang ada diduga sebagai berikut : a. Dummy Bahwa hasil tangkap dipengaruhi oleh waktu-waktu
penangkapan (terang bulan atau gelap bulan), dugaan sementara hasil tangkap lebih banyak pada
sementara bahwa makin dalam bagan tancap maka makin banyak hasil tangkapnya. c. Jarak
Bahwa hasil tangkap dipengaruhi oleh jarak alat tangkap bagan tancap dari pantai, dugaan
sementara makin jauh jarak bagan dari pantai maka makin banyak hasil tangkapnya. d.
Kepadatan Bahwa hasil tangkap dipengaruhi oleh kepadatan, dugaan sementara adalah makin
tinggi angka kepadatan alat tangkap bagan tancap maka semakin sedikit hasil tangkapnya. e.
Lama operasi penangkapan Bahwa hasil tangkap dipengaruhi oleh lama operasi penangkapan
yaitu waktu lama penarikan jaring keatas. Dugaan sementara adalah makin lama operasi
penangkapan maka makin sedikit hasil tangkapnya. Pada penelitian ini data dianalisa
menggunakan analisis regresi dari hasil komputasi menggunakan program SPSS, dilanjutkan
dengan uji F dan uji t. 2.3.1. Model matematis fungsi produksi Penelitian ini bertujuan
mengetahui hubungan antara faktor-faktor yang mempengaruhi produksi hasil tangkap (X)
terhadap hasil tangkap bagan tancap (Y) yang digambarkan dalam fungsi Cobb-Douglas. Peubah
tak bebasnya adalah hasil tangkap (produksi) pada alat tangakap bagan tancap dan peubah
bebasnya yaitu kepadatan, kedalaman, jarak, lama operasi penangkapan, J. Mar. Aquat. Sci. 1: 7–
13 (2015) Journal of Marine and Aquatic Sciences 9 dan dummy waktu terhadap waktu
penangkapan pada bulan gelap dan bulan terang. Pada penelitian ini peubah bebasnya lebih dari
satu (X1, X2, ..., Xk) sehingga memungkinkan peubahnya ada yang kuantitatif (berupa
angka) dan kualitataif (tidak berbentuk angka). Akan lebih baik jika peubah kualitataifnya
dipertimbangkan, cara yang dipergunkan adalah menggunakan peubah dummy (boneka). Dalam
penelitian ini dibuat peubah dummy terhadap waktu gelap dan terang bulan, untuk mengetahui
hasil tangkap pada saat bulan gelap dan bulan terang. Dengan waktu bulan gelap sama dengan 1
dan waktu bulan terang sama dengan 0. Secara matematis model fungsi Cobb-Douglas adalah
diperoleh persamaan linier : Log Y = log m + b1log X1i + b2 log X2i ... bk log Xki + u Dimana
: Yi = Produksi / hasil tangkap alat tangkap bagan tancap (Kg) X1i = Dummy waktu (bulan gelap
dan bulan terang) X2i = Kedalaman alat tangkap (m) X3i = Jarak alat tangkap dari pantai (mil
laut) X4i = Kepadatan alat tangkap bagan tancap (unit/ha) X5i = Lama operasi penangkapan
(menit) m = Intersep (estimasi nilai Y untuk Xi1 dan Xi2 keduanya = 0) b = koefisien regresi Y
untuk Xi1, Xi2, ..., Xi5 (dimana Xi tetap) eiu = kesalaahn acak (galat) 2.3.1. Model
matematis fungsi produksi Model analisis fungsi Cobb Douglas, dalam penyelesaian hubungan
antara hasil tangkap / produksi (Y) dan faktor-faktor yang mempengaruhi (X) biasanya dengan
cara regresi dimana variasi dari Y dipengaruhi oleh variasi dari X. Untuk menguji model dan
pendugaan parameter yang diperoleh dari pengujian denga fungsi produksi Cobb Douglas
digunakan : a. Uji F Pengujian dilakukan dengan analisa sidik ragam dengan uji F dengan kaidah
pengujian sebagai berikut : 1-k-n / SisaJK k / RegresiJK Fhitung = Kesimpulan uji F adalah
sebagai berikut : - Jika Fh < Ft 5% , maka H0 diterima dan H1 ditolak, berarti semua peubah
bebas tidak berpengaruh terhadap peubah tidak bebas. - Jika Fh > Ft 5% , maka H0 ditolak dan
H1 diterima, berarti semua peubah bebas berpengaruh terhadap peubah tidak bebas. b. Koefisien
Determinasi (R2 ) Nilai koefisien determinasi menunjukkan seberapa jauh model yang terbentuk
dapat menerangkan kondisi yang sebenarnya sebagai ukuran ketepatan garis regresi yang dibuat
dari hasil pendugaan terhadap sekelompok data hasil observasi. Makin besar nilai R2 , semakin
bagus garis regresi yang terbentuk (Sugiarto, 1992). terkoreksi Total JK RegresiJK R2 = - Jika
R2 = 0, berarti tidak ada hubungan antara X dan Y, atau model regresi yang terbentuk tidak tepat
untuk meramalkan Y. - Jika R2 = 1, berarti garis regresi yang terbentuk dapat meramalkan Y
secara sempurna. c. Uji t Uji t digunakan untuk mengetahui pengaruh peubah bebas dan peubah
thitung > ttabel , maka tolak H0 2.4 Definisi Operasional a. Produksi / hasil tangkap (Yi) adalah
jumlah hasil tangkapan ikan dengan alat tangkap bagan tancap. Data yang digunakan adalah data
produksi hasil tangkap bagan tancap setiap satu hari operasi penangkapan dengan satuan Kg. b.
Dummy waktu (X1i) adalah waktu penangkapan bagan tancap berdasarkan waktu bulan gelap
dan waktu bulan terang. Bulan gelap = 1, bulan terang = 0. c. Kedalaman (X2i) adalah
kedalaman bagan tancap dari permukaan air sampai dasar perairan dengan satuan meter. d. Jarak
(X3i) adalah jarak bagan tancap dari pantai dengan satuan mil laut. e. Kepadatan (X4i) adalah
kepadatan bagan tancap / ha (dengan asumsi bahwa bila jumlah alat tangkap 4 unit/ha keatas
adalah padat) dengan satuan unit/ha. f. Lama operasi penangkapan (X5i) adalah lama hauling
dari jaring (menarik jaring keatas untuk mendapatkan hasil tangkapan ikan) dengan satuan menit.
3. Hasil Dan Pembahasan 3.1 Deskripsi Alat Tangkap Bagan Tancap di Dusun Kalimati Desa
Kedungrejo Kecamatan Muncar 3.1.1. Model matematis fungsi produksi Jaring bagan tancap di
Dusun Kalimati desa Kedungrejo kecamatan Muncar dikenal dengan nama “waring”, yaitu jaring
yang berupa lembaran-lembaran panjang dengan ukuran lebar 1,10 meter dengan ukuran mata
jaring sangat kecil yaitu 0,4 cm. J. Mar. Aquat. Sci. 1: 7–13 (2015) 10 R. Ekawaty Bahan jaring
adalah serat nylon atau PA (PolyAmida) monofilament / senar. Serat nylon untuk keperluan
perikanan mempunyai kekuatan yang sangat tinggi dengan mulur kecil. Tahan tekukan dan tahan
gosokan yang tinggi. Serat nylon tahan terhadap serangan jamur, bakteri dan serangga. Karena
kekuatan nylon tinggi, maka sangat baik untuk keperluan perikanan. Benangnya dapat dibuat
segala macam alat penangkap ikan yang terbuat dari jaring mulai dari alat-alat yang kecil seperti
jaring klitik dan lain-lain sampai yang besar-besar dan modern, seperti jaring lampara, jaring
kolor dan jaring trawl. Juga benangnya bisa dijadikan tali pancing tonda dan prawe atau rawai
bagan tancap ini untuk mengikat bambu satu dengan yang lainnya agar saling terkait dengan
kencang, selain sebagai tali penarik jaring pada roller. Tali temali dan tali penarik ini terbuat dari
bahan PE (Polietilena). Sifat-sifat serat polietilena yang baik adalah kestabilan kimianya. Tahan
terhadap pengaruh kimia seperti alkali, asam, larutan-larutan dan garam-garam organis. Sangat
tahan terhadap serangan jamur dan bakteri juga tahan terhadap serangan serangga, larva,
ngengat, ganggang, air laut dan berumur panjang (Anonymous, 1985). Pemberat yang digunakan
pada alat tangkap bagan tancap ini adalah batu yang berjumlah empat buah dengan berat
masing-masing ± 5 Kg, yang diikatkan pada tali pada batang bambu yang tersambung pada jaringnya.
3.2 Hasil Tangkapan Hasil tangkapan untuk alat tangkap ini rata-rata adalah ikan-ikan murahan
dan biasanya jumlah hasil tangkapnya tidak begitu banyak mengingat alat tangkap ini adalah alat
tangkap berskala kecil. Pada saat penelitian ini dilakukan ikan-ikan yang tertangkap dominan
adalah ikan petek dan teri, sedangkan ikan hasil tangkap sampingan antara lain rajungan,
cumi-cumi, lemuru sempenit dan protolan, tamban, laplap, kocol, sledeng, kacangan, baronang dan
kerapu. Untuk produksi hasil tangkap pada saat penelitian ini dilakukan rata-rata dari semua
responden yang ada tidaklah banyak, karena pada saat itu tidak ada ikan (laib). Rata-rata
produksi hasil tangkap dari semua responden adalah 19, 88 kg/trip. Rata-rata hasil tangkap untuk
bulan terang dan bulan gelap lebih banyak pada saat bulan gelap, yaitu 15 kg/trip untuk bulan
gelap dan 10,33 kg/trip untuk bulan terang. Hal ini mungkin dikarenakan jam kerja pada saat
bulan gelap lebih panjang / lama dibandingkan jam kerja pada saat bulan terang. Menurut
penuturan para nelayan bagan yang menjadi responden penelitian ini rata-rata produksi hasil
tangkap bagan sebelum tahun 2000 dan sesudahnya sangat jauh berbeda. Bila dulu sebelum
tahun 2000 produksinya bisa mencapai ton per malam, sekarang dengan mendapatkan 50 kg
dengan mudahnya, sekarang sudah hampir tidak ada lemuru di Teluk Pang Pang, yang ada adalah
sempenit terkadang protolan, kalaupun ada juga tidak banyak. Dari uraian tersebut diatas
menunjukkan bahwa keadaan perairan Teluk Pang Pang sudah dalam keadaan over fishing,
disamping disebabkan oleh kepadatan bagan yang semakin bertambah tiap tahunnya. 3.3 Analisis
Data Hasil Tangkapan 3.3.1. Analisis Hubungan Input-Output Masukan (input) adalah peubah
bebasnya yaitu faktorfaktor yang mempengaruhi hasil tangkap (kepadatan, kedalaman, jarak,
lama operasi penangkapan dan dummy waktu). Sedangkan keluaran (output) adalah peubah tak
bebasnya yaitu hasil tangkap (produksi) alat tangkap bagan tancap. Analisis ini dimaksudkan
untuk mengetahui hubungan dari input dan output dengan menggunakan model analisis fungsi
Cobb Douglas. Hubungan antara keduanya dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1 Hasil Analisis
Hubungan Faktor Input-Output Pada Alat Tangkap Bagan Tancap. No. Variabel Koefisien regresi
thitung Sig. 1 Dummy waktu -0,125 0,032 0,975 2 Kedalaman -8,203 1,058 0,305 3 Kedalaman2
0,236 1,154 0,264 4 Kepadatan -100,712 2,268 0,037 5 Kepadatan2 10,444 1,948 0,068 6 Lama
hauling 0,484 0,816 0,426 7 Konstanta = 319,229 8 F-Hitung = 3,579 9 R2 = 0,55 10 F tabel 5%
= 2,53 Dari tabel diatas didapatkan sig. (tingkat signifikan) untuk kepadatan alat tangkap bagan
tancap adalah 0,037 (nilai ini lebih kecil dari 0,05) yang berarti berbeda nyata, sehingga
kepadatan memang berpengaruh nyata terhadap hasil tangkap/produksi alat tangkap bagan
tancap. Sedangkan untuk kedalaman perairan tingkat signifikannya sebesar 0,305 ini berarti
berpengaruh nyata dengan peluang kesalahan 30,5%, berarti kedalaman alat tangkap bagan
tancap berpengaruh terhadap hasil tangkap/produksi alat tangkap bagan tancap tersebut. Dari
hasil analisis diperoleh persamaan regresi model lengkap sebagai berikut : Y = 319 – 8,20X1 +
0,236X1 2 – 101X2 + 10,4X2 2 + 0,484X3 – 0,12Z Dimana : Y = Produksi/hasil tangkap
bagan tancap (unit/ha) X3 = Lama Hauling (menit) Z = Dummy waktu (bulan terang/bulan
gelap) Dari persamaan diatas didapatkan bahwa : • Koefisien regresi untuk X2 (kepadatan)
sebesar -101, maka apabila kepadatan ditambah 1% akan menurunkan produksi sebesar 101%.
Hal tersebut berarti bahwa kepadatan memang sangat berpengaruh terhadap laju produksi hasil
tangkap. J. Mar. Aquat. Sci. 1: 7–13 (2015) Journal of Marine and Aquatic Sciences 11 •
Koefisien regresi untuk X1 (kedalaman perairan) sebesar -8,20, maka apabila kedalaman
ditambah 1% akan menurunkan produksi sebesar 8,20%. Kedalaman perairan juga ikut
mempengaruhi hasil tangkap dimana juga ikut mempengaruhi hasil tangkap dimana semakin
dalam maka akan menurunkan hasil tangkap. • Sedangkan untuk lama hauling, koefisien regresi
untuk X3 (lama hauling) sebesar 0,484, maka apabila lama hauling ditambah 1% akan
meningkatkan produksi sebesar 0,484%. 3.3.2. Analisis Hubungan Input-Output a. Produksi
dengan kedalaman perairan Dari data hasil produksi terlihat bahwa dimana dugaan sebelum
penelitian bahwa semakin dalam perairan pada unit alat tangkap makan semakin banyak hasil
tangkapnya, namun yang terlihat dari data adalah kedalaman kurang berpengaruh terhadap hasil
tangkap atau produksi (Gambar 2). Hal tersebut disebabkan oleh banyak faktor yang tidak tentu
dan tidak bisa dikontrol seperti faktor alam. Dari persamaan hubungan tunggal antara produksi
(Y) dengan kedalaman perairan (X2) diatas didapatkan bahwa dalam keadaan konstan (X=0)
produksi hasil tangkap bernilai positif. Didapatkan juga bahwa makin dalam kedalaman perairan
maka makin banyak hasil tangkapnya. Didapatkan juga bahwa nilai intersenya positif yang
berarti makin dalam kedalaman perairan maka makin banyak produksi hasil tangkapnya. b.
Produksi dengan Kepadatan Dari data hasil produksi terlihat bahwa makin tinggi angka
kepadatan maka makin sedikit hasil tangkap (produksi) alat tangkap bagan tancap (Gambar 3).
hubungan linier produksi dengan kepadatan Dari persamaan grafik hubungan tunggal antara
produksi (Y) dengan kepadatan (X1) diatas didapatkan bahwa dalam keadaan konstan (X=0)
produksi hasil tangkap bernilai positif. Dari garis linear terlihat bahwa makin tinggi kepadatannta
maka semakin sedikit produksi hasil tangkapnya. 3.3.3. Analisis Hubungan Input-Output a.
Produksi dengan kepadatan • Model lengkap Dari persamaan model lengkap sebagai berikut : Y
= 319 – 8,20X1 + 0,236X1 2 – 101X2 + 10,4X2 2 + 0,484X3 – 0,12Z Didapatkan turunan
produksi (Y) terhadap kepadatan (X2) : Y’ = -101 + 20,8X2; didapatkan nilai X2 = 4,855
sehingga kepadatan optimalnya adalah 4,855 ≈ 5 unit/ha • Model tunggal Dari hasil analisis data
secara kuadratik didapatkan persamaan sebagai berikut : Y = 221,141 – 84,5414X + 8,58143 X2
Dari hasil differensial/turunan persamaan diatas didapatkan nilai X optimal untuk kepadatan
adalah 4,9258 unit/ha ≈ 5 unit/ha. b. Produksi dengan kedalaman perairan • Model lengkap Dari
persamaan model lengkap sebagai berikut : Y = 319 – 8,20X1 + 0,236X1 2 – 101X2 + 10,4X2 2
+ 0,484X3 – 0,12Z Didapatkan turunan produksi (Y) terhadap kedalaman perairan (X1) : Y’ =
-8,20 + 0,472X2 ; didapatkan nilai X1 = 17,372 sehingga kedalaman perairan yang optimal
adalah 17,372 ≈ 17 m. dari perhitungan tersebut disarankan agar untuk mendapatkan hasil
tangkap yang optimal, maka kedalaman perairan yang disarankan adalah ≥ 17 m. • Model
tunggal Dari hasil analisis data secara kuadratik didapatkan persamaan sebagai berikut : Y =
25,3738 – 0,00571X – 0,000109X2 Dari hasil turunan persamaan diatas didapatkan nilai X
optimal untuk kedalaman perairan adalah 26,192 ≈ 26,2 m. Dari perhitungan kedua model
tersebut disarankan agar untuk mendapatkan hasil tangkap yang optimal, maka kedalaman
perairan yang diperbolehkan bagi bagan tancap adalah ≥ 26,2 m. Mengingat operasi
penangkapan bagan tancap terbatas pada kedalaman sampai 24 m, maka disarankan operasi
(R2 ) Koefisien determinasi yang didapat dari persamaan ini sebesar 0,55 yang berarti bahwa
perubahan produksi (hasil tangkap) dapat dijelaskan leh faktor-faktor yang mempengaruhi yang
terdapat dalam model sebesar 55%. Sedangkan sisanya 45% disebabkan oleh faktor-faktor lain
yang tidak tercakup dalam penelitian ini, seperti misalnya fishing ground, pengaruh faktor alam
seperti musim dan J. Mar. Aquat. Sci. 1: 7–13 (2015) 12 R. Ekawaty arus laut yang sulit
dikontrol dan dapat berubah-ubah setiap saat. 3.3.5 Uji F Hasil uji F-Hitung sebesar 3,579 lebih
besar dari FTabel sebesar 2,53 pada tingkat kepercayaan 95%. Hal ini berarti berpengaruh nyata,
sehingga model persamaan yang disusun ini layak digunakan untuk menduga adanya hubungan
antara peubah bebas (X) dan peubah tak bebas (Y) dan peubah dummy (Z). 3.3.6 Uji t a.
Kepadatan Kepadatan disini adalah satuan unit alat tangkap per ha (100 m2 ) dengan asumsi bila
terdapat 4 unit/ha adalah padat. Analisis uji-t menunjukkan bahwa kepadatan memberikan
pengaruh yang nyata terhadap hasil tangkap (produksi). Nilai hitung 2,268 lebih besar dari
t-tabel 2,11 dengan selang kepercayaan 97,5%, nilai probabilitas (sig) 0,037 lebih besar dari 0.05
berarti pengaruh kepadatan signifikan. Diduga kepadatan berpengaruh terhadap hasil tangkap,
kepadatan dengan angka lebih tinggi dalam 1 ha akan mengurangi hasil tangkap tiap unit alat
tangkapnya, sebaliknya kepadatan dengan angja rendah (lebih sedikit) akan memberikan peluang
bagi tiap unit alat tangkapnya untuk mendapatkan hasil tangkap yang lebih banyak, karena
saingan juga lebih sedikit dalam operasi penangkapan. b. Kedalaman perairan Analisis uji-t
menunjukkan bahwa kedalaman perairan memberikan pengaruh terhadap hasil tangkap, nilai
thitung 1,058 lebih besar dari nilai t-tabel 0,863 dengan selang kepercayaan 80%. Hal ini sesuai
dengan keadaan di lapang dimana beberapa hal juga mempengaruhi, bila kedalaman makin
dalam maka lama menaikkan jaring makin lama karena arus dibawah permukaan makin dalam
jaring juga makin lama, hal ini berakibat ikan-ikan yang sudah berasa diatas jaring saat jaring
masih ada dalam perairan memiliki kesempatan untuk melarikan diri menjauh dari jaring agar
tidak tertangkap, akibatnya hasil tangkap juga menurun. c. Dummy waktu Dalam menentukan
waktu penangkapan nelayan menentukan waktu penangkapan berdasarkan penanggalan Jawa
yang dipengaruhi oleh waktu gelap dan waktu terang bulan. Dummy waktu yang dimaksud disini
adalah waktu penangkapan yang digolongkan pada waktu gelap dan terang bulan. Waktu gelap
bulan adalah pada tanggal 21-9 sedangkan waktu terang bulan pada tanggal 10-20. Pada waktu
penelitian didapatkan masing-masing satu periode waktu gelap dan terang. Hasil tangkap
(produksi) dengan satuan kg/trip dirata-rata berdasarkan waktu gelap dan waktu terang, hasilnya
menunjukkan bahwa rata-rata hasil tangkap pada waktu gelap lebih besar daripada pada waktu
terang. Sehingga hasil tangkap untuk waktu gelap diberi skor 1 dan untuk waktu terang diberi
skor 0. Hasil analisis uji-t menunjukkan bahwa dummy waktu tidak begitu memberikan
pengaruh terhadap hasil tangkap, dengan nilai t-hitung 0,032 yang kecil sekali sehingga dummy
mmang tidak memberi pengaruh yang berarti. Hal ini sesuai dengan keadaan di lapang dimana
meskipun waktu blan gelap ataupun terang tidak begitu mempengaruhi waktu operasi
penangkapan, meskipun dalam keadaan bulan terang khusus nelayan bagan tancap tetap melaut
berbeda dengan nelayan-nelayan besar yang memilih tidak melaut pada saat bulan terang.
Nelayan bagan tancap tetap melaut pada waktu bulan terang karena nelayan yang lain tidak
melaut dengan motivasi bahwa harga hasil tangkapannya akan lebih mahal karena sepinya ikan
hasil tangkap yang didaratkan di PPI. 4. Simpulan dan Saran 4.1 Simpulan Berdasarkan hasil
penelitian ini, maka didapatkan beberapa kesimpulan : • Kepadatan alat tangkap bagan tancap
sangat mempengaruhi produktifitas alat tangkapnya, bahwa semakin tinggi angka kepadatan
perairan juga berpengaruh dimana semakin dalam perairan alat tangkap maka semakin banyak
hasil tangkapnya. • Faktor-faktor lain seperti dummy waktu dan lama hauling kurang
berpengaruh terhadap hasil tangkap • Angka kepadatan yang optimal adalah < 5 unit/ha •
Kedalaman perairan yang optimal untuk bagan tancap adalah ≥ 26,2 m 4.2 Simpulan • Bagi
kalangan akademik perlu adanya penelitian lebih lanjut mengenai faktor-faktor lain yang tidak
tercakup dalam penelitian ini • Sangat dianjurkan untuk operasi bagan pada kedalaman ≥ 26,2 m.
Berdasarkan teknologi yang ada saat ini dianjurkan untuk menggunakan bagan apung Daftar
Pustaka Anonymous. 1985. Bahan Baku Jaring. Direktorat Penyuluhan Perikanan. Direktur
Jendral Perikanan. 24 hal __________ . 2001. Fishcode Management. Food And Agriculture
Organization Of The United Nations. 33 hal __________ . 2003. Laporan Statistik Perikanan
Jawa Timur Tahun 2002. Dinas Perikanan Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Timur. Surabaya.
__________ . 2004. Monografi Sumberdaya Perikanan dan Kelautan Muncar. Cabang Dinas
Perikanan dan Kelautan Muncar. 31 hal __________ . 2004. Laporan Tahunan Tahun 2003.
Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Banyuwangi . 67 hal Arikunto, S. 1996. Metodologi
Penelitian. PT. Rineka Citra. Jakarta. 378 hal J. Mar. Aquat. Sci. 1: 7–13 (2015) Journal of
Marine and Aquatic Sciences J. Mar. Aquat. Sci. 1: 7–13 (2015) 13 Birowo, S. 2001.Oseanografi
Perikanan (Fishery Oceanography). Dalam: Penuntun Pengkajian Stok Sumberdaya Ikan
Perairan Indonesia. Badan Riset kelautan dan Perikanan-DKP dengan Pusat Penelitian
OseanografiLIPI. Jakarta. Darmawan, O.S., D.G.R Wiadnya., Martinus dan D. Setyohadi. 2001.
Laporan Akhir Pemetaan Pemanfaatan Sumberdaya Ikan Di Selat Madura, Laut Jawa dan Laut
Wilayah Propinsi Bagian Selatan. Fakultas Perikanan Universitas Brawijaya. Malang.
Muhammad, S. 1991. Dasar-Dasar Metodologi Penelitian dan Rancangan Percobaan. Bagian
UNIBRAW. Malang. Nazir, M. 1999. Metode Penelitian. PT.Ghalia Indonesia. Jakarta. 622 hal
Subani, W dan H.R. Barus. 1988. Alat Penangkapan Ikan Dan Udang Di Indonesia. Balai
Penelitian Perikanan Laut, Departemen Pertanian. Jakarta. 248 hal Sugiarto. 1992. Tahap Awal +
Aplikasi Analisis Regresi. Andi Offset. Yogyakarta. 115 hal Walpole, Ronald E. 1982. Pengantar
Statistika. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. 515 hal Widianto. 2001. Tipe Perikanan
Tangkap Berdasarkan Karakteristik Wilayah Perairan. Dalam: Penuntun Pengkajian Stok
Sumberdaya Ikan Perairan Indonesia. Badan Riset kelautan dan Perikanan-DKP dengan Pusat
Penelitian Oseanografi-LIPI. Jakarta. www.pelabuhanperikanan.or.id www.dkp.or.id © 2015 by
the authors; licensee Udayana University, Indonesia. This article is an open access article
distributed under the terms and conditions of the Creative Commons Attribution license